Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan

makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan-Nya mungkin penulis

tidak sanggup menyelesaikan dengan baik, makalah ini disusun agar pembaca

dapat memperluas ilmu tentang Asma (Asthma Bronchiale) yang saya sajikan

berdassarkan dari pengamatan berbagai sumber buku. Makalah ini disusun oleh

penulis dalam berbagai rintangan baik itu dari diri penulis maupun yang datang

dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari

Tuhan, akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

Makalah ini memuat tentang Asma (Asthma Bronchiale) yang sangat

penting untuk dipahamai, walaupun makalah ini kurang sempurna tetapi

memilikidetail yang cukup jelas bagi pembaca, penulis juga mengucapkan terima

kasih kepada dosen pembimbing. Semoga makalah ini dapat memberikan

wawasan yang lebih luaskepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki

kelebihan dan kekurangan penyusunan mohon untuk saran dan kritiknya.

Terima kasih.

Palembang, maret

2011

Penulis
DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi

BAB I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

1.2 Tujuan Penulis

BAB II Tinjauan Pustaka

2.1 Asma (Asthma Bronchiale)

2.2 Penyebab Asma

2.3 Penanganan Asma

2.4 Pengobatan Asma

BAB III Penutup

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

Daftar Pustaka
BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar belakang

Banyak kasus-kasus penyakit asma di masyarakat yang tidak terdiagnosis,

yang sudah terdiagnosis pun belum tentu mendapatkan pengobatan secara

baik. Belum lagi masalah biaya pengobatan, absennya dari sekolah atau kerja,

gangguan aktivitas sosial serta pengaruh sakitnya terhadap orang-orang yang

berhubungan dengan penderita penyakit asma.

Penyakit asma paling banyak terjadi pada anak dan berpotensi

mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Alergi dapat menyerang

semua organ dan fungsi tubuh tanpa terkecuali. Disamping itu banyak

permasalahan kesehatan lain yang menyertai berupa gangguan organ tubuh

lain, gangguan perilaku dan permasalahan kesehatan lainnya,

Penyakit asma adalah penyakit yang mempunyai banyak faktor penyebab,

dimana yang paling sering karena faktor atopi atau alergi. Faktor-faktor

penyebab dan pemicu penyakit asma antara lain debu rumah dengan

tungaunya, bulu binatang, asap rokok, asap obat nyamuk, dan lain-lain.

Penyakit ini merupakan penyakit keturunan. Bila salah satu atau kedua

orang tua, kakek atau nenek anak menderita penyakit asma maka bisa
diturunkan ke anak. Prof Dr. dr Heru Sundaru, Sp.PD, KAI, Guru Besar Tetap

FKUI menjelaskan, "penyakit asma bukan penyakit menular tapi penyakit

keturunan."

Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO), sebanyak 300 juta

orang di dunia mengidap penyakit asma dan 225 ribu orang meninggal karena

penyakit asma pada tahun 2005 lalu. Hasil penelitian International Study on

Asthma and Alergies in Childhood pada tahun yang sama menunjukkan

bahwa di Indonesia prevalensi gejala penyakit asma melonjak dari sebesar

4,2% menjadi 5,4 %.

Penyakit asma tidak dapat disembuhkan dan obat-obatan yang ada saat ini

hanya berfungsi menghilangkan gejala. Namun, dengan mengontrol penyakit

asma, penderita penyakit asma bisa bebas dari gejala penyakit asma yang

mengganggu sehingga dapat menjalani aktivitas hidup sehari-hari.

Mengingat banyaknya faktor risiko yang berperan, maka prioritas

pengobatan penyakit asma sejauh ini ditujukan untuk mengontrol gejala.

Kontrol yang baik ini diharapkan dapat mencegah terjadinya eksaserbasi

(kumatnya gejala penyakit asma), menormalkan fungsi paru, memperoleh

aktivitas sosial yang baik dan meningkatkan kualitas hidup pasien.


Anda bisa mengenal penyakit asma lebih lanjut dalam halaman detail ini

meliputi gejala asma, diagnosa asma, penyebab asma, faktor pencetus asma,

pengobatan, pengcegahan dan hidup bersama asma. Jangan lewatkan

wawancara eksklusif kami dengan konsultan alergi dan imunologi yaitu Prof.

Dr. dr. Heru Sundaru, Sp.PD, KAI.

1.2 Tujuan Penulis

1. Ingin mengetahui apa itu divinisi asma

2. Ingin mengetahui penyebab terjadinya asma

3. Ingin mengetahui cara penanganan asma

4. Ingin mengetahui cara pengobatan asma


BAB II

Tinjauan Pustaka

2.1 Asma (Asthma Bronchiale)

Asma atau bengek adalah suatu penyakit alergi yang bercirikan

peradangan steril kronis yang disertai serangan sesak napas akut secara

berkala, mudah sengal-sengal dan batuk (dengan bunyi khas). Sisi lain adalah

hipersekresi dahak yang biasanya lebih parah pada malam hari dan

meningkatnya ambang rangsang (hiperreaktivitas) bronchi terhadap

rangsangan alergis maupun nonalergis. Faktor-faktor genetis bersam faktor

lingkungan berperan pada timbulnya gejala-gejala tersebut.

Berlainan dengan COPD, obstruksi saluran napas pada asma

umumnya bersifat reversibel dan serangan biasanya berlangsung beberapa

menit sampai beberapa jam. Diantaranya dua serangan, pasian tidak

menunjukan gejala apa pun.

Status asthmaticus adalah serangan asma hebat pada mana penciutan

bronchi menjadi lebih kuat, yang bertahan abnormal lama (sampai lebih dari

24 jam), ciri-ciri lainya adalah tachycardia dan tak bisa berbicara lancar

(tersendat-sendat) akibat napas sengal-sengal.

Asma alergis pada umumnya sudah dimulai sejak masa kanak-kanak

dan didahului oleh gejala alergi lain, khususnya ekzema. Faktor keturunan
dan resam (konstitusi) tubuh memegang peranan penting pada terjadinya

jenis asma ini. Ekzema ini umumnya membaik setalah anak-anak mencapai

usia remaja, tetapi acap kali kambuh kembali pada usia 20-40 tahun, karena

peradangan dari saluran napas tetap bertahan walaupun tanpa gejala. Pasien

asma memiliki kepekaan terhadap infeksi saluran napas, kebanyakan

terhadap virus. Akibatnya adalah peradangan bronchi yang juga daapat

menimbulkan serangan asam. Bronchitis asmatis demikian biasanya

menyerang manula.

2.2 Penyebab Asma

Serangan asma disebabkan oleh peradangan steril kronis dari saluran

napas dengan mastcells dan granulosit eosinofil sebagai pemeran penting.

Pada orang-orang yang peka terjadi obstruksi saluran napas yang difusi dan

reversibel. Disamping itu juga terdapat hiperreaktivitas bronchi terhadap

berbagai stimuli spesifik yang dapat memicu serangan. Stimuli terkenal adalah

zat-zat alergen, terutama partikel-partikel tinja dari tungau, pollen, spora

jamur (aspergillus fumigatus), zat-zat perangsang (adalah asap dan SO2 dari

polusi kendaraan, asap rokok, uap, debu). Begitu pula hawa dingin (kering),

emosi, kelelahan dan infeksi virus (misalnya rhinovirus, virus parainfluenza),

juga obat-obat tertentu (asetosal, -blockers, NSAIDS).


Pada serangan yang hebat penyaluran udara dan oksigen ke darah

menjadi sedemikian lemah, sehingga penderita membiru kulitnya (cyanosis).

Sebaliknya, penyaluran nafas di persulit dengan meningkatnya kadar CO 2

dalam darah, yang memperkuat perasaan engap dan kecemasan.

Kontak dengan zat-zat tertentu (misalnya bahan-bahan kimia) di

lingkungan pekerjaan (occupational asthma). Hal ini disebabkan karena zat-zat

tersebut dapat menimbulkan antibodies IgE spesifik.

Peranan lekosit

Di membran mukosa saluran napas dan alveoli terdapat

banyak makrofag dan limfosit. Makrofag berperan berperan

penting pada peningkatan pertama alergen dan penyajian

kepada limfosit. Magrofag juga dapat melepaskan mediator

peradangan, seperti prostaglandin, tromboksan, leukotrien dan

PAF (platelet activating factor).

T-helper cells

Melepaskan sitokininnya, adalah interleukin IL-3 dan IL-%,

ynag mungkin berperan CD4+ penting pada migrasi dan aktivitas

mastcells dan granulosit. Aktivitas magrofag dan limfosit tersebut

dihambat oleh kortikosteroida, tetapi tidak oleh adrenergika.

Mastcells

Pada penderita asma mastcells bertambah banyak di sel-

sel epitel serta mukosa dan melepaskan mediator vasoaktif kuat


[ula, seperti histamin, serotonin dan bradikinin, yang

mencetuskan reaksi asma akut. Prostaglandin dan leukotrien

mulai dibentuk untuk dilepaskan kemudian. Diperkirakan bahwa

mastcells dapat didegranulasi pula oleh rangsangan aspesifik,

misalnya pada waktu hawa dingin pelat darah bisa menggumpal

yang berakibat terbantuknya IgE (atau IgM).

2.3 Penanganan Asma

Tindakan umum, tujuan utamanya adalah mencegah reaksi antigen-

antibody serta serangan asma dan menurunnya HRB dengan jalan

menghilangkan faktor pemicu. Asma menekan dan memperlambat

pertumbuhan, maka penangannanya pada anak-anak juga dimaksudkan agar

anak bertumbuh normal.

Tindakan yang dapat diambil berupa menjauhkan sebanyak mmungkin

faktor pemicu serangan yaitu:

1. Sanitasi, yaitu menyingkirkan semua rangsangan luar, terutama

hewan peliharaan (burung, anjing, kusing, kelinci) dan debu rumah.

2. Berhenti merokok, karena asap rokok (merokok aktif maupun pasif)

dapat menimbulkan bronchokonstriksi dan memperburuk asma,

terutama pada anak-anak.


3. Fisioterapi, menepuk-nepuk bagian dada (tapotage) guna

mempermudah pengeluaran dahak (ekspektorasi) dan juga latihan

pernapasa serta relaksasi.

4. Hiposensibilisasi, dilakukan bila kontak dengan alergen tidak dapat

dihindari, seperti pollen dan sisik/bulu binatang (danders). Guna

mengurangi hipersensitasi gterhadap alergen tersebut, pasien diberi

sejumlah injeksi dengan akstrak alergen dalam kadar meningkaat.

5. Prevensi infeksi viral, misalnya dengan jalan vaksinasi (influenza) atau

menggunakan obat-obatan yang dapat meningkatkan ketahanan

tubuh, seperti tingtur echinacea.

6. Prevensi infeksi bakterill, dapat dilakukan pada pasien asma, tetapi

tidak berguna terhadap infeksi virus.

7. Prevensi prenatal, ibu yang sedang mengandung perlu menghindari

zat-zat pemicu alergi, makanan tertentu dan asap rokok (aktif

maupun pasif) yang dapat mempengaruhi janin.

2.4 Pengobatan

Pengobatan asma dan bronchitis dapat dibagi atas terapi serangan akut

dan terapi pemeliharaan untuk mencegah serangan atau memburuknya

penyakit.

1. Serangan asma akut


Biasanya dapat dihentikan dengan suatu bronchospasmolitikum untuk

melepaskan kejang bronchi. Pilihan pertama adalah suatu 2-mimetikum

(2-agonis) per inhalasi, misalnya salbutamol atau terbutalin dengan efek

cepat (sesudah 3-5 menit). Bila perlu dibantu dengan suppositoria

aminofilin. Obat yang tidak slektif seperti efedrin dan isoprenalin, dapat

pula diberikan sebagai tablet, tetapi efeknya baru nampak sesudah 1

jam. Bila sesudah 15 menit belum menghasilkan efek, inhalasi dapat

diulang sekali lagi. Jika juga tidak memberikan efek, pasien perlu diberi

obat secara injeksi intravena: aminofilin dan salbutamol. Pada serangan

hebat, sering kali dittambahkan hidrokortison atau prednison.

Sebagai tindakan terakhir dapat diinjeksikan adrenalin, yang dapat

diulang 2 kali dalam satu jam. Status asthmaticus merupakan serangan

asma akut dan hebat yang bisa bertahan lama sekali. Efek suatu

bronchodilator pada keadaaan ini hanya kecil dan lambat, yang

disebabkan oleh blckade reseptor-beta sebagai akibat umum dari suatu

infeksi saluran napas. Keadaan demikian perlu diobati secara khusus dik

rumah sakit dengan pemberian oksigen dan minum banyak air,

hidrokortison i.v. dan bila perlu bikarbonat. Lazimnya pasien diberi injeksi

i.v. dengan salbutamol dan/atau aminofilin serta hidrokortison dalam

dosis besar (yang diperkirakan lebih cepat kerjanya daripada prednison).

Perlu juga diambil tindakan-tindakan tambahan lainya untuk melawan

efek samping dari status asthmaticus. Pada serangan yang tidak dapat
dihentikan dengan injeksi adrenalin sebagai tindakan terakhir (ultimum

remedium) umumnya injeksi i.v. dengan novocain 2% (atau lidocain)

efektif. (Visser J.NtvG 2006; 150:1041)

2. Terapi pemeliharaan

Meliharaan pada umumnya dilakukan secara bertingkat, berdasarkan

prinsip (baru) bahwa asma adalah suatu penyakit peradangan, maka obat

antiradang perlu digunakan sedini mungkin. Disamping itu, penggunaan

bronchodiator hendaknya dibatasi pada terapi serangan dan dalam

kombinasi dengan obat antiradang. Dalam garis besar sering kali

ditempuh skema sebagai berikut:

a. Asma ringan (serangan < 1x sebulan) dapat bilaa perlu diobati dengan

suatu 2-mimetikum yang bekerja singkat sebagai monoterapi,

misalnya salbutamol atau terbutalin (1-2 inhalasi/minggu).

b. Asma sedang (serangan 1-4x sebulan) perlu diobati dengan obat yang

menekan peradan gan disaluran napas, yakni kortikosteroida-inhalasi,

seperti beklometason, flutikason atau budesonida dalam dosis rendah

(200-800 mcg/hari).

c. Asma agak serius (serangan > 1-2x seminggu) dapat ditanggulangi

oleh kortikosteroida dengan dosis lebih tinggi (800-1200 mcg/hari)

dan dikombinasi dengan 2-mimetika atau antikolinergika

(ipratropium) sebagai bronghodilator untuk mengurangi onstruksi

bronchi.
d. Asma serius (serangan > 3 x seminggu) walaupun penggunaan ICS

dalam dosis cukup tinggi, tetapi pada malam hari masih timbul sesak

napas (dyspnoe). Dalam halini dapat diberikan 2-mimetikum kerja

panjang sebagai inhalasi (salmeterol, formoterol). Bila perlu obat ini

dapat dikombinasikan dengan teofilin dalam bentuk slow-release.

Inhalasi adalah suatu cara penggunaan adrenergika dan kortikosteroida

yang memberikan beberapa keuntungan dibandingkan pengobatan per oral.

Efeknya lebih cepat, dosisnya jauh lebih rendah dan tidak diresorpsi ke dalam

darah sehingga resiko efek sampingnya ringan sekali. Dalam sediaan inhalasi,

obat dihisab sebagai aerosol (Nebuhaler) atau sebagai serbuk halus (Turbuhaler).

Inhalasi dilakukan 3-4 kali sehari 2 semprotan (puffs), sebaliknya sebelum

atau sesudah mengeluarkan tenaga, setelah bersentuhan dengan zat-zat yang

merangsang (asap rokok, kabut, alergen) dan saat sesak napas di tengah malam

dan pagi hari.


BAB III

Penutup

3.1 Kesimpulan

Asma atau bengek adalah suatu penyakit alergi yang bercirikan

peradangan steril kronis yang disertai serangan sesak napas akut secara berkala,

mudah sengal-sengal dan batuk (dengan bunyi khas).

Obstruksi bronchi (obstructio = penyumbatan). Penyumbatan bronchi dengan

sesak nafas merupakan sebab utama asma dan COPD, diperkirakan dapat

menjadi menurut mekanisme berikut, yaitu berdasarkan :

a. Hiperreaktivitas bronchi (HRB)

HRB adalah meningkatnya kepekaan bronchi, dibandingkan

saluran nafas normal, terhadap zat-zat merangsang tak-spesifik yang

dihisap dari udara. Sebagai penderita asma juga mengidap kepekaan

berlebihan terhadap stimulasi spesifik yang pada orang sehat tidak

memberikan reaksi. HRB asepesifik selalu timbul bersamaan reaksi

peradangan di saluran nafas.

b. Alergi

Alergi pada sebagia pasien asama, di samping HRB aspesifik, juga

terdapat alergi. Bakat keturunan untuk membentuk antibodies terhadap

antigen (alergen) tertentu yang memasuki tubuh. Antibodies ini dari tipe
IgE (imunoglobulin type E) juga disebut reagin, mengikat diri pada

mastcells adalah disaluran nafas, mata dan hidung.

Alergen inhalasi yang masuk ketubuh lewat pernafasan

merupakan penyebab utama reaksi alergi. Penderita asma

menunjukan kepekaan berlebihan terhadap debu rumah, yang

mengandung tunggau (housedust mite) dan sisik atau bulu

binatang peliharaan (animal danders), begitu pula terhadap sari

bunga (pollen) berbagai tumbuhan dan pohon, jenis tepung dan

jamur.

Alergen oral dan lokal dikenal pula, yang memasuki tubuh melalui

mulut atau kulit. Banyak bahan makanan mengandung bahan

alergen dan juga obat-obat tertentu atau metabolitnya dapat

menimbulkan reaksi alergi.

c. Infeksi saluran pernafasan

d. Saluran pernafasan dapat menyebabkan gejala radang dengan perubahan

di selaput lendir, yang pada pasien asma dan COPD memperkuat HRB dan

bronchokonstruksi serta mempermudah penetrasi alergen. Akhirnya

dapat terjadi lingkaran setan dengan infeksi yang selalu kambuh akibat

obstruksi bronchi yang memudahkan infeksi tersebut.


3.2 Saran

Saya menyadari bahwa makalah yang saya buat ini masih banyak

kekurangan. Untuk itu saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun

dari ibu dan teman-teman untuk memperbaiki makalah saya, baik sekarang

maupun yang akan datang.


Daftar Pustaka

Tjay,Drs. Tan Hoan. 2006. Obat-obat penting, khasiat, penggunaan, dan

efek-efek sampingnya. Gamedia: Jakarta.

http://medicastore.com/asma/

http://medicastore.com/neo_napacin/asma_bronkial.htm
SISTEM PERNAPASAN

ASMA

Di Susun Oleh :

Nama : NURFITRI DAMAYANTI

NIM : 10.01.126

Guru Pembimbing :

Dra. Hj. Kissdaryeti, Apt. MARS

AKADEMI KEPERAWATAN SAPTA KARYA PALEMBANG

TAHUN AKADEMI 2010/2011

Beri Nilai