Anda di halaman 1dari 53

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Milennium Development Goals (MDGs) adalah deklerasi millenium yang

berisi komitmen untuk mempercepat pembangunan manusia dan

pemberantasan kemiskinan, dimana salah satu dari tujuan tersebut pada tujuan

kelima adalah meningkatkan kesehatan ibu, dimana target yang akan dicapai

sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai resiko jumlah kematian ibu.

Dan Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat

derajat kesehatan perempuan (UNICEF, 2005).

Menurut WHO ada sekitar 800 perempuan meninggal akibat komplikasi

kehamilan atau melahirkan. Pada tahun 2010, sekitar 287.000 perempuan

meninggal selama dan setelah kehamilan dan persalinan. Hampir 99%

kematian ibu terjadi di negrara berkembang. Lebih dari setengah kematian

tersebut terjadi di sub-Sahara Afrika dan sepertiga terjadi di Asia Selatan.

Perbandingan kematian ibu di Negara berkembang adalah 240 per 100.000

kelahiran dibandingkan 16 per 100.000 kelahiran di Negara maju (WHO,

2008). Di ASEAN sendiri Indonesia menjadi negara yang memiliki angka

kematian ibu tertingi. Sekitar 228 ibu meninggal per 100 000 kelahiran hidup.

Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Malaysia yaitu 62 per 100

1
2

000 kelahiran hidup. Dan pada tahun 2015 target MDGs Indonesia adalah

menurunkan AKI menjadi 102 per 100000 kelahiran hidup.

Penyebab kematian maternal berdasarkan data Dinas Kesehatan

Indonesia 2008, dikelompokkan menjadi penyebab langsung dan tidak

langsung. Penyebab langsung kematian maternal yaitu perdarahan, eklamsi,

infeksi serta komplikasi nifas. Sedangkan penyebab tidak langsung kematian

maternal terkait dengan kondisi sosial, ekonomi, geografi serta budaya

masyarakat (Hasnawati, dkk, 2008).

Berdasarkan Survei Demografi kesehatan Indonesia tahun 2007,

penyebab utama kematian ibu disebabkan karena komplikasi selama

persalinan, diantaranya yaitu partus lama (memanjang) 37% dari kelahiran,

ketuban pecah sebelum enam jam bayi lahir 17 %, perdarahan pervaginam

9%, dan dua komplikasi lainnya yaitu infeksi jalan lahir 7% dan kejang pada

ibu 2%. Sedangkan menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun

2007, faktor utama penyebab kematian ibu melahirkan yakni perdarahan

(28%), preeklampsi (24%) dan Infeksi (11%).

Infeksi merupakan penyebab kematian ibu. Di Negara berkembang

paling sedikit satu dari sepuluh kematian ibu disebabkan oleh Infeksi . Luka

pasca nifas masih menjadi kasus umum penyebab infeksi. 80-90%. kasus

Infeksi setelah persalinan penyebabnya adalah luka persalinan, mastitis,

tromboflebitis dan radang panggul (Varney, 2007).


3

Sectio Caesaria adalah suatu pembedahan guna melahirkan anak lewat

insisi pada dinding abdomen dan uterus. Akan tetapi, persalinan melalui

SectioCaesaria bukanlah alternatif yang lebih aman karena di perlukan

pengawasan khusus terhadap indikasi di lakukannya Sectio Caesaria maupun

perawatan ibu setelah tindakan Sectio Caesaria, karena tanpa pengawasan

yang baik dan cermat akan berdampak pada kematian ibu. Oleh karena itu

pemeriksaan dan monitoring dilakukan beberapa kali sampai tubuh ibu

dinyatakan dalam keadaan sehat

Persalinan yang dilakukan dengan operasi membutuhkan rawat inap

yang lebih lama di rumah sakit. Hal ini tergantung dari cepat lambatnya

kesembuhan ibu akibat proses pembedahan. Biasanya, hal ini membutuhkan

waktu sekitar 3 - 5 hari setelah operasi. Ibu yang baru menjalani seksio sesaria

lebih aman bila diperbolehkan pulang pada hari keempat atau kelima post

partum dengan syarat tidak terdapat komplikasi selama masa nifas. Namun

komplikasi setelah tindakan pembedahan dapat memperpanjang lama

perawatan dan memperlama masa pemulihan di rumah sakit.

Insiden metritis setelah persalinan bedah bervariasi dengan faktor sosial

ekonomi, dan selama bertahun-tahun ini penggunaan antibiotic hampir

universal dalam operasi. Untuk semua wanita berisiko tinggi untuk infeksi

panggul setelah melahirkan sesar, Penggunaan dosis tunggal profilaksis

antimikroba perioperatif telah berbuat lebih banyak untuk mengurangi insiden

dan keparahan pascabedah pengiriman infeksi panggul daripada inovasi lain

dalam 25 tahun terakhir (Cunningham, 2005).


4

Luka Sectio Caesarea dapat sembuh melalui proses utama (primary

intention) yang terjadi ketika tepi luka disatukan (approximated) dengan

menjahitnya. Jika luka dijahit terjadi penutupan jaringan yang disatukan dan

tidak ada ruang yang kosong. Oleh karena itu, dibutuhkan jaringan granulasi

yang minimal dan kontraksi sedikit berperan. Penyembuhan yang kedua yaitu

melalui proses sekunder (secondary intention) yang membutuhkan

pembentukan jaringan granulasi dan kotraksi luka. Hal ini dapat terjadi dengan

meningkatkan jumlah densitas, jaringan parut fibrosa, penyembuhan ini

membutuhkan waktu yang lebih lama (Boyle, 2008).

Kejadian infeksi setelah kelahiran sesar berkisar antara 3 sampai 15

persen, dengan rata-rata sekitar 6 persen (Chaim dan rekan, 2000; Owen dan

Andrews, 1994). Setelah antibiotic profilaksis yang diberikan, hal ini dapat

menurunkan kejadian sampai kurang dari 2 persen (Andrews dan rekan,

2003). Menurut Soper dan rekan kerja (1992), infeksi luka adalah penyebab

paling umum dari kegagalan antimikroba pada wanita dirawat karena metritis.

Faktor risiko untuk infeksi luka termasuk obesitas, diabetes, terapi

kortikosteroid, imunosupresi, anemia, dan hemostasis buruk terhadap

pembentukan hematoma (Cunningham, 2005).

Penggunaan profilaksis antimikroba perioperatif telah sangat

mengurangi tingkat infeksi pasca operasi setelah melahirkan sesar. Misalnya,

antimikroba profilaksis mengurangi tingkat endometritis nifas sebesar 70

hingga 80 persen (Chelmow dan rekan, 2001; Smaill dan Hofmeyr, 2003).

Manfaat yang diamati berlaku untuk pengurangan infeksi luka. Antibiotik


5

tunggal seperti ampisilin dan sefalosporin merupakan profilaksis ideal

(American College of Obstetricians dan Gynecologists, 2003). Menggunakan

agen spektrum luas atau rejimen dosis ganda tidak memberikan manfaat nyata

(Hopkins dan Smaill, 2003 dalam Cunningham, 2005).

Mekanisme penyembuhan luka tidak hanya dipengaruhi oleh pemberian

antibiotic namun juga nya dapat dipengaruhi oleh vaskularisasi, anemia, usia,

nutrisi, penyakit lain, kegemukan, obat-obatan dan stress ( aziz, 2010). Status

gizi mempengaruhi kecepatan penyembuhan luka. Status gizi yang buruk

mempengaruhi sistem kekebalan tubuh yang memberi perlindungan terhadap

penyakit infeksi seperti penurunan sekretori imuno globulin A (AIgA) yang

dapat memberikan kekebalan permukaan membran mukosa, gangguan sistem

fagositosis, gangguan pembentukan kekebalan humoral tertentu, berkurangnya

sebagian komplemen dan berkurangnya thymus sel (T) (Rusjiyanto, 2009).

Obat herbal telah diterima secara luas di hampir seluruh Negara di dunia.

Menurut WHO, Negara di Afrika, Asia dan Amerika Latin menggunakan obat

herbal sebagai pelengkap pengobatan primer yang mereka terima. Bahkan di

Afrika, sebanyak 80% dari populasimenggunakan obat herbal untuk

pengobatan primer (WHO, 2003).

Faktor pendorong terjadinya peningkatan penggunaan obat herbal di

negara maju adalah usia harapan hidup yang lebih panjang pada saat

prevalensi penyakit kronik meningkat, adanya kegagalan penggunaan obat

modern untuk penyakit tertentu di antaranya kanker serta semakin luas akses

informasi mengenai obat herbal di seluruh dunia (Sukandar E Y, 2006).


6

WHO merekomendasi penggunaan obat tradisional termasuk herbal

dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan

penyakit, terutama untuk penyakit kronis, penyakit degeneratif dan kanker.

WHO juga mendukung upaya-upaya dalam peningkatan keamanan dan

khasiat dari obat tradisional (WHO, 2003).

Propolis digunakan khususnya di jaman dahulu, di Mesir. Beberapa ribu

tahun SM propolis sangat dikenal oleh para ilmuan kedokteran, kimia dan seni

mummifikasi mayat. Propolis digunakan secara efektif pada luka oleh dokter

selama Perang Dunia II. Ini juga digunakan di rumah sakit. Dari tahun 1969

obat-obatan Ortodoks di Uni Soviet menerima penggunaan propolis 30%

(30% alkohol larutan propolis). Hal ini dihasilkan oleh pabrik produk farmasi

di Tallinn (Makashvili, 1978 dalam Ahmed G. Hegazi (2012))

Propolis, atau "lem lebah," adalah zat yang terkenal bahwa peternak

lebah temukan di sarang. Propolis menurut penelitian telah terbukti efektif

terhadap berbagai bakteri, virus, jamur, dan cetakan. Telah terbukti menjadi

imunostimulan non-spesifik. Bee Propolis mempunyai cara kerja yang berbeda

dari produk lebah yang lainnya, dimana propolis langsung melakukan

perbaikan terhadap sistem kekebalan tubuh (imunitas), dan mencegah

terjadinya infeksi lebih lanjut, sehingga propolis berguna membangun benteng

pertahanan tubuh sehingga infeksi dapat tertangani dan imunitas tubuh dapat

meningkat(Hoesada dkk, 2012).

Berdasarkan hasil Observasi yang peneliti lakukan di ruang kebidanan

RSUD BARI Propinsi Sumatera Selatan , didapatkan data observasi bahwa


7

dari 286 ibu yang melahirkan secara normal didapatkan 96 ibu yang

mengalami persalinan Sectio Caesarea (33,6%). Dari 96 kasus ibu yang

mengalami Sectio caesarea, terdapat ibu yang mengalami gangguan

penyembuhan luka operasi sebanyak 32 kasus penyebabnya adalah gangguan

nutrisi dan imunitas 13 (40,6 % ) perawatan yang kurang tepat 10(31,25%),

Mobilisasi yang kurang 6 (18,75%) dan sisahnya berupa gangguan kognitif.

Berdasarkan data diatas dapat kita ketahui bahwa kejadian gangguan

penyembuhan luka pasca operasi memiliki keterkaitan dengan kondisi nutrisi

dan imunitas ibu post partum..

Pencegahan dini dan penatalaksanaan lebih lanjut terhadap kejadian

gangguan luka operasi dapat mengurangi angka kematian ibu. Oleh karena itu

peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang Pengaruh pemberian bee

propolis terhadap lama penyembuhan luka Sectio Caesarea pada ibu Post

Partum di RSUD BARI Propinsi Sumatera Selatan.

A. Rumusan Masalah

Infeksi masih menjadi penyebab utama kematian ibu di dunia. Penyebab

utama Faktor resiko Infeksi luka operasi pasca persalinan adalah obesitas,

diabetes, terapi kortikosteroid, imunosupresi, anemia, dan hemostasis buruk

terhadap pembentukan hematoma (Cunningham, 2005). Penyembuhan luka

yang tidak ditangani secara cepat dan tepat akan menyebabkan komplikasi

lanjutan sehingga menyebabkan ibu kematian ibu. Berbagai studi telah

menyatakan bahwa propolis sebagai alternative peningkatan imunitas dan

berfungsi sebagai antimikroba yang dapat membantu penyembuhan luka pasca


8

operasi sehingga infeksi dapat diantisipasi segera sebelum terjadi. Dengan

demikian masalah penelitian ini adalah : Apakah Ada Pengaruh pemberian

bee propolis terhadap lama penyembuhan luka Sectio Caesarea pada ibu Post

Partum di RSUD BARI Propinsi Sumatera Selatan?

B. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh

pemberian bee propolis terhadap lama penyembuhan luka Sectio

Caesarea pada ibu Post Partum di RSUD BARI Propinsi Sumatera

Selatan

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi karakteristik ibu pos partum

b. Mengidentifakasi rata-rata jumlah propolis yang dikonsumsi ibu pos

partum

c. Mengidentifikasi rata rata lama penyembuhan luka section caesarea

ibu pos partum

d. Menganalisis perbedaan pemberian propolis pemberian bee propolis

terhadap lama penyembuhan luka Sectio Caesarea pada ibu Post

Partum
9

C. Ruang Lingkup Penelitian

Adapun yang menjadi ruang lingkup dari penelitian adalah:

1. Jenis penelitian : analitik eksperimental

2. Rancangan penelitian : Penelitian Pre dan post design dengan pendekatan

kohort

3. Variable penelitian : pemberian propolis dan lama penyembuhan Luka

Sectio Caesarea

4. Objek penelitian : Semua ibu yang bersalin Sectio Caesarea di

RSUD BARI Propinsi Sumatera Selatan

5. Lokasi penelitian : RSUD BARI Propinsi Sumatera Selatan

D. Manfaat Penelitian

1. Aplikasi

Hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan

dalam pengambilan pemilihan obat herbal alternatif yang dapat digunakan

dalam penyembuhan luka melalui penggunaan propolis

2. Bagi Keilmuan

Penelitian ini menambah wahana keilmuan yang terkain dengan

penggunaan propolis dalam penyembuhan luka. Berkembangnya

keilmuan herbal tentang propolis dijadikan solusi alternative dalam

penyembuhan luka.
10

3. Metodologi

Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi terkait penelitian yang

akan dilakukan selanjutnya dalam mengembangkan keilmuan herbal propolis

dan penyembuhan luka.


11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1. Masa Nifas

a. Definisi nifas

Masa nifas (peurperium) dimulai sejak plasenta lahir dan

berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti sebelum

hamil (Prawiroharjo, 2006)

Masa nifas disebut juga masa post partum atau purperium

adalah dimulai setelah pasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat

kandungan kembali seperti keadaa sebelum hamil,Masa nifas

berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Sunarsih, 2011).

Masa nifas adalah masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan

plasenta keluar lepas dari rahim, disertai dengan pulihnya

kembali organ-organ yang berkaitan dengan kandungan yang

mengalami perubahan seperti perlukaan dan lain sebagainya

berkaitan saat melahirkan (Suherni, 2009).

b. Tahapan masa nifas

Nifas dibagi menjadi 3 periode:

1) Puerperium dini adalah pemulihan dimana ibu diperbolehkan

berdiri dan berjalan-jalan

2) Puerperium intermedial adalah pemulihan alat-alat genetalia

yang lamanya 6-8 minggu


12

3) Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih

dan sempurna terutama bila selama hamil dan waktu

persalinan mempunyai komplikasi, waktu sehat bisa

berminggu-minggu, bulan atau tahun (Mochtar, 2001)

c. Adaptasi/perubahan fisiologis masa nifas

Pada masa nifas ini, terjadi perubahan-perubahan anatomi dan

fisiologis pada ibu. Perubahan fisiologis yang terjadi sangat jelas,

walaupun dianggap normal, di mana proses-proses pada kehamilan

berjalan terbalik. Banyak faktor, termasuk tingkat energi, tingkat

kenyamanan, kesehatan bayi baru lahir dan perawatan serta

dorongan semangat yang diberikan oleh tenaga kesehatan, baik

dokter, bidan maupun perawat ikut membentuk respon ibu

terhadap bayinya selama masa nifas ini (Bobak, 2009).

Untuk memberikan asuhan yang menguntungkan terhadap ibu,

bayi dan keluarganya, seorang bidan atau perawat harus

memahami dan memiliki pengetahauan tentang perubahan-

perubahan anatomi dan fisiologis dalam masa nifas ini dengan

baik.
13

1) Perubahan Sistem Reproduksi

Selama masa nifas, alat-alat interna maupun eksterna

berangsur-angsur kembali seperti keadaan sebelum hamil.

Perubahan keseluruhan alat genetelia ini disebut involusi.

Pada masa ini terjadi juga perubahan penting lainnya,

perubahan-perubahan yag terjadi antara lain sebagai berikut:

a) Perubahan uterus

Kontraksi uterus merupakan suatu proses kembalinya

uterus ke keadaan sebelum hamil. Terjadi kontraksi

uterus yang meningkat setelah bayi keluar. Hal ini

menyebabkan iskemia pada lokasi perlekatan plasenta

(plasenta site) sehingga jaringan perlekatan antara

plasenta dan dinding uterus, mengalami nekrosis dan

lepas. Ukuran uterus mengecil kembali (setelah 2 hari

pasca persalinan, setinggi sekitar umbilikus, setelah 2

minggu masuk panggul, setelah 4 minggu kembali pada

ukuran (Suherni, et al. 2009).


14

Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil di

sebut involusi. Segera setelah persalinan bekas implantasi

plasenta berupa luka kasar dan menonjol ke dalam

cavum uteri. Penonjolan tersebut diameternya kira-kira

7,5 cm. Sesudah 2 minggu diameternya berkurang

menjadi 3,5 cm. Pada minggu keenam mengecil lagi

sampai 2,4 cm, dan akhirnya akan pulih. Di samping itu,

di cavum uteri keluar cairan sekret di sebut lokia. Ada

berapa jenis lokia menurut Suherni, et al. (2009) yakni:

lokia rubra/kruenta (merah): merupakan cairan bercampur

darah dan sisa-sisa penebalan dinding rahim (desidua)

dan sisa-sisa penanaman plasenta (selaput ketuban),

berbau amis dan keluar sampai hari ke-3 atau ke-4, Lokia

sanguinoleta: warnanya merah kuning berisi darah dan

lendir. Ini terjadi pada hari ke 3-7 pasca persalinan, lokia

serosa: berwarana kuning dan cairan ini tidak berdarah

lagi pada hari 7-14 pasca persalinan, lokia alba: cairan

putih yang terjadi pada hari setelah 2 minggu, lokia

parulenta: Ini karena terjadi infeksi, keluar cairan seperti

nanah berbau busuk, lokiaotosis: lokia tidak lancar keluar


15

b) Perubahan vagina

Perubahan vagina dan perineum pada masa nifas ini

terjadi pada minggu ketiga, vagina mengecil dan timbul

ragae (lipatan-lipatan atau kerutan-kerutan) kembali

c) Serviks

Serviks menjadi lunak segera setelah ibu melahirkan dan

18 jam setelah melahirkan serviks akan kembali ke

bentuk semula dan konsistensinya menjadi lebih padat

kembali

d) Perubahan Tanda-Tanda Vital pada Masa Nifas

Pada ibu pascapersalinan, terdapat beberapa perubahan

tanda-tanda vital sebagai berikut: (a) suhu: selama 24 jam

pertama, suhu mungkin meningkatkan menjadi 38C,

sebagai akibat meningkatnya kerja otot, dehidrasi dan

perubahan hormonal. Jika terjadi peningkatan suhu 38C

yang menetapkan 2 hari setelah 24 jam melahirkan, maka

perlu dipikirkan adanya infeksi seperti sepsis puerperalis

(infeksi selama postpartum), infeksi saluran kemih,

edometritis (peradangan endometrium), pembengkakan

payudara, dan lain-lain. (b) nadi:


16

Dalam periode waktu 6-7 jam sesudah melahirkan, sering

ditemukan adanya bradikardia 50-70 kali permenit

(normalnya 80-100 kali permenit) dan dapat berlangsung

sampai 6-10 hari setelah melahirkan.

d. Kebutuhan Dasar Ibu Nifas

Ada beberapa kebutuhan dasar ibu dalam masa nifas, menurut

Suherni (2009) yaitu:

1) Gizi: Ibu nifas dianjurkan untuk: makan dengan diet berimbang,

cukup, karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral,

mengkonsumsi makanan tambahan, nutrisi 800 kalori/hari pada

bulan pertama, 6 bulan selanjutnya 500 kalori dan tahun kedua

400 kalori.

Asupan cairan 3 liter/hari, 2 liter di dapat dari air minum dan 1

liter dari cairan yang ada pada kuah sayur, buah dan makanan

yang lain, mengkonsumsi tablet besi 1 tablet tiap hari selama 40

hari, mengkonsumsi vitamin A 200.000 iu. Pemberian

vitamin A dalam bentuk suplementasi dapat meningkatkan

kualitas ASI, meningkatkan daya tahan tubuh dan meningkatkan

kelangsungan hidup anak.


17

2) Kebersihan Diri: Ibu nifas dianjurkan untuk: menjaga

kebersihan seluruh tubuh, mengajarkan ibu cara membersihkan

daerah kelamin dengan sabun dan air, menyarankan ibu

mengganti pembalut setiap kali mandi, BAK/BAB.

3) Istirahat dan tidur: Ibu nifas dianjurkan untuk: istirahat cukup

untuk mengurangi kelelahan, tidur siang atau istirahat selagi

bayi tidur, kembali ke kegiatan rumah tangga secara perlahan-

lahan, mengatur kegiatan rumahnya sehingga dapat

menyediakan waktu untuk istirahat pada siang kira-kira 2 jam

dan malam 7-8 jam. Kurang istirahat pada ibu nifas dapat

berakibat: mengurangi jumlah ASI, memperlambat involusi,

yang akhirnya bisa menyebabkan perdarahan, depresi.

4) Pemberian ASI/Laktasi. Hal-hal yang diberitahukan kepada ibu

nifas yaitu: menyusui bayi segera setelah lahir minimal 30 menit

5) Keluarga Berencana. Idealnya setelah melahirkan boleh hamil

lagi setelah 2 tahun.

e. Komplikasi masa nifas

Komplikasi yang dapat terjadi pada ibu nifas adalah:

1) Infeksi post partum

2) Perdarahan post partum

3) Gangguan afektif post partum, seperti: depresi post partum,post

partum blues, psikosa post partum.Fs


18

2. Persalinan Sectio Caesarea

a. Pengertian

Istilah Caesar sendiri berasal dari bahasa Latin caedere yang

artinya memotong atau menyayat. Operasi Caesar menurut Leon J.

Dunn, dalam buku Obstetrics and Gynecology, menyebutkan

sebagai cesarean section,laparotrachelotomy, atau abdominal

delivery yaitu persalinan untuk melahirkan janin dengan berat 500

gram atau lebih, melalui pembedahan di perut dengan menyayat

dinding rahim (Prawiroharjo, 2008).

b. Indikasi

Indikasi dilakukannya section caesarea adalah untuk keselamatan

ibu dan janin ketika harus berlangsung, tidak terjadi kontraksi,

distosia(persalinan macet) sehingga menghalangi persalinan alami,

dan bayi dalam keadaan darurat sehingga harus segera dilahirkan,

tetapi jalan lahir tidak mungkin dilalui janin. Lebih dari 85%

persalinan section caesarea disebabkan oleh distosia, fetal distress

dan persalinan bokong (Cunningham, 2005). Pada umumnya

section caesarea tidak dilakukan pada janin mati, syok, anemia

berat yang belum teratasi, dan kelainan kongenital (Prawiroharjo,

2008)
19

c. Teknik persalinan section caesarea

Teknik persalinan section caesarea sedikit variasi yang digunakan

di seluruh dunia

Ada beberapa jenis persalinan sectiocaesarea yang dikenal yaitu :

1) midtransverse

Berupa sayatan vertikal garis tengah atau sayatan melintang

suprapubik digunakan. Hanya dalam keadaan darurat

midtransverse dipekerjakan.

2) Insisi vertikal

Dengan membuat sebuah dibawah garis umbilical garis tengah

sayatan vertikal. Sayatan harus cukup panjang untuk

memungkinkan pengiriman bayi tanpa kesulitan.

3) Insisi Melintang

Merupakan sayatan melintang yang dimodifikasi, kulit dan

jaringan subkutan yang menorehkan sayatan pada segmen

bawah rahim melintang, sayatan sedikit lengkung. Sayatan

dibuat pada tingkat garis rambut pubis dan diperpanjang agak

luar batas lateral dari otot rektus.

Keuntungan kosmetik dari sayatan kulit transversal lebih baik.

Namun apakah akan lebih kuat dan lebih kecil emungkinannya

untuk mengalami dehiscence masih diperdebatkan (Hendrix

dan rekan kerja, 2000).


20

Pasti ada beberapa kelemahan dalam penggunaan setiap teknik.

Hasil pada beberapa wanita tidak seoptimal dengan sayatan

vertikal, dan yang terakhir dapat lebih mudah diperluas untuk

meningkatkan eksposur-keuntungan tertentu jika wanita gemuk.

Dengan kelahiran sesar ulangi, masuk kembali melalui sayatan

Pfannenstiel biasanya lebih memakan waktu dan sulit karena

jaringan parut. Ketika sayatan melintang diinginkan dan lebih

banyak ruang yang dibutuhkan, sayatan Maylard menyediakan

pilihan yang aman (Ayers dan Morley, 1987; Giacalone dan rekan,

2002).

Teknik yang paling sering dibuat adalah di segmen bawah rahim

melintang seperti yang dijelaskan oleh Kerr pada tahun 1926.

Kadang-kadang, sayatan vertikal seperti yang dijelaskan oleh

Kronig tahun 1912 dapat digunakan. Yang disebut sayatan klasik

adalah insisi vertikal ke dalam tubuh rahim atas segmen bawah

rahim dan mencapai fundus uteri. Torehan ini jarang digunakan

saat ini. Bagi sebagian besar kelahiran sesar, sayatan melintang

adalah pilihan utama. Keuntungannya adalah bahwa (1) lebih

mudah untuk memperbaiki, (2) terletak di sebuah situs paling tidak

mungkin pecah selama kehamilan berikutnya, dan (3) tidak

mempromosikan kepatuhan usus atau omentum ke garis insisional.

Jika janin tersebut tidak menyajikan dengan titik, jika ada beberapa

janin, atau jika janin sangat belum matang dan wanita ini tidak
21

memiliki tenaga kerja, lebih rendah-segmen vertikal atau bahkan

sayatan klasik dapat, kali, terbukti menguntungkan .

d. Manajemen Sectio Caesarea

1) Perawatan pra operasi

Jika persalinan sesar direncanakan, asupan oral dihentikan

minimal 8 jam sebelum operasi. Wanita dijadwalkan untuk

persalinan sesar dan dievaluasi oleh dokter kandungan dan ahli

anestesi. Kateter dipasang. Jika rambut mengaburkan bidang

operasi harus diatasi pada hari operasi dengan menjepit atau

mencukur. Jika cukur dilakukan malam sebelum operasi, risiko

infeksi luka meningkat.

2) Cairan intravena

Persiapan untuk cairan infus, termasuk darah selama dan setelah

kelahiran sesar, dapat bervariasi. Cairan intravena terdiri dari

baik Ringer Laktat atau cairan kristaloid sama dengan D5.

Biasanya, 1 sampai 2 L digunakan selama dan segera setelah

operasi. Sepanjang operasi dan kemudian di waktu pemulihan,

tekanan darah dan aliran urin dipantau secara ketat.

3) Pencegahan Infeksi pascaoperasi

Morbiditas demam sering terjadi setelah kelahiran sesar.

Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa dosis tunggal

antibiotic diberikan pada saat kelahiran sesar akan berfungsi


22

untuk menurunkan angka kesakitan infeksi secara signifikan.

Hal ini berlaku dari pasien bekerja berisiko tinggi serta mereka

menjalani kelahiran sesar pilihan (American College of

Obstetricians dan Gynecologists, 2003). Bagi wanita dalam

persalinan atau dengan ruptur membran, kebanyakan dokter

merekomendasikan antibiotic profilaksis. Infeksi panggul

pascaoperasi adalah penyebab paling sering morbiditas demam

dan berkembang pada sampai dengan 20 persen dari wanita

meskipun antimikroba profilaksis peripartum (Goepfert dan

rekan, 2001). Secara umum, tingkat infeksi yang tinggi di antara

pasien yang didanai pemerintah dan ekonomi bawah.

4) Fase Pemulihan Suite

Pasca operasi, jumlah perdarahan dari vagina harus diawasi

secara ketat, dan fundus uteri harus sering diidentifikasi dengan

palpasi untuk memastikan bahwa rahim berkontraksi.

Sayangnya, setelah efek analgesia menurun atau wanita

terbangun, palpasi perut akan menghasilkan ketidaknyamanan

yang cukup besar. Hal ini dapat dibuat lebih ditoleransi dengan

memberikan analgesik yang efektif intravena. Setelah ibu

sepenuhnya terjaga, perdarahan minimal, tekanan darah yang

memuaskan, dan aliran urin setidaknya 30 mL / jam, ibu dapat

dikirim ke kamar perawatan.


23

5) Perawatan selanjutnya

a) Analgesia

Untuk wanita normal, dapat diberikan analgesik.

Antiemetikbiasanya dapat diberikan bersama.

b) Vital Signs

Saat di ruang perawatan Setelah transfer ke kamarnya,

pasien dinilai setidaknya per jam selama 4 jam dan setelah

itu, pada interval 4 jam. Tekanan darah, nadi, suhu, nada

uterus, urin, dan jumlah perdarahan dievaluasi.

c) Terapi cairan dan Diet

Kecuali telah terjadi kondisi patologis dari kompartemen

cairan ekstraselular dari preeklamsia berat, muntah, demam,

atau persalinan lama tanpa asupan cairan yang cukup, atau

ada sepsis atau kehilangan darah yang signifikan, masa

nifas ditandai dengan ekskresi cairan yang dipertahankan

selama kehamilan. Jika hasil urine turun dibawah 30 mL /

jam, maka wanita itu harus dievaluasi segera. Penyebab

oliguria dapat berkisar dari kehilangan darah yang belum

diketahui diakui oleh efek antidiuretik dari oksitosin

diresapi.

d) Kandung kemih dan Fungsi usus

Kandung kemih kateter paling sering dapat dilepas dalam

12 jam pasca operasi atau, lebih nyaman, pagi hari setelah


24

operasi. Asuhan berikutnya untuk mengosongkan kandung

kemih sebelum terjadi overdistensi. Meskipun beberapa

derajat adinamik ileus berikut hampir setiap operasi perut,

dalam banyak kasus kelahiran sesar. Gejala termasuk

distensi perut dan nyeri gas, dan ketidakmampuan untuk

lulus flatus atau tinja. Patofisiologi ileus pasca operasi

dapat kompleks dan melibatkan hormonal, faktor saraf, dan

daerah yang tidak sepenuhnya dipahami (Livingston dan

Passaro, 1990). Jika berhubungan dengan demam yang

tidak jelas penyebabnya, atau cedera yang belum jelas

kemungkinan usus mungkin bertanggung jawab.

e) Ambulasi

Dalam kebanyakan kasus, pada hari setelah operasi, wanita

harus mendapatkan bangun dari tempat tidur dengan

bantuan setidaknya dua kali. Ambulasi dapat diatur

sehingga analgesic dapat diberikan akan meminimalkan

ketidaknyamanan. Pada hari kedua ia bisa berjalan tanpa

bantuan. Ambulasi dini menurunkan risiko trombosis vena

dan emboli paru.

f) Perawatan Luka

Sayatan diperiksa setiap hari, dan jahitan kulit atau klip

seringkali dapat diangkat pada hari keempat setelah operasi.

Namun, jika ada kekhawatiran seperti pada pasien obesitas,


25

jahitan atau klip harus tetap di tempat selama 7 sampai 10

hari jika mereka tidak menyebabkan iritasi pada kulit yang

cukup.

g) Perawatan Payudara

Menyusui dapat dimulai hari setelah operasi. Jika ibu

memilih untuk tidak menyusui, pengikat yang mendukung

payudara tanpa kompresi ditandai biasanya akan

mengurangi rasa tidak nyaman (lihat Bab. 30, ASI).

h) Perawatan Rumah Sakit

Kecuali ada komplikasi selama masa nifas, ibu umumnya

pulang pada hari ketiga atau keempat setelah melahirkan.

Kegiatan ibu selama minggu pertama harus dibatasi untuk

perawatan diri dan perawatan bayinya dengan bantuan.

Dalam banyak kasus, mungkin menguntungkan untuk

melakukan evaluasi postpartum awal selama minggu

pertama sampai ketiga setelah melahirkan untuk mencegah

komplikasi nifas.

(Cunningham, 2005)

e. Konsep penyembuhan luka

Luka dapat diartikan sebagai gangguan atau kerusakan integritas

dan fungsi jaringan pada tubuh (11). Ketika luka timbul, beberapa

efek akan muncul : hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ;


26

respon stres simpatis; perdarahan dan pembekuan darah;

kontaminasi bakteri; dan kematian sel.

Proses penyembuhan luka terjadi secara normal tanpa bantuan,

walaupun beberapa bahan perawatan dapat membantu untuk

mendukung proses penyembuhan. Sebagai contoh, melindungi area

yang luka bebas dari kotoran dengan menjaga kebersihan

membantu untuk meningkatkan penyembuhan jaringan. Ada

beberapa prinsip dalam penyembuhan luka :

1). Kemampuan tubuh untuk menangani trauma jaringan

dipengaruhi oleh luasnya kerusakan dan keadaan umum kesehatan

tiap orang,

2). Respon tubuh pada luka lebih efektif jika nutrisi yang tepat

tetap dijaga,

3). Respon tubuh secara sistemik pada trauma,

4). Aliran darah ke dan dari jaringan yang luka,

5). Keutuhan kulit dan mukosa membran disiapkan sebagai garis

pertama untuk mempertahankan diri dari mikroorganisme, dan

6). Penyembuhan normal ditingkatkan ketika luka bebas dari benda

asing tubuh termasuk bakteri.

Penyembuhan luka adalah suatu kualitas dari kehidupan jaringan

hal ini juga berhubungan dengan regenerasi jaringan. Fase

penyembuhan luka digambarkan seperti yang terjadi pada luka

pembedahan (Schwart, 2000).


27

1) Fase Inflamatori

Fase ini terjadi segera setelah luka dan berakhir 3 4 hari.

Dua proses utama terjadi pada fase ini yaitu hemostasis dan

pagositosis. Hemostasis (penghentian perdarahan) akibat fase

konstriksi pembuluh darah besar di daerah luka, retraksi

pembuluh darah, endapan fibrin (menghubungkan jaringan)

dan pembentukan bekuan darah di daerah luka. Bekuan darah

dibentuk oleh platelet yang menyiapkan matrik fibrin yang

menjadi kerangka bagi pengambilan sel. Scab (keropeng) juga

dibentuk dipermukaan luka. Bekuan dan jaringan mati, scab

membantu hemostasis dan mencegah kontaminasi luka oleh

mikroorganisme. Dibawah scab epithelial sel berpindah dari

luka ke tepi. Epitelial sel membantu sebagai barier antara

tubuh dengan lingkungan dan mencegah masuknya

mikroorganisme. Fase inflamatori juga memerlukan pembuluh

darah dan respon seluler digunakan untuk mengangkat benda-

benda asing dan jaringan mati. Suplai darah yang meningkat

ke jaringan membawa bahan-bahan dan nutrisi yang

diperlukan pada proses penyembuhan. Pada akhirnya daerah

luka tampak merah dan sedikit bengkak. Selama sel berpindah

lekosit (terutama neutropil) berpindah ke daerah interstitial.

Tempat ini ditempati oleh makrofag yang keluar dari monosit

selama lebih kurang 24 jam setelah cidera/luka. Makrofag ini


28

menelan mikroorganisme dan sel debris melalui proses yang

disebut pagositosis. Makrofag juga 14 mengeluarkan faktor

angiogenesis (AGF) yang merangsang pembentukan ujung

epitel diakhir pembuluh darah. Makrofag dan AGF bersama-

sama mempercepat proses penyembuhan. Respon inflamatori

ini sangat penting bagi proses penyembuhan.

2) Fase Proliferasi

Fase kedua ini berlangsung dari hari ke-3 atau 4 sampai hari

ke-21 setelah pembedahan. Fibroblast (menghubungkan sel-sel

jaringan) yang berpindah ke daerah luka mulai 24 jam pertama

setelah pembedahan. Diawali dengan mensintesis kolagen dan

substansi dasar yang disebut proteoglikan kira-kira 5 hari

setelah terjadi luka. Kolagen adalah substansi protein yang

menambah tegangan permukaan dari luka. Jumlah kolagen

yang meningkat menambah kekuatan permukaan luka sehingga

kecil kemungkinan luka terbuka. Selama waktu itu sebuah

lapisan penyembuhan nampak dibawah garis irisan luka.

Kapilarisasi tumbuh melintasi luka, meningkatkan aliran darah

yang memberikan oksigen dan nutrisi yang diperlukan bagi

penyembuhan. Fibroblast berpindah dari pembuluh darah ke

luka membawa fibrin. Seiring perkembangan kapilarisasi

jaringan perlahan berwarna merah. Jaringan ini disebut

granulasi jaringan yang lunak dan mudah pecah.


29

3) Fase Maturasi

Fase maturasi dimulai hari ke- 21 dan berakhir 1 - 2 tahun

setelah pembedahan. Fibroblast terus mensintesis kolagen.

Kolagen menjalin dirinya, menyatukan dalam struktur yang

lebih kuat. Bekas luka menjadi kecil, kehilangan elastisitas dan

meninggalkan garis putih.

f. Faktor faktor yang memperngaruhi penyembuhan luka

1) Faktor eksternal

a) Status Gizi dan imunitas

Status gizi mempengaruhi kecepatan penyembuhan

luka. Status gizi yang buruk mempengaruhi sistem

kekebalan tubuh yang memberi perlindungan terhadap

penyakit infeksi seperti penurunan sekretori imuno globulin

A (AIgA) yang dapat memberikan kekebalan permukaan

membran mukosa, gangguan sistem fagositosis, gangguan

pembentukan kekebalan humoral tertentu, berkurangnya

sebagian komplemen dan berkurangnya thymus sel (T).

b) Lingkungan

Dukungan dari lingkungan keluarga, dimana ibu akan

selalu merasa mendapatkan perlindungan dan dukungan

serta nasihat-nasihat khususnya orang tua dalam merawat

kebersihan setelah persalinan.


30

c) Tradisi

Di Indonesia ramuan peninggalan nenek moyang untuk

perawatan setelah persalinan masih banyak digunakan,

termasuk oleh kalangan masyarakat modern. Misalnya

untuk perawatan kebersihan genital, masyarakat tradisional

menggunakan daun sirih yang direbus dengan air kemudian

dipakai untuk cebok.

d) Pengetahuan

Pengetahuan ibu tentang perawatan setelah persalinan

sangat menentukan lama penyembuhan luka perineum.

Apabila pengetahuan ibu kurang, terlebih masalah

kebersihan maka penyembuhan luka akan berlangsung

lama.

e) Sosial ekonomi

Pengaruh dari kondisi sosial ekonomi ibu dengan lama

penyembuhan perineum adalah keadaan fisik dan mental

ibu dalam melakukan aktifitas sehari-hari setelah

persalinan.

f) Penanganan petugas

Pada saat persalinan, cara membersihkannya harus

dilakukan dengan tepat oleh penanganan petugas kesehatan,

hal ini merupakan salah satu penyebab yang dapat

menentukan lama penyembuhan luka perineum.


31

2) Faktor internal

a) Usia

Usia berpengaruh terhadap imunitas. Penyembuhan

luka yang terjadi pada orang tua sering tidak sebaik pada

orang yang muda. Hal ini disebabkan suplai darah yang

kurang baik, status nutrisi yang kurang atau adanya penyakit

penyerta. Sehingga penyembuhan luka lebih cepat terjadi

pada usia muda dari pada orang tua.

b) Penanganan jaringan

Penanganan yang kasar menyebabkan cedera dan

memperlambat penyembuhan.

c) Personal hygiene

Personal hygiene (kebersihan diri) yang kurang dapat

memperlambat penyembuhan, hal ini dapat menyebabkan

adanya benda asing seperti debu dan kuman.

d) Medikasi

Steroid dapat menyamarkan adanya infeksi dengan

menggangu respon inflamasi normal. Antikoagulan dapat

menyebabkan hemoragi. Antibiotik spektrum luas atau

spesifik efektif bila diberikan segera sebelum pembedahan

untuk patolagi spesifik atau kontaminasi bakteri. Jika

diberikan setelah luka ditutup, tidak efektif karena koagulasi

intrvaskular.
32

e) Aktivitas yang berlebih

Aktivitas yang berlebih dapat menghambat perapatan

tepi luka serta mengganggu penyembuhan yang diinginkan.

f) Penyakit penyerta

Pada penyakit diabetes melitus (terjadi kerusakan

imunitas), pada penderita yang mendapat radioterapi juga

mempengaruhi penyembuhan luka karena akan terjadi

penurunan vaskularisasi jaringan dan penyembuhan luka

pada daerah yang diradiasi sering terganggu.

(Rusjiyanto, 2009).

3. Propolis

a. Pengertian

Propolis, atau "lem lebah," adalah zat yang terkenal bahwa

peternak lebah temukan di sarang. Propolis menurut penelitian

telah terbukti efektif terhadap berbagai bakteri,

virus, jamur, dan cetakan. Telah terbukti menjadi

imunostimulan non-spesifik. Propolis adalah produk Substrat

getah (resin) hijau kecoklatan alami yang dikumpulkan oleh

lebah madu. Kata Propolis berasal dari bahasa Yunani pro

(sebelum) dan polis (kota). Propolis telah digunakan untuk

membuat perisai pelindung di pintu masuk sarang lebah. Juga

digunakan untuk mengisi celah-celah di dalam sarang, untuk


33

melampirkan sudut frame ke alur di dalam sarang, dan juga

untuk

memoles sel-sel sarang lebah. (Ghisalberti et al (1978) dalam

Hegazi (2012)

b. Latar belakang sejarah

Sejak awal sejarah manusia, kitab agama Islam telah memuat

ayat mengenai hasil lebah sebagai sumber makanan alami yaitu

dalam Al-Quran Surat An-Nahl:

1) Tuhamu mewahyukan kepada lebah buatlah sarang-sarang

di bukit-bukit dan ditempat yang dibuat manusia (An-Nahl,

68)

2) Kemudian Makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan

dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan

(bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman yang

bernacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang

menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang

demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan)

bagi orang-orang yang memikirnkannya(An-Nahl, 68)

Propolis digunakan khususnya di jaman dahulu, di Mesir.

Beberapa ribu tahun SM propolis sangat dikenal oleh para

ilmuan kedokteran, kimia dan seni mummifikasi mayat. Fakta


34

bahwa propolis juga dikenal lama Yunani ditunjukkan dengan

nama berasal dari Yunani. Peneliti berpendapat bahwa propolis

dipanen dari resin tunas willow, poplar, liar kastanye dan

tanaman lainnya

Propolis digunakan secara efektif pada luka oleh dokter selama

Perang Dunia II. Ini juga digunakan di rumah sakit. Dari tahun

1969 obat-obatan Ortodoks di Uni Soviet menerima

penggunaan propolis 30% (30% alkohol larutan propolis). Hal

ini dihasilkan oleh pabrik produk farmasi di Tallinn

(Makashvili, 1978 dalam Ahmed G. Hegazi (2012))

c. Kandungan

Bee Propolis mengandung senyawa-senyawa alami yang

kompleks dengan elemen gizi yang bervariasi. Dari hasil

analisis makro kimia menunjukkan kalau bee propolis

mengandung: 55% sejens/resin, 30% lilin lebah, 10% minyak

aromatic, 5% pollen.

Tabel 2.1 Analisis mikro kimia kandungan Bee Propolis

Nurtisi Propolis
Vitamin
C(mg/100g) 1.00
A (IU/100g) <10
D (IU/100g) 331.44
E (IU/100g) 113.69
K (mg/100g) 13.24
B1(mg/100g) 0.02
B6 (mg/100g) 0.15
H (mg/100g) 0.0044
Choline Chloride (mg/100g) 40.37
Folic Acid (mg/100g) 0.032
B3 (mcg/100g) 4.39
35

B12 (mcg/100g) <0.06


B2 (mg/100g) 0.05
B5 (mg/100g) 0.065
Asam Amino (mg/100g)
Cysteic Acid 32
Aspartic Acid 57
Glutamic Acid 67
Serine 32
Histidine dan Glycene 64
Arginine 38
Threonine 27
Alanine 37
Praline 1
Tyrosine 37
Valine 30
Isoleucine 26
Leucine 34
Phenylalanine 85
Lysine 60
Methionine Sulfate <10
Tryptophan 851

Mineral (mg/100g)
Fluoride 2.310
Iodine 0.100
Selenium <40
Alumunium 134
Barium 7450
Calcium 462.100
Chromium 4.284
Copper 1.250
Iron 316.050
Magnesium 94.4
Manganese 3.69
Molybdenum 0.50
Phosporus 25.96
Pottasium 10.85
Sodium 31.07
Strotium 1.62
Zinc 8.97

Flafonoid (mg/100g) 10.450


(Hoesada dkk, 2012)
36

d. Manfaat

Kandungan bee propolis dapat menunjukkan beberapa manfaat

yang dihasilkan adalah:

1) Meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan infeksi

dan membantu mempercepat proses penyembuhan

peradangan.

2) Bersifat antiseptic sehingga dapat membunuh bakteri

3) Senyawa flavonoid bersifat antioksidan yang berfungsi

menghilangkan racun dan senyawa karsinogen

4) Memperbaiki kerja kardiovaskuler

5) Membantu memperbaiki kerusakan sel akibat penyakit

e. Cara Kerja

1) Aktivitas biologis bee propolis

Propolis merangsang regenerasi jaringan tubuh mamalia,

karena menyebabkan aktivasi kuat mitosis sel dikultur in

vitro dan meningkatkan biosintesis protein (Scheller et al.,

1977a, Popeskovic dkk., 1977 dan Gabrys et al., 1986).

Ekstrak dari propolis yang diselidiki untuk kegiatan

sitostatik in vitro dengan Scheller et al. (1977b dan 1978a).

Kimia dan studi farmakologi dari propolis dari berbagai

lokasi yang diselidiki oleh Papay et al (`1997). Menurut

penelitian Matsuno (1992 dan 1997) Propolis mengisolasi

zat tumoricidal. Strehl et al. (1994) menunjukkan bahwa


37

ekstrak etanol dan air propolis menunjukkan substansial

anti-inflamasi fungsi serta kegiatan antibiotik mana

ekstrak air propolis menghambat enzim dihydrofolate

reduktase, kegiatan ini penghambatan mungkin setidaknya

sebagian menjadi karena kandungan asam caffeic. Mereka

mengatakan bahwa efek anti-oksidatif adalah sebagian

karena tinggi kandungan flavonoid.

(Ahmed G. Hegazi, 2012)

2) Aktivitas antimikroba propolis:

Aktivitas antimikroba propolis terhadap berbagai bakteri,

jamur, ragi dan virus telah diteliti sejak akhir 1940-an dan

itu menunjukkan aktivitas variabel terhadap ikroorganisme

yang berbeda. a-antibakteri aktivitas:Chernyak (1973)

menguji aktivitas bakterisidal propolis terhadap 20

staphylococcus, 10 streptokokus dan 10 kultur E. coli

menggunakan konsentrasi 1,25-5 mg propolis / ml, itu

menunjukkan aktivitas penghambatan yang kuat terhadap

25 spesies bakteri yang diuji. Banyak peneliti telah

menyelidiki aktivitas antibakteri propolis dan ekstrak yang

terhadap strain Gram-positif dan Gram-negatif dan

menemukan bahwa propolis memiliki aktivitas antibakteri

terhadap berbagai batang Gram-positif tetapi memiliki

terbatas aktivitas terhadap basil Gram-negatif (Prado-Filho


38

et al, 1962;. Scheller et al, 1968.;Vokhonina et al, 1969;.

Akopyan et al, 1970 dan Grecianu & Enciu, 1976).

Shu et al (1981) menguji 106 strain S. aureus semua

mereka rentan terhadap 0,5-1,0 mg propolis / ml. strain

yang resisten terhadap benzil / penisilin,

tetrasiklin, dan eritromisin yang sensitif terhadap propolis.

Propolis memiliki efek sinergis bila dikombinasikan

dengan salah satu dari 3 antibiotik yang digunakan

terhadap resisten antibiotik

(Hegazi, 2012)

Bee Propolis mempunyai cara kerja yang berbeda dari produk

lebah yang lainnya, dimana propolis langsung melakukan

perbaikan terhadap sistem kekebalan tubuh (imunitas), dan

mencegah terjadinya infeksi lebih lanjut, sehingga propolis

berguna membangun benteng pertahanan tubuh (Hoesada dkk,

2012).

f. Dosis yang diberikan

Bee propolis setiap kemasan pada produk berupa tablet dan

kapsul. Tiap tablet mengandung 500 mg beepropolis atau tiap

kapsul mengandung 200 mg bee propolis ditambah vitamin A

dan C.

Cara Penggunaan untuk tujuan pencegahan penyakit dan

perawatan kesehatan baik kapsul maupun tablet adalah 2 kali


39

sehari setengah jam sebelum makan. Namun menggunaan

tablet atau kapsul tergandung dari usia, bila anak anak

menggunakan kapsul dan bila dewasa menggunakan (tablet).

Cara penggunaan untuk kondisi sakit dapat diberikan 3 x 1

tablet perhari sampai kondisi sembuh.

Bee propolis dapat dikonsumsi bersama dengan obat-obatan

lainnya, dengan aman tanpa menimbulkan efek interaksi dan

efek samping.

(Hoesada, 2012)

B. Kerangka Teori

Kerangka teori dibuat sebagai landasan untuk penelitian yang akan

dilakukan. Kerangka teori dimulai dari tahap penyembuhan luka dan

faktor faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka section caearea.

Sementara proses penyembuhann luka memiliki tahap- tahap sendiri.

Tahap dan fase penyembuhan luka dimulai dari fase imflamatori, fase

prolifesari dan fase maturasi (Scwartz, 2000).

Banyak faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka, faktor - faktor

yang berasal dari eksternal maupun faktor internal.

Faktor eksternal dalam penelitian ini adalah gizi dan imunitas, lingkungan,

tradisi, pengetahuan, social ekonomi, penanganan petugas pasca operasi (

analgesia, penanganan vital sign, terapi cairan dan diit, penanganan


40

eliminasi, ambulasi dan perawatan luka yang meliputi medikasi luka dan

obat yang diberikan)

Faktor internal dalam penelitian ini adalah usia, penanganan jaringan,

personal hygiene, medikasi luka, aktivitas berlebih, dan pengakit penyerta

(Rusdiyanto, 2009)

Pemberian propolis pada ibu pasca operasi section caearea dapat

meningkatkan sistem imunitas tubuh melalui kandungan multivitamin dan

mineral yang ada dan zat antimikroba membantu proses pembenyembuhan

luka dan radang lebih cepat sehingga masa nifas dapat berjalan dengan

baik (Soehada, 2012 dan (Hegazi, 2012))

Kerangka teori ini disusun berdasar kerangka teori Evan and Stoddart

(1990) dalam Lix L dkk, 2005.


41

Pemberian Terapi Bee


Propolis

Tahap penyembuhan Fase penyembuhan


Luka Inflamasi Luka Maturasi

Faktor- faktor yang mempengaruhi


penyembuhan luka:
Faktor Internal:
1. Usia
2. Penanganan jariangan
3. Medikasi
4. Aktivitas
5. Penyakit penyerta
Faktor Ekternal:
1. Gizi dan Imunitas
2. Lingkungan
3. Tradisi
4. Pengetahuan
5. Sosial Ekonomi
6. Penanganan Petugas
a. Terapi profilaksis
b. Pemeriksaan vital sign
c. Terapi cairan dan diit
d. Penanganan eliminasi
e. Perawatan luka ( medikasi
dan pengobatan)

Gambar 2.1

Kerangka Teori Tahap-tahap penyembuhan luka penyembuhan luka Sumber:

Modifikasi Evan and Stoddart (1990) dalam Lix L dkk, 2005., (Soehada,

2012 dan (Hegazi, 2012), Scwartz (2000))


42

C. Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan

antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-

penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2010).

Pemberian Terapi Bee


Propolis

Tahap penyembuhan Fase penyembuhan


Luka
D.Inflamasi
Hipotesis Luka Maturasi

Karakteristik Responden
1. Usia
2. Medikasi
3. Penyakit penyerta
4. Sosial Ekonomi

Gambar 2.2

Kerangka Teori Tahap-tahap penyembuhan luka penyembuhan luka


43

D. Hipotesis

Hipotesis dalam suatu pernyataan yang masih lemah dan membutuhkan

pembuktian untuk menegaskan hipotesis tersebut dapat diterima atau harus

ditolak, berdasarkan fakta atau data empiris yang telah dikumpulkan dalam

penelitian (Hidayat, 2011 : 45). Berdasarkan kerangka konsep di atas maka

hipotesis dalam penelitian ini adalah :

Ho : Tidak ada pengaruh pemberian bee propolis terhadap penyembuhan

Luka Sectio Caesarea Ibu Post Partum di RSUD BARI Propinsi

Sumatera Selatan

Ha: Ada Pengaruh Pemberian Bee Propolis terhadap penyembuhan Luka

SC Ibu Post Partum di RSUD BARI Propinsi Sumatera Selatan


44

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain

Ekperimental pre post design with control Group, dengan pendekatan yaitu

variabel sebab atau risiko yang terjadi pada objek penelitian diukur atau

dikumpulkan terlebih dahulu kemudian variabel akibat atau kasus diteliti

kemudian (Notoatmodjo, 2005). Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh

variabel bebas (independen variable) dalam hal ini pemberiaan bee propolis bagi

ibu post Sectio Caesarea terhadap variabel terikat (dependen variable) yaitu lama

penyembuhan luka sectio caesarea di RSUD BARI Propinsi Sumatera Selatan.

Selanjutnya lama penyembuhan luka yang mengkonsumsi bee propolis

dibandingkan dengan yang tidak mengkonsumsi bee propolis yang merupakan

kelompok kontrol.

Kelompok 1: Kelompok Ibu yang bersedia mengkonsumsi bee propolis

dengan dosis 3 x 1 pcs di konsumsi setengah jam sebelum makan dimulai

sejak ibu diperbolehkan mengkonsumsi obat secara oral sampai dengan

penyembuhan luka Sectio caesarea ke tahap maturasi ( dimana jaringan

sudah menutup sempurna dan tidak mudah pecah)

Kelompok 2: Kelompok ibu yang tidak bersedia mengkonsumsi bee propolis

diminta untuk menjadi kelompok control dan penyebuhan luka dievaluasi


45

sampai dengan penyembuhan luka Sectio caesarea ke tahap maturasi

(dimana jaringan sudah menutup sempurna dan tidak mudah pecah)

Berikut ini adalah gambar desain penelitian yang digunakan:

Kelompok Pre design Intervensi Post design

Intervensi O1 X O2

Kontrol O3 O4

Keterangan:

O1 : Kondisi luka sebelum mendapat intervensi bee propolis

O2 : Kondisi luka setelah mendapat intervensi bee propolis

O3 : Kondisi luka pada kelompok kontrol sebelum kelompok intervensi

mendapat intervensi bee propolis

O4 : Kondisi luka pada kelompok kontrol setelah kelompok intervensi

mendapat intervensi bee propolis

X : Terapi pemberian bee propolis

O2 O4: Jumlah hari dimana konsidisi luka pasien sudah memasuki tahap

maturasi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol


46

B. Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional adalah suatu penentuan mengenai wujud variabel

yang dikaji dalam suatu penelitian. Untuk mengkaji hipotesis, peneliti perlu

menentukan atau memastikan variabel apa saja yang dilibatkan dalam penelitian

ini. Definisi operasional bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau

pengamatan terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta mengembangkan

instrumen alat ukur. Berdasarkan uraian di atas, maka definisi operasional dalam

penelitian ini adalah:

Tabel 3.1

Definisi Operasional

Definisi Cara Alat


No. Variabel Hasil Ukur Skala
Operasional Ukur ukur

Variabel Independen (X)


1. Bee Merupakan Jumlah Lembar Mean, SD Interva
Propolis jumlah satuan check list l
propolis yang
dikonsumsi ibu
selama masa
nifas dimulai
setelah ibu
boleh
mengkonsumsi
obat oral

Variabel Dependen (Y)


2. Penyemb Merupakan Hari Lembar Mean, SD Interva
uhan luka jumlah hari check list l
sejak ibu SC
sampai
47

keadaan luka
SC ibu telah
memasuki
tahap maturasi

Karakteristik Responden

3 Usia Lama Hidup Tahun kuesione Mean, SD Interva


responden r l
terhitung
sampai saat ini

4 Medikasi Kebiasaan Wawan Kuesione 0=Melakukan Nomin


responden cara r al
melakukan 1= Tidak
medikasi luka Melakukan

5 Penyakit Penyakit Wawan Kuesione 0= tidak ada Nomin


Penyerta penyerta ibu cara r penyakit al
saat menjalani penyerta
operasi
1= ada
penyakit
penyerta

6 Status Merupakan Wawan Kuesione 0= Baik, Nomin


Ekonomi pendapatan -cara r >Rp.1.200.0 al
Keluarga responden/ 00,-/ bulan
keluarga (sesuai
perbulan yang dengan
digunakan UMP
untuk Lampung)
memenuhi
kebutuhan 1= Kurang
sehari-hari Baik, <Rp.
1.200.000,-/
bulan
(sesuai
dengan
UMP
Lampung)
48

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah jumlah keseluruhan dari penelitian yaitu ibu bersalin dengan

Sectio Caesarea yang ada di Ruang Kebidanan RSUD BARI Propinsi

Sumatera Selatan.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian populasi yang diambil dari seluruh objek yang

diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2005).

Dalam penelitian ini perhitungan besar sampel menggunakan rumus

Sastroasmoro (2002).

2
2( + )
1 = 2 = ( )
(1 2 )

a. n = besar sampel

b. = simpangan baguk (3.82:Wallace et al, 2008)


c. = nilai z alpha = 5% yaitu = 1,96
d. = power penelitian 80% = 0.84

e. 1 2 = perubahan penelitian yang dianggap bermakna = 3

Berdaasarkan perhitungan didapatkan 24,5, dibulatkan menjadi 25,

ditambah 10% untuk kemungkinan drop out = 28 Responden

Maka besar sampel dalam penelitian ini adalah 28. Untuk masik masing

kelompok ( kontrol dan perlakuan).


49

D. Waktu dan Tempat

Penelitian ini berlokasi di Ruang Kebidanan RSUD BARI Propinsi

Sumatera Selatan dan waktu penelitian dilakukan setelah proposal di validasi.

E. Etika Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian ilmiah yang dapat dipertanggung

jawabkan. Diawali dengan pengajuan proposal penelitian ke Program

Pascasarjana Kebidanan Universitas Brawijaya. Setelah memperoleh ijin

melakukan penelitian kemudian mengajukan perijinan pelaksanaan penelitian

di RSUD BARI Propinsi Sumatera Selatan.

Prinsip memenuhi etika penelitian. Peneliti akan memberikan informasi terkait

dengan proses penelitian meliputi rencana penelitian, tujuan, dan manfaat

penelitian pada responden. Setiap responden memiliki hak untuk menyetujui

atau menolak diikut sertakan dalam penelitian dengan mentandatangani surat

persetujuan menjadi responden atau lembar informed concent yang telah

disediakan oleh peneliti.

Peneliti selalu memperhatikan prinsip self determination responden diberikan

penjelasan bahwa dirinya dapat mengundurkan diri dari penelitian tanpa ada

konsekuensi apapun. Responden berhak menentukan apakah dirinya

berpartisipasi atau tidak dalam sebuah penelitian. Peneliti memberikan

penjelasan kepada responden tentang prosedur, manfaat dan resiko dari

penelitian yang dilakukan.


50

Prinsip Benefience, protection from discomfort yang menyatakan penelitian ini

tidak membahayakan, memperhatikan dan menghormati hak, martabat dan

privasi responden. Peneliti menjelaskan bahwa responden berhak memperoleh

kenyaman secara fisik, psikologis dan social. Peneliti member kesempatan

pada responden untuk menunda pengisian kuesioner jika tidak ingin mengisi

pada saat ada peneliti. Peneliti akan menyesuaikan waktu yang disediakan

oleh responden sesuai dengan waktu responden.

Prinsip Anonimitas (Kerahasiaan data demografi) dan confidencial

(Kerahasiaan data hasil penelitian) peneliti akan menjelaskan kepada

responden bahwa responden memiliki hak kerahasiaan tentang data data

responden, peneliti akan menjaga kerahasiaanya selama penelitian,

pengolahan data dan publikasi penelitian.

F. Alat Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data terbagi atas pengumpulan data sekunder dan data

primer. Pengumpulan data primer adalah dengan cara memberikan kuesioner

persetujuan kepada masing-masing responden kemudian responden yang setuju

diberikan terapi intervensi dan responden yang tidak setuju diberikan terapi

dimohonkan menjadi responden kelompok kontrol. pengumpulan data dilakukan

secara langsung dengan memberikan menghitung jumlah bee propolis yang

dikonsumsi dan melakukan observasi langsung pada luka Sectio Caesarea.


51

G. Pengolahan Data

Pengolahan data pada penelitian ini melalui 4 tahap yaitu (Notoatmodjo,

2005):

1. Editing Data

Bertujuan untuk meneliti kelengkapan dan kekonsistenan jawaban dari

tiap-tiap kuesioner yang telah diisi oleh responden.

2. Coding Data

Pemberian kode pada atribut kuesioner penelitian untuk memudahkan

dalam entri dan analisa data. Untuk variebel independen jumlah propolis yang

dikonsumsi dengan penghitungan angka dan jumlah hari yang dibutuhkan

pasien untuk penyembuhan luka ke tahap maturasi.

3. Scoring Data

Yaitu memberikan skor pada setiap jawaban responden.

4. Tabulating Data

Merupakan kegiatan yang mengelompokkan atau menyusun data

kedalam tabel yang dibuat sesuai maksud dan tujuan baik secara univariat

maupun bivariat dengan menggunakan program SPSS. Proses tabulating data

dimulai dari memasukan data mentah (hasil penelitian) ke dalam lembar kerja

Excel yang kemudian dikelompok-kan/disusun sesuai dengan kategori

masing-masing variabel dan sub variabel hingga persiapan pengolahan dengan

menggunakan program statistik.


52

5. Entry Data

Tahap ini dilakukan dengan memasukkan data ke dalam komputer

untuk diolah dan dianalisa melalui program komputer.

H. Analisis Data

1. Analisis Univariat

Dilakukan untuk mendeskripsikan setiap variabel yang diukur.

Karakteristik responden meliputi Usia, medikasi, penyakit penyerta, dan

sosial ekonomi. Variabel jumlah propolis yang dikonsumsi dan lama

waktu penyembuhan luka merupakan data numerik yang dilakukan dengan

pengukuran mean, median, standar deviasi, dan nilai minimal maksimal.

2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat yang dilakukan pada penelitian ini untuk membuktikan

hipotesis penelitian. Tujuan analisis ini adalah untuk melihat adakah

Pengaruh variabel independen dan dependen, sekaligus untuk melakukan

identifikasi variabel yang bermakna atau tidak yaitu dengan uji Chi-

Square. Dalam Penelitian ini uji analisi yang akan digunakan adalah Uji T.

untuk melihat hasil kemaknaan perhitungan statistik digunakan batas

kemaknaan 0,05 berarti jika p value <0,05 maka hasilnya bermakna yang

artinya Ha diterima dan jika p value >0,05 maka hasilnya tidak bermakna

yang artinya Ha di tolak. Analisis statistik Uji T ini menggunakan program

komputer dengan melakukan analisa tabulasi dengan varibel independen.


53

Dengan demikian diketahui pengaruh antara variabel bebas yang sudah

ditentukan lama luka penyembuhan Sectio Caesarea.