Anda di halaman 1dari 2

A.

Penerapan di Indonesia

Di Indonesia, menilai jumlah perdarahan masih banyak dilakukan dengan cara


visual seperti halnya yang terdapat di dalam jurnal. Hal tersebut terkait dengan
efisiensi dalam hal sarana prasarana serta waktu. Namun, seperti yang
direkomendasikan oleh peneliti jurnal, metode penghitungan visual kurang akurat
karena dipengaruhi subyektifitas bidan/perawat dimana menurut Kadri et al, metode
visual 30% kurang akurat. Faktor-faktor yang mempengaruhi masih banyaknya
digunakan metode visual di Indonesia oleh perawat maupun bidan diantaranya
seperti yang sudah dijelaskan di dalam jurnal yakni perlunya adanya tambahan
timbangan di ruangan, perlunya waktu lebih yang disediakan oleh petugas untuk
menghitung setiap pembalut sebelum dan sesudah post partum, serta kemauan dari
petugas sendiri yang tidak mau terlalu terpajan oleh darah ibu nifas dengan HPP.
Oleh karena itu, belum banyak yang menerapkan teknik penimbangan khususnya
dengan menggunakan Bellini scale (dengan tingkat kesalahan 0,1 dalam 2 kg).
Untuk meningkatkan kemampuan penilaian klinis perawat maternitas maupun bidan
dalam menentukan jumlah perdarahan post partum, perlu ditingkatkan sosialisasi
terkait metode lain, yakni metode penimbangan.
Penghitungan jumlah perdarahan post partum dapat membantu untuk menekan
angka kematian maternal. Di Indonesia sendiri, angka kejadian HPP 5-15% di
Indonesia. Masih tingginya angka HPP di Indonesia adalah salah satunya terjadi
karena keterlambatan diagnosis. Penggunaan metode timbangan di Indonesia
digunakan salah satunya dalam menimbang output bayi yang biasanya diterapkan di
ruang perinatologi. Prinsip yang digunakan pun sama yakni menggunakan
timbangan dengan menimbang pads/diapers sebelum dan sesudah. Walaupun
sudah pernah diterapkan pada ruang perinatologi, penerapan penimbangan
pads/diapers masih sangat jarang diterapkan di ruang obstetri.
Diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus HPP diantaranya adalah risiko
kekurangan volum cairan. Hal tersebut didasarkan pada salah satu kriteria hasil
pada NOC, yakni blood loss severity yang di dalamnya terdapat indikator visible
blood loss. Pemantauan perdarahan post partum dengan metode menimbang pada
jurnal ini sesuai dengan intervensi pada NIC fluid management yakni count or weigh
diapers, as appropriate.
Apabila masalah keperawatan risiko kekurangan volume cairan gagal diatasi,
maka akan menimbulkan masalah keperawatan yang lain yakni risiko syok yang
bisa berujung pada kematian ibu post partum. Masalah keperawatan syok dapat
diselesaikan melalui asuhan keperawatan dengan intervensi NIC Shock
Management : Volume melalui poin monitor for sudden loss of blood, severe
dehydration, and persistent bleeding.
Perhitungan perdarahan post partum dengan menggunakan metode
penimbangan sangat mungkin diaplikasikan di Indonesia karena hanya
membutuhkan peralatan yang tidak rumit seperti timbangan dan kontainer. Namun
perlu dipertimbangkan kembali jenis timbangan yang digunakan karena di dalam
jurnal tidak disebutkan secara spesifik. Selain itu, terkait kualitas dari pembalut
sendiri yang memiliki perbedaan dalam hal ukuran dan tingkat penyerapan. Perlu
dibuat suatu parameter yang menkonversikan berbagai jenis pembalut agar saat
dilakukan penimbangan memiliki angka yang sama. Perawat maupun bidan juga
perlu mendapatkan pemaparan khusus mengenai metode penimbangan mengingat
angka kejadian HPP yang masih tinggi dan penghitungan perdarahan post partum
yang belum terpadu.