Anda di halaman 1dari 19

BAB IV

TEGANGAN PADA MASA TANAH

Tujuan Instruksional Umum


Setelah mempelajari bab ini mahasiswa dapat menghitung besarnya tegangan dalam
tanah akibat berat sendiri dan akibat beban luar untuk perhitungan penurunan
pondasi.
Tujuan Instruksional Khusus
a. Mahasiswa dapat memahami konsep penambahan tegangan dalam tanah.
b. Mahasiswa dapat memahami pengaruh beban terhadap kekuatan tanah.
c. Mahasiswa dapat menentukan tegangan dalam tanah dengan rumus yang benar.

4.1 Penyebaran Tegangan di Dalam Tanah.


Suatu lapisan tanh akan mengalami kenaikan tegangan apabila harus mendukung
fondasi suatu bangunan. Kenaikan tegangan tersebut tergantung pada beban per
satuan luas yang dipikul oleh fondasi yang bersangkutan, kedalaman tanah di
bawah fondasi dimana tegangan ditinjau, dan faktor-faktor lainnya.
Metoda yang paling sederhana unruk menghitung distribusi tegangan pada suatu
kedalaman tanah tersebut dengan metoda 2 : 1. Metoda ini merupakan pendekatan
empiris yang didasarkan pada asumsi bahwa besar luasan yang menerima beban
akan bertambah dengan bertambahnya kedalaman. Mengingat beban yang bekerja
adalah sama sedangkan luasan bertambah, maka besar tegangan yang bekerja pada
kedalaman yang bersangkutan menjadi berkurang, seperti yang ditunjukkan dalam
Gambar 4.1. Sedangkan Gambar 4.1a merupakan sketsa fondasi menerus yang
diberi beban sebesar P. Pada kedalaman Z, luasan yang akan menerima beban
bertambah sebesar Z pada masing-masing sisinya, jadi kedalaman Z besar luasan
yang akan menerima beban adalah [(B + Z) x 1], dan besar tegangan pada
kedalaman yang bersangkutan adalah :
beban . BxL
Z o ................................................................ (4.1)
B Z xL B Z xL

dimana :
o = tegangan terbagi rata yang bekerja diatas fondasi menerus dengan lebar B.

Jurusan Teknik Sipil IV-1


Dengan cara yang sama untuk fondasi yang berbentuk empat persegi panjang
dengan lebar B dan panjang L akan mempunyai luasan sebesar (B + Z).(L + Z) pada
kedalaman Z, seperti pada Gambar 4.1b.
Tegangan pada kedalaman Z menjadi :

beban o .B.L
Z .......... .......... .......... .......... .......... . (4.2)
B Z . L Z B Z . L Z

P
o
Bx1

Z/2 B Z/2

Gambar 4.1a Fondasi menerus dengan beban P

P Bx1
o o
(BxL) (B Z)x1

(L + Z)

o .B.L
Z
(B + Z)
B Z . L Z

Gambar 4.1b Fondasi persegi panjang dengan beban P.

Perhitungan tegangan di dalam tanah akibat tekanan yang bekerja di dalam tanah
atau tekanan kontak pada permukaan tanah bertujuan untuk memperkirakan

Jurusan Teknik Sipil IV-2


besarnya jumlah penurunan yang terjadi. Besar kecilnya tegangan di dalam tanah
tergantung pada :
Besarnya tekanan dari fondasi per satuan luas
Kedalaman dan letak, dimana tegangan tersebut ditinjau

Pada dasarnya tanah tidak homogen, tidak elastis penuh dan tidak isotropis
sehingga hubungan antara tegangan dan regangannya tidak linear seperti halnya
pada benda elastis padat seperti baja. Namun untuk keperluan teknis atau
perhitungan-perhitungan dalam perencanaan kita dapat mengikuti teori Boussinesq
dengan anggapan-anggapan :
Tanah adalah medium elastis, homogen dan isotropis serta mengikuti hukum
Hooke.
Adanya tegangan yang kontinyu.
Tegangan terdistribusi secara simetris.
Distribusi tegangan dari luar tidak tergantung pada jenis material.
Berat tanah diabaikan pada perhitun
gan tegangan akibat beban luar.

4.2 Tegangan Tanah Akibat Berat Sendiri.


4.2.1 Tegangan geostatik pada tanah tidak berair.
Tegangan geostatik vertikal adalah tegangan pada tanah yang tidak berada pada
daerah yang berair atau dengan kata lain tanah mempunyai kelembaban yang relatif
kecil sehingga tidak ada pengaruhnya.

Lapisan 1 Z1

Lapisan 2 Z2

Gambar 4.2 Tegangan Geostatik pada tanah tidak berair.

V 1 .Z 1 2 .Z 2 ................................................................. (4.3)

Jurusan Teknik Sipil IV-3


dimana:
v = tegangan vertikal dalam tanah [kN/m2)
1 = berat isi tanah lapisan 1 [kN/m3]
2 = berat isi tanah lapisan 2 [kN/m3]
z = kedalaman [m]

4.2.2. Tegangan geostatik di dalam tanah yang berair.

Lapisan 1
Z1

Lapisan 2
Z2

Gambar 4.3 Tegangan Geostatik pada tanah berair.

v ' 1 .Z 1 sat w .Z 2 .................... .......... .......... .................. (4.4)

dimana :
v = tegangan vertikal effektif tanah [kN/m2]
1 = berat isi tanah lapisan I [kN/m3]
sat = berat isi tanah jenuh lapisan II [kN/m3]
w = berat isi air [kN/m3]
z = kedalaman [m]

4.2.3 Tegangan geostatik di dalam tanah jenuh air.

Jurusan Teknik Sipil IV-4


Z1

Z2

v
Gambar 4.4 Tegangan Geostatik pada tanah jenuh air.

v ' sat .Z 2 w . Z1 Z 2 ............................................................... (4.5)


dimana:
v = tegangan vertikal effektif tanah [kN/m2]
sat = berat isi tanah jenuh [kN/m3]
w = berat isi air [kN/m3]
z = kedalaman [m]

4.3 Tegangan Tanah Akibat Beban Luar.


Tegangan tanah di setiap bidang horisontal di bawah fondasi, dari pusat
pembebanan ke arah luar, besarnya akan berkurang atau hilang, besarnya tegangan
itu juga akan berkurang dengan meningkatnya kedalaman.

d1

d2

d3

d4

Gambar 4.5 Diagram tegangan dalam tanah.

Besarnya penambahan tegangan di dalam tanah akibat suatu beban dapat


dilukiskan dengan diagram tegangan sebagai berikut :

Jurusan Teknik Sipil IV-5


4.3.1 Tegangan Akibat Beban Terpusat.
Boussinesq (1885), telah memecahkan yang berhubungan dengan penentuan
tegangan-tegangan pada sembarang titik pada sebuah medium yang homogen, elastis
dan isotropis dimana medium tersebut adalah berupa ruang yang luas tak terhingga dan
pada permukaannya bekerja sebuah beban terpusat (beban titik). Menurut Gambar 4.6,
menurut rumus Boussinesq untuk tegangan normal pada titik A yang diakibatkan oleh
beban terpusat P, adalah :

P 2
3.x .z x2 y2 y 2 .z
p x . 1 2. . ................. (4.6a)
2. L.r . L z L .r
5 2 3 2

L

P 2
3. y .z y2 x2 x 2 .z
p y . 1 2 . . ................. (4.6b)
2. L.r . L z L .r
5 2 3 2

L

3.P z 3 3.P z3
p z . 5 . ................................................ (4.6c)
2. L 2. r 2 z 2 5/ 2

dimana :
r = x2 y2

L= x2 y2 z2 r2 z2

= angka Poisson

Harus diingat bahwa Persamaan (4.6a) dan (4.6b), yang nerupakan tegangan-
tegangan normal dalam arah horisontal, adalah tergantung pada angka Poisson
mediumnya. Sebaliknya, tegangan arah vertikal, pz seperti pada Persamaan (4.6c)
tidak tergantung pada angka Poisson. Hubungan untuk pz di atas kemudian dapat
dituliskan lagi dalam bentuk sebagai berikut :


p 3 1 P
p z .
2 2.
. 2 .I 1 .............................................. (4.7)
z
5
r z 2 1 2 z

3 1
I1 . ....................................................................... (4.8)
2.

5 2
r 2 1
z

Jurusan Teknik Sipil IV-6


dimana :
r = x2 y2

x, y, z = koordinat titik A

Westergaard (1938) juga telah memberikan persamaan yang serupa untuk


distribusi tegangan pada tanah yang berlapis-lapis (tidak homogen).

x
L
z

Gambar 4.6 Tegangan vertikal di titik A akibat beban terpusat.

Tabel 4.1 Variasi I1 [Persamaan (3.8)].

r/z I1 r/z I1
0,01 0,4775 0,9 0,1089
0,1 0,4657 1,0 0,0844
0,2 0,4329 1,5 0,0251
0,3 0,3849 1,75 0,0144
0,4 0,3295 2,0 0,0085
0,5 0,2733 2,5 0,0034
0,6 0,2214 3,0 0,0015
0,7 0,1762 4,0 0,0004
0,8 0,1386 6,0 0,0014
Sumber : Braja M. Das

Contoh Soal 4.1 :


Ada sebuah beban terpusat P = 1000 lb seperti pada Gambar 4.6. Gambarkan variasi
kenaikan tegangan vertikal p terhadap kedalaman yang diakibatkan oleh beban
terpusat di bawah permukaan tanah di mana x = 3 ft dan y = 4 ft.

Jurusan Teknik Sipil IV-7


Penyelesaian :
r x2 y2 3 2 4 2 5 ft

Perhitungan berikutnya ditabelkan, sebagai berikut :

.I lb/ft 2 **
r z P
(ft) (ft) r/z I1* p 2
z
5,0 0 0 0
2 2,5 0,0034 0,85
4 1,25 0,0424 2,65
6 0,83 0,1295 3,60
10 0,5 0,2733 2,73
15 0,33 0,3713 1,65
20 0,25 0,4103 1,03
* Persamaan (4.8)
** Persamaan (4.7); catatan : P = 1000 lb.

Gambar variasi kenaikkan tegangan vertikal (p)

p (lb/ft2)

0 1 2 3 4
0

z (ft) 12

16

20

24

4.3.2 Tegangan Akibat Beban Garis.


Pada Gambar 4.7 menunjukkan sebuah beban garis yang lentur dengan panjang
tek terhingga dan intensitas beban q per satuan panjang pada suatu massa tanah yang

Jurusan Teknik Sipil IV-8


semi-takterhingga. Kenaikkan (perubahan) tegangan vertikal, p, di dalam massa tanah
tersebut dapat dihitung dengan menggunakan dasar-dasar teori elastis, sebagai berikut :

2.q.z 3 q (kN/m)
p .......... .......... .......... ................................ (4.9)

. x 2
z 2
2

y
x

r
z
p

x
z

Gambar 4.7 Tegangan vertikal di titik A akibat beban garis.

Contoh Soal 4.2 :


Sebuah beban garis dengan panjang tak terhingga memiliki intensitas beban q = 500
lb/ft. Tentukan tegangan vertikal pada titik A yang mempunyai koordinat x = 5 ft dan z =
4 ft. Seperti pada Gambar di bawah ini.

q /satuan panjang

z = 4 ft
p

x = 5 ft

Penyelesaian :
Dari Persamaan (4.9) :

Jurusan Teknik Sipil IV-9


2.q.z 3
p
. x 2 z 2
2

Bila q = 500 lb/ft, z = 4 ft dan x = 5 ft, maka didapat :

p
2. 500. 4 2 12,12 lb/ft 2
. 5 2 4 2 2

Contoh Soal 4.3 :


Dua beban garis di atas tanah seperti pada Gambar di bawah. Tentukan kenaikkan
tegangan pada titik A.

q2 = 1000 lb/ft q1 = 500 lb/ft


x = 5 ft x = 5 ft
x

p
z = 4 ft

q1 = 500 lb/ft q1 = 1000 lb/ft

x1 x2
p1 p2
z = 4 ft z = 4 ft
+
A A
x = 5 ft x = 10 ft
z z

Penyelesaian :
p = p1 + p2 = 12,12 + 3,03 = 15,15 lb/ft2

p1
2.q1 .z 3

2. 500. 4 3 12,12 lb/ft 2
. x z
2
1
2 2
. 5 4
2

2 2

p1
2.q 2 .z 3

2.1000. 4
3
3,03 lb/ft 2
. x z
2
2
2 2
.10 4 2 2 2

4.3.3 Tegangan Akibat Beban Merata.
a. Beban merata berbentuk persegi panjang.

Jurusan Teknik Sipil IV-10


Besarnya tegangan tanah yang terjadi dapat dihitung dengan rumus sebagai
berikut:

3qz 3 dxdy
B L
p dp
y 0 x 0
2 x 2 y 2 z 2 5/ 2
q o .I 2 ...........................(4.10)

1 2.m.n. m 2 n 2 1 m 2 n 2 2
1 2.m.n. m n 1
2 2

I2 . 2 . tan
4. m n 2 m 2 .n 2 1 m 2 n 2 1 m 2 n 2 1 m 2 .n 2




dimana :

m = B/z ; n = L/z
p = tegangan tanah yang terjadi [kN/m2]
qo = beban merata segi empat [kN/m2]
I2 = koefisien Boussinesq
B & L = sisi-sisi segi empat; z = kedalaman

Jurusan Teknik Sipil IV-11

Gambar 4.8 Variasi I2 terhadap m dan n.


Kenaikan tegangan pada suatu titik sembarang di bawah sebuah luasan
berbentuk empat persegi panjang dapat dicari dengan menggunakan Persamaan
(4.10) dan Gambar 4.8. Hal ini dapat diterangkan dengan Gambar 4.9. Marilah
kita tentukan tegangan pada sebuah titik di bawah titik A, yang mempunyai

Jurusan Teknik Sipil IV-12


kedalaman z. Luasan beban tersebut dapat dibagi menjadi empat buah segi
empat. Kenaikan tegangan pada kedalaman z di bawah titik A, akibat beban segi
empat tersebut sekarang dapat dicari dengan menggunakan Persamaan (4.10).
Kenaikan tegangan vertikal total akibat seluruh beban pada luasan tersebut
adalah :


p q o . I 2 1 I 2 2 I 2 3 I 2 4 .......... .................... .......... ....... (4.11)

dimana :
I2(1), I2(2), I2(3), I2(4) = harga-harga I2 untuk masing-masing empat persegi
panjang 1, 2, 3 dan 4

Persamaan (4.10) dapat digunakan untuk menghitung kenaikan tegangan pada


berbagai titik sembarang. Dari titik-titik tersebut, garis-garis isobar tegangan
dapat digambar. Gambar 4.10 menunjukkan gambar garis-garis isobar tersebut
untuk beban merata pada luasan berbentuk bujur sangkar. Perhatikan bahwa
garis-garis isobar tersebut hanya berlaku untuk bidang vertikal melalui garis aa
sebagaimana terlihat pada Gambar 4.10. Gambar 4.11 merupakan bentuk
tanpa-dimensi dari grafik p/q di bawah titik pusat sebuah luasan beban
berbentuk empat persegi panjang dengan harga-harga L/B = 1; 1,5; 2 dan yang
telah dihitung dengan menggunakan Persamaan (4.10).

1 3
B
A
2 4

Jurusan Teknik Sipil L IV-13


Gambar 4.9 Kenaikan tegangan pada segala titik di bawah suatu luasan lentur berbentuk
empat persegi panjang yang menerima beban merata.
Gambar 4.10 Isobar tegangan vertikal di bawah suatu luasan berbentuk
bujur sangkar yang menerima beban merata.

Jurusan Teknik Sipil IV-14

Gambar 4.11 Kenaikan tegangan di bawah titik pusat suatu luasan lentur
yang menerima beban merata.
Contoh Soal 4.4 :
Sebuah beban merata empat persegi dengan luas (A) = 2,5 x 5 m terletak di atas
permukaan tanah dengan berat (qo) = 145 kN/m2. Hitung kenaikkan tegangan (p) pada
titik pusat dari luasan empat persegi, akibat beban dengan kedalaman (z) = 6,25 m.
x qo

B
y
L
Penyelesaian :
2,5 5
B1 1,25 m ; L1 2,5 m z
2 2
B1 1,25 L1 2,5
m1 0,2 ; n1 0,4
z 6,25 z 6,25

Dari Tabel 4.2, untuk m1 = 0,20 dan n1 = 0,40 didapat nilai I1 = 0,0328
Sama juga nilainya I1 = I2 = I3 = I4.
Jadi :
p = qo.(4.I1) = (145).(4).(0,0328) = 19,02 kN/m2
Tabel 4.2. Angka pengaruh I2 untuk menentukan penambahan tegangan vertikal di
dalam tanah akibat beban terpusat.

n
m
0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1.0 1.2 1.4
0,1 0,00470 0,00917 0,01823 0,01678 0,01978 0,02223 0,02420 0,02576 0,02698 0,02794
0,2 0,00917 0,01790 0,02585 0,03280 0,04866 0,04318 0,04735 0,05042 0,06284 0,05171

Jurusan Teknik Sipil IV-15


0,3 0,01323 0,02585 0,03725 0,64712 0,05593 0,06204 0,06858 0,07308 0,07661 0,67938
0,4 0,01678 0,03280 0,01742 0,06024 0,07111 0,08009 0,08734 0,09314 0,09770 0,10120
0,5 0,01978 0,03866 0,05503 0,07111 0,08103 0,09173 0,10340 0,11035 0,11581 0,12018
0,6 0,02223 0,01318 0,06204 0,08009 0,09173 0,10688 0,11679 0,12471 0,12105 0,12605
0,7 0,02120 0,01735 0,06858 0,08734 0,10440 0,11679 0,12772 0,13653 0,14356 0,14914
0,8 0,02376 0,05042 0,07808 0,09314 0,11935 0,12174 0,13653 0,14607 0,15371 0,15978
0,9 0,02698 0,05283 0,07661 0,09770 0,11584 0,13105 0,14356 0,15371 0,16186 0,16835
1,0 0,02794 0,05171 0,07938 0,10120 0,12018 0,13005 0,14914 0,15078 0,16836 0,17522
1,2 0,02926 0,05733 0,08323 0,10431 0,12626 0,14309 0,15703 0,16813 0,17766 0,18508
1,4 0,02007 0,05804 0,08561 0,10941 0,13003 0,14749 0,16199 0,17383 0,18357 0,19139
1,6 0,03058 0,05094 0,08709 0,11135 0,13241 0,15028 0,16515 0,17739 0,18737 0,19616
1,8 0,03090 0,06058 0,08804 0,11260 0,13396 0,15207 0,16720 0,17967 0,18986 0,19814
2,0 0,03111 0,06100 0,08867 0,11342 0,13496 0,15326 0,16856 0,18119 0,19152 0,10994
2,5 0,03138 0,06155 0,08948 0,11450 0,13628 0,15183 0,17036 0,18321 0,19375 0,20236
3,0 0,03150 0,06178 0,08982 0,11406 0,13681 0,15550 0,17113 0,18407 0,19470 0,20341
4,0 0,03158 0,06194 0,00007 0,11627 0,13724 0,15508 0,17168 0,18460 0,19640 0,20417
5,0 0,03100 0,06199 0,09014 0,11537 0,13737 0,15612 0,17185 0,18488 0,19561 0,20440
6,0 0,03161 0,06201 0,09017 0,11541 0,13741 0,15617 0,17191 0,18496 0,19560 0,20449
8,0 0,03162 0,06202 0,00018 0,11543 0,13744 0,15621 0,17195 0,18500 0,19574 0,20455
10,0 0,03162 0,06202 0,09019 0,11544 0,13745 0,15022 0,17196 0,18502 0,19576 0,20457
0,03162 0,06202 0,09019 0,11544 0,13745 0,15023 0,17197 0,18602 0,19577 0,20458
* After Newmark (1935)

Lanjutan :
n
m
1,6 1,8 2,0 2,5 3,0 4,0 5,0 6,0 8,0 10,0
0,1 0,03058 0,03090 0,03111 0,03138 0,03150 0,03158 0,03160 0,03161 0,03162 0,03162
0,2 0,05994 0,06058 0,06100 0,06155 0,06178 0,06194 0,06199 0,00201 0,00202 0,06202
0,3 0,08709 0,08804 0,08867 0,08948 0,08982 0,09007 0,09014 0,09017 0,09018 0,09019
0,4 0,11135 0,11260 0,11342 0,11450 0,11495 0,11627 0,11537 0,11541 0,11543 0,11344

Jurusan Teknik Sipil IV-16


0,5 0,13241 0,13395 0,13496 0,13628 0,13684 0,13724 0,13737 0,13741 0,13744 0,13745
0,6 0,15028 0,15207 0,15236 0,15483 0,15550 0,15508 0,15612 0,15617 0,15621 0,15622
0,7 0,16515 0,16720 0,16856 0,17036 0,17113 0,17168 0,17185 0,17191 0,17196 0,17196
0,8 0,17739 0,17967 0,18119 0,18321 0,18407 0,18409 0,18188 0,18496 0,18500 0,18502
0,9 0,18737 0,18986 0,19152 0,19375 0,19470 0,10540 0,10601 0,19509 0,19574 0,19576
1,0 0,19546 0,19814 0,19994 0,20236 0,20341 0,20417 0,20440 0,20449 0,20455 0,20457
1,2 0,20731 0,21032 0,21235 0,21512 0,21633 0,21722 0,21749 0,21760 0,21767 0,21760
1,4 0,21510 0,21836 0,22058 0,22364 0,22499 0,22600 0,22632 0,22044 0,22968 0,22654
1,6 0,22025 0,22372 0,22610 0,22940 0,23088 0,23200 0,23296 0,23240 0,23258 0,23261
1,8 0,22372 0,22736 0,22986 0,23334 0,23495 0,23617 0,23056 0,23671 0,23081 0,23684
2,0 0,22610 0,22986 0,23247 0,23614 0,23782 0,23912 0,23954 0,23970 0,23081 0,23985
2,5 0,22940 0,23334 0,23614 0,24010 0,24196 0,24344 0,24392 0,34412 0,24425 0,24429
3,0 0,23088 0,23495 0,23782 0,24196 0,24394 0,21554 0,24608 0,24630 0,24646 0,24050
4,0 0,23200 0,23617 0,23912 0,24344 0,24554 0,21720 0,24791 0,24817 0,24836 0,21812
5,0 0,23236 0,23656 0,23954 0,24392 0,24608 0,21791 0,24857 0,24885 0,24307 0,21914
6,0 0,23249 0,23671 0,23970 0,24412 0,24630 0,24817 0,24885 0,24916 0,24039 0,24940
8,0 0,23258 0,23681 0,23981 0,24425 0,24646 0,21836 0,24007 0,24939 0,24964 0,21073
10,0 0,23261 0,23684 0,23985 0,24429 0,24050 0,24842 0,24914 0,24946 0,24073 0,24081
0,23263 0,23686 0,23987 0,24432 0,24664 0,21816 0,24910 0,24952 0,24980 0,24989

b. Beban merata berbentuk lingkaran.


Dengan menggunakan penyelesaian Boussinesq untuk tegangan vertikal pz
yang diakibatkan oleh beban terpusat Persamaan 4.6c, kita juga dapat
menentukan besarnya tegangan vertikal di bawah titik pusat lingkaran lentur
yang mendapat beban terbagi rata.
Pada Gambar 4.12, dimisalkan bahwa intensitas tekanan pada suatu lingkaran
berjari-jari R adalah q. Beban total pada suatu elemen luasan (berwarna hitam
pada Gambar 4.12 tersebut) adalah = qo.r d. dr. Tegangan vertikal, dp pada
titik A akibat beban pada elemen luasan tersebut (yang dapat dianggap sebagai
beban terpusat karena dr 0 dan d 0) dapat diperoleh dari Persamaan 4.6c
:

3. q o .r.d .dr
dp 5
.......... .......... .......... .......... ..... (4.12)
r
2 2
2. .z 2 .1

z

Jurusan Teknik Sipil IV-17


Kenaikan tegangan pada titik A akibat seluruh luasan lingkaran tersebut dapat
diperoleh dengan mengintegrasikan Persamaan (4.12), atau :

3. q o .r.d .dr
2 rB 2

p dp 5 2
0 r 0 r
2
, Jadi :
2. .z .1
2

z



1
p q o .1 3/ 2 .................................................(4.13)
B
2
1


2z

dimana:
p = tegangan vertikal di bawah pusat lingkaran [kN/m2]
qo = beban merata berbentuk lingkaran [kN/m2]
B/2 = Jari-jari lingkaran (R)
z = kedalaman

Variasi harga p/qo terhadap perubahan harga z/(B/2) yang didapat dari
Persamaan (4.13) dapat dilihat pada Gambar 4.12b. Harga-harga p tersebut
akan berkurang secara cepat menurut kedalaman ; dan pada z = 5.R harga p
ini hanya 6 % dari q, yang merupakan besarnya intensitas tekanan pada
permukaan tanah.

Jurusan Teknik Sipil IV-18


Gambar 4.12 (a) Tegangan vertikal di bawah titik pusat suatu luasan lentur
berbentuk lingkaran yang menerima beban merata.
(b) Grafik untuk menentukan penambahan tegangan di bawah
beban merata lingkaran.
Jurusan Teknik Sipil IV-19