Anda di halaman 1dari 8

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konservasi satwa liar

Optimalisasi pemanfaatan dan pengawetan sumber daya alam merupakan

suatu kegiatan yang pelik penanganannya karena berkaitan antara manusia,

kebijakan dan kepentingan hidupan satwa liar. Masing-masing kelompok

mempunyai stakeholde-rnya sendiri-sendiri. Manusia, tidak akan lepas dari

kebutuhan hajat hidupnya, kebijakan tidak akan lepas dari aspek politik yang

seringkali seolah mengedepankan kepentingan yang lebih luas, tetapi kadangkala

justru menghancurkan suatu sistem yang sudah mapan walau kecil volumenya.

Semua ini menjadikan kehidupan satwa liar terjepit di antara dua kelompok diatas,

yang pada akhirnya menyerah pada perkembangan jaman dan seringkali

berakhirdengan kepunahan, sebelum termanfaatkan secara optimal. Kearifan

masyarakat lokal dalam pemanfaatan sumber daya alamnya memang terasa

semakin lama semakin terkikis oleh himpitan kebutuhan hidup, sehingga tidak

sedikit masyarakat yang membuang prinsip-prinsip konservasi tradisional. Ini

berarti pula bahwa suatu catatan etnozoologi yang spesifik pada setiap daerah

akan hilang bersamaan dengan hilangnya sumber daya alam. Penetapan kawasan

konservasi merupakan perwujudan dari perhatian kita terhadap kemungkinan

kepunahan khasanah hidupan liar dan telah banyak model dikembangkan selama

tiga atau empat dekade yang lalu. Namun tidak sedikit model program tersebut

yang gagal di tengah jalan. Selain karena dana yang cukup besar, tingkat

kesadaran hukum yang belum mencapai batas minimum, juga tekanan terhadap
habitat yang terus bertambah sesuai dengan meningkatnya aktifitas manusia tanpa

ada solusi yang tepat dan cepat, merupakan faktor yang signifikan terhadap

gagalnya hampir setiap program konservasi (Semiadi, 2007).

Salah satu alternatif penanganan dari kemungkinan punahnya hidupan liar

adalah melalui usaha pemeliharaan di luar habitat aslinya (ex-situ) dan sekaligus

menggali potensi yang ada melalui pemanfaatan yang berkesinambungan.

Kegiatan ini untuk beberapa jenis satwa liar mungkin merupakan cara terakhir

yang harus ditempuh untuk memperlambat laju kepunahan.

Konservasi sebagaimana dimaksud meliputi upaya pemanfaatan,

pengawetan dan pengendalian terhadap satwa liar. Dalam rangka mengupayakan

konservasi terhadap satwa liar dibentuklah sebuah Unit Pelaksana Teknis yang

berada di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yaitu Balai

Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Pembentukkan BKSDA terkhusus

dalam upaya pengendalian perdagangan satwa liar termasuk kerjasama yang

dibangun oleh BKSDA dengan institusi lain yang berkaitan, khususnya di Daerah

Istimewa Yogyakarta yang merupakan salah satu daerah dengan potensi kejahatan

lingkungan yang cukup tinggi (Valentinus, 1982).

Pendirian tempat konservasi ini terkait konvensi tentang keanekaragaman

hayati, adalah CITES (Convention on International Trade in Endangered

Speciesof Wild Flora and Fauna) yaitu konvensi tentang perdagangan flora dan

fauna yang terancam kepunahan. Konvensi tersebut bertujuan untuk melindungi

spesies satwa liar yang terancam punah dengan cara mengendalikan perdagangan
(hidup/mati), bagian atau organ tubuh dan produk yang dihasilkan spesies

tersebutmelalui sistem perizinan (Soehartono dan Mardiastuti, 2002).

CITES telah mendatadan mendaftarkan lebih dari 30.000 species, yang

mencakup sekitar 5.000 spesies hewan dan 25.000 spesies tumbuhan. Sebagian

dari jumlah species tersebut merupakan species yang hanya hidup di Indonesia,

(spesies endemik) yang diklasifikasikan ke dalam appendik-appendik berdasarkan

jumlah populasi dan tingkat ancaman terhadap spesies itu sendiri dari kepunahan.

Appendiks I. Appendiks I CITES mencakup segala jenis spesies baik flora

maupun fauna yangterancam oleh kepunahan yang mungkin dipengaruhi oleh

adanya perdagangan. Ketentuan perdagangan atas spesies-spesies yang tercantum

dalam appendiks I CITES harus diatur dengan ketat untuk menjaga kelangsungan

hidup spesies tersebut dan hanya dapat diperdagangkan dalam kondisi-kondisi

yang dikecualikan.

Appendiks II. Mencakup spesies yang tercantum di dalam appendiks II CITES

merupakan spesies yang tingkat ancaman terhadap kepunahannya saat spesies

tersebut diklasifikasikan tidak setinggi spesies dalam appendiks I. Spesies-spesies

ini dapat menjadi terancam oleh kepunahan apabila perdagangan terhadap spesies

tersebut tidak diatur melalui ketentuan yang ketat. Ketentuan yang ketat tersebut

ditujukan untuk menghindari pemanfaatan spesies tersebut yang tidak sesuai

dengan kebutuhan spesies tersebut untuk bertahan hidup.

Appendiks III. Mencakup spesies yang diklasifikasikan ke dalam Appendiks III

CITES merupakan spesies yang diatur melalui peraturan nasional dengan tujuan
untuk menghindari ataumelarang terjadinya eksploitasi terhadap spesies tersebut

dan mengendalikan perdagangan. CITES dalam pelaksanaannya memberikan

pengaturan larangan, keharusan, maupun kebolehan dari negara penandatangan

konvensi ini dalam melakukan perdagangan-perdagangan spesies yang terdaftar di

dalam appendiks CITES (Andriana, 2010).

B. KRKB Gembira Loka

Sejarah Berdirinya Kebun Raya dan Kebun Binatang Gembira Loka

Pada tahun 1933 didirikan sebuah tempat hiburan oleh Sultan

Hamengkubuwono IX diberi namaKebun Rojo yang bertempat di Kalibayem.

Atas arahan Ir. Karsten, tempat tersebut berpindah-pindah beberapa kali yaitu ke

Semaki, Muja-muju, Ambarukmo dan terakhir di daerah sungai Gajah Wong yang

bertempat di kecamatan Umbulharjo dan Kotagede (Anonim, 2008).

Pendirian Kebon Rojo sempat terhenti akibat serangan agresi militer

Belanda pada tahun 1949. Kebon Rojo mulai dibangun lagi pada tahun 1950

dengan bantuan beberapa jawatan yang terkait pada waktu itu, yaitu Jawatan

Kehutanan, Jawatan Kehewanan dan Jawatan Pertanian. Pada tahun 1953, rencana

untuk mendirikan Kebon Rojo dapat diwujudkan yaitu dengan berdirinya

Yayasan Gembira Loka Jogjakarta dengan Akte Notaris R.M. Wiranto No.11

tanggal 10 September 1953 dan sebagai ketuanya Sri Paduka K.G.P.A.A. Paku

Alam VIII. Yayasan inilah yang merintis berdirinya Kebun Raya dan Kebun

Binatang Gembira Loka (Anonim, 2008).


Luas Wilayah KRKB Gembira Loka untuk pertama kalinya adalah 25 Ha

dan sehubungan dengan adanya perluasan jalan serta perumahan, maka luas

KRKB Gembira Loka saat ini hanya 20,5 Ha. Adapun Lokasi KRKB Gembira

Loka adalah berada di Jalan Kebun Raya No. 2 Yogyakarta (Anonim, 2008).

Lokasi KRKB Gembira Loka

Kebun Raya Kebun Binatang Gembira Loka terletak di dua wilayah

kecamatan yaitu kecamatan Kotagede dan kecamatan Umbulharjo. Kedua wilayah

tersebut dipisahkan oleh sungai Gajah Wong menjadi 2 bagian. Sebelah barat

dibatasi oleh Jalan Veteran, sebelah utara dibatasi oleh Jalan Kusuma Negara,

sebelah timur dibatasi oleh Jalan Kebun Raya, sebelah selatan dibatasi oleh

kampung Rejowinagun dan Warung Boto (Anonim, 2011).

Status KRKB Gembira Loka

Kebun Raya Kebun Binatang Gembira Loka suatu badan berbentuk

yayasan berstatus swasta dengan akte notaris RM. Wiranto No. 11 tanggal 10

September 1953. Pada tahun 2007 Yayasan Gembira Loka menggandeng PT.

Buana Alam Tirta sebagai mitra untuk menangangi manajemen KRKB Gembira

Loka. Pola kemitraan ini bertujuan agar KRKB Gembira Loka terus berbenah

untuk mempertahankan eksistensi dan menjadi lebih baik dan maju lagi dari

waktu ke waktu (Anonim, 2011).

Tujuan KRKB Gembira Loka

Kebun Raya Kebun Binatang Gembira Loka didirikan dengan tujuan

untuk mengumpulkan berbagai jenis hewan dari berbagai macam spesies dan
daerah, serta tanaman yang dilestarikan dan diperagakan untuk umum. Hal ini

dimaksudkan untuk mengenalkan dan mendidik sikap masyarakat dalam

memelihara kelestarian lingkungan hidup (Anonim, 2008).

Visi KRKB Gembira Loka

Melestarikan tumbuh-tumbuhan dan satwa sesuai dengan alam

habitatnya, sehingga bisa bermanfaat bagi alam dan kehidupan manusia.

Misi KRKB Gembira Loka

Adapun misi KRKB Gembira Loka adalah:


a. Tempat pengembangan dan pelestarian jenis-jenis tumbuhan.
b. Sebagai paru-paru kota dan cadangan air resapan di kota Yogyakarta.
c. Sebagai lembaga konservasi yang mampu mensejahterakan satwa dengan

memelihara dan merawat satwa sesuai habitatnya.


d. Mengembangbiakan tumbuhan dan menangkarkan satwa dengan menjaga

kemurnian genetic dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa.


e. Pusat penelitian satwa yang mampu memberikan informasi mengenai jenis

satwa, habitat satwa, pakan, cara reproduksi dan perawatan satwa guna

menunjang pelestarian satwa.


f. Sebagai sarana pendidikan yang mampu memberikan informasi tentang

satwa sehingga menambah pengetahuan akan manfaat pelestarian satwa di

lembaga konservasi.
g. Untuk penyadaran kepada masyarakat untuk mencintai dan melestarikan

jenis tumbuhan dan satwa dari bahaya kepunahan.


h. Tempat rekreasi berwawasan lingkungan agar lebih dirasakan manfaat atas

keseimbangan dan kemanfaatan ekosistem yang ada.


i. Mengembangkan tempat rekreasi yang kreatif, menarik dan edukatif.
j. Melakukan promosi untuk memperkenalkan, meningkatkan dan menjaga

kunjungan.
Fungsi KRKB Gembira Loka

Kebun Raya Kebun Binatang Gembira Loka mempunyai fungsi sebagai berikut:

Sarana perlindungan dan pelestarian alam. Kebun Raya dan Kebun

Binatang merupakan tempat penyelamatan dan pelestarian jenis tumbuhan dan

hewan yang terancam punah. Usaha perlindungan dan pelestarian jenis tumbuhan

dan hewan tidak terbatas pada jenis yang terancam punah saja, tetapi juga pada

jenis yang lain.

Penelitian. Kebun Raya dan Kebun Binatang mempunyai peran penting

dalam penelitian, misalnya alam asli kehidupan, sistematik, pakan, reproduksi,

penyakit dan perawatan satwa.

Pendidikan. Peragaan jenis tumbuhan dan hewan memberikan

penerangan mengenai jenis lingkungan alam asli, pakan, reproduksi, perawatan.

Tempat rekreasi dan apresiasi terhadap alam. Sebuah Kebun Raya

dan Kebun Binatang yang keberadaannya terletak di tengah-tengah kota, yang

ditata rapi, dilengkapi dengan sarana rekreasi memadai akan sangat menarik

masyarakat untuk berekreasi.


Struktur Organisasi dan Tata Kerja Yayasan Gembira Loka

Menurut Peraturan Dewan Pimpinan Yayasan Gembira Loka Yogyakarta

No.042/YGL/kep/IX/2006, tentang susunan organisasi dan tata kerja Yayasan

Gembira Loka, berikut ini adalah susunan organisasi dan tata kerja badan

pelaksana Kebun Raya dan Kebun Binatang Gembira Loka.

Struktur organisasi KRKB Gembira Loka (Anonim, 2011).