Anda di halaman 1dari 21

FARMAKOLOGI

ANESTESI LOKAL

DISUSUN OLEH :

NAMA : MERI TRISIAWANTI

NIM : 1O.01.117

TINGKAT I AKPER

DOSEN PEMBIMBING :

DRA.HJ.KISDARYETI APT MARS

AKADEMI KEPERAWATAN SAPTA KARYA PALEMBANG

TAHUN AKADEMI 2010 - 2011


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan atas kehadirat ALLAH SWT, yang mana telah
memberikan nikmat dan karunianya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini
dengan baik dan tepat waktu.

Saya menyadari bahwa makalah yang saya susun ini jauh dari kata sempurna,
dan masih banyak kekurangan yang perlu perbaikan. Untuk itu saya sebagai penyusun
makalah ini sangat mengharapkan saran dan keritik yang membangun dari pembaca
terutama dosen pembimbing.

Atas kesempatan ini terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
menyelesaikan makalah ini

Palembang, maret 2011

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.2 Tujuan

BAB II TUJUAN PUSTAKA

2.1 Anestesi Lokal


2.1.1 Pengertian anestesi local (obat bius local)
2.1.2 Persyaratan obat yang boleh digunakan sebagai anestesi local
2.1.3 Secara ilmia, Golongan anestesi

2.1.4 Efek samping pada penggunaan anestesi local

2.1.5 Jenis anestesi lokal dalam bentuk parenteral

2.1.6 Mekanisme Kerja Anestetik Lokal

2.1.7 Indikasi kontra anestesi lokal

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Kemajuan pengetahuan dan teknologi dibidang kesehatan berdampak besar
terhadap peningkatan mutu pelayanan keperawatan. Pelayanan keperawatan yang
dilaksanakan oleh tenaga perawat professional dalam melaksanakan tugasnya
dapat bekerja secara mandiri dan dapat pula bekerja sama dengan profesi lainnya.
Disini perawat dituntut dapat mengetahui anestesi local dalam bidang
farmakologi.

Bukan ahli-ahli kedokteran saja yang mahir dalam melakukan anestesi local,
disini perawat juga harus bisa melakukan tindakan anestesi ini dan mengetahui
tujuan anestesi local serta fungsinya. Berapa banyak jururawat yang membantu
dokter untuk mencatat riwayat penyakit pasien yang diobatinya. Maka perlu
seorang perawat dapat mengetahui maksud arti dan tujuan dari anestesi local.

Anestesi local atau pembiusan local dalah salah satu Jenis anestesi yang hanya
melumpuhkan sebagian tubuh manusia dan tanpa menyebabkan manusia
kehilangan kesadaran. Obat bius jenis ini bila digunakan dalam operasi
pembedahan, maka setelah selesai operasi tidak membuat lama waktu
penyembuhan operasi. Kamu bisa tetap dalam keadaan sadar namun bebas dari
rasa sakit.

Anestetik lokal pertama adalah kokain, yaitu suatu alkaloid yang diperoleh dari daun
suatu tumbuhan alang-alang di pegunungan Andes (Peru), yang pertama kali digunakan
sebagai penghilang rasa nyeri pada pengobatan mata, kemudian pada kedokteran gigi.
Sejak tahun 1892 dikembangkan anestetik lokal secara sintesis dan ditemukan prokain
dan benzokain pada tahun 1905, yang disusul oleh banyak derivat lain seperti tetrakain,
butkain, dan chincokain. Kemudian muncul anestetik lokal seperti lidokain (1947),
mepivakain (1957), prilokain (1963), dan bupivakain (1967).
1.2 TUJUAN

Untuk memperkaya ilmu farmakologi daalm bidang anestesi local


Untuk mengetahui pengertian anestesi local
Untuk mengetahui kegunaan dan fungsi anestesi lokal
Untuk mengetahui efek samping pada anestesi local
Untuk mengetahui Persyaratan obat yang boleh digunakan sebagai
anestesi local
Untuk mengetahui Golongan anestesi local
Untuk mengetahui Mekanisme Kerja Anestetik Lokal
Untuk mengetahui Indikasi kontra anestesi lokal
BAB II

TUJUAN PUSTAKA

2.1 ANESTESI LOKAL


2.1.1 Pengertian anestesi local (obat bius local)
Obat bius lokal/anestesi lokal atau yang sering disebut pemati rasa adalah obat
yang menghambat hantaran saraf bila digunakan secara lokal pada jaringan saraf
dengan kadar yang cukup. Obat bius lokal bekerja pada tiap bagian susunan saraf.
Obat bius lokal bekerja merintangi secara bolak-balik penerusan impuls-impuls
saraf ke Susunan Saraf Pusat (SSP) dan dengan demikian menghilangkan atau
mengurangi rasa nyeri, gatal-gatal, rasa panas atau rasa dingin.
Obat bius lokal mencegah pembentukan dan konduksi impuls saraf. Tempat
kerjanya terutama di selaput lendir. Disamping itu, anestesia lokal mengganggu
fungsi semua organ dimana terjadi konduksi/transmisi dari beberapa impuls.
Artinya, anestesi lokal mempunyai efek yang penting terhadap SSP, ganglia
otonom, cabang-cabang neuromuskular dan semua jaringan otot.

Anestetik lokal atau zat-zat penghalang rasa adalah obat yang pada penggunaan
lokal merintangi secara reversibel penerusan impus-impuls saraf ke sistem saraf pusat
dan demikian menghilangkan rasa nyeri, gatal-gatal, rasa panas, atau dingin.
Anestetik lokal pertama adalah kokain, yaitu suatu alkaloid yang diperoleh dari daun
suatu tumbuhan alang-alang di pegunungan Andes (Peru), yang pertama kali
digunakan sebagai penghilang rasa nyeri pada pengobatan mata, kemudian pada
kedokteran gigi. Sejak tahun 1892 dikembangkan anestetik lokal secara sintesis dan
ditemukan prokain dan benzokain pada tahun 1905, yang disusul oleh banyak derivat
lain seperti tetrakain, butkain, dan chincokain. Kemudian muncul anestetik lokal
seperti lidokain (1947), mepivakain (1957), prilokain (1963), dan bupivakain (1967).

Penggunaan anestetik lokal pada daerah-daerah yang sangat kaya pembuluh darah
misalnya mukosa trakea menyebabkan absorpsi yang lebih cepat dan menghasilkan
kadar obat dalam darah yang tinggi dari jika anestetik lokal tersebut diinjeksikan ke
daerah yang miskin pembuluh darah misalnya tendon. Untuk anestesi regional yang
meliputi penyekatan saraf besar, kadar anestetik lokal maksimum di dalam darah akan
menurun sesuai dengan tempat pemberian sesuai dengan tingkatan sebagai berikut :
interkostal (tertinggi) > kaudal > epidural > pleksus brakhialis > nervus skiatikus
(terendah).

Anestetik lokal golongan amida seperti lidokain didistribusikan secara luas di


dalam tubuh setelah pemberian bolus intravena. Adanya kenyataan bahwa sekuestrasi
terjadi pada tempat penimbunan, kemungkinan jaringan lemak. Setelah fase distribusi
permulaan yang sangat cepat, yang menunjukkan adanya ambilan menuju organ-
organ yang kaya pembuluh darah misalnya otak, hati, ginjal dan jantung maka fase
distribusi yang lebih lambat terjadi dengan adanya ambilan menuju jaringan-jaringan
yang mendapatkan perfusi aliran darah sedang, seperti otot dan usus.

Anestesi lokal diubah di dalam hati atau plasma menjadi metabolit-metabolit yang
larut air, kemudian diekskresikan dalam urin. Oleh karena anestetika lokal dalam
bentuk yang tidak bermuatan berdifusi dengan cepat melalui lipid, maka sedikit sekali
atau tidak sama sekali dari bentuk netral yang akan diekskresi dalam urin.
Pengasaman urin akan meningkatkan ionisasi dari basa tersier menjadi bentuk
bermuatan yang lebih larut air, yang lebih mudah diekskresi karena tidak mudah
mengalami reabsorpsi oleh tubulus ginjal.
2.1.2 Persyaratan obat yang boleh digunakan sebagai anestesi local

1. Tidak mengiritasi dan tidak merusak jaringan saraf secara permanen


2. Batas keamanan harus lebar
3. Efektif dengan pemberian secara injeksi atau penggunaan setempat pada
membran mukosa
4. Mulai kerjanya harus sesingkat mungkin dan bertahan untuk jangka waktu
yang yang cukup lama

Dapat larut air dan menghasilkan larutan yang stabil, juga stabil terhadap pemanasan

2.1.3 Secara kimia, anestesi lokal digolongkan sebagai berikut :

1. Senyawa ester

Adanya ikatan ester sangat menentukan sifat anestesi lokal sebab pada
degradasi dan inaktivasi di dalam tubuh, gugus tersebut akan dihidrolisis.
Karena itu golongan ester umumnya kurang stabil dan mudah mengalami
metabolisme dibandingkan golongan amida. Contohnya: tetrakain, benzokain,
kokain, prokain dengan prokain sebagai prototip.

2. Senyawa amida

Contohnya senyawa amida adalah dibukain, lidokain, mepivakain dan


prilokain.

3. Lainnya

Contohnya fenol, benzilalkohol, etilklorida, cryofluoran.


Anestesi lokal sering kali digunakan secara parenteral (injeksi) pada pembedahan
kecil dimana anestesi umum tidak perlu atau tidak diinginkan.

LIDOCAINE

Lidocaine (XYLOCAINE, dan lain-lain), yang diperkenalkan pada tahun 1948,


sekarang merupakan anestesik lokal yang paling banyak digunakan dalam bidang
kedokteran dan kedokteran gigi. Merupakan anestetika lokal yang berguna untuk
infiltrasi dan memblokir syaraf (nerve block).

Lidokain adalah derivat asetanilida yang merupakan obat pilihan utama untuk
anestesi permukaan maupun infiltrasi. Lidokain adalah anestetik lokal kuat yang
digunakan secara luas dengan pemberian topikal dan suntikan. Anestesi terjadi lebih
cepat, lebih kuat, lebih lama, dan lebih ekstensif daripada yang ditimbulkan oleh
prokain.

Lidokain ialah obat anestesi lokal yang banyak digunakan dalam bidang kedokteran
oleh karena mempunyai awitan kerja yang lebih cepat dan bekerja lebih stabil
dibandingkan dengan obat obat anestesi lokal lainnya. Obat ini mempunyai
kemampuan untuk menghambat konduksi di sepanjang serabut saraf secara
reversibel, baik serabut saraf sensorik, motorik, maupun otonom.Kerja obat tersebut
dapat dipakai secara klinis untuk menyekat rasa sakit dari atau impuls
vasokonstriktor menuju daerah tubuh tertentu.

Lidokain mampu melewati sawar darah otak dan diserap secara cepat dari tempat
injeksi. Dalam hepar, lidokain diubah menjadi metabolit yang lebih larut dalam air
dan disekresikan ke dalam urin. Absorbsi dari lidokain dipengaruhi oleh beberapa
faktor, antara lain tempat injeksi, dosis obat, adanya vasokonstriktor, ikatan obat
jaringan, dan karakter fisikokimianya.

Apoteker sebagai drug informer dalam hal ini dapat membantu dalam penggunaan
lidokain sebagai anestetik lokal, memberikan informasi dan konseling serta
membantu dalam pencatatan untuk pelaporan.

Aksi Farmakologi

Lidokain cepat menghasilkan, lebih intens, lebih tahan lama dan merupakan anastesi
lebih luas daripada prokain dengan konsentrasi yang sama. Tidak seperti prokain,
senyawa ini merupakan suatu senyawa aminoetilamida dan merupakan anggota
prototipikal golongan anestetik lokal amida. Lidokain adalah pilihan alternatif untuk
individual yang sensitif terhadap anestesi lokal tipe ester. Lidokain digunakan pada
perawatan ventricular cardiac arrhytmias dan tahanan jantung dengan fibrilasi
ventrikular, khususnya dengan iskemia akut, tetapi tidak digunakan pada perawatan
atrial arrhytmia.

Farmakodinamik

Lidokain di absorbsi secara cepat setelah pemberian parenteral serta dari saluran
gastrointestinal dan pernafasan. Walaupun senyawa ini efektif jika digunakan tanpa
vasokonstriktor, dengan adanya epinephrine menurunkan laju absorbsinya, sehingga
toksisitasnya menurun dan lama kerjanya diperpanjang. Disamping sediaan untuk
injeksi, tersedia sistem pengantaran obat bebas jarum (needle-free drug-delivery
system) untuk larutan dari lidocaine dan epinephrine (IONTOCAINE). Sistem ini
secara umum digunakan untuk prosedur dermal dan menghasilkan anestesi sampai
kedalaman 10 mm.

Lidocaine bagian transdermal (LIDODERM) digunakan untuk nyeri yang


berhubungan dengan postherpetic neuralgia. Kombinasi dari lidocaine (2.59%) and
prilocaine (2.5%) digunakan sebagai anestesi sebelum venipuncture, skin graft
harvesting, dan infiltrasi dari anestesi ke dalam genitalia.

Lidocaine didealkylasi pada hati oleh CYPs menjadi monoethylglycine xylidide dan
glycine xylidide, yang dapat dimetabolisme lebih lanjut menjadi monoethylglycine
dan xylidide. Keduanya, monoethylglycine xylidide dan glycine xylidide menahan
aktivitas anastesi lokal. Pada manusia, sekitar 75% dari xylidide diekskresikan lewat
urin sebagai metabolit lebih lanjut 4-hydroxy-2, 6-dimethylaniline.

Toksisitas

Efek samping dari lidokain diperlihatkan dengan adanya peningkatan dosis


diantaranya mengantuk, tinnitus, dysgeusia, pusing, dan kejang (berkedut). Jika dosis
meningkat, akan terjadi serangan jantung, koma, serta depresi dan henti pernafasan.
Depresi kardiovaskular yang signifikan secara klinik biasanya terjadi pada level
serum lidocaine yang menghasilkan efek SSP yang nyata. Metabolit dari
monoethylglycine xylidide dan glycine xylidide dapat berperan pada beberapa efek
samping tersebut.

Penggunaan Klinik

Lidokain memiliki indeks terapi yang luas dari penggunaan klinik sebagai anestesi
lokal ; ini digunakan pada sebahagian besar aplikasi ketika diperlukan anestesi lokal
dari durasi tingkat menengah. Lidocain sering digunakan sebagai agen antiarrhytmia.

Inkompabilitas
Lidokain dilaporkan inkompatibel dengan larutan amfoterisin B, na Sulfadiazin, na
metohexital, na fenitoin dan na cefazolin.

2.1.4 Efek samping

1. Pada SSP

Adanya reaksi psikotik dilaporkan terjadi pada 6 pasien dengan pemberian lidokain
IV untuk pengobatan penyakit jantung. Pada kasus lain pasien mengalami gejala
ataxia serebral setelah penggunaan lidokain topikal untuk endoskopi.

2. Pada kulit

Eritema dan pigmentasi pada bibir atas terjadi pada anak-anak setelah infiltrasi dental
lokal dari lidokain. Eritema juga terjadi setelah pemberian topikal pada beberapa
formula lidokain seperti transdermal patch.

3. Kehamilan

Efek samping serius dari anestesi epidural jarang terjadi tetapi lidokain mungkin
memberikan efek transient pada sistem auditory neonatal.
2.1.5Jenis anestesi lokal dalam bentuk parenteral yang paling banyak

1. Anestesi permukaan.

Sebagai suntikan banyak digunakan sebagai penghilang rasa oleh dokter gigi
untuk mencabut geraham atau oleh dokter keluarga untuk pembedahan kecil
seperti menjahit luka di kulit. Sediaan ini aman dan pada kadar yang tepat
tidak akan mengganggu proses penyembuhan luka.

2. Anestesi Infiltrasi.

Tujuannya untuk menimbulkan anestesi ujung saraf melalui injeksi pada atau
sekitar jaringan yang akan dianestesi sehingga mengakibatkan hilangnya rasa
di kulit dan jaringan yang terletak lebih dalam, misalnya daerah kecil di kulit
atau gusi (pada pencabutan gigi).

3. Anestesi Blok

Cara ini dapat digunakan pada tindakan pembedahan maupun untuk tujuan
diagnostik dan terapi.

4. Anestesi Spinal

Obat disuntikkan di tulang punggung dan diperoleh pembiusan dari kaki


sampai tulang dada hanya dalam beberapa menit. Anestesi spinal ini
bermanfaat untuk operasi perut bagian bawah, perineum atau tungkai bawah.

5. Anestesi Epidural
Anestesi epidural (blokade subarakhnoid atau intratekal) disuntikkan di ruang
epidural yakni ruang antara kedua selaput keras dari sumsum belakang.

6. Anestesi Kaudal

Anestesi kaudal adalah bentuk anestesi epidural yang disuntikkan melalui


tempat yang berbeda yaitu ke dalam kanalis sakralis melalui hiatus skralis.

Efek sampingnya adalah akibat dari efek depresi terhadap SSP dan efek
kardiodepresifnya (menekan fungsi jantung) dengan gejala penghambatan penapasan
dan sirkulasi darah. Anestesi lokal dapat pula mengakibatkan reaksi hipersensitasi.

Ada anggapan bahwa obat bius lokal dianalogikan dengan obat "doping" sehingga
dilarang seperti kokain yang merupakan obat doping yang merangsang. Kokain
adalah anestetik lokal yang pertama kali ditemukan. Saat ini, penggunaan kokain
sangat dibatasi utuk pemakaian topikal khususnya untuk anestesi saluran napas atas.

* Cara Pemberian anestesi lokal

a. Blok Saraf Tepi

Topical

Infiltrasi

Regional IV

Nerve Block

b. Blok Sentral

Spinal / SAB

Epidural
2.1.6 Mekanisme Kerja Anestetik Lokal

Anestesi lokal mengganggu fungsi saluran ion di dalam membran sel neuron mencegah
transmisi potensial aksi saraf. Hal ini diduga terjadi melalui pengikatan spesifik dari
molekul anestesi lokal (dalam bentuk terionisasi mereka) untuk saluran natrium, menahan
mereka dalam keadaan tidak aktif sehingga depolarisasi lebih lanjut dapat terjadi. Efek
ini dimediasi dari dalam sel, sehingga anestesi lokal harus melintasi membran sel
sebelum dapat mengerahkan efeknya.

Mekanisme kedua juga berpikir untuk beroperasi, melibatkan gangguan fungsi saluran
ion oleh penggabungan molekul anestesi lokal ke dalam membran sel (teori ekspansi
membran). Ini adalah pemikiran yang akan dimediasi terutama oleh bentuk serikat
bertindak dari luar neuron. Serat saraf berbeda dalam kepekaan mereka untuk anestesi
lokal. Serabut saraf kecil lebih sensitif dari serabut saraf besar sementara serat myelinated
diblokir sebelum serat non-myelinated dari diameter yang sama. Dengan demikian
hilangnya fungsi saraf sebagai hasil hilangnya rasa sakit, temperatur, sentuhan,
proprioception, dan kemudian otot rangka. Inilah sebabnya mengapa orang masih dapat

POTENSI OBAT

SHORT ACTING MEDIUM ACTING LONG ACTING


Prototipe Prokain Lidokain Bupirokain

Gol Ester Amida Amida

Onset 2 5 15

Durasi 30-45 60-90 2-4jam

Potensi 1 3 15

Toksisitas 1 2 10

Dosis max 12 Mg/KgBB 6 mg/KgBB 2 Mg/KgBB

Metabolisme Plasma Liver Liver

2.1.7 Indikasi kontra anestesi local

* Absolut :

a. Pasien menolak

b. Alergi anestesi lokal

c. Infeksi sekitar penyuntikan

d. Tx. Antikoagulan

e. Diatese hemoragi

f. Tx. Trisiklik anti depresan

Untuk spinal ditambah :

a. Syok
b. TIK tinggi

c. Septikemia

* Relatif :

a. Pasien tak kooperatif

b. Penyakit neurologi akut

c. Laminectomi luas

d. Scoliosis

e. IHD

* Komplikasi :

a. Lokal b. Sistemik

Abses Intravasasi

Hematom Hipersensitif

Nekrosis Hiperabsorbsi

Over dosis

. *Pencegahan :

a. Dosis minimum
b. Hindari daerah hiperemis

c. Infiltrasi

d. Tes sensitivitas

5% 5 g/100

50 mg/ml

*Manisfetasi klinik :

a. Urtikaria - anafilaktik syok

b. Menggigil

c. Mual muntah

d. Disartri

e. SKV hipotensi & bradikardi

* Ssp

a. Stimuli

Cortex : kejang, gelisah

Medula : hipertensi, takikardi, hiperventilasi

b. Depresi

Cortex : lemah, kesadaran turun


Medula : hipotensi, bradikardi,

hipoventilasi

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Obat bius lokal/anestesi lokal atau yang sering disebut pemati rasa adalah
obat yang menghambat hantaran saraf bila digunakan secara lokal pada
jaringan saraf dengan kadar yang cukup. Obat bius lokal bekerja pada tiap
bagian susunan saraf.
secara kimia, anestesi local digolongkan dalam 2 bagian,yaitu seyawa
ester ( contohnya: kokain, benzokain),seyawa amida (contohnya lidokain),dan
lainnya.
anestesi ini memiliki efek samping,yaitu, pada SSP,pada kulit dan pada
kehamilan.jenis-jenis anestesi local dalam bentuk parenteral,yaitu, anestesi
permukaan,anestesi infiltrasi,anestesi blok,anestesi spinal,anestesi
epidural,anestesi kaudal.

3.1 SARAN
Dalam pembuatan makalah Anestesi Lokal ini saya mencoba untuk
memperkaya ilmu farmakologi ini.
tetapi dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan,oleh
sebab itu saya mengharapkan kritik dan saran dari dosen pembimbing,
yang sifatnya membangun

DAFTAR PUSTAKA

Dr. Sugeng Budi Santosa, SpAn .SMF/Lab. Anestesiologi


& Reanimasi. RSUD Dr. Moewardi Surakarta / FK.
Farmakologi dan Terapi edisi 4, Bagian Farmakologi
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 1995.
http://www.google.co.id/search?hl=id&client=firefox-
a&hs=buj&rls=org.mozilla%3Aen-
US%3Aofficial&q=anestesi+lokal&aq=f&aqi=g10&aql=&oq=
medicastore.com/apotik_online/obat_bius_lokal.htm
www.dokterumum.net/article/pengertian-anestesi-lokal.html -

Beri Nilai