Anda di halaman 1dari 28

INSTRUMEN PENILAIAN DAN

PROSEDUR PENGEMBANGAN TES*


Oleh Kelompok IV**

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penilaian hasil belajar adalah proses pengumpulan informasi/data
tentang capaian pembelajaran peserta didik dalam aspek sikap, aspek
pengetahuan, dan aspek keterampilan yang dilakukan secara terencana dan
sistematis, untuk memantau proses, kemajuan belajar, dan perbaikan hasil
belajar melalui penugasan dan evaluasi hasil belajar. Penilaian hasil belajar
berfungsi untuk memantau kemajuan belajar, memantau hasil belajar, dan
mendeteksi kebutuhan perbaikan hasil belajar peserta didik secara
berkesinambungan. Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilaksanakan untuk
memenuhi fungsi formatif dan sumatif dalam penilaian.
Dalam melakukan penilaian hasil belajar dibutuhkan suatu instrumen
yang digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan informasi tentang peserta
didik berupa hasil capaian belajar peserta didik. Instrumen yang dibuat
beragam bentuknya, ada yang berupa tes dan ada pula yang berupa non-tes.
Adapun instrumen yang berupa tes harus disusun sedemikian rupa dengan
mengikuti kaidah/prosedur pengembangan tes tersebut. Hal ini bertujuan agar
tes yang dibuat sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh guru kepada
peserta didik.
Mengingat pentingnya kedua hal di atas, maka dipandang perlu untuk
melakukan studi pustaka mengenai instrumen penilaian dan prosedur
pengembangan tes. Kajian ini diharapkan dapat menjadi referensi tambahan

*
Diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra
pada Program Studi S1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram.
**
Miftah, Rina, Wazi, dan Hendra

1
bagi guru maupun calon guru untuk mengantarkan peserta didik mencapai
kompetensi yang telah ditetapkan melalui aspek sikap, pengetahuan, dan
keterampilan.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian instrumen penilaian?
2. Apa sajakah kriteria instrumen penilaian yang baik?
3. Apa sajakah macam-macam instrumen penilaian?
4. Apakah pengertian dan contoh dari tes objektif dan subjektif?
5. Bagaimanakah prosedur pengembangan tes?

C. Tujuan
Kajian tentang Instrumen Penilaian dan Prosedur Pengembangan Tes ini
bertujuan:
1. Mengetahui pengertian instrumen penilaian .
2. Mengetahui kriteria instrumen penilaian yang baik.
3. Mengetahui macam-macam instrumen penilaian.
4. Mengetahui pengertian dan contoh tes objektif dan subjektif.
5. Mengetahui prosedur pengembangan tes.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Instrumen Penilaian
1. Pengertian instrumen penilaian
Secara bahasa instrumen diartikan sebagai alat ukur dalam suatu
pengukuran yang bertujuan untuk mengumpulkan data. Misalnya
timbangan adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur berat
dengan cara melakukan penimbangan. Sementara itu, dalam pendidikan
telah banyak pakar yang mencoba memberikan pengertian mengenai
instrumen hasil penilaian. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut.
Hariyani, dkk. (2012: 2) mengatakan bahwa instrumen penilaian
adalah alat-alat yang digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang
peserta didik, berkenaan dengan apa yang mereka ketahui dan apa yang
mereka dapat lakukan. Di pihak lain, Yaumi (2013: 190) mengemukakan
bahwa instrument penilaian (assessment instrument) adalah materi yang
digunakan untuk mengumpulkan fakta-fakta dengan menggunakan
metode yang dipilih. Kedua pendapat ini mengacu pada pengertian yang
sama tentang instrumen penilaian, yakni alat-alat yang digunakan untuk
mengumpulkan informasi tentang peserta didik.
Australian Departement of Education and Training (2008: 3)
mengatakan bahwa assessment tools are the instruments and procedures
used to gather and interpret evidence of competence (alat penilaian
adalah instrument dan prosedur yang digunakan untuk mengumpulkan
dan menginterpretasi fakta-fakta kompetensi. Instrumen adalah kegiatan
atau pertanyaan khusus yang digunakan untuk menilai kompetensi dengan
menggunakan metode penilaian yang dipilih. Sedangkan prosedur adalah
informasi atau petunjuk yang diberikan kepada calon dan assessor1
tentang bagaimana penilaian dapat dilakukan dan direkam.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan
bahwa instrumen penilaian adalah alat ukur yang digunakan untuk

1
Assessor adalah seseorang yang berhak melakukan penilaian.

3
mengukur prestasi belajar siswa, faktor-faktor yang diduga berhubungan
atau mempengaruhi hasil belajar siswa, perkembangan hasil belajar siswa,
keberhasilan proses belajar mengajar guru, dan keberhasilan pencapaian
suatu program tertentu.

2. Karakteristik instrumen penilaian yang baik


Telah banyak pakar yang mencoba menjelaskan tentang
karakteristik instrumen hasil penilaian yang baik. Beberapa diantaranya
dapat dikemukakan di sini.
Arifin (2012, 64) mengemukakan bahwa karakteristik instrumen
penilaian yang baik adalah valid, reliabel, relevan, representatif, praktis,
deskriminatif, spesifik dan proporsional.
a. Valid, yaitu betul-betul mengukur apa yang hendak diukur secara
tepat.
b. Reliable, yaitu mempunyai hasil yang taat asas (consistent).
c. Relevan, yaitu sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar,
dan indikator yang telah ditetapkan.
d. Representatif, yaitu betul-betul mewakili seluruh materi yang
disampaikan.
e. Praktis, artinya mudah digunakan.
f. Deskriminatif, yaitu disusun sedemikian rupa sehingga dapat
menunjukkan perbedaan-perbedaan sekecil apapun.
g. Spesifik , yaitu disusun dan digunakan khusus untuk objek yang akan
diukur.
h. Proporsional, yaitu memiliki tingkat kesulitan yang proporsional
antara sulit, sedang, dan mudah.

4
3. Macam-macam instrumen penilaian
Secara umum instrumen hasil penilaian dibedakan menjadi dua,
yaitu instrumen tes dan intrumen non-tes, Dalam penilaian klasik,
instrumen tes merupakan instrumen yang paling banyak digunakan,
namun dalam penilaian modern kedua instrumen tersebut harus digunakan
sesuai dengan kebutuhan di kelas. Berikut akan dijelaskan lebih rinci
mengenai kedua jenis instrument tersebut.
a. Instrument tes
Wahyuni dan Ibrahim (2012: 11) menjelaskan bahwa tes
adalah suatu cara untuk mengadakan evaluasi yang berbentuk tugas
atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh peserta tes
(perorangan atau kelompok) sehingga menghasilkan skor tentang
prestasi atau tingkah laku peserta tes, yang dibandingkan dengan nilai
standar tertentu yang telah ditetapkan. Selain itu, tes juga dapat
didefinisikan sebagai serentetan pertanyaan, latihan, atau alat lain
yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan,
intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau
kelompok.
Selanjutnya Wahyuni dan Ibrahim membagi tes ke dalam
beberapa jenis, yakni sebagai berikut.
(1) Berdasarkan kriteria cara mengerjakan tes
(a) Tes tertulis, yaitu tes bahasa yang menghendaki jawaban
peserta tes dalam bentuk tulisan, baik berupa pilihan maupun
isian.
(b) Tes lisan, yaitu tes bahasa yang mengehendaki jawaban
peserta tes dalam bentuk lisan, yang dilaksanakan melalui
komunikasi langsung tatap muka antara peserta didik dengan
seseorang atau penguji.
(c) Tes perbuatan, yaitu tes bahasa yang menghendaki jawaban
peserta tes dalam penampilan/perbuatan atau kinerja
(performance).

5
(2) Berdasarkan cara menjawab tes
Berdasarkan cara menjawab tes, tes dibagi menjadi dua, yaitu tes
objektif, dan tes subjektif. Dalam makalah ini tes objektif dan
subjektif akan dibahasa secara khusus.
(3) Berdasarkan Taksonomi Bloom
Tes berdasarkan taksonomi Bloom menyangkut tiga ranah atau
domain, yaitu ranah afektif, ranah kognitif, dan ranah
psikomotorik sehingga tes bahasanya juga dibedakan menjadi tiga,
yaitu:
(a) Tes afektif (tes sikap)
(b) Tes kognitif (tes pengetahuan)
(c) Tes psikomotorik (tes keterampilan)
b. Instrumen non-tes
(1) Asesmen unjuk kerja/performance
Asesmen unjuk kerja/performance adalah asesmen yang dilakukan
dengan mengamati kegiatan peserta didikdalam melakukan
sesuatu.
(2) Asesmen portofolio
Asesmen portofolio adalah asesmen yang dilakukan dengan cara
mengamati hasil karya siswa dalam kurun waktu tertentu. Dengan
kalimat lain asesmen portofolio adalah asesmen berkelanjutan
yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan
perkembangan kemampuan peserta didik dalam kurun waktu
tertentu.
(3) Asesmen proyek
Asesmen proyek adalah penilaian terhadap suatu tugas yang harus
diselesaikan dalam periode waktu tertentu.
(4) Asesmen produk
Asesmen produk atau hasil kerja siswa adalah penilaian terhadap
suatu penguasaan siswa akan suatu keterampilan dalam membuat
suatu hasil kerja dan kualitas hasil kerja.

6
(5) Asesmen diri (self assessment)
Asesmen diri adalah suatu teknik penilaian di mana peserta didik
diminta untuk menilai diri mereka sendiri berkaitan dengan status,
proses, dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya.
(6) Asesmen teman sejawat (peer assessment)
Asesmen teman sejawat adalah teknik penilaian yang dilakukan
dengan meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan
dan kekurangan temannya dalam berbagai hal.
(7) Asesmen sikap
Asesmen sikap adalah penilaian yang dilakukan oleh guru dalam
ranah afektif (berkaitan dengan sikap) peserta didik selama proses
pembelajaran. Adapun sikap yang dinilai berkenaan dengan sikap
terhadap materi pembelajaran, sikap terhadap guru, sikap terhadap
proses pembelajaran, dan sikap yang berkaitan dengan nilai atau
norma yang berkaitan dengan materi pembelajaran.

B. Tes Objektif dan Subjektif


1. Tes objektif
Dengan kalimat lain, dapat dikaytakan bahwa tes objektif adalah
tes yang pertanyaannya bersifat tertutup, sehingga jawabannya pasti dan
singkat atau pendek. Ada beberapa macam tes objektif, yakni sebagai
berikut.
a. Multiple choice
(1) Pengertian multiple choice
Multiple choice item (pilihan ganda) adalah suatu soal
yang jawabannya harus dipilih dari beberapa kemungkinan
jawaban yang telah disediakan. Secara umum, setiap soal pilihan
ganda terdiri dari pokok soal (stem) dan pilihan jawaban (option).
Pilihan jawaban terdiri atas kunci jawaban dan pengecoh
(distractor). Kunci jawaban adalah jawaban yang benar atau
paling benar.

7
(2) Jenis-jenis tes multiple choice
(a) Distractor, yaitu setiap pertanyaan atau pernyataan
mempunyai beberapa pilihan jawaban salah, tetapi disediakan
satu pilihan jawaban yang benar. Tugas peserta didik adalah
memilih satu jawaban yang benar itu.
(b) Variasi negatif, yaitu setiap pertanyaan atau pernyataan
mempunyai beberapa pilihan jawaban yang benar, tetapi
disediakan satu kemungkinan jawaban yang salah. Tugas
peserta didik adalah memilih jawaban yang salah tersebut.
(c) Variasi berganda, yaitu memilih beberapa kemungkinan
jawaban yang semuanya benar, tetapi ada satu jawaban yang
paling benar.
(d) Variasi tidak lengkap, yaitu pertanyaan atau pernyataan yang
memiliki beberapa kemungkinan jawaban yang belum
lengkap. Tugas peserta diidk adalah mencari satu
kemungkinan jawaban yang benar dan melengkapinya.
(3) Keunggulan dan kelemahan multiple choice
Keunggulan dari soal multiple choice adalah sebagai berikut.
(a) Materi yang diuji dapat mencakup sebagaian besar dari bahan
pengajaran yang telah diberikan.
(b) Jawaban siswa dapat dikoreksi dengan mudah dan cepat
dengan kunci jawaban.
(c) Jawaban untuk setiap pertanyaan sudah pasti benar atau salah
sehingga penilaiannya bersifat objektif.

Kelemahan dari soal multiple choice adalah sebagai berikut.


(a) Peserta didik tidak mengembangkan sendiri jawabannya, tetapi
cenderung hanya memilih jawaban yang benar.
(b) Peserta didik menjadi tidak terbiasa mengemukakan ide secara
tertulis dengan menggunakan kata-kata sendiri.
(c) Kemungkinan untuk menebak jawaban sangat besar dan sulit
untuk dilacak.
(d) Peserta didik dapat dengan mudah mencontek.

8
(e) Pembuatan soal relatif lama.
(f) Rawan bocor apabila hanya membuat satu set soal untuk kelas
paralel.
(4) Kaidah penulisan soal multiple choice
(a) Pokok butir soal (stem) harus dirumuskan dengan jelas.
(b) Perumusan stem dan option hendaknya merupakan pernyataan
yang diperlukan saja.
(c) Untuk setiap pokok butir soal hanya ada satu jawaban yang
benar atau paling tepat.
(d) Pada pokok butir soal sedapat mungkin dicegah perumusan
pernyataan yang bersifat negatif.
(e) Option harus logis dan pengecohnya harus berfungsi.
(f) Usahakan tidak ada petunjuk untuk jawaban yang benar.
(g) Usahakan untuk tidak menggunakan option yang berbunyi
semua jawaban di atas salah atau semua jawaban di atas
benar.
(h) Option harus homogen dari segi isi maupun sttruktur kalimat.
(i) Apabila option berbentuk angka, susunlah berurutan dari yang
terkecil hingga yang terbesar atau sebaliknya.
(j) Butir soal hendaknya menanyakan hal yang berguna untuk
diketahui.
(k) Utamakan butir soal yang mengandung pernyataan umum
yang bertahan lama.
(l) Jangan menjebah subjek dengan hal yang tidak ada
jawabannya.
(m) Hindari penggunaan pengecoh yang terlalu teknis.
(n) Jika butir soal itu mengenai definisi suatu istilah, maka
tempatkanlah istilah itu pada stem dan definisinya pada option.
(o) Semua option secara tata bahasa harus konsisten dengan pokok
butir soal.

9
b. Trua-false item
True-false item adalah sebuah bentuk tes tertulis di mana
soalnya berupa pernyataan yang mengandung dua kemungkinan,
benar atau salah. Biasanya true-false item digunakan untuk mengukur
kemampuan siswa tentang fakta, definisi, dan prinsip.
True-false item memiliki kelebihan dan kekurangan. Adapun
kelebihan dari true-false item adalah sebagai berikut.
(1) Penilaiannya dapat dilakukan dengan mudah, cepat, objekif, dan
dapat dipercaya
(2) Butir soal dapat disusun dengan mudah

Sedangkan kelemhan dari true-flase item adalah sebagai berikut.


(1) Memungkinkan dan mendorong peserta didik untuk menebak-
nebak jawaban.
(2) Kurang dapat mengukur aspek pengetahuan yang lebih tinggi
karena hanya menuntut daya ingat dan pengenalan kembali.
(3) Banyak masalah yang tidak dapat dinyatakan hanya dengan dua
alternatif.

c. Matching item
Matching item adalah tes tertulis yang terdiri atas dua macam
kolom parallel di mana salah satu kolom berisi pertanyaan dan kolom
lainnya berisi jawaban, kemudian peserta didik diminta untuk
menjodohkan kesesuaian antara dua pernyataan tersebut di atas.
Dalam bentuk yang paling sederhana, jumlah butir soal sama dengan
jumlah butir jawabannya, tetapi sebaiknya jumlah butir jawaban yan
disediakan dibuat lebih banyak dari pada butir soalnya karena hal ini
akan mengurangi alternatif siswa menjawab betul hanya dengan
menebak.

10
Matching item juga memiliki kelebihan dan kekurangan.
Kelebihan dari matching item akan dikemukakan di bawah ini.
(1) Dapat dilakukan penilaian yang cepat dan objektif
(2) Bentuk ini dapat digunakan untuk mengukur kemampuan
mengidentifikasi dua hal yang berhubungan.
(3) Dapat mengukur bahasan atau subpokok bahasan yang lebih luas.

Sedangkan kekurangannya adalah sebagai berikut.


(1) Hanya dapat mengukur hal-hal yang berdasarkan fakta dan
hafalan.
(2) Sukar menentukan materi atau pokok bahasan yang mengukur
hal-hal yang berhubungan.

2. Tes subjektif
Tes subjektif adalah tes yang cara menjawab pertanyaan-
pertanyaannya dengan menyebutkan atau menjelaskan berupa uraian
tentang hal-hal yang sudah dipelajari. Dengan kalimat lain dapat dikatan
bahwa tes subjektif adalah tes yang pertanyaannya bersifat tertutup,
sehingga jawabannya bersifat uraian, baik pendek maupun panjang.
Berikut akan diuraikan beberapa macam tes subjektif.
a. Short answer
Short answer adalah butir soal yang menghendaki jawaban
dalam bentuk kata, bilangan, kalimat atau simbol dan jawabannya
hanya dapat dinilai benar atau salah. Short answer memiliki beberapa
keunggulan dan kelemahan. Adapaun keunggulan dari short answer
akan dikemukakan sebagai berikut.
(1) Butir soalnya mudah disusun
(2) Kecil alternatif siswa dalam menebak jawaban pertanyaan
(3) Siswa dituntut menjawab dengan singkat dan tepat
(4) Penilaiannya cukup objektif

11
Sedangkan kelemahan dari short answer adalah sebagai berikut.
(1) Kurang dapat mengukur aspek pengetahuan yang lebih tinggi
(2) Memerlukan waktu yang lama untuk menilai, walaupun tidak
selama bentuk uraian
(3) Menyulitkan pemeriksaan bila jawaban siswa membingungkan

b. Essay question
Essay question adalah suatu bentuk pertanyaan yang menuntut
jawaban siswa dalam bentuk uraian dengan menggunakan bahasa
sendiri. Tes bentuk ini memberikan kebebasan kepada siswa untuk
menyusun dan mengemukakan jawabannya sendiri secara terbatas
(Intiana, 2016: 63). Menurut Kunandar (2013: 207) essay question
juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari Essay
question akan dikemukakan sebagai berikut.
(1) Mengukur aspek kognitif yang lebih tinggi.
(2) Mengembangkan kemampuan berbahasa peserta didik.
(3) Melatihan kemampuan peserta didik dalam berpikir secara teratur.
(4) Mengembangkan keterampilan pemecahan masalag (problem
solving).
(5) Penyusunan soal tidak membutuhkan waktu yang lama.
(6) Menghindari sifat terkaan dalam menjawab soal.
(7) Menggali kemampuan berpikir kritis peserta didik.
(8) Biaya pembuatan lebih murah.
(9) Mampu memberikan penskoran yang tepat pada setiap langkah
peserta didik.
(10) Mampu memberikan gambaran yang tepat pada bagian-bagian
yang belum dikuasai peserta didik.

Sedangkan kekurangan dari Essay question akan dikemukakan di


bawah ini.
(1) Sampel soal sangat terbatas sehingga bahan materi yang diujikan
sangat terbatas pula, akibatnya tidak semua bahan yang telah
disampaikan dapat diujikan.

12
(2) Pemeriksaan hasil pekerjaan peserta didik agak sukar.
(3) Membutuhkan waktu yang cukup banyak untuk mengoreksi.
(4) Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan satu
soal uraian
(5) Tidak banyak mencakup Kompetensi Dasar (KD) yang dapat
diuji.
(6) Penilaiannya kurang objektif.
(7) Tidak mampu mencakup materi esensial seluruhnya.

C. Prosedur Pengembangan Tes


Menurut Intiana (2016: 64) prosedur pengembangan tes terdiri dari 1)
Menetapkan tujuan tes; 2) menganalisis kurikulum; 3) menganalisis buku
pelajaran dan pengambilan sampel butir soal; 4) menentukan tipe tes yang
akan digunakan; 5) menetukan aspek kemampuan yang akan diuji; 6)
menentukan format butir soal; 7) menentukan jumlah butir soal; 8)
menyususn kisi-kisi; 9) menulis TIK/indikator; 10) Reproduksi tes terbatas;
11) uji coba; 12) Analisis soal; 13) revisi soal; 14) menentukan soal-soal yang
baik; dan 15) merakit soal menjadi tes. Sementara itu, menurut Wahyuni dan
Ibrahim (2012: 45) prosedur pengembangan tes terdiri dari: 1) menentukan
tujuan tes; 2) menyusus kisi-kisi; 3) menulis soal tes; 4) menelaah soal tes; 5)
melakukan uji coba tes; 6) menganalisis butir tes; 7) memperbaiki tes; 8)
merakit tes; 9) melaksanakan tes; dan 10) menafsirkan hasil tes. Dalam
makalah ini akan dibahas prosedur pengembangan tes yang menurut Intiana
di atas.
1. Menetapkan tujuan tes
Tujuan tes sangat penting karena setiap tujuan memiliki
penekanan yang berbeda-beda. Ditinjau dari tujuannya, ada empat macam
tes yang digunakan dalam lembaga pendidikan, yaitu tes penempatan, tes
diagnostik, tes formatif, dan tes sumatif (Wahyuni dan Ibrahim, 2012:
46).
2. Menganalisis kurikulum
Dalam penyusunan tes, analisis kurikulum bertujuan untuk
menentukan materi pelajaran yang akan ditanyakan dalam tes.

13
3. Menganalisis buku pelajaran dan pengambilan sampel butir soal
Pengembangan tes hasil belajar harus disusun atas butir-butir soal
yang dipilih, yang secara akademik dapat dipertanggungjawabkan sebagai
sampel yang representatif yang diuji dengan perangkat tes tersebut.
Dalam menyusun butir-butir soal tersebut, guru juga harus cermat dalam
menganalisis buku pelajaran dan sumber materi lainnya yang isinya tidak
bertentangan dengan kurikulum yang berlaku.
Zainul dan Nasution dalam Intiana (2016: 64) menjelaskan bahwa
untuk memperoleh butir-butir soal yang mewakili keseluruhan konsep,
tentukan saja pokok bahasan atau sub pokok bahasan yang paling penting.
Jumlah butir soal disesuaikan dengan tingkat kepentingan pokok bahasan
atau sub pokok bahasan tersebut.
4. Menentukan tipe tes yang akan digunakan
Dalam mengembangkan tes ada beberapa tipe yang sering
digunakan, yaitu tipe tes objektif dan tes subjektif. Tes objektif terdiri dari
multiple choice, true-false item, dan matching item. Sedangkan tes
subjektif terdiri dari short answer dan essay question. Tes objektif
membutuhkan jumlah butir soal yang lebih banyak dibandingkan tes
subjektif.
5. Menentukan aspek kemampuan yang akan diuji
Dalam pengembangan tes guru harus menentukan aspek
kemampuan yang akan diuji, apakah aspek afektif, kognitif, atau
psikomotorik.
6. Menentukan format butir soal
Langkah selanjutnya dalam pengembangan tes adalah penentuan
format butir soal. Format butir soal dapat dipilih sesuai dengan tipe tes
yang digunakan. Adapun format tersebut dapat dilihat pada poin 4 di atas.
7. Menentukan jumlah butir soal
Jumlah butir soal tidak ada ketentuan pasti. Yang harus diingat
adalah jumlah butir soal berhubungan langsung dengan reliabilitas tes dan
representasi isi bidang studi yang dites.

14
8. Menyusun kisi-kisi
Kisi-kisi merupakan matriks yang berisi spesifikasi soal-soal yang
akan dibuat. Kisi-kisi ini merupakan acuan bagi penulis soal, sehingga
siapapun yang menulis soal akan menghasilkan soal yang isi dan tingkat
kesulitannya relatif sama. Syarat kisi-kisi antara lain:
a. Harus mewakili kurikulum
b. Ditulis dengan singkat dan jelas
c. Soal dapat disusun sesuai dengan bentuk soal

Tabel 1 Format Kisi-Kisi Tes

KISIKISI

Jenis sekolah : Alokasi Waktu :


Mata Pelajaran : Jumlah Soal :
Kurikulum : Penulis : 1.
2.

No. Kompetensi Bahan Materi Indikator Bentuk No.


Urut Dasar/ Kelas/ Soal Tes Soal
Indikator smt.
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Sumber (Wahyuni dan Ibrahim, 2012: 47)

9. Menulis TIK/Indikator
Penulisan tujuan instruksional khusus/indikator harus sesuai
dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam kisi-kisi. Menurut
Suparman dalam Intiana (2016: 67) TIK merupakan satu-satunya dasar
dalam menyusun kisi-kisi tes, alat untuk menguji validitas isi tes, dan
digunakan untuk menyusun tes. Oleh karena itu, TIK harus mengandung
unsur-unsur yang dapat memberikan petunjuk pada pengembangan tes
yang benar-benar dapat mengukur perilaku yang terdapat di dalamnya.
Unsur-unsur itu dikenal dengan ABCD yang berasal dari empat kata,
yakni A = Audience; B = Behaviour; C = Condition; dan D = Degree.

15
10. Reproduksi tes terbatas
Reproduksi tes terbatas (menulis soal) terdiri dari tiga tahap, yaitu review
(menelaah) soal, menyeleksi soal, dan merakit soal. Sebelum beranjak ke
tiga tahap tersebut, tentunya kita harus menulis butir-butir soal. Untuk
mempermudah pengaturan dalam penulisan soal tes, guru dapat
menggunakan kartu-kartu soal. Berikut ini contoh-contoh kartu soal.

Tabel 2 Format Kartu Soal Bentuk Pilihan Ganda

KARTU SOAL BENTUK PILIHAN GANDA


Jenis Sekolah : Penyusun : 1.
Mata Pelajaran : 2.
Bahan Kelas/smt. : Tahun Ajaran:
Bentuk Tes : Tertulis (PG, dll)

KOMPETENSI DASAR:
NO. SOAL KUNCI BUKU SUMBER:

RUMUSAN BUTIR SOAL:

MATERI:

INDIKATOR SOAL:

Proporsi Jawaban pada Pilihan


Digunakan Jumlah Tingkat Daya
No untuk Tgl. Kesukaran A B C D OMIT KET.
Siswa Pembeda

16
Tabel 3 Format Kartu Soal Bentuk Uraian

KARTU SOAL BENTUK PILIHAN URAIAN


Jenis Sekolah : Penyusun : 1.
Mata Pelajaran : 2.
Bahan Kelas/smt. : Tahun Ajaran:
Bentuk Tes : Tertulis (Uraian)

KOMPETENSI DASAR:
NO. SOAL BUKU SUMBER:

RUMUSAN BUTIR SOAL:

MATERI:

INDIKATOR SOAL:

Tingkat Proporsi Jawaban pada Aspek


Diguna- Jlh Daya
No Tgl Kesuka- A B C D Ket.
kan utk. siswa Pembeda
ran
1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3

Setelah menulis butir-butir soal, langkah selanjutnya adalah


menelaah soal. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menelaah
soal, yakni 1) telaah secara kualitatif, yakni telaah oleh teman sejawat
dalam rumpun keahlian yang sama, dilakukan sebelum tes uji coba atau
sebelum digunakan; 2) telaah kuantitatif, yakni analisis berdasarkan hasil
uji coba atau hasil penggunaan tes, dilakukan setelah tes uji coba atau
setelah digunakan. Hasil telaah ini merupakan masukkan untuk perbaikan
tes. Telaah butir soal dilakukan terhadap ranah materi, ranah konstruksi,
dan ranah bahasa (Wahyuni dan Ibrahim, 2012: 53). Adapun contoh
format telaah butir soal akan dilampirkan dalam makalah ini.
Setelah penelaahan soal selesai dilakukan, langkah selanjutnya
adalah menyeleksi soal. Soal-soal diseleksi untuk menentukan butir-butir
soal yang baik. Dari hasil seleksi tersebut, butir-butir soal akan dirakit
menjadi tes (langkah ketiga). Butir-butir tes yang baik kemudian ditata
atau dirakit dengan cara tertentu. Dalam merakit tes, butir-butir soal dapat
dikelompokkan menurut urutan kompetensi dasar, taraf kesukaran, dan

17
format (komposisi bentuk soal) (Intiana, 2016: 67; Wahyuni dan Ibarhim,
2012: 57)
11. Uji coba
Tes yang sudah digandakan diujicobakan pada sampel yang sudah
ditetapkan. Cara penentuan sampel mana yang dipakai bergantung pada
tujuan uji coba itu sendiri. Meskipun ada yang berpendapat bahwa uji
coba butir soal kurang efisien, namun uji coba tersebut diperlukan untuk
pengkajian mutu soal.
12. Analisis soal
Tes yang sudah diujicobakan itu perlu dianalisis butir-butir
soalnya. Melalui analisis soal dapat diketahui mutu suatu butir soal
tersebut.
13. Revisi soal
Apabila hasil analisis menunjukkan adanya soal yang jelek
(kurang baik), maka butir soal tersebut harus direvisi (diperbaiki). Setelah
direvisi kemudian diujicobakan kembali untuk dilihat apakah benar-benar
sudah baik atau belum.
14. Menentukan soal-soal yang baik
Soal-soal yang telah dianalisis itu ditentukan tingkat-tingkat
kesulitannya, fungsi pengecoh dan penyebarannya dalam total kelompok.
Dari data tersebut ditetapkan mana soal yang baik.
15. Merakit soal menjadi tes
Semua butir-butir soal yang baik yang meliputi setiap pokok
bahasan/sub pokok bahasan dan aspek yang hendak diukur dikumpulkan
kemudian dirakit menjadi tes.

18
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan kajian tentang Instrumen Penilaian Hasil Belajar di atas,
dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Instrumen penilaian hasil belajar adalah alat ukur yang digunakan untuk
mengukur prestasi belajar siswa, faktor-faktor yang diduga berhubungan
atau mempengaruhi hasil belajar siswa, perkembangan hasil belajar siswa,
keberhasilan proses belajar mengajar guru, dan keberhasilan pencapaian
suatu program tertentu.
2. Karakteristik instrumen penilaian hasil belajarf yang baik adalah valid.,
reliable, relevan, representatif, praktis, deskriminatif, spesifik, dan
proporsional.
3. Secara umum instrumen penilaian dapat dibagi menjadi dua, yaitu
instrumen tes dan instrumen non-tes.
4. Tes objektif adalah tes bahasa yang jawabannya semata-mata dinyatakan
dengan memilih salah satu alternatif jawaban yang telah disediakan;
jawaban benar dalam tes objektif sudah pasti, tidak ada alternatif jawaban
benar lainnya. Contoh tes objektif adalah multiple choice, true-false item,
dan matching item. Sedangkan tes subjektif adalah tes yang cara
menjawab pertanyaan-pertanyaannya dengan menyebutkan atau
menjelaskan berupa uraian tentang hal-hal yang sudah dipelajari. Contoh
tes subjektif adalah short answer dan essay questions.
5. Prosedur pengembangan tes terdiri dari: 1) menetapkan tujuan tes; 2)
menganalisis kurikulum; 3) menganalisis buku pelajaran dan pengambilan
sampel butir soal; 4) menentukan tipe tes yang akan digunakan; 5)
menetukan aspek kemampuan yang akan diuji; 6) menentukan format
butir soal; 7) menentukan jumlah butir soal; 8) menyususn kisi-kisi; 9)
menulis TIK/indikator; 10) Reproduksi tes terbatas; 11) uji coba; 12)
Analisis soal; 13) revisi soal; 14) menentukan soal-soal yang baik; dan
15) merakit soal menjadi tes.

19
B. Saran
Perlu dilakukan kajian lebih lanjut mengenai Instrumen Penilaian dan
Prosedur Pengembangan Tes.

20
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal. 2012. Evaluasi Pembelajaran. Jakarta: Dirjen Pendidikan Islam


Kementerian Agama RI.

Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi).


Jakarta: Bumi Aksara.

Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. 2015. Panduan Penilaian Sekolah


Menengah Atas. Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. 2015. Panduan Penilaian Sekolah


Menengah Pertama. Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Hariyani, Yulli, dkk. 2012. Pengembangan Instrumen Asesmen Pembelajaran


Membaca Puisi Siswa SMP/MTs. Makalah. Tidak diterbitkan. Fakultas
Sastra, Universitas Negeri Malang.

Intiana, Siti Rohana Hariana. 2016. Asesmen Pembelajaran Bahasa Indonesia.


Mataram: FKIP Unram.

Kunandar. 2013. Penilaian Autentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik


Berdasarkan Kurikulum 2013) Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta:
RajaGrafindo Persada.

Wahyuni, Sri dan Abdul Syukur Ibrahim. 2012. Asesmen Pembelajaran Bahasa.
Malang: Refika Aditama.

Yaumi, Muhammad. 2013. Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran (Disesuaikan


dengan Kurikulum 2013. Jakarta: Kencana.

21
Lampiran 1: Format Telaah Butir Soal

Format Telaah Butir Soal Pilihan Ganda

NOMOR SOAL
JENIS PERSYARATAN
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
A. RANAH MATERI
1. Butir soal sesuai dengan
indikator.
2. Batasan pertanyaan dan
jawaban yang diharapkan
jelas.
3. Isi materi sesuai dengan
tujuan pengukuran.
4. Isi materi yang ditanyakan
sesuai dengan jenjang,
jenis sekolah, dan tingkat
kelas.
5. Pilihan/jawaban benar-
benar berfungsi, pengecoh
bukanlah hal yang terlihat
benar-benar salah.
B. RANAH KONSTRUKSI
6. Pokok soal (stem)
dirumuskan dengan jelas.
7. Rumusan soal dan pilihan
dirumuskan dengan tegas.
8. Pokok soal tidak memberi
petunjuk/mengarah
kepada pilihan jawaban
yang benar.
9. Pokok soal tidak
mengandung pernyataan
negatif ganda.
10. Bila terpaksa
menggunakan kata
negatif, maka harus
digarisbawahi atau dicetak
miring.
11. Pilihan jawaban yang
homogen.

22
12. Hindari adanya alternatif
jawaban: seluruh
jawaban di atas benar
atau semua jawaban di
atas salah, dan
sejenisnya.
13. Panjang alternatif atau
pilihan jawaban relatif
sama, tidak ada yang
sangat panjang dan tidak
ada yang sangat pendek.
14. Pilihan jawaban dalam
bentuk angka/waktu yang
diurutkan.
15. Wacana, gambar, atau
grafik benar-benar
berfungsi.
16. Antarbutir soal tidak
bergantung satu sama lain.
C. RANAH BAHASA
17. Rumusan kalimat
komunikatif.
18. Kalimat menggunakan
bahasa yang baik dan
benar, sesuai dengan jenis
bahasanya.
19. Rumusan kalimat tidak
menimbulkan penafsiran
ganda atau salah
pengertian.
20. Menggunakan bahasa/kata
yang umum (bukan bahasa
lokal).
21. Rumusan soal tidak
mengandung kata-kata
yang dapat menyinggung
perasaan peserta didik.

23
Format Telaah Butir Soal Uraian
NOMOR SOAL
JENIS PERSYARATAN
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
A. RANAH MATERI
1. Butir soal sesuai dengan
indikator.
2. Batasan pertanyaan dan
jawaban yang diharapkan
jelas.
3. Isi materi sesuai dengan
tujuan pengukuran.
4. Isi materi yang ditanyakan
sesuai dengan jenjang,
jenis sekolah, dan tingkat
kelas.
B. RANAH KONSTRUKSI
5. Rumusan kalimat dalam
bentuk kalimat tanya atau
perintah yang menuntut
jawaban terurai.
6. Ada petunjuk yang jelas
cara tentang mengerjakan/
menyelesaikan soal.
7. Ada pedoman
penskorannya.
8. Table, grafik, diagram,
kasus, atau yang
sejenisnya bermakna
(jeleas keterangannya atau
ada hubungannya dengan
masalah yang ditanyakan).
9. Butir soal tidak tergantung
pada butir soal
sebelumnya.
C. RANAH BAHASA
10. Rumusan kalimat
komunikatif.
11. Kalimat menggunakan
bahasa yang baik dan
benar, sesuai dengan jenis
bahasanya.

24
12. Rumusan kalimat tidak
menimbulkan penafsiran
ganda atau salah
pengertian.
13. Menggunakan bahasa/kata
yang umum (bukan bahasa
lokal).
14. Rumusan soal tidak
mengandung kata-kata
yang dapat menyinggung
perasaan peserta didik.

25
Catatan:

26
Catatan:

27
Catatan:

28