Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH PERPINDAHAN PANAS

KONVEKSI ALAMIAH

DISUSUN OLEH:

EMPAYUS 061030400342

SAMPUSPITA SARI 061030400356

DOSEN PEMBIMBING : Ir. AIDA SYARIF, M.T

TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
PERIODE 2012 / 2013
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Perpindahan kalor dari suatu zat ke zat lain seringkali terjadi dalam
industri proses. Pada kebanyakan pengerjaan, diperlukan pemasukan atau
pengeluaran kalor, untuk mencapai dan mempertahankan keadaan yang
dibutuhkan sewaktu proses berlangsung. Kondisi pertama yaitu mencapai keadaan
yang dibutuhkan untuk pengerjaan, terjadi umpamanya bila pengerjaan harus
berlangsung pada suhu tertentu dan suhu ini harus dicapai dengan jalan
pemasukan atau pengeluaran kalor. Kondisi kedua yaitu mempertahankan keadaan
yang dibutuhkan untuk operasi proses, terdapat pada pengerjaan eksoterm dan
endoterm. Disamping perubahan secara kimia, keadaan ini dapat juga merupakan
pengerjaan secara alami. Dengan demikian, Pada pengembunan dan penghabluran
(kristalisasi) kalor harus dikeluarkan. Pada penguapan dan pada umumnya juga
pada pelarutan, kalor harus dimasukkan.
Bila dalam suatu sistem terdapat gradien suhu, atau bila dua sistem yang
suhunya berbeda disinggungkan,maka akan terjadi perpindahan energi. Proses ini
disebut sebagai perpindahan panas (Heat Transfer). Dari titik pandang teknik
(engineering), Analisa perpindahan panas dapat digunakan untuk menaksir biaya,
kelayakan, dan besarnya peralatan yang diperlukan untuk memindahkan sejumlah
panas tertentu dalam waktu yang ditentukan. Ukuran ketel, pemanas, mesin
pendingin, dan penukar panas tergantung tidak hanya pada jumlah panas yang
harus dipindahkan, tetapi terlebih-lebih pada laju perpindahan panas pada kondisi-
kondisi yang ditentukan. Beroperasinya dengan baik komponen-komponen
peralatan, seperti misalnya sudu-sudu turbin atau dinding ruang bakar, tergantung
pada kemungkinan pendinginan logam-logam tertentu dengan membuang panas
secara terus menerus pada laju yang tinggi dari suatu permukaan. Juga pada
rancang-bangun (design) mesin-mesin listrik, transformator dan bantalan, harus
diadakan analisa perpindahan panas untuk menghindari konduksi-konduksi yang
akan menyebabkan pemanasan yang berlebihan dan merusakan peralatan.
Berbagai contoh ini menunjukkan bahwa dalam hampir tiap cabang keteknikan
dijumpai masalah perpindahan panas yang tidak dapat dipecahkan dengan
penalaran termodinamika saja, tetapi memerlukan analisa yang didasarkan pada
ilmu perpindahan panas.
Pada waktu menafsirkan hasil ahir suatu analisa, kita perlu mengingat
asumsi, idealisasi dan pengira-iraan yang telah kita buat selama mengadakan
analisa tersebut. Kadang-kadang kita perlu mengadakan pengira-iraan keteknikan
dalam penyelesaian suatu soal, karena tidak memadainya keterangan tentang sifat-
sifat fisik. Sebagai contoh, dalam merancang bagian-bagian mesin untuk
pengoperasian pada suhu tinggi mungkin kita perlu memakai batas proporsional
(propoyional limit) atau kuat-lelah (fatigue strength) bahannya dari data suhu
rendah. Guna menjamin pengoperasian yang memuaskan dari bagian mesin ini,
perancang harus menerapkan faktor keamanan (safety factor) pada hasil yang
diperoleh dari analisanya. Pengira-iraan semacam itu perlu pula dalam soal-soal
perpindahan panas.
Sifat-sifat fisik seperti konduktivitas termal atau viskositas berubah
dengan suhu, tetapi jika dipilih suatu harga rata-rata yang tepat , maka
penyelesaian soal dapat sangat disederhanakan tanpa memasukan kesalahan yang
cukup besar dalam hasil ahirnya.
Bila panas berpindah dari suatu fluida ke dinding , seperti misalnya didalam ketel,
maka kerak terbentuk pada pengoperasian yang terus menerus dan akan
mengurangi laju aliran panas. Untuk menjamin pengoprasian yang memuaskan
dalam jangka waktu yang lama, maka harus ditrapkan faktor keamanan untuk
mengatasi kemungkinan ini. Dalam perpindahan panas ada tiga jenis perpindahan
panas yaitu perpindahan panas dengan cara konduksi, konveksi, dan radiasi.
Pada konveksi alami, akibat perbedaan temperatur akan terjadi
perbedaan densitas dari fluida dan akan menghasilkan perpindahan panas ke atau
dari suatu benda dari atau ke fluida. Berbeda dengan konveksi paksa, dimana
kecepatan dari fluida ditentukan oleh gaya luar. Sedangkan gerakan fluida pada
konveksi alami diakibatkan oleh kenaikan gaya apung akibat variasi temperatur
dan densiti dari partikel fluida. Seperti pada konveksi paksa perpindahan fluida
secara umum oleh gaya apung dapat berupa pola aliran laminer atau turbulen.

2. Tujuan
Tujuan dari pembelajaran materi perpindahan panas secara konveksi
alamiah yaitu:
Mahasiswa dapat menerapkan system dan aplikasi proses perpindahan
panas konveksi alamiah baik secara teori maupun secara praktek.
Mahasiswa dapat menerapkan system dan aplikasi proses perpindahan
panas konveksi alamiah baik secara teori maupun secara praktek.
Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan penyebab serta proses
perpindahan panas konveksi alamiah.

3. Permasalahan
Dalam penjabaran serta pemahaman materi mengenai perpindahan panas
konveksi alamiah ini masih banyak menemui titik permasalahan yang hendak
dicapai yakni bagaimana koherensi antara perhitungan dan penerapan perpindahan
panas konveksi alamiah dalam pembelajaran di kehidupan sehari-hari untuk
meningkatkan pemahaman materi pokok perpindahan panas konveksi alamiah
(nature convection).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Perpindahan Panas

Perpindahan panas dapat didefinisikan sebagai berpindahnya energi dari


suatu daerah ke daerah lainnya sebagai akibat dari beda suhu antara daerah-daerah
tersebut. Perpindahan panas pada umumnya mengenal tiga cara perpindahan
panas yaitu, konduksi (conduction, juga dikenal dengan istilah hantaran),
konveksi (convection, juga dikenal dengan istilah aliran), radiasi (radiation).

Gambar 1. Tiga cara perpindahan panas

2.2 Perpindahan Panas Secara Konveksi Alami

Konveksi ialah pengangkutan kalor oleh gerak dari zat yang dipanaskan.
Proses perpindahan ka1or secara aliran/konveksi merupakan satu fenomena
permukaan. Proses konveksi hanya terjadi di permukaan bahan. Jadi dalam proses
ini struktur bagian dalam bahan kurang penting. Keadaan permukaan dan keadaan
sekelilingnya serta kedudukan permukaan itu adalah yang utama. Lazimnya,
keadaan keseirnbangan termodinamik di dalam bahan akibat proses konduksi,
suhu permukaan bahan akan berbeda dari suhu sekelilingnya. Dalam hal ini
dikatakan suhu permukaan adalah T1 dan suhu udara sekeliling adalah T2 dengan
Tl>T2. Kini terdapat keadaan suhu tidak seimbang diantara bahan dengan
sekelilingnya.
Perpindahan kalor dengan jalan aliran dalam industri kimia merupakan
cara pengangkutan kalor yang paling banyak dipakai. Oleh karena konveksi hanya
dapat terjadi melalui zat yang mengalir, maka bentuk pengangkutan ka1or ini
hanya terdapat pada zat cair dan gas. Pada pemanasan zat ini terjadi aliran, karena
masa yang akan dipanaskan tidak sekaligus di bawa kesuhu yang sama tinggi.
Oleh karena itu bagian yang paling banyak atau yang pertama dipanaskan
memperoleh masa jenis yang lebih kecil daripada bagian masa yang lebih dingin.
Sebagai akibatnya terjadi sirkulasi, sehingga kalor akhimya tersebar pada seluruh
zat

Gambar 2. Pristiwa Aliran Konveksi

Laju perpindahan kalor dihubungkan dengan beda suhu menyeluruh antara


dinding dan fluida, dan kuas permukaan A. Besar h disebut koefisien
perpindahan-kalor konveksi (convection heat-transfer coefficient). Rumus dasar
yang digunakan adalah

Keterangan:
H= h A (Tw-T) H : Perpindahan panas

=hAT h : Koefisien konveksi


A : Luas permukaan

T : Perpindahan suhu

Pada perpindahan kalor secara konveksi, energi kalor ini akan dipindahkan
ke sekelilingnya dengan perantaraan aliran fluida. Oleh karena pengaliran fluida
melibatkan pengangkutan masa, maka selama pengaliran fluida bersentuhan
dengan permukaan bahan yang panas, suhu fluida akan naik. Gerakan fluida
melibatkan kecepatan yang seterusnya akan menghasilkan aliran momentum. Jadi
masa fluida yang mempunyai energi terma yang lebih tinggi akan mempunyai
momentum yang juga tinggi. Peningkatan momentum ini bukan disebabkan
masanya akan bertambah. Malahan masa fluida menjadi berkurang karena kini
fluida menerima energi kalor. Fluida yang panas karena menerima kalor dari
permukaan bahan akan naik ke atas. Kekosongan tempat masa bendalir yang telah
naik itu diisi pula oleh masa fluida yang bersuhu rendah. Setelah masa ini juga
menerima energi kalor dari permukan bahan yang kalor dasi, masa ini juga akan
naik ke atas permukaan meninggalkan tempat asalnya. Kekosongan ini diisi pula
oleh masa fluida bersuhu renah yang lain.
Pada konveksi alami, pergerakan fluida terjadi akibat perbedaan massa
jenis, perpindahan dikarenakan perbedaan kerapatan.

Gambar 3. Perpindahan panas konveksi


(a) konveksi paksa, (b) konveksi alamiah, (c) pendidihan, (d) kondensasi

Proses ini akan berlangsung berulang-ulang. Dalam kedua proses konduksi


dan konveksi, faktor yang paling penting yang menjadi penyebab dan pendorong
proses tersebut adalah perbedaan suhu. Apabila perbedaan suhu .terjadi maka
keadaan tidak stabil terma akan terjadi. Keadaan tidak stabil ini perlu diselesaikan
melalui proses perpindahan kalor. Dalam pengamatan proses perpindahan kalor
konveksi, masalah yang utama terletak pada cara mencari metode penentuan nilai
h dengan tepat. Nilai koefisien ini tergantung kepada banyak faktor. Jumlah kalor
yang dipindahkan, bergantung pada nilai h. Jika cepatan medan tetap, artinya
tidak ada pengaruh luar yang mendoromg fluida bergerak, maka proses
perpindahan ka1or berlaku. Sedangkan bila kecepatan medan dipengaruhi oleh
unsur luar seperti kipas atau peniup, maka proses konveksi yang akan terjadi
merupakan proses perpindahan kalor konveksi paksa. proses ini adalah dari nilai
koefisien h-nya.

panas antara permukaan dengan fluida yang bergerak diatasnya, dimana gerakan
fluida
disebabkan langsung oleh gaya apung (Bouyancy Forced) yang timbul akibat
perubahan
densitas pengaruh dari variasi temperatur aliran. Alat penukar panas ini
bekerja pada
kondisi konveksi alami untuk sisi udara pendingin. Alat penukar panas ini
sebagianlsetengah tubenya dimasukkan kedalam isolator (styrofoam), sedangkan
bagian
luarnya ditutup rapat dengan plat vertical dalam saluran tertutup (enclosure).
Jadi udara
luar hanya bersentuhan dengan plat datar tersebut. Alat penukar panas
dalam
pemasangannya lebih rigid sehingga lebih kokoh dan kuat, tetapi luas
permukaan
perpindahan panasnya berkurang.

2.3 Perpindahan Panas Konveksi Benda berputar


Perpindahan panas dengan cara konveksi antara benda yang berputar dan
fluida di sekitarnya penting artinya dalam analisa termal mengenai poros, roda
daya , rotor turbin, dan komponen komponen berputar lainnya pada berbagai
mesin mesin. Konveksi dari sebuah silinder horizontal berputar yang
dipanaskan telah diteliti oleh Anderson dan saunders. Turbulensi mulai muncul
pada Bilangan Reynolds kecepatan keliling Rew= w D2/v ; sebesar kurang lebih
50 dimana w adalah kecepatan putar dalam rad/s. Dengan perpindahan panas
kecepatan kritik tercapai bila kecepatan keliling permukaan silinder menjadi
kurang lebih setengah kecepatan konveksi bebas keatas pada sisi suatu silinder
tidak bergerak yang dipanaskan.
Dibawah kecepatan kritik konveksi alami biasa, yang becirikan bilangan
grashof biasa g (Ts T ) D3/ v2. Diatas kecepatan kritik bilangan reynoldy
kecepatan keliling menjadi parameter yang mengendalikan laju perpindahan
panas tersebut. Pengaruh gabungan bilangan bilangan Reynolds, prandtl dan
grash of pada bilangan nusselt rata -rata bagi sebuah silinder horizontal yang
berputar didalam udara diatas kecepatan kritik dapat dinyatakan dengan
persamaan :

Perpindahan panas dari sebuah piringan yang berputar telah diteliti secara
eksperimental oleh beberapa ahli seperti Cobb dan Saunders dan secara teoriti
kantara lain oleh Mills paceserta taylor. Lapisan batas pada piringan tersebut
adalah laminar dan tebalnya seragam pada bilangan Reynolds putar dibawah
kurang lebih 106, pada bilangan Reynolds yang lebih tinggi alirannya menjadi
turbulen dan lapisan batasnya menebal seiring dengan bertambahnya besarnya jari
jari. Bilangan nusselt rata rata untuk sebuah piringan yang berputar di udara
adalah :

Dalam resim aliran turbulen pada sebuah piringan yang berputar di udara
harga bilangan nusselt pada jari-jari r diberikan secara (akproksimasi) oleh

\
Hukum pendinginan Newton (Newtons Law of Cooling)
Panas konveksi dapat dirumuskan dengan hukum pendinginan Newton
(Newtons Law of Cooling), dirumuskan Laju perpindahan yang
dinyatakan dengan
q = h A (Tw - T)

Dimana :
q = Laju perpindahan panas konveksi

h = Koefisien perpindahan panas konveksi (w/m2 0C)

A = Luas penampang (m2)

T = Perubahan atau perbedaan suhu (0C; 0F)

2.4 konveksi Bebas pada Permukaan Miring


Percobaan-percobaan yang ekstensif dilakukan oleh fujii dan Imura (44)
untuk plat yang dipanaskan di dalam air pada berbagai sudut kemiringan. Sudut
yang dibuat plat itu dengan bidang vertikal ditandai dengan , dengan tanda
positif untuk menunjukkan bahwa permukaan pemanas menghadap ke bawah,
seperti terlihat pada gambar dibawah
Untuk plat miring menghadap ke bawah dengan fluks kalor hamper tetap,
didapatkan korelasi berikut untuk angka Nusselt rata-rata
< 88o; 105<Gre Pre cos < 1011
Dalam persamaan di atas semua sifat kecuali dievaluasi pada suhu
rujukan Te yang didefinisikan oleh
Te = Tw 0,25 (Tw - T)
Dimana Tw adalah suhu dinding rat-rata ( mean wall temperature) dan
T adalah suhu aliran bebas; ditentukan pada suhu T w + 0,50 (Tw - T). untuk
plat hamper horizontal yang menghadap ke bawah artinya 88o << 90o
106<Gre Pre < 1011
Untuk plat miring menghadap ke atas, korelasi empiriknya menjadi lebih
rumit. Untuk sudut antara -15 dan -75o, korelasi yang memadai ialah
Untuk jangkau 105<Gre Pre cos < 1011. Besaran Grc ialah hubungan
Grashof kritis yang menunjukkan bila angka Nusselt mulai memisah dari
hubungan laminar pada persamaan 1, dan diberikan pada daftar berikut ini:
,derajat Grc
-15 5 x 109
-30 2 x 109
-60 108
-75 106
Untuk Gre< Grc suku pertama persamaan 3 tidak dipakai. Informasi lebih
lanjut diberikan oleh Vliet[39] dan Vera dan Gebhart [45]. Ada petunjuk yang
menyatakan bahwa persamaan-persamaan di atas berlaku pula untuk permukaan
bersuhu tetap.
Pengukuran eksperimen dengan udara pada permukaan yang mempunyai
fluks kalor-tetap [51] menunjukkan bahwa persamaan (7-31) dapat digunakan
untuk daerah laminar apabila Grx * kita ganti dengan Grx * cos , baik untuk
permukaan panas yang menghadap ke atas, maupun yang menghadap ke bawah.
Di daerah turbulen, dengan udara, didapat korelasi empiris berikut :
Nu = 0,17 ( Pr)1/4 1010 < Pr < 1015
Dimana sama dengan untuk plat vertical, bila permukaan panas itu
menghadap ke atas, bila permukaan panas menghadap ke bawah, digantin
dengan cos2. Persamaan (7-47) disederhanakan menjadi kira-kira seperti yang
disarankan dalam daftar 7-1 untuk plat vertical isothermal
Untuk silinder miring, data pada rujukan 73 menunjukkan bahwa
perpindahan kalor laminar pada kondisi fluks-kalor-tetap dapat dihitung dengan
persamaan berikut:
NuL = [0,60 0,488(sin)1,03](Grl Pr)1/4+1/12(sin)1,75untuk GrL Pr < 2 x 108
Dimana ialah sudut yang dibuat silinder itu dengan garis vertical;
artinya, 0omenunjukkan silinder vertical. Sifat-sifat dievaluasi pada suhu film,
kecuali yang ditentukan pada kondisi sekitar
Dalam peramalan konveksi-bebas dari permukaan miring masih terdapat
berbagai ketidakpastian; tebaran data-eksperimen sebesar 20 % tidaklah asing
untuk rumus-rumus empiris yang dikemukakan di atas
Perpindahan panas konveksi alami atau konveksi bebas adalah perpindahan
2.6 . Konveksi Bebas dan Aliran Fluida Pada Plat Vertikal
Ketika suatu plat rata vertical dipanaskan maka akan akan terbentuklah
suatulapisan batas konveksi bebas, Profil kecepatan pada lapisan batas ini tidak
seperti profilkecepatan pada lapisan batas konveksi paksa .Pada gambar 2.2 dapat
dilihat profilkecepatan pada lapisan batas ini,dimana pada dinding ,kecepataan
adalah nol,karenaterdapat kondisi tanpa gelincir (no-slip); kecepatan itu
bertambah terus sampaaimencapai nilai maksimum ,dan kemudian menurun lagi
hingga nol pada tepi lapisan batas.Perkembangan awal lapisan batas adalah
laminar,tetapi suatu jarak tertentu daritepi depan ,bergantung pada sifat-sifat fluida
dan beda suhu antara dinding danlingkungan,terbentuklah pusaran-
pusaran ke lapisan batas turbulen pun mulailah terjadi. Selanjutnya, pada
jarak lebih jauh pada plat itu lapisan batas menjadi turbulen sepenuhnya.
Mc.Adams

Konstanta C ditentukan pada tabel 2.1 Sifat-sifat fisik Dievaluasi pada


suhu film T.Untuk perkalian antara bilangan Grashof dengan bilangan Prandtl
disebut dengan bilangan Rayleigh (Ra) yaitu :

Churchill dan Chu menyarankan bentuk korelasi dengan dua persamaan


untuk konveksi bebas paada plat vertical. Untuk daerah Laminer
pada jangkauan 10-1<RaL<109dan sesuai untuk semua angka Prandtl bentuknya
adalah

Tabel. Konstanta C dan n untuk persamaan 9

Sedangkan untuk daerah turbulen yang berlaku pada jangkauan 10-


1<RaL<1012 bentuknya adalah :
2.7 Perbedaan Perpindahan Panas Konveksi Alamiah dengan Konveksi
Paksa
Perpindahan panas konveksi alami mempunyai karakteristik yang berbeda
dengan perpindahan panas konveksi paksa Pada konveksi paksa, laju perpindahan
panasnya hanya tergantung dari kecepatan dan jenis aliran dan tidak tergantung
dari sudut atau posisi bidang pemindah panas. Namun pada konveksi alami, laju
perpindahan panas sangat dipengaruhi oleh sudut permukaan bidang. Pada gradien
temperatur yang sama, posisi tegak, horisontal ataupun miring, menghasilkan laju
perpindahan panas yang berbeda. Tujuan pengujian ini adalah untuk mengetahui
pengaruh posisi atau sudut bidang terhadap koefisien perpindahan panas.
PERSAMAAN
Adapun persamaan dasar konveksi, adalah :
TW> T
q = h A (Tw T )
Keterangan :
Q = laju perpindahan panas
h = koefisien perpindahan panas konveksi
A = luas permukaan
Tw = temperatur dinding
T = temperatur sekeliling

Konveksi alamiah pada plat/ silinder vertikal


Bilangan Grashoff:

dimana :
G = percepatan gravitasi
= viskositas kinematik
= 1/T = koefisien ekspansi volume (K-1)
Koefisien perpindahan kalor dievaluasi dari :
Koefisien perpindahan kalor konveksi bebas rata-rata untuk berbagai situasi
dinyatakan dalam bentuk :

Konveksi alamiah pada plat horizontal

Konveksi alamiah pada silinder horizontal

Untuk rentang yang lebih tinggi

Nuf = 2 + 0,50 (Grf Prf)1/4

APLIKASI PERPINDAHAN KOVEKSI ALAMIAH


Contoh aplikasi konveksi alamiah adalah
- Pada cerobong asap. Pembakaran/pemanasan yang terjadi pada bagian
perapian membuat udara hasil pembakaran mengalir keatas mengikuti alur
cerobong, sedangkan udara dari ruangan disekitar pembakaran akan
terhisap kearah pembakar untuk menggantikan posisi udara yang keluar
cerobong.
- Sistem ventilasi rumah. Prinsip kerja : udara panas yang berada di dalam
rumah bergerak ke atas dan keluar melalui ventilasi. Tempatnya kemudian
digantikan oleh udara dingin yang masuk melalui ventilasi. Arus konveksi
udara inilah yang menyebabkan suhu udara di dalam rumah terasa lebih
sejuk dan nyaman.

BAB IV
KESIMPULAN

Perpindahan panas dapat didefinisikan sebagai berpindahnya energi dari suatu


daerah ke daerah lainnya sebagai akibat dari beda suhu antara daerah-daerah
tersebut. Perpindahan panas pada umumnya mengenal tiga cara perpindahan
panas yaitu, konduksi (conduction, juga dikenal dengan istilah hantaran),
konveksi (convection, juga dikenal dengan istilah aliran), radiasi (radiation).
Konveksi alamiah merupakan bentuk perpindahan panas yang disebabkan oleh
beda suhu dan beda rapat saja dan tidak ada tenaga dari luar yang mendorongnya.
konveksi dipengaruhi oleh :
a. Luas permukaan benda yang bersinggungan dengan fluida (A).
b. Perbedaan suhu antara permukaan benda dengan fluida ((T).
c. Koefisien konveksi (h), yang tergantung pada :
1) viscositas fluida
2) kecepatan fluida
3) perbedaan temperatur antara permukaan dan fluida
4) kapasitas panas fluida
5) rapat massa fluida
6) bentuk permukaan kontak

TUGAS
Contoh soal
1. Taksirlah perpindahan kalor dari bola lampu pijar 40 W pada 1270C ke udara
diam pada 27 0C. Anggaplah ola ampu itu suatu bola dengan diameter 50
mm. Berapa persen rugi kalor karena konveksi bebas
Penyelesaian
Dari tabel B-4. Parameter yang diperlukan dievaluasi pada Tf = (Ts + T ) =
770 C
Angka Grashof , dihitung dengan diameter bola sebagai panjang karakteristik L, ialah

Persamaan

de

Dengan konstanta yang sesuai yang dipilih dari tabel 8.3. jadi

Perpindahan kalor ialah

Persen kehilangan melalui konveksi bebas

Lampiran

Tabel. Sifat-sifat Gas pada Tekanan Atmosfer


T ,
Cp, v, k,

Pr
0 0
F C

2.070x 10- 0.0969


-280 -173 0.2248 0.2452 0.4653x 10-5 5
0.005342 0.770
1

-190 -123 0.1478 0.2412 0.6910 4,675 0.007936 0.2226 0.753

-100 -73 0.1104 0.2403 0.8930 8.062 0.01045 0.3939 0.739

-10 -23 0.0882 0.2401 1.074 10.22 0.01287 0.5100 0.722

80 27 0.0735 0.2402 1.241 16.88 0.01516 0.8587 0.708

170 77 0.0623 0.2410 1.394 22.38 0.01735 1.156 0.697

260 127 0.0551 0.2422 1.536 27.88 0.01944 1.457 0.689

350 177 0.0489 0.2438 1.669 31.06 0.02142 1.636 0.683

2. Sebuah pemanas horizontal dengan diameter 2,0 cm yang permukaannya


dijaga pada suhu 38 oC dibenamkan didalam air yang suhunya 27 oC.
hitunglah rugi kalor konveksi bebas per satuan panjang pemanas?
Penyelesaian :
Diketahui : diameter (d) pemanas = 2,0 cm = 0,02 m
Tw = 38 oC
T = 27 oC
Dari lampiran table A-9 sifat-sifat air (zat cair jenuh) pada J.P Holman
hal.593

Nilai K= 0,623 W/m oC dan = 2,48 x1010 l/m3 oC pada temperature

32,22 oC.

Suhu film adalah


3
Gr Pr = x(

= (2,48 x1010 l/m3 oC)(38 27 (0,02 m)3


= 2,18 x 106
Dengan menggunakan daftar 7-1 konstanta (7-25) untuk permukaan

isothermal pada J.P Holman hal. 304 didapatkan C= 0,53 dan m =

Nu = 0,53 (Gr Pr)1/4


Nu = 0,53 (2,48 x1010 l/m3 oC)1/4
Nu = 38,425

h=

h=

h= 1210 W/m2 oC
jadi , perpindahan kalor adalah

= ( 1210)(0,02)(38-27)
= 836,3 W/m

BUKU KERN
3.5 pemanasan gas oil dan straw oil dalam pipa adalah sebesar 1/2-in. pipa ips
mengikuti persamaan(3.42).

Dimana minyak tersebut diharapkan dapat mengalir pada 1056 lb/hr 36,8oAPI
melalui 1-in. sementara temperature ips pipa dinaikkan dari 85.6 sampai
117.6oF. karena tidak adanya data perpindahan panas tambahan, hitung
koefisien perpindahan panas dalam 1 in pipa ips. Bagaimana hal ini
dibandingkan dengan nilai hi bila jumlah yang sama dari gas oil dalam 1/2-in.
data akan ditemukan pada ilustrasi dalam bab ini?
Penyelesaian :
Diketahui :
Berat aliran pada gas oil ,w= 1056 lb/hr
Temperature minyak pada inlet,t1= 85.6 oF
Temperature minyak pada outlet, t2 = 117.6oF
Temperature rata-rata diluar permukaan, tw =208.9
Jawab :

Rata-rata temperature minyak =

Rata-rata panas spesifik, c= 0,433 btu/(lb)(oF)


Q = wc(t2-t1) = 1056 x 0,433(117,6-85,6) = 14,631 btu/hr
Temperature permukaan dalam pipa,tp:
I.D.of in. IPS = 0,62 in: O.D.=0,84 in

4. Misalkan sebuah plat datar berukuran panjang 0,5 m dan lebar 0,5 m, dibuat
vertikal pada udara luar yang suhunya 30 derajat C. Salah satu sisinya
mendapat sinar matahari dan akibatnya temperaturnya naik dan konstan pada
60 derajat C. Sementara sisi yang satu lagi diisolasi. Tentukanlah:

a. Tebal lapisan batas udara saat meninggalkan plat


b. Koefisien perpindahan panas rata-rata pada plat
c. Laju aliran massa udara keluar dari plat
d. Temperatur udara rata-rata saat keluar dari ujung plat
e. Intensitas sinar matahari saat itu, jika radiasi dari plat diabaikan

Penyelesaian
p = 0.5 m
l = 0.5 m
T~ = 30 0C = 303 K
Ts = 60 0C = 333 K
Tf = 318 K
Evaluasi sifat pada Tf,
k=0.028 W/m2.K, v(nu)=18.4 x 10-6 m2/s, = 26.2 x 10-6 m2/s , Pr = 0.703,
= 3.144 x 10-3 1/K.
= 1.1 kg/m3
a) Tebal lapisan batas
/l = 6 x (Gr_l/4)-1/4

Mencari bilangan tak berdimensi Grashof,


GrL =g (Ts - T~)x l3 / v2
Maka,
= l x 6 x (GrL/4)-1/4
b) h
Bilangan tak berdimensi Nusselt,
Nu = hL/k
h = Nu*k/L

Bilangan tak berdimensi Nusselt untuk aliran Laminar,


Nu_L = 0.68 + 0.67 x (Ra_L1/4) / [1 + (0.492/Pr)9/16]4/9

Mencari bilangan tak berdimensi Raleigh,


Ra_L = g (Ts - T~)*L3/ v

Maka,
Nu_L = 0.68 + 0.67*(Ra_L1/4) / [1 + (0.492/Pr)9/16]4/9
diperoleh,
h = Nu*k/L
c) Laju aliran massa udara, m_dot
Saya tidak menemukan korelasi langsung antara distribusi kecepatan dan
lapisan batas. Hanya umumnya perpindahan panas konveksi bebas mengalami
transisi dari aliran laminar dan turbulen. Karena itu kita gunakan bilangan tak
berdimensi Reynold untuk mencari kecepatan,
Re_L = V*L / v(nu)
V = Re_L*v / L, (dengan Re transisi adalah 2300-4000, ambil angka terkecil)
Maka,
m_dot = AV, Dengan A = *p
d) temperatur udara keluar, To
Laju perpindahan panas
Q = hA(Ts - T~)
Neraca energi untuk udara
U = Q - W, W = 0
m_dot*c*(T~ - To) = Q, kapasitas panas udara, c = 1.008 kJ/kg.K
m_dot*c*(T~ - To) = hA(Ts - T~)
To = T~ - hA(Ts - T~) / m_dot*c
e) Intensitas matahari, berarti mencari temperatur permukaan pancaran
matahari, Tsurr
Q_rad = Q_konveksi = Q
Q_rad = hA(Ts - T~)
*A(Tsurr - Ts) = hA(Ts - T~)
dengan merupakan konstantan boltzman
Asumsikan = 1
Maka,
*(Tsurr - Ts) = h(Ts - T~)
Tsurr = h(Ts - T~)/ + Ts
Nb.
Point (c) dan (d) perlu peninjauan lagi, karena jika hanya menggunanakan
pendekatan bilangan tak berdimensi Reynold, kecepatan akan bervariasi di Re
= 2300 sampai Re = 4000. Kecuali jika hendak dicari variasi kecepatan
tersebut, yang berarti variasi perpindahan panas.

DAFTAR PUSTAKA

http://elfia-physics.blogspot.com/2012/02/konveksi.html
http://rezdy.blogsome.com/2008/12/06/konveksi/
http://www.scribd.com/Di_Va/d/50116433/6-Konveksi-Alamiah
http://www.nofrijon.org/teaching/download/Students/Heat_Transport_Convection.
pdf
http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/06/bilangan-bilangan-dalam-konveksi-
alami.html
http://mesin.unnes.ac.id/Download/SAP%20PDF/Perpindahan%20Panas.pdf
http://k011tiumb.blogspot.com/2009_10_09_archive.html(kristal)
http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/152048592.pdf
http://akurblog76.blogspot.com/2011/09/perpindahan-panas-pendahuluan.html
http://digilib.petra.ac.id/viewer.php?
page=1&submit.x=16&submit.y=25&submit=next&qual=high&submitval=next&
fname=/jiunkpe/s1/mesn/2008/jiunkpe-ns-s1-2008-24403047-9882-surya_plat-
chapter2.pdf
http://royindralesmana.wordpress.com/2008/01/15/analisa-perpindahan-panas-
secara-konveksi/
http://joe-pencerahan.blogspot.com/2011/06/perpindahan-panas-heat-
exchanger.html
http://etd.eprints.ums.ac.id/5946/1/D200020233.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19614/12/Chapter%20II.pdf.txt
http://tekim.undip.ac.id/images/download/PERPINDAHAN_PANAS.pdf
http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/06/23-konveksi-alami-dari-silinder.html
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20090507010213AAFOK5G
http://nurulimantmunib.wordpress.com/
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18198/4/Chapter%20II.pdf
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/fisika_ilmu_panas/bab3-
perpindahan_panas.pdf
http://tugino230171.wordpress.com/2011/05/05/perpindahan-panas/