Anda di halaman 1dari 5

PENDAHULUAN

Plasma darah mengandung lipid yang diangkut oleh suatu senyawa yang
disebut lipoprotein. Lipid yang terdapat di dalam lipoprotein berada dalam bentuk
trigliserida dan kolesterol. Kolesterol adalah sterol utama pada jaringan hewan
yang merupakan lipid berantai panjang dan merupakan komponen penting dari
lipoprotein plasma dan membran sel bagian luar, memiliki cincin tidak jenuh serta
merupakan prekursor asam empedu, hormon seks, dan vitamin D (Dalimartha
2001). Kolesterol merupakan substansi lemah, oleh karena itu kolesterol tidak
larut dalam air, dapat diekstraksi dari jaringan dengan kloroform, eter, benzena,
dan alkohol panas. Kolesterol diperlukan karena berperan sebagai komponen
esensial membran struktur semua sel, dan komponen utama sel otak dan saraf.
Kolesterol hanya terdapat di dalam makanan asal hewan (Almatsier 2002).
Sebagian besar kolesterol disintesis dalam tubuh, terutama dalam hati dan
intestin, dalam sel-sel permukaan dan jaringan. Konsumsi kolesterol (dari
makanan) yang berlebihan akan mengakibatkan terjadi pengurangan produksi
endogen, yang disebut hiperkolesterolemia (Baron 1995). Hiperkolesterolemia
merupakan suatu kondisi dimana kolesterol dalam darah meningkat melebihi
ambang normal yang ditandai dengan meningkatnya kadar kolesterol total
terutama Low Density Lipoprotein (LDL) dan diikuti penurunan kadar High
Density Lipoprotein (HDL) darah (Bhatnagar et al 2008). Hiperkolesterolemia
dapat berkembang menjadi aterosklerosis pada pembuluh arteri, berupa
penyempitan pembuluh darah, terutama di jantung, otak, ginjal, dan mata. Pada
otak, aterosklerosis menyebabkan stroke, sedangkan pada jantung menyebabkan
penyakit jantung koroner.
Pakan hiperkolesterolemia adalah pakan yang sengaja dibuat untuk
meningkatkan konsentrasi kolesterol darah hewan percobaan. Pemberian pakan
hiperkolesterolemia ditujukan agar peneliti dapat melihat kadar kolesterol total
pada hewan coba. Salah satu contoh pakan hiperkolesterolemia adalah pakan yang
memiliki kandungan kuning telur. Tujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk
mengetahui kadar kolesterol pada serum tikus uji dan untuk mempelajari analisis
kolesterol.
METODE

Desain, tempat, dan waktu


Desain dari praktikum ini adalah experimental study. Pengumpulan data
dilakukan pada tanggal 17 Desember 2015 pada pukul 10.00 12.00 WIB di
Laboratorium Biokimia Gizi Lantai 2, Departemen Gizi Masyarakat IPB.

Jumlah dan cara pengambilan subjek serta bahan dan alat


Jumlah serum tikus yang digunakan dalam praktikum ini adalah 10 serum
dari tikus dengan tiga jenis ransum yang berbeda (4 serum dari tikus dengan
ransum kuning telur, 3 serum dari tikus ransum kasein dan 3 serum dari tikus
ransum tepung lele). Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah tabung
reaksi, pipet mikro, pipet Mohr, inkubator, kuvet dan spektrofotometer. Bahan
yang digunakan dalam praktikum ini adalah serum tikus dan pereaksi kolesterol.

Jenis dan cara pengumpulan data


Jenis data pada praktikum ini adalah data kuantitatif kadar kolesterol total
dari 10 serum tikus berbeda. Serum tikus yang digunakan berasal dari sepuluh
ekor tikus dengan konsumsi ransum yang berbeda, yaitu empat ekor tikus dengan
konsumsi ransum kuning telur, tiga ekor tikus dengan konsumsi ransum kasein,
dan tiga ekor tikus dengan konsumsi tepung tempe. Serum tikus yang tersedia
diambil 15 l lalu dan dimasukkan dalam tabung reaksi. Setelah itu, serum
ditambahkan pereaksi kolesterol 1500 l dan dihomogenkan (dapat diguncang
atau menggunakan vortex). Campuran serum dan pereaksi kolesterol lalu
diinkubasi selama lima menit pada suhu 370C hingga terjadi perubahan warna
merah keunguan, kemudian kadarnya diukur dengan spektrofotometer pada
panjang gelombang 546 nm.

Pengolahan dan analisis data


Pengolahan dan analisis data menggunakan kalkulator serta program
Microsoft Excel.
HASIL

Karakteristik sampel
Jumlah sampel serum tikus yang digunakan dalam praktikum ini adalah
sepuluh serum. Berikut merupakan tabel sebaran responden berdasarkan jenis
kelamin.
Tabel 1 Distribusi frekuensi respondenberdasarkan jenis kelamin
Persentase
Jenis Kelamin Frekuensi
(%)
Laki-laki 3 33,3
Perempuan 6 66,7
Total 9 100

Data distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin pada Tabel


1 menunjukkan bahwaresponden yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak
dibandingkan laki-laki dengan persentase sebesar 66,7% untuk perempuan dan
sebesar 33,3% untuk laki-laki.

Kadar Kolesterol
Berikut merupakan tabel nilai rata-rata kadar kolesterol pada serum tikus.
Tabel Nilai rata-rata kadar kolesterol
Sampel Nilai Rata-rata (mg/dL)
Kuning telur 99,4
Kasein 53,1
Tepung tempe 72,0

Berdasarkan Tabel , serum sampel yang mengkonsumsi ransum kuning


telur memiliki rata-rata kadar kolesterol lebih tinggi dibanding sampel lainnya.
Hasil tersebut hampir sama dengan literature yang menyatakan bahwa kadar
kolesterol pada kuning telur rata rata sebesar 11,00-12,30 mg/g (Ariani 2006).

PEMBAHASAN
Menurut Muray et al (1999), kolesterol adalah produk khas hasil metabolisme
hewan seperti kuning telur, daging, hati, dan otak. Semua jaringan yang
mengandung sel-sel berinti mampu mensintesis kolesterol. Kolesterol merupakan
precursor semua steroid, seperti kortikosteroid, hormon seks, asam empedu, dan
vitamin D (Dalimartha, 2001). Kolesterol tidak larut dalam darah. Agar dapat
diangkut dalam aliran darah kolesterol bersama dengan lemak-lemak lain
(trigliserida dan fosfolipid) harus berikatan dengan protein untuk membentuk
senyawa yang larut dan dinamakan dengan lipoprotein. Mahan dan Stump (2004)
menambahkan bahwa lipoprotein dalam darah membentuk lima kelompok
berdasarkan komposisi, ukuran dan densitasnya yaitu : 1) kilomikron, 2) very low
density lipoprotein (VLDL), 3) intermediate density lipoprotein (IDL), 4) low
density lipoprotein (LDL), dan 5) high density lipoprotein (HDL).

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier Sunita. 2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Ariani Eni. 2006. Penetapan kandungan kolesterol dalam kuning telur pada ayam
petelur. Temu Teknis Nasional Tenaga Fungsional Pertanian. Bogor: Balai
Penelitian Ternak.
Baron, D.N (1995), Patologi Klinik, Edisi keempat. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Bhatnagar D, Soran H, Durrington PN. 2008. Hypercholesterolaemia and its
management. BMJ ;337:993.
Dalimartha, N.S. 2001. 36 Resep Tumbuhan untuk Menurunkan Kolesterol.
Jakarta: Penebar Swadaya.
Hardiningsih R, N Nurhidayat. 2006. Pengaruh pemberian pakan
hiperkolesterolemia terhadap bobot badan tikus putih wistar yang diberi
bakteri asam laktat. Biodiversitas LIPI 7(2): 127 130.
Mahan Lk dan Escott-Stump S. 2004. Krauses food, nutrition and diet therapy.
11th ed. Philadelphia Pennsylvania, USA: Saunders.
Muray, R.K., D.K. Granner, P.A. Mayes, dan V.W. Rodwell. 1999. Biokimia
Harper. Edisi ke-24. Jakarta: EGC.

LAMPIRAN

Sampel Kadar Kolesterol


Kuning Telur 1 137.0
Kuning Telur 2 159.2
Kuning Telur 3 43.6
Kuning Telur 4 57.7
Kasein 1 81.6
Kasen 2 44.3
Kasein 4 33.2
Tepung Tempe 2 83.2
Tepung Tempe 4 62.0
Tepung Tempe 5 71.0

Rumus perhitungan
Kadar Kolesterol Total (mg/dL) =



x Konsentrasi Standar (200 mg/dL)