Anda di halaman 1dari 18

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

PROGRAM KIA DI PUSKESMAS

OLEH :

Dosen Pembimbing : Muzakir Zaini. SKM

Kelompok : 18

Anggota : Ayu Wandira


Desi afriani

TAHUN AKADEMIK 2010/2011


AKADEMI KEBIDANAN SAPTA KARYA
PALEMBANG
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN i
- Latar Belakang
- Tujuan
DAFTAR ISI . ii

BAB II
PEMBAHASAN
A. Kesehatan Ibu dan Anak .....
B. Program KIA di PUSKESMAS .

BAB III
PENUTUP .
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Program kesehatan ibu dan anak (KIA) merupakan salah satu prioritas utama
pembangunan kesehatan di Indonesia. Program ini bertanggung jawab terhadap
pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, ibu melahirkan dan bayi neonatal. Salah satu
tujuan program ini adalah menurunkan kematian dan kejadian sakit di kalangan ibu.
Keerom merupakan salah satu kabupaten yang terletak di wilayah Indonesia bagian
timur. Perbandingan antara jumlah bidan dan perawat dengan penduduk di Keerom
sudah terpenuhi berdasarkan standar, namun pendistribusian
tenaga bidan masih belum merata. Kondisi geografis yang sulit menyebabkan
kebutuhan tenaga bidan semakin besar karena jumlah penduduk per desa masih relatif
sedikit, tetapi jarak antardesa berjauhan. Kondisi ini juga menyebabkan kurangnya
pengawasan terhadap bidan. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa ada beberapa
bidan desa yang meninggalkan lokasi tugas tanpa izin dan tidak terpantau oleh Dinas
Kesehatan Keerom. Dampak dari pendistribusian tenaga kerja yang belum merata,
dan lemahnya pengawasan dari dinas kesehatan (dinkes) menyebabkan kegiatan
program kesehatan di puskesmas belum berjalan optimal, termasuk program KIA.
Tahun 2005, jumlah persalinan yang ditolong tenaga kesehatan masih rendah, hanya
sebanyak 52 persen. Jumlah kematian ibu bersalin yang tercatat di Keerom sebesar 4
orang. Fenomena kasus kematian ibu dan kematian bayi di Keerom kemungkinan
akibat dari dukungan Dinas Kesehatan Keerom dalam program KIA di puskesmas
belum optimal. Dalam era otonomi daerah, peran dinkes menjadi sangat penting,
termasuk dalam kegiatan program KIA1. Dinkes kabupaten/kota sebagai unit
pelaksana teknis di bidang kesehatan berfungsi sebagai pendukung kegiatan
puskesmas di wilayah kerjanya, sehingga program dapat berjalan sesuai yang
direncanakan2. Kebijakan dinkes merupakan pedoman bagi puskesmas untuk
menjalankan program kesehatan di puskesmas3. Fungsi dukungan dinkes ke
puskesmas dalam kegiatan program dapat berupa pengadaan sumber daya manusia
dan sumber daya lain yang dibutuhkan dalam pelaksanaan program KIA. Dukungan
dinkes dalam proses pelaksanaan seperti kegiatan pembinaan, pengarahan dan
pengendalian program juga dibutuhkan oleh puskesmas.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dirumuskan permasalahan Bagaimana
fungsi Dinas Kesehatan Keerom dalam mendukung program KIA di puskesmas?
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fungsi Dinas Kesehatan Keerom dalam
mendukung program KIA di puskesmas. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui faktor-faktor yang mendukung pelaksanaan program KIA.

B. Tujuan Program KIA di Puskesmas

Salah satu tujuan program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) adalah
meningkatkan kemandirian keluarga dalam memelihara kesehatan ibu dan
anak

Salah satu tujuan program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) adalah meningkatkan
kemandirian keluarga dalam memelihara kesehatan ibu dan anak. Dalam keluarga, ibu
dan anak merupakan kelompok yang paling rentan dan peka, terhadap berbagai
masalah kesehatan, seperti: kejadian kesakitan (morbiditas) dan gangguan gizi
(malnutrisi), yang seringkali berakhir dengan kecacatan (disability) atau kematian
(mortalitas).

PUSKESMAS melalui pelayanan kesehatan di dalam dan luar gedung, melakukan


seluruh program kesehatan Ibu dan Anak secara menyeluruh, dengan memperhatikan
beberapa indikator cakupan program KIA yang terpadu dengan beberapa kegiatan
lainnya seperti program gizi, imunisasi dan upaya kesehatan sekolah (UKS).

1. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil (K4) : 95%


2. Cakupan Komplikasi Kebidanan : 80 %
3. Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan : 90%
4. Cakupan Pelayanan Nifas : 90%
5. Cakupan Pelayanan Neonatus dengan Komplikasi : 80%
6. Cakupan Kunjungan Bayi : 90 %
7. Cakupan Imunisasi Bayi (Universal Child Immunization): 100 %
8. Cakupan Pelayanan Anak Balita : 90 %
9. Cakupan Pemberian Makanan Pendamping ASI : 100 %
10. Cakupan Perawatan Balita Gizi Buruk : 100 %
11. Cakupan Penjaringan Kesehatan Anak Sekolah Dasar : 100 %

SETIAP cakupan program tersebut merupakan rincian Pelayanan Kesehatan Dasar


(PKD), yang diharapkan bisa tercapai pada kurun waktu 2010-2015, dimana menjadi
target khusus pelayanan di tingkat puskesmas, sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas
(UPTD) pada setiap Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
PEMBAHASAN

KESEHATAN IBU DAN ANAK

A. Pengertian

Upaya kesehatan Ibu dan Anak adalah upaya di bidang kesehatan yang
menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu menyusui, bayi
dan anak balita serta anak prasekolah.

Pemberdayaan Masyarakat bidang KIA merupakan upaya memfasilitasi


masyarakat untuk membangun sistem kesiagaan masyarakat dalam upaya mengatasi
situasi gawat darurat dari aspek non klinis terkait kehamilan dan persalinan

Sistem kesiagaan merupakan sistem tolong-menolong, yang dibentuk dari,


oleh dan untuk masyarakat, dalam hal penggunaan alat transportasi/ komunikasi
(telepon genggam, telpon rumah), pendanaan, pendonor darah, pencatatan-pemantaun
dan informasi KB.

Dalam pengertian ini tercakup pula pendidikan kesehatan kepada masyarakat,


pemuka masyarakat, pemuka masyarakat serta menambah keterampilan para dukun
bayi serta pembinaan kesehatan akan di taman kanak-kanak.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Tujuan program kesehatan ibu dan anak adalah tercapainya kemampuan hidup
sehat melalui peningkatan derajat kesehatan yang optimal bagi ibu dan keluarganya
untuk atau mempercepat pencapaian target Pembangunan Kesehatan Indonesia yaitu
Indonesia Sehat 2010, serta meningkatnya derajat kesehatan anak untuk menjamin
proses tumbuh kembang optimal yang merupakan landasan bagi peningkatan kualitas
manusia seutuhnya.

2. Tujuan Khusus
a. Meningkatnya kemampuan ibu (pengetahuan, sikap dan perilaku) dalam
mengatasi kesehatan diri dan keluarganya dengan menggunakan teknologi tepat guna
dalam upaya pembinaan kesehatan keluarga, Desa Wisma, penyelenggaraan Posyandu
dan sebagainya.

b. Meningkatnya upaya pembinaan kesehatan balita dan anak prasekolah secara


mandiri di dalam lingkungan keluarga, Desa Wisma, Posyandu dan Karang Balita,
serta di sekolah TK.

c. Meningkatnya jangkauan pelayanan kesehatan bayi, anak balita, ibu hamil, ibu
bersalin, ibu nifas dan ibu menyusui.
d. Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas,
ibu menyusui, bayi dan anak balita.
e. Meningkatnya kemampuan dan peran serta masyarakat, keluarga dan seluruh
anggotanya untuk mengatasi masalah kesehatan ibu, balita, anak prasekolah,
terutama melalui peningkatan peran ibu dalam keluarganya.

Program KIA di Puskesmas

4. Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) :

ANC (Antenatal Care), PNC (Post Natal Care), Pertolongan Persalinan,


Rujukan Ibu Hamil Risiko Tinggi, Pelayanan Neonatus, penanganan
komplikasi kebidanan, pelayanan kesehatan balita,pelayanan KB berkualitas.

Antara lain :

Telah pernah dipaparkan tentang capaian pelayanan pada ruangan kartu, poli
umum dan apotek puskesmas. Kini berdasarkan data pelayanan program Kesehatan
Ibu dan Anak (KIA), Puskesmas Perumnas Kendari, periode Januari-Juni 2009,
khususnya kegiatan pokok KIA di dalam gedung dan luar gedung, didapatkan hasil
rekapitulasi, sebagai berikut :
1. KUNJUNGAN IBU HAMIL

Ibu hamil yang tercatat melakukan kunjungan pertama (K1) tercapai cakupan
56% dibandingkan target 90%

Sedangkan kunjungan terakhir bumil selama kehamilan (K4), tercapai


cakupan 51% dibandingkan target 90%

2. KUNJUNGAN NEONATUS

Cakupan kunjungan pelayanan neonatus pada awal minggu pertama kelahiran


bayi (KN1) telah tercapai 52 % dibandingkan target 80%

Demikian juga, cakupan kunjungan pelayanan neonatus setelah minggu


pertama kelahiran bayi (KN2) sudah tercapai 52 % dibandingkan target 80%

3. PENJARINGAN BUMIL RESTI

Ibu hamil yang berisiko tinggi (bumil risti) seperti: usia dibawah 20 tahun dan
diatas 35 tahun, riwayat persalinan operasi, keguguran, dan penyakti menahun,
perlu penanganan cepat dan tepat. Kalau perlu dilakukan tindakan rujukan
segera kepada fasilitas pelayanan yang lebih memadai.
Cakupan pelayanan terhadap bumil risti di wilayah kerja puskesmas, sampai
Juni 2009 baru mencapai sekitar 41% dibandingkan target tahunan sebesar
100%

4. PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN

Tenaga kesehatan yang berkompetensi, seperti: dokter, bidan, paramedis


terlatih, wajib melakukan pertolongan persalinan (safe labour) agar risiko
penyulit selama persalinan bisa dikurangi dan segera ditindaklanjuti.
Kesehatan Ibu dan Anak telah dijalankan oleh pemerintah, namun berdasarkan
data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, angka kematian ibu, bayi
dan balita masih tinggi. Walaupun pencapaian telah begitu menggembirakan, tingkat
kematian bayi di Indonesia masih tertinggi jika dibandingkan dengan negara-negara
anggota ASEAN, yaitu 4,6 kali lebih tinggi dari Malaysia, 1,3 kali lebih tinggi dari
Filipina, dan 1,8 kali lebih tinggi dari Thailand.

Angka kematian ibu di Indonesia bahkan lebih buruk dari negara Vietnam. Angka
kematian ibu di negara tetangga itu tahun 2003 tercatat 95 per 100.000 kelahiran
hidup. Negara anggota ASEAN lainnya, Malaysia tercatat 30 per 100.000 dan
Singapura 9 per 100.000. Angka kematian balita (AKBA) telah berhasil diturunkan
dari 79 kematian per seribu kelahiran (1988-1992) menjadi 46 pada periode 1998-
2002 (SDKI 2002-2003), namun angka tersebut masih tinggi. Tingkat kematian balita
Thailand dan Malaysia pada tahun 2004 masing-masing hanya 12 per 1000 kelahiran.

Puskesmas sebagai pelaksana pelayanan kesehatan primer memegang peranan


penting dalam hal tersebut. Hal inilah yang mendorong penulis merasa perlu untuk
melakukan evaluasi terhadap program-program kesehatan ibu di Puskesmas. Hasil
evaluasi program ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam perbaikan program
tersebut.

Metode

Metode yang digunakan ialah metode pemecahan masalah melalui pendekatan sistem.
Data diperoleh dari laporan kegiatan kesehatan ibu dan anak di Puskesmas Kelurahan
Pisangan Timur 1 dan wawancara dengan tenaga pelaksana dan kepala puskesmas.
Indikator dan tolak ukur yang dipakai pada evaluasi ini berasal dari Target Indikator
KIA Dinas Kesehatan DKI Jakarta yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan DKI
Jakarta.

Hasil

Selama periode Januari-Desember 2009 tidak ada ibu melahirkan yang meninggal
serta tidak ada kasus bayi dengan berat badan lahir rendah di wilayah Puskesmas
Kelurahan Pisangan Timur I. Tidak terdapat neonatus maupun ibu hamil dengan
komplikasi selama periode Januari-Desember 2009. Jumlah kunjungan ibu hamil K1
yang dicapai sebesar 100,9% dan kunjungan ibu hamil K4 sebesar 95,6%. Jumlah
deteksi ibu hamil risiko tinggi oleh tenaga kesehatan sebesar 29,1% dan deteksi dini
ibu hamil risiko tinggi oleh masyarakat sebesar 2,6%. Jumlah kunjungan neonatal
yang terlaksana sebesar 97,8%. Banyaknya persalinan oleh tenaga kesehatan yang
dicapai sebesar 93,2%. Pencapaian kunjungan bayi sebesar 12,4% dan pelayanan anak
balita sebesar 113,8%. Cakupan peserta KB aktif sebesar 33,3% dan jumlah
kunjungan ibu nifas yang dicapai sebesar 93,2%.

Diskusi
Identifikasi masalah dilakukan dengan mencari adanya kesenjangan antara pencapaian
program pelayanan kesehatan ibu dan anak di Puskesmas Kelurahan Pisangan Timur I
dengan tolak ukur yang telah ditetapkan. Masalah yang ditemukan pada pelaksanaan
program pelayanan kesehatan ibu dan anak di Puskesmas Kelurahan Pisangan Timur I
adalah deteksi kehamilan risiko tinggi oleh masyarakat (2,6% dari target 5%), peserta
KB aktif (33,3% dari target 87%), dan kunjungan bayi (12,4% dari target 88%).

Prioritas masalah pada evaluasi ini ditetapkan melalui kriteria matriks. Variabel yang
digunakan antara lain pentingnya masalah/Importancy (I), yang berdasarkan besarnya
masalah/Prevalence (P), beratnya masalah/Severity (S), kenaikan besarnya
masalah/Rate of Increase (RI), derajat keinginan masyarakat yang tidak
terpenuhi/Degree of Unmet Need (DU), keuntungan yang diperoleh masyarakat atas
terselesaikannya masalah/Social Benefit (SB), kepedulian masyarakat/Public Concern
(PB),dan kondisi sosial politik dan dukungan pemerintah/Political Climate (PC).
Selain itu, variabel lainnya yang digunakan adalah sumber daya manusia yang
tersedia/Resources Availability (R),dan teknologi yang memungkinkan untuk
membantu pelaksanaan program/Technical Feasibility (T). Setiap variabel diberi nilai
berkisar antara 1 (tidak penting) sampai nilai 5 (sangat penting). Setelah diberi nilai,
seluruh komponen dari variabel I dijumlahkan terlebih dahulu, lalu setelah didapatkan
jumlah I dikalikan dengan T dan R (I x T x R). Prioritas masalah adalah masalah yang
memiliki nilai I x T x R yang tertinggi. Berdasarkan hasil perhitungan, urutan prioritas
masalah dalam program KIA di puskesmas Kelurahan Pisangan Timur 1 berturut-turut
sesuai urutan prioritas adalah deteksi kehamilan risiko tinggi oleh masyarakat (skor
75), peserta KB aktif (skor 69), dan kunjungan bayi (skor 57).

Untuk membantu penetapan penyebab masalah di atas, diperlukan kerangka


konsep masalah. Hal ini bertujuan untuk menentukan faktor-faktor penyebab masalah
yang berasal dari unsur sistem lainnya. Kerangka konsep yang berhasil disusun untuk
masalah tersebut tertera pada gambar dibawah.

Berdasarkan kerangka konsep di atas, ditemukan beberapa penyebab masalah,


yaitu dari unsur input, proses, umpan balik dan lingkungan. Berdasarkan analisis data,
penyebab masalah rendahnya angka pencapaian deteksi dini kehamilan berisiko tinggi
oleh masyarakat di Puskesmas Kelurahan Pisangan Timur I dari sisi masukan, proses,
umpan balik, dan lingkungan adalah dari segi tenaga kerja, jumlah tenaga pelaksana
pelayanan KIA masih kurang. Dari segi metode dan pelaksanaan penyuluhan, belum
ada penyuluhan secara rutin kepada ibu hamil suami, dan keluarga. Selain itu, belum
ada jadwal penyuluhan rutin kepada masyarakat tentang deteksi dini kehamilan
berisiko tinggi dan belum terdapat pelatihan kepada pelaksana penyuluhan mengenai
materi deteksi dini kehamilan risiko tinggi. Dari segi lingkungan, pengetahuan
masyarakat tentang pentingnya deteksi dini kehamilan berisiko tinggi masih rendah.

Prioritas penyebab masalah ditentukan menggunakan sistem matriks, sama seperti


matriks yang digunakan dalam penentuan prioritas masalah. Berdasarkan perhitungan
matriks, prioritas penyebab masalah adalah masalah metode dan pelaksanaan
penyuluhan tentang deteksi dini kehamilan risiko tinggi oleh masyarakat di
Puskesmas Kelurahan Pisangan timur I, sehingga alternatif pemecahan masalah akan
lebih difokuskan terhadap faktor ini.

Pemecahan masalah yang dapat dilakukan adalah dengan membuat penyuluhan


kepada ibu hamil, suami, dan keluarga, kader serta masyarakat tentang deteksi dini
kehamilan risiko tinggi, membuat media informasi berkala berupa buletin mengenai
deteksi dini kehamilan risiko tinggi dan dibagikan kepada suami dan keluarga ibu
hamil dan masyarakat, dan kunjungan rumah ke keluarga ibu hamil.

Dari alternatif cara pemecahan masalah yang telah dibuat maka akan dipilih scara
pemecahan masalah yang dianggap paling mampu laksana. Pemilihan prioritas cara
pemecahan masalah ini dengan memakai teknik kriteria matriks. Dua kriteria yang
lazim digunakan adalah efektifitas dan efisiensi. Di dalam efektifitas terdapat variabel
M (Magnitude) yang artinya semakin banyak masalah yang dapat diselesaikan, makin
terpilih jalan tersebut. Lalu ada variabel I (Importancy), yang artinya semakin lama
jalur tersebut membuat masa bebas masalah semakin terpilih jalur tersebut. Dan yang
terakhir V (Vulnerability) yang berarti semakin terpilih jalur tersebut bila penyelesaian
masalah semakin cepat. Faktor lain yang turut diperhitungkan adalah efisiensi, dalam
hal ini yang menyangkut biaya (Cost/C), yang berbanding terbalik dengan faktor
efektifitas. Prioritas yang terpilih adalah yang memiliki nilai (MxIxV)/C terbesar.
Sama seperti matriks sebelumnya diatas, setiap variabel diberi nilai 5 untuk efektifitas
tertinggi dan 1 untuk efektifitas terendah. Sebaliknya, untuk variabel efisiensi diberi
nilai 5 untuk yang paling tidak efisien/paling mahal, dan nilai 1 untuk yang paling
efisien/paling murah.
Setelah ditelaah dari besaran masalah yang dapat diselesaikan, kepentingan
pemilihan masalah, kecepatan penyelesaian masalah dan biaya yang diperlukan maka
penyuluhan rutin berupa seminar sehari kepada suami/keluarga, kader dan masyarakat
dapat menjadi pemecahan masalah yang mampu laksana.

5. PENANGANAN KOMPLIKASI KEBIDANAN

Penanganan di Puskesmas

Mengingat terbatasnya fasilitas yang tersedia di puskes-mas, maka secara


prinsip, kasus-kasus preeklampsia berat dan eklampsia harus dirujuk ke tempat
pelayanan kesehatan dengan fasilitas yang lebih lengkap. Persiapan-persiapan yang
dilakukan dalam merujuk penderita adalah sebagai berikut:

- Menyiapkan surat rujukan yang berisikan riwayat pen-derita.


- Menyiapkan partus set dan tongue spatel (sudip lidah).
- Menyiapkan obat-obatan antara lain: valium injeksi, antihipertensi, oksigen, cairan
infus dextrose/ringer laktat.
- Pada penderita terpasang infus dengan blood set.
- Pada penderita eklampsia, sebelum berangkat diinjeksi valium 20 mg/iv, dalam
perjalanan diinfus drip valium 10 mg/500 cc dextrose dalam maintenance drops.

Selain itu diberikan oksigen, terutama saat kejang, dan terpasang tongue spatel.

6. PELAYANAN KESEHATAN BALITA

Lima tahun pertama, pertumbuhan mental dan intelektual berkembang pesat.


Masa ini merupakan masa keemasan / golden periode di mana terbentuk dasar dasar
kemampuan , berfikir , berbicara serta tumbuh mental intelektual yang intensif dan
awal pertumbuhan mental.
Pelayanan kesehatan anak balita adalah pelayanan kesehatan terhadap anak
yang berumur 12-59 bulan yang sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan, ahli gizi
, penyuluhan kesehatan masyarakat, dan petugas sector lain yang meliputi.

a. Pelayanan pemantauan pertumbuhan setiap bulan yang tercatat dalam buku


KIA/KMS, dan Pelayanan Stimulasi Deteksi Dan Intervensi Dini Tumbuh
Kembang(SDIDTK) serta mendapat vitamin A 2 kali dalam setahun.
b. Pelayanan SDIDTK meliputi pemantauan perkembangan motorik kasar, motorik
halus, bahasa, sosialisasi, dan kemandirian, minimal 2 kali pertahun, setiap (6
bulan).

c. Suplemen vit.A dosis tinggi (200.000 IU) diberikan pada anak balita minimal 2
kali pertahun.

d. Kepemilikan dan pemanfaatan buku KIA oleh setiap anak balita.

7. PELAYANAN KB BERKUALITAS

Pelayanan KB berkualitas adalah pelayanan KB yang sesuai dengan standar


dan menghormati hak dan individu sehingga di harapkan mampu meningkatkan
derajat kesehatan dan menurunkan tingkat fertilitas. Pelayanan KB bertujuan untuk
menunda , menjarangkan dan / menghentikan kehamilan , dengan menggunakan
metode kontasepsi.

Pengertian KB

Upaya peningkatkan kepedulian masyarakat dalam mewujudkan keluarga


kecil yang bahagia sejahtera (Undang-undang No. 10/1992).
Keluarga Berencana (Family Planning, Planned Parenthood) : suatu usaha
untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan
memakai kontrasepsi.
WHO (Expert Committe, 1970), tindakan yg membantu individu/ pasutri
untuk: Mendapatkan objektif-obketif tertentu, menghindari kelahiran yang
tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang diinginkan, mengatur interval
diantara kehamilan dan menentukan jumlah anak dalam keluarga.

Tujuan Program KB

Tujuan umum adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekutan sosial
ekonomi suatu keluarga dengan cara pengaturan kelahiran anak, agar
diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi
kebutuhan hidupnya.
Tujuan lain meliputi pengaturan kelahiran, pendewasaan usia perkawinan,
peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.
Kesimpulan dari tujuan program KB adalah: Memperbaiki kesehatan dan
kesejahteraan ibu, anak, keluarga dan bangsa; Mengurangi angka kelahiran
untuk menaikkan taraf hidup rakyat dan bangsa; Memenuhi permintaan
masyarakat akan pelayanan KB dan KR yang berkualitas, termasuk upaya-
upaya menurunkan angka kematian ibu, bayi, dan anak serta penanggulangan
masalah kesehatan reproduksi.

Tujuan KB berdasar RENSTRA 2005-2009 meliputi

1. Keluarga dengan anak ideal


2. Keluarga sehat
3. Keluarga berpendidikan
4. Keluarga sejahtera
5. Keluarga berketahanan
6. Keluarga yang terpenuhi hak-hak reproduksinya
7. Penduduk tumbuh seimbang (PTS)
Sasaran Program KB

Sasaran program KB tertuang dalam RPJMN 2004-2009 yang meliputi:

1. Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan penduduk menjadi sekitar 1,14 persen


per tahun.
2. Menurunnya angka kelahiran total (TFR) menjadi sekitar 2,2 per perempuan.
3. Menurunnya PUS yang tidak ingin punya anak lagi dan ingin menjarangkan
kelahiran berikutnya, tetapi tidak memakai alat/cara kontrasepsi (unmet need)
menjadi 6 persen.
4. Meningkatnya pesertaKB laki-laki menjadi 4,5persen.
5. Meningkatnya penggunaan metode kontrasepsi yang rasional, efektif, dan
efisien.
6. Meningkatnya rata-rata usia perkawinan pertama perempuan menjadi 21
tahun.
7. Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembang anak.
8. Meningkatnya jumlah keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera-1 yang
aktif dalam usaha ekonomi produktif.
9. Meningkatnya jumlah institusi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan
Program KB Nasional.
PENUTUP

Kesimpulan

Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa program-program di puskesmas


adalah antara lain sebagai berikut:

ANC (Antenatal Care), PNC (Post Natal Care), Pertolongan Persalinan,


Rujukan Ibu Hamil Risiko Tinggi, Pelayanan Neonatus.

Program kesehatan ibu dan anak (KIA) periode Januari-Desember 2009


telah dilaksanakan di puskesmas Kelurahan Pisangan Timur 1 dan ditemukan
beberapa masalah pada kegiatan KIA yang dilakukan oleh puskesmas di wilayah
tersebut. Masalah yang ditemukan adalah deteksi kehamilan risiko tinggi oleh
masyarakat sebesar 2,6% dari target yang seharusnya 5%, cakupan peserta KB aktif
sebesar 33,3% dari target seharusnya 87%, dan cakupan kunjungan bayi sebesar
12,4% dari target seharusnya 88%. Masalah yang terpilih untuk dilakukan intervensi
adalah deteksi kehamilan risiko tinggi oleh masyarakat. Penyebab masalah yang
didapatkan antara lain kurangnya jumlah tenaga kesehatan di puskesmas tersebut,
belum ada jadwal rutin penyuluhan kepada suami/keluarga, kader dan masyarakat,
dan rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya deteksi kehamilan
risiko tinggi. Penyebab masalah yang terpilih adalah belum ada jadwal rutin
penyuluhan kepada suami/keluarga, kader, dan masyarakat. Alternatif penyelesaian
masalah yang diusulkan adalah penyuluhan kepada ibu hamil, suami, dan keluarga,
kader serta masyarakat tentang deteksi dini kehamilan risiko tinggi, membuat media
informasi berkala berupa buletin deteksi dini kehamilan risiko tinggi dan dibagikan
kepada suami dan keluarga ibu hamil dan masyarakat, dan kunjungan rumah ke
keluarga ibu hamil. Prioritas penyelesaian masalah yang didapatkan adalah
penyuluhan rutin berupa seminar sehari kepada suami/keluarga, kader dan
masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Chayatin Nurul. 2009.Ilmu Kesehatan Masyarakat teori dan aplikasi. Jakarta.


SalembaMedika

Sumarah , S.Si.T. 2009. Kebidanan Komunitas. Jogjakarta. Fitramaya

Yulifah Rita. 2009. Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta . Salemba Medika

http://www.lrc-kmpk.ugm.ac.id/id/UP-PDF/_working/No.21_One
%20Wakur_07_07.pdf.2011

http://creasoft.wordpress.com/2009/12/30/jurnal-kesehatan-program-kesehatan-ibu-
dan-anak-di-puskesmas-studi-fungsi-dinas-kesehatan-di-keerom-papua/.2011

http://www.pdfwindows.com/pdf/program-kia-depkes/.2011

http://obstetriginekologi.com/artikel/tujuan+program+kia+di+puskes.html,2011

Beri Nilai