Anda di halaman 1dari 71

LAPORAN PRAKTIKUM

OPERASI KINETIKA DAN PENGENDALIAN REAKTOR


KALIBRASI DAYA REAKTOR

Disusun Oleh :
Nama : Muhammad Aminudin
NIM : 021400400
Kelompok :1
Rekan Praktikum : 1. Ade Arif Yulianto
2. Agtria Restu Saputri
3. Akhmad Jamaludin A.H
4. Efi Lestari
5. Fiqy Aulia Ilham Suaidi
6. Marili Santi
7. Rahmat Satyawan
8. Thera Sahara
Prodi : Elektronika Instrumentasi
Asisten : Alzero Fakih Anugrah, S.T.

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR


BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
YOGYAKARTA
2017
LAPORAN PRAKTIKUM
OPERASI KINEMATIKA DAN PENGENDALIAN REAKTOR
KALIBRASI DAYA REAKTOR

I. TUJUAN
1. Menghitung daya sesungguhnya.
2. Membandingkan dengan daya yang ditunjukkan pada alat ukur/meter daya.

II. DASAR TEORI


Daya reaktor ditimbulkan oleh energi yang dibebaskan dari reaksi pembelahan yang
terjadi di dalam reaktor yang sedang beroperasi. Banyaknya reaksi pembelahan yang terjadi
tiap detik tiap satuan volume reaktor ditentukan oleh f.Sf . Kalau banyaknya reaksi
10
pembelahan tiap detik yang perlu untuk menghasilkan daya sebesar 1 watt adalah 3,2 10

pembelahan , maka daya total P dari reaktor diberikan oleh persamaan :

dengan ketentuan

Sf = tampang lintang makroskopis pembelahan


Vf = volume reaktor.
Jadi dengan mengukur fluks neutron di dalam teras, dapat ditentukan daya reaktor.
Metode lain pengukuran daya reaktor adalah dengan metode kalorimeter yang dapat
ditempuh dengan 2 cara yaitu :
1. Reaktor dioperasikan dengan sistem pendingin dijalankan.
2. Reaktor dioperasikan dengan sistem pendingin tidak dijalankan.
Pada metode pertama yaitu dengan sistem pendingin dijalankan atau metode
stasioner.
Panas yang terakumulasi di dalam tangki reaktor diambil oleh sistem pendingan
primer, kemudian dengan melalui sistem penukar panas, panas dipindahkan ke sistem
pendingin sekunder. Dengan mengatur debit pendingin akan diperoleh kondisi stasioner,
Kondisi stasioner menunjukkan bahwa di dalam sistem pemindah panas tidak terjadi
akumulasi panas di dalam sub-sistemnya. Di dalam kondisi stasioner, panas yang
dipindahkan dari teras reaktor bergantung pada debit air (G) dan beda suhu inlet dan outlet
sistem pendingin primer. Secara matematik daya reaktor ditentukan dengan persamaan sbb:
P = G . c . Dt (2)
dengan ketentuan
3
G = debit air sistem pendingin primer (Cm /detik)
0
c = panas jenis air c = 4,187 watt .det/gr. C
0
Dt = beda suhu inlet dan outlet sistem pendingin primer ( C)

Dengan menggunakan persamaan (2) tersebut dapat diukur daya reaktor yang
sesungguhnya berdasarkan pada metode stasioner.
Pada metode kedua yaitu dengan sistem pendingin tidak dijalankan atau metode non-
stasioner, panas yang dihasilkan oleh teras reaktor terakumulasi di dalam tangki reaktor,
sehingga suhu air di dalam reaktor akan naik terus. Batas maksimum suhi air tangki yang
0
diijinkan pada reaktor KARTINI adalah 40 C. Dengan mengamati laju kenaikan suhu air

tangki pada tingkat daya teaktor yang tetap, dapat digunakan untuk menentukan daya
reaktor yang sesungguhnya. Besarnya daya reaktor yang ditunjukkan oleh laju kenaikan
suhu air tangki dinyatakan dengan persamaan sbb :
dengan ketentuan
P = daya reaktor yang sesungguhnya (KWatt).
Q = energi panas yang terbentuk di reaktor .
0
H = harga air reaktor KARTINI = 19,0476 Kwh/ C.
0
T = suhu air tangki reaktor ( C)

t = interval waktu pengamatan (menit)


Pada konsul reaktor, daya reaktor dapat dibaca pada :
a). Kanal daya linear (% power) yang berhubungan dengan detektor CIC dalam
reaktor
b). Kanal daya logaritmik (power) yang berhubungan dengan detektor F.C. di dalam
reaktor. Ada kalanya penunjukan Kanal daya linear (% power) meter tidak menunjuk
pada nilai yang sama dengan hasil perhitungan yang kita peroleh dari pengamatan
kenaikan temperatur. Apabila ini terjadi maka perlu diadakan kalibrasi % power
kanal linear. Demikian juga terhadap kanal logaritmik

III. ALAT DAN BAHAN


1. Reaktor (fasilitas iradiasi pneumatik).
2. Pneumatik transfer system
3. Sistem pencacah gamma dengan HPGe.
4. Komputer
5. Detektor foil (Au, In)

IV. LANGKAH KERJA


1. Memasang termometer pada air tangki reaktor.
2. Reaktor dioperasikan hingga mencapai daya sesuai yang dikehendaki untuk dikalibrasi
(misal : 100 kW).
3. Mematikan sistem pendingin primer, sehingga suhu air tangki reaktor dibiarkan naik
secara kontinyu.
4. Setelah daya konstan (beberapa saat) mulai dilakukan pengamatan penunjukan suhu (T
0
C) air pendingin primer dalam tangki reaktor.
5. Ulangi pengamatan ini (pencatatan data) setiap selang waktu 5 menit, hingga 6 data
yaitu dari menit 0 sampai menit ke 50.
6. Lakukan perhitungan dengan metode non stasioner dengan menggunakan regresi linier.
7. Bandingkan hasil perhitungan dengan meter penampil daya pada sistem kendali reaktor,
kemudian dihitung penyimpangannya.

V. DATA PRAKTIKUM
Termometer Bulat Termometer Kotak
ti (menit) Ti(C) ti (menit) Ti(C)
0 28,7 0 28,5
5 29 5 29,26
10 29,4 10 29,67
15 30 15 30,19
20 30,2 20 30,6
25 30,7 25 30,92

VI. PERHITUNGAN
1. Termometer Bulat
Metode Perhitungan Tabel
No. ti (menit) Ti(C) Ti(C) ti.ti(menit.C) ti^2 (menit^2)
1 0 28,7 0 0 0
2 5 29 0,3 1,5 25
3 10 29,4 0,7 7 100
4 15 30 1,3 19,5 225
5 20 30,2 1,5 30 400
6 25 30,7 2 50 625
Jumlah 75 5,8 108 1375
Perhitungan :

P= = 60 H

dengan ketentuan
P = daya reaktor yang sesungguhnya (KWatt).
Q = energi panas yang terbentuk di reaktor .
0
H = harga air reaktor KARTINI = 19,0476 Kwh/ C.
0
T = suhu air tangki reaktor ( C)

t = interval waktu pengamatan (menit)


0
= Perubahan suhu ATR per satuan waktu C/menit

Untuk mendapatkan daya dengan menggunakan metode tabel, maka perlu dicari
terlebih dahulu regresi linier dari grafik ti terhadap Ti menggunakan rumus statistika
regresi linear seperti berikut:
( )( )
=
( 2 )()2

(6 108)(75 5,8)
=
(6 1375)752

= 0,081143

Setelah diperoleh nilai dT/dt maka dilakukan perhitungan daya termal reaktor
dengan menggunakan rumus:

= = 60

Seperti yang kita ketahui bahwa Harga air reaktor Kartini adalah sebesar 19,0476
kWh/C maka diperoleh besarnya daya termal reaktor kartini adalah sebesar:
60
= 19,0476 0,081143

= 92,7346 kW
Sehingga diperoleh nilai penyimpangan daya yang tertera pada monitor dengan
daya hasil perhitungan menggunakan metode tabel:

% = 100%

100 92,7346
% = 100%
100
% = 7,27%
Metode Perhitungan Grafik

ti (menit) Ti(C)
0 28,7
5 29
10 29,4
15 30
20 30,2
25 30,7

Grafik Kalibrasi Daya Termometer Bulat


31
y = 0,0811x + 28,652
30,5 R = 0,9888

30
Ti(C)

29,5

29

28,5
0 5 10 15 20 25 30
ti (menit)

y = ax + b
y = 0,0811x + 28,652

a= = 0,0811

maka setelah diperoleh nilai dT/dt maka dilakukan perhitungan daya termal reaktor
dengan menggunakan rumus:

= = 60

Seperti yang kita ketahui bahwa Harga air reaktor Kartini adalah sebesar 19,0476
kWh/C maka diperoleh besarnya daya termal reaktor kartini adalah sebesar:
60
= 19,0476 0,0811

P = 92,68562 kW
Sehingga diperoleh nilai penyimpangan daya yang tertera pada monitor dengan
daya hasil perhitungan menggunakan metode tabel:

% = 100%

100 92,68562
% = 100%
100
% = 7,31%
Penyimpangan rata-rata dari kedua metode tersebut sebesar
7,27 %+7,31 %
% = = 7,29 %
2
2. Termometer Kotak
Metode Perhitungan Tabel
No. ti (menit) Ti(C) Ti(C) ti.ti(menit.C) ti^2 (menit^2)
1 0 28,5 0 0 0
2 5 29,26 0,76 3,8 25
3 10 29,67 1,17 11,7 100
4 15 30,19 1,69 25,35 225
5 20 30,6 2,1 42 400
6 25 30,92 2,42 60,5 625
jumlah 75 8,14 143,35 1375
Perhitungan :

P= = 60 H

dengan ketentuan
P = daya reaktor yang sesungguhnya (KWatt).
Q = energi panas yang terbentuk di reaktor .
0
H = harga air reaktor KARTINI = 19,0476 Kwh/ C.
0
T = suhu air tangki reaktor ( C)

t = interval waktu pengamatan (menit)


0
= Perubahan suhu ATR per satuan waktu C/menit

Untuk mendapatkan daya dengan menggunakan metode tabel, maka perlu dicari
terlebih dahulu regresi linier dari grafik ti terhadap Ti menggunakan rumus statistika
regresi linear seperti berikut:
( )( )
=
( 2 )()2
(6 143,35)(75 8,14)
=
(6 1375)752

= 0,095086

Setelah diperoleh nilai dT/dt maka dilakukan perhitungan daya termal reaktor
dengan menggunakan rumus:

= = 60

Seperti yang kita ketahui bahwa Harga air reaktor Kartini adalah sebesar 19,0476
kWh/C maka diperoleh besarnya daya termal reaktor kartini adalah sebesar:
60
= 19,0476 0,095086

= 108,6693 kW
Sehingga diperoleh nilai penyimpangan daya yang tertera pada monitor dengan
daya hasil perhitungan menggunakan metode tabel:

% = 100%

100 108,6693
% = 100%
100
% = 8,6693 %

Metode Perhitungan Grafik


ti (menit) Ti(C)
0 28,5
5 29,26
10 29,67
15 30,19
20 30,6
25 30,92

Grafik Kalibrasi Daya Termometer


Kotak
31,5
31 y = 0,0951x + 28,668
30,5 R = 0,9826
30
Ti (C)

29,5
29
28,5
28
0 5 10 15 20 25 30
ti (menit)

y = ax + b
y = 0,1026 x + 28,618

a= = 0,0951

maka setelah diperoleh nilai dT/dt maka dilakukan perhitungan daya termal reaktor
dengan menggunakan rumus:

= = 60

Seperti yang kita ketahui bahwa Harga air reaktor Kartini adalah sebesar 19,0476
kWh/C maka diperoleh besarnya daya termal reaktor kartini adalah sebesar:
60
= 19,0476 0,0951

P = 108,686 kW
Sehingga diperoleh nilai penyimpangan daya yang tertera pada monitor dengan
daya hasil perhitungan menggunakan metode tabel:

% = 100%

100 108,686
% = 100%
100
% = 8,686 %
Penyimpangan rata-rata dari kedua metode tersebut sebesar
8,6693 %+8,686%
% = = 8,67765 %
2

VII. PEMBAHASAN
Praktikum kalibrasi daya reaktor Kartini dilakukan dengan metode kalorimetri pada
kondisi non stasioner. Dengan metode ini dianggap bahwa energi kalor yang dibangkitkan
dalam suatu bejana, mengakibatkan kenaikan air pendingin bejana tersebut, dengan asumsi
bahwa seluruh panas dari hasil reaksi fisi di teras reaktor akan digunakan untuk kenaikan
suhu air tangki reaktor sehingga tidak ada panas yang hilang ke lingkungan.
Kalibrasi daya dilakukan untuk menentukan besarnya perbedaan daya yang
ditunjukkan oleh penunjuk daya reaktor. Reaktor dioperasikan pada daya konstan dan alat
penukar panas tidak dioperasikan sehingga panas yang dibangkitkan dalam bahan bakar
seluruhnya diberikan kepada air reaktor dan komponen reaktor lainnya. Akibatnya
temperatur air reaktor naik sebagai fungsi waktu. Dengan mengetahui perubahan
temperatur terhadap perubahan waktu maka daya reaktor dapat diukur.
Pada percobaan ini, kalibrasi daya dilakukan pada daya 100 kW. Kemudian pompa
sistem pendingin primer dimatikan. Pengukuran air permukaan tangki reaktor
menggunakan 2 buah termometer dengan spesifikasi berbeda, kedalaman dan posisi yang
berbeda. Hal ini dilakukan untuk menyelidiki ada tidaknya pengaruh perbedaan posisi dan
kedalaman terhadap perubahan suhu air permukaan tangki reaktor, yang mana akan
berpengaruh pada hasil perhitungan daya reaktor.

Gambar panel pompa sistem pendingin primer


Pengukuran dan pengambilan data dilakukan sebanyak 6 kali dengan selang waktu 5
menit. Pada termometer bulat dengan metode regresi linier tabel, daya reaktor terhitung
sebesar 92,7346 kW. Besar penyimpangan daya terhadap daya terukur 100 kW adalah
7,27% Melalui metode grafik, daya reaktor yang didapat adalah sebesar 92,68562 kW.
Besar penyimpangan daya terhadap daya terukur 100 kW adalah 7,31% . Berdasarkan
kedua metode tersebut, rata-rata daya yang terukur adalah kW dengan penyimpangan rata-
rata sebesar 7,29 %.
Dengan melihat grafik kenaikan suhu ATR setiap waktu dari termometer bulat,
2
terdapat pergeseran nilai temperature yang ditandai dengan nilai R yang bernilai 0,9888

hampir mendekati nilai ideal yakni 1.


Pada termometer kotak dengan metode regresi linier tabel, daya reaktor
terhitung sebesar 108,6693 kW. Besar penyimpangan daya terhadap daya terukur 100 kW
adalah 8,6693 % Melalui metode grafik, daya reaktor yang didapat adalah sebesar 108,686
kW. Besar penyimpangan daya terhadap daya terukur 100 kW adalah 8,686 % .
Berdasarkan kedua metode tersebut, rata-rata daya yang terukur adalah kW dengan
penyimpangan rata-rata sebesar 8,67765 %.
Dengan melihat grafik kenaikan suhu ATR setiap waktu dari termometer kotak,
2
terdapat pergeseran nilai temperature yang ditandai dengan nilai R yang bernilai 0,9826

hampir mendekati nilai ideal yakni 1.


Berdasarkan kedua hasil pengukuran dan penghitungan belum sesuai dengan
tampilan daya pada sistem kendali yang menunjukkan reaktor telah dioperasikan pada daya
konstan 100 kW, namun penyimpangan tersebut masih berada dalam batas toleransi yakni
10%. Selain itu terdapat perbedaan hasil penunjukan temperatur diantara kedua
termometer. Termometer kotak yang berada pada tengah teras reaktor memiliki suhu lebih
tinggi dibeberapa hasil pengukuran dibanding termometer bulat yang berada pada sisi luar
teras. Namun perubahan suhu air tangki reaktor relatif sama. Jika dibandingkan dari kedua
termometer tersebut, nilai yang paling mendekati 100 kW yakni termometer bulat
(pengukuran lebih baik) yang ditunjukkan dengan nilai penyimpangan yang lebih kecil.
Pergeseran nilai temperatur dapat terjadi karena distribusi panas dari inti reaktor ke
air pendingin reaktor. Pada tingkat daya yang relatif kecil, laju kenaikan suhu air pendingin
bisa terjadi dalam rentang yang sangat kecil. Sehingga dapat mengakibatkan kesalahan
dalam penunjukkan dan pembacaan termometer. Selain itu, masalah ketelitian skala
termometer yang digunakan dapat menjadi penyebab munculnya pergeseran nilai.

VIII. KESIMPULAN

1. Hasil kalibrasi daya reaktor metode non stasioner ditampilkan dalam tabel
berikut:

Sistem Kendali Termometer Bulat Termometer Kotak


Metode Tabel: Metode Tabel:
92,7346 kW 108,6693 kW
Metode Grafik: Metode Grafik:
Daya 100 Kw 92,68562 kW 108,686 kW
Penyimpangan - 7,29 % 8,67765 %
Keterangan - Penyimpangan Penyimpangan
Kecil kecil
Posisi Berdasarkan Air permukaan Air permukaan
detektor neutron di tangki, sisi tengah tangki, sisi luar
Teras Teras teras

2. Termometer yang penunjukkannya paling mendekati nilai 100 kW atau yang


paling baik adalah termometer bulat dengan nilai penyimpangan rata-rata lebih
kecil dari termometer kotak yakni sebesar 7,29 % sedangkan termometer kotak
penyimpangannya sebesar 8,67765 %.

Yogyakarta, 2 Juli 2017


Praktikan,

Muhammad Aminudin
LAPORAN PRAKTIKUM
OPERASI KINETIKA DAN PENGENDALIAN REAKTOR
FLUX NEUTRON

Disusun Oleh :
Nama : Muhammad Aminudin
NIM : 021400400
Kelompok :1
Rekan Praktikum : 1. Ade Arif Yulianto
2. Agtria Restu Saputri
3. Akhmad Jamaludin A.H
4. Efi Lestari
5. Fiqy Aulia Ilham Suaidi
6. Marili Santi
7. Rahmat Satyawan
8. Thera Sahara
Prodi : Elektronika Instrumentasi
Asisten : Argo Satrio Wicaksono, S.ST.

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR


BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
YOGYAKARTA
2017
LAPORAN PRAKTIKUM
OPERASI KINETIKA DAN PENGENDALIAN REAKTOR
FLUX NEUTRON

I. TUJUAN
Mengukur besarnya fluks neutron reaktor Kartini dengan metode aktivasi.

II. DASAR TEORI


Radiasi neutron dapat dideteksi/ diukur dengan 2 metode, langsung dan tidak
langsung. Metode langsung adalah suatu metode mendeteksi/ mengukur neutron dengan
detektor neutron BF3, Fission Chamber (FC), dan Compesated Ionization Chamber (CIC).
Metode tidak langsung adalah suatu cara mendeteksi/ mengukur neutron dengan cara
mengukur aktivitas dari suatu bahan detektor setelah diaktivasi dalam suatu medan neutron.
Pada percobaan ini fluks neutron diukur dengan metode tidak langsung yang lebih
dikenal dengan metode aktivasi. Bahan detektor yang umum digunakan untuk pengukuran
fluks dan analisis spektrum neutron Gold (Au), Indium (In), Cuprum (Cu), Iron (Fe) dll.
Bahan detektor tersebut dikenal dengan detektor foil atau foil saja. Suatu material apabila
dimasukkan dalam medan neutron akan terjadi reaksi inti antara atom material dengan
neutron. Dalam percobaan ini dipilih bahan yang menghasilkan reaksi neutron-gamma (n, ).
Suatu bahan yang memancarkan zat radioaktif disebut zat radioaktif. Besarnya aktivitas
suatu zat radioaktif yang memancarkan sinar gamma dapat diukur dengan sistem cacah
gamma dengan detektor GM maupun HPGe.
Produksi isotop radioaktif dari suatu bahan yang diletakkan dalam medan neutron
sebanding dengan fluks neutron dan tampang lintang aktivasi. Laju reaksi terbentuknya
isotop dari suatu bahan dengan volume V dalam medan neutron dengan fluks neutron dan
mempunyai tampang lintang aktivasi ac dinyatakan dengan persamaan berikut:

R = ac V (1)

Pers (1) menyatakan laju perubahan bahan menjadi isotop radioaktif. Isotop tersebut
mengalami peluruhan sebanding dengan waktu paronya. Jika ada N atom diiradiasi pada
medan neutron maka laju berubahnya isotop radioaktif yang terbentuk itu dapat dinyatakan
dengan persamaan:

N
t
V N (2)

Dengan adalah konstanta peluruhan dari isotop radioaktif yang besarnya sama
dengan Ln 2/T1/2(s-1). Integrasi persamaan (2) untuk selang waktu t1 memberikan:

1 e t 1


N1 V
ac

(3)

N1 adalah jumlah isotop radioaktif yang ada setelah diiradiasi selama waktu t1. Jumlah
radiasi yang dipancarkan oleh suatu isotop dinyatakan dengan aktivitas. Dari pers (3) bila
ruas kiri dan kanan dikalikan dengan konstanta peluruhan maka akan diperoleh aktivitas
mutlak dari isotop pada saat t1 dan dinyatakan dengan persamaan:

N = acV (1-e )
- t1
(4)

Aktivitas dari suatu isotop dapat diukur dengan mencacah sinar gamma yang
dipancarkanya dengan sistem pencacah gamma. Dalam praktek tidak pernah dapat dilakukan
pencacahan langsung setelah foil diiradiasi, tetapi perlu menunggu beberapa waktu misalnya
karena aktivitasnya terlalu tinggi sehingga melampaui batas yang diizinkan untuk dicacah.
Adanya penundaan pencacahan tersebut berarti isotop akan meluruh sebesar e-(t2-t1) kali dari
aktivitas setelah diiradiasi demikian selama waktu pencacahan juga terjadi peluruhan sebesar
e-(tc) kali dari saat awal pencacahan.
Adanya kenyataan seperti tersebut diatas maka dalam perhitungan aktivitas suatu foil
perlu adanya koreksi koreksi karena adannya peluruhan isotop selama irradiasi, waktu
tunggu dan waktu pencacahan. Bila hasil pencacahan C cacah perdetik maka aktivitas dari
foil dapat dinyatakan dengan persamaan:
C
As

1 e
t 1 e

t 2 t 1 1 e t c

(5)

Apabila irradiasi foil cukup lama sehingga tercapai aktivitas jenuh dan aktivitas
diukur dengan sistem cacah yang mempunyai efisiensi maka besarnya aktivitas jenuh
dinyatakan dengan persamaan:
As = acV (6)
Dari persamaan (5) dan (6) maka besarnya fluks neutron yang menghasilkan aktivitas
sebesar As dapat dihitung dengan persamaan:
C

V1 e t 1 e
t t 1 1 e t c (7)
ac
2

III. ALAT DAN BAHAN


1. Reaktor (Fasilitas Irradiasi Pneumatik).
2. Pneumatik transfer system/ sistem Pancing
3. System pencacah gamma dengan HPGe.
4. Komputer.
5. Detektor foil (Au, In).
6. Cadmium
7. Stopwatch

IV. LANGKAH KERJA


1. Lakukan aktivasi foil melalui pneumatik selama 1 menit secara automatik dan catat
waktu saat masuk dan keluarnya detektor dari teras.
2. Ukur paparan detektor foil, apabila paparannya dibawah 10 mR, maka pencacahan
dapat dilaksanakan. Catat waktu mulai pencacahan. Pencacahan dilakukan selama
lima menit.
3. Catat cacah yang diperoleh, data ini sebagai dasar untuk perhitungan flux neutron.
4. Tiap selesai pencacahan, foil harus ditaruh pada konteiner yang telah disediakan.

V. ANALISIS DATA HASIL PENGAMATAN


1. Massa bahan uji Massa sample1= 0,012 gram (foil telanjang)
Massa sample2= 0,031 gram (foil terbungkus)
2. Lama waktu Waktu iradiasi (t1) = 5 menit = 300 detik
Waktu cacah (tc) = 1 menit = 60 detik
3. Data sample 1, (foil telanjang) tanpa Cd dengan waktu tunda (t2) = 3645 detik
Cacah 1 490,08 cps
Cacah 2 486,98 cps
Cacah 3 488,18 cps
Rata - rata 488,41 cps
4. Data sample 2, (foil terbungkus) menggunakan Cd dengan waktu tunda(t2) = 3987
detik
Cacah 1 235,93 cps
Cacah 2 241,05 cps
Cacah 3 238,85 cps
Rata - rata 238,61 cps

Diketahui : Emas mempunyai peak tunggal dengan energi 412,2 keV


t1/2(Au) = 2,7 hari dan (rho) =19,32 gr/cm3
(efisiensi detektor) = 0,00005
ac Au dari tabel = 5,84 x 10-24 cm2
ln 2 0,693
Au = 1 = = 2,97 x 106 1
2 2,7 24 3600

Maka :
Untuk sample 1 (foil telanjang)
0,012
V1 =

= 19,32 /
= 6,21 x 10-4 cm3
cm3

t2 t1 = 3645 300 = 3345 detik


6 (300)
1 1 = 1 ( 2,97 10 ) = 8,366 104
6 (3345)
(21) = ( 2,97 10 ) = 0,9901
6 (60)
1 = 1 ( 2,97 10 ) = 1,782 104

=
{1 1 }{(21) }{1 }
1
2,97 106 / 488,41 cps
=
0,00005(5,84 1024 )( 6,21 104 3 )(6,022 1023 )(8,366 104 )(0,9901)(1,782 104 )

1 = 1,009 1011 2
Untuk sample 2 (foil terbungkus)
0,031
V1 =

= 19,32 /
=
cm3
1,6 x 10-3 cm3

t2 t1 = 3987 300 = 3687 detik


6 (300)
1 1 = 1 ( 2,97 10 ) = 8,366 104
6 (3687)
(21) = ( 2,97 10 ) = 0,9891
6 (60)
1 = 1 ( 2,97 10 ) = 1,782 104

=
{1 1 }{(2 1 ) }{1 }

2,97 106 / 238,61 cps


2 =
0,00005(5,84 1024 )( 1,6 103 3 )(6,022 1023 )(8,366 104 )(0,9891)(1,782 104 )
2 = 1,889 1010 2
Maka, nilai fluks neutron thermal ;
3 = 1 2
= 1,009 1011 2 1,889 1010 2
3 = 8,2 1010 /2

VI. PEMBAHASAN
Pengidentifikasian nilai besarnya fluks neutron pada teras reactor kartini pada energy
krisis dapat dilakukan dengan cara mengaktivasi 2 sampel emas dengan perlakukan yang
berbeda, yaitu sampel yang diaktivasi dengan cadmium (foil terbungkus) dan tanpa
cadmium (foil terlanjang)
Melalui sampel foil terlanjang ini akan dapat menunjukkan aktivitas radiasi dari
akibat interaksinya sampel dengan neutron bebas dalam teras (yang dapat berupa neutron
termal ataupun neutron cepat). Sedangkan pada sampel yang foil terbungkus cadmium,
fungsi cadmium ini adalah untuk menahan interaksi sampel dengan neutron termal,
sehingga hanya neutron cepat saja yang dapat mengaktivasi sampel.
Berdasarkan rumus analisis data pengamatan, nilai pengukuran fluks neutron ini
dipengaruhi oleh waktu iradiasi, waktu tunda, waktu cacah, volume foil, tampang lintang
foil serta efisiensi detektor saat mencacah sampel Au setelah diiradiasi. Variabel waktu dari
kedua sampel dapat dianalogikan sama bila ditinjau dari rumus. Adapun yang membedakan
nilai hasil cacah antara keduanya selain dari pengaruh Cd juga terdapat pengaruh volume
dari sampel tersebut.
Dari data perthitungan didapat nilai fluks neutron total nya ialah sebesar 1 =
1,009 1011 2 . Kemudian, pada proses pengiridiasian sampel emas dengan penahan
cadmium (Au+Cd), neutron termal akan berinteraksi dengan cadmium (Cd), sehingga
tertahan, tetapi neutron cepatnya lolos dan mengaktivasi emas (Au). Oleh karena itu, fluks
neutron pada foil ini yang terukur ialah neutron cepat saja. Dari perhitungan diperoleh
neutron cepat sebesar 2 = 1,889 1010 2
Dari pembahasan diatas, dapat dicari nilai neutron termal nya. Neutron termal adalah
neutron hasil reaksi belah bahan fisil yang mengalami perlambatan oleh moderator. Nilai
neutron termal didapat dengan mengurangkan nilai fluks neutron Au dengan nilai fluks
neutron Au+Cd. Hasil nya sebesar 3 = 8,2 1010 /2 .
Dari hasil pengukuran tersebut dapat diketahhui bahwa fluks neutron cepat lebih
tinggi dari fluks neutron termal. Neutron cepat ini adalah hasil reaksi belah bahan bakar
yang bila mengalami moderasi oleh air dalam teras dapat menurunkan energinya menjadi
menjadi neutron termal. Neutron termal inilah yang menjadi pemicu reaksi berantai dalam
teras reaktor. Untuk mengatur niai fluks neutron dalam teras reaktor yaitu dengan mengatur
batang kendali., karena batang kendali bersifat menyerap neutron sehingga fluks neutron
dalam reaktor saat bereaksi dapat dikendalikan.

VII. KESIMPULAN
1. Nilai fluks neutron sample 1 (foil telanjang) yang merupakan nilai fluks neutron total
ialah sebesar 1 = 1,009 1011 2 .
2. Nilai fluks neutron sample 2 (foil terbungkus) yang merupakan nilai fluks neutron
cepat ialah sebesar 2 = 1,889 1010 2
3. Nilai neutron termal merupakan hasil pengurangan nilai fluks neutron Au (foil
telanjang) dengan nilai fluks neutron Au+Cd (foil terbungkus) ialah sebesar 3 =
8,2 1010 /2

Yogyakarta, 2 Juli 2017


Praktikan,

Muhammad Aminudin
LAPORAN PRAKTIKUM
OPERASI KINETIKA DAN PENGENDALIAN REAKTOR
KALIBRASI BATANG KENDALI

Disusun Oleh :
Nama : Muhammad Aminudin
NIM : 021400400
Kelompok :1
Rekan Praktikum : 1. Ade Arif Yulianto
2. Agtria Restu Saputri
3. Akhmad Jamaludin A.H
4. Efi Lestari
5. Fiqy Aulia Ilham Suaidi
6. Marili Santi
7. Rahmat Satyawan
8. Thera Sahara
Prodi : Elektronika Instrumentasi
Asisten : Tri Nugroho Hadi Susanto, S.T.

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR


BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
YOGYAKARTA
2017
LAPORAN PRAKTIKUM
OPERASI KINETIKA DAN PENGENDALIAN REAKTOR
KALIBRASI BATANG KENDALI

I. TUJUAN
1. Melakukan kalibrasi batang kendali reaktor kartini yaitu menentukan reaktivitas batang
kendali dengan jalan membuat grafik reaktivitas suatu batang kendali terhadap

kedudukannya (grafik vs h) dan membuat grafik vs h.
h

2. Menghitung reaktivitas total ketiga batang kendali.


3. Menghitung reaktivitas lebih teras.

II. ALAT DAN BAHAN


1. Picoammeter Keithley.
2. Stopwatch
3. Grafik reaktivitas versus waktu atau tabel reaktivitas versus waktu.

III. LANGKAH PERCOBAAN


1. Kalibrasi batang kendali
a. Dalam keadaan : batang pengaman Up; batang pengatur Down
b. Dengan mengatur batang kompensasi, reaktor dibuat kritis pada daya 10 watt.
Hubungkan detektor CIC dengan Picoammeter Keithley, catat arus yang ditunjukkan
oleh picoammetar.
c. Naikkan sedikit kedudukan batang kendali pengatur maka reaktor akan super kritis
sesaat, dengan melihat padapicoammeter ukurlah t 1 atau 2 dengan stopwatch.
Yaitu waktu yang diperlukan supaya daya reaktor/arus dari CIC menjadi 1 kali atau
2 kali daya reaktor/arus semula. Catat kedudukan batang pengatur.
Catatan:
- Pada saat menaikkan batang pengatur periode reaktor jangan sampai menunjuk
kurang dari 15 detik.
- Pengukuran t 1 atau t 2 dilakukan pada daerah 3, dimana pada daerah ini daya
reaktor berubah dengan periode yang konstan.
d. Turunkan kedudukan batang kompensasi sehingga reaktor menjadi kritis kembali pada
daya/arus semula.
e. Ulangi langkah c dan d sampai batang pengatur dalam kedudukan nak penuh.

2. Kalibrasi batang kompensasi


a. Dalam kedudukan : batang pengatur Up; batang kompensasi down.
Catatan: apabila sampai dengan kedudukan batang pengamandiatas penuh teryata
reaktor tidak dapat kritis pada daya 10 watt, maka naikkan kedudukan batang
kompensasi sampai posisi tertentu hingga kekritisan tercapai. Catat kedudukan
batang konmpensasi. Hubungkan CIC dengan picoammeterkeithley. Catat besarnya
arus CIC.
b. Naikkan sedikit kedudukan batang kompensasi maka reaktor akan mencapai keadaan
super kritis sesaat. Catat kedudukan batang kompensasi dan dengan melihat pada
picoammeter ukurlah t 1 dan t 2 yaitu waktu yang diperlukan supaya daya
reaktor/arus CIC menjadi 1 kali atau 2 kali semula.
c. Turunkan batang pengaman sampai reaktor kritis pada daya arus CIC seperti mula-
mula.
d. Ulangi langkah b dan c berulang ulang sampai kedudukan kompensasi Up.
e. Lakukan pengukuran bagian bawah dari batang kompensasi (bila ada), yaitu posisi
pada saat kritis seperti pada saat sub 1 hingga kedudukan down dengan metode Rod
Drop

3.Kalibrasi batang pengaman


Lakukan percobaan seperti pada kalibrasi batang kompensasi, hanya saja batang
kompensasi ditukar dengan batang pengaman.
Perhitungan:
Dengan menggunakan tabel persamaan per-jam/(kurva antara t 1 atau t 2 dan
reaktivitas yang telah disediakan).
1. Buatlah grafik versus h (kurva Integral) dari batang pengatur, batangkompensasi dan
batang pengaman.
2. Buat pula grafik /h versus h (kurva differensial) dari ketiga batang kendali.
3. Hitunglah reaktivitas total ketiga batang kendali.
4. Dengan data posisi batang kendali pada saat kritis yang diberikan, hitungreaktivitas
lebih dari teras.

IV. DATA PRAKTIKUM


Batang kendali pengatur (regulating rod)
No. Batang Pengatur (%) (cent)
1 0 0
2 7,6 7.2
3 18,7 25.4
4 28,2 26.3
5 36,5 23.5
6 47,5 32.6
7 56,3 24.2
8 69,4 26.7
9 100 16.6

Batang kendali kompensasi (shim rod)


No. Batang Kompensasi (%) (cent)
1 0 0
2 40 19.87
3 44.6 26.3
4 49.8 26.1
5 54.7 26.7
6 60.5 25.5
7 66.7 23.6
8 74.3 21.8
9 100 25.5
Batang kendali pengaman (safety rod)
No. Batang Pengaman (%) (cent)
1 0 0
2 37.5 18.62
3 42 25.7
4 46.9 22.9
5 52 23.4
6 57.4 23.5
7 63.2 21.6
8 71.6 27.3
9 100 27.4

V. ANALISIS DATA PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN


Penentuan Kurva Integral dan Diferensial
Pada batang pengatur didapat nilai-nilai dan /h sebagai berikut.
posisi h
h (%) (%) /h
no (%) (%)
0 0 0 0 0
1 7.6 0 7.2 7.2 0.00
2 18.7 18.7 25.4 32.6 1.36
3 28.2 9.5 26.3 58.9 2.77
4 36.5 8.3 23.5 82.4 2.83
5 47.5 11 32.6 115 2.96
6 56.3 8.8 24.2 139.2 2.75
7 69.4 13.1 26.7 165.9 2.04
8 100 30.6 16.6 182.5 0.54
Sehingga kurva integral dan kurva diferensialyang terbentuk sebagai berikut.

Kurva Integral Batang Kendali Pengatur


250
y = 2,0751x + 3,1064
200 R = 0,9468

Reaktivitas (%) 150

100

50

0
0 20 40 60 80 100 120
Posisi h (%)

Gambar1. Grafik Integral reaktivitas batang kendali pengatur

Kurva Diferensial Batang kendali


Pengatur
3,50
3,00
2,50
/h

2,00
1,50
1,00
0,50
0,00
0 20 40 60 80 100 120
Posisi h (%)

Gambar 2.Grafik diferensial reaktivitas batang kendali pengatur

Pada batang kompensasi didapat nilai-nilai dan /h sebagai berikut.


posisi h
h (%) (%) /h
no (%) (%)
0 0 0 0 0
1 40 0 19.87 19.87 0.50
2 44.6 4.6 26.3 46.17 0.59
3 49.8 5.2 26.1 72.27 0.52
4 54.7 4.9 26.7 98.97 0.49
5 60.5 5.8 25.5 124.47 0.42
6 66.7 6.2 23.6 148.07 0.35
7 74.3 7.6 21.8 169.87 0.29
8 100 25.7 25.5 195.37 0.26

Sehingga kurva integral dan kurva diferensialyang terbentuk sebagai berikut.

Kurva Integral Batang Kendali


Kompensasi
250
Reaktivitas (%)

200
150
100
50
0
0 20 40 60 80 100 120
Posisi h (%)

Gambar 3.Grafik integral reaktivitas batang kendali kompensasi

Kurva Differensial Batang Kendali


Kompensasi
0,8
0,6
/h

0,4
0,2
0
0 20 40 60 80 100 120
Posisi h (%)

Gambar 4. Kurva diferensial reaktivitas batang kendali kompensasi


Pada batang pengaman didapat nilai-nilai dan /h sebagai berikut.
posisi h
h (%) (%) /h
no (%) (%)
0 0 0 0 0
1 37.5 37.5 18.62 18.62 0.50
2 42 4.5 25.7 44.32 5.71
3 46.9 4.9 22.9 67.22 4.67
4 52 5.1 23.4 90.62 4.59
5 57.4 5.4 23.5 114.12 4.35
6 63.2 5.8 21.6 135.72 3.72
7 71.6 8.4 27.3 163.02 3.25
8 100 28.4 27.4 190.42 0.96

Sehingga kurva integral dan kurva diferensialyang terbentuk sebagai berikut.

Kurva Integral Batang Kendali


Pengaman
200
Reaktivitas (%)

150
100
50
0
0 20 40 60 80 100 120
Posisi h (%)

Gambar 5. Kurva integral reaktivitas batang kendali pengaman


Kurva Diferensial Batang Kendali
Pengaman
8
6

/h
4
2
0
0 20 40 60 80 100 120
-2
Posisi h (%)

Gambar 6. Kurva diferensial reaktivitas batang kendali pengaman

a. Reaktivitas Total Batang Kendali dalam Teras


total = ( pengatur+ kompensasi + pengaman)
total = (182,5 + 195,37+ 190,42) = 568,29cent =5,6829$
Jadi reaktivitas total dari ketiga batang kendali tersebut adalah 5,6829 $

b. Reaktivitas Lebih Teras (core excess reactivity)


=
= 182,5 7.2 = 175.3
= 195,37 19,87 = 175,5
= 190,42 18,62 = 171,8
Gunakan core excess pada perhitungan batang pengatur, yaitu 175,3 cent.
c. Reaktivitas Margin Padam (Shutdown Margin)
=
: reaktivitas bagian batang kendali terbesar.
= 568,29 175,3 195,37
= 197,62

VI. PEMBAHASAN
Telah dilaksanakan praktikum kalibrasi batang kendali yang bertujuan untuk
melakukan kalibrasi batang kendali reaktor Kartini, yaitu penentuan reaktivitas batang
kendali dengan jalan membuat grafik reaktivitas suatu batang kendali terhadap
kedudukannya (grafik versus h) dan membuat grafik /h versus h. Selain itu,
diharapkan mampu untuk menghitung reaktivitas total ketiga elemen batang kendali di
dalam reaktor dan menentukan reaktivitas lebih teras reaktor.
Di dalam teras reaktor Kartini terdapat tiga buah batang kendali, yaitu sebuah batang
kompensasi (ditempatkan di ring C ), sebuah batang pengatur (di ring E1) dan sebuah
batang pengaman (di ring C5). Batang kendali tersebut pada dasarnya berisi bahan-bahan
yang sangat kuat menyerap neutron, dalam hal ini dipakai atom-atom boron (a = 3837
barn).
Percobaan pertama adalah kalibrasi batang kendali pengatur. Proses kalibrasi batang
pengatur dilakukan dalam keadaan batang pengaman up dan batang pengatur down. Diatur
posisi atau kenaikan batang kompensasi hingga reaktor dalam keadaan kritis pada daya 10
watt. Detektor CIC dihubungkan dengan picoammeter Keithley kemudian dicatat arus yang
ditunjukkan oleh picoammeter. Posisi batang kendali pengatur dinaikkan sedikit demi
sedikit hingga reaktor berada dalam keadaan superkritis, dicatat posisinya. Dengan melihat
pada picoammeter, diukur waktu untuk kenaikan daya 2 kali (t2x) dengan stopwatch.
Kenaikan daya berbanding lurus dengan penunjukan picoammeter Keithley. Seiring dengan
dinaikkannnya batang kendali pengatur, dicatat pula perubahan reaktivitas yang tertera
dalam alat ukur. Pengamatan ini perlu dilakukan secara seksama guna mendapat nilai
perubahan reaktivitas yang paling stabil (). Posisi batang kendali kompensasi diturunkan
sehingga reaktor menjadi kritis kembali pada daya/arus semula yaitu 10 watt. Langkah
tersebut diulang secara terus-menerus hingga batang kendali pengatur berada pada posisi
up 100%. Setelah itu, batang kendali pengatur diturunkan kembali ke posisi awal,
kemudian dilakukan pancung guna mendapat perubahan reaktivitas pada posisi nol ke
posisi pertama.
Dari analisa data percobaan dan perhitungan diperoleh reaktivitas mula () sebesar 0
cent. Reaktivitas ini diperoleh dari data praktikum. Reaktivitas awal ini digunakan sebagai
acuan untuk menentukan reaktivitas di masing-masing posisi batang kendali pengatur
sesuai dengan besar perubahan reaktivitas. Dari data yang diperoleh, setelah diolah dalam
analisa data dan perhitungan, didapatkan kurva integral dan kurva diferensial seperti
terlihat pada gambar 1 dan gambar 2. Dari kurva tersebut didapat pergerakan reaktivitas
yang linear pada kedudukan batang kendali pengatur antara 18.7% hingga 69,7%. Dalam
grafik diferensial, batang kendali pengatur bekerja paling efektif pada posisi sekitar 47,5%.
Hal ini ditunjukkan dengan tingginya harga/hpada posisi tersebut yang juga
merupakan puncak grafik. Diketahui pula bahwa reaktivitas total batang kendali pengatur
adalah sebesar 182,5 cent.
Percobaan kedua dan ketiga, yaitu kalibrasi batang kendali kompensasi dan kalibrasi
batang kendali pengaman. Dari data-data yang diberikan, didapat kurva integral dan kurva
diferensial seperti pada gambar 3 gambar 4, gambar 5 dan gambar 6. Dari Grafik integral
batang kendali kompensasi, daerah linear pada batang kendali kompensasi berada pada
antara kedudukan 40% hingga 74,3%. Sedangkan daerah linier untuk batang kendali
pengaman berada antara kedudukan 37,5% hingga 71,6%.Dari grafik differensial, untuk
batang kendali kompensasi bekerja paling efektif pada kedudukan sekitar 44.6%,
sedangkan untuk batang kendali pengaman bekerja paling efektif pada kedudukan sekitar
42%. Reaktivitas total batang kendali kompensasi yang terhitung adalah 195,37 cent dan
reaktivitas total batang kendali pengaman adalah 190,42cent.
Reaktivitas total batang kendali di dalam teras reaktor Kartini yang merupakan jumlah
reaktivitas dari ketiga batang kendali, sebesar 568,29 cent, dalam satuan dollar sebesar
5,6829$.Sedangkan untuk reaktivitas lebih teras (core excess reactivity) pada bagian batang
kendali pengatur sebesar 175,3 cent.Reaktivitas lebih teras (core excess reactivity) pada
bagian batang kendali kompensasisebesar 175,5 cent. Reaktivitas lebih teras (core excess
reactivity) pada bagian batang kendali pengaman sebesar 171,8 cent. Dan nilai untuk
reaktivitas margin padam adalah 19,62 cent.

VII. KESIMPULAN
Dari praktikum kalibrasi batang kendali yang telah dilakukan, maka dapat
disimpulkan beberapa hal yaitu:
1) Dari hasil percobaan diperoleh reaktivitas batang kendali sebagai berikut:
Batang Kendali Pengaman sebesar 190,42cent atau 1,9042$,
Batang Kendali Kompensasi sebesar 195,37 cent atau 1,9537 $,
Batang Kendali Pengatur sebesar 182.5 cent atau 1.825$.
2) Kenaikan reaktivitas yang relatif sebanding dengan kenaikan posisi batang kendali
ditunjukkan sebagai berikut:
Batang Kendali Pengaman pada posisi (h)18,7% hingga 69,7%.
Batang Kendali Kompensasi pada posisi (h) 40% hingga 74,3%.
Batang Kendali Pengatur pada posisi (h) 37,5% hingga 71,6%.
Efektifitas kerja maksimum berdasarkan posisi tiap batang kendali berbeda-beda,
ditunjukkan sebagai berikut,
Batang Kendali Pengaman memiliki efektivitas kerja maksimum pada posisi (h)
47,5%.
Batang Kendali kompensasi memiliki efektivitas kerja maksimum pada posisi
(h)44,6%
Batang Kendali Pengatur memiliki efektivitas kerja maksimum pada posisi
(h)42%.
3) Reaktivitas total ketiga elemen batang kendali yang diambil dari jumlah reaktivitas
masing-masing batang kendali pada posisi maksimum sebesar 568,29 cent atau
5,6829$.
4) Sedangkan untuk reaktivitas lebih teras (core excess reactivity) pada bagian batang
kendali pengatur sebesar 175.3 cent. Reaktivitas lebih teras pada bagian batang
kendali kompensasi sebesar 175,5 cent. Reaktivitas lebih teras pada bagian batang
kendali pengaman sebesar 171,8 cent.
5) Nilai untuk reaktivitas margin padam adalah 197,62 cent.

Yogyakarta, 2 Juli 2017


Praktikan,

Muhammad Aminudin
LAPORAN PRAKTIKUM
OPERASI KINETIKA DAN PENGENDALIAN REAKTOR
KOEFISIEN REAKTIVITAS NEGATIF SUHU

Disusun Oleh :
Nama : Muhammad Aminudin
NIM : 021400400
Kelompok :1
Rekan Praktikum : 1. Ade Arif Yulianto
2. Agtria Restu Saputri
3. Akhmad Jamaludin A.H
4. Efi Lestari
5. Fiqy Aulia Ilham Suaidi
6. Marili Santi
7. Rahmat Satyawan
8. Thera Sahara
Prodi : Elektronika Instrumentasi
Asisten : Edi Sugianto, S.T.

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR


BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
YOGYAKARTA
2017
LAPORAN PRAKTIKUM
OPERASI KINETIKA DAN PENGENDALIAN REAKTOR
KOEFISIEN REAKTIVITAS NEGATIF SUHU

I. TUJUAN
Menentukan besarnya perubahan reaktivitas yang ditimbulkan oleh tiap derajat
perubahan suhu bahan bakar reaktor.

II. ALAT DAN BAHAN


1. Instrumented fuel elemen (IFE)
2. Microameter Keithley.
3. Sistem instrumentasi dan kendali reaktor.
4. Thermometer dan thermocouple.

III. LANGKAH KERJA


1. Letakkan IFE pada posisi ring B atau ring C, hubungkan keluaran IFE dengan
Microameter.
2. Operasikan reaktor pada tingkat daya tertentu, misalnya 50 kw dan 100 kw dengan kondisi
sistem pompa pendingin primer dimatikan.
3. Amati kenaikan suhu IFE dan posisi batang pengatur setiap 5 menit atau 10 menit.
4. Ambil data-data pada item (3). Kemudian hidupkan sistem pendingin primer, amati
perubahan suhu IFE dan perubahan posisi batang pengatur.
5. Dengan bantuan data kalibrasi batang kendali pengatur, hitunglah besarnya T dengan
menggunakan persamaan (1) dan menggunakan persamaan regresi linear, untuk data dari
langkah (3) dan data dari langkah (4).

IV. HASIL PRAKTIKUM


Tabel 1
Daya reaktor terukur : 100 kW
Waktu pengukuran : 5 menit
Kondisi pompa primer hidup
Posisi batang kendali Suhu kelongsong
Safety Shim Regulating bahan bakar ()
100% 70% 42% 128,532
100% 70% 42% 127,558
100% 70% 42% 128,044
128,0447
Rata-rata 42%

Tabel 2
Daya reaktor : 65 kW, kemudian dinaikan kembali ke 100 kW
Waktu pengukuran : 5 menit
Kondisi pompa primer mati
Posisi batang kendali Suhu kelongsong
Safety Shim Regulating bahan bakar ()
100% 70% 50% 155,362
100% 70% 51% 157,314
100% 70% 51% 160,73
157,802
Rata-rata 50.66%

Kurva Integral Batang Kendali


Pengatur
250
y = 2,0751x + 3,1064
Reaktivitas (%)

200 R = 0,9468
150

100

50

0
0 20 40 60 80 100 120
Posisi h (%)
Grafik di atas didapat dari data Tabel Reaktivitas Batang Kendali Pengatur,
sehingga diperoleh persamaan regresi liniear:
y = 2,0751x + 3,1064

Dari persamaan tersebut T dapat ditentukan menggunakan persamaan :

d
T =
dT
1. Pada kondisi pompa primer hidup
- Posisi batang pengatur 42%, maka besar adalah:
y = 2,0751x + 3,1064
= 2,075(42) + 3.1064
= 90,2564
Maka,
90,2564
T = 128,0447
= 0.70
2. Pada kondisi pompa primer mati
- Posisi batang pengatur 50,66% maka besar adalah:
y = 2,0751x + 3,1064
= 2,0751(50,66) + 3,1064
= 108,230966
Maka,

T = 108,230966
157,802

= 0.68

3. Dari perhitungan di atas, maka nilai T itu sendiri adalah:

T = T pompa pendingin primer mati T pompa pendingin primer hidup

= 0.68 0.70
= - 0.02

V. PEMBAHASAN
Telah dilaksanakan praktikum koefisien reaktivitas suhu negatif yang bertujuan untuk
menentukan besarnya perubahan reaktivitas yang ditimbulkan oleh tiap derajat perubahan
suhu bahan bakar reaktor. Dari praktikum didapat nilai reaktivitas masing masing saat
kondisi primer hidup dan saat primer mati dengan menggunakan grafik kalibrasi batang
kendali pengatur, karena hanya batang kendali pengatur saja yang mengalami perubahan
posisi ketika pompa primer dimatikan.
Saat pengoperasian dengan keadaan pendingin primer hidup, posisi ketinggian batang
kendali pengatur, batang kendali kompensasi, serta batang kendali pengaman diatur agar
mencapai daya mencapai nilai kritisnya, yaitu 100 kW. Setelah mencapai nilai kritis,
dicatat nilai suhu bahan bakar yang terukur pada alat ukur. Dari satuan milivolt (mV) yang
terdapat pada alat ukur, nilai yang didapat harus dikonversikan ke dalam C menggunakan
tabel keluaran tegangan IFE ke suhu bahan bakar. Tidak setiap nilai millivolt (mV) ada
pada tabel tersebut, maka untuk mencari nilai suhu yang tidak terdapat pada tabel,
digunakan interpolasi. Selanjutnya pendingin pompa primer dimatikan sehingga daya
reaktor menjadi turun. Untuk mendapatkan daya kritis kembali, batang pengatur dinaikkan
sampai posisi tertentu.

Dalam perhitungan, nilai yang dicari adalah nilai reaktifitas suhu (T ) sesuai dengan

tujuan praktikum. Nilai reaktifitas suhu (T ) dicari dengan melakukan pembagian antara

reaktivitas teras (p) dengan suhu elemen bahan bakar (T). Ketika kondisi pompa primer
hidup, reaktivitas suhu sebesar 0.70. Sedangkan pada kondisi pompa primer dimatikan,
terhitung nilai reaktivitas suhu turun menjadi 0.68. Pada akhirnya dari kedua nilai
reaktivitas suhu tersebut, didapatlah nilai reaktivitas suhu reaktor Kartini sebesar -0,02.
Tanda negatif ini menunjukkan bahwa ketika suhu teras meningkat maka reaktivitas bahan
bakar akan menurun sehingga daya reaktor juga menurun.

VI. KESIMPULAN
1. Pengambilan data pada praktikum ini , yaitu pengukuran distribusi suhu dan koefisien
reaktivitas dilakukan pada saat reaktor dalam keadaan kritis.
2. Koefisien reaktivitas suhu dari bahan bakar reaktor dapat diamati dengan perubahan
suhu elemen bahan bakar dan perubahan reaktivitas reaktor (perubahan posisi batang
kendali) yang beroperasi pada daya tetap.

3. Reaktivitas suhu (T) yang diperoleh adalah sebesar -0,02.

Yogyakarta, 2 Juli 2017


Praktikan,

Muhammad Aminudin
LAMPIRAN
Tabel keluaran tegangan IFE ke suhu bahan bakar
LAPORAN PRAKTIKUM
OPERASI KINETIKA DAN PENGENDALIAN REAKTOR
SIMULASI KEKRITISAN REAKTOR TRIGA MARK II 250kW KARTINI
YOGYAKARTA DENGAN SIMULATOR TRIGA-MCNP

Disusun Oleh :
Nama : Muhammad Aminudin
NIM : 021400400
Kelompok :1
Rekan Praktikum : 1. Agtria Restu Saputri
2. Akhmad Jamaludin A.H
3. Efi Lestari
4. Fiqy Aulia Ilham Sudaidi
5. Marili Santi
6. Ade Arif Yulianto
7. Rahmat Satyawan
8. Thera Sahara
Prodi : Elektronika Instrumentasi
Asisten : Argo Satrio Wicaksono, S.ST.

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR


BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
YOGYAKARTA
2017
LAPORAN PRAKTIKUM
OPERASI KINETIKA DAN PENGENDALIAN REAKTOR
SIMULASI KEKRITISAN REAKTOR TRIGA MARK II 250kW KARTINI
YOGYAKARTA DENGAN SIMULATOR TRIGA-MCNP

I. TUJUAN
1. Agar mahasiswa mengenal tampilan kerja simulator TRIGA-MCNP 4.2 (Author :
Putranto Ilham Yazid).
2. Agar mahasiswa mampu menjalankan program TRIGA-MCNP untuk melakukan
simulasi Reaktor TRIGA 250kW A-F Ring Reaktor Kartini Yogyakarta.
3. Agar mahasiswa mampu mengetahui massa kritis untuk Reaktor TRIGA 250kW A-F
Ring Reaktor Kartini Yogyakarta melalui simulator MCNP.

II. PERALATAN YANG DIGUNAKAN


1. Komputer atau laptop
2. Datasheet Reaktor Kartini Yogyakarta
3. Program TRIGA-MCNP 4.2 (Author : Putranto Ilham Yazid)
4. Modul Praktikum MCNP

III. DASAR TEORI


Kekritisan Reaktor
Beberapa faktor yang mempengaruhi proses pembelahan inti agar dapat
berlangsung terus menerus antara lain adalah: jenis dan jumlah bahan dapat belah, bentuk,
ukuran dan geometri serta struktur reaktor, jenis moderator dan reflektor dan sebagainya.
Jumlah minimum massa bahan dapat belah yang mampu mempertahankan reaksi
pembelahan berantai tersebut disebut dengan massa kritis.
Kondisi kritis reaktor adalah kondisi dimana populasi neutron di dalam teras
reaktor ada dalam tingkat yang steady state. Massa bahan fisil minimum yang
memungkinkan reaktor mencapai kondisi kritis disebut massa kritis. Atau jumlah minimum
massa bahan dapat belah yang mampu mempertahankan reaksi pembelahan berantai
tersebut disebut dengan massa kritis. Massa kritis untuk U235 bisa bervariasi mulai lebih
kecil 1 kg untuk system yang terdiri dari larutan uranium dalam air dengan perkayaan 90 %
U235 sampai dengan 30 ton U-alam yang tersusun dalam matrik grafit. Sedangkan U-alam
sendiri yang mengandung 0,7 % U235 , sebesar apapun jumlahnya tidak akan pernah
mencapai kondisi kritis, karena terlalu banyak neutron hasil fisi yang hilang di dalam reaksi
non fisi.
Untuk memperkecil massa kritis pada reaktor termal digunakan moderator dan
reflektor, pada prinsipnya persyaratan yang diperlukan untuk bahan moderator dan
reflektor adalah unsur dengan nomor massa rendah, mempunyai tampang lintang serapan
atau tangkapan yang kecil, dan mempunyai tampang lintang hamburan yang besar.
Beberapa bahan yang biasa dijadikan moderator dan reflektor adalah air ringan, air berat,
berilium, grafit dan zirkonium hidrida.
Kekritisan suatu reaktor diukur dengan mendefinisikan besaran yang disebut
dengan Keff yaitu perbandingan jumlah neutron pada suatu generasi terhadap jumlah
neutron pada generasi sebelumnya (tanpa sumber neutron dari luar). Apabila nilai Keff > 1
maka dikatakan reaktor dalam kondisi superkritis, yang dalam hal ini populasi neutron di
dalam teras reaktor terus meningkat terhadap waktu. Sebaliknya apabila Keff < 1 maka
reaktor dalam kondisi subkritis, dimana jumlah neutron terus berkurang terhadap waktu.
Dengan demikian reaktor dikatakan pada kondisi kritis apabila harga Keff = 1.

Monte Carlo N-Particle (MCNP)


MCNP (Monte Carlo N-Particle) adalah program komputer yang dikembangkan
sejak tahun 1963 di Los Alamos National Laboratory (LANL), Amerika Serikat. Sampai
saat ini program masih terus dikembangkan dan disempurnakan. Program MCNP
menerapkan metode Monte Carlo dalam menyelesaikan berbagai macam persoalan
transport partikel, antara lain neutron, foton, elektron, gabungan neutron / foton, neutron /
foton / elektron maupun foton/ elektron. Sifat-sifat bahan serta interaksi partikel dengan
bahan dinyatakan dalam fungsi energi kontinyu. MCNP dapat digunakan untuk
memecahkan persoalan transport partikel di dalam bahan berbentuk tiga dimensi
sembarang. Perangkat lunak ini dilengkapi kemampuan untuk menghitung Keff sebagai fitur
standarnya.
Pengguna dapat membuat file input yang kemudian dapat dibaca oleh MCNP
untuk diolah berdasarkan perhitungan yang diinginkan. File input ini terdiri dari informasi
yang meliputi spesifikasi geometri, deskripsi material, lokasi dan karakteristik dari sumber
neutron, foton dan elektron serta tipe tally (perhitungan) yang diinginkan. Monte Carlo
bekerja dengan cara menduplikasi secara teoritis proses statistik (seperti interaksi partikel
nuklir dengan bahan) dan sangat berguna untuk masalah kompleks yang tidak dapat
dimodelkan oleh kode komputer yang menggunakan metode deterministik. Peristiwa
probabilistik individu yang terdiri dari suatu proses, disimulasikan secara berurutan.
TRIGA MCNP
TRIGA-MCNP adalah program serbaguna untuk perhitungan kekritisan reaktor
TRIGA Mark II dengan menggunakan kode MCNP (Versi 4A atau lebih tinggi). Ini akan
menghasilkan file input MCNP yang dapat digunakan secara langsung untuk memecahkan
masalah KCODE. Sumber fisi dimodelkan dengan kartu KSRC standar, bersama dengan
tabel dari titik sumber neutron fisi. Berikut tentang pembuat program TRIGA-MCNP :

Gambar 1. Pembuat program TRIGA-MCNP


TRIGA-MCNP cukup mudah digunakan. Kita bisa menguasai program dalam
waktu yang sangat singkat, bahkan tanpa dokumentasi lengkap atau petunjuk pengguna.
Gambar dibawah ini merupakan tampilan dari program TRIGA-MCNP.
Gambar 2. Tampilan Program TRIGA-MCNP
IV. PROSEDUR PERCOBAAN
Instalasi Program MCNPX
1. Membuat folder khusus yang akan digunakan untuk instalasi ,misalnya MCNPX dengan
alamat directory D:\MCNPX
2. Membuka Folder exe_dir
3. Mengextract folder Win32 ke dalam ke dalam folder MCNPX
4. Masuk ke jendela Explorer > klik kanan pada My Computer > Properties>Advanced
System Setting > Environment Variable > pada kotak System Variables > mencari
variable Path > Edit > menambahkan pada variable value D:\MCNPX\MCNPX\BIN
> Ok

Gambar 3. Jendela Editor System Variable


5. Klik New pada Sytem Variables > pada Variables Name diisi DATA PATH >
lalu pada variables value diisi D:\MCNPX\MCNPX\MCNPDATA > OK
Gambar 4. New System Variable DATAPATH

6. Klik New pada Sytem Variables > pada Variables Name diisi DISPLAY > lalu
pada variables value diisi DISPLAY=:0 > OK>OK

Gambar 5. New System Variable DISPLAY


Instalasi Program Running SpeedCommander
1. Membuka Folder SpeedCommander > Klik 2x pada Application maka akan muncul
Jendela instalasi 1 > pilih Installeren

Gambar 6. Jendela instalasi 1


2. Lalu akan muncul Jendela instalasi 2 > pilih Instal
Gambar 7. Jendela instalasi 2
3. Muncul kembali Jendelas instalasi seperti gambar dibawah ini > OK.

Gambar 8. Jendela instalasi 3


4. Buka folder SpeedCommander > pilih Keygen and Serial > Copy Nomor Serialnya >
Mengisikan Nomor serial pada Enter Registration Key >OK
5. Instalasi selesai

Gambar 9. Jendela SpeedCommander13

Simulasi Kekritisan dengan TRIGAMCNP


Langkah-langkah yang dilakukan dalam simulasi Kekritisan menggunakan TRIGA MCNP
adalah sebagai berikut :
1. Menyiapkan data konfigurasi bahan bakar Reaktor Kartini

Gambar 10. Konfigurasi Bahan Bakar Reaktor Kartini Mei 2016


2. Membuka Folder TRIGA250 untuk menyusun input konfigurasi bahan bakar pada
Reaktor Kartini
Gambar 11. Aplikasi TRIGA-MCNP

Tabel 1. Komponen yang digunakan pada program TRIGA-MCNP


KOMPONEN YANG GAMBAR KOMPONEN KETERANGAN
DIGUNAKAN
Control Rods TRIGA Non Fueled Follower Control
Rods
(Batang Kendali yang tidak
terdapat bahan bakar uranium
didalamnya )
FUEL ELEMENTS 8,5% w TRIGA Fuel Element
( Bahan Bakar TRIGA dengan
kandungan fraksi uranium 8,5% dan
pengayaan 20 %)
OTHERS Graphite Dummy Element (Elemen
bakar tiruan yang terletak pada
ring F terbuat dari bahan grafit ,
fungsi elem bakar ini untuk
menaikkan efisiensi neutron.
Central Timble (Terletak di tengah
pada teras reaktor di Ring A1
berfungsi sebagai tempat iradiasi
yang menghasilkan fluks neutron
tinggi)
Void Element

Iradiation Tube (Tabung iradiasi


digunakan untuk tempat sampel
dengan waktu paruh pendek )
Sehingga konfigurasi tersusun seperti dibawah ini :

Gambar 12 Susunan input pada TRIGA MCNP


3. Setelah tersusun konfigurasi pada aplikasi TRIGA-MCNP > pilih FILE > Save
Configuration Data > Save pada Folder yang terdapat MPX.exe>isi nama file pada File
Name >Save
4. Lalu Save kembali agar inputan dapat di Run dan diketahui hasil Keff dengan memilih
FILE > Generate MCNP Input File > Save pada Folder yang terdapat MPX.exe > Save
5. Buka SpeedCommander > Buka File yang akan di Run dengan format MPX nama file
> Enter

Gambar 13 Mengisi nama file yang akan dibuka


V. DATA PERCOBAAN
Hasil Running Program Iterasi MCNP untuk jumlah bahan bakar 71. Untuk bahan bakar
lainnya ditampilkan pada lampiran.
Dari beberapa tahap yang telah dilakukan dalam simulasi massa kritis
menggunakan program Monte Carlo N-Particle maka dihasilkan data seperti tabel
dibawah ini :
Tabel 2. Hasil Simulasi Massa Kritis menggunakan Program MCNP
MASSA MASSA
LOADI JUMLAH
UNLOADING BB(Gr CYCLE Keff STD DEV KRITIS(Gr
NG BB
am) am)
E:11,12,13,
14 - 67 38 250 1,00516 0,00045 2546
F:17

E:12,13,14
E11 68 38 250 1,00950 0,00049 2584
F:17

E:13,14
E12 69 38 250 1,01309 0,00046 2622
F:17

E:14
E13 70 38 250 1,01765 0,00042 2660
F:17

F: 17 E14 71 38 250 1,02166 0,00042 2698


Dari data diatas dapat dibuat grafik hubungan antara Keff dengan Massa Kritis
seperti pada grafik berikut.

Grafik Hubungan Bahan Bakar dan Keff


1,02 1,01765
1,018
1,016
1,01309
1,014
1,012
1,0095
1,01
Keff

1,008
1,00516
1,006
1,004
1,002
1
0,998
2546 2584 2622 2660
Bahan bakar

Series 1 Linear (Series 1)

VI. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini yang bertujuan untuk mengenal program MCNP dan
mampu menggunakan program tersebut untuk melakukan berbagai simulasi pada reaktor.
Pada praktikum kali ini telah dilakukan simulasi massa kritis menggunakan paket program
Monte Carlo N-Particle (MCNP). Simulasi ini dibuat dengan tujuan untuk mensimulasi dan
memprediksi percobaan kekritisan menggunakan program komputer Monte Carlo N-
Particle (MCNP) sebelum melakukan percobaan langsung dengan reaktor sehingga dapat
diketahui nilai Keff dan jumlah bahan bakar yang dibutuhkan untuk mencapai kondisi
kritis.
Program MCNP menerapkan metode Monte Carlo dalam menyelesaikan berbagai
macam persoalan transport partikel, antara lain neutron, foton, elektron, gabungan neutron /
foton, neutron / foton / elektron maupun foton / elektron. Sifat-sifat bahan serta interaksi
partikel dengan bahan dinyatakan dalam fungsi energi kontinu. MCNP dapat digunakan
untuk memecahkan persoalan transport partikel di dalam bahan berbentuk tiga dimensi
sembarang. Program ini mampu menghitung nilai Keff dalam suatu sistem bahan dapat
belah dengan akurasi tinggi.
Dalam menyusun input konfigurasi teras reaktor jenis TRIGA dan
membangkitkan input untuk MCNP digunakan program TRIGA-MCNP. Pada simulasi ini
elemen bakar dimasukkan dalam teras secara bertahap, sesuai dengan rencana yang telah
dibuat sebelumnya. Umumnya , elemen bakar dimasukkan ke dalam teras dimulai dari ring
yang dekat dengan pusat tengah yakni dari ring B, kemudian secara bertahap elemen bakar
dimuati ke arah radial yaitu di ring C,D , E lalu F. Pada simulasi ini terdapat 5 bahan bakar
yang diunloading yaitu pada ring E11, E12, E13, E14 dan F17.
Dengan menganggap bahwa elemen bakar yang dimasukkan ke dalam teras
adalah semuanya baru /segar dan dapat ditentukan jumlah elemen bakar maksimum yang
dapat dimasukkan ke dalam teras, sehingga menjamin bahwa langkah-langkah pengisian
elemen bakar selama percobaan kekritisan dilakukan dengan teratur, aman dan terkendali.
Proses pemuatan elemen bakar dimuali dari ring yang dekat dengan pusat
dikarenakan selama proses pemuatan elemen bakar berlangsung, reaktivitas akan semakin
besar dengan adanya pertambahan jarak maka reaktivitas yang semankin mengecil. Hal ini
karena reaktivitas lebih yang diberikan oleh elemen bakar pada posisi yang semakin jauh
dari pusat teras akan semakin kecil. Sehingga proses pemuatan elemen bakar menuju
kekritisan semakin aman pula.
Pada simulasi ini teras reaktor Kartini diisi dengan bahan bakar TRIGA dengan
kandungan fraksi uranium 8,5% dan pengayaan 20% .Dengan menganggap bahwa elemen
bakar yang dimasukkan ke dalam teras adalah semuanya baru /segar maka massa disetiap
elemen bakar sebesar 38 gram. Selain itu, batang kendali yang digunakan adalah batang
kendali yang tidak terdapat bahan bakar Uranium didalamnya.
Selanjutnya melakukan tahapan running sehingga diketahui nilai Keff untuk 67 bahan
bakar. Dengan cara yang sama, bahan bakar dimasukkan secara bertahap dari ring yang
paling dalam yaitu ring E sehingga diketahui Keff nya dan dapat ditentukan jumlah bahan
bakar yang menunjukkan kondisi kritis yaitu kondisi dimana Keff=1.
Menurut hasil simulasi ,Reaktor Kartini diperkirakan sudah akan kritis saat teras
terisi oleh 67 elemen bakar dengan 3 batang kendali dengan posisi up semua dengan Keff
sebesar 1,00516 dengan cycle sebanyak 250 dan standar deviasi sebesar 0,00045.
Kemungkinan dengan menambah jumlah cyclenya nilai Keff yang didapat akan lebih
akurat, karena Keff merupakan perhitungan jumlah rata-rata neutron fisi yang dihasilkan
dalam satu generasi untuk tiap-tiap sumber neutron fisi. Yang dimaksud dengan satu
generasi adalah masa hidup neutron dari saat ia dilahirkan dari reaksi fisi sampai dengan
hilang karena lolos dari sistem, tangkapan parasitik, atau absorpsi yang akan menimbulkan
fisi berikutnya. Dikarenakan untuk jumlah bahan bakar 67 memiliki nilai Keff sebesar
1,00516 Maka massa kritis reaktor Kartini diprediksi sebesar 2546 gram. Maka MCNP
baik digunakan untuk memprediksi kekritisan reaktor Kartini .

VII. KESIMPULAN
1. Program MCNP dapat digunakan untuk melakukan perhitungan dan simulasi aktivitas
reaktor.
2. Dari praktikum diketahui prediksi massa kritis reaktor Kartini Yogyakarta dengan
Program MCNP (Cycle=250, Konfigurasi BB=67, Keff=1,00516, std dev=0,00045)
adalah 2546 gram.

Yogyakarta, 2 Juli 2017


Praktikan,

Muhammad Aminudin
VIII. LAMPIRAN
Bahan Bakar 67
Bahan Bakar 68
Bahan Bakar 69
Bahan Bakar 70
LAPORAN PRAKTIKUM
OPERASI KINETIKA DAN PENGENDALIAN REAKTOR
OPERASI REAKTOR

Disusun Oleh :
Nama : Muhammad Aminudin
NIM : 021400400
Kelompok :1
Rekan Praktikum : 1. Ade Arif Yulianto
2. Agtria Restu Saputri
3. Akhmad Jamaludin A.H
4. Efi Lestari
5. Fiqy Aulia Ilham Suaidi
6. Marili Santi
7. Rahmat Satyawan
8. Thera Sahara
Prodi : Elektronika Instrumentasi
Asisten : Edi Sugianto, S.T.

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR


BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
YOGYAKARTA
2017
LAPORAN PRAKTIKUM
OPERASI KINETIKA DAN PENGENDALIAN REAKTOR
OPERASI REAKTOR

I. TUJUAN
Agar praktikan mengerti bagaimana pengoperasian reaktor Kartini mulai dari start up
sampai shut down.

II. DASAR TEORI


Reaktor kartini merupakan reaktor riset tipe triga mark II yang telah dioperasikan
sejak Maret 1979 dengan daya termal maksimum 100 kW. Sebagai reaktor riset reaktor
Kartini dimanfaatkan untuk pelayanan aktivasi/iradiasi neutron, eksperimen iradiasi
gamma, pendidikan dan pelatihan serta penelitian dalam bidang teknologi nuklir. Untuk
keperluan pelayanan tersebut reaktor Kartini memiliki sejumlah fasilitas iradiasi antara lain
fasilitas iradiasi lazy susan (LS) yang dapat memuat 40 cuplikan dengan posisi melingkar
diluar teras reaktor, Pneumatic Transfer Asystem di ring F-13, sebuah colomn thermal dan
4 buah beamport. Pada daya 100kW besarnya fluks neutron pada fasilitas iradiasi LS rata-
rata 2.5 x 1011 n/ cm2 det . Dalam keadaan rutin, reaktor Kartini dioperasikan rata-rata
selama 6 jam pada hari/jam kerja, dapat pula dioperasikan lebih lama tergantung
permohonan. Fenomena fisika yang terjadi di dalam teras reaktor pada saat operasi daya
adalah adanya reaksi fisi antara neutron dengan bahan bakar U235 sedemikian sehingga
melahirkan (2 3) neutron baru, dan disertai timbulnya energi (panas) rata-rata sebesar
180 MeV dan radiasi baik ((alpha), (beta), (gamma) serentak.
Beberapa proses reaksi fisi yang terjadi di dalam teras reaktor antara lain dapat
ditunjukkan sebagai berikut:
0n
1
+ 92U235 92U
236* 38Sr
94
+ 54Xe140 + 2 0n1
0n
1
+ 92U235 92U
236* 94
36Kr + 56Ba
139
+ 3 0n1
Dan reaksi (gamma) dengan air moderator (H2O) adalah :
0n
1
+ 2 H2O 2 H2O + O2 (gas)
0n
1
+ 8O16 7N16 + 1p1 + n
Sebagai pendingin reaktor TRIGA digunakan air murni (H2O) dengan pH
berkisar antara 5,5 - 7 yang mempunyai fungsi antara lain sebagai moderator (pelambat)
neutron, penahan (shielding) paparan radiasi agar tidak terhambur ke permukaan udara
bebas serta untuk mengkompensasi (menangkap) energi/panas kemudian dibuang melalui
sirkulasi sistem pesawat penukar panas (Heat Exchanger/ HE) agar suhu air tangki reaktor
(ATR) tetap rendah tidak melampaui batas yang diijinkan yaitu 40 oC.
Untuk melakukan operasi reaktor dengan aman, maka semua sistem dan alat ukur
parameter-parameter reaktor serta sistem bantu raktor (auxiliary system) harus dilengkapi
dengan dokumen prosedur dan juklak operasi serta jadwal rutin kalibrasi dan perawatan.
Pengoperasian Reaktor Kartini
Sebelum reaktor dioperasikan pada suatu tingkat daya, 2 orang operator dipimpin
oleh seorang supervisor melakukan checklist sistem instrumentasi& kendali (SIK) reaktor
dan berbagai parameter sistem bantu bahwa semua sistem berfungsi dengan baik.
Ada 3 macam checklist terhadap pengoperasian reaktor yaitu checklist startup,
checklist operasi daya dan checklist shutdown.

III. ALAT YANG DIGUNAKAN


Reaktor Kartini

IV. LANGKAH KERJA


1. Lakukan ceklis startup sebelum operasi daya, catat kondisi kondisi dalam log book
2. Saat pengoperasian, catat kondisi kondisi kondisi dalam log book (ceklist operasi
daya)
3. Catat juga kondisi yang ada pada ceklis shutdown ketika reaktor shutdown
V. DATA PRAKTIKUM
CHECK LIST START UP
No : 178 Tgl. 5 Juni 2017
A. Sistem Bantu
1. Sistem Pendingin Primer Debit pendingin primer 592 L/M
(Pompa 2) Debit demineralizer 14 GPM
Suhu air primer (HE)
In HE 30C
Out HE 30C
Tahanan pendingin primer
Demin In 4 M.Ohm/cm
Demin Out M.Ohm/cm
pH tangki air reaktor 6
Level air tangki 11 cm
2. Sistem Pendingin Debit pendingin sekunder 644 LPM
Sekunder (Pompa 3)
Suhu sekunder
In (HE) 26,3 C
Out (HE) 27,1 C
Cooling Tower
3. Sistem Ventilasi Tekanan pada Blower (2)
In prefilter 0,01 inch/w
Out prefilter 3,3 inch/w

B. Reaktor
Teras Reaktor
Lampu Reaktor
Sumber Neutron
Beamport
Kolom Thermal

C. Sistem Instrumentasi dan Kendali


1. Kalibrasi :
a. Daya LCR (Posisi 1, 2,
3)
b. Daya CAMBELL (Posisi
4, 5, 6)
c. Perioda
d. Daya Linier
2. Pengecekan Pancung & Safety Shim Regulating
Interlock :
a. Manual
b. % daya
c. Perioda
d. HV
3. Sistem Komputer

D. Kesimpulan :
Reaktor dapat dioperasikan
Keterangan :
: Baik
X : Tidak Baik
Reaktor dioperasikan untuk Praktikum Mahasiswa STTN no. form 3433
PETUGAS
Operator :
1. Suratno
2. Wahtu I. W
Supervisor: Mujilan
Proteksi Radiasi : Fajar
Sistem Bantu :
1. Argo
2. Edi
OPERASI PADA TINGKAT DAYA
Tanggal 5 Juni 2017. Jam 9.19

Waktu 9.19 WIB


Reaktor kritis pada daya 100 kW
Posisi batang kendali
Pengaman 100 %
Kompensasi 70,1 %
Pengatur 43,2 %
Suhu permukaan ATR 29,8C
Suhu Primer
In HE 29,8C
Out HE 29C
Suhu Sekunder
In HE 26C
Out HE 27C
Debit primer 644 /menit
Debit sekunder 648 /menit
Suhu bahan bakar ring B 130C
Laju paparan radiasi
Dek reaktor 5,7 mR/jam
Sub kritik mR/jam
Demineralizer 0,1 mR/jam
Kolom Thermal 0,13 mR/jam
Bulk Shielding 0,4 mR/jam
Ruang Kontrol 0,3 mR/jam
Keterangan :
9.24 masukkan sampel LS
10.17 reaktor shut down

CHECK LIST SHUT DOWN


Tanggal 5 Juni 2017. Jam 10.19

Reaktor Shut Down Jam 10.17


Posisi batang kendali
Pengaman 0%
Kompensasi 0%
Pengatur 0%
Suhu permukaan ATR 29C
Suhu air primer
In HE 28,4C
Out HE 29C
Debit primer 592/menit
Suhu air sekunder
In (HE) 26C
Out (HE) 27C
Debit sekunder 644 /menit
Suhu bahan bakar ring B < 30C
Laju paparan radiasi
Dek reaktor
Sub kritik < 0 mR/jam
Demineralizer
Kolom Thermal
Bulk Shielding < 0 mR/jam
Ruang Kontrol
Sistem primer dimatikan jam 14.00
Suhu ATR 28C
Catu daya sistem kontrol
11.00
dimatikan jam
Kondisi teras
Lampu penerangan teras
Level ATR 11 cm
Keterangan :
Reaktor shut down semua batang kendali berada di bawah..

VI. PEMBAHASAN
Pengoperasian reaktor tidak langsung dapat dioperasikan begitu saja. Banyak
daftar yang harus dicatat seperti debit sistem pendingin, sistem ventilasi, dan Sistem
Instrumentasi dan Kendali (SIK) yang kemudian daftar tersebut harus memenuhi standar
untuk mengoperasikan reaktor serta harus mendapatkan tanda tangan dari supervisor, jika
supervisor tidak memberi tanda tangan maka reaktor tidak dapat diopersikan dan daftar cek
start up dilakukan kembali. Pencatatan ketika reaktor dioperasikan pun juga dilakukan
yaitu setiap jam sekali atau setiap ada perubahan kejadian. Pengisian daftar ketika reaktor
akan dimatikan (shut down) juga diperlukan seperti suhu permukaan air tangki reaktor, laju
paparan radiasi, serta posisi batang kendali.
Sebelum pengoperasian reaktor, dilakukan terlebih dahulu check list start up.
Sistem pendingin primer menggunakan pompa 2, dan sistem pendingin sekunder
menggunakan pompa 3. Suhu air masuk sebesar 30oC dan 30 oC pada suhu air keluar.
Sedangkan suhu air pada pendingin sekunder lebih rendah dari suhu pendingin primer.
Debit demineralizer sebesar 14 GPM. pH air tangki reaktor 6. pH air tangki dibuat netral
agar tidak korosi pada tangki jika terlalu asam dan tidak mudah tumbuh lumut dan kerak
jika basa. Blower yang digunakan adalah blower 2. Kemudian dilakukan pengecekan pada
Sistem Instrumentasi dan Kendali (SIK) seperti kalibrasi, pengecekan pancung dan
interlock, dan sistem komputer. Pertama mengkalibrasi daya LCR, daya Cambell, perioda,
dan daya linear. Kedua pengecekan pancung dan interlock. Pengecekan tersebut diperlukan
guna keselamatan rekator, jika terjadi ketidaknormalan pengoperasian yang akan dapat
menyumbangkan kerusakan pada batang bahan bakar, maka sistem proteksi reaktor akan
bekerja dan batang kendali tersisipkan kedalam teras reaktor secara cepat atau pancung
reaktor sehingga reaktor shut down. Setelah selesai melakukan check list start up dapat
disimpulkan reaktor dapat dioperasikan dan diberi keterangan reaktor digunakan untuk
praktikum mahasiswa STTN no. Form 3433. Dengan tanda tangan supervisor, reaktor
dapat dioperasikan. Dicatat pula pada jam berapa reaktor start up dan reaktor kritis dengan
daya 100 kW
Setelah dapat tanda tangan dari supervisor, operator dapat mengoperasikan
reaktor. Ketika pengopersian rekator pada 5 Juni 2017 pukul 9.19 WIB reaktor kritis pada
daya 100 kW dengan posisi batang kendali pengaman 100% diangkat, kompensasi 70,1%,
dan pengatur 43,2%. Suhu permukaan ATR sebesar 29,8oC. Laju paparan radiasi diukur di
dek reaktor, demineralizer, kolom termal, bulk shielding, ruang kontrol dengan masing
masing nilai 5,7 mR/jam, 0.1 mR/jam, 0.13 mR/jam, 0.04 mR/jam, dan 0.3 mR/jam. Nilai
nilai ini masih berada pada batas aman yang diperbolehkan. List ini diberi penjelasan yaitu
9.24 masukkan sampel LS, dan 10.17 reaktor shut down.
Pada pukul 10.19, reaktor shutdown dengan posisi batang kendali pengaman,
kompensasi, pengatur di 0%. Suhu permukaan ATR 29oC. Suhu air primer masukan 28,4oC
dan keluarannya 29 oC. Debit primer 592/menit. Suhu air sekunder masukan 26oC dan
keluaran 27oC. Debit sekunder 644/menit. Suhu bahan bakar ring B <30 oC. Laju paparan di
dek reaktor, subkritik, dan demineralizer kurang dari 0 mR/jam dan di kolom termal, bulk
shielding, dan ruang kontrol kurang dari 0 mR/jam. Sistem primer dimatikan pada pukul
14.00 WIB dengan suhu ATR 40oC yaitu 28oC. Catu daya sistem kontrol dimatikan jam
11.00 WIB. Level ATR sama seperti kondisi start up yaitu 11 cm. Check list shut down
telah selesai dengan keterangan reaktor shut down, semua batang kendali berada di bawah.
VII. KESIMPULAN
Setiap kondisi reaktor, baik sistem samping atau sistem bantu, sistem instrumentasi
dan kendali, dan sistem komputer perlu dicatat untuk dijadikan berkas jika terjadi hal yang
tidak diingankan dapat dirunut melalui pencatatan check list. Pada check list start up tanda
tangan dari seorang supervisor sangat diperlukan guna menentukan apakah reaktor dapat
dioperasikan begitupun ketika reaktor shut down diperlukan tanda tangan supervisor untuk
benar - benar memastikan bahwa reaktor telah aman. Hal hal yang perlu diperhatikan
ketika meninggalkan reaktor, yaitu suhu ATR 40oC, laju paparan rendah (berada di
kondisi aman), batang kendali berada di 0% (bawah).

Yogyakarta, 2 Juli 2017


Praktikan,

Muhammad Aminudin
DAFTAR PUSTAKA
Analisa Keselamatan Reaktor Kartini, Pusat Penelitian Tenaga Atom Gamma
Yogyakarta, Badan Tenaga Atom Nasional.
Lamarsh, Jhon R., Introduction to Nuclear Reactor Theory Addison-Wesley
Publishing Company, New York, 1972.
Suprawardana, Salam M., Pengantar Praktikum Reaktor, Pusat Pendidikan dan
Latihan Badan Tenaga Atom Nasional.
LAMPIRAN

SPESIFIKASI TEKNIK REAKTOR KARTINI


1. Daya maksimum 100 kW
2. Periode minimum 7 detik
3. % daya maksimum 110 %
4. Suhu ATR permukaan 40oC
5. Suhu maksimum bahan bakar 530oC
6. Debit primer 76 GPM
7. Debit sekunder 160 GPM
8. Konsentrasi Si, Mg, Ca, Na dalam ATR < 1ppm
9. Konduktivitas ATR 0,2 0,5 mho
10. Tahanan ATR pada demineraliser
Inlet > 2 M/cm
Outlet > 6 M/cm
11. MPC dari pada ATR < 5 x 10-4 FCi/cc
12. Radioaktivitas dalam ruang reaktor < 10 12 Fci/cc
13. Laju paparan Radiasi
Atas permukaan ATR < 100 mR/jam
Ruang Kendali < 2,5 mR/jam
Dek Reaktor <10 mR/jam
Demineraliser < 25 mR/jam
Kolom termal < 2,5 mR/jam
Subkritik < 10 mR/jam
Bulk Shielding < 2,5 mR/jam

JADWAL KALIBRASI DAN PERAWATAN SISTEM REAKTOR KARTINI


KOMPONEN WAKTU
1. Monitor udara lingkungan 1 x per bulan
2. Analisa kandungan (Si, Mg, Ca, Na) ATR 1 x per bulan
3. Pengamatan visual bahan bakar
a. Pengamatan langsung 1 x per tahun
b. Dengan kamera under water 1 x per 2 tahun
4. Kalibrasi waktu jatuh batang kendali 1 x per tahun
5. Kalibrasi reaktivitas batang kendali 2 x per tahun (resufling/loading)
6. Kalibrasi daya 2 x per tahun (resufling/loading)
7. Penggantian mesin demineraliser 1 x per 2 tahun (atau 2400 jam)
8. Penggantian/ pembersihan filter sistem primer 1 x per 2 tahun
9. Perawatan dan pembersihan sistem primer 1 x per tahun
10. Perawatan dan pembersihan sistem sekunder 2 x per tahun
11. Pembersihan Bulk Shielding 1 x per 2 tahun
12. Pengamatan visual sistem pendingin Setiap jam operasi
13. Kalibrasi alat ukur reaktor 1 x per 2 tahun (penyimpangan)
14. pH & Konduktivitas ATR Setiap jam operasi
15. Pengukuran temperatur maksimum 1 x per 3 bulan
16. Pengukuran temperatur ATR Setiap jam saat beroperasi
17. MPC Air Pendingin 1 x per 3 bulan
18. Pengujian Panel Kontrol Setiap akan operasi
19. Pengukuran radioaktivitas udara ruang reaktor Setiap reaktor operasi
20. Penggantian/ pembersihan Filter Sistem Ventilasi
Prefilter 1 x per 2 tahun
Absolut filter 1 x per 5 tahun