Anda di halaman 1dari 5

Learning Objective 1

Diedrich et al membagi perawatan periodontal pada penderita yang dilakukan perawatan


ortodontik menjadi preorthodontic phase, orthodontic phase, dan postorthodontic phase.
Pada perawatan periodontal preorthodontic phase, dihilangkan keradangan dengan menjaga
kebersihan rongga mulut melalui kontrol plak, scaling dan root planning. Bleeding on probing,
yang merupakan indikator penyakit periodontal, adalah tanda suatu kelainan yang progresif dan
aktif sehingga harus selalu diperhatikan selama perawatan. Poket periodontal yang dalam sebagai
pertanda terjadinya kerusakan tulang perlu direkonstruksi terlebih dulu agar dapat dilakukan
dengan bedah flap periodontal. Penyembuhan ditunggu 6 minggu pasca operasi dan keadaan
stabil.
Pada perawatan periodontal orthodontic phase, terdapat 4 hal yang harus diperhatikan, yaitu
kekuatan dan reaksi terhadap jaringan periodontal, karena kekutan yang berlebihan dapat
menyebabkan resorpsi tulang ataupun terjadi dehiscences. Kedua adalah terjadinya gingiva
hiperplasia, sebagai akibat OH yang tidak diperhatikan atau karena kekuatan alat ortodonti yang
terlalu besar. Ketiga, penderita dengan adanya kerusakan jaringan periodontal, maka kekuatan
alat ortodonti harus seringan mungkin dengan masa yang lebih lama. Yang keempat, selalu
memonitor kesehatan jaringan periodontal terhadap keradangan pada jaringan periodontal,
karena akan menghambat pergerakan gigi.
Perawatan periodontal pada pasca orthodontic phase, retensi dilakukan paling sedikit
dengan jangka waktu 6 bulan. Hal-hal yang dapat terjadi jika tidak melakukan tahapan ini adalah
relaps, traumatik oklusi, dan mastikasi yang tidak seimbang dan dapat memberi rasa tidak
nyaman.
Migrasi patologis gigi anterior adalah kasus yang sering dijumpai di ruang praktek. Keadaan
ini merupakan masalah di bidang estetik dan fungsi. Dalam bidang periodontal keadaan ini
merupakan pertanda suatu kelainan periodontal lanjut, yang dapat melibatkan gigi posterior
rahang atas ataupun rahang bawahnya. Kerusakan tulang dan jaringan penyangga gigi yang
terjadi, dapat melibatkan satu atau beberapa gigi, karenanya kecermatan pemeriksaan harus
dilakukan. Perawatan yang biasa dilakukan adalah dengan melakukan intrusi, untuk
menggerakan gigi ke koronal. Beberapa peneliti menyebutkan bahwa pergerakan ini dapat
mengembalikan kerusakan tulang yang telah terjadi. Penelitian secara klinis dan histologis
menunjukkan kemungkinan untuk terjadinya attachment yang baru, mengembalikan estetik dan
fungsi pada pergerakan intrusi gigi.
Perawatan ortodontik dalam beberapa kasus memberikan manfaat pada penderita
periodontitis dewasa, seperti memperbaiki crowded/malposisi anterior rahang atas dan rahang
bawah yang akan memudahkan penderita untuk menjaga kebersihan gigi dan mulutnya,
mereposisi gigi vertikal dalam beberapa kasus akan memperbaiki defek tulang yang terjadi,
memperbaiki estetik yang berhubungan dengan batas margin gingival, memperbaiki keparahan
kerusakan tulang anterior rahang atas, memperbaiki embrasur yang terbuka untuk memperbaiki
hilangnya papilla, dan memperbaiki posisi gigi pada kasus gigi yang drifting dan tipping.

Sumber:
Prahasanti, Chiquita.Jurnal Kelainan Periodontal Pra dan Pasca Perawatan Ortodonti.Jurnal
PDGI Makasar, http://pdgimakassar.org/journal/file_jurnal/1607030343181Chiquita-
fulteksNaskahPresentasiMAKSI-3.pdf (diakses 17 Mei 2017)

Learning Objective 2
Keberhasilan perawatan periodontitis agresif tergantung pada diagnosis awal, dilanjutkan dengan
terapi melawan infeksi mikroorganisme dan menghindari lingkungan bebas infeksi untuk
penyembuhan. Banyak peneliti menganjurkan terapi kombinasi bedah atau non bedah root
debridement dan menggunakan tambahan antibiotik dilaporkan sebagai treatment optimal.
Dilaporkan beberapa peneliti sukses perawatan menggunakan tetrasiklin yang kadang berurutan
atau dilanjutkan dengan metronidazol. Pemberian metronidazol kombinasi dengan amoksisilin
digunakan terutama pada tetrasiklin resisten terhadap A. actinomycetemcomitan. Kegagalan
terapi standar perlu melakukan tes laboratorium dari sampel plak untuk mengidentifikasi bakteri
yang resisten terhadap antibiotik yang digunakan.
Tabel. Terapi Antibiotik Umum untuk Perawatan Periodontitis Agresif
Jenis Antibiotik Dosis Durasi
Tetracyclin HCl 250 mg 4x sehari, selama 12-14 hari
Metronidasol 500 mg 3x sehari, selama 7 hari
Doxyciclin 200 mg Satu hari dilanjutkan 100 mg perhari,
selama 14 hari
Metronidasol + amoksisilin 250 mg + 375 mg* 3x sehari selama 7 hari
Metronidasol + ciprofloxacin Masing-masing 500 mg 2x sehari selama 8 hari
*dosis amoksisilin di Eropa

Terapi antibiotik pada kasus periodontal dapat dilakukan secara sistemik dan lokal. Pada
pemakaian lokal diberikan secara terpisah atau sebagai tambahan scaling dan root planing.
Perawatan dengan pemberian agensia khemoterapuetik lokal tersebut bisa berupa antibiotik misal
Tetracycline containing fiber, Subgingival Doxycycline, Subgingival Minocyclyne dan
Subgingival Metronidazole, bisa juga berupa agensia antiseptik seperti khlorheksidin glukonat.
Root debridement merupakan tindakan scaling subgingiva dan root planing, merupakan tindakan
yang kompleks dan sulit dilakukan dibandingkan dengan scaling supragingiva. Hal ini
disebabkan karena kalkulus subgingiva biasanya lebih keras dibandingkan kalkulus
supragingiva, dan lokasinya pada daerah akar yang tidak rata dan tersembunyi sehingga kalkulus
sulit dilepaskan. Oleh karena itu sering dilakukan root debridement dengan pembedahan, yaitu
membuat flap agar area akar terlihat jelas dan pemakaian alat bisa sempurna.

Sumber:
Herawati, Dahlia.2011. Terapi Kombinasi Root Debridement dan Antibiotik terhadap
Periodontitis Agresif. Majalah Kedokteran Gigi Indonesia 17(2),
https://jurnal.ugm.ac.id/mkgi/article/view/15426 (diakses pada 17 Mei 2017)

Learning Objective 3
Setelah perawatan pada hiperplasi gingiva, instruksi yang paling tepat adalah control plak
agar tidak terjadi kekambuhan salah satunya dengan DHE (Dental Health Education). Cara
menyikat gigi pada pasien yang menggunakan alat ortodonsi cekat yakni waktu yang dibutuhkan
untuk menyikat gigi lebih lama, tepat waktu yakni pagi setelah sarapan dan malam sebelum
tidur, menggunakansikat gigi khusus, dan metodenya tepat. Kemudian juga dianjurkan untuk
menggunakan obat kumur clorhexidine. Selama menggunakan klorheksidin sebagai obat kumur,
pasien tidak dianjurkan mengonsumsi teh, kopi, dan merokok karena dapat menimbulkan stain
pada gigi. Terapi pemeliharaan pada pasien dengan kelainan periodontal sedang diberikan dalam
interval waktu 2-4 bulan.
Beberapa perusahaan sikat gigi telah membuat sikat gigi khusus pemakai fixed bridge
ortodonsi. Sikat gigi ini di kenal sebagai sikat gigi bi-level. Yang membuat sikat gigi ini berbeda
dengan sikat gigi biasa adalah bi-level memiliki bulu sikat pada bagian pinggir yang panjang dan
bagian tengah yang lebih pendek.bulu sikatnya dirancang sedemikian rupa agar baris terluar
relative lembut dan tersusun dari yang panjang ke pendek secara bertahap. Sikat gigi khusus ini
digunakan karena mampu membersihkan kotoran yang menempel di sela sela gigi dan fixed
bridge ortodonsi yang tidak bisa di jangkau oleh sikat gigi biasa. Yang perlu diperhatikan pasien
dalam penggunaan sikat gigi ini adalah pengaplikasian secara hati hati agar tidak sampai
merusak fixed bridge ortodonsi yang digunakan.
Pengendalian terhadap kambuhnya penyakit periodontal pada umumnya dilakukan pada
fase pemeliharaan. Oleh karena itu dokter gigi sebaiknya menyarankan pasien untuk melakukan
kunjungan periodik.

Kunjungan Periodik
Satu tahun pertama: Kunjungan periodik tidak lebih 3 bulan
Satu tahun selanjutnya :
1. Dibedakan Klas A, B dan C
2. Tergantung keparahan periodontal
3. Dapat dilakukan GP atau Spesialis

1. Kunjungan Periodik Tahun I


Dilakukan perawatan rutin tiap 3 bulan
1-2 bulan diindikasikan untuk pasien dengan masalah seperti: Kasus sulit
dengan komplikasi protesa, FI, ratio mahkota:akar kurang, kekooperatifan
pasien meragukan

2. Kunjungan Periodik Kelas A


Dilakukan setiap 6 bulan 1 tahun, diindikasikan untuk:
1. Hasil fase perawatan sempurna dan dapat dipertahankan dengan baik
2. OH baik, kalkulus minimal
3. Tidak ada gangguan oklusi, protesa
4. Tidak ada poket
5. Tidak ada gigi dengan sisa tulang alveolar kurang dari 50%

3. Kunjungan Periodik Klas B


Dilakukan setiap 3 - 4 bulan, diindikasikan untuk:
1. Hasil fase perawatan baik yang dapat dipertahankan selama 1 tahun lebih
2. OH buruk, pembentukan kalkulus parah
3. Ada kelainan sistemik
4. Masih terdapat poket, 20 % BOP (+)
5. Terdapat problem oklusi, protesa, terapi ortodonsi
6. Terdapat gigi dengan sisa tulang alveolar kurang dari 50%
7. Perokok
8. Karies kambuhan
9. Tes genetik atau riwayat keluarga positif

4. Kunjungan Periodik Klas C


Dilakukan setiap 1-3 bulan, diindikasikan pada pasien:
1. Hasil buruk setelah perawatan periodontal
2. OH buruk, pembentukan kalkulus parah
3. Ada kelainan sistemik
4. Masih terdapat poket, 20 % BOP (+)
5. Terdapat problem oklusi, protesa, terapi orto
6. Banyak gigi dengan sisa tulang alveolar kurang dari 50%
7. Perokok
8. Karies kambuhan
9. Tes genetik atau riwayat keluarga (+)