Anda di halaman 1dari 24

BAB V

KONSOLIDASI

Tujuan Instruksional Umum


Setelah mempelajari bab ini mahasiswa dapat menghitung besarnya penurunan tanah
akibat beban luar.
Tujuan Instruksional Khusus
a. Mahasiswa dapat memahami konsep konsolidasi tanah.
b. Mahasiswa dapat mengintepretasi hasil pengujian konsolidasi tanah.
c. Mahasiswa dapat menghitung penurunan konsolidasi

5.1 Pendahuluan.
Bila lapisan tanah jenuh berpermeabilitas rendah dibebani, maka tekanan air pori
di dalam tanah tersebut segera bertambah. Perbedaan tekanan air pori pada lapisan
tanah, berakibat air mengalir ke lapisan tanah dengan tekanan air pori yang lebih
rendah, yang diikuti penurunan tanahnya. Karena permeabilitas tanah yang rendah,
proses ini membutuhkan waktu.
Konsolidasi adalah proses berkurangnya volume atau berkurangnya rongga pori
dari tanah jenuh berpermeabilitas rendah akibat pembebanan, dimana prosesnya
dipengaruhi oleh kecepatan terperasnya air pori keluar dari rongga tanah. Proses
konsolidasi dapat diamati dengan pemasangan piezometer, untuk mencatat
perubahan tekanan air pori dengan waktunya. Besarnya penurunan dapat diukur
dengan berpedoman pada titik referensi ketinggian pada tempat tertentu.
Penambahan beban di atas suatu permukaan tanah dapat menyebabkan lapisan
tanah di bawahnya mengalami pemampatan. Pemampatan tersebut disebabkan oleh
adanya deformasi partikel tanah, relokasi partikel, keluarnya air atau udara dari
dalam pori, dan sebab-sebab lain. Beberapa atau semua factor tersebut mempunyai
hubungan dengan keadaan tanah yang bersangkutan. Secara umum, penurunan
(settlement) pada tanah yang disebabkan oleh pembebanan dapat dibagi dalam 2
(dua) kelompok besar, yaitu :

Jurusan Teknik Sipil


V-1
1. Penurunan Konsolidasi (consolidation settlement), yang merupakan hasil dari
perubahan volume tanah jenuh air sebagai akibat dari keluarnya air yang
menempati pori-pori tanah.
2. Penurunan Segera (immediate settlement), yang merupakan akibat dari
deformasi elastis tanah kering, basah dan jenuh air tanpa adanya perubahan
kadar air. Perhitungan penurunan segera umumnya didasarkan pada penurunan
yang diturunkan dari teori elastisitas.

5.2 Dasar Konsolidasi Satu Dimensi.


Mekanisme proses konsolidasi satu dimensi (one dimensional consolidation) dapat
digambarkan dengan cara analisis seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5.1. Silinder
berpiston yang berlubang dan dihubungkan dengan pegas, diisi air sampai memenuhi
volume silinder. Pegas dianggap bebas dari tegangan-tegangan dan tidak ada gesekan
antara dinding silinder dengan tepi piston. Pegas melukiskan tanah yang mudah
mampat, sedangkan air dalam piston melukiskan air pori dan lubang pada piston
melukiskan kemampuan tanah dalam meloloskan air atau permeabilitas tanahnya.

Gambar 5.1 Analogi piston dan pegas.

1. Gambar 5.1a, melukiskan kondisi dimana system dalam keseimbangan. Kondisi ini
identik dengan lapisan tanah yang dalam keseimbangan dengan tekanan overburden.
Alat pengukur tekanan yang dihubungkan dengan silinder memperlihatkan tekanan
hidrostatis sebesar uo, pada lokasi tertentu di dalam tanah.
2. Gambar 5.1b, tekanan p dikerjakan di atas piston dengan posisi katup V tertutup.
Namun akibat tekanan ini, piston tetap tidak bergerak, karena air tidak dapat keluar

Jurusan Teknik Sipil


V-2
dari tabung, sedangkan air tidak dapat mampat. Pada kondisi ini, tekanan yang
bekerja pada piston tidak dipindahkan ke pegas, tapi sepenuhnya didukung oleh air.

Pengukur tekanan air dalam silinder menunjukkan kenaikkan tekanan sebesar


u = p, atau pembacaan tekanan sebesar uo + p. kenaikan tekanan air pori (u)
tersebut, disebut kelebihan tekanan air pori (excess pore water pressure). Kondisi
pada kedudukan katup V tertutup ini melukiskan kondisi tak terdrainasi (undrained)
di dalam tanah.
3. Gambar 5.1c, katup V telah dibuka, sehingga air dapat keluar lewat lubang pada
piston dengan kecepatan yang dipengaruhi oleh luas lubang. Keluarnya air
menyebabkan piston bergerak ke bawah, sehingga pegas secara berangsur-angsur
mendukung beban akibat p. Pada setiap kenaikan tegangan yang didukung oleh
pegas, kelebihan tekanan air pori (u) di dalam silinder berkurang. Kedudukan ini
melukiskan tanah sedang berkonsolidasi.
4. Gambar 5.1d, akhirnya pada suatu saat, tekanan air pori nol dan seluruh tekanan
p didukung oleh pegas dan piston tidak turun lagi. Kedudukan ini melukiskan
tanah telah dalam kondisi terdrainasi (drained) dan konsolidasi telah berakhir.

Pada sembarang waktunya, tekanan yang terjadi pada pegas identik dengan
kondisi tegangan efektif di dalam tanah. Sedangkan tekanan air di dalam silinder identik
dengan tekanan air pori. Kenaikan tekanan p akibat beban yang diterapkan, identik
dengan tambahan tegangan normal yang bekerja. Gerakan piston menggambarkan
perubahan volume tanah, dimana gerakan ini dipengaruhi oleh kompresibilitas
(kemudahmapatan) pegas, yaitu ekivalen dengan kompresibilitas tanah. Walaupun
model piston dan pegas ini agak kasar, tetapi cukup menggambarkan apa yang terjadi
bila tanah kohesif jenuh di bebani di laboratorium maupun di lapangan.
Prosedur untuk melakukan uji konsolidasi satu-dimensi pertama-tama
diperkenalkan oleh Terzaghi. Uji tersebut dilakukan di dalam sebuah konsolidometer
(kadang-kadang disebut sebagai oedometer). Skema konsolidometer ditunjukkan dalam
Gambar 5.2. Contoh tanah diletakkan di dalam cincin logam dengan dua buah batu
berpori diletakkan di atas dan di bawah contoh tanah tersebut ukuran contoh tanah yang
digunakan biasanya adalah :
Diameter 2,5 inci (63,5 mm)
Jurusan Teknik Sipil
V-3
Tebal 1 inci (25,4 mm).
Pembebanan pada contoh tanah dilakukan dengan cara meletakkan beban pada
ujung sebuah balok datar, dan pemampatan (compression) contoh tanah ukur dengan
menggunakan skala ukur dengan skala micrometer. Contoh tanah selalu direndam air
selama percobaan. Tiap-tiap beban biasanya diberikan selama 24 jam. Setelah itu, beban
dinaikkan sampai dengan dua kali lipat beban sebelumnya, dan pengukuran
pemampatan diteruskan. Pada saat percobaan selesai, berat kering dari contoh tanah
ditentukan.

Gambar 5.2 Skema konsolidometer (oedometer)

Pada umumnya, bentuk grafik yang menunjukkan hubungan antara pemampatan


dan waktu adalah seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 5.3. Dari grafik tersebut
dapat dilihat bahwa ada 3 (tiga) tahapan yang berbeda yang dapat dijalankan sebagai
berikut :
Tahap I :
Pemampatan awal (initial compression), yang pada umumnya adalah
disebabkan oleh pembebanan awal (preloading).
Tahap II :
Konsolidasi primer (primary consolidation), yaitu periode selama tekanan
air pori secara lambat laun dipindahkan ke dalam tegangan efektif, sebagai
akibat dari keluarnya air dari pori-pori tanah.
Tahap III :

Jurusan Teknik Sipil


V-4
Konsolidasi sekunder (secondary consolidation), yang terjadi setelah
tekanan air pori hilang seluruhnya. Pemampatan yang terjadi di sini adalah
disebabkan oleh penyesuaian yang bersifat plastis dari butir-butir tanah.

Gambar 5.3 Grafik waktu-pemampatan selama konsolidasi untuk suatu


Penambahan beban yang diberikan.

Jurusan Teknik Sipil


V-5
Gambar 5.4 Perubahan tinggi contoh tanah pada uji konsolidasi satu dimensi.

Setelah mendapatkan grafik antara waktu dan pemampatan untuk besar


pembebanan yang bermacam-macam dari percobaan di laboratorium, selanjutnya
penting bagi kita untuk mempelajari perubahan angka pori terhadap tekanan. Berikut ini
adalah langkah demi langkah urutan pelaksanaannya :
1. Hitung tinggi butiran padat (Hs), pada contoh tanah (Gambar 5.4) :
Ws
Hs ..................................................................................... (5.1)
A.Gs. w

dimana :
Ws = berat kering contoh tanah
A = luas penampang contoh tanah
Gs = berat spesifik contoh tanah
w = berat volume air
2. Hitung tinggi awal dari ruang pori (Hv) :

H v H H s ....................................................................................... (5.2)

dimana :
H = tinggi awal contoh tanah
3. Hitung angka pori awal (eo), dari contoh tanah :
Vv H v .A Hv
eo ......................................................................... (5.3)
Vs H s .A Hs

4. Untuk penambahan beban pertama p1 (beban total/luas penampang contoh tanah),


yang menyebabkan penurunan H1, hitung perubahan angka pori e1 :
H 1
e1 .......................................................................................... (5.4)
Hs

5. Hitung angka pori yang baru (e1), setelah konsolidasi yang disebabkan oleh
penambahan tekanan p1 :
e1 eo e1 ....................................................................................... (5.5)

Untuk beban berikutnya, yaitu p2 (catatan : p2 sama dengan beban kumulatif per
satuan luas contoh tanah), yang menyebabkan penambahan pemampatan sebesar H2,
angka pori e2 pada saat akhir konsolidasi dapat dihitung sebagai berikut :
Jurusan Teknik Sipil
V-6
H 2
e2 e1 .................................................................................... (5.6)
Hs

Dengan melakukan cara yang sama, angkapori pada saat akhir konsolidasi untuk semua
penambahan beban dapat diperoleh.
Tekanan total (p) dan angka pori yang bersangkutan (e) pada akhir konsolidasi
digambar pada kertas semi-logaritma. Bentuk umum dari grafik e versus log p adalah
seperti ditunjukkan dalam Gambar 5.5.

Gambar 5.5 Bentuk khas grafik e versus log p

5.3 Lempung NC dan OC.


Istilah normally consolidated dan overconsolidated digunakan untuk
menggambarkan suatu sifat penting dari tanah lempung. Lapisan tanah lempung
biasanya terjadi dari proses pengendapan. Selama proses pengendapan, lempung
mengalami konsolidasi atau penurunan, akibat tekanan tanah yang berada di atasnya.
Lapisan-lapisan tanah yang berada di atas suatu ini suatu ketika mungkin kemudian
hilang akibat proses alam. Hal ini berarti tanah lapisan bagian bawah pada suatu saat
dalam sejarah geologinya pernah mengalami konsolidasi akibat dari tekanan yang lebih
besar dari tekanan yang bekerja sekarang. Tanah semacam ini disebut tanah
overconsolidated (OC) atau terkonsolidasi berlebihan. Kondisi lain, bila tegangan

Jurusan Teknik Sipil


V-7
efektif yang bekerja pada suatu titik di dalam tanah pada waktu sekarang merupakan
tegangan maksimumnya (atau tanah tidak pernah mengalami tekanan yang lebih besar
dari tekanan pada waktu sekarang), maka lempung disebut pada kondisi normally
consolidated (NC) atau terkonsolidasi normal.
Jadi, lempung pada kondisi normally consolidated, bila tekanan prakonsolidasi
(preconsolidation pressure, pc) sama dengan tekanan overburden efektif (po). Sedang
lempung pada kondisi overconsolidated, jika tekanan prakonsolidasi lebih besar dari
tekanan overburden efektif yang ada pada waktu sekarang (pc > po). Nilai banding
overconsolidation (overconsolidation Ratio, OCR) didefinisikan sebagai nilai banding
tekanan prakonsolidasi terhadap tegangan efektif yang ada, atau bila dinyatakan dalam
persamaan :
Pc'
OCR ' ............................................................................................... (5
Po
Tanah normally consolidated mempunyai nilai OCR = 1, dan tanah
overconsolidated bila mempunyai OCR > 1. Dapat ditemui pula, tanah lempung
mempunyai OCR < 1. Dalam hal ini tanah adalah sedang mengalami konsolidasi
(underconsolidated). Kondisi underconsolidated dapat terjadi pada tanah-tanah yang
baru saja diendapkan baik secara geologis maupun oleh manusia. Dalam kondisi ini,
lapisan lempung belum mengalami keseimbangan akibat beban di atasnya. Jika tekanan
air pori diukur dalam kondisi underconsolidated, tekanannya akan melebihi tekanan
hidrostatisnya.

Jurusan Teknik Sipil


V-8
Gambar 5.6 Karakteristik konsolidasi lempung yang terkonsolidasi secara
normal (Normally consolidation) dengan sensitivitas rendah
sampai sedang.

Telah disebutkan bahwa akibat perubahan tegangan efektif, tanah dapat menjadi
overconsolidated. Perubahan tegangan efektif ini, misalnya akibat adanya perubahan
tegangan total, atau perubahan tekanan air pori. Lapisan tanah yang terkonsolidasi
sebenarnya tidak dalam kondisi seimbang seperti yang sering diperkirakan. Perubahan
volume dan rangkak (creep) sangat mungkin masih berlangsung pada tanah tersebut.
Dalam lapisan tanah asli, dimana permukaan tanah tersebut horizontal, keseimbangan
mungkin didapatkan. Tetapi kalau tanah tersebut permukaannya miring, rangkak dan
perubahan volume mungkin masih terjadi.

Gambar 5.7 Karakteristik konsolidasi lempung yang terkonsolidasi


(Overconsolidation) dengan sensitivitas rendah sampai
sedang.

Keadaan ini dapat dibuktikan di laboratorium dengan cara membebani contoh


tanah meleihi tekanan overburden maksimumnya, lalu beban tersebut diangkat
(unloading) dan diberikan lagi (reloading). Grafik e versus log p untuk keadaan tersebut
di atas ditunjukkan dalam Gambar 5.6, dimana cd menunjukkan keadaan pada saat
beban diangkat dan dfg menunjukkan keadaan pada saat beban diberikan kembali.
Keadaan ini mengarahkan kita kepada dua definisi dasar yang didasarkan pada sejarah
tegangan :

Jurusan Teknik Sipil


V-9
1. Terkonsolidasi secara normal (normally consolidated), dimana tekanan efektif
overburden pada saat ini adalah merupakan tekanan maksimum yang pernah
dialami oleh tanah itu.
2. Terlalu terkonsolidasi (overconsolidated), dimana tekanan efektif overburden
pada saat ini adalah lebih kecil dari tekanan yang pernah dialami oleh tanah itu
sebelumnya. Tekanan efektif overburden maksimum yang pernah dialami
sebelumnya dinamakan tekanan prakonsolidasi (preconsolidation pressure).

Gambar 5.8 Grafik e vs log p yang menunjukkan keadaan akibat pembebanan (loading),
pengangkatan beban (unloading), dan pembebanan kembali (reloading).

Casagrande (1936) menyarankan suatu cara yang mudah untuk menentukan


besarnya tekanan prakonsolidasi (pc), dari grafik e versus log p yang digambar dari hasil
percobaan konsolidasi di laboratorium. Prosedurnya adalah sebagai berikut (lihat
Gambar 5.7) :
1. Dengan melakukan pengamatan secara visual, tentukan titik a di mana grafik e
versus log p mempunyai jari-jari kelengkungan yang paling minimum.
2. Gambar garis datar ab.
3. Gambar garis singgung ac pada titik a.
4. Gambar garis ad yang merupakan garis bagi sudut bac.

Jurusan Teknik Sipil


V-10
5. Perpanjang bagian grafik e versus log p yang merupakan garis lurus hingga
memotong garis ad di titik f. Absis untuk titik f adalah besarnya tekanan
prakonsolidasi.
Overconsolidation ratio (OCR) untuk suatu tanah dapat didefinisikan sebagai :

pc
OCR ........................................................................................... (5.8)
p

dimana :
pc = tekanan prakonsolidasi
p = tekanan vertical efektif pada saat tanah itu diselidiki.

Gambar 5.9 Prosedur penentuan tekanan prakonsolidasi (pc) dengan cara grafis.

5.4 Intepretasi Hasil Uji Konsolidasi.


Pada konsolidasi satu dimensi, perubahan tinggi (H) per satuan dari tinggi awal
(H) adalah sama dengan perubahan volume
e(V)H
per satuan volume awal (V), atau :
e Rongga pori
H o V
Rongga
.................................................. pori ................................. (5.9
..........
H V
H
V =1 Butiran padat Butiran padat
s

Jurusan Teknik Sipil


(a) (b)
V-11
Gambar 5.8 Fase-fase konsolidasi
(a) sebelum konsolidasi
(b) sesudah konsolidasi
Bila volume padat Vs = 1 dan angka pori awal adalah eo, maka kedudukan akhir
dari proses konsolidasi dapat dilihat dalam Gambar 5.8. Volume padat besarnya tetap,
angka pori berkurang karena adanya e, dari Gambar 5.8 dapat diperoleh persamaan :
e
H H . ...................................................................................... (5.10
1 eo

5.4.1 Koefisien Pemampatan (av) dan Koefosoen Perubahan Volume (mv).


Koefisien pemampatan (av) adalah koefisien yang menyatakan
kemiringan kurva e p (Gambar 5.9a). Jika tanah dengan volume V1 mampat
sehingga volumenya menjadi V2 dan mampatnya tanah dianggap hanya sebagai
akibat pengurangan rongga pori, maka perubahan volume hanya dalam arah
vertikal dapat dinyatakan oleh :
V1 V2 1 e1 1 e2 e1 e2 ............................................ (5.11)

V1 1 e1 1 e1
dimana :
e1 = angka pori pada tegangan p1
e2 = angka pori pada tegangan p2
V1 = volume pada tegangan p1
V2 = volume pada tegangan p2

Kemiringan kurva e p (av) didefinisikan sebagai :

e
av
p
e e2
1' .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... ........ (5.12)
p 2 p1'
Jurusan Teknik Sipil
V-12
Dengan e1 dan e2 adalah angka pori pada tegangan p1 dan p2.

Gambar 5.9 Hasil uji Konsolidasi


(a) Grafik angka pori vs tegangan efektif (e vs p)
(b) Grafik regangan vs tegangan efektif (H / H vs p)

Koefisien perubahan volume (mv) didefinisikan sebagai perubahan volume per


satuan penambahan tegangan efektif. Satuan dari mv adalah kebalikan dari tekanan
(kg/cm2, kN/m2/). Perubahan volume dinyatakan dengan perubahan ketebalan atau
angka pori. Jika terjadi kenaikan tegangan efektif dari p1 ke p2, maka angka pori akan
berkurang dari e1 dan ke e2 (Gambar 5.9b) dengan perubahan tebal H.

Jurusan Teknik Sipil


V-13
V1 V 2 H H2
Perubahan volume 1 ........... (karena luas contoh tet ap)
V1 H1

e1 e 2
............................................... (5.13a)
1 e1

Substitusi Persamaan (3.13a) ke Persamaan (5.12), diperoleh :


a v .p
perubahan volume
1 e1

Karena mv adalah perubahan volume per satuan penambahan tegangan, maka :


a v .p 1
mv .
1 e1 p

av
.......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... ... (5.13b)
1 e1

Nilai mv, untuk tanah tertentu tidak konstan, tetapi tergantung dari besarnya tegangan
yang ditinjau.

Contoh Soal 5.1 :


Diketahui data dari kurva uji konsolidasi seperti yang diperlihatkan dalam Gambar 5.9
(a). Hitunglah av dan mv untuk kenaikan tegangan dari 20 sampai 40 kN/m2.
Penyelesaian :
Dari Gambar 5.9 (a) diperoleh hubungan angka pori dan tegangan untuk :
p1 = 20 kN/m2, e1 = 1,77
p2 = 40 kN/m2, e1 = 1,47
e
av
p
e e2 1,77 - 1,47
1' 0,015 kN/m 2
p 2 p1
'
40 - 20

Dari Gambar 5.9 (b), untuk :


Jurusan Teknik Sipil
V-14
p1 = 20 kN/m2, H1/H = 0,24
p2 = 40 kN/m2, H2/H = 0,31
0,31 - 0,24
mv 0,0035 kN/m 2
40 - 20

Contoh Soal 5.2 :


Hasil uji konsolidasi pada lempung jenuh diperoleh data pada table di bawah ini
Tegangan (p) (kN/m2) Tebal contoh setelah berkonsolidasi (mm)
0 20,000
50 19,649
100 19,519
200 19,348
400 19,151
800 18,950
0,00 19,250

Pada akhir pengujian, setelah contoh tidak dibebani selama 24 jam, diukur kadar airnya
(w) = 24,5 % dan berat jenis tanah (Gs) = 2,70. Gambarkan hubungan angka pori vs
tegangan efektifnya, dan tentukan koefisien pemampatan (av) dan koefisien perubahan
volume (mv) pada tegangan 250 kN/m2 sampai 350 kN/m2.
Penyelesaian :
Pada contoh tanah jenuh berlaku hubungan, e = w.Gs
Maka, angka pori saat ini akhir pengujian : e1 = 0,245 x 2,7 = 0,662
Table contoh pada kondisi akhir, H1 = 19,250 mm lihat tabel diatas
Angka pori pada awal pengujian eo = e1 + e
Pada umumnya, hubungan antara e dan H dapat dinyatakan oleh :
e 1 eo 1 e1 e

H H H
H 20 19,25 0,75 mm

e 1,662 e

0,75 20
e 0,065
eo 0,662 0,065 0,727
e 1 eo 1,727
0,0864
H H 20
e 0,0864.H

Jurusan Teknik Sipil


V-15
5.4.2 Indeks Pemampatan (Compression Index, Cc).
Indeks pemampatan (Cc) adalah kemiringan dari bagian lurus grafik e
log p. Untuk dua titik yang terletak pada bagian lurus dari grafik pada Gambar
5.10, nilai Cc dinyatakan oleh persamaan :
e e1 e2 e1 e2
Cc ............................. (5.14)
log p ' log p 2' log p1' p 2'
log '
p1
Dari penelitian, untuk tanah normally consolidated, Terzaghi dan Peck (1967)
mengusulkan nilai Cc sebagai berikut :

C c 0,009. LL 10 .......... .......... .......... .......... .......... .......... ........ (5.15)

Dengan LL adalah batas cair (liquid limit). Persamaan ini dapat digunakan untuk
tanah lempung anorganik yang mempunyai sensitifitas rendah sampai sedang
dengan kesalahan 30 % (persamaan ini sebaiknya tidak digunakan untuk
sensitifitas lebih besar dari 4).
Terzaghi dan Peck juga mengusulkan hubungan yang sama untuk tanah
lempung dibentuk kembali (remolded) :

C c 0,007. LL 10 .......... .......... .......... .......... .......... .......... ...... (5.16)

Gambar 5.10 Indeks pemampatan (Compression Index, Cc).

Jurusan Teknik Sipil


V-16
Beberapa nilai Cc yang didasarkan pada sifat-sifat tanah pada tempat-tempat
tertentu yang diberikan oleh Azzouz dkk. (1976), sebagai berikut :
Cc = 0,01.wn (untuk lempung Chicago)
Cc = 0,0046.(LL 9) (untuk lempung Brasilia)
Cc = 0,208.eo + 0,0083 (untuk lempung Chicago)
Cc = 0,0115.wn (untuk tanah organic, gambut)
Dengan wn adalah kadar air tanah di lapangan dalam (%) dan eo adalah angka
pori tanah di lapangan.

5.5 Perhitungan Penurunan Konsolidasi Primer Satu Dimensi.


Dengan pengetahuan yang didapat dari analisis hasil uji konsolidasi, sekarang kita
dapat menghitung kemungkinan penurunan yang disebabkan oleh konsolidasi primer di
lapangan, dengan menganggap bahwa konsolidasi tersebut adalah satu-dimensi.
Sekarang mari kita tinjau suatu lapisan lempung jenuh dengan tebal H dan luas
penampang melintang A serta tekanan efektif overburden rata-rata sebesar po.
Disebabkan oleh suatu penambahan tekanan sebesar p, anggaplah penurunan
konsolidasi primer yang terjadi adalah sebesar S. Jadi, perubahan volume (Gambar
5.11) dapat diberikan sebagai berikut :
V Vo V1 H . A H S . A S . A................................................ (5.17)

dimana :
Vo dan V1 adalah volume awal dan volume akhir.

Tetapi, perubahan volume total adalah sama dengan perubahan volume pori (Vv). Jadi :

V S . A Vvo Vv1 Vv ............................................................... (5.18)

dimana :
Vvo dan Vv1 adalah volume awal dan volume akhir dari pori. Dari definisi angka
pori.

Jurusan Teknik Sipil


V-17
Gambar 5.11 Penurunan konsolidasi satu dimensi.

Vv e.Vs ...................................................................................... (5.19)

Dimana : e = perubahan angka pori


Tapi,
Vo A.H
Vs ........................................................................... (5.20)
1 eo 1 eo

dimana : eo = angka pori awal pada saat volume tanah sama dengan Vo.
Jadi, dari Persamaan-persamaan (3.17), (3.18), (3.19) dan (3.20) :
A.H
V S . A e.Vs .e
1 eo

Atau :
e
S H. ..................................................................................... (5.21)
1 eo

Untuk lempung yang terkonsolidasi secara normal di mana e versus log p merupakan
garis lurus. (Gambar 6.12), maka :
e C c log p o p log p o ......................................................... (5.22)
dimana :
Cc = kemiringan kurva e versus log p dan didefinisikan sebagai Indeks
pemampatan (compression index).

Masukan Persamaan (3.22) ke dalam Persamaan (3.21), persamaan yang didapat


adalah :

Jurusan Teknik Sipil


V-18
C c .H p p
S . log o .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... . (3.23)
1 eo p o

Untuk suatu lapisan lempung yang tebal, adalah lebih teliti bila lapisan tanah tersebut
dibagi menjadi beberapa sub-lapisan dan perhitungan penurunan dilakukan secara
terpisah untuk tiap-tiap sub-lapisan. Jadi, penurunan total dari seluruh lapisan tersebut
adalah :
C .H p o i p i
S c i . log .......... .......... .......... .......... .......... ........ (5.24)

1 eo po i
dimana :
Hi = tebal sub-lapisan i
po(i) = tekanan efektif overburden untuk sub-lapisan i
p(i) = penambahan tekanan vertikal untuk sub-lapisan i

Untuk lempung yang terkonsolidasi berlebih (Gambar 5.13), apabila (po + p)


pc lapangan, variasi e versus log p terletak di sepanjang garis cd dengan kemiringan
yang hamper sama dengan kemiringan kurva pantul (rebound curve) yang didapat dari
uji konsolidasi di laboratorium. Kemiringan kurva pantul, Cs, disebut sebagai indeks
pemuaian (swell index). Jadi :

e C s log p o p log p o ...........................................................(5.25)


Dari Persamaan (5.21) dan (5.25), didapat :

C s .H p p
S . log o ......................................................................(5.26)
1 eo po
Apabila po + p > pc :

C s .H p C .H p p
S . log c c . log o .......... .......... .......... .......... ....... (5.27)
1 eo p o 1 eo pc
Jurusan Teknik Sipil
V-19
Akan tetapi, apabila kurva e versus log p tersedia, mungkin saja bagi kita untuk
memilih e dengan mudah dari grafik tersebut untuk rentang (range) tekanan yang
sesuai. Kemudian harga-harga yang diambil dari kurva tersebut dimasukkan ke dalam
Persamaan (5.21) untuk menghitung besarnya penurunan (S).

Gambar 5.12 Karakteristik konsolidasi lempung yang terkonsolidasi secara


normal (normally consolidated) dengan sensitivitas rendah
sampai sedang.

Jurusan Teknik Sipil


V-20
Gambar 5.13 Karakteristik konsolidasi lempung yang terlalu terkonsolidasi
(overconsolidated) dengan sensitivitas rendah sampai sedang.

Gambar 5.14 Karakteristik konsolidasi lempung yang sensitif.

Jurusan Teknik Sipil


V-21
Gambar 5.15 Pengaruh lama pembebanan pada kurva e versus log p.

Gambar 5.16 Pengaruh rasio pembebanan beban pada kurva e vs log p

Contoh Soal 5.3 :


Suatu profil tanah diberikan pada Gambar di bawah ini. Uji konsolidasi dilakukan di
laboratorium untuk menguji suatu contoh tanah yang diambil dari bagian tengah lapisan
tanah tersebut. Hitung besarnya penurunan yang terjadi sebagai akibat dari konsolidasi
primer apabila suatu timbunan (surcharge) sebesar 48 kN/m2 diletakkan di atas
permukaan tanah tersebut.

Jurusan Teknik Sipil


V-22

Profil Tanah Kurva Konsolidasi


Penyelesaian :
po = (H/2).(sat - w) = (10/2).(18,0 9,81) = 40,95 kN/m2
eo = 1,1
p = 48 kN/m2
po + p = 40,95 + 48 = 88,95 kN/m2
angka pori yang bersesuaian dengan tekanan sebesar 88,95 kN/m 2 (dari gambar b)
didapat sebesar 1,045, maka :
e = 1,1 1,045 = 0,055
Penurunan (S) = H. e / 1 + eo = 0,262 m = 262 mm

Contoh Soal 5.4 :


Pada uji konsolidasi, pada penambahan tekanan dari 50 kN/m 2 sampai dengan 100
kN/m2 diperoleh data hubungan waktu dan penurunan seperti pada tabel dibawah.
Hitung koefisien konsolidasi (Cv) dengan cara (a) Taylor dan (b) Casagrande.

Waktu (menit) Tebal contoh (cm) Perubahan tebal (cm)


0 1,9202 0
0,25 1,9074 0,0128
1,0 1,8819 0,0383
2,25 1,8655 0,0547
4,0 1,8510 0,0692
6,25 1,8423 0,0779
9,0 1,8366 0,0846
12,25 1,8320 0,0882
16,00 1,8288 0,0914
Jurusan Teknik Sipil
V-23
20,25 1,8278 0,0924
40,0 1,8251 0,0951
120,0 1,8199 0,1003
400,0 1,8177 0,1025
1440,0 1,8123 0,1079

Jurusan Teknik Sipil


V-24