Anda di halaman 1dari 18

TUGAS TEORI AKUNTANSI

MAKALAH

E-PROCUREMENT

Oleh :

MUHAJIR IRFANI, S.E. (NIM I2F016012)

HANDIA FAHRURROZI (NIM I2F0160007)

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI


UNIVERSITAS MATARAM
TAHUN 2017
BAB I
PENDAHULUAN
Peningkatan kualitas pelayanan publik melalui penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan
bersih, perlu didukung dengan pengelolaan keuangan yang efektif, efisien, transparan, dan
akuntabel. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas penggunaan keuangan negara yang
dibelanjakan melalui proses Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, diperlukan upaya untuk
menciptakan keterbukaan, transparansi, akuntabilitas serta prinsip persaingan/kompetisi yang
sehat dalam proses Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang dibiayai APBN/APBD, sehingga
diperoleh barang/jasa yang terjangkau dan berkualitas serta dapat dipertanggung-jawabkan
baik dari segi fisik, keuangan, maupun manfaatnya bagi kelancaran tugas Pemerintah dan
pelayanan masyarakat.
PEMBAHASAN

Pengertian Pengadaan Barang dan Jasa Secara Elektronik (EProcurement)

PENGADAAN BARANG DAN JASA SECARA ELEKTRONIK (EPROCUREMENT)

Interaksi antara pemerintah dan masyarakat pada proses pengadaan barang dan jasa
pemerintah membutuhkan suatu sistem pelayanan yang optimal, efektif, dan efisien. E-
Procurement atau pengadaan barang dan jasa secara online melalui internet menjadi solusi
yang tepat. E-Procurement tanpa memerlukan birokrasi yang berbelitbelit akan mendapatkan
pengawasan langsung dari masyarakat. Adanya EProcurement bertujuan untuk mengurangi
korupsi, kolusi dan nepotisme, juga mempersiapkan pelaku jasa konstruksi nasional dalam
menghadapi tantangan di era informatika.

Pengertian Pengadaan Barang dan Jasa Secara Elektronik (EProcurement)

Berikut ini akan dipaparkan beberapa pengertian E-Procurement dari berbagai sumber :

E-Procurement adalah pengadaan secara elektronik atau pengadaan barang dan jasa
yang dilaksanakan dengan menggunakan teknologi informasi dan transaksi elektronik
sesuai dengan ketentuan perundang-undangan (Paparan Pengadaan Barang dan Jasa
Melalui Media Elektronik, Kementerian Pekerjaan Umum, 2011)

Menurut Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2012, pada pasal
37: Pengadaan secara elektronik atau E-Procurement adalah Pengadaan barang /jasa

Accounting Theory E-PROCUREMENT Page 2


yang dilaksanakan dengan menggunakan teknologi informasi dan transaksi elektronik
sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

E-Procurement merupakan pengadaan barang dan jasa yang dilaksanakan dengan


menggunakan teknologi informasi dan transaksi elektronik sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan (Abidin, 2011).

Transaksi Elektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan


Komputer, jaringan Komputer, dan/atau media elektronik lainnya. (UU 11 tahun
2008)

Kalakota,dkk (Wijaya dkk, 2010, dalam Abidin, 2011) menyatakan bahwa


EProcurement merupakan proses pengadaan barang atau lelang dengan memanfaatkan
teknologi informasi dalam bentuk website.

E-Procurement adalah suatu aplikasi untuk mengelola data pengadaan barang/jasa


yang meliputi data pengadaan berbasis internet yang didesain untuk mencapai suatu
proses pengadaan yang efektif, efisien dan terintegrasi (Purwanto, 2008).

Dapat disimpulkan bahwa E-Procurement adalah pengadaan barang dan jasa secara
elektronik yang seluruh kegiatannya dilakukan secara online melalui website. Ruang lingkup
E-Procurement meliputi proses pengumuman pengadaan barang dan jasa sampai dengan
penunjukkan pemenang. Pengadaan barang dan jasa melalui EProcurement diwajibkan oleh
pemerintah sejak tahun 2010. Sampai dengan tahun 2012, pengadaan barang dan jasa secara
E-Procurement telah dilaksanakan di 33 provinsi meliputi 731 instansi di Indonesia (sumber :
lkpp.go.id).

Landasan Hukum E-Procurement Dasar hukum E-Procurement di Indonesia menurut


www.bappenas.go.id dalam Nightisabha dkk, 2009, adalah :

1. Instruksi Presiden Nomor. 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional
Pengembangan e-Government di Indonesia;

2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 mengatur tentang Informasi dan Transaksi


Elektronik;

3. Keputusan Presiden Nomor 80 tahun 2003 mengatur tentang Pedoman Pelaksanaan


Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah jo. Keppres No 61 Tahun 2004, Perpres No

Accounting Theory E-PROCUREMENT Page 3


32 Tahun 2005, Perpres No 70 Tahun 2005, Perpres No 8 Tahun 2006, Perpres No 79
Tahun 2006, Perpres No 85 Tahun 2006, Perpres No 95 Tahun 2007 tentang
Perubahan Ketujuh Atas Keputusan Presiden No 80 Tahun 2003 tentang Pedoman
Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;

4. Peraturan Presiden Nomor 8 tahun 2006 mengatur tentang Perubahan keempat atas
Keputusan Presiden Nomor 80 tahun 2003;

5. Instruksi Presiden Nomor 5 tahun 2008 mengatur tentang Fokus Program Ekonomi
tahun 2008-2009;

6. Instruksi Presiden Nomor 5 tahun 2004 mengatur tentang Percepatan Pemberantasan.

7. Peraturan Presiden Nomor 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;

8. Peraturan Presiden Nomor 70 tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan
Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;

9. Peraturan Presiden Nomor 4 tahun 2015 tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan
Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;

10. Undang-Undang Nomor 14 tahun 2008 mengatur tentang Keterbukaan Informasi


Publik,

Saat ini penerapan E-Procurement pada instansi-instansi dan lembaga-lembaga


menggunakan dasar Peraturan Presiden nomor 70 tahun 2012 beserta perubahannya dan
diikuti oleh berbagai aturan dibawahnya hingga peraturan pelaksana masing-masing
lembaga.

Jenis-jenis E-Procurement

Dalam Pasal 106 ayat 2 bahwa Pengadaan Barang/Jasa secara elektronik dilakukan
dengan cara e- tendering atau e-purchasing.

ULP/Panitia Penyedia
Pengadaan e Procurement Barang/Jasa

e- e-
Purchasing Tendering

Accounting Theory E-PROCUREMENT Page 4


E-Tendering merupakan tata cara pemilihan penyedia barang/jasa yang dilakukan
secara terbuka dan dapat diikuti oleh semua penyedia barang/jasa yang terdaftar pada sistem
pengadaan elektronik dengan cara menyampaikan satu kali penawaran dalam waktu yang
telah ditentukan. Ruang lingkup e-Tendering meliputi proses pengumuman pengadaan
barang/jasa sampai dengan pengumuman pemenang.

Para pihak yang terlibat dalam e-Tendering adalah Pejabat Pembuat Komitmen
(PPK)/Unit Layanan Pengadaan (ULP)/Pejabat Pengadaan dan Penyedia barang/jasa.
Aplikasi e-Tendering wajib memenuhi unsur perlindungan hak atas kekayaan intelektual dan
kerahasiaan dalam pertukaran dokumen serta tersedianya sistem keamanan dan penyimpanan
dokumen elektronik yang menjamin dokumen elektronik tersebut hanya dapat dibaca pada
waktu yang telah ditentukan. E-Tendering dilaksanakan dengan menggunakan Sistem
Pengadaan Secara Elektronik yang diselenggarakan oleh Layanan Pengadaan Secara
Elektronik.

ULP/Pejabat Pengadaan dapat menggunakan Sistem Pengadaan Secara Elektronik


yang diselenggarakan oleh Layanan Pengadaan Secara Elektronik terdekat.

Sistem Pengadaan Secara Elektornik yang diselenggarakan oleh Layanan Pengadaan Secara
Elektronik wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:

mengacu pada standar yang telah ditetapkan LKPP berkaitan dengan interoperabilitas
dan intergerasi dengan Sistem Pengadaan Secara Elektronik yang dikembangkan oleh
LKPP;

mengacu pada standar proses pengadaan secara elektronik yang ditetapkan oleh
LKPP; dan

bebas lisensi.

E-Purchasing merupakan tata cara pembelian barang/jasa melalui sistem katalog elektronik.
E-Purchasing diselenggarakan dengan tujuan:

terciptanya proses pemilihan barang/jasa secara langsung melalui sistem katalog


elektronik sehingga memungkinkan semua ULP/Pejabat Pengadaan dapat memilih
barang/jasa pada pilihan terbaik; dan

efisiensi biaya dan waktu proses pemilihan barang/jasa dari sisi penyedia barang/jasa
dan pengguna.

Accounting Theory E-PROCUREMENT Page 5


Sistem katalog elektronik diselenggarakan oleh LKPP dan sekurang-kurangnya memuat informasi
spesifikasi dan harga barang/jasa. Pemuatan informasi dalam sistem katalog elektronik oleh LKPP di
lakukan dengan membuat frame work contact dengan penyedia barang/jasa. Barang/jasa yang di
informasikan pada sistem katalog elektronik di tentukan oleh LKPP

Prinsip E-Procurement dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010

Penerapan E-Procurement sebagai sistem pengadaan barang dan jasa memiliki beberapa
prinsip. sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Presiden Nomor 54 tahun 2010, prinsip-
prinsip tersebut adalah :

1. Efisien, berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana


dan daya yang minimum untuk mencapai kualitas dan sasaran dalam waktu yang
ditetapkan atau menggunakan dana yang telah ditetapkan untuk mencapai hasil dan
sasaran dengan kualitas yang maksimum.

2. Efektif, berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan dan sasaran
yang telah ditetapkan serta memberikan manfaat yang sebesarbesarnya.

3. Transparan, berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/jasa


bersifat jelas dan dapat diketahui secara luas oleh penyedia barang/jasa yang berminat
serta oleh masyarakat pada umumnya.

4. Terbuka, berarti pengadaan barang/jasa dapat diikuti oleh semua penyedia barang/jasa
yang memenuhi persyaratan/kriteria tertentu berdasarkan ketentuan dan prosedur yang
jelas.

5. Bersaing, berarti pengadaan barang/jasa harus dilakukan melalui persaingan yang


sehat diantara sebanyak mungkin penyedia barang/jasa yang setara dan memenuhi
persyaratan, sehingga dapat diperoleh barang/jasa yang ditawarkan secara kompetitif
dan tidak ada intervensi yang mengganggu terciptanya mekanisme pasar dalam
pengadaan barang/jasa.

6. Adil/tidak diskriminatif, berarti memberikan perlakuan yang sama bagi semua calon
penyedia barang/jasa dan tidak mengarah untuk member keuntungan kepada pihak
tertentu, dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.

7. Akuntable, berarti harus sesuai dengan aturan dan ketentuan yang terkait dengan
pengadaan barang/jasa sehingga dapat dipertanggungjawabkan.

Accounting Theory E-PROCUREMENT Page 6


Tujuan E-Procurement

Menurut Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 pengadaan barang dan jasa pemerintah
secara elektronik bertujuan untuk :

1. Perwujudan Good Governance yang menjadi tugas pemerintahan

2. Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas

3. Meningkatkan akses pasar dan persaingan usaha yang sehat

4. Memperbaiki tingkat efisiensi proses pengadaan

5. Mendukung proses monitoring dan audit

6. Memenuhi kebutuhan akses informasi yang real time

Dengan adanya E-Procurement diharapkan potensi terjadinya kecurangan pada proses


pengadaan barang dan jasa pemerintah dapat diminimalisir. E-Procurement dapat
meningkatkan efisiensi dan efikasi pada pengadaan barang dan jasa umum, mengurangi
biaya, menaikkan kompetisi, untuk menjamin persamaan kesempatan dan perlakuan. Secara
umum, tujuannya adalah menjamin integritas, kepercayaan masyarakat, dan transparansi
dalam prosedur pengadaan barang/jasa umum (Ermal dkk, 2011). Jadi E-Procurement dapat
dipergunakan sebagai alat kontrol dalam suatu proses pengadaan barang dan jasa.

Manfaat dan Kelebihan dari Penggunaan E-Procurement

Menurut Kalakota, dkk (Wijaya dkk, 2010, dalam Abidin, 2011) manfaat
EProcurement dibagi menjadi 2, kategori yaitu : efisien dan efektif. Efisiensi EProcurement
mencakup biaya yang rendah, mempercepat waktu dalam proses procurement, mengontrol
proses pembelian dengan lebih baik, menyajikan laporan informasi, dan pengintegrasian
fungsi-fungsi procurement sebagai kunci pada sistem back-office. Sedangkan efektivitas E-
Procurement yaitu meningkatkan kontrol pada rantai nilai, pengelolaan data penting yang
baik, dan meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dalam proses pembelian pada
organisasi.

Manfaat lain dari penggunaan E-Procurement (sumber: Paparan Pengadaan Barang dan Jasa
Melalui Media Elektronik, Kementerian Pekerjaan Umum, 2011) :

Accounting Theory E-PROCUREMENT Page 7


Menyederhanakan proses procurement,

Mempererat hubungan dengan pihak supplier,

Mengurangi biaya transaksi karena mengurangi penggunaan telepon atau fax atau
dokumen-dokumen yang menggunakan kertas,

Mengurangi waktu pemesanan barang,

Menyediakan laporan untuk evaluasi,

Meningkatkan kepuasan user.

Manfaat adanya E-Procurement bukan hanya untuk instansi maupun pengembang sistem
itu sendiri melainkan juga bagi para penyedia barang dan jasa serta masyarakat umum yang
hendak mengetahui proses pengadaan barang dan jasa pada pemerintah yang dapat diakses
secara terbuka. Dengan E-Procurement, instansi penyelenggara pengadaan mendapatkan
harga penawaran yang lebih banyak dan proses administrasi lebih sederhana, sedangkan bagi
para penyedia barang dan jasa dapat memperluas peluang usaha, menciptakan persaingan
usaha yang sehat, membuka kesempatan pelaku usaha secara terbuka bagi siapapun dan
mengurangi biaya administrasi (Handoko, 2009 dalam Nightisaba dkk, 2009). Secara umum
perbedaan pengadaan barang dan jasa konstruksi dengan cara konvensional dan
EProcurement dapat ditabelkan sebagai berikut :

Nilai yang ditawarkan e-procurement meliputi :

Pengurangan dalam biaya, yang dapat berkisar 20-25%, dapat dicapai melalui proses
yang efisien seperti perluasan basis pemasok, negosiasi harga yang lebih baik, dan
pemendekan siklus pengadaan, sehingga mengurangi inventori.

Meminimalkan beberapa biaya pasca pembelian, sehingga menjamin kepuasan


masyarakat.

Melalui sarana-sarana pelaporan dan analisis yang mudah dan efektif, seseorang dapat
meningkatkan efisiensi dalam pemeliharaan laporan, memeriksa pembelian tidak
terkendali, dan menciptakan integrasi data yang utuh.

Jika beberapa pembelian yang dilakukan adalah teratur, sistem secara otomatis
menyetujui pembelian tersebut berdasarkan pada pembeli dan jumlah yang diminta.

Accounting Theory E-PROCUREMENT Page 8


Tabel Perbedaan Sistem Pengadaan Barang Dan Jasa Konstruksi

Perbedaan Sistem Pengadaan Barang dan Jasa Konstruksi


No
Konvensional e-Procurement

Pemasukan dan pengambilan dokumen Pemasukan dan pengambilan


1 dilakukan dengan tatap muka dokumen dilakukan dengan melalui
internet

Pengumuman hanya dilakukan di media Pengumuman dilakukan di internet


2
cetak melalui website yang ada

Daerah cakupan pemberitahuan terbatas Daerah cakupan pemberitahuan


3
sangat luas

Terbukanya kesempatan untuk berkolusi Kesempatan untuk berkolusi antara


4 antara panitia pengadaan dan penyedia panitia pengadaan dan penyedia jasa
jasa bisa dikatakan kecil

5 Kurang Transparan Lebih Transparan

Dari tabel tersebut, dapat diketahui beberapa kelebihan penggunaan E-Procurement, yaitu :

Layanan lebih cepat dikarenakan peserta lelang tidak memerlukan waktu untuk
mengadakan perjalanan ke tempat pengadaan barang dan jasa dilaksanakan dan tidak
perlu melakukan birokrasi yang sering menghabiskan banyak waktu.

Transparansi, akuntabel, efektif dan efisien karena dapat diakses siapa saja.

Salah satu upaya mempersiapkan para penyedia jasa nasional untuk menghadapi
tantangan dan perkembangan global.

Secara keseluruhan, E-Procurement diharapkan dapat menjadi suatu sistem lelang yang
efisien dibandingkan sistem lelang konvensional bagi para pelaku jasa konstruksi.

PERBEDAAN E PROCUREMENT DENGAN PENGADAAN KONVENSIONAL

a. Tahap Persiapan

Tahap ini khusus untuk Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Panitia. Yang perlu
diperhatikan pada tahapan ini adalah dokumen pemilihan. Dokumen untuk e-procurement

Accounting Theory E-PROCUREMENT Page 9


dengan konvensional amat berbeda, utamanya pada tahapan pengadaan, penyampaian
dokumen dan bentuk surat penawaran serta lampirannya.

b.Lembaga Penyelenggara

Pelaksanaan pengadaan secara elektronik membutuhkan sebuah unit khusus di


pemerintahan, unit tersebut bernama Layanan Pengadaan Secara Elektronik disingkat LPSE.
LPSE inilah yang berfungsi sebagai penghubung antara PPK/Panitia dengan Penyedia
Barang/Jasa melalui aplikasi e-procurement. LPSE bertugas untuk membangun sistem e-proc,
memberikan username dan password kepada semua pihak yang terlibat, memberikan
pelatihan kepada semua pihak yang terlibat, serta menjaga, merawat, dan memperbaiki sistem
e-procurement.

c. Pendaftaran

Proses pendaftaran lelang mengalami perubahan yang cukup signifikan. Dalam sistem
manual, panitia harus menyiapkan meja dan kursi khusus untuk menerima pendaftar, juga
harus ada orang yang menjaga untuk menerima pendaftar, serta menyiapkan formulir
pendaftaran untuk diisi oleh calon penyedia barang/jasa. Dari sisi penyedia barang/jasa juga
harus menyiapkan fotokopi SIUP dan membawa aslinya, juga menyiapkan surat kuasa yang
bermaterai kalau yang mendaftar bukan direktur atau yang berada di dalam akte, dan
persyaratan lainnya. Namun, dengan sistem e-proc, pendaftaran dilakukan secara online saja.
Dari sisi panitia tidak melakukan apa-apa, cukup melihat layar monitor sekali-sekali untuk
mengecek jumlah pendaftar, dan dari sisi peserta cukup login menggunakan username dan
password yang telah dimiliki, membaca pengumuman lelang dan syarat-syaratnya, kemudian
mengklik tombol daftar pada lelang tersebut. Dengan mengklik tombol daftar, maka secara
otomatis sudah dilakukan penandatanganan Pakta Integritas juga. Jadi tidak perlu meja
pendaftaran, tidak perlu fotokopi SIUP, tidak perlu datang jauh-jauh ke kantor pelaksana
lelang, dan cukup dilakukan dari kantor penyedia masing-masing.

d. Proses Pengumuman

Pengumuman lelang e-procurement berbeda dengan lelang konvensional. Coba kita


lihat harian Media Indonesia. Beberapa lelang yang dilakukan dengan sistem e-procurement
selalu mengarahkan pembaca untuk membuka sebuah laman. Biasanya dimulai dengan
http://lpse.xxxxxxxx.xxx.id

Accounting Theory E-PROCUREMENT Page 10


e. Rapat Penjelasan (Aanwijzing)

Dengan sistem e-procurement, tidak dilakukan tatap muka pada tahapan ini. Masing-
masing pihak cukup berada di depan komputer mereka. Penjelasan, pertanyaan dan jawaban
dilakukan secara online. Bentuknya mirip mengisi komentar pada facebook. Panitia dan
seluruh pendaftar pada lelang tersebut bisa saling bertukar penjelasan, pertanyaan, dan
jawaban. Dengan cara seperti ini, tidak ada kontak fisik yang terjadi, dan tidak ada emosi
yang tertumpah. Tanya jawab dilakukan sampai batas waktu Aanwijzing selesai. Apabila
jadwalnya telah selesai, maka secara otomatis penyedia tidak bisa mengirimkan pertanyaan
lagi, namun panitia masih punya waktu minimal 1 jam untuk menjawab pertanyaan-
pertanyaan yang diajukan pada akhir waktu. Tugas berikutnya bagi panitia adalah menyusun
adendum dokumen pengadaan yang selanjutnya diunggah pada sistem LPSE.

f. Pemasukan Dokumen

Di dalam sistem lelang konvensional, kita mengenal sistem satu sampul, dua sampul,
dan dua tahap. Untuk e-procurement dikenal yang namanya satu file dan dua file. Yang
dulunya berupa sampul, sekarang berganti menjadi file. Dengan sistem ini, maka penyedia
tidak perlu repot-repot menyiapkan dana untuk fotokopi semua dokumen pendukung
kualifikasi (Akta, SIUP, kontrak-kontrak, dan lain-lain) serta dokumen administrasi maupun
teknis. Seluruh dokumen yang sifatnya fisik, diganti menjadi elektronik dalam format PDF
atau JPEG. Dari semua dokumen itu, hanya 1 yang bentuknya masih harus secara fisik, yaitu
Jaminan Penawaran dan tidak dikirimkan ke panitia pengadaan melainkan dititipkan ke LPSE
penyelenggara. istem e-proc telah menyediakan sebuah aplikasi khusus yang akan
menggabungkan seluruh file yang akan dikirim sekaligus melakukan enskripsi data agar
aman dari kejahilan dunia maya. Aplikasi ini dibuat oleh Lembaga Sandi Negara dan dapat
diunduh pada akun masing-masing penyedia. Setelah dikompres dan dienskripsi, maka
seluruh dokumen yang sudah disiapkan (dokumen administrasi, teknis dan harga untuk sistem
satu sampul; dan dokumen administrasi dan teknis untuk dua sampul) akan menjadi 1 (satu)
file saja. Inilah yang disebut dengan sistem satu file, dan ini yang dikirim ke panitia untuk
dilakukan evaluasi.

g. Pembukaan Dokumen

Dalam sistem e-proc, tidak ada kumpul-kumpul rekanan pada satu tempat. Karena
pada tahapan ini yang dimaksud pembukaan artinya benar-benar hanya membuka dokumen
yang telah dikirimkan oleh peserta pengadaan. Seluruh file yang telah dikirimkan oleh

Accounting Theory E-PROCUREMENT Page 11


peserta, hanya dapat dibuka pada waktu yang telah ditentukan, yaitu pada saat pembukaan
dokumen. Pembukaan filenya juga tidak bisa menggunakan aplikasi sembarangan, melainkan
juga harus menggunakan aplikasi yang dibuat oleh Lembaga Sandi Negara.

h. Evaluasi

Tahapan evaluasi antara sistem konvensional dengan sistem e-proc sama saja. Yaitu
sama-sama memeriksa dokumen dari peserta. Yaitu dokumen administrasi, teknis, harga, dan
kualifikasi. Bedanya, pada sistem konvensional, panitia melihat dokumen fisik, sedangkan
pada sistem e-proc, panitia melihat layar komputer atau layar LCD Projector

i. Usulan Calon Pemenang dan Penetapan Pemenang

Pada tahapan ini di dalam sistem pengadaan konvensional, ketua panitia akan
membuat surat resmi yang ditujukan kepada PPK yang berisi permintaan penetapan
pemenang dan 2 cadangan. Setelah itu PPK juga akan mengeluarkan surat resmi menjawab
surat dari ketua panitia yang berisi penetapan pemenang. Pada sistem e-proc, seluruh kegiatan
tadi dilaksanakan hanya dengan klik pada tombol mouse dan sedikit pengetikan pada
keyboard. Ketua panitia mengklik pada nama peserta yang diusulkan sebagai pemenang,
memberikan sedikit catatan untuk PPK kemudian mengklik tombol kirim ke PPK. Segera
setelah itu, PPK dapat login menggunakan username dan password yang dimiliki kemudian
membaca seluruh tahapan yang telah dilakukan panitia termasuk semua Berita Acara yang
telah diunggah.

j. Pengumuman

Pada sistem konvensional, pengumuman dipasang pada papan pengumuman di


institusi masing-masing. Sedangkan untuk sistem e-procurement, pengumuman pemenang
dapat dilihat pada website LPSE serta seluruh peserta akan dikirimi email secara resmi yang
berisi pengumuman pemenang. Pengumuman tidak hanya berisi nama perusahaan pemenang,
melainkan juga akan memperlihatkan siapa saja yang kalah, mengapa sampai kalah,
gugurnya pada tahapan mana, kenapa sampai gugur dan berapa harga masing-masing peserta.
Jadi, setiap peserta tidak akan berpraduga yang tidak-tidak mengenai hasil pengadaan.
Masing-masing secara terbuka akan mengetahui kesalahannya.

Accounting Theory E-PROCUREMENT Page 12


k. Sanggah

Dari 2 tahapan sanggah (sanggah awal dan sanggah banding), e-procurement hanya
melaksanakan 1 tahap saja, yaitu sanggah awal. Sanggahan hanya dapat dilakukan oleh
perusahaan yang memasukkan dokumen penawaran. Sanggahan ini juga hanya dapat dilihat
oleh perusahaan yang memberikan sanggahan. Sistemnya mirip dengan aanwijzing tetapi
lebih dibatasi. PPK juga hanya bisa menjawab sanggahan ini sebanyak 1 (satu) kali saja.
Apabila peserta lelang tidak puas dengan jawaban PPK, maka dapat melakukan sanggah
banding yang kembali kepada sistem konvensional, yaitu melalui surat kepada PA/KPA dan
ditembuskan kepada Inspektorat dan unit pengawasan lainnya.

Tahapan Pengembangan E-Procurement

Pengembangan E-Procurement dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut


(Paparan Pengadaan Barang dan Jasa Melalui Media Elektronik, Kementerian Pekerjaan
Umum, 2011) :

1. Copy To Internet yaitu kegiatan penayangan seluruh proses dan hasil pengadaan
barang/jasa, ditayangkan melalui internet (sistem lelang) oleh panitia pengadaan.

2. Semi E-Procurement yaitu kegiatan pengadaan barang/ jasa yang sebagian prosesnya
dilakukan melalui media elektronik (internet) secara interaktif antara pengguna jasa
dan penyedia jasa dan sebagian lagi dilakukan secara manual (konvensional).

3. Full E-Procurement yaitu proses pemilihan penyedia barang/jasa yang dilakukan


dengan cara memasukkan dokumen (file) penawaran melalui sistem E-Procurement,
sedangkan penjelasan dokumen seleksi/lelang (Aanwizjing) masih dilakukan secara
tatap muka antara pengguna jasa dengan penyedia jasa.

Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa sistem E-Procurement sejak tahun 2010 dilakukan
secara full E-Procurement. Seluruh kegiatan dilaksanakan secara online, kecuali untuk
pelaksanaan kegiatan pembuktian kualifikasi. Hal ini disebabkan belum tersedianya teknologi
yang memadahi untuk mengakomodir kegiatan tersebut. Namun demikian adanya E-
Procurement telah meminimalisir kesempatan untuk bertatap muka langsung antara Panitia
Lelang dan Penyedia Jasa sehingga mengurangi potensi untuk berbuat curang.

Accounting Theory E-PROCUREMENT Page 13


Pelaksanaan E-Procurement

Diterapkannya E-Procurement sebagai sistem pengadaan barang dan jasa melalui


proses yang telah dilakukan sejak tahun 2002 hingga saat ini. Berikut adalah tabel tahapan
pelaksanaan E-Procurement yang dilakukan di Kementerian Pekerjaan Umum.

Tabel Tahapan Pelaksanaan E-Procurement

(sumber : Paparan Pengadaan Barang dan Jasa Melalui Media Elektronik, Kementerian
Pekerjaan Umum, 2011)

Accounting Theory E-PROCUREMENT Page 14


Dari Tabel Tahapan Pelaksanaan E-Procurement, diketahui bahwa sistem ini telah
diujicobakan sejak tahun 2002 kemudian berkembang sampai dengan tahun 2005. Pada tahun
2007 dilakukan uji coba Semi E-Procurement yang dilaksanakan di Pulau Jawa dan 15
Provinsi lainnya (Sumut, Sumbar, Sumsel, Kaltim, Sulsel, Gorontalo, Bali, NAD, Riau,
Jambi, Bengkulu, Lampung, Kalsel, Sulut , NTB) yang berlanjut sampai dengan tahun 2010.
Sistem Semi E-Procurement plus yang dilaksanakan pada tahun 2010 merupakan sistem
pengadaan barang dan jasa gabungan, yaitu melakukan lelang elektronik dan manual secara
bersamaan. Hal ini dilaksanakan pada tahun 2010, ketika aplikasi E-Procurement masih
belum mengalami penyempurnaan. Pada tahun 2011, mulailah diberlakukan Full
EProcurement di 24 provinsi hingga tahun 2013 sistem pengadaan barang dan jasa Full E-
Procurement telah diterapkan di 33 provinsi di Indonesia.

Kelemahan dalam Pelaksanaan E-Procurement

Diterapkannya sistem E-Procurement diharapkan akan menjadi solusi yang tepat


untuk masalah-masalah yang terjadi pada proses pengadaan barang dan jasa pemerintah. E-
procurement merupakan sistem yang memanfaatkan teknologi informasi yang didalamnya
mengandung nilai-nilai transparansi, efisiensi, keterbukaan. Pada kenyataannya E-
Procurement masih memiliki kelemahan-kelemahan serta hambatan-hambatan dalam proses
pelaksanaannya, seperti kurangnya dukungan finansial, terdapat beberapa instansi dan
penyedia jasa lebih nyaman dengan sistem sebelumnya (pengadaan barang dan jasa
konvensional), kurangnya dukungan dari top manajemen, kurangnya skill dan pengetahuan
tentang E-Procurement, serta jaminan keamanan sistem tersebut (Gunasekaran, et al., 2009,
dalam Wijaya dkk, 2010 ). Penyebab hambatan sistem E-Procurement dapat diuraikan
sebagai berikut :

1. Peraturan Perundangan

Belum adanya peraturan yang lebih rinci tentang pengaturan tanda tangan digital.

Besaran file dokumen yang diunggah atau diupload.

Standar file dokumen elektronik yang belum ada.

2. Sumber Daya Manusia

Baik internal dan eksternal yang masih belum memahami pelaksanaan pengadaan barang dan
jasa secara elektronik.

Accounting Theory E-PROCUREMENT Page 15


3. Perangkat Keras dan Infrastruktur Jaringan

Infrastruktur jaringan internet yang masih belum mendukung pelaksanaan pengadaan barang
dan jasa secara elektronik, karena kecepatan mengakses ke sistem masih lambat. Hambatan
lain dalam implementasi E-Procurement yaitu adanya kesenjangan digital, metodologi,
kepentingan kelompok, dan resistansi individual atas keengganan untuk berubah
(www.bappenas.go.id, 2009). Tantangan lain dalam penerapan sistem E-Procurement yaitu
faktor teknis berupa standart keamanan dan pengembangan sistem itu sendiri. Tantangan
yang bersifat teknis atau aksesibilitas menjadi hal yang penting dalam menilai efektivitas
pelaksanaan E-Procurement (Bruno, 2005 dalam Nightisaba dkk, 2009) Penerapan E-
Procurement nantinya tidak hanya di lingkungan pemerintah pusat, melainkan juga instansi
dan pemerintah daerah, provinsi, kota, kabupaten diikuti dengan puluhan ribu unit kerja di
bawahnya.

Dalam penerapan EProcurement pada satuan kerja di lingkungan Kementerian Pekerjaan


Umum saat ini masih ditemukan beberapa kendala, diantaranya adalah :

1. E-Procurement yang diiplementasikan dilingkungan Kementerian Pekerjaan Umum


belum menjadi fungsi kontrol yang maksimal. Masih adanya tatap muka pada proses
pengadaan barang dan jasa dengan sistem E-Procurement, menjadikan masih
terbukanya potensi untuk melakukan kecurangan.

2. E-Procurement yang ada dilingkungan Kementerian Pekerjaan Umum belum


memiliki desain integrasi data lintas instansi, diantaranya integrasi data ke Ditjen
Pajak dan Perbankan. Ini diperlukan sebagai kontrol terhadap laporan pajak bagi para
peserta lelang saat melakukan registrasi dan saat ditunjuk sebagai pemenang lelang.

3. Belum adanya desain konsep pengembangan aplikasi E-Procurement di lingkungan


Kementerian Pekerjaan Umum guna memenuhi kebutuhan dan penjaminan aplikasi
dimasa datang.

Upaya Mengatasi Hambatan dan Kendala pada Proses E-Procurement

Saat ini telah dilakukan beberapa upaya untuk mengatasi hambatan dalam proses E-
Procurement. Beberapa langkah yang telah diambil untuk mengatasi hambatan tersebut
diantaranya :

Accounting Theory E-PROCUREMENT Page 16


1. Melakukan pelatihan dan sosialisasi pemilihan penyedia jasa secara elektronik (E-
Procurement) baik terhadap Panitia Lelang maupun bagi Penyedia Jasa.

2. Melakukan penambahan kapasitas storage (penyimpanan) sehingga tidak ada


hambatan dalam penyimpanan file atau dokumen.

3. Memperbesar kapasitas bandwidth (kecepatan akses) dari 30 Mbps menjadi 100


Mbps.

KESIMPULAN

E-Procurement adalah Pengadaan barang /jasa yang dilaksanakan dengan menggunakan


teknologi informasi dan transaksi elektronik sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. E
Procurement terdiri dari e-tendering dan e-purchasing. Pengadaan barang/jasa menggunakan
e-procurement memiliki dua manfaat utama dibandingkan dengan system pengadaan
konvensional yakni efisiensi dan efektivitas. Selain itu, pemenuhan prinsip-prinsip good
governance government akan dapat terlaksana Karena system e-procurement memiliki atensi
besar terhadap transparansi dan akutabilitas.

Accounting Theory E-PROCUREMENT Page 17


DAFTAR PUSTAKA

Paparan Pengadaan Barang dan Jasa Melalui Media Elektronik, Kementerian Pekerjaan
Umum, 2011

Peraturan Presiden Nomor 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa

Peraturan Presiden Nomor 72 tahun 2012 tentang Pengadaan Barang dan Jasa

Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Transaksi Elektronik

www.bappenas.go.id

www.lkpp.go.id

Accounting Theory E-PROCUREMENT Page 18