Anda di halaman 1dari 103

ANALISIS EKONOMI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SAMPAH

DAN MANFAAT REDUKSI EMISI KARBON DI TEMPAT


PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU BANTARGEBANG

LARASATI ALIFFIA SYAIFFHANAYA WIDYAPUTRI

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN


FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
ABSTRAK

LARASATI ALIFFIA SYAIFFHANAYA WIDYAPUTRI. Analisis Ekonomi


Pembangkit Listrik Tenaga Sampah dan Manfaat Reduksi Emisi Karbon di
Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang. Dibimbing oleh YUSMAN
SYAUKAT.

Aktivitas perekonomian membutuhkan listrik sebagai penunjang


produktivitas. Permintaan yang tinggi terhadap listrik masih belum tersedia oleh
Perusahaan Listrik Negara. Hal itu menyebabkan timbul fenomena kelebihan
permintaan padahal Indonesia memiliki potensi besar dalam penyediaan energi
seperti solar, angin, mikro hidro, serta biomass. Salah satu sumber energi biomass
adalah sampah. Mayoritas Tempat Pembuangan Akhir di Indonesia masih
beroperasi dengan sistem open landfill tanpa perlakuan lanjutan apapun. TPST
Bantargebang dapat menjadi role model yang mengaplikasikan pengolahan
sampah berkelanjutan terintegrasi dengan PLTSa.Tujuan penelitian ini yaitu: 1)
Mengidentifikasi sistem pengelolaan sampah di TPST Bantargebang; 2)
Mengevaluasi manfaat ekonomi yang mungkin dihasilkan melalui reduksi emisi
karbon dari kegiatan PLTSa. 3) Mengevaluasi secara ekonomi terhadap proyek
PLTSa di TPST Bantargebang.Total manfaat ekonomi dari reduksi emisi CO2
yaitu Rp 39.128.386.541 dari reduksi emisi CO2 sebanyak 115.219,04 ton.
Kriteria kelayakan didapatkan nilai NPV Ekonomi sebesar Rp 1.141.704.311.213
dan NPV Finansial Rp 486.089.097.250. Net B/C Ekonomi sebesar 5,51 dan Net
B/C Finansial sebesar 2,64. IRR Ekonomi mencapai 22%, sedangkan IRR
Finansial hanya mencapai 11%. PP finansial yaitu 5 tahun 3 bulan, sedangkan PP
ekonomi membutuhkan 1 tahun 4 bulan masa pengembalian. Nilai-nilai tersebut
menunjukkan proyek PLTSa Bantargebang memenuhi kelayakan untuk
dilaksanakan baik secara finansial maupun ekonomi.

Kata kunci: analisis biaya manfaat, emisi gas rumah kaca, LandGEM, pengelolaan
sampah berkelanjutan.
ABSTRACT

LARASATI ALIFFIA SYAIFFHANAYA WIDYAPUTRI. Economic Analysis of


Waste-based Power Plant and Carbon Emission Reduction in Bantargebang
Landfill. Supervised by YUSMAN SYAUKAT.

Economic activities need electricity as productivity underpinning. High demand


trend of Indonesia electricity is unadequately exist by Local Electricity Company.
It caused excess demand whereas Indonesia had a large possibility provided
alternative energy resources such as wind, hydro power, and biomass. Waste is
one of biomass energy contributor. Majority landfill in Indonesia still adopted
open landfill system without any kind of treatment. Bantargebang Landfill could
be a role model which applied integrated landfill with municipal waste power
plant. The aims of this research are: 1) System analysis of waste treatment in
Bantargebang Landfill; and 2) Measuring economic benefits of waste-based
power plant; and 3) Economic analysis of Bantargebang waste-based power
plant. The waste treatment identificated by descriptive analysis about operational
process of carrying waste from the site; and how to process landfill waste to
compost, recycled plastics and electricity. Total economic benefits of CO2
emission reduction is USD 2,650,740.46 from tighten emission about 93,665.74
tonnes of CO2 by integrated waste treatment. NPV USD 95,964,440.11; Net B/C
5.51; IRR 22% and PP on years 1st year 4 months. Refering to the economic
analysis, this waste-based power plant is economically feasible. Research results
would be a reference to Indonesia Government about waste management and
treatment that enable to apply in the others landfill. Both government and private
companies also had financial highlight of sustainable landfill should be.

Keywords: benefit-cost analysis, landfill gasses, LandGEM, waste management,


waste to energy.
iii

ANALISIS EKONOMI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SAMPAH


DAN MANFAAT REDUKSI EMISI KARBON DI TEMPAT
PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU BANTARGEBANG

LARASATI ALIFFIA SYAIFFHANAYA WIDYAPUTRI

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Ekonomi
pada
Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN


FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI
SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Ekonomi


Pembangkit Listrik Tenaga Sampah dan Manfaat Reduksi Emisi Karbon di
Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang adalah benar karya saya
dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa
pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau
dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain
telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian
akhir skripsi ini. Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya
kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Agustus 2014

Larasati Aliffia Syaiffhanaya Widyaputri


NIM H44100088
PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan berkah-
Nya sehingga penulis dapat merampungkan penyusunan skripsi sebagai
persyaratan memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ekonomi
Sumberdaya dan Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut
Pertanian Bogor. Skripsi ini mengangkat kajian mengenai pengolahan sampah
secara berkelanjutan di DKI Jakarta, berjudul Analisis Ekonomi Pembangkit
Listrik Tenaga Sampah dan Manfaat Reduksi Emisi Karbon di Tempat
Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang.
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi mengenai
perlunya mereplikasi proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah yang terintegrasi
dengan Tempat Pembuangan Akhir setempat. Selain memberi nilai ekonomi yang
besar bagi pengelola, aktivitas pengolahan sampah berkelanjutan juga memberi
dampak positif lainnya seperti mampu menyerap tenaga kerja, mengurangi polusi
bau serta tentu saja mengurangi jumlah sampah yang menumpuk.
Terima kasih penulis ucapkan kepada kedua orang tua penulis tercinta, Ir.
Kasmita Widodo dan Anita Rosyana, A.Md; adik tersayang Gita Dwilaksmi
Ramadhani, Ryandhika Yudhistira, Arjuna Lintang Samudera; Oma Titin, Papi
Munadji, almh. Mbah Sarwi, serta seluruh keluarga atas dukungan, doa, nasihat
serta kasih sayang yang telah diberikan. Terima kasih juga penulis sampaikan
kepada Dr. Ir. Yusman Syaukat, M. Ec sebagai dosen pembimbing skripsi dan
akademik yang telah meluangkan waktu untuk memberi motivasi, bimbingan serta
saran dengan penuh kesabaran juga membuka wawasan hingga skripsi ini selesai.
Terima kasih kepada dosen penguji utama dan dosen penguji Departemen ESL
yang telah memberikan saran, terima kasih kepada dosen pengajar dan staff
departemen ESL serta dosen KPM telah banyak membantu proses pembelajaran
selama studi.
Terima kasih kepada pihak Dinas Kebersihan DKI Jakarta, pengelola
TPST Bantargebang, dan masyarakat Kecamatan Bantargebang yang telah
bersedia membantu penulis dalam mengumpulkan data serta informasi terkait
penelitian. Terima kasih kepada kawan-kawan 9ers, Forum for Scientific Studies
(Forces) IPB, Pak Nur, keluarga ESL 47, TPB A20, seluruh sahabat, yang
senantiasa memberi pemahaman kepada penulis: hidup adalah perjalanan dan
pembelajaran tentang kerendahan hati, to infinity and beyond.

Bogor, Agustus 2014

Larasati Aliffia Syaiffhanaya Widyaputri


NIM H44100088
iii

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ................................................................................. viii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................. ix
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................... ix
I. PENDAHULUAN ........................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah .................................................................. 5
1.3 Tujuan Penelitian ...................................................................... 8
1.4 Manfaat Penelitian .................................................................... 8
1.5 Ruang Lingkup Penelitian ......................................................... 9

II. TINJAUAN PUSTAKA .................................................................. 10


2.1 Economics of Waste Management ............................................ 10
2.2 Konsep Sumberdaya dan Hak Kepemilikan ............................. 12
2.3 Model Pengelolaan Sampah Kota ............................................. 14
2.4 Manfaat Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST)
Bantargebang ............................................................................ 15
2.4.1 Manfaat Ekonomi Energi Ramah Lingkungan ............... 17
2.4.2 Manfaat Ekonomi Reduksi Emisi Karbon ...................... 18
2.5 Penelitian Terdahulu ................................................................ 19

III. KERANGKA PEMIKIRAN ............................................................ 22


IV. METODE PENELITIAN ................................................................. 26
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................... 26
4.2 Jenis dan Sumber Data ............................................................. 26
4.3 Identifikasi Sistem Pengolahan Sampah di TPST
Bantargebang ............................................................................ 28
4.4 Teknik Analisis Data ................................................................ 28
4.4.1 Penilaian Manfaat Ekonomi Reduksi Emisi Karbon 28
4.4.2 Analisis Ekonomi Proyek PLTSa Bantargebang............. 32
V. GAMBARAN UMUM ...................................................................... 36
5.1 Gambaran Umum Provinsi DKI Jakarta.................................... 36
5.2 Gambaran Umum Kecamatan Bantargebang Kota Bekasi........ 38
5.3 Gambaran Umum TPST Bantargebang...................................... 39
VI. SISTEM PENGOLAHAN SAMPAH DI TPST BANTARGEBANG 43
6.1 Unit Pengolahan Kompos............................................................ 44
6.1.1 Proses Penimbunan............................................................ 45
6.1.2 Pembuatan Kompos Bubuk................................................. 46
6.1.3 Pembuatan Kompos Granul................................................ 47
6.2 Unit Daur Ulang Plastik................................................................ 49
6.3 Power House PLTSa Bantargebang.............................................. 52
VII. MANFAAT EKONOMI REDUKSI EMISI KARBON.................... 55
7.1 Reduksi Timbulan Sampah di TPST Bantargebang...................... 55
7.2 Manfaat Ekonomi Reduksi Emisi Karbon di TPST Bantargebang 57
VIII. ANALISIS EKONOMI PROYEK PLTSa BANTARGEBANG...... 60
8.1 Evaluasi Aspek Kelayakan Usaha PLTSa Bantargebang............... 59
8.1.1 Aspek Teknis......................................................................... 59
8.1.2 Aspek Institusional................................................................ 60
8.1.3 Aspek Sosial.......................................................................... 62
8.2 Identifikasi Manfaat Proyek PLTSa................................................ 62
8.2.1 Manfaat Langsung................................................................. 62
8.2.2 Manfaat Tidak Langsung....................................................... 64
8.3 Identifikasi Biaya Proyek PLTSa..................................................... 66
8.3.1 Biaya Investasi....................................................................... 66
8.3.2 Biaya Operasional.................................................................. 69
8.4 Analisis Kelayakan Ekonomi........................................................... 71
XI. SIMPULAN DAN SARAN.................................................................... 74
9.1 Simpulan........................................................................................... 74
9.2 Saran................................................................................................. 75
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 76

LAMPIRAN.............................................................................................80

RIWAYAT HIDUP........................................................................................ 86
1

DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1 Overview Kerjasama Pengelolaan TPST Bantargebang..................... 16
2 Matriks Metode Analisis Data sesuai Tujuan Penelitian.................... 27
3 Identifikasi Benefit and Cost Proyek PLTSa...................................... 29
4 Proyeksi Social Cost of Carbon 2008-2023........................................ 32
5 Jumlah Penduduk Provinsi DKI Jakarta Menurut Jenis Kelamin
Tahun 2008-2012................................................................................. 36
6 Rekapitulasi Timbulan Sampah DKI Jakarta Tahun 2000-2011........ 37
7 Jumlah infrastruktur Kecamatan Bantargebang tahun 2009............... 39
8 Kepadatan Penduduk Kelurahan Ciketing Udik, Kelurahan
Cikiwul dan Kelurahan Sumur Batu Periode Februari 2014............... 40
9 Data Aset Tak Bergerak TPST Bantargebang...................................... 41
10 Luas Zona dan Sub-zona TPST Bantargebang..................................... 42
11 Proyeksi Reduksi Timbulan Sampah di TPST Bantargebang
melalui Pengolahan Produk Lanjutan 2009-2023................................. 55
12 Proyeksi Reduksi Emisi CO2 dari Produk Olahan Sampah
di TPST Bantargebang 2009-2023........................................................ 57
13 Manfaat Ekonomi Produksi Listrik PLTSa Bantargebang.................... 62
14 Proyeksi Manfaat Ekonomi dari Tipping Fee bagi PLTSa
Bantargebang......................................................................................... 63
15 Proyeksi Manfaat Ekonomi Reduksi Emisi CO2 dari Produksi
Listrik di TPST Bantargebang 2009-2023............................................. 64
16 Biaya Investasi Transmisi Listrik PLTSa.............................................. 65
17 Biaya Investasi Mesin dan Sistem Operasi PLTSa............................... 66
18 Biaya Pra-investasi Proyek PLTSa........................................................ 67
19 Biaya Re-investasi Proyek PLTSa......................................................... 67
20 Biaya Tetap Tenaga Kerja Proyek PLTSa............................................. 68
21 Biaya Variabel Pengolahan Sampah PLTSa.......................................... 70
22 Analisis Kelayakan Ekonomi Proyek PLTSa........................................ 71
2

DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1 Sumber Energi Primer PLN tahun 2012 ............................................ 1
2 Jumlah Sroduksi Sampah Provinsi DKI Jakarta 1995-2015............... 3
3 Positive Benefits dari Suatu Proyek ................................................... 17
4 Diagram Operasional Penelitian......................................................... 25
5 Pola Pengangkutan Sampah di DKI Jakarta....................................... 38
6 Peta Lokasi TPST Bantargebang........................................................ 40
7 Mekanisme Pengolahan Sampah di TPST Bantargebang................... 43
8 Open Windrow Composting............................................................... 45
9 Proses Penimbunan Sampah di Composting Area.............................. 46
10 Proses Pengayakan Kompos Bubuk..................................................... 47
11 Pengemasan Kompos Granul................................................................ 49
12 Proses Daur Ulang Plastik di TPST Bantargebang.............................. 49
13 Alat Pembersih dan Pemotong............................................................. 50
14 Biji Plastik Hasil Daur Ulang dan Kemasan Biji Plastik........................ 51
15 Proses Produksi Listrik di PLTSa Bantargebang................................. 52
16 Soil covering dan Pelapisan Geomembran............................................ 53

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1 Denah TPST Bantargebang................................................................. 79
2 Biaya Investasi Konstruksi.................................................................. 80
3 Biaya Tetap Overhead Pabrik dan Kantor PLTSa.............................. 81
4 Cashflow Finansial............................................................................... 82
5 Cashflow Ekonomi............................................................................... 83
1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Konsumsi energi di Indonesia terus mengalami peningkatan. Pertumbuhan


ekonomi menjadi salah satu faktor penyebabnya. Gaya hidup masyarakat semakin
tergantung terhadap energi seperti sektor industri, rumah tangga, transportasi,
komersial dan lain-lain. Penelitian oleh Kuncoro dan Salimy (2011) menunjukkan
total permintaan energi nasional pada tahun 2008 mencapai 134,91 GW dari
sektor tersebut. Permintaan diprediksi akan mengalami peningkatan pesat pada
tahun 2050 mencapai 1.086,97 GW.
Krisis energi terlihat pada pemenuhan kebutuhan listrik nasional.
Purwanto (2011) meneliti bahwa pada tahun 2009, ketersediaan listrik sebesar
29.705 MW. Dari pasokan tersebut terdapat 11,68% yang hilang akibat
pemakaian listrik ilegal (free rider) maupun rusaknya transmitor listrik sehingga
pasokan bersih tersisa 26.235 MW. Permintaan terhadap listrik sebesar 30.943
MW menunjukkan terjadi kelebihan permintaan (excess demand) atau mengalami
defisit sebesar 15,22%.

Sumber: PLN, 2012


Gambar 1 Sumber energi primer PLN tahun 2012

Secara lebih jelas, proporsi sumber energi dapat dilihat pada Gambar 1.
Jika dibandingkan tahun sebelumnya, sumber dari gas alam dan batubara
mengalami peningkatan, sedangkan air dan panas bumi relatif konstan.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) tersebut,
2

pada tahun 2012 lalu presentase energi listrik produksi sendiri per jenis energi
primer yaitu gas alam 39.108,56 GWh (26,12%), batubara 66.920,80 GWh
(44,69%), minyak 29.640,59 GWh (19,79%), tenaga air 10.524,61 GWh (7,03%),
dan 3.557,54 GWh (2,38%) berasal dari panas bumi.
Gambar 1 juga menunjukkan bahwa minyak bumi, gas bumi serta batu
bara menjadi tiga sumber energi terbesar PLN. Jenis energi tersebut merupakan
energi fosil yang bersifat tak terbarukan (non-renewable). Hal ini cukup
mengkhawatirkan karena sumberdaya tersebut kelak akan berada pada titik
kelangkaan (scarcity) sehingga harga jualnya kelak semakin tinggi. Terlebih tanpa
adanya penemuan cadangan minyak baru atau pengembangan teknologi energi
alternatif, maka diperkirakan akan habis dalam 23 tahun mendatang (Kuncoro dan
Salimy, 2011). Keberlanjutan sumber energi di Indonesia menjadi sangat rawan
jika terus-menerus bergantung pada energi tak terbarukan. Oleh karena itu, perlu
ada komitmen dalam pengelolaan energi alternatif serta keberagaman energi
(energy mix).
Indonesia berpotensi besar untuk menghasilkan energi terbarukan
(renewable energy) yang beragam. Rilis dari Rencana Induk Pengembangan
Energi Baru Terbarukan (RIPEBAT)1 oleh Kementerian ESDM
menginformasikan potensi energi dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)
dalam skala besar maupun kecil kurang lebih sebesar 75.670 MW. Potensi
tersebut sangat besar namun sampai 2008 baru dimanfaatkan sebanyak 4.200 MW
atau 5,6 persen. Indonesia pun memiliki potensi untuk memproduksi energi listrik
berbasis tenaga surya karena tingginya instensitas radiasi matahari mencapai 4,8
kWh/m2 seperti yang diteliti oleh Rahardjo dan Fitriana (2006). Dalam penelitian
tersebut diperkirakan pada rentang waktu 2010-2030 proyek Pembangkit Listrik
Tenaga Surya (PLTS) mencapai kondisi yang mungkin untuk diinvestasikan
secara ekonomi (economically feasible).
Sumber energi lain yang melimpah di tanah air yaitu biomassa, energi
yang berasal dari material biologis seperti tanaman ataupun hewan. Korhalliler
(2010) menjelaskan bahwa biomassa memproduksi panas sehingga dapat

1
http://www.esdm.go.id/berita/40-migas/3746-pedoman-pengusahaan-cbm-acuan-teknis-
operasional-pengembangancbm.html Akses 4 Februari 2014.
3

digunakan menjadi bahan bakar transportasi bahkan memiliki feasibility tinggi


sebagai substituen energi fosil. Menurut data Kementerian ESDM, secara nasional
biomassa berpotensi menghasilkan listrik 49.810 MW, termasuk dari sampah
kota. Saat ini, kapasitas terpasang untuk energi biomassa baru sebanyak 445 MW
atau 0,89 % dari total potensi tenaga listrik energi ramah lingkungan. Sumber
energi biomassa Indonesia mayoritas berasal dari sektor kehutanan (didukung
oleh adanya hutan hujan tropis), perkebunan, tanaman pertanian dan limbah
pemukiman perkotaan (Japan Institute of Energy, 2012). Kuantitas sampah di
Indonesia terus meningkat seiring dengan melonjaknya jumlah penduduk terutama
pada daerah perkotaan. Pemenuhan kebutuhan hidup mendorong peningkatan
permintaan terhadap produksi dan konsumsi yang menghasilkan hasil buangan
berupa sampah.
TPST Bantargebang telah berdiri sejak tahun 1987 dengan daya tampung
sebanyak 1.500 2.000 ton per hari. Namun, Dinas Kebersihan DKI Jakarta
mengungkapkan ada 5.000-6.000 ton sampah per hari yang masuk pada tahun
2013 sehingga sangat diperlukan pengelolaan secara berkelanjutan agar kuantitas
tersebut dapat berkurang.

Sumber: Dinas Kebersihan DKI Jakarta, 2009


Keterangan: Tahun 2007-2015 masih berupa proyeksi berdasarkan produksi kurun
waktu 1995-2006
Gambar 2 Jumlah produksi sampah Provinsi DKI Jakarta 1995-2015*

Dinas Kebersihan DKI Jakarta (2009) menunjukkan jumlah sampah yang


dihasilkan oleh penduduk DKI Jakarta cenderung fluktuatif, namun jumlahnya
terus meningkat setiap tahun seiring dengan peningkatan jumlah penduduk per
4

tahun. Secara jelas proyeksi data tersebut dapat dilihat pada Gambar 2. Potensi
sampah perkotaan yang terus bertambah seiring meningkatnya aktivitas
pemukiman seringkali tidak diimbangi oleh pengolahan yang baik. Meningkatnya
jumlah penduduk serta aktivitas perekonomian di Jakarta mempertegas
peningkatan kuantitas sampah tersebut.
Jika masalah peningkatan volume sampah tak segera ditangani dengan
baik, maka akan membutuhkan lahan lebih luas untuk menampungnya. Masalah
lain juga berpotensi mencuat dalam aspek sosial, ekonomi dan lingkungan.
Sampah merupakan kontributor penghasil emisi gas rumah kaca yang berasal dari
gas metan (CH4). Sebanyak satu ton sampah padat diperkirakan menghasilkan 50
kg gas metan. Jika dikalkulasikan dengan buangan sampah dari Provinsi DKI
Jakarta pada tahun 2011 sebanyak 5.000-6.000 ton per hari menghasilkan
250.000-300.000 kg gas metan per hari.
Gas metan 20 kali lebih potensial dibandingkan karbon dioksida sebagai
penangkap panas di atmosfer sehingga berkontribusi dalam pemanasan global.
Meskipun gas metan tak beracun, tapi dapat mematikan jika tercampur dengan
kandungan gas lainnya. Gas metan juga sangat berbahaya karena mudah
meledak2. Kasus ledakan dan longsor pada beberapa TPA di Indonesia
diperkirakan disebabkan oleh tingginya kandungan gas tersebut. Oleh karena itu,
penanganan lebih lanjut terhadap gas metan di TPA perlu dilakukan. Komposisi
terbanyak dari sampah yang masuk ke TPST Bantargebang adalah sampah
organik, yaitu mencapai 55%. Persentase sampah organik yang cukup dominan
berpotensi menghasilkan gas metan untuk diolah lebih lanjut menjadi listrik.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendistribusikan sampah ke Tempat
Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi dengan biaya insentif
sebesar Rp 123.000/ton (Navigat Organic Energy Indonesia, 2010). Sebanyak
20% dari biaya tersebut dimasukkan ke kas Pemerintah Kota Bekasi sebagai
kompensasi atas penggunaan lahan di Bekasi untuk dijadikan tempat
pembuangan. Sebesar 80% dari biaya tersebut digunakan untuk biaya operasional
TPST seperti akses masuk dari jalan utama ke zona pembuangan, penerangan
jalan di areal TPST, serta perlakuan soil cover. Soil cover adalah penumpukan

2
http://ehow.com/about_5377204_dangers-methane-gas.html Akses 9 September 2013
5

tanah pada seluruh permukaan sampah yang menggunung. Tindakan ini dilakukan
untuk meminimalisir bau yang keluar dari gunung sampah. Sampah kemudian
akan melalui berbagai perlakuan (treatment) seperti pemilahan, pengolahan
menjadi pupuk organik ataupun menjadi listrik.
PT Godang Tua Jaya (GTJ) dan PT Navigat Organic Energy Indonesia
(NOEI) sejak Januari 2009 bekerjasama dalam mengoperasikan proyek TPST
Bantargebang. GTJ berperan dalam mengolah sampah menjadi pupuk kompos
serta daur ulang plastik menjadi biji plastik. NOEI berfokus pada konversi sampah
menjadi energi biogas. Proyek yang dikelola NOEI tersebut berjalan dalam kurun
waktu 15 tahun mulai dari tahun 2008 hingga 2023 dengan skema Build Operate
Transfer (BOT). Skema ini menjadi pilihan bagi pemerintah untuk melakukan
pembangunan proyek dengan dana yang besar sehingga bekerjasama dengan
pihak swasta dalam kurun waktu tertentu. Perusahaan akan membangun dan
menggunakan fasilitas, sedangkan pemerintah hanyak menyediakan lahan. Setelah
jangka waktu habis, maka proyek atau fasilitas akan menjadi milik pemerintah
kembali.
Sampai awal tahun 2014, TPST Bantargebang telah memiliki pembangkit
listrik dengan kapasitas 14,4 MW. Produksi listrik yang dihasilkan sebesar 98
MW-182 MW per hari. Listrik yang dihasilkan oleh PLTSa Bantargebang dibeli
oleh PT PLN dengan harga Rp 860/kwh dan didistribusikan dalam sistem listrik
Jawa-Bali. Selain dapat mengurangi kuantitas sampah di TPST Bantargebang,
adanya proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) tersebut juga
memberikan manfaat seperti menyerap tenaga kerja, mengurangi potensi
penyebaran bakteri berbahaya, mengurangi bau tak sedap, memperluas potensi
ketahanan energi tanah air, serta mengurangi emisi karbon.

1.2 Perumusan Masalah

Pengolahan sampah dengan sistem open dumping merupakan cara yang


mayoritas digunakan oleh negara berkembang dikarenakan pengoperasian yang
mudah dan alokasi dana cukup murah. Pada sistem ini, sampah yang masuk hanya
akan ditumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tanpa melalui proses
lainnnya. Sistem ini berbahaya untuk diterapkan karena dapat menyebabkan
6

terlepasnya zat beracun ke udara maupun sumber air serta meningkatkan potensi
tumbuhnya bakteri yang berbahaya untuk kesehatan (Environmental Protection
Agency, 2010a). Amerika Serikat melalui Resource Conservation and Recovery
Act (RCRA) bahkan sudah melarang penerapan sistem ini dalam mengolah
sampah di negaranya. Ramke (2009) meneliti bahwa sistem open dumping yang
pernah diterapkan di Jerman juga berbahaya bagi lingkungan karena dapat
merusak sumber air tanah (groundwater) serta air permukaan (surface water),
merusak rantai makanan (food chain), dan meningkatkan akumulasi gas rumah
kaca (greenhouse gases) di atmosfer.
TPA Bantargebang beroperasi sejak tahun 1989 melalui surat keputusan
Gubernur Jawa Barat No.593.82/SK/282.P/AGK/DA/86 tanggal 25 January 1986.
Pada surat keputusan tersebut Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendapatkan
kewenangan untuk mengelola dan memanfaatkan TPA Bantargebang dengan
sistem open dumping. Sejak beroperasi, cukup banyak pihak yang pro-kontra
terhadap keberadaan TPA Bantargebang. Kontra yang terjadi dikarenakan polusi
udara yang menyengat bahkan dalam radius 15 kilometer 3, pencemaran air tanah
yang digunakan oleh warga sekitar4, dan lain-lain.
Mulai tahun 2008, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang
mengubah sistem menjadi sanitary landfill. Hal itu dilakukan seiring dengan
regulasi dari UU No. 18/2008 mengenai Pengelolaan Sampah. Pada UU tersebut
tidak ada definisi mengenai TPA, melainkan tentang Tempat Pengolahan Sampah
Terpadu (TPST). Selanjutnya, TPA Bantargebang berganti menjadi TPST
Bantargebang yang menjalankan sistem sanitary landfill yaitu sampah akan
melalui kegiatan pengumpulan, pemilahan, penggunaan ulang, pendauran ulang,
pengolahan, dan pemrosesan akhir sampah. Keputusan perubahan sistem tersebut
dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan pengolahan sampah yang
berkelanjutan, mengingat kuantitas sampah yang terus meningkat.
Kelayakan sebuah usaha perlu dinilai secara finansial maupun ekonomi
untuk mengidentifikasi arus pemasukan dan arus pengeluaran perusahaan.
Kebermanfaatan proyek secara moneter dapat dinilai dan dianalisis lebih lanjut.

3
http://www.indosiar.com/fokus/tpa-bantar-gebang-yang-menuai-protes_54695.html Akses 8
Desember 2013
4
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=213194 Akses 8 Desember 2013
7

Adanya analisis terhadap teknologi dan mekanisme pengolahan sampah tersebut


dapat mendorong pihak pemerintah maupun investor yang tertarik untuk
menerapkan sistem serupa di TPA/TPST lainnya karena dapat mengetahui
keuntungan dan biaya untuk melakukan replikasi.
Karbon dioksida (CO2), metana (CH4) dan nitrogen dioksida (NO2)
merupakan beberapa gas berbahaya yang dilepaskan oleh TPA dengan sistem
open dumping. Gas-gas tersebut akan mengendap di atmosfer dalam kurun waktu
13 hingga 100 tahun dan menangkap panas matahari. Reaksi tersebut
menyebabkan bumi menjadi kian panas karena sinar matahari yang masuk
terperangkap dan mengendap di bumi. Fenomena ini dikenal dengan pemanasan
global (global warming) yang dampaknya mulai terasa. Pergeseran musim di
berbagai belahan dunia, naiknya permukaan air laut, terancamnya habitat flora
dan fauna merupakan beberapa efek dari pemanasan global.
Keberadaan proyek PLTSa menjadi salah satu upaya untuk memanfaatkan
emisi Gas Rumah Kaca (GRK) tersebut agar tak terlepas ke udara. Penghitungan
terhadap potensi emisi GRK (carbon accounting) penting untuk dilakukan oleh
proyek karena memiliki banyak manfaat. Keuntungan yang didapatkan melalui
carbon accounting bukan hanya mengenai peluang perdagangan karbon.
Dwijayanti (2011) meneliti bahwa carbon accounting dapat mendorong respon
positif bagi stakeholder perusahaan karena mengindikasikan kepedulian
perusahaan terhadap lingkungan. Hal ini menjadi penting karena mulai banyak
bank, investor maupun kreditor yang memperhitungkan aspek ramah lingkungan
untuk pembiayaan proyek suatu perusahaan.
Permasalahan persampahan memang sebaiknya diteliti lebih lanjut untuk
menemukan solusi tepat. Pengelolaan sampah secara berkelanjutan penting untuk
dilakukan karena dapat meminimalisir bahaya kesehatan yang dihasilkan,
meningkatkan nilai ekonomi dari sampah, dan menyerap tenaga kerja.
Pengelolaan sampah yang tak baik dapat beresiko menimbulkan biaya (cost) yang
tinggi serta berpotensi mencuatkan masalah lainnya. Kelayakan usaha dari TPST
Bantargebang perlu dievaluasi secara ekonomi untuk meninjau berdasarkan
kriteria kelayakan. Hasil analisis kelayakan tersebut dapat menjadi pedoman bagi
perusahaan untuk mencapai efisiensi dalam produksi, bagi pengelola TPA/TPST
8

lain untuk menerapkan sistem sejenis, ataupun bagi pemerintah untuk


menjalankan program pengelolaan sampah yang bermanfaat bagi masyarakat.
Oleh karena itu, diperlukan penelitian mengenai pengelolaan sampah di TPST
Bantargebang untuk menjadi salah satu literatur dalam optimalisasi manfaat bagi
pihak terkait seperti Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pemerintah Kota Bekasi,
perusahaan swasta serta warga sekitar.
Berdasarkan uraian tersebut, terdapat beberapa permasalahan yang akan
dianalisis dalam penelitian yaitu:
1. Bagaimana sistem pengolahan sampah di TPST Bantargebang?
2. Bagaimana manfaat (benefit) ekonomi yang mungkin dihasilkan melalui
reduksi emisi karbon dari kegiatan PLTSa?
3. Bagaimana evaluasi ekonomi dari proyek Pembangkit Listrik Tenaga
Sampah (PLTSa) di TPST Bantargebang?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu:


1. Mengidentifikasi sistem pengolahan sampah di TPST Bantargebang.
2. Mengevaluasi manfaat (benefit) ekonomi yang mungkin dihasilkan melalui
reduksi emisi karbon dari kegiatan PLTSa.
3. Mengevaluasi secara ekonomi terhadap proyek Pembangkit Listrik Tenaga
Sampah (PLTSa) di TPST Bantargebang.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Bagi peneliti dan akademisi, penelitian ini dapat menjadi kajian mengenai
pemanfaatan dan pengelolaan sampah sebagai sumber energi terbarukan
yang potensial.
2. Bagi pemerintah, tinjauan manfaat ekonomi TPST Bantargebang
merupakan acuan dan gambaran untuk menerapkan sistem pengolahan
sampah sejenis di TPST lainnya sehingga dapat menjadi pendapatan
daerah, menyerap tenaga kerja, dan mendorong kesejahteraan masyarakat
melalui aktivitas ekonomi yang membutuhkan listrik.
9

3. Bagi perusahaan, penelitian ini dapat menarik investor ataupun kreditor


untuk berkecimpung dalam bisnis pemanfaatan sampah menjadi energi
karena nilai ekonomi yang didapatkan juga cukup menjanjikan dan
berpotensi untuk dikembangkan.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian


Ruang lingkup pada penelitian ini dibatasi untuk berfokus pada pemanfaatan
sampah menjadi listrik di TPST Bantargebang. Identifikasi terhadap pengolahan
sampah di TPST Bantargebang akan ditinjau melalui skema dan proses treatment
terhadap sampah. Analisis ekonomi proyek PLTSa TPST Bantargebang akan
dinilai melalui aspek biaya (cost) dan manfaat (benefit). Manfaat proyek dalam
penelitian ini mencakup manfaat langsung proyek (listrik dan tipping fee) serta
manfaat tidak langsung proyek (reduksi emisi karbon). Penyerapan gas karbon
sebagai input produksi listrik akan dinilai untuk mengestimasi manfaat ekonomi
reduksi emisi karbon.
10

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Economics of Waste Management

Beberapa regulasi untuk mengatur penanganan sampah secara


berkelanjutan telah dikeluarkan dalam bentuk formal oleh pemerintah. UU No. 18
Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah salah satunya memuat redefinisi Tempat
Pembuangan Akhir (TPA) menjadi Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST).
Redefinisi tersebut secara tidak langsung menegaskan seluruh TPA di Indonesia
untuk mengubah sistem pengelolaan sampah sesuai asas tanggung jawab,
berkelanjutan, manfaat, keadilan, kesadaran, kebersamaan, keselamatan dan nilai
ekonomi. UU tersebut mengemukakan sampah sebagai sumber daya yang
berperan untuk ditangani lebih lanjut. Pengelolaan sampah bukan hanya kegiatan
untuk mengurangi jumlah sampah di lokasi pembuangan, tapi juga bertujuan
meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan.
Bentuk regulasi lain yang mendukung perubahan sistem TPA menjadi
TPST di Indonesia yaitu UU No. 12 Tahun 2008 tentang Pemerintah Daerah. Pada
peraturan ini terdapat penekanan paradigma baru dalam mengelola sampah
lingkup daerah yaitu dengan adanya kegiatan yang sistematis, menyeluruh dan
berkesinambungan meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Pengolahan
sampah pada tingkat daerah dimaksudkan untuk mengurangi jumlah sampah,
disamping memanfaatkan nilai yang masih terkandung dalam sampah (bahan daur
ulang, produk lain, dan energi). Kajian oleh Dewi (2008) mengungkapkan bahwa
biaya operasional pengelolaan menjadi tinggi dan sulitnya menyediakan ruang
yang pantas serta cukup untuk pembuangan. Pengelolaan sampah oleh swasta
menjadi salah satu problem solver untuk menekan biaya operasional karena
swasta cenderung efisien menjalankan proyek.
Konsep ekonomi memiliki salah satu teori yang disebut Pareto Optimal.
Teori Pareto dipopulerkan oleh Vilfredo Pareto untuk memunculkan pemahaman
kesejahteraan yang setara ketika terjadi konflik kepemilikan tanah oleh kaum
elit Italia pada tahun 1909. Pareto Optimal terkait dengan kondisi saat suatu
aktivitas ekonomi tak mampu lagi memberi peningkatan kesejahteraan (better off)
bagi individu/kelompok tanpa mengakibatkan penurunan kesejahteraan (worse
11

off) pelaku ekonomi lainnya. Hal ini juga mengenai kriteria dasar ekonomi yaitu
ketika suatu pihak ingin mendapatkan kepuasan (utility) tertinggi, maka harus
mencapai kondisi yang memberikan manfaat pada individu atau kelompok tanpa
merugikan pihak lain (Azis, 1991). Poernomo (1994) menjelaskan bahwa pada
posisi optimal tersebut output produksi memiliki nilai lebih tinggi daripada
alternatif output lain yang dapat diproduksi dengan faktor produksi yang tersedia.
Aktivitas perekonomian memiliki pengaruh terhadap kondisi better off dan
worse off tersebut karena menghasilkan eksternalitas. Fauzi (2004)
mendefinisikan eksternalitas sebagai dampak (positif atau negatif) atau dapat
disebut juga net cost atau benefit dari tindakan yang ditimbulkan satu pihak
terhadap pihak lain. Eksternalitas positif berupa manfaat proyek seperti
penyerapan tenaga kerja dan output proyek. Eksternalitas negatif terkait dengan
pengaruh merugikan seperti limbah yang merusak lingkungan. Studi ekonomi
lingkungan menjelaskan bahwa untuk mencapai kondisi Pareto Optimal,
eksternalitas positif proyek seharusnya lebih tinggi dibanding eksternalitas negatif
proyek tersebut. Jika dalam suatu proyek menyebabkan eksternalitas negatif
menjadi lebih tinggi, maka pelaku proyek tersebut harus memberi kompensasi
untuk mengganti nilai kerugian (Dewi, 2008).
Pengelolaan sampah menjadi output berupa listrik merupakan salah satu
alternatif terbaik, mengubah paradigma sampah sebagai masalah menjadi
sumberdaya yang bernilai ekonomi. Konsumen bersedia mengeluarkan biaya
untuk komoditi yang diproduksi oleh produsen karena listrik merupakan barang
yang mereka butuhkan. Kegiatan produksi ini juga mampu mengurangi volume
sampah di lokasi pembuangan. Ramke (2009) mengemukakan bahwa pengelolaan
sampah perkotaan secara berkelanjutan dapat memberi eksternalitas positif bagi
pihak terkait melalui adanya output bernilai lebih (produk daur ulang, pupuk
kompos, listrik), penciptaan lapangan pekerjaan baru, pemerataan pendapatan, dan
lain-lain. Namun, jika pasar dan pemerintah tak mampu memberi kontrol yang
baik terhadap pengelolaan sampah maka akan terjadi kegagalan pasar (market
failure). Efek lanjutan dari market failure yaitu adanya dampak negatif seperti
pencemaran lingkungan, meningkatnya biaya kesehatan (cost of illness) warga
setempat, serta masalah sosial lainnya. Oleh karena itu, manajemen sampah kota
12

perlu diperhatikan agar dapat memberi manfaat ekonomi bagi seluruh pihak
terkait. Kontrol terhadap sampah sebagai sumberdaya menjadi penting untuk
mencegah terjadinya market failure. Pemberian hak kepemilikan (property right)
yang jelas menjadi salah satu alat yang efektif dalam mengontrol sumberdaya.

2.2 Konsep Sumberdaya dan Hak Kepemilikan

Barrow (2006) mengemukakan ketersediaan sumberdaya tergantung pada


pemahaman subjek (individu atau kelompok) terhadap improvisasi teknologi dan
pandangan sosial dalam mengelolanya. Jika diklasifikasikan lebih lanjut, terdapat
beberapa jenis sumberdaya yaitu: 1) sumberdaya tak terbarukan (non-renewable
resources) yang terbatas atau akan habis jika digunakan; 2) sumberdaya
terbarukan (renewable resources) yang kebaruannya dapat terus dimanfaatkan
jika dikelola secara bijak; serta 3) inexhaustible resources atau sumberdaya yang
bersifat sangat alami sehingga disebut sebagai a trully gift of nature (anugrah
alam) karena dapat dimanfaatkan siapapun dalam jangka waktu lama seperti sinar
matahari, gaya gravitasi, tenaga angin dan lain-lain.
Prinsip pembangunan berkelanjutan mencuat dengan paradigma bahwa
kebutuhan terhadap sumberdaya saat ini dapat terpenuhi tanpa membahayakan
pemenuhan kebutuhan generasi yang akan datang (Harris, 2000). Pemanfaatan
tak bijak terhadap sumberdaya saat ini bahkan memungkinkan berubahnya sifat
renewable menjadi non-renewable bagi sumberdaya tersebut pada masa
mendatang. Hal ini terjadi pada Sungai Pasig di Filipina yang tercemar oleh
aktivitas industri dan ekonomi sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) sehingga
tak memungkinkan lagi untuk dimanfaatkan. Pemerintah setempat pun perlu
mengeluarkan biaya rehabilitasi cukup besar untuk recovery fungsi sungai. Oleh
karena itu, kontrol terhadap sumberdaya menjadi penting untuk menjaga
keberlanjutan manfaatnya. Hak kepemilikan (property rights) dapat menjadi salah
satu alat kontrol sumberdaya.
Property rights adalah pemberian hak secara legal kepada individu
ataupun swasta untuk memanfaatkan sumberdaya (Pindyck dan Rubinfield, 2009).
Kepemilikan atas suatu sumberdaya menjadi penting untuk mengontrol
penggunaan agar tak berlebihan dan menghilangkan esensi dari kebermanfaatan
13

sumberdaya tersebut. Bromley dan Cornea (1989) memiliki pandangan bahwa


terdapat empat macam property rights terhadap sumberdaya yaitu milik pribadi
(private property), milik negara (state property), milik umum atau bersama
(common property) serta tak bertuan (public goods). Masalah yang biasa mencuat
dalam isu property rights yaitu cara penegakan dalam memanfaatkan sumberdaya.
Perlu adanya sistem hukum formal dan aturan yang berlaku dalam masyarakat
(Taylor, 1990).
Jika alokasi sumberdaya memiliki tujuan efisiensi dengan pengoperasioan
melalui sistem pasar (market economy), maka privatisasi sumberdaya dapat
menjadi win win solution. Hal tersebut dijelaskan oleh Taylor (1990) dikarenakan
private property memenuhi seluruh sifat berikut:
1) Hak-hak dalam akses sumberdaya dapat didefinisikan secara jelas dan
lengkap (completeness);
2) Seluruh manfaat dan biaya yang dikeluarkan dari sumberdaya secara
eksklusif menjadi tanggungan pemegang hak (exclusivity);
3) Hak dapat dipindahtangankan (transferable) secara jual-beli maupun
parsial (sewa-gadai);
4) Hak-hak tersebut dapat ditegakkan (enforceability) melalui formal
procedure maupun norma masyarakat (social customs).
Keterlibatan swasta dalam mengelola sumberdaya dapat menjadi investasi
yang mendorong pertumbuhan dan produktivitas ekonomi karena adanya sistem
pasar untuk menjual produk lanjutan dari sumberdaya tersebut. Masalah
manajemen sampah sudah menjadi masalah sosial. Mencuatnya permasalahan
tersebut perlu ada lingkaran hukum untuk tetap mengontrol laju pemanfaatan
sumberdaya agar tak merugikan masyarakat. Pengelolaan sampah di TPST
Bantargebang bekerjasama dengan perusahaan swasta yang notabene efisien
dalam menjalankan proyek. Pemerintah menjadi kontrol agar pengelolaan itu tetap
memberi kesejahteraan bagi masyarakat. Model pengelolaan yang tepat perlu
diterapkan sesuai kondisi buangan sampah dan lokasi pembuangan yang tersedia.
Lahan perkotaan seperti DKI Jakarta sangat terbatas karena telah digunakan oleh
pemukiman dan pusat perekonomian, sehingga TPST Bantargebang perlu
diterapkan model pengolahan sampah berkelanjutan.
14

2.3 Model Pengelolaan Sampah Kota

Hampir pada setiap daerah di Indonesia memiliki model pengelolaan


sampah yang tak berbeda. Model yang digunakan secara sederhana dan tak
mengeluarkan dana cukup banyak. Secara umum, Sudrajat (2006) menjelaskan
bahwa Indonesia menerapkan dua macam model yaitu urugan dan tumpukan.
Model urugan (open landfill) adalah cara sangat sederhana karena sampah hanya
dibuang pada suatu cekungan atau lembah tanpa memberi perlakuan lebih lanjut.
Model ini biasanya diterapkan di kota yang memiliki volume sampah tak terlalu
besar.
Model kedua yang biasa diterapkan di Indonesia yaitu model tumpukan
(controlled landfill atau sanitary landfill). Pada model ini perlu ada kelengkapan
lain seperti unit saluran air buangan, pembakaran ekses gas metan (flare),
pengolahan air buangan (leachate), dan biasanya terdapat pula perlakuan menutup
sampah dengan tanah (soil cover). Jika kelengkapan tersebut sudah tersedia, maka
model telah memenuhi prasyarat kesehatan lingkungan. Namun, mayoritas daerah
di Indonesia belum menyediakan kelengkapan tersebut karena tergantung pada
kondisi keuangan daerah serta kepedulian pihak setempat akan pengelolaan
sampah. Adapun aplikasi model pengelolaan sampah kota pada beberapa daerah
di Indonesia menurut Sudrajat (2006) yaitu:
a) Surabaya (TPA Sukolilo) menerapkan model urugan. Masyarakat sering
melakukan protes akibat polusi bau. Pihak TPA mengatasi masalah
tersebut dengan mendatangkan 1 unit pembakar (incinerator) dari Inggris.
Namun, kadar air dalam sampah sangat tinggi (>80%) sehingga
penggunaan alat tersebut tidak efektif karena menyebabkan biaya
pembakaran melonjak serta adanya polusi lain berupa asap dan debu.
b) Solo (TPA Mojosongo) mengolah sampah dengan metode cukup menarik
serta bermanfaat secara sosial dan ekonomi. Meskipun pengolahan sampah
dilakukan dengan cara tumpukan seperti di daerah lainnya, TPA ini
memproduksi kompos yang kemudian dibagikan secara gratis kepada
masyarakat setempat. Sistem ini mendorong pertanian organik di wilayah
sekitarnya. Warga yang awalnya berprofesi sebagai pemulung kini
memiliki peternakan sapi. Sapi tersebut dilepas secara liar pada areal TPA
15

untuk mencari makan. Pihak WHO sempat meneliti kandungan susu sapi
dan hasilnya aman untuk dikonsumsi.
c) Bogor (TPA Galuga) melakukan pengelolaan sampah dengan model
tumpukan. Tingginya curah hujan menyebabkan sampah perlu waktu lama
untuk membusuk. TPA ini telah memiliki pabrik pupuk organik yang
dikelola oleh warga setempat yang bergabung dalam Paguyuban
Tumaritis. Pabrik tersebut khusus mengelola sampah dari beberapa lokasi
pasar di Kabupaten Bogor.
Mayoritas negara kawasan Asia Tenggara memang masih kesulitan dalam
menyediakan dan mengelola TPA. Namun, pemerintah setempat mulai tegas
terhadap warga agar peduli akan kebersihan lingkungan. Seluruh pusat
perbelanjaan seperti mall di Filipina sudah melarang penggunaan plastik sebagai
pembungkus barang belanjaan. Tempat sampah telah disediakan pada tempat yang
strategis serta dipisahkan sesuai jenis sampah. Truk sampah bekerja pada malam
hari agar polusi bau tidak mengganggu aktivitas.
Pengelolaan sampah di luar negeri telah cukup maju. Umumnya,
mayoritas negara di Eropa telah melakukan pengelolaan sampah yang baik mulai
dari sektor rumah tangga hingga lokasi pembuangan akhir. Sampah di TPA
tersebut dijadikan pupuk organik lalu dijual kepada perusahaan pertanian maupun
perkebunan yang telah memiliki kontrak dengan pihak TPA. Sampah anorganik
yang masih dapat didaur ulang akan diproses lebih lanjut, contohnya dijadikan
botol wine pada lokasi pengolahan sampah di London.

2.4 Manfaat Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang

TPA Bantargebang sejak tahun 1989 hingga berganti menjadi TPST


Bantargebang pada 2008 telah menjalin bermacam kerjasama dalam teknis
operasional. Skema kerjasama dalam beberapa periode tersebut berubah-ubah
sesuai kendala yang dihadapi di lapangan. Juliansah (2010) menguraikan hasil
studi lapang terhadap pola kerjasama di TPA/TPST Bantargebang pada Tabel 1.
Ketidakmampuan Pemprov DKI Jakarta dalam menangani permasalahan
sampah mendorong pengalihan operator TPA Bantargebang untuk swasta mulai
tahun 2004. Saat itu PT Patriot Bangkit Bekasi (PBB) bertugas mengelola
16

pengangkutan sampah dari sumber ke lokasi TPA, melakukan evaluasi terhadap


Instalasi Pengolahan Air Sampah (IPAS) setiap 6 bulan, serta mengelola zona
pembuangan. Namun, kerjasama tersebut dihentikan karena pengolahan TPA
menjadi semakin buruk (banyak sampah yang tak terangkut dan air lindi yang
kian mencemari sungai).

Tabel 1 Overview Kerjasama Pengelolaan TPST Bantargebang


Tahun Pihak-pihak Operator Bentuk Kerjasama
Kerjasama yang Terkait Lapangan
1989-1999 Pemkot Bekasi - Pemrov Pemprov DKI Jakarta
Pemprov DKI DKI bertanggungjawab atas
Jakarta Jakarta infastruktur (akses jalan & sarana
kesehatan) serta memberi
kompensasi berupa dana tunai ke
Pemkot Bekasi.
2000-2004 Pemkot Bekasi - Pemrov Karena gejolak politik, bentuk
Pemprov DKI DKI kerjasama pada kurun waktu ini
Jakarta Jakarta dikaji ulang namun operasional
tetap berjalan.
2004-2006 Pemkot Bekasi - Swasta Tipping fee dibayarkan oleh
Pemprov DKI (PT. Pemprov DKI Jakarta (80%
Jakarta - Swasta PBB) untuk PT. PBB dan 20% untuk
(PT. PBB) Pemkot Bekasi).
2007-2008 Pemkot Bekasi - Pemrov Tipping fee dibayarkan oleh
Pemprov DKI DKI Pemprov DKI Jakarta (80%
Jakarta Jakarta untuk operasional dan 20% untuk
Pemkot Bekasi).
2008 - Pemkot Bekasi - Swasta Tipping fee dibayarkan oleh
Sekarang Pemprov DKI (PT. GTJ Pemprov DKI Jakarta (80%
Jakarta - Swasta joint untuk Swasta dan 20% untuk
(PT. GTJ joint operation Pemkot Bekasi).
operation PT PT
NOEI) NOEI)
Sumber: Juliansah, 2010

Mulai tahun 2008, operasional TPST Bantargebang dipercayakan kepada


PT Godang Tua Jaya (GTJ) dan PT Navigat Organic Energy Indonesia (NOEI).
Hingga saat ini TPST menerapkan pengolahan produk kompos dan biji plastik
(ranah kerja PT GTJ) dan PLTSa oleh PT NOEI. Aktivitas produksi tersebut
17

memungkinkan manfaat ekonomi yang lebih tinggi terutama pada PLTSa karena
menghasilkan energi ramah lingkungan serta mereduksi emisi karbon dari
timbulan sampah TPST.

2.4.1 Manfaat Ekonomi Energi Ramah Lingkungan

Environmental Protection Agency (EPA) pada tahun 2010 merilis hasil


penelitian mengenai banyaknya manfaat yang didapatkan melalui penerapan
energi ramah lingkungan. Beberapa diantaranya yaitu meningkatkan pendapatan,
penyerapan tenaga kerja, efisiensi pengeluaran (outflow), serta ekspansi pasar
karena sekaligus melakukan program efisiensi energi. Teknologi energi fosil
seperti minyak dan batu bara membutuhkan insentif modal dan alat yang cukup
banyak sehingga ekstraksi energi sangat bergantung secara teknik. Oleh karena
itu, proyek energi fosil merupakan usaha padat modal. Ekstraksi energi dari
sampah merupakan proyek padat karya karena industri membutuhkan lebih
banyak pekerja jika dibandingkan dengan energi fosil. Hal ini memberi dampak
positif bagi negara berkembang yang memiliki proyek PLTSa untuk menyerap
tenaga kerja dari populasi penduduk yang padat.

Sumber: Pindyck dan Rubenfield, 2009


Gambar 3 Positive Benefits dari Suatu Proyek
Konsep eksternalitas positif dari Pindyck dan Rubenfield (2009) pada
Gambar 3 dapat dikaitkan dengan proyek energi ramah lingkungan. Ketika suatu
kegiatan atau proyek memberikan eksternalitas positif, maka marginal social
benefits (MSB) menjadi lebih besar dari permintaan yang ada (D). MSB
18

merupakan kalkulasi dari manfaat yang didapatkan oleh private dengan manfaat
eksternal yang didapatkan masyarakat atau marginal externality benefits (MEB).
Perpindahan dari titik A ke titik B diakibatkan oleh terjadinya eksternalitas negatif
dari energi tidak terbarukan. Kondisi pada titik A terjadi ketika perusahaan
menetukan harga produk sesuai Marginal Cost atau harga yang dapat memberi
profit maksimal namun sebenarnya ada biaya yang harus ditanggung perusahaan
akibat eksternalitas negatif. Oleh karena itu, perlu dimasukkan biaya sosial dalam
produksi yaitu ketika Marginal Social Cost berada pada garis Demand
perusahaan. Biaya sosial dapat berupa insentif perusahaan untuk menggunakan
teknologi dalam mengelola energi terbarukan. Tingkat produksi pun akan
mencapai titik optimum pada titik B dan harga akan naik dari Po menuju P* dan
kuantitas produksi akan berkurang secara optimal dari Qo menjadi Q*.
Industri energi ramah lingkungan juga memiliki manfaat dalam jangka
panjang dapat menstabilkan harga energi di masa depan. Penggunaan energi
ramah lingkungan yang beragam dapat menurunkan harga maupun permintaan
dari gas bumi dan minyak yang mendominasi persediaan energi. Hal ini dapat
melindungi konsumen ketika harga energi fosil melonjak karena faktor
kelangkaan (scarcity).

2.4.2 Manfaat Ekonomi Reduksi Emisi Karbon

Isu perdagangan karbon menjadi populer karena adanya Protokol Kyoto


pada tahun 1997 yang merupakan kesepakatan dalam pengurangan emisi gas
rumah kaca (greenhouse gases). Protokol tersebut yang diratifikasi oleh 187
negara pada awal tahun 2005. Sebanyak 37 negara industri (disebut sebagai
Annex I) berkewajiban mengurangi greenhouse gases sampai 5,2% dari tingkat
emisi tahun 1990. Saat itu harga karbon internasional sangat tinggi hingga
kesepakatan berakhir pada tahun 2012.
Emisi karbon yang dihasilkan oleh suatu proyek perlu dinilai karena
memiliki banyak manfaat. Pada perusahaan, penilaian emisi karbon dapat menjadi
salah satu bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Hal ini dapat membawa
insentif untuk mereduksi polusi proyek serta memperbaiki kesehatan masyarakat
di area proyek. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dwijayanti (2011)
19

menunjukkan bahwa penerapan penilaian emisi karbon pada proyek dapat


memberi keuntungan bagi perusahaan, masyarakat maupun pemerintah.
Konsep ekonomi lingkungan sepakat bahwa pengukuran ekonomi secara
tradisional melalui Gross National Product (GNP) tak memperhitungkan
penurunan stok sumberdaya alam dan lingkungan. GNP juga tidak
mengikutsertakan penilaian terhadap nilai non-guna (non-market value) dari suatu
sumberdaya. Valuasi ekonomi diperlukan untuk mempertimbangkan
keberlanjutan sumberdaya agar kesejahteraan dicapai secara optimal.
Proses produksi yang menyerap karbon memberi nilai lebih bagi proyek.
Emisi karbon yang hilang akibat penyerapan biogas sebagai penggerak generator
listrik termasuk sebagai nilai manfaat dari keberadaan proyek PLTSa. Proyek
ramah lingkungan berpotensi mendapatkan keuntungan (profit gain) dari emisi
karbon pada proses produksinya. Keuntungan tersebut dianalisis dengan
membandingkan penerimaan bersih proyek saat ini atau Net Present Value (NPV)
dengan emisi karbon rata-rata yang berhasil diserap oleh proyek.
Penilaian terhadap emisi karbon (carbon accounting) memberi manfaat
bagi perusahaan karena dapat meningkatkan penjualan produk, menarik minat
investor dan kreditor untuk mendanai proyek, serta melakukan ekspansi pasar.
Pemerintah juga diuntungkan sebagai bagian dari program pengurangan polusi di
Indonesia dengan langkah yang konkrit. Keberlanjutan sumberdaya pun menjadi
lebih terjamin sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam
jangka panjang. Keuntungan lain yang mungkin didapatkan oleh masyarakat yaitu
berkurangnya potensi bencana alam, mendatangkan peluang lapangan pekerjaan
baru, serta kondisi lingkungan areal proyek yang semakin membaik karena audit
terhadap emisi karbon tersebut. Oleh karena itu, carbon accounting penting untuk
diberlakukan juga pada sektor industri.

2.5 Penelitian Terdahulu

Penelitian terkait sampah telah dilakukan dengan mengkaji beragam


aspek. Dewi (2008) melakukan penelitian mengenai Evaluasi Ekonomi dan Sosial
Unit Pengolahan Sampah (UPS) Kota Depok. Tujuan dari penelitian tersebut yaitu
1) mengestimasi nilai ekonomi sampah domestik Kota Depok yang dapat
20

dihasilkan UPS jika adanya penanganan lebih lanjut; 2) membandingkan manfaat


dan biaya pengelolaan sampah Kota Depok melalui sistem UPS dengan lokasi
yang tidak menerapkan sistem UPS; 3) mengevaluasi dampak sosial keberadaan
UPS terhadap masyarakat. Adapun metode analisis yang digunakan untuk
estimasi nilai ekonomi yaitu konsep total economic value (use value), net benefit,
avoided transportation cost, Benefit Cost Analysis (BCA), uji non-parametrik
McNemar serta tabulasi deskriptif persepsi responden.
Fatimah (2009) meneliti dengan topik Analisis Kelayakan Usaha
Pengolahan Sampah menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di
Kota Bogor. Penelitian tersebut mencantumkan skenario pendirian proyek PLTSa
di Kota Bogor dengan kondisi berdasarkan hasil studi PLTSa Kota dan Kabupaten
Bandung. Tujuan dari penelitian ini yaitu 1) Menganalisis kelayakan proyek
PLTSa ditinjau dari aspek teknis, aspek pasar dan aspek manajemen; 2)
Menganalisis kelayakan proyek PLTSa ditinjau dari aspek finansial; 3)
Menganalisis kepekaan proyek PLTSa yang mempengaruhi kondisi kelayakan.
Metode yang digunakan untuk mengkaji tujuan tersebut adalah Analisis Aspek
Teknis, Pasar, Manajemen dan Finansial (kriteria berupa NPV, IRR, Net B/C,
Payback Period, Switching Value) serta Analisis Kelayakan Usaha.
Hapsari (2011) mengkaji tentang Studi Emisi Karbondioksida (CO2) dan
Metana (CH4) dari Kegiatan Reduksi Sampah di Wilayah Surabaya Bagian
Selatan. Tujuan dari penelitian tersebut yaitu 1) Menghitung jumlah emisi gas
karbondioksida dan metan dari timbulan sampah di Surabaya; 2) Menghitung
jumlah emisi gas karbondioksida dan metan yang dihasilkan dari kegiatan reduksi
sampah di wilayah Surabaya bagian Selatan; 3) Menentukan faktor-faktor yang
mempengaruhi masyarakat untuk melakukan kegiatan reduksi sampah di wilayah
Surabaya bagian Selatan. Adapun alat analisis yang digunakan dalam penelitian
tersebut menggunakan Minitab dan SPSS meninjau faktor perilaku masyarakat;
metode dari Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) digunakan untuk
menilai emisi karbon dari pembuatan kompos serta metode dari United States
Environmental Protection Agency (U.S. EPA) digunakan untuk menilai emisi
karbon dari kegiatan reduksi sampah.
21

Persamaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu yaitu berfokus pada


analisis kelayakan proyek pengelolaan sampah. Kelayakan proyek akan dievaluasi
untuk menjadi acuan ataupun gambaran dalam menerapkan sistem sejenis pada
TPST/TPA lainnya. Faktor-faktor yang berbeda dengan penelitian lain yaitu
sistem pengelolaan sampah, aspek penelitian serta lokasi penelitian. Sistem
pengelolaan sampah di TPST Bantargebang telah menggunakan sanitary landfill
yang cukup baik. Kegiatan proyek PLTSa juga memiliki manfaat ekonomi berupa
reduksi emisi karbon dari tumpukan sampah yang kian hari memenuhi TPST.
Lokasi penelitian pada TPST Bantargebang dipilih untuk menjadi salah satu
bahan kajian penanganan sampah yang berasal dari aktivitas perekonomian kota.
22

III. KERANGKA PEMIKIRAN

Aktivitas perekonomian membutuhkan listrik sebagai penunjang


produktivitas. Permintaan (demand) yang tinggi terhadap listrik masih belum
tersedia oleh PT PLN secara keseluruhan. Hal itu menyebabkan timbul fenomena
kelebihan permintaan (excess demand) padahal Indonesia memiliki potensi besar
dalam penyediaan energi seperti solar, angin, mikro hidro, serta biomass. Salah
satu sumber energi biomass adalah sampah.
Provinsi DKI Jakarta sebagai ibu kota Indonesia menjadi pusat
perekonomian yang menghasilkan residu berupa sampah. Sejak 1986, sampah
yang berasal dari DKI Jakarta dibuang ke TPA Bantargebang. Pada tahun 2010
jumlah sampah yang terangkut sebanyak 5.000-6.000 ton/hari. Angka tersebut
sudah melebih daya tampung TPA Bantargebang yang hanya mampu menampung
1.500-2.000 ton/hari. Pemerintah memberlakukan UU No. 18 Tahun 2008
mengenai Pengolahan Sampah dan secara tegas mengharuskan adanya perlakuan
lebih lanjut terhadap sampah di TPA/TPST seluruh Indonesia. Proyek PLTSa
TPST Bantargebang menjadi salah satu win win solution treatment terhadap
manajemen sampah kota secara berkelanjutan serta penyediaan energi ramah
lingkungan.
Tahap pertama yang akan dilakukan dalam penelitian ini yaitu meninjau
sistem pengolahan sampah di TPST Bantargebang. Hasil tinjauan akan dianalisis
melalui Analisis Deskriptif sehingga dapat menjadi literatur pengelolaan sampah
di tempat lain secara umum. Guinard (2006) menjelaskan bahwa Analisis
Deskriptif merupakan metode terkait identifikasi, deskripsi terhadap aspek
kualitatif suatu produk, dan dapat juga berupa pemberian skala kuantitatif
terhadap aspek tersebut. Analisis Deskriptif digunakan untuk memperoleh
deskripsi detail mengenai suatu produk ataupun jasa. Sistem yang akan
dideskripsikan pada penelitian ini mengenai proses operasional pengangkutan
sampah dari sumber (rumah tangga, pasar, maupun industri), proses pembuangan
sampah ke TPST Bantargebang, perlakuan terhadap sampah yang menumpuk
hingga menjadi produk olahan berupa pupuk kompos, biji plastik serta listrik.
23

Tahap kedua yang akan diteliti yaitu mengenai output proyek PT NOEI
berupa listrik. Listrik mermiliki nilai manfaat nyata (tangible value) yang dapat
digunakan oleh manusia dari keberadaan sampah di TPST Bantargebang. Listrik
dihasilkan melalui penyerapan gas karbon dan metana sampah. Output berupa
listrik memberi nilai ekonomi dari sampah yang selama ini dianggap masalah.
Produk listrik yang dihasilkan PLTSa akan dianalisis menggunakan
Analisis Biaya-Manfaat atau Cost-Benefit Analysis (CBA). Gray et al. (1992)
menjelaskan bahwa penilaian benefit dan biaya proyek dapat dilakukan melalui
dua pendekatan, yaitu analisis finansial dan analisis ekonomi. Analisis finansial
dilakukan pada proyek yang berorientasi pada maksimisasi profit individu atau
badan swasta sebagai investor proyek. Jika proyek berkaitan dengan kepentingan
pemerintah (tujuan untuk kesejahteraan masyarakat), maka evaluasi proyek
menggunakan analisis ekonomi.
Hanley (2000) mengemukakan bahwa CBA adalah alat analisis yang
sering digunakan untuk mengevaluasi proyek maupun kebijakan. Keunggulan
CBA yaitu dapat menggambarkan secara jelas mengenai dampak proyek dikaitkan
dengan isu lingkungan sehingga menjadi rekomendasi bagi pembuat kebijakan.
CBA juga fokus terhadap suatu perbandingan dari pengorbanan biaya dan
keuntungan (gain and losses) dalam menjalankan proyek sesuai jenisnya.
Terdapat beberapa tahap dalam melakukan CBA menurut Hanley and Spash
(1993) berikut.
1) Definisi proyek
Pada tahap ini, definisi proyek mencakup beberapa hal: orientasi/alokasi
proyek dalam memanfaatkan sumberdaya (untuk kesejahteraan rakyat atau
untuk profit gain); serta jenis proyek (proyek fisik atau proyek pembuatan
kebijakan). Beberapa aspek yang perlu didefinisikan juga dalam proyek
seperti waktu, lokasi, stakeholder terkait, serta hubungan proyek dengan
program ataupun kebijakan yang ada.
2) Deskripsi input-output proyek secara kuantitatif
Proyek pengelolaan sumberdaya dengan prinspi ramah lingkungan
biasanya memerlukan waktu yang cukup panjang, oleh karena itu faktor
waktu sangat penting untuk diperhitungkan. Spesifikasi terhadap input-
24

output proyek perlu memperkirakan kejadian yang mungkin terjadi seperti


pola pertumbuhan ekonomi di masa depan, perubahan teknologi maupun
perubahan preferensi konsumen, dan lain-lain.
3) Estimasi biaya-manfaat dari input-output tersebut
Peneliti perlu mendefinisikan secara jelas mengenai nilai nyata (tangible)
maupun nilai tak nyata (intangible) dari suatu proyek. Hal ini penting
karena seluruh biaya dan manfaat harus dikonversi dalam bentuk moneter
saat melakukan CBA. Tangible merupakan sumberdaya yang memiliki
nilai pasar, dalam proyek ini berupa listrik dan karbon. Sumberdaya
intangible tak memiliki nilai pasar, seperti manfaat kegiatan proyek PLTSa
yang secara tidak langsung menghentikan eksternalitas negatif TPST
berupa pencemaran air lindi di Sungai Kali Asem.
4) Membandingkan benefit dan cost untuk evaluasi kelayakan proyek
Perbandingan dilakukan untuk menilai kelayakan proyek sesuai kriteria.
Dalam penelitian ini kriteria yang digunakan yaitu NPV, Net B/C, IRR,
dan Payback Period.
Proyek PLTSa juga memiliki nilai tangible lain dari penyerapan gas
karbon menjadi listrik. Sampah yang menumpuk pada 5 zona pembuangan di
TPST menghasilkan 0,20-0,27 m3 metana per ton sampah (Suprihatin et al.,
2008). Emisi karbon yang hilang tersebut termasuk sebagai nilai tangible proyek
karena tersedia harga pasar untuk karbon serta perubahan produksi karbon dapat
terukur. Organization for Economic Co-operation and Development atau OECD
(2006) menegaskan pentingnya menilai manfaat ekonomi dari suatu proyek atau
regulasi yang menambah nilai aset sumberdaya. Oleh karena itu, tahap terakhir
penelitian ini adalah menilai manfaat ekonomi dari emisi yang hilang sebagai
salah satu manfaat ekonomi yang didapatkan selain listrik. Penilaian reduksi emisi
karbon menggunakan Landfill Gas Emission (LandGEM), yaitu alat analisis yang
digunakan oleh U.S. EPA untuk menilai emisi GRK dari banyaknya methane
yang dilepaskan sebagai manfaat pengolahan sampah berkelanjutan. Secara lebih
jelas keseluruhan operasional penelitian yang akan dilakukan diuraikan pada
Gambar 4.
25

Peningkatan aktivitas ekonomi di


Provinsi DKI Jakarta sebagai salah
satu kota besar di Indonesia

Excess demand terhadap Hasil buangan berupa


listrik meningkat untuk sampah yang melebihi daya
menunjang perekonomian tampung TPA Bantargebang

Penyediaan sumber energi


alternatif pendukung energy mix

UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengolahan Sampah


UU No. 12 Tahun 2008 tentang Pemerintah Daerah

Proyek TPST Bantargebang:

Analisis Deskriptif terkait Mekanisme Pengolahan Sampah

PT NOEI PT GTJ
- Output proyek berupa
listrik: Cost-Benefit Output proyek berupa
Analysis pupuk kompos dan biji
- Reduksi karbon (jumlah plastik
karbon terserap): Landfill
Gas Emission (LandGEM)

Rekomendasi pengolahan sampah berkelanjutan

Keterangan: - - - - = cakupan penelitian


Gambar 4 Diagram Operasional Penelitian
26

IV. METODE PENELITIAN

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan pada lokasi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu


(TPST) Bantargebang yang terletak pada 3 kelurahan yaitu Kelurahan Cikiwul,
Kelurahan Ciketing Udik dan Kelurahan Sumur Batu. Lokasi penelitian
ditentukan secara sengaja (purposive) karena sebagai tempat pembuangan dari
salah satu kota penghasil sampah terbanyak di Indonesia yaitu Provinsi DKI
Jakarta. Pengambilan data pendukung penelitian ini dilakukan pada kurun waktu
Maret-Mei 2014.

4.2 Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer dan data
sekunder. Data primer merupakan data yang didapatkan melalui hasil wawancara
langsung dengan responden seperti pihak joint operation TPST Bantargebang-
Dinas Kebersihan DKI Jakarta, pihak PT Navigat Organic Energy Indonesia
(NOEI), dan pihak PT Godang Tua Jaya (GTJ). Data primer juga diperoleh dari
observasi langsung di lokasi penelitian. Data sekunder berupa inflow-outflow
didapatkan melalui laporan keuangan TPST Bantargebang dan PT NOEI. Hasil
studi literatur terhadap buku, jurnal penelitian serta artikel terkait penelitian juga
menjadi referensi data sekunder dalam penelitian ini.
Data primer maupun sekunder yang telah diperoleh akan dianalisis dengan
metode kualitatif dan metode kuantitatif. Metode kualitatif digunakan untuk
mengidentifikasi pengelolaan sampah di TPST Bantargebang. Metode kuantitatif
dibutuhkan dalam mengolah data sekunder seperti cashflow perusahaan serta data
emisi karbon. Pengolahan data kuantitatif dapat menggunakan Microsoft Excel
2010 dan disajikan dalam bentuk tabel untuk diinterpretasikan selanjutnya.
Adapun cara analisis data sesuai tujuan penelitian diuraikan dalam Tabel 2.
27

Tabel 2 Matriks Metode Analisis Data sesuai Tujuan Penelitian


No. Tujuan Penelitian Data dan Sumber Data Metode Analisis
1. Mengidentifikasi Data sumber sampah berasal Analisis
sistem pengelolaan (industri, pasar, rumah tangga); Deskriptif
sampah di TPST data kuantitas sampah yang
Bantargebang. dibuang ke TPST, observasi
lapang proses perlakuan
terhadap sampah di TPST.
Sumber data: Dinas
Kebersihan DKI Jakarta, dan
pihak joint operation (PT
NOEI dan PT GTJ).

2. Mengevaluasi Data serapan karbon untuk LandGEM U.S.


manfaat (benefit) generator listrik dari zona EPA
ekonomi yang sampah di TPST, data jenis
mungkin dihasilkan serta komposisi sampah yang
melalui reduksi emisi diangkut ke TPST.
karbon dari kegiatan Sumber data: PT NOEI dan PT
PLTSa. GTJ.

3. Mengevaluasi secara Data biaya tetap, biaya Cost-Benefit


ekonomi terhadap variabel, data penjualan listrik, Analysis
proyek Pembangkit data serapan emisi karbon.
Listrik Tenaga
Sampah (PLTSa) di
TPST Bantargebang.

Secara detail, rincian jenis data yang dibutuhkan sebagai berikut.


1. Data teknis pengolahan sampah di TPST Bantargebang
- Jumlah / volume sampah sesuai sumber sampah berasal (industri, pasar,
rumah tangga);
- Kuantitas sampah yang dibuang ke TPST Bantargebang;
- Sistem operasi pengolahan sampah di TPST Bantargebang hingga
menjadi produk seperti biji plastik, pupuk kompos dan listrik.
2. Cashflow PLTSa Bantargebang
- Data peralatan dan bangunan PLTSa;
- Data kapasitas produksi listrik PLTSa;
3. Data penyerapan karbon oleh generator PLTSa
28

- Jumlah karbon berjenis metana (CH4) yang terserap untuk kegiatan


PLTSa;
- Data komposisi sampah yang masuk ke TPST Bantargebang.

4.3 Identifikasi Sistem Pengolahan Sampah di TPST Bantargebang

Metode analisis deskriptif akan digunakan untuk mengidentifikasi


pengolahan sampah di TPST Bantargebang melalui wawancara pihak joint
operation Dinas Kebersihan DKI Jakarta serta observasi lapang. Sistem yang akan
diobservasi terkait proses pengangkutan sampah dari sumber (rumah tangga,
pasar, maupun industri), proses pembuangan sampah ke TPST Bantargebang,
perlakuan (treatment) terhadap sampah yang menumpuk hingga menjadi produk
olahan berupa pupuk kompos, biji plastik serta listrik. Nida (1949)
mengemukakan prinsip umum dalam melakukan analisis deskriptif. Penjabaran
interpretasi harus tepat sesuai fakta yang terdapat dalam observasi dengan
didukung pendapat pihak tertentu. Deskripsi dihasilkan melalui kombinasi
fenomena yang terjadi dengan data-data lapangan sesuai tema pertanyaan yang
diajukan.

4.4 Teknik Analisis Data

Penelitian menggunakan Landfill Gas Emission untuk menilai manfaat


ekonomi reduksi emisi karbon. Cost-Benefit Analysis (CBA) akan digunakan
untuk mengevaluasi proyek secara ekonomi. Data kuantitatif yang telah
didapatkan kemudian akan diolah melalui alat bantu software Microsoft Excel
2010.

4.4.1 Penilaian Manfaat Ekonomi Reduksi Emisi Karbon


Potensi nilai ekonomi reduksi emisi karbon proyek PLTSa Bantargebang
akan diestimasi berdasarkan nilai pasar. Hal tersebut dilakukan karena kini karbon
dapat dianggap sebagai manfaat tidak langsung (indirect benefit), meski bersifat
tangible karena terdapat harga standar yang berlaku di pasar internasional maupun
nasional. Proyek PLTSa Bantargebang perlu diidentifikasi terlebih dahulu untuk
29

mengetahui manfaat proyek berdasarkan nilai nyata (tangible value) dan nilai tak
nyata (intangible value). Barang tangible merupakan sumberdaya yang dapat
dinilai dengan nilai pasar, sedangkan barang intangible adalah barang atau jasa
lingkungan yang perlu pendekatan khusus untuk menilainya. Secara lebih jelas
konsep tersebut dikaitkan sesuai penelitian tercantum pada Tabel 3.

Tabel 3 Identifikasi Benefit and Cost Proyek PLTSa


Identifikasi Direct Indirect
Benefit Listrik* Reduksi emisi karbon.*
Tipping fee* Penyerapan tenaga kerja.
Pencegah eksternalitas
negatif berupa
pencemaran air lindi di
Sungai Kali Asem.
Perubahan paradigma
cara pengolahan sampah
di TPA.

Cost Direct project costs (upah Dampak regulasi jika


tenaga kerja, infrastruktur gagal diterapkan
kantor)* (adanya market failure).
Acquisition costs (pembelian Biaya untuk
atau pembuatan teknologi)* memperbaiki
Implementation costs pengetahuan
(produktivitas yang hilang)* manajemen perusahaan
Whole of life ownership costs yang lemah.
(biaya operasional, Penurunan
pemeliharaan, penggantian produktivitas organisasi
fasilitas, pelatihan). * perusahaan
Keterangan: (*) cakupan penelitian
Sumber: Disadur dari Sydney Technical and Further Education Comission, 1991

Produk utama dari PLTSa adalah listrik. Proyeksi manfaat ekonomi listrik
dilakukan dengan menyesuaikan kapasitas produksi listrik PLTSa Bantargebang
per tahun dengan harga listrik yang diberlakukan oleh PLN sebagai pembeli.
Secara lebih jelas, penilaian manfaat ekonomi produksi listrik (B) tersebut sesuai
dengan persamaan (4.1).

(4.1)
30

Estimasi terhadap emisi GRK akan dinilai menggunakan Landfill Gas


Emission (LandGEM) versi 3.02, yaitu aplikasi yang digunakan oleh EPA untuk
memperkirakan kandungan GRK. LandGEM V03.02 dioperasikan dengan
mengadopsi sistem Software Microsoft Excel 2010. Keunggulan LandGEM V3.02
ini yaitu mudah untuk digunakan dan dapat memproyeksikan kandungan GRK
hingga kurun waktu 60 tahun. Fitur utama yang disediakan oleh LandGEM yaitu
User Inputs, Pollutants, Input Review, Methane dan Results. Tahap-tahap dalam
mengoperasikan LandGEM V03.02 sebagai berikut:
User Inputs
Pada sheet ini dibutuhkan data mengenai tahun pembukaan TPST, jumlah
sampah yang masuk ke TPST, pemilihan parameter kandungan methane, potensi
kapasitas methane, konsentrasi kandungan gas non-methane serta volume
methane. dibutuhkan data tonase sampah yang masuk ke Bantargebang. Data
kondisi riil pada tahun 1990 hingga 2011 menjadi acuan untuk proyeksi sampah
yang akan masuk pada tahun 2012-2023. Karakteristik sampah diasumsikan
mengandung 55,6% sampah orgnaik (Dinas Kebersihan DKI Jakarta, 2011).
Pollutants
Pada sheet ini telah tersedia model parameter berdasarkan konsentrasi
polutan sesuai jenisnya (bilangan baku). Model parameter itu menggunakan
konstanta terbaru dari Environmental Protection Agency (EPA) tahun 2014.
Penentuan konstanta methane generation rate sebesar 0,05 year-1 berdasarkan
pada pembuangan sampah yang masih conventional open landfill, artinya tak ada
pemilahan jenis sampah berupa plastik, alumunium, botol kaca, dedanunan dan
lain-lain. Penggunaan asumsi conventional open landfill juga menentukan
konstanta kapasitas potensi methane yaitu sebesar 170 m3/Mg. Perkiraan
konsentrasi gas non-methane ditentukan sebesar 4.000 ppmv karena tak melalui
bermacam perlakuan pengolahan sampah di Tempat Penampungan Sementara
(TPS) sebelum dibawa ke TPST Bantargebang.
Input Review
Untuk menghindari kesalahan dalam memperkirakan emisi terkait listrik di
TPST, pada tahap ini LandGEM V03.02 menampilan seluruh data yang telah kita
input agar dapat dilakukan pengecekan lagi.
31

Methane
Pada sheet ini data mengenai jumlah emisi methane yang dihasilkan oleh
input sampah telah otomatis dikalkulasikan. Kandungan methane menjadi patokan
untuk melakukan penghitungan kandungan zat lainnya. Persamaan untuk
melakukan kalkulasi tersebut sebagai berikut.

(4.2)

Keterangan:
QCH4 = jumlah metana yang diproduksi setiap tahun
i = tambahan 1 tahun kenaikan
n = jumlah tahun kalkulasi dimulai-tahun awal sampah diterima
k = rate produksi metana (0,050 year-1)
L0 = potensi kapasitas produksi metana (170 m3/Mg)
Mi = massa jenis dari sampah yang diterima pada tahun ke-i (Mg)
Results and Social Cost of Carbon
Langkah terakhir dalam LandGEM ini menampilkan jumlah methane dan
kandungan zat lainnya sesuai yang user ingin proyeksikan. Jumlah emisi CO2
tersebut kemudian dinilai berdasarkan market value. EPA memiliki kajian yang
menarik mengenai market value of carbon pricing. Harga karbon yang dikenakan
oleh EPA adalah Social Cost of Carbon (SCC).
Nilai SCC mencakup kepada kerugian yang harus ditanggung masyarakat
secara global terkait penurunan produktivitas pertanian, kesehatan, kerusakan
akibat meningkatnya intensitas banjir, dan berkurangnya nilai dari jasa lingkungan
(EPA, 2010b). SCC telah dikaji oleh EPA untuk memproyeksikan harga karbon
hingga tahun 2050. SCC tersebut memperkirakan terjadinya peningkatan harga
karbon 0,4-0,5 USD/ton CO2, atau sekitar Rp 4.800 hingga Rp 6.000/ton CO2
seperti yang disajikan pada Tabel 4.
32

Tabel 4 Proyeksi Social Cost of Carbon 2008-2023


Tahun Social Cost of Carbon (Rp*/ton CO2)
2008 247.200
2009 252.000
2010 256.800
2011 262.800
2012 268.800
2013 273.600
2014 279.600
2015 285.600
2016 291.600
2017 297.600
2018 303.600
2019 309.600
2020 315.600
2021 324.000
2022 331.200
2023 339.600
Sumber: EPA, 2010b (Diolah), Keterangan: *Kurs Rp 12.000/USD

4.4.2 Analisis Ekonomi Proyek PLTSa Bantargebang

Analisis Biaya dan Manfaat atau Cost-Benefit Analysis (CBA) digunakan


untuk mengkaji biaya dan manfaat yang ada selama proyek PLTSa Bantargebang
berjalan. Terdapat beberapa komponen untuk menyusun cash flow proyek agar
nilai ekonomi dapat diestimasi. Komponen tersebut dapat dikelompokkan menjadi
biaya investasi, dan biaya operasional (variabel dan tetap).
Biaya investasi dikeluarkan pada awal proyek didirikan, contohnya biaya
yang dikeluarkan untuk pembebasan lahan, sewa ataupun biaya mendirikan
bangunan proyek. Biaya operasional merupakan biaya yang dikeluarkan setiap
proses produksi dilakukan seperti biaya tenaga kerja. Upah tenaga kerja dalam
analisis ekonomi dinilai berbeda jika pekerja tersebut merupakan pekerja terdidik
atau tak terdidik. Biaya lain yang termasuk dalam biaya operasional yaitu bahan
baku, pajak, dan reinvestasi.
Biaya-biaya tersebut merupakan biaya yang harus dikeluarkan selama
proyek berjalan. Biaya akan dijabarkan melalui arus pengeluaran dan pemasukan
perusahaan (cash flow) untuk mengetahui bagaimana manfaat yang dihasilkan
33

dari biaya tersebut. Setelah cash flow disusun melalui komponen biaya yang
tersedia, maka selanjutnya dilakukan kajian terhadap kelayakan investasi proyek.
Beberapa kriteria yang diperlukan untuk menilai kelayakan investasi
proyek yaitu Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net
Benefit Cost (Net B/C) dan Payback Period.
NPV merupakan metode untuk mengetahui kelayakan proyek dengan
prinsip bahwa proyek layak untuk dijalankan jika jumlah keseluruhan manfaat
yang diterima melebihi atau setidaknya sama dengan biaya investasi yang telah
dikeluarkan (NPV 0). Adapun perhitungan NPV menurut Gittinger (1986)
sebagai berikut.
(4.3)

Keterangan:
Bt = Penerimaan yang diperoleh proyek pada tahun ke-t
Ct = Biaya yang dikeluarkan proyek pada tahun ke-t
n = Umur ekonomis proyek
i = Tingkat suku bunga (%)
t = Tahun investasi proyek (t=0,1,2...n)
Hasil perhitungan NPV kemudian dinilai sesuai kriteria berikut:
1) NPV < 0, menunjukkan bahwa proyek tidak layak untuk dilaksanakan
secara finansial karena manfaat (benefit) yang diperoleh kurang dari biaya
investasi yang telah dikeluarkan.
2) NPV = 0, menunjukkan bahwa proyek layak untuk dilaksanakan namun
mengalami kesulitan karena manfaat yang diperoleh hanya akan cukup
untuk mengganti atau menutupi biaya investasi.
3) NPV > 0, menunjukkan bahwa proyek layak untuk dilaksanakan karena
benefit yang didapatkan lebih besar dari biaya investasi yang telah
dikeluarkan.
Gray et al. (1992) menjabarkan IRR adalah tingkat rendemen (kelebihan
atau keuntungan perusahaan) atau rate of return atas investasi netto. IRR
merupakan tingkat i yang memenuhi tiga syarat sebagai berikut:
34

1) Rendemen implisit dalam tiap tahun sama dengan hasil i kali nilai investasi
pada akhir tahun sebelumnya, yaitu:
Rt = iFt-1
2) Nilai investasi pada akhir tahun (t) sama dengan nilai pada akhir tahun
sebelumnya dikalkulasikan dengan sisa pengurangan benefit netto dari
rendemen implisit.
3) Benefit netto ketika akhir umur proyek (tahun n) merupakan jumlah nilai
investasi yang masih berlaku pada akhir tahun sebelumnya, ditambah
rendemen implisit. Maka, nilai investasi ketika akhir tahun n menjadi nol.
Dalam analisis IRR, hal utama yang akan dicari yaitu pada tingkat bunga
berapa (discount rate) akan dihasilkan NPV = 0. Persamaan untuk menghitung
IRR adalah sebagai berikut.
(4.4)

Keterangan :
Bt dan Ct = Penerimaan dan biaya bruto yang diperoleh proyek pada tahun
ke t;
Bt - Ct = Benefit netto dalam tahun t, nilai negatif merupakan investasi;
n = Umur ekonomis proyek;
Ft = Nilai investasi yang belum dikembalikan sampai akhir tahun t,
setelah realisasi benefit /biaya yang terjadi dalam tahun itu;
Rt = Rendemen implisit tahun t, dapat dibayarkan (agar diterima
oleh penyelenggara proyek) atau tidak dibayarkan.
i = IRR
Melalui persamaan tersebut dapat disimpulkan bahwa IRR adalah nilai
discount rate (i) yang membuat NPV proyek sama dengan nol. Contohnya,
terdapat suatu proyek dengan IRR yang dihitung 25% dan biaya dana proyek
sebesar 15%. Nilai IRR tersebut lebih besar daripada biaya dana proyek sehingga
dapat dikatakan menarik secara finansial.
Konsep lain untuk mengetahui kelayakan investasi yaitu Net B/C ratio,
yaitu perbandingan antara nilai arus manfaat (inflow) saat ini dibagi dengan nilai
35

arus biaya (outflow) saat ini. Gittinger (1986) menjelaskan bahwa Net B/C
berfungsi menunjukkan besarnya manfaat yang didapatkan setiap tambahan biaya
sebesar satu satuan uang. Proyek layak untuk dilaksanakan jika memiliki nilai Net
B/C lebih dari atau setidaknya sama dengan satu (Net B/C 1). Perhitungan yang
digunakan sebagai berikut:

(4.5)
Net B/C =

Keterangan :
Bt = Benefit (penerimaan) proyek yang diperoleh tahun ke-t
Ct = Cost (biaya) proyek yang dikeluarkan pada tahun ke-t
n = Umur ekonomis proyek
i = Tingkat suku bunga (%)
t = Tahun investasi (t=0,1,2...n)

Perlu jangka waktu tertentu untuk mengembalikan biaya yang dikeluarkan


dalam investasi proyek. Proyek yang baik adalah proyek yang memiliki jangka
waktu cepat dalam pengembalian biaya investasi. Untuk mengetahui waktu yang
dibutuhkan suatu proyek menutupi modal tersebut, dapat menggunakan konsep
Payback Period (PP). Persamaan umum PP yaitu:

(4.6)

Keterangan :
P = Jangka waktu yang diperlukan proyek untuk pengembalian investasi
I = Biaya investasi
Ab = Manfaat bersih setiap tahun
36

V. GAMBARAN UMUM

5.1 Gambaran Umum Provinsi DKI Jakarta

Provinsi DKI Jakarta memiliki luas wilayah administratif 7.660,03 km2.


Luas tersebut mencakup daratan 662,53 km2 dan lautan 6.997,5 km2 dengan pulau
sebanyak 110 buah (tersebar di Kepulauan Seribu). Sebagai ibu kota negara
Indonesia, aktivitas perekonomian DKI Jakarta menjadi magnet bagi penduduk.
BPS pada tahun 2013 merilis jumlah penduduk DKI Jakarta yang terus meningkat
selama 5 tahun terakhir. Secara lebih jelas data tersebut dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Jumlah Penduduk Provinsi DKI Jakarta Menurut Jenis Kelamin


Tahun 2008-2012
Jumlah Penduduk Sesuai
Jenis Kelamin (Jiwa) Jumlah Rasio Jenis
Tahun
Total (Jiwa) Kelamin
Laki-laki Perempuan
2008 3.945.994 3.670.844 7.616.838 107,49
2009 4.651.846 3.871.311 8.523.157 120,16
2010 4.651.073 3.873.079 8.524.152 120,09
2011 5.252.767 4.934.828 10.187.595 106,44
2012 5.026.389 4.735.018 9.761.407 106,15
Sumber: BPS Jakarta, 2013 (diolah)

Berdasarkan Tabel 5, dapat dilihat pertambahan penduduk yang cenderung


meningkat. Pada tahun 2008, jumlah total penduduk DKI Jakarta 7.616.838 jiwa.
Angka ini sempat mengalami peningkatan pesat menjadi 10.187.595 jiwa pada
tahun 2011, meskipun pada tahun 2012 jumlah tersebut menurun menjadi
9.761.407 jiwa. Fluktuasi jumlah penduduk tersebut tentunya mempengaruhi
berbagai aktivitas perekonomian. Sektor rumah tangga, industri hingga pusat
perbelanjaan pun menghasilkan buangan berupa sampah. Secara parsial,
rekapitulasi timbulan sampah dan sampah terangkut di DKI Jakarta disajikan pada
Tabel 6.
Tabel 6 menunjukkan fluktuasi timbulan sampah di DKI Jakarta beserta
sampah yang terangkut setiap hari. Mekanisme pengangkutan sampah dibedakan
37

berdasarkan Area Pengangkutan Sampah (sesuai kota administrasi). Terdapat lima


Suku Dinas Kebersihan di DKI Jakarta, yaitu Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta
Barat, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

Tabel 6 Rekapitulasi Timbulan Sampah DKI Jakarta Tahun 2000-2011


Sampah (ton/hari) Persentase
Tahun Sisa (ton/hari)
Timbulan Terangkut (%)
2000 5.142,10 4.496,80 645,30 87,45
2001 5.129,00 4.439,20 689,80 86,55
2002 5.035,20 4.832,40 202,80 95,97
2003 5.137,40 4.935,00 202,40 96,06
2004 5.393,20 5.185,00 208,20 96,14
2005 5.252,80 5.089,20 163,60 96,89
2006 5.288,80 5.180,80 108,00 97,96
2007 5.593,20 5.392,40 200,80 96,41
2008 5.843,40 5.551,20 292,20 95,00
2009 5.657,20 4.864,40 792,80 85,99
2010 6.139,33 5.062,13 1.077,20 82,45
2011 5.597,87 5.263,91 333,96 94,03
Sumber: Dinas Kebersihan DKI Jakarta, 2014 (diolah)

Kelima lembaga Suku Dinas berada di bawah Dinas Kebersihan DKI


Jakarta, masing-masing melakukan pengangkutan sampah dengan moda angkutan
yang berbeda. Setiap pengangkutan dari sumber sampah akan dibuang ke Tempat
Penampungan Sementara (TPS) seperti dipo, transito, bak beton, gerobak sampah,
serta truk kontainer. Sampai tahun 2011, terdapat 1.038 unit TPS di DKI Jakarta
(Dinas Kebersihan DKI Jakarta, 2014). Setelah terkumpul di TPS, kemudian
sampah diangkut dengan dump truck dan atau truck arm-roll. menuju TPST
Bantargebang yang terletak di Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi. Secara
lebih ringkas mengenai pola pengangkutan sampah seperti yang telah diuraikan
dapat dilihat pada Gambar 5.
38

Sumber sampah TPST

Distribusi ke TPST
Pengumpulan
Bantargebang
sementara
Sumber: Dinas Kebersihan DKI Jakarta, 2012
Gambar 5 Pola Pengangkutan Sampah di DKI Jakarta

5.2 Gambaran Umum Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi

Penelitian dilakukan di TPST Bantargebang yang terletak pada Kecamatan


Bantargebang, Kota Bekasi. Secara keseluruhan, luas wilayah Kecamatan
Bantargebang 2.033,56 Ha. Luas tersebut meliputi 8 kelurahan: Kelurahan
Bantargebang, Kelurahan Ciketing Udik, Kelurahan Cikiwul, Kelurahan
Cimuning, Kelurahan Mustika Jaya, Kelurahan Mustika Sari, Kelurahan
Padurenan serta Kelurahan Sumur Batu. Berdasarkan registrasi yang dilakukan
oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Bekasi, pada tahun 2009 jumlah
penduduk Kecamatan Bantargebang secara keseluruhan mencapai 104.720 jiwa.
Kecamatan Bantargebang menjadi daerah dengan akses strategis karena
dapat dijangkau melalui Tol Cikampek dan Tol Jakarta-Bogor-Ciawi (Jagorawi).
Industrialisasi mendorong banyaknya aktivitas perekonomian warga seperti kedai
makan dan warung kelontong. Industri pengolahan sampah di TPST Bantargebang
juga menjadi salah satu kegiatan yang menarik manfaat ekonomi bagi masyarakat
setempat maupun pendatang. BPS Kota Bekasi (2012) mencatat adanya migrasi
sebanyak 63,27 %. Artinya, setiap 100 orang penduduk Kota Bekasi terdapat 64
orang yang merupakan pendatang. Hal ini mendorong pertumbuhan sarana-
prasarana di Kota Bekasi. Secara khusus, keberadaan infrastruktur di Kecamatan
Bantargebang cukup lengkap mencakup sarana dalam bidang pendidikan,
kesehatan, industri dan perdagangan. Secara lebih detail, data tersebut dapat
dilihat pada Tabel 7.
39

Tabel 7 Jumlah infrastruktur Kecamatan Bantargebang tahun 2009


Jenis Sarana Jumlah (unit)
SD 39
SLTP 15
SLTA 14
TK 35
Lembaga keterampilan 18
Posyandu 42
Rumah Sakit 2
Poliklinik 8
Puskesmas 4
Praktek dokter 8
Praktek bidan 14
Perusahaan 84
Kedai 100
Restoran 10
Hotel 1
Minimarket 8
Warung kelontong 592
Kantor pos 1
Total 995
Sumber: Statistik Kecamatan Bantargebang, 2010 (diolah)

5.3 Gambaran Umum TPST Bantargebang

TPST Bantargebang berlokasi pada tiga kelurahan yaitu Kelurahan


Ciketing Udik, Kelurahan Cikiwul dan Kelurahan Sumur Batu. Berdasarkan rilis
dari Sekretariat Kependudukan Kecamatan Bantargebang (2014), kepadatan
penduduk tertinggi terdapat pada Kelurahan Sumur Batu yaitu 41 (jiwa/km2).
Penduduk terbanyak berlokasi di Kelurahan Ciketing Udik sebanyak 19.545 jiwa.
Secara lebih lengkap, detail mengenai kependudukan tersebut dapat dilihat pada
Tabel 8.
Tabel 8 Kepadatan Penduduk Kelurahan Ciketing Udik, Kelurahan
Cikiwul dan Kelurahan Sumur Batu Periode Februari 2014
Penduduk (jiwa) Luas Kepadatan
Kelurahan 2
L P Jumlah (km ) (jiwa/km2)
Ciketing Udik 10.074 9.471 19.545 343.340 18
Sumur Batu 7.059 6.753 13.812 568.955 41
Cikiwul 9.562 8.914 18.476 525.351 28
Sumber: Sekretariat Kependudukan Kecamatan Bantargebang, 2014
40

Sekretariat Kependudukan Kecamatan Bantargebang mengungkapkan


adanya efek dari pendatang yang kemudian berprofesi sebagai pemulung di TPST
Bantargebang. Pengelola TPST pun merekrut cukup banyak pemulung sebagai
pekerja di unit pengolahan daur ulang plastik dan kompos, mencapai 350 orang
pemulung.
Jarak TPST dari Provinsi DKI Jakarta adalah 40 km, 20 km dari
perbatasan antara Jakarta dan Kota Bekasi, dan 2 km dari Jalan Raya Cileungsi.
Lokasi ini termasuk cukup strategis karena berbatasan dengan Kabupaten Bogor
pada sisi utara serta Jakarta pada sisi barat. Untuk mencapai TPST, armada truk
sampah melalui Jalan Alternatif Cibubur, Jalan Raya Cileungsi serta Jalan Raya
Narogong. Peta lokasi TPST Bantargebang dapat dilihat pada Gambar 6.

Sumber: Citra Google Earth Bantargebang, 2013


Gambar 6 Peta Lokasi TPST Bantargebang

Akses jalan di TPST berupa beton (precast), telah cukup baik untuk dilalui
armada truk sampah. Bau memang masih tercium antara jalan raya utama hingga
jembatan penimbang. Namun, ketika memasuki komplek TPST dimana kantor
dan power house berada, bau tersebut sudah menghilang. Meskipun terdapat 5
gunung sampah pada lokasi dengan jarak yang berbeda, polusi bau dapat diatasi
berkat perlakuan soil cover. Jika berdiri pada jarak 2-3 meter dari zona, maka bau
41

sampah pada umumnya tidak tercium lagi. Hal itu dikarenakan gas methan yang
menimbulkan bau telah diserap dalam saluran pipa menuju sarana power house.
Sarana-prasarana TPST sebagai pendukung operasional pengelolaan
sampah dapat dikelompokkan yaitu (1) jalan utama; (2) jembatan penimbang; (3)
jalan berbeton (precast) sebagai akses menuju zona; (4) saluran; (5) gedung
kantor; (6) workshop; (7) lokasi pencucian armada; (8) bangunan IPAS; (9) pagar
akron; (10) lokasi power house untuk pengolahan listrik (11) buffer zone. Rincian
luas setiap sarana dan prasarana tersebut diuraikan dalam Tabel 9.

Tabel 9 Data Aset Tak Bergerak TPST Bantargebang


Jenis Bangunan Ukuran
Kantor 350 m2
Parkir kantor 500 m2
Bangunan mess 700 m2
Bengkel 432 m2
Parkir alat berat 1.000 m2
Pos jaga 60 m2
Fasilitas penimbangan sampah 300 m2
Pagar pengamanan 7.573 m
Jalan operasional 6 x 9.000 m
Saluran 13.602 m
IPAS I 17.680 m2
IPAS II 10.998 m2
IPAS III 12.500 m2
IPAS IV 12.000 m2
Kabel penerangan jalan 1.050 m
Sumber: Rilis PT. GTJ, 2009

Luas TPST Bantargebang adalah 108 ha, terbagi atas zonasi titik buang
(81,91 ha) serta sarana-prasarana (26,09 ha). Pengoperasian pada 5 zona
pembuangan dengan luas dan jarak yang berbeda-beda dari pintu masuk TPST.
Dari kelima zona tersebut, hanya 2 zona yang diberi perlakuan untuk diolah
menjadi listrik yaitu zona I dan II. Hal itu berdasarkan pertimbangan jarak yang
cukup dekat dengan power house sehingga menekan biaya untuk penyambungan
pipa saluran gas. Adapun secara lebih jelas mengenai luas dan tahun aktivasi zona
serta pembagian sub-zona dapat dilihat pada Tabel 10.
42

Tabel 10 Luas Zona dan Sub-zona TPST Bantargebang


Tahun Aktivasi Zona Luas (Ha)
IA 6,8
IB 6,5
1989
IC 5,0
Luas Zona I 18,3
IIA 4,3
IIB 6,5
1992
IIC 7,0
Luas Zona II 17,7
IIIA 3,9
IIIB1 3,0
IIIB2 3,4
1995 IIIB3 3,2
IIIC1 3,9
IIIC2 8,0
Luas Zona III 25,4
IV A1 4,0
IV A2 1,0
IV B1 4,5
2001
IV B2 1,0
IV C 0,5
Luas Zona IV 11,0
VA 6,4
VB 0,8
2002
VC 2,3
Luas Zona V 9,5
Total Luas Zona TPST 81,9
Sumber: KA ANDAL PT. GTJ JO PT. NOEI, 2009
Zona dan sarana-prasarana menjadi pendukung optimalisasi pengelolaan
sampah agar sampah yang menumpuk tidak lagi menimbulkan masalah sosial dan
lingkungan. Sampah di TPST kini dapat diolah menjadi produk lanjutan berupa
biji plastik, kompos dan listrik yang memberi nilai ekonomi. Proses pengolahan
tersebut akan dibahas pada bab selanjutnya.
43

VI. SISTEM PENGOLAHAN SAMPAH DI TPST BANTARGEBANG

Sampah yang telah dikumpulkan pada setiap TPS di DKI Jakarta,


kemudian diangkut menggunakan berbagai moda angkutan menuju TPST
Bantargebang. Mekanisme pengolahan sampah dapat dilihat pada Gambar 7. Saat
memasuki area TPST, angkutan berupa dump truck maupun arm-roll truck harus
melewati fasilitas penimbang sampah yang terletak di pintu masuk TPST. Tonase
sampah kemudian dicatat untuk direkap. Adapun pencatatan itu untuk
merekapitulasi besaran tipping fee yang dibayarkan oleh Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta. Pada tahun 2009, tipping fee yang berlaku sebesar Rp 103.000/ton
sampah. Sesuai kontrak, biaya tipping fee tersebut mengalami kenaikan sebesar
8% setiap 2 tahun.

Penimbangan muatan dump truck di fasilitas penimbangan

Pembuangan sesuai sumber sampah

Sampah Non-Pasar Sampah Pasar

Titik pemilahan plastik: 15-25 ton sampah: Sampah pasar :


distribusi ke unit daur Produksi biji Receiving
ulang plastik plastik composting area

Zona I III: 750 1000 ton


Soil covering dan sampah:
pelapisan geomembran Produksi listrik

550 ton sampah:


Produksi kompos

Gambar 7 Mekanisme pengolahan sampah di TPST Bantargebang


44

Setelah penimbangan tonase dilakukan, sampah kemudian dibawa menuju


zona sampah yang ditunjuk. Sampah hanya dibedakan berdasarkan sumber
sampah, yaitu sampah non-pasar dan sampah pasar. Sampah non-pasar dibuang
ke Zona I-III. Pada awal 2014, Zona IV dan V tidak digunakan karena sampah
telah memenuhi kapasitas lahan dan terletak jauh dari PLTSa sehingga tak
memungkinkan untuk diolah. Setiap ketinggian 2 meter tumpukan sampah di
Zona I-III, maka dilakukan penimbunan tanah dengan tebal 1 meter. Perlakuan ini
disebut dengan soil covering, dilakukan hingga ketinggian zona mencapai 20
meter. Lalu, zona sampah tersebut akan dilapisi dengan geo membran sebagai
upaya untuk menahan air lindi serta menyerap sinar matahari agar mempercepat
proses pembusukan. Sampah ditimbun pada zona menjadi sumber gas metan
untuk diolah lebih lanjut menjadi listrik. Sampah pasar dibawa oleh truk menuju
lokasi unit pengolahan kompos dan titik pemilahan sampah plastik untuk didaur
ulang.

6.1 Unit Pengolahan Kompos


Beragam jenis sampah yang masuk ke TPST Bantargebang akan diolah
untuk menjadi produk lanjutan. Tujuan pengolahan tersebut untuk mengurangi
tumpukan kelima zona sampah, serta menjadi insentif tersendiri bagi perusahaan.
Salah satu produk hasil pengolahan sampah di TPST Bantargebang adalah pupuk
kompos.
Sampah organik menjadi jenis yang mendominasi kompisisi sampah
masuk ke TPST Bantargebang, yaitu sebanyak 55,6 %. Input berupa sampah
organik bersumber dari Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jaya DKI Jakarta, dengan
jumlah sebanyak 550 ton/hari. Sampah tersebut setiap hari diangkut oleh dump
truck setelah melalui jembatan timbang kemudian menuju Receiving Composting
Area yang terletak di dalam area TPST Bantargebang. Adapun Composting Area
tersebut mencakup lahan seluas 13 ha termasuk luas bangunan 9 ha. Lokasi ini
berseberangan dengan Zona I dan berdekatan dengan area Plastic Recycling.
Secara keseluruhan, pengomposan yang dilakukan di TPST Bantargebang
menggunakan teknik Open Windrow Composting.
45

Setelah memasuki area tersebut, jika diperlukan maka dilakukan sortasi


sampah. Namun, sortasi sampah pasar jarang dilakukan karena memang mayoritas
komposisi berupa sampah organik. Sampah kemudian ditumpuk hingga mencapai
tinggi 2 meter dengan panjang 30-40 meter. Setelah mencapai ukuran tersebut,
maka sampah siap untuk diproses lebih lanjut seperti yang tercantum pada
Gambar 8.

550 ton sampah pasar per hari

Penimbunan (21 hari): Pembuatan kompos bubuk (1-3 hari):


a) Dekomposisi a) Pemilahan sampah anorganik
b) Pembalikan, pemindahan dan b) Pencacahan dan pengayakan
penyiraman

Kompos Organic Soil Pembuatan kompos granul (7-


10 hari):
Treatment (OST)
a) Pencampuran
b) Pembuatan butiran granul
Kompos Granul Murni c) Pengeringan 1
d) Penyaringan granul
e) Pengeringan 2
Kompos Granul Plus f) Pengemasan

Gambar 8 Open Windrow Composting

6.1.1 Proses Penimbunan


Dekomposisi
Sampah yang telah menumpuk hingga ketinggian tertentu kemudian
diberikan bakteri dekomposer dengan dicampurkan bersama air lalu disiram ke
tumpukan sampah. Kandungan bakteri dekomposer berupa Actinomycetes sp.,
Bacillus sp., dan Lactobacillus sp. Adapun perbandingan pencampuran air dengan
bakteri dekomposer adalah sekitar 1:3. Perlakuan ini bertujuan untuk menjaga
kelembaban sampah.
46

Pembalikan, Pemindahan dan Penyiraman


Penyiraman dilakukan sebelum pemindahan atau pembalikan, yaitu selama
20 menit/hari menggunakan selang yang terhubung dengan drum. Setelah itu,
tumpukan sampah dipindahkan. Proses ini dilakukan secara berulang setiap 3 hari
dalam kurun waktu 21 hari. Alat berat seperti excavator dan buldozer diperlukan
untuk mendistribusikan sampah dan mikroorganisme agar merata. Tumpukan
sampah akan didorong dan dipindahkan sebanyak 7 hingga 8 kali pengulangan.
Perlakuan ini bertujuan untuk mempercepat proses penyusutan tumpukan sampah.
Rangkaian perlakuan dekomposisi hingga penyiraman membutuhkan waktu 21
hari.

Sumber: Dokumentasi PT GTJ, 2013


Gambar 9 Proses penimbunan sampah di Composting Area

6.1.2 Pembuatan Kompos Bubuk


Proses Pemilahan Sampah Anorganik
Setelah proses pengadukan atau pembalikan selesai maka perlakuan
selanjutnya yaitu memilah beberapa jenis sampah anorganik yang masih terdapat
pada timbunan sampah. Jenis sampah anorganik yang dipilah seperti sampah batu,
kayu, plastik, pecahan botol dan lain-lain. Pemilahan ini dilakukan secara manual
oleh pekerja kompos sebelum sampah memasuki mesin pencacah. Tujuan dari
pemilahan untuk memudahkan proses selanjutnya agar kandungan dan tekstur
kompos menjadi lebih bagus.
47

Pencacahan dan Pengayakan


Sampah yang telah terpilah siap untuk diproses pada tahap selanjutnya.
Sampah organik tersebut dibawa oleh mesin Conveyor Fider menuju mesin
pencacah dan diproses hingga hancur. Hasil dari proses pencacahan kemudian
dibawa kembali oleh Conveyor Fider ke mesin Screening. Penyaringan ini
dilakukan agar sampah anorganik yang masih terdapat dalam olahan dapat
tersaring. Buangan sampah anorganik tersebut secara otomatis jatuh ke lubang
buangan.
Jika masih terdapat sampah plastik dan kayu berukuran besar dari hasil
saringan tersebut, maka dijual oleh pekerja kompos ke pengepul sampah yang
terdapat di pinggiran Zona I. Namun, sampah plastik kecil yang masih tersisa
akan dibuang ke Zona sampah atau ke demplot (lahan pertanaman) yang terdapat
di Composting Area. Terdapat beberapa sayuran, buah tropis dan tanaman hias
yang ditanam pada lahan ini, seperti pohon kamboja, jambu biji, mangga, pepaya,
cabai, tomat dan lain-lain. Bahan sampah yang telah tersaring dari material
organik kemudian didistribusikan lagi oleh Conveyor Fider menuju Vibrator
Machine agar hasil olahan menjadi lebih halus.

Sumber: Dokumentasi Penulis, 2014


Gambar 10 Proses pengayakan kompos bubuk

6.1.3 Pembuatan Kompos Granul


Proses pencampuran
Kompos bubuk yang telah dihasilkan dari proses sebelumnya kemudian
dicampurkan dengan bahan penambah. Bahan campuran tersebut berupa KCl,
48

tepung fosfat dan atau tepung ikan. Komposisi pencampuran bahan dengan pupuk
kompos berbeda-bedai tergantung jenis kompos granul yang dipasarkan. PT GTJ
memproduksi 3 jenis kompos granul yaitu Granul Murni, Granul Plus dan
Organic Soil Treatment (OST). Granul Murni tidak membutuhkan penambahan
bahan, hanya berupa bubuk kompos dari proses sebelumnya. Kompos OST
Granul diproduksi dengan pencampuran ketiga bahan tersebut, sedangkan
Kompos Granul Plus hanya memerlukan penambahan tepung fosfat dan tepung
ikan.
Pembuatan Butiran Granul
Setelah pencampuran dengan bahan yang dibutuhkan maka kompos
kemudian dimasukkan dalam Pan Granulator untuk menghasilkan butiran granul.
Kapasitas mesin dalam berproduksi mencapai sebanyak 2,5 ton/jam. Mesin ini
diputar oleh Gunt Spray, bertujuan untuk memberi perekat berupa cairan molase
dan BioTriba seperti Trichoderma sp. dan Bacillus sp. Campuran cairan tersebut
telah tersedia dalam drum dengan perbandingan konsentrasi air dan campuran
bahan sebanyak 1:25 dalam 1 ton granul. Cairan perekat itu disalurkan oleh Gunt
Spray perlahan untuk membentuk granul.
Pengeringan I
Granul yang telah diolah oleh Pan Granulator biasanya masih
mengandung kadar air cukup tinggi sehingga perlu dikeringkan. Pengeringan
kemudian dilakukan dengan penjemuran di bawah sinar matahari atau
menggunakan mesin pengering (Rotary Driver). Proses pengeringan oleh sinar
matahari memang murah, namun sangat bergantung dengan cuaca sehingga
membutuhkan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, penggunaan Rotary
Driver membuat pengeringan menjadi lebih cepat dengan kapasitas mencapai 2,5
ton/jam pada suhu 80oC.
Penyaringan Granul
Hasil pengeringan I granul kemudian dibawa ke mesin Vibrator Granul
untuk disaring dan dipilah. Granul yang belum memenuhi ukuran standar (masih
kasar, tak berbentuk butiran, ukuran terlalu besar) ditampung untuk kembali
diolah hingga halus. Granul yang telah sesuai dengan ukuran standar akan
dihamparkan di beberapa titik area produksi.
49

Pengeringan II
Kompos granul yang telah dihamparkan akan dibiarkan selama 1 minggu
untuk dikeringkan dan menurunkan kadar air karena penguapan. Pada proses ini
juga dilakukan pemberian mikroorganisme dengan mesin semprot.
Pengemasan
Setelah kurun waktu 1 minggu dihamparkan pada area produksi, granul
diaduk dengan cangkul kemudian dimasukkan ke dalam karung per 40 kg.
Kualitas kompos telah diuji pada tahun 2011 lalu di Balai Penelitian Tanah Bogor
dan Seameo Biotrop. Harga jual kompos tersebut yaitu Rp 550/kg, dengan
kapasitas produksi maksimal 82,5 ton/hari. Kompos yang telah dikemas dengan
merek Green Botane ini kemudian dipasarkan ke beberapa konsumen di Jawa
Barat, Jawa Tengah, Lampung Tengah, Lampung Selatan, Pekanbaru. Secara
keseluruhan, rangkaian produksi membutuhkan waktu ideal 30 hari. Lama waktu
produksi tersebut bervariasi, dapat lebih cepat atau lambat tergantung kondisi
sampah sebagai bahan baku kompos serta cuaca.

Sumber: Dokumentasi PT GTJ, 2013


Gambar 11 Pengemasan kompos granul

6.2 Unit Daur Ulang Plastik


Muatan sampah yang dibawa oleh dump truck atau arm-roll truck tidak
hanya dibuang pada zona pembuangan. Terdapat satu titik khusus yang disediakan
oleh PT GTJ untuk pemilahan sampah plastik. Sampah di titik ini hanya
dikhususkan untuk pemulung yang direkrut PT GTJ. Terdapat 300 pemulung yang
dipekerjakan, bertugas menyetor sampah plastik dengan kisaran sejumlah 15-25
50

ton/hari. Sampah plastik yang sudah terpilah kemudian dibawa ke area daur ulang
untuk menjalani proses selanjutnya. Diagram proses pengolahan tersebut secara
lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 12.

15-25 ton sampah / hari 4 ton biji plastik / hari

Pra-produksi:
- Pembersihan I
- Pemotongan I Produksi:
- Pembersihan II - Pemanasan I & II
- Pemotongan II - Pemotongan & pengemasan
- Pembersihan III
- Pengeringan

Gambar 12 Proses Daur Ulang Plastik di TPST Bantargebang

Pembersihan I dan Pemotongan I

Gambar 13 Alat Pembersih dan Pemotong


Sampah plastik yang telah berada di area produksi kemudian dimasukkan
ke dalam Mesin Gibrig. Perlakuan ini bertujuan untuk membersihkan plastik
dengan air. Plastik yang telah dibersihkan pada Mesin Gibrig kemudian dibawa
secara otomatis menuju Mesin Pencacah. Hasil pencacahan berupa potongan
plastik yang masih berukuran sedang, dengan panjang dan lebar sekitar 15-20 cm.
Pembersihan II
Plastik berukuran sedang selanjutnya dibawa ke Kolam I untuk dibilas
menggunakan campuran air dan sabun alkyl benzene sulfolat (ABS).
Pencampuran ini berfungsi untuk menghilangkan kotoran dan lemak pada plastik.
51

Pemotongan II dan Pembersihan III


Pada proses ini plastik dipotong lagi hingga mencapai ukuran kecil sekitar
5-10 cm. Setelah itu, plastik yang telah berukuran kecil kemudian dibersihkan lagi
dalam kolam yang berbeda, yakni Kolam II. Pencucian secara berulang ini
dilakukan agar plastik bersih dan steril.
Pemerasan dan pengeringan
Plastik yang telah dicuci kemudian dibawa oleh mesin memasuki Mesin
Sentrik I. Plastik yang masih dalam kondisi basah tersebut diperas di dalam mesin
untuk meminimalisir kandungan air bekas pencucian. Selanjutnya, plastik
dimasukkan ke Mesin Sentrik II untuk dikeringkan. Plastik yang telah dikeringkan
kemudian didistribusikan ke sebuah corong besar untuk ditampung.
Pemanasan I dan II
Plastik yang telah ditampung di corong besar kemudian perlahan
dipanaskan sebanyak 2 kali pemanasan. Pada pemanasan kedua, terbentuk
lembaran plastik panjang (mian) yang kemudian didinginkan dengan air dalam
wadah persegi panjang.
Pemotongan dan pengemasan
Mian yang telah didinginkan kemudian akan dikaitkan dengan mesin
pemotong secara otomatis. Mian tersebut dipotong hingga menjadi biji plastik.
Pengemasan biji plastik kemudian dilakukan dengan berat 30 kg/karung dengan
harga jual Rp 7.500/kg. Produksi biji plastik ini mencapai 4 ton/hari untuk
kemudian didistribusikan ke produsen furniture yang berada di Bandung.

Gambar 14 Biji plastik hasil daur ulang dan kemasan biji plastik
52

6.3 Power House PLTSa Bantargebang

350-700 ton sampah / hari 98 196 MW disalurkan ke


PLN Jawa-Bali

Produksi gas metan:


- Soil covering & waste
reprofilling
- Penyerapan gas metan
- Penyaluran gas metan
- Pengecekan kadar gas metan Gas metan masuk ke
- Gasses compresing mesin pembangkit

Gambar 15 Proses Produksi Listrik di PLTSa Bantargebang


Pengolahan sampah di TPST Bantargebang memang cukup kompleks,
namun usaha pengolahan tersebut memang bertujuan untuk mereduksi tumpukan
sampah pada setiap zona TPST serta memberi added value bagi sampah. Selain
memproduksi kompos dan biji plastik, TPST Bantargebang juga memiliki power
house untuk menghasilkan listrik dari sampah. Beberapa rangkaian aktivitas
produksi yang diperlukan dalam memproduksi gas metan yaitu soil covering,
waste reprofilling, penyerapan gas metan, penyaluran gas metan, pengecekan
kadar gas metan, dan gasses compressing. Tahapan tersebut dilakukan secara
berkesinambungan dalam produksi listrik, seperti yang terdapat pada Gambar 15.
Soil Covering dan Waste Reprofilling

Sumber: Dokumentasi PT NOEI, 2010 dan dokumentasi penulis, 2014


Gambar 16 Soil covering dan pelapisan geomembran
Ketika timbunan sampah telah mencapai ketinggian tertentu, zona sampah
kemudian diberi perlakuan pelapisan dengan tanah (soil covering). Selain itu,
zona tersebut juga akan dibentuk menyerupai piramida berundak atau disebut
53

perlakuan waste reprofilling. Zona tersebut kemudian dilapisi dengan plastik


untuk menahan gas metan agar tidak terlepas ke udara.
Penyerapan Gas Metan
Proses selanjutnya yaitu pembuatan sumur gas. Saat ini telah dibangun
sekitar 70 sumur gas di zona sampah TPST. Sumur gas berfungsi untuk menyerap
gas di lapisan zona sampah melalui pori-pori pada permukaan pipa. Pipa tersebut
berbahan polyethylene (PE), berfungsi menyisihkan air lindi yang terbawa ketika
blower menyedot gas dari landfill. Air lindi tersebut disalurkan untuk dibuang ke
Instalasi Pengolahan Air Sampah (IPAS).
Penyaluran Gas Metan
Gas yang telah disisihkan dari kandungan air lindi kemudian diserap oleh
blower untuk dibawa ke mesin generator. Pipa yang terbenam di lapisan zona
sengaja dibuat dengan berpori untuk tetap dapat menyerap gas di dalam timbunan
sampah. Penyerapan gas ini memang selalu berpotensi terdapat komponen ikutan
berupa air lindi. Oleh karena itu, pipa-pipa dibuat sedemikian rupa agar berbentuk
horizontal. Hal ini memudahkan gas untuk menuju mesin pembangkit listrik yang
terletak di power house area, air yang terbawa pun akan otomatis terjatuh ke
bawah tanpa ikut masuk ke blower.
Pengecekan Kadar Gas Metan
Kadar gas yang terserap oleh blower selalu dikontrol oleh sebuah alat yang
disebut Gas Analyzer. Alat ini berfungsi untuk mengecek kadar gas pada setiap
titik yang ditentukan. Jika pada suatu titik terdeteksi hanya terdapat sedikit
kandungan metan, maka pipa pada titik tersebut akan ditutup untuk mengehntikan
aliran. Hal ini bertujuan untuk mencegah gas selain metan agar tak ikut mengalir
menuju mesin generator. Kadar oksigen yang melebihi 2% kandungan gas metan
pada aliran tersebut berpotensi mengubah metan menjadi karbondioksida dan uap
air sehingga menyebabkan kerusakan pada mesin pembangkit listrik.
Gasses Compressing
Gas yang disalurkan dari zona sampah memiliki suhu sebesar 50-700C
sehingga perlu didinginkan di dalam sebuah mesin pendingin (chiller). Suhu gas
setelah proses pendinginan tersebut mencapai kisaran 180C. Selanjutnya, gas
ditekan (compressed) hingga padat, sekitar 110 milibar. Gas padat tersebut
54

kemudian didistribusikan ke dalam mesin sehingga listrik dapat dihasilkan untuk


disalurkan ke jaringan transmisi PLN Jawa Bali.
Setiap rangkaian kegiatan produksi lanjutan dari sampah yang telah
dijelaskan sebelumnya memiliki manfaat positif. Selain mendapatkan pemasukan
dari hasil penjualan produk, perusahaan juga mampu menyerap tenaga kerja.
Dampak positif lainnya dari aktivitas tersebut yaitu mengurangi emisi karbon.
Secara lebih dalam, manfaat ekonomi reduksi emisi karbon akan dikaji pada
bahasan selanjutnya.
55

VII. MANFAAT EKONOMI REDUKSI EMISI KARBON

7.1. Reduksi Timbulan Sampah di TPST Bantargebang

Jumlah emisi CO2 tergantung dari banyaknya sampah yang terangkut dari
sumber ke TPST Bantargebang. Sebelum melakukan evaluasi terhadap manfaat
ekonomi reduksi emisi karbon, perlu estimasi terhadap jumlah sampah yang
masuk ke TPST Bantargebang dan berapa jumlah sampah yang diolah menjadi
produk berupa kompos, biji plastik maupun listrik.
Penggunaan sampah sebagai input produksi kompos diperkirakan konstan
setiap tahun yaitu 198.000 ton/tahun atau 550 ton/hari karena telah mencapai
kapasitas produksi maksimum. Namun, kapasitas produksi biji plastik dan listrik
diperkirakan akan meningkat hampir setiap tahun. Kapasitas produksi biji plastik
yang dihasilkan memang masih sangat kecil jika dibandingkan kapasitas produksi
kompos maupun listrik. Setiap hari, terdapat 14,92% sampah plastik yang dibuang
ke TPST Bantargebang. Dari 14,92% sampah plastik tersebut hanya sekitar 4%
sampai 4,2% (15-25 ton sampah) yang saat ini mampu didaur ulang menjadi biji
plastik. Kecilnya kapasitas produksi tersebut mendorong pihak pengelola untuk
menambah jumlah sampah yang diolah pada kisaran 1.500 ton/tahun hingga
proyek berakhir tahun 2023.
Untuk produksi listrik, TPST memang berinsentif untuk menambah
kapasitas produksi yang pada tahun 2009-2013 masih terpaut pada kisaran 96-198
MW/hari dari 350-700 ton sampah/hari. Pada tahun 2017-2023, diperkirakan
PLTSa telah mampu mencapai kapasitas produksi sebesar 380 MW/hari dari
1.000 ton sampah/hari.
Proyeksi mengenai jumlah sampah di TPST Bantargebang yang mampu
direduksi melalui pengolahan produk lanjutan dapat dilakukan dengan beberapa
tahapan. Pertama, dibutuhkan data sampah masuk ke TPST dengan asumsi bahwa
sampah tidak diolah lebih lanjut menjadi produk. Sampah dibiarkan menumpuk di
TPST tanpa aktivitas produksi sampah menjadi kompos, biji plastik dan listrik.
Selanjutnya, akan diestimasi berapa banyak sampah yang mampu dikurangi dari
tumpukan tersebut melalui olahan menjadi ketiga produk tersebut seperti yang
telah dijelaskan sebelumnya. Secara lebih jelas, proyeksi jumlah sampah yang
56

mampu direduksi melalui pengolahan sampah secara berkelanjutan di TPST dapat


dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11 Proyeksi Reduksi Timbulan Sampah di TPST Bantargebang melalui


Pengolahan Produk Lanjutan 2009-2023
Sampah Sampah
Jumlah Sampah Sampah Jumlah
yang Diolah yang Diolah
Masuk di TPST yang Diolah Sampah di TPST
menjadi untuk
Tahun Bantargebang menjadi Biji setelah Diolah
Kompos Produksi
(ton) Plastik (ton) (ton)
(ton) Listrik (ton)
(1) (2) (3) (4) (1)-[(2)+(3)+(4)]
2009 1.751.184,00 198.000 2.999,52 127.750 1.422.434,48
2010 1.822.366,80 198.000 4.499,64 164.250 1.455.617,16
2011 1.895.007,60 198.000 5.999,76 200.750 1.490.257,84
2012 2.171.836,70 198.000 7.499,88 219.000 1.747.336,82
2013 2.259.508,45 198.000 9.000,00 237.250 1.815.258,45
2014 2.352.172,52 198.000 10.512,00 273.750 1.869.910,52
2015 2.450.113,21 198.000 12.024,00 310.250 1.929.839,21
2016 2.609.497,03 198.000 13.536,00 346.750 2.051.211,03
2017 2.752.352,21 198.000 15.048,00 360.000 2.179.304,21
2018 2.878.637,13 198.000 16.560,00 360.000 2.304.077,13
2019 2.988.612,64 198.000 18.072,00 360.000 2.412.540,64
2020 3.082.949,00 198.000 19.584,00 360.000 2.505.365,00
2021 3.162.588,50 198.000 21.096,00 360.000 2.583.492,50
2022 3.228.574,58 198.000 22.608,00 360.000 2.647.966,58
2023 3.282.132,82 198.000 24.120,00 360.000 2.700.012,82
Jumlah Sampah di TPST Bantargebang (ton) dengan 31.114.624,40
pengolahan Sampah
Jumlah Sampah di TPST Bantargebang (ton) tanpa 38.687.533,20
pengolahan sampah (1)
Sumber: Penulis, 2014 (Diolah)

Tabel 11 menunjukkan bahwa secara keseluruhan pada kurun waktu 2009-


2023, ketiga produk olahan tersebut berkontribusi mengurangi jumlah sampah di
TPST menjadi 31.114.624,4 ton dari total jumlah sampah tanpa pengolahan
apapun sebanyak 38.687.533,2 ton. Artinya, proyek pengolahan sampah terpadu
di TPST Bantargebang mampu mengurangi sampah sebanyak 7.572.908,8 ton
selama proyek beroperasi pada tahun 2009-2023. Berkurangnya jumlah sampah
tersebut tentu berkontribusi pula dalam mengurangi emisi CO2 akibat adanya
57

tumpukan sampah di TPST Bantargebang. Analisis mendalam mengenai hal


tersebut akan dibahas pada sub-bab berikutnya.

7.2 Manfaat Ekonomi Reduksi Emisi Karbon di TPST Bantargebang

Ketiga aktivitas produksi di TPST Bantargebang secara total mampu


mereduksi emisi CO2 dalam jumlah yang cukup besar. EPA (2014) melalui
LandGEM versi 3.02 mengasumsikan bahwa 1 ton sampah dapat menghasilkan
0,0152 ton CO2. Jumlah reduksi emisi CO2 melalui pengolahan sampah terpadu
secara tidak langsung menunjukkan berkurangnya kerugian yang dapat diterima
masyarakat.
Estimasi kerugian akibat emisi CO2 dari tumpukan sampah di TPST
Bantargebang dapat dinilai menggunakan Social Cost of Carbon (SCC) seperti
yang telah dijelaskan pada Tabel 4. Nilai SCC berdasarkan kepada kerugian yang
harus ditanggung masyarakat secara global terkait penurunan produktivitas
pertanian, kesehatan, kerusakan akibat meningkatnya intensitas banjir, dan
berkurangnya nilai dari jasa lingkungan (EPA, 2010b). Setelah melakukan tahap-
tahap penilaian seperti yang telah disebutkan pada bahasan pada Bab 4, maka
dapat dianalisis kerugian yang disebabkan sampah yang menumpuk di TPST
Bantargebang. Secara total, emisi CO2 yang dapat direduksi melalui ketiga
pengolahan sampah di TPST Bantargebang dapat dilihat pada Tabel 12.
Proyeksi pada Tabel 12 menunjukkan bahwa aktivitas pengolahan sampah
secara terpadu di TPST Bantargebang dalam kurun waktu 2009-2023
menghasilkan emisi CO2 sebanyak 5.815.338,46 ton. Jika merujuk Tabel 12,
tumpukan sampah di TPST Bantargebang tanpa pengolahan apapun menghasilkan
total emisi CO2 sebanyak 5.930.557,50 ton. Artinya, total manfaat ekonomi
sebesar Rp 39.128.386.541 dari reduksi emisi CO2 sebanyak 115.219,04 ton.
Nilai tersebut berdasarkan nilai SSC pada tahun 2023 yang diperkirakan
menyentuh 28,3 USD/ton atau Rp 339.600/ton.
58

Tabel 12 Proyeksi Reduksi Emisi CO2 dari Produk Olahan Sampah di TPST
Bantargebang 2009-2023
Tahun Potensi Reduksi Reduksi Reduksi Emisi CO2
Jumlah Emisi CO2 Emisi CO2 Emisi CO2 (ton)
Emisi CO2 oleh Produksi oleh Daur oleh
di TPST Kompos (ton) Ulang Produksi
(ton) Plastik (ton) Listrik
(ton)
(1) (2) (3) (4) (1)-[(2)+(3)+(4)]
2009 291.752,70 3.012,50 45,64 1.943,67 286.750,90
2010 301.694,44 3.012,50 68,46 2.499,00 296.114,48
2011 314.707,28 3.012,50 91,28 3.054,34 308.549,16
2012 328.190,67 3.012,50 114,11 3.332,01 321.732,06
2013 342.161,37 3.012,50 136,93 3.609,67 335.402,26
2014 356.660,79 3.012,50 159,94 4.165,01 349.323,35
2015 371.732,06 3.012,50 182,94 4.720,34 363.816,28
2016 387.420,13 3.012,50 205,95 5.275,67 378.926,01
2017 404.542,97 3.012,50 228,95 5.477,27 395.824,25
2018 422.802,47 3.012,50 251,95 5.477,27 414.060,75
2019 441.914,50 3.012,50 274,96 5.477,27 433.149,77
2020 461.612,35 3.012,50 297,96 5.477,27 452.824,62
2021 481.651,61 3.012,50 320,97 5.477,27 472.840,87
2022 501.812,76 3.012,50 343,97 5.477,27 492.979,02
2023 521.901,41 3.012,50 366,98 5.477,27 513.044,67

Emisi CO2 (ton) dengan pengolahan 5.815.338,46


sampah (5)
Emisi CO2 (ton) tanpa pengolahan 5.930.557,50
sampah (1)
Manfaat Ekonomi Reduksi 39.128.386.541
Emisi Karbon (Rp) [(5)-(1)]*Rp 339.600/ton
Ket.: *Kurs Rp 12.000/USD, harga CO2 berdasarkan SCC pada Tabel 4 (EPA, 2010b)

Sejak awal didirikan, proyek PLTSa Bantargebang telah menargetkan


penerimaan dari reduksi emisi karbon. Pengelola PLTSa telah melakukan
registrasi Certified Emission Reduction (CER) pada pertengahan 2012 agar
59

reduksi tersebut bersifat tradeable. Namun, mengingat skema karbon Protokol


Kyoto (2006-2012) yang tak berjalan dengan efektif, proyek PLTSa masih belum
mendapatkan pihak investor yang berminat membeli CER. Meskipun begitu,
proyek tetap dapat berjalan dengan mendapatkan penerimaan berupa penjualan
listrik ke PLN Jamali serta tipping fee dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Kajian mendalam mengenai evaluasi ekonomi proyek tersebut akan menjadi
pembahasan selanjutnya.
60

VIII. ANALISIS EKONOMI PROYEK PLTSa BANTARGEBANG

8.1 Evaluasi Aspek Kelayakan Usaha PLTSa Bantargebang

8.1.1 Aspek Teknis

Pemilihan Lokasi
Lokasi power house PLTSa terletak di dalam lingkup TPST Bantargebang,
berjarak 35 meter dari jembatan timbang, serta 20 meter berseberangan dengan
lokasi zona II. Penentuan lokasi tersebut dengan mempertimbangkan letak yang
strategis untuk menjangkau zona I dan II, agar lebih mudah menyalurkan gas dari
zona ke Integrated Waste Treatment Plant. Saat ini, sampah di zona IV dan V
masih tidak memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai listrik karena terletak
sangat jauh serta berkapasitas sedikit. Lokasi yang jauh tentu saja akan berdampak
pada biaya operasional disebabkan kebutuhan pipa penyalur gas yang lebih
panjang. Secara lebih jelas, denah lokasi power house PLTSa dapat dilihat pada
Lampiran 1.
Produk Listrik dan CO2
PLTSa Bantargebang menghasilkan produk listrik sebanyak 182 MW/hari
dari 700 ton sampah/hari pada tahun 2013. Hasil proyeksi juga menunjukkan
bahwa kapasitas produksi dapat terus bertambah hingga tahun 2017, yaitu ketika
mencapai 308 MW/hari dari 1.000 ton sampah/hari. Kapasitas produksi tetap
bertahan pada angka tersebut dikarenakan telah sesuai dengan perjanjian proyek
Dinas Kebersihan DKI Jakarta. Produk listrik yang telah dihasilkan akan terpakai
untuk kebutuhan di power house sebanyak 10% dari output. Sisanya sebanyak
90% kemudian disalurkan ke jaringan PLN Jawa-Bali dengan transmisi yang telah
dibangun di PLTSa.
Adapun produk berupa karbon seperti yang telah dijelaskan pada bab
sebelumnya, baru mulai menyerap emisi karbon pada tahun 2009. Proyek PLTSa
telah memiliki Certified of Emission Reduction (CER) dan terdaftar sebagai
proyek berbasis Clean Development Mechanism di United Nations Framework
Convention on Climate Change (UNFCCC) sejak Juni 2012.
61

Harga Produk
Saat tahun ke-1, produk listrik dibeli oleh PLN dengan harga Rp 800/kwh.
Harga tersebut mengalami kenaikan mulai tahun ke-3 hingga tahun ke-4, yaitu Rp
850/kwh. Pada tahun ke-4 hingga tahun ke-15, harga diasumsikan sama yaitu Rp
1.000/kwh sesuai peraturan yang dikeluarkan Dirjen Energi Baru Terbarukan dan
Konvensi Energi (EBTKE) pada Juni 2014.
Penjualan karbon umumnya mengikuti skema CER proyek dengan fee
level seharga Rp 1.594.354.761 untuk mereduksi CO2 sebanyak 677.129
ton/tahun dalam periode 7 tahun. Namun, masih belum ada kreditor yang
melakukan kontrak dengan proyek untuk membeli CER tersebut. Oleh karena itu,
manfaat ekonomi reduksi emisi karbon diasumsikan seharga dengan biaya sosial
karbon atau Social Cost of Carbon (SSC) seperti yang telah dibahas pada Tabel
11 sebelumnya. Kurs terhadap Rupiah diasumsikan konstan Rp 12.000/USD.
Skema penjualan ini diasumsikan sama dengan skema kontrak yang dilakukan
oleh TPA Sumur Batu Bekasi dimana Bank Dunia bertindak sebagai kreditor.
Bank Dunia menjadi pihak yang akan membeli setiap ton karbon dari reduksi
emisi produksi listrik tersebut.

8.1.2 Aspek Institusional

TPST Bantargebang dikelola oleh PT NOEI joint operation dengan PT


GTJ. PT NOEI berperan sebagai pelaksana dalam produksi listrik di PLTSa,
sedangkan PT GTJ berfungsi secara langsung sebagai pelaku operasional Unit
Daur Ulang Plastik dan Unit Pengolahan Kompos. Skema ini berbasis build
operate transfer (BOT). Pengelolaan ini dimulai pada tahun 2008 hingga berakhir
pada tahun 2023. Setelah tahun 2023, TPST Bantargebang akan dimiliki oleh
Pemprov DKI Jakarta. Skema tersebut telah sesuai dengan Peraturan Presiden
(PP) No. 67 tahun 2005 tentang Pengadaan Badan Usaha dalam Penyediaan
Inftastruktur Kerja sama Pemerintah Swasta (KPS). Secara hukum, sistem
manajemen proyek telah sesuai dan layak.
62

8.1.3 Aspek Sosial

Pengelolaan sampah secara terpadu di TPST Bantargebang kini


menghasilkan berbagai manfaat positif. Adanya perlakuan soil cover dan waste
re-profilling awalnya hanya ditujukan untuk menahan kelembaban sampah agar
tak terkena sinar matahari. Perlakuan tersebut memudahkan penyerapan gas
metana untuk diolah menjadi listrik. Di sisi lain, hal tersebut mencegah polusi bau
yang timbul. Kini, jika berdekatan dengan zona sampah tidak lagi terasa bau yang
mengganggu. Gunung sampah pada setiap zona pun menjadi terlihat lebih teratur.
Dampak positif lain yang dirasakan melalui proyek PLTSa ini yaitu mampu
menyerap tenaga kerja sebanyak 51 orang mulai dari posisi General Manager
hingga Office Boy.

8.2 Identifikasi Manfaat Proyek PLTSa

8.2.1 Manfaat Langsung

Proyek PLTSa Bantargebang mendapatkan manfaat langsung dari


produksi listrik. Penerimaan dari produksi listrik baru didapatkan mulai tahun
2009, ketika proyek telah mampu menghasilkan listrik sebesar 98 MW/hari.
Penerimaan yang didapatkan pada tahun ke-1 tersebut yaitu sebesar Rp
25.754.400.000. Setiap output produk akan dikurangi sebesar 10% sebagai
penggunaan beban listrik untuk aktivitas produksi. Jumlah output yang telah
dikurangi tersebut kemudian dijual ke PLN Jawa Bali sesuai harga yang
berlaku. Setiap 1 ton sampah diasumsikan dapat menghasilkan 280 kwh listrik
dengan kandungan metana sebanyak 55% (Evans dan Barker, 2009). Persamaan
(4.1) digunakan untuk mengestimasi manfaat ekonomi produk listrik PLTSa.
Kapasitas produksi terus bertambah setiap tahun hingga tahun ke-9, yaitu
ketika mampu menggunakan input sampah sebanyak 1.000 ton/hari sebagai
persyaratan dalam kontrak proyek dengan Dinas Kebersihan DKI Jakarta. Adapun
proyeksi manfaat ekonomi produksi listrik tersebut seperti yang tercantum pada
Tabel 13.
63

Tabel 13 Manfaat Ekonomi Produksi Listrik PLTSa Bantargebang


Konsumsi
Input Output Harga
Listrik Manfaat Ekonomi
Tahun Sampah Listrik Jual
Pabrik (Rp)
(ton/hari) (kwh/hari) (Rp/kwh)
(kwh/hari)
1 350 98.000 9.800 800 25.754.400.000
2 450 126.000 12.600 800 33.112.800.000
3 550 154.000 15.400 850 43.000.650.000
4 600 168.000 16.800 860 46.909.800.000
5 650 182.000 18.200 860 50.818.950.000
6 750 210.000 21.000 1.000 68.985.000.000
7 850 238.000 23.800 1.000 78.183.000.000
8 950 266.000 26.600 1.000 87.381.000.000
9 1.000 280.000 28.000 1.000 91.980.000.000
10 1.000 280.000 28.000 1.000 96.888.148.087
11 1.000 280.000 28.000 1.000 99.879.762.121
12 1.000 280.000 28.000 1.000 102.058.200.041
13 1.000 280.000 28.000 1.000 103.780.594.828
14 1.000 280.000 28.000 1.000 105.209.449.699
Total Penerimaan Penjualan Listrik (Rp) 1.033.941.754.776
Sumber: Penulis, 2014 (Diolah)

Selain mendapatkan manfaat ekonomi dari listrik, PLTSa juga menerima


insentif berupa tipping fee yang dibayarkan oleh Pemprov DKI Jakarta. Meskipun
terbilang besar, pihak Dinas Kebersihan DKI Jakarta mengungkapkan bahwa hal
itu sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk melakukan pelayanan demi
kepentingan masyarakat. Sesuai ketentuan yang tercantum pada proyek, besar
tipping fee akan mengalami pertambahan sebesar 8% setiap dua tahun sekali.
Tarif tipping fee ditetapkan per ton sampah yang masuk ke TPST Bantargebang.
Sebesar 20% dari total tipping fee akan dibayarkan ke Pemkot Bekasi sebagai
insentif dampak sosial TPST Bantargebang, sebesar 2% dipotong pajak,
sedangkan 78% sisanya akan dibagi untuk operasional ketiga produk lanjutan
sampah di TPST Bantargebang, yaitu kompos, biji plastik dan listrik. Masing-
masing unit pengolahan mendapatkan penerimaan sebesar 26% dari tipping fee
tersebut. Secara lebih jelas, proyeksi penerimaan tipping fee oleh PLTSa dapat
dilihat pada Tabel 14.
64

Tabel 14 Proyeksi Manfaat Ekonomi dari Tipping Fee bagi PLTSa Bantargebang

Sampah Masuk ke
Tipping Fee
Tahun TPST Bantargebang Manfaat Ekonomi (Rp)
(Rp/ton sampah)
(ton)
1 1.775.506 103.000 47.791.886.837
2 1.847.677 103.000 59.391.743.953
3 1.921.327 111.240 61.759.139.910
4 2.202.001 111.240 82.290.248.946
5 2.290.891 120.139 85.612.105.563
6 2.384.842 120.139 101.587.891.989
7 2.484.143 129.750 84.232.523.941
8 2.645.740 129.750 89.711.985.909
9 2.790.579 140.130 102.193.065.532
10 2.918.618 140.130 106.881.943.235
11 3.030.121 151.341 119.842.484.312
12 3.125.768 151.341 123.625.344.326
13 3.206.513 163.448 136.964.373.820
14 3.273.416 163.448 139.822.078.143
Total Penerimaan Tipping Fee (Rp) 1.341.706.816.415
Sumber: Penulis, 2014 (Diolah)
Berdasarkan data riil Dinas Kebersihan DKI Jakarta (2009), anggaran
yang dikeluarkan untuk pengelolaan sampah sebesar Rp 588.495.680.203 pada
tahun ke-1. Artinya, pada tahun ke-1 tipping fee untuk PLTSa menyedot biaya
anggaran sebesar 8,12% yaitu mencapai Rp 47.791.886.837. Jika anggaran
dipertahankan pada angka tersebut memang tetap dapat menutupi biaya tipping
fee untuk PLTSa hingga tahun ke-15 saat proyek berakhir. Namun, biaya tersebut
tidaklah kecil sehingga tentu saja tetap membebani Pemprov DKI Jakarta.
Terlebih Pemprov DKI Jakarta juga harus menanggung biaya transportasi sampah
dari sumber hingga TPST Bantargebang yaitu sebesar Rp 300.000/ton sampah
pada tahun 2013 (Indonesia Solid Waste Association, 2013). Hal ini
mengindikasikan adanya pemborosan anggaran yang dilakukan oleh Dinas
Kebersihan DKI Jakarta.

8.2.2 Manfaat Tidak Langsung

Manfaat tidak langsung yang didapatkan oleh proyek PLTSa


Bantargebang yaitu berupa reduksi emisi karbon. Seperti yang telah dibahas pada
65

Bab sebelumnya, proyeksi jumlah emisi karbon dilakukan berdasarkan jumlah


sampah yang digunakan sebagai input produksi listrik. Setelah dihasilkan
jumlahnya, maka akan diestimasi lebih lanjut dengan mengkonversi nilai tersebut
berdasarkan biaya sosial karbon atau Social Cost of Carbon (SSC) seperti yang
telah dibahas pada Tabel 4 sebelumnya. Data mengenai manfaat ekonomi reduksi
emisi karbon melalui aktivitas proyek PLTSa dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15 Proyeksi Manfaat Ekonomi Reduksi Emisi CO2 dari Produksi Listrik di
TPST Bantargebang 2009-2023
Tahun Jumlah Sampah Reduksi Emisi CO2 Manfaat Ekonomi Reduksi
yang Diolah (ton) oleh Produksi Emisi CO2 oleh Produksi
Listrik (ton) Listrik (Rp)*
2009 127.750 1.943,67 489.804.738
2010 164.250 2.499,00 641.744.166
2011 200.750 3.054,34 802.680.009
2012 219.000 3.332,01 895.642.949
2013 237.250 3.609,67 987.606.287
2014 273.750 4.165,01 1.164.535.754
2015 310.250 4.720,34 1.348.129.230
2016 346.750 5.275,67 1.538.386.717
2017 360.000 5.477,27 1.630.035.112
2018 360.000 5.477,27 1.662.898.723
2019 360.000 5.477,27 1.695.762.334
2020 360.000 5.477,27 1.728.625.946
2021 360.000 5.477,27 1.774.635.001
2022 360.000 5.477,27 1.814.071.335
2023 360.000 5.477,27 1.860.080.390
Total Manfaat Ekonomi Reduksi 20.034.638.690
Emisi CO2 (Rp)
Sumber: Penulis, 2014 (Diolah)
Ket.: *Kurs Rp 12.000/USD, harga CO2 berdasarkan SCC pada Tabel 4 (EPA, 2010b)

Tabel 15 menunjukkan bahwa pada tahun 2009, proyek PLTSa mampu


mereduksi emisi CO2 sebanyak 1.943,67 ton dari olahan 127.750 ton sampah.
Aktivitas produksi tersebut menghasilkan manfaat ekonomi sebesar Rp
489.804.738. Saat tahun 2017 hingga proyek berakhir tahun 2023, proyek PLTSa
diperkirakan dapat mereduksi emisi CO2 sebanyak 5.477,27 ton dari 360.000 ton
sampah yang diproduksi menjadi listrik. Adapun total manfaat ekonomi reduksi
emisi CO2 pada kurun waktu 2008-2023 yaitu sebesar Rp 20.034.638.690.
66

8.3 Identifikasi Biaya Proyek PLTSa

8.3.1 Biaya Investasi

Investasi Konstruksi dan Transmisi


Proyek PLTSa Bantargebang pada awal tahun 2008 mulai didirikan
dengan melakukan investasi konstruksi dan transmisi. Untuk menyalurkan listrik
dari power house menuju jaringan listrik PLN maka diperlukan fasilitas berupa
transmisi. Biaya yang diperlukan dalam pembuatan transmisi terdiri dari biaya
pembuatan tiang awal, tiang pondasi, tiang tumpu ganda, guy set tiang bulat,
konduktor, pengganti kabel PLN, kabel tertanam dan kabel transmisi serta
pemasangan Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM). Total biaya investasi
transmisi listrik sebesar Rp 399.309.000. Detail mengenai biaya tersebut dapat
dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16 Biaya Investasi Transmisi Listrik PLTSa
Total Biaya
Uraian Satuan Jumlah Harga/satuan
(Rp / tahun)
Tiang awal - TM - 11B set 3 19.500.000 58.500.000
Tiang pondasi set 15 3.900.000 58.500.000
Tiang tumpu ganda set 3 5.200.000 15.600.000
Guy set tiang bulat set 15 1.250.000 18.750.000
Konduktor m 900 30.000 27.000.000
Pengganti kabel PLN m 300 30.000 9.000.000
Kabel tertanam m 300 596.530 178.959.000
Kabel transmisi set 3 6.000.000 18.000.000
Pemasangan SUTM set 3 5.000.000 15.000.000

Total Biaya Investasi Transmisi (Rp) 399.309.000


Sumber: Penulis, 2014 (Diolah)

Konstruksi terdiri dari bangunan utama, bangunan pendingin, cerobong,


IPAS, pipa dan blower, serta fasilitas penunjang berupa drainase dan pagar
pembatas. Total biaya investasi konstruksi PLTSa yaitu sebesar Rp
49.030.903.333. Rincian mengenai biaya investasi kontruksi dapat dilihat pada
Lampiran 2.
Investasi Mesin dan Sistem Operasi
Setelah pembangunan konstruksi dan pemasangan transmisi, tahap
selanjutnya yaitu pembelian mesin serta sistem operasi PLTSa. Mesin dan sistem
67

menjadi faktor yang penting dalam operasional PLTSa. Pada tahap ini, beberapa
kapital yang perlu dilengkapi adalah boiler machine, turbine machine, generator,
balance of power plant, fuel handling, supply water system, system testing,
control management system, pengolahan gas buang serta sertifikasi sistem.
Rincian biaya secara lebih detail dapat dilihat pada Tabel 17. Total biaya investasi
mesin dan sistem operasi pada tahap ini sebesar Rp 39.262.000.000.
Tabel 17 Biaya Investasi Mesin dan Sistem Operasi PLTSa

Umur Ekonomis
Uraian Unit Harga/Unit Total Investasi
(tahun)
Boiler Machine 1 12.720.000.000 15 12.720.000.000
Turbine Machine 1 6.342.000.000 15 6.342.000.000
Generator 7 800.000.000 10 5.600.000.000
Balance of Power 1 3.000.000.000 15 3.000.000.000
Plant
Pengolahan Gas 1 2.300.000.000 15 2.300.000.000
Buang
Fuel Handling 2 1.800.000.000 15 3.600.000.000
Supply Water 1 1.000.000.000 10 1.000.000.000
System
System Testing 1 3.500.000.000 15 3.500.000.000
Control 1 1.000.000.000 5 1.000.000.000
Management
System
Sertifikasi Sistem 1 200.000.000 5 200.000.000
Total Biaya Investasi Mesin dan Sistem Operasi (Rp) 39.262.000.000
Sumber: Penulis, 2014 (Diolah)

Biaya Pra-Investasi
Setelah pembangunan konstruksi dan pemasangan transmisi, pembelian
mesin serta sistem operasi PLTSa, masih ada biaya yang perlu dikeluarkan untuk
mendukung legalitas proyek seperti perizinan usaha dan Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan (AMDAL). Proyek juga memerlukan manajerial yang baik
sehingga sebelum proyek berlangsung perlu ada konsultasi terlebih dahulu dengan
jasa konsultan. Modal minimum pun diperlukan sebagai balance awal dalam
memulai proyek. Pemenuhan ketiga aspek tersebut memerlukan biaya total hingga
Rp Secara rinci, mengenai biaya pra-investasi dapat dilihat pada Tabel 18.
68

Tabel 18 Biaya Pra-investasi Proyek PLTSa


Uraian Unit Harga/Unit Umur Ekonomis Total Investasi
(tahun)
Konsultasi 1 1.500.000.000 5 1.500.000.000
Manajemen
Perizinan, 1 500.000.000 5 500.000.000
AMDAL, dll
Modal 1 1.000.000.000 15 1.000.000.000
Operasional
Total Biaya Pra-Investasi (Rp) 3.000.000.000
Sumber: Penulis, 2014 (Diolah)

Biaya Re-Investasi
Tabel 19 Biaya Re-investasi Proyek PLTSa
Umur Periode Investasi
Uraian Ekonomis (Tahun Ke-, Rp juta)
(tahun) 6 11
Generator 10 0 5.600
Control Management System 5 1.000 1.000
Supply Water System 10 0 3.000
Pipa vertikal 5 2.308,6 0
Pipa horizontal 5 2.641,17 0
Mesin penyambung 10 0 1.120
Sertifikasi Sistem 5 600 600
Drainase 5 750 750
Pagar Pembatas 5 35 35
Konsultasi Manajemen 10 0 1.500
Perizinan, AMDAL, dll 5 500 500
Total Biaya Tahun ke- (Rp juta) 7.835 14.105
Total Biaya Reinvestasi (Rp) 21.939.770.000
Sumber: Penulis, 2014 (Diolah)

Setiap rangkaian alat, mesin dan bangunan yang diinvestasikan memiliki


umur ekonomis. Ketika umur ekonomis tersebut berakhir, artinya perusahaan
perlu melakukan investasi kembali agar proyek dapat terus berjalan. Estimasi
biaya re-investasi menjadi penting untuk memperkirakan besaran biaya yang
dibutuhkan pada tahun tertentu. Rincian biaya re-investasi dapat dilihat pada
Tabel 19.
Proyek PLTSa Bantargebang diperkirakan memerlukan re-investasi pada
tahun ke-6 dan tahun ke-11 sejak proyek dimulai. Total biaya reinvestasi yang
69

diperlukan tahun ke-6 adalah sebesar Rp 7.835.000.000 dan pada tahun ke-11
sebesar Rp 14.105.000.000. Total biaya reinvestasi yang diperlukan selama
proyek berlangsung yaitu Rp 21.939.770.000.

8.3.2 Biaya Operasional

Biaya Tetap
Memasuki tahun ke-1 artinya proyek memerlukan biaya operasional yang
terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap berkaitan dengan biaya
tenaga kerja dan biaya yang dibutuhkan untuk overhead pabrik. Dalam analisis
ekonomi, biaya tenaga kerja dibedakan antara terdidik dan tak terdidik. Perbedaan
biaya tersebut secara jelas dapat dilihat pada Tabel 20.

Tabel 20 Biaya Tetap Tenaga Kerja Proyek PLTSa


Jumlah Harga Total Biaya
Uraian
(satuan/bulan) (Rp/satuan) (Rp/tahun)
General Manager 1 7.700.000 92.400.000
Asisstant Manager 1 5.400.000 64.800.000
Supervisor 3 3.500.000 126.000.000
Administrasi Keuangan dan 1 2.500.000 30.000.000
Umum
Teknisi dan Operator 6 2.500.000 180.000.000
Driver 10 2.100.000 252.000.000
Security 3 2.441.954 87.910.344
Tenaga Tukang Listrik 25 2.100.000 25.200.000
Office Boy 1 1.000.000 12.000.000
Total Biaya Tenaga Kerja (Rp) 870.310.344
Sumber: Penulis, 2014 (Diolah)

Pada proyek PLTSa ini, tenaga kerja terdidik terdiri dari jabatan General
Manager (GM), Asisstant Manager, Supervisor, Administrasi Keuangan dan
Umum, Teknisi dan Operator, Driver, Security dan tenaga tukang listrik. Biaya
tenaga kerja bagi pekerja terdidik berada pada rentang Rp 2.100.000/bulan hingga
Rp 7.700-000/bulan. Terdidik tersebut artinya pekerja memerlukan pelatihan atau
pendidikan khusus untuk dapat bekerja sesuai bidangnya. Misalnya, posisi GM
dapat dikerjakan oleh pekerja yang mengayomi jenjang pendidikan Strata 1.
Posisi driver dan security juga memerlukan keterampilan khusus yang didukung
dengan legalitas berupa Surat Izin Mengemudi (SIM) atau sertifikat sebagai
70

security guard. Biaya yang lebih rendah dikeluarkan untuk posisi office boy, yaitu
sebesar Rp 1.000.000/bulan. Secara keseluruhan, total biaya tenaga kerja yang
dibutuhkan setiap tahun yaitu sebesar Rp 870.310.344.
Selain biaya tenaga kerja, dalam komponen biaya tetap juga termasuk
dalam biaya overhead yang dibutuhkan oleh pabrik dan kantor PLTSa. Biaya ini
dikeluarkan setiap tahun untuk mendukung administrasi serta operasional kantor
maupun pabrik. Rincian mengenai biaya overhead pabrik setiap tahun dapat
dilihat pada Lampiran 3. Total biaya yang dibutuhkan untuk overhead pabrik
adalah sebesar Rp 28.127.505.584.
Secara total, biaya tetap yang dibutuhkan dari pengeluaran biaya tenaga
kerja dan biaya overhead pabrik yaitu sebesar Rp 28.972.615.928/tahun. Biaya
ini dikeluarkan mulai tahun ke-1 hingga tahun ke-15 proyek. Selain biaya tetap,
komponen lain dalam biaya operasional adalah biaya variabel. Pembahasan lebih
lanjut pada sub-bab berikutnya.

Biaya Variabel

Untuk membuat sampah hingga dapat menghasilkan gas metan, perlu


dilakukan pengolahan secara kontinu pada Zona I dan II. Beberapa bahan yang
diperlukan untuk proses tersebut yaitu CaO, Asetilen, Karbon aktif, serta tanah
merah. Perlakuan selanjutnya adalah dengan melakukan compacting terhadap
bahan tersebut di setiap zona menggunakan alat berat sebanyak 5 unit/hari. Oleh
karena itu, perlu Bahan Bakar Minyak (BBM) berupa solar untuk memenuhi
operasional alat berat. Harga solar pada tahun 2009-2012 Rp 4.500/liter,
sedangkan pada tahun 2013-2023 Rp 5.500 menyesuaikan dengan peningkatan
harga yang telah ditetapkan. Total biaya variabel yang dibutuhkan setiap tahun
yaitu sebesar Rp 62.060.400.000 pada 2009-2012, serta Rp 65.775.600.000 pada
2013-2023. Secara lebih jelas, rincian biaya variabel tersebut dapat dilihat paada
Tabel 23. Setelah melakukan estimasi biaya tetap dan biaya variabel, selanjutnya
bisa didapatkan total biaya operasional dari kalkulasi dua komponen biaya
tersebut. Maka, total biaya yang dibutuhkan untuk operasional PLTSa mulai tahun
ke-1 hingga tahun ke-15 adalah Rp 93.236.215.928.
71

Tabel 21 Biaya Variabel Pengolahan Sampah PLTSa


2009 - 2012 2013-2023
Uraian Kebutuhan Harga/ Total Biaya Harga/ Total Biaya
Unit Variabel Unit Variabel
(Rp) (Rp/tahun) (Rp) (Rp/tahun)
2,5kg/ton
sampah per
CaO hari x 4500 ton 600 810.000.000 600 810.000.000
x 30 hari x 12
bulan
0,05 m3/jam x
Asetilen 4500 ton x 30 50.000 1.350.000.000 50.000 1.350.000.000
hari x 12 bulan
21 kg/ton x
Karbon 250 ton x 30
9.000 5.670.000.000 9.000 5.670.000.000
aktif hari x 12
bulan
Tanah
360.000 m3 100.000 36.000.000.000 100.000 36.000.000.000
merah
BBM Alat 240 liter/hari x
4.500 16.718.400.000 5.500 20.433.600.000
Berat 43 unit
5 unit x 7 jam
Sewa Alat
x 30 hari x 12 120.000 1.512.000.000 120.000 1.512.000.000
Berat
bulan
Total Biaya Variabel 2009-2012 2013-2023
Pengolahan Sampah
PLTSa Bantargebang 62.060.400.000 65.775.600.000
(Rp/tahun)
Sumber: Penulis, 2014 (Diolah)

8.4 Analisis Kelayakan Ekonomi

Tabel 22 Analisis Kelayakan Ekonomi Proyek PLTSa


Kriteria Kelayakan Finansial Ekonomi Kelayakan
NPV (Rp) 486.089.097.250 1.141.704.311.213 Layak
Net B/C 2,64 5,51 Layak
IRR (%) 11% 22% Layak
Payback Period 5 tahun 3 bulan 1 tahun 4 bulan Layak
Sumber: Penulis, 2014 (Diolah)
Penilaian kelayakan ekonomi dilakukan setelah seluruh komponen
penerimaan dan pengeluaran (biaya investasi dan operasional) dapat dilengkapi.
Beberapa kriteria kelayakan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu NPV, Net
B/C, IRR dan PP. Hasil penilaian dapat dilihat pada Tabel 22.
72

Berdasarkan hasil penilaian pada Tabel 22, didapatkan nilai NPV Finansial
sebesar Rp 486.089.097.250. Secara ekonomi, NPV yang dihasilkan oleh proyek
lebih besar yaitu mencapai Rp 1.141.704.311.213. Meskipun begitu, proyek
dikatakan layak baik secara fnansial maupun ekonomi karena telah memenuhi
kriteria kelayakan NPV > 0. Artinya, proyek PLTSa ini layak dijalankan karena
jumlah keseluruhan manfaat yang diterima lebih besar dari biaya investasi yang
telah dikeluarkan.
Adapun kriteria kelayakan selanjutnya berupa Net B/C yang secara
finansial menunjukkan nilai 2,64. Artinya, setiap tambahan biaya sebesar Rp
1.000.000 maka proyek akan mendapatkan manfaat sebesar Rp 2.640.000. Nilai
Net B/C ekonomi yang dihasilkan lebih besar yaitu mencapai nilai 5,51. Artinya,
setiap tambahan biaya sebesar Rp 1.000.000 maka akan menghasilkan manfaat
sebesar Rp 5.510.000. Proyek dinyatakan layak secara finansial dan ekonomi
karena telah memenuhi kriteria kelayakan nilai Net B/C lebih dari satu atau
setidaknya sama dengan satu (Net B/C 1).
Kriteria kelayakan proyek lainnya yaitu IRR. Pada analisis finansial, nilai
IRR yang didapatkan sebesar 11%. Artinya, NPV proyek akan berada pada
kondisi sama dengan nol ketika nilai discount rate (i) sebesar 11%. IRR pada
analisis ekonomi lebih besar daripada IRR finansial, yaitu mencapai 22%.
Artinya, nilai i sebesar 22% akan membuat NPV proyek sama dengan nol. Kedua
nilai tersebut menunjukkan IRR lebih besar daripada biaya dana proyek sehingga
dapat disimpulkan bahwa proyek menarik baik secara finansial maupun ekonomi.
Nilai Payback Period menunjukkan waktu yang dibutuhkan perusahaan
untuk mengembalikan biaya yang dikeluarkan dalam investasi proyek. PP
finansial membutuhkan waktu pengembalian yaitu 5 tahun 3 bulan, sedangkan PP
ekonomi membutuhkan 1 tahun 4 bulan masa pengembalian. Proyek yang baik
adalah proyek yang memiliki jangka waktu kurang dari umur proyek dalam
pengembalian biaya investasi. Umur proyek PLTSa Bantargebang adalah 15
tahun, artinya proyek layak secara finansial maupun ekonomi jika meninjau nilai
PP tersebut. Nilai PP ekonomi lebih cepat dibandingkan PP finansial. Hal
tersebut dikarenakan adanya penilaian terhadap manfaat tidak langsung berupa
reduksi emisi karbon.
73

Berdasarkan analisis tersebut, proyek PLTSa Bantargebang dikatakan


layak karena telah memenuhi empat kriteria kelayakan NPV, Net B/C, IRR dan
PP. Pelaksanaan proyek dikatakan mendatangkan keuntungan lebih besar jika
dijalankan secara ekonomi. Hal itu didasarkan pada kriteria kelayakan proyek
PLTSa yang selalu lebih besar jika dibandingkan secara finansial.
74

IX. SIMPULAN DAN SARAN

9.1 Simpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat
disimpulkan beberapa hal, yaitu:
1. TPST Bantargebang memiliki beberapa produk lanjutan berupa biji plastik,
kompos dan listrik. Jumlah sampah yang diolah setiap hari pada tahun 2014
yaitu 15-25 ton/hari untuk produksi biji plastik, 550 ton/hari untuk produksi
sampah, dan 750-1.000 ton/hari untuk produksi listrik. Dampak positif dari
aktivitas tersebut yaitu penyerapan tenaga kerja pada setiap rangkaian
aktivitas produksi; pengurangan polusi bau melalui perlakuan sampah berupa
soil cover, waste re-profilling dan penyerapan gas metan untuk listrik;
pengurangan jumlah sampah di zona pembuangan karena dimanfaatkan
menjadi produk, serta memberi pemasukkan bagi pengelola.
2. Jumlah sampah di TPST Bantargebang tanpa pengolahan sampah lebih lanjut
mencapai 38.687.533,2 ton sampah pada kurun waktu 2009-2023. Adanya
pengolahan sampah menjadi produk berupa kompos, biji plastik dan listrik
mampu mengurangi jumlah tersebut menjadi 31.114.624,4 ton sampah. Hal
tersebut membuktikan bahwa dalam kurun waktu 15 tahun operasional
proyek TPST Bantargebang diperkirakan mampu mengurangi sampah
sebanyak 7.572.908,8 ton. Artinya, secara umum masyarakat mendapatkan
total manfaat ekonomi sebesar Rp 39.128.386.541 dari reduksi emisi CO2
sebanyak 115.219,04 ton melalui kegiatan pengolahan sampah berkelanjutan.
3. Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa proyek PLTSa Bantargebang
layak dilaksanakan berdasarkan aspek teknis, institusional dan sosial. Kriteria
kelayakan didapatkan nilai NPV Ekonomi sebesar Rp 1.141.704.311.213 dan
NPV Finansial Rp 486.089.097.250. Net B/C Ekonomi sebesar 5,51 dan Net
B/C Finansial sebesar 2,64. IRR Ekonomi mencapai 22%, sedangkan IRR
Finansial hanya mencapai 11%. PP finansial yaitu 5 tahun 3 bulan, sedangkan
PP ekonomi membutuhkan 1 tahun 4 bulan masa pengembalian. Nilai-nilai
tersebut menunjukkan proyek PLTSa Bantargebang memenuhi kelayakan
untuk dilaksanakan baik secara finansial maupun ekonomi.
75

9.2 Saran
Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait keberlanjutan proyek yaitu.
1. Pelaksanaan dan pembagian peran pengelola pada proyek PLTSa
Bantargebang perlu dibuat dengan mekanisme yang lebih jelas. Hal ini
dimaksudkan agar saat proyek beroperasi dan menemukan kendala di
lapangan dapat diselesaikan secara lebih cepat dan tepat, contohnya ketika
terdapat masalah dalam mengolah sampah di zona setiap hari dikarenakan
faktor cuaca, kenaikan biaya variabel, dan sebagainya.
2. Dinas Kebersihan DKI Jakarta masih menanggung penuh biaya transportasi
sampah menuju TPST dan tipping fee atas tonase sampah tersebut. Hal ini
mengindikasikan adanya pemborosan anggaran, padahal pengelola
merupakan pihak yang sangat membutuhkan sampah sebagai input
produksi. Oleh karena itu, sebaiknya pihak pengelola juga bertindak sebagai
pengangkut sampah mulai dari sumber (rumah tangga, industri dan pasar)
hingga masuk ke TPST Bantargebang. Ini dapat menjadi solusi alternatif
untuk menekan biaya yang harus dikeluarkan Pemprov DKI Jakarta.
3. Harga jual listrik yang dihasilkan oleh PLTSa Bantargebang masih rendah
jika dibandingkan dengan produk listrik dari pembangkit lain yang tak
ramah lingkungan dikarenakan pembangkit yang berasal dari sumberdaya
fosil merupakan industri padat modal sekaligus padat karya. Pemerintah
terutama Kementerian ESDM perlu memberi insentif terkait harga jual
listrik ini yaitu dengan memberlakukan kebijakan one price policy untuk
seluruh pembangkit listrik. Hal ini dapat mendorong investor tertarik untuk
mengembangkan bisnis energi bersih dan ramah lingkungan seperti PLTSa
yang terintegrasi dengan TPA setempat. Semakin banyak PLTSa yang
beroperasi di Indonesia, berarti semakin banyak sampah yang mampu diolah
secara berkelanjutan dan memberi manfaat ekonomi yang lebih besar.
4. Sistem pengolahan sampah menjadi produk lanjutan di proyek PLTSa dan
TPST Bantargebang dapat diterapkan di TPA lainnya. Penanganan sampah
yang baik dari hulu hingga hilir tentu dapat mengurangi masalah dari
sampah yang menumpuk serta memberi manfaat ekonomi untuk pengelola,
pemerintah, maupun masyarakat.
76

DAFTAR PUSTAKA

Azis, Iwan Jaya. 1991. Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan dalam Konsep
Pembangunan Berkelanjutan. Jurnal PRISMA edisi Januari 1991. Jakarta:
LP3ES.

Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta. 2013. Statistik Daerah Provinsi DKI
Jakarta 2013. Jakarta: BPS Provinsi DKI Jakarta.

Barrow, C.J. 2006. Environmental Management for Sustainable Development.


USA dan Kanada: Routledge.

Bromley, D.W.; M. M. Cornea. 1989. Management of Common Property Natural


Resources: Some Conceptual and Operational Fallacies. Discussion Paper
57. World Bank.

Dewi, Rahma Sari. 2008. Evaluasi Ekonomi dan Sosial Unit Pengolahan Sampah
(UPS) Kota Depok. Skripsi. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Dinas Kebersihan DKI Jakarta. 2009. Studi Komposisi dan Karakteristik Sampah
di DKI Jakarta. Laporan Akhir. Jakarta: Dinas Kebersihan DKI Jakarta.

__________________________. 2011. Surat Rilis Komposisi dan Volume


Sampah DKI Jakarta 2011. Jakarta: Dinas Kebersihan DKI Jakarta.

__________________________. 2014. Surat Rilis Timbulan Sampah DKI


Jakarta. Jakarta: Dinas Kebersihan DKI Jakarta.

Dwijayanti, Patricia Febrina S. 2011. Manfaat Penerapan Carbon Accounting di


Indonesia. Surabaya: Jurnal Akuntansi Kontemporer, Vol.3 No. 1, Januari
2011. Hal. 79-92.

Environmental Protection Agency. 2010a. Assessing the Multiple Benefits of


Clean Energy: A Resource for States. United States: EPA.

____________________________. 2010b. Social Cost of Carbon for Regulatory


Impact Analysis. United States: EPA.

____________________________.2014. Landfill Gas Emission. United States:


EPA.
77

Evans, Louise; Nick Barker. 2009. Evaluation of Opportunities for Converting


Indigenous UK Wastes to Fuels and Energy (Report). UK: National Non-
Food Crops Centre.

Fatimah, S. A. 2009. Analisis Kelayakan Usaha Pengolahan Sampah menjadi


Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Kota Bogor. Skripsi. Bogor:
Institut Pertanian Bogor.

Fauzi, Akhmad. 2004. Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Jakarta:


Gramedia Pustaka Utama.

Gittinger, J.P. 1986. Analisa Ekonomi Proyek Proyek Pertanian. Edisi Kedua.
UI Press. Jakarta.

Gray, Clive, Payman Simanjuntak et al. 1992. Pengantar Evaluasi Proyek. Edisi
Kedua. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Guinard, Jean-Xavier. 2006. Sensory Evaluation Methods. California: The


Regents of University of California.

Hanley, Nick; Clive L. Spash. 1993. Cost-Benefit Analysis and the Environment.
UK: Edward Elgar Publishing Limited.

Hanley, Nick. 2000. Principles of Environmental and Resources Economics.


Cheltenham and Northampton: Edward Elgar.

Hapsari, Chrismalia. 2011. Studi Emisi Karbondioksida (CO2) dan Metana (CH4)
dari Kegiatan Reduksi Sampah di Wilayah Surabaya Bagian Selatan.
Skripsi. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya.

Harris, Jonathan M. 2000. Basic Principles of Sustainable Development. G-DAE


Working Paper No. 00-04. United States: Tuffs University.

Indonesia Solid Waste Association (InSWA). 2013. Pergub Insentif Pengelolaan


Sampah DKI Jakarta. Jakarta: InSWA.

Japan Institute of Energy (JIE). 2012. Asia Biomass Handbook. Jepang: JIE.

Juliansah, Marthin Hadi. 2010. Analisis Keberadaan Tempat Pengolahan Sampah


Terpadu (TPST) Bantar Gebang Bekasi. Skripsi. Depok: Universitas
Indonesia.
78

Korhaliller, S. 2010. The UKs Biomass Energy Development Path. UK:


International. Institute for Environment and Development (IIED).

Kuncoro, Arief H. dan Djati H. Salimy. 2011. Studi Proyeksi Permintaan Energi
Jangka Panjang dengan Program MAED. Prosiding Seminar Nasional
Pengembangan Energi Nuklir IV. Jakarta: Badan Tenaga Nuklir Nasional.

Kuncoro, Kukuh Siwi. 2011. Studi Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga


Sampah 10 Mwe di Kota Medan ditinjau dari Aspek Teknis, Ekonomi dan
Lingkungan. Jurnal. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh November.

Navigat Organic Energy Indonesia (NOEI). 2010. Pemanfaatan Biogas Sampah


untuk Pembangkit Listrik. Materi Presentasi Seminar. (Diunduh 1 Maret
2013)

Nida, Eugene A. 1949. Morphology: The Descriptive Analysis of Words. Second


Edition. Michigan: University of Michigan.

Organization for Economic Co-operation and Development. 2006. Executive


Summary of Cost-Benefit Analysis and The Environment: Recent
Developments.

Pindyck, Robert dan Daniel Rubinfield. 2009. Microeconomics. Seventh Edition.


Pearson Education, Inc.

Poernomo, Iswardono S. 1994. Teori Ekonomi Mikro. Jakarta: Penerbit


Gunadarma.

Purwanto. 2011. Analisis Finansial dan Ekonomi Pembangkit Listrik Mikrohidro


di Berapa Lokasi, Propinsi Jawa Tengah, Indonesia. JURNAL Penelitian
Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. 8 No. 4 Desember 2011,.

Ramke, Hans-Gnter et al. 2009. Hydrothermal Carbonization of Organic Waste.


Prosiding Seminar Twelfth International Waste Management and Landfill
Symposium. Italy: CISA Publisher.

Rahardjo, Irawan; Ira Fitriana. 2010. Analisis Potensi Pembangkit Listrik Tenaga
Surya di Indonesia.Prosiding Seminar Strategi Penyediaan Listrik Nasional
dalam Rangka Mengantisipasi Pemanfaatan PLTU Batubara Skala Kecil,
PLTN, dan Energi Terbarukan. Hal. 43-52.
79

Perusahaan Listrik Negara (PLN). 2012. Statistik PLN 2012. Jakarta: Sekretariat
PT PLN (Persero).

Sudrajat. H. R., 2006. Mengelola Sampah Kota. Jakarta: Penebar Swadaya.

Statistik Kecamatan Bantargebang. 2010. Data Infrastruktur Kecamatan


Bantargebang Tahun 2009. Bekasi: Kantor Kecamatan Bantargebang.

Suprihatin; Nastiti Siswi Indrasti; Muhammad Romli. 2008. Potensi Penurunan


Emisi Gas Rumah Kaca melalui Pengomposan Sampah. Jurnal Teknologi
Industri Pertanian Volume 18, No. 1. Hal. 53-59.

Taylor, Lance; Helen Saphiro. 1990. The state and industrial strategy. World
Development Journal Volume 18, Issue 6. Hal. 861-878.
80

LAMPIRAN
81

Lampiran 1 Denah TPST Bantargebang

Keterangan :
A: Landfill Zone I
B: Lanfill Zone II
C: Lanfill Zone III
D: Landfill Zone IV
E: Landfill Zone V
82

Lampiran 2 Biaya Investasi Konstruksi

Umur
Uraian Jumlah Satuan Harga/satuan ekonomis Total Investasi
(tahun)
Bangunan Utama
Bungker k-350 1500 m3 1.500.000 15 2.250.000.000
3
Pile cap pondasi K-350 4500 m 1.500.000 15 6.750.000.000
Pondasi bored pile K-350 6000 m3 1.500.000 15 9.000.000.000

Ruang bongkar muat + 3000 m2 2.500.000 15 7.500.000.000


struktur atap bungker
Ruang pembakaran 3000 m2 2.500.000 15 7.500.000.000
Bangunan Pendingin 15
Bangunan pengolahan air 3 set 100.000 15 300.000
Bangunan struktur atas 300 m2 2.500.000 15 750.000.000
Pile cap pondasi K-350 90 m3 1.500.000 15 135.000.000
3
Pondasi bored pile K-350 1500 m 1.500.000 15 2.250.000.000

Cerobong 15
2
Bangunan cerobong 750 m 2.500.000 15 1.875.000.000
3
Pile cap pondasi K-350 180 m 1.500.000 15 270.000.000
Pondasi bored pile K-350 1260 m3 1.500.000 15 1.890.000.000

IPAS
Lapisan geomembran 10000 m2 75.000 5 750.000.000
3
Fill clay compacted 10000 m 35.000 5 350.000.000
Batu kali 1350 m3 350.000 5 472.500.000
Pipa dan Blower
Pipa vertikal 2380 m 970.000 5 2.308.600.000
Pipa horizontal 4200 m 628.850 5 2.641.170.000
Mesin penyambung 70 unit 16.000.000 10 1.120.000.000
Blower 70 unit 6.190.476 10 433.333.333
Fasilitas Penunjang
Drainase 6000 m 125.000 5 750.000.000
Pagar pembatas 1000 m 35.000 5 35.000.000
Total Biaya Investasi Konstruksi (Rp) 49.030.903.333
83

Lampiran 3 Biaya Tetap Overhead Pabrik dan Kantor PLTSa


Harga Total Biaya
Uraian Unit Jumlah
(Rp/satuan) (Rp/tahun)
ATK Paket /bulan 3 2.000.000 6.000.000
Telepon dan paket/bulan 3 6.000.000 18.000.000
Fax
Transportasi paket/bulan 3 10.000.000 30.000.000
Spare Part Paket 4% x 70% x 39.262.000.000 1.099.336.000
Investasi
Peralatan
Pemeliharaan Paket 0,5% x 30% x 49.030.903.333 73.546.355
Prasarana Investasi
Bangunan
Gas Analyzer Paket 1 8.823.529 8.823.529
Water Boiler m3 8,1 m3 per jam 4.000 279.936.000
x 24 jam x 30
hari x 12 bulan
Pembinaan paket/bulan 2 1.500.000 3.000.000
Manajemen
Asuransi paket/bulan 0,3% dari total 88.692.212.333 26.607.663.700
Mesin dan investasi
Konstruksi
Pemeliharaan paket/bulan 1 100.000 1.200.000
Kendaraan
Total Biaya Overhead Pabrik dan Kantor (Rp) 28.127.505.584
84 86

RIWAYAT HIDUP
Penulis lahir di Cikarang, Bekasi pada tanggal 22 Oktober 1992, sebagai
anak pertama dari empat bersaudara pasangan Ir. Kasmita Widodo dan Anita
Rosyana Munadji, A.Md. Penulis memulai pendidikan di TK El-Hurriyah dan
lulus pada tahun 1998, kemudian melanjutkan ke Sekolah Dasar Negeri Karang
Asih 12 dan lulus pada tahun 2004. Penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah
Menengah Pertama Negeri 1 Cikarang Utara dan lulus pada tahun 2007, kemudian
melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Cikarang Utara dan lulus tahun
2010. Jalur pendidikan tinggi dijalani oleh penulis sebagai mahasiswa
Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan
Manajemen, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Ujian Seleksi Mahasiswa IPB
(USMI).
Selain aktif dalam kegiatan perkuliahan di IPB, penulis juga aktif
mengikuti organisasi seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Forum for
Scientific Studies (Forces) periode 2010-2014 dan International Association of
students in Agricultural and related Sciences (IAAS) periode 2010-2011 serta
aktif sebagai pegiat LSM Edukasi Gizi tahun 2013 hingga saat ini. Berbagai
kepanitiaan juga sempat diikuti oleh penulis, yaitu Forum Pelajar Indonesia 2010
serta Pekan Inovasi Mahasiswa Pertanian Indonesia (PIMPI) 2012. Penulis juga
senang mengikuti kompetisi berbagai bidang baik nasional dan internasional.
Penulis sempat menjadi fasilitator pada program pengabdian masyarakat
Preserving Our World with Eco-friendly Resolution AIESEC Ateneo de Manila
University Philippines pada awal 2013, menerima dana hibah dari Direktorat
Jenderal Perguruan Tinggi atas Program Kreativitas Mahasiswa-Kewirausahaan
tahun 2013-2014, serta lolos dalam Program Mahasiswa Wirausaha CDA IPB
2014. Penulis adalah pengagum B. J. Habibie, Hans C. Andersen, dan Marie
Curie, senang mengisi waktu luang dengan blog-walking dan membaca berita
maupun mendengarkan cerita.
85
86