Anda di halaman 1dari 21

BAB I STATUS PASIEN

1.1 PENILAIAN PREOPERATIF IDENTITAS PASIEN

Nama

: Tn. C.S

Usia

: 65 tahun

Alamat

: Sukabumi

Status

: Sudah menikah

Suku Bangsa

: Sunda

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Wiraswasta

Tanggal masuk

: 12 November 2014

Tanggal pemeriksaan : 12 November 2014 pukul 18.45

Nomor rekam medis Bangsal Diagnosis Rencana operasi

: A2825xx : Aster : Benign Prostate Hyperplasia : Cytoscopy TURP

ANAMNESIS (Autoanamnesis, 12/11/2014, Pukul: 18.45 wib)

Keluhan Utama

:

Tidak bisa buang air kecil, sejak 1 minggu SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien datang ke IGD RSUD dengan keluhan Buang air kecil tidak lancar sejak 1 minggu SMRS, bila saat BAK terasa masih ingin mengeluarkan kencing namun sudah tidak bisa keluar. Terkadang pada saat kencing, pasien harus berhenti dulu baru kemudian memulai lagi kencing yang disertai usaha mengejan untuk mengeluarkan air kencingnya, nyeri abdomen bagian tengah bawah, kandung kemih terasa penuh, keluhan mulai dirasakan sejak 10 tahun yang lalu dan terasa berat 1 minggu yang lalu. Pasien menyangkal bahwa air kemihnya tidak keluar darah. Saat ini pasien tidak mengeluh batuk, pilek dan demam.

1

Riwayat Penyakit Dahulu:

  • - Pasien tidak menderita sakit ini sebelumnya

  • - Pasien menderita penyakit Hipertensi sejak 1 tahun yang lalu dan terkontrol dengan menggunakan obat captopril 3x25mg

  • - Untuk riwayat alergi, operasi, TBC, stroke, diabetes melitus, gigi goyang, dan pemakaian gigi palsu disangkal oleh pasien.

Riwayat Kebiasaan :

Pasien sudah berhenti merokok sejak 14 tahun yang lalu dan tidak mengkonsumsi

alkohol.

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum Kesadaran GCS Berat badan

Tanda-tanda vital

: Tampak sakit sedang

: Compos mentis : 15 : 69 kg

:

TD

: 140/90 mmHg

Nadi

: 80x/menit

RR

: 18x/menit

Suhu

: 36,7 O C

STATUS GENERALIS

Tinggi badan

: 168 cm

Kepala

: normocephali, tidak ada deformitas

Mata

: Conjungtiva anemis -/-, sclera ikterik -/-, pupil isokhor 3mm/3mm,

Telinga

reflek cahaya +/+ : tidak terdapat gangguan pendengaran

Hidung

: septum nasi terletak di tengah, sekret -/-

Mulut

: malampati 1, mukosa bibir basah, tidak dijumpai sianosis

Leher

: TMD 8 cm, ROM bebas, KGB tidak teraba pembesaran

2

Thorax

:

Paru :

Inspeksi

: bentuk dada normal, simetris kanan dan kiri, dalam

Palpasi

keadaan statis dan dinamis, tidak terdapat retraksi : Fremitus taktil kanan sama dengan kiri

Perkusi

: Sonor pada kedua lapang paru

Auskultasi

: bunyi nafas vesicular +/+, ronki -/-, wheezing -/-

Jantung :

Inspeksi

: ictus cordis tidak terlihat

Palpasi

: ictus cordis teraba pada ICS V linea midclavicularis sinistra

Perkusi

: Batas atas Batas kiri Batas kanan

: ICS II : linea axilaris anterior sinistra : linea sternalis dextra

Auskultasi

: Bunyi jantung I dan II regular, murmur -, gallop

Punggung

:

Inspeksi

: bentuk punggung normal, simetris kanan dan kiri dalam

Palpasi

keadaan statis dan dinamis, tidak terdapat kifosis maupun skoliosis. : vokal fremitus kanan sama dengan kiri

Perkusi

: Sonor pada kedua lapangan paru

Auskultasi

Abdomen

: bunyi nafas bronchoveskular, ronki -/-, wheezing -/- :

Inspeksi

: datar

 

Palpasi

: supel, nyeri tekan negatif

Perkusi

Auskultasi

Ekstremitas

: timpani diseluruh kuadran abdomen : BU positif, 5x per menit.

: CRT < 2 detik, akral hangat, tidak terdapat edema.

3

PEMERIKSAAN PENUNJANG

  • a. Laboratorium Hasil pemeriksaan laboratorium (12 November 2014):

 

Jenis pemeriksaan

Hasil

Hematologi

   

Hb

14,2 g/dL

Ht

43,0 %

Jumlah Leukosit

10.500/μL

Jumlah Trombosit

343.000/ μL

Kimia Darah

   

SGOT/AST

28,1 U/L

SGPT/ALT

26,3 U/L

Elektrolit:

Na

148,1 mmol/L

K

4,14 Meq

Ca

8,4 mmol/L

Cl

114,9 mmol/L

Fungsi ginjal

Ureum

24,6 mg/dL

Kreatinin

0,69 mg/dL

Karbohidrat

GDS

 

102 mg/dl

 
 

Bleeding time

1’30”

 

Clotting time

9’

  • b. Radiologi Rontgen Thorax

:

Tidak tampak kardiomegali Tidak tampak KP aktif

4

c.

EKG

Sinus rythm

PENGOBATAN YANG TELAH DIBERIKAN

Saat pemeriksaan, pasien sudah minum captopril 25mg 3x1, terakhir minum sore hari

pukul 16.00 wib, pasien juga sudah terpasang Infus RL.

DIAGNOSA KLINIS

Benign Prostate Hyperplasia dengan hipertensi

KESIMPULAN

Status fisik ASA II

INSTRUKSI PREOPERATIVE

  • - Puasa sejak pukul 02.00 wib

  • - Teruskan obat antihipertensi sampai 2 jam sebelum operasi

  • - Acc operasi

1.2 LAPORAN INTRAOPERATIF

Penatalaksanaan anestesi (tanggal 13 November 2014)

Keadaan umum

Tanda-tanda vital

: Compos mentis

Tekanan Darah

  • - : 150/90 mmHg

  • - : 91 kali per menit

Nadi

  • - : 20 x/menit

Pernapasan

  • - : 36,7 o C

Suhu

Saturasi O 2

  • - : 99%

  • - Diagnosa pra bedah

    • - Diagnosa pasca bedah

    • - Jenis pembedahan

: BPH

: BPH

: Cystoscopy TURP

  • - Mulai anestesi

: 10.30 WIB

  • - Mulai operasi

: 10.40 WIB

  • - : Spinal Anestesi

Jenis anesthesi

  • - Premedikasi dengan

: Ondansetron 4 mg, Ranitidine 50 mg

5

1.

Medikasi

:

  • 1. Bupivacain Spinal 15 mg

  • 2. Ephedrine 5 mg + 5 mg

  • 3. Sulfas Atropin 0,25 mg + 0,25mg

  • 4. Ketorolac 30 mg (11.30)

2.

Maintenance

: O 2 3,0 L/mnt

  • - Teknik anestesi

:

-

Spinal ; L3 / L4, jarum spinal G-26

  • - LCS ( + ) jernih

 
  • - darah ( - )

Respirasi

  • - :

Spontan

Posisi

  • - :

Supine

  • - Infus durante operasi

:

1. RL 100 cc 2. RL ( Velchrome 50 mg + Asam Traneksamat 500 mg ) 500 cc

  • 3. RL 300 cc

  • - Selesai operasi

: 11.30 WIB

  • - Perdarahan

: 200 cc

  • - Urin tampung

: 300 ml

  • - Kebutuhan cairan

maintenance: BB = 69 kg
maintenance:
BB = 69 kg
  • 10 kg I : 10 x 4 cc/kgBB/jam

:

40cc/jam

  • 10 kg II : 10 x 2 cc/kgBB/jam

:

20 cc/jam

  • Sisanya: 49 x 1 cc/kgBB/jam

:

49 cc/jam

Total

:

109 cc/jam

6

Durante operasi Puasa : 8 jam x maintenance : 8 jam x 109 cc/jam : 872

Durante operasi Puasa

:

8 jam x maintenance

:

8 jam x 109 cc/jam

:

872 cc

Stress operasi

:

Operasi sedang

:

6 cc/kg BB/jam

:

6 cc x 69/jam

:

414 cc/jam

Pemberian cairan Jam I

:

½ puasa + maintenance + stress operasi

:

(½.872) + 109 cc/jam + 414 cc/jam

:

436 cc + 109 cc/jam + 414 cc/jam

:

959 cc

Perdarahan

:

200 cc

Urin output

:

300 cc

Jadi total kebutuhan cairan

:

Jam I + perdarahan + urin output

 

:

959 cc + 200 cc + 300 cc

:

1459 cc

Jumlah cairan yang diberikan

:

RL I

=

100 ml

 

RL 2

=

500 ml

RL 3

=

300 ml

 

Total

 

900 ml

Jadi sisa kebutuhan

:

1459 ml 900 ml

 

:

559 ml

EBV

=

70 ml/kgBB x 69 kg = 4830 ml

ABL

=

20% dari EBV

=

20

x 4830 ml= 966 ml

100

7

1.3 LAPORAN POSTOPERATIF

Keadaan umum : Compos mentis

Tekanan darah : 161/84 mmHg

Suhu

: Afebris

SpO 2

: 98%

Kesan

: Baik

Instruksi Pasca Bedah :

Nadi : 85x/menit

  • 1. Kontrol TNR tiap 15 menit selama 4 jam

  • 2. O2 3 liter per menit , via nasal kanul

  • 3. Imobilisasi 10 jam post op

  • 4. Tidak puasa

Respirasi : 20x/menit

  • 5. Analgetik ketorolac 30 mg/iv/8 jam post op , diberikan dikamar operasi pkl.11.30 WIB

  • 6. Analgetik drip 20 tpm (RL 500 cc + Ketorolac 60 mg )

1.3 LAPORAN POSTOPERATIF Keadaan umum : Compos mentis Tekanan darah : 161/84 mmHg Suhu : Afebris

8

2.1 ANESTESI SPINAL

BAB II PEMBAHASAN

Anestesi spinal (intratekal, intradural, subdural, subarachboid) ialah pemberian obat anestetik lokal ke dalam ruang subarachnoid. Kelebihan utama tehnik ini adalah kemudahan dalam tindakan, peralatan yang minimal, efek samping yang minimal pada biokimia darah, menjaga level optimal dari analisa gas darah, pasien tetap sadar selama operasi dan menjaga jalan nafas, serta membutuhkan penanganan post operatif

dan analgesia yang minimal.

Indikasi

  • 1. Bedah ekstremitas bawah

  • 2. Bedah panggul

  • 3. Tindakan sekitar rektum-perineum

  • 4. Bedah obstetri-ginekologi

  • 5. Bedah urologi

  • 6. Bedah abdomen bawah

  • 7. Pada bedah abdomen atas dan bedah pediatri biasanya dikombinasi dengan anestesi umum ringan

Kontra indikasi absolut

  • 1. Pasien menolak

  • 2. Infeksi pada tempat suntikan

  • 3. Hipovolemia berat, syok

  • 4. Koagulopati atau mendapat terapi antikoagulan

  • 5. Tekanan intrakranial meninggi

  • 6. Fasilitas resusitasi minim

  • 7. Kurang pengalaman/tanpa didampingi konsultan anestesi

Kontra indikasi relatif

  • 1. Infeksi sistemik (sepsis, bakteremi)

  • 2. Infeksi sekitar tempat suntikan

  • 3. Kelainan psikis

  • 4. Bedah lama

9

5.

Kelainan neurologis

  • 6. Penyakit jantung

  • 7. Hipovolemia ringan

  • 8. Nyeri punggung kronis

2.2 HIPERTENSI

  • A. Definisi

Hipertensi adalah suatu keadaan klinis yang ditandai oleh tekanan darah yang sangat tinggi (tekanan darah sistolik ≥180 mm Hg dan / atau diastolik ≥120 mm Hg yang membutuhkan penanganan segera. Berdasarkan keterlibatan organ target, krisis hipertensi dibagi menjadi dua kelompok yaitu :

Hipertensi darurat (emergency hypertension) : kenaikan tekanan darah mendadak (sistolik ≥180 mm Hg dan / atau diastolik ≥120 mm Hg) dengan kerusakan organ target yang bersifat progresif, sehingga tekanan darah harus diturunkan segera, dalam hitungan menit sampai jam. Hipertensi mendesak (urgency hypertension) : kenaikan tekanan darah mendadak (sistolik ≥180 mm Hg dan / atau diastolik ≥120 mm Hg) tanpa kerusakan organ target

yang progresif atau minimal. Sehingga penurunan tekanan darah bisa dilaksanakan lebih lambat, dalam hitung jam sampai hari.

  • B. Faktor Resiko Krisis Hipertensi

Penderita hipertensi tidak minum obat atau tidak teratur minum obat.

Kehamilan Penderita hipertensi dengan penyakit parenkim ginjal. Pengguna NAPZA

Penderita dengan rangsangan simpatis tinggi. (luka bakar, trauma kepala, penyakit vaskular/ kolagen)

  • C. Gambaran Klinis Krisis Hipertensi

Gambaran klinis krisis hipertensi umumnya adalah gejala organ target yang terganggu, diantaranya nyeri dada dan sesak nafas pada gangguan jantung dan diseksi aorta; mata kabur dan edema papilla mata; sakit kepala hebat, gangguan kesadaran

10

dan lateralisasi pada gangguan otak; gagal ginjal akut pada gangguan ginjal; di samping sakit kepala dan nyeri tengkuk pada kenaikan tekanan darah umumnya. Gambaran klinik hipertensi darurat dapat dilihat pada table 1.

Tabel 1 . Gambaran Klinik Hipertensi Darurat 5

Tekanan

Funduskopi

Status

Jantung

Ginjal

Gastrointestin

darah

neurologi

 

al

>

220/140

Perdarahan,

Sakit

kepala,

Denyut

jelas,

Uremia,

Mual, muntah

mmHg

eksudat,

kacau,

membesar,

proteinuria

edema

gangguan

dekompensasi,

papilla

kesadaran,

oliguria

 

kejang.

Batasan hipertensi ditetapkan dan dikenal dengan ketetapan JNC VII (The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of Hight Blood Pressure). Ketetapan ini juga telah disepakati Badan Kesehatan Dunia (WHO), organisasi hipertensi International (ISH), maupun organisasi hipertensi regional, termasuk Indonesia (InaSH).

Tabel 2. Klasifikasi Tekanan Darah Pada Dewasa menurut JNC VII

Kategori

Tekanan Darah Sistolik

Tekanan Darah Diastolik

Normal

< 120 mmHg

(dan) < 80 mmHg

Pre-hipertensi

120-139 mmHg

(atau) 80-89 mmHg

Stadium 1

140-159 mmHg

(atau) 90-99 mmHg

Stadium 2

>= 160 mmHg

(atau) >= 100 mmHg

Penderita hipertensi yang tidak terkontrol sewaktu - waktu bisa jatuh kedalam keadaan gawat darurat. Diperkirakan sekitar 1-8% penderita hipertensi berlanjut menjadi “Krisis Hipertensi”, dan banyak terjadi pada usia sekitar 30-70 tahun. Tetapi krisis hipertensi jarang ditemukan pada penderita dengan tekanan darah normal tanpa penyebab sebelumnya. Pengobatan yang baik dan teratur dapat mencegah insiden krisis hipertensi menjadi kurang dari 1 %.

11

D. Diagnosis

Diagnosis krisis hipertensi harus ditegakkan sedini mungkin, karena hasil terapi tergantung kepada tindakan yang cepat dan tepat. Tidak perlu menunggu hasil pemeriksaan yang menyeluruh walaupun dengan data-data yang minimal kita sudah

dapat mendiagnosis suatu krisis hipertensi.

D.1 Anamnesis

Sewaktu penderita masuk, dilakukan anamnesa singkat. Hal yang

penting ditanyakan :

  • a. Riwayat hipertensi, lama dan beratnya.

  • b. Obat anti hipertensi yang digunakan dan kepatuhannya.

  • c. Usia, sering pada usia 30 70 tahun.

  • d. Gejala sistem syaraf ( sakit kepala, pusing, perubahan mental, ansietas ).

  • e. Gejala sistem ginjal ( gross hematuri, jumlah urine berkurang )

  • f. Gejala sistem kardiovascular ( adanya payah jantung, kongestif dan oedem paru, nyeri dada ).

  • g. Riwayat penyakit glomerulonefrosis, pyelonefritis.

    • h. Riwayat kehamilan, tanda- tanda eklampsi.

D.2 Pemeriksaan fisik

Pada pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran tekanan darah dikedua lengan, mencari kerusakan organ sasaran ( retinopati, gangguan neurologi, payah jantung kongestif, diseksi aorta ). Palpasi denyut nadi di keempat ekstremitas. Auskultasi untuk mendengar ada atau tidak bruit pembuluh darah besar, bising jantung dan ronki paru.

Perlu dibedakan komplikasi krisis hipertensi dengan kegawatan neurologi ataupun payah jantung, kongestif dan oedema paru. Perlu dicari penyakit penyerta lain seperti penyakit jantung koroner.

D.3 Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium awal : urinalisis, Hb, Ht, ureum, kreatinin, gula darah dan

elektrolit. Pemeriksaan penunjang: elektrokardiografi, foto thorak

12

Pemeriksaan

penunjang

lain

bila

memungkinkan:

ekokardiogram, ultrasonogram.

CT

scan

kepala,

E. PENATALAKSANAAN KRISIS HIPERTENSI

Penatalaksanaan krisis hipertensi sebaiknya dilakukan di rumah sakit, namun dapat dilaksanakan di tempat pelayanan primer sebagai pelayanan pendahuluan dengan pemberian obat anti hipertensi oral. Penatalaksanaan krisis hipertensi berdasarkan penilian awal dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3: Algoritma untuk Evaluasi Krisis Hipertensi

Parameter

Hipertensi Mendesak

Hipertensi Darurat

Biasa

Mendesak

Tekanan

> 180/110

> 180/110

> 220/140

darah

(mmHg)

Gejala

Sakit kepala, kecemasan; sering kali tanpa gejala

Sakit kepala hebat, sesak napas

Sesak napas, nyeri dada, nokturia, dysarthria, kelemahan, kesadaran menurun

Pemeriksaan

Tidak ada kerusakan organ target, tidak ada penyakit kardiovaskular

Kerusakan organ target; muncul klinis penyakit kardiovaskuler, stabil

Ensefalopati, edema paru, insufisiensi ginjal, iskemia jantung

Terapi

Awasi 1-3 jam; memulai/teruskan obat oral, naikkan dosis

Awasi 3-6 jam; obat oral berjangka kerja pendek

Pasang jalur IV, periksa laboratorium standar, terapi obat IV

Rencana

Periksa ulang dalam 3 hari

Periksa ulang dalam 24 jam

Rawat ruangan/ICU

13

Adapun obat hipertensi oral yang dapat dipakai untuk hipertensi mendesak (urgency) dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4: Obat hipertensi oral

Obat

Dosis

Efek / Lama Kerja

Perhatian khusus

Captopril

12,5 - 25 mg PO; ulangi per 30 min ; SL, 25 mg

15-30 min/6-8 jam ; SL 10-20 min/2-6 jam

Hipotensi, gagal ginjal, stenosis arteri renalis

Clonidine

PO 75 - 150 ug, ulangi per jam

30-60 min/8-16 jam

Hipotensi, mengantuk, mulut kering

Propanolol

10 - 40 mg PO; ulangi setiap 30 min

15-30 min/3-6 jam

Bronkokonstriksi, blok jantung, hipotensi ortostatik

Nifedipine

5 - 10

mg PO;

5 -15 min/4-6 jam

Takikardi, hipotensi,

ulangi setiap 15

gangguan koroner

menit

SL, Sublingual. PO, Peroral

Sedangkan untuk hipertensi darurat (emergency) lebih dianjurkan untuk pemakaian parenteral, daftar obat hipertensi parenteral yang dapat dipakai dapat dilihat pada tabel

5.

Tabel 5: Obat hipertensi parenteral

Obat

Dosis

Efek / Lama Kerja

Perhatian khusus

Sodium

0,25-10 mg / kg

langsung/2-3

Mual, muntah, penggunaan jangka

nitroprusside

/ menit sebagai

menit setelah

panjang dapat menyebabkan

infus IV

infus

keracunan tiosianat, methemoglobinemia, asidosis, keracunan sianida. Selang infus lapis perak

Nitrogliserin

500-100 mg sebagai infus IV

2-5 min /5-10 min

Sakit kepala, takikardia, muntah, , methemoglobinemia; membutuhkan sistem pengiriman khusus karena obat mengikat pipa PVC

Nicardipine

5-15 mg / jam

1-5 min/15-

Takikardi, mual, muntah, sakit

sebagai infus IV

30 min

kepala, peningkatan tekanan intrakranial; hipotensi

14

Klonidin

150 ug, 6 amp per 250 cc Glukosa 5% mikrodrip

30-60 min/ 24 jam

Ensepalopati dengan gangguan koroner

 

5-15

1-5 min/ 15-

Takikardi, mual, muntah, sakit

Diltiazem

ug/kg/menit

30 min

kepala, peningkatan tekanan

sebagi infus IV

intrakranial; hipotensi

Pada hipertensi darurat (emergency) dengan komplikasi seperti hipertensi emergensi dengan penyakit payah jantung, maka memerlukan pemilihan obat yang tepat sehingga tidak memperparah keadaannya. Pemilihan obat untuk hipertensi dengan komplikasi dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6: Obat yang dipilih untuk Hipertensi darurat dengan komplikasi

Komplikasi

Obat Pilihan

Target Tekanan Darah

Diseksi aorta

Nitroprusside + esmolol

SBP 110-120 sesegera mungkin

AMI, iskemia

Nitrogliserin, nitroprusside, nicardipine

Sekunder untuk bantuan iskemia

Edema paru

Nitroprusside, nitrogliserin, labetalol

10% -15% dalam 1-2 jam

Gangguan Ginjal

Fenoldopam, nitroprusside, labetalol

20% -25% dalam 2-3 jam

Kelebihan

Phentolamine, labetalol

10% -15% dalam 1-2 jam

katekolamin

Hipertensi

Nitroprusside

20% -25% dalam 2-3 jam

ensefalopati

Subarachnoid

Nitroprusside, nimodipine,

20% -25% dalam 2-3 jam

hemorrhage

nicardipine

Stroke Iskemik

Nicardipine

0% -20% dalam 6-12 jam

AMI, infark miokard akut; SBP, tekanan sistolik bood.

15

16
16

16

BAB III ANALISIS MASALAH

A.

Pre-Operatif

Pasien datang dengan keluhan miksi tidak lancar sejak kemarin. Pasien diputuskan dirawat di bangsal aster. Setelah keadaan umum pasien membaik, pasien dipersiapkan untuk operasi tanggal 13 November 2014. Sebelum dilakukan operasi, dilakukan pemeriksaan pre-op yang meliputi anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang untuk menentukan status fisik ASA & risk. Diputuskan kondisi fisik pasien termasuk ASA II (pasien geriatri dan penderita hipertensi), serta ditentukan rencana jenis anestesi yang dilakukan yaitu regional anestesi dengan teknik SubArachoid Block (Spinal Block). Pasien yang akan menjalani operasi prostattectomy umumnya adalah pasien geriatri, untuk itu penting dilakukan evaluasi ketat terhadap fungsi kardiovaskuler, respirasi dan ginjal. Pasien-pasien ini dilaporkan mempunyai prevalensi yang cukup tinggi untuk mengalami gangguan kardiovaskular dan respirasi, hal lain yang perlu diperhatikan pada pembedahan ini adalah darah harus selalu tersedia karena perdarahan prostat dapat sangat sulit dikontrol, terutama pada pasien yang kelenjar prostatnya > 40 gram.

Jenis anastesi yang dipilih adalah regional anastesi cara spinal. Anastesi regional baik spinal maupun epidural dengan blok saraf setinggi T10 memberikan efek anastesi yang memuaskan dan kondisi operasi yang optimal bagi prostattectomy. Dibanding dengan general anastesi, regional anastesi dapat menurunkan insidens terjadinya post-operative venous trombosis. Pre-medikal yang diberikan adalah Ondancentron 4 mg dan Ranitidin 50 mg. Diketahui bahwa Ondancentron adalah suatu antagonis reseptor serotonin 5-HT3 selektif yang dapat mengantagonis efek emetik, sehingga dapat mencegah dan mengobati mual muntah pasca bedah, sedangkan Ranitidin adalah reseptor H2 histamin, sehingga dapat memblokir sekresi hidrogen yang timbulkan histamin-pentagastrin-asetilkolin oleh sel

17

parietal, sehingga dapat menekan vasodilatasi perifer dan efek inotropik akibat histamin.

  • B. Durante operatif Prosedur pembedahan ini adalah membuka perlekatan prostat dengan vesika urinaria kemudian mereseksi kelenjar prostat yang membesar. Prosedur ini selalu memerlukan cairan irigasi kontinyu dalam jumlah besar. Penggunaan sejumlah besar cairan irigasi membawa beberapa komplikasi antaralain TURP syndrom, hipotermi, dan koagulopati. Teknik anastesi yang digunakan adalah spinal anastesi dengan alasan operasi yang dilakukan pada bagian tubuh inferior, sehingga cukup memblok bagian tubuh inferior saja. Obat anastesi yang diberikan pada pasien ini adalah bucain spinal 20 mg/ 4 ml ( dosis bupivakain Hcl yang diberikan 15 mg), bucain spinal dipilih karena durasi kerja yang lama. Bupivakain Hcl merupakan anastesi lokal golongan amida. Bupivakain Hcl mencegah konduksi rangsang saraf dengan menghambat aliran ion, meningkatkan ambang eksitasi elektron, memperlambat perambatan rangsang saraf dan menurunkan kenaikan potensial aksi. Dosis pemberian Bupivacain IV regional 125-150 mg. Durasi analgetik pada T 10- T 12 selama 2-3 jam, dan bupivakain spinal menghasilkan relaksasi muskular yang cukup pada ekstremitas bawah selama 2- 2,5 jam. Selain itu bucain juga dapat ditoleransi dengan baik pada semua jaringan yang terkena. Pada saat operasi berlangsung, tekanan darah dan nadi pasien mulai mengalami penurunan. Karena pasien merupakan penderita hipertensi, maka selama anestesi harus dijaga tekanan darah target sesuai aturan JNC7 yaitu 140/90 mmHg, atau tekanan darah tidak < 20% dari tekanan darah yang tinggi sehari-hari, sehingga diberikan Ephedrine 10 mg untuk meningkatkan curah jantung, tekanan darah, dan nadi melalui stimulasi adrenergik alfa dan beta. Ephedrine dapat diberikan dengan dosis IV, 5-20 mg. Tak lama dari pemberian Ephedrine, pasien juga diberikan Atropin Sulfat sebanyak 0,5 mg IV. Karena atropin secara berkopentesi mengantagonis aksi asetil kolin pada reseptor muskarinik, dapat memblokade vagus perifer dari sinus dan nodus AV, sehingga dapat meningkatkan nadi,

18

dan dapat berinteraksi dengan mempotensi kerja ephedrine sebagai obat simpatomimetik nonkatekolamin. Atropin sulfat dapat diberikan dengan dosis 0,5-1,0 mg iv. Sebagai analgetik digunakan ketorolac (berisi 30 mg/ml) sebanyak 1 ampul (1 ml) disuntikan iv. Ketorolac merupakan nonsteroid anti inflamasi (AINS) yang bekerja menghambat sintesis prostaglandin sehingga dapat menghilangkan rasa nyeri/analgetik efek. Ketorolac 30 mg mempunyai efek analgetik yang setara dengan 50 mg pethidin atau 12 mg morphin, tetapi memiliki durasi kerja yang lebih lama serta lebih aman daripada analgetik opioid karena tidak ada evidence depresi nafas pada clinicaal trial. Pemberian dosis ketorolac untuk pasien geriatri (> 65 tahun) adalah tidak lebih dari 60 mg/hari. Dipakai 30 mg karena ternyata bahwa 30 mg merupakan dosis yang tepat dan memberikan terapeutik index yang lebih baik.

Semua pasien yang menghadapi pembedahan harus dimonitor secara ketat 4 aspek yakni : monitoring tanda vital, monitoring tanda anestesi, monitoring lapangan operasi, dan monitoring lingkungan operasi.

  • C. Post Operatif Perawatan pasien post operasi dilakukan di PACU ( Post Anestetic Care Unit). Setelah dipastikan pasien pulih dari anestesi, keadaan umum, kesadaran, serta vital sign stabil, maka pasien dipindahkan ke bangsal, dengan anjuran untuk bed rest 10 jam post Operasi, tidur terlentang dengan 1 bantal, tidak perlu puasa post operasi, minum banyak air putih serta tetap diawasi vital sign selama 24 jam post operasi.

19

BAB IV

PENUTUP

  • 1. Pada pasien ini dipilih regional anestesi dengan teknik spinal karena memberikan efek anestesi yang lebih baik dan memberikan kondisi yaang lebih optimal bagi prostattektomy.

  • 2. Obat-obatan yang digunakan dalam operasi ini merupakan obat-obat yang dianggap rasional dengan efek yang paling optimal yang bisa diberikan pada pasien geriatri mengingat penurunan fungsi organ yang terjadi kelompok pasien ini dan penyakit hipertensi yang diderita pasien. Premedikasi ondansentron 4 mg untuk menimbulkan kenyamanan pasien. Medikasi : Bupivakain spinal 15 mg (sebagai obat anestesi spinal), ephedrine dan atropin sulfat untuk menjaga tekanan darah, dan nadi pasien agar tetap stabil, karena pasien merupakan penderita hipertensi, maka sesuai anjuran JNC7, tekanan darah harus dipertahankan tidak kurang dari 20% tekanan darah sehari-hari, dan diberikan ketorolac 30 mg sebagai analgetik.

  • 3. Penurunan fungsi organ yang terjadi pada pasien-pasien geriatri antara lain :

    • a. Kardiovaskular : Penurunan elastisitas pembuluh darah arteri penurunan cardiac reserve.

    • b. Sistem pernafasan

:

Penurunan elastisitas jaringan baru.

  • c. Ginjal : Penurunan renal blood flow dan massa ginjal Penurunan kemampuan ginjal untuk mengekskresi obat-obatan

  • d. Sistem pencernaan

:

Penurunan hepatic blood flow Penurunan kecepatan produksi albumin & plasma kolinesterase.

  • e. Penurunan sintesis neurotransmitter

Sistem syaraf

:

  • f. Atrofi kulit Gangguan sendi lebih mudah terjadi akibat positioning pada operasi.

Muskuloskeletal

:

20

DAFTAR PUSTAKA

Latief, A, Said, dkk. 2009. PETUNJUK PRAKTIS Anestesiologi, edisi kedua (Anestesi Spinal). Jakarta : Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI

Morgan, G, Edward, et al. 2006. Clinical Anesthesiology, 4th edition (Anesthesia for Patients with Endocrine Disease) by the McGraw-Hill Companies, Inc.

Purnomo, Basuki. Dasar-dasar urologi. Sagung seto, Jakarta. 2007

Staf Pengajar Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI. Anestesiologi. FKUI, Jakarta. 1989.

Wim de jong.

Buku ajar Ilmu Bedah / Editor, R Sjamsuhidajat,. Edisi 2, Jakarta :

EGC. 2004.

Sudoyo, Aru W dkk. 2009. Jilid 2.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta. Interna Publishing

21