Anda di halaman 1dari 16

A.

PENGERTIAN
Hemaptoe (batuk darah) adalah darah berdahak yang dibatukkan yang berasal dari
saluran pernafasan bagian bawah. Dikatakan batuk darah masif apabila jumlah darah
yang keluar 600 ml dalam waktu 24 jam. Hemaptoe adalah ekspetorasi darah / mukus
yang berdarah (Anonimous, 2012).
Hemaptoe (hemoptysis) adalah batuk dengan sputum yang mengandung darah yang
berasal dari paru atau percabangan bronkus (Kusmiati & Laksmi, 2011).
Hemaptoe diklasifikasikan menjadi (Tafti SF dkk, 2005):
1. Hemaptoe masif : perdarahan lebih dari 200cc per 24 jam
2. Hemaptoe moderat : perdarahan kurang dari 200cc per 24 jam
3. Hemaptoe ringan : sputum dengan bercak darah.

B. ETIOLOGI
Hemaptoe adalah gejala pernafasan non-spesifik dan memiliki hubungan yang
signifikan dengan TB paru (Tafti SF et al, 2005). Etiologi hemaptoe antara lain (Flores &
Sunder, 2006) :
1. Infeksi: penyakit paru inflamasi kronis (bronkhitis akut/ kronis, bronchiectasis (fibrosis
cystic), abses paru, aspergilloma, tuberkulosis.
2. Neoplasma: karsinoma bronchogenik, metastase pulmonal, adenoma bronkial, sarcoma.
3. Benda asing/ trauma: aspirasi benda asing, fistula trakeovaskular, trauma dada,
broncholith.
4. Pembuluh darah pulmonal/ cardiac: gagal ventrikel kiri, stenosis katup mitral,
infark/emboli pulmonal, perforasi arteri pulmonal (komplikasi dari kateter arteri
pulmonal).
5. Alveolar hemoragik: sindrom Goodpasteur, vasculitide sistemik/ penyakit vaskular
kolagen, obat-obatan (nitrofurantoin, isocyanate, trimellitic anhydrid, D-penicillamine,
kokain), koagulopati.
6. Iatrogenik: post biopsi paru, rupturnya arteri pulmonal dari kateter Swan-Ganz
7. Lain-lain: malformasi arterivenous pulmonal, bronkial telangiectasia, pneumoconiosis.
Penyebab batuk berdarah sangat beragam antara lain:
1. Batuk darah idiopatik.
Yaitu batuk darah yang tidak diketahui penyebabnya, dengan insiden 0,5 sampai 58% .
dimana perbandingan antara pria dan wanita adalah 2:1. Biasanya terjadi pada umur 30-
50 tahun kebanyakan 40-60 tahun yang berhenti spontan dengan terapi suportif.
2. Batuk darah sekunder.
Yaitu batuk darah yang diketahui penyebabnya
a. Oleh karena keradangan
1) TB : batuk sedikit-sedikit , masif perdarahannya, bergumpal.
2) Bronkiektasis : campur purulen
3) Abses paru : campur purulen
4) Pneumonia : warna merah bata encer berbuih
5) Bronkhitis : sedikit-sedikit campur darah atau lendir
b. Neoplasma
1) karsinoma paru
2) adenoma
c. Lain-lain:
1) trombo emboli paru infark paru
2) mitral stenosis dan aneurisma aorta
3) trauma dada
4) Gangguan pada pembekuan darah (sistemik).
5) Benda asing di saluran pernapasan.

C. MANIFESTASI KLINIS
Gejala klinis harus dipastikan bahwa perdarahan dari nasofaring, dengan cara
membedakan ciri-ciri sebagai berikut :
1. Tanda-tanda batuk darah:
a. Batuk kronis
b. Perubahan pola napas
c. Pasien biasanya mengeluh nyeri dada
d. Dispnea
e. Demam
f. Didahului batuk keras yang tidak tertahankan
g. Terdengar adanya gelembung-gelembung udara bercampur darah di dalam saluran
napas
h. Terasa asin / darah dan gatal di tenggorokan
i. Warna darah yang dibatukkan merah segar bercampur buih, beberapa hari kemudian
warna menjadi lebih tua atau kehitaman
j. pH alkalis
k. Bisa berlangsung beberapa hari
l. Penyebabnya : kelainan paru

2. Tanda-tanda muntah darah:


a. Tanpa batuk, tetapi keluar darah waktu muntah
b. Suara napas tidak ada gangguan
c. Didahului rasa mual / tidak enak di epigastrium
d. Darah berwarna merah kehitaman, bergumpal-gumpal bercampur sisa makanan
e. pH asam
f. Frekuensi muntah darah tidak sekerap hemoptoe
g. Penyebabnya : sirosis hati, gastritis
Kriteria batuk darah:
1. Batuk darah ringan (<25cc/24 jam)
2. Batuk darah berat (25-250cc/ 24 jam)
3. Batuk darah masif (batuk darah masif adalah batuk yang mengeluarkan darah sedikitnya
600 ml dalam 24 jam).

Kriteria yang paling banyak dipakai untuk hemoptisis masif:


a. Apabila pasien mengalami batuk darah lebih dari 600 cc / 24 jam dan dalam
pengamatannya perdarahan tidak berhenti.
b. Apabila pasien mengalami batuk darah kurang dari 600 cc / 24 jam dan tetapi lebih dari
250 cc / 24 jam dengan kadar Hb kurang dari 10 g%, sedangkan batuk darahnya masih
terus berlangsung.
c. Apabila pasien mengalami batuk darah kurang dari 600 cc / 24 jam dan tetapi lebih dari
250 cc / 24 jam dengan kadar Hb kurang dari 10 g%, tetapi selama pengamatan 48 jam
yang disertai dengan perawatan konservatif batuk darah tersebut tidak berhenti.

D. PATOFISIOLOGI
Setiap proses yang terjadi pada paru akan mengakibatkan hipervaskularisasi dari cabang-
cabang arteri bronkialis yang berperanan untuk memberikan nutrisi pada jaringan paru bila
terjadi kegagalan arteri pulmonalis dalam melaksanakan fungsinya untuk pertukaran gas.
Terdapatnya aneurisma Rasmussen pada kaverna tuberkulosis yang merupakan asal dari
perdarahan pada hemoptoe masih diragukan. Teori terjadinya perdarahan akibat pecahnya
aneurisma dari Ramussen ini telah lama dianut, akan tetapi beberapa laporan autopsi
membuktikan bahwa terdapatnya hipervaskularisasi bronkus yang merupakan percabangan
dari arteri bronkialis lebih banyak merupakan asal dari perdarahan pada hemoptoe.
Mekanisma terjadinya batuk darah adalah sebagai berikut :
1. Radang mukosa
Pada trakeobronkitis akut atau kronis, mukosa yang kaya pembuluh darah menjadi rapuh,
sehingga trauma yang ringan sekalipun sudah cukup untuk menimbulkan batuk darah.
2. Infark paru
Biasanya disebabkan oleh emboli paru atau invasi mikroorganisme pada pembuluh darah,
seperti infeksi coccus, virus, dan infeksi oleh jamur.
3. Pecahnya pembuluh darah vena atau kapiler
Distensi pembuluh darah akibat kenaikan tekanan darah intraluminar seperti pada
dekompensasi cordis kiri akut dan mitral stenosis.
4. Kelainan membran alveolokapiler
Akibat adanya reaksi antibodi terhadap membran, seperti pada Goodpastures syndrome.
5. Perdarahan kavitas tuberkulosa
Pecahnya pembuluh darah dinding kavitas tuberkulosis yang dikenal dengan aneurisma
Rasmussen; pemekaran pembuluh darah ini berasal dari cabang pembuluh darah bronkial.
Perdarahan pada bronkiektasis disebabkan pemekaran pembuluh darah cabang bronkial.
Diduga hal ini terjadi disebabkan adanya anastomosis pembuluh darah bronkial dan
pulmonal. Pecahnya pembuluh darah pulmonal dapat menimbulkan hemoptisis masif.
6. Invasi tumor ganas
7. Cedera dada
Akibat benturan dinding dada, maka jaringan paru akan mengalami transudasi ke dalam
alveoli dan keadaan ini akan memacu terjadinya batuk darah.

E. PATHWAY

1. Hipervaskularisasi cabang-cabang
arteri bronkialis
2. Radang mukosa dan Infark paru
3. Pecahnya pembuluh darah vena
atau kapiler
4. Kelainan membran alveolokapiler
5. Perdarahan kavitas tuberkulosa
6. Invasi tumor ganas dan Cedera
kepala HEMOPTOE
Resiko kompliksi
anemia

Penumpukan
darah pada psikologi Demam Nyeri dada
jalan nafas

kecemasan Peningkatan suhu Gangguan rasa


Bersihan jalan
tubuh nyaman
nafas tidak efektif

Peningkatan
Resiko terjadinya Diaporesis Gangguan rasa
epineprin
aspirasi nyaman pada istirahat
tidur

Peningkatan Defisit volume


nadi ciran

Payah
jantung
F. PENATALAKSANAAN
Pada umumnya hemoptoe ringan tidak diperlukan perawatan khusus dan biasanya
berhenti sendiri. Yang perlu mendapat perhatian yaitu hemoptisis yang masif.
Tujuan pokok terapi ialah :
1. Mencegah tersumbatnya saluran napas oleh darah yang beku
2. Mencegah kemungkinan penyebaran infeksi
3. Menghentikan perdarahan
Sasaran-sasaran terapi yang utama adalah memberikan suport kardiopulmaner dan
mengendalikan perdarahan sambil mencegah asfiksia yang merupakan penyebab utama
kematian pada para pasien dengan hemoptisis masif.
Masalah utama dalam hemoptoe adalah terjadinya pembekuan dalam saluran napas yang
menyebabkan asfiksi. Bila terjadi afsiksi, tingkat kegawatan hemoptoe paling tinggi dan
menyebabkan kegagalan organ yang multipel. Hemoptoe dalam jumlah kecil dengan refleks
batuk yang buruk dapat menyebabkan kematian. Dalam jumlah banyak dapat menimbukan
renjatan hipovolemik.
Pada prinsipnya, terapi yang dapat dilakukan adalah :
1. Terapi konservatif
a. Pasien harus dalam keadaan posisi istirahat, yakni posisi miring (
Trendelendburg/lateral decubitus). Kepala lebih rendah dan miring ke sisi yang sakit
untuk mencegah aspirasi darah ke paru yang sehat.
b. Melakukan suction dengan kateter setiap terjadi perdarahan.
c. Batuk secara perlahanlahan untuk mengeluarkan darah di dalam saluran saluran
napas untuk mencegah bahaya sufokasi.
d. Dada dikompres dengan es kap, hal ini biasanya menenangkan penderita.
e. Pemberian obatobat penghenti perdarahan (obatobat hemostasis), misalnya
f. Antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder.
g. Pemberian cairan atau darah sesuai dengan banyaknya perdarahan yang terjadi.
h. Pemberian oksigen.
Tindakan selanjutnya bila mungkin :
a. Menentukan asal perdarahan dengan bronkoskopi
b. Menentukan penyebab dan mengobatinya, misal aspirasi darah dengan bronkoskopi
dan pemberian adrenalin pada sumber perdarahan.
2. Terapi pembedahan
Reseksi bedah segera pada tempat perdarahan merupakan pilihan.
Tindakan operasi ini dilakukan atas pertimbangan :
a. Terjadinya hemoptisis masif yang mengancam kehidupan pasien.
b. Pengalaman berbagai penyelidik menunjukkan bahwa angka kematian pada
perdarahan yang masif menurun dari 70% menjadi 18% dengan tindakan operasi.
c. Etiologi dapat dihilangkan sehingga faktor penyebab terjadinya hemoptoe yang
berulang dapat dicegah.
Busron (1978) menggunakan pula indikasi pembedahan sebagai berikut :
a. Apabila pasien mengalami batuk darah lebih dari 600 cc / 24 jam dan dalam
pengamatannya perdarahan tidak berhenti.
b. Apabila pasien mengalami batuk darah kurang dari 600 cc / 24 jam dan tetapi lebih
dari 250 cc / 24 jam jam dengan kadar Hb kurang dari 10 g%, sedangkan batuk
darahnya masih terus berlangsung.
c. Apabila pasien mengalami batuk darah kurang dari 600 cc / 24 jam dan tetapi lebih
dari 250 cc / 24 jam dengan kadar Hb kurang dari 10 g%, tetapi selama pengamatan
48 jam yang disertai dengan perawatan konservatif batuk darah tersebut tidak
berhenti.
Penting juga dilakukan usaha-usaha untuk menghentikan perdarahan. Metode yang
mungkin digunakan adalah :
1. Dengan memberikan cairan es garam yang dilakukan dengan bronkoskopi serat lentur
dengan posisi pada lokasi bronkus yang berdarah. Masukkan larutan NaCl fisiologis pada
suhu 4C sebanyak 50 cc, diberikan selama 30-60 detik. Cairan ini kemudian dihisap
dengan suction.
2. Dengan menggunakan kateter balon yang panjangnya 20 cm penampang 8,5 mm.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Foto toraks dalam posisi AP dan lateral hendaklah dibuat pada setiap penderita
hemoptisis masif. Gambaran opasitas dapat menunjukkan tempat perdarahannya.
2. Pemeriksaan bronkoskopi
Sebaiknya dilakukan sebelum perdarahan berhenti, karena dengan demikian sumber
perdarahan dapat diketahui.
Adapun indikasi bronkoskopi pada batuk darah adalah :
a. Bila radiologik tidak didapatkan kelainan
b. Batuk darah yang berulang ulang
c. Batuk darah masif : sebagai tindakan terapeutik
H. PENGKAJIAN FOKUS
I. Pengkajian

1. Anamnesa

a. Data Demografi : Identitas Pasien (nama, jenis kelamin, umur, status

perkawinan, agama, suku bangsa, pendidikan, bahasa yang digunakan,

pekerjaan, alamat, diagnosa medis, sumber biaya, dan sumber informasi).

b. Keluhan Utama: Pasien hemaptoe ditandai dengan sesak nafas, batuk dan berat badan

menurun.

c. Riwayat Penyakit Sekarang: pasien hemaptoe sering panas lebih dari dua minggu

sering batuk yang disertai dengan darah, anoreksia, lemah, dan berkeringat banyak

pada malam hari

d. Riwayat Penyakit Dahulu : pasien mempunyai riwayat tertentu

seperti penyakit jantung, TBC dll.

e. Riwayat Penyakit Keluarga: biasanya keluarganya mempunyai penyakit menular

atau tidak menular.

f. Riwayat psikososial

Riwayat psikososial sangat berpengaruh dalam psikologis pasien dengan timbul

gejala-gejala yang dialami dalam proses penerimaan terhadap penyakitnya,


meliputi : perumahan yang padat, lingkungan yang kumuh dan kotor, keluarga yang

belum memahami tentang kesehatan

2. Pengkajian 11 Pola fungsional Gordon

1. Pola Persepsi dan Penanganan Kesehatan Biasanya pasien mempunyai

kebiasaan merokok, penggunaan alkohol, dan kebiasaan olahraga. Setelah masuk

rumah sakit biasanya kebiasaan merokoknya berhenti.

2. Pola Nutrisi/Metabolisme Sebelum sakit biasanya nafsu makan tidak

terganggu, tetapi setelah masukrumah sakit nafsu makan menurun, diet khusus /

suplemen, fluktasi berat badan dan anoreksia.

3. Pola Eliminasi Pada saat sebelum dan setelah masuk rumah sakit umumnya

pasien tidakmengalami gangguan eleminasi

4. Pola Aktivitas Sebelum masuk rumah sakit pasien masih segar bugar dan bisa

melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Tetapi setelah masuk rumah

sakit aktivitas dasar pasien terganggu seperti makan minum, toileting, berpakaian, dll.

5. Pola Istirahat Tidur Umumnya pasien mengalami gangguan pola tidur / istirahat

setelah masuk rumah sakit, beda dengan sebelum masuk rumah sakit. Manusia normalnya

tidur >6 jam per hari, setelah masuk rumah sakit hanya bisa tidur 1-4 jam

6. Pola Kognitif-Persepsi Sebelum dan setelah masuk rumah sakit, umumnya

pasien tidak mengalami gangguan pada indera

7. Pola Peran Hubungan-Hubungan pasien dengan keluarga dan masyarakat

sekitar cukup baik sebelum masuk rumah sakit dan setelah masuk rumah

sakit biasanya hubungan dengan orang-orang sekitar semakin bertambah karena pasien

sakit membutuhkan perhatian orang sekitar


8. Pola Seksualitas/Reproduksi Untuk pasangan suami istri yang biasanya

melakukan seksualitas secara teratur, namun ketika sakit pola seksualitas akan terganggu

9. Pola Koping Toleransi Stress Penyebab stres, koping terhadap stres, dan

pemecahan masalah. Sebelum masuk rumah sakit sudah banyak pikiran misalnya tentang

sosial-ekonomi ditambah lagi ketika manusia masuk rumah sakit pikiran tersebut

bisa menambah dua kali lipat

10. Pola Keyakinan Nilai Sebelum masuk rumah sakit pasien rajin sholat

dan beribadah kepada Tuhannya, tetapi setelah masuk rumah sakit mungkin pasien

hanya bisaberibadah lewat doa-doa dan cara sholat yang duduk maupun tiduran ditempat

tidur

11. Pola Konsep diri Pasien selalu berespon atau mengatakan bahwa

dirumah lebih nyaman daripada dirumah sakit dan pasien ingin sekali cepat sembuh

dan kembali kerumah berkumpul bersama keluarga terdekat

3. Pemeriksaan Fisik.

a. keadaan umum: Keadaan penyakit, kesadaran, suhu meningkat, dan BB menurun.

b. Tanda-tanda Vital : TD:.., RR:..., HR:.., Suhu:,...

c. Kepala:

d. Mata :

e. Telinga :

f. Hidung :

g. Mulut :

h. Leher :
i. Thoraks: Bentuk thorax pasien hemaptoe biasanya tidak normal (Barrel chest)j. Paru:

Bentuk dada simetris/tidak, pergerakan paru tertinggal/bersama, adanya whezing atau

ronkhi.

k. Jantung: ada/tidak suara 1 dan suara 2 tambahan

l. Abdomen: Biasanya terdapat pembesaran limfa dan hati

m. Urogenital

n. Ekstremitas: kekuatan otot, akral

o. Kulit dan kuku

p. Keadaan lokal

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental/darah.
2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler.
3. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan
produksi spuntum/batuk, dyspnea atau anoreksia
4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer,
penurunan geraan silia, stasis dari sekresi.
5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, terapi dan pencegahan berhubungan dengan
infornmasi kurang / tidak akurat.
J. PERENCANAAN KEPERAWATAN

1. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental/darah.
Tujuan : Kebersihan jalan napas efektif.
Kriteria hasil :
a. Mencari posisi yang nyaman yang memudahkan peningkatan pertukaran udara.
b. Mendemontrasikan batuk efektif.
c. Menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi.
Rencana Tindakan :
a. Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat
penumpukan sekret di sal. Pernapasan
R/ Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan klien
terhadap rencana teraupetik.
b. Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk.
R/ Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak efektif, menyebabkan
frustasi.
c. Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin.
R/ Memungkinkan ekspansi paru lebih luas.
d. Lakukan pernapasan diafragma.
R/ Pernapasan diafragma menurunkan frek. napas dan meningkatkan ventilasi
alveolar.
e. Tahan napas selama 3 - 5 detik kemudian secara perlahan-lahan, keluarkan sebanyak
mungkin melalui mulut Lakukan napas ke dua , tahan dan batukkan dari dada dengan
melakukan 2 batuk pendek dan kuat.
R/ Meningkatkan volume udara dalam paru mempermudah pengeluaran sekresi
sekret.
f. Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk.
R/ Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien.
g. Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi : mempertahankan
hidrasi yang adekuat; meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila
tidak kontraindikasi.
R/ Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus,
yang mengarah pada atelektasis.
h. Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk.
R/ Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau
mulut.
i. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi,
Pemberian expectoran.Pemberian antibiotika. Konsul photo toraks.
R/ Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan menevaluasi perbaikan
kondisi klien atas pengembangan parunya.

2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler.


Tujuan : Pertukaran gas efektif.
Kriteria hasil :
a. Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektif.
b. Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru.
c. Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab.
Rencana tindakan :
a. Berikan posisi yang nyaman, biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur. Balik
ke sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin.
R/ Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi pada
sisi yang tidak sakit.
b. Observasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan
tanda-tanda vital.
R/ Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat
stress fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan
dengan hipoksia.
c. Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan.
R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan
kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
d. Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-
paru.
R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien
terhadap rencana teraupetik.
e. Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dnegan menggunakan
pernapasan lebih lambat dan dalam.
R/ Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat dimanifestasikan
sebagai ketakutan/ansietas.
f. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi,
Pemberian antibiotika, Pemeriksaan sputum dan kultur sputum, Konsul photo toraks.
R/Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.

3. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan


produksi spuntum/batuk, dyspnea atau anoreksia
Tujuan : Kebutuhan nutrisi adekuat
Kriteria hasil :
a. Menyebutkan makanan mana yang tinggi protein dan kalori
b. Menu makanan yang disajikan habis
c. Peningkatan berat badan tanpa peningkatan edema
Rencana tindakan
a. Diskusikan penyebab anoreksia, dispnea dan mual.
R/ Dengan membantu klien memahami kondisi dapat menurunkan ansietas dan dapat
membantu memperbaiki kepatuhan teraupetik.
b. Ajarkan dan bantu klien untuk istirahat sebelum makan.
R/ Keletihan berlanjut menurunkan keinginan untuk makan.
c. Tawarkan makan sedikit tapi sering (enam kali sehari plus tambahan).
R/ Peningkatan tekanan intra abdomen dapat menurunkan/menekan saluran GI dan
menurunkan kapasitas.
d. Pembatasan cairan pada makanan dan menghindari cairan 1 jam sebelum dan sesudah
makan.
R/ cairan dapat lebih pada lambung, menurunkan napsu makan dan masukan.
e. Atur makanan dengan protein/kalori tinggi yang disajikan pada waktu klien merasa
paling suka untuk memakannya.
R/ Ini meningkatkan kemungkinan klien mengkonsumsi jumlah protein dan kalori
adekuat.
f. Jelaskan kebutuhan peningkatan masukan makanan tinggi elemen berikut:
1) Vitamin B12 (telur, daging ayam, kerang).
2) Asam folat (sayur berdaun hijau, kacang-kacangan, daging).
3) Thiamine (kacang-kacang, buncis, oranges).
4) Zat besi (jeroan, buah yang dikeringkan, sayuran hijau, kacang segar).
R/ Masukan vitamin harus ditingkatkan untuk mengkompensasi penurunan
metabolisme dan penyimpanan vitamin karena kerusakan jarinagn hepar.
g. Konsul dengan dokter/shli gizi bila klien tidak mengkonsumsi nutrien yang cukup
R/ Kemungkinan diperlukan suplemen tinggi protein, nutrisi parenteral,total, atau
makanan per sonde.
DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2011. Hemaptoe.


Diakses pada tanggal 22 April 2013
http://uzanxwsdcito.blogspot.com/2011/07/hemaptoe.html

Anonimous. 2012. Asuhan keperawatan pada pasien hemaptoe (batuk darah).


Diakses pada 22 April 2013.
http://mydocumentku.blogspot.com/2012/03/asuhan-keperawatan-pada-pasien-
hemaptoe.html
Flores RJ, Sunder S. 2006. Massive Hemoptysis. Hospital Physician: 37-43.

Anda mungkin juga menyukai