Anda di halaman 1dari 10

TUGAS INTERNAL AUDIT

RESUME BAB 7

MELAKSANAKAN AUDIT INTERNAL YANG EFEKTIF

KELOMPOK 6

Nama Anggota :
1. Attar Ria Kusuma (041511323045)
2. Ferry Mustiko A. N. (041511323046)
3. Fahmi Putri W. (041511323049)
4. Bill Ganda Putra (041511323050)
5. Viola Khatulistiwa (041511323052)
6. Rahmawati H. (041511323056)

PROGAM STUDI S1 ALIH JENIS AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

2017

BAB 7

MELAKSANAKAN AUDIT INTERNAL YANG EFEKTIF


A. Perencanaan dan Pengorganisasian Audit Internal
Sebelum melaksanakan fungsi internal audit, perlu disusun sebuah konsep dasar yang
akan menjadi pijakan pelaksanaan audit internal yang terdiri dari:
Adanya rencana yang efektif serta charter sebagai bukti komitmen pelaksaaan
audit internal
Adanya perencanaan audit jangka panjang
Adanya standar atau pendekatan yang efektif dalam melaksanakan audit internal
Ketiga hal dimaksud harus dilandasi oleh pemahaman internal auditor terhadap
kerangka pengendalian internal COSO, dengan demikian mereka mampu
melaksanakan perannnya sebagai mata dan telinga bagi komite audit dan senior
management.
B. Persiapan Audit Internal
Pelaksanaan audit internal sebaiknya direncanakan dengan baik, dengan
mempertimbangkan rencana tahunan dan proses penilaian risiko. Selain itu, sebaiknya
rencana audit juga mempertimbangkan faktor seperti adanya permintaan khusus dari
komite audit, ataupun adanya keterjadian yang tidak direncanakan seperti perubahan
regulasi, atau peristiwa ekonomi yang mempengaruhi organisasi tersebut.
Berikut ini beberapa aktivitas persiapan audit yang secara umum dilakukan oleh para
audito internal:
a. Menentukan tujuan audit
Tujuan audit akan meliputi setidaknya satu periode fiskal dari suatu
organisasi/perusahaan. Tujuan jangka panjang ini ditetapkan berdasarkan
permintaan manajemen, komite audit, kapabilitas staf audit, nature dari pekerjaan
audit sebelumnya, ketersediaan sumber daya, dan risiko ang dihadapi oleh
organisasi. Tujuan audit tidak harus berupa rencana yang mendetail, tetapi harus
memiliki informasi yang memadai untuk menggambarkan apa yang akan dicapai
dalam pelaksanaan audit internal nantinya.
b. Penyusunan jadwal dan estimasi waktu audit
Jadwal dan estimasi waktu audit akan sangat bergantung pada nature dari aktivitas
audit yang akan dilaksanakan, serta ketersediaan dan kapabilitas sumber daya.
c. Survey Pendahuluan
Setelah disusun rencana, dan jadwal audit internal yang akan dilaksanakan, maka
auditor perlu melaksanakan survey pendahuluan untuk melihat apakah rencana dan
jadwal yang telah disusun dapat dilaksanakan atau perlu dilakukan penyesuaian
lebih lanjut.
Survey pendahuluan ini dilaksanakan dengan cara:
Mereviu kertas kerja audit sebelumnya
Reviu ini dilaksanakan untuk mendapatkan pemahaman akan pendekatan yang
digunakan dan hasil yang dicapai dengan menggunakan pendekatan tersebut.
Selain itu, pemahaman akan pendekatan yang digunakan akan membantu
proses perencanaan yang lebih efektif dan efisien.
Mereviu laporan audit sebelumnya
Temuan dalam audit sebelumnya perlu mendapatkan perhatian lebih dari
internal auditor, terutama terhadap komitmen manajemen untuk melakukan
tindakan perbaikan atau melaksanakan rekomendasi dari auditor sebelumnya.
Laporan audit sebelumnya juga memberikan gambaran akan area-area audit
yang perlu diperhatikan oleh auditor saat ini, terutama area dimana terdapat
permasalahan yang tidak tercapai kesepakatan antara manajemen dan auditor.
Survey/observasi terhadap struktur organisasi
Auditor harus mendapatkan struktur organisasi dan orang-orang yang
bertanggung jawab di dalamnya, juga informasi akan key person dalam setiap
area aktivitas manajemen. Hal ini akan membantu auditor dalam memahami
proses bisnis dan alur tanggung jawab dalam proses tersebut, yang mana akan
mempermudah proses identifikasi kelemahan proses bisnis dimaksud.
Mereviu data-data lain yang sifatnya material dan merupakan data pendukung
bagi penyusunan rencana dan jadwal audit.
Data pendukung disini meliputi juga data temuan dari eksternal auditor, serta
reviu terhadap regulasi atau publikasi lainnya yang mempengaruhi organisasi.
C. Pelaksanaan Audit Internal
Setelah segala persiapan untuk melaksanakan audit internal, maka langkah selanjutnya
adalah menyampaikan informasi terkait dengan pelaksanaan audit dimaksud kepada
auditee yang meliputi informasi tentang kapan, siapa dan kenapa akan dilaksanakan
audit internal. Informasi ini disampaikan kepada auditee dengan menggunakan sebuah
dokumen, yaitu engagement letter.
Engagement letter berisi antara lain:
Alamat tujuan surat, yaitu dapat ditujukan kepada manajer, atau pihak yang
bertanggung jawab terhadap suatu unit tertentu
Tujuan dan ruang lingkup audit
Jangka waktu pelaksanaan audit, kapan akan dimulai dan diakhiri
Auditor yang bertanggung jawab untuk melaksanakan audit
Kebutuhan auditor yang perlu disiapkan oleh auditee
Kopi dari engagement letter
Laporan operasi lainnya yang berkaitan dengan auditee.
Setelah proses ini dilakukan, auditoe telah bertemu dengan pihak yang berwenang dari
auditee, maka selanjutnya akan dilakukan fieldwork audit. Kegiatan ini bertujuan
untuk mengumpulkan informasi yang mendasari proses audit selanjutnya, termasuk
sebagai background dalam penyusunan kebijakan dan perbaikan prosedur. Kegiatan ini
juga dilaksanakan dalam rangka meningkatkan pemahaman anggota tim terhadap area
yang sedang diaudit, serta untuk menetapkan dokumentasi terhadap prosedur yang
sedang diaudit.
a. Internal Audit Field Survey
Survey ini dilakukan untuk menetapkan arah pelaksanaan audit, ruang lingkup
secara mendetail, dan perpanjangan proses audit. Dengan melakukan survey ini,
auditor dapat lebih mengenali dan memahami proses bisnis yang dilaksanakan oleh
auditee serta mengevaluasi struktur pengendalian dan level dari risiko
pengendalian dalam beragam proses dan sistem yang termasuk dalam lingkup
audit. Beberapa informasi yang diperoleh dan digunakan dalam tahapan ini adalah
informasi tentang struktur organisasi, manual/prosedur operasi, laporan-laporan
terkait operasi auditee, hasil observasi secara personal, dan hasil diskusi dengan
key personel.
b. Documenting the Internal Audit Survey
Informasi yang diperoleh dalam tahapan ini harus didokumentasikan dalam kertas
kerja audit, yang nantinya dapat digunakan untuk memperbaiki atau mengubah
teknik audit yang akan digunakan agar lebih sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai.
c. Field Survey Auditor Conclusions
Seringkali perencaaan audit yang disusun sebelum melaksanakan audit tidak sesuai
dengan kondisi auditee yang sebenarnya karena masih menggunakan asumsi-
asumsi auditor. Oleh karena itu, setelah memperoleh informasi dari tahapan ini,
perencanaan audit tersebut harus segera dievaluasi dan diperbaiki.
D. Pengembangan dan Persiapan Program Audit
Program audit adalah prosedur yang menggambarkan langkah-langkah dan pengujian
yang akan dilaksanakan oleh auditor dalam menjalankan proses audit. Program audit
sebaiknya diselesaikan segera setelah auditor melaksanakan survey pendahuluan dan
sebelum melaksanakan aktivitas audit yang sebenarnya.
Dua faktor penting dalam penyusunan program audit adalah:
1. Bahwa program audit telah mengidentifikasi seluruh aspek dari area yang akan
diuji, dan tingkat sensitivitas dari area tersebut terhadap pendekatan audit yang
akan dilaksanakan.
2. Bahwa program audit adalah sebagai alat panduan dalam melaksanakan aktivitas
audit.
Sedangkan format program audit sendiri dapat berbentuk antara lain:
Sebagai satu set prosedur yang bersifat umum

Sebagai prosedur audit dengan instruksi yang mendetail


Sebagai checklist pengujian kepatuhan.

Sebagaimana diatur dalam standar IIA bahwa auditor internal sebaknya menguji dan
mengevaluasi setiap informasi yang berkaitan dengan tujuan audit yang telah
direncanakan. Setiap informasi dimaksud adalah bukti audit, yang melingkupi seluruh
kegiatan reviu dan observasi yang dilakukan oleh auditor. Dasar evaluasi terhadap
informasi yang kemudian dapat dijadikan sebagai bukti audit adalah harus memenuhi
kriteria sufficient, competent, relevant, and useful. Program audit sebaiknya dapat
menuntun auditor dalam memperoleh informasi yang selanjutnya dapat digunakan
sebagai bukti audit. Penggunaan beberapa macam/tipe bukti audit sekaligus tentu akan
sangat berguna dalam menyusun simpulan hasil audit. Berikut ini adalah beberapa
macam tipe audit berdasarkan tingkat objektivitasnya yang dapat digunakan dalam
menyusun simpulan audit oleh auditor:
Tahapan audit yang disusun dalam program audit juga akan bergantung pada
karakteristik dari organisasi yang diaudit. Walaupun demikian, secara umum, audit
internal harus dilaksanakan dan disupervisi berdasarkan standar yang ada. Hal
dimaksud akan menjamin bahwa audit telah dilakukan secara memadai dan terkendali.
E. Pelaksanaan Audit Internal
a. Internal audit fieldwork initial procedures
Proses audit internal dapat saja mengganggu rutininas operasi bisnis auditee,
sehingga auditor perlu mengkomunikasikan tentang jadwal dan tujuan pelaksanaan
audit internal ini dengan pihak auditee. Selain itu, auditor juga harus mendapatkan
komitmen dari auditee terhadap pelaksanaan audit internal dimaksud, terutama
dalam hal penyediaan data dan laporan yang dibutuhkan oleh auditor internal. Jika
pada pelaksanaannya terdapat key person yang tidak kooperatif, maka auditor dapat
membahasnya dengan pihak yang berwenang dari auditee, atau merevisi strategi
auditnya antara lain dengan:
Merevisi program dan prosedur audit yang akan dilakukan, misalkan dengan
melakukan uji tambahan di area lain, dsb.
Melengkapi proses audit tanpa menyelesaikan audit di area yang bermasalah,
tetapi pendekatan ini harus mendapatkan persetujuan dari pihak yang
berwenang.
Menyelesaikan program audit yang telah direncanakan, dan menyusun kembali
uji ulang terhadap area yang bermasalah.
b. Audit fieldwork technical assistance
Timbulnya permasalahan yang bersifat teknis dalam proses audit internal, dimana
auditor internal tidak berkompetensi dalam bidang teknis dimaksud, harus diatasi
dengan melaksanakan asistensi dari orang-orang yang memiliki kompetensi pada
bidang dimaksud. Permasalahan tersebut juga harus selalu didokumentasikan
dalam kertas kerja audit, sehingga dapat digunakan sebagai bahan pendukung
penyusunan rencana audit berikutnya.
c. Audit management fieldwork monitoring
Manajemen audit internal harus meninjau kemajuan audit secara berkala dan memberikan
arahan teknis melalui kunjungan dan komunikasi. Frekuensi dan tingkat kunjungan akan
tergantung pada kekritisan review, pengalaman dari staf yang ditugaskan, dan ukuran
review. Sebuah tinjauan dipimpin oleh auditor yang berpengalaman dan bertanggung
jawab meliputi bidang-bidang familiar, jika jalur komunikasi yang baik maka tidak
memerlukan tinjauan manajemen. Namun, jika Audit meliputi area kritis, jika program
baru atau teknik-teknik baru yang digunakan, atau jika auditor yang ditugaskan memiliki
pengalaman terbatas di daerah penugasan, maka anggota manajemen audit yang
berpengalaman harus mengunjungi proyek kerja lapangan secara berkala. Tujuan dari
kunjunganh untuk meninjau kemajuan pekerjaan dan untuk membantu menyelesaikan
setiap masalah yang dihadapi.
d. Potential audit findings
Kapanpun auditor menemukan hal yang berpotensi sebagai temuan/ kelemahan dari
sistem pengendalian, maka uraian kondisi dimaksud dan rekomendasi perbaikan
harus segera dipersiapkan. Uraian dimaksud sering dimuat dalam audit preliminary
finding sheet yang berisikan antara lain:
Identifikasi temuan
Kondisi yang terjadi
Referensi kondisi/temuan pada dokumentasi kerja
Usulan/rekomendasi perbaikan dari auditor
Hasil diskusi tentang temuan dengan pihak manajemen
Rekomendasi yang telah disepakati untuk dilaksanakan oleh manajemen
e. Audit program and schedule modifications
Auditor harus responsif terhadap bukti baru, perubahan dalam sistem pendukung,
dan perubahan lain sesuai dengan kondisi di lapangan. Pada tahap awal audit,
mungkin perlu untuk mengarahkan beberapa direncanakan tugas staf serta
memodifikasi beberapa langkah program audit. Perubahan tersebut sebelumnya
harus memperoleh persetujuan dari audit manajemen.

f. Reporting preliminary audit findings to management


Tim audit lapangan harus meninjau semua temuan potensial dengan manajemen
unit sebelum meninggalkan lokasi. Hal tersebut akan memungkinkan audit internal
untuk menyajikan temuan awal dan rekomendasi kepada manajemen unit untuk
mendapatkan reaksi dan komentar mereka. Hal ini juga memberikan kesempatan
kepada kedua belah pihak untuk memperbaiki kesalahan pada temuan awal laporan
audit sebelum audit internal meninggalkan lokasi.
F. Penyelesaian Penugasan Audit Internal
Audit internal harus dikelola dengan cara yang sama seperti setiap proyek besar yang
membutuhkan personil waktu dan sumber daya lainnya dan mengakibatkan
penyampaian yang terdefinisikan. Sumber personil dan biaya lainnya harus
direncanakan dan dianggarkan secara rinci. Produk kerja audit internal yang paling
penting adalah laporan audit formal bersama dengan temuan dan rekomendasi, yang
disampaikan kepada auditee serta komite audit. Tidak peduli perusahaan besar atau
kecil fungsi internal audit, sistem kinerja-pelaporan proyek audit harus ditetapkan.
G. Pelaksanaan Individual Audit Internal
Kunci kebutuhan terpenting dari audit internal adalah kemampuan untuk
merencanakan dan melakukan audit internal pada setiap individu. Karena begitu
banyak jenis audit internal yang dilakukan, kita tidak mencoba menguraikan langkah-
langkah yang diperlukan untuk melakukan satu audit internal umum. Namun, auditor
internal harus memiliki pemahaman yang baik tentang Standar Internasional untuk
Praktek Profesional Audit Internal, sebagai perencanaan audit dan kinerja alat internal.
Standar adalah kunci, namun. Mereka menguraikan langkah-langkah yang harus auditor
internal ikuti.
Berikut ini adalah gambaran singkat dari pelaksanaan proses audit internal