Anda di halaman 1dari 39

PEMECAHAN MASALAH TEKNIK KIMIA

SWEETENING GAS ALAM ( CO2 REMOVAL FROM NATURAL


GASS) KEPULAUAN NATUNA

Disusun oleh :
Kelompok 10
D IV- Teknik Kimia Produksi Bersih

Annisa Novita Nurisma NIM. 131424005


Diah Nurul Sayekti NIM. 131424008

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG


JURUSAN TEKNIK KIMIA
D-IV TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH
2017
DAFTAR ISI

1.1 Latar Belakang .................................................................................................................3


1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................................4
1.3 Tujuan Penulisan Makalah ............................................................................................... 4
2.1 Absorbsi ........................................................................................................................ 5
2.2.1 Proses Absorbsi Gas CO2 dalam Gas Alam oleh Pelarut aMDEA ............................. 1
2.2.2 Proses Regenerasi aMDEA .......................................................................................... 2
2.3 Karakteristik pelarut .....................................................................................................6
2.4.1 Simulasi ...................................................................................................................... 12
2.4.2 Simulator HYSYS ......................................................................................................13
2.4.3 Proses simulasi absorbsi dan regenerasi unit CO2 Removal .....................................14
2.4.4 Validasi ....................................................................... Error! Bookmark not defined.
2.4.5 Analisis Sensitivitas.................................................... Error! Bookmark not defined.
2.4.6 Optimasi ..................................................................... Error! Bookmark not defined.
3.1 Simpulan ........................................................................................................................ 32
3.2 Saran ........................................................................... Error! Bookmark not defined.
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Energi memiliki peran yang sangat penting bagi pergerakan ekonomi Indonesia, tidak
hanya sebagai sumber bahan bakar dan bahan baku industri namun juga sebagai salah satu
sumber andalan penerimaan negara. Kebutuhan energi primer Indonesia terus mengalami
peningkatan setiap tahunnya. Selain minyak bumi, gas alam juga merupakan sumber energi
dominan yang digunakan di dalam energi primer Indonesia. Cadangan gas Indonesia tersebar di
beberapa wilayah di Indonesia. Sumatera barat sebanyak 5,85 TSCF; Natuna 51,46 TSCF;
Sumatera Tengah 9,01 TSCF; Sumatera Selatan 15,79 TSCF; Jawa Barat 4,24 TSCF; Jawa
Timur 5,73 TSCF; Kalimantan 17,36 TSCF; Sulawesi 3,83 TSCF; Papua 23,91 TSCF; dan
perairan Maluku 15,22 TSCF (ESDM, 2013).
Natuna merupakan sebuah kabupaten yang terdiri dari ribuan pulau terletak di ujung
utara Indonesia dengan luas sekitar141.901 km2. Kepulauan Natuna memiliki cadangan gas
alam terbesar di kawasan Asia Pasifik bahkan di dunia. Kekayaan mineral tambang tersebut
bukan hanya terhampar di darat tetapi juga tersebar di dasar laut kepualauan Natuna.
Dilansir dalam merdeka.com (2016), Mentri ESDM mengungkapkan, cadangan gas
alam yang terkandung pada Blok Natuna D-Alpha adalah sebanyak 222 triliun ft3, jika
diambil, cadangan gas alam tersebut tidak akan habis untuk 30 tahun mendatang. Selain itu,
potensi gas yang recoverable yaitu sebesar 51,46 triliun ft3 setara dengan 8,383 miliar barel
minyak. Jika digabungkan dengan minyak bumi total terdapat 500juta barel cadangan energy
hanya di blok tersebut. Maka wajar jika sejumlah ahli mengklain wilayah ini memiliki
cadangan energi terbesar di dunia.
Namun ada hal lain yang perlu dicermati terkait dengan jumlah cadangan dan sumber
daya gas alam Indonesia yaitu kandungan gas CO2 yang terdapat di dalamnya. Dari beberapa
lokasi yang ada, kandungan gas CO2 di dalam sumber daya gas alam tersebut berkisar antara
15% sampai dengan 80%. Seperti cadangan gas alam yang terdapat di East Natuna, 70% dari
total cadangan gas di sana adalah gas CO2, bahkan di N.W. Jawa Basin, gas CO2 yang
terkandung di dalamnya mencapai 80% (ESDM, 2013). CO2 yang terkandung dalam natural
gas perlu dihilangkan karena dapat mengurangi kandungan energi di dalam gas sehingga
mengurangi harga jual gas terserbut, selain itu jika terdapat air pada proses, CO2 akan bersifat
asam dan dapat menyebabkan korosi pada perpipaan dan peralatan proses (Maryam T.R,
2014). Oleh sebab itu penghilangan CO2 dari gas alam merupakan proses vital dalam
pengembangan kualitas produk.

1.2 Rumusan Masalah


Tujuan dari penulisan makah ini adalah :
a) Apa saja jenis proses yang dapat dilakukan untuk menghilangkan kandungan gas CO 2
dalam natural gas?
b) Bagaimana tahapan proses removal Co2 yang terkandung dalam natural gas?
c) Menentukan jenis solvent yang paling tepat untuk menghilangkan kandungan gas CO2
dalam natural gas?

1.3 Tujuan Penulisan Makalah


Tujuan dari penulisan makah ini adalah :
a) Mengetahui macam-macam proses yang dapat dilakukan untuk menghilangkan
kandungan gas CO2 dalam natural gas.
b) Memahami tahapan proses removal Co2 yang terkandung dalam natural gas.
c) Mengetahui jenis solven yang paling tepat untuk menghilangkan kandungan gas CO2
dalam natural gas.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan pustaka penunjang penelitian ini meliputi beberapa penjelasan mengenai


proses absorbsi dan simulasi. Dalam penelitian proses absorbsi dilakukan pada CO2 Removal
Unit.

2.1 Absorbsi
Dalam industri kimia, diperlukan banyak tahap proses dalam pengubahan bahan baku
menjadi produk yang diinginkan. Salah satu proses industri kimia adalah unit operasi yang
mengaplikasikan perpindahan momentum, panas, dan massa. Cakupan unit operasi antara
lain adalah pemisahan secara fisik, pemisahan senyawa kimia (sintetis), dan pencampuran.
Salah satu dari pemisahan itu adalah proses absorbsi. Proses absorbsi gas dapat didefinisikan
sebagai satuan operasi penghilangan satu atau lebih komponen-komponen gas melalui kontak
dengan suatu cairan. Hal ini sering digunakan di industri kimia untuk menyerap sejumlah gas
dari campuran gas-gas atau sering pula digunakan untuk menghilangkan komponen-
komponen berbahaya seperti hidrogen sulfida atau belerang dioksida dari gas-gas yang
berasal dari cerobong keluaran (flue gases).
Definisi lain mengenai proses absorbsi adalah operasi penyerapan komponen-
komponen yang terdapat di dalam gas dengan menggunakan cairan sehingga tingkat absorbsi
gas akan sebanding dengan daya kelarutan gas tersebut dalam cairan. Proses ini melibatkan
difusi molekuler dan turbulen atau perpindahan massa solute A melalui gas B diam
menembus cairan C diam. Peristiwa ini mengikuti prinsip kecenderungan kelarutan solute A
di dalam cairan (pelarut). Tujuan dari proses absorbsi adalah : (1) mendapatkan senyawa
yang bernilai tinggi dari campuran gas atau uap; (2) mengeluarkan senyawa yang tidak
diinginkan dari produk; (3) pembentukan persenyawaan kimia dari absorben dengan salah
satu senyawa dalam campuran gas.
Bila gas dikontakkan dengan zat cair maka sejumlah molekul gas akan meresap dalam
zat cair dan juga terjadi sebaliknya, sejumlah molekul gas meninggalkan zat cair yang
melarutkannya. Dengan bertambahnya waktu, pada suatu ketika akan terjadi kecepatan
pelarutan gas sama besar dengan kecepatan pelepasan gas. Keadaan ini disebut keadaan
setimbang. Tekanan yang diukur keadaan ini disebut tekanan setimbang pada temperatur
tertentu.
Absorbsi dapat berlangsung dalam dua macam proses, yaitu absorbsi fisik atau absorbsi
kimia (Treyball,1981). Absorbsi fisik merupakan absorbsi yang terjadi apabila gas terlarut
dalam cairan penyerap tanpa disertai reaksi kimia. Absorbsi gas H2S dengan air, metanol,
atau propilen karbonat merupakan salah satu contoh dari absorbsi fisik yang sering dijumpai
di industri. Penyerapan gas oleh pelarut terjadi karena adanya interaksi fisik. Absorbsi kimia
merupakan absorbsi yang terjadi apabila gas terlarut dalam larutan penyerap disertai dengan
reaksi kimia. Absorbsi gas CO2 oleh larutan penyerap alkanolamin, NaOH, K2CO3
merupakan salah satu contoh absorbsi kimia. dan
Zat cair yang masuk dapat berupa pelarut murni atau larutan encer zat terlarut di dalam
pelarut didistribusikan di atas isian dengan distributor sehingga pada operasi yang ideal akan
membasahi permukaan isian secara seragam. Beberapa hal yang mempengaruhi absorbsi gas
ke dalam cairan :
1) temperatur operasi;
2) tekanan operasi;
3) Konsentrasi Komponen cairan
4) lama waktu kontak.

Oleh sebab itu, dalam operasi absorbsi harus dipilih kondisi yang tepat sehingga dapat
diperoleh hasil optimum.
Bermacam-macam teknologi telah banyak dikembangkan untuk pemisahan CO2 dari
aliran gas asam; absorbsi reaktif (absorbsi disertai reaksi kimia) merupakan metode yang
paling banyak digunakan dan paling efektif (Yunita,dkk.,2008). Proses absorbsi tersebut
terjadi secara fisik karena adanya driving force antara konsentrasi CO2 dalam fasa gas dan
CO2 dalam amine dan secara kimia karena adanya reaksi asam-basa, dimana CO2 dalam air
bersifat asam lemah dan MDEA bersifat basa lemah. Proses absorbsi reaktif CO2 umumnya
berlangsung pada tekanan tinggi dan temperatur sedang, menyebabkan terlarutnya beberapa
komponen lain disamping CO2. Pada proses tersebut terjadi reaksi kimia dan proses
pelarutan. Kecepatan absorbsi merupakan ukuran perpindahan massa antara fasa gas dan fasa
cair. Disamping pada perbedaan konsentrasi dan luas permukaan absorben, kecepatan
tersebut juga tergantung pada faktor-faktor lainnya, seperti tergantung pada suhu
(peningkatan kelarutan pada suhu yang lebih rendah), tekanan (peningkatan kelarutan pada
tekanan yang lebih tinggi), dan viskositas (pada absorbsi kimia, kelarutan hanya dipengaruhi
sedikit oleh suhu tetapi viskositas menurun drastis dengan naiknya temperatur).
2.2 Unit CO2 Removal di Stasiun Pengumpul Merbau
Unit CO2 Removal ini dibagi menjadi 2 (dua) bagian adalah proses absorbsi gas CO2
dalam gas alam oleh pelarut regenerasi aMDEA.

2.2.1 Proses Absorbsi Gas CO2 dalam Gas Alam oleh Pelarut aMDEA
M
Proses penghilangan gas CO2yang dap
ini bermula dari masuknya raw/acid gas ke dalam unit
CO2 Absorber. Kolom CO2 Absorber merupakan packing column dengan ketinggian lapisan
packing 7 meter da diameter 2.530 mm dengan jenis random packing. Random packing ini
diperlukan untuk membatu penyerapan CO2 dan mengurangi jumlah cairan hidrokarbon yang
terikut ke larutan amine solvent (activated-MDEA) yaitu membantu penguapan cairan
hidrokarbon kembali terikut aliran feed gas keluar absorber. Pada unit CO2 Absorber ini
digunakan pelarut aMDEA (Activatedethyl Di-Ethanol Amine) melarutkan gas CO2 dalam
raw gas.

Gambar 2.1 Skematik proses penyerapan gas CO2 di kolom CO2


Absorber o
Raw gas dengan tekanan 650 psig, temperatur 83,21 F, dan laju alir 85,04 MMSCFD
masuk dari bawah absorber sementara lean amine (amine yang belum mengikat gas CO2)
masuk dari atas kolom dengan tekanan 648,55 psig, temperatur 122 oF, dan laju alir
322 3/jam. Di dalam packing absorber terjadi proses kontak antara raw gas dan lean amine
secara counter current. Adanya kontak antara lean amine dan raw gas akan menyebabkan gas
CO2 dalam raw gas menjadi larut ke dalam lean amine, sehingga menyebabkan konsentrasi
CO2 dalam gas akan menurun dari 21 %mol menjadi kurang dari sama dengan 5 %mol. Raw

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 1


gas yang telah mengalami proses absorbsi disebut juga sweet gas dan keluar melalui bagian
atas kolom absorber menuju ke Air Fan Cooler. Pendinginan ini bertujuan untuk menurunkan
temperatur gas yang kemungkinan membawa lean amine yang ikut terlarut dalam sweet gas.
Dengan adanya pendinginan tersebut, lean amine akan menjadi terkondensasi.

Setelah melewati Air Fan Cooler, selanjutnya gas akan melewati Sweet KO Drum
untuk dipisahkan antara sweet gas dan lean amine yang telah terkondensasi dan keluar di
bagian dasar Sweet KO Drum.

2.2.2 Proses Regenerasi aMDEA


Amine yang mengandung gas CO2 terlarut atau yang disebut juga rich amine akan
keluar dari dasar kolom absorber dan masuk ke dalam HP Flash Drum. Selain itu, amine
yang yang terkondensasi di Sweet KO Drum juga dialirkan ke dalam HP Flash tersebut.
Tekanan operasi pada HP Flash Drum yaitu 58 psig dan temperatur 167oF. Alat ini berfungsi
untuk melepaskan sebagian CO2 dan seluruh hidrokarbon yang terserap oleh amine untuk
selanjutnya dikirim ke CO2 Vent Stack dengan ketinggian 20 meter. Rancangan alat HP
Flash Drum ini sama seperti kolom absorbsi, memiliki packing ring yang berfungsi untuk
memaksimalkan pelepasan CO2 yang terlarut di dalam amine. HP Flash Dru menggunakan
random packing jenis nutter ring (NR2) setinggi 3 meter dengan diameter 1.930 milimeter.
Bagian atas internal HP Flash Drum menggunakan material cladding 304LSS.

Laju alir gas yang dibuang di CO2 Vent Stack adalah 1,5 MMSCFD dengan komposisi
91% gas CO2 dan sisanya hidrokarbon. Sementara itu, rich amine yang masih mengandung
gas CO2 selanjutnya dilewatkan ke dalam heat exchanger untuk dilakukan pemanasan awal
dengan memanfaatkan panas yang berasal dari lean amine yang keluar di bottom Amine
Regenerator.
Di dalam HE ini, temperatur rich amine akan naik dari 167 oF menjadi 230 oF,
sementara lean amine masuk dengan temperatur 250 oF dan keluar dengan temperatur 189oF.
Pemanfaatan panas untuk rich amine sebelum masuk ke dalam Amine Regenerator akan
mengurangi beban kerja dari reboiler.
Selanjutnya rich amine yang keluar dari Heat Exchanger akan masuk ke dalam Amine
Regenerator lewat bagian atas kolom. Kolom Regenerator terdiri atas lapisan packing jenis
Pall Ring Metal (PRM-50) dengan tinggi 7 meter dan diameter 2.790 milimeter. Rich amine
yang masuk ke dalam kolom akan terbagi menjadi dua fasa. Fasa gas dalam rich amine akan
naik ke atas kolom, sedangkan fasa liquid-nya akan turun ke bawah dan berkontak dengan

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 2


gas panas yang berasal dari reboiler di dalam packing. Dengan demikian, rich amine yang
turun tersebut akan terus terpanaskan oleh uap panas, sehingga gas CO2 dapat lepas dan keluar
packing akan masuk ke dalam reboiler untuk dipanaskan kembali. Kondisi operasi bottom
regenerator coloumn adalah 250 oF dan tekanan 15,04 psig, sedangkan temperatur hot oil
yang masuk ke reboiler adalah 350 oF dan yang keluar adalah 300 oF. Amine yang keluar
dari bottom kolom disebut lean amine karena sudah

tidak mengikat CO2 hasil absorbsi di kolom CO2 Absorber.

Gambar 2.2 Skematik Amine Regenerator

Gas yang keluar dari Amine Regenerator akan didinginkan dengan Amine Regenerator
Cooler sampai 122 oF, sehingga lean amine yang ikut ke dalam aliran gas akan tekondensasi.
Amine Regenerator Cooler ini memiliki konstruksi yang sama dengan Air Fan Cooler.

Amine yang terkondensasi akan dipisahkan dengan fasa gasnya di dalam alat Amine
Regenerator Overhead Separator yang memiliki konstruksi yang sama dengan Sweet Gas
KO Drum. Amine yang terkondensasi tersebut akan direfluks dengan menggunakan Amine
Reflux Pump menuju ke Amine Regenerator. Sementara itu gas dengan kandungan 99,99%
CO2 yang keluar dari Amine Regenerator Overhead Separator akan dibuang ke CO2 Vent
Stack. Pada aliran Lean Amine Reflux diinjeksikan demineralized water untuk menjaga
konsentrasi amine. Konsentrasi amine harus dijaga karena konsentrasi amine yang
terlalu pekat akan menyebabkan korosi ke dalam peralatan regenerasi amine, sedangkan konsentrasi

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 3


amine yang terlalu encer akan menyebabkan absorbsi gas CO2 dalam raw gas menjadi tidak
sempurna.
Lean amine yang keluar dari bottom kolom Amine Regenerator kemudian dimanfaatkan
panasnya untuk memanaskan rich amine yang keluar dari HP Flash Drum di dalam Amine
Heat Exchanger. Selanjutnya lean amine yang keluar dari
Amine HE dinaikkan tekanannya sampai 82 psig dengan menggunakan Lean Amine
Pump. Temperatur lean amine selanjutnya didinginkan dari 189 oF menjadi 122 oF dengan
menggunakan Lean Amine Cooler.
Sekitar 15% laju alir dari lean amine yang telah didinginkan dimasukkan ke dalam
sistem filtrasi untuk dihilangkan partikel dan padatan yang terkandung dalam larutan yang
bisa mengakibatkan foaming. Sistem filtrasi terdiri dari Amine Mechanical Filter, Amine
Carbon Filter, dan Amine Carbon After Filter. Amine Mechanical Filter berfungsi untuk
menghindari adanya plugging pada carbon filter yang diakibatkan adanya padatan yang
terbawa oleh amine dan untuk menjaga partikel-partikel karbon keluar dari sistem. Amine
Carbon Filter (charcoal bed) berfungsi untuk menghilangkan hidrokarbon, produk-produk
kontaminasi yang dapat menyebabkan permasalahan dalam operasi. Konstruksi dari alat ini
sangat sederhana yang di dalamnya terdapat material utama yaitu karbon aktif. Amine Carbon
After Filter berfungsi untuk menjaga adanya karbon yang terbawa oleh larutan amine filtrasi
dalam carbon filter. Amine Regenerator mempunyai inventori amine yang cukup banyak
sebagai cadangan apabila terjadi perubahan flow dari sirkulasi larutan amine.
Lean amine yang telah melewati sistem filtrasi selanjutnya disimpan di dalam Amine
Surge Tank dan dikembalikan lagi ke dalam aliran lean amine yang keluar dari Amine HE.
Pada Amine Surge Tank terdapat fasilitas amine make up untuk menjaga kapasitas amine
yang terikut pada sweet gas atau pun terbuang bersama gas CO2 ke Vent Stack. Sementara itu,
85% aliran yang telah didinginkan diinjeksikan antifoam untuk mencegah terjadinya foaming
di alat CO2 Absorber.
Sebelum masuk ke dalam CO2 Absorber, lean amine dinaikkan
tekanannyatersebut masuk kembali ke dalam kolom absorber bagian atas untuk menyerap kembali
gas CO2 yang terkandung dalam raw gas.
Menurut PT INTI KARYA PERSADA TEKNIK (tanpa tahun), beberapa masalah
dibawah ini dapat mengakibatkan CO2 hasil atas keluaran CO2 Absorber menjadi off
specification atau menyebabkan kerusakan pada peralatan CO2 Removal :

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 4


1) Foaming
Foaming dapat terjadi di unit CO2 Absorber atau di Amine Regenerator. Foaming
disebabkan karena adanya pengotor di dalam lean amine. Pengotor yang dapat
mengakibatkan foaming antara lain: liquid hydrocarbon, degradation product, dan partikel
padat yang terikut dalam raw gas. Beberapa indikasi yang disebabkan oleh terjadinya
foaming di dalam sistem antara lain:

Adanya perubahan delta pressure yang mendadak di dalam kolom.


Adanya perubahan level yang tidak diharapkan di dalam kolom.
Adanya kenaikan dari konsumsi heating medium

2) Temperature lean amine


Temperatur lean amine yang terlalu tinggi mengakibatkan semakin sedikitnya CO2
yang terserap di dalam lean amine. Apabila CO2 yang terserap semakin sedikit maka
konsentrasi CO2 produk menjadi off spesification. Sebaliknya, jika temperatur lean amine
terlalu rendah dapat menyebabkan sebagian dari feed gas terkondensasi menjadi liquid.
Kondensat yang terbentuk di dalam absorber akan mengakibatkan foaming. Foam terbentuk
dari feed gas, amine dan kondensat hidrokarbon. Untuk mengatasi hal tersebut maka
temperatur lean amine yang masuk ke dalam CO2 Absorber selalu dikontrol agar berada 9C
di atas temperatur feed gas.
3) Konsentrasi aMDEA
Konsentrasi yang terlalu rendah pada lean amine mengakibatkan ketidaksempurnaan
reaksi kimia dan proses absorbsi yang optimal sehingga mengakibatkan hasil keluaran
CO2 Removal mempunyai kandungan CO2 yang tinggi yang mengakibatkan off specification
product. Konsentrasi aMDEA di dalam lean amine harus selalu dijaga pada konsentrasi yang
stabil sesuai dengan spesifikasi, konsentrasi aMDEA yang terlalu tinggi mengakibatkan
korosi di dalam sistem.
4) Laju alir lean amine
Laju alir lean amine yang rendah mengakibatkan CO2 keluaran off spesification karena
penyerapan CO2 oleh lean amine lebih kecil sehingga komposisi gas CO2 keluaran masih di
atas 5%. Sebaliknya, jika laju alir lean amine terlalu tinggi maka komposisi CO2 keluaran
semakin rendah karena kemampuan penyerapannya yang semakin baik. Hal ini
menyebabkan kerugian terhadap produk gas karena pada akhirnya harus dibuang melalui vent
stack.
5) Regenerasi dalam Amine Regenerator
Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 5
Proses regenerasi yang tidak sempurna disebabkan oleh temperatur yang terlalu rendah
di dalam Amine Regenerator sehingga acid gas terbawa di dalam larutan lean amine. Hal ini
akan menyebabkan masalah korosi di sistem CO2 Removal.

Indikasi adanya ketidaksempurnaan dalam regenerasi antara lain:


banyaknya laju alir lean amine yang diperlukan untuk mendapatkan produk
impuritas CO2 yang on specification.
tingginya konsentrasi lean amine yang diperlukan untuk mendapatkan produk
on specification.

asalah di atas dapat diatasi dengan cara:


Mmenganalisis konsentrasi acid gas dan aMDEA di dalam lean amine;
mengatur kondisi operasi sesuai dengan kondisi operasi normal; dan
dilakukan tes untuk meyakinkan tidak ada kebocoran di Amine/Amine Heat

Exchanger.

2.3 Karakteristik pelarut


Pelarut merupakan bahan kimia yang digunakan sebagai media untuk
terjadinya proses perpindahan massa. Pelarut yang digunakan untuk proses absorbs
yaitu aMDEA (Activated Methyl-Diethanol Amine). Pelarut ini merupakan
campuran antara MDEA, air (demineralized water), dan aktivator
piperazine.
Larutan MDEA bereaksi lambat dengan CO2 sehingga aktivator perlu ditambahkan ke
dalam larutan MDEA untuk meningkatkan absorbsi CO2. Larutan ini kemudian disebut
sebagai activated MDEA (GPSA, 2004 : 621).
Menurut Tolage (2008 : 24-25), Alkanolamine adalah senyawa kimia yang digunakan
dalam proses pemurnian gas alam dengan metode Alkanolamine Sweetening. Alkanolamine
yang merupakan basa lemah, bereaksi dengan gas asam membentuk garam kompleks.
Garam kompleks ini dapat diregenerasi menjadi amine yang bebas dari gas asam dan dapat
digunakan kembali. Amine adalah senyawa nitrogen hidrokarbon (N-HC) yang dapat
dikategorikan menjadi tiga jenis antara lain amine primer, amine sekunder, dan amine tersier
yang tergantung dari jumlah kelompok hidrokarbon yang terikat dengan atom nitrogen.
Kelompok hidrokarbon akan bervariasi tergantung dari jenis amine-nya, seperti etanol, glikol,
isopropanol, metildietanol, dan sebagainya. Jenis amine yang paling sering digunakan adalah
:

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 6


Monoethanolamine (MEA) : adalah amine primer yang memiliki 2 atom
hidrogen dan satu kelompok hidrokarbon yang terikat pada atom nitrogen.
Diethanolamine (DEA) : adalah amine sekunder yang memiliki satu atom
hidrogen dan 2 kelompok hidrokarbon yang terikat pada atom nitrogen.
Triethanolamine (TEA) dan Methyldiethanolamine (MDEA) : adalah amine
tersier yang memiliki tiga kelompok hidrokarbon dan tidak mengandung atom
hidrogen yang terikat pada atom nitrogen.

(a) (b)

Gambar 2.3 (a) Struktur kimia senyawa MDEA. (b) Struktur kimia senyawa aktivator piperazine

Proses aMDEA yang disarankan oleh BASF (Badishe Anilud Soda Fabric) bereaksi
lambat dengan CO2 dan memiliki kemampuan penyerapan yang lebih efektif dibandingkan
dengan monoethanolamine atau pottasium karbonat. Proses tersebut membutuhkan input
energi yang lebih kecil dan dapat mencapai kapasitas plant yang lebih tinggi. Hal ini
disebabkan oleh adanya komposisi zat aktivator piperazine 18 %berat di dalam pelarut
aMDEA yang dicampur dengan demineralized water dengan target konsentrasi 40 %berat.
Piperazine sebagai promotor mempunyai panas dan laju reaksi yang tinggi serta daya serap
CO2 yang tinggi bila dibandingkan dengan K2CO3 dan amine. Selain itu, MDEA dipilih
sebagai absorben karena mempunyai beberapa keuntungan yaitu : tekanan uap rendah, tidak
mudah terdegradrasi, sedikit korosif, panas reaksi rendah, selektivitas yang tinggi terhadap
H2S, dan lebih atraktif.
Reaksi absorbsi CO2 dengan menggunakan aMDEA adalah sebagai berikut:

a
+ MDEA + H2O(l) + CO2(g) MDEAH+ + HCO3

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 7


Gambar 2.4 Mekanisme penyerapan gas CO2 oleh MDEA tanpa aktivator dan dengan aktivator (BASF,
The Chemical Company)

Gambar 2.5 Mekanisme reaksi absorbsi gas CO2 oleh MDEA dan aktivator piperazine (Bishnoi dan
Rochelle, tanpa tahun)

Mengutip Budi (2008), senyawa MDEA (tertiary amine) relatif tidak bereaksi dengan

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 8


CO2 membentuk senyawa carbamat karena amine tersier tidak mempunyai atom hidrogen
radikal yang terikat dengan atom nitrogen sehingga potensi degradasi amine tersier oleh CO2
sangat kecil. Pada senyawa MDEA, reaksi dengan H2S jauh lebih cepat dibandingkan dengan
reaksinya dengan CO2 sehingga selektivitas terhadap H2S menjadi lebih besar. MDEA
mempunyai H2S rich amine loading yang lebih tinggi (0,5 mol H2S/mol MDEA)
dibandingkan dengan DIPA (0,3 mol H2S/mol MDEA). Maximum loading didefinisikan
sebagai nilai tertinggi rasio jumlah mol H2S dengan jumlah mol amine yang masih dapat
digunakan di dalam sistem tanpa mengakibatkan terjadinya permasalahan korosi pada kondisi
normal. Maximum loading disebut juga sebagai maximum acid gas loading. Melalui nilai
tersebut, terlihat bahwa batas maximum limitasi H2S yang menuju ke sistem tanpa
mengakibatkan terjadinya permasalahan korosi untuk MDEA lebih baik. Energi yang
diperlukan untuk memecah ikatan kimia antara amine sekunder (DIPA) dengan acid gas lebih
tinggi dibandingkan dengan amine tersier (MDEA). Dengan demikian, MDEA akan
membutuhkan steam stripping di regenerator yang lebih rendah dibandingkan DIPA sehingga
akan menurunkan utilities cost yang dikeluarkan. Jika dibandingkan dengan amine primer
dan amine sekunder (termasuk didalamnya DIPA), amine tersier (MDEA) mempunyai
kelarutan hidrokarbon yang paling besar sehingga memperbesar potensi amine losses. Pada
konsentrasi yang sama, DIPA memiliki viskositas yang lebih tinggi dibanding MDEA
sehingga potensi foaming yang dimilikinya lebih besar.

Sifat fisik dan sifat kimia aMDEA (BASF, 2005):


1) Bentuk fisik : cair
2) Warna : kuning muda, transparan
3) Bau : seperti amine
4) Titik didih : 246-248oC
5) Titiknyala : 126 oC
6) Titikbeku
: -21 oC
7) Tekanan uap : kurang dari 0,01 mmHg (20 oC)
8) Specific Grafity : 1,041 pada 20 oC
9) pH : 11-12 (100 g/L , 20oC)
10) Kelarutan : dapat bercampur dengan air (20oC)
11) Berat jenis : 1,04 1,05 g/cm3 (20oC)
12) Stabilitas dan reaktifitas MDEA
Stabil pada temperatur dan tekanan normal. Kondisi yang perlu dihindari: panas,

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 9


percikan api, serta sumber api lainnya. Bahan yang perlu dihindari: bahan
perantara oksida serta asam (terjadi reaksi eksoterm).
13) Pengaruh MDEA terhadap kesehatan
Penghirupan: menyebabkan penurunan stamina tubuh dari uap pada suhu
kamar.Kontak dengan mata menyebabkan iritasi pada kornea mata, melemahnya
daya lihat yang permanen, bahkan dapat menyebabkan kebutaan. Kontak sesaat
dengan kulit dapat menyebabkan iritasi dengan rasa gatal, memerah dan
bengkak. Kontak beberapa jam menyebabkan lebih memerah dan
pembengkakan, menyebabkan kulit berlubang, dan memungkinkan terjadi
pendarahan.
14) Pertolongan
Apabila terhirup segera menghirup udara segar. Apabila kontak dengan mata
segera cuci, dilanjutkan dengan air ke mata sekitar 30 menit. Dikonsultasikan
pada dokter mata. Apabila kontak dengan kulit segera cuci dengan sabun dan
air. Pakaian yang terkontaminasi dilepas dan dicuci sebelum digunakan dengan
dokter

Spesifikasi dan sifat fisik larutan piperazine :

Rumus molekul : C4H10N2


Berat molekul : 86,2
Kelarutan : larut dalam air, metanol, dan etanol

Tabel 2.1 Karakteristik piperazine (BASF, 2002)

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 10


Menurut Khakdaman,dkk., jenis-jenis amine yang sering digunakan adalah sebagai
berikut:
1) MEA (Mono Ethanol
Umumnya MEA digunakan pada konsentrasi 15 -20 %berat dalam air. Acid gas loading
Amine)
terbatas 0,3 0,35 mol acid gas per mol amine. Dibandingkan dengan jenis amine lainnya,
MEA lebih korosif, terlebih lagi jika konsentrasinya lebih dari 20 %berat. Selain itu MEA
membutuhkan heat of reaction dengan H2S dan CO2 yang sangat tinggi (sekitar 30% lebih
tinggi dibandingkan DEA). Tekanan uap yang tinggi dari MEA akan mengakibatkan MEA
mudah menguap di absorber dan stripper sehingga akan mengurangi konsentrasi larutan
secara signifikan akibat tingkat penguapan yang tinggi.
2) DEA (Diethanol Amine)
Umumnya DEA digunakan pada konsentrasi 25 35 %berat dalam air. Acid gas
loading juga terbatas pada 0,3 0,35 mol acid gas per mol amine. DEA lebih tidak korosif
dibandingkan dengan MEA.
3) DGA (diglycolamine atau 2-(2-aminoethoxy) ethanol)
Umumnya DGA digunakan pada konsentrasi 40 60 %berat dalam air. Acid gas
loading terbatas 0,3 0,35 mol acid gas per mol amine. Sifatnya sama dengan MEA (secara
isometrik rumus kimianya sama) tetapi mempunyai tekanan uap yang lebih rendah sehingga
diperlukan konsentrasi yang lebih tinggi. Tingkat degradasi DGA lebih tinggi.
4) MDEA (Methyl Diethanol Amine)
Umumnya MDEA digunakan pada konsentrasi 30 -50 %berat dalam air. Acid gas
loading tidak terbatas (biasanya 0,7 0,8 mol acid gas per mol amine). Karena acid gas
loading yang tinggi maka dapat mengurangi jumlah (laju alir) dari sirkulasi larutan amine
(hal ini juga berarti mengurangi konsumsi energi pompa). MDEA juga tidak mudah
terdegradasi baik secara termal maupun kimia, dan mempunyai heat of reaction dengan H2S
yang rendah.

5) TEA (Tri Ethanol Amine)


TEA merupakan amine tersier dan amine yang pertama kali dikomersialkan untuk
digunakan dalam gas sweetening. TEA tidak bisa menghasilkan produk gas dengan kandungan H2S
rendah.

6) DIPA (Diisopropanol Amine)


DIPA digunakan pada proses ADIP dan Sulfinol (keduanya lisensi Shell International
Petroleum Company-SIPM). DIPA tidak bisa menghasilkan produk gas dengan kandungan

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 11


H2S rendah dan sekarang SIPM sudah tidak lagi menggunakan larutan DIPA, dan
menggantinya dengan MDEA.

Meisen dan Kennard (1982) mendiskusikan bahwa pada kenyataannya temperatur


minimal degradasi DEA dan MDEA mencapai 400F. Degradasi termal yang dapat
menyebabkan korosi dapat diminimalisasi dengan temperature rendah media pemanas
seperti tekanan steam yang rendah pada desain reboiler. Temperatur reboiler tersebut
sebaiknya di bawah 260oF.

2.4 Simulasi Plant Unit CO2 Removal


2.4.1 Simulasi
Simulasi adalah suatu prosedur kuantitatif, yang menggambarkan sebuah sistem,
dengan mengembangkan sebuah model dari sistem tersebut dan melakukan sederetan uji
coba untuk memperkirakan perilaku sistem pada kurun waktu tertentu (Handoko, 1994).
Simulasi merupakan suatu teknik meniru operasi-operasi atau proses- proses yang terjadi
dalam suatu sistem dengan bantuan perangkat komputer dan dilandasi oleh beberapa asumsi
tertentu sehingga sistem tersebut bisa dipelajari secara ilmiah (Law dan Kelton, 1991).
Simulasi dapat didefinisikan sebagai pengimitasian proses dan kejadian ril. Imitasi
dalam rangka penelitian, penyelidikan ataupun pengujian bersifat terbatas dan terfokus pada
suatu aktivitas atau operasi tertentu dengan maksud untuk mengetahui karakteristik, keadaan
dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan kehadiran dan keberadaan dari aktivitas dan
peristiwa dalam bentuk ril.
Menurut pendefinisian pada berbagai kamus, kata simulasi diartikan sebagai cara
mereproduksi kondisi dari suatu keberadaan dengan menggunakan model dalam rangka studi
pengenalan atau pengujian atau pelatihan dan yang sejenis lainnya. Software simulasi proses
dibuat berdasarkan teori - teori atau konsep - konsep yang telah ada seperti konsep (teori)
tentang pepindahan panas dan kesetimbangan uap cair, kemudian diselesaikan dengan
menggunakan komputasi atau perhitungan numerik. Agar dapat mensimulasikan proses yang
dikehendaki, maka dibutuhkan data sebagai berikut :
Komponen senyawa yang terlibat dalam proses.

Persamaan termodinamika yang sesuai dengan kondisi proses.

Identifikasi reaksi yang sesuai dengan kondisi proses.


Alur proses (dibuat dari atau terdiri dari kumpulan dari unit unit operasi

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 12


maupun unit reaksi), atau setidaknya sebuah stream atau aliran.

2.4.2 Simulator HYSYS


HYSYS adalah simulasi proses untuk melayani beberapa industri proses, terutama
industri minyak dan gas. HYSYS juga memiliki model steady state dan dinamis untuk
perancangan pabrik, monitoring kinerja, troubleshooting, improvisasi operasi, perencanaan
bisnis dan manajemen aset.
Menurut Irawan (2011), HYSYS merupakan software process engineering untuk
mensimulasikan suatu unit proses atau multi unit processes yang terintegrasi, intuitif, iteratif,
terbuka, dan extensible. Area penggunaan dari simulator HYSYS adalah sebagai berikut :

Conceptual analysis.
Process design. Project design. Operability and safety.
Automation.
Asset utilization.
Manfaat simulator HYSYS dalam aplikasinya di industri kimia diantaranya adalah
sebagai berikut:
1) Kemudahan dalam mencari sifat fisika suatu senyawa. Beberapa sifat senyawa-
senyawa yang tidak tercantum dalam literatur dapat ditemukan pada software
simulasi karena memiliki kelengkapan data base senyawa dan keakuratan data.
2) Dapat memahami pengaruh kondisi operasi terhadap suatu sistem proses.

3) Dapat melakukan optimasi dengan lebih cepat.


4) 2)Memperoleh gambaran kondisi operasi yang cocok serta alur proses yang
terlibat.Estimasi ekonomi pabrik juga dapat dilakukan dengan software tertentu
dalam perancangan pabrik.
5) Memonitor kemampuan dari industri kimia yang telah exist.
6) Melacak permasalahan process yang terjadi di industri kimia.
7) Kemungkinan peningkatan kapasitas produksi dari plant.
Aspen HYSYS adalah perangkat pemodelan proses industri meliputi desain konseptual,
optimasi, perencanaan bisnis, manajemen aset, serta pemantauan kinerja produksi minyak
dan gas, pengolahan gas, pemurnian minyak bumi, dan industri pemisahan udara. Aspen
HYSYS tersebut merupakan elemen inti dari AspenTechs, AspenONE Engineering
Application.
Beberapa kelebihan yang dimiliki oleh Aspen HYSYS yaitu (Aspen Technology,Inc,

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 13


1994):
mudah digunakan dan mudah untuk dilatih (easy to use and easy to train)
terbaik dalam kelengkapan metode dan data sifat-sifat fisika (best-in-class physical
properties methods and data)
fitur-fitur Aspen HYSYS menunjukkan seni dalam manajemen dan propagasi
molekul-molekul refinery dalam diagram alir (Aspen HYSYS features state of the art
assay management and propagation of refinery molecules across the flowsheet)
pustaka yang komprehensif tentang pemodelan unit operasi (comprehensive library of
unit operation models)
operasiRate-based Column(Rate-based Column operation)
Aspen HYSYS memperkenalkan pendekatan simulasi steady state dan dinamis pada
platform yang sama (Aspen HYSYS introduced the novel approach of steady state and
dynamic simulations in the same platform)
program yang menyediakan sistem jaringan perpipaan dan kemampuan analisis
penurunan tekanan pada aliran transien dan steady state (the program provides state
of the art pipeline network and pressure drop analysis capabilities in both steady
state and transient flox
Aspen HYSYS menyediakan teknologi reaktor refinery pada simulasi dan
mode kalibrasi bagi penggunanya (Aspen HYSYS provides users with refinery reactor
technology in simulation and calibration modes in a seamless manner)

Aspen HYSYS berintegrasi dengan software Aspen PIMS dan Aspen Refinery
Scheduler (Aspen HYSYS is integrated with Aspen PIMS and Aspen Refinery
Scheduler software)
diagram kerja yang efisien (efficient workflow)
otomasi diagram kerja (workflow automation)

2.4.3 Proses simulasi absorbsi dan regenerasi unit CO2 Removal


Proses absorbsi gas CO2 dan H2S melibatkan sour gas dari alam yang banyak
mengandung komponen gas asam dan pengotor dikontakkan dengan solvent larutan aMDEA,
sehingga proses tersebut bersifat eksotermis, steady state, dan menghasilkan reaksi
kesetimbangan reversibel di dalam kolom CO2 Absorber. Penggunaan amine sebagai pelarut
pada proses sweetening gas telah dilakukan dengan menggunakan software program simulasi
Aspen HYSYS. Fluid package yang digunakan yaitu COM Thermo DBR Amine Package
dengan model termodinamika Kent-Eisenberg untuk larutan aqueous . Pemilihan model
Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 14
tersebut berdasarkan komposisi zat aktivator piperazine yang terkandung di dalam solvent
larutan aMDEA sehingga hasil simulasi akan lebih optimal.

Banyak penelitian yang telah dilakukan, seperti Rinker, et al. (1995) mempelajari
kinetika dan modeling dari absorbsi CO2 dalam larutan N-MDEA, Pacheco, et al. (1998)
menyatakan bahwa absorbsi CO2 menggunakan Methyldiethanolamine (MDEA) dalam
packed column jumlah gas yang diserap dikendalikan oleh difusi reaksi cepat dan tidak
dipengaruhi oleh tahanan gas-film. Pada penelitian sebelumnya Lin, dkk (1999) menyatakan
penggunaan packed column mempunyai efisiensi perpindahan massa yang lebih tinggi dari
pada menggunakan tray column tanpa memperhatikan transfer energi yang dibutuhkan.
Kent-Eisenberg mengembangkan model yang sederhana untuk memprediksikan
vapour-liquid equilibrium (VLE) dengan mengabaikan koefisien aktivitas. Model tersebut
diciptakan berdasarkan hubungan beberapa konstanta kesetimbangan dan hukum Henry.
Menurut Eisenberg dan Kent (1976), model Kent-Eisenberg adalah cara
penyederhanaan untuk pemodelan reaksi (dan kesetimbangan fasa) pada sistem proses
sweetening gas. Penggunaan model tersebut dilakukan terhadap sistem campuran air dan
amine untuk memisahkan gas dengan CO2, H2S, dan/atau amonia. Komponen-komponen
yang terdapat pada Amines Model diantaranya adalah Diethanolamine (DEA),
Monoethanolamine (MEA), dan Methyl diethanolamine (MDEA).

2.5 Simulasi HYSY

Fluid package : Acid Gas

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 15


Gambar 2.5 Simulasi HYSY v.8.8

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 16


1. Aliran Sour Gass
Komposisi aliran umpan (Sour gas)
Memasukamn komposisi feed sour gas

Kondisi Operasi Aliran Sour Gass

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 17


2. Aliran Absorben (MDEA to Contactor)
Komposisi

Kondisi Operasi

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 18


3. Kolom Absorbsi (Contactor)

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 19


Dari hasil absorbsi menggunakan larutan MDEA maka dihasilkan sweet gas
dengan komposisi CO2 sebesar 4,8%

4. Valve

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 20


5. Flash Tank

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 21


6. Heater

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 22


Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 23
7. Regenerator (Absorber Reboiler)

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 24


Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 25
8. Mixer

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 26


9. Cooler

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 27


10. Pompa

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 28


Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 29
11. Lean Regenerated

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 30


Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 31
BAB III
SIMPULAN

3.1 Simpulan
Macam-macam proses yang dapat dilakukan untuk menghilangkan CO2 adalah sebagai
berikut (Total Fina Elf, 2002):
Chemcal absorption
Physical absorption
Physical-Chemcal absorption
Cryogenic fractionation
Membrane
Hybride

Proses removal CO2 yang terkandung di dalam natural gas dengan konsentrasi lebih
besar dari 70% dapat dilakukan dengan menggunakan proses absorbs dengan menggunakan
pelarut kimia yaitu MDEA. Dari hasil simulasi proses menggunakan software HYSYS
didapatkan sweet gas hasil absorbs mengandung CO2 dengan konsentrasi 4,8%.

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 32


Daftar Pustaka

Gas processors Association, 2009, Selecting Best technology Lineup for Designing Gas
processing Units, Europe

Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, 2013, Kajian Supply Demand Energi, Pusat
Data dan Teknologi Informasi Energi dan Sumber daya Mineral, Indonesia

Maryam T.K, 2014, Technologies for Upgrading of Carbon Dioxide- Rich Natural Gases
Challenges and Recent Advances, National Petrochemical Company Petrochemical Research
ang Technology Co., Iran

National Energy Technology Laboratory, 2011, Acid Gas Removal, U.S . Departement of
Energy

Petrowiki, 2016, Sour Gas Sweetening,

SalakoA.E., 2005, Removal of Carbon Dioxide From Natral Gas For LNG Production,
Institute of Petroleum Technology, Noerwegia

Shell Global, 2011, Sulfinol-X, Shell Global International BV

Tigabwa Y.A & Murni M.A, 2011,Flowsheet Development and Simulation of Off-Shore
Carbon Dioxide Removal System at Natural Gas Reserves, University Technology
PETRONAS, Malaysia.

Total Fina Elf, 2002, Gas Sweetening Process, Oil And gas Processing Plant Design And
Operation Training Course

https://www.merdeka.com/uang/kementerian-esdm-tak-khawatir-gas-di-pulau-natuna-
direnggut-china.html. diakses pada 03 Juni 2017

Sweetening Gas Alam (CO2 Removal from Natural Gass) 33

Anda mungkin juga menyukai