Anda di halaman 1dari 8

Kalimat Efektif

Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan penutur/ penulisnya
dengan baik sehingga pendengar/ pembaca akan menangkap gagasan di balik kalimat tersebut
dengan tepat. Karena tujuan seseorang menulis adalah mengkomunikasikan gagasan yang
dimilikinya, kalimat efektif merupakan sarana yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut.
Dalam kegiatan menulis, populer maupun ilmiah, laporan maupun artikel, kalimat yang
digunakan berupa kalimat efektif. Menurut Gorys Keraf (1993) syarat-syarat kalimat efektif
adalah sebagai berikut.

1. Kesatuan Gagasan

Kesatuan gagasan mengacu pada bagaimana perilaku fungsi-fungsi kalimat dalam satu
kalimat. Syarat utama untuk membentuk sebuah kalimat lengkap adalah adanya fungsi subjek
dan predikat. Jika dirasa perlu, fungsi-fungsi ini dapat ditambahkan dan diperluas dengan fungsi
lainnya. Contoh:

a. Pada pembiayaan mudhabarah tidak berpartisipasi dalam manajemen bisnis yang


dibiayainya.

Kalimat di atas tidak menunjukkan kesatuan gagasan karena subjek dalam kalimat di
atas tidak ada. Siapakah yang tidak berpartisipasi dalam manejemen bisnis yang dibiayainya?
Mengacu kepada siapakah partikel nya pada kata dibiayainya? Bandingkan dengan kalimat
berikut. Pada pembiayaan mudhabarah, konsumen tidak berpartisipasi dalam manajemen
bisnis yang dibiayainya.

b. Karena asam amino ini merupakan faktor pembatas pada pakan nabati.

Kata karena merupakan konjungsi yang menunjukkan hubungan alasan/sebab.


Konjungsi ini berfungsi menghubungkan anak kalimat (alasan/sebab) dengan induk kalimat
dalam kalimat majemuk bertingkat. Pada kalimat di atas, penyebab (induk kalimat) tidak
nampak.

2. Koherensi yang baik dan kompak.

Koherensi yang baik dan kompak mengacu pada hubungan antarunsur pembentuk
kalimat. Dalam hal ini, urutan kata menjadi hal yang perlu diperhatikan. Perhatikan contoh
berikut:

a. Tes tersebut dibuat oleh guru bidang studi yang berjumlah 25 item.

b. Tes yang berjumlah 25 item tersebut dibuat oleh guru bidang studi.
3. Penekanan

Dalam sebuah kalimat, umumnya terdapat satu hal/topik yang ingin ditekankan. Melalui
beberapa cara, penekanan tersebut akan terasa nyata. Coba perhatikan contoh berikut ini.

a. Beberapa daerah sudah mencapai TFR kurang dari dua dan angka prevelensi
kontrasepsi yang cukup tinggi.

b. TFR kurang dari dua dan angka prevelensi kontrsepsi yang cukup tinggi sudah dicapai
beberapa daerah.

c. Beberapa daerah pun sudah mencapai kurang dari dua angka prevelensi kontrasepsi
yang cukup tinggi.

Dari contoh di atas, terlihat cara untuk memberi penekanan adalah meletakkan topik di
awal kalimat atau menggunakan partikel penekan (pun). Selain cara di atas, dapat pula
digunakan pertentangan atau repetisi (pengulangan).

4. Variasi

Untuk menghindari kebosanan karena menggunakan kata atau pola kalimat yang itu-itu
saja, digunakan variasi. Dalam kosakata, variasi berkaitan erat dengan sinonim. Untuk lebih
jelasnya, perhatikan kembali pembahasan mengenai pilihan kata (sinonim).

5. Paralelisme

Paralelisme menekankan pada penggunakan jenis dan pola yang sama dalam kalimat.
Fungsi-fungsi dalam satu kalimat terbentuk dari pola yang sama. Misalnya, jika dalam sebuah
kalimat terdapat predikat lebih dari satu, imbuhan dalam predikat-predikat tersebut sama.
Perhatikan kalimat-kalimat berikut.

a. Fungsi enzim di antaranya adalah membantu proses metabolisme dan dapat


digunakan mencegah infeksi.

b. Fungsi enzim di antaranya adalah membantu proses metabolisme dan mencegah


infeksi.

6. Penalaran atau Logika

Salah satu ciri bahasa ilmiah adalah logis. Hal ini berarti pernyataan dalam kalimat yang
digunakan dalam karya tulis ilmiah sesuai dengan logika. Perhatikan contoh berikut.

a. Secara umum, pendekatan kultural lebih optimis daripada kedua pendekatan


sebelumnya...
Pertanyaan yang muncul dari kalimat di atas adalah, siapa yang merasa lebih optimis?
Apakah mungkin, sebuah pendekatan (dalam hal ini pendekatan kultural) dapat merasakan
optimisme? Perasaan (optimis) tentunya dapat dirasakan oleh manusia, bukan pendekatan.

Selain syarat di atas, ada pula satu hal lagi yang perlu diperhatikan, yaitu panjang
kalimat. Logikanya, semakin kompleks dan panjang kalimat, maka semakin sulit pula kalimat
tersebut dipahami. Perhatikan kalimat berikut.

Salah satu sistem yang sangat mungkin dikembangkan di Indonesia yang mayoritas
penduduknya beragama islam adalah dengan mengoptimalkan fungsi zakat, di antaranya
dengan menciptakan akumulasi modal yang diharapkan dapat menciptakan dunia usaha baru,
terutama pada sektor ekonomi kerakyatan dalam bentuk industri skala kecil sehingga dari
sektor ekonomi yang dibentuk akan dapat menyerap banyak tenaga kerja yang pada akhirnya
akan berdampak kepada ekonomi rakyat.

Dalam makalah yang disampaikan Felicia N. Utorodewo dalam seminar Sejarah Bahasa
Melayu/Bahasa Indonesia dalam Jurnalistik di FIB UI disebutkan penelitian Mencher mengenai
panjang kalimat, yaitu:

Tabel 1. Hubungan Antara Panjang Kalimat dan Keterbacaan

Panjang Kalimat Keterbacaan


8 kata atau kurang Sangat mudah dipahami
11 kata Mudah dipahami
14 kata Agak mudah dipahami
17 kata Standar
21 kata Agak sulit dipahami
25 kata Sulit dipahami
29 kata atau lebih Sangat sulit dipahami

Dalam bahasa Indonesia belum diadakan penelitian yang dipublikasikan mengenai


keefektifan kalimat berdasarkan jumlah kata. Namun, penelitian di atas dapat memberikan
sedikit gambaran mengenai hubungan antara keefektifan kalimat dan jumlah kata dalam satu
kalimat. Walaupun begitu, ada pengecualian untuk kalimat panjang dengan pembagian yang
jelas. Perhatikan pula contoh berikut:

Berdasarkan rumusan masalah seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, maka


tujuan studi yang ingin dicapai adalah menganalisis derajat desentralisasi fiskal pada awal
otonomi daerah pemerintah kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Timur; menganalisis tingkat
kemandirian pemerintahan kabupaten dan kota pada awal otonomi daerah di Provinsi Jawa
Timur; menganalisis elasitisas Pendapat Asli Daerah (PAD) pada awal otonomi daerah di
Provinsi Jawa Timur; mengetahui jenjang posisi pemerintahan kabupaten dan kota pada awal
otonomi daerah di Provinsi Jawa Timur.

ANALISIS PENGGUNAAN TATA BAHASA INDONESIA DALAM PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH :
STUDI KASUS ARTIKEL ILMIAH - Retno Asihanti Setiorini
3. Penyusunan Kalimat dalam paragraf

Ditinjau dari aspek strukturnya, kalimat-kalimat yang digunakan dalam karangan


haruslah benar. Suatu kalimat dikatakan benar strukturnya apabila kalimat tersebut
dibangkitkan dengan menggunakan kaidah-kaidah bahasa yang bersangkutan baik kaidah
struktur frasa maupun kaidah transformasi. Ini penting, karena struktur kalimat akan
berpengaruh terhadap maksud kalimat. Kesalahan struktur kalimat akan berpengaruh terhadap
maksud kalimat, dalam arti kalimat tersebut tidak komunikatif.

3.1 Aspek Kebenaran dalam Penyusunan Kalimat

Kalimat memenuhi kriteria kebenaran jika kalimat tersebut disusun sesuai dengan
kaidah bahasa Indonesia. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa aspek kebenaran dapat
dilihat baku tidaknya (gramatikal tidaknya) struktur suatu kalimat. Untuk memahami aspek
kebenaran kalimat tersebut dapat dilihat pada contoh-contoh sebagai berikut.

Tidak gramatikal Gramatikal


1. Dia tidak bicara tentang masa lalunya. Dia tidak berbicara tentang masa lalunya.
2. Masalah itu belum semuanya disadari oleh kita Masalah itu belum semuanya kita sadari.
3. Hari ini dia mau pergi Surabaya. Hari ini dia mau pergi ke Surabaya.
.

3.2 Aspek Kejelasan dalam Penyusunan Kalimat

Kalimat memenuhi aspek kejelasan jika kalimat tersebut memiliki ciri (1) adanya
penalaran (kalimat logis), (2) kalimat tidak goyah (tidak ambigu), (3) kalimatpadu, dan (4) tidak
ada penumpukan ide dalam satu kalimat. Ciri-ciri tersebut dapat diperjelas dengan contoh-
contoh sebagai berikut.

3.2.1 Kalimat logis

Penyusunan kalimat hendaknya didukung oleh jalan pikiran yang logis. Hal ini sangat
menentukan sebab penyusunan kalimat merupakan penyusunan ide yang berkaitan dalam
penulisan karya ilmiah. Kalimat yang tidak logis tidak dapat dengan mudah dipahami oleh
pembaca dan dapat menimbulkan kerancuan hubungan ide yang satu dengan yang lain. Untuk
memperjelas penyusunan kalimat logis dapat dilihat contoh-contoh sebagai berikut.

Tidak Logis Logis


1. Saya belum jelas. Saya belum mengerti.
2. Naik sepeda diharap turun! Pengendara sepeda diharap turun!
3. Waktu kami persilakan. Bapak kepala sekolah kami persilakan.
3.2.2 Kalimat Tidak Goyah

Untuk mencapai aspek kejelasan kalimat penyusunan kalimat tidak boleh menimbulkan
ambiguitas. Kalimat yang memiliki ambiguitas (bermakna banyak) akan menyebabkan berbagai
kesalahpahaman. Dalam konteks penulisan karya tulis ilmiah kesalahpahaman tersebut harus
dihindarkan. Penghindaran kesalahpahaman tersebut dapat ditempuh dengan cara menyusun
kalimat yang tidak goyah (tidak banyak makna). Untuk memperjelas penyusunan kalimat tidak
goyah dapat dilihat contoh-contoh sebagai berikut.

Goyah Tidak Goyah


1. Isteri Pak Lurah yang baru. Isteri baru Pak Lurah.
2. Uang itu sudah dikirimkan kakak kemarin. Uang itu sudah dikirimkan kepada kakak
kemarin.
Uang itu sudah dikirimkan oleh kakak kemarin
.

3.2.3 Kalimat Padu

Untuk mencapai aspek kejelasan penyusunan kalimat harus memperhatikan kepaduan


kalimat. Kalimat dikatakan tidak padu karena hubungan subjek dan predikat suatu kalimat
terganggu oleh keterangan panjang yang disisipkan antara subjek dan predikat. Selain itu,
kalimat juga bisa terganggu kepaduannya karena subjek menyisip dalam keterangan kalimat.
Untuk memperjelas penyusunan kalimat padu tersebut dapat dilihat contoh-contoh sebagai
berikut.

Tidak Padu Padu


1. Pembaca setelah selesai Pembaca dapat menangkap isi buku setelah selesai
melakukan kegiatannya dapat melakukan kegiatannya.
menangkap isi suatu buku.
2. Selanjutnya saya akan Selanjutnya akan saya jelaskan
jelaskan pentingnya bahasa bagi pentingnya bahasa bagi manusia.
manusia.

3. Dalam kita menghadapi Kita harus tetap tabah dalam


berbagai cobaan kita harus menghadapi berbagai cobaan
tetap tabah.

3.2.4 Penumpukan Ide dalam Sebuah Kalimat


Kalimat panjang dengan ide yang bertumpuk-tumpuk sering menyulitkan pembaca.
Untuk memahami isinya, pembaca perlu membaca berulang-ulang. Hal ini tentu saja tidak
menguntungkan. Untuk itu, penulisan karya ilmiah kalimat harus disusun sedemikian rupa
sehingga mudah dan cepat dipahami serta tidak membosankan pembaca. Ide yang bertumpuk-
tumpuk dalam suatu kalimat hendaknya dihindarkan. Contoh sebagai berikut.

Karena dalam kurikulum itu bidang studi bahasa Indonesia mendapat tempat yang
teratas berdasarkan alokasi waktu yang disediakan untuk pelajaran bahasa Indonesia, yaitu 8
jam pelajaran seminggu, sedangkan untuk bidang studi yang lain berkisar dari 2 sampai dengan
6 jam seminggu, maka pengajaran bahasa Indonesia dianggap sangat penting dalam rangka
mencapai pendidikan nasional berdasarkan Pancasila.

Agar mudah dan cepat dipahami kalimat panjang di atas dipecah-pecah sehingga tidak
terjadi penumpukan ide.

Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini yang mencoba untuk memecah kalimat di atas menjadi
beberapa kalimat.

Dalam kurikulum itu bidang studi bahasa Indonesia mendapat tempat teratas, yaitu 8
jam pelajaran seminggu. Berbeda dengan bidang studi bahasa Indonesia, bidang studi yang lain
berkisar dari 2 sampai dengan 6 jam seminggu. Karena itu, pengajaran bahasa Indonesia
dianggap penting dalam rangka mencapai pendidikan nasional berdasarkan Pancasila.

3.3 Aspek Keefektifan dalam Penyusunan Kalimat

Aspek keefektifan kalimat dapat dilihat dari segi (1) kehematan, (2) kevariasian, dan (3)
kesejajaran. Untuk memperjelas ciri-ciri tersebut dapat dilihat contoh berikut.

3.3.1 Kehematan dalam Kalimat

Kehematan dalam kalimat efektif meliputi kehematan pemakaian, kehematan frase atau
bentuk lainnya. Kehematan itu menyangkut soal gramatika dan makna kata. Termasuk ke dalam
aspek kehematan ini adalah menghindarkan pengulangan subjek kalimat. Contoh:

a. Mahasiswa itu segera mengubah rencananya setelah dia menerima uang dari
bapaknya.

b. Anak muda itu berlari-lari setelah dia dinyatakan lulus ujiannya.


3.3.2 Kevariasian dalam kalimat

Variasi kalimat diperlukan untuk menghindarkan pembaca dari suasana monoton dan
kebosanan. Variasi kalimat dapat dilakukan dengan (1) variasi pembukaan kalimat, (2) variasi
pola kalimat, dan (3) variasi jenis kalimat.

3.3.3 Kesejajaran dalam Kalimat

Sebuah kalimat harus memperhatikan unsur kesejajaran, Yang dimaksud dengan


kesejajaran ialah penggunaan bentuk-bentuk bahasa dalam penulisan dengan konstruksi yang
sama dalam susunan serial. Kesejajaran dalam bentuk-bentuk itu memberi kejelasan dalam
kalimat secara keseluruhan. Contoh: Harga kertas meningkat, upah kerja naik, biaya cetak
bertambah, terpaksa harga buku itu dinaikkan juga.

Kalimat di atas tidak menunjukkan kesejajaran bentuk-bentuk bahasa yang


dipergunakannya (meningkat-bertambah, naik-dinaikkan), sehingga perlu diperbaiki lagi
sebagai berikut.

Harga kertas meningkat, upah kerja dinaikkan, biaya cetak meningkat, terpaksa harga
buku itu dinaikkan juga.

3.4 Aspek Keserasian dalam Penyusunan Kalimat

Keserasian di sini dikaitkan dengan pemilihan ragam bahasa yang sesuai dengan tujuan
penulisan. Dalam bahasa Indonesia kita kenal adanya ragam baku dan ragam tidak baku. Ragam
baku digunakan pada situasi-situasi resmi, sedangkan ragam tidak baku digunakan pada situasi
penulisan yang tidak resmi. Dalam kaitannya dengan penulisan karya ilmiah jelas kita harus
menggunakan ragam baku, sebab karya ilmiah termasuk penggunaan bahasa resmi. Dialek-
dialek ragam bahasa percakapan atau dialek daerah perlu dihindarkan dalam penyusunan
kalimat suatu karya ilmiah.

Abu Samman Lubis - Widyaiswara Balai Diklat Keuangan Malang. (SEKELUMIT TENTANG
PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA DALAM KARYA TULIS ILMIAH)