Anda di halaman 1dari 10

PENGARUH ELEKTROLIT TERHADAP

IRAMA JANTUNG
Tubuh mengandung elektrolit yang berfungsi sebagai pengantar impuls yang
dibutuhkan tubuh terutama untuk sel-sel otot. Terdapat dua macam elektrolit dalam
tubuh yaitu kation ( elektrolit bermuatan positif) dan anion ( elektrolit bermuatan
negatif). Beberapa contoh dari Kation adalah kalium (K+), kalsium (Ca+2),
magnesium(Mg+2 ) dan natrium (Na+2 ) sedangkan klorida (Cl-), HCO3-, HPO4-
merupakan suatu anion. Di luar sel, kation utama adalah Na+2 dan anion utama
adalah Cl- sedangkan didalam sel tubuh kation utama adalah K+.

Elektrolit memiliki peranan yang sangat penting pada otot jantung. Kelebihan atau
kekurangan jumlah elektrolit akan menyebabkan perubahan pada elektrofisiologi
jantung yang akan mengakibatkan perubahan dalam rekam jantung atau EKG.
Elektolit yang penting bagi otot jantung antara lain natrium, kalium, calcium dan
magnesium.

Berikut merupakan pengaruh kelebihan maupun kekurangan berbagai jenis


elektrolit bagi irama jantung yang dapat mengakibatkan perubahan dalam rekam
jantung (EKG) :

1
1. KALIUM

Kalium merupakan elektrolit tubuh yang terdapat pada cairan vaskuler (pembuluh
darah), 90% dikeluarkan melalui urin, rata-rata 40 mEq/L atau 25 -120 mEq/24 jam
walaupun masukan kalium rendah.

Makanan yang mengandung kalium yaitu buah-buahan, sari buah, kacang-


kacangan, dan lain-lain.

Nilai normal :

Dewasa 3,5 5,0 mEq/L


Anak 3,6 5,8 mEq/L
Bayi 3,6 5,8 mEq/L

HIPERKALEMIA

Dikatakan hiperkalemia apabila konsentrasi ion Kalium plasma > 5 mEq/L.

Peningkatan kalium (hiperkalemia) terjadi jika terdapat gangguan ginjal,


penggunaan obat terutama golongan sefalosporin, histamine, epinefrin.

Pada hiperkalemia atau kadar kalium yang meningkat akan terjadi perubahan dari
gambaran EKG antara lain :

T menjadi lebih tinggi dan lancip

R menjadi lebih pendek

2
QRS menjadi melebar

QRS bersatu dengan T, sehingga segmen ST menghilang

P mengecil dan akhirnya menghilang

HIPOKALEMIA

Dikatakan hipokalemia apabila konsentrasi ion Kalium plasma <3,5 mEq/L.

Penurunan kalium (hipokalemia) terjadi jika masukan kalium dari makanan rendah,
pengeluaran lewat urin meningkat, diare, muntah, dehidrasi, luka pembedahan.

Pada hipokalemia atau kadar kalium darah menurun, akan tampak gambaran EKG
antara lain:

U menjadi prominen

T semakin mendatar dan akhirnya terbalik

Depresi ST

Interval PR, QRS, QT memanjang

Makanan yang mengandung kalium yaitu buah-buahan, sari buah, kacang-


kacangan, dan lain-lain

2. KALSIUM

3
Merupakan elektrolit dalam serum, berperan dalam keseimbangan elektrolit,
pencegahan tetani, dan dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi gangguan hormon
tiroid dan paratiroid.

Nilai normal :

Dewasa 9-11 mg/dl


Anak 9 -11,5 mg/dl
Bayi 10 -12 mg/dl
Bayi Baru Lahir 7,4 -14 mg/dl

HIPERKALSEMIA

Dikatakan hiperkalsemia apabila konsentrasi ion Kalsium >11,5 mEq/L.

Peningkatan kalsium terjadi karena adanya keganasan (kanker) pada tulang, paru,
payudara, kandung kemih, dan ginjal. Selain itu, kelebihan vitamin D, adanya batu
ginjal, olah raga berlebihan juga dapat memacu peningkatan kadar kalsium dalam
tubuh.

Pada kardiovaskular kelainan EKG pada hiperkalsemia yang paling penting adalah
interval QT yang memendek.

HIPOKALSEMIA

4
Dikatakan hipokalsemia apabila konsentrasi ion Kalsium < 8,5 mEq/L.

Penurunan kalsium dapat terjadi pada kondisi malabsorpsi saluran cerna,


kekurangan asupan kalsium dan vitamin D, gagal ginjal kronis, infeksi yang luas,
luka bakar, radang pankreas, diare, pecandu alkohol, kehamilan. Selain itu
penurunan kalsium juga dapat dipicu oleh penggunaan obat pencahar, obat maag,
insulin, dan lain-lain.

Pada hipokalsemia yang penting untuk diperhatikan adalah segmen ST yang


memanjang sehingga interval QT memanjang.

3. MAGNESIUM

Magnesium berperan sangat penting. Magnesium membantu menurunkan tekanan


darah, dimana tekanan darah yang tinggi meningkatkan resiko terkena serangan
jantung bahkan stroke. Dengan mengkonsumsi Magnesium secara proporsional
maka resiko terkena serangan jantung dan stroke pun bisa dihindari.

Nilai Normal :

Dewasa : 1,6 2,4 mEq/L

HIPERMAGNESEMIA

5
Dikatakan terjadi hipermagnesemia apabila jumlah konsentrasi ion Magnesium
plasma > 2,2 mEq.

Penyebab tersering terjadinya peningkatan magnesium dapat terjadi akibat gagal


ginjal.

Hipermagnesemia menyebabkan vasodilatasi. Severe hipermagnesemia dapat


menyebabkan hipotensi. Konsentrasi magnesium serum yang terlalu tinggi dapat
menyebabkan penurunan kesadaran, aritmia jantung, hipoventilasi, henti jantung
serta henti nafas.

Gambaran EKG hipermagnesemia tampak pelebaran kompleks QRS dengan


peningkatan interval PR dan peninggian gelombang T.

HIPOMAGNESEMIA

Dikatakan hipomegnesemia apabila konsentrasi magnesium plasma < 1,3 mEq/L.

Penurunan magnesium dapat disebabkan karena pemberian terapi diuretik,


ketergantungan alkohol, kelainan endokrin (diabetes mellitus, hipertiroidisme),
asupan kalsium atau vitamin D yang berlebihan, kehamilan, diare, obat-obatan
(diuretik, agonis beta, aminoglikosida, kemoterapi, teofilin).

Pengaruh hipomagnesemia pada jantung dapat menyebabkan terjadinya disaritmia


supraventrikular : fibrilasi atrium, takikardia atrial multifokal, takikardia
supraventrikular paroksisimal.

6
Gambar EKG diatas adalah gambaran Torsades de Pointes (TdP), yakni suatu
kondisi yang disebabkan karena prolong atau keadaan abnormal dari repolarisasi.
Torsades de Pointes merupakan suatu ventrikular takikardi yang polimorfik yang
merlukan tindakan segera. Bila kondisi pasien stabil TdP bisa diobati dengan
magnesium karena kondisi TdP dipicu oleh keadaan hipomagnesemia.

4. NATRIUM

Natrium adalah salah satu mineral yang banyak terdapat pada cairan elektrolit
ekstraseluler (di luar sel), mempunyai efek menahan air, berfungsi untuk
mempertahankan cairan dalam tubuh, mengaktifkan enzim, sebagai konduksi
impuls saraf.

Nilai Normal :

Dewasa 135-145 mEq/L


Anak 135-145 mEq/L
Bayi 134-150 mEq/L

HIPERNATREMIA

Kemungkinan penyebab terjadinya hipernatremia antara lain seperti keringat


berlebih, luka bakar, diare, dehidrasi, muntah, obat batuk, obat golongan laksansia
(obat pencahar).

7
Gejala umumnya bermanifestasi pada sistem saraf pusat seperti perubahan status
mental, agitasi, defisit neurologis fokal, kejang dan koma. Kelemahan, tremor, dan
rigiditas.

HIPERNATREMIA TIDAK BERHUBUNGAN DENGAN PERUBAHAN


EKG.

HIPONATREMIA

Beberapa penyebab terjadinya penurunan natrium antara lain :

1. Hiperglikemia

2. Defisit natrium yang berhubungan dengan hipovolemia : kehilangan melalui


renal, GI, keringat berlebihan, penyakit Addison

3. Defisit Natrium yang berhubungan dengan normovolemia : insufisiensi adrenal,


hipotiroidisme.

4. Defisit Natrium yang berhubungan dengan hipervolemia : gagal jantung


kongestif, sirosis hepatis, sindrom nefrotik, gagal ginjal

Gejala dari hiponatremia bergantung derajat kehilangan natrium. Letargi, bingung,


disorientasi, agitasi, depresi, psikosis, kejang koma, kematian.

HIPONATREMIA TIDAK BERHUBUNGAN DENGAN PERUBAHAN EKG

5. KLORIDA

Merupakan elektrolit bermuatan negatif, banyak terdapat pada cairan ekstraseluler


(di luar sel), tidak berada dalam serum, berperan penting dalam keseimbangan
cairan tubuh, keseimbangan asam-basa dalam tubuh. Klorida sebagian besar terikat
dengan natrium membentuk NaCI (natrium klorida).

Nilai normal :

Dewasa 95-105 mEq/L


Anak 98-110 mEq/L
Bayi 95 -110 mEq/L
Bayi Baru Lahir 94-112 mEq/L

8
HIPERKLOREMIA

Hiperkloremia terjadi jika kadar klorida serum meningkat sampai di atas 106
mEq/L. Peningkatan klorida terjadi pada penderita dehidrasi,cedera kepala,
peningkatan natrium, gangguan ginjal,penggunaan obat kortison, asetazolamid, dan
lain-lain.

HIPOKLOREMIA

Hipokloremia terjadi jika kadar klorida serum turun sampai di bawah 95 mEq/L.
Penurunan klorida dapat terjadi pada penderita muntah, bilas lambung, diare, diet
rendah garam, infeksi akut, luka bakar, terlalu banyak keringat, gagal jantung
kronis, penggunaan obat Thiazid, diuretik, dan lain-lain.

9
DAFTAR PUSTAKA
Guyton A.C. and J.E. Hall 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.

Medical Mini Notes. Emergency and Basic Surgery Edition.

Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu


Penyakit Dalam. Edisi IV 2006, Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

10