Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KASUS

PERIODONTITIS KRONIS ET CAUSA GANGGREN PULPA

Diajukan sebagai salah satu persyaratan dalam menempuh


Program Pendidikan Profesi Dokter (PPPD)
Bagian Ilmu Kesehatan Gigi dan Mulut Rumah Sakit Islam Sultan agung
Semarang

Dosen Pembimbing
drg. Aning Susilowati

Oleh :
Syifa Dian Firmanita 01.210.6283

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2014
BAB I
LAPORAN KASUS
I. IDENTITAS PENDERITA
- Nama : Tn. J
- Jenis Kelamin : Laki - laki
- Umur : 48 tahun
- Agama : Islam
- Alamat : Lempang Sari Timur
- Pekerjaan : Buruh pabrik
- No. CM :
- Tanggal diperiksa : 23 Agustus 2014

II. KELUHAN SUBYEKTIF ANAMNESA


Auto Anamnesis dengan pasien dilakukan pada tanggal 23 Agustus 2014
pukul 09.00 WIB

- Keluhan Utama : ingin cabut gigi karena gigi goyang dan berlubang
- Anamnesis
1. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke BP Gigi Puskesmas Pandanaran Semarang
dengan keluhan gigi goyang dan berlubang pada gigi geraham
kiri atas sejak 1 tahun yang lalu. Kadang terasa sakit dan linu
yang hilang timbul saat digunakan untuk makan sehingga
penderita tidak dapat menggunakan sisi rahang sakit untuk
mengunyah. Nyeri tidak menimbulkan gangguan tidur.
Pasien tidak sedang dalam perawatan atau pengobatan dan
pasien ingin gigi yang bersangkutan dicabut.
2. Riwayat Penyakit Dahulu
a. Riwayat Penyakit Gigi dan Mulut : Dahulu pasien pernah
merasakan sakit gigi di gigi yang goyang dan berlubang
tersebut
b. Riwayat Penyakit Sistemik :
Riwayat alergi : tidak ada
Riwayat DM : tidak ada
Riwayat Hipertensi : tidak ada
3. Riwayat Penyakit Keluarga : Keluarga tidak ada yang sakit
seperti ini.
4. Riwayat Sosial Ekonomi :Pasien seorang buruh pabrik. Kesan
ekonomi cukup.

III. PEMERIKSAAN OBYEKTIF


- Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Keadaan Gizi : Cukup
Derajat Sakit :-
Anemis (-), Ikterik (-) Sianosis (-)
- Tanda Vital
1. Tensi : 120/80 mmHg
2. Nadi : 84 x/menit
3. RR : tidak dilakukan
4. Suhu : tidak dilakukan
- Extra Oral :
1. Wajah : simetris
2. Tanda tanda radang : calor (-), rubor (-), dolor (-),
tumor(-), dan fungsiolesa (-)
3. Tepi Rahang : basis mandibula teraba dengan
palpasi
4. Bibir : tidak ada kelainan.
5. Fluktuasi : (-)
6. Pingpong Phenomenon : (-)
7. Trismus : (-)
8. Kelenjar limfe submandibula
Kanan : tidak ada pembengkakan
Kiri : tidak ada pembengkakan
- Intra Oral
a) Inspeksi
1. Mukosa bibir : tidak ada kelainan
2. Mukosa pipi : tidak ada kelainan
3. Mukosa Palatum durum : tidak ada kelainan
4. Mukosa palatum mole : tidak ada kelainan
5. Ginggiva : tampak sedikit bengkak
6. Mukosa dasar mulut/lidah: tidak ada kelainan
7. Mukosa faring : tidak ada kelainan
8. Gigi
- Karies dentis : (+) gigi 2,7, tampak mahkota gigi sudah
keropos sehingga tersisa setengahnya

1.8 1.7 1.6 1.5 1.4 1.3 1.2 1.1 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 2.8
5.5 5.4 5.3 5.2 5.1 6.1 6.2 6.3 6.4 6.5
8.5 8.4 8.3 8.2 8.1 7.1 7.2 7.3 7.4 7.5
4.8 4.7 4.6 4.5 4.4 4.3 4.2 4.1 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6 3.7 3.8
b) Sonde : profunda, sakit (-)
c) Perkusi : (-)
d) Tekanan : (+)
e) Palpasi : (derajat 2)
f) Termal Test : (-)

IV. ORAL HYGIENE


Sedang
V. DIFERENSIAL DIAGNOSIS
- Periodontitis kronis et causa ganggren pulpa
- Gangren pulpa
- Periodontitis apical
- Pulpitis kronis
VI. DIAGNOSA SEMENTARA
Periodontitis kronis et causa ganggren pulpa
VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium :-
Foto :-
VIII. RENCANA TERAPI/ TREATMENT PLANNING
Medikamentosa : Antibiotik Amoxicillin 500 mg 3x1
Analgetik Antalgin 500 mg
Tindakan : Ekstraksi gigi 2.7
IX. EDUKASI
1. Menjaga kebersihan mulut dan gigi dengan menggosok gigi min 2 kali
sehari dan max 3x sehari, pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari
sebelum tidur.
2. Pemakaian obat kumur anti bakteri untuk mengurangi pertumbuhan
bakteri dalam mulut, misalnya obat kumur yang mengandung
chlorhexidine. Lakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter gigi
Anda dalam penggunaan obat kumur tersebut.
3. Kontrol ke dokter gigi 6 bulan sekali.
X. KOMPLIKASI
- Serous periostitis
- Abses
- Phlegmon
- Osteomyelitis
XI. PROGNOSIS
Ad bonam
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Periodontitis

2.1.1. Definisi Periodontitis

Periodontitis adalah peradangan periodontium yaitu jaringan yang

mengelilingi dan mendukung gigi. Periodontitis melibatkan hilangnya

progresif dari tulang alveolar di sekitar gigi dan jika tidak diobati dapat

menyebabkan melonggarnya jaringan periodontium serta kehilangan gigi.

Merupakan suatu penyakit jaringan penyangga gigi yaitu yang

melibatkan gingiva, ligamen periodontal, sementum, dan tulang alveolar

karena suatu proses inflamasi. Inflamasi berasal dari gingiva (gingivitis)

yang tidak dirawat, dan bila proses berlanjut maka akan menginvasi

struktur di bawahnya sehingga akan terbentuk poket yang menyebabkan

peradangan berlanjut dan merusak tulang serta jaringan penyangga gigi,

akibatnya gigi menjadi goyang dan akhirnya harus dicabut. Karekteristik

periodontitis dapat dilihat dengan adanya inflamasi gingiva, pembentukan

poket periodontal, kerusakan ligamen periodontal dan tulang alveolar

sampai hilangnya sebagian atau seluruh gigi. 6

Periodontitis kronis didefinisikan sebagai penyakit infeksi

dikarenakan inflamasi pada jaringan lunak dari gigi, kehilangan jaringan

ikat secara progresif dan kehilangan tulang. Definisi ini menggaris bawahi
tanda-tanda klinis dan etiologi dari penyakit, susunan mikrobial plak,

inflamasi periodontal dan hilangnya jaringan ikat serta hilangnya tulang

alveolar.

Gambar 1. Periodontitis kronis


Sumber : http://i.ehow.com/images/GlobalPhoto/Articles/5098170/232728-main_Full.jpg

1.1.2. Etiologi Periodontitis kronis

Etiologi penyakit periodontal sangat kompleks. Para ahli

mengemukakan bahwa etiologi penyakit periodontal dapat dikelompokkan

dalam dua kelompok yaitu faktor lokal dan faktor sistemik. Faktor lokal

dan faktor sistemik sangat erat hubungannya dan berperan sebagai

penyebab terjadinya kerusakan jaringan periodontal. Umumnya, penyebab

utama penyakit periodontal adalah faktor lokal, keadaan ini dapat

diperberat oleh keadaan sistemik yang kurang menguntungkan dan

memungkinkan terjadinya keadaan yang progresif.7

Faktor lokal adalah faktor yang berakibat langsung pada jaringan

periodonsium serta dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu faktor iritasi

lokal dan fungsi lokal. Yang dimaksud dengan faktor lokal adalah plak

bakteri sebagai penyebab utama. Dan faktor-faktor lainnya antara lain


adalah bentuk gigi yang kurang baik dan letak gigi yang tidak teratur,

maloklusi, over hanging restoration dan bruksism.7

Faktor sistemik sebagai penyakit periodontal antara lain adalah

pengaruh hormonal pada masa pubertas, kehamilan, menopause, defisiensi

vitamin, diabetes mellitus dan lain-lain. Dalam hal ini dikemukakan bahwa

hormon kelamin berperan penting dalam proses pathogenesis penyakit

periodontal.7

Adapun etiologi dari periodontitis kronis, yaitu :8

Akumulasi plak dan kalsifikasi kalkulus (tartar) diatas (supra) dan/atau

dibawah (subgingiva) pada batas gingiva.

Organisme penyebab periodontitis kronis, antara lain :

a. Porphiromonas gingivais (P.gingivais)

b. Prevotella intermedia (P.intermedia)

c. Capnocytophaga

d. A.actinomycetem comitans (A.a)

e. Eikenella corrodens

f. Campylobacter rectus(C.rectus)

Reaksi inflamasi yang diawali dengan adanya plak yang berhubungan

dengan kehilangan yang progressif dari ligament periodontal dan tulang

alveolar, dan pada akhirnya akan terjadi mobilitas dan tanggalnya gigi :

a. Perlekatan gingiva dari gigi

b. Membrane periodontal dan tulang alveolar mengalami kerusakan.

c. Celah yang abnormal (poket) yang berkembang antara gigi dan

gingiva.
d. Debris dan poket yang dihasilkan oleh poet (pyorrhea)

Subjek cenderung rentan karena faktor genetik dan/atau lingkungan seperti

a. Merokok

b. Polimorf gen interleukin-1

c. Depresi imun

d. Diabetes

e. Osteoporosis

1.1.3. Gambaran klinis

Periodontitis kronis bisa terdiagnosis secara klinis dengan

mendeteksi perubahan inflamasi kronis pada marginal gingival,

kemunculan poket periodontal dan kehilangan perlekatan secara klinis.

Penyebab periodontal ini besifat kronis, kumulatif, progresif dan bila telah

mengenai jaringan yang lebih dalam akan menjadi irreversible. Secara

klinis pada mulanya terlihat peradangan jaringan gingiva disekitar leher

gigi dan warnanya lebih merah daripada jaringan gingiva sehat. Pada

keadaan ini sudah terdapat keluhan pada gusi berupa perdarahan spontan

atau perdarahan yang sering terjadi pada waktu menyikat gigi.9

Bila gingivitis ini dibiarkan melanjut tanpa perawatan, keadaan ini

akan merusak jaringan periodonsium yang lebih dalam, sehingga cement

enamel junction menjadi rusak, jaringan gingiva lepas dan terbentuk

periodontal poket. Pada beberapa keadaan sudah terlihat ada peradangan

dan pembengkakan dengan keluhan sakit bila tersentuh.


Bila keparahan telah mengenai tulang rahang, maka gigi akan

menjadi goyang dan mudah lepas dari soketnya.

Gambar 2. Periodontitis kronis secara klinis

Sumber :

http://www.implantdentist.co.nz/assets//Periodontitis%2525201.jpg&zoom

Tanda klinik dan karakteristik periodontitis kronis: 10

a. Umumnya terjadi pada orang dewasa namun dapat juga terlihat

pada remaja.

b. Jumlah kerusakan sesuai dengan jumlah faktor lokal.

c. Kalkulus subgingiva sering ditemukan.

d. Berhubungan dengan pola mikroba

e. Kecepatan progresi lambat tetapi memiliki periode eksaserbasi

dan remisi.

f. Dapat diklasifikasikan lebih lanjut berdasarkan perluasan dan

keparahannya.

g. Dapat dihubungkan dengan faktor predisposisi lokal (seperti

relasi gigi atau faktor iatrogenik).


h. Mungkin dimodifikasi oleh dan atau berhubungan dengan

kelainan sistemik (seperti diabetes mellitus, infeksi HIV).

i. Dapat dimodifikasi oleh faktor selain kelainan sistemik seperti

merokok dan stres emosional.

1.1.4. Gambaran Radiografi

Didalam rongga mulut terdapat beberapa jaringan, yaitu jaringan

keras dan jaringan lunak. Yang termasuk jaringan keras gigi diantaranya

tulang alveolar dan gigi (enamel dan dentin). Sedangkan yang termasuk

jaringan lunak meliputi mukosa (labial, bukal, palatal, ginggival), lidah

dan jaringan penyangga gigi.

Kelainan dapat terjadi pada jaringan keras dan jaringan lunak

dalam rongga mulut. Suatu kelainan yang terjadi baik pada jaringan keras

maupun jaringan lunak pada rongga mulut dapat diketahui melalui

pemeriksaan obyektif dan ditunjang oleh pemeriksaan radiografi. Dengan

pemeriksaan radiografi operator bisa melihat kondisi jaringan yang

terletak dibawah mukosa yang tidak dapat dilihat secara langsung.

Sehingga dapat memastikan kelainan yang terjadi di daerah tersebut.11

Salah satu kelainan pada jaringan lunak gigi yang dapat dilihat

pada pemeriksaan radiografi adalah kelainan yang terjadi pada jaringan

penyangga gigi, seperti periodontitis. Dengan pemeriksaan radiografi

dapat diketahui bagaimana gambaran periodontitis dan bagaimana

membedakannya dengan kelainan yang lain.11


Gambar 3. Periodontitis kronis secara Radiografi

Sumber: www.crowthornedentist.co.uk/.../page16.html

1.1.5. Prevalensi

Prevalensi periodontitis kronis meningkat dan keparahannya sejalan

dengan usia, umumnya mempengaruhi laki-laki dan perempuan dengan

frekuensi yang sama. Periodontitis disebut age associated, bukan age-

related. Dengan kata lain, bukan usia dari individu yang meningkatkan

prevalensi penyakit tetapi durasi dari jaringan periodontal oleh akumulasi

kronik dari plak. 10

1.1.6. Perawatan

Perawatan periodontitis kronis dapat dibagi menjadi 3 fase, yaitu: 6

Fase I : Fase terapi inisial, merupakan fase dengan cara menghilangkan

beberapa faktor etiologi yang mungkin terjadi tanpa melakukan tindakan

bedah periodontal atau melakukan perawatan restoratif dan prostetik.

Berikut ini adalah beberapa prosedur yang dilakukan pada fase I :

1. Memberi pendidikan pada pasien tentang kontrol plak.


2. Scaling dan root planning

3. Perawatan karies dan lesi endodontic

4. Menghilangkan restorasi gigi yang over kontur dan over hanging

5. Penyesuaian oklusal (occlusal ajustment)

6. Splinting temporer pada gigi yang goyah

7. Perawatan ortodontik

8. Analisis diet dan evaluasinya

9. Reevaluasi status periodontal setelah perawatan tersebut diatas

Fase II : Fase terapi korektif, termasuk koreksi terhadap deformitas

anatomikal seperti poket periodontal, kehilangan gigi dan disharmoni

oklusi yang berkembang sebagai suatu hasil dari penyakit sebelumnya dan

menjadi faktor predisposisi atau rekurensi dari penyakit periodontal.

Berikut ini adalah bebertapa prosedur yang dilakukun pada fase ini:

1. Bedah periodontal, untuk mengeliminasi poket dengan cara antara lain:

kuretase gingiva, gingivektomi, prosedur bedah flap periodontal,

rekonturing tulang (bedah tulang) dan prosedur regenerasi periodontal

(bone and tissue graft)

2. Penyesuaian oklusi

3. Pembuatan restorasi tetap dan alat prostetik yang ideal untuk gigi yang

hilang
Fase III: fase terapi pemeliharaan, dilakukan untuk mencegah terjadinya

kekambuhan pada penyakit periodontal. Berikut ini adalah beberapa

prosedur yang dilakukan pada fase ini:

1. Riwayat medis dan riwayat gigi pasien

2. Reevalusi kesehatan periodontal setiap 6 bulan dengan mencatat scor

plak, ada tidaknya inflamasi gingiva, kedalaman poket dan mobilitas

gigi.

3. Melekukan radiografi untuk mengetahui perkembangan periodontal

dan tulang alveolar tiap 3 atau 4 tahun sekali.

4. Scalling dan polishing tiap 6 bulan seksli, tergantung dari evektivitas

kontrol plak pasien dan pada kecenderungan pembentukan kalkulus

5. Aplikasi tablet fluoride secara topikal untuk mencegah karies

1. Definisi
Pulpitis adalah peradangan yang terjadi pada jaringan pulpa.

2. Anatomi Gigi

Gambar 1. Struktur gigi normal


Gambar 1. Struktur gigi abnormal

3. Klasifikasi Pulpitis
a) Menurut waktunya :
Pulpitis akut
Pulpitis kronis
b) Menurut kantorowics
Pulpitis (radang pulpa)
Pulpitis Clausa (pulpa tertutup)
Hyperemia Pulpa
Pulpitis Simplex
Pulpitis Purulent
Pulpitis Aperta (pulpa terbuka)
Pulpitis Ulserosa
Pulpitis Granulomatosa
c) Menurut Prof. Knap (pembagian baru)
Pulpitis akut
Pulpitis akut totalis
Pulpitis akut partialis

4. Etiologi
Penyebab Pulpitis yang paling sering ditemukan adalah kerusakan email
dan dentin, penyebab kedua adalah cedera.
Faktor yang mempengaruhi:
a) Gigi
Komposisi : bahan pembentuk gigi terutama flour
Morfologi : gigi molar dengan fissure yang dalam pada
permukaan oklusal
Posisi : gigi yang berjejal akan sulit dibersihkan
b) Saliva
Viskositas
pH
jumlah atau volume
Faktor anti bakteri
c) Makanan
Macam atau jumlah
Kandungan karbohidrat
5. Gejala dan tanda
Pulpitis menyebabkan sakit gigi yang tajam luar biasa, terutama bila
terkena oleh air dingin, asam, manis, kadang hanya dengan menghisap angin
pun sakit. Rasa sakit dapat menyebar ke kepala, telinga dan kadang sampai
ke punggung.
o Sondasi (+)
o Perkusi (-)
o Reaksi dingin, manis dan asam (+)
o Pembesaran kelenjar (-)
o Rasa sakit tidak terus menerus, terutama pada malam hari
o Rasa sakit tersebar dan tidak bias dilokalisasi.
o Rasa sakit berdenyut khas, yaitu rasa sakit yang tajam dan dapat
menjalar ke kepala dan telinga kadang ke punggung

6. Diagnosis
Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan klinis.
Dalam hal ini dapat dilakukan beberapa pengujian :- diberikan rangsangan
dingin, asam, manis. Pasien terasa sakit sekali/sakit bertambah menusuk.
Rangsangan dingin, asam dan manis (+)
o Penguji Pulpa Elektrik
Pada pengujian dengan alat penguji elektrik, pasien merasa
sangat nyeri, kadang belum tersentuh pun pasien terasa sangat nyeri
o Perkusi Dengan Pangkal Sonde
Pada pulpitis perkusi (-), tapi pasien merasa nyeri/perkusi (+),
disebabkan karena pada dasarnya pasien sudah merasa sakit pada
giginya sehingga hanya paktor sugesti yang mendasarinya. Bila perkusi
terasa nyeri/perkusi (+), maka peradangan telah menyebar ke jaringan
dan tulang sekitarnya.
o Roentgen Gigi
Pada pemeriksaan dengan roentgen maka didapatkan gambaran
radiologist berupa gambaran radioluscent yang telah mencapai kavum
pulpa. Pemeriksaan radiologist dilakukan untuk memperkuat diagnosa
dan menunjukkan apakah peradangan telah menyebar ke jaringan dan
tulang sekitarnya.

7. Diferential Diagnosa
o Pulpitis kronis
o Periodontitis sebelah akar
o Pulpitis dengan permulaan periodontitis

8. Rencana Therapi
o Medikamentosa : antibiotik, analgetik
o Non medikamentosa
Endodontics (perawatan saraf gigi)
merupakan cabang kedokteran gigi yang berhubungan
dengan etiologi, pencegahan, diagnosis, dan terapi terhadap kondisi
yang mengenai pulpa gigi, akar gigi, dan jaringan periapikal dalam
hal ini amerupakan terapi perawatan saraf gigi. Terapi endodontics
dilakukan bila keadaan gigi masih baik, dan kerusakannya belum
terlalu luas, sehingga gigi masih bias dipertahankan.
Ekstraksi gigi penyebab
BAB III

PEMBAHASAN

Seorang pasien laki laki berusia 48 tahun, Tn.J datang ke puskesmas


Pandanaran pada tanggal 23 Agustus 2014 dengan keluhan keluhan gigi goyang
dan berlubang. Dari hasil anamnesis didapatkan bahwa gigi goyang dan berlubang
sejak 1 tahun yang lalu. Kadang terasa sakit dan linu yang hilang timbul saat
digunakan untuk makan sehingga penderita tidak dapat menggunakan sisi rahang
sakit untuk mengunyah. Nyeri tidak menimbulkan gangguan tidur. Pasien pernah
mempunyai riwayat sakit gigi dan ingin gigi yang bersangkutan dicabut.
Setelah dilakukan anamnesis, maka berlanjut ke pemeriksaan fisik dengan
hasil sebagai berikut :
Pemeriksaan Fisik :
EO = tidak ada kelainan
IO = Inspeksi = karies 2,7 (+), tampak hanya sisa mahkota pada gigi 2,7, pada
gusi sedikit membengkak
Sondase = karies profunda, sakit (-)
Perkusi = (-)
Palpasi = (derajat 2)
Tekanan = (+)
Termis = (-)
Berdasarkan hasil anamnesis serta pemeriksaan fisik, keluhan yang dirasakan
pasien mengarah pada suatu periodontitis kronis et causa ganggren pulpa.
Periodontitis adalah suatu peradangan pada jaringan periodontal yang meliputi
ginggiva, sementum, ligamentum periodontal, dan periodontal. Periodontitis
memberikan gejala sakit pada gigi dan gigi terasa goyang. Selain itu riwayat sakit
gigi lama dan nyeri hilang timbul mengindikasikan bahwa infeksi pada
periodontitis sudah berlangsung lama/kronis. Pembagian lain menyebutkan bahwa
periodontitis dibagi menjadi 2 yaitu, periodontitis apical yang timbul akibat karies
dentis dan periodontitis marginal yang timbul akibat kalkulus atau retraksi
ginggiva. Pada kasus ini, pasien megalami periodontitis apical.
Hasil pemeriksaan fisik didapatkan caries profunsa pada gigi 2,7, perkusi (-) ,
tekanan (+), palpasi : derajat 2, dan tes termis (-). Tes termis (-) menunjukan
bahwa gigi sudah tidak vital atau sudah terjadi ganggren, namun karena pulpa
masih ada maka disebut ganggren pulpa. Perkusi (-) dapat dikacaukan dengan
pulpitis kronis karena sama - sama tidak memberikan keluhan, adanya riwayat
sakit gigi dan pasien tidak menggunakan sisi yang sakit untuk mengunyah, namun
pada pulpitis kronis yang hanya mengenai pulpa hasil tes termis masih (+),
tekanan (-) dan pada palpasi gigi tidak goyang. Namun pada kasus ini, tekanan (+)
menandakan bahwa terjadi kelainan pada jaringan periodontal atau periodontitis,
palpasi : derajat 2 berarti terdapat goyang merupakan salah satu gejala adanya
periodontitis. Diagnosa periodontitis juga didukung adanya caries profunda dan
ganggren pulpa yang akhirnya menjalar ke periodontal sehingga menjadi
periododntitis.
BAB IV
KESIMPULAN
Periodontitis secara umum diartikan sebagai peradangan pada periodontal
yang meliputi oleh karena faktor dari gigi, saliva maupun makanan yang
menyebabkan kerusakan jaringan pulpa. Akibat faktor faktor tersebut terjadi
penumpukan bakteri yang akan menginfeksi lapisan keras gigi hingga mengenai
rongga pulpa.