Anda di halaman 1dari 22

ASUHAN KEPERAWATAN KARSINOMA SERVIKS

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Maternitas


Dosen Mata Ajar : Wiwi Kustio Priliana, A.Kep.,SPd.,MPH

KELAS 3A
Kelompok VIII:
Eni Ernawati (2520142435)
Ratna Ambarsari (2520142454)
Wahyu Bagas Saputra (2520142467)

AKADEMI KEPERAWATAN NOTOKUSUMO


YOGYAKARTA
2016
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .. i
DAFTAR ISI . ii

BAB I PENDAHULUAN ......... 1

A. Latar Belakang ..... 1

B. Tujuan Penulisan ...... 1

BAB II KONSEP DASAR ............ 3

A. Pengertian ..... 3

B. Anatomi Fisiologi...... 3

C. Etiologi..... 10

D. Tanda dan Gejala ......... 11

E. Klasifikasi/Stadium .......... 11

F. Patofisiologi.......... 12

G. Pathways ............. 13

H. Penatalaksanaan .. 14

BAB III KONSEP KEPERAWATAN ........ 15

A. Data Fokus ............... 15

B. Diagnosa Keperawatan ............ 16

C. Perencanaan ..........17

DAFTAR PUSTAKA ...... 21

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut
rahim akibat adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak
jaringan normal disekitarnya (FKUI, FKKP dalam Padila, 2015)
Kanker serviks merupakan penyakit kanker kedua terbanyak yang dialami
oleh wanita diseluruh dunia. Menurut Internasional Agency for research on
cancer (IARC), 85% dari kasus kanker di dunia dengan jumlah sekitar 493.000
dengan jumlah 273.000 kematian terjadi di negara-negara berkembang. Dan
indonesia jumlah pengidap kanker serviks kedua terbesar setelah cina. (Padila,
2015)
Menurut Padila (2015) penyebab kanker serviks belum jelas diketahui
namun ada beberapa faktor resiko dan predisposisi yang menonjol, antara lain :
1. Umur pertama kali melakuka hubungan seksual
2. Jumlah kehamilan dan partus
3. Jumlah perkawinan
4. Infeksi virus
5. Sosial ekonomi
6. Hygiene dan sirkumsisi
7. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui gambaran umum mengenai asuhan keperawatan pada pasien
dengan kanker serviks
2. Tujuan Khusus
a. Mampu menjelaskan pengertian kanker serviks
b. Mampu menyebutkan etiologi kanker serviks
c. Mampu menyebutkan tanda dan gejala kanker servik

1
d. Mampu menjelaskan klasifikasi/stadium kanker serviks
e. Mampu menyebutkan patofisiologi kanker serviks
f. Mampu menjelaskan patways kanker serviks
g. Mampu menyebutkan penatalaksanaan kanker serviks
h. Mampu menjelaskan data fokus yang digunakan pada klien dengan kanker
serviks
i. Mampu menjelaskan diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
j. Mampu menjelaskan intervensi keperawatan yang mungkin terjadi

2
BAB II
KONSEP DASAR

A. PENGERTIAN
Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut
rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol
dan merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI, FKKP dalam Padila, 2015)
Kanker serviks adalah perubahan sel-sel serviks dengan karakteristik
histologi. Proses perubahan pertama menjadi tumor ini mulai terjadi pada sel-sel
squamocolummar junction. Kanker serviks ini terjadi paling sering pada usia 30
sampai 45 tahun, tetapi dapat terjadi pada usia dini, yaitu 18 tahun. (Mitayani,
2009)
Karsinoma insitu pada serviks adalah keadaan dimana sel-sel neoplastik
terdapat pada seluruh lapisan epitel. Perubahan prakanker lain yang tidak sampai
melibatkan seluruh lapisan epitel serviks disebut displasia. (Mitayani, 2009)
Dari beberapa sumber diatas yang menyebutkan definsi dari kanker serviks
dapat disimpulkan bahwa kanker serviks adalah tumor ganas yang menyerang
daerah mulut rahim dimana sel-sel neoplastik terdapat pada seluruh lapisan
epitel. Dalam proses terjadinya kanker serviks, jaringan mengalami
pertumbuhan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal disekitar leher
rahim.

B. ANATOMI FISIOLOGI
Anatomi fisiologi sistem reproduksi wanita dibagi menjadi 2 bagian yaitu:
alat reproduksi wanita bagian dalam yang terletak di dalam rongga pelvis, dan
alat reproduksi wanita bagian luar yang terletak di perineum.

1. Anatomi Alat Reproduksi Wanita (Bobak, Jansen, dan Zalar, 2011)


Alat reproduksi wanita terdiri dari dua bagian utama yaitu : organ reproduksi
bagian luar dan organ reprokduksi bagian dalam.

3
a. Organ reproduksi bagian luar

Gambar 1.1 organ exsterna wanita


Bagian reproduksi bagian luar terdiri dari:
1) Mons veneris : Bagian yang menonjol dibagian simfisis. Pada
perempuan dewasa di tutupi oleh rambut kemaluan.
2) Labia mayora (bibir-bibir besar) terdiri dari bagian kanan dan kiri,
lonjong menegecil kebawah. Di sebelah bawah dan belakang kedua
labia mayora bertemu dan membentuk komisura posterior.
3) Labia minora (bibir-bibir kecil) adalah suatu lipatan tipis dari kulit
sebelah dalam bibir besar. Kedepan kedua bibir kecil bertemu dan
membentuk preputium kklitoridis diatas klitoris dan frenulum
klitoridis dibawah klitoris. Kebelakang kedua bibir kecil bersatu dan
membentuk fossa navikulare. Kulit yang meliputi bibir kecil
mengandung banyak kelenjar lemak dan ujung-ujung urat saraf
menyebabkan bibir kecil amat sensitif. Jaringan ikatnya mengandung
banyak pembuluh darah dan beberapa otot polos yang menyebabkan
bibir kecil dapat mengembang.
4) Klitoris adalah organ pendek berbentuk silinderdan erektil terletek
tepat di bawah arkus pubis. Dalam keadaan tidak terangsang,bagian
yang terlihat kira-kira sebesar kacang hiaju, terdiri dari glans dan
korpus klitoridis membesar. Glans klitoridis mengandung banyak

4
pembuluh darah dan persarafan membuat klitoris sangat sensitif
terhadap suhu, sentuhan dan sensasi tekanan. Fungsi utama klitoris
adalah merangsang dan meningkatkan ketegangan seksual.
5) Vulva berbentuk lonjong, memanjang dari muka ke belakang. Dimuka
dibatasi oleh klitoris, dikanan dan kiri dibatasi oleh kedua bibir kecil
dan di belakang oleh perinium. Kira-kira 1-1,5 cm di bawah klitoris
terdapat lubang kemih yang berbentuk membujur, kira-kira 4-5 mm.
Lubang kemih tertutup oleh lipatan-lipatan selaput vagina yang
menyebabkan kadang-kadang sukar ditemukan. Tidak jauh dari
lubang kemih di kiri dan kanan bawahnya terdapat kelenjar/ skene, di
kiri dan dikanan bawah dekat fossa navikulare terdapat kelenjar
Bartholin. Pada waktu koitus kelenjar bartholini mengeluarkan getah
lendir.
6) Bulbus vestibuli kiri dan kanan terletak dibawah selaput lendir vulva,
menagndung banyak pembuluh darah. Pada waktu persalinan
biasanya kedua bulbus tertarik ke atas, kebawah arkus pubis, akan
tetapi bagian bawahnya yang melingkari vagina sering menaglami
cedera, kadang-kadang timbul hematoma vulva atau perdarahan.
7) Introitus vagina mempunyai bentuk dan ukuran yang berbeda-beda
pada setiap individu. Pada wanita, introitus dilindungi oleh labia
minora, baru dapat dilihat jika bibir kacil dibuka, ditutupi oleh himen
atau selaput dara.
8) Perineum, terletak antara vulva dan anus, ditutupi kulit. Panjangnya
kira-kira 4 cm.

5
b. Organ reproduksi bagian dalam
Organ reproduksi bagian dalam terdiri dari

Gambar 1.2 organ interna wanita


1) Vagina (liang kemaluan) ditemuakan setealah melewati introitus
vagina yang menghubungkan introitus dan uterus, terletak di belakag
rektum dan di belakng kandung kemih dan uretra. Dinding depan lebih
pendek (sekitar 9 cm) dan berdekatan satu sama lain. Bagian sebelah
dalam vagina berlipat-lipat disebut rugae, ditengahnya ada bagian
yang lebih keras disebut kolumna rugarum. Lipatan-lipatan tersebut
memungkikan vagina dapat melebar pada waktu persalinan.
Mukosa vagian berespon dengan cepat terhadap stimulasi estrogen
dan perogestron. Sel-sel yang diambil dari mukosa vagina dapat
digunakan untuk mengukur kadar hormon seks steroid. Cairan vagina
sedikit asam, berasal dari saluran genetalia atau bawah. Intraksi antara
laktobasilus vagina dan glikogen mempertahankan keasaman (P.H.
4.5). apa bila cairan PH naik antara 5, maka insiden infeksi vagina
meningkat. Kebersihan relatif vagina dipertahankan oleh cairan yang
terus mengalir dari vagina. Fungsi vagina adalah sebagai organ untuk
koitus dan jalan lahir.
2) Uterus adalah organ berdinding tebal, muskular dan pipih, tampak
seperti buah peer terbalik. Dalam keadaan fisiologis, posisi uterus
adalah anteversiofleksio (serviks ke depan dan membentuk sudut
dengan vagina, begitu juga dengan korpus uteri kedepan dan
membentuk sudut denagan serviks uteri).
6
Uterus (rahim) merupakan organ yang memiliki peranan besar dalam
reproduksi wanita, yakni dari saat menstruasi hingga melahirkan.
Bentuknya seperti buah pear, berongga, dan berotot. Sebelum hamil
beratnya 30-50 gram dengan ukuran panjang 9 cm dan lebar 6 cm
kurang lebih sebesar telur ayam kampung. Tetapi saat hamil mampu
membesar dan beratnya mencapai 1000 gram.
Uterus terdiri dari 3 lapisan, yaitu:
a) Lapisan parametrium merupakan lapisan paling luar dan yang
berhubungan dengan rongga perut.
b) Lapisan myometrium merupakan lapisan yang berfungsi
mendorong bayi keluar pada proses persalinan (kontraksi).
c) Lapisan endometrium merupakan lapisan dalam rahim tempat
menempelnya sel telur yang sudah dibuahi. Lapisan ini terdiri dari
lapisan kelenjar yang berisi pembuluh darah.
Setelah menstruasi permukaan dalam uterus menjadi tebal karena
pengaruh hormon estrogen. Kemudian terjadi ovulasi diikuti dengan
keluarnya cairan karena pengaruh hormon progresteron. Bila tidak
terjadi pembuahan maka lapisan tadi bersama sel telur akan terlepas
(meluruh) dan keluar melalui vagina yang disebut sebagai menstruasi.
Waktu antara dua menstruasi disebut siklus menstruasi. Walaupun
rata-rata periodenya datang setiap 28 hari, hal ini dapat bervariasi pada
setiap perempuan. Periode ini juga sangat tidak teratur pada 2-3 tahun
pertama mulai menstruasi.
3) Tuba falopii adalah organ yang dikenal dengan istilah saluran telur.
Saluran telur adalah sepasang saluran yang berada pada kanan dan kiri
rahim sepanjang +10cm yang menghubungkan uterus dengan ovarium
melalui fimbria. Ujung yang satu dari tuba falopii akan bermuara di
uterus sedangkan ujung yang lain merupakan ujung bebas dan
terhubung ke dalam rongga abdomen.
Ujung yang bebas berbentuk seperti umbai yang bergerak bebas.
Ujung ini disebut fimbria dan berguna untuk menangkap sel telur saat

7
dilepaskan oleh ovarium (indung telur). Dari fimbria, telur akan
digerakkan oleh rambut-rambut halus yang terdapat di dalam saluran
telur menuju ke dalam rahim.
4) Ovarium terletak pada kiri dan kanan ujung tuba (fimbria/umbai-
umbai) dan terletak di rongga panggul. Ovarium merupakan kelenjar
yang memproduksi hormon estrogen dan progresteron. Ukurannya
332 cm, tiap ovarium mengandung 150.000-200.000 folikel
primordial. Sejak pubertas setiap bulan secara bergantian ovarium
melepas satu ovum dari folikel degraaf (folikel yang telah matang),
peristiwa ini disebut ovulasi.

8
2. Fisiologi Alat Reproduksi Wanita
Setelah tercapai purbertas pada usia 12-16 tahun terjadi perubahan
perubahan pada ovarium yang mengakibatkan pula perubahan besar pada
seluruh tubuh perempuan. Perempuan yang sudah pubertas akan mengalami
menstruasi atau haid. Haid ini terjadi setiap bulannya. Siklus haid dapat
berbeda-beada setiap perempuan sehat dan normal. Lamanya siklus haid
yang di anggap normal adalah 28 hari ditamabh atau dikurangi dua sampai
tiga hari.
Setiap siklus dibedakan dalam beberapa fase yaitu :
a. Fase haid lamanya dua samapi delapan hari, rata-rata lima hari, dimuali
sekitar 14 hari sekitar ovulasi. Hari pertama keluarnya darah haid
ditetapkan sebagai hari pertama siklus endometrium. Pada waktu ini
endometrium dilepas dan dicampakan dari dinding uterus diseratai
denagn perdarahan. Jumlah darah yang hilang sangat bervariasi diantara
perempuan dengan rentang antara 20 samapai 80 ml (rata-rata 50 ml).
b. Fase proliferasi berlangsung sampai hari keemapat belas, endometrium
tumbuh kemabli, disebut endometrium poliferasi. Pada masa ini terjadi
penebalan endometrium 8 sampai 10 kali lipat dan berakhir saat ovulasi.
c. Fase sekresi berlangsung sejak hari ovulsi samapi sekitar tiga hari
sebelum periode haid berikutnya. Pada akhir fase sekresi endometrium
matang degan sempurna mencapai ketebalan seperti beludru yang tebal
dan halus, kaya dengan darah dan sekresi kelenjar yang kaya dengan
glikogen dan lemak dan merupakan tempat yang sesuai untuk melindungi
dan memberi nutrisi ovum yang dibuahi. Pada masa ini korpus rubrum
pada ovarium menjadi korpus lutreum yang menghasilkan hormon
progestron.

9
C. ETIOLOGI
Menurut Padila (2015) penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun
ada beberapa faktor resiko dan predisposisi yang menonjol, antara lain:
1. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual
Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan
seksual semakin besar mendapat kanker serviks. Kawin pada usia 20 tahun
dianggap masih terlalu muda
2. Jumlah kehamilan dan partus
Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin
sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma
serviks.
3. Jumlah perkawinan
Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti
pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini.
4. Infeksi virus
Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus
kondiloma akuminata diduga sebagai factor penyebab kanker serviks
5. Sosial Ekonomi
Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah
mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan
kebersihan perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya
kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh.
6. Hygiene dan sirkumsisi
Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang
pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum
hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma.
7. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)
Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan pemakaian
AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi
diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus
menerus, hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks.

10
D. TANDA DAN GEJALA
Manifestasi klinik yang ditunjukkan dari kanker serviks ini adalah:
(Padila, 2015)
1. Perdarahan
Timbul diantara siklus menstruasi. Apabila kanker sudah berada pada tahap
stadium lanjut bisa terjadi perdarahan spontan dan nyeri pada rongga panggul.
Perdarahan yang terjadi secara berulang dapat menyebabkan anemia.
2. Keputihan
Biasanya keputihan abnormal, yang makin lama makin berbau akibat infeksi
dan nekrosis jaringan, kadang-kadang timbulnya sebelum ada perdarahan.
Pada stadium lebih lanjut perdarahan dan keputihan lebih banyak disertai
infeksi sehingga cairan yang keluar berbau.
3. Keluhan dan gejala akibat bendungan kanker, penderita mengalami halangan
air seni.
4. Rasa kering pada vagina

E. KLASIFIKASI/STADIUM
Menurut padila (2015) klasifikasi/stadium kanker serviks sebagai berikut:

1. Stage I: Ca. Terbatas pada serviks


2. Stage IA : Disertai Stage 0: Ca.Pre invasive
inbasi dari stroma yang hanya diketahui secara histopatologis
3. Stage IB : Semua kasus lainnya dari stage I
4. Stage II : Sudah menjalar keluar serviks tapi belum sampai kepanggul telah
mengenai dinding vagina. Tapi tidak melebihi dua pertiga bagian proksimal
5. Stage III : Sudah sampai dinding panggula dan sepertiga bagian bawah vagina
6. Stage IIIB : Sudah mengenai organ-organ lain.

11
F. PATOFISILOGI
Kanker insitu pada serviks adalah keadaan dimana sel-sel neoplastik
terjadi pada seluruh lapisan epitel yang disebut displasia. Displasia
merupakan neoplasia serviks intraepithelial (CNI ). CNI terbagi menjadi tiga
tingkat yaitu tingkat I ringan, tingkat II sedang, tingkat III berat. Tidak ada
gejala spesifik untuk kanker serviks, perdarahan merupakan satu-satunya
gejala yang nyata. Akan tetapi gejala ini hanya ditemukan pada tahap lanjut,
sedangkan untuk tahap awal tidak.
CNI biasanya terjadi disambungan epitel skuamosa dengan epitel
olumnar dan mukosa endoserviks. Keadaan ini tidak dapat diketahui dengan
cara panggul rutin, pap smear dilaksanakan untuk mendeteksi perubahan.
Neoplastik hasil apusan abnormal dilanjutkan dengan biopsy untuk memperoleh
jaringan guna pemeriksaan sitologik. Sedangkan alat biopsy yang digunakan
dalam biopsy kolposkop fungsinya mengarahkan tindakan biopsy dengan
mengambil sample, biopsy kerucut juga harus dilakukan.
Stadium dini CNI dapat diangkat seluruhnya dengan biopsy kerucut
atau dibersihkan dengan laser kanker atau bedah beku. Atau biasa juga
dengan histerektomi bila klien merencanakan untuk tidak punya anak.
Kanker invasive dapat meluas sampai ke jaringan ikat, pembuluh limfe dan
vena. Vagina ligamentum kardinale, endometrium penanganan yang dapat
dilaksanakan yaitu radioterapi atau histerektum radikal dengan mengangkat
uterus atau ovarium jika terkena kelenjar limfe aorta diperlukan kemoterapi
(Price, S. A., 2006 ).

12
G. PATHWAYS

Menurut Mitayani (2009)

13
H. PENATALAKSANAAN
1. Medik (Mitayani, 2009)
a) Rontgen
b) Pemeriksaan laboratorium
c) Pemeriksaan spesifik seperti biopsi punch dan kolposkopi. Apabila
ditemukan lesi prekusor seperti lesi intra-epitel skuamosa tingkat rendah
(LGSH) dan tinggi (HGSIL)
d) Pengangkatan non-bedah konservatif
e) Krioterapi (pembekuan dengan oksida nitrat) atau terapi laser efektif)
f) Konisasi (pengangkatan bagian yang berbentuk kerucut dan serviks)
2. Prinsip Perawatan (Padila, 2013)
a) Promotif sampai dengan rehabilitatif
b) Memberi dukungan klien terhadap prosedur diagnostik
c) Mengenali kebutuhan psiko sosial dan spiritual
d) Memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi klien
e) Memberi bantuan bagi klien yang mendapat pengobatan anti kanker atau
terhadap keganasan
f) Membantu klien fase penyembuhan/rehabilitasi
g) Membantu klien untuk tindak lanjut pengobatan
h) Berpartisipasi dalam koleksi data penelitian/registrasi kanker

14
BAB III

KONSEP KEPPERAWATAN

A. DATA FOKUS
1. Pengkajian (Padila, 2015)
a) Data dasar
Pengumpulan data pada pasien dan keluarga dilakukan dengan cara
anamnesa, pemeriksaan fisik dan melalui pemeriksaan penunjang. Data
tersebut diantaranya:
1) Data pasien
Identitas pasien, usia, status perkawinan, pekerjaan jumlah anak,
agama, alamat jenis kelamin dan pendidikan terakhir.
2) Keluhan utama
Pasien biasanya datang dengan keluhan intra servikal dan disertai
keputihan menyerupai air.
3) Riwayat penyakit sekarang
Biasanya klien pada stsdium awal tidak merasakan keluhan yang
mengganggu, baru pada stadium akhir yaitu stadium 3 dan 4 timbul
keluhan seperti : perdarahan, keputihan dan rasa nyeri intra servikal.
4) Riwayat penyakit sebelumnya
Data yang perlu dikaji adalah:
Riwayat abortus, infeksi pasca abortus, infeksi masa nifas, riwayat
ooperasi kandungan, serta adanya tumor. Riwayat keluarga yang
menderita kanker.
5) Keadaan Psiko-sosial-ekonomi dan budaya:
Ca. Serviks sering dijumpai pada kelompok sosial ekonomi yang
rendah, berkaitan erat dengan kualitas dan kuantitas makanan atau gizi
yang dapat mempengaruhi imunitas tubuh, serta tingkat personal
hygiene terutama kebersihan dari saluran urogenital.
b) Data khusus

15
1) Riwayat kebidanan ; paritas, kelainan menstruasi, lama,jumlah dan
warna darah, adakah hubungan perdarahan dengan aktifitas, apakah
darah keluar setelah koitus, pekerjaan yang dilakukan sekarang.
2) Pemeriksaan penunjang
Sitologi dengan cara pemeriksaan Pap Smear, kolposkopi, servikografi,
pemeriksaan visual langsung, gineskopi.

B. Diagnosa Keperawatan
(Padila, 2015)
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis.
2. Ansietas berhubungan dengan ancaman pada status terkini.
3. Resiko harga diri rendah situasional berhubungan dengan gangguan citra
tubuh.

16
C. Perencanaan Keperawatan
NO Diagnosa Keperawatan NOC NIC
1. Nyeri akut berhubungan Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen Nyeri:
dengan agen injuri diharapkan nyeri berkurang. 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif yang
biologis. Kontrol Nyeri meliputi lokasi, karakteristik, onset/durasi,
Kriteria hasil : frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya nyeri dan
1. Pasien dapat mengenali kapan nyeri faktor pencetus.
terjadi 2. Lakukan diskusi bersama pasien untuk mengenali
2. Pasien mampu menggunakan tindakan faktor-faktor yang dapat menurunkan atau
pengurangan nyeri tanpa analgetik memperberat nyeri.
3. Pasien mau menggunakan analgesik yang 3. Evaluasi pengalaman nyeri di masa lalu yang
direkomendasikan meliputi riwayat nyeri kronik individu atau keluarga
4. Pasien dapat melaporkan perubahan atau nyeri yang menyebabkan ketidakmampuan atau
terhadap gejala nyeri pada profesional kecacatan dengan tepat.
kesehatan 4. Berikan informasi mengenai nyeri, seperti penyebab
nyeri, berapa lama nyeri akan dirasakan, dan
antisipasi dari ketidaknyamanan akibat prosedur.
5. Ajarkan penggunaan teknik non farmakologi seperti
teknik nafas dalam.

17
6. Ajarkan metode farmakologi untuk menurunkan
nyeri.

2. Ansietas berhubungan Setelah dilakukan tindakan keperawatan Peningkatan Koping


dengan ancaman pada diharapkan ansietas berkurang atau hilang. 1. Bantu pasien untuk menyelesaikan masalah dengan
status terkini. Koping cara yang konstruktif
Kriteria hasil: 2. Dukung pasien untuk mengidentifikasikan deskripsi
1. Pasien melaporkan adanya pengurangan yang realistik terhadap adanya perubahan dalam
stress peran
2. Pasien menyatakan penerimaan terhadap 3. Mengenalkan pasien pada seseorang (atau
situasi kelompok) yang telah berhasil melewati pengalaman
3. Pasien melaporkan penurunan perasaan yang sama
negatif 4. Instruksikan pasien untuk menggunakan teknik
relaksasi sesuai dengan kebutuhan
3. Resiko harga diri rendah Setelah dilakukan tindakan keperawatan Peningkatan Harga Diri
situasional berhubungan diharapkan harga diri rendah situasional tdiak 1. Monitor pernyataan pasien mengenai harga diri
dengan gangguan citra akan terjadi. 2. Dukung pasien untuk bisa mengidentifikasi
tubuh. Harga Diri kekuatan
Kriteria hasil: 3. Bantu pasien untuk menemukan penerimaan diri

18
1. Pasien memverbalisasikan penerimaan 4. Dukung pasien untuk (melakukan) kontak mata pada
diri saat berkomunikasi dengan orang lain
2. Pasien mau melakukan komunikasi 5. Berikan pengalaman yang akan meningkatkan
terbuka otonomi pasien dengan tepat
3. Pasien mampu mempertahankan 6. Fasilitasi lingkungan dan aktivitas-aktivitas yang
penampilan dan kebersihan diri akan meningkatkan harga diri pasien
4. Tingkat kepercayaan diri pasien 7. Monitor tingkat harga diri pasien dari waktu ke
meningkat waktu dengan tepat
8. Berikan pernyataan positif mengenai pasien

19
DAFTAR PUSTAKA

Padila. 2015. Asuhan Keperawatan Maternitas II. Yogyakarta: Nuha Medika.

Mitayani. 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: Salemba Medika.

Padila. 2013. Asuhan Keperawatan Penyakit Dalam. Yogyakarta: Nuha Medika.

Price, Sylvia. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses - Proses Penyakit, Edisi 6,

Volume 2. Jakarta : EGC

Bobak, Jansen dan Zalar. 2011. Maternitidan Gynecologic Care The Nursing and

Family. Edisi 4. USA :Masby Company.

Moorhead, S. dkk. 2008. Nursing Outcomes Classification (NOC) Pengukuran


Outcomes Kesehatan. Terjemahan oleh Intisari Nurjannah dan Roxsana Devi
Tumanggor. 2013. Elsevier Global Rights.
Bulechek, M. G. Dkk. 2008. Nursing Interventions Classification (NIC).
Terjemahan oleh Intisari Nurjannah dan Roxsana Devi Tumanggor. 2013.
Elsevier Global Rights.

21