Anda di halaman 1dari 18

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan lengkap praktikum biologi dasar dengan judul Respirasi,


disusun oleh :
Nama : AGUS. A
NIM : 1114040038
Kelompok/kelas : VIII / A
Jurusan : Pendidikan Biologi
Telah diperiksa secara seksama dengan teliti oleh asisten dan koordinator asisten,
maka dinyatakan diterima.

Makassar, Desember 2011


Koordinator Asisten Asisten

Djumarirmanto, S.Pd Gunawan Rahmil


NIM. 091404174

Mengetahui
Dosen Penanggung Jawab

Drs. H. Hamka L, M. S
NIP. 196212311987021005
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bukan mahluk hidup jika tidak berespirasi (bernafas). Karena bernafas
merupakan ciri utama dan paling jelas yang membedakan antara mahluk hidup
dengan mahluk tak hidup. Akan tetapi kebutuhan akan zat yang dibutuhkan
dalam bernafas tidak sama antara satu mahluk dengan mahluk yang lainnya.
Umumnya, Setiap keanekaragaman mempunyai perbedaan yang
mendasar, termasuk juga kebutuhan akan oksigen dan karbon dioksida yang
merupakan zat dalam pernafasan. Hal ini disebabkan karena banyaknya
keanekaragaman pada setiap mahluk hidup. Tentunya manusia memiliki
perbedaan kebutuhan akan zat pernafasan dibandingkan dengan semut, burung,
atau mahluk lainnya. Demikian pula halnya jika ketika berlari dan ketika santai
terdapat juga perbedaan kebutuhan akan oksigen ketika bernafas.
Demikian pula telah diketahui bahwa hewan dan tumbuhan berbeda zat
yang dihirup ketika bernafas. Ketika hewan bernafas membutuhkan oksigen dan
mengeluarkan karbondioksida. Sebaliknya tumbuhan bernafas memerlukan
karbondioksida dan mengeluarkan oksigen. Maka yang menjadi problem pada
percobaan ini yaitu manakah yang lebih cepat repirasinya antara hewan atau
tumbuhan? Selain itu yang manakah yang lebih besar kebutuhan akan zat yang di
butuhkan saat bernafas antara yang memiliki ukuran tubuh yang besar ataukah
yang kecil, antara jenis yang satu dengan jenis yang lain?
Kira-kira itulah yang membuat merasa perlunya untuk melakukan
praktikum ini. Selain untuk menambah pengetahuan tentang hal-hal baru yang
sebelumnya belum diketahui, juga untuk mengembangkan apa yang telah
diketahui sebelumnya agar semakin tahu atau berkesan. juga untuk
menyelesasikan salah satu dari program akademik yang sedang diikuti.
B. Tujuan
1. Untuk mebuktikan bahwa orgasme hidup membutuhkan oksigen untuk
respirasinya.
2. Untuk membandingkan kebutuhan oksigen beberapa organisme menurut jenis
dan ukuran berat tubuhnya.
C. Manfaat
1. Dapat mengetahui bahwa organisme membutuhkan oksigen untuk
respirasinya.
2. Dapat mengetahui dan dapat membandingkan kebutuhan oksigen beberapa
organisme menurut jenis dan ukuran berat tubuhnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Respirasi adalah proses oksidasi bahan makanan atau bahan organik yang
terjadi di dalam sel yang dapat dilakukan secara aerob maupun secara anaerob. Dalam
kondisi aerob, respirasi ini memerlukan oksigen bebas dan melepaskan
karbondioksida serta energi. Apabila yang di oksidasi ini adalah gula, maka reaksi
yang terjadi adalah:
C6H12O6 + 6O2 6CO2 + 6 H2O + Energi
Jumlah CO2 yang dihasilkan dan jumlah O2 yang digunakan dalam respirasi aerob
tidak selalu sama. Hal ini tergantung pada jenis bahan yang digunakan. Perbandingan
antara jumlah CO2 yang dilepaskan dan jumlah O2 yang dibutuhkan disebut
Respiratory Quotient (RQ). Untuk karbohidarat, nilai RQ-nya = 1. Nilai RQ ini dapat
bervariasi tergantung pada bahan untuk respirasi, sempurna tidaknya respirasi dan
kondisi-kondisi lainnya (Tim Pengajar, 2011).
Keseluruhan proses kimiawi suatu organisme disebut metabolisme (dari
bahasa Yunani: metabole artinya berubah). Metabolisme adalah sifat baru dari
kehidupan yang muncul dari interaksi spesifik antara molekul-molekul didalam
lingkungan sel yang teratur dengan baik. Kita dapat menganggap metabolisme suatu
sel sebagai suatu peta jalan yang rumit yang terdiri dari ribuan reaksi kimia yang
terjadi di dalam sel. Secara keseluruhan, metabolisme dikaitkan dengan pengaturan
sumber daya materi dan energi dari sel itu. Beberapa jalur metabolisme
membebaskan energi dengan cara merombak molekul-molekul kompleks menjadi
senyawa yang lebih sederhana. Proses perombakan ini disebut jalur katabolik. Sebuah
proses utama katabolisme adalah respirasi seluler, dimana gula glokusa dan bahan
organik lainnya dirombak menjadi karbondioksida dan air. Setelah perombakan
tersebut, energi yang tersimpan dalam molekul organik dapat digunakan untuk
pelaksanaan kerja sel. Jalur anabolik, sebaliknya memakai energi untuk membangaun
molekul kompleks dari molekul-molekul yang lebih sederhana. Suatu contoh
anabolisme adalah sintesis protein dari asam amino. Jalur-jalur anabolik dan
katabolik masing-masing merupakan jalan turun dan naik bukit pada peta
metabolisme. Jalur-jalur metabolisme saling berpotongan sedemikian rupa sehingga
energi yang dibebaskan dari reaksi turun bukit pada katabolisme dapat digunakan
untuk menggerakkan reaksi naik bukit pada anabolisme. Transfer energi dari
katabolisme ke anabolisme ini disebut juga penglopekan energi (energi coupling)
(Campbell, 2002).
Kebanyakan hewan sangat tergantung kepada oksigen untuk memenuhi
kebutuhan energinya melalui oksidasi zat makanan. Hanya sedikit hewan yang dapat
memenuhi energinya tanpa oksigen, yaitu dengan memanfaatkan energi kimia
senyawa organik. Pemanfaatan senyawa organik secara anaerob ini hanya
menghasilkan energi sedikit, kira-kira 1/10 sampai 1/20 dari zat makanan yang
dioksidasi sempurna (aerob). Makanan sebagai sumber energi hewan terdiri atas tiga
kelompok senyawa, yaitu karbohidrat, lemak, dan protein. Oksidasi karbohidrat dan
lemak menghasilkan air dan karbondioksida, sedangkan oksidasi protein, di samping
air dan karbondioksida, masih dihasilkan hasil samping yang lain (Soewolo, 2000)
Menurut Soewolo (2000), Proses pengambilan oksigen dan pembebasan
karbondioksida dikenal sebagai respirasi (pernafasan). Istialah pernafasan berlaku
untuk hewan secara keseluruhan maupun proses yang terjadi di dalam sel. Hewan
mengambil oksigen dar medium damana dia hidup dan memberikan karbon dioksida
ke medium tersebut. Banyak hewan kecil dapat mengambil cukup oksigen melalui
permukaan tubuhnya, tetapi kebanyakan hewan memiliki organ respirator khusus
untuk pengambilan oksigen. Perpindahan oksigen dan karbondioksida melintasi
permukaan tubuh maupun organ respiratori adalah melalui proses difusi. Oleh karena
itu organ pernafasan harus memiliki sifat:
1. Memiliki membran yang bersifat permeabel
2. Permukaan membran harus selalu basah
3. Memiliki vaskularitas yang tinggi
4. Memiliki permukaan yang relatif luas.
Sistem trakea adalah alat pertukaran gas yang paling lazim ditemukan pada
artropoda darat. Sebagian besar sekmen tubuh insekta mempunyai lubang lateral,
spirakel yang menuju ke dalam suatu sistem filter mencegah benda-benda kecil
menyumbat sistem ini. Terdapat katub-katub yang membuka dan menutup sesuai
dengan kebutuhan hewan. Trakea ini mempunyai bentuk seperti tangga dengan pipa
utama transversal dan longitudinal yang saling berhubungan. Trakea ini berakhir pada
tubulus-tubulus kecil, yaitu trakeol yang umumnya berdiameter kurang dari 1 m.
Jika metabolit didalam jaringan yang aktif meningkat, maka tekanan osmosis didalam
jaringan meningkat pula, sejumlah cairan keluar dari trakeol dan udara akan lebih
dekat dengan jaringan. Pada otot terbang insekta dimana kebutuhan oksigen sangat
tinggi, trakeol menembus sel otot dan berjarak hanya berjarak 0,07 m dari
mitokondrion. Suatu kutikula melapisi seluruh sistem, tetapi pada pergantian kulit
hanya kutikula pada trakea yang dilepaskan. Pada isnsekta kecil, difusi adalah satu-
satunya gaya yang diperliukan dalam pertukaran gas karena terjadinya sangat cepat
melalui pipa-pipa yang berisi udara itu. Insekta yang lebih besar dan aktif mempunyai
suatu system fentilasi dimana terdapat kantung hawa yang dapat diperkecil dan
diperbesar dengan kontraksi otot tubuh. Pembukaan dan penutupan spirakel yang
berurutan menyebabkan hawa mengalir kedalam trakea. Beberapa insekta telah
menyesuaikan diri kembali pada lingkungan air dan biasanya timbul ke permukaan
untuk mengambil udara. Kumbang penyelam mempunyai lapisan tebal penjuluran
kutikula seperti rambut yang tidak dapat basah dan menyekap gelembung hawa yang
permanen. Spirakel hanya bermuara di gelembung hawa ini dan gas-gas berdifusi
antara gelembung hawa ini dengan air. Gelembung hawa ini berfungsi sebagai insang.
Biasanya suatu system trakea menggabungkan ventilasi membran pernafasan dengan
distribusi gas ke dan dari jaringan. Untuk pengangkutan gas tidak diperlukan darah,
tetapi darah memberi makan pada sel dan membuang limbah nitrogen. Karena
besarnya peranan difusi, sistem trakea hanya cocok untuk hewan kecil seperti insekta,
sentipeda, milipeda, dan laba-laba kecil. Laba-laba besar mempunyai paru-paru
dengan trakea, dan gas diangkut oleh darah (Ville, 1999).
Respirasi (tumbuhan) merupakan proses dimana senyawa organik tereduksi
dimobilisasi dan dioksidasi dengan cara terkontrol untuk menghasilkan energi.
Senyawa organik yang umum digunakan sebagai substrat respirasi adalah glukosa.
Ringksan reaksi respirasi (aerob) dengan substrat glukosa adalah sebagai berikut:
C6H12O6 6CO2 + 6H2O + Energi (680 kkal)
Sebagian dari energi tersebut dibebaskan selama respirasi sebagai panas (kalor).
Sisinya disampan dalam bentuk energi kimia adenosin ttifosfat (ATP). Bila ATP
mengalami hidrolisis, energi yang dikandungnya dikeluarkan dan digunakan dalam
banyak proses hidup, seperti tumbuh dan akumulasi ion (Ismail, 2006).
Menurut Ismail (2006), Respirasi berperan dalam dua fungsi utama, yaitu:
1. Menyediakan ATP dan NADH yang diperlukan untuk kelangsungan reaksi dan
pertumbuhan.
2. Menyediakan rangka karbon untuk sintesis metabolit intermediat primer (asam
amino, asam nukleat, daur krebs, cadangan biosentesis, dll) dan sekunder (terpen,
penilpropanoid, isopranoid, flavonoid).
Dalam proses respirasi terdapat dua senyawa yang memegang peran penting
berkaitan dengan pembentukan energi sebagai tujuan respirasi, yaitu adenosin
ttifosfat (ATP) dan Nikotinamida Adenin Dinukleotida (NAD).
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat


Hari, tanggal : Jumat, 25 November 2011
Pukul : 13.30 s.d 15.00 WITA
Tempat : Laboratorium Biologi Lantai III
Sebelah timur jurusan biologi FMIPA UNM Makassar
B. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Dua set respirometer simple
b. Pipet kecil
c. Stopwatch
d. Neraca
2. Bahan
a. Kapas
b. Vaselin
c. Larutan eosin
d. KOH krista
e. Belalang (Disostevia caroline), besar dan kecil
f. Kecoak (Periplaneta sp), besar dan kecil
g. Kecamba kacang hijau
C. Prosedur Kerja
1. Mengambil satu ekor belalang dan satu ekor kecoak dengan ukuran berat tubuh
yang berbeda.
2. Memasukkan belalang pada respirometer.
3. Membungkus dengan kapas tipis 2 butir kristal KOH, kemudian
memasukkan/meletakkan di leher tabung respirometer.
4. Menutup tabung respirometer dengan penutupnya yang berhubungan dengan
pita kaca berskala, kemudian meletakkan pada sandarannya.
5. Mengolesi vaselin pada sambungan tabung respirometer dengan penutupnya
untuk mencegah kebocoran.
6. Menetesi larutan eosin pada ujung pipa kaca berskala sampai ada yang masuk
ke dalam saluran.
7. Mengamati pergeseran eosin sepanjang saluran pipa kaca berskala, kemudian
membaca dan mencatat skala setiap 1 menit selama 5 menit.
8. Melakukan langkah-langkah tersebut pada masing-masing bahan dan
mencatatnya dalam tabel pengamatan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
1. Tabel pengamatan respirasi pada organisme beda, ukuran sama.
Menit
1 2 3 4 5 Ket
Jenis
Kecoa ( gr) 0,30 0,45 0,56 0,64 0,74 A
Belalang ( gr) 0,01 0,11 0,24 0,45 0,59 B

2. Tabel pengamatan respirasi pada organisme sama, ukuran berbeda.


a. Belalang
Menit
1 2 3 4 5 Ket
Jenis
Besar ( gr) 0,30 0,45 0,56 0,64 0,75 C
Kecil ( gr) 0,00 0,14 0,24 0,37 0,47 D

b. Kecoa
Menit
1 2 3 4 5 Ket
Jenis
Besar ( gr) 0,00 0,02 0,19 0,39 0,55 E
Kecil ( gr) 0,01 0,11 0,24 0,45 0,59 F

3. Tabel pengamatan kecamba kacang hijau


Menit
1 2 3 4 5 Ket
Jenis
Kecamba( gr) 0,07 0,12 0,13 0,14 0,24 G
B. Analisis Grafik
1. Grafik organisme meda jenis, ukuran sama
0.8

0.7

0.6

0.5

0.4 kecoa
belalang
0.3

0.2

0.1

0
1 2 3 4 5

2. Grafik organisme jenis sama, ukuran berbeda


a. Belalang
0.8

0.7

0.6

0.5

0.4 B.Besar
B.Kecil
0.3

0.2

0.1

0
1 2 3 4 5
b. Kecoa
0.7

0.6

0.5

0.4
K.Besar
0.3
K.kecil
0.2

0.1

0
1 2 3 4 5

3. Kecambah kacang hijau

kecamba
0.16
0.14
0.12
0.1
0.08
kecamba
0.06
0.04
0.02
0
1 2 3 4 5
C. Analisis Perhitungan
s
v= atau =
t n

keterangan : s = perpindahan skala (skala)


t = waktu tempuh (menit)
skala
v = kecepatan respirasi (menit)

n = banyaknya variable
= jumlah kecepatan respirasi
= kecepatan respirasi rata-rata
1. Organisme berbeda, ukuran sama
Belalang Kecoa
s 0,01 s 0,30
v= = = 0,01 v= = = 0,30
t 1 t 1
s 0,11 s 0,45
v= = = 0,55 v= = = 0,225
t 2 t 2
s 0,24 s 0,56
v= = = 0,08 v= = = 0,187
t 3 t 3
s 0,45 s 0,64
v= = = 0,1125 v= = = 0,16
t 4 t 4
s 0,59 s 0,74
v= = = 0,118 v= = = 0,148
t 5 t 5

2. Organisme sama, ukuran beda


Belalang
Besar Kecil
s 0,30 s 0,00
v= = = 0,30 v= = = 0,00
t 1 t 1
s 0,45 s 0,14
v= = = 0,225 v= = = 0,07
t 2 t 2
s 0,56 s 0,24
v= = = 0,187 v= = = 0,08
t 3 t 3
s 0,64 s 0,37
v= = = 0,16 v= = = 0,0925
t 4 t 4
s 0,75 s 0,47
v= = = 0,15 v= = = 0,094
t 5 t 5
Kecoa
Besar Kecil
s 0,00 s 0,01
v= = = 0,00 v= = = 0,01
t 1 t 1
s 0,02 s 0,11
v= = = 0,01 v= = = 0,055
t 2 t 2
s 0,19 s 0,24
v= = = 0,063 v= = = 0,08
t 3 t 3
s 0,39 s 0,45
v= = = 0,0975 v= = = 0,1125
t 4 t 4
s 0,55 s 0,59
v= = = 0,11 v= = = 0,118
t 5 t 5

3. Kecambah kacang hijau


s 0,00
v= = = 0,00
t 1
s 0,07
v= = = 0,035
t 2
s 0,12
v= = = 0,04
t 3
s 0,13
v= = = 0,0325
t 4
s 0,14
v= = = 0,028
t 5
D. Pembahasan
berdasarkan praktikum yang dilakukan dengan melihat hasil pengamatan,
maka dapat dikatakan bahwa:
1. organisme yang berbeda jenisnya, maka kebutuhan akan oksigen untuk
bernafas juga berbeda. Biasanya organisme yang memiliki berat yang lebih
besar, maka organisme tersebutlah yang kebutuhan oksigennya lebih besar
dibandingkan yang beratnya lebih kurang darinya. Selain itu, bila dibawa
kejenis insekta, maka insekta yang lebih banyak rutinitas terbangnya lebih
membutuhkan oksigen yang lebih daripada yang rutinitas terbangnya kurang.
Hal itu disebabkan karena pada saat diudara membutuhkan oksigen yang lebih
banyak dibandingkan ketika tidak berada di udara.
2. Organisme yang sama jenisnya jika dilihat dari kebutuhan oksigen dalam
respirasinya maka yang lebih besara ukuran tubuhnya membutuhkan oksigen
yang lebih banyak dibandingkan organisme yang kecil. Hal ini jika
dihubungkan dengan percobaan maka sesuai dengan yang terjadi pada
belalang. Akan tetapi jika dilihat dari kecoa, maka didapatkan data yang tidak
sesuai dengan teori, hal ini disebabkan karena pada saa dalam tabung, aktivitas
kecoa lebih gesit (banyak gerak) sehingga membutuhkan oksigen yang banyak
agar tetap bertahan hidup, sehingga laju respirasinya lebih cepat. Berdasarkan
hal ini maka siketahui bahwa aktivitas organisme juga mempengaruhi
kebutuhan akan oksigennya.
3. Pada kecambah, didapatkan laju reaksi ketika semakin lama maka semakin
menurun, hal ini dapat member hipotesis bahwa kemungkinan kecambah
sudah tidak bernafas lagi nantinya. Akan tetapi ketika diamati lebih lanjut,
maka ternyata kecambah ketika bernafas tidak menggunakan oksigen, tetapi
karbondioksida, sedangkan karbondioksida tersedia banyak dalam tabung,
karena didalam tabung terdapat KOH Kristal yang mengikat karbondioksida
yang kemudian menjadi sumber pernafasan bagi kecambah.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Organisme membutuhkan oksigen untuk melakukan respirasinya.
2. Semakin besar ukuran tubuh atau massa tubuh suatu organisme maka semakin
besar pula kebutuhan akan zat yang dihirup saat respirasinya, sehingga
semakin cepat laju respirasinya.
3. Semakin banyak aktivitas yang dilakukan suatu organisme maka semakin
besar kebutuhan akan zat yang dihirup saat respirasinya, sehingga semakin
cepat laju respirasinya.

B. Saran
1. Untuk praktikan : tugas pribadi yang telah diberikan untuk menunjang lancer
tidaknya praktikum, harap dilaksanakan dengan baik. Jangan mengharap tugas
yang diberikan dikerjakan atau disediakan praktikan yang lain.
2. Untuk asisten : sebaiknya memperhatikan kelompok yang dibimbing, agar
praktikum berjalan lancer, tanpa ada kerusakan alat seperti yang terjadi pada
salah satu kelompok yang memecahkan respirometer pada saat praktikum.
Lampiran

1. Apakah fungsi KOH yang dibungkus dengan kapas?


Fungsi KOH yang dibungkus dengan kapas yaitu untuk mengikat CO2 dalam
respirometer.
2. Apa fungsi eosin pada percobaan ini? Dapatkah eosin diganti dengan cairan lain?
Eosin berfungsi sebagai penunjukan skala pada respirometer ketika
organisme bergerak.
3. Adakah perbedaan jumlah kebutuhan oksigen berdasarkan jenis organisme?
Ada. Jenis organisme yang melakukan aktivitas yang lebih banyak,
membutuhkan oksigen yang lebih banyak pula.
4. Adakah perbedaan jumlah kebutuhan oksigen berdasarkan ukuran organisme?
Ada. organisme yang besar ukuran tubuhnya membutuhkan oksigen yang
lebih banyak dibandingkan organisme yang tubuhnya kecil
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Reace, dan Mitchell. 2002. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 2. Jakarta :
Erlangga.

Ismail. 2006. Fisiologi Tumbuhan. Makassar : UNM

Soewono. 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta : IBRD Loan

Tim pengajar. 2011. Penuntun Praktikum Biologi Dasar. Makassar : UNM

Villee, Warren, dan Walker. Zoologi Umum. 1999. Jakarta : Erlangga