Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Blok Tumbuh Kembang dan Geriatri adalah blok sembilan belas pada
semester VI dari Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendidikan Dokter Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang.
Pada kesempatan ini dilaksanakan tutorial studi kasus skenario B yang
memaparkan kasus ARDS.

1.2 Maksud dan Tujuan


Adapun maksud dan tujuan dari laporan tutorial studi kasus ini, yaitu :
1. Sebagai laporan tugas kelompok tutorial yang merupakan bagian dari system
pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah
Palembang.
2. Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario dengan metode analisis
dan pembelajaran diskusi kelompok.
3. Tercapainya tujuan dari metode pembelajaran tutorial.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Data Tutorial


Tutor : dr. Asmarani Makmun, M.Kes
Moderator : Indria Rizki
Sekretaris meja : Veranica Antonia
Sekretaris papan : Purry Ayu Ovilia
Waktu : 1. Selasa, 24 Juni 2014
2. Kamis, 26 Juni 2014
Pukul. 13.00 15.30 wib.
Rule :
1. Menonaktifkan ponsel atau dalam keadaan diam.
2. Mengacungkan tangan saat akan mengajukan argumen
3. Izin saat akan keluar ruangan

2.2 Skenario Kasus


Seorang bayi laki-laki lahir di RSMP dengan tindakan sectio caesaria dari seorang
ibu Ira, G2P1A0 hamil 32 minggu dengan menderita PEB. Ibu Ira masuk rumah sakit
karena sakit kepala hebat dan dilakukan pemeriksaan fisik ditemukan tekanan darah
180/100 mmHg dan pemeriksaan laboratorium ditemukan proteinuria +3. Sudah
dilakukan tatalaksana pemberian MgSO4 tapi tidak ada perbaikan sehingga diputuskan
untuk dilakukan tindakan operasi terminasi kehamilan. Selama hamil ibu Ira menderita
darah tinggi. Bayi lahir tidak langsung menangis. Nilai skor APGAR 1 menit adalah 4
dan 5 menit adalah 8.
Pemeriksaan fisik: Keadaan umum: PB: 42 cm, BBL: 1800 g, LK: 30 cm
Vital sign: RR: 70 x/menit, Temp.:36,6oC, HR: 150 x/menit
Pemeriksaan khusus:
Kepala: hidung: napas cuping hidung (+), merintih/grunting (+), sianosis (-)
Thorax: retraksi dinding dada (+) epigastrium, suprasternal
Jantung: bunyi jantung I dan II normal, bising tidak ada
Paru: vesikuler menurun, ronchi tidak ada
Ekstremitas: hipotoni, tidak ada kelainan kongenital

2
2.3 Seven Jump Steps
2.3.1 KLARIFIKASI ISTILAH
1. Terminasi kehamilan: Pengakhiran pada kehamilan (Dorland: 1078)
2. Nafas cuping hidung: Pelebaran lubang hidung yang terjadi pada saat gawat
pernapasan.
3. Grunting: Suara di akhir respirasi terdengar pada bayi baru lahir atau gawat
pernapasan.
4. Hipotoni: Penurunan tonus atau tegangan pada otot rangka. (Dorland: 547)
5. Sianosis: Deskripsi klinis mengacu pada warna biru pada bibir, lidah, dan sentral
atau jari tangan (perifer) yang dimana semuanya disebabkan oleh adanya
penurunan Hb tereduksi dalam kapiler. (Kedokteran Klinis Edisi VI: EGC)
6. Skor APGAR: Sebuah metode sederhana secara cepat menilai kondisi kesehatan
bayi baru lahir sesaat setelah kelahiran. Memiliki 5 kriteria: warna kulit, denyut
jantung, respon reflex, tonus otot dan pernapasan.
7. Retraksi dinding: Penarikan kembali dinding dada. (Dorland:938)
8. Sectio caesaria: Suatu cara melahirkan janin dengan insisi pada abdomen dan
uterus.
9. Proteinuria: Adanya protein serum dalam urin. (Dorland: 901)
10. PEB: Toksemia pada kehamilan lanjut yang ditandai oleh hipertensi, edema, dan
proteinuria. (Dorland: 888)
11. MgSO4: Anti konvulsan dan pengganti elektrolit. (Dorland: 647)

2.3.2 IDENTIFIKASI MASALAH


1. Seorang bayi laki-laki lahir di RSMP dengan tindakan sectio caesaria dari seorang
ibu Ira, G2P1A0 hamil 32 minggu dengan menderita PEB.
2. Ibu Ira masuk rumah sakit karena sakit kepala hebat dan dilakukan pemeriksaan
fisik ditemukan tekanan darah 180/100 mmHg dan pemeriksaan laboratorium
ditemukan proteinuria +3. Sudah dilakukan tatalaksana pemberian MgSO4 tapi
tidak ada perbaikan sehingga diputuskan untuk dilakukan tindakan operasi
terminasi kehamilan. Selama hamil ibu Ira menderita darah tinggi.
3 Bayi lahir tidak langsung menangis. Nilai skor APGAR 1 menit adalah 4 dan 5
menit adalah 8.
4 Pemeriksaan fisik: Keadaan umum: PB: 42 cm, BBL: 1800 g, LK: 30 cm
Vital sign: RR: 70 x/menit, Temp.:36,6oC, HR: 150 x/menit

3
5 Pemeriksaan khusus:
Kepala: hidung: napas cuping hidung (+), merintih/grunting (+), sianosis (-)
Thorax: retraksi dinding dada (+) epigastrium, suprasternal
Jantung: bunyi jantung I dan II normal, bising tidak ada
Paru: vesikuler menurun, ronchi tidak ada
Ekstremitas: hipotoni, tidak ada kelainan kongenital

5.1.1 ANALISIS MASALAH


1. Seorang bayi laki-laki lahir di RSMP dengan tindakan sectio caesaria dari seorang
ibu Ira, G2P1A0 hamil 32 minggu dengan menderita PEB.
a. Bagaimana embriologi paru (pembentukan paru)?
Jawab:
Pematangan Paru pada Masa embriologi ada 4 fase
Periode Pseudo glandular Pembentukkan cabang berlanjut untuk
(5 16 Minggu) membentuk bronkiolus Terminalis.
Belum ada Bronkiolus Respiratorius
atau alveolus.
Periode Kanalikular Masing-masing Bronkiolus Terminalis
(16 26 Minggu) bercabang-cabang menjadi 2 atau lebih
Bronkiolus Respiratorius, yang
selanjutnya bercabang-cabang menjadi
3 6 duktus alveolaris.
Periode Sakus Terminalis Terbentuk Sakus Terminalis (Alveolus
(26 Lahir) Primitif) dan Kapiler yang membentuk
kontak erat.
Periode Alveolar Terbentuk Alveolus matur memiliki
(32 Kanak Kanak/10 Tahun) Kontak epitel-Endotel (Kapiler) yang
sempurna.

b. Apa indikasi dan kontraindikasi bayi lahir dengan tindakan sectio caesaria?
c. Apa makna G2P1A0 hamil 32 minggu?
Jawab:
- Gravida: hamil yang kedua kali.

4
- Partus: sudah melahirkan satu kali.
- Abortus: tidak pernah mengalami keguguran.
- Hamil 32 minggu: premature.

d. Bagaimana hubungan G2P1A0 hamil 32 minggu dengan PEB?


Jawab:
Untuk Gravida tidak ada hubungan.

e. Apa dampak dari PEB bagi Ibu dan janin?


Jawab:
Dampak preeclampsia pada janin, antara lain: Intrauterine growth restriction
(IUGR) atau pertumbuhan janin terhambat, oligohidramnion, prematur, bayi lahir
rendah, dan solusio plasenta.
Dampak Preeklampsia pada Ibu: Eklampsia, Hipertensi Serebral, Gangguan Hati,
Ginjal.

2. Ibu Ira masuk rumah sakit karena sakit kepala hebat dan dilakukan pemeriksaan
fisik ditemukan tekanan darah 180/100 mmHg dan pemeriksaan laboratorium
ditemukan proteinuria +3. Sudah dilakukan tatalaksana pemberian MgSO4 tapi
tidak ada perbaikan sehingga diputuskan untuk dilakukan tindakan operasi
terminasi kehamilan. Selama hamil ibu Ira menderita darah tinggi.
a. Apa makna sakit kepala hebat, TD 180/100 mmHg, dan proteinuria +3?
Jawab:
- Sakit kepala hebat : menunjukkan gejala PEB
- TD 180/100 : hipertensi menunjukkan gejala PEB
- Proteinuria+3 : ditemukan pada kasus preeklamsia karna adanya vasospasme
pumbuluh darah perifer
(Jadi, dari ketiga gejala tersebut dapat disimpulkan ibu ira mengalami PEB)

b. Bagaimana mekanisme sakit kepala, hipertensi, dan proteinuria?


c. Apa indikasi pemberian MgSO4?
Jawab:
- Preeklamsia berat
- Eklamsia

5
- Persalinan dengan tindakan SC

d. Mengapa setelah diberikan MgSO4 tidak ada perbaikan pada ibu Ira?
Jawab:
MgSO4 merupakan obat anti kejang yang baik diberikan pada pasien penderita
Eklampsia. Pada gambaran klinis Eklampsia merupakan kasus akut preeklampsia
ditandai dengan kejang bahkan menyebabkan koma. MgSO4 juga dapat diberikan
kepada pasien preeklampsia berat.
Pada kasus ini :
Pasien ditemukan pada pemeriksaan fisik ditemukan tekanan darah 180/100
mmHg dan protein uria +3. Dengan tekanan darah dan jumlah protein uria pada
pemeriksaan pasien sudah berisiko untuk mengalami Eklampsia, dan dapat b
erisiko kejang. Tetapi pada kasus ini seharusnya yang diutamakan adalah
menurunkan tekanan darahnya, oleh karena itu diberikan MgSO4 tidak ada
perbaikan untuk tekanan darah pada Pasien melainkan untuk mengatasi risiko
kejang. (Sarwono, 2008)

e. Apa indikasi dan kontraindikasi pada terminasi kehamilan?


Jawab:
Indikasi :
a. Abortus tertunda
b. Telurkosong (Blightedovum
c. Mola hidatidosa
d. Abortus insipiens
e. Abortus inkomplit
f. Ketuban pecah sebelum waktunya (KPSW)
g. Kehamilan lewat waktu
h. Pertumbuhan janin terhambat (PJT) berat
i. Kematian janin dalam rahim
j. Penyakit yang membahayakan ibu apabila kehamilan diteruskan-seperti
preeklampsi/eklampsi

Kontraindikasi :
a. DKP (disporposi kepala panggul),

6
b. Placenta previa
c. Riwayat SC

f. Apa dampak jika tidak dilakukan terminasi kehamilan?


g. Bagaimana tatalaksana alternatif untuk perbaikan keadaan ibu Ira?
Jawab:
Berdasarkan kondisi klinis setiap perempuan, kebutuhan dan preferensi, preparasi
untuk terminasi kehamilan meliputi :
Konfirmasi kehamilan dan penilaian gestasi berdasarkan sejarah klinis dan
pengujian, tes kehamilan dan/atau pengujian ultrasound.
- Untuk menghindari prosedur yang tidak perlu jika seorang perempuan
tidak hamil atau keguguran sudah terjadi;
- Untuk memeriksa kehamilan ektopik; dan
- Untuk meyakinkan pemilihan prosedur yang tepat.
Beberapa penelitian melaporkan pengujian ultrasound rutin : meskipun ultrasound
diperlukan, tetapi tidak diperhitungkan oleh RCOG sebagai syarat penting dalam
pelaksanaan aborsi untuk semua kasus. Ultrasound mungkin diperlukan untuk
menilai gestasi secara lebih tepat jika ditawarkan aborsi medis.
Sejarah umum dan pengujian untuk menilai resiko medis.
Golongan darah dan status Rhesus
Untuk mengidentifikasi Rhesus negatif pada perempuan untuk pemberian
Anti-D, untuk mencegah imunisasi Rhesus dan tindak lanjutnya pada saat
kehamilan.
Antibiotik profilaktik atau tes untuk infeksi genital.
Rencana kontrasepsi berkelanjutan setelah terminasi.
A. Pengahiran kehamilan sampai umur kehamilan 12 minggu
Persiapan
Keadaan umum memungkinkan yaitu Hb > 10 gr % tekann darah baik
Pada abortus (febrilis infeksiosa), diberikan dahulu antibiotika parenteral
sebelum dilakukan kuretase tajam atau tumpul
Pada abortus tertunda (miseed abortion), dilakukan pemeriksaan laboraturium
tambahan yaitu:
- Pemeriksan trombosit

7
- Fibrinogen
- Waktu pendarahan
- Waktu pembekuan
- Waktu protrombin
Tindakan
Kuretase vakum
Kuretase tajam
Dilatasi dan kuretase tajam
B. Pengahiran kehamilan > 12 minggu sampai 20 minggu
Misoprostol 200 ug intravaginal, yang dapat diulangi 1 kali 6 jam sesudah
pemberian pertma
Pemasangan batang laminaria 12 jam sebelumnya
Kombinasi pemasangan batang laminaria dengan misoprostol atau pemberian
tetes oksitosin 10 IU dalam 500 cc Dekstrose 5% mulai 20 tetes per menit
sampai maksimal 60 tetes per menit
C. Pengakhiran kehamilan
Misoprostol 100 ug intravaginal, yang dapat diulangi satu kali 6 jam sesudah
pemberian pertama.
Pemasangan batang laminaria selama 12 jam
Pemberian tetes oksitosin 5 IU dalam Dektrose 5% mulai 20 tetes permenit
sampai maksimal 60 tetes permenit
Kombinasi 1 dan 3 untuk janin hidup maupun janin mati
Kombinasi 2 dan 3 untuk janin mati
D. Usia kehamilan > 28 minggu
Misoprostol 50 ug intravaginal, yang dapat diulangi 1 kali 6 jam sesudah
pemberian pertama
Pemasangan metrolia 100 cc 12 jam sebelum induksi untuk pemasangan
serviks (tidak efektif bila dilakukan pada KPD)
Pemberian tetes oksitosin 5 IU dalam Dektrose 5% mulai 20 tetes permenit
sampai maksimal 60 tetes untuk primi dan multigravida, 40 tetes untuk grande
multigravida sebanyak 2 labu.
Kombinasi ketiga cara diatas

8
h. Apa dampak darah tinggi terhadap janin selama masa kehamilan?
Jawab:
- IUGR (Intra Uterine Growth Retardation)
- BBLR

3. Bayi lahir tidak langsung menangis. Nilai skor APGAR 1 menit adalah 4 dan 5
menit adalah 8.
a. Apa makna bayi lahir tidak langsung menangis dan nilai skor APGAR 1 menit
adalah 4 dan 5 menit adalah 8? (jelaskan asfiksia)
Jawab:
Bayi yang tidak menangis secara spontan setelah lahir dapat disebabkan oleh
asfiksia (kegagalan bernapas secara spontan dan teratur segera atau beberapa saat
setelah lahir) yang disebabkan beberapa hal seperti penyakit atau kondisi ibu
(seperti diabetes mellitus, panggul sempit, perdarahan antepartum, anemia, infeksi
yang mengakibatkan janin menderita IUGR, air ketuban hijau kental, air ketuban
yang bercampur mekoneum, serta preeklamsia), saat persalinan (bayi lahir
sungsang, jalan lahir ibu sempit, bayi kembar), ataupun setelah persalinan
(penyakit paru, kelainan pada jantung, sepsis). Sementara pada kasus ini
disebabkan oleh penyakit membrane hyalin di mana terjadi kurangnya
surfaktan sehingga terjadi kolaps alveoli yang menyebabkan gagal atau
sulitnya bernafas.
Asfiksia berat (nilai APGAR 0-3) :
- Kolaborasi dalam pemberian suction .
- Kolaborasi dalam pemberian O2 .
- Berikan kehangatan pada bayi .
- Observasi denyut jantung , warna kulit , respirasi .
- Berikan injeksi vit K , bila ada indikasi perdarahan .
Asfiksia sedang (nilai APGAR 4-6) :
- Kolaborasi dalam pemberian suction .
- Kolaborasi dalam pemberian O2 .
- Observasi respirasi bayi .
- Beri kehangatan pada bayi .
Bayi normal (nilai APGAR 7-10) :
- Berikan kehangatan pada bayi .

9
- Observasi denyut jantung , warna kulit , serta respirasi pada menit
selanjutnya sampai nilai Apgar menjadi 10 .
(Pada kasus skor APGAR 1 menit adalah 4 merupakan asfiksia sedang, dan 5
menit adalah 8 merupakan asfiksia ringan)

b. Apa definisi asfiksia?


Jawab:
Asfiksia neonatorum adalah kegagalan nafas secara spontan dan teratur pada saat
lahir atau beberapa saat setelah saat lahir yang ditandai dengan hipoksemia,
hiperkarbia dan asidosis. (IDAI, 2004)

c. Apa klasifikasi asfiksia?


Jawab:
Klasifikasi asfiksia berdasarkan nilai APGAR:
a. Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3.
b. Asfiksia ringan sedang dengan nilai APGAR 4-6.
c. Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9.
d. Bayi normal dengan nilai APGAR 10.
(Ghai, 2010)

d. Apa dampak bayi tidak langsung menangis?


Jawab:
Mengalami apneu sekunder jika tidak langsung bernafas lalu lakukan vtp.

e. Bagaimana pertolongan pertama saat bayi tidak langsung menangis?


Jawab:

10
f. Bagaimana mekanisme bayi lahir tidak langsung menangis?
Jawab:
Surfaktan pada paru belum mencukupi alveoli kolaps setiap ekspirasi
bayi berusaha lebih keras untuk bernafas dan mengembangkan paru oksigen
berkurang bayi tidak langsung menangis.

g. Bagaimana kriteria skor APGAR?


Jawab:
Lima kriteria Skor Apgar :
Kriteria
Nilai 0 Nilai 1 Nilai 2
Appearance seluruhnya warna kulit tubuh warna kulit tubuh ,
(warna kulit) biru atau normal merah muda tangan , dan kaki
pucat , normal merah muda ,
tetapi kepala dan tidak ada sianosis
ekstermitas kebiruan
(akrosianosis)

11
Pulse tidak teraba <100 kali/menit >100 kali/menit
(denyut
jantung)

Grimace tidak ada meringis/menangis meringis/bersin/batuk


(respons respons lemah ketika di saat stimulasi saluran
refleks) terhadap stimulasi napas
stimulasi
Activity lemah/tidak sedikit gerakan bergerak aktif
(tonus otot) ada

Respiration tidak ada Lemah, tidak teratur menangis kuat,


(pernapasan) pernapasan baik dan
teratur

Cara Penilaian APGAR


Skor Apgar dinilai pada menit pertama, menit kelima, dan menit kesepuluh
setelah bayi lahir, untuk mengetahui perkembangan keadaan bayi tersebut. Namun
dalam situasi tertentu, Skor Apgar juga dinilai pada menit ke 10, 15, dan 20,
hingga total skor 10. (Sujiyatini, 2011).
1. Appearance (warna kulit) :
Menilai kulit bayi. Nilai 2 jika warna kulit seluruh tubuh bayi kemerahan, nilai
1 jika kulit bayi pucat pada bagian ekstremitas, dan nilai 0 jika kulit bayi pucat
pada seluruh badan (Biru atau putih semua).
2. Pulse (denyut jantung) :
Untuk mengetahui denyut jantung bayi, dapat dilakukan dengan meraba
bagian atas dada bayi di bagian apeks dengan dua jari atau dengan meletakkan
stetoskop pada dada bayi. Denyut jantung dihitung dalam satu menit, caranya
dihitung 15 detik, lalu hasilnya dikalikan 4, sehingga didapat hasil total dalam
60 detik. Jantung yang sehat akan berdenyut di atas 100 kali per menit dan
diberi nilai 2. Nilai 1 diberikan pada bayi yang frekuensi denyut jantungnya di
bawah 100 kali per menit. Sementara bila denyut jantung tak terdeteksi sama
sekali maka nilainya 0.
3. Grimace (respon reflek) :
Ketika selang suction dimasukkan ke dalam lubang hidung bayi untuk
membersihkan jalan nafasnya, akan terlihat bagaimana reaksi bayi. Jika ia
menarik, batuk, ataupun bersin saat di stimulasi, itu pertanda responnya
terhadap rangsangan bagus dan mendapat nilai 2. Tapi jika bayi hanya
meringis ketika di stimulasi, itu berarti hanya mendapat nilai 1. Dan jika bayi
tidak ada respon terhadap stimulasi maka diberi nilai 0.
4. Activity (tonus otot) :
Hal ini dinilai dari gerakan bayi. Bila bayi menggerakkan kedua tangan dan
kakinya secara aktif dan spontan begitu lahir, artinya tonus ototnya bagus dan

12
diberi nilai 2. Tapi jika bayi dirangsang ekstermitasnya ditekuk, nilainya
hanya 1. Bayi yang lahir dalam keadaan lunglai atau terkulai dinilai 0.
5. Respiration (pernapasan) :
Kemampuan bayi bernafas dinilai dengan mendengarkan tangis bayi. Jika ia
langsung menangis dengan kuat begitu lahir, itu tandanya paru-paru bayi telah
matang dan mampu beradaptasi dengan baik. Berarti nilainya 2. Sedangkan
bayi yang hanya merintih rintih, nilainya 1. Nilai 0 diberikan pada bayi yang
terlahir tanpa tangis (diam).
Dan kriteria keberhasilannya adalah sebagai berikut :
1. Hasil skor 7-10 pada menit pertama menunjukan bahwa bayi berada dalam
kondisi baik atau dinyatakan bayi normal.
2. Hasil skor 4-6 dinyatakan bayi asfiksia ringan sedang, sehingga
memerlukan bersihan jalan napas dengan resusitasi dan pemberian oksigen
tambahan sampai bayi dapat bernafas normal.
3. Hasil skor 0-3 dinyatakan bayi asfiksia berat, sehingga memerlukan
resusitasi segera secara aktif dan pemberian oksigen secara terkendali.

h. Bagaimana indikasi skor APGAR?


Jawab:
Seluruh bayi baru lahir.

i. Apa kriteria bayi bugar?


Jawab:
Kriteria Bayi Normal
o Masa gestasi cukup bulan: 37-40 minggu
o Berat lahir 2500-4000 gram
o Lahir tidak dalam keadaan asfiksia: (lahir menangis keras, nafas spontan dan
teratur, skor Apgar >7.
o Tidak terdapat kelainan kongenital berat.

4. Pemeriksaan fisik: Keadaan umum: PB: 42 cm, BBL: 1800 g, LK: 30 cm


Vital sign: RR: 70 x/menit, Temp.:36,6oC, HR: 150 x/menit
a. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan fisik? (jelaskan interpretasi)
Jawab:
Pemeriksaan Kasus Normal Interpretasi

Berat badan 1800 g 2500-3500 g BBLR


lahir

13
Panjang 42 cm <52 cm (premature) Tidak sesuai/rendah
badan

Lingkar 30 cm 33-35 cm Tidak sesuai/kecil


kepala
RR 70x/menit 40-60x/menit Takipnea
Temperatur 36,6oC 36,2-37,5oC Normal
HR 150x/menit 80-120x/menit Takikardi

b. Bagaimana patofisiologi dari pemeriksaan fisik?


Jawab:
- RR: 70x/menit
Defisiensi surfaktan alveoli kolaps saat ekspirasi ada usaha untuk
meningkatkan pernapasan RR

c. Bagaimana klasifikasi BBLR?


Jawab:

d. Bagaimana faktor risiko BBLR?


e. Bagaimana tatalaksana BBLR?
f. Apa dampak dari BBLR?
Jawab:
g. Bagaimana menentukan usia bayi berdasarkan usia kehamilan?
Jawab:

5. Pemeriksaan khusus:
Kepala: hidung: napas cuping hidung (+), merintih/grunting (+), sianosis (-)
Thorax: retraksi dinding dada (+) epigastrium, suprasternal
Jantung: bunyi jantung I dan II normal, bising tidak ada
Paru: vesikuler menurun, ronchi tidak ada
Ekstremitas: hipotoni, tidak ada kelainan kongenital
a. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan khusus? (jelaskan interpretasi)

14
Jawab:
Pemeriksaan Kasus Normal Interpretasi

Kepala Hidung: Tidak ada Terjadi gangguan


nafas pernafasan
cuping
hidung (+)
Thorax Retraksi Tidak ada Terjadi gangguan
dinding pernafasan
dada (+)
epigastrium,
suprasternal
Paru Vesikuler Aliran udara dalam paru
menurun menurun

Ekstremitas Hipotoni Abnormal

b. Bagaimana patofisiologi dari pemeriksaan khusus?


Jawab:
- Grunting, nafas cuping hidung
Surfaktan pada paru belum mencukupi alveoli kolaps setiap ekspirasi bayi
berusaha lebih keras untuk bernafas dan mengembangkan paru penutupan
glottis sebagian di akhir ekspirasi merintih / grunting, nafas cuping hidung
- Retraksi dinding dada, vesikuler menurun
Surfaktan pada paru belum mencukupi alveoli kolaps setiap ekspirasi bayi
berusaha lebih keras untuk bernafas dan mengembangkan paru sedikit udara
masuk ke dalam paru oksigen berkurang retraksi dinding dada.

6. Bagaimana cara mendiagnosis pada kasus?


Jawab:
Cara mendiagnosis :

15
a. Anamnesis : Gangguan/ kesulitan waktu lahir, lahir tidak bernafas atau menangis
b. Pemeriksaan fisik:
Memerhatikan sama ada kelihatan terdapat tanda- tanda berikut :
1. Bayi tidak bernafas atau menangis.
2. Denyut jantung kurang dari 100x/menit.
3. Tonus otot menurun.
4. Bisa didapatkan cairan ketuban ibu bercampur mekonium, atau sisa
mekonium pada tubuh bayi.
5. BBLR (berat badan lahir rendah)
(Ghai, 2010).
c. Pemeriksaan khusus :
Napas cuping hidung (+), merintih/grunting (+), retraksi dinding dada (+),
epigastrium suprasternal, hipotoni.

7. Bagaimana diagnosis banding pada kasus?


Jawab:

Penyakit Gejala Radiologi


HMD Sianosis, apnea, nafas cuping Ateletaksis, air broncogram,
hidung, infitrat granular
TTN Takipnea segera setelah lahir, Hiperexpansi perihiler
retraksi, merintih pulmonal, peningkatan
corakan vaskuler pulmonal,
infitrat sudut costofrenikus
tumpul
Aspirasi Mekonium Takipnea, nafas cuping hidung, Infitrat kasar bilateral,
retraksi, sianosis, mekonium hiperinflasi paru
stained skin

8. Bagaimana pemeriksaan penunjang pada kasus?


Jawab:
Pemeriksaan penunjang:

16
1) Laboratorium: hasil analisis gas darah tali pusat menunjukkan hasil asidosis pada
darah tali pusat jika:
PaO2 < 50 mm H2O
PaCO2 > 55 mm H2
pH < 7,30 (Ghai, 2010
2) Foto polos dada
3) USG kepala

9. Apa diagnosis kerja pada kasus?


Jawab:
Hyaline Membrane Disease (HMD), asfiksia sedang dan BBLR.

10. Apa saja faktor risiko pada kasus?


Jawab:
Faktor Risiko:
Kelainan Kongenital
Infeksi Intra Uterine
Kehamilan Multiple
Fungsi Plasenta yang buruk
Gizi Buruk pada Ibu
Penyakit Ibu
Merokok
Penyalahgunaan Obat
Kecanduan Alkohol

11. Bagaimana epidemiologi pada kasus?


Jawab:
Respiratory Distress (Hyaline Membrane Disease)
Insidensi Respiratory Distress (HMD) terjadi hampir 25% pada neonatus yang lahir
pada usia 32 minggu dan biasanya pada bayi prematur.

Asfiksia
Asfiksia merupakan penyebab utama kematian pada neonatus

17
Di negara maju, asfiksia menyebabkan kematian neonatus 8-35%
Di daerah pedesaan Indonesia 31-56,5%
Insidensi asfiksia pada menit 1= 47/1000 lahir hidup dan pada menit 5= 15,7/1000
lahir hidup

12. Bagaimana manifestasi klinis pada kasus?


Jawab:
Bayi penderita HMD biasanya bayi kurang bulan yang lahir dengan berat badan
antara 1200 2000 g dengan masa gestasi antara 30 36 minggu. Jarang ditemukan
pada bayi dengan berat badan lebih dari 2500 g dan masa gestasi lebih dari 38
minggu. Gejala klinis biasanya mulai terlihat pada beberapa jam pertama setelah lahir
terutama pada umur 6 8 jam. Gejala karakteristik mulai timbul pada usia 24 72
jam dan setelah itu keadaan bayi mungkin memburuk atau mengalami perbaikan.
Apabila membaik gejala biasanya menghilang pada akhir minggu pertama. Gangguan
pernafasan pada bayi terutama disebabkan oleh atalektasis dan perforasi paru yang
menurun. Keadaan ini akan memperlihatkan keadaan klinis seperti dispnea atau
hiperpnea sianosis, retraksi suprasternal, epigastrium, intercostals, rintihan saat
ekspirasi (grunting), takipnea (frekuensi pernafasan > 60 x/menit), melemahnya udara
napas yang masuk ke dalam paru, mungkin pula terdengar bising jantung yang
menandakan adanya duktur arteriosus yang paten, kardiomegali, bradikardi (pada
HMD berat), hipotensi, tonus otot menurun, edema. Gejala HMD biasanya mencapai
puncaknya pada hari ke-3. Sesudahnya terjadi perbaikan perlahan-lahan. Perbaikan
sering ditunjukan dengan diuresis spontan dan kemampuan oksigenasi bayi dengan
kadar oksigenasi bayi yang lebih rendah.Kelemahan jarang pada hari pertama sakit
biasanya terjadi antara hari ke-2 dan ke-3 dan disertai dengan kebocoran udara
alveolar (emfisema interstisial, pneumotoraks), perdarahan paru atau interventrikuler.
Pada bayi extremely premature ( berat badan lahir sangat rendah) mungkin dapat
berlanjut apnea, dan atau hipotermi. Pada HMD yang tanpa komplikasi maka
surfaktan akan tampak kembali dalam paru pada umur 36-48 jam. Gejala dapat
memburuk secara bertahap pada 24-36 jam pertama. Selanjutnya bila kondisi stabil
dalam 24 jam maka akan membaik dalam 60-72 jam. Dan sembuh pada akhir minggu
pertama.

18
13. Bagaimana tatalaksana (farmakologi dan nonfarmakologi) secara komprehensif pada
kasus?
Jawab:
Menurut Pencegahan dan Penatalaksanaan Asfiksia Neonatorum (2008) Health
Technology Assesment Indonesia, Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
Resusitasi pada bayi kurang bulan. Secara garis besar hal-hal berikut harus
diperhatikan pada resusitasi bayi kurang bulan:
- Menjaga bayi tetap hangat
Bayi lahir kurang bulan hendaknya mendapat semua langkah untuk mengurangi
kehilangan panas.
- Pemberian oksigen
Untuk menghindari pemberian oksigen yang berlebihan pada bayi kurang bulan.
Digunakan blender oksigen dan oksimeter agar jumlah oksigen yang diberikan
dapat diatur dan kadar oksigen diserap bayi dapat diketahui. Saturasi oksigen lebih
dari 95% dalam waktu lama, terlalu tinggi bagi bayi kurang bulan dan berbahaya
bagi jaringan yang immatur.
- Ventilasi
o Pertimbangan pemberian Continuous Positive Airway Pressure (CPAP)
o Gunakan tekanan rendah untuk memperoleh respons yang adekuat
- Pertimbangkan pemberian surfaktan secara signifikan
Bayi sebaiknya mendapat resusitasi lengkap sebelum surfaktan diberikan.
Penelitian menunjukkan bayi yang lahir kurang dari usia kehamilan 30 minggu
mendapatkan keuntungan dengan pemberian surfaktan setelah resusitasi, sewaktu
masih di kamar bersalin atau bahkan jika mereka belum mengalami distress
pernapasan.
- Pencegahan terhadap kemungkinan cedera otak
Otak bayi kurang bulan mempunyai struktur yang sangat rapuh yang disebut
matriks germinal. Matriks germinal terdiri atas jaringan kapiler yang mudah
pecah, terutama jika penanganan bayi terlalu kasar, jika ada perubahan cepat
tekanan darah dan kadar karbondioksida dalam darah,atau jika ada sumbatan atau
apapun dalam aliran vena di kepala. Pecahnya matriks germinal mengakibatkan
perdarahan intraventrikuler yang mengakibatkan kecacatan seumur hidup.
- Kadar gula darah. Kadar gula darah yang rendah sering terjadi pada bayi-bayi
dengan gangguan neurologis setelah mengalami asfiksia dan menjalani resusitasi.

19
- Pemantauan kejadian apnue dan bradikardi pada bayi
- Jumlah oksigen dan ventilasi yang tepat
- Pemberian minum, harus dilakukan secara perlahan dan hati-hati sambil
mempertahankan nutrisi melalui intravena
- Kecurigaan terhadap infeksi

14. Bagaimana komplikasi pada kasus?


Jawab:
Komplikasi jangka pendek ( akut ) dapat terjadi :
1. Ruptur alveoli : Bila dicurigai terjadi kebocoran udara (pneumothorak,
pneumomediastinum, pneumopericardium, emfisema intersisiel), pada bayi dengan RDS
yang tiba2 memburuk dengan gejala klinis hipotensi, apnea, atau bradikardi atau adanya
asidosis yang menetap.
2. Dapat timbul infeksi yang terjadi karena keadaan penderita yang memburuk dan adanya
perubahan jumlah leukosit dan thrombositopeni. Infeksi dapat timbul karena tindakan
invasiv seperti pemasangan jarum vena, kateter, dan alat2 respirasi.
3. Perdarahan intrakranial dan leukomalacia periventrikular : perdarahan intraventrikuler
terjadi pada 20-40% bayi prematur dengan frekuensi terbanyak pada bayi RDS dengan
ventilasi mekanik.
4. PDA dengan peningkatan shunting dari kiri ke kanan merupakan komplikasi bayi dengan
RDS terutama pada bayi yang dihentikan terapi surfaktannya.
Komplikasi jangka panjang dapat disebabkan oleh toksisitas oksigen, tekanan yang tinggi
dalam paru, memberatnya penyakit dan kurangnya oksigen yang menuju ke otak dan organ
lain. Komplikasi jangka panjang yang sering terjadi :
1. Bronchopulmonary Dysplasia (BPD): merupakan penyakit paru kronik yang disebabkan
pemakaian oksigen pada bayi dengan masa gestasi 36 minggu. BPD berhubungan dengan
tingginya volume dan tekanan yang digunakan pada waktu menggunakan ventilasi
mekanik, adanya infeksi, inflamasi, dan defisiensi vitamin A. Insiden BPD meningkat
dengan menurunnya masa gestasi.
2. Retinopathy premature
Kegagalan fungsi neurologi, terjadi sekitar 10-70% bayi yang berhubungan
dengan masa gestasi, adanya hipoxia, komplikasi intrakranial, dan adanya infeksi

15. Bagaimana prognosis pada kasus?

20
Jawab:
Quo ad fungsional: dubia ad bonam.
Quo ad vitam: dubia ad bonam.

16. Bagaimana kompetensi dokter umum pada kasus?


Jawab:
Kompetensi Dokter Umum 3b.
Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya pemeriksaan laboratorium sederhana
atau X-Ray). Dokter dapat memutuskan dan memberi terapi pendahuluan, serta
merujuk ke spesialis yang relevan (kasus gawat darurat).

17. Bagaimana pandangan Islam pada kasus?


Jawab:
Pandangan Islam Petugas Kesehatan :
Optimisme merupakan sikap selalu mempunyai harapan baik dalam segala hal serta
kecenderungan untuk mengharapkan hasil yang menyenangkan. Optimisme dapat
juga diartikan berpikir positif. Jadi optimisme lebih merupakan paradigma atau cara
berpikir. Dalam menangani kasus sekalipun sulit, dokter layaknya bersikap optimis
terhadap kinerjanya. Seperti yang dijelaskan dalam firman Allah SWT:

Artinya :
Janganlah kamu bersikap lemah (pesimis), dan janganlah (pula) kamu bersedih hati,
padahal kamu adalah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang -
orang yang beriman. (Q.S. Ali Imran : 139)

Allah SWT berfirman dalam Q.S Al Qiyamah /75: 26


Terjemahan :
Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai
ke kerongkongan

21
2.3.4 Kesimpulan
Seorang bayi laki-laki lahir dengan Hyaline Membrane Disease (HMD), asfiksia
sedang dan BBLR dari Ibu Ira G2P1A0 hamil 32 minggu (preterm) dengan riwayat
PEB melalui tindakan sectio caesaria.

2.3.5 Kerangka konsep


22
Ibu dengan kehamilan TD 180/100 mmHg
Riwayat hipertensi
32 minggu + PEB Proteinuria +3
selama kehamilan
(G2P1A0)

Indikasi terminasi
kehamilan

Tindakan sectio
caesaria

Bayi dengan BBLR


dismaturitas-> HMD

BBL: 1800g

APGAR score Bayi lahir tidak RR: 70x/menit Retraksi


langsung menangis HR: 150x/menit dinding dada

Merintih/ vesikuler Hipotoni Daftar Pustaka


grunting

Universitas Sumatera Utara. Asfiksia Neonatorum. Diunduh tanggal 27 Juni 2014


di repository.usu.ac.id/bitstream/.../4/chapter%2011.pdf
Asfiksia neonatorum

23