Anda di halaman 1dari 40

LAPORAN PRAKTIKUM KALIBRASI

Disusun oleh:
MUHAMMAD NASRULLOH (018 15 081)

AKADEMI TEKNIK ELEKTROMEDIK SEMARANG


2017

1
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami kemudahan


sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Tanpa pertolongan-
Nya mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikannya
dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan
kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu


tentang "Kalibrasi Alat Kesehatan", yang kami sajikan
berdasarkan hasil pembelajaran mata kuliah kalibrasi. Makalah
ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu
yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar.
Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari
Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan

Semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang lebih


luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan
dan kekurangan. Penyusun membutuhkan kritik dan saran dari
pembaca yang membangun. Terima kasih.

2
DAFTAR ISI

Contents
BAB I PENDAHULUAN ............................................................. 5
I.I Latar Belakang ...................................................................... 5
1.2. Rumusan Masalah ............................................................ 6
1.3. Tujuan ............................................................................... 6
1.4. Manfaat ............................................................................. 6
BAB II DASAR TEORI ............................................................... 8
2.1 Definisi Kalibrasi ................................................................. 8
2.2 Fetal Dopler.......................................................................... 9
2.2.1 Pengertian Doppler ........................................................... 9
2.2.2 Sejarah Perkembangan Doppler........................................ 9
2.2.3 Aplikasi Klinis ................................................................ 10
2.2.4 Diagnostik Doppler ......................................................... 10
2.2.5 Prinsip Kerja Mesin 2.4.3. ......... Kalibrasi Baby Incubator
33
2.4.4. Cara kalibrasi ............................................................... 35
2.4.5. Ketidakpastian Pengukuran ......................................... 35
Ultrasonography (USG) Doppler ............................................. 11
2.2.6 Bagian bagian doppler ................................................. 17
2.2.7 Pengertian dan Fungsi Funduscope ................................ 18
2.2.8 Cara kerja Alat Funduscope ............................................ 18
2.2.9 PROSEDUR KALIBRASI ............................................. 19
2.3 Kalibrasi Centrifuge ........................................................... 22

3
2.2.1 Cara Pengoperasian ......................................................... 23
2.2.2 Prosedur kalibrasi............................................................ 24
2.2.3 Pemeriksaan Kinerja Peralatan (Quantitative Task) ....... 27
2.2.4 Pemeliharaan Berkala/Preventive ................................... 30
2.2.4 Referensi/Acuan :............................................................ 30
2.4 KALIBRASI BABY INCUBATOR.................................. 31
2.4.1. Pengertian Baby Incubator .......................................... 31
2.4.2. Komponen Baby Incubator ......................................... 32

4
BAB I

PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang


Perkembangan teknologi medis yang terjadi pada saat
sekarang ini tentu juga harus diikuti dengan faktor akurasi dan
keamanan alat sesuai dengan yang ketentuan yang diinginkan.Setiap
alat dan peralatan terlebih lagi alat kesehatan yang berhubungan
langsung dengan manusia dan sangat kritis (berhubungan dengan
nyawa) wajib dilakukan kalibrasi untuk menjamin kebenaran nilai
keluaran dan keselamatan pemakainya.
Akurasi suatu instrument tidak sendirinya timbul dari suatu
rancangan yang baik, tetapi dipengaruhi oleh kinerja, stabilitas
kehandalan dan pemeliharaan (maintenance).Akurasi hanya timbul
dari kalibrasi yang benar, artinya hasil pengukurannya dapat
ditelusur kembali ke standar nasional ataupun internasional, atas
dasar inilah perlu dilakukan kalibrasi pada instrument dengan teratur.
Kalibrasi peralatan untuk kesehatan dilakukan untuk meningkatkan
mutu pelayanan kesehatan masyarakat, dan ini sejalan dengan
amanatUndang-undang nomor 44 tahun 2009 tentang rumah sakit
pasal 16 ayat 2 bahwa peralatan medis harus diuji dan dikalibrasi
secara berkala (sumber : Undang-undang Republik Indonesia Nomor
44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit).
Mengingat karena alat ini menggunakan frekuensi tinggi dari
arus listrik maka perlu dilakukan analisa, safety dan ketidakpastian
alat electrosurgical dengan melakukan pengukuran daya potong dan
pengukuran kemampuan pengentalan.Dari hasil pengambilan data

5
pengukuran daya potong dan pengambilan data pengukuran daya
pengentalan maka dapat kita analisa keandalan electrosurgical dapat
ditentukan bahwa alat itu dapat bekerja dengan baik dan safety untuk
digunakan.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang dijelaskan penulis dapat
merumuskan dalam pembuatan makalah ini sebagai berikut:

1.2.1. Bagaimana untuk menguji kelaiakan alat Fetal Doppler,


Centrifuge, dan EKG.

1.3. Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum

1.3.1.1. melakukan uji kelaiakan alat Fetal Doppler,


Centrifuge, dan EKG.melalui proses kalibrasi.

1.3.2. Tujuan Khusus

1.3.2.1. Untuk mengetahui langkah-langkah dalam proses


kalibrasi Fetal Doppler, Centrifuge, dan EKG.

1.4. Manfaat
1.4.1. Manfaat Bagi Penulis

1.4.1.1. Melalui hasil kalibrasi, penulis mampu memahami


metode yang digunakan.

1.4.1.2. Maupun mengerti dan memaknai hasil dari kalibrasi


alat Fetal Doppler, Centrifuge, dan EKG.

1.4.1.3. Penulis dapat mengetahui metode dan cara


kalibrasi, sehingga hasil dan uji kelaiakan bisa menentukan
laiak tidaknya alat Electrocardiografi,Defibrilator dan
Spygmomanometer.

6
1.4.2. Manfaat Bagi Pengguna

1.5.2.1. Melalui hasil kalibrasi, teruji tingkat keakurasian


dan kelaiakan pakai sehingga bisa meyakinkan pengguna
untuk digunakan kepada pasien.

1.4.3. Manfaat Bagi Institusi

1.5.3.1. Dapat digunakan sebagai bahan pengetahuan dan


pembelajaran bagi mahasiswa atau adik tingkat dari
kalibrasi Fetal Doppler, Centrifuge, dan EKG.

7
BAB II

DASAR TEORI

2.1 Definisi Kalibrasi


Kalibrasi adalah serangkaian kegiatan yang membentuk, hubungan
antara nilai yang ditunjukkan oleh instrument pengukur atau system
pengukuran, atau nilai yang diwakili oleh bahan ukur, dengan nilai- nilai
yang sudah diketahui yang berkaitan dari besaran yang diukur dalam
kondisi tertentu. ( definisi: Metrologi ).

Kalibrasi menurut definisi Per-Menkes.No. 363 Tahun 1998 adalah


adalah kegiatan peneraan untuk menentukan kebenaran nilai penunjukan
alat ukur dan atau bahan ukur.

Dengan kata lain kalibrasi adalah kegiatan untuk menentukan


kebenaran konvensional nilai penunjukkan alat ukur dan bahan ukur dengan
cara membandingkan terhadap standar ukurnya yang mampu telusur
(traceable) ke standar nasional untuk satuan ukuran dan/atau internasional.
(definisi: DSN)

8
2.2 Fetal Dopler

2.2.1 Pengertian Doppler


Fetal doppler adalah alat diagnostik yang digunakan untuk mendeteksi
denyut jantung bayi yang menggunakan prinsip pantulan gelombang
elektromagnetik. Alat ini sangat berguna untuk mengetahui kondisi
kesehatan janin, dan aman digunakan dan bersifat non invasif.

Doppler juga merupakan alat yang digunakan untuk mendengarkan detak


jantung janinselama masih ada didalam kandungan. Doppler biasanya
terdapat di ruang kebidanan untuk membantu perawat dalam untuk
mengetahui kondisi jantung janin dalam kandungan ibu. Doppler
menggunakan 2 sensor yaitu :
1. Ultrasound Menggunakan transmitter dan receiver, Keuntungannya
lebih peka dan akurat, tetapi harganya lebih mahal.
2. Mikrosound Tidak menggunakan transmitter dan receiver. Hanya
menerima, tidak memancarkan,sehingga kurang peka.

2.2.2 Sejarah Perkembangan Doppler


Prinsip doppler pertamakali diperkenalkan oleh Cristian Jhann Doppler dari
Australia pada tahun 1842. Di bidang kedokteran penggunakaan tekhnik
Doppler Ultrasound pertamakali dilakukan oleh Shigeo Satomura dan
Yosuhara Nimura untuk mengetahui pergerakan katup jantung pada tahun
1955. Kato dan Izumi pada tahun 1966 adalah yang pertama menggunakan
ociloscope pada penggunaan Doppler Ultrasound sehingga pergerakan
pembulauh darah dapat didokumentasikan.

Pada tahun 1968 H. Takemura dan Y. Ashitaka dari Jepang


memperkenalkan penggunaan Doppler velocimetri di bidang kebidanan
dengan menggambarkan tentang spektrum Doppler dari arteri umbilikalis.

9
Sementara itu, di Barat penggunaann velocimetri Doppler di bidang
kebidanan baru dilakukan pada tahun1977. Pada awal penggunaan Doppler
Ultrasound difokuskan pada arteri umbilikalis, tetapi pada perkembangan
selanjutnya banyak digunakan untuk pembuluh darah lainnya.
Sedangkan untuk fetal dopler sendiri diciptakan pada tahun 1958 oleh Dr
Edward H.Hon, yakni sebuah Doppler monitor janin atau Doppler monitor
denyut jantung janin

dengan transduser genggam ultrasound yang digunakan untuk mendeteksi


detak jantung dari janin. Edward menggunakan Efek Doppler untuk
memberikan stimulasi terdengar dari detak jantung. Untuk perkembangan
selanjutnya, alat ini menampilkan denyut jantung janin per menit.
Penggunaan alat ini dikenal sebagai auskultasi doppler.

2.2.3 Aplikasi Klinis


Aplikasi klinis dari Doppler yaitu:

1. Mendeteksi dan mengukur kecepatan aliran darah dengan sel darah


merah sebagai reflektor yang bergerak.

2. Pada bidang kebidanan, fungsi alat ini dispesifikkan untuk menghitung


jumlah dan menilai ritme denyut jantung bayi.

2.2.4 Diagnostik Doppler


Pemeriksaan dengan menggunakan Doppler adalah suatu pemeriksaan
dengan menggunakan efek ultrasonografi dari efek Doppler. Prinsip efek
doppler ini sendiri yaitu ketika gelombang ultrasound ditransmisikan kearah
sebuah reflektor stationer, gelombang yang dipantulkan memiliki frekuensi
yang sama. Jadi, jika reflektor bergerak kearah transmiter, frekuensi yang
dipantulakn akan lebih tinggi, sedangkan jika reflektor bergerak menjauhi
maka frekuensi yang dipantulkan akan lebih rendah. Perbedaan antara
frekuensi yang ditransmisikan dan yang diterima sebanding dengan

10
kecepatan bergeraknya reflektor menjauhi atau mendekati transmiter.
Fenomena ini dinamakan efek Doppler dan perbedaan antar frekuensi
tersebut dinamakan Doppler shift.

Fetal Doppler hanya menggunakan teknik auskultasi tanpa teknik pencitraan


seperti pada velocimetri Doppler maupun USG. Untuk fetal Doppler, agar
bisa menangkap suara detak jantung, transduser ini memancarkan
gelombang suara kearah jantung janin. Gelombang ini dipantulkan oleh
jantung janin dan ditangkap kembali oleh transduser. Jadi, transduser
berfungsi sebagai pengirim gelombang suara dan penerima kembali
gelombang pantulnya (echo). Pantulan gelombang inilah yang diolah oleh
Doppler menjadi sinyal suara. Sinyal suara ini selanjutnya diamplifikasikan.
Hasil terakhirnya berupa suara cukup keras yang keluar dari mikrofon.
Dengan alat ini energi listrik diubah menjadi energi suara yang kemudian
energi suara yang dipantulkan akan diubah kembali menjadi energi listrik.
Pada velocimetri Doppler maupun USG, pencitraan yang diperoleh dan
ditampilkan pada layar adalah gambaran yang dihasilkan gelombang
pantulan ultrasound.

2.2.5 Prinsip Kerja Mesin Ultrasonography (USG) Doppler


Prinsip kerja Ultrasonography Doppler didasarkan pada efek Doppler. Bila
obyek merefleksikan gelombang ultrasonik maka berpindah mengubah
frekuensi pantulan, sehingga membuat frekuensi lebih tinggi. jika
merupakan perpindahan menuju / mendekati probe dan frekuensi lebih
rendah jika merupakan perpindahan menjauhi probe. Seberapa banyak
frekuensi yang diubah tergantung pada seberapa cepat obyek berpindah.
Doppler ultrasonik mengukur perubahan dalam frekuensi pantulan untuk
dihitung seberapa cepat obyek berpindah. Ultrasonik Doppler telah banyak
digunakan untuk mengukur kecepatan aliran darah.

11
kecepatannya dapat ditentukan dan divisualisasikan. Hal ini merupakan
pemakaian khusus dalam pengamatan cardiovascular (sonography dari
sistem vascular dan jantung) dan secara esensial banyak area yang demikian
seperti penentuan aliran darah balik dalam portal hipertensi hati vasculature.

Ultrasonography doppler untuk mengukur aliran darah melalui


jantung

Arah aliran darah ditunjukkan pada layar dengan warna yang


berbeda

Informasi Doppler diperagakan secara grafik dengan menggunakan


spektrum Doppler atau sebagai gambar dengan menggunakan warna Dopller
(directional Doppler) atau power Dopller (non directional Doppler). Dopler
ini mengalami pergeseran turun dalam cakupan suara yang dapat didengar
dan sering pula dipresentasikan dapat didengar dengan menggunakan
speaker stereo, meskipun pulsa suara buatan tetapi menghasilkan suara yang
sangat berbeda.

Pada hakekatnya, mesin ultrasonographic paling modern tidak


menggunakan Efek Doppler untuk mengukur percepatan, sebagaimana telah
dipercayakan pada lebar pulsa Doppler. Mesin lebar pulsa memancarkan
pulsa ultrasonik, kemudian disaklar dalam mode menerima. Dengan
demikian pulsa direfleksikan sehingga yang diterima bukan subyek
pergeseran phasa, melainkan seperti resonansi tidak kontinyu. Oleh karena
itu dengan membuat beberapa pengukuran, pergeseran phasa dalam urutan
pengukuran dapat digunakan untuk mencapai pergeseran frekuensi (karena
frekwensi adalah tingkat perubahan phasa). Untuk mencapai pergeseran
phasa antara sinyal yang dipancarkan dan yang diterima, pada umumnya
digunakan satu dari dua algoritma Kasai atau cross-correlation.

12
Mesin ultrasonography lama yang menggunakan Doppler gelombang
kontinyu atau continue wave (CW), memperlihatkan Efek Doppler seperti
yang telah diuraikan di atas. Untuk melakukan hal tersebut, transduser
pengirim dan penerima harus dipisahkan. Sebagian

besar penggambaran kembali mesin gelombang kontinyu, tidak dapat


memberikan informasi jarak, hal ini merupakan keuntungan besar dari
sistem pulsa wave (PW), dimana waktu antara pengiriman dan penerimaan
pulsa dapat diubah ke dalam informasi jarak dengan mengetahui kecepatan
suaranya. Dalam masyarakat sonograph (walaupun bukan dalam masyarakat
pengolah sinyal), terminology ultrasonik Doppler telah diterima berlaku
pada kedua sistem baik pada sistem Doppler PW maupun sistem Doppler
CW meskipun mempunyai mekanisme yang berbeda untuk mengukur
kecepatan.

Bagian-Bagian Mesin Ultrasonography


Mesin ulltrasonography pada dasarnya terdiri dari bagian-bagian sebagai
berikut :

Probe transduser yang berfungsi mengirim dan menerima gelmbang


suara.

Central Processing Unit (CPU) yang melakukan semua perhitungan dan


berisi sumber daya untuk komputer dan probe transduser.

Pulsa control transduser berfungsi mengubah amplitudo, frekuensi dan


durasi dari pulsa yang diemisikan dari probe transduser.

Monitor yang menampilkan dan memperagakan kandungan, kelenjar


prostat, perut, kandungan, dan gambar dari data ultrasonik yang telah
diproses oleh CPU.

13
Keyboard untuk memasukan data dan mengambil hasil pengukuran untuk
ditampilkan dan diperagakan.

Piranti penyimpan (disket, CD) diperlukan untuk menyimpan gambar yang


dibutuhkan.

Printer untuk mencetak gambar dari tampilan dan peragaan data.

Bagian-bagian mesin ultrasonography

1. Probe Transduser

Probe transduser merupakan alat utama dari mesin ultrasonography. Probe


transduser membuat gelombang suara dan menerima pantulan, atau bisa
dikatakan probe transduser merupakan mulut dan telinganya mesin
ultrasonography. Probe transduser membangkitkan dan menerima
gelombang suara dengan menggunakan prinsip yang dinamakan efek
piezolistrik (tekanan listrik), yang telah diketemukan oleh Pierre dan
Jacques Currie pada tahun 1880. Dalam probe transuser terdapat satu atau
lebih kristal piezolistrik. Bila arus diberikan ke Kristal, maka Kristal dengan
cepat berubah bentuk Kecepatan berubah bentuk atau vibrasi akan
menghasilkan gelombang suara. Sebaliknya bila suara atau tekanan
gelombang dikenakan pada kristal maka akan menghasilkan arus. Oleh
karena itu, beberapa Kristal dapat digunakan untuk mengirim dan menerima
gelmbang suara. Probe transduser juga mempunyai penyerap suara untuk
mengeliminasi pantulan balik dari probe itu sendiri, dan sebuah lensa
akustik untuk membantu memfokuskan emisi gelombang suara.

Probe transduser mempunyai banyak bentuk dan ukuran. Bentuk probe


menentukan pandangan bidang dan frekuensi emisi gelombang suara,
kedalaman penetrasi gelombang suara dan resolusi gambar. Probe
transduser mungkin berisi satu atau lebih elemen Kristal, dalam probe

14
multiple elemen Kristal, setiap Kristalnya memiliki rangkaian sendiri. Probe
multiple elemen Kristal memiliki keuntungan bahwa berkas dapat
dikendalikan dengan mengubah waktu pengambilan pulsa setiap elemen,
pengendalian berkas penting, khususnya pada cardiac ultrasononography.
Probe transduser dapat dipindahkan sepanjang permukaan tubuh, dan
banyak probe transduser yang dirancang untuk dapat disisipkan melalui
variasi lubang tubuh (seperti vagina, dubur) sehingga dapat lebih membuka
organ yang diperiksa (seperti kandungan, kelenjar prostat dan perut. Dengan
lebih membuka organ tubuh tersebut memungkinkan untuk melihat lebih
detail.

2. Central Processing Unit (CPU)

CPU merupakan otak mesin ultrasonography. Pada dasarnya CPU


merupakan unit pengolah atau pemroses dari sebuah komputer yang berisi
chip mikroprosessor, penguat dan power supplay untuk mikroprosesor dan
probe transduser. CPU mengirim arus listrik ke probe tansduser untuk
mengemisikan gelombang suara dan

juga menerima pulsa listrik dari probe pantulan. CPU melakukan semua
perhitungan meliputi pemrosesan data. Satu bahan data diproses, CPU
membentuk gambar dalam monitor. CPU dapat juga menyimpan data yang
telah diproses atau menyimpan pada disk.

3. Transduser Pengontrol Pulsa

Transduser pengontrol pulsa memungkinkan operator yang disebut


ultrasonographer mengatur dan mengubah frekuensi dan durasi pulsa
ultrasonik, sebagus scan mode mesin. Komando dari operator diterjemahkan
ke dalam perubahan arus listrik yang diaplikasikan pada kristal piezolistrik
yang merupakan probe transduser.

15
4. Monitor Peraga

Monitor Peraga berupa monitor computer yang menunjukkan pemrosesan


data dari CPU. Monitor Peraga ada yang hitam putih dan juga ada yang
berwarna tergantung dari jenis model mesin ultrasononography.

5. Keyboard/Cursor

Mesin ultrasonography memiliki keyboard dan kursor. Piranti ini


memungkinkan operator menambah catatan dan pengukuran dalam
melakukan pengambilan data pengukuran.

6. Disk Storage

Data dan atau gambar yang diproses dapat disimpan dalam disk. Disk bisa
berupa hardisk, floppy disk, flash disk, compact disk (CD) dan digital video
disk (VCD dan DVD). Pada umumnya pasien scan ultrasonography
menyimpan data dan atau gambar pada flash disk yang dilengkapi dengan
arsip catatan medis pasien.

7. Printer

Mesin Utrasonography kebanyakan mempunyai printer thermal yang dapat


digunakan untuik mencetak gambar hardcopy dari gambar yang
diperagakan.pada monitor.

Fetal Doppler memberikan informasi tentang janin mirip dengan yang


disediakan oleh stetoskop janin . Satu keuntungan dari fetal Doppler
dibanding dengan stetoskop janin (murni akustik) adalah output audio
elektronik, yang memungkinkan orang selain pengguna untuk mendengar
detak jantung. Fetal dopler juga mempermudah seorang bidan dalam

16
menghitung denyut jantung janin tanpa harus berkonsentrasi penuh dalam
menghitung DJJ.

Fungsi Doppler adalah untuk mendeteksi detak jantung pada janin, yang
biasanya digunakan pada usia kehamilan 16 minggu keatas.

Cara Kerja Blok Diagram Doppler


Doppler menggunakan frekuensi sebesar 2,25 MHz yang digunakan
untuk mendeteksi detak jantung janin usia 16 minggu, frekuensi
dibangkitkan oleh oscilator kemudian dipancarkan oleh transmitter ke media
pengukuran dan hasil pengukuran diterima kembali oleh reciever, lalu sinyal
masuk ke pre-amp untuk dikuatkan kemudian disaring melalui filter dan
dikuatkan oleh amplifier (penguat akhir). Kemudian output dari amplifier
masuk ke ADC (analog to digital converter) dirubah menjadi data digital.
Kemudian ditampilkan jumlah detakan jantung janin yang terukur melalui
display dan speaker.

Cara Pengoperasian
1. Tekan tombol ON/OFF untuk menghidupkan Doppler

2. Beri GEl pada tranduser

3. Letakkan tranduser pada objek

4. Settingan volume agar detak jantung janin terdengar melalui speaker

5. Hitung detak jantung janin selama 1 menit

6. Detak janin akan ditampilkan pada display

2.2.6 Bagian bagian doppler


Keterangan

17
Tranduser : ini diletakkan diatas obyek (perut). Dalam tranduser ini
terdapat : oscilator yang mengbangkitkan frekuensi, transmitter
memancarkan frekuensi yang dibangkitkan oscilator, reciver menerima
frekuensi yang terpantulkan oleh obyek.

Settingan volume : untuk mengatur tinggi rendahnya suara.

Speaker : untuk mengubah sinyal listrik menjadi sinyal suara.

Display : sebagai penunjukan nilai denyut jantung yang terukur.

2.2.7 Pengertian dan Fungsi Funduscope


Funduscope adalah alat yang digunakan untuk mendeteksi / mendengarkan
denyut jantung janin. Alat ini fungsi hampir sama dengan Stetoskop

2.2.8 Cara kerja Alat Funduscope


dalam menggunakan alat funduscope ini, sebelum menggunakan
funduscope lakukan pemeriksaan leopold terlebih dahulu pada ibu hamil
pada usia kehamilan sekitar 16 minggu. Jika pemeriksaan leopold sudah
dilakukan dan sudah menemukan bagian punggung janin di sebelah kanan /
kiri ibu pada pemeriksaan leopold 2 biasa dikenal dengan puka( punggung
kanan ) / puki ( punggung kiri ). Letakkan funduscope pada perut ibu sesuai
dengan posisi puka / puki pada janin, dengarkan detak jantung janin sambil
memegang tangan ibu untuk merasakan nadi ibu, jika kecepatan djj sama
dengan nadi ibu berarti itu bukan djj tapi nadi ibu. DJJ normal : 120 160
x/menit.

Cara menghitung djj ada tiga cara, antara lain :

1. Hitung Djj selama 1 menit penuh.

2. Hitung Djj selama 30 detik kemudian hasil x 2.

18
3. Hitung Djj 5 menit pertama dihitung

5 menit kedua tidak dihitung

5 menit ketiga dihitung

5 menit keempat tidak dihitung

5 menit kelima dihitung

Kemudian hasilnya x 4.

2.2.9 PROSEDUR KALIBRASI

Peralatan yang digunakan :

Fetal Doppler LCD Lotus

Spesifikasi :

1. Power: 9.6V rechargerable atau 9v Dry Cell


2. Ultrasonic frequency: 2.5 Mhz+-0,25Mhz
3. Ultrasonic Intensity: d5MW/C
4. Work Time: 6jam
5. Backlight LCD display warna Biru
6. FHR display Angka
7. Fetal heart beat flash indicator
8. Warning abnormal FHR
9. Charging indicator

Fetal Simulator PS320

Spesifikasi :

1. Rates : 30, 60, 90, 120, 150, 180, 210, dan 240Bpm

19
2. ECG sensitivity: 50V, 100 V, 200 V, 0.5mV, 1mV, dan 2mV
3. Display : 2-line x 16-character LCD with keypad
4. Power : 9V battery/battery eliminator, low battery indication set at
6V
5. Housing: plastic case
6. Dimension 6.1 L x 3.7 Wx 1.3 H (15.6cm L9.4cm Wx3.4cm H)
7. Weight: 0.9 lb (0.4Kg)
8. Temperature: 15-35oC, operating 0-50oc
Rentang Ukur : BPM : 30bpm s/d 240 bpm

Langkah langkah Kalibrasi :


I. Persiapan
1. Lakukan pendataan administrasi meliputi :
1. data alat yang akan dikalibrasi ,
2. data alat alat kalibrator yang digunakan,
3. dan data pelaksanaan kalibrasi.
4. Lakukan pemeriksaan fisik dan fungsi alat yang akan dikalibrasi.
II. Kalibrasi

1. Lakukan instalasi fetal doppler dan fetal simulator seperti gambar dibawah :

Periksa tombol tombol fungsi Fetal Doppler, dan Fetal Simulator untuk
memastikan fungsi alat.

20
Hidupkan alat ukur Fetal Simulator dan Fetal Doppler yang akan diukur
untuk pemanasan 10 menit.
Pasangkan konektor SMFH ke Fetal Simulator pada US1, seperti pada
gambar

Berikan gel pada probe Fetal Doppler dan tempelkan probe pada SMFH
tepat pada lingkaran sensor, seperti pada gambar

Tentukan titik setting untuk pengukuran heart rate : 30 bpm, 60 bpm, 120
bpm, 180 bpm dan 240 bpm.
Lakukan pengukuran dimulai dari titik setting 30 bpm sampai dengan titik
setting 240 bpm.
Lakukan pengukuran sampai 6 kali pengambilan data.
Catat hasilnya kedalam lembar kerja sesuai dengan data yang diperoleh.

III. Penyelesaian
1. Lepaskan Fetal Simulator dari Fetal Doppler dan kembalikan masing
masing alat beserta dengan accesoriesnya ke posisinya semula.
Daftar Pustaka

Manuaba. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Penerbit EGC, Jakarta.


Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran Bandung.1983. Obstetri Fisiologi. Penerbit: Eleman, Bandung.
Mochtar, rustam. 2001. Sinopsis Obstetri. Penerbit : EGC, Jakarta.

21
2.3 Kalibrasi Centrifuge
Centrifuge adalah suatu alat yg digunakan utk memisahkan senyawa dgn
berat molekul yg berbeda dgn memanfaatkan gaya centrifuge. Besarnya
gaya centrifuge tergantung dari besarnya jari-jari dari titik pusat dan
kecepatan sudut.

Centrifuge dalam mikrobiologi digunakan untuk mengendapkan atau


memekatkan sel mikroorganisme sehingga dapat dipisahkan antara medium
(supernatan) dan selnya yang mengendap (natan). Centrifuge modern
umumnya dapat mencapai daya sentrifugasi 3000g yang merupakan
kekuatan yang cukup untuk mendepositkan bekteri dalam waktu yang tidak
terlalu lama. Menurut Collins et al.(2004), untuk keperluan mikrobiologis
seperti fungsi diatas, dapat digunakan centrifugedengan kecepatan
maksimum 4000 rpm yang dapat menampung 15-50 ml kultur. Sebaiknya
dipilih tabung centrifuge yang memiliki tutup
berulir. Centrifuge denganswing-out head (tabung centrifuge yang dapat
berayun) lebih aman dibandingkan dengan angle head (dudukan tabung
miring) karena menekan terbentuknya aerosol jika menggunakan tabung
yang tidak bertutup.
SPESIFIKASI ALAT
Nama alat : Centrifuge
Merk : Table Top Centrifuge Plc 03 series
Produksi : Germany Industrial Corp
Buatan : Taiwan
Tegangan : 230 VAC
Frekuensi : 50 Hz
Fuse : 0,65 Amp
Rotor : A 0815
Capasity : 8 x 15 mL
Max Rpm : 4500 rpm

22
Fungsi pesawat/alat

Centrifuge adalah suatu alat yang digunakan untuk memisahkan suatu


larutan dengan berat molekul yang berbeda berdasarkan gaya centrifugal.
Biasa juga digunakan untuk memisahkan serum dan darah beku.
Adapun bagian-bagian dari centrifuge yaitu:

o Motor : kecepatan motor yang tinggi akan menghasilkan


gaya sentrifugal yang tinggi.

o Speed Control : untuk mengatur kecepatan motor agar


sesuai dengan kebutuhan tanpa speed control motor akan
berputar dengan kecepatan maksimum

o Timer : berfungsi untuk mengatur lamanya alat bekerja


o Break system : pengereman motor diperlukan agar putaran
motor dapat dengan segera dihentikan

2.2.1 Cara Pengoperasian


Periksa spesifikasi elektrik alat untuk mengetahui tegangan yang dibutuhkan
Hubungkan pesawat dengan jala-jala PLN
Letakkan sampel dalam alat dengan posisi diagonal (berhadapan) untuk
menjaga kkeseimbangan rotor.
Tutup kembali tempat sampel
Atur kecepatan yang dibutuhkan
Tentukan waktu yang dibutuhkan dengan tombol switch timer untuk
menghidupkan alat maka indikator akan menyala
Alat akan bekerja sesuai dengan timer yang ditentukan
Jika alat selesai digunakan cabut alat dari hubungan jala-jala PLN

23
2.2.2 Prosedur kalibrasi

1. Lingkup : Prosedur ini digunakan pada peralatan centrifuge low speed


dan high speed
2. Level Resiko : Medium
3. Nama Lain : Sentrifuge
4. Penggunaan : laboratorium klinik, laboratorium kesehatan di rumah
sakit, unit transfusi darah atau bank darah
5. Pengantar : Centrifuge merupakan alat laboratorium yang memanfaatkan
gaya sentrifugal , yaitu gaya yang timbul akibat benda yang diputar dari satu
titik sebagai porosnya . Fungsinya untuk memisahkan partikel dari satu
benda cair atau dengan kata lain memisahkan benda cair dari kepadatan
yang berbeda .benda cair ini merupakan cairan tubuh , contoh darah , serum
, air seni , bahan reaksi lainnya , atau campuran dari kedua duanya dengan
zat tambahan lain.

Secara umum centrifuge diklasifikasikan menjadi 3 kategori, antara lain :


- Centrifuge berkecepatan rendah (low speed), 6000 rpm
- Centrifuge berkecepatan tinggi (high speed), 6000 rpm ~ 25.000 rpm
- Centrifuge berkecapatan sangat tinggi (ultra high speed), 25.000 rpm ~
110.000 rpm

Sebelum memulai pekerjaan pemeliharaan, perhatikan buku petunjuk


yang diberikan oleh pabrik pembuat peralatan dan pastikan mengerti cara
penggunaan peralatannya. Gunakan alat pelindung diri sederhana
seperti, sarung tangan dan masker saat melakukan pemeliharaan.

24
7. Pemeriksaan Kualitas Peralatan (Qualitative Task)
a. Chasis/Selungkup

- Periksa kebersihan dan kondisi peralatan secara umum.

- Pastikan semua konektor terhubung dengan baik dan kencang

- Periksa/pastikan tidak ada tanda retak/pecah pada selang atau botol.

- Periksa dan pastikan tidak ada tanda/bekas tumpahan/bocor.

b. Sistem Pengunci
- Untuk alat yang diletakan pada meja yang bergerak, periksa kondisi baut
penguncinya.

c. Steker Tegangan Jala-jala


- Periksa kondisi steker, pastikan ujungnya bersih dan tidak meleleh.

- Kocok-kocok steker untuk memastikan tidak ada baut pengunci yang


lepas/kendur.

d. Kabel Sumber Tegangan Jala-jala


- Periksa kondisi kabel baik dan bersih, tidak ada tanda-tanda
kerusakan/terbakar.
- Ganti dengan ukuran kabel yang sama jika kabel rusak/putus.
- Periksa kelenturan kabel pada kedua ujungnya.

25
e. Rangkaian Pemutus Arus/Sekering
- Periksa kondisi rangkaian pemutus arus atau sekering/fuse.
- Pastikan nilai sekering sesuai dengan spesifikasi seperti pada label .

f. Saklar/tombol Pengaturan
- Sebelum mengatur/memutar saklar/tombol perhatikan posisinya.
- Periksa semua kondisi saklar atau tombol berfungsi baik dan bersih.
- Pastikan saklar/tombol melekat dengan kencang/tidak kendur.
- Periksa pembatas putaran saklar/tombol berfungsi baik.
- Untuk tombol/saklar berjenis membran, pastikan membran tidak
rusak/robek.

g. Motor/Rotor
- Pastikan kondisi fisik motor/pompa baik dan bersih.
- Pastikan motor atau rotor berfungsi normal/berputar
- Periksa sikat arang, komutator, bearing pada motor
- Periksa kondisi gasket, seal dan penguncinya
- Periksa kondisi rotor

h. Sistem Pengereman Putaran


- Periksa fungsi sistem pengereman baik secara mekanik atau elektrik
- Pastikan putaran centrifuge melambat saat tombol stop/emergency ditekan.

i. Indikator dan Layar penunjuk


- Selama proses pemeriksaan pastikan semua lampu indikator berfungsi
baik/nyala.
- Pastikan semua segmen pada layar menyala dan terbaca dengan jelas

j. Sistem Alarm/Interlock
- Selama proses pemeriksaan pastikan sistem alarm/interlock bekerja.

26
- Untuk centrifuge yang memilik mekanisme penutup berengsel, periksa
fungsi sistem interlocknya, seperti limit switch.
- Buka penutup tadi kemudian tekan tombol start, pada posisi ini centrifuge
tidak boleh berputar.
- Tekan limit switch, kemudian tekan tombol start, pada posisi ini centrifuge
dapat berputar. Jika demikian berarti sistem intelock/pengaman bekerja
dengan baik.

k. Label/Penandaan Alat
- Periksa semua label/penandaan identitas alat.
- Periksa ketersediaan petunjuk penggunaan alat.
- Periksa ketersediaan kartu catatan pemeliharaan alat.

l. Kelengkapan/Asessoris
- Pastikan semua kelengkapan centrifuge ada, seperti, sample buckets dan
sample holder ada.

2.2.3 Pemeriksaan Kinerja Peralatan (Quantitative Task)


a. Tahanan Pentanahan (Grounding Resistance)

- Gunakan Ohm-meter, Electrical safety analyzer atau Multimeter dengan


resolusi yang baik ukur tahanan pentanahannya.

- Ukur dan catat nilai tahanan antara ujung kabel ground pada kabel power
dengan metal pada chasis selungkup yang tidak dicat pada alat.

- Nilai tahanannya tidak boleh melebihi 0,5 .

27
b. Arus Bocor pada Chasis/Selungkup

- Ukur arus bocor chasis ke ground dengan penghantar grounding yang


terhubung pada steker dibuka untuk sementara waktu.

c. Akurasi Pewaktu Lamanya Putaran (menit)

- Siapkan peralatan Stopwatch


- Hubungkan Centrifuge ke sumber tegangan.
- Tentukan titik ukur pewaktu pada titik 5 menit
- Atur pewaktu lamanya putaran (timer) pada posisi 5 menit.
- Tekan tombol start pada centrifuge dan stopwatch secara bersama-sama.
- Saat pewaktu di centrifuge menunjukkan nilai 5 menit, baca penunjukkan
waktu di Stopwatch dan catat pada lembar kerja.
- Lakukan pengambilan data pengukuran sebanyak 2 (dua) kali.
- Hitung rata-rata dari ke dua nilai tersebut dan tentukan nilai koreksinya.
- Nilai toleransi yang diijinkan 10 %
.
d. Akurasi Kecepatan Putaran (rpm)
- Tentukan titik ukur pada nilai 20%, 40%, 50%,60%,70%, 80% dan 90%
dari nilai kapasitas maksimum kecepatan putar centrifuge.
- Siapkan Digital Tachometer, pastikan battere dalam keadaan baik
- Pilih mode pengukuran putaran pada MODE PHOTO/RPM.
- Siapkan centrifuge.
- Buka penutup wadah cuvet centrifuge.
- Rekatkan solasi/stiker berwarna gelap (hitam) di tengah wadah cuvet yang
berputar.
- Rekatkan pula stiker reflector pada bagian yang gelap tersebut.
- Tutup kembali penutup wadah centrifuge.
- Hubungkan kabel catu daya centrifuge ke sumber tegangan jala-jala/PLN.
- Atur lamanya waktu putaran centrifuge pada posisi 10 menit.
- Atur putaran centrifuge pada nilai 20% dari putaran maksimal

28
- Posisikan tachometer tegak lurus di atas replector.
- Tunggu beberapa saat/detik hingga putaran centrifuge stabil.
- Setelah putaran centrifuge stabil, lakukan pengamatan kecepatan putaran
centrifuge tersebut.

- Jika hasil pengamatan/pembacaan pada tachometer sudah stabil, catat


hasilnya pada lembar kerja.
- Lakukan pengukuran 2 (dua) kali untuk setiap titik ukurnya.
- Lanjutkan pengukuran untuk titik pengaturan yang lainnya.
- Toleransi yang diijinkan adalah 10 %.
- Setelah selesai pengukuran kecepatan putaran, lepas isolasi dan reflector
dari wadah cuvet dan bersihkan bagian tersebut serta rapikan peralatan.

e. Akurasi Suhu (untuk type refrigerated centrifuge)


- Buka cover penutup wadah cuvet
- Letakan tabung penyeimbang, satu tabung berisi glycerin ke dalam lubang
cuvet
- Atur suhu yang ingin dicapai sesuai dengan SOP
- Masukan probe/sensor suhu dari thermometer ke dalam tabung yang berisi
glycerin
- Jika kondisi suhu sudah sesuai/tercapai, catat nilainya pada lembar kerja
- Tutup wadah cuvet dan putar centrifuge dengan kecepatan serta waktu
putar sesuai dengan penggunaannya.
- Setelah centrifuge berhenti berputar, buka tutup wadah cuvet
- Segera ukur suhu tabung berisi glycerin tadi, catat nilainya pada lembar
kerja.

29
- Bandingkan nilai hasil pengukuran dengan nilai settingnya
- Hitung koreksi dari kedua keadaan tersebut.
- Toleransi koreksi yang diijinkan adalah 3C

2.2.4 Pemeliharaan Berkala/Preventive


- Bersihkan seluruh permukaan luar alat.dengan cairan pembersih.
- Bersihkan wadah kuvet dan pastikan kering.
- Beri pelumasan untuk bagian yang bergerak sesuai instruksi dari pabrik
pembuat.
- Ganti bagian-bagian yang mengalami penurunan kerja.

2.2.4 Referensi/Acuan :
- Emergency Healthcare Research Institute (ECRI) 456-20010301
- Manual Maintenance for Laboratory Equipment, 2nd Edition, World
Health Organization (WHO) 2008
- Equ 12-01-G, Centrifuge Calibration Verification-Guidelines, SMILE
Johns Hopkins University Baltimore MD-USA, 26 February 2007

30
2.4 KALIBRASI BABY INCUBATOR

2.4.1. Pengertian Baby Incubator


Baby Incubator adalah sebuah wadah tertutup yang
kehangatan lingkungannya dapat diatur dengan cara memanaskan
udara dengan suhu tertentu yang berfungsi untuk menghangatkan
bayi. Kondisi panas akan diserap melalui perantara jaringan kulit
kealiran darah. (Lihat gambar 2.1).
Adapun fungsi baby incubator adalah:
1. Oksigenasi, melalui oksigen suplemen dengan tudung kepala
atau kanula hidung, atau bahkan saluran udara tekanan positif
continue (CPAP) atau ventilasi mekanik. Bayi dengan
sindrom gangguan pernafasan adalah penyebab utama
kematian bayi prematur, dan ini dapat diminimalisasi oleh
fungsi dari CPAP, selain itu juga dengan mengelola surfaktan
dan menstabilkan gula darah, cairan fisiologis tubuh dan
tekanan darah.
2. Observasi, perawatan intensif neonatanmodern yang canggih
meliputi pengukuran suhu, respirasi, fungsi jantung,
oksigenasi, dan aktivitas otak.
3. Perlindungan dari suhu dingin, infeksi, kebisingan, draft dan
penanganan kelebihan inkubator dapat digambarkan sebagai
bassinets tertutup dalam plastik, dengan peralatan kontrol
suhu yang dirancang untuk menjaga mereka tetap hangat dan
membatasi eksposur merekea terhadap kuman.
4. Penyediaan gizi melalui sebuah intravena kateter atau NG
tube.
5. Administrasi obat (pemberian obat-obatan).

31
6. Mempertahankan keseimbangan cairan dengan menyediakan
cairan dan menjaga kelembaban udara, baik kelembaban
yang tinggi dari kulit dan penguapan dari pernafasan bayi.

2.4.2. Komponen Baby Incubator


Bagian-bagian baby incubator adalah sebagai berikut:
1. Pintu untuk memasukkan bayi
Pintu dapat dibuka untuk memasukkan atau mengeluarkan bayi
yang dirawat.
2. Pintu untuk mengadakan tindakan
Pintu ini digunakan untuk mengadakan tindakan pada bayi
misalnya memeriksa suhu, membetulkan posisi bayi, dan lain-
lain.
3. Tempat bayi
Ruang tempat bayi sebaiknya terbuat dari bahan sejenis plastik
atau acrylic, jangan dari jenis kaca.Sebab dikhawatirkan bila
terbuat dari bahan jenis kaca apabila terjadi kecelakaan kaca
tersebut dapat melukai bayi.
4. Panel control
Pada panel kontrol ini terdapat saklar on dan off, pengatur suhu,
penunjuk suhu yang ada di dalam ruang tempat bayi, lampu
indikator, dan lain-lain.
5. Tempat tidur bayi
Merupakan tempat meletakkan bayi, terbuat dari bahan yang
empuk dan dilapisi bahan yang tidak tembus air, sehingga pada
saat bayi mengompol, air tidak sampai masuk ke dalamnya.
6. Lubang untuk memasukkan atau membuang air
Berfungsi untuk menambah atau membuang air yang sudah lama
digunakan.Lubang ini juga sekaligus untuk mengetahui banyak
sedikitnya air yang ada.
7. Box

32
Di dalam box ini terdapat tempat air, pemanas, blower, dan
rangkaian listrik.
8. Di bagian belakang terdapat saluran untuk memasukkan 02 bila
diperlukan untuk pemberian O2.
9. Temperatur probe

2.4.3. Kalibrasi Baby Incubator


A. Komponen yang dikalibrasi
Adapun pengujian dan kalibrasi yang dilakukan terhadap
baby incubator meliputi dua unsur penting, yaitu:
1. Uji kualitatif yaitu untuk mengetahui kondisi lingkungan, kondisi
fisik dan fungsi komponen alat kesehatan yang meliputi:
a. Pengukuran kondisi lingkungan: catu tegangan, konsumsi
arus, suhu dan kelembaban ruangan, ini dilakukan dengan
avometer, thermometer, hygrometer.
b. Pemerisaan kondisi fisik dan fungsi komponen yang ada
pada alat meliputi:
1) Chassis (selungkup)
2) Sekering
3) Tanda atau tampilan
4) Assesoris
5) Kotak kontak
6) Konektor
7) Baterai charger
8) Kabel jala-jala
9) Chamber
10) Temperature probe
11) Matras dan Alarm
12) Sistem perekaman suhu kelembaban
13) Label spesifikasi alat
2. Uji kuantitatif yaitu kegiatan pengukuran untuk mengetahui
keselamatan kerja dan kinerja alat kesehatan yang meliputi:

33
a. Pengukuran keselamatan listrik meliputi: tahanan isolasi
catu daya, impendasi pembumiaan alat, arus bocor pada
chassis (selungkup) dengan menggunakan alat Safety
Analyzer.
b. Pengukuran pemeriksaan kinerja baby incubator
menggunakan incubator analyzeryang meliputi: pengukuran
parameter kinerja baby incubator.
B. Kalibrator
Untuk mengetahui seberapa besar deviasi dari Design
Pengatur Kelembaban dan Monitoring Temperatur Baby Incubator,
diperlukan alat ukur standar yang telah terkoreksi.Dalam hal ini
menggunakan alat standar suhu dengan Merk Fluke Type INCU
yang salah satu parameternya mampu mengukur kelembaban dan
temperatur dengan resolusi 0.1oc.(Lihat gambar2.2).
Bagian-bagian pada incu analyser:
1) Temperature Sensor T1: digunakan utuk pengukuran
Convection.
2) Temperature Sensor T2: digunakan untuk pengukuran
Convection atau pengukuran.
3) Radiant, digunakan dengan radiant baby adapter supplai
dengan INCU.
4) Temperature Sensor T3: digunakan utuk pengukuran
Convection.
5) Temperature Sensor T4: digunakan untuk pengukuran
Mattress Temperature, dibuat dari kondisi
6) Relative Humidity: terletak di dalam cover sebelah kanan
pada top cover (cover harus dibuka untuk proper
pengukuran)
7) Air Flow: Detachable for storage.
8) ON/OFF Switch: tombol untuk penekanan power on/off
INCU automatis.

34
9) Temperature Probe Holder: di gunakan untuk hold
temperature probe T2 ketika terjadi pengukuran convection.
10) Sound Sensor: Internal Microphone di gunakan untuk
pengukuran sound.
11) RS-232 port : 9 pin D tipe conector jantan

2.4.4. Cara kalibrasi


Sebelum pengujian dan pendataan dilakukan, pasang
Incubator analyzer untuk semua sensor pada tempat yang
telah ditentukan , dengan meletakan sensor T1 dan T2 pada
Temperature Probe Holder dan Sensor T3 padaRadiant Baby
Asembly.
Tempatkan sensor Temperatur dan kelembaban pada Baby
Incubator. (Lihat gambar 2.3)
Masukan selang uap air pada Baby Incubator. (Lihat gambar
2.4)

2.4.5. Ketidakpastian Pengukuran


Ketidakpastian terdapat dua jenis evaluasi yaitu tipe A dan
tipe B. Evaluasi ketidakpastian pengukuran tipe A dilakukan dengan
menggunakan metode statistik untuk menganalisa satu set
pengukuran yang berulang. Sedangkan evaluasi ketidakpastian
pengukuran tipe B menggunakan suatu cara selain analisis statistik.
Untuk lebih jelasnya dibawah ini adalah evaluasi ketidakpastian
pengukuran tipe A dan tipe B beserta rumus yang digunakan :
1. TIPE A
UA1
Mencari nilai rata-rata (mean) dari data yang
didapatkan pada kalibrasi dengan menggunakan
rumus:

35
dimana : xi = nilai sampling
n = banyaknya sampling
Menghitung standart deviasi dengan menggunakan rumus
:

Dimana :S(xi) = standart deviasi


Menghitung standart uncertainty tipe A1 (Ua1) atau
ESDM (Experimental Standart Deviation of the Mean)
dengan menggunakan rumus :

UA2
Nilai SSR ( Sum Square of the Residual) dapat
dinyatakan dengan persamaan :

Dimana : SSR = Sum Square of Residual


yi = data pengukuran
a,b = konstanta
xi = setting
Untuk menghitung nilai a dan b dapat menggunakan
persamaan dibawah ini :

Sebaran data disekitar kurva dapat dijelaskan dengan


suatu variasi (Var) yang dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan :

36
dimana : v = bilangan
derajat kebebasan = n-2
Perkiraan deviasi standart dari kurva dapat dihitung
dengan menggunakan persamaan :
S = Var
Ketidakpastian standartnya adalah :
UA2 = S
2. TIPE B
Evaluasi ketidakpastian pengukuran tipe B diperoleh dengan
cara selain analisa statiastik, umumnya diperoleh dari pertimbangan
pengetahuan dengan menggunakan informasi yang berhubungan
antara lain :
- Data dari spesifikasi alat (diambil dari buku panduan alat)
- Data dari hasil kalibrasi (diambil dari sertifikat kalibrasi)
- Resolusi pembacaan dari alat ukur.
Sebagai contoh bila diambil nilai ketidakpastian alat ukur
atau kalibrator atau sertifikat kalibrasi maka ketidakpastian standart
tipe B dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

dimana : U = ketidakpastian dari sertifikat kalibrasi


k = bernilai 2 untuk tingkat kepercayaan 95 % dari U
Setelah diperoleh nilai ketidakpastian standart tipe A dan tipe B
maka selanjutnya dicari nilai ketidakpastian gabungan (kombinasi)
yang dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

dimana : Uc = ketidakpastian gabungan (kombinasi)


Ui = ketidakpastian standart tipe A atau tipe B

37
Untuk memperoleh nilai k, maka dicari nilai dari derajat
efektifitas dengan menggunakan persamaan :

dimana : Veff = Derajat kebebasan efektif


UAI = Ketidakpastian tipe A = ESDM
UA2= Ketidakpastian tipe A dari metode kuadrat
terkecil Ubi, Ub2 = ketidakpastian tipe B
vAi, vA2 = Derajat kebebasan tipe A
vBi, vB2 = Derajat kebebasan tipe B
Setelah dihitung nilai derajat kebebasan efekttifnya (Veff)
maka faktor pembaginya (k) dapat dicari dari tabel T-student dengan
kepercayaan 95 %.
Ketidakpastian bentangan merupakan hasil akhir dari
ketidakpastian pengukuran, nilai tersebut dapat dihitung dengan
menggunakan rumus :
U = k x Uc

38
LAMPIRAN
Gambar 2.1

Gambar 2.2

Gambar 2.3

39
Gambar 2.4

40