Anda di halaman 1dari 25

Kata Pengantar

Segala puji bagi Allah Tuhan Yang Maha Esa. Yang telah memberi rahmat
dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan sebuah Makalah yang
bertemakan Proses Pembentukan Logam. Dan tak lupa pula kita
menghadiahkan shalawat beriring salam untuk nabi besar kita nabi Muhammad
saw.

Selanjutnya , penulis menyadari bahwa dalam pembuatan Makalah ini


terdapat ketidaksempurnaan. Oleh karena itu , penulis mohon kerjasamanya agar
pembaca bersedia memberikan kritik dan saran untuk mencapai keadaan yang
lebih baik.

Akhirnya kami berharap semoga makalah yang telah kami buat ini dapat
bermanfaat khususnya bagi kami penyusun dan umumnya bagi semua pembaca.

Jakarta, 24 Mei 2016

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................. i

DAFTAR ISI ............................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1


1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................... 2
1.3Tujuan Penulisan ...................................................................................... 2
1.4 Manfaat Penulisan ................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................... 3


2.1 Proses Pembentukan ............................................................................... 3
2.2 Penggilingan(Rolling) ............................................................................. 8
2.3 Jenis-Jenis Pengerollan ........................................................................... 9

BAB III PENUTUP ................................................................................................. 8


3.1 Kesimpulan ............................................................................................. 8

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 8

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Misalkan Saudara bekerja di industri manufaktur logam, di mana Saudara
diminta untuk mendisain suatu proses pembentukan logam, baik primer maupun
sekunder, seperti pengerolan (rolling), penempaan (forging), ekstursi (extursion),
penarikan(drawing).
Sebagai seorang insinyur, salah satu pekerjaan yang harus Saudara
lakukan adalah menentukan atau memilih kapasitas mesin (energi, gaya, torsi)
serta perkakas dan peralatan yang akan digunakan untuk proses tersebut. Untuk
dapat menentukan kedua hal tersebut, Saudara perlu memprediksi berapa beban
eksternal yang diperlukan agar logam dapat mulai mengalir dan terdeformasi
plastis serta bagaimana distribusi tegangan dan regangan pada permukaan benda
kerja maupun perkakas. Dengan kata lain, di dalam mendisain proses
pembentukan logam,Saudara perlu melakukan analisis untuk dapat memprediksi
beban eksternal yang dibutuhkan serta distribusi regangan dan tegangannya,
sehingga Saudara dapat menentukan atau memilih kapasitas mesin, perkakas, dan
peralatan yang paling sesuai untuk proses tersebut.
Metode-metode analisis yang telah dikembangkan, pada dasarnya
ditujukan untuk membantu pekerjaan insinyur di dalam mendisain proses
pembentukan logam,terutama di dalam menentukan hubungan kinematik dan
batas-batas pembentukan,memprediksi gaya-gaya eksternal atau tegangan internal
yang diperlukan untuk mengeksekusi proses pembentukan logam, serta
menentukan perkakas dan peralatan yang diperlukan.
Di dalam proses pembentukan logam terjadi berbagai macam fenomena
fisik, sepertialiran logam, friksi, panas yang timbul maupun ditransfer selama
terjadi aliranplastis, hubungan antara mikrostruktur dan sifat-sifat, serta kondisi
proses. Olehkarena itu, secara teoritis akan sulit untuk dapat melakukan analisis
secara kuantitatif. Berbagai ketidakpastian yang terjadi, seperti efek-efek

1
gesekan,deformasi non homogen, dan pengerasan regangan misalnya, dapat
menyebabkan terjadinya kesulitan di dalam memprediksi suatu nilai yang eksak.
Teori-teori analisis proses pembentukan logam secara garis besar dapat
dibagi menjadi menjadi dua bagian, yaitu teori klasik dan teori non klasik. Metode
klasik,pada dasarnya tetap perlu untuk dipelajari, walaupun saat ini telah
berkembang metode analisis yang lebih cepat dan akurat. Teori-teori tersebut
diperlukan didalam kondisi di mana tidak tersedia fasilitas komputasi yang
memadai.
Sebagai pendahuluan, dalam Bab ini akan dibahas tentang proses-proses
pembentukan yang terjadi dalam pembuatan logam yang terjadi secara panas atau
secara pengerjaan dingin.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari judul makalah ini adalah sebagai berikut:

a. Apa yang dimaksud dengan Proses Pembentukan logam?


b. Bagaimana cara-cara Pembentukan logam?
c. Apa yang dimaksud pengerjaan panas pada logam?
d. Apa yang dimaksud pengerjaan dingin pada logam?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah :
a. Untuk mengetahui apa itu Proses Pembentukan logam
b. Untuk mengetahui cara-cara pembentukan logam
c. Untuk mengetahui seperti apa pengerjaan panas pada logam
d. Untuk mengetahui seperti apa pengerjaan dingin pada logam

1.4 Manfaat Penulisan


Adapun manfaat penulisan dari makalah ini adalah untuk menambah
pengetahuan kita tentang Proses Pembentukan pada Logam bagi para pembaca.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PROSES PEMBENTUKAN

Proses pembentukan adalah Proses pembentukan logam dengan mempergunakan


gaya tekan untuk mengubah bentuk dan atau ukuran dari logam yang dikerjakan.
Berdasarkan proses pengerjaan, dibagi 2 bagian :
1.HOT WORKING PROCESS
2.COLD WORKING PROCESS

A. Pengerjaan secara panas (Hot Working)

Pengerjaan panas adalah proses pembentukan logam yang mana proses


deformasinya dilakukan dibawah kondisi temperatur dan laju regangan dimana
proses rekritalisasi dan deformasi terjadi bersamaan.
Proses pengerjaan panas dapat didefinisikan sebagai proses pembentukan
yang dilakukan pada daerah temperatur rekristalisasi logam yang diproses. (agar
lebih singkat daerah tamperatur diatas temperatur rekristalisasi untuk selanjutnya
disebut sebagai daerah temperatur tinggi). Dalam proses deformasi pada
temperatur tinggi terjadi peristiwa pelunakan yang terus menerus, khususnya
akibat terjadinya rekristalisasi. Akibat yang konkret ialah bahwa logam bersifat
lunak pada temperatur tinggi. Kenyataan inilah yang membawa keuntungan-
keuntungan pada proses pengerjaan panas. Yaitu bahwa deformasi yangdiberikan
kepada benda kerja dapat relative besar. Hal ini disebabkan karena sifat lunak dan
sifat ulet, sehingga gaya pembentukan yang dibutuhkan relative kecil, serta benda
kerja mampu menerima perubahaan bentuk yang besar tanpa retak. Karena itulah
keuntungan proses pengerjaan panas biasanya digunakan pada proses-proses
pembentukan primer yang dapat memberikan deformasi yang besar, misalnya:
proses pengerolan panas, tempa dan ekstrusi.

3
Dengan demikian proses pengerjaan panas secara drastis mampu
mengubah bentuk material tanpa akan timbulnya retak pembentukan yang
berlebihan.
Disamping itu, temperatur tinggi memacu proses difusi sehingga hal ini
dapat menghilangkan ketidak homogenan kimiawi, pori-pori karena efek
pengelasan dapat tertutup atau ukurannya berkurang selama derformasi
berlangsung serta struktur metalurgi dapat diubah sehingga diperoleh sifat-sifat
akhir yang lebih baik. Dilihat dari segi negatif, temperatur tinggi dapat
mengakibatkan reaksi yang tidak dikehendaki antara benda kerjadengan
lingkungannya.
Toleransi menjadi rendah sebagai akibat adanya penyusutan /pemuaian
thermal ataupun akibat pendinginan yang tidak seragam. Secara metalurgis dapat
terjadi sehingga ukuran butir produk akan bervariasi tergantung pada basar
reduksi yang alami, temperature deformasi yang terakhir, setelah doformasi dan
faktor-faktor lainnya.
Keberhasilan dan kegagalan proses pengerjaan panas sering sangat
tergantung pada keberhasilan mengatur kondisi termal, karena hampir 90% energi
yang diberikan kepada benda kerja akan diubah menjadi panas maka temperatur
benda kerja akan naik jikadeformasi berlangsung sangat cepat. Meskipun
demikian, pada umumnya pemanasan benda kerja dipanaskan pada temperature
yang lebih rendah.
Adanya aliran benda kerja yang panas dan lunak pada bagian dalam akan
mengakibatkan retakan pada permukaan benda kerja yang dinging dan getas. Oleh
kerena itu temperatur benda kerjaperlu dijaga agar ke seragam mungkin.
Guna mendapatkan toleransi produk yang lebih baik maka temperatur dies
dinaikan dan waktu kontak yang lebih lama (kecepatan deformasi yang lebih
rendah). Namun dengan cara seperti ini juga akan semakin memperpendek umur
dies. Pada saat memproses forming produk yamg bentuknya rumit, seperti pada
hot forging, bagian tipis akan mendingin lebihcepat dari pada bagian yang tebal
sehingga hal ini akan semakin memperumit perilaku aliranbenda kerja.

4
Lebih jauh lagi ketidak seragaman pendinginan benda karja akan
menimbulkan tegangan sisa pada produk akhir hasil proses hot working

B. Pengerjaan secara dingin (Cold Working)

Proses pengrjaan dingin didefinisikan sebagai proses pambantukan yang


dilakukanpada daerah temperatur dibawah temperatur rekristalisasi. Dalam
praktek memang padaumumnya pangerjaan dingin dilakukan pada temperatur
kamar, atau dengan lain perkataantanpa pemanasan benda kerja.
Agar lebih singkat, untuk selanjutnya daerah temperatur dibawah
temperaturerekristalisasi disebut saja sebagai daerah temperatur rendah. Pada
kondisi ini pada logamyang diderformasi terjadi peristiwa pengrasan regangan.
Logam akan bersifat makin kerasdan makin kuat tetapi makin getas bila
mengalami deformasi. Hal ini menyebabkan relatifkecil deformasi yang dapat
diberikan pada proses pengerjaan dingin. Bila dipaksakan adanyasuatu perubahan
bentuk yang besar, maka benda kerja akan retak akibat sifat getasnya.
Meskipun demikian, proses pengerjaan dingin tetap menempati kedudukan
yang khas,dalam rangkaian proses pengerjaan. Langakah deformasi yang awal
biasanya adalah padatemperature tinggi, misalnya proses pengerolan panas. Billet
ataupun slab di rol panasmenjadi bentuk yang lebih tipis, misalnya pelat. Pada
tahapan tersebut deformasi yang dapatdiberikan adalah relatif besar. Namun
proses pengerolan panas ini tidak dapat dilanjukanpada pelat yang relative lebih
tipis. Memang mungkin saja suatu gulungan pelat dipanaskanterlebih dahulu pada
tungku sampai temperaturnya melewati temperatur rekristalisasi. Akantetapi bila
pelat tersebut dirol, maka temperaturnya akan cepat turun sampai dibawah

5
Temperatur rekristalisasi. Hal ini disebabkan oleh besarnya panas yang berpindah
dari pelat kesekitarnya. Pelat yang tipis akan lebih cepat mengalami penurunan
temperatur dari pada pelatyang tebal.
Dari uraian tersebut jelaslah behwa proses deformasi yang dapat dilakukan
padabenda kerja yang luas permukaan spesifiknya besar hanyalah proses
pengerjaan dingin.Beberapa contohnya adalah proses pembuatan pelat tipis
dengan pengerolan dingin, prosespembuatan kawat dengan proses panarikan (wire
drawing), serta seluruh proses pembentukanterhadap pelat (sheet metal forming).
Keunggulan proses pengerjaan dingin adalah kondisi permukaan benda
kerja yanglebih baik dari pada yang diproses dengan pengerjaan panas. Hal ini
disebabkan oleh tidakadanya proses pemanasan yang dapat menimbulkan kerak
pada permukaan.

Keunggulan lainya ialah kekerasan dan kekuatan logam sebagai akibat pengerjaan
dingin.Namun hal ini diikuti pula oleh suatu kerugian, yaitu makin getasnya
logam yang dideformasidingin.

Sifat-sifat logam dapat diubah dengan proses perlakuan panas (heat treatment).
Perubahansifat menjadi keras dan getas akibat deformasi dapat dilunakan dan
diuletkan kembali denganproses anil (annealing).

Ditinjau dari segi proses pembuatan (manufacturing), proses pengerjaan dingin


mempunyai sejumlah kelebihan yang jelas sehingga bebagai Jenis proses
pengerjaan dingin menjadi sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Apabila
dibandingkan dengan proses pengerjaanpanas maka proses pengerjaan dingin
mempunyai beberapa keuntungan, yaitu:

1. Tidak perlu pemanasan


2. Permukaan akhir lebih baik
3. Pengaturan dimensi lebih bisa terkendali, sehingga walaupun ada sangat
sedikit sekaliproses pemesinan lanjut

6
4. Produk yang dihasilkan mempunyai reproducibility (mammpu
diproduksi kembalidengan kualitas yang sama) interchangeability (mampu
tukar) yang lebih baik
5. Kekuatan, kekuatan lelah (fatigue strength) dan ketahanan ausnya lebih
baik
6. Sifat-sifat terarah (directional properties) dapat dimunculkan
7. Masalah kotaminasi dapat dikurangi

Adapun kerugianya adalah:


1. Diperlukan gaya yang besar untuk melakukan deformasi
2. Perlu peralatan yang berat dan berdaya besar
3. Produk menjadi kurang ulet
4. logam harus bersih dan bebas kerak
5. Terjadi pengeras regangan (strain hardening) sehingga perlu poses
pelunakan(annealing) antara proses bila digunakan proses deformasi
6. Rusaknya directional properties
7. Timbulnya tegangan sisa

Dari fakta-fakta diatas seperti yang telah dipaparkan diatas. Terlihat bahwa
prosespengerjaan dingin khusus cocok untuk produksi dalam jumlah yang banyak,
dimana kuantitasproduk dapat mengimbangi ongkos peralatan yang mahal.
Cocok tidaknya logam diproses pambentukan dingin ditentukan olah sifat-
sifattariknya yang mana hal ini langsung berkaitan dengan struktur metalurginya.
Dengan penjelasan yang sama maka proses pengerjaan dingin akan mengubah
sifat material padaproduk yang dihasilkan. Defomasi plastis pada suatu logam
hanya dapat terjadi jika bataselastis logam dilewati.

7
2.2 . Penggilingan (Rolling)

Penggilingan diterapkan untuk pembuatan benda setengah jadi dengan


bentukpenampang seragam (lembaran, batang, pipa, profil). Penggilingan dapat
dilakukansecara hot working dalam keadaan pijar dan cold working pada suhu
ruang.Pada proses penggilingan panas, dua roll yang ditumpu mendatar dan
digerakkan berputar berlawanan arah, menangkap blok baja (slabs, blooms,
billets) yang didatangkan dalam keadaan pijar putih di atas jalur gelinding, dan
menariknya melalui antara keduanya. Selama pelaluan, maka benda gilingan
tersebut direntangkan pada arah memanjang dengan tekanangilingan, strukturnya
dimampatkan, penampangnya diperkecil, dan diberi bentuk dan ukuran.

Penggilingan dingin dilakukan sebagai kelanjutan penggilingan panas jika


dikehendaki permukaan yang mengkilap dan ukuran yang tepat. Kulit terak
disingkirkan sebelumya melalui pengetsaan. Pada penggilingan dingin, kekuatan
meningkat dan keuletan menurun.Menurut tata susun gilingan, maka dapat
dibedakan; instalasi giling duo,instalasi giling duoganda, instalasi giling trio, dan
instalasi giling kwarto.

8
2.3 Jenis-jenis proses pengerollan

2.3.1 ROLLING MILL


Prinsip : mengurangi ketebalan bisa dilakukan dengan pengerjaan
panas maupun pengerjaandingin
2.3.2 ROLLING FORGING
Pada proses ini roll dapat dibagi 2 bagian, yaitu :
SHAPE ROLLING dan ROLLINGFORGING

9
A. SHAPE ROLLING
Umumnya mengerjakan bagian-bagian yang kecil, misalnya ulir dan
dikerjakan padapengerjaan panas.Sedangkan ROLLING FORGING
dikhususkan pada pengerjaan dingin dan mengerjakanbagian yang
besar.Keuntungannnya : benda kerja memiliki strength tinggi, biaya cost
produksi lebih rendah danlaju produksi lebih tinggi dibanding dengan
proses cutting.

B. ROLL FORMING
Proses ini memproduksi lembaran logam untuk pembuatan pipa, plat strip.
ROLL FORMING dikerjakan pada pengerjaan dingin untuk pembuatan
lembaran kecil,lembaran dengan penampang tipis dan material yang lunak,
misal aluminium, tembaga

2.4 Penempaan (Forging)

FORGING adalah proses pembentukan logam secara plastis dengan


memberikan gaya tekanpada logam yang akan dibentuk .Gaya tekan yang
diberikan bisa secara manual maupun secara mekanis (HIDROLIS
ataupunPNEUMATIS)
Proses FORGING bopisa dikerjakan pada pengerjaan dingin maupun
pengerjaan panas.

Ada 3 hal yang perlu diperhatikan dalam proses forging :


A. DRAWN OUT
B. UPSET
C.SQUEEZED

Proses FORGING dapat dikelompokkan :


1.HAMMER FORGING

10
2.DROP FORGING
3.PRESS FORGING
4.UPSET FORGING
5. SWAGING
6. ROLL FORGING

2.4.1 HAMMER FORGING


Metal forging adalah salah satu proses dari pembentukan logam yang
dalam prosesnyadilakukan dengan cara ditempa. Dan dilakukan dengan tahapan
yang lama dan membutuhkanbiaya yang sedikit
Proses ini merupakan forging yang paling sederhana. Pada umumnya
landasan (ANVIL) danHAMMER yang dipakai berbentuk datar. Sehingga proses
ini diprioritaskan untuk membuatbenda kerja yang sederhana dan skala produksi
kecil. Prosesnya lama dan hasilnya tergantungdari skill operator.

2.4.2 DROP FORGING


PRINSIP :Memaksa logam panas yang plastis memenuhi dan mengisi
bentuk die dengancara penempaan. Proses ini yang diperlengkapi dengan die. Die
umumnya dibagi dua bagiandimana satu bagian diletakkan pada hammer, yang
lainnya pada anvil.

11
Syarat die yang digunakan harus kuat dan tangguh terhadap beban
impact,keausan, dantemperatur umumnya terbuat dari campuran baja denga
nkrom, molibdenum dan nickel.
Faktor yang penting dan harus diperhatikan adalah tenaga pneumatis dan
tenaga hidrolissehingga mesin-mesin tipe steam hammer maupun air hammer
mampu bekerja sangat cepat,mudah dikontrol dan otomatis.
Impact forging juga merupakan bagian dari closed die forging hanya saja
gerakanhammernya horisontal dan bisa dikerjakan dalam pengerjaan panas
maupun dingin.

Gambar Perbandingan Drop Forging dengan Impact Forging

2.4.3 PRESS FORGING


Pada hammer forging maupun drop forging energi yang diberikan pada
saat penempaansebagian besar terserap oleh anvil, pondasi mesin dan permukaan
luar benda kerja sedangkanbagian dalam benda kerja belum terdeformasi. karena
itu untuk benda kerja denganpenampang tebal dan besar digunakan press
forging.Prinsip press forging : dilakukan penekanan secara perlahan-lahan pada
benda kerja sampaimenghasilkan aliran logam yang uniform.Press forging
biasanya dikerjakan tanpa die dan hammer maupun anvilnya berbentuk datar.

2.4.4 UPSET FORGING


Proses forging yang dikhususkan untuk pembesaran diameter pada ujung
batang logamditekan dalam arah memanjang.Pada dasarnya benda kerja yang
diupset berupa bar bulat, wire ataupun benda kerja berbentuksilindris.

12
Ada 3 hal yang diperhatikan pada saat melakukan upset forging :
1. Panjang benda yang diupset tidak lebih dari 3 kali diameter batang
2.Diameter upset tidak lebih dari 1,5 kali diameter batang
3.Panjang benda kerja yang tidak ditumpu oleh die tidak lebih dari
diameter batang

2.4.5 SWAGING
SWAGING adalah proses pengurangan diameter benda kerja yang
berbentuk bulat baik solidmeupun berongga dengan cara penempaan berulang
kali.
GAMBAR PROSES SWAGING

Disini die berfungsi sebagai hammer


Proses swaging juga dapat membentuk bentuk kerucut dan mengurangi diameter
dalammaupun diameter luar penampang

2.4.6 ROLL FORGING


Proses forging untuk mengurangi ketebalan dari bar yang berbentuk bulat
atau datar sehinggamengalami perpanjangan ke arah sumbu axisnya.Roll forging
biasanya memproduksi poros, batang taper dan pegas daun.
Roll forging terdiri dari dua roll semisilindris dengan bentuk groove
sebesar 25-75 % sumbuputaran.

2.5 Penekanan (Ekstrusi)

Ekstrusi bisa dilaksanakan secara hot working dan cold working. Logam-
logamyang bisa dikerjakan pada proses ini adalah umumnya logam-logam lunak
seperti ;timah, tembaga, aluminium, magnesium, dan logam-logam paduannya.

13
Keuntungan proses ekstrusi antara lain ; kemungkinan membuat berbagai
jenisbentuk berkekuatan tinggi, ketepatan ukuran, penyelesaian permukaan yang
baik padakecepatan produksi yang tinggi, dan harga dies yang relatif murah.

Prinsip ekstrusi seperti halnya mengeluarkan pasta dari tubenya. Prinsip


ini adadua cara yaitu ekstrusi langsung (forward) dan elstrusi tak langsung
(backward).Pada ekstrusi langsung, billet bulat yang telah dipanaskan dimasukkan
dalam ruang die, balokdummy dan ram kemudian ditempatkan pada posisi
masing-masing. Logam diekstrusimelalui lubang pada die sampai tersisa bahan
sedikit saja. Pada ekstrusi tak langsung, hampirsama dengan ekstrusi langsung
hanya disini bagian yang diekstrusi ditekan keluar melaluibagian dalam ram. Gaya
yang diperlukan lebih rendah karena tidak ada gesekan antara billetdan dinding
kontiner.

Gambar 5.8 Diagram ekstrusi langsung dan ekstrusi tak langsung

2.6 Drawing

Definisi DrawingDeep Drawing atau biasa disebut drawing adalah salah


satu jenis proses pembentukan logam,dimana bentuk pada umumnya berupa
silinder dan selalu mempunyai kedalaman tertentu,sedangkan definisi menurut
P.CO Sharma seorang professor production technology drawingadalah Proses
drawing adalah proses pembentukan logam dari lembaran logam ke dalambentuk
tabung (hallow shape)(P.C. Sharma 2001 : 88)

Proses ini dapat dibagi 5 kelompok besar


1.BAR AND TUBE DRAWING
2.WIRE DRAWING
3.STRETCH FORMING
4.DEEP DRAWING
5.FORMING WITH RUBBER

14
2.6.1 BAR AND TUBE DRAWING
Hasil dari bar drawing adalah pengecilan penampang melintang dan
pemanjangan batangdengan konsekuensinya timbul strain.Hardening pada
umumnya proses ini dilakukan secara bertahap
Proses bar drawing ini biasanya diikuti dengan proses annealing jika reduksi
penampangnyamelebihi 30-50 %
Proses tube drawing digunakan untuk membuat pipa tanpa sambungan.Bahan
dasar yang digunakan berbentuk pipa sehingga kualitas pipa yang dihasilkan
memilikipermukaan yang halus, berdinding tipis dan keakuratannya tinggi serta
kekuatannya naik.Mandrel dipergunakan dalam proses ini untuk diameter tube
1/2-10

2.6.2 WIRE DRAWING


Prinsipnya sama dengan bar drawing. Hanya saja diameternya lebih kecil,
dan dikerjakansecara kontinu melalui beberapa die.Jika diperlukan kawat yang
lunak, annealing dilakukan didalam dapur dengan mengontroltemperaturnya
setelah proses drawing terakhir.Pada proses penarikan kontinu, kawat ditarik
melalui beberapa die dan rol penarik yang disusun seri.

2.6.3 STRETCH FORMING

Pada proses ini, die (form block) hanya dikenai tegangan kompresi, benda
kerja yang diikatdengan grip dan ditarik ke arah horisontal. Die umumnya
terbuat/dapat dibuat dari kayu atayplastik.Stretch forming merupakan proses yang
dikembangkan dari aerospace dalam pembuatanpenampang yang lebar dari sheet
dan ditarik untuk membentuk lengkungan penampang.

15
2.6.4 DEEP DRAWING
Proses ini ditujukan untuk membuat tangki dengan berbagai bentuk
dimana kedalamannyalebih besar dibandingkan dengan ukuran diameter, dan
disamping itu dikenal juga istilahshallow drawing.

Pada dasarnya proses ini ada dua, yaitu:


1.SHRINK FORMING
Pada proses ini terjadi kompresi melingkar selama proses dengan
pengurangan diameter danlogam cenderung tipis. Karena material cukup tebal
maka pada dinding produk akanberakibat terjadi kerutan.
2.STRETCH FORMING
Pada proses ini terjadi pengecilan benda kerja sebagi akibat tarikan
melingkar yangdigunakan untuk memperbesar diameter.Guna mencegah kerutan
dna ketebalan dinding yang tidak merata, aliran logam harusdikontrol. Hal ini
dapat diatasi dengan memberikan ring penakan.Perhatikan gambardibawah ini.

2.6.5 FORMING WITH RUBBER


Pada proses ini karet dipakai sebagai penekan, ditujukan untuk
mengeliminir salah satu dieaas atau bawah.Proses guerin forming didasarkan pada
kenyataan bahwa sifat konsisten dari karet dapatmentransfer seluruh tekanan yang
diberikannya secara uniform ke segala arah.
Proses bulging didasarkan bahwa fluida atau karet dimanfaatkan untuk
memindahkan tekananyang dibutuhkan untuk mengembangkan bahan baku ke
arah luar sehingga menempel padadie.

2.7 Pembengkokan (Bending)

Bending merupakan proses forming secara cold working yang


menyebabkanperubahan plastis dari logam sekitar garis sumbunya dengan sedikit
atau tidak adaperubahan penampang sama sekali.
Gambar 5.13 Jenis-jenis proses pembengkokan (forming)

16
2.8 Pembuatan pipa dan tabung (Pipe and Silinder Production)

Pipa dan tabung dapat dibuat secara hot working dengan sistem
penyambunganbutt-welded pipe (las lantak) dan lap-welded pipe (las tumpuk).
2.8.1 Lap welded pipe
Proses ini terutama digunakan untuk pipa-pipa dengan diameter yang lebih
besardari 50 sampai 400 mm dengan panjang 7 meter. Perbedaannya dengan
buttweldingadalah disamping tepi dari skelp yang tirus, juga terdapat madrel
danpasangan roll untuk membentuk sambungan las.Gambar 5.14 Skema proses
pembuatan lap-welded pipe.
2.8.2 Butt-welded pipe
Proses butt-welded pipe menggunakan bahan dasar pipa dari skelp. Pipa
tidakdibentuk dari suatu gelondongan, tetapi dari sklep yang telah dipanaskan
sampaitemperatur tempa melalui suatu dapur kemudian ditarik memasuki sebuah
roll yangmembentuknya jadi silinderGambar 5.15 Skema pembuatan butt-welded
pipe.
2.8.3 Pelubangan tembus (piercing)
Piercing digunakan untuk membentuk tube berdinding tebal tanpa sambungan
dandilaksanakan secara hot working. Tube tersebut dibentuk dari billet
berpenampangbulat, ujung billet ditandai dengan centre punch kemudian
dipanaskan sertadidorong dalam arah longitudinal diantara dua buah roll besar
berbentuk tirus dancembung yang berputar dengan arah yang sama.Putaran roll-
roll menyebabkan billet tertarik dan berputar, selain itu billet jugatertekan
sehingga meyebabkan crack pada sumbu utamanya (bersamaan dengan itumandrel
ditekan masuk menembus cracking) sehingga terbentuklah lubang
tabungtersebut.Untuk mencapai ukuran yang diinginkan, tabung yang dihasilkan
tadi dimasukkanlagi kedalam roll dan mandrel yang berbeda.Gambar 5.16 Skema
proses pelubangan tembus (piercing).

17
Pembentukan tambahan:
2.9 Spinning
Spinning bisa dilakukan dengan cara hot working atau cold working, proses
ini digunakanuntuk membentuk barang-barang yang menyerupai cakram, dibuat
dari sheet metal yangdibentuk diatas semacam piringan berputar dengan diberi
tekanan pada salah satu sisinya.
Shear spinning merupakan proses pembentukan lembaran logam menjadi
bentuk setengah bola, tembereng dengan kombinasi putaran dan
gaya,pembentukan dengan tekanan-tarik, dimana tegangan compresive
tangensialdan tegangan tarik radial terjadi hanya pada daerah devormasi.
Conventional spinning. Pada konvensional spinning , suatu lingkaran yang
kosong untukpelat logam preformed atau rata ditempatkan dan dipegang menahan
terhadap suatupenekanan dan putaran saat alatnya mengubah bentuk dan
membentuk material padapenekanan . Alat yang digunakan mungkin digerakkan
dengan tangan atau oleh mekanismecomputer-controlled. Proses yang secara khas
melibatkan suatu urutan , dan itu memerlukanketrampilan yang harus
dipertimbangkan. Spinning konvensional ini diutamakan untuk yangberbentuk
kerucut dan bentuk curvilinear , kalau tidak akan bersifat tidak ekonomis atau
sulituntuk menghasilkan. Garis tengah bagian bisa mencakup sampai 6m ( 20ft).
Walau memutarpreformed pada suhu ruangan , batang-batang rel dan komponen
tebal dengan kekuatan tinggiatau ductilas rendah memerlukan penggulungan pada
temperatur yang dinaikkan.
Shear spinning. Juga dikenal sebagai power spinning , flow
turning,hydrospinning dan spinforging, operasi ini menghasilkan suatu yang
berbentuk kerucut axisymmetric ataucurvilinear shape, reducing ketebalan
lembaran selama pemeliharaan yang maksimum padatitik tengah ( Gambar
16.43a). Alat penggulung pembentukan tunggal dapat digunakan,tapidua alat
penggulung lebih baik
Mengimbangi permintaan lebih baik adalah kekuatan bertumpu pada
penekanan itu.Komponen khas dibuat adalah ujung roket proyektil dan selubung
motor roket. Komponensampai 3m pada titik tengah dapat dibentuk oleh

18
pemotong besar yang memutar. Operasi ini memboroskan material yang kecil, dan
itu dapat diselesaikan di dalam suatu waktu yangpendek, beberapa di antaranya
kecil seperti beberapa detik /unit. berbagai bentuk dapatdiputar dengan hasil yang
dibuat mesin yang sederhana, yang mana biasanya dibuat dari alatbaja.Spinnabilas
dari suatu logam pada proses ini biasanya adalah menggambarkan
ketikareducation yang maksimum di dalam ketebalan untuk sebagian dapat
diperlakukan denganspinning tanpa retak.
Spinnabilas ditemukan untuk; menjadi dihubungkan denganpengurangan area
yang yang dapat diregangkan dari material, sama halnya benda yang
tidakdigunakan. Begitu, jika suatu logam mempunyai suatu pengurangan area
yang yang dapatdiregangkan 50% atau yang lebih tinggi , ketebalan nya dapat
dikurangi sebanyak itu . seperti80% pada orang memutar pass. Karena batang-
batang rel dengan ductilas rendah , operasidilaksanakan pada tingkat temperatur
meningkat oleh pemanasan yang kosong di dalam suatutungku perapian dan
pemindahan itu dengan cepat kepada mondrel.
Tabung yang memutar. Di dalam tabung yang memutar, ketebalan dari
silindris yang kosongdikurangi atau dibentuk oleh spinnning pada suatu
kepadatan, mondrel bulat yangmenggunakan gulungan. Pengurangan pada
ketebalan permukaan mengakibatkan suatu pipalebih panjang. Operasi ini
mungkin dilaksanakan secara eksternal atau secara internal,berbagai profil internal
dan eksternal dapat diproduksi dari cyllindrical yang kosong denganketebalan
permukaan yang tetap. Komponen digerakkan dengan diputar ke depan
ataumundur; secara langsung atau tidak dengan tekanan, sebagai descripted.
penguranganketebalan yang maksimum menggunakan spinning pipa dihubungkan
dengan penguranganarea yang dapat diregangkan dari material, karena adanya
shear spinning.Pipa memutardapat digunakan untuk membuat roket, proyektil,
dan rancang-bangun pancaranparts,pressures kapal, dan permobilan
components,such pada roda/kemudi truk dan mobil

19
2.10 Strecth forming

Pada stretch forming, pelat logam adalah diclamping sepanjang tepinya


dan yangdiregangkan pada male dies( dari blok atau dari pukulan). Die bergerak
ke atas, mengarah kebawah atau jalan sisi yang tergantung pada disain tertentu
dari mesin ( buah ara 16.30)pembentukan peregangan digunakan terutama untuk
membuat pesawat terbang panel kulitpesawat ,badan pesawat terbang, dan sarung
kapal. alumunium kulit untuk boeing 767 dan757 pesawat terbang, sebagai
contoh, adalah dibuat oleh stretch forming dengan suatukekuatan tekanan 9 MN.
lembar segi-empat adalah 12mx 2.5 x 6.4 mm. walaupun proses ini biasanya
digunakan untuk produksi volume rendah, adalah hemat dan serbaguna,
terutamasekali untuk industri pesawat terbang.
Pada kebanyakan operasi, yang kosong adalah lembar segi-empat yang
diclamping sepanjangtepi lebih dangkal nya dan meregangkan menurut panjang,
begitu membiarkan materialuntuk menyusutkan pada jarak. mengendalikan
jumlah peregangan adalah penting dalamrangka mencegah retakan. Pembentukan
peregangan tidak bisa menghasilkan komponendengan pinggiran yang jelas
dengan sudut kembali ( tekanan pada permukaan dari die.)berbagai accesorry
peralatan dapat menggunakan bersama dengan peregangan membentuk,mencakup
lebih lanjut pembentukan dengan kedua-duanya female dan male die part dibawah
tegangan. dies untuk stretch forming biasanya dibuat dari campuran logam seng,
baja,plastik, atau kayu. kebanyakan aplikasi tidak memerlukan minyak pelumas.
Gambar 16.30 Ilustrasi skema dari proses stretch forming. Lapisan
alumunium untuk pesawat dapat dibuatdengan metode ini. Sumber : Courtesy of
Cyril Bath Co.

2.11 Heaming dan seaming.


Pada proses heaming ( juga disebut perataan), tepi dari lembardilipat di atas
bagian itu sendiri ( gambar 16.23c). heaming meningkatkan kekakuan
part,meningkatkan penampilan nya, dan menghapuskan tepi yang tajam. seaming
melibatkansambungan dua tepi pelat logam heaming (gambar.16.23d) seaming

20
ganda adalah dibuat oleh proses serupa menggunakan bentuk secara khusus alat
penggulung untuk kedap dansambungan kedap udara, seperti diperlukan di kotak
makanan dan minuman.

2.12 Bulging
Proses ini melibatkan penempatan suatu bentuk tabel, yang berbentuk
kerucut, ataucurva linear die ke dalam suatu split female die dan kemudian
mengekspandingnya, padaumumnya dengan suatu penyumbat polyurerthane (
gambar.16.28a). punch kemudian ditarikkembali, penyumbat kembali ke bentuk
asli, dan part yang dibentuk dipindahkan denganpembukaan die yang memisah.
produk khas dibuat adalah pitchers air, barrel bir dan manik-manik drum minyak.
karena komponen dengan bentuk kompleks, busi ( sebagai gantimenjadi silindris)
mungkin dengan tujuan menerapkan tekanan yang lebih tinggi pada daerahpart
yang kritis. keuntungan utama menggunakan busi polyurethane adalah bahwa
merekaadalah sangat bersifat tahan abrasi , melicinkan ,and pelumas, lagipula,
tidak merusakkanujunh permukssn yang sedang dibentuk.

2.13 Segmented dies


Ini adalah dies yang terdiri dari segmen individu yang ditempatkan didalam
part itu dibentuk dan diperluas dengan mesin dalam satu arah radial. mereka
kemudianditarik kembali untuk memindahkan part yang dibentuk itu. Segmented
dies secara relatifmahal, dan dapat digunakan untuk produksi masal.

21
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

3.2 SARAN

22
Daftar Pustaka

Eugene, D, Ostergaard ;1967; Advanced Die Making; Prentice Hall; New


Jersey.harma, P.C.; 2002; A Textbook of Production Engineering; S. Chand &
CompanyLtd, New Delhi.

http://www.teledometalspinning.com:September2005

http://www.thefabricator.com:September2005

http://gnatchung.tripod.com:September2005

Buku Bahan Ajar Teknologi Bahan I oleh MSR

http://www.1.3ForgingProcesses_ForgingIndustryAssociation.com

pipingsystem2009rudysetyawan.ppt

http://www.METALFORMINGPROCESS_AfriSujarwantosWeblog

http://www.Spinning_Shearforming.com

http://www.prapssDasar-dasarPembentukanLogam.com

23