Anda di halaman 1dari 16

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN KELAINAN

JANTUNG KONGENITAL

(ATRIAL SEPTAL DEFECT)

OLEH :

KELOMPOK III

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA
PPNI BALI
2009
NAMA KELOMPOK :

1. PUTU GEDE ARIP DARMA PUTRA (08.321.0116)

2. KADEK FRISKA FIOLINA WINDIYANI (08.321.0141)

3. GUSTI AYU OMY ARYANI (08.321.0226)

4. NI LUH PUTU ETY JUNIAWATI (08.321.0246)

5. NI LUH SRI ASTINI (08.321.0150)


ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN KELAINAN
JANTUNG KONGENITAL

(ATRIAL SEPTAL DEFECT)

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Definisi
Atrial Septal Defect / ASD (defek septum atrium) adalah kelainan jantung
kongenital dimana terdapat lubang (defek) pada sekat (septum) inter-atrium
yang terjadi oleh karena kegagalan fusi septum interatrium semasa janin.
ASD(Atrial Septal Defect) merupakan kelainan jantung bawaan tersering
setelah VSD (ventrikular septal defect). Dalam keadaan normal, pada
peredaran darah janin terdapat suatu lubang diantara atrium kiri dan kanan
sehingga darah tidak perlu melewati paru-paru. Pada saat bayi lahir, lubang ini
biasanya menutup. Jika lubang ini tetap terbuka, darah terus mengalir dari
atrium kiri ke atrium kanan (shunt). Maka darah bersih dan darah kotor
bercampur.
Atrial Septal Defect adalah adanya hubungan (lubang) abnormal pada sekat
yang memisahkan atrium kanan dan atrium kiri. Kelainan jantung bawaan
yang memerlukan pembedahan jantung terbuka adalah defek sekat atrium.
Defek sekat atrium adalah hubungan langsung antara serambi jantung kanan
dan kiri melalui sekatnya karena kegagalan pembentukan sekat. Defek ini
dapat berupa defek sinus venousus di dekat muara vena kava superior,
foramen ovale terbuka pada umumnya menutup spontan setelah kelahiran,
defek septum sekundum yaitu kegagalan pembentukan septum sekundum dan
defek septum primum adalah kegagalan penutupan septum primum yang
letaknya dekat sekat antar bilik atau pada bantalan endokard. Macam-macam
defek sekat ini harus ditutup dengan tindakan bedah sebelum terjadinya
pembalikan aliran darah melalui pintasan ini dari kanan ke kiri sebagai tanda
timbulnya sindrome Eisenmenger. Bila sudah terjadi pembalikan aliran darah,
maka pembedahan dikontraindikasikan. Tindakan bedah berupa penutupan
dengan menjahit langsung dengan jahitan jelujur atau dengan menambal defek
dengan sepotong dakron.
Defek septum atrium (DSA) adalah kelainan anatomic jantung diakibatkan
terjadinya kesalahan pada jumlah absorbs dan proliferasi jaringan pada tahap
perkembangan pemisahan rongga atrium menjadi atrium kanan dan atrium
kiri. (Mansjoer, 2000)

2. Epidemiologi

3. Etiologi
Penyebabnya belum dapat diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang
diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian ASD.
Faktor-faktor tersebut diantaranya :

1. Faktor Prenatal
a. Ibu menderita infeksi Rubella
b. Ibu alkoholisme
c. Umur ibu lebih dari 40 tahun
d. Ibu menderita IDDM
e. Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu

2. Faktor genetik
a. Anak yang lahir sebelumnya menderita PJB
b. Ayah atau ibu menderita PJB
c. Kelainan kromosom misalnya Sindroma Down
d. Lahir dengan kelainan bawaan lain

4. Patofisiologi
1. Terjadi aliran "shunting" darah dari atrium kiri menuju atrium kanan melalui
defek/lubang pada sekat atrium (left to right shunt) oleh karena compliance
ventrikel kanan yang lebih besar (bertekanan rendah) dibanding ventrikel kiri.
Besarnya "shunting" bergantung terhadap seberapa besar perbandingan
compliance (relatif) ventrikel kanan terhadap ventrikel kiri, dan juga
bergantung pada besar-kecilnya defek.
2. Akibatnya adalah terjadi kelebihan volume darah (volume-overload) pada
jantung kanan yang pada akhirnya menyebabkan pembesaran atrium dan
ventrikel kanan serta dilatasi arteri pulmonalis. Juga terjadi peningkatan
tekanan pada vaskularisasi paru atau yang dikenal 'hipertensi pulmonal' akibat
kelebihan volume darah pada paru (lung overflow).
3. Dilatasi ventrikel kanan mengakibatkan waktu depolarisasi ventrikel kanan
memanjang yang akan memberikan gambaran blok RBBB (right bundle
branch block) pada pemeriksaan elektrokardiografi (EKG)
4. Murmur yang terjadi bukan karena "shunting" di atrium, tetapi oleh karena
terjadinya turbulensi darah saat melewati katup arteri pulmonalis (stenosis
relatif katup pulmonal). Oleh sebab itu murmur yang terjadi adalah murmur
sistolik di area auskultasi pulmonal.
5. Gagal jantung kongestif (CHF) dan hipertensi pulmonal seringkali baru
terjadi pada usia dekade III dan IV oleh karena faktor compliance dari
jantung kanan dan arteri pulmonal yang besar.

PATHWAY

Faktor Prenatal Faktor Genetik

Kelainan jantung bawaan


(Atrial Septal Defect) Kurang informasi

Darah mengalir dari atrium kiri ke atrium kanan Bingung

Kelebihan vol. darah di jantung kanan Kurang

Pengetahuan

Pembesaran atrium & Dilatasi arteri pulmonalis

ventrikel kanan

Kelebihan vol. darah paru

Waktu depolarisasi ventrikel

kanan memanjang Hipertensi pulmonal

Perub. EKG/disritmia Ketidakseimbangan suplai

oksigen

Penurunan

Curah Jantung Sesak nafas Kelelahan, kelemahan

Pola nafas tidak efektif Intoleransi Aktivitas

Risiko Tinggi Infeksi

5. Klasifikasi
Tiga macam variasi yang terdapat pada ASD, yaitu :
1. Ostium Primum (ASD 1), letak lubang di bagian bawah septum, mungkin
disertai kelainan katup mitral.
2. Ostium Secundum (ASD 2), letak lubang di tengah septum.
3. Sinus Venosus Defek, lubang berada diantara Vena Cava Superior dan Atrium
Kanan.
6. Gejala Klinis
Sebagian besar asimtomatik, terutama pada bayi dan anak kecil. Sangat jarang
ditemukan gagal jantung pada defk septum atrium. Bila pirau cukup besar, pasien
mengalami sesak napas, sering mengalami infeksi paru, dan berat badan akan sedikit
kurang. Jantung umumnya normal atau hanya sedikit membesar dengan pulsasi
ventrikel kanan teraba. Komponen aorta dan pulmonal bunyi jantung II terbelah lebar
(wide split) yang tidak berubah saat inspirasi maupun ekspirasi (fixed split). Pada
defek sedang sampai besar bunyi jantung I mengeras dan terdapat bising ejeksi
sistolik. Selain itu terdapat bising diastolic di daerah tricuspid akibat aliran darah
yang berlebihan melalui katup tricuspid pada fase pengisian cepat ventrikel kanan.

7. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi :
o Status nutrisi: Gagal tumbuh atau penambahan berat badan yang buruk
berhubungan dengan penyakit jantung
o Warna: Sianosis adalah gambaran umum dari penyakit jantung kongenital,
sedangkan pucat berhubungan dengan anemia, yang sering menyertai penyakit
jantung.
o Deformitas dada: Pembesaran jantung terkadang mengubah konfigurasi dada.
o Pulsasi tidak umum: Terkadang terjadi pulsasi yang dapat dilihat.
o Ekskursi pernapasan: Pernapasan mudah atau sulit (mis; takipnea, dispnea,
adanya dengkur ekspirasi).
o Jari tabuh: Berhubungan dengan beberapa type penyakit jantung kongenital.
o Perilaku: Memilih posisi lutut dada atau berjongkok merupakan ciri khas dari
beberapa jenis penyakit jantung.

Palpasi dan perkusi :

o Dada: Membantu melihat perbedaan antara ukuran jantung dan karakteristik


lain (seperti thrill-vibrilasi yang dirasakan pemeriksa saat mampalpasi)
o Abdomen: Hepatomegali dan/atau splenomegali mungkin terlihat.
o Nadi perifer; Frekwensi, keteraturan, dan amplitudo (kekuatan) dapat
menunjukkan ketidaksesuaian.

Auskultasi :
o Jantung: Mendeteksi adanya murmur jantung.
o Frekwensi dan irama jantung: Menunjukkan deviasi bunyi dan intensitas
jantung yang membantu melokalisasi defek jantung.
o Paru-paru: Menunjukkan ronki kering kasar, mengi.
o Tekanan darah: Penyimpangan terjadi dibeberapa kondisi jantung (mis;
ketidaksesuaian antara ekstremitas atas dan bawah)

8. Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang
1. Laboratorium
2. Foto thorax
3. EKG ; deviasi aksis ke kiri pada ASD primum dan deviasi aksis ke kanan
pada ASD Secundum; RBBB,RVH
4. Echo
5. Kateterisasi jantung ; prosedur diagnostik dimana kateter radiopaque
dimasukan kedalam serambi jantung melalui pembuluh darah perifer,
diobservasi dengan fluoroskopi atau intensifikasi pencitraan; pengukuran
tekanan darah dan sample darah memberikan sumber-sumber informasi
tambahan.
6. TEE (Trans Esophageal Echocardiography)

9. Komplikasi

1. Gagal Jantung
2. Penyakit pembuluh darah paru
3. Endokarditis
4. Aritmia

10. Therapy/Tindakan Penanganan

Pengobatan definitif adalah operasi penutupan defek pada usia 4-5 tahun. Pasien
pasca bedah tidak memerlukan tindakan profilaksis terhadap endokarditis infektif.
Pada defek tertentu dapat dilakukan penutupan dengan keteterisasi jantung,
dilanjutkan dengan antibiotic profilaksis selama 6-9 bulan.

Pembedahan :

1. Indikasi operasi adalah bila left to right shunt dengan Qp/Qs 1,5 :1
2. Kontraindikasi operasi : PVR ( 10 U/m2 , > 7 U/m2 dengan vasodilator)

3. Timing operasi: menunggu usia 3 atau 4 thn, karena masih ada kemungkinan
menutup spontan (sebelum usia sekolah)

4. Mortalitas : < 1 %

5. Komplikasi : aritmia, cerebral accident

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
Menurut Doengoes, 1999 :
a. Aktivitas/Istirahat
Kelemahan, kelelahan, pusing, rasa berdenyut, dispnea karena kerja, palpitasi,
gangguan tidur (ortopnea, nokturia, keringat malam hari)
b. Sirkulasi
Riwayat kondisi pencetus, contoh demam reumatik, infeksi streptokokal;
hipertensi, kondisi congenital, riwayat murmur jantung, serak, hemoptisis,
batuk dengan/tanpa produksi sputum
c. Integritas Ego
Tanda kecemasan, contoh gelisah, pucat, berkeringat, gemetar
d. Makanan/Cairan
Disfagia, perubahan berat badan, penggunaan diuretic
e. Neurosensori
Pusing/pingsan berkenaan dengan beban kerja
f. Nyeri/Kenyamanan
Nyeri dada, angina
g. Pernapasan
Dispnea (kerja, ortopnea, paroksismal, nokturnal), batuk menetap atau
nocturnal (sputum mungkin/tidak produktif)
h. Keamanan
Proses infeksi/sepsis, kemoterapi radiasi
2. Diagnosa Keperawatan
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan defek struktur, ditandai dengan :
Variasi dalam parameter hemodinamik
Perubahan EKG/disritmia
Dispnea, krekels
Oliguria/anuria
2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai oksigen,
ditandai dengan :
Sesak napas
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan system transport oksigen,
ditandai dengan :
Kelemahan/kelelahan
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajan sumber informasi,
ditandai dengan :
Permintaan informasi
Pernyataan masalah
5. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan status fisik yang lemah, ditandai
dengan :
Hipertermi
Kemerahan
Edema
Nyeri

3. Rencana Keperawatan

Dx.1 Penurunan curah jantung berhubungan dengan defek struktur, ditandai dengan :

Variasi dalam parameter hemodinamik


Perubahan EKG/disritmia
Dispnea, krekels
Oliguria/anuria
Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan klien
akan menunjukkan perbaikan curah jantung, dengan kriteria hasil :
a. Frekwensi jantung, tekanan darah, dan perfusi perifer berada pada batas
normal sesuai usia.
b. Keluaran urine adekuat (antara 0,5 2 ml/kgbb, bergantung pada usia )
Intervensi :

Pantau TD, nadi apical, nadi perifer


R: Indikator klinis dari keadekuatan curah jantung
Pantau irama jantung sesuai indikasi
R: Disritmia umum pada pasien dengan peyakit katup
Tingkatkan/dorong tirah baring dengan kepala tempat tidur ditinggikan 45
derajat
R: Menurunkan volume darah yang kembali ke jantung (preload), yang
memungkinkan oksigenasi, menurunkan dispnea, dan regangan jantung.
Kolaborasi dalam pemberian oksigen suplemen sesuai indikasi. Pantau
DGA/nadi oksimetri
R: memberikan oksigen untuk ambilan miokard dalam upaya untuk
mengkompensasi peningkatan kebutuhan oksigen
Kolaborasi dalam pemberian obat-obatan sesuai indikasi, mis.
Antidisritmia, obat inotropik, vasodilator, diuretic
R: Pengobatan disritmia atrial dan ventricular khususnya mendasari
kondisi dan simtomatologi tetapi ditujukan pada
berlangsungnya/meningkatnya efisiensi/curah jantung
Kolaborasi: Siapkan untuk intervensi bedah sesuai indikasi
R: Penanganan/perbaikan penyakit katup mungkin perlu untuk
meningkatkan curah jantung /mengatasi dekompensasi jantung

Dx.2 Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai


oksigen, ditandai dengan :
Sesak napas

Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan klien
menunjukkan pola nafas yang teratur, dengan kriteria hasil :

a. Menunjukkan pola nafas efektif dengan frekuensi dan kedalaman dalam


rentang normal dan paru jelas/bersih
b. Berpartisipasi dalam perilaku meningkatkan fungsi paru
Intervensi :

Kaji frekuensi, kedalaman pernapasan dan ekspansi dada


R: Kecepatan biasanya menigkat. Dispnea dan terjadi peningkatan kerja
napas
Auskultasi bunyi napas dan catat adanya bunyi napas adventisius, seperti
krekels, mengi, gesekan pleural
R: Bunyi napas menurun/tak ada bila jalan napas obstruksi sekunder
terhadap perdarahan, bekuan atau kolaps jalan napas kecil (atelektasis)
Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi
R: Duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan
pernapasan
Drong/bantu pasien dalam napas dalam dan latihan batuk
R: Dapat meningkatkan/banyaknya sputum dimana gangguan ventilasi dan
ditambah ketidaknyamanan upaya bernapas
Kolaborasi dalam pemberian oksigen tambahan
R: Memaksimalkan bernapas dan menurunkan kerja napas

Dx. 3 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan system transport oksigen,


ditandai dengan :
Kelemahan/kelelahan

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan klien
dapat mempertahankan tingkat energi yang adekuat tanpa stress tambahan, dengan
kriteria hasil :

a. Anak menentukan dan melakukan aktivitas yang sesuai dengan


kemampuan.
b. Anak mendapatkan waktu istirahat/tidur yang tepat

Intervensi :

Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas menggunakan parameter sebagai


berikut: frekuensi nadi 20 per menit diatas frekuensi istirahat, catat
peningkatan TD, dispnea/nyeri dada, kelelahan berat/kelemahan,
berkeringat, pusing atau pingsan
R: Parameter menunjukkan respons fisiologis pasien terhadap stress
aktivitas dan indicator derajat pengaruh kelebihan kerja/jantung
Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas,contoh penurunan
kelemahan/kelelahan
R: Stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk memajukan tingkat
aktivitas individual
Dorong memajukan aktivitas/toleransi perawatan diri
R: Konsumsi oksigen miokardia selama berbagai aktivitas dapat
meningkatkan jumlah oksigen yang ada
Berikan bantuan sesuai kebutuhan
R: Teknik penghematan energy menurunkan penggunaan energy dan
sehingga membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen
Dorong pasien untuk berpartisipasi dalam memilih periode aktivitas
R: Seperti jadwal meningkatkan toleransi terhadap kemajuan aktivitas dan
mencegah kelemahan

Dx. 4 Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajan sumber informasi,


ditandai dengan :
Permintaan informasi
Pernyataan masalah

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan klien
dapat mengerti tentang penyakitnya, dengan kriteria hasil :

a. Menyatakan pemahaman proses penyakit, program pengobatan, dan


potensial komplikasi
b. Mengenali kebutuhan untuk kerja sama dan mengikuti perawatan

Intervensi :

Jelaskan dasar patologi penyakit


R: Pasien harus mempunyai dasar pemahaman tentang penyakit yang
dialami sebagai dasar penjelasan rasional berbagai aspek pengobatan
Jelaskan rasional pengobatan, dosis, efek samping, dan pentingnya minum
obat sesuai resep, contoh diuretic, antidisritmia, agen inotropik,
vasodilator
R: Dapat meningkatkan kerja sama dengan terapi obat dan mencegah
penghentian sendiri pada obat dan/atau interaksi obat yang merugikan

Dx. 5 Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan status fisik yang lemah, ditandai
dengan :
Hipertermi
Kemerahan
Edema
Nyeri

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan klien
tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi, dengan kriteria hasil :

a. Tidak mengalami hipertermi


b. Tidak ada tanda-tanda kemerahan
c. Tidak ada edema
d. Tidak mengalami nyeri

Intervensi :

Berikan isolasi/pantau pengunjung sesuai indikasi


R: Isolasi/pembatasan pengunjung dibutuhkan untuk melindungi pasien
imunosupresi, mengurangi resiko kemungkinan infeksi
Amati adanya menggigil dan diaphoresis
R: Menggigil seringkali mendahului memuncaknya suhu pada adanya
infeksi umum
Kolaborasi dalam pemberian nutrisi yang adekuat
R: Pemberian nutrisi yang optimal mendukung pertahanan tubuh alami

4. Evaluasi
1. Curah jantung normal dan tanda-tanda vital anak berada dalam batas normal
sesuai dengan usia
2. Pasien tidak mengalami sesak napas dan pola nafas normal
3. Anak berpartisipasi dalam aktivitas fisik yang sesuai dengan usia
4. Pasien mengetahui tentang penyakitnya dan kecemasan berkurang atau teratasi
5. Tidak mengalami infeksi dan menunjukkan tanda-tanda infeksi

DAFTAR PUSTAKA

Buku Ajar ILMU PENYAKIT DALAM (1996), Balai Penerbit FKUI, Jakarta.

Buku Ajar KEPERAWATAN KARDIOVASKULER (2001), Pusat Kesehatan Jantung dan


Pembuluh Darah Nasional harapan Kita, Jakarta.

Buku Saku Keperawatan Pediatrik (2002), Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Doenges, Marilynn E.1999.Rencana Asuhan keperawatan.EGC:Jakarta.

Mansjoer.2000.Kapita Selekta Kedokteran.Media Aesculapius:Jakarta.

http://www.bedahtkv.com/index.php?/e-Education/Jantung-Anak/Atrial-Septal-Defect.html

http://bestifyna04.multiply.com/journal/item/39