Anda di halaman 1dari 5

BAB V

HASIL PENELITIAN

Selama periode bulan Januari sampai Maret 2017 ditemukan 35 pasien DBD yang
memenuhi kriteria penelitian, terdiri dari 12 pasien DBD dengan syok (34,3%) dan 23 pasien
DBD tanpa syok (65,7%). Karakteristik sampel penelitian tertera pada tabel 5.1.
Tabel 5.1 Karakteristik pasien DBD
Karakteristik DBD
Syok Tanpa syok
n=12 n=23
Usia (tahun)
1-4, n (%) 0 (0,0) 4 (16,0)
5-10, n (%) 3 (30,0) 6 (24,0)
>10, n (%) 9 (70,0) 13 (60,0)
Jenis Kelamin
Laki-laki, n (%) 7 (41,2) 10 (58,2)
Perempuan, n (%) 5 (27,8) 13 (72,2)
BB (kilogram), rerata (SB) 33,1 (13,4) 33,4 (12,9)
TB (sentimeter), rerata (SB) 137,3 (12,5) 132,8 (21,0)
Hematokrit (%), rerata (SB) 49,0 (4,4) 42,1 (4,2)
Trombosit (/L), rerata (SB) 47800,0 (30313,3) 58078,0 (21394,3)
Leukosit (/L), rerata (SB) 2448,0 (967,1) 3351,6 (677,2)

Rentang umur sampel pada penelitian yaitu dari yang terkecil 1 tahun sampai yang
terbesar 14 tahun. Dalam tabel 5.1 terlihat bahwa persebaran sampel berdasarkan umur
didominasi oleh anak berusia 10-14 tahun (70,0%) pada kelompok dengan syok dan juga 10-
14 tahun (60,0%) pada kelompok tanpa syok.
Persebaran sampel berdasarkan jenis kelamin menunjukkan persebaran yang cukup
merata antara anak laki-laki dan perempuan dengan persentase masing-masing 48,6% dan
51,4%. Apabila ditelusuri lebih lanjut didapatkan bahwa kelompok anak laki-laki lebih banyak
yang mengalami syok (41,2%) dibandingkan anak perempuan (27,8%).
Rerata BB dan TB pada kelompok syok maupun tanpa syok tidak jauh berbeda, yaitu
pada kelompok syok rerata BB 33,1 13,4 kg dan rerata TB 137,3 12,5 cm, sedangkan pada
kelompok tanpa syok rerata BB 33,4 12,9 kg dan rerata TB 132,8 21,0 cm.

30
Rerata hematokrit lebih tinggi pada kelompok syok yaitu 49,0 4,4%, sedangkan pada
kelompok tanpa syok 42,1 4,2%. Rerata trombosit pada kelompok syok lebih rendah yaitu
47800,0 30313,3/L, sedangkan pada kelompok tanpa syok 59068,0 21394,3/L. Rerata
leukosit pada kelompok syok lebih rendah yaitu 2488,0 967,1/L, sedangkan pada kelompok
tanpa syok 3251,6 677,2/L.
Tabel 5.2 dibawah ini memperlihatkan hubungan antara derajat leukopenia dengan
tingkat keparahan DBD.
Tabel 5.2 Hubungan derajat leukopenia terhadap tingkat keparahan DBD
Rasio Prevalensi
Demam berdarah dengue P value
Derajat (IK 95%)
Leukopenia Syok Non syok
n=12 n=23
2,68 (1,079-
<2500/L,n(%) 7(58,3%) 5(21,7%) 0,038
6,673)
2500/L -
5(41,7%) 18(78,3%)
<5000/L,n(%)
Uji Fisher Exact
Hubungan antara derajat leukopenia dan tingkat keparahan DBD disajikan dalam rasio
prevalensi (RP), didapatkan sebesar 2,68 , dimana dapat diinterpretasikan bahwa leukopenia di
bawah 2500/L dan DBD dengan syok berhubungan secara signifikan (P < 0,05). Interval
kepercayaan 95% sebesar 1,079-6,673.
Rasio prevalensi didapatkan dengan menggunakan rumus :
/( + )
=
/( + )
/
=
/
= ,
Keterangan:
A/(A+B) : Prevalensi subjek dengan faktor resiko positif yang terkena penyakit.
C/(C+D) : Prevalensi subjek tanpa faktor resiko yang terkena penyakit.

Interpretasi hasil:
RP <1 : Leukopenia di bawah 2500/L merupakan faktor protektif terhadap terjadinya
SSD.
RP =1 : Leukopenia di bawah 2500/L bukan merupakan faktor atau tidak berpengaruh
terhadap terjadinya SSD.

31
RP >1 : Leukopenia di bawah 2500/L merupakan faktor resiko atau berpengaruh
terhadap terjadinya SSD.

32
BAB VI
PEMBAHASAN

Kejadian syok pada penelitian ini adalah 34,3%, angka ini lebih rendah bila
dibandingkan dengan yang dilaporkan oleh Mayetti18 yaitu 46% dan Hadinegoro dkk15 37,3%,
namun lebih tinggi dibandingkan dengan yang dilaporkan oleh Hung dkk19 25,7%. Kejadian
syok pada penelitian ini lebih rendah dapat disebabkan oleh faktor penelitian ini dilakukan
dalam jangka waktu yang lebih pendek dan dengan jumlah sampel yang lebih sedikit. Namun
hasil ini masih sesuai dengan prevalensi syok yang didapatkan Hadinegoro dkk15, yaitu bahwa
angka prevalensi syok pada hampir seluruh rumah sakit yang ada di Indonesia berkisar antara
16-40%.
Usia 10-14 tahun merupakan kelompok yang paling banyak mengalami kejadian syok.
Hal ini dapat dijelaskan oleh teori secondary heterologous infection dan antibody dependent
enhancement yang menyatakan bahwa bahwa penyakit dalam bentuk yang lebih berat akan
muncul apabila seseorang setelah terinfeksi virus dengue untuk pertama kali kemudian
mendapatkan infeksi kedua dengan virus dengue serotipe lain, anak-anak dengan usia lebih tua
memiliki kemungkinan lebih besar untuk pernah terpapar lebih dari satu serotipe virus dengue,
dan pada anak-anak tersebut respon imunnya sudah lebih matur sehingga proses inflamasi yang
terjadi dapat lebih berat.2
Jenis kelamin perempuan yang mengalami syok pada penelitian ini 41,2%, angka
tesebut berjumlah 13,4% lebih banyak dibandingkan laki-laki yang mengalami syok, hal ini
didukung oleh penelitian Junia dkk20 dimana ditemukan jenis kelamin perempuan lebih
dominan dibandingkan laki-laki (53,5% dan 46,5%).
Pada penelitian ini ditemukan bahwa hubungan antara derajat leukopenia khususnya
dengan nilai di bawah 2500/L terhadap tingkat keparahan DBD khususnya DBD dengan syok
berhubungan secara signifikan (P < 0,05). Interval kepercayaan 95% didapatkan sebesar 1,079-
6,673, rasio prevalensi (RP) didapatkan sebesar 2,68. Dari nilai rasio prevalensi dapat
diinterpretasikan bahwa leukopenia di bawah 2500/L merupakan faktor resiko atau
berpengaruh terhadap terjadinya SSD. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh
Risniati Yenni dkk6 yang menyatakan bahwa leukopenia dapat digunakan sebagai prediktor
terjadinya syok pada anak dengan DBD (P=0,047 dan OR 2.1 ; 95% CI 1.0-4.5), namun
berlawanan dengan penelitian Tantracheewathorn dkk21 yang mendapatkan bahwa antara
leukopenia dan DBD dengan syok tidak berhubungan (P=0,25 dan OR= 0.5 ; 95% CI 0.1-1.7).

33
BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN

7.1 Simpulan
Terdapat hubungan yang bermakna antara derajat leukopenia khususnya pada nilai
leukosit <2500/L terhadap tingkat keparahan demam berdarah dengue khususnya
DBD dengan syok.

7.2 Saran
Dengan adanya kelemahan dan kekurangan dari penelitian ini, maka saran yang dapat
diberikan antara lain:
1) Diharapkan dapat dilakukan penelitian menggunakan metode yang lebih kuat
dengan jumlah sampel yang lebih besar serta waktu penelitian yang lebih panjang,
sehingga diperoleh hasil yang lebih mewakili dan dapat direpresentasikan dengan
lebih baik pada populasi.
2) Dapat dipertimbangkan untuk menambah jenis variabel yang diteliti yaitu nilai
hitung jenis leukosit.
3) Berdasarkan hasil analisis didapatkan hubungan yang bermakna antara nilai
leukosit <2500/L dengan kejadian syok pada DBD, oleh karena itu penting
dilakukan pemantauan nilai leukosit pada penderita DBD agar dapat mengantisipasi
terjadinya syok pada DBD.

35