Anda di halaman 1dari 188

Vincentius dan Kasus Pajak Asian Agri

S
ebagai financial controller Asian Agri Group, Vincentius Amin Sutanto sangat
mengetahui lika-liku bagaimana perusahaannya melakukan berbagai manipulasi pajak
agar terhindar dari kewajiban membayar pajak negara. Inilah yang kemudian dia
laporkan dan beberkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi, Direktorat Pajak juga media.
Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) kemudian juga menempatkan Vicentius
sebagai saksi yang perlu dilindungi karena kesaksiannya penting untuk membongkar kasus
kejahatan pajak yang diduga dilakukan oleh Asian Agri Grup, salah satu anak perusahaan
Garuda Mas, grup perusahaan milik konglomerat Sukanto Tanoto.

Sukanto Tanoto

Kasus kejahatan pajak ini terungkap setelah sebelumnya, pada akhir tahun 2006, Vincent lari
ke Singapura karena membobol dana PT Asian Agri Oil and Fats di Singapura US$ 3,1 juta
(sekitar Rp 28 miliar). Bersama dua rekannya, Hendry Susilo dan Agustinus Ferry Sutanto,
Vincent membuat dua perusahaan untuk menampung dana US$ 3,1 juta dari Asian Agri.
Vincent sendiri belum sempat menikmati duit itu. Sedangkan kawan Vincent, Hendry, sempat
menarik Rp 200 juta sebelum aksi mereka terbongkar. Vincent kemudian memilih lari ke
Singapura. Dia sempat meminta maaf kepada Sukanto Tanoto, walau tak dikabulkan. Sukanto,
menurut majalah Forbes Asia, orang terkaya Indonesia pada 2006 dan 2008.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 1


Dari Singapura itulah Vincent membeberkan kejahatan pajak yang dilakukan Asian Agri Grup
ke media massa. Beberapa waktu kemudian, ia memilih pulang ke Indonesia. Menyerahkan
sejumlah dokumen dan bukti-bukti pelanggaran hukum yang dilakukan Asian Agri ke Komisi
Pemberantasan Korupsi sebelum kemudian menyerahkan diri ke polisi dan ditahan di Rumah
Tahanan Salemba.

Rumah tahanan Salemba

Vincent mengaku selama menjadi buron selain khawatir terhadap keselamatan dirinya, dia juga
khawatir dengan keadaan anak dan istrinya di Indonesia. Dia tahu hal-hal buruk bisa menimpa
keluarganya. Apalagi sejumlah teror juga sudah dialami lelaki kelahiran Singkawang 21 Januari
1963 tersebut.

Penggelapan pajak yang dilakukan Asian Agri diduga membuat negara rugi sekitar Rp 1, 3
trilun. Setelah kembali dari Singapura, pada akhir 2006, Vincent menyerahkan dokumen internal
Asian Agri Group kepada Komisi Pemberantasan Korupsi. Dokumen itu berisi dugaan
penggelapan pajak oleh Asian Agri selama 2002-2005. Komisi Pemberantasan kemudian
melimpahkan dokumen tersebut ke Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 2


Berdasarkan laporan Vincent itu Direktorat Pajak melakukan penyelidikan terhadap Asian
Agri. Setelah melakukan pemeriksaan dan menelisik dokumen yang diberikan Vincent serta
melakukan penyitaan terhadap lebih dari seribu kardus dokumen Asian Agri dari sebuah ruko.
Direktorat Pajak kemudian menetapkan dua belas tersangka dalam kasus ini.

Vincentius Amin Sutanto dalam persidangan

Kepada Komisi Pemberantasan Korupsi dan Direktorat Pajak Vincent membeberkan modus
Asian Agri dalam melakukan kejahatan pajak. Secara garis besar manipulasi pajak dilakukan
lewat transfer profit ke perusahaan afiliasi Asian Agri di luar negeri, seperti Hong Kong, British
Virgin Islands, Macau, dan Mauritius. Ada tiga pola yang digunakan, yaitu pembuatan biaya
fiktif, transaksi hedging fiktif, dan transfer pricing. Tujuannya untuk mengurangi keuntungan
sehingga pajak yang dibayarkan berkurang.

Vincent juga sempat akan dipindahkan ke tahanan di Pontianak. Dengan alasan diduga
melakukan pemalsuan paspor, ia akan diperiksa di Pontianak. Kala itu dia sudah diterbangkan ke
Pontianak. Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Sekretaris Satuan Tugas Pemberantasan Mafia,
Denny Indrayana meminta Kapolri Bambang Hendarso Danuri untuk memerintahkan anak
buahnya memulangkan Vincent ke Jakarta karena keterangannya masih dibutuhkan. Akhirnya,
pada hari yang sama Vincent dibawa lagi ke Jakarta dan kali ini ditempatkan di dalam Lembaga
Pemasyarakatan Narkotika Cipinang.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 3


Pentingnya Kesaksian Vincent

Sebagai salah satu bekas orang penting di Asian Agri, kesaksian Vincent sangat penting untuk
membongkar kejahatan pajak dibekas perusahaannya itu. Direktorat Pajak sendiri memang
membutuhkan informasi, keterangan, dan bukti dari Vincent yang bisa menunjukkan dengan
jelas dan detail dugaan penggelapan pajak yang dilakukan Asian Agri. Dan Vincent
menunjukkan semua yang ia ketahui bagaimana penyelewengan pajak tersebut dilakukan.

Perusahaan ASIAN AGRI

Bukan tanpa resiko Vincent membongkar kejahatan pajak yang dilakukan Asian Agri. Setelah
dia kembali ke Indonesia, melapor ke Komisi Pemberantasan Korupsi dan menyerahkan diri ke
polisi, berbagai teror dan ancaman kerap dia terima. Karena itulah, saat dia berada di tahanan
secara khusus Direktorat Pajak mengirim surat ke Direktorat Lembaga Pemasyarakat, meminta
agar Vincent mendapat pengawasan dan ruang tahanannya dijaga sedemikian rupa agar
keselamatannya terjamin. Untuk menjaga agar keluarganya tidak mendapat hal-hal yang tak
diinginkan dan anak-anaknya tidak shok, Vincent melarang keluarga dan tiga anaknya
menjenguknya di tahanan.

Vincent mengaku sepulang dari pelariannya di Singapura dia mendapat sejumlah ancaman dan
teror. Ancaman tersebut antara lain disampaikan lewat telepon. Dia, misalnya, diminta untuk
tidak banyak bicara soal Asian Agri. Soal kemungkinan pembalasan yang dilakukan Sukanto
Tanoto itu menurut Vincent sudah terpikirkan olehnya saat Asian Agri tahu dia melakukan
pembobolan rekening perusahaan. Makanya saya minta pengampunan (kepada Sukanto Tanoto,
pemilik Asian Agri), katanya tentang permintaannya yang tak terkabulkan tersebut. Keluarga

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 4


dan anaknya juga mendapat teror dan mengadu dan meminta perlindungan ke Komisi Nasional
Perlindungan Anak.

Karena kesaksiannya penting dan dia dinilai bisa bekerja sama dengan aparat hukum untuk
membongkar kejahatan pajak yang merugikan negara, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban
menetapkan Vincent sebagai saksi yang dilindungi.

Vincent mendapat perlindungan sebagai saksi sejak Mei 2011. Kepada wartawan pengacara
Vincent, Asmar Oemar Saleh mengatakan, kliennya mendapat perlindungan dengan kategori
sedang. Dengan kategori ini, maka Vincent tak dipindahkan ke rumah aman. Vincent tetap di
LP Cipinang, namun ada monitoring dan koordinasi berkala antara lembaga perlindungan dengan
LP, kata Asmar.

Dijerat Undang-Undang tentang Pencucian Uang

Pada Mei 2007 Vincent mulai diadili di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Polisi menyatakan
Vincent telah melakukan kejahatan pencucian uang. Dia dijerat dengan Undang-Undang tentang
Pencucian uang yang hukuman maksimalnya adalah 20 tahun penjara. Jaksa sendiri menuntut
Vincent sebelas tahun penjara.

Pada 9 Agustus 2007 majelis hakim yang diketuai Sutarti K.S. memvonis Vincent hukuman
11 tahun penjara dan membayar denda Rp 150 juta. Dia dinyatakan terbukti melakukan
kejahatan pencucian uang dan pemalsuan tanda tangan. Dia kemudian dimasukkan ke penjara
Salemba. Vincent menyatakan vonis itu tak adil, demikian pula tuduhan dia melakukan
pencucian uang.

Menurut Vincent berdasarkan pendapat pengacaranya juga Komisi Pemberantasan Korupsi,


yang dilakukannya bukanlah masuk katergori kejahatan pencucian uang. Karena itulah dia
menduga ada sesuatu di balik putusan tersebut. Pasti ada tangan-tangan kepentingan yang mau
menjatuhkan saya. Motifnya balas dendam atau apa. Saya kan mengungkap kasus Asian Agri.
Bisa jadi ada yang tak senang, katanya.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 5


Menurut Vincent, bahwa dia pulang dan kemudian diadili merupakan resiko yang memang
harus dihadapinya.Saya memang harus mempertanggungjawabkan tindakan saya, katanya.
Namun, dia ingin diadili secara adil dan dia merasa tidak diperlakukan dengan adil. Dakwaan
pencucian uang, menurut dia, sangat tidak adil dan mengada-ada. Kasusnya menurut dia adalah
pemalsuan yang ancaman hukumannya maksimal enam tahun penjara yang dalam prakteknya
vonis hakim biasanya berkisar delapan bulan hingga satu tahun penjara.

Pada 17 Februari 2010, Vincent mendapat kunjungan Satuan Tugas Pemberantasan Mafia
Hukum dan Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, Abdul Haris Semendawai. Kepada
Abdul Haris Semendawai, Vincent mengaku mendapat ancaman akan dihabisi nyawanya. Dia
meminta perlindungan LPSK. Saya akan merasa nyaman kalau dalam perlindungan LPSK,"
kata Vincent. Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai menyimpulkan Vincent adalah saksi kunci.
"Karena, dia yang melaporkan ke pihak yang berwenang. Dia adalah whistleblower," kata
Abdul Haris.

Terhadap vonis hakim yang dijatuhkan Pengadilan Negeri Jakarta Barat Vincent, menyatakan
banding. Menurut pengacara Vincent, Petrus Balla Patyona, jaksa dan hakim tidak memahami
pasal pencucian uang. Menurut dia, jika Vincent terbukti melakukan pencucian uang, kenapa
uang Rp 28 miliar dikembalikan ke Asian Agri. "Bukankah seharusnya disita negara?" katanya.
Menurut Petrus, sesuai pendapar pakar hukum perbankan Sutan Remy Sjahdeini, ciri-ciri
perbuatan pencucian uang adalah memindahkan uang hasil kejahatan dari satu jasa keuangan ke
jasa keuangan lainnya. Menurut Petrus dalam kasus kliennya, transfer yang dimaksud belum
terjadi.

Ditingkat banding dan kasasi upaya hukum Vincent ditolak. Kasasi Vincent ditolak Mahkamah
Agung pada Maret 2008. Vincent kemudian mengajukan upaya hukum PK (Peninjauan
kembali). Salah satu pengacaranya, Teguh S. Raharjo menyatakan pihaknya melihat ada
kekhilafan hakim dalam mempertimbangkan tindak pidana yang didakwakan kepada Vincent.
Itulah yang menjadi salah satu dasar Vincent mengajukan PK.

Tapi, pada September 2010 upaya hukum PK yang diajukan Vincent ditolak majelis hakim
yang terdiri dari Mugiharjo, Andi Abu Ayyub Saleh, dan Komariah Emong Sapardjaja.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 6


Pada 25 November 2011 Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana mengunjungi
Vincent di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Denny datang bersama anggota Satuan Tugas
Pemberantasan Mafia Hukum (Satgas PMH) Mas Achmad Santosa, serta penasehat hukum
Vincentius, Adnan Buyung Nasution.

Menurut Denny, Kementerian Hukum dan HAM akan memberi remisi dan asimilasi untuk
Vincentius Amin Sutanto. Pemberian remisi dan asimilasi tersebut sebagai bentuk penghargaan
kepada Vincentius karena telah menjadi whistleblower dalam kasus penggelapan pajak Asian
Agri. "Vincentius ini akan dipertimbangkan mendapatkan remisi dan asimilasi. Kalau syarat
asimilasi akan diberikan dalam bentuk perlindungan LPSK. Dia juga akan mendapatkan bebas
bersyarat 2/3 masa tahanannya," kata Denny. Denny mengatakan, sebagai whistleblower ,
Vincent akan diberikan haknya secara penuh. Kuasa hukum Vincent menurut Denny juga sudah
memohon grasi kepada presiden SBY.

Menurut Adnan Buyung Nasution, Vincent adalah korban dari sistem hukum di Tanah Air.
Sebagai whistleblower setelah membongkar dugaan penggelapan pajak PT Asian Agri pada
2007 lalu Vincentius justru dimasukan ke dalam penjara. Buyung menegaskan, Vincent bukan
diistimewakan, tapi sebagai whistleblower harus dilindungi. Dimasukkannya Vincent di
Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Cipinang adalah sebagai bentuk perlindungan, karena dia
dan keluarganya sering mendapatkan ancaman. Whistleblower jangan dijadikan korban, tapi
harus dilindungi," kata pria berambut putih ini.

Vincent mengucapkan terimakasih kepada Satgas Pemberantasan Mafia Hukum atas upaya
yang dilakukan kepada dirinya selama ini. Dia berharap para whistleblower tidak takut
mengungkap kebenaran. Saya mengimbau kepada calon whistleblower jangan segan maju
kedepan, sampaikan kebenaran yang diketahui," katanya Vincent sendiri sudah mengajukan
permintaan grasi kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 24 November 2011.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 7


Agus Condro dan Skandal Cek Pelawat

S
etelah menjalani hukuman selama 13, 5 bulan atau satu setengah bulan lebih cepat dari
masa hukuman, akhirnya Agus Condro Prayitno, 52 tahun, pada 25 Oktober 2011
menghirup udara bebas. Sebelumnya, pada 16 Juni 2011 Pengadilan Tindak Pidana
Korupsi (Tipikor) memvonis Agus 15 bulan penjara. Dia dinyatakan bersalah menerima suap
dalam kasus terpilihnya Miranda S. Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia
yang berlangsung pada 2004.

Semula Agus mendekam di Rumah Tahanan Polda Metro Jaya hampir selama dua bulan. Tapi,
dia kemudian meminta dipindahkan ke Lembaga Permasyarakatan Alas Roban, Kendal, Jawa
Tengah. Difasilitasi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), permintaan bekas
anggota DPR periode 1999-2004 tersebut disetujui Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia,
Patrialis Akbar. Pada Rabu, 3 Agustus 2011, Agus pun dipindahkan ke Lembaga
Pemasyarakatan Alas Roban.

Menurut Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Denny Indrayana, Agus menerima
remisi dan berbagai perlakuan khusus karena dia berkelakuan baik dan bekerja sama dengan
penegak hukum justice collaborator. Sebagai pelaku pelapor, kata Denny, Agus memberikan
informasi yang kuat, tidak melakukan banding atas putusan yang diterimanya, mengembalikan
cek pelawat sebesar Rp 500 juta, dan memperoleh Surat Keputusan dari LPSK sebagai pelaku
pelapor.

Dengan karekteristik seperti itu, kata Denny, Agus memenuhi persyaratan sebagai whistle
blower yang berhak atas penghargaan berupa remisi atas perannya dalam membongkar kasus
korupsi. "Kalau mau tahu apa kriteria seseorang untuk bisa dikatakan sebagai whistleblower,
Agus Condro orangnya," kata Denny.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 8


Denny menjelaskan, ada sejumlah kriteria yang membuat seseorang bisa disebut
whistleblower, yaitu memberikan informasi akurat tentang sebuah kasus yang dikuatkan dengan
putusan pengadilan, mau bekerjasama dan mengakui perbuatan pelanggaran hukum yang
dilakukannya, mengembalikan hasil korupsi atau kejahatannya, tidak melanggar hukum selama
dalam masa penyidikan hingga ke persidangan, dan keputusan LPSK (Lembaga Perlindungan
Saksi dan Korban) bahwa orang itu layak ditetapkan sebagai whistle blower. Agus, menurut
Denny, memenuhi itu semua.

Selain itu, tambah Denny, bebas bersyaratnya Agus ini merupakan pesan bagi setiap warga
negara agar tak ragu untuk menjadi justice collaborator (pelaku pelapor). Justice collaborator
yang membantu pengungkapan kasus korupsi akan mendapat penghargaan. Baik berupa tuntutan
hukum lebih ringan dan atau mendapatkan remisi kalau sudah dipenjara.

Agus Condro dalam wawancara media

Perlakuan khusus yang diterima Agus Condro tidak berjalan otomatis, tapi melalui proses yang
cukup panjang dan berbelit-belit. Kisah ini, seperti ditulis Satrio Arismunandar Agus Condro,
Yoedha, Dan Perjuangan Dari Dalam Partai pada 24 agustus 2008 di blognya, berawal dari
persoalan internal PDIP. Dalam blognya, Satrio memaparkan Dhia Prekasha Yoedha, mantan

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 9


wartawan Kompas yang menjadi anggota PDIP sejak awal pendirian partai tersebut, mengirim
SMS ke beberapa angota PDI-P. Bunyinya, Gerakkan segera demo ke Lenteng Agung. Desak
DPP bentuk Komite Disiplin. Periksa Emir Moeis, Max Moein, Daniel Budi Setiawan, Agus
Condro Prayitno, Dudie Murod. dll dan kenakan sanksi PAW jika terbukti langgar Kode Etik
Partai.

Tak ada penjelasan tentang kode etik apa yang dilanggar, tetapi SMS itu menambah kesialan
Yoedha. Posisi nomor urut Yoedha sebagai Caleg DPRD DKI Jakarta (dari Daerah Pemilihan
Jakarta Timur) jadi melorot dari nomor urut 2 ke 4, dan akhirnya ke nomor urut 8. Tak cukup
dengan itu, Yoedha juga mendapat teguran keras dari salah satu petinggi PDI-P.
Isu pelanggaran kode etik itu beredar di banyak kalangan, tetapi tetap menjadi rumor, sampai
kemudian, Agus Condro, yang waktu itu anggota Komisi IX DPR, mengakui di depan pejabat
KPK telah menerima Rp 500 juta sepekan setelah terpilihnya Miranda Goeltom sebagai Deputi
Gubernur Senior Bank Indonesia . Kepada KPK, Agus mengaku uang tersebut dibagi-bagikan
melalui koleganya di Komisi XI DPR, Dudhie Makmun Murod, di ruang kerja Ketua Komisi
IX Emir Moeis. Pengakuan ini kemudian dibahas dalam rapat pleno FPDIP pada Selasa, 19
Agustus 2008.

Miranda Goeltom dalam menanggapi kasus Agus Condro

Tidak jelas apa hasil rapat pleno PDIP tersebut. Tapi sehari kemudian Agus bernyanyi lebih
nyaring. Kepada pers di Gedung DPR, Agus mengatakan bahwa dirinya bukan satu-satunya
orang yang menerima traveler cheque (TC). Dia mengungkapkan sejumlah nama lain yang
menerima cek pelawat Rp 500 juta bersama dirinya, yakni, William Tutuarima, Budiningsih,
Mateus Formes, dan Muhammad Iqbal.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 10


10
Ketika itu, kata Agus, dia menduga-duga pemberian uang berupa 10 lembar cek dari Bank
Internasional Indonesia (BII) merupakan gratifikasi setelah berhasil meloloskan Miranda
menjadi Deputi Gubernur Senior BI. Kuasa hukum Agus, Firman Wijaya, menyatakan,
sebelumnya sebenarnya Agus pernah menceritakan kasus dugaan suap itu kepada Mahfud M.D
saat keduanya bertemu di Garut, Jawa Barat. Belakangan, Mahfud sendiri menyatakan
kesiapannnya jika dia diminta sebagai saksi meringankan untuk Agus.

Pernyataan Agus tentang cek pelawat ini ternyata bukan lolongan anjing di padang pasir.
Sekitar sebulan setelah pengakuan Agus, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan
(PPATK) menyatakan telah menemukan 400 lembar cek perjalanan yang dibagikan kepada
anggota Komisi Perbankan. Satu lembar cek bernilai Rp 50 juta. Hasil temuan tersebut kemudian
diserahkan ke KPK.

Namun, sampai hampir 10 bulan sejak pengakuan Agus Condro, tidak ada tenggapan terbuka
dari KPK. Hal ini memunculkan kekhawatiran bahwa KPK tidak menindaklanjuti dugaan
korupsi terkait pemilihan Deputi Gubernur Senior BI tersebut. Karena itu, MAKI (Masyarakat
Anti Korupsi Indonesia) mempraperadilankan KPK yang dianggap lamban menangani
pengaduan Agus Condro. Menurut MAKI, KPK sebenarnya bisa dengan mudah menetapkan
Agus Condro sebagai tersangka dengan sangkaan menerima gratifikasi karena Agus Condro
sudah mengakui perbuatannya.

Akhirnya pada 9 Juni 2009, KPK menetapkan dan menahan empat orang sebagai tersangka
kasus penerimaan TC tersebut. Mereka, Hamka Yandu (Golkar), Endin AJ Soefihara (PPP),
Dudhie Makmun Murod (PDIP), dan mantan anggota fraksi TNI/Polri yang telah menjabat
anggota BPK, Udju Djuhaeri.

KPK juga mengembangkan kasus ini. Pada 1 September 2010 KPK mengumumkan 26
tersangka kasus suap terkait pemilihan Miranda Gultom sebagai DGS BI pada 2004. Dari 26
nama itu, 14 tersangka berasal dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (F-PDIP), 10
dari Fraksi Partai Golkar, dan 2 dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (F-PPP). Termasuk

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 11


11
dalam deretan tersangka adalah Agus Condro, politisi senior PDI Perjuangan, Panda Nababan,
dan politisi senior Golkar, Paskah Suzetta.

Empat tersangka penerima suap kemudian diadili di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.
Mereka, Dudhie Makmun Murod, Hamka Yandhu, Endin AJ Soefihara, dan Udju Djuhaeri.
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada 17 Mei 2010 menghukum dua tahun penjara Dudhie,
Hamka, dan Udju. Ada pun Endin divonis 15 bulan, tapi Pengadilan Tinggi DKI kemudian
memperberat vonis ini menjadi dua tahun penjara.

Pada 16 Juni 2011, Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi yang diketuai Suhartoyo
menjatuhkan vonis satu tahun tiga bulan penjara tiga bulan lebih ringan dari tuntutan jaksa-
kepada Agus Condro. Selain itu Agus juga diwajibkan membayar denda Rp 50 juta. Menurut
Ketua Majelis Hakim Suhartoyo, mantan politikus PDIP itu terbukti secara sah melakukan
tindak pidana sebagaimana diatur dalam dakwaan jaksa kedua, yakni melanggar Pasal 11 UU
Tipikor jo Pasal 55 Ayat 1 ke 1 KUHP.

Dalam pertimbangannya, hakim menyatakan menjatuhkan hukuman untuk Agus satu tahun
tiga bulan penjara karena dia mengakui terus terang perbuatannya, menyesali perbuatannya,
bersikap sopan selama persidangan, belum pernah di hukum, telah mengembalikan uang hasil
korupsi, serta telah melaporkan kasus suap ini ke ke KPK.
Kendati dihukum lebih ringan ketimbang yang lain, putusan hakim ini tetap menimbulkan
kecaman dari sejumlah pihak. Satgas Pemberantasan Mafia Hukum dan LPSK misalnya,
menyatakan hukuman 1 tahun 3 bulan penjara dan denda Rp 50 juta kepada Agus Condro itu
terlalu berat. "Meski hukuman tersebut lebih ringan dari terdakwa lainnya, seharusnya Agus
Chondro mendapat perlindungan hukum yang lebih signifikan" ujar Ketua LPSK, Abdul Haris
Semendawai dalam siaran persnya. Dalam siaran pers tersebut, Haris juga mengakui
perlindungan hukum terhadap whistleblower di Indonesia belum maksimal karena belum ada
jaminan signifikan dari undang-undang.

Dibanding hukuman para penenerima cek pelawat lainnya, hukuman untuk Agus memang tak
jauh beda. Max Moein dan Rusman Lumbantoruan, kolega Agus di PDI Perjuangan yang

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 12


12
menyangkal perbuatannya dan tidak mengembalikan cek yang diterimanya, misalnya,
dihukum
20 bulan penjara. Padahal, sebagai justice collaborator LPSK telah mengirim surat kepada
majelis hakim untuk mempertimbangkan peran Agus dalam mengungkap kasus suap ini. LPSK
sendiri telah menetapkan secara resmi perlindungan untuk Agus sejak 15 Maret 2011.
Penetapan Agus Condro sebagai pelaku pelapor oleh LPSK merupakan hasil pembicaraan antara
LPSK, Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, serta Kementerian Hukum dan HAM. Ketiga
lembaga ini sepakat, sebagai justice collaborator Agus layak mendapat "hadiah" atas
kontribusinya bekerja sama dengan aparat penegak hukum, yakni, remisi, asimilasi, atau
pembebasan bersyarat. LPSK juga ikut memantau dan mendampingi Agus dalam persidangan.

Kasus Agus Condro ini juga membuat Ketua Mahkamah Agung (MA), Harifin Andi Tumpa,
mengeluarkan surat edaran Mahkamah Agung (SEMA) yang isinya meminta para hakim
memperhatikan secara khusus pelaku pelapor kasus kejahatan seperti kasus Agus Condro.
Tujuannya, agar pelaku tidak takut lagi melaporkan. SEMA itu tidak memberikan rincian sanksi
yang diberikan kepada whistleblower. "Masalah sanksi itu dikembalikan ke hakim, tetapi harus
diperhatikan," kata Harifin. Harifin mengungkapkan perihal SEMA ini setelah pertemuan MA
dengan Satgas Pemberantasan Mafia Hukum (PMH).

Ketua Mahkamah Agung, Harifin Andi Tumpa

Pertemuan MA dengan PMH adalah untuk menindaklanjuti pembicaraan di Cipana yang


bertujuan mengevaluasi program pemberantasan mafia hukum dan rencana seminar tentang
whistle blower serta kemungkinan adanya pernyataan bersama antar penegak hukum terkait UU

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 13


13
Perlindungan saksi. Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai mengatakan, whistleblower belum
mendapatkan penghargaan dari pemerintah, meski telah membocorkan informasi penting
menyangkut kejahatan yang merugikan negara.

Ketua Satgas Pemberantasan Mafia Hukum Kuntoro Mangkusubroto menegaskan, memang


harus ada penanganan khusus bagi whistleblower itu. Mereka yang melakukan kejahatan tapi
kemudian ikut melaporkan dan membantu mengungkapkan kejahatan, harus mendapat
perlakukan khusus. Perlakuan tersebut, antara lain, pengurangan hukuman atau divonis ringan.
Kuntoro menunjuk vonis terhadap Agus Condro yang dinilai tidak adil. Harusnya jauh lebih
ringan."

Tanggapan Ketua LPSK mengenai kasus Agus Condro

Menurut Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai, perlindungan terhadap whistleblower atau
justice collaborator memang perlu diatur lebih jauh dan detail. Mereka, kata Abdul Haris, jika
memenuhi syarat bahkan bisa bebas dari tuntutan," katanya. Syarat itu di antaranya,
memberikan informasi untuk mengungkapkan kejahatan, saksi pelaku bukan aktor intelektual
dari kejahatan, serta tidak mengulangi lagi kejahatannya.
Menurut Abdul Haris Semendawai, putusan hakim terhadap Agus Condro menunjukkan bahwa
perlindungan hukum terhadap whistleblower di Indonesia belum maksimal karena belum ada
jaminan dari undang-undang.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 14


14
Perlindungan hukum terhadap whistleblower yang juga tersangka hanya sebatas ketentuan
Pasal
10 Ayat (2), yakni adanya pertimbangan hakim, dalam meringankan pidana yang
dijatuhkan.

Padahal, tambah Semendawai, LPSK sudah melakukan langkah serius dalam memberikan
perlindungan hukum terhadap Agus Condro. Salah satunya, mengirim surat kepada majelis
hakim untuk mempertimbangkan peran dan informasi penting yang dimiliki Agus Condro.
Semendawai mengakui perlindungan yang tidak maksimal dari LPSK disebabkan adanya
kelemahan dalam UU No.13/2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban (PSK). Atas
kelemahan tersebut, LPSK bersama Satgas Pemberantasan Mafia Hukum (PMH) telah
merumuskan perlindungan hukum dalam rancangan revisi UU No.13/2006.

Semendawai mengatakan LPSK terus mendorong supaya revisi UU tersebut segera terwujud.
Salah satu rumusan revisi tersebut terpenting adalah pemberian penghargaan kepada saksi atau
pelapor yang juga tersangka atau terdakwa yang mau bekerja sama dengan aparat penegak
hukum untuk membongkar suatu kejahatan. Penghargaan tersebut diberikan untuk kepentingan
penegakan hukum agar pelaku kelas kakap dapat diproses secara hukum dan berbagai kejahatan
dapat terungkap.

Kekecewaan terhadap vonis hakim yang menghukum penjara Agus Condro juga dikemukakan
Indonesia Corruption Watch (ICW). Menurut koordinator divisi hukum ICW, Febridiansyah,
seharusnya Agus Condro divonis bebas dia adalah pelapor dan pengungkap skandal cek pelawat
yang hingga kini terus disidik Komisi Pembentasan Korupsi. KPK sendiri pada 10 Desember
2011 telah membawa pulang Nunun Nurbaeti yang sebelumnya ditangkap polisi Thailand di
Bangkok pada Rabu 7 Desember 2011. Nunun, yang merupakan buronan KPK, diduga ikut
berperan penting dalam menyalurkan cek pelawat tersebut ke anggota DPR. Febri mengatakan,
seharusnya majelis hakim bisa lebih progresif dalam menjatuhkan putusan, tidak terpaku pada
tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Menurut Semendawai, LPSK telah melakukan sejumlah langkah sebagai bentuk perlindungan
sekaligus penghargaan terhadap Agus Condro yang telah bekerja sama dengan aparat hukum

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 15


15
mengungkap kasus suap ini. Selain meminta majelis hakim meringankan hukuman terhadap

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 16


16
Agus atas jasanya mengungkap kasus suap cek pelawat, meminta Agus ditempatkan di lembaga
pemasyarakatan yang lebih mudah diakses keluarganya, LPSK juga telah mengajukan
permohonan remisi dan pembebasan bersyarat untuk Agus.

Komitmen Agus Condro

Apa yang membuat Agus Condro bernyanyi? Mungkin SMS dari koleganya itu memang ikut
mempengaruhinya. Kepada media, Agus sendiri menyatakan dia hanya ingin menyampaikan
kebenaran. Pria asal Batang, Jawa Tengah, itu mengaku sejak awal telah siap menerima risiko
apapun dengan langkahnya, termasuk mempertaruhkan jabatannya sebagai anggota DPR. Akibat
pengakuannya Agus memang diberhentikan dari keanggotaan DPR. Agus telah dua kali
menjadi anggota DPR/MPR dari Jawa Tengah.

Di hari saat dibebaskannya dia dari penjara, kepada wartawan, Agus mengatakan akan tetap
melanjutkan komitmennya memberantas korupsi dengan membentuk wadah yang melibatkan
masyarakat tanpa ditunggangi kepentingan politik. "Dalam tahanan saya merenung, banyak
peristiwa korupsi dan telah ada upaya pemberantasannya, namun ditunggangi kepentingan
politik. Jadi perjuangannya tidak murni.

Menurut Agus, rakyat belum banyak berpartisipasi aktif dalam upaya pemberantasan korupsi.
Karena itu, dia akan merangkul teman-temannya untuk menggalang komitmen melawan
korupsi. "Ini sifatnya gerakan rakyat dan fokus menggerakkan lapisan masyarakat bawah untuk
peduli pada pemberantasan korupsi tanpa bermuatan politik dan dilakukan murni untuk
kepentingan bangsa, katanya

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 17


17
Susno Duadji: Nyanyi Sunyi Seorang Jenderal

s usno Duaji berjasa dalam mengungkap kejahatan pajak Gayus Tambunan. Mendapat
perlindungan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban. Dari Kepala Badan Reserse
dan Kriminal menjadi pesakitan. Demikianlah nasib yang menimpa Komisaris Jenderal
Susno Duaji. Pria kelahiran Pagar Alam, Sumatera Selatan, 1 Juli 1954 itu tersandung dua kasus
yang menjadi sorotan masyarakat yang juga kemudian berujung pada pencopotan jabatannya lalu
membuatnya menjadi narapidana.

Susno sendiri berkukuh tidak bersalah terhadap apa yang dituduhkan ke dirinya. Di tengah-
tengah perlawanannya itulah dia kemudian membuka borok sejumlah petinggi kepolisian,
bahkan dengan terang-terangan menyebut inisial mereka. Mereka, menurut Susno,
menyalahgunakan jabatannya untuk mempermaikan kasus demi keuntungan pribadi. Salah satu
kasus yang disebut Susno, kemudian menjadi pemberitaan besar di media massa, yakni kasus
kejahatan pajak yang dilakukan Gayus Tambunan.

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) kemudian juga menetapkan Susno sebagai
saksi yang dilindungi. LPSK berpendapat keterangan dan informasi yang diberikan Susno
penting untuk mengungkap kasus kejahatan pajak tersebut. LPSK juga memantau keberadaan
Susno di dalam tahanan.

Nama Susno pertama kali menjadi perbincangan publik saat dia melontarkan istilah cicak
melawan buaya dalam sebuah wawancara dengan sebuah media massa. Cicak ditujukan untuk
Komisi Pemberantasan, dan buaya untuk polisi, sebagai sosok yang jauh lebih kuat ketimbang
buaya. Ungkapan itu dinyatakan Susno saat muncul kabar Komisi Pemberantasan Korupsi
tengah membidik Kepala Bareskrim itu terkait dengan kasus Bank Century. Susno merasa KPK
telah menyadap teleponnya, sesuatu yang membuatnya berang. Maka saat populerlah istilah
cicak vs buaya.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 18


18
Chandra dan Bibit saat menanggapi kasus Susno di KPK

Hubungan kepolisian dan KPK makin panas setelah kemudian kepolisian menetapkan Chandra
dan Bibit sebagai tersangka suap dalam kasus korupsi Sistem Komunikasi Radio Terpadu
(SKRT) di Departemen Kehutanan yang dilakukan PT Masaro Radiokom dengan tersangkanya,
antara lain, Anggoro, pemilik perusahaan tersebut. Chandra dan Bibit bahkan saat itu sempat
ditahan polisi.

Para aktivis antikorupsi menyebut tindakan ini sebagai kriminalisasi KPK. Perang Cicak vs
Buaya ini makin panas, setelah kemudian Kejaksaan Agung menyatakan berkas Chandra dan
Bibit siap untuk diserahkan ke pengadilan. Gerakan membela Chandra dan Bibit pun terjadi di
mana-mana. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turun tangan membentuk tim untuk meneliti
kasus ini dan disimpulkan tak ada bukti dan kesalahan yang bisa membuat Chandra dan Bibit
diajukan ke pengadilan. Kejaksaan sendiri, belakangan, kemudian menghentikan kasus ini lewat
mekanisme surat penetapan penghentian perkara.

Lain Chandra dan Bibit, lain pula nasib Susno, pernyataannya tentang keterlibatan sejumlah
perwira tinggi memancing kehebohan di kalangan internal kepolisian. Dalam konferensi pers di
Kantor Satgas Pemberantasan Mafia Hukum Hukum, Susno mengungkapkan bahwa ada
jenderal di Polri yang terlibat makelar kasus (markus). Susno mengatakan saat dirinya masih
menjabat sebagai Kabareskrim, pada 2009 lalu, terdapat laporan dari PPATK soal
penggembungan rekening seorang karyawan pajak atas nama Gayus M. Tampubolon. Uang
dalam rekening itu senilai Rp 25 miliar. Namun, dalam penyidikan, uang yang dinyatakan
bermasalah adalah Rp 400 juta. Sedangkan sisanya, kata Susno, yakni sekitar Rp 24,6 miliar,
tidak diketahui keberadaannya. Maka, meledaklah kasus Gayus ini. Apalagi, dalam

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 19


19
perjalanannya, ternyata pengadilan Gayus ini juga diwarnai dengan skandal perubahan tuntutan
yang dilakukan jaksa dan suap terhadap hakim yang mengadili Gayus.

Susno pun menyebutkan beberapa nama pejabat polri yang diduga menjadi markus. Untuk
markus yang berada di Mabes Polri, Susno bahkan menyebutkan inisialnya. "Brigjen EI, yang
kemudian digantikan Brigjen RE, KBP E, dan Kompol A," katanya.

Menurut Susno, dalam konferensi pers di kantor Satgas Antimafia Hukum itu, yang dia
sampaikan adalah sebagai bentuk ketidaksetujuannya atas perilaku yang tidak satu kata dan tidak
satu perbuatan. "Suka melepas tanggung jawab, mengorbankan anak buah, antara perbuatan dan
perkataan munafik, mendapatkan kekayaan dengan cara ilegal, salah menggunakan jabatan,
mencari kesalahan orang lain, menutupi kejahatan di tubuh Polri, melindungi judi, preman,
narkotika, ilegal logging dan ilegal mining," katanya saat itu.

Serangan balik kemudian menimpa Susno, dia dituduh menerima suap saat kepolisian
menangani kasus yang membelit PT Salmah Arowana Lestari, perusahaan yang bergerak dalam
bisnis ikan, yang berlokasi di Riau. Tak hanya itu, Susno kemudian juga dituduh korupsi dana
pengamanan pemilihan kepala daerah (Pilkada), Jawa Barat tahun 2008.
Dalam situasi terjepit ini, Susno membuat kejutan lagi. Hadir sebagai dalam sidang Antasari
Azhar, dia menegaskan kasus Antasari sarat rekayasa. Menurut Susno, sebagai Kepala Bareskrim
saat pengusutan pembunuhan direktur PT PBK, Nasaruddin, dan membuat Ketua KPK Antasari
Azhar sebagai tersangka, dia sama sekali tidak tahu dan dilibatkan. Pernyataan Susno yang
kerap kontroversial itulah yang antara lain membuat dia kemudian dipanggil Komisi III DPR.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 20


20
Profil Susno Duaji

Drs. Susno Duadji S.H., M.Sc.

Lulus dari Akademi Kepolisian 1977, Susno yang menghabiskan sebagian kariernya sebagai
perwira polisi lalu lintas sudah mengunjungi 90 negara untuk belajar menguak kasus korupsi.
Kariernya mulai meroket ketika dia dipercaya menjadi Wakapolres Yogyakarta dan berturut-
turut setelah itu Kapolres di Maluku Utara, Madiun, dan Malang.

Susno mulai ditarik ke Jakarta, ketika ditugaskan menjadi Kepala Pelaksana Hukum di Markas
Besar Polri dan mewakili institusinya membentuk KPK pada 2003. Pada 2004 dia ditugaskan di
Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Sekitar tiga tahun di PPATK,
Susno kemudian dilantik sebagai Kapolda Jawa Barat. Beberapa pernyataan dan kebijakan
kontroversial selama menjabat Kapolda Jawa Barat di antaranya adalah, Jangan pernah setori
saya dan perintah tembak di tempat bagi penjahat yang melarikan diri.

Sejak 24 Oktober 2008, Susno menjadi Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri
(Kabareskim) menggantikan Bambang Hendarso Danuri yang diangkat menjadi Kapolri. Saat
menjabat Kabareskrim dia disebut-sebut sukses mengembalikan uang negara hasil kejahatan
sekitar Rp 15 triliun, lebih dari dua kali lipat dana talangan Bank Century sebesar Rp 6,7 triliun.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 20


20
Pengadilan Susno

Dibelit kasus yang memojokkan namanya, pada 5 November Susno sempat menyatakan
dirinya mundur dari jabatan Bareskrim. Tapi, itu tak lama karena pada pada 5 November 2009
dia aktif kembali. Baru tiga pekan kemudian, pada 24 November 2009 Kapolri secara resmi
mengumumkan pemberhentian Susno dari jabatan sebagai Bareskrim.

Susno sendiri akhirnya diperiksa penyidik independen Polri. Setelah melalui serangkaian
penyidikan, akhirnya Susno dijadikan tersangka penerima gratifikasi sebesar Rp 500 juta dari
PT Salmah Arowana Lestari (SAL) Riau. Tuduhan menerima suap tersebut berdasarkan
keterangan Sjahril Djohan dan Haposan Hutagalung, pengacara PT SAL.

Susno juga dituduh melakukan penggelapan dana pengamaan Pilkada Jawa Barat saat menjabat
sebagai Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat. Dalam kasus ini Susno dinilai telah merugikan
keuangan negara Rp 8,1 miliar. Susno sendiri menolak menandatangani Berita Acara
Pemeriksaan (BAP) dan juga, belakangan, surat penangkapan atas dirinya kendari kemudian
dirinya tetap ditahan. Selain Susno polisi juga menetapkan Sjaril Djohan dan Haposan
Hutagalung sebagai tersangka.

Haposan Hutagalung dan Sjaril Dohan saat mengikuti pengadilan

Saat persidangan digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Markas Besar Polri
menunjukkan dua alat bukti yang digunakan sebagai dasar penangkapan dan penahanan Susno
pada pertengahan 2010 itu.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 21


21
Alat bukti pertama, laporan polisi nomor polisi LP/272/K/IV/2010 Bareskrim tanggal 21 April
2010. Alat bukti kedua berupa keterangan enam saksi, yakni Sjahril Djohan, Haposan
Hutagalung, M. Dadang Apriyanto, Upang Supandi, Ahsanur, dan Syamsurizal Mokoagouw.

Proses peradilan Susno terhitung lambat. Salah satu penyebabnya, karena banyaknya jumlah
saksi yang diajukan jaksa, yakni 124 saksi. Dalam perjalanannya banyak saksi yang tidak bisa
dihadirkan atau kehadirannya ditunda sehingga menyebabkan penundaan persidangan.
Penggabungan persidangan dua kasus yang berbeda tempat dan waktu itu, yakni kasus
penggelapan dana pengamanan Pilkada dan kasus PT SAL, sempat menjadi polemik.

Persidangan Kasus Penggelapan Dana Pilkada

Sejumlah bekas kepala kepolisian dihadirkan sebagai saksi dalam sidang ini. Mereka, antara
lain, Sugiono (mantan Kapolres Subang), Erwin Faisal (mantan Kapolres Sumedang), Suntana
(mantan Kapolres Kota Tasikmalaya), Rudi Antariksawan (mantan Kapolres Kota Sukabumi),
M. Arif Ramadhan (mantan Kapolres Bandung Tengah), dan Moh Gagah Suseno (mantan
Kapolres Majalengka).

Kepada majelis hakim PN Jakarta Selatan para perwira Polri itu mengakui adanya pemotongan
dana anggaran pengamanan yang diterima masing-masing Polres dari Bidang Keuangan Polda
Jawa Barat. Menurut mereka, besarnya potongan anggaran pengamanan pilkada untuk tiap
Polres berbeda-beda. Namun, total potongan untuk enam Polres mencapai Rp 1,833 miliar.

Cuma, tak satu pun di antara para saksi menyebut bahwa pemotongan itu merupakan perintah
Susno yang saat itu menjadi Kapolda. Tentang pemotongan dana tersebut, para saksi mengaku
mendapat arahan dari Kepala Sub-direktorat (Kasubdit) Keuangan Polda Jawa Barat, AKBP
Iwan Gustiawan dan AKBP Agus.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 22


22
Susno Duadji saat mengikuti pengadilan

Persidangan ini juga menghadirkan saksi penting, yakni Kepala Bidang Keuangan (Kabidkeu)
Polda Jawa Barat saat itu, Maman Abdurahman Pasha, yang sebelumnya berkali-kali mangkir.
Maman mengaku dirinyalah yang memerintahkan Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Akun
Bidang Keuangan Polda Jabar Iwan Gustiawan dan pegawai negeri sipil Bidang Keuangan Polda
Jabar, Yultje Aprianti, untuk memotong dana pilkada dan pemotongan itu atas atensi Kapolda
Jabar saat itu, Susno Duadji.

Dalam kesaksiannya, Yultje menyebut penyerahan uang tersebut dilakukan oleh Maman
Abdurahman. Dia juga menyatakan, Kapolda mendapat jatah pemotongan sebesar Rp 50 juta.
Yultje mengaku bertugas untuk membagikan uang itu ke sejumlah kepala biro dan perwira
berpangkat komisaris besar dan ajun komisaris besar.

Dari pemotongan itu, kata Maman, Susno mendapat Rp 150 juta, Wakil Kepala Polda,
Brigadir Jenderal Supriyadi Usman, mendapat Rp 100 juta, dan Inspektur Pengawasan Daerah
Komisaris Cecep Lukman memperoleh Rp 75 juta. Adapun pejabat setingkat kepala biro
memperoleh Rp 20 juta. Sedang para ajun komisaris besar menerima Rp 5 juta hingga Rp 10
juta.
Menurut Maman, Susno-lah yang memerintahkan penarikan dana dalam beberapa tahap
sebesar, antara lain, Rp 1,3 miliar dan Rp 1,5 miliar yang kemudian ditukar dengan dolar AS.
Selain itu, kata Maman, Susno juga memerintahkan uang senilai Rp 1 miliar agar ditukarkan
dalam bentuk 40 lembar cek pelawat. Cek itu kemudian dibagi-bagikan kepada para petinggi
Polda Jawa Barat dan sisanya untuk membiayai berbagai kegiatan.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 23


23
Susno bertemu kuasa hukumnya

Tapi keterangan Maman itu oleh Susno dianggap mengada-ada karena tidak sesuai satu dengan
lainnya. Maman belakangan, setelah dicecar para pengacara Susno, membuat pengakuan baru.
Dia menyatakan pembangunan Gedung Olahraga Brimob, pembelian mobil Camry, Suzuki
APV, peringatan Hari Bhayangkari, dan pembagian uang Lebaran tidak memakai duit
pengamanan pilkada. Dari Samsat," ujarnya. Padahal, sebelumnya, dia menerangkan
pembangunan gedung olahraga, pembelian mobil dan sebagainya itu dari dana pengamanan
pemilihan gubernur Jawa Barat itu.

Susno juga membuktikan ketidakakuratan kesaksian Maman tentang travel cheque yang
disebut dari pemotongan dana Pilkada. Susno menegaskan, cek perjalanan tersebut dibeli dari
uang pribadinya, hasil menjual tanah. Bukti itu dibeberkan sebelum Susno menghadirkan saksi
meringankan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Para Saksi Kunci Kasus PT SAL

Susno dijadikan tersangka penerima suap setelah polisi memeriksa Sjahril Djohan dan Haposan
Hutagalung, pengacara Ho Kian Kiat, warga Singapura yang mengaku korban penipuan dan
penggelapan yang dilakukan pemilik PT Salmah, Anuar Salmah. Susno dituduh menerima uang
Rp 500 juta dari PT Salmah Arowana. Menurut Sjahril yang juga menjadi tersangka dalam
kasus ini, dialah yang mengantar uang ke Susno.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 24


24
Di persidangan, Sjahril Djohan berkukuh menyatakan, uang itu betul-betul telah diterima
Susno. Uang tersebut, ujarnya, dia terima dari Haposan untuk diteruskan ke Susno. "Uang betul-
betul saya serahkan ke Susno. Manusia bisa dibohongi, tapi Tuhan tidak, ujarnya di
persidangan. Dia menyerahkan uang tersebut pada 4 Desember 2008 di rumah Susno. Susno
menyatakan dia tak menerima uang seperti disebutkan Sjahril. Menurut Susno, Sjahril Djohan
berbohong.

Saksi lain yang juga dihadirkan dalam kasus suap ini adalah AKBP Syamru Rizal, salah
seorang saksi yang mengaku menyaksikan Syahril Djohan menyuap Susno senilai Rp 500 juta.
Syamsu Rizal yang tak lain bekas anak buah Susno mengaku menyaksikan Syahril ke rumah
Susno di Jalan Abuserin 2B Fatmawati, Jakarta Selatan, untuk menyerahkan uang senilai Rp 500
juta. Susno menyatakan keterangan Syamsu itu palsu. Dia menduga kesaksian tersebut
dilontarkan Syamsu yang dendam karena dirinya telah mencopot Syamsu dari jabatannya.

Sjahril sendiri, dalam kasus ini, pada Oktober 2010, divonis hukuman satu tahun enam bulan
penjara. Dia dinyatakan terbukti melakukan suap. Putusan tersebut lebih rendah dari tuntutan
jaksa, yakni, dua tahun penjara dan denda Rp 75 juta.

Ada pun Haposan Hutagalung divonis tujuh tahun penjara dan denda Rp 300 juta subsider tiga
bulan kurungan. Haposan dinilai terbukti melakukan tiga tindak pidana, yakni memberikan
keterangan yang tidak benar mengenai asal-usul uang Gayus senilai Rp 28 miliar yang diduga
berasal dari hasil korupsi. Kemudian terbukti memberikan uang sebesar US$ 6.000 kepada
penyidik M. Arafat Enanie saat menangani perkara Gayus serta terbukti turut serta memberikan
uang kepada Susno Rp 500 juta, melalui Sjahril Djohan. Haposan mengajukan banding, tapi
pengadilan banding memperberat hukumannya menjadi sembilan tahun penjara.

Walau sudah diputus pengadilan, toh peradilan Susno dalam perkara suap PT SAL dianggap
belum tuntas. Itu karena sejumlah saksi kunci yang bisa memberi keterangan benar atau
tidaknya Susno menerima suap sebesar Rp 500 juta dari Sjahril Djohan yang akan dihadirkan
oleh jaksa ternyata tidak kunjung hadir. Mereka adalah Mr. Ho, Dadang, dan Vincent Apriyono.
Mr. Ho dan Vincent adalah pengusaha asal Singapura yang merupakan investor PT SAL.
Sedangkan Dadang adalah office boy dan sopir yang bekerja di kantor Sjahril Djohan.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 25


25
Dalam persidangan Susno juga dihadirkan beberapa saksi ahli baik yang memberatkan maupun
yang meringankan Susno, di antaranya Brigjen Iza Fadli, Muhammad Nuh Al Azhar, Ahmad
Yani (Komisi III DPR), Prof. Bambang Purnomo (guru besar bidang pidana UGM), dan Dr.
Mudzakir (ahli hukum pidana Universitas Islam Yogyakarta).

Tewasnya Dua Saksi yang Mencurigakan

Penyelidikan kasus Susno juga diwarnai meninggalnya dua saksi meringankan Susno.
Sejumlah kalangan mehubung-hubungkan kematian keduanya yang sama-sama karena
kecelakaan tersebut dengan perkara Susno yang tengah bergulir di persidangan. Saksi yang tewas
itu Brigadir Kepala Doni Rahmanto dan Inspektur Dua Anjar Saputro.

Doni Rahmanto, mantan pengawal Susno, tewas akibat kecelakaan di jalan raya pada 9 Maret
2011. Dia ditemukan terkapar terjatuh dari sepeda motor Yamaha Mio putih bernomor polisi B
6684 EOB miliknya di Jalan D.I. Panjaitan, di seberang kantor Kementerian Lingkungan Hidup,
Jakarta Timur. Beberapa saksi di tempat kejadian mengatakan Doni menjadi korban tabrak lari.
Saat bersaksi di pengadilan, Doni membantah jika Susno pernah bertemu Sjahril Johan di rumah
Susno seperti dakwaan jaksa. Sebelumnya, Anjar Saputro, juga tewas akibat kecelakaan di jalan
raya Bogor pada 16 Oktober 2010 lalu. Dia meninggal sebelum memberi kesaksian meringankan
untuk Susno.

Pada 24 Maret 2011 Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memvonis Susno hukuman tiga tahun
enam bulan penjara, denda Rp 200 juta serta membayar kerugian negara Rp 4 miliar. Susno
tidak ditahan. "Karena alasan kemanusiaan, terdakwa Susno Duadji tidak (belum) ditahan.
Namun, jika nantinya sudah ada keputusan inkraclit, tetap akan dilakukan eksekusi," ujar juru
bicara Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, Sobari.

Walau menyatakan menghormati putusan majelis hakim, Tapi Susno menilai putusan tersebut
tidak adil. Dia melakukan perlawanan hukum terhadap putusan tersebut. Alasannya,
mengajukan banding tersebut juga ditulis Susno panjang lebar dalam situs pribadinya,
www.susnoduadji.com.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 26


26
Alasan saya dan Tim Advokad mengadakan perlawanan hukum BANDING bukan karena
beratnya hukuman yang dijatuhkan. Saya tidak takut dengan hukuman apa pun yang dijatuhkan,
mati pun saya siap. Yang saya dan Tim Advokad persoalkan adalah vonis bahwa saya terbukti
bersalah. Seandainya saya dihukum satu hari atau satu jam pun kalau ada hukuman yang
demikian, maka saya dan tim advokad tetap akan melakukan perlawanan hukum banding.

Vonis bahwa saya dinyatakan BERSALAH itu yang kami tidak bisa terima karena saya memang
tidak bersalah dan tidak ada satu alat bukti pun yang membuktikan bahwa saya bersalah. Semua
fakta yang diangkat oleh Majelis Hakim adalah berdasarkan keterangan satu orang Mafia
Hukum Sjahril Djohan untuk dakwaan pertama (perkara Arowana) dan satu orang saksi
rekayasa Maman Abdulrahman Pasya untuk dakwaan kedua (perkara Pilkada Jabar).

Saya dan Tim Advokad menyatakan sangat menyesalkan Majelis Hakim yang sangat
"mendewakan " mafia hukum/Markus Sjahril Djohan dan si Pembohong Maman Abdulrahman
Pasya daripada ratusan saksi dan bukti authentic.

Tapi, upaya banding Susno gagal. Pada 9 November 201, lewat putusan Nomor
35/PID/TPK/2011/PT. DKI, majelis hakim banding Pengadilan Tinggi DKI yang dipimpin
Roosdarmani tetap menyatakan Susno bersalah. Dia tetap dihukum 3 tahun 6 bulan penjara.
Susno dianggap terbukti bersalah dalam kasus korupsi penanganan perkara PT Salmah Arowana
Lestari dan dana pengamanan Pilkada Jawa Barat 2008. Selain denda Rp 200 juta, Susno juga
harus membayar ganti rugi kepada negara yang oleh Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dinaikkan
menjadi Rp 4.208.898.749. Ada pun kurungan pengganti denda diturunkan dari enam bulan
menjadi empat bulan.

Terhadap putusan banding tersebut, Susno mengajukan kasasi. Pengacara Susno secara resmi
menyerahkan memori kasasi klien mereka ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada
Senin, 19 Desember 2011. Arie Yusuf Amir, salah seorang kuasa hukum Susno, menyatakan,
dalam memori kasasi pihaknya secara khusus menyoroti kurang memadainya pertimbangan
hukum yang menjadi dasar putusan pengadilan. "Mereka menghukum cuma dengan satu saksi.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 27


27
Di kasus Sjahril Djohan (kasus suap PT Salmah Arowana Lestari/PT SAL) cuma Sjahril Djohan
dan di kasus dana Pilkada Jawa Barat hanya Kombes Dul Rachman (Maman Abdulrahman),"
kata Arie Yusuf Amir.

LPSK Mendampingi Susno

Susno Duaji memandang perlu untuk memita perlindungan LPSK demi keamanan dirinya
sekaligus membongkar kejahatan yang ia ketahui. Susno mengajukan permohonan perlindungan
kepada LPSK pada 4 Mei 2008. Setelah melakukan rapat internal, pada 24 Mei 2010
mengabulkan permintaan Susno.

LPSK memandang perlu melindungi Susno karena perannya sebagai whistleblower dalam
kasus dugaan kejahatan pajak yang dilakukan Gayus Halomoan Tambunan. Dasar perlindungan

Gayus Halomoan Tambunan bertemu kuasa hukumnya

Mengacu pada pasal 10 ayat (1) dan (2) Undang-Undang tentang Perlindungan Saksi dan
Korban. Menurut LPSK, Susno berjasa dalam kasus Gayus karena dialah yang pertama kali
mengungkapan kejahatan pajak yang, belakangan, kemudian menyeret banyak orang, termasuk
sejumlah jaksa. Terhadap perannya itu, LPSK meminta pengadilan bisa meringankan hukuman
Susno, jika dia dinyatakan bersalah, dengan mempertimbangkan perannya tersebut.

Sebelum menetapkan perlindungan untuk Susno, LPSK sendiri pernah menggelar rapat dengan
Markas Besar Polri. Rapat digelar pada 17 Mei, ketika status Susno sudah menjadi tersangka.
Kendati begitu, berdasarkan rapat pleno LPSK, Susno tetap layak dilindungi.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 28


28
Saat menjalankan tugas dan fungsi perlindungan sesuai dengan UU No. 13 Tahun 2006 tentang
Perlindungan Saki dan Korban, LPSK menghadapi sejumlah tantangan berkaitan degan
pemberian perlindungan terhadap Susno ini. Misalnya, adanya beda persepsi dengan Markas
Besar Polri perihal penempatan Susno. LPSK berpendapat Susno seharusnya ditempatkan di
rumah aman (safe house), bukan di rumah tahanan. LPSK berpandangan, karena Susno
menjadi whistleblower dalam kasus Gayus, dia layak dilindungi.

Sebaliknya Mabes Polri menyatakan Susno yang menjadi tersangka dalam kasus PT SAL tak
layak mendapat perlindungan. LPSK kemudian melayangkan surat kepada Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono. Ditujukan ke Presiden karena menurut undang-undang LPSK adalah
lembaga negara yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Surat itu kemudian
mendapat respons Menteri Hukum dan HAM. LPSK tetap berhak member perlindungan kepada
LPSK walau Susno berada di rumah tahanan Brimob Kelapa Dua.

Menurut Lili Pintauli Siregar, Komisioner Penanggung Jawab Bidang Bantuan, Kompensasi,
dan Restitusi, LPSK diberikan keleluasaan untuk memantau perkembangan kesehatan Susno.
LPSK juga terus berkoordinasi dengan tim pengacara untuk memantau keadaan Susno.
Makanya kami punya keleluasaan melihat perkembangan kesehatan beliau di rutan, ujar Lili.

Berdasarkan Pasal 36 ayat (1) UU No. 13 Tahun 2006, LPSK dapat bekerja sama dengan
instansi yang terkait dalam memberikan perlindungan saksi dan korban. Posisi saksi dan korban
yang sudah mendapat perlindungan pun kuat. Pasal 10 ayat (1) UU Perlindungan Saksi
menyebutkan saksi, korban, dan pelapor tidak dapat dituntut secara hukum baik pidana maupun
perdata atas laporan kesaksian yang akan, sedang, dan atau telah diberikannya.

Dalam kasus PT SAL, menurut Lili, kepada Susno dapat diterapkan rumusan Pasal 10 ayat (2)
UU Perlindungan Saksi yang menyebutkan seorang saksi yang juga tersangka dalam kasus yang
sama tidak dapat dibebaskan dari tuntutan pidana apabila dia ternyata terbukti secara sah dan
meyakinkan bersalah, tapi kesaksiannya dapat dijadikan pertimbangan hakim dalam
meringankan pidana yang akan dijatuhkan. Terhadap kasus Gayus, Susno adalah whistle
brower. Maka diterapkan Pasal 10 ayat (1). Tapi, untuk kasus SAL, dapat diterapkan Pasal 10
ayat (2), ujar Lili.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 29


29
Kini, meskipun Pengadilan Tinggi DKI Jakarta tetap memvonis Susno Duadji penjara 3 tahun
6 bulan, LPSK masih terus memberikan perlindungan. "Perlindungan terhadap Susno Duadji
tetap kami lakukan. Susno kami lihat sebagai seorang whistleblower," kata Ketua LPSK Abdul
Haris Semendawai.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 30


30
Vonis Abu Bakar Baasyir dan Perlindungan Saksi Kasus
Terorisme

A
bu Bakar Baasyir akhirnya divonis bersalah. Setelah bersidang selama empat
setengah jam, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang diketuai Herry
Swantoro, pada 16 Juni 2011, menyatakan Amir Jamaah Ansharut Tauhid (JAT)
tersebut terbukti bersalah melakukan tindak pidana terorisme. Hakim menyatakan Baasyir
terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah dalam kasus pembiayaan pelatihan militer untuk
kegiatan terorisme di Pegunungan Jalin Jantho, Aceh.

Majelis hakim menghukum Baasyir 15 tahun penjara. Terdakwa telah terbukti bersalah
melakukan tindak pindana terorisme dalam dakwaaan subsidair, kata Herry Swantoro. Untuk
dakwaan primer, menurut Herry, hakim tidak menemukan bukti kuat. Tidak terbukti sah dan
meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan. Membebaskan Abu Bakar
Baasyir dari dakwaan primer tersebut, kata Herry. Hukuman terhadap Basyir lebih ringan
daripada tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Sebelumnya jaksa menuntut Baasyir hukuman
penjara seumur hidup.

Dalam dakwaan sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum yang dipimpin Andi Muhammad Taufik
menuntut Baasyir hukuman penjara seumur hidup. Dalam dakwaan subsider, jaksa menyatakan
Baasyir secara sah dan meyakinkan telah melanggar pasal 14 jucto pasal 7, subsider pasal 14
jucto pasal 11, lebih subsider pasal 15 jucto pasal 9, ke bawahnya lagi pasal 15 jucto pasal 7, ke
bawahnya lagi pasal 15 jucto pasal 11, dan terakhir pasal 13 huruf a Undang-Undang tentang
Terorisme dengan ancaman hukuman 3 tahun sampai 15 tahun penjara.

Baasyir didakwa merencanakan dan menggerakan orang lain untuk mengumpulkan dana,
baik secara pribadi maupun selaku Amir Jamaah Ansharut Tauhid dalam kaitannya dengan
pelatihan militer di Pegunungan Jalin Jantho di Aceh Februari 2010. Dana yang dikumpulkan
Baasyir berasal dari dari Syarif Usman sebesar Rp 200 juta dan Hariyadi Nasution sebesar
Rp150 juta. Baasyir menurut dakwaan jaksa juga memberikan dana, di antaranya sebesar Rp5

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 31


31
juta, Rp120 juta, dan 5.000 dolar AS untuk keperluan survei hingga pelatihan. Pelatihan ini
menurut jaksa sudah termasuk tindak pidana terorisme. Baasyir merencanakannya bersama
Dulmatin alias Yayah Ibrahim dalam pertemuan di salah satu ruko di dekat Pondok Pesantren
Mukmin Ngruki Solo, Jawa Tengah, pada Februari 2009 yang difasilitasi Ubaid atas arahan
Dulmatin.

Jaksa juga mendakwa Baasyir terbukti pernah menonton rekaman video pelatihan militer
berdurasi 45 menit yang dibawa oleh Ubaid di kantor Jamaah Ansharut Tauhid Jakarta dan
rumah Hariyadi Usman di Bekasi. Rekaman itu berisi kegiatan pelatihan di Jantho, Aceh, antara
lain pelatihan fisik, menggunakan senjata api, dan orang-orang berkumpul sambil makan.

Baasyir membantah dakwaan jaksa. Menurut dia, pelatihan militer di Aceh direncanakan oleh
Ubaid dan Abu Tholud. Dia mengaku dirinya tak setuju dengan kegiatan itu karena Jamaah
Ansharut Tauhid belum siap melakukan Idad dengan senjata api. Terhadap vonis Pengadilan
Negeri Jakarta Selatan tersebut, tim pengacara Baasyir langsung menyatakan banding.

Sidang pembacaan vonis terhadap Abu Bakar Baasyir mendapat pengawalan ketat dari
Kepolisian Daerah Metro Jaya. Sekitar 3.400 polisi, termasuk penembak jitu, ditempatkan di
sekitar gedung pengadilan. Ketatnya pengamanan terhadap sidang tersebut karena banyaknya
pendukung Baasyir, termasuk dari Solo, yang menyatakan akan hadir dalam sidang pembacaan
vonis tersebut. Beberapa saat setelah hakim menjatuhkan hukuman kepada Baasyir, para
pendukung Baasyir berlari-lari sekeliling halaman depan gedung Pengadilan Jakarta Selatan
sebagai wujud protes mereka terhadap putusan hakim.

Profil Abu Bakar Baasyir

Abu Bakar Baasyir bin Abu Bakar Abud

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 32


32
Abu Bakar Baasyir bin Abu Bakar Abud, biasa juga dipanggil Ustadz Abu atau Abdus Somad,
merupakan seorang tokoh Islam di Indonesia keturunan Arab. Baasyir juga pemimpin Majelis
Mujahidin Indonesia (MMI) serta salah seorang pendiri Pondok Pesantren Islam Al Mumin.
Sejumlah badan intelijen menuduh Baasyir sebagai kepala spiritual Jemaah Islamiyah (JI),
sebuah grup separatis militan Islam yang mempunyai kaitan dengan al-Qaeda. Baasyir sendiri
berulangkali menolak dirinya dihubungkan dengan organisasi tersebut. Dia membantah memiliki
hubungan dengan JI dan terorisme.

Baasyir pernah menjalani pendidikan sebagai siswa Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo,
Jawa Timur (1959) dan alumni Fakultas Dakwah Universitas Al-Irsyad, Solo, Jawa Tengah
(1963). Perjalanan kariernya dimulai dengan menjadi aktivis Himpunan Mahasiswa Islam Solo.
Ia kemudian menjabat Sekretaris Pemuda Al-Irsyad Solo. Dari sini kariernya dalam organisasi
Islam terus meningkat. Dia terpilih menjadi Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia (1961),
Ketua Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam, memimpin Pondok Pesantren Al Mumin (1972) dan
Ketua Organisasi Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), 2002.

Pada 10 Maret 1972, bersama Abdullah Sungkar, Baasyir mendirikan Pesantren Al-Mumin
di Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah, bersama dengan Abdullah Sungkar pada 10 Maret 1972.
Pada masa Orde Baru, Baasyir melarikan diri dan tinggal di Malaysia selama 17 tahun atas
penolakannya terhadap asas tunggal Pancasila.

Saksi Kunci Tak Dihadirkan

Tim pengacara Abu Bakar Baasyir menyatakan mereka memiliki alasan kuat kenapa
menyatakan banding terhadap putusan hakim. Menurut salah satu anggota tim pengacara,
Achmad Michdan, karena karena majelis hakim tidak mempertimbangkan pentingnya pengakuan
saksi kunci, Khairul Gazali. "Proses dalam pertimbangan hakim itu kan fakta persidangan
berdasarkan saksi-saksi. Yang menarik justru ada keterangan salah satu saksi yang tidak
dipertimbangkan," kata Achmad Michdan, seusai sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan,
Kamis, 16 Juni 2011.

Menurut Mihdan, Khairul adalah salah seorang saksi yang kini ditahan karena tuduhan terlibat
perampokan Bank CIMB Medan. Khairul adalah orang yang mampu membuktikan bahwa tindak
pidana yang memberatkan Baasyir adalah hasil intimidasi penyidik kepolisian dan diminta

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 33


33
polisi. "Dia saksi yang mengungkapkan para tersangka teroris itu mendapat tekanan fisik,
mendapat tekanan mental. Inilah, yang kemudian menjadi atensi," kata Mihdan.

Sebelumnya tim kuasa hukum Basyir juga kecewa dengan pemeriksaan saksi melalui
teleconference. Untuk menghadirkan saksi, majelis hakim, karena keberadaan saksi yang berada
di Rumah Tahanan Brimod Kelapa Dua, memutuskan memeriksa saksi memakai teknologi
teleconference. Ada empat saksi yang diperiksa dari Rumah Tahanan Brimob.

Tim pengacara Baasyir menolak cara ini. Mereka menilai pemeriksaan cara ini tidak adil bagi
Baasyir. Kami sejak awal menginginkan agar prosesnya lebih transparan. Saksi-saksi
dihadapkan ke persidangan. Kalau mereka keberatan dipertemukan dengan terdakwa (Baasyir),
bisa saja terdakwa di luar (ruang sidang) dan saksi diperiksa di ruang sidang. Kami ingin
fairness trial, " demikian kata Achmad Michdan.

Dari sisi lokasi, keberadaan mereka di dalam tahanan Brimob, dinilai Achmad Michdan akan
member tekanan bagi saksi. Salah satu saksi yang sudah memberikan keterangan melalui
teleconference adalah Luthfi Haidaroh alias Ubaid. Ubaid saksi penting yang dapat
menunjukkan dugaan keterlibatan Ba'asyir dalam pelatihan militer kelompok teroris di
Pegunungan Jalin Jantho, Aceh. Saksi lain yang diperiksa secara teleconference adalah Abdul
Haris, Hendro Sultoni, dan Sholehudin.

Vonis terkait kasus terorisme juga dijatuhkan kepada seorang remaja pelajar SMK Negeri 2,
Klaten, Jawa Tengah, berinisial AW (18 tahun). Pada 17 April 2011 majelis hakim Pengadilan
Negeri Klaten yang dipimpin A.S. Pujo Harsoyo dengan anggota Marliyus dan Slamet Setyo
Utomo memvonis AW hukuman dua tahun penjara. Dia dinyatakan terbukti melakukan tindak
pidana terorisme, yakni ikut merakit dan meletakkan bom dalam kasus terorisme di Klaten.

Sebelumnya, jaksa menuntut AW dengan hukuman empat tahun penjara. Yakni melanggar
pasal 15 junto 9 UU nomor 15 tahun 2003 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme, serta
pasal 1 ayat 1 tahun UU darurat nomor 12 tahun 1951.

Menurut jaksa penuntut umum yang dipimpin Muji Martopo, AW terlibat dalam perakitan dan
pemasangan bom di pos polisi Delanggu, Klaten. Selain itu, dia terlibat perencanaan peledakan
bom di alun-alun utara Surakarta, ritual sebar apem di Kecamatan Jatinom, Klaten, serta Masjid

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 34


34
As-Syifa di dekat Rumah Sakit Islam Klaten, pada 1 Desember 2010 hingga 21 Januari 2011.
Untuk memperkuat dakwaannya, jaksa mendatangkan enam saksi mahkota, yang lima di
antaranya didatangkan dari Jakarta. Lima saksi mahkota datang dari Jakarta melalui Bandara
Adi Soemarmo Solo, dan dibawa ke PN Klaten dengan kawalan sejumlah pasukan Densus 88
Antiteror.

Saat mengadili AW, dihadirkan dua saksi meringankan, masing-masing seorang guru SMK
Negeri 2 Klaten dan seorang tetangga AW. Mereka menerangkan, AW berkelakukan baik selama
di sekolah maupun di kampungnya. Menurut kesaksian guru SMK Negeri 2 Klaten, AW sejak
duduk di bangku kelas satu hingga tiga, dia tidak pernah memiliki catatan melakukan
pelanggaran di sekolah. Ada pun tetangga AW yang juga menjabat Kepala Urusan Umum di
Desa Buntalan, Kecamatan Klaten Selatan, menyebut AW tidak pernah bermasalah di
kampungnya.

Kesaksian Umar Patek dan Perlindungan Saksi Terorisme

Pada Juli 2011 tersangka terorisme Umar Patek, yang sebelumnya ditangkap dan ditahan di
Pakistan dideportasi ke Indonesia. Menurut Juru Bicara Markas Besar Polri, Inspektur Jenderal
Anton Bachrul Alam, Setidaknya ada 27 saksi yang akan diperiksa terkait dengan tragedy Bom
Bali I yang menewaskan 202 orang, termasuk wisatawan asing itu.umar patek merupakan salah
seorang tersangka utama insiden Bom pada 2002 yang melululantahkan sari club dan Paddys
bar di Kuta, sebelumnyya polisi juga menghukum mati amrozi,Mukhlas dan imam samudera,
terpidana kasus serupa. Umar Patek diduga juga terlibat dengan aksi bom di beberapa tempat
lain. karena itu, selain kasus bom Bali I, polisi juga akan memeriksa keterkaitan Umar dengan
kasus-ksus bom lain di tanah air Tapi saat ini di Bali dulu karena saksi banyak disana, ujar
anton pada wartawan, rabu 5 oktober 2011.

Berdasarkan catatan POLRI tertanggal 24 desember 2000, didalam negeri pria kelahiran
Pemalang 20 juli !(66 ini tercatat terlibat dalam sejumlah aksi penegeboman, latihan militer, dan
penyelundupan senjata api, yakni kasus:

1. Bom gereja kanisius Menteng Raya, Jakarta pusat


2. Bom gereja Anglikan Jalan Arif Rahman, Jakpus
3. Bom gereja Kainonia jalan matraman, Jakarta Timer

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 35


35
4. Bom Gereja oikumene jalan Halim, Jaktim
5. bom gereja Santo Yosep Jalan Matraman, Jaktim
6. Bom bali 12-13 oktober 2002
7. Latihan militer senjata api, berdasarkan laporan reskrim polda Aceh 22 Februari 2010
8. Upaya memasukan senjata api ke Indonesia
9. Terkait penangkapan tersangka Harry Kuncoro dan Penemuan Senjata Api,amunisi, serta
magazen pada 19 juni 2011
10. Terkait pengeledahan rumah tersangka Haryy Kuncoro 15 juni 2011 dan penemuan dokumen
yang diduga palsu, antara lain kartu keluarga dan akta yang digunakan sebagai persyaratan
pembuatan paspor bersama istrinya, Rukayah binti Husein luceno, alias Fatimah Zahra.

Di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, saat menjadi saksi persidangan pemalsuan identitas diri
dokumen keimigrasian atas nama Rukoyah binti Husein Huseno alias Fatimah Zahra, istri Umar,
pada 28 November 2011, Umar mengaku memiliki nama asli Hisyam dan lahir di Pemalang,
Jawa Tengah. Dia mengaku memalsukan nama diri menjadi Anis Alawi. Istrinya yang bernama
Rukoyah yang berasal dari Filipina dan dinikahi di kamp pelatihan militer Islam di Mindanao,
Filipina Selatan, pada 1998, menjadi Fatimah Zahra.

Umar menyatakan, pemalsuan identitas terjadi pada 2010 di Indonesia. Waktu itu, dia dan
istrinya sudah kembali dari Mindanao dan tinggal di Pamulang, bertetangga dengan Dul Matin,
teroris yang ditembak saat penggerebekan pada 2010. Umar mengatakan, pemalsuan identitas
itu bertujuan untuk melarikan diri akibat dia ditetapkan buron kasus terorisme sejak 2002 oleh
Mabes Polri. "Saya memilih hijrah ke Afganistan untuk berjihad," katanya.

Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai,


penangkapan Umar Patek ini penting untuk mengungkap jaringan terorisme yang selama ini
kerap membuat sejumlah teror di Indonesia. Umar Patek adalah anggota Jamaah Islamiyah yang
juga disebut-sebut sebagai salah satu ahli dalam membuat bom.

Selama ini, penangkapan pelaku terorisme yang berakhir dengan kematian mereka terkena
tembakan banyak disesalkan sejumlah pihak. Itu karena dengan demikian berarti aparat tak bisa
meminta dan mengorek keterangan dari mereka selain juga disebut sebagai pelanggaran karena

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 36


36
mereka belum diadili untuk menentukan mereka sebenarnya bersalah atau tidak. Sejumlah
tersangka terorisme yang tewas tertembak antara lain, Syaifudin Zuhri, Mohammad Syahrir, dan
Bagus Budi Pranoto. Polisi meyakini mereka kaki tangan Noordin M. Top, salah seorang otak
pelaku terorisme yang juga tewas di tangan polisi. Para terorisme itu tewas dalam penyergapan
polisi di daerah Mojosongo, Solo dua tahun silam.

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menyatakan, saksi dan pelapor kasus-kasus
krusial seperti terorisme harus dilindungi sebelum dan sesudah melakukan kesaksian di
pengadilan. Saksi atau pelapor teroris yang membeberkan jaringannya ke polisi bahkan harus
dilindungi seumur hidup. LPSK sudah melakukan koordinasi, antara lain, dengan Komisi
Pemberantasan Korupsi, untuk menjamin keselamatan para saksi dan pelapor kasus-kasus
terorisme. Para wistleblower kasus terorisme bisa mendapat hak istimewa seperti perlindungan
dan keringanan hukuman.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 37


37
Memperdaya Publik Dengan SMS

P
eristiwa Senin malam 31 Oktober 2011 itu benar-benar memukul Hendry Kurniawan.
Malam itu, pria 36 ini hendak pulang menuju rumahnya di Bogor dari terminal Lebak
Bulus, Jakarta Selatan. Saat menunggu bus, tiba-tiba seorang pria, memakai helm dan
berkacamata hitam, menghampirinya. Henry kesulitan mengenali laki-laki tersebut.

Sejurus kemudian laki-laki itu menghardiknya dan mengeluarkan kata-kata kasar bernada
ancaman. Tak sekadar itu, pria tegap setinggi kira-kira 180-an sentimeter tersebut lalu memukul
wajah Hendry beberapa kali. Hendri terjatuh. Tak puas, pria bersepatu kets itu kemudian
menginjak salah satu kaki Hendry. Sesaat kemudian, baru dia meninggalkan Hendry sembari
mengucapkan ancaman, antara lain, Ngapain loe melapor? Supaya dianggap pahlawan? dan
Awas jangan bilang ke siapa-siapa.

Hendry yakin peristiwa yang dialaminya tersebut erat kaitan dengan laporan yang dibuatnya.
Sebelumnya, kepada Posko Pencurian Pulsa Lingkar Studi Mahasiswa (Lisuma), Hendry
memang melaporkan dirinya menjadi korban sedot pulsa oleh sebuah content provider.

Hendry bercerita, awalnya dia tertarik mengikuti undian berhadiah yang ditawarkan penyedia
layanan tersebut. Belakangan kemudian ia menghentikan undian lewat SMS itu. Namun, kendati
merasa sudah menghentikan berlangganan pesan pendek berhadiah itu, dia kaget karena pulsanya
terus dipotong.
Hendry melaporkan penganiayaan yang dia alami ke Kepolisian Daerah Metro Jaya. Selain
itu, pada 3 November 2011, dia juga mengajukan permohonan perlindungan ke Lembaga
Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Setelah melalui beberapa proses, pada 21 November,
LPSK memutuskan melindungi Hendry. Menurut Ketua LPSK, Abdul Haris Semendawai,
pemberian perlindungan terhadap Handry didasarkan atas status yang bersangkutan sebagai saksi
dan pelapor kasus dugaan tindak pidana penipuan dan atau penggelapan bidang informasi dan
transaksi elektronik seperti diatur dalam Pasal 378 dan 372 dan atau Pasal 28 ayat (1) UU No
11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 38


38
Ketua LPSK, Abdul Haris Semendawai, SH, LL.M.

Selain itu, Hendry dinilai telah mengalami ancaman nyata dengan adanya penganiayaan yang
menimpa dirinya. Semendawai menyatakan, pemenuhan hak prosedural yang diberikan LPSK
berupa pendampingan pada setiap pemeriksaan dalam proses peradilan pidana serta pemberian
bantuan medis dan psikologis.

Hendry Kurniawan korban pencurian pulsa

Penipuan berkedok undian lewat SMS juga dialami Muhammad Ferry Kuntoro. Tertarik
mengikuti sebuah undian SMS premium berhadiah dengan nomor *933*33#, Ferry melakukan
registrasi untuk mendapatkan hadiah sebuah BlackBerry. Registrasi itu membawa Ferry semakin
terjerat dan terikat pautan nomor 9133. Melalui nomor inilah Ferry menerima pesan pendek
berupa informasi seputar artis dan mendapatkan nada dering. Terikat dengan nomor-nomor ini,
pulsa Ferry terus terpotong tanpa persetujuannya hingga mencapai Rp 450 ribu. Ferry kesulitan

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 39


39
ketika hendak melakukan proses UNREG. Hal yang sama ia alami ketika mencoba mengadu
ke pihak operator. Akhirnya Ferry pun melaporkan kasus tersebut ke Polda Metro Jaya pada 5
Oktober 2011.

Laporan ini membuat PT Colibri Networks, yang mengaku sebagai pengusaha content
provider dengan layanan SMS tersebut, ganti melaporkan Ferry ke Kepolisian Resor Jakarta
Selatan. Mereka menuduh Ferry telah melakukan pencemaran nama baik dan fitnah. Pada 10
Oktober 2011 Ferry meminta perlindungan kepada LPSK yang kemudian dikabulkan pada 21
Oktober.

Korban lain yang juga melapor ke polisi adalah Daniel Kumendong. Daniel menyatakan
dirinya telah dirugikan dengan praktek sedot pulsa sejak 4 Agustus 2011. Awalnya, menurut
Daniel, dia tiba-tiba mendapat pesan pendek dari nomor 9386. Bunyi pesan itu, "Hai
kesempatan mendapati voucher belanja dari supermarket favorit kamu senilai Rp 3 juta tinggal
selangkah lagi. Ketik sms REG SALE kirim ke 9386, selamat belanja."

Tergoda, Daniel pun mengikuti instruksi pesan pendek tersebut. "Saya balas pesan. Setelah itu
nggak ada balasan apa-apa dan tahunya pulsa saya langsung habis Rp 2.000," kata Daniel.
Keesokan harinya Daniel kembali mengisi pulsa. Pesan dari 9386 pun kembali muncul dengan
isi pesan yang berbeda. Kali ini soal kartu kredit. Pulsa Daniel pun kembali terpotong Rp 2.000.
"Yang membuat saya kesal, dari awal itu tidak ada pemberitahuan kalau akan dipotong Rp 2.000.
Kalimatnya juga sangat meyakinkan, jadi saya pikir saya langsung dapat. Ini menipu namanya,"
tutur Daniel.

Tak hanya di Jakarta, para korban sedot pulsa terdapat di mana-mana, seperti Sukabumi,
Bandung, Pekanbaru, Surabaya, sebagainya, dengan modus berbeda-beda. Tri Suparwono,
misalnya. Warga Surabaya itu mengaku pulsanya berkurang Rp 300 setiap mengisi pulsa.
Menurut Tri, dia tidak pernah mengirim SMS ke provider mana pun, baik berupa SMS berhadiah
maupun mengikuti SMS kuis. Pulsa saya berkurang setelah dikirimi nomor SMS bernomor
empat digit, kata Tri. Dia menyatakan sudah mengadu peristiwa yang dialami tersebut ke
kantor operator seluler. Namun pihak operator mengaku tidak bekerja sama dengan konten sms
yang menyedot pulsa tersebut. Pihak operator hanya meminta untuk tidak mengisi pulsa selama
tiga hari dan diminta mengisi formulir laporan. Tidak puas, Tri pun melapor ke polisi.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 40


40
Keuntungan Instan

Kasus pencurian pulsa mulai ramai menjadi pembicaraan publik pada Agustus 2011. Kasus ini
kemudian makin menjadi sorotan setelah sejumlah media cetak menampilkannya menjadi
laporan utama. Majalah Tempo, misalnya, pada edisinya 2 Oktober 2011 menurunkan tulisan
panjang tentang pencurian pulsa dengan berbagai modus itu dengan judul Tuyul Pulsa di
Telepon Kita. Menurut Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, pengaduan masyarakat
tentang pemotongan pulsa lewat SMS dengan modus penawaran fitur menempati angka tertinggi
di lembaga tersebut. Pada 2010 pengaduan ini sudah menjadi kasus paling banyak dilaporkan
dengan rasio 45 persen dari seluruh pengaduan. YLKI mencatat modus pencurian pulsa
beraneka ragam. Dari pemotongan pulsa tanpa registrasi, kesulitan berhenti berlangganan,
hingga pemotongan pulsa karena dikirimi tawaran konten.

Tak hanya ke polisi, para korban juga banyak yang melapor ke beberapa posko pengaduan
pencurian pulsa seperti Lingkar Studi Mahasiswa (Lisuma) Gunadarma Depok, Komunitas
Masyarakat Sadar Teknologi Informasi Indonesia (Kamasati), posko pengaduan Unpas Bandung,
dan berbagai posko pengaduan lainnya serta situs jejaring sosial. Menurut Lisuma sudah 1.000-
an orang yang melapor resmi menjadi korban sedot pulsa. Berdasar data Lisuma, keluhan
konsuman paling banyak ditujukan kepada perusahaan penyedia layanan konten berturut-turut,
yang bekerja sama dengan Telkomsel (42 perusahaan), Indosat (38), dan XL Axiata (17).

Bagaimana content provider (CP) nakal bisa leluasa menyedot pulsa pengguna ponsel?
Menurut Sekretaris Jenderal Indonesia Mobile and Online Content Provider Association, Ferrij
Lumoring, pada mulanya para CP, yang menjalankan bisnisnya bekerja sama dengan operator,
berusaha membuat konten kreatif menarik.

Tapi, karena konten kreatifnya tidak kunjung digemari, CP mengambil jalan pintas dengan
membuat konten instan yang langsung memotong pulsa pengguna. "Bisnis konten meredup pada
2005 setelah harga BBM sempat naik 35 persen, ujar Ferrij saat Rapat Dengar Pendapat di
Komisi I DPR Senayan Jakarta pada 6 Desember lalu.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 41


41
Ferrij Lumoring

Karena terdesak target pendapatan, kata Ferrij, CP merombak konten yang dijualnya. Pada
2007 muncullah bisnis konten dengan SMS premium melalui empat digit nomor pengirim.
Pengguna dipaksa mengunduh konten yang seakan gratis, tapi sebenarnya jebakan untuk
masuk ke pencurian pulsa yang lebih besar. Mekanismenya: pengguna harus mengetik kode *#
(tiga digit angka) dan kemudian diakhiri tanda #. "Secara bisnis itu memang sah, apalagi
pengguna menyetujui registrasi tersebut. Walaupun setelah registrasi itu akan disuruh
mengunduh konten-konten yang ada dan baru sadar pengguna akan mengalami pengurangan
pulsa," kata Ferrij.

Ulah CP yang melakukan penipuan semacam itu sebenarnya bisa dicegah. Menurut Tantowi
Yahya, Ketua Panita Kerja (Panja) Mafia Pulsa DPR, mestinya CP tidak mempunyai akses
langsung ke pelanggan. Dengan demikian, dia menilai, operator telekomunikasi sangat tidak
mungkin tidak tahu soal penyedotan pulsa tersebut.

Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) sebagai lembaga yang ditunjuk pemerintah
dinilai DPR juga belum menjalankan tugas dan fungsi mereka sepenuhnya. Kenyataannya,
menurut Tantowi, tidak semua CP terdaftar di sana. Padahal, amanat dari Menkominfo, tiap CP
harus mempunyai izin dari BRTI, tapi kenyataannya hanya 205 yang terdaftar,"ujar Tantowi.

General Manager Corporate Communications Telkomsel, Ricardo Indra, menyatakan,


Telkomsel memiliki mekanisme kebijakan internal untuk mencegah hilangnya pulsa pelanggan
yang disebabkan oleh layanan konten. Upaya pencegahan tersebut, kata Ricardo, sudah dimulai
sejak pemilihan mitra CP yang menawarkan layanan konten tertentu.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 42


42
Telkomsel mensyaratkan CP harus dapat menyajikan informasi perihal layanan kontennya
secara transparan dan jelas kepada pelanggan.

Telkomsel juga membuat kebijakan kepada mitra CP untuk membuat mekanisme yang
memudahkan pelanggan dalam melakukan mekanisme UNREG (berhenti berlangganan) dengan
satu klik, dibandingkan mekanisme REG (berlangganan) yang harus melalui proses dua kali klik.
Bagi pelanggan yang mengetik: UNREG, OFF, STOP, ataupun terminologi yang mengandung
arti berhenti berlangganan, Telkomsel akan menghentikan pengiriman konten layanan tersebut.
Khusus untuk kasus Ferry, Telkomsel menyatakan telah mengembalikan kerugian yang dialami
Ferry sebesar lebih dari Rp 400.000.

Maraknya kasus pencurian pulsa itu membuat BRTI kemudian mengeluarkan instruksi Nomor
177/2011 tanggal 14 Oktober 2011, meminta operator atau CP segera menghentikan penawaran
konten melalui SMS broadcast/pop screen, serta voice broadcast. Para operator dan CP diminta
segera mengembalikan pulsa yang terpotong dan wajib memberikan laporan per minggu.
Menurut BRTI tiap-tiap operator telah mengembalikan uang dari hasil penyedotan pulsa
pelanggannya. Nilainya hampir Rp 1 miliar.

Walau para operator selular menegaskan mereka tak pernah bekerja sama dengan para CP yang
melakukan penipuan dan telah membuat berbagai macam tindakan agar konsumen tak dirugikan,
toh faktanya korban sedot pulsa terus saja ada. Sejumlah diantaranya mengeluarkan unek-unek
mereka lewat surat pembaca di media massa.

Kementerian Komunikasi dan Informatika sendiri kemudian mengambil kebijakan,


menghentikannya dengan tindakan UNREG massal. Keputusan itu tak pelak langsung menohok
bisnis CP. Imbasnya, beberapa kalangan seperti musisi yang terkait dengan bisnis ini juga dibuat
kalang kabut. Sebab, layanan ring back tone (RBT) yang selama ini menjadi dapur mereka
terancam dihapuskan.

Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring kemudian menenangkan situasi ini
dengan menegaskan tidak akan ada penghapusan RBT di Indonesia. Tidak ada penghapusan.
Tapi, bagi semua pelanggan yang menginginkan mendapat layanan RBT harus bersedia
melakukan register ulang.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 43


43
Tak ada angka pasti berapa kerugian masyarakat akibat praktek sedot pulsa ini. Menurut
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), perputaran uang dari praktek sedot pulsa itu
besar. YLKI memperkirakan melebihi Rp 100 miliar per bulan. Tapi, Menteri Tifatul menyebut
kerugian akibat praktek ini tak lebih dari Rp 100 miliar. "Saya taksir kerugiannya tak sampai Rp
100 miliar. Tak sampai 10 persen dari nilai bisnis antara operator dan CP yang mencapai Rp 1
triliun per bulan," kata Tifatul kepada wartawan usai rapat dengar pendapat dengan Komisi I
DPR di Senayan yang membahas masalah itu.

Lain lagi dengan pendapat DPR. Menurut Tantowi Yahya, setelah mendengar masukan dari
berbagai kelompok masyarakat dan lembaga, kerugian akibat praktek pencurian pulsa itu
diperkirakan lebih dari Rp 1,1 triliun.

Pengamat teknologi informasi Bona Simanjuntak memberi angka lebih tinggi. Bila hal itu
terjadi di lebih dari 5 operator besar di Indonesia dan dilakukan setiap hari, maka dalam toleransi
1 tahun akan lebih dari Rp 30 triliun uang masyarakat diambil. Dengan asumsi dari 5 operator
mempunyai 10 juta pelanggan aktif setiap hari (yang menjadi korban). Jadi pernyataan Menteri
Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring bahwa kasus pencurian pulsa tak sampai Rp 100
miliar itu tidak mendasar dan semakin membuat masyarakat resah."

Kasus pencurian pulsa ini kemudian ditangani Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim)
Markas Besar Polri. Hingga 23 Desember 2011 polisi telah memeriksa sekitar 39 saksi untuk
dimintai keterangan. Menurut Kepada Divisi Hubungan Masyarakat Markas Besar Polri Irjen
Pol. Saud Usman Nasution, mereka terdiri dari tiga saksi ahli, empat saksi pelapor, sembilan
orang dari Telkomsel, 16 dari penyedia konten, tiga dari Jak TV, dan satu orang dari PT
Telepeforma. Di luar itu, kepolisian juga meminta keterangan dari sejumlah perusahaan
penyedia konten tak terdaftar yang nama-namanya diperoleh dari BRTI. Di antara mereka adalah
PT Colibri, PT Media Play, PT Sequel Indonesia, PT Prima Teks Indonesia, dan PT Triatkom.

BRTI sendiri tak menyebut siapa saja perusahaan content provider yang melakukan
pelanggaran tersebut. Tapi, pers mendapat daftar nama-nama tersebut dari bocoran rapat dengar
pendapat Panja pencurian pulsa DPR pada 21 Desember. Daftar itu menyebutkan ada 78 nama
content provider berikut shortcodenya berstatus illegal. (lihat daftar CP Nakal).

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 44


44
Menurut Kepala Bareskrim Komisaris Jenderal Sutarman, kepolisian masih terus
mengumpulkan bukti untuk dapat menetapkan siapa pelaku kejahatan pencurian pulsa itu. "Itu
kerja samanya dengan content provider, content provider kerja sama dengan operator. Logika
berpikir kita begitu. Sekarang tugas kami membuktikan apakah orang-orang itu bisa ditetapkan
tersangka," kata Sutarman.

Selain saksi, menurut Sutartaman, Bareskrim juga telah meminta keterangan dari sejumlah
saksi ahli. Antara lain, dari Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia, Kementerian Sosial, dan
pakar komputer forensik. Polisi juga meminta keterangan ahli dari Lembaga Perlindungan
Konsumen, pakar teknologi informasi dari ITB serta Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Dari pemeriksaan dan pengusutan kasus ini, polisi menyita barang bukti berupa lima telepon
genggam berbagai merek, lima unit SIM card, dan satu lembar informasi biaya penggunaan
telepon atau billing statement. Kami akan terus mengumpulkan barang bukti dan para saksi.
Kami akan segera menggelar perkara jika bukti-bukti yang ada dianggap sudah cukup, kata juru
bicara Markas Besar Polri Saud Usman Nasution.

Menurut Saud polisi akan menerapkan Pasal 378 KUHP tentang penipuan, Pasal 372 KUHP
tentang penggelapan, dan Pasal 362 KUHP tentang pencurian untuk menjerat tersangka. Selain
memakai Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tersangka juga akan dijerat dengan Undang-
Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Undang-Undang No.
36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen, dan Peraturan Kominfo Nomor 1 tahun 2009 tentang Penyelenggaraan
Jasa Pesan Premium.

Daftar nama CP Nakal

1. INTI, shortcode A88

2. Access Mobile, shortcode 2767, 9033, 27676

3. Alfa Media Community, shortcode 9277

4. Altruist Technologies, shortcode 141, 5121

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 45


45
5. ANTV, shortcode 9669

6.Artajasa, shortcode 3300, 69999

7. Awal Brilians Indonesia, shortcode 9001

8. Ayofun, shortcode 9338

9. Biang Bola, shortcode 2652

10. Bina Layanan Utama, shortcode 9223

11. Bina Media Mobilitas, shortcode 9247, 9363

12. Bubble Motion, shortcode 5200

13. Bubuchika, shortcode 2728

14. Cheese Mobile Indonesia , shortcode 9118

15. CIA, shortcode 3545, 9900

16. Citra Mandiri Infokom , shortcode 4555

17. CV Putro Samudro, shortcode 7005, 7755

18.Dime, shortcode 5272

19. Extent Media Indonesia , shortcode 9393

20. F Inti Teknologi, shortcode 9477

21. Falcon Winner Mobile, shortcode 2793

22. FM Indonesia, shortcode 9789

23. FrenClub, shortcode 248

24. Fundering, shortcode 3788

25. Galaksi Mobile, shortcode 9477

26. Gama Techno Indonesia, shortcode 7890, 7263

27. GP Gemalto Mobile, shortcode 4134

28. Hallomob, shortcode 9080

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 46


46
29. Hauraa, shortcode 5699

30. Huawei, shortcode 3100, 5432

31. ICC, shortcode 2625

32. ilfsets, shortcode 566

33. i-Mediatama Indocom, shortcode 6899

34. imob, shortcode 5667

35. indosmart, shortcode 9625

36. Inzpira Inovasi Indonesia , shortcode 7890

37. ironroad, shortcode 336

38. kopeg trendy , shortcode 212,5577, 6996

39. mcashback, shortcode 6644

40. mcp games, shortcode 4263

41. mcp musik - arganet, shortcode 999

42. media call/roamware, shortcode 1023

43. Mentari kreasi abadi , shortcode 2655

44. Metra Net, shortcode 7879

45. Mitra Global Komunikasi , shortcode 9787

46. Mitra Mediamaya Kalimantan, shortcode 3252

47. Mobile Komunikasi Indonesia, shortcode 9297

48. mobsterz, shortcode 628, 818

49. mobtv/pacmee, shortcode 9188

50. Mojolia, shortcode 7879

51. moviso, shortcode 5151

52. mtel limited, shortcode465

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 47


47
53. multi tiara quantum, shortcode 9561

54. on mobile, shortcode 234

55. optima solution, shortcode 8008

56. PE Service, shortcode 8990, 9192

57. Phintraco, shortcode 3132, 8333

58. pixSense, shortcode 8910

59. Planet Evillage, shortcode 9192

60. prima interaktif , shortcode 9449, 9451, 9454, 9455

61. provokeasik, shortcode 33301

62. PT 8elements, shortcode 9821

63. RNI, shortcode 7100

64. sigma cipta caraka , shortcode 3388

65. simpli mobile, shortcode 628

66. sintatic , shortcode 8055

67. SMSnet nusantara wapindo, shortcode 7500

68. Solusi 247 , shortcode 1234, 21212, 32248, 32665, 89887, 3224800

69. Sulung Putra Pratama , shortcode 9909

70. Teleakses Solusindo, shortcode 7995, 9775

71. telogic , shortcode: 1919

72. transmaya, shortcode1234

73. Trendcom , shortcode 23

74. Trikomsel , shortcode 107

75. U2opia mobile, shortcode 325

76. ubersoft, shortcode 40404

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 48


48
77. visa /xlink, shortcode 3222, 8472, 6699

78. (tak diketahui nama CP-nya), shortcode 9008

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 49


49
Kejahatan Narkotika: Dari Cicit Soeharto, Artis, Hingga
Anggota DPR

K
eluarga Cendana kembali menjadi sorotan publik. Kali ini berkaitan dengan
tertangkapnya cicit bekas presiden yang lengser pada 1998 silam tersebut: Putri
Aryanti Haryowibowo, 22 tahun. Pada Jumat 18 Maret 2011 dini hari, aparat
Direktorat Narkotika Kepolisian Daerah Metro Jaya menangkap putri Ari Sigit atau cucu Sigit
Harjojudanto, putra mantan presiden Soeharto, di Hotel Maharani, Jakarta Selatan, kamar 826.
Saat ditangkap Putri tengah memakai sabu.

Hotel Maharani, Jakarta

Di kamar tersebut Putri tidak sendiri. Di sana polisi juga menangkap Gaus Notonegoro alias
Agus dan Ajun Komisaris Besar (AKBP) Polisi Eddie Setiono. Dini hari itu juga mereka
dibawa ke Polda Metro Jaya dan menjalani tes urine. Putri sendiri, dalam pemeriksaan
selanjutnya, didampingi kuasa hukumnya, Sandy Arifin.

Diperiksa dua hari kondisi Putri kemudian drop. Polisi menolak permintaan pengacara Putri ,
yang menyatakan Putri dalam masa penyembuhan ketergantungan obat, agar kliennya
tersebut mendapat penangguhan penahanan. Pada 23 Maret, saat dikonfrontir dengan sejumlah
saksi, Putri ambruk. Hari itu juga ia dibawa ke Rumah Sakit Polri di Kramat Jati, Jakarta
Timur. Menurut dokter Ibnu Hajar, Kepala Bidang Pelayanan Kedokteran RS Polri, Putri stres

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 50


50
dan shok. Ada pun Kepala Rumah Sakit Polri, Brigjen Budi Siswanto, mengatakan, dari hasil
pemeriksaan, Putri menunjukkan gejala ketergantungan pada narkotika. Sejak hari itu, Putri
dirawat di RS Polri.

Pada 20 Juni 2011 kasus Putri disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Jaksa
mendakwa Putri dengan dakwaan primer dan subsider. Dalam dakwaan primer, Putri disebut
melakukan permufakatan jahat melakukan tindak pidana narkotika, sedang dalam dakwaan
subsider, ia disebut menggunakan narkotika golongan I untuk diri sendiri. Menurut jaksa, Putri
mengkonsumsi narkotika dengan dibantu Gaus. Terdakwa Putri Aryanti Haryowibowo
mengkonsumsi sabu sebanyak dua kali isapan dibantu saksi Gaus Notonegoro alias Agus untuk
membakarnya," kata jaksa Trimo saat membacakan dakwaannya.

Sabu dan alat hisab (bong)

Jaksa juga menunjukkan barang bukti berupa alat pengisap (bong) yang dipakai Putri serta dua
bungkus sabu sekitar 0,88 gram. Kepada hakim, Putri menyatakan tidak tahu menahu tentang
bong tersebut. Menurut Briptu Bambang Dwi Susilo, saksi polisi yang dihadirkan jaksa, bong
tersebut milik Gaus. Setelah kita tangkap, kita melakukan interogasi awal. Saya tanya ke
Gaus, barang-barang ini milik siapa? Dia menjawab, milik saya untuk sabu dan alat-alatnya.
Kalau bong milik ramai-ramai, kata Bambang mengutip ucapan Gaus. Sidang Putri
menghadirkan empat saksi. Mereka: AKP Rani Oli, Bripka Nuryanto, Brigadir Romi Hardianto,
dan Briptu Siswanto. Keempatnya penyidik yang menangkap Putri pada 18 Maret 2011.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 51


51
Saat pengadilan berlangsung, Sandy Arifin, meminta kepada Ketua Majelis Hakim, Maman
Abdurrahman, agar mengijinkan Putri dirawat di rumah sakit. Alasan Sandy, kliennya hendak
menjalani rehabilitasi. Permintaan ini kemudian dikabulkan.

Di persidangan pengacara Putri menghadirkan saksi mahkota yang juga menjadi terdakwa
kasus ini: AKPB Eddie dan Gayus. Selain itu, juga didatangkan dua saksi lain, yakni petugas
Badan Narkotika Nasional (BNN) yang pernah memeriksa kondisi Putri dan konsultan
rehabilitasi Putri.

Dalam kesaksiannya AKP Rani Oli menyatakan, ia hanya bisa menginterogasi Gaus karena
Putri dan Eddie tak bersedia memberi keterangan. Gaus, kata Rani, menyatakan sabu yang
dipakai berasal dari Mamat yang berstatus DPO. Ada pun Brigadir Romi menyatakan, menurut
Gaus, Putri dan Eddie memang memakai sabu saat itu. "Di meja ada alat isap dan sabu. Itu sisa
mereka pakai, kata Gaus, ujar Romi.

Di persidangan Rani juga mengungkapnya, mereka juga sempat melepaskan AKBP Eddie
sesaat setelah penyergapan di hotel Maharani. Menurut Rani, kala itu, dari interogasi awal
terhadap Gaus dan Putri, mereka menyimpulkan Eddie tak terlibat pemakaian atau kepemilikan
sabu tersebut. Jadi kami lepas dan tetap tinggal di hotel, sementara Putri dan Gaus kami bawa
ke Polda. Hanya kata Rani, ketika dilakukan berita acara pemeriksaan, Gaus mengubah
keterangannya. Dia menunjuk keterlibatan AKBP Eddie. Berdasar keterangan ini, Eddie
ditangkap.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 52


52
Putri Aryanti

Di persidangan Eddie dan Gaus juga menyatakan Putri tidak mengkonsumsi sabu saat
ditangkap. "Saya sempat menawarkannya, Putri bilang dia lagi menunggu makanan yang
dipesannya. Sebelum sempat menggunakan sabu-sabu, polisi keburu masuk," ujar Gaus
Notonegoro saat bersaksi di Pengadilan pada 11 Juli 2011. Ketika hakim bertanya, kenapa
keterangannya berbeda dengan BAP, Gaus menjawab, saat diperiksa di Polda Metro Jaya,
dirinya dalam kondisi lelah.

Ada pun Eddie menyatakan, saat ia datang ke hotel, yang membukakan kamar hotel adalah
Gaus. Putri sedang duduk di sofa, sendirian sedang bermain iPad. Saya masuk, di meja sudah
ada peralatan sabu, katanya. Eddie mengaku sempat mengisap sabu yang ditawarkan Gaus dua
kali. "Gaus menawarkan tiga kali, saya bilang saya kerja dulu, nanti tidak konsentrasi. Lalu saya
isap dua kali. Putri setahu saya tidak mengisap," kata Eddie.

Di persidangan Putri menyangkal dirinya tengah menggunakan sabu saat digerebek polisi.
Dia menyebut polisi telah memaksanya untuk mengakui memakai narkoba. "Memang ada sedikit
paksaan. Paksaan harus mengikuti BAP itu," katanya. Dia, ujarnya, terpaksa menandatangani
BAP itu karena letih setelah menjalani pemeriksaan berjam-jam. Dalam BAP, sesuai keterangan
dokter kesehatan Polda Metro Jaya, Putri disebut positif memakai narkoba.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 53


53
Jaksa Trimo menuntut Putri hukuman satu tahun penjara dan menjalani rehabilitasi karena
melanggar pasal 127 ayat 1 Undang-Undang No. 35/2009 tentang Narkotika. Pada 25 Agustus
2011, dalam vonisnya, Majelis hakim membebaskan Putri dari dakwaan primer dan
memerintahkan putri sulung Ari Sigit tersebut menjalani program rehabilitasi selama setahun
di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) di Cibubur, Jakarta Timur.

Tingkat penggunaan narkoba di Indonesia dan khususnya di Jakarta memang


mengkhawatirkan. Karena itulah, menurut Direktur Tindak Pidana Narkoba Badan Reserse dan
Kriminal Mabes Polri, Brigadir Jenderal Pol. Arman Depari, polisi tak henti-hentinya
melakukan operasi penangkapan terhadap para pengedar dan pemakai narkoba. Operasi yang
terjadi di hotel Maharani hanya satu dari operasi yang dilakukan polisi pada Maret 2011.

Menurut Arman Depari kepada pers pada 21 Desember 2011, selama tahun 2011, Bareskrim
telah mengungkap 26. 500 kasus peredaran dan pemakaian narkoba dengan total nilai Rp 925
miliar. Ini lebih banyak 12, 62 persen dibanding tahun sebelumnya. Indonesia, menurut Arman,
telah dijadikan pasar potensial pengedaran narkoba oleh para bandar narkoba jaringan
internasional. Sekitar 40 persen dari jumlah penduduk Indonesia berusia remaja, kata Erman,
menjadi incaran pengedar obat terlarang tersebut.

Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan, pada 2008 angka prevensi
penyalahgunaan narkoba sebesar 1,99 persen dari seluruh penduduk Indonesia atau setara
dengan 3,2 juta-3,6 juta jiwa. Pada 2010, jumlahnya meningkat 2,21 persen, dan pada 2011
menjadi 3,8 juta jiwa. Menurut Kepala BNN Komisaris Jenderal Gories Mere, jika masalah ini
tidak ditangani secara serius, pada 2015 jumlah korban narkoba bisa mencapai 5 juta hingga 6
juta orang.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 54


54
Kepala BNN Gories Mere saat menanggapi kasus Narkoba

Para pemakai narkoba itu sendiri berasal dari berbagai latar belakang ekonomi dan profesi.
Dari kalangan ekonomi kelas bawah hingga kalangan atas. Dari pengangguran, pekerja pabrik,
artis, hingga anggota dewan. Para pengedar narkoba itu, dengan berbagai cara dan jaringan,
terus mencari mangsa baru, kata Arman. Pada 25 Oktober 2011, misalnya, Satuan Narkoba
Kepolisian Resor Tarakan, Kalimantan Timur, menangkap anggota DPRD Tarakan, Rusdianto
Rasyid, yang tengah pesta sabu di sebuah kamar hotel di Jalan Mulawarman, Tarakan.

Ada pun sejumlah artis yang tertangkap tangan karena memiliki atau tengah mengkonsumsi
narkoba, antara lain, Revaldo, Fachriah Muntaz (Ade Ivay), vokalis group band Kerispatih,
Sammy, Jennifer Dunn, dan penyanyi dangdut, Imam S Arifin. Mereka melengkapi
deretan artis dan penyanyi senior yang sebelumnya juga pernah ditangkap dan diadili karena
tersangkut kasus narkoba, seperti Roy Marten dan Ahmad Albar. Direktur Narkoba Polda
Metro Jaya, Komisaris Besar, Anjan Pramuka Putra, pada Juli 2010, menyatakan, jajarannya
tengah membidik 23 artis yang ditengarai memakai narkoba. "Mereka umumnya
menggunakan narkoba jenis sabu-sabu dan pil ekstasi," kata Anjan. Kepada wartawan
Anjan menunjuk Revaldo adalah salah satu artis yang masuk daftar mereka itu.

Kendati berhasil menangkap tangan pemakainya, tapi bisa dikatakan polisi kerap kesulitan
untuk menelusuri siapa bandar penyuplai narkoba untuk artis itu. Menurut Anjan, para pengedar
narkoba selalu memakai sistem sel untuk memutus jaringan. Kesulitan bertambah lagi, jika para
pemakai narkoba menutup mulut, tak menyebut sama sekali asal muasal benda terlarang
tersebut.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 55


55
Di Indonesia, peredaran narkoba masuk dari berbagai penjuru. Lewat udara, darat, dan laut
serta diselundupkan dengan berbagai cara. Dari dimasukan di dalam sela-sela koper yang dijahit
sedemikian rupa, hingga ke kapsul yang kemudian ditelan pembawanya. Para kurir narkoba
yang tertangkap ini pun biasanya tak bisa mengungkapkan siapa otak yang memerintahkan
penyelundupan narkoba itu. Polisi menduga sebagian memang hanya menjalani perintah dari
tangan ke sekian, sebagian lagi menutup mulut rapat-rapat karena takut jika mengungkapkan
yang mereka ketahui, nyawa mereka dan juga keluarga mereka terancam.

Polisi juga berkali-kali menggerebek rumah atau apartemen yang di dalamnya dijadikan
tempat pembuatan sabu-sabu. Pada Januari 2009, misalnya, polisi menangkap Benny Chan di
apartemennya di Gadung Mediteran Residence, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Di tempat tinggal
Benny itu polisi menemukan 172, kilogram sabu-sabu.

Sebelumnya, pada November 2007, polisi pernah membongkar jaringan mafia pengedar ekstasi
internasional di Jakarta Barat. Dari lokasi penggerebekan ditemukan 490 ribu ekstasi senilai Rp
49 miliar. Menurut Kepala Polri saat itu, Jenderal Sutanto, jaringan pengedar obat terlarang yang
dikendalikan kelompok Malaysia itu telah memasukkan sekitar dua juta ekstasi ke Indonesia.
Mereka juga merencanakan membuat pabrik ekstasi dan sabu di Indonesia.

Besarnya keuntungan yang diraup dari penjualan narkoba ini membuat mereka yang sudah
tertangkap melakukan apa pun untuk tetap menjalankan bisnis terlarang ini, termasuk dari dalam
penjara. Pada Desember 2011, BNN melakukan penggerebekan di Lembaga Pemasyarakatan
Tanjung Gusta, Medan dan menangkap bandar narkoba jaringan internasional, Anli Yusuf alias
Mami. BNN sebelumnya juga pernah melakukan penggerebekan terhadap bandar narkoba yang
ditahan di penjara Nusakambangan pada Maret 2011 dan penjara Kerobokan, Denpasar, pada
Juni 2011. Para bandar itu diduga bisa melakukan aksi kejahatan mereka dari dalam penjara
karena mereka mendapat keistimewaan dari oknum pejabat penjara.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 56


56
Kerjasama Kepolisian, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan LPSK

Salah satu cara untuk membongkar jaringan narkoba adalah mendengar kesaksian dari mereka
yang terlibat kejahatan itu sendiri. Dari kesaksian dan bukti yang dibawa para justice
collaborator ini aparat keamanan bisa mengetahui dan menangkap para otak kejahatan narkoba.
Demikian pula terhadap kasus korupsi. Akan lebih mudah dan cepat terungkap dengan adanya
justice collaborator.

Berangkat dari inilah, pada 8 Agustus 2008, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK)
bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Badan Narkotika Nasional telah
menandatangani perjanjian kerja sama menyangkut perlindungan terhadap saksi perkara korupsi
dan narkoba. Dengan perjanjian ini, diharapkan, kasus-kasus kejahatan narkoba akan terungkap
karena para saksi mendapat jaminan perlindungan dari negara.

Menurut Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai, permohonan perlindungan untuk kasus
korupsi dan narkoba ke LPSK sangat banyak. Lewat perjanjian tersebut, diharapkan mampu
membuat kinerja LPSK lebih fokus. "Kejahatan pelanggaran HAM berat, teroris, narkotika dan
korupsi adalah empat kejahatan yang bisa mendapat perlindungan. Dengan MOU ini akan
mempengaruhi LPSK lebih positif sehingga supporting system dapat terbangun dengan baik,"
kata Semendawai.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 57


57
Terjerat Negara Islam Indonesia (NII)

I
mam Supriyanto membuat pernyataan mengejutkan. Mengaku bekas Menteri Peningkatan
Produksi Negara Islam Indonesia (NII) Komandemen Wilayah 9 (KW 9), pada 4 Mei
2011, Imam mendatangi Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia di kawasan Jalan
Tronojoyo, Jakarta Selatan. Imam melaporkan penipuan yang dilakukan Panji Gumilang, pendiri
Pondok Pesantren Al- Zaytun, pesantren modern yang terletak di Indramayu, Jawa Barat.

Kepada polisi, Imam menyatakan Panji Gumilang, yang biasa dipanggil Abu Toto, Abu
Maarik, atau Abdus Salam, telah melakukan tindak pidana pemalsuan surat karena
menghilangkan namanya dalam dokumen kepengurusan Yayasan Pesantren Indonesia. Yayasan
inilah yang menaungi Pondok Pesantren Al-Zaytun

Tak sekadar melaporkan, Imam, juga membeberkan sepak terjang Panji Gumilang. Menurut
Imam, Panji juga melakukan kegiatan makar terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dia
menegaskan, Panji merupakan pimpinan NII KW 9. Imam sendiri mengaku sudah sejak 2007
meninggalkan KW 9 setelah sebelumnya, selama 20 tahun, bergabung di sana.

NII

Menurut Imam, Panji juga dekat dengan bekas Direktur Utama Bank Century, Robert
Tantular. Sebagian dana yayasan juga disimpan di bank tersebut. Saat saya keluar pada 2007

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 58


58
nilainya ratusan miliar rupiah. Katanya uang itu untuk mendirikan lembaga pendidikan formal,
kata Imam. Menurut Imam, setelah dirinya keluar, dia tak tahu lagi keberadaan dana tersebut.

Menurut pengacara Imam, Kamal Singadirata, akibat pengakuannya yang blak-blakan itu,
kliennya kerap mendapat telefon dari anggota NII yang masih aktif. Kamal mengaku khawatir
keselamatan jiwa kliennya. Karena dia bekas tokoh penting dalam Komandemen Wilayah 9,
kata Kamal. KW 9 adalah bagian penting dari NII.

Sejumlah mantan pengikut NII memang mengaku mendapat teror dari anggota NII yang aktif.
Pengakuan adanya teror itu muncul seiring -saat itu- dengan terungkapnya kasus perekrutan
lima belas mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi anggota NII.
Beberapa diantaranya sempat menghilang sebelum akhirnya kemudian ditemukan.

Panji Gumilang merupakan pendiri pondok pesantren Al-Zaytun

Korban Berjatuhan

Adanya perekrutan di Malang terbongkar setelah seorang mahasiswa, berinisial MH, yang
menolak direkrut NII, meminta Agung Arief Perdana Putra, yang juga temannya sesama
mahasiswa, membayar utangnya sebesar Rp 300 ribu. Saat itu, MH dengan suara keras bertanya,
apa uang itu untuk disumbangkan ke NII. Kalimat MH itu didengar rekan-rekannya. Mereka pun
kemudian memukuli Agung dan meminta segera mengembalikan uang MH. Kasus ini kemudian

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 59


59
ditangani satuan pengamanan kampus. Dari Agung itulah aksi penipuan berkedok agama ini
terungkap. Agung, yang mengaku sudah dibaiat oleh NII, kemudian menghilang.

Menurut sejumlah media, perekrutan anggota NII di Malang terjadi sejak Oktober 2010.
Pelakunya: Fikri alias Feri dan Adam alias Muhayin. Keduanya yang berasal dari Jakarta,
datang ke Malang dan merekrut MY, mahasiswa Farmasi UMM. Menurut MY, Fikri dan Adam
juga merekrut mahasiswa Universitas Brawijaya. Para mahasiswa tersebut dibaiat di Jakarta
pada Desember 2010.

Para mahasiswa UMM yang telah dibaiat dan kemudian insyaf itu bercerita, perekrutan
dilakukan di berbagai tempat, termasuk di restoran di sejumlah mal di Malang. Di tempat itu
pelaku mengajak korban berdiskusi dan kemudian menanamkan paham tentang perlunya hijrah
dari warga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ke NII. Tanpa hijrah, menurut para
perekrut itu, amal ibadah para mahasiswa tersebut tak bisa diterima Tuhan.
Modus perekrutan lain dengan ajakan mengikuti pengajian. Ini dikemukakan oleh TW yang
pernah diajak mengikuti pengajian di sebuah rumah di Surabaya Timur pada tahun 2000. Dalam
pengajian itu, pembicara juga membahas perlunya hijrah untuk memperbaiki keimanan.
Pembicara itu mencontohkan hijrah yang juga dilakukan Nabi Muhammad.

Menurut TW, rekrutmen oleh NII dilakukan secara masif, terstruktur, dan sistematis. TW
mengaku direkrut saat duduk di kelas tiga SMA. Itu bermula dari ajakan seorang temannya yang
mengiming-imingi dirinya bakal mendapat banyak kenalan gadis cantik bila mengikuti
pengajian di kelompok temannya tersebut. Ia pun kemudian terpikat.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 60


60
Salah satu wanita yang menjadi korban perekrutan NII

Meski tidak memiliki wilayah teritorial, menurut TW NII memiliki sejumlah organisasi
layaknya sebuah negara. Ada presiden, menteri, gubernur, wali kota, camat hingga RT.
Untuk membiayai pemerintahannya, NII mewajibkan pengikutnya untuk member dukungan
secara finansial. Caranya bermacam-macam. Warga NII, misalnya, diminta membersihkan
dosa-dosa yang mereka lakukan dengan membayar denda. Mereka juga dibebani infak setiap
bulan dan infak tahunan pada setiap ulang tahun atau, istilah mereka, pergantian umur. Jika
tak membayar itu semua, mereka berdosa sepanjang hidup dan mati sebagai kafir.

Setelah dibaiat di Jakarta, yang untuk itu dia mesti membayar Rp 1 juta, TW kemudian diminta
merekrut anggota baru. Kalau bisa disyaratkan orang tersebut kaya, tapi bodoh dan lemah
akidah agamanya, katanya. TW sendiri mengaku beruntung kini sudah lepas dari belenggu NII.

Pengakuan TW sejalan dengan modus yang digunakan NII seperti yang kemudian terungkap
di mana-mana . Setelah korban termakan doktrin, perekrut kemudian membawa korban ke
Jakarta dengan biaya ditanggung korban yang besarnya sekitar Rp1,5 juta. Korban dari Malang,
misalnya, biasanya naik bus lewat Surabaya dan menuju Yogjakarta. Dari Yogya, dengan kereta
api mereka menuju Jakarta. Di Jakarta mereka kemudian ditempat di sebuah rumah untuk
kemudian menerima doktrin kembali tentang NII.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 61


61
Setelah itu perekrut kemudian meminta korban membayar uang infak perjuangan yang
besarnya antara Rp 10 juta- Rp 30 juta. Untuk mendapatkan uang sebesar itu berbagai cara pun
dilakukan. Para mahasiswa asal Malang itu, misalnya, mengaku kepada orangtua mereka perlu
uang untuk mengganti laptop teman mereka yang mereka hilangkan. Korban yang tidak bisa atau
tak sanggup membayar infak perjuangan kemudian dipulangkan dengan ancaman agar tidak
menceritakan kepada siapa pun apa yang mereka alami.

Kendati mendapat ancaman, toh sejumlah bekas pengikut NII kemudian membuka suara.
Seorang mahasiswi bernama Novie, misalnya, mengaku terjerat menjadi anggota NII setelah
sebelumnya didekati dua mahasiswi yang mengaku ingin mewawancarai dia sebagai narasumber
penelitian. Saya dibilang bodoh, kafir kalau tidak ikut bergabung. Mereka mengerubungi saya,
menekan dan memaksa saya, katanya. Dia kemudian dibaiat dan untuk itu harus membayar Rp
2,5 juta. Setelah itu, setiap bulan ia wajib menyetor sedekah Rp 500 ribu. Kalau kurang, dia
akan diteror dengan kalimat nuqshon!, nuqshon! (kurang! Kurang!). Kekurangan itu selalu
diakumulasikan bulan berikutnya sehingga jumlahnya makin besar. Menurut Novie para petinggi
NII mengatakan, mereka boleh berbuat apa saja untuk mendapat uang, termasuk menipu dan
merampok. Alasan mereka, orang di luar kelompok mereka adalah kafir sehingga hartanya halal
untuk diambil. Novie menyatakan ia dilarang menanyakan ke mana uang sodaqoh yang ia
berikan itu disetorkan.

Kesaksian yang sama juga diberikan Ken Setiawan, mantan pengikut NII yang kemudian
mendirikan NII Crisis Centre. Ken mengaku awalnya dia yakin menjadi bagian dari sebuah
perjuangan mulia, perjuangan agama. Dia mengaku melakukan tindak kejahatan,
mengumpulkan uang, dengan cara mengkoordinir anggota perempuan NII yang menyaru
menjadi pembantu. Aksi itu ia lakukan sejak 2000 hingga 2002. Saat para pemilik rumah pergi,
para anggota NII yang menyamar menjadi pembantu itu menggasak harta benda tuannya. Ken
sendiri mengaku akhirnya berhasil keluar dari NII kendati harus melewati jalan berliku.

Menurut Ken, pengikut NII tak hanya menolak negara Indonesia, tapi juga rukun Islam.
Presiden NII, Abu Toto, kata Ken, menyatakan untuk berhaji tidak usah pergi ke Mekah, tapi
cukup ke kantornya saja, di Indramayu. Sejumlah tahapan berhaji juga dilakukan di kompleks

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 62


62
pondok pesantren Al-Zaytun. Thawaf atau mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali, misalnya,
cukup dilakukan dengan berkeliling areal Al-Zaytun. Ada pun melempar jumroh, yang jika
dalam ibadah haji sesungguhnya dengan melempar tujuh kerikil, di Al Zaytun diganti dengan
tujuh sak semen dalam bentuk uang.

Berangkat dari keprihatinan dan pengalaman buruknya itulah pada 2006, Ken mendirikan NII
Crisis Centre. Sejak berdiri, NCC telah menangani lebih dari 1.000 orang yang menyatakan
korban NII. Menurut Ken, ada ribuan orang, termasuk pelajar dan mahasiswa, telah menjadi
korban jaringan cuci otak NII.

NII Crisis Center didirikan untuk menangani korban NII

Kendati santer disebut sebagai korban NII, toh kepolisian Malang lebih percaya para
mahasiswa itu tak lebih hanya menjadi korban penipuan. Setidaknya inilah yang diungkapkan
Kepala Kepolisian Resor Malang Kota, AKBP Agus Salim. Kepala Bidang Hubungan
Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Timur, Komisaris Besar Polisi Rachma Mulyana juga
menyatakan, berdasar pemeriksaan, kasus yang menimpa para mahasiswa Malang tersebut
murni penipuan. Modusnya dengan gendam, yakni untuk menipu, kata Rachma. Rektor
UMM, Muhadjir Effendy, juga menyatakan, kasus yang menimpa mahasiswanya murni kasus
kriminal dengan metode hipnotis disertai indoktrinisasi. Kepada wartawan Pembantu Rektor III
UMM, Joko Widodo, menyatakan, mahasiswa mereka yang menjadi korban penipuan 11
orang. Sepuluh dalam proses penyembuhan psikis dan seorang diantaranya akhirnya drop out
karena sulit disembuhkan.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 63


63
Korban NII dari Malang, Jawa Timur

Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional, Budi Soesilo Supandji, menegaskan, jika benar NII
tersebut ada, maka itu merupakan ancaman bagi keutuhan NKRI. Lemhannas, kata Budi, kini
tengah mengkaji perkembangan radikalisasi di Indonesia. "Ini jadi perhatian kami karena telah
membuat resah masyarakat dan perguruan tinggi," kata Budi.

Keberadaan NII dinilai sudah sangat meresahkan masyarakat. Kepolisian, sejak 2009,
misalnya, sudah memeriksa 17 orang yang disebut-sebut anggota NII. Mereka sudah diadili
dan divonis dengan hukuman rata-rata 2,5 tahun. Meski demikian, menurut polisi, juru
rekrut NII terus selalu bergerak.

Sejumlah tokoh mengingatkan pemerintah agar tak meremehkan dan menindak tegas terhadap
mereka yang mengatasnamakan NII. Mantan Ketua MPR Amien Rais, misalnya, menilai gerakan
harus dibasmi karena berbahaya dan mengancam keutuhan negara. Cara-cara pencucian otak
yang dilakukan NII, kata Amin, merupakan cara-cara biadab. Karena korbannya bisa sampai
hilang ingatan, bahkan tak pernah kembali.

Imam Supriyanto sendiri mendesak polisi untuk menangkap Panji Gumilang. Panji, pada Juli
2011, memang kemudian dijadikan tersangka oleh polisi. Tapi bukan dalam kaitannya dengan
NII, melainkan dugaan melakukan penipuan seperti dilaporkan Imam. Kepala Badan Nasional
Penanggulangan Terorisme (BNPT), Inspektur Jenderal (Purn) Ansyaad Mbai, menyatakan
pengakuan Imam tentang Panji Gumilang dan kaitannya dengan NII itu harus segera

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 64


64
ditindaklanjuti. "Saya kira pengakuan eks menteri NII itu cukup kuat bagi Polri dan Kejaksaan
untuk lakukan penelusuran," kata Ansyaad saat menjadi pembicara di Kampus Paramadina,
Jakarta pada 4 Mei 2011. Panji Gumilang sendiri, kepada wartawan, menolak adanya pemalsuan
dokumen seperti dituduhkan Imam.

Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, juga menyatakan keheranannya karena pemerintah
seperti terkesan tak berdaya menghadapi kasus-kasus perekrutan ribuan orang dengan berkedok
NII ini. Menurut saya ini tidak masuk akal. Ada gerakan masif merekrut ribuan orang, dan
intelijen tidak bisa mendeteksinya, kata Mahfud.

Kepolisian membantah jika mereka tak melakukan apa-apa terhadap kasus-kasus penculikan
dan pencucian otak yang menjadi perhatian dan pembicaraan publik itu. Menurut Kepala
Divisi Hubungan Masyarakat Markas Besar Polri, Irjen Pol. Anton Bachrul Alam, Mabes Pori
telah memerintahkan seluruh jajaran kepolisian daerah segera menyelidiki semua kasus yang
berkaitan dengan NII. Kami meminta semua kepolisian daerah aktif melakukan penyelidikan
kasus yang berhubungan dengan NII, kata Anton.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 65


65
Penyerangan Jamaah Ahmadiyah di Cikeusik

B
AGI Nayati, 35 tahun, kehadiran sejumlah warga ahmadi, sebutan untuk penganut
Ahmadiyah, ke rumah kakaknya, Suparman, merupakan hal biasa. Sebagai pemimpin
Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, rumah Suparman memang kerap didatangi ahmadi.
Nayati, yang tinggal bersama kakaknya di RT 03/RW 02 No. 13 Desa Umbulan, Cikeusik,
Pandeglang, itu juga terbiasa melihat ketegangan antara sejumlah warga yang tak setuju dengan
kehadiran warga Ahmadiyah di sana. Tapi, biasanya, ketegangan itu akan segera berlalu.
Keluarga besar Nayati memang penganut Ahmadiyah. Ajaran itu diturunkan dari ayahnya,
Matori, 70 tahun.

Tapi, Ahad 6 Februari 2011, itu ketegangan yang terjadi antara kakaknya dengan sejumlah
warga ternyata bukan hal yang biasa. Nayati melihat di sekeliling rumahnya sudah dijaga pula
oleh sejumlah polisi. Dia melihat semakin banyak warga yang datang dan seperti mengepung
rumahnya. Rumah kakaknya saat itu memang kedatangan tamu, sekitar 18 ahmadi dari luar
Cikeusik.

Nayati sudah lama menyadari banyak tetangganya di Cikeusik yang tidak menyukai keluarga
besarnya karena menjadi penganut Ahmadiyah. Ketidaksukaan itu semakin dia rasakan beberapa
tahun belakangan seiring semakin kerapnya rumahnya dijadikan tempat bertemunya para ahmadi
Cikeusik. Suparman sendiri pada November 2010 pernah dipanggil ke kantor Kecamatan
Cikeusik dan diminta untuk membubarkan kelompoknya tersebut, sesuatu yang ditolak
Suparman.

Dan Ahad pagi itu Nayati tak menyangka warga demikian marah dan lalu menyerang
rumahnya. Mereka mengejar, memukul, membacok saudaranya dan juga warga Ahmadiyah
lainnya yang bertahan di rumahnya. Keluarganya kocar-kacir, lari menyelamatkan diri.
Penyerbuan itu itu benar-benar membuatnya shok. Dia kehilangan orang-orang yang ia cintai.
Suaminya, Udin, dan dua saudaranya, Mulyadi dan Tarno. Mereka tewas mengenaskan.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 66


66
Penyerangan kepada pemeluk Ahmadiyah di Cikeusik

Berbagai Versi Penyerangan

Keberingasan warga yang terjadi di Cikeusik tersebut bisa disebut puncak dari dari polemik
keberadaan Ahmadiyah yang sudah lama terjadi di wilayah itu. Peristiwa berdarah di Cikeusik
ini juga terhitung konflik massa versus para ahmadi yang paling banyak memakan korban jiwa.
Peristiwa ini tak hanya menjadi pembicaraan media nasional, juga media asing. Lengkap dengan
foto-foto yang menggambarkan keberingasan warga yang tengah membantai para penganut
Ahmadiyah. Berbagai versi perihal asal mula penyerbuan berdarah itu muncul di media.

Kepolisian menyatakan, sebelumnya, pada Kamis 3 Februari 201, mereka mendapat informasi
warga Cikeusik resah karena mendengar para penganut Ahmadiyah akan melakukan kegiatan di
kampung mereka. Warga sudah bersiap-siap dan bersiga auntuk menghentikan kegiatan tersebut.
Forum Komunikasi Pimpinan Masyarakat Desa Pandeglang pada Sabtu 5 Februari kemudian
mengevakuasi Suparman. Langkah itu dilakukan untuk meghindari penertiban dari
masyarakat.

Ahad 6 Februari, sekitar pukul 03.00 sekitar 115 polisi, termasuk reserse dan intel dikirim
untuk mengamankan kediaman Suparman dan tempat peribadatan Ahmadiyah yang sudah
kosong. Pukul 07.00 ada rombongan dari luar menggunakan dua unit mobil dan sudah ada di
dalam. Anggota kami melakukan negosiasi agar mereka mau dievakuasi, tapi mereka menolak
dengan alasan akan mengamankan inventaris Ahmadiyah, tutur Kepala Polisi Daerah Banten
Brigadir Jenderal Pol. Agus Kusnadi.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 67


67
Rombongan dari luar tersebut dipimpin Deden Sujana dan berjumlah sekitar 15 orang. Mereka
dari Ahmadiyah Pusat. Menurut polisi, Deden menyatakan, bila ada pihak yang ingin merusak
dan menertibkan rumah itu, maka rumah itu harus dipertahankan. Saat itu, rumah itu sudah
dikepung warga. Jumlahnya sekitar 1.500-an. Warga yang marah akhirnya bentrok dengan para
ahmadi yang bertahan di sana.

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) member versi lain
perihal penyerangan warga ini. Menurut Kontras, pada Sabtu 5 Februari 2011, sekitar pukul
09.00 aparat polisi dari Kepolisian Resor Pandeglang menangkap Suparman, istrinya, dan Tatep
(Ketua Pemuda Ahmadiyah). Mereka diangkut ke Polres Pandeglang dengan alasan ingin
meminta keterangan atas status imigrasi istri Suparman yang berkewarganegaraan Filipina.
Karena adanya penahanan itu 25 orang warga Ahmadiyah Cikeusik, mayoritas orang tua dan
anak-anak, diungsikan ke rumah keluarga Suparman yang berada di seberang Desa Umbulan.
Mendengar kabar penahanan tersebut, sekitar 18 pemuda Ahmadiyah dari Jakarta dan Serang
berangkat menuju Cikeusik untuk mengamankan warga Ahmadiyah yang masih berada di desa
itu. Ahad, 6 Februari mereka tiba di Cikeusik dan berjaga-jaga di rumah Suparman bersama tiga
pemuda Ahmadiyah setempat. Sekitar pukul 09.00 datang enam reserse ke rumah Suparman.
Mereka datang bersama dua truk polisi pengendali masa. Para reserse tersebut juga sempat
sarapan bersama warga Ahmadiyah. Mereka meminta warga Ahmadiyah itu segera
meninggalkan lokasi dan tidak menyerang jika ada serangan. Tapi, para ahmadi itu menolak.

Pukul 10.00, menurut Kontras, massa yang berjumlah 500-an berdatangan dari arah utara dan
mendekati lokasi warga Ahmadiyah. Mereka datang sembari berteriak-teriak dan mengacungkan
golok, Ahmadiyah hanguskan! Ahmadiyah bubarkan! Polisi minggir, kami yang berkuasa!
Polisi saat itu diam saja. Saat massa mendekati rumah Suparman, Deden Sujana, warga
Ahmadiyah yang berjaga-jaga, berupaya menenangkan warga. Sia-sia. Mereka yang datang itu
semakin beringas. Mereka memukul Deden.

Melihat kejadian itu, sekitar dua puluhan warga Ahmadiyah yang berada di dalam rumah
keluar. Massa sempat mundur. Namun dari arah selatan, massa yang datang bertambah banyak.
Jumlahnya sekitar 1.500-an. Warga Ahmadiyah melakukan perlawanan.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 68


68
Massa kemudian menyerang warga Ahmadiyah dengan apa saja. Batu, golok, pedang, hingga
tombak. Warga Ahmadiyah terpojok, tak berdaya dan menyelamatkan diri ke sawah. Warga
kemudian beramai-ramai mengejar. Mareka yang tertangkap ditelanjangi dan dipukuli beramai-
ramai. Mereka yang tertangkap, Rony, Mulyadi, Tarno, dan Masruddin. Rony, Mulyadi, dan
Tarno akhirnya tewas. Tubuh mereka penuh luka bekas sayatan dan tusukan. Camat Cikeusik
sempat mengatakan korban yang tewas ada lagi, yakni Deden Sujana. Tapi, kemudian, diketahui
Deden selamat. Para ahmadi yang dapat melarikan diri pun tak luput dari luka terkena senjata
tajam atau memar-memar terkena pukulan. Beberapa diantaranya kemudian di evakuasi ke
Rumah Sakit Serang.

Kondisi rumah setelah penyerangan terhadap pemeluk Ahmadiyah

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta dan sejumlah LSM lainnya lagi mempunyai versi
sendiri seputar penyerangan dan pembantaian terhada warga Ahmadiyah di Cikeusik itu.
Menurut LBH, 17 orang Ahmadiyah yang datang dari Jakarta tidak melakukan provokator apa
pun. Pernyataan LBH itu dikeluarkan karena muncul pemberitaan yang menyatakan penyebab
peristiwa itu warga Ahmadiyah sendiri. "Ada misleading akhir-akhir ini seolah-olah pemicu
penyerangan adalah 17 orang dari Ahmadiyah yang datang dari Jakarta," kata Chairul Anam dari
Human Rights Working Group yang ikut mendampingi Arif, perekam video peristiwa di
Cikeusik yang kemudian rekaman itu menyebar ke mana-mana, termasuk You Tube.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 69


69
Pada jumpa pers di Komnas HAM, di Jalan Latuharhary, Jakarta Pusat, pada 11 Februari 2011.
Saudara Arif ini memberikan keterangan dan bukti rekaman dan akan meluruskan fakta-fakta
yang terjadi. Dari fakta-fakta itu terlihat kalau ini bukan rekayasa," ujar Chairul.

Pada 7 Februari 2011 Sekretaris Jemaah Ahmadiyah Indonesia, Zafrullah Pontoh member
keterangan pers tentang peristiwa Cikeusik di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum
Indonesia. Menurut Zafrullah, sehari sebelum terjadinya penyerangan, tiga warga Ahmadiyah
dibawa ke Polres Pandeglang. Alasan polisi, menurut Zafrullah, tiga warga Ahmadiyah tersebut
akan diminta keterangan perihal status imigrasi istri Parman yang merupakan warga Filipina.
"Sementara 25 warga Ahmadiyah yang lain diungsikan ke tempat aman guna menghindari
penyerangan," kata Zafrullah.

Mendengar informasi warga Ahmadiyah Cikeusik diungsikan, pemuda-pemuda Ahmadiyah


dari Jakarta dan Serang segera berangkat ke Cikeusik dengan tujuan untuk mengamankan
warga Ahmadiyah. Mereka yang datang dari Jakarta itu tiba di Cikeusik Ahad, 6 Februari 2011
pukul 08.00. Jumlah semuanya 18 orang. Bersama tiga warga Ahnmadiyah Cikeusik mereka
kemudian menjaga rumah Suparman. Saat itu enam petugas polisi dan reserse kriminal sudah
berada di sana. Pada pukul 09.00 datang satu mobil polisi dan dua truk paukan pengedali massa.
Polisi, menurut Zafrullah, meminta warga Ahmadiyah yang berada di Desa Umbulan segera
meninggalkan lokasi dan tidak melawan jika ada serangan. Warga Ahmadiyah menolak, lalu
perwakilan polisi meninggalkan lokasi karena menerima telepon. Sejak saat itu tidak ada dialog
kembali. Warga Ahmadiyah kemudian berkumpul di dalam rumah Suparman.

Pukul 10.00, massa dari arah utara mendatangi lokasi warga Ahmadiyah. Mereka berteriak-
teriak sambil mengacungkan golok. "Ahmadiyah Hanguskan! Ahmadiyah buarakan!, Polisi
minggir! Kami yang berkuasa di sini!" Polisi di sekitar lokasi mendiamkan saja. Saat mendekati
halaman rumah Suparman, seorang wakil Ahmadiyah keluar untuk menemui massa. Tapi, massa
yang sudah beringas kemudian memukul warga Ahmadiyah tersebut. Melihat pemukulan itu,
21 warga Ahmadiyah yang bertahan di dalam rumah keluar melakukan perlawanan. Perlawanan
ini sempat membuat massa mundur.

Namun, gelombang massa yang datang makin banyak dan terus merangsek ke rumah
Suparman. Menurut Zafrullah, saat itulah mulai terjadi hujan batu.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 70


70
Massa melempari rumah Suparman dengan bongkahan batu. "Kami bertahan dan terjadi hujan
batu. Mereka makin mendesak, kami terpojok dan kami masuk ke sawah, bubar. Tapi kemudian
dikejar dan dipukuli," kata Zafrullah mengutip keterangan salah seorang warga Ahmadiyah yang
selamat dari peristiwa penyerbuan itu.

Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banten, penyerangan terhadap jemaah Ahmadiyah
di Cikeusik dipicu oleh pelanggaran perjanjian yang dilakukan oleh jemaah Ahmadiyah
Cikeusik. Menurut Ketua MUI Banten, Aminuddin Ibrahim, sejak 2008 jemaah Ahmadiyah
telah diberi arahan oleh MUI Banten untuk tidak melanggar SKB. Tapi, hal itu tak digubris oleh
pihak Ahmadiyah.

Setelah dilakukan pembinaan, kata Aminuddin, jemaah Ahmadiyah Cikeusik berkurang


hanya tinggal delapan orang, para mubalignya. Suparman sendiri masih menyebarkan
Ahmadiyah di wilayahnya. "Masyarakat Cikeusik merasa dibohongi. Suparman kembali
bergerak, yang tadinya delapan jadi 25 orang. Dia lakukan dakwah door to door dengan iming-
iming uang," ujar Aminudin. Pada bulan Februari, menurut Aminuddin, terjadi keresahan warga
yang ingin membubarkan kegiatan Ahmadiyah di kampung mereka. Pada 3 Februari aparat
kemudian menggelar rapat untuk menenangkan warga. Keresahan warga akhirnya bisa diredam
setelah Suparman dievakuasi. "Kemudian, tanggal 6 Februari, ada rombongan 17 orang
Ahmadiyah datang dari Jakarta dengan dua mobil. Mereka langsung masuk dan siap dengan
senjata, berkarung-karung batu, ketapel, panah, parang," tutur Aminuddin.

Salah satu pelaku penyerangan kaum Ahmadiyah

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 71


71
Sejumlah warga Cikeusik, kata Aminuddin, bersama sejumlah aparat, termasuk polisi dan
perangkat desa, kemudian mendatangi rumah Suparman yang di dalam terdapat warga
Ahmadiyah itu. Tujuannya, untuk mengosongka rumah itu karena khawatir terjadi kekerasan.
Kepada warga dan aparat yang mendatangi mereka, kata Aminuddin, para penganut Ahmadiyah
itu menyatakan akan tetap menjaga aset dan rumah tersebut. Polisi, ujar Aminudin, juga sempat
mendatangi mereka kembali dengan maksud untuk mengevakuasi mereka. Tapi mereka
bilang, jika tidak bisa mengamankan kami, biarkan kami mengamankan diri sampai mati, kata
Aminuddin. Cekcok mulut antara warga dan para penganut Ahmadiyah pun terjadi. Seorang
warga, menurut Aminuddin, terkena bacokan lebih dulu. Situasi pun tak terkendali dan
terjadilah pertikaian berdarah itu.

Peristiwa berdarah Cikeusik itu memang mengejutkan banyak orang. Menurut Ketua Komisi
Nasional Hak Asasi Manusia, Ifdhal Kasim, penyerangan jemaah Ahmadiyah di Cikeusik
diduga dilakukan dengan cara terorganisasi dan sangat rapi. "Intelijen polisi juga tidak mampu
mengatasi dan memperkirakan pergerakan massa dalam jumlah yang besar," kata Ifdhal.
Massa yang datang tersebut, kata Ifdhal, sebagian besar tidak berasal dari warga Ciekusik,
Banten, tapi dari daerah-daerah sekitar Cikeusik. Komnas HAM menyimpulkan, telah terjadi
pelanggaran HAM terhadap warga Ahmadiyah dalam peristiwa itu. "Pelanggaran hak hidup, hak
beragama dan beribadah, hak rasa aman, dan hak atas milik pribadi," ujar Ifdhal.

LPSK Melindungi Tiga Saksi Kunci

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) telah memberi perlindungan kepada para
saksi, korban, juga tersangka yang mengetahui atau terlibat dalam peristiwa ini. Di antara mereka
yang mendapat perlindungan adalah Suparman (Ketua Jemaah Ahmadiyah Cikeusik), Atep
(Sekretaris), dan Deden Sujana. Ketiganya merupakan saksi kunci. Menurut Nurkholis dari LBH
Jakarta, ketiganya harus mendapat perlindungan dari LPSK karena mereka mengetahui persis
siapa aktor di belakang penyerangan tersebut. Ada Muspida dan tokoh agama setempat yang
memaksa untuk membubarkan Jamaah Ahmadiyah Indonesia. Jadi mereka tahu persis siapa
aktor di belakang ini, kata Nurkholis yang juga menjadi kuasa hukum ketiga saksi kunci itu.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 72


72
LPSK juga melindungi Arif yang merekam kejadian di Cikeusik. Tak hanya Arif, LPSK juga
mengantisipasi keamanan keluarga Arif. Menurut Ketua LPSK, Abdul Haris Semendawai,
Komnas HAM menyebutkan Arif memiliki informasi penting mengenai tragedi penyerangan
jemaah Ahmadiyah. Atas laporan Komnas HAM inilah, kata Semendawai, LPSK akan
memberikan perlindungan dan pendampingan secara fisik kepada Arif. Perlindungan akan
kami koordinasikan dengan Komnas HAM dan kepolisian, kata Semendawai. Arif, warga
Ahmadiyah asal Banten, leluasa merekam pembantaian tersebut karena mengaku sebagai
kontributor sebuah televisi swasta nasional.

Tak hanya tiga saksi kunci anggota jemaah Ahmadiyah yang mengajukan perlindungan ke
LPSK. Tim Pengacara Muslim (TPM) yang dipimpin Mahendradatta, juga meminta LPSK untuk
melindungi lima warga Banten yang ditetapkan sebagai tersangka kasus itu. Tapi, LPSK
menilai mereka tidak masuk dalam kategori saksi yang perlu dilindungi.

1. Vonis Ringan Para Tersangka

Kasus ini kemudian berakhir di pengadilan. Setelah melakukan sidang berpekan-pekan,


pada Kamis 28 Juli 2011, Majelis hakim Pengadilan Negeri Serang, Banten akhirnya
menjatuhkan hukuman 3 sampai 6 bulan penjara kepada 12 terdakwa yang dinyatakan
terbukti melakukan penyerangan terhadap warga Ahmadiyah di Cikeusik. Putusan
Pengadilan Negeri Serang ini tidak jauh berbeda dengan tuntutan jaksa. Jaksa penuntut
umum sebelumnya menuntut para terdakwa dengan tuntutan lima hingga tujuh bulan
penjara. Mereka yang divonis itu:

1. Ujang M Arif bin Abuya Surya divonis 6 bulan penjar

2. Endang bin Sidik divonis 6 bulan penjara

3. Muhamad bin Syarif divonis 6 bulan penjara

4. Muhamad Munir divonis 6 bulan penjara

5. Adam Damini divonis 6 bulan penjara

6. Idris alias Idis bin Mahdani divonis 5 bulan 15 hari penjara

7. Dani bin Misra (17 tahun) divonis 3 bulan penjara

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 73


73
8. Yusri bin Bisri divonis enam bulan penjara

9. Muhamad Rohidin bin Eman divonis 6 bulan penjara

10. Saad Baharuddin divonis 6 bulan penjara

11. Ujang Sahari divonis 6 bulan penjara

12. Yusuf Abidin divonis 6 bulan penjara.

Sementara itu, pada 15 Agustus 2011 majelis hakim Pengadilan Serang juga menghukum
enam bulan penjara kepada Deden Sujana, warga Ahmadiyah. Deden dinyatakan bersalah
karena dianggap melawan aparat keamanan, menolak dievakuasi dan melakukan penganiayaan
terhadap Idris . Deden juga dinilai menjadi pemicu insiden bentrokan Cikeusik. Deden yang
juga terluka parah sebelumnya sempat dikabarkan tewas. Jaksa sendiri tak melakukan banding
terhadap vonis yang dijatuhkan kepada para tersangka pelaku kerusuhan di Cikeusik itu.

Ringannya vonis yang dijatuhkan kepada para pelaku tersebut mendapat kecaman dari mana-
mana. Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) menyebut vonis itu terlalu rendah.
Direktur Eksekutif Elsam, Indriaswati Dyah Saptaningrum menyatakan, pengadilan telah gagal
menjadi benteng terakhir penegakan hukum dan HAM. Elsam menyesalkan rendahnya hukuman
itu, Menurut Elsam secara faktual peristiwa Cikeusik ini bukan merupakan peristiwa kejahatan
biasa, tapi kejahatan serius.

Suara keprihatinan juga muncul dari DPR. "Bagaimana seseorang pelaku yang menghilangkan
tiga nyawa orang lain dihukum begitu ringan? Ini sama artinya dengan memberi sinyal toleransi
atas tindak kekerasan," kata Eva Sundari anggota Komisi III dari Fraksi PDI Perjuangan.
Setara Institute juga mengecam diajukannya Deden sebagai tersangka. Menurut lembaga yang
bergerak antara lain dalam bidang penegakan HAM tersebut, Deden tak layak dijadikan
terdakwa apalagi divonis bersalah karena ia justru korban penyerangan berutal itu.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 74


74
Memerangi Human Trafficking

I
ternational Organization for Migration (IOM) mengumumkan hasil penelitian yang sangat
mengejutkan. Dari penelitian yang mereka lakukan di berbagai belahan dunia, Indonesia
disebut menempati posisi teratas sebagai negara asal korban perdagangan manusia. Hingga
Juni 2011 lalu, IOM mencatat terdapat 3.909 korban perdagangan manusia yang sebagian besar
merupakan perempuan.

"Masing-masing 90 persen perempuan dan 10 persen laki-laki dalam kategori dewasa.


Sedangkan untuk korban usia anak, 84 persen perempuan dan 16 persen laki-laki," kata Menteri
Negera Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Gumelar di Jakarta saat
membuka acara peluncuran proyek empower di Hotel Aryaduta Jakarta, Kamis, 3 November
2011.

Menurut Linda Gumelar, Pemerintah sangat serius memberantas kejahatan human trafficking
ini. Salah satunya dengan diterbitkannya UU No 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak
pidana perdagangan orang serta dibentuknya gugus tugas tingkat pusat tentang pencegahan dan
penanganan kasus yang sama lewat Perpres No 69 tahun 2008," kata Linda.

UNICEF, seperti dikutip humantrafficking.org., memperkirakan ada sekitar 100 ribu


perempuan dan anak-anak yang terjebak dalam lalu-lintas perdagangan manusia. Menurut
UNICEF, sekitar 30 persen dari jumlah tersebut adalah perempuan di bawah umur 18 tahun
yang dipekerjakan di industri prostitusi, baik di lingkup nasional maupun internasional. Di
lingkup internasional, umumnya negara yang dijadikan tujuan ialah Malaysia, Singapura,
Taiwan, Japan, Hongkong, serta negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Perdagangan manusia (human trafficking) telah menjadi persoalan sangat serius di Indonesia.
Situs berita online The JakartaGlobe.Com menyebut untuk tahun 2010 saja tercatat hampir 4.000
kasus human trafficking terjadi di Indonesia, yang mayoritas melibatkan perdagangan anak di
bawah umur untuk dipekerjakan sebagai pekerja seks di luar negeri. Secara nasional, dari jumlah
keseluruhan kasus human trafficking yang terjadi, sebanyak 23 persen berasal dari Jawa Barat.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 75


75
Situs berita online, Antaranew.com, menyebutkan Sukabum merupakan daerah terbesar kedua di
Indonesia, setelah Indramayu, sebagai daerah yang paling banyak terjadi kasus perdagangan
manusia,

Elis Nurbaeti, Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A)
Kabupaten Sukabumi kepada wartawan di Sukabumi, 7 Desember 2011, menyatakan, selama
setahun terakhir lembaganya sudah menangani sebanyak 68 kekerasan terhadap wanita dan
anak. "Dari 68 kasus tersebut, 40 persennya merupakan kasus perdagangan manusia," katanya.
Menurut Elis, sampai saat ini sudah 27 kasus perdagangan manusia yang ditangani oleh
P2TP2A. Kebanyakan korban dijual ke Malaysia dan Batam dengan iming-iming bekerja dengan
gaji yang cukup besar.

Sebagian besar korban perdagangan manusia adalah perempuan

Tini binti Hari, 24 tahun, warga Kampung Babakan Genteng, RR/RW. 04/06, Desa
Lembursawah, Kecamatan Cicantayang, Kabupaten Sukabumi dipulangkan ke keluarganya
dalam kondisi terbungkus peti mati. Seperti diberitakan Republika (17 Oktober 2011) dan Pos
Kota (20 Oktober 2011), Tini adalah korban human trafficking. Di bulan Agustus 2010, Tini
berangkat ke Malaysia, ia dijual kepada seorang majikan di Johor Baru, Malaysia, oleh sebuah
perusahaan yang tidak jelas. Baru sekitar setahun Tini di negeri jiran itu, pihak keluarga
kemudian mendapat kabar kematiannya dari pemerintah desa dengan keterangan sederhana:
mengidap TBC.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 76


76
Apa yang menimpa Tini hanya sebagian dari serangkaian panjang cerita sedih dan tragis kasus
kanibalisme manusia atas sesamanya ini. Ini pula, misalnya, yang menimpa Yanti, 36 tahun,
salah satu dari 27 perempuan korban perdagangan manusia asal Kampung Gunungguruh RT 34
RW 17, Desa Cikujang, Kecamatan Gunungguruh, kabupaten Sukabumi. Akibat, tertipu iming-
iming dipekerjakan dengan gaji besar di luar negeri, Yanti dijebak menjadi pekerja seks
komersial di Malaysia. Bersama sejumlah perempuan lainnya Yanti dibawa ke negeri jiran
tersebut.

Para perempuan itu dijadikan pekerja seks untuk menopang industri pariwisata di sana. Untuk
mereka dengan modal wajah yang cantik dan suara cukup merdu akan ditempatkan di kafe-kafe.
Sementara mereka yang lain, biasanya akan dilempar ke kawasan perkebunan sawit, dijadikan
perempuan-perempuan penghibur para buruh dan mandor perkebunan.

Faktor kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan serta keinginan untuk mendapatkan
penghasilan besar dan kekayaan secara cepat membuat persoalan human trafficking menjadi
persoalan yang rumit dan kompleks. Eva Biaudet, anggota Forum Tetap PBB untuk Masyarakat
Adat (UNPFII), satu badan penasehat untuk Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC), yang
telah bekerja di 66 negara menangani masalah human trafficking, menyebutkan bagaimana
sulitnya menghentikan perdagangan manusia. Tidak seorangpun bisa menyelesaikan masalah
itu," kata Biaudet.

Saksi dan Korban Enggan Melapo

Apa yang dinyatakan Eva Biaudet menunjukkan perlunya keterpaduan untuk memerangi
human trafficking. Terlebih, persoalannya tidak hanya didasari faktor ekonomi dan sosial, tetapi
kesulitan untuk memerangi kasus human trafficing ini juga terkait dengan soal kultural.
Sulitnya menghentikan derasnya laju perdagangan manusia seperti yang dialami Yanti, menurut
Elis Nurbaeti, salah satunya disebabkan banyak saksi dan korban human trafficking enggan
melaporkan apa yang mereka alami.

Faktor pertimbangan malu menjadi kendala kultural yang membuat para slave holder makin
leluasa menjalankan aksinya. Mendatangi desa-desa yang terjebak dalam kemiskinan rumit,
membujuk rayu orang-orang desa dengan iming-iming pekerjaan di kota dan di luar negeri
bergaji besar.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 77


77
Membebaskan mereka yang telah terjebak dalam lingkaran perdagangan manusia di luar negeri
menjadi persoalan yang sama sulitnya, bahkan bisa jadi lebih sulit dibandingkan dengan upaya
membebaskan pekerjal Indonesia yang terjebak kasus hukum dan diancam hukuman mati di
Timur Tengah. Pendekatan hukum dan kultural beserta negosiasi dengan sejumlah pihak terkait
seperti yang jamak dilakukan untuk kasus TKI bermasalah jelas tidak cukup. Mereka yang telah
menjadi komoditi di dalam bisnis prostitusi di luar negeri tersebut berada dibawah penguasaan
para sindikat kejahatan perdagangan manusia internasional yang impersonal sifatnya.

Di beberapa negara Asia Tenggara yang juga terhitung tinggi kasus human trafficking-nya
seperti, misalnya, Kamboja, pelibatan sejumlah NGOs international sudah dilakukan. Upaya ini
cukup berhasil di tingkat preventif, namun tetap sulit untuk menembus jaringan kejahatan
perdagangan manusia yang berifat international tersebut. SISHA, salah satu NGOs internasional
yang bekerja sama dengan NGO lokal di Kamboja memasifkan kampaye ke kalangan remaja
sebagai salah satu upaya preventif mengatasi permasalahan human trafficking, misalnya dengan
menyelenggarakan MTV EXIT (End Exploitation and Trafficking) yang melibatkan kemitraan
global.

Untuk Indonesia, khususnya daerah Indramayu dan Sukabumi yang menempati tingkat pertama
dan kedua tertinggi kasus human trafficking secara nasional, upaya preventif masih terbatas
dan bisa dikatakan tidak melibatkan jejaringan baik yang bersifat nasional maupun
internasional. Padahal, masalah human trafficking adalah permasalahan global yang harus
disikapi dengan pendekatan yang bersifat nasional dan transnasional.

Langkah preventif secara secara holistik dan lintas sektoral, melibatkan berbagai institusi dan
lembaga terkait, mulai dari pemerintah setempat, kepolisian, Departemen Tenaga Kerja dan
Transmigrasi, Dinas Kesehatan, dan Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan
(BKPP), mutlak dilakukan. Sementara langkah penanganan yang bersifat aksi pemulangan
perempuan-perempuan Indonesia yang masih terjebak dalam lingkaran perdagangan manusia
dan membongkar jaringan sindikat kejahatan perdagangan manusia tersebut harus melibatkan
tidak saja kepolisian lokal dan nasional, juga lembaga seperti Interpol, Departemen Pendidikan,
Departemen Sosial, dan Komisi Perlindungan Anak, karena banyaknya anak-anak yang menjadi

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 78


78
korban perdagangan lintas negara dan korban kejahatan pedofilia, juga Lembaga Perlindungan
Saksi dan Korban (LPSK).

P2TP2A misalnya, sampai hari baru dapat menyediakan fasilitas rumah singgah untuk para
korban perdagangan manusia. Keberadaan rumah singgah ini bisa dijadikan tempat pengaduan
dan pelaporan. Namun, masalahnya pengaduan dan pelaporan adalah persoalan lain yang tak
kalah rumitnya. Kerumitan ini terkait bukan saja kendala pada kultural yang disebut di atas,
tetapi juga ada ketakutan dan trauma yang menjadi kendala sosial yang psikologis sifatnya.
Bukan rahasia umum, bila lalu-lintas perdagangan manusia yang melibatkan aktor-aktor (slaves
holder) mulai dari tingkatan lokal, nasional, sampai internasional itu telah membentuk jaringkan
sindikat kejahatan yang rapi dan demikian terorganisir. Di tingkat lokal, ada para pemain kecil
yang disebut para pemetik, dengan tugasnya mencari kaki-tangan yang biasanya memiliki
kedekatan personal dan emosional dengan calon korban.

Kasus yang cukup menghebohkan di Amerika Serikat di tahun 2009 lalu misalnya, melibatkan
orang terdekat korban yang mengiming-imingi bekerja dan studi di Amerika Serikat. Sejumlah
perempuan belia pun diselundupkan dari beberapa negara di kawasan Afrika untuk kemudian
dipekerjakan di industri prostitusi. Untuk kasus di Sukabumi dan Indramayu, modul yang
digunakan kurang lebih sama. Para pemetik menggunakan jasa sejumlah orang terdekat dari
calon korban. Iming-iming pekerjaan dengan gaji besar tetap menjadi bahasa persuasi yang
efektif untuk menjerat calon korban yang memang berada dalam lingkaran kemiskinan ditambah
tingkat pendidikan yang rendah.

Adanya kesamaan modus operandi itu sebenarnya sudah mengindikasikan adanya rantai
kesalinghubungan kejahatan human trafficking antarnegara. Dengan kata lain, kasus
perdagangan manusia sebagaimana yang terjadi di Sukabumi merupakan kejahatan serius yang
bersifat dan berjejaring transnasional dengan tingkat ancaman yang tidak kurang seriusnya bagi
para saksi tersangka dan saksi korban.

Sebagaimana dinyatakan Eva Biaudet, kasus human trafficking tidak bisa disikapi secara
biasa dan sektoral yang hanya ditangani oleh otoritas lokal seperti kepolisian, tetapi, harus

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 79


79
melibatkan kerjasama yang terintegrasi antara daerah yang menjadi pemasok, otoritas lokal dan
nasional, negara yang menjadi tujuan, dan social networking seperti NGOs nasional dan
internasional dan yang tidak kalah pentingnya adanya peran lembaga yang dapat menjadi katup
pengaman para para saksi dan korban.

Kesuksesan menggagalkan kasus human trafficking, seperti di Pontianak pada bulan Agustus
2011, memang cukup memuaskan. Direktorat Reserse dan Kriminal Umum Kepolisian Daerah
Kalimatan Barat berhasil menggagalkan penjualan manusia. Korban adalah dua gadis muda, Lis,
24 tahun dan Lin,18 tahun asal Kampung Cibungur, Desa Warung Kiara, Kabupaten Mojokerto
Sukabumi, Jawa Barat. Setelah disekap selama beberapa hari, kedua korban rencannya akan
dijual ke Brunei Darussalam dengan iming-iming gaji 250 dollar setiap bulan. Namun,
keberhasilan mengungkap kasus ini hanya menghasilkan dua tersangka, Sutisna dan Syukur yang
hanya merupakan pemain kecil dalam kejahatan ini, bukan otak pelaku utamanya.

Sebagaimana galib banyak kasus human trafficking yang terbongkar, mereka yang terciduk
umumnya memang hanya pemain-pemain kecil di lapangan. Sulitnya untuk membongkar siapa

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 80


80
aktor yang lebih kuat terkait dengan ketakutan para pemain kecil yang dijadikan tersangka
untuk menjadi justice colaborator - tersangka yang mau bekerja sama oleh aparat penegak
hukum untuk membongkar kasus dan menyingkap pelaku utama.

Para pemain kecil ini jelas hanya kaki tangan di lapangan, bukan aktor utama. Mereka inilah
awal rantai awal untuk menelusuri jaringan hingga pelaku utama kejahatan tersebut. Tapi,
kekhawatiran bahwa pengakuan mereka akan mengancam diri dan keluarga mereka, membuat
mereka tak berani mengungkapkan apa yang mereka ketahui. Begitu pun untuk saksi pelapor.
Ketakutan tiadanya jaminan keamanan membuat mereka yang mengetahui dan memiliki
informasi memilih silent dan menjauhi resiko. Sementara menyangkut saksi korban, rasa
sungkan dan trauma yang dialami membuat mereka sangat sulit untuk dijadikan pintu guna
membongar rantai perdagangan manusia.

Kasus 27 korban human trafficking di Sukabumi jelas hanya persentase kecil dibandingkan
keseluruhan kasus yang sama yang terjadi di Indonesia. Ini hanya puncak dari sebuah gunung es
yang dapat diungkap. Sementara kenyataan sebenarnya tersembunyi dengan rapi. Perlu upaya
terpadu, dengan melibatkan lembaga dan berbagai institusi terkait untuk mencegah dan
memerangi kejahatan human trafficking. Dari tingkat hingga tingkat paling bawah, RW dan RT.
Tanpa upaya terpadu, maka kejahatan human trafficking akan terus terjadi.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 81


81
Video Kekerasan TNI di Puncak Jaya

P
engadilan Militer Jayapura menjatuhkan hukuman penjara 8 sampai 10 bulan penjara
kepada tiga tentara yang terbukti melakukan penyiksaan yang terekam video
handphone. Putusan itu dijatuhkan pada pada 24 Januari 2011 atau berselang hanya 11
hari sejak pengadilan dimulai pada Kamis 13 Januari 2011.

Ketiga anggota TNI tersebut adalah: Sersan dua Irwan Rizkianto, Prajurit Satu Yakson Agu,
dan Prajurit Satu Thamrin Makangiri dari Batalion 753 Kostrad. Tuduhan kepada mereka adalah
pelanggaran disiplin militer, bukan penyiksaan. Ketiganya dihukum masing-masing sepuluh
bulan, sembilan bulan, dan delapan bulan penjara. "Siapa pun prajurit Kodam
XVII/Cenderawasih yang melakukan pelanggaran hukum harus diusut tuntas dan ditindak tegas,"
kata Pangdam XVII/Cenderawasih Mayor Jenderal Erfi Triassunu.

Tiga Anggota TNI menjalani persidangan militer

Sidang yang mulai digelar pada 13 Januari itu terbuka untuk umum. Masyarakat dan media
dapat menyaksikannya. Menurut Erfi, penyelesaian sidang dilaksanakan secara intensif dan
secepatnya sebagai upaya TNI untuk lebih serius menyelesaikan kasus tindakan kekerasan
tersebut. TNI, kata Erfi, berkomitmen menegakkan hukum

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 82


82
Hukuman untuk para prajurit itu sendiri dinilai terlalu ringan oleh Human Rights Watch
(HRW). Menurut HRW sistem peradilan militer Indonesia, kurang transparan, tidak independen,
dan tidak adil. Selama bertahun-tahun, pengadilan militer Indonesia telah gagal menyelidiki
secara memadai dan menghukum secara adil pelaku pelanggaran HAM yang dilakukan prajurit
TNI. Tuntutan hukuman yang diajukah pada tersangka pelaku pelanggar HAM, menurut HRW,
relatif tidak signifikan sementara hakim militer juga selalu menjatuhkan hukuman ringan.

Penyiksaan Terhadap Korban

Kasus ini bermula ketika Tunaliwor Kiwo, 50 tahun, dan tetangganya, Telangga Gire 30
tahun, mengendarai motor dari kampung mereka, Tinggi Nambut ke Mulia, ibu kota kabupaten
Puncak Jaya. Di pos pemeriksaan militer di Kwanggok Nalime, Yogorini, kedua pria itu
dihentikan. Menurut pengakuan Kiwo dalam testimoninya, tentara kemudian menangkap dan
memukul mereka. Tangan mereka diikat, demikian juga kaki mereka -diikat dengan kawat
berduri- lalu diseret ke halaman belakang pos militer.

Kiwo mengaku disekap dan disiksa selama tiga hari. Selama disekap dia dipukul dengan
tangan kosong dan pentungan, dijepit jempolnya dengan tang, disekap kepalanya dengan
kantong plastik, disundut kelaminnya, dan dilukai bagian tubuh dan kepalanya. Luka-lukanya
itu, kata Kiwo, kemudian diolesi cabai. Rekaman testimoni Kiwo tentang penyiksaan tersebut
muncul dalam situs jejaring Engage Media.

Selain pengakuan Kiwo, bukti kasus kekerasan yang terjadi itu juga berwujud rekaman video
berdurasi 10 menit. Video itu merekam gambar dua pria yang berbicara dengan dialek Lani
dengan tangan diikat dipunggung dan tubuh telentang di atas tanah kotor. Kedua korban
dikelilingi pria yang membawa senjata dan alat komunikasi. Keduanya dimintai konfirmasi
tentang informasi dugaan keberadaan timbunan senjata dan pember ontak OPM. Penduduk
Papua sendiri mengidentifikasi lokasi peristiwa tersebut terjadi di sebuah tempat dekat Tinggi
Nambut di Kabupaten Puncak Jaya. Kedua pria yang disiksa itu tidak lain Kiwo dan Gire. Data
di video menunjukkan, penyiksaan dimulai pukul 13:26 pada 30 Mei, 2010.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 83


83
Video itu menunjukkan bagaimana Kiwo dilucuti bajunya hingga hanya mengenakan pakaian
dalam. Ketika ditanyai tentang senjata, Kiwo menjawab bahwa dia hanya penduduk sipil dari
Tinggi Nambut dan tak tahu menahu perihal senjata.

Selang dua menit, salah satu interogator mulai memukul wajahnya dan menginjak dadanya
dengan sandal dan sepatus. Video kemudian beralih ke Gire yang telentang di dekat Kiwo ketika
salah satu interogator berulangkali menampar wajahnya dan menekankan pisau ke hidung dan
lehernya. Kemudian video kembali fokus pada Kiwo, disertai terikan, "Bakar penisnya! ... Bakar
penisnya." Kiwo menjerit saat sepotong kayu membara berulang ulang disundutkan ke alat
kelaminnya.

Kiwo terus menjerit sampai seorang interogator menodongkan senjata semi-otomatis ke


mulutnya dan berkata, "Tutup mulutmu.. tutup mulutmu. Akan kutembak... akan kutembak
mulutmu." Kiwo berhent dan kemudian si interogator terdengar berkata: "Kamu jujur ya? Kini
tunjukkan senjatamu. Bawa kami ke senjatamu. Saya akan membakar lagi penismu ... di mana
senjata itu? Apakah kamu menyimpan di gerejamu? Di rumahmu? Di hutan? Di sungai?
dikubur? Katakan saja. Jujur saja. Kami orang yang cinta damai."

Dewan Adat Papua melaporkan tindak kekerasan ini ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia
(Komnas HAM) pada Agustus 2010, setelah mewawancarai Telangga Gire pada bulan Juli.
Salah satu anggota Dewan Adat Papua menyatakan bahwa penyiksaan itu mungkin melibatkan
anggota batalion Kostrad 753.

Menggapi laporan tersebut Komnas HAM menuntut adanya investigasi khusus atas rekaman
itu. Komisioner Komnas HAM, Yoseph Adi Prasetyo mengatakan, pihaknya akan menyelidiki
laporan kekerasan di Papua secara keseluruhan. Video itu hanya merupakan salah satu bagian.
"Komnas HAM telah menerima laporan-laporan tentang adanya kekerasan di Papua tiga minggu
sebelum video tersebut beredar," kata Yoseph di Kantor Komnas HAM. Salah satu laporan yang
diterima Komnas HAM, ditemukannya potongan kepala yang terpisah dari badan.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 84


84
Salah satu warga Papua yang menjadi korban penyiksaan oleh Anggota TNI

Peristiwa penyiksaaan ini menjadi isu internasional. Pada 17 Oktober video penyiksaan atas
Kiwo dan Gire beredar di Youtube. Adalah lembaga swadaya masyarakat Asian Human Rights
Commission (AHRC) yang berbasis di Hong Kong, Cina, yang menyebarkannya pada 17
Oktober.

Sejumlah lembaga hak asasi manusia (HAM) pun mendesak pemerintah Indonesia untuk
menginvestigasi kebenaran dari video itu. Salah satunya adalah Human Rights Watch (HRW)
yang bermarkas di New York, Amerika Serikat. "Siapa pun yang terlibat dalam kekerasan ini
harus dibawa ke jalur hukum. Publik perlu melihat bahwa keadilan dijalankan," kata Wakil
Direktur HRW untuk kawasan Asia, Phil Robertson, dalam situs lembaga independen ini pada 20
Oktober 2010.

Sejak itu kasus video penyiksaan menjadi bahan berita media nasional dan internasional.
Luasnya pemberitaan tersebut mendorong Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggelar
sidang kabinet terbatas pada 22 Oktober dan setelah itu Menkopolkam Marsekal Djoko Suyanto,
mengakui kebenaran video tersebut.

Presiden SBY memerintahkan penyelidikan terhadap penyiksaan yang diduga dilakukan


aparat militer tersebut , walau kemudian tidak diumumkan hasilnya. Sementara Dewan Adat
Papua kemudian meminta Kiwo memberikan testimoninya serta merekamnya dalam format

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 85


85
video. Rekaman testimoni Kiwo inilah yang dilaporkan oleh wakil Dewan Adat Papua ke
Komisi Nasional HAM pada 5 November. Komnas lalu membentuk komisi khusus untuk
menyelidiki peristiwa penyiksaan tersebut serta pelanggaram HAM lain yang terjadi di puncak
Puncak Jaya.

Sementara itu pada 12 November Mayor Jendral Hotma Marbun, yang baru bertugas sejak
Januari, dipindahkan dari posnya sebagai komandan militer Papua. Dalam pengumumannya,
pemerintah menyatakan bahwa langkah tersebut merupakan rotasi rutin di tubuh militer. Kendati
demikian, banyak yang yakin perpindahan itu berkaitan erat dengan kasus penyiksaan
yang terungkap ke publik tersebut. Marbun digantikan oleh Brigadir Jendral Erfi Triassunu.

HRW mendesak negara-negara donor seperti Amerika Serikat, Australia, dan Inggris, yang
selama ini memberi bantuan kepada Indonesia, menekan Pemeintah Indonesia agar melakukan
penyelidikan kasus penyiksaan di Papua tersebut hingga tuntas. Semua pelakunya harus diseret
ke meja hijau. Menurut Robertson, kepastian hukum dalam kasus ini menjadi ujian dan kunci,
tak hanya untuk Indonesia, tapi juga bagi negara mana pun yang memberi bantuan militer bagi
Indonesia. "Kredibilitas pemerintah, militer, dan mereka yang memberikan bantuan militer,
semua dipertaruhkan."

Warga Papua mendesak pemerintah segera mengusut kasus pelanggaran HAM di Papua

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 86


86
Peristiwa ini juga diberitakan oleh CNN. Televisi international tersebut mewawancarai Donna
Guest, Wakil Direktur Amnesty International untuk Asia Pasifik. "Kasus ini adalah pengingat
terbaru bahwa penyiksaan dan perlakuan buruk di Indonesia sering tak tersentuh hukum serta
pelakunya bisa bebas dari jeratan hukum," kata Guest. CNN juga mengutip pernyataan dari juru
bicara TNI, Aslizar Tanjung, yang mengatakan pihaknya masih harus membuktikan keaslian
video ini, termasuk lokasi, waktu, dan aktivitas yang terekam dalam video. "Prajurit Indonesia
mendapat pendidikan standar operasi sehingga mereka diwajibkan sadar, bertanggung jawab, dan
mereka pun diberikan pengetahuan soal HAM. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di
lapangan," kata Aslizar.

Aslizar berjanji, TNI akan segera mengusut video tersebut sehingga ada klarifikasi yang jelas
mengenai apa sebenarnya yang terjadi. "Sejauh ini, baru tuduhan dan kami harus buktikan
keasliannya." Laman asal Inggris, The Guardian pun dengan rinci menjelaskan kekerasan yang
terdapat dalam video tersebut. Menurut Guardian video ini diambil menggunakan telepon
genggam milik salah satu interogator.

TNI memang melakukan pengusutan atas rekaman video tersebut. Pada 12 Januari 2011,
Pangdam XVII/Cenderawasih Mayor Jenderal Erfi Triassunu menetapkan tiga anggota TNI
sebagai tersangka kekerasan terhadap warga Puncak Jaya itu. Ketiga tersangka diadili di
Pengadilan Militer (Dilmil III-09) Jayapura. Mereka, Sersan Dua Irwan Rizkianto, Prajurit Satu
Yakson, dan Prajurit Satu Thamrin Makangiri. "Sejak beredarnya video kekerasan di internet
kami mengirimkan tim khusus ke Puncak Jaya untuk mengetahui lebih jauh kebenaran" kata Erfi
kepada wartawan di Jayapura, Rabu 12 Januari 2011.

Sidang dipimpin oleh Hakim Ketua Letkol Chk. Adil Karo-Karo S.H, dengan hakim anggota
Letkol Chk. Affandi, S.H, dan Mayor Chk. Heri, S.H. Ada pun penasehat hukum terdakwa,
Kapten Chk. Sony Oktavianus, S.H.

Dalam sidang tersebut Irwan Rizkianto dituntut 12 bulan penjara, Yakson sepuluh bulan
penjara, dan Thamrin Makangiri sembilan bulan penjara. Hakim sendiri kemudian memvonis

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 87


87
Irwan sepuluh bulan penjara, Yakson, sembilan bulan penjara, dan Thamrin delapan bulan
penjara.

Sebelumnya, Kodam XVII/Cenderawasih telah memvonis empat anggota TNI yang didakwa
menganiaya warga Desa Gurage, Puncak Jaya, seperti terekam di video kekerasan yang
kemudian dilansir pada laman Situs YouTube. Keempat terdakwa adalah Praka Sahminan Husain
Lubis (Anggota Pos Gurage), Prada Joko Sulistiono (Anggota Pos Kalome), Prada Dwi
Purwanto (Anggota Pos Gurage), dan komandan mereka, Letnan dua Cosmos N. dari Kesatuan
753 AVT/Nabire, Kodam XVII/Cendrawasih. Pengadilan militer yang dipimpin Kolonel Laut
(KH) Adnan Madjid,SH,MH, pada 9 November 2010 menjatuhkan vonis tujuh bulan hukuman
penjara pada Cosmos dan lima bulan penjara untuk tiga tentara lainnya karena terbukti
melakukan penganiayaan terhadap warga Desa Gurage, Tinggi Nambut, Puncak Jaya.

Menurut Cosmos, insiden terjadi ketika timnya yang beranggotakan 12 prajurit melakukan
patroli rutin pada 17 Maret 2010 pukul 23.00 dari Illu menuju Gurage. Saat itu, ia mengatakan
menerima infomasi inteligen tentang adanya anggota OPM bersenjata AK-47 di Desa Gurage.
Tim memasuki desa itu dan memisahkan wanita dari pria. Mereka kemudian menginterogasi
warga satu demi satu. Jika jawaban tersebut tak memuaskan, para prajurit itu menendang dan
memukul warga. Peristiwa itu direkam Prajurit Dua Ishak dengan handphone milik Cosmos atas
perintah Cosmos.

Menurut Ishak, hasil dari rekaman itu langsung diserahkan kepada Cosmos dan dia mengaku
tidak lagi mendapat informasi, apakah rekaman itu sudah diserahkan ke atasan mereka lagi atau
tidak. Cosmos sendiri, saat diperiksa, mengaku tindak kekerasan tersebut terpaksa dilakukan
karena, meski telah dilakukan pendekatan persuasif, masyarakat tetap tak mau menyebutkan
keberadaan anggota OPM tersebut.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 88


88
Cosmos menyatakan tak mengecek video itu karena handphone tersebut rusak dan kemudian
dia servis. Cosmos mengaku heran, kenapa video itu kemudian bisa beredar di internet. Video
ini, yang menjadi bukti dalam persidangan, antara lain berisi suara seseorang yang dengan suara
keras berkata, menjalankan perintah negara, jelas. Saya disini berdasarkan tugas, tugas
negara

Menurut Kepala Dinas Penerangan TNI AD, Brigadir Jenderal TNI Wiryantoro NK,
penyelesaian kasus-kasus kekerasan oleh anggota TNI di Papua adalah bagian dari kebijakan
pimpinan TNI AD yang mengedepankan pendekatan hukum. "Siapa pun prajurit yang
melakukan pelanggaran, pasti akan ditindak tegas sesuai dengan apa yang dilakukannya," kata
Wiryantoro.

Mengenai kasus Kiwo dan Gire, Wiryantoro mengatakan, meski ketiga prajurit ketika kejadian
tersebut sedang melaksanakan tugas negara, namun tindakan kekerasan saat melakukan
interogasi tetap tidak dibenarkan secara prosedur operasi maupun oleh pimpinan angkatan.
"Cara-cara interogasi seperti itulah yang tidak dibenarkan, melanggar HAM. Harusnya tidak
dengan cara demikian," kata Wiryantoro

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 89


89
Pembunuhan Wartawan: Dulu Udin, Kini Alfrets

O
TOPSI ulang itu menghasilkan satu kesimpulan: Alfrets Mirulewan tewas karena
dibunuh! Tim Forensik Markas Besar Polri menyatakan kesimpulannya tersebut
setelah memeriksa jasad Alfrets sejak Selasa, 11 Januari 2011 hingga Rabu esok
harinya. Untuk melakukan otopsi tersebut tim mengeluarkan jasad Alfrets yang sudah
dimakamkan keluarganya. Hasil otopsi menguatkan dugaan, terutama bagi rekan-rekannya
sesama wartawan, Alfrets tewas berkaitan dengan aktivitasnya menyelidiki penyelundupan
BBM di Pulau Kisar.

Menurut Thimotius Miruwelan, kakak Alfrets, berdasarkan keterangan tim forensik, adiknya
tewas akibat benturan benda tumpul di bagian belakang kepalanya. Benturan itu membuat
tempurung kepalanya pecah serta rahang kiri-kanannya patah. "Sebagian besar bagian
leher hingga kepala hancur dan patah akibat benturan benda keras," kata Thimotius.

Mayat Alfrets ditemukan terapung

Alfrets, 28 tahun, ditemukan tewas mengapung, Jumat dini hari, 17 Desember 2010 di dekat
Dermana Pantai Nama, Pulau Kisar, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku setelah
menghilang sejak 15 Desember 2010.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 90


90
Sebelum hilang dan kemudian ditemukan tak bernyawa, dia tengah melakukan investigasi
penyeludupan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Wonreli-Kisar Kecamatan Pulau-Pulau
Terselatan, Kabupaten Maluku Barat Daya. Alreft adalah Pemimpin Redaksi Mingguan Pelangi.

Leksi Kikilai, rekan Alfrets yang juga menjadi saksi dalam kasus ini bercerita pada Selasa
(14/12) malam, dia dan Alfrets mengunjungi Pelabuhan Pantai Nama untuk melakukan
investigasi transaksi gelap BBM. Keduanya mengendarai sepeda motor. Di sana, dia ditinggal
sendirian di pelabuhan, sementara Alfrets membuntuti sebuah truk yang mengangkut BBM dari
pelabuhan menuju ke Desa Yawuru, yang berlokasi tak jauh dari situ.

Di tengah jalan, saat membuntuti truk, dia dipergoki seorang penumpang truk. Penumpang itu
sempat menanyai identitas korban. "Mereka juga sempat adu mulut karena pertanyaan dari
penumpang truk. Tapi akhirnya Alfrets membuka identitasnya sebagai wartawan," kata Leksi.
Setelah itu Alfrets kembali ke pelabuhan menemui Leksi. Mereka berdua sempat berbincang
dengan petugas pelabuhan. Tak lama kemudian petugas mengarahkan keduanya keluar dari
pelabuhan dan menutup pintu pelabuhan.

Ketika keduanya sedang berbincang di pelataran parkir pelabuhan, kata Leksi, ternyata truk
yang tadi dibuntuti korban kembali ke pelabuhan tapi dengan sopir berbeda. Melihat ada
kejanggalan, Alfrets kembali masuk ke pelabuhan untuk menanyai sopir truk itu. Setelah itu,
Alfrets kemudian mengantar Leksi pulang ke kosnya. Menurut Leksi saat itulah terakhir dia
melihat Alfrets.

Para wartawan di Ambon segera menuntut kepolisian menangkap pelakukan pembunuhan


tersebut. Para wartawan yang tergabung dalam Maluku Media Centre (MMC) juga melakukan
investigasi, mencari dan mengumpulkan informasi berkaitan dengan tewasnya rekan mereka.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 91


91
Sekitar 33 orang yang diduga mengetahui dan terlibat pembunuhan tersebut diperiksa
Kepolisian Daerah (Polda) Maluku. Dari jumlah tersebut, polisi menetapkan lima tersangka,
yakni Ricard Silampesi, Briptu Markus Sahureka, Risan Austen, Thomas Pokey dan Imanuel
alias Ima. Briptu Markus adalah anggota Ditpolairud sedang Imanuel dan Thomas Pokey
pegawai Agen Premium Minyak dan Solar (APMS) CV Yotowawa milik Titus Tilukay.

Alfrets Mirulewan

Menurut Thimotius Miruwelan, Ricard Silampesi adalah anak mantu dari pemilik pemilik
APMS CV Yototawa, Titus Tilukai. Dua saksi kunci yang menyaksikan pembunuhan Alfret
adalah Risan Austen, pegawai ekpedisi Pante Nama dan Bampret, penjaga gudang milik APMS
tempat korban dibunuh. Kepada penyelidik Thomas dan Imanuel mengaku memukul korban
sebanyak empat kali. Dua diantaranya, dengan pipa, ditujukan ke kepala. Setelah tewas, korban
dibuang ke laut menggunakan sampan milik nelayan setempat Jumat dini hari. Pelaku lainnya
membantu membuang korban ke laut.

Direktur Reserse Kriminal Kepolisian Daerah Maluku AKBP Jhon Siagian menyatakan Alfrets
disekap dan disiksa di dalam salah satu gudang sebelum kemudian mayatnya dibuang di
Pelabuhan Nama Kisar. Kordinator Maluku Media Centre (MMC), Insany Syahbarwati,
mengakui kelima orang tersebut memang diduga kuat pelaku penyiksaan dan pembunuhan
terhadap Mirulewan. Hasil investigasi tim MMC lima orang ini diduga kuat turut terlibat
melakukan pembunuhan terhadap Alfrets Mirulewan," kata Insany.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 92


92
Walau demikian Insany mengatakan lima tersangka tersebut hanyalah pion. "Mereka
hanyalah pion. Seharusnya polisi menangkap otak penggeraknya," kata Insany. Menurut dia, ke
lima tersangka tersebut kerabat dekat dan pegawai Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS)
CV Yotowawa milik Titus Tulukay yang merupakan satu-satunya di Kisar.

Atas dasar itulah, MMC mendesak Kapolda Brigjen Polisi Syarief Gunawan mengungkap otak
pembunuhan Alfred. MMC juga mendesak Kapolda Maluku memproses hukum sejumlah pihak
yang memberi informasi bohong terkait kematian Alfred, di antaranya hasil visum Puskesmas
Kisar yang berbeda jauh dengan hasil otopsi tim forensik Mabes Polri.

Penyiksaan dan Penyembunyian Saksi Kunci

Pada 8 Maret 2011 empat tersangka pelaku pembunuhan Alfrets mencabut berita acara
pemeriksaan (BAP) mereka. Mereka, Markus Sahureka, Ricard Silampesi, Imanuel dan Thomas.
Menurut penasehat hukum ke empat tersangka, Jonathan Kainama, pencabutan dilakukan
setelah keempatnya dikonfrontir oleh penyidik Polda Maluku. Saksi kunci Risan Austen, kata
Kainama, juga mencabut BAP, karena adanya sejumlah kejanggalan dalam pemeriksaan. Saat
pemeriksaan, kata Kainama, ada tekanan dan kekerasan yang dilakukan polisi kepada para saksi
agar mengakui perbuatannya, termasuk pemukulan.

Kepala Komnas HAM Perwakilan Maluku, Ot Lawalata menilai dalam penyelidikan dan
penyidikan kasus pembunuhan ini ada indikasi pelanggaran HAM. Menurut Ot Lawalata, ada
orang yang keterangannya diperlukan, justru disembunyikan polisi. "Kami sudah melakukan
investigasi. Saksi kunci Risan Austen justru disembunyikan di rumah Direskrim, kata Lawalata.
Menurut Lawalata perlindungan terhadap saksi seharusnya dilakukan Lembaga Perlindungan
Saksi dan Korban (LPSK), bukan di rumah Direskrim.

Pada 14 Oktober 2011 Pengadilan Negeri Saumlaki, Kabupaten Maluku Tenggara Barat,
Maluku, memvonis bersalah empat terdakwa pembunuh Alfrets. Ricard dihukum sembilan tahun
penjara, Markus 7 tahun, Imanuel 5 tahun, dan Thomas 3 tahun penjara. Menurut Ketua majelis
hakim yang juga Ketua Pengadilan Negeri Saumlaki, Putu Gde Hariadi, semua terdakwa

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 93


93
terbukti bersalah, melakukan tindak pidana pasal 338 KUHP jo Pasal 55 ayat 1 seperti dakwaan
jaksa, yaitu menganiaya Alfrets hingga meninggal dunia. Putu Gde menyatakan, motif para
pelaku melakukan penganiayaan tidak terlihat selama persidangan karena keempatnya
membantah melakukan perbuatan tersebut.

Kekerasan terhadap jurnalis juga menimpa wartawan Sun TV (grup MNC) di Tual, Maluku
Tenggara, Ridwan Salamun. Ridwan tewas ketika meliput bentrokan antarwarga komplek
Banda Eli dan warga Dusun Mangun di Desa Fiditan, Tual, pada 21 Agustus 2010. Ridwan,
yang kala itu tengah mengambil gambar pertikaian antarwarga tersebut, diserang dan dikeroyok
warga Dusun Mangun. Ridwan mengalami luka bacok dan meninggal dalam perjalanan ke
rumah sakit.

Tiga tersangka ditetapkan sebagai pembunuh Ridwan. Mereka, Hasan Tamnge, Ibrahim
Raharusun, dan Sahar Renuat. Mereka dituntut delapan bulan penjara. Pada 9 Maret 2011
Pengadilan Tual memvonis bebas ketiga tersangka. Menurut Ketua Majelis Hakim, Jimmy Wali,
dakwaan primer dan subsidair ketiganya melakukan pembunuhan tak terbukti. Putusan ini
mendapat kecaman dari sejumlah organisasi wartawan.

Pers Indonesia mencatat sejumlah wartawan yang tewas berkaitan dengan kegiatan mereka
sebagai jurnalis. Mereka, antara lain, wartawan Harian Bernas, Yogyakarta, Fuad M.
Syafruddin yang tewas pada 16 Agustus 1996 dan wartawan Radar Bali, Anak Agung Gede
Bagus Narendra Prabangsa yang dibunuh pada 11 Februari 2009 dan mayatnya ditemukan di
perairan Teluk Bangsir, Karangasem pada 16 Februari 2009.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 94


94
Fuad M. Syafruddin ditemukan tewas

Fuad M. Syafruddin

Anak Agung Gede Bagus Narendra Prabangsa

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 95


95
Pembunuhan Prabangsa

Prabangsa dibunuh berkaitan dengan tulisannya tentang skandal pembangunan SD dan SMP
yang ditengarai sarat korupsi. Hasil pemeriksaan laboratorium forensik Rumah Sakit Umum
Sanglah, Denpasar, menyebut Prabangsa disiksa sebelum dilempar ke laut. Itu ditunjukkan
dengan adanya luka di kepala, pergelangan tangan, serta patahnya tulang rahang dan tulang
tangan kanan pria 41 tahun tersebut. Menurut dokter Dudut Rustyadi, Koordinator Kedokteran
Forensik RSU Sanglah, Prabangsa diduga masih hidup ketika dibuang ke laut. Ini dibuktikan
dengan adanya pasir di dalam kerongkongannya, ujar Dudut.

Menurut Aliansi Jurnalis Independen (AJI) sejak 1996 sampai 2010 tercatat 10 kasus
kekerasan yang berujung pembunuhan terhadap wartawan. Sebagian besar dari kasus-kasus
tersebut masih belum terungkap, seperti kasus pembunuhan Fuad M. Syafruddin alias Udin.

Dalam kasus pembunuhan terhadap Prabangsa, Pengadilan Negeri Denpasar pada 15 Februari
2010 telah menghukum otak pelakunya, I Nyoman Susrama, penjara seumur hidup. Pembunuhan
tersebut dilakukan Susrama bersama delapan anak buahnya di kediamannya di Banjar Petak,
Bebalang, Bangli, sekitar 45 kilometer dari Denpasar. Mereka adalah Komang Gede, Nyoman
Rencana, I Komang Gede Wardana (Mangde), Dewa Sumbawa, I Wayan Suecita, Gus Oblong,
Endy, dan Jampes. Hukuman terhadap Susrama itu sendiri belakangan dikuatkan majelis hakim
kasasi Mahkamah Agung.

Menurut Ketua Majelis Hakim Djumain, Susrama, 48 tahun, terbukti melanggar pasal 340
KUHP Jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP tentang pembunuhan berencana secara bersama-sama.
Pembunuhan dilakukan sangat kejam yang bertentangan dengan ajaran ahimsa, kata Djumain.
Terdakwa yang berpendidikan tinggi dan menjadi pengurus lembaga keagaamaan, menurut
hakim semestinya dapat mencegah terjadinya peristiwa itu. Hakim berkeyakinan, motivasi
pembunuhan adalah pemberitaan di harian Radar Bali yang ditulis Prabangsa tentang proyek-
proyek di Dinas Pendidikan Bangli, khususnya proyek TK dan SD Internasional.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 96


96
Nyoman Susrama, terdakwa kasus pembunuhan terhadap wartawan

Hukuman itu lebih ringan ketimbang tuntutan jaksa. Sebelumnya, jaksa Lalu Saifudin menuntut
Susrama hukuman mati. Menurut Saifudin, Susrama otak pembunuhan Prabangsa. Susrama
geram dengan berita yang ditulis Prabangsa yang muncul di Radar Bali pada 3, 8, dan 9
Desember 2008. Prabangsa menyoroti proyek pembangunan TK dan SD bertaraf internasional
yang dinilai menyalahi aturan Dinas Pendidikan. Ketua komite pembangunan proyek ini adalah
Susrama.

Selain Susrama, dalam sidang terpisah, hukuman juga dijatuhkan kepada Komang Gde ST
alias Mang De, yakni hukuman 20 tahun penjara dan Ida Bagus Made Adnyana Narbawa alias
Gus Oblong 5 tahun penjara oleh Majelis yang diketuai IGN Adhi Wardhana.

Keterangan Saksi Kunci


Dalam persidangan pembunuhan Prabangsa dengan terdakwa Susrama, sebelumnya sempat
terjadi saling bantah antara Komang Gde Wardhana alias Mang De dengan Ida Bagus Adnyana
Narbawa alias Gus Obolong. Gus Oblong merupakan saksi kunci dan satu-satunya tersangka
dalam kasus ini yang mengakui perbuatannya.

Gus Oblong menyatakan, pada 11 Februari Susrama bersama enam anak buahnya, termasuk
Mang De melakukan pemukulan terhadap Prabangsa. Setelah tewas, jasad Prabangsa dibuang ke
laut dengan jukung. Oblong mengaku sempat berniat mencabut berkas acara karena diancam
akan ditusuk oleh salah-satu anak buah Susrama. Namun, akhirnya dia memilih menyatakan

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 97


97
keterangan yang sebenarnya di muka persidangan. Oblong menyatakan telah mencabut kuasa
hukum yang sebelumnya diberikan kepada tim yang sama dengan tim Susrama dan meminta
majelis hakim menununjuk pengacara negara untuk mendampingi dirinya.

Mang De membantah kesaksian Gus Oblong dan menyatakan menarik kesaksiannya dalam
berita acara yang sebelumnya isinya sama dengan pengakuan Gus Oblong, yakni, mereka
bersama-sama melakukan pembunuhan terhadap Prabangsa di bawah pimpinan Susrama. Pria
yang sehari-hari bekerja di perusahaan air minum Sita milik Susrama tersebut mengaku terpaksa
menandatangani berkas acara di kepolisian karena mengalami penyiksaan fisik dan mental. Dia
mengaku disetrum dan dipukul penyidik. Tapi, saat ditanya majelis hakim, Mang De tidak
dapat menunjukkan bekas penyiksaan tersebut.

Penanggung jawab harian Radar Bali, Made Rai, menyatakan, sejak awal dia sudah menduga
Prabangsa dibunuh karena berita yang ia tulis. Radar Bali, menurut Rai, pernah menurunkan
sekitar sepuluh berita tentang penyimpangan proyek Dinas Pendidikan Bangli. Proyek itu,
menurut Radar Bali, dilakukan tanpa tender. Tiga di antara berita tersebut ditulis Prabangsa
secara berturut-turut pada 3 Desember, 8 Desember, dan 9 Desember 2008. Susrama adalah
pengawas proyek-proyek itu.

Menjelang kematiannya, menurut Rai, Prabangsa kadang terlihat seperti ketakutan. Dia,
misalnya, melarang jendela kantor dibuka karena merasa ada orang yang akan menembak
dirinya. Waktu itu kami tidak memperhatikan, ujar Rai. Kami menganggap hanya lelucon,
kata Rai lagi. Dan ketakutan Prabangsa itu ternyata memang terbukti.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 98


98
Keberingasan di Mesuji

M
enjelang tutup tahun, kabar mengejutkan datang dari Lampung dan Sumatera
Selatan. Di dua wilayah yang sama-sama memiliki nama Mesuji itu terjadi dugaan
pelanggaran berat hak asasi manusia yang menimpa warga setempat. Pertama di
Sritanjung, Kabupaten Mesuji, Lampung, dan kedua di Desa Sodong, Kecamatan Mesuji, Ogan
Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan.

Semua berawal dari laporan sekelompok warga Mesuji, Lampung, yang datang menemui
Komisi III DPR pada 14 Desember 2011. Sembari memperlihatkan rekaman video yang di
dalamnya terdapat adegan pemenggalan kepala, mereka mengadu soal tindak kekerasan yang
diduga dilakukan aparat penegak hukum dan sekelompok orang pada awal 2011. Peristiwa itu,
kata mereka, dilakukan saat penggusuran warga Mesuji yang selama ini tinggal di kawasan
perkebunan kelapa sawit PT Silva Inhutani di Kabupaten Mesuji, Lampung. Setidaknya 30
warga telah tewas sejak 2009 sampai 2011, kata kuasa hukum warga Mesuji, Bob Hasan.

Mantan anggota DPR Mayor Jenderal (Purn). Saurip Kadi yang ikut mendampingi warga
menuturkan peristiwa ini bermula dari perluasan lahan oleh PT Silva Inhutani sejak 2003.
Perusahaan yang berdiri pada 1997 itu terus menyerobot lahan warga untuk ditanami kelapa
sawit dan karet. Perusahaan yang kesulitan mengusir penduduk kemudian meminta bantuan
aparat dan membentuk kelompok keamanan sendiri (pam swakarsa). Mereka bentuk pam
swakarsa untuk membenturkan rakyat dengan rakyat tapi di belakangnya aparat. Ketika warga
mengadu ke aparat tidak dilayani. Intimidasi dari oknum aparat dan pihak perusahaan sangat
masif di sana, kata Saurip.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 99


99
Mayor jendral (Purn). Saurip Kadi

Bermula dari Sawit

Konflik antar penduduk dan perusahaan yang berujung pada dugaan pembunuhan warga
terhitung sudah lama terjadi. Saat warga Lampung mengadu ke DPR, banyak yang mengira
konflik lahan itu hanya terjadi di wilayah itu. Padahal, wilayah Mesuji juga meliputi
Kecamatan Mesuji di Ogan Komering Ilir Sumatera Selatan. Konflik lahan berkaitan dengan
perusahaan sawit itu terjadi di Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Mesuji Provinsi Lampung
dan, satu lagi, di Desa Sondong, Kecamatan Mesuji, OKI, Sumatera Selatan. Dulunya daerah
ini masuk satu wilayah administratif, yakni Provinsi Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel).
Setelah ada pemekaran, wilayah Mesuji sisi utara sungai, termasuk Sungai Sodong, masuk
bagian Sumatera Selatan. Sedangkan Mesuji wilayah selatan masuk Lampung.

Rekaman video pembantaian warga menjadi sorotan banyak orang karena dinilai berlebihan
dan dicurigai direkayasa. Heru Sutadi,seorang ahli telematika, mengungkapkan bahwa rekaman
video itu merupakan dua kejadian pada lokasi dan waktu yang berbeda tapi digabung menjadi
satu. Kantor CBS News malah mengklaim beberapa adegan di video tersebut terjadi di Thailand
Selatan. Warga Sungai Sodong, Mesuji OKI, menyatakan, video yang ditayangkan merupakan
kejadian yang berlangsung di Sungai Sodong pada April 2011 dan bukan di Mesuji Lampung.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 100


1001
Pihak kepolisian sendiri kemudian, pada 21 Desember 2011, menjelaskan perihal terjadinya
pembantaian yang disebut warga Mesuji ke publik. Menurut Kepala Divisi Humas Polri
Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution, di Lampung terdapat dua peristiwa berbeda, yakni
pada 2010 dan 2011. Peristiwa Mesuji pertama terjadi pada 6 November 2010, yaitu penertiban
masyarakat perambah di lahan hutan sawit tanpa izin oleh tim terpadu bentukan Gubernur
Lampung.

Salah satu tempat yang ditertibkan adalah lahan perkebunan sawit Register 45 PT Silva
Inhutani pada 6 November 2010 tersebut. Saat itu terjadilah bentrokan dengan warga. Seorang
warga bernama Nyoman Sumarde berusaha membacok Ajun Komisaris Besar Priyo. Merasa
terdesak, kata Saud, Priyo mengeluarkan tembakan peringatan kepada Nyoman. Peristiwa ini
memicu kemarahan warga, dan bentrokan lebih besar pun terjadi yang akhirnya mengakibatkan
satu warga, Made Asta, tewas tertembak. Lalu, peristiwa Mesuji Lampung II, masih di
Kabupaten Mesuji, Lampung, pada 10 November 2011. Bentrokan terjadi saat masyarakat
berunjuk rasa di areal PT Barat Selatan Makmur Investindo.

Menurut Saud, kejadian itu berawal dari aksi penjarahan sejumlah warga di perkebunan sawit.
Pada kejadian itu Hendri dan Dani, dua orang warga, dikabarkan hilang. Sekitar 100-an warga
mempertanyakan keberadaan Hendri dan Dani. Bentrokan pun terjadi. Korban dari warga pun
berjatuhan. Di antaranya yang terkena luka tembak, Suratno, Muslim, Robin, Rano Karno, dan
Harun. Ada pun yang tewas tertembak satu orang, Zaelani. Menurut Saud, dalam aksi ini juga
terjadi pembakaran oleh warga terhadap 96 mes karyawan perusahaan, satu pos induk satpam, 29
mes karyawan divisi satu, lima mes asisten manajer gudang bahan bakar, dan sejumlah gudang
lainnya.

Kepolisian sendiri menegaskan, insiden pemenggalan kepala seperti terlihat di video terjadi di
Desa Sodong , dan itu bukan menimpa warga, melainkan dua petugas pam swakarsa. Jumlah
korban tewas akibat kerusuhan di Mesuji, baik Mesuji Lampung maupun Sumatera Selatan,
hanya sembilan orang. Jumlah ini jauh lebih kecil ketimbang yang dilaporkan warga Mesuji ke
DPR yang mencapai 30 orang.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 101


1011
Dalam laporan utamanya, majalah Tempo juga membuat kronologi peristiwa Mesuji Lampung.
Dua wilayah yang menjadi basis aksi bentrok sengketa lahan adalah Register 45 di Kecamatan
Mesuji Timur Kabupaten Mesuji dan Sritanjung di Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Mesuji.

Konflik di Register 45 bermula pada tahun 1991, ketika pemerintah memberikan hak
pengusahaan hutan kepada PT Silva Inhutani di Register 45 seluas 32.600 hektare. Enam tahun
kemudian keluar izin yang membuat PT Silva bisa memperluas area konsesinya hingga 43.100.
Pada 1999, warga Talang Batu, Talang Gunung, dan Labuhan Batin memprotes perluasan
tersebut karena desa mereka jadi bagian Register 45. Pada 2002, izin PT Silva dicabut Menteri
Kehutanan karena diduga melakukan beberapa pelanggaran sebelum kembali mendapatkan izin.

Sementara itu sekitar 2004-2005, masyarakat dari berbagai daerah masuk ke kawasan Register
45 dan mendirikan permukiman. Pada 2010, polisi bersama TNI dan petugas keamanan
perusahaan berusaha menertibkan perambah di Way Buaya. Pada 6 November terjadilah
bentrokan yang mengakibatkan tewasnya Made Asta, warga Gunung Batu, dan tertembaknya
warga bernama Wayan Sumarje.

Adapun pemantik kerusuhan di Sritanjung, menurut Tempo, dimulai pada 1994, saat PT Barat
Selatan Makmur Investindo mengantongi izin seluas 10 ribu hektare kebun inti dan 7.000 hektare
kebun plasma. Pada 1995, PT Lampung Inter Pertiwi juga memperoleh izin perkebunan seluas
6.628 hektare di sekitar Sritanjung. Sejak September 2011, warga yang merasa tak pernah
mendapatkan ganti rugi memanen sawit di lahan plasma.

Kekerasan di Desa Sodong, Mesuji, Sumatera Selatan

Adapun kejadian bentrok di Desa Sodong Mesuji OKI, kepolisian memiliki versi sendiri.
Peristiwa Sodong Mesuji, menurut kepolisian, terjadi pada 6 November 2010, 21 April 2011,
dan 10 November 2011 berkaitan dengan penertiban lahan. Peristiwa pada 6 November 2010
terjadi di Register 45 yang dikelola oleh PT Inhutani menyebabkan satu warga tewas dan satu
warga terluka. Korban tewas bernama Made Asta, dan korban luka bernama Nyoman Sumarya.
Penembak Made Asta sampai sekarang masih dalam pencarian.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 102


1021
Bentrokan Mesuji

Ada pun bentrokan yang terjadi pada 21 April 2011, yang berkaitan dengan penertiban lahan,
menyebabkan tujuh orang tewas. Mereka terdiri dua warga, dua karyawan PT SWA, dan tiga
petugas pam swakarsa. Sedangkan kerusuhan yang terjadi pada 10 November 2011 di lokasi
perkebunan PT Barat Selatan Makmur Investindo menyebabkan lima orang tertembak, yaitu
Muslim, Robin, Rano Karno, Harun, dan Zaelani. Yang terakhi ini akhirnya meninggal dunia.

Menurut polisi bentrokan yang terjadi pada 21 Aril 2011 dipicu tindakan dua warga bernama
Indra Syafii dan Syaktu Macan yang menghalang-halangi pihak perkebunan untuk memanen
sawit. Bentrokan yang terjadi itu pun menyebabkan tewasnya Sabar bin Ruswat (anggota Satpam
PT SWA), Indra Syafii, dan Syaktu bin Macan. Menurut Riyadi, warga Sungai Sodong, Indra
Syafii tewas dengan luka tembak di dada kanan, tengah, dan kiri serta kepala, kemudian luka
gorok dengan leher hampir putus. Mengetahui dua warganya, Indra dan Syaktu, tewas, sekitar
300-400 warga menyerbu pabrik PT SWA. Bentrokan kembali terjadi dan menimbulkan korban
tewas, yakni Hambali bin M. Thohir (karyawan PT SWA), Ardhi bin Ratam (karyawan PT
SWA), Hermanto (karyawan PT SWA), dan Saimun (satpam PT SWA). Kepolisian sendiri
membantah adanya penembakan di dada dan kepala Indra Syafii.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 103


1031
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) memiliki versi lain perihal peristiwa di
Desa Sodong. Lembaga ini mencoba mengurai duduk permasalahan di Mesuji. Menurut
Komisioner Komnas HAM Ridha Saleh, ada peristiwa lain yang terjadi di Sungai Sodong,
Mesuji, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Ridha menjelaskan peristiwa di Desa Sungai
Sodong dipicu oleh konflik tanah pada 1997 antara PT SWA dan warga terkait dengan 564
bidang tanah seluas 1.070 hektare milik warga untuk diplasmakan.

Perusahaan menjanjikan, dalam masa 10 tahun lahan akan dikembalikan lagi kepada warga dan
warga juga mendapat kompensasi. Namun hingga saat ini perusahaan ternyata tidak memenuhi
perjanjian tersebut. Akhirnya pada April 2011 masyarakat Sungai Sodong mengambil kembali
tanah tersebut melalui pendudukan. Perusahaan melihat pendudukan tanah tersebut sebagai
gangguan. Gesekan terjadi sampai kemudian tersebar berita tewasnya dua warga Sodong yang
kemudian memicu kerusuhan.

Menurut pengakuan warga, kata Ridha, saat berdemo mereka tidak melakukan tindakan anarkis
apalagi melakukan pembunuhan. "Terkait lima petugas keamanan perusahaan yang tewas,
mereka tidak tahu. Ini yang harus diluruskan," kata Ridha.

Menurut Tempo, konflik di wilayah Sodong berawal dari 1997, saat warga melakukan kerja
sama dengan PT Treekreasi Margamulia dan PT Sumber Wangi Alam membangun kebun
plasma. Pada 6 April, warga menyerahkan 534 surat keterangan tanah seluas 1.068 hektare
kepada perusahaan. Kemudian, pada 2010 warga mulai menduduki lahan dan memanen sawit di
atas kebun sengketa karena merasa perusahaan telah ingkar janji pada ikatan kerja sama. Sejak
awal April 2011, perusahaan menambah tenaga pengamanan (pam swakarsa) sekitar 50 orang.
Pada 21 April 2011 dua orang warga, Indra Syafii dan Syaktu Macan, diduga dibunuh petugas
keamanan. Di hari yang sama, warga balik menyerang dan menyebabkan lima petugas keamanan
tewas.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 104


1041
Investigasi Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF)

Pada 2 Januari 2012, Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang ditugaskan Presiden SBY
untuk mengatasi kasus Mesuji menyampaikan hasil investigasi sementara di kantor Kementerian

Kordinator Politik Hukum dan Keamanan (Polhukam), Jakarta. Menteri Polhukam Djoko
Suyanto menyatakan, TGPF telah mendatangi lokasi kejadian, tapi belum bisa memberikan
keterangan akhir dari investigasi tersebut.

Ketua TGPF, Denny Indrayana, mengatakan ada tiga lokasi yang didatangi tim, yakni Register
45 Kabupaten Mesuji, Lampung; Desa Sri Tanjung, Lampung; dan Sodong, Kecamatan Mesuji,
Sumatera Selatan. Ketiga lokasi tersebut memiliki detail persoalan yang berbeda. Tidak sama
dengan Sodong. Sengketa lahan terjadi sejak lama, titik kejadiannya muncul dalam bentuk
korban jiwa, luka, dan materiil," kata Denny.

Denny menyebut 3 peta sengketa lahan yang diwarnai kekerasan yakni, pertama, konflik
pengelolaan lahan adat di kawasan Hutan Tanaman Industri Register 45 antara masyarakat di
Way Buaya, Kabupaten Mesui, dan PT Silva Inhutani. Kedua, sengketa tanah lahan sawit seluas
1.533 hektare antara warga Desa Sei Sodong dan PT Sumber Wangi Alam (SWA), dan ketiga
kasus lahan sawit seluas 17 ribu hektare antara warga Desa Sritanjung, Kagungan Dalam, dan PT
Barat Selatan Makmur Investindo.

Mengenai masalah korban jiwa, Denny akan menyerahkan kepada Komnas HAM untuk
ditelusuri lebih lanjut. TGPF menyimpulkan, jumlah korban jiwa 2010 hingga 2011 yaitu di
Register 45, satu orang bernama Made Aske; di Sri Tanjung satu orang bernama Zaliani; dan di
Sodong tujuh orang. Total korban jiwa dari 2010 hingga 2011 sebanyak sembilan orang.

LPSK Siap Lindungi Saksi dan Korban

Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Abdul Haris Semendawai,
mengatakan, meskin belum ada permohonan, LPSK akan membentuk tim khusus untuk
memaksimalkan perlindungan bagi saksi dan korban kasus konflik lahan di Desa Sungai Sodong,
Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering ilir, Sumatera Selatan, Kecamatan Mesuji

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 105


1051
Timur, Lampung, dan Sritanjung, Kabupaten Mesuji, Lampung. Kami akan jemput bola, kata
Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai kepada wartawan.

Semendawai menyatakan, tindakan ini merupakan pelaksanaan rekomendasi Tim Gabungan


Pencari Fakta Mesuji yang menyatakan perlu adanya perlindungan terhadap saksi dan korban
peristiwa itu. Menurut Haris, dari investigasi yang dilakukan TGPF, memang terlihat ada
sejumlah saksi yang memerlukan perlindungan.

Karena itu, sesuai Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan
Korban, LPSK akan segera menentukan bentuk perlindungan yang akan diberikan ke saksi dan
korban tragedi Mesuji. Bentuk perlindungan yang bisa diberikan, antara lain, bantuan medis dan
psikologis terhadap korban, serta perlindungan fisik dan pendampingan saat saksi memberikan
keterangan di proses peradilan pidana.

Sebelumnya, Ketua TGPF kasus Mesuji, Denny Indrayana, memang mengungkapkan bahwa
pihaknya menjamin keselamatan penuh korban ataupun saksi yang akan dimintai keterangan
terkait dengan penelusuran tragedi di Mesuji wilayah Lampung dan Sumatera Selatan. Salah
satunya adalah dengan meminta LPSK untuk melindungi para saksi dan korban kekerasan
peristiwa Mesuji itu.

Ketua Komnas HAM dan Ketua LPSK

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 106


1061
LPSK sendiri meminta tim investigasi, yang dibentuk TGPF dan Komnas HAM tidak
menambah trauma para korban kekerasan di Mesuji. Semendawai mengingatkan dalam proses
penyelidikan tidak boleh ada tekanan terhadap para korban ataupun keluarganya. Sebab dalam
kondisi seperti ini baik korban maupun keluarganya masih trauma. "Itu bisa berdampak,
misalnya kalau temuan tim saling bertabrakan satu dengan yang lain. Terlalu banyak tim berarti
ada banyak orang yang berkomunikasi dengan saksi dan korban dan itu secara psikologis kurang
bagus juga buat mereka," kata Semendawai.

LPSK menyatakan ini merujuk terjadinya teror atau ancaman terhadap para saksi dan korban
Mesuji. Sebelumnya Saurip Kadi mengungkapkan, telah terjadi teror para saksi dan korban yang
datang ke DPR. Mereka, kata Saurip, dipanggil kepolisian, dituduh menyerobot tanah
perusahaan. Sejumlah saksi dan korban kasus pembantaian Mesuji yang menginap di Markas
Front Pembela Islam (FPI), Jalan Petamburan III Jakarta Barat, pada Selasa 20 Desember 2011,
juga diberitakan dikepung polisi. Kabar pengepungan itu tersebar melalui layanan pesan
BlackBerry Messenger (BBM). Mereka disebut-sebut dikepung agar tidak bisa menghadiri acara
Jakarta Lawyers Club yang akan ditayangkan TVOne. Tapi, kabar pengepungan itu ditepis oleh
Ketua DPP FPI Habib Muhammad Rizieq.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 107


1071
Pembunuhan Siswa SMA Pangudi Luhur

P
ertengkaran berujung penikaman. Demikianlah yang terjadi pada Raafi Aga Winasyah
Benjamin. Pelajar SMA Pangudi Luhur, Jakarta Selatan berusia 17 tahun tersebut
tewas ditikam setelah bertengkar dengan sesama pengunjung kafe Shy Rooftop yang
terletak di kawasan Kemang, Jakarta Selatan pada Sabtu dini hari 5 November 2011.

Raffi Aga Winasyah Benjamin

Pada mulanya tewasnya Raafi tidak mendapat pemberitaan besar. Pemberitaan media hanya
menyatakan remaja tahun tersebut meninggal karena ditusuk pengunjung kafe lain karena saling
adu mulut yang kemudian berujung perkelahian lalu penikaman. Satu-satunya yang mungkin
menarik perhatian adalah remaja tersebut adalah pelajar SMA Pangudi Luhur, sekolah yang
termasuk favorit dan terkenal di ibu kota. Diberitakan, Raafi meninggal dalam perjalanan saat
dibawa teman-temannya, sesama pelajar SMA Pangudi Luhur, ke Rumah Sakit Siaga, Pasar
Minggu pada pukul. 03.00 pagi.

Dua pekan kemudian pembunuhan Raafi menjadi perbincangan banyak orang, khususnya
masyarakat menengah ibu kota, setelah Majalah Tempo, menurunkan peristiwa pembunuhan
tersebut sebagai laporan utama dalam edisinya 27 November 2011.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 108


1081
Raafi ternyata anak dari Harnoko Dewantono, terpidana hukuman mati, yang didakwa
membunuh tiga orang, termasuk adiknya, di Los Angeles, Amerika Serikat. Majalah Tempo
menulis profil Raafi sebagai berikut:

Akhir Tragis Calon Dokter

Raafi Benjamin siswa populer di SMA Pangudi Luhur. Dia anak Harnoko Oki Dewantono,
yang pernah menggegerkan Tanah Air karena dituduh melakukan serangkaian pembunuhan di
Los Angeles. Majalah dinding di lobi Sekolah Menengah Atas Pangudi Luhur di Jalan
Brawijaya, Jakarta Selatan, tak sanggup menampung ucapan belasungkawa dan testimoni untuk
Raafi Aga Winasya Benjamin. Kalimat-kalimat kenangan dengan berbagai warna tinta itu
berdesakan, berebut mengisi sisa ruang yang masih kosong.

Selamat jalan, Pan. Jangan lupain gw, semoga lo jadi dokter hebat di sana, demikian bunyi
salah satu kalimat yang tertera di sana. Puluhan kalimat senada terpampang di antara enam foto
Raafi yang sedang tersenyum dengan rambut kriwil yang gondrong.

SMA Pangudi Luhur, yang populer dengan sebutan PL, mengibarkan bendera setengah tiang
selama tiga hari dan berkabung atas kematian salah satu siswa paling populernya. Sabtu, 5
November dinihari, Raafi tewas terkena tikaman pisau di Caf Shy Rooftop.

Kematian Raafi amat memukul keluarga dan sekolahnya. Anggia Hesti Benjamin, ibu Raafi,
menolak memberikan pernyataan kepada pers. Ibu belum mau berbicara dulu, kata seorang
pembantunya kepada Tempo, Kamis pekan lalu. Pagar rumah Raafi di Kemang Timur tertutup
rapat untuk wartawan. Kendati demikian, teman Raafi terus berdatangan untuk mengucapkan
belasungkawa.

Dugaan bahwa pelakunya mempunyai hubungan dengan sebuah organisasi pemuda terkenal di
Ibu Kota membuat keluarga dan teman-temannya kian mengunci mulut. Keterangan untuk pers
hanya keluar dari Tim Pencari Fakta SMA Pangudi Luhur, yang dibentuk untuk mengadvokasi
kematian Raafi.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 109


1091
Raafi memang terkenal di sekolahnya. Rambut gondrongnya menunjukkan dia anak pintar. Di
Pangudi Luhur memang berlaku satu tradisi: hanya siswa yang nilai rata-ratanya di atas tujuh
yang boleh memanjangkan rambut. Raafi salah satu yang nilainya di atas rata-rata, kata Heri
Prasetya, Wakil Kepala Sekolah Pangudi Luhur.

Di sekolah Katolik yang khusus untuk laki-laki itu, Raafi dikenal sebagai salah satu anggota
Fantastic Four--sebutan untuk empat siswa yang paling disegani di Pangudi Luhur. Seperti
umumnya siswa di situ, Raafi punya nama panggilan. Dalam keseharian, aktivis Gerakan
Pencinta Alam PL itu dipanggil Bolpan.

Ini memang panggilan main-main, kependekan dari bolongan pantat. Raafi mendapat nama
ini dari kakak kelasnya saat baru masuk sekolah itu tiga tahun lalu. Dan dia bangga menyandang
nama panggilan ini. Raafi sering tampil menjadi pemimpin dalam kegiatan di PL. Pada Pangudi
Luhur Fair yang akan digelar 10 Desember nanti, misalnya, dia menjadi ketua seksi keamanan.

Menurut Heri Prasetya, Raafi cerdas dalam pelajaran humaniora. Raafi mengaku terus terang
tak mengerti pelajaran fisika meski sudah berusaha memahaminya. Tapi kelemahan di pelajaran
eksakta tak menyurutkannya bercita-cita menjadi dokter. Semua anak tahu Raafi ingin jadi
dokter, kata Heri. Raafi memang punya darah dokter. Kakek buyutnya, Profesor Hendarmin,
adalah dokter spesialis telinga-hidung-tenggorokan paling terkenal di Jakarta pada 1970-1980-
an. Anak dan cucu Hendarmin kemudian banyak juga yang mengikuti jejaknya, kecuali kakek
Raafi, Hendarno Hendarmin.

Hendarno berkarier di Bank Indonesia dengan jabatan terakhir direktur. Dialah ayah Harnoko
Dewantono, ayah Raafi. Harnoko tak lain Oki, yang pernah menghebohkan karena membunuh
adiknya, Eri Trihartarto Darmawan; teman bisnisnya, orang India, Suresh Michandani; dan
pacarnya, Gina Sutan Anwar. Tulang-belulang ketiganya ditemukan polisi Los Angeles di
sebuah gudang sewaan di Northridge, LA, pada 1994. Saat itu Oki sudah balik ke Tanah Air.
Penyelidikan polisi Los Angeles menunjukkan Oki-lah pelaku pembunuhan yang terjadi pada
1991 dan akhir 1992 itu.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 110


1101
Oki dicokok di rumah neneknya di kawasan Paseban, Jakarta Pusat, awal 1995. Kasus
pembunuhan ini menggemparkan dan menjadi berita utama sejumlah media. Oki sendiri
berkukuh: yang membunuh Gina dan Suresh adalah Eri, dan ia membunuh Eri karena membela
diri saat hendak dibunuh sang adik. Tapi hakim tetap yakin Oki pembunuhnya. Pada 13 Mei
1997, hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memvonis Oki dengan hukuman mati.

Oki kini menunggu eksekusi di penjara Cipinang. Saat vonis dijatuhkan, ia sudah bercerai
dengan Anggia Hesti Benjamin. Mereka berpisah pada September 1993, atau dua bulan sebelum
Raafi lahir, setelah Anggia melaporkan tindak kekerasan rumah tangga yang dilakukan Oki
terhadapnya ke polisi.

Menurut catatan pengadilan waktu itu, Anggia dipukul dengan stik golf saat sedang hamil
besar. Oki dihukum satu setengah bulan penjara, tapi langsung bebas karena dipotong masa
tahanan. Pernikahan ayah-ibu Raafi ini berumur tak lebih dari setahun. Maka, begitu Raafi lahir
pada 2 Desember 1993, kakek-nenek dari ibunyalah yang merawat dan membesarkannya di
Irvine, Amerika Serikat.

Kepindahan itu terutama karena kasus Oki sedang hangat dibicarakan di dalam negeri. Di kota
satelit Los Angeles itu Raafi tumbuh. Di kota itu dulu Anggia Hesti dan Oki juga tinggal sambil
menyelesaikan pendidikan master of business administration dan berbisnis. Di Los Angeles, Oki
punya beberapa teman perempuan, tapi ia hanya menikah dengan Anggia. Mereka pulang karena
Anggia hamil, tapi kemudian malah bercerai.

Karena sudah mencintai kota itu, Dindin Benjamin Yatim--ayah Anggia, yang menjadi direktur
di Bank Bumi Daya--membeli rumah untuk ditinggali di sebuah kawasan kelas menengah. Di
rumah cukup jembar itu, Raafi tinggal bersama neneknya. Dia bersekolah hingga sekolah dasar
di sana. Menjelang sekolah menengah pertama, Raafi pulang ke Jakarta.

Raffipun lalu bersekolah di SMP Global Jaya International di kawasan Bintaro, Tangerang,
Banten. Di SMP ini, Raafi juga cukup populer sebagai anak gaul yang nilai-nilainya lumayan
bagus. Seorang wali murid di Global menuturkan Raafi memang menonjol secara akademis.
Bahasa Inggrisnya fasih banget, katanya.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 111


1111
Kepada Tempo, beberapa siswa di Pangudi Luhur bercerita, Raafi sebenarnya juga tak baik-baik
amat. Dia, misalnya, beberapa kali pernah melakukan kekerasan kepada adik kelasnya. Dia
pernah menjadi eksekutor dalam bullying di sekolah, ujar seorang wali murid kelas XI.
Beberapa siswa mengaku pernah jadi korban kekerasan yang dilakukan Raafi dan teman-
temannya. Di Pangudi Luhur, murid kelas XII adalah kelompok siswa yang paling berkuasa,
sementara murid kelas XI dan X harus tunduk atas perintah-perintah kakak kelas mereka itu,
terutama geng Barisan Keamanan alias Baka, termasuk Raafi.

Geng Baka terdiri atas 12 siswa kelas XII. Anggota geng inilah yang antara lain ikut pesta
ulang tahun di Shy Rooftop itu. Di sana pula mereka melihat Raafi tersungkur, jatuh, lalu tewas
bersimbah darah.

Dari hasil penelusuran Tempo, mereka yang terlibat pertikaian dengan Raafi itu adalah anggota
234 SC, sebuah organisasi yang berafiliasi pada organisasi Pemuda Pancasila

Terjadinya pembunuhan itu, berawal dari kedatangan Raafi dan 20 temannya (semuanya
pelajar SMA Pangudi Luhur) pada pukul 11 malam ke Shy Rooftop di gedung Papilion untuk
merayakan ulangtahun teman mereka Muhammad Arif. Di sana, di caf yang terletak di lantai
atas gedung Papilion tersebut, ada pula kelompok lain, yakni anggota 234 CS yang saat itu juga
sedang merayakan ulang tahun salah seorang anggota mereka Michael Luhukay.

Perselisihan kedua kelompok itu mulai terjadi di lantai dansa. Saat itu, menurut Tempo, salah
seorang pelajar SMA Pangudi Luhur mendorong jatuh perempuan bernama Violetha Ceacilia
Maria Constanza alias Connie.

Conny adalah istri dari Sheer Mohammad Febri Awan, 43 tahun, anggota 234 CS yang datang
ke Shy Rooftop atas undangan Michael.

Di sinilah kemudian terjadi pertengkaran antara Raafi dan teman-temannya dengan beberapa
anggota 234 SC yang kemudian dilerai oleh petugas keamanan. Sempat mereda sebentar,
pertengkaran itu kemudian terjadi lagi. Menurut kawan-kawan Raafi, saat itu seorang anggota
234 SC ada yang sengaja menabrakkan diri mereka ke arag Raafi dan teman-temannya seakan
untuk memancing pertengkaran. Maka perkelahian pun terjadi. Saat itulah tiba-tiba Raafi

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 112


1121
terduduk dan darah mengucur dari dadanya. Melihat kejadian ini, empat orang temannya
kemudian menggotong Raafi menuruni tangga ke lantai empat sebelum kemudian dengan lift
menuju ke lantai dasar untuk membawa Raafi ke rumah sakit.

Tapi, dalam perjalanan remaja gondrong yang di sekolahnya mendapat julukan bolpan
tersebut keburu tewas. Nyawanya tak terselamatkan. Polisi sendiri datang ke lokasi kejadian
pada pukul 03.30. Saat polisi datang, barang bukti seperti darah Raafi sudah dibersihkan petugas
kebersihan kafe. Peristiwa pembunuhan itu sendiri ditangani oleh Kepolisian Resor Jakarta
Selatan.

Beberapa hari setelah peristiwa pembunuhan, walau telah memeriksa 40 saksi, polisi belum
menetapkan tersangka pembunuh Raafi. Di antara mereka yang menjadi saksi adalah: 18 teman
Raafi, 11 orang dari manajemen Shy Rooftop, dan 8 orang dari sekelompok pengunjung yang
lain di luar kelompok Raafi dan teman-temannya. Polisi juga telah menyita barang bukti 2 baju
masing-masing warna hitam dan merah, 6 celana jins, 2 piringan cakram berisi rekaman kamera
pengawas, 11 telepon seluler, 1 ikat pinggang, 4 pasang sepatu, 2 sandal, serta 2 berkas visum et
repertum.

Tampak depan Shy Rooftop

Salah satu yang juga diperiksa polisi adalah seorang sopir taxi yang biasa mangkal di depan
Shy Raaftop. Pada Sabtu dini hari setelah peristiwa penusukan tersebut, sopir taxi tersebut

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 113


1131
membawa dua penumpang keluar dari Shy Raaftop dan minta diantar ke Jalan Biak, Jakarta
Pusat. Dalam perjalanan, sopir taxi mendengar pembicaraan penumpangnya yang antara lain
menyebut, Sudah dibereskan, bos, danaman.

Karena penasaran dengan pembicaraan tersebut, sopir taxi tersebut, setelah menurunkan kedua
penumpangnya, kembali lagi ke Shy Rooftop. Di sanalah, dari petugas keamanan caf tersebut,
dia mendapat keterangan pagi itu terjadi peristiwa keributan yang berbuntut penikaman terhadap
salah seorang pengunjung caf. Kapolres Jakarta Selatan Komisaris Imam Sugianto menyatakan
kesaksian sopir taxi penting itu akan dipakai untuk melacak siapa pelaku pembunuh Raafi.

Dari sejumlah kesaksian dan bukti yang ditemukan, polisi kemudian menangkap dan
menjadikan tersangka Martoga, Helmi, Fajar, Robi Hatim, Abel, Connie, dan juga seorang
manajer Operasional Shy-Rooftop, Kemang, berinisial H. Pada 4 Desember polisi menetapkan
Sheer Mohammad Febri Awan sebagai tersangka penikam Raafi. Febri Awan terancam
hukuman maksimal 15 tahun penjara. Sementara tersangka lain, menurut polisi, dijerat Pasal
170 ayat (1) KUHP dan atau Pasal 351 ayat (3) KUHP dan atau Pasal 55 ayat (1) KUHP dengan
ancaman hukuman maksimal 7 tahun penjara

Menurut Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan, Ajun
Komisaris Besar Budi Irawan, pihaknya tak ragu peran Febri dalam kasus pembunuhan itu. Ini,
kata Budi, karena polisi memiliki saksi mahkota yang mengenal siapa penusuk Raafi. Budi
membantah saksi mahkota tersebut adalah Ji salah seorang siswa SMA Pangudi Luhur yang
juga mengalami luka tusuk di tangannya. "Bukan Ji saksi mahkotanya. Karena saksi mahkota ini
jelas mengenal pelaku," kata Budi.

Budi Irawan menyatakan, walaupun Febri tidak mengakui perbuatannya, hal itu tidak menjadi
masalah untuk penyidik. Sebab, kata Budi, ada alat bukti lain yang menunjukkan keterlibatan
Febri. Budi juga menegaskan, dari saksi-saksi yang dimintakan keterangannya oleh pihak
kepolisian, tidak ada satu pun yang mencabut berita acara pemeriksaan (BAP). "Baik dari siswa
PL (Pangudi Luhur) maupun dari saksi lain tidak ada yang cabut pernyataannya di BAP. Kami
berpegang pada kesaksian yang kami dapat dan mengarah ke pelaku. Jadi, silakan saja kalau ada
yang bilang ciri-cirinya beda dengan yang dilihat saksi karena kami berpegangan pada
pernyataan di BAP," kata Budi.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 114


1141
Pengembangan kasus ini memang menyeret seorang anggota Pasukan Pengaman Presiden
(Paspamres) bernama Sanuri yang disebut-sebut sebagai saksi mahkota. Sanuri datang ke Shy
Rooftop bersama Robi. Beberapa saat setelah penusukan, menurut polisi, Febri Awan
menitipkan pisau ke Sanuri yang kemudian oleh Sanuri dibungkus tisu. Pisau itu kemudian
diminta kembali oleh Febri

Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Untung Suharsono Rajab kepada pers, walau tidak
menyebutkan nama, membenarkan ada anggota TNI yang berada di tempat hiburan Shy Rooftop
pada malam pembunuhan Raafi pada 5 November 2011. Menurut Untung, oknum TNI tersebut
tidak dijerat pidana lantaran bersikap kooperatif kepada penyidik dengan menunjukkan siapa
penusuk Raafi. "Kami memang dibantu oleh rekan TNI yang mau sebagai saksi dan mengungkap
kasus Raafi ini. Saksi itu artinya orang yang melihat atau mendengar dari kejadian itu, dan dia
bersedia dibuat berita acara, kata untung.

Jendral Untung Suharsono Rajab saat menanggapi kasus Raffi

Penasihat Tim Advokasi Brawijaya IV, Mahendradatta, menduga pembunuhan Raafi Aga
Winasya Benjamin merupakan pembunuhan berencana. Oleh karena itu, dia berharap tersangka
penusukan yang ditetapkan oleh kepolisian lebih dari satu, yakni yang memerintahkan serta
mengeksekusi penusukan. Ada yang menyuruh penusukan itu, kata Mahendradatta. Tim
Advokasi Brawijaya IV beranggotakan antara lain alumnus SMA Pangudi Luhur dan melakukan
sejumlah pengumpulan fakta di lapangan dengan tujuan agar polisi mengungkap kasus ini
sejelas-jelasnya dan menangkap pelaku pembunuhan terhadap Raafi
Mahendradatta menyatakan, dia menduga penusukan tersebut direncanakan atas dasar

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 115


1151
percakapan dua orang yang menumpang sebuah taksi. Melalui telepon seluler, salah seorang di
antara penumpang bercakap-cakap. Percakapan tersebut didengar oleh si sopir taksi. Sopir itu
kemudian dijadikan saksi oleh kepolisian. Udah diberesin anaknya, kata Mahendradatta
menirukan percakapan penumpang itu. Percakapan itu, kata Mahendradatta menunjukkan
adanya misi yang sudah diselesaikan. Karena itu menurut dia, jika benar penusukan tersebut
direncanakan, maka pembunuhnya bisa dijerat dengan hukuman lebih berat karena di sini ada
unsur perencanaan. Mahendradratta juga menilai terlalu ganjil jika dalam kasus ini polisi hanya
menetapkan satu tersangka penusukan. Ada tautan yang putus kalau hanya satu. Kesaksian sopir
dibawa ke mana? katanya.

LPSK Menjanjikan Memberi Perlindungan

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) melakukan inisiatif dengan melakukan
komunikasi lebih dulu kepada pengacara para saksi penusukan Raafi.

Kepada wartawan Ketua LPSK, Abdul Haris Semendawai menyatakan, LPSK sudah
menjemput bola dengan berkomunikasi dengan pengacara saksi pembunuhan Raafi. LPSK
akan mengutamakan memberikan perlindungan bagi saksi kunci pengeroyokan Raafi. Abdul
Haris menyatakan pihaknya mengalami kendala dalam memberikan perlindungan terhadap saksi
karena yang menjadi saksi merupakan anak di bawah umur sehingga perlu persetujuan pihak
yang terkait.

LPSK menyatakan akan menyediakan safe house atau rumah aman bagi saksi kunci
pembunuhan Raafi. Menurut anggota LPSK, Lili Pintauli Siregar, langkah ini diambil, terutama
karena ada saksi yang mendapat surat kaleng berisi ancaman pembunuhan. "Kalau
memungkinkan, LPSK bisa menempatkan di safe house kalau dia mau dan bersedia mematuhi
semua aturan yang ditetapkan LPSK," kata Lili Pintauli Siregar.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 116


1161
Lili Pintauli, SH Anggota LPSK

Sebelumnya seorang saksi yang juga pelajar SMA Pangudi Luhur mendapat kiriman surat
kaleng yang berisi ancaman. Surat yang dikirim melalui jasa pos itu berisi puisi bernada
ancaman yang diberi judul "Saksi yang Disimpan". Puisi itu menyatakan akan ada aksi
pembunuhan pada tanggal 10 Desember 2011 yang bertepatan dengan pelaksanaan acara "PL
Fair".

Kutipan puisi ancaman sebagai berikut:

Saksi yang Disimpan

Seorang saksi sedang sekolah simpan Maka dia harus ditemukan Untuk mulutnya kita bungkam
Tanggal '10' esok sebagian siswa ditikam Dengan usus terburai di lapangan Akan berakhir di
sebuah makam Senasib seperti Raafi Bolpan Sengsara hingga akhir zaman.

Selain puisi, surat itu juga menampilkan gambar seorang siswa SMA Pangudi Luhur yang
merupakan teman Raafi dan menjadi saksi dalam kasus pembunuhan itu. Siswa itu juga
mengalami luka saat kericuhan terjadi dengan pengunjung Shy Rooftop, Kemang sebelum Raafi
ditusuk hingga tewas. Di bawah foto itu terdapat alamat lengkap siswa itu.

Menurut Lili, surat ancaman yang mencantumkan foto seorang siswa dan alamat lengkapnya
perlu ditanggapi serius dan harus secepatnya diambil tindakan. LPSK, kata Lili kepada pers
pada 6 Desember, belum mengambil keputusan bentuk perlindungan terhadap saksi itu. "Ada
pengajuan ke LPSK. Tapi belum diputuskan apakah perlindungan diberi darurat atau biasa.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 117


1171
LPSK belum memberikan perlindungan terhadap saksi tersebut karena belum dibawa ke rapat
paripurna," ujar Lili.

Menurut Mahendradatta dari Tim Advokasi Brawijaya IV, banyak ancaman yang datang ke
teman-teman Raafi pascapembunuhan tersebut. "Seperti adanya sebuah mobil Daihatsu Espas
Hitam yang melintas disamping rombongan siswa PL ketika jam sekolah sedang bubar dan
berteriak "Mati lo.. Mati lo"," kata Mahendradatta. Menurut dia, tugas berat lain yang juga
diemban Tim Advokasi Brawijaya IV, adalah juga ikut menjaga mental siswa-siswa SMA
Pangudi Luhur. "Ada pengendara sepeda motor yang lewat di depan SMA PL dan memainkan
gas motornya. Secara psikis para korban sangat tertekan dengan adanya indikasi ganguan yang
membuat mereka trauma," katanya.

Kalangan DPR juga meminta kasus pembunuhan ini segera bisa diungkap. Anggota Komisi III
DPR, Trimedya Panjaitan, menghimbau polisi bekerja serius dan tidak takut terhadap intervensi
saat mengungkap kasus ini. Trimedya juga meminta Kepala Polisi Jenderal (Pol.) Timur Pradopo
mengontrol dan melindungi jajarannya dalam bekerja mengusut kasus pembunuhan Raafi.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 118


1181
DATA BASE BERDASARKAN MEDIA TENTANG KONDISI PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DI
INDONESIA 2011

No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan


Korban
Nama L P
1 Koran Tempo, Pelanggaran Anggota L Saksi Ditawan dan Prajurit TNI
2 Januari 2011 HAM Organisasi Diintmidasi melakukan
Papua Kekerasan dalam
Merdeka menginterogasi
tawanan yang
merupakan anggota
organisasi Papua
Merdeka.
2 Kompas, 4 Korupsi Pajak Gayus H L Whistle Terdakwa Keterangan yang
Januari 2011 Tambunan Blower kasus diberikan oleh Gayus
korupsi untuk membongkar
kasus mafia pajak
tdak didengar.
3 Koran Tempo, Korupusi Pajak Gayus H L Whistle Terdakwa Dalam nota
4 Januari 2011 Tambunan Blower kasus Pledoinya, gayus
korupsi memberikan
keterangan tentang
lima (5) modus
permainan pajak.
4 Koran Tempo, Penganiayaan Idham L Korban Luka luka Idham selaku pimred
5 Januari 2011 Kurniawan ringan lampu hijau diserang
oleh polisi
dikaenakan masalah
pribadi.
5 Koran Tempo, Pembunuhan Pendeta L Korban Tewas TNI membawa
5 Januari 2011 Kindeman korban untuk
dimintai keterangan
dan seminggu
setelah kejadian
tersebut kepala
korban ditemukan
6 Koran Tempo, Kekerasan Warga L P Saksi Luka luka TNI melakukan
5 Januari 2011 Kampung interogasi kepada
Gurage warga kampung
Gurage yang dalam
pemeriksaan
tersebut anggota TNI
tersebut melakukan
kekerasan.
7 Koran Tempo, Penganiayaan Irni P Korban Luka luka Korban sedang
6 Januari 2011 berada di dalam

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 119


1191
No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
toilet di pusat belanja
Cilandak Town
Square ketika
penyerangan terhadap
dirinya berlangsung.
8 Koran Pembunuhan Pendeta L Korban Tewas TNI sedang
Tempo, 6 Kindeman melakukan
Januari 2011 pengusutan
tewasnya korban.
9 Koran Korupsi Pajak Gayus H L Whistle Terdakwa Jaksa menilai
Tempo, 6 Tambunan Blower status bahwa info yang
Januari 2011 korupsi disampaikan oleh
terdakwa bukan
prestasi
dikarenakan itu
merupakan
kewajiban dari si
terdakwa.

10 Media Penganiayaan Irni P Korban Luka Mahasiswi


Indonesia, 6 luka Universitas
Januari 2011 Indonesia dianiaya
di Citos hanya
karena pelaku salah
mengira bahwa
korban adalah
orang yang suka
menteror istri si
pelaku.

11 Rakyat Pengancaman Devina P Saksi Tertekan Saksi adalah orang


Merdeka, 7 karena yang melaporkan
Januari 2011 berada perginya terdakwa
dibawah korupsi pajak ke
ancaman Singapura.

12 Koran Penganiayaan Nurhaki L Terdakw Berada Pemeriksaan saksi


Tempo, 10 Barda a dibawah terdakwa ini penuh
Januari 2011 tekanan dengan intimidasi
yang dilakukan
oleh pengunjung
persidangan
sehingga
dikhawatirkan saksi

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 120


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
tidak dapat
memberikan
keterangan sebaik
baiknya.
13 Koran Perampokan Sayudi L Korban Luka Korban diserang
Tempo, 19 luka berat kawanan perampok
Januari 2011 setelah korban
menarik sejumlah
uang dari bank
BCA.

14 Kompas, 19 Penganiayaan Gilan dan L Korban Gilan Masyarakat desa


Januari 2011 berat Joni Tewas dan Bunga Atoi mengira
Joni masih bahwa kedua orang
dalam korban tersebut
perawatan merupakan maling
medis ayam sehingga
warga melakukan
penghakiman
kepada warga
tersebut.

15 Kompas, 20 Penganiayaan Agus L Korban Korban Korban merupakan


Januari 2011 berat Yulianto masih supir taksi yang
berada hamper dirampok
dalam tetapi korban masih
perawatan sempat meminta
medis tolong sehingga
perampokan
tersebut bisa
digagalkan.

16 Kompas, 22 Penganiayaan Alfrets L Korban Tewas Penganiayaan


Januari 2011 Mirulewan terhadap korban
dilakukan oleh
aparat penegak
hukum dikarenakan
korban saat itu
sedang mencari
tahu ada atau tidak
adanya
penyimpangan

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 121


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
dalam distribusi
bahan bakar
minyak.

17 Suara Human Para Anak P Korban Psikologisn Para pelaku human


Pembaruan, Trafficking Anak baru ya tertekan. trafficking ini
22 Januari Gede menjual para
2011 korban untuk
dijadikan pekerja
seks komersial
(PSK)

18 Kompas, 23 Penganiayaan . Telenggen L 1. Saksi Luka berat Anggota TNI yang


Januari 2011 Gire seharusnya
. Anggen L 2. Luka berat melakukan
Pugukiwo Korban pemeriksaan malah
melakukan
penyiksaan dalam
proses pemeriksaan
mereka.

19 Kompas, 24 Perampokan Elvira P Korban Korban Korban diculik saat


Januari 2011 Taufani disiksa mau berangkat
kerja dan dibuang
di daerah yang
tidak korban
ketahui.

20 Kompas, 24 Perampokan Sur L Korban Psikologis Korban diancam


Januari 2011 korban dengan
tertekan menggunakan
senjata api yang
dilakukan oleh dua
orang anggota
polisi dalam aksi
perampokan
tersebut.

21 Warta Kota, Perusakan dan 1. Bari L Saksi Psikologisn Dalam pemeriksaan


27 Januari Pembakaran 2. Ahmad ya tertekan perkara
2011 bangunan Mubarik L Saksi dipersidangan,
saksi dari pihak

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 122


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
penganut
Ahmadiyah
diintimidasi oleh
pengunjung
persidangan dan
juga diancam
keselamatannya
oleh para
pengunjung.

22 Rakyat Bank Century Susno L Whistle Merasa Susno enggan


Merdeka, 27 Duadji Blower tertekan menjadi whistle
Januari 2011 karena blower dalam kasus
tidak bank century
adanya dikarenakan beliau
perlindung merasa hanya akan
an menjadi alat politik
saja dan dia tidak
mendapatkan
perlindungan.

23 Rakyat Pemerasan Andi L Korban Diperas Korban dimintakan


Merdeka, 27 Wicaksono oleh aparat uang oleh aparat
Januari 2011 polisi. kepolisian dalam
proses pengolahan
laporannya dalam
tindak pidana
pencurian
kendaraan
bermotor.

24 Koran Penganiayaan Andi Rianto L Korban Luka Korban dianiaya


Tempo, 27 Siahaan luka selama ditahan di
Januari 2011 dalam polresta
pematang siantar
oleh aparat
kepolisian.

25 Kompas, 28 Penganiayaan Triyono L Korban Luka Korban dianiaya


Januari 2011 luka oleh aparat penegak
hukum dikarenakan
berita yang ditulis
oleh korban.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 123


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P

26 Warta kota, Korupsi Pajak Gayus H L Whistle Gayus dipanggil


28 Januari Tambunan Blower oleh KPK sebagai
2011 bentuk tindak lanjut
dalam proses
pemberantasan
korupsi di dalam
pajak.

27 Koran Pembunuhan David L Korban Tewas Korban dibunuh


Tempo, 28 Enggar lalu para pelaku
Januari 2011 menguras uang
yang dimiliki
korban serta
mengambil mobil
korban juga.
28 Poskota, 28 Pembunuhan Ida Farida P Saksi Psikologisn Saksi tidak bisa
Januari 2011 ya tertekan memberikan
keterangan dengan
sebaik baiknya
dikarenakan kedua
orang terdakwa
dalam kasus ini
tidak mau
mengakui
keterangan saksi
sehingga saksi
diintimidasi oleh
mereka.
29 Poskota, 28 Kasus Susno L Whistle Merasa Susno duadji
Januari 2011 Korupsi Pajak Duadji Blower ketakutan merasa ketakutan
dan Arwana dan dan meminta
diancam perlindungan
setelah memberikan
keterangan terkait
dengan kasus
korupsi pajak dan
arwana.

30 Warta Kota, Penganiayaan .Nurhasanah P Korban Luka Kedua korban


29 Januari .Eti luka dipukul oleh pelaku
Isnawati P Korban menggunakan
linggis.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 124


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
31 Pos Kota, 29 Pembunuhan Susi Lestari P Korban Tewas Korban dibunuh
Januari 2011 dengan cara dicekik
lehernya dan
dengan
menggunakan
benda keras, dan
kasus ini sampai
saat ini masih
ditangani oleh
polisi.

32 Indo Pos, 29 Penganiayaan Heran L Korban Luka-luka Korban diserang


Januari 2011 Hutagalung oleh empat (4)
orang warga papua
yang sedang
mengamuk saat
hendak diamankan
oleh polisi.

33 Koran tempo, Korupsi Agus L Saksi KPK bisa


29 Januari pemilihan Condro membongkar
2011 Deputi adanya korupsi
Gubernur BI dalam pemilihan
deputi gubernur BI
berkat adanya
laporan dari saksi
sehingga KPK bisa
menetapkan para
tersangka.

34 Koran tempo, Percobaan Ahmad L Korban Masih Korban ditusuk


29 Januari pembunuhan Sayudi dalam oleh orang tak
2011 perawatan dikenal dibagian
medis perut, tetapi warga
cepat menemukan
korban sehingga
korban masih bisa
diselamatkan.

35 Kompas, 29 Pencurian Ratu P Korban Tewas Korban tewas pada


Januari 2011 dengan Fauziah saat tasnya ingin
Kekerasan diambil oleh pelaku
pencurian sehingga

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 125


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
korban terjatuh dari
motor dan tewas

36 IndoPos, 30 Korupsi Pajak Gayus H L Whistle Pemeriksaan yang


Januari 2011 Tambunan Blower dilakukan oleh
kepolisian dinilai
terlalu menyulitkan
saksi sekaligus
pelaku sehingga
sukar untuk
memberikan
keterangan.

37 Koran Tempo Pemerasan Dewi Ratna P Korban Tertekan Korban mendapat


1 Februari oleh Aparat Ulan ancaman dari 5
2011 Penegak oknum polisi yang
Hukum berbuntut
pemerasan dengan
cara terang-
terangan meminta
uang Rp.50 juta
kepada korban.
38 IndoPos, Penganiayaan Maryanto, L Korban Luka-luka Korban terkena
1 Februari Berat Heru luka parah karena
2011 Aprialiano, dikeroyok oleh
Sudiono empat preman yang
biasa mangkal
diGelanggang
Remaja Jakarta
Pusat.
39 Warta Kota Penganiayaan Mustar L Korban Luka-Luka Korban terkena
1 Februari Terhadap Bona Ringan luka ringan akibat
2011 Saksi Ventura, penganiayaan.
Ferdi
Semaun
40 IndoPos Kejahatan di Penumpang L P Korban Korban dihipnotis
1 Februari Bandara Bandara pada saat berada di
2011 bandara. Setelah
menghipnotis
pelaku kemudian
mengambil harta
benda korban.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 126


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
41 Warta Kota Kecelakaan Rusdi L P Korban Tewas Suami-istri
2 Februari Rozali, tersambar kereta rel
2011 Nurhayati listrik ekonomi
hingga tewas.
42 Pos Kota Kematian M.Ikbal L Korban Tewas Bocah SD kelas 4
2 Februari Bocah SD tenggelam di danau
2011 resapan air milik
perumahan elit
Alam Sutera. Pihak
manajemen Alam
Sutera diperiksa
petugas Polsekta
Cipondoh terkait
tewasnya M.Ikbal
43 Pos Kota Pembunuhan Noviyansya L Korban Tewas Korban tewas
2 Februari h bersimbah darah
2011 akibat ditikam,
pisau oleh orang tak
dikenal.
44 IndoPos Pencurian Masaputro, L P Korban Mengalami Korban mengalami
2 Februari Fitriani Kerugian kerugian harta
2011 benda akibat
perbuatan Ketua
RT yang
mendalangi
pencurian salah
satu warganya.
45 Warta Kota Perampokan Abdilah L Korban Abdilah Perampok berkolor
2 Februari putih dan berikat
2011 kepala putih
melumpuhkan
korban dengan
sabetan golok pada
kepala.
46 Koran Tempo Pembunuhan Sugeng L Korban Tewas Korban ditemukan
2 Februari Slamet dalam keadaan
2011 tewas di Bundaran
Senayan, polisi
tidak menemukan
tanda kekerasan
pada tubuh korban.
47 Warta Kota Tabrak Lari Alimin L Korban Tewas Korban tewas
4 Februari Buyung setelah tertabrak

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 127


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
2011 sepeda motor saat
menyeberang jalan.
48 IndoPos Perampokan Tarno, Edi L Saksi dan Tertekan Aksi perampokan
4 Februari Heriansyah Korban yang dilakukan di
2011 sebuah rumah
mengakibatkan
korban menjadi
tertekan.
49 Koran Tempo Kecelakaan Koko, Dedi L P Korban Tewas dan Kecelakaan maut
4 Februari Saputra, 2 Orang menewaskan
2011 Rika Luka Berat seorang pengemudi
sepeda motor dan
dua lainnya luka
berat.
50 Warta Kota Pembunuhan Jumrotun P Korban Tewas Wanita yang tengah
4 Februari hamil tujuh bulan
2011 dihabisi oleh
kekasihnya karena
mendesak minta
dinikahi.
51 IndoPos Perampokan Ridwan, L Korban Disekap Perampokan terjadi
5 Februari Suhudi dengan cara
2011 menyekap dua
korban.
52 Warta Kota Perampokan Ridwan, L Korban Disekap Perampokan terjadi
5 Februari Suhudi dengan cara
2011 menyekap supir dan
kenek ,obil boks
bermuatan plastik.
53 Kompas Whistleblowe Gayus H L Terdakw Gayus HP
5 Februari r Tambunan a Kasus Tambunan yang
2011 Mafia disangka terlibat
Pajak mafia pajak
kembali menjalani
pemeriksaan KPK.
Gayus mengakui
dia telah
mengungkapkan
semua pihak yang
diduga terlibat di
dalamnya.
54 Kompas Penganiayaan Anjas L Korban Luka-Luka Tiga orang
5 Februari Massal Asmara, mengalami luka

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 128


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
2011 Ardiono, serius setelah
Bambang dianiaya ratusan
Hariono warga yang
menyangka mereka
adalah pelaku
penculikan anak.
55 Koran Tempo Penyerangan Roni, Tarno, L Korban Tewas Anggota Jemaat
7 Februari atas Mulyadi Ahmadiyah
2011 Ahmadiyah kembali menjadi
korban
penyerangan.
56 Koran Tempo Perampokan Manoj L Korban Diancam Lima perampok
7 Februari Kumat membobol rumah
2011 Mishra berlantai dua.
Pelaku membawa
kabur harta benda
korban.
57 Warta Kota Penganiayaan Andri L Korban Tewas Korban tewas
7 Februari yang Kuncoro dikeroyok
2011 Mengakibatka lawannya dari
n Kematian sekolah lain.
58 Warta Kota Pembunuhan Yopie L Korban Tewas Polresto Depok
7 Februari Maipau berhasil meringkus
2011 Nanuk Sihaya (60),
tersangka
pembunuh Yopie
Maipau dalam
tragedy cinta
segitiga
antarmanula.
59 Pos Kota Penganiayaan Sartini P Korban Cedera Seorang tukang
8 Februari memar becak mencekik
2011 leher perempuan
karena memiliki
niat untuk
melampiaskan
nafsu secara gratis.
60 Warta Kota Pelecehan EK P Korban Mengalami Pelecehan seksual
8 Februari Seksual Pelecehan kembali terjadi di
2011 Seksual bus Transjakarta.
61 Pos Kota Tewasnya Ayu Mefta P Korban Tewas Tewasnya
8 Februari seorang Gadis Selviana Mahasiswi yang
2011 Devi belum diketahui

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 129


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
apa penyebabnya.
62 Pos Kota Penganiayaan Daspa, L Korban Tewas dan Kejahatan
8 Februari Berat Yaya Luka-Luka perampas motor
2011 kembali marak di
Karawang.
Pengendara
dibunuh dan yang
dibonceng kritis.
63 Koran Tempo Kealpaan Herman L Korban Tewas Korban tewas
9 Februari yang dalam pengejaran
2011 Mengakibatka operasi lalu lintas.
n Kematian
64 Koran Tempo Kealpaan Ulum L Korban Tewas Seorang polisi
9 Februari yang dipenjara dalam
2011 Mengakibatka kaitan dengan kasus
n Kematian kematian Herman,
Mahasiswa
SEkolah Tinggi
Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Garut.
65 Warta Kota Pencurian Susi Susanti P Korban Diancam Susi Susanti,warga
9 Februari dengan dengan Kampung
2011 Kekerasan Senjata Gabusbulak,
Tajam menjadi korban
pembegalan saat
akan menyetorkan
uang ke bank.
66 Warta Kota Pembunuhan Meti L Korban Tewas Hendri Anton,kuli
9 Februari bangunan
2011 dikomplek Gading
Serpong,Tangerang
ditangkap aparat
Polsek Kelapa Dua
karena diduga
membunuh seorang
waria bernama
Meti.
67 Warta Kota Pembunuhan Wati P Korban Tewas Rahmat Syah,
10 Februari Rohmawati pembunuh
2011 mahasiswi
Universitas Islam
Negeri Jakarta,
Wati Rohmawati,

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 130


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
divonis hukuman
14 tahun penjara
oleh Majelis Hakim
Pengadilan Negeri
Jakarta Pusat.
68 Koran Tempo Pembunuhan Narsih P Korban Tewas Polisi berhasil
10 Februari meringkus Helmi
2011 Subiko,tersangka
pembunuh Narsih
yang bersembunyi
di Karawang.
69 Koran tempo Penyerangan Riky L Saksi Tidak Merasa
10 Februari Ahmadiyah Rahmadan Diberikan dipermainkan
2011 Kesempata karena urung
n Bersaksi mendapat
kesempatan untuk
bersaksi, Riky
Rahmadan dan
massa mengejar
jaksa seusai sidang
kasus penyerangan
dan pembakaran
measjid milik
Jemaat Ahmadiyah
di Kampung
Cisalada, Bogor.
70 Koran Tempo Kecelakaan Muhamad L Korban Tewas Koridor VI Bus
10 Februari yang Rizki Transjakarta ditutup
2011 Mengakibatka Firmansyah terkait tewasnya
n Kematian Muhammad Rizki
Firmansyah, siswa
SD kelas IV.
71 Pos Kota Kecelakaan Vigi L Korban Tewas Seorang pelajar
10 Februari Widyanto Sekolah Menengah
2011 Kejuruan tewas
dilindas truk
kontener di Jalan
Raya Cakung
Jakarta.
72 Pos Kota Pelecehan Fit P Korban Menjalani Motif pencabulan
10 Februari Seksual Visum di yang menimpa
2011 RS Fit,20, warga Desa
Tanjung,

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 131


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
Kabupaten
Pamekasan.
73 Pos Kota Begal Saniman, L P Korban Luka-Luka Petugas Reskrim
10 Februari Ari dan Saksi Ringan Polsek Taktakan
2011 berhasil meringkus
salah seorang
perampas motor
setelah perampas
motor membantai
tukang ojek.
74 Pos Kota Kecelakaan Dumadi L Korban Tewas Kecelakaan di
11 Februari Priyo Jakarta Utara
2011 menewaskan
seorang polisi yang
sedang bertugas.
75 Warta Kota Kecelakaan Priyo L Korban Tewas Kecelakaan di
11 Februari Jakarta Utara
2011 menewaskan
seorang polisi yang
sedang bertugas.
76 IndoPos Tabrakan M.Rizki L Korban Tewas Bus TransJakarta
11 Februari Taufik koridor vi
2011 menabrak siswa SD
M.Rizki Taufik di
lintasan busway
Mampang Prapatan,
Jakarta Selatan.
77 Pos Kota Perampokan M.Taufik L Korban Mengalami Perampokan toko
13 Februari Kerugian emas oleh kawanan
2011 perampok dan
berhasil membawa
kabur perhiasan
emas dan uang
tunai
78 Pos Kota Tabrakan Chairul L Korban Luka-Luka Cameramen Global
13 Februari Anwar TV luka parah
2011 tertabrak Kopaja P
20 jurusan Lebak
Bulus. Massa yang
kesal dengan ulah
sopir,
menghancurkan
Kopaja.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 132


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
79 IndoPos Perampokan Wartono L Korban Luka Parah Perampokan
13 Februari terhadap taksi
2011 dengan modus
berpura-pura
menjadi
penumpang
kembali terjadi di
Jakarta. Korban
mengalami luka
parah.
80 Pos Kota Pencurian Asri P Korban Babak Penjambret
14 Februari dengan Belur digelandang ke
2011 Kekerasan kantor polisi
dengan wajah
babak belur akibat
diamuk massa.
81 Pos Kota Pencurian Yanti P Korban Mahasiswi menjadi
14 Februari dengan korban bandit
2011 Kekerasan jalanan.
82 Pos Kota Penipuan Alloy Faizol L Korban Korban mengalami
14 Februari Burlian kerugian dengan
2011 modus memasang
di iklan baris.
83 Koran Tempo Kejahatan Hady L P Korban Tewas Tabrakan beruntun
16 Februari Lalu Lintas Sumaryo, di Desa Tamansari,
2011 Apli, Rafli, Probolinggo, Jawa
Suleha, Timur
Aminah menyebabkan lima
orang meninggal.
84 Warta Kota Pembunuhan Agnes P Korban Tewas Seorang teman
16 Februari Karisma dekat diduga nekat
2011 membunuh Agnes
Karisma yang
jenazahnya
ditemukan di
selokan Jalan.
85 Pos Kota Pengancaman Fahri L Korban Tertekan Oknum pengacara
16 Februari Husaini dan Luka menganiaya dan
2011 Ringan menodong senjata
api terhadap pelajar
kelas 3 SMU,
ditangkap anggota
Polres Jakarta Utara

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 133


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
.
86 Pos Kota Pembunuhan Fitri Dwi P Korban Tewas Seorang gadis
16 Februari Lestari ditemukan tewas
2011 dengan luka memar
di kepala. Jasadnya
tergolek di bawah
pohon pisang tidak
jauh dari rumahnya.
87 Koran Tempo Penganiayaan Agnes P Korban Tewas Identitas mayat
17 Februari yang Karisma yang ditemukan di
2011 menyebabkan selokan terungkap.
Kematian Korban bernama
Agnes
Karisma,warga
Jalan Kebon Sirih
Jakarta Pusat.
88 Warta Kota Pembunuhan Ubaidillah L Korban Tewas Ubaidillah, saksi
18 Februari Saksi korban yang
2011 mengaku
kehilangan sepeda
motor ditemukan
tewas di dalam
toilet Polsektro
Duresawit, Jakarta
Timur.
89 Warta Kota Bunuh Diri Liong Fu L Korban Tewas Seorang lelaki renta
19 Februari nekat membiarkan
2011 dirinya ditabrak
kereta api hingga
tewas.
90 Pos Kota Pembunuhan Nurayaman L Korban Tewas Nurayaman,
19 Februari dan pengurus panti
2011 Pemerkosaan asuhan yatim piatu
sholawatul falah
ditikam badik orang
yang sedang
berkelahi.
91 Warta Kota Pencurian Elfira Desi P Korban Mengalami Seorang bidan
19 Februari Kerugian mengaku menjadi
2011 Harta korban pencurian
Benda dengan modus ban
goyang.korban
merugi puluhan juta

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 134


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
rupiah.
92 Koran Tempo Ledakan Gas Agus P Korban Tewas Korban ledakan gas
19 Februari Subagio kemasan 3 kilogram
2011 di
Rawamangun,Jakar
ta Timur meninggal
setelah lima hari
dirawat di rumah
sakit Cipto
Mangunkusumo.
93 Koran Tempo Pembunuhan Ridwan L Korban Tewas Sekretaris Kabinet
19 Februari Salamun Dipo Alam
2011 mempertanyakan
tuntutan terdakwa
kasus pembunuhan
wartawan SUN TV
yang hanya delapan
bulan.
94 Pos Kota Kelalaian Yulinar P Korban Korban salah
20 Februari Aparat Hadi Yanti tangkap mengadu
2011 Penegak ke Propam
Hukum didukung Kapolda
Sumatra Utara.
95 Kompas Percobaan Tomia P Korban Keracunan Seorang pembantu
20 Februari Pembunuhan (Tertekan runah tangga
2011 Psikogisny diduga mencoba
a) meracuni
majikannya melalui
minuman yang
dibuatnya dengan
memasukkan
kepingan obat
pengusir nyamuk.
96 Pos Kota Kecelakaan Didi L Korban Tewas Tewasnya
21 Februari pengendara motor
2011 akibat diintas truk
di Jl. RE
Martadinata,
Jakarta Utara.
97 Pos Kota Kekerasan Sunerna L Korban Takut Suami menganiaya
21 Februari Dalam Rumah istri akibat disuguhi
2011 Tangga daging babi.
98 Pos Kota Penodongan Farhan, L P Korban Tertekan Sepasang kekasih

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 135


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
21 Februari Royati berboncengan
2011 motor ditodong
oleh seorang
pemuda yang
berlagak tanya
alamat.
99 IndoPos Pembunuhan Sri Mulyani, L P Korban 4 Tewas Pembunuhan sadis
21 Februari Sri Murni, dan 1 terjadi di
2011 Yuli Luka-Luka Probolinggo, Jawa
Meliana, Timur. Empat
Fredy orang sekeluarga
Yuwono, yang tinggal di ruko
Siti Aisyah Pusaka tewas
dibantai.
100 IndoPos Pencurian Herman L Korban Mengalami Pemilik toko
21 Februari Ekusdi kerugian kelontong di Jalan
2011 Kampung Melayu
mengalami
pencurian hingga
rugi harta benda.
101 Koran Tempo Pembunuhan Jefri L Korban Tewas Umar alias Hasan
22 Februari Adriansyah terdakwa penculik
2011 dan pembunuh
bocah berusia 9
tahun, Jefri
Adriansyah dituntut
15 tahun penjara.
102 Koran Tempo Kelalaian Rusmiyati P Korban Tewas Rusmiyati, 40
22 Februari yang Tahun, tewas
2011 mengakibatka setelah jatuh dari
n Kematian bus yang
dikemudikan secar
ugal-ugalan.
103 IndoPos Pembunuhan Sri Mulyani, L P Korban 4 Tewas Pembunuhan sadis
22 Februari Yuli dan 1 menimpa satu
2011 Meliana, Tertekan keluarga di Kota
Fredy Probolinggo.
Yuwono,
Sri Murni,
Siti Aisyah
104 Pos Kota Pencurian Sumiati P Korban Tewas Wanita korban
22 Februari dengan perampokan,
2011 Kekerasan Sumiati

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 136


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
menghembuskan
nafas terakhir
setelah setengah
jam dirawat di RS
Sido Waras, Jawa
Tmur.
105 Pos Kota Perampokan Agus L Korban Disiksa dan Dua perusahaan
22 Februari Santosa, Dianiaya leasing motor dan
2011 Darman, satu gerai telkomsel
Ribon, di pertokoan
Sodikin diobrak-abrik 5
perampok besenjata
api dan golok.
106 Pos Kota Kecelakaan Dedi, Tendi, L Korban Tewas dan Mobil travel sarat
22 Februari Ismail Luka-Luka penumpang
2011 tabrakan di KM 100
Tol Cipularang.
Akibatnya tiga
orang tewas, dua
luka berat dan
empat lainnya luka
ringan.
107 Warta Kota Perampokan Steven L P Korban Luka-Luka Empat perampok
1 Maret 2011 Kulian, bersenjata pistol
Irene, Po beraksi di rumah
Bun Khiong seorang pengusaha
telepon seluler.
Perampok
menyekap tiga
penghuni rumah.
108 Warta Kota Pembunuhan Endah Indri P Korban Tewas Seorang ibu rumah
1 Maret 2011 tangga ditemukan
tewas dibunuh
dirumahnya.
Korban tewas
dengan kondisi luka
di kepala diduga
akibat hantaman
benda tumpul.
109 Koran tempo Penganiayaan Subandi L Korban Luka-Luka Koresponden Metro
1 Maret 2011 TV dan surat kabar
harian Media
Alkhairaat di Poso,

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 137


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
Sulawesi Tengah,
dikeroyok. Akibat
pengeroyokan itu,
wajah korban
lebam-lebam.
200 Koran Tempo Kekerasan Perempuan P Korban Mengalami Angka kekerasan di
8 Maret 2011 Kekerasan, ranah Negara naik
Pelecehan delapan kali lipat.
Seksual
201 Koran Tempo Penipuan Calon L P Korban Ditipu Kepolisian Resor
9 Maret 2011 Pegawai Kota Kediri
Negeri menangkap sindikat
penipuan berkedok
penerimaan
pegawai negeri
sipil.
202 Koran Tempo Korupsi L Bekas Pejabat
9 Maret 2011 Lumajang
Tersangkut
Korupsi.
203 Koran Tempo Narkoba Narapidana di
10 Maret Lembaga
2011 Pemasyarakatan
Nusakambangan
mengontrol
jaringan peredaran
narkoba
internasional.
204 Koran Tempo Narkoba Iyut Bing P Artis Iyut Bing
10 Maret Slamet Slamet ditangkap
2011 polisi karena
menggunakan
narkotik.
205 Pos Kota Narkoba Mahasiswa Dua mahasiswa
10 maret kaka berafik,
2011 bersama satu
temannya diringkus
aparat Bea Cukai
Bandara Soekarno-
Hatta usai
emngambil paket
kokain senilai
Rp.250 juta.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 138


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
206 The Jakarta Pelanggaran Pujiati P Korban Dipenjara Pujiati
Post Hak Asasi memperingatkan
10 Maret Manusia pemerintah sebagai
2011 tugasnya dalam
melindungi warga
Negara indonesia
dengan melakukan
demonstrasi.
207 Warta Kota Narkoba Bisnis Narkoba,
10 Maret Kalapas pakai
2011 rekening cucu
208 Koran Tempo Narkoba Nurjanah P Korban Terancam Seorang WNI
11 Maret Hukuman terancam Hukuman
2011 Gantung Gantung di
Malaysia
209 IndoPos Korupsi L Gubernur Sumatra
15 Maret Utara tersangkut
2011 kasus
penyalahgunaan
dana APBD periode
2000-2007 akhirnya
duduk di kursi
pesakitan.
210 Koran Tempo Perlindungan Presiden minta
15 Maret Anak perlindungan
2011 hukum anak
ditingkatkan
211 Koran Tempo Terorisme Lutfi L Saksi Saksi Saksi Ubaid akui
15 Maret Haidaroh Perlindung himpun Rp 600 juta
2011 an Baasyir untuk operasional
pelatihan militer di
Aceh.
212 Koran Tempo Narkoba Kepala Lembaga
15 Maret Pemasyarakatan
2011 Nusakambangan,
Jawa Tengah,
akhirnya mengaku
pernah menerima
upeti dari Bandar
narkotik.
213 The Jakarta Terorisme Ulil L Korban Dikirimi Aktivis Jaringan
Post Paket Bom Islam Liberal
16 Maret dikirimin paket

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 139


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
2011 bom buku.
214 Koran Tempo Mafia Pajak Polisi periksa saksi
16 Maret penting kasus gayus
2011 tambunan
215 IndoPos Perkara Anak Anak-anak Korban Kembali Hakim Kembalikan
17 Maret kepada Anak ke Ortu,
2011 Orang Tua proses hukum
bocah yang terlibat
kasus criminal.
216 IndoPos Aktivitas Perempuan L P Korban Akibat angka
17 Maret P2TP2A dan Anak kekerasan pada
2011 perempuan dan
anak yang terus
meningkat.
Aktivitas Pusat
Pelayanan Terpadu
Pemberdayaan
Perempuan dan
Anak meningkat.
217 IndoPos Intimidasi Ibrahim L Korban Merasa Siswa SMK
17 Maret Terganggu mengaku
2011 diintimidasi oleh
guru sekolah lain
dan merasa
terganggu dengan
oknum guru
tersebut.
218 IndoPos Narkoba Peredaran narkoba
17 Maret di lembaga
2011 Pemasyarakatan
Kelas II A kota
Tangerang masih
saja terjadi. Barang
terlarang tersebut
diduga dipasok
pengunjung saat
jam besuk.
219 IndoPos Whistleblowe Agus L Pelapor Mendapat Agus Condro
17 Maret r Condro Perlindung ,tersangka kasus
2011 an suap cek perjalanan
pemilihan Deputi
Gubernur Senior BI
resmi mendapat

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 140


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
perlindungan dari
Lembaga
Perlindungan Saksi
dan Korban.
220 Koran Tempo Narkoba Narapidana
18 Maret Salemba atur
2011 peredaran ekstasi.
Salah satu kurirnya
seorang tentara.
221 Koran Tempo Terorisme Suranto L Saksi Suranto, salah satu
18 Maret saksi dalam kasus
2011 terorisme yang
mendudukkan Abu
Bakar Baasyir
sevagai terdakwa,
mengaku mengenal
Norrdin M Top.
222 Koran Tempo Pelanggaran Charles L Korban Meninggal Komisi Nasional
18 Maret HAM Mali Hak Asasi Manusia
2011 menemukan adanya
pelanggaran HAM
yang dilakukan
anggota Bataliyon
744/SYB di
Atambua,yang
menewaskan
Charles Mali.
223 Koran Tempo Kekerasan Kelompok Korban Mengalami Kasus kekerasan
21 Maret jurnalis,akti Kekerasan terhadap
2011 vis,petani masyarakat masih
dan nelayan cukup marak
selama 2010.
Menurut Ketua
Kontras,kekerasan
tersebut dilakukan
oleh Negara
ataupun masyarakat
mayoritas terhadap
golongan minoritas.
224 Warta Kota Narkoba Napi
22 Maret Nusakambangan
2011 kendalikan narkoba
225 Warta Kota Perlindungan Arumi P Korban Arumi Bachsin

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 141


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
22 Maret Anak Bachsin gagal dibawa
2011 pulang ke
orangtuanya.
226 Warta Kota Narkotika WN Italia
25 Maret selundupkan 4,3 Kg
2011 sabu-sabu
227 The Jakarta Whistleblowe Susno Duaji L Saksi Hukuman Susno Duaji
Post r Pelapor Penjara mendapat hukuman
25 Maret penjara 3,5 tahun
2011 dalam kasus mafia
pajak.
228 IndoPos Korupsi Susno Duaji L Saksi Hukuman Terbukti suap-
25 Maret Pelapor Penjara korupsi Susno
2011 Duaji dihukum 3,5
tahun penjara.
229 IndoPos Whistleblowe Khairiansya L Saksi Ditahan Nasib
25 Maret r h Salman, Pelapor Whitsleblower
2011 Vincentius kasus korupsi
Amin
Sutanto,
Misbakhum,
Agus
Condro
230 Koran Tempo Korupsi Susno Duaji L Saksi Penjara Divonis 3,5 tahun
25 Maret Pelapor penjara, Susno
2011 banding.
231 Warta Kota Teror Bom Rumah Korban Diteror Teror bom kembali
25 Maret Sakit Karya Bom terjadi,kali ini yang
2011 Bhakti emnjadi sasaran
Bogor adalah RS Karya
Bhakti Bogor.
232 Warta Kota Teroro Bom SDN 03 Korban Diteror Gedung SD di
25 Maret Sukabumi Bom Kebon Jeruk
2011 Selatan diancam bom
233 Koran Tempo Kekerasan Anak-anak Korban Disodomi Sodomi dominasi
26 Maret Anak kekerasan anak tiga
2011 bulan terakhir.
234 IndoPos Perlindungan Arumi P Korban Keberadaan Arumi
26 Maret Anak Bachsin Bachsin masih
2011 belum diketahui.
235 Pos Kota Narkoba Pasutri sebar 100
27 Maret pengedar shabu di
2011 Jakarta.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 142


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
236 Pos Kota Pembunuhan Zulkarnaen L Korban Tewas Dua bandit
27 Maret Freddy menikam mati supir
2011 taksi
237 IndoPos Narkoba Putri P Korban Kecanduan Putri, cucu mantan
28 Maret Aryanti Narkoba presiden Soeharto
2011 Haryowibo ditangkap akibat
wo mengkonsumsi
narkoba.
238 Pos Kota Narkoba L Dua pria WN
28 Maret Liberia diringkus
2011 pada saat memakai
sabu.
239 Warta Kota Narkoba Putri P Korban Kecanduan Putri, cucu mantan
28 Maret Aryanti Narkoba presiden Soeharto
2011 Haryowibo ditangkap akibat
wo mengkonsumsi
narkoba.
240 Warta Kota Penculikan 2 Korban Diculik dan Polisi mendalangi
29 Maret Mahasiswa diminta penculikan 2
2011 uang mahasiswa.
tebusan
241 Koran Tempo Korupsi RUU Tipikor
30 Maret lemahkan
2011 pemberantasan
korupsi.
242 Koran tempo Penipuan Nasabah Korban Dirugikan Citibank Indonesia
30 Maret Citibank siap mengganti
2011 kerugian nasabah
korban penipuan
karyawan Citibank
berinisial MD.
243 Koran Tempo Fitnah Yusuf L Korban Diancam Yusuf serahkan
30 Maret (Ancaman) Supendi bukti ancaman ke
2011 polisi
244 Koran Tempo Teroris Umar L Tersangka teroris
30 Maret Patek Umar patek
2011 dikabarkan
tertangkap di
Pakistan.
245 Warta Kota Penipuan Lie Charles L Korban Dirugikan Polisi menangkap
30 Maret WN India penipu
2011 pemilik mobil
mewah

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 143


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
246 Warta Kota Narkoba BNN mengungkap
30 Maret jaringan pengedar
2011 sabu-sabu
internasional yang
menyelundupkan
sabu dalam kapsul.
247 Pos Kota Penipuan Rico L Korban Mengalami Korban penipuan
31 Maret Erawan Kerugian yang diduga
2011 Usman and dilakukan oleh
Hadianto anggota citra
Rijianto bhayangkara minta
perlindungan
hukum.
248 Pos Kota Narkoba 20 napi diduga
31 Maret mengkonsumsi
2011 shabu
249 IndoPos Pembunuhan Suwito dan L P Korban Dibunuh Pasutri menjadi
31 Maret Dora Halim korban
2011 pembunuhan
250 Koran Tempo Geng Umar Patek
31 Maret Terorisme masih aktif
2011
251 Koran Tempo Kekerasan Tokoh Korban Mengalami Rumah tokoh
31 Maret Ahmadiyah Luka ahmadiyah dirusak
2011 massa
252 Koran Tempo Terorisme Terdakwa teroris
1 April 2011 remaja dituntut 4
tahun penjara
253 Koran Tempo Pembunuhan Irzen Octa L Korban Meninggal Meninggalnya
2 April 2011 nasabah Citibank
akibat perlakuan
buruk debt
collector.
254 Pos Kota Pembunuhan Empat kasus
2 April 2011 pembunuhan dalam
empat bulan yang
terjadi di Kota
Tangerang dan
Kabupaten
Tangerang.
255 The Jakarta Kekerasan Anak-AnaK Korban Mengalami Kekerasan terhadap
Post Anak Kekerasan anak meningkat.
6 April 2011 Meningkat

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 144


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
256 Warta Kota Penganiayaan Dayang P Korban Terkena Komnas PA
6 April 2011 Cantikasari pukulan menangarai banyak
sebanyak 6 kejanggalan dalam
kali di pengusutan kasus
tulang penganiayaan atas
rusuk dan Dayang
ulu hati Cantikasari.
257 Pos Kota Debt Irzen Octa L Korban Meninggal Korban debt
4 April 2011 Collector collector diminta
melapor
258 IndoPos Korban Adli Mukti L Korban Dirugikan Pengakuan korban
11 April 2011 Pelayanan Pihak pelayanan publik :
Publik Pemprov petugas
DKI nomorsatukan calo
260 Warta Kota Kecelakaan Mulyadi dan L Korban Meninggal Dua korban
11 April 2011 Maut Wahyu Dunia kecelakaan maut
mobil pengawal
pribadi kementrian
kelautan dan
perikanan mendapat
santunan berupa
uang tunai.
261 IndoPos Perlindungan Seratus Korban Meminta Seratus lebih
11 April 2011 Produsen Perlindung produsen kosmetika
Kosmetika an Hukum kesehatan dan
Kesehatan menengah minta
perlindungan
hukum dari Kapolri
dan pemerintah.
262 Pos Kota Penculikan Lian P Korban Mengalami Korban diteror bila
11 April 2011 Febriani Teror melapor

263 Pos Kota Perampokan Deni, Vero L P Korban Diikat dan Perampokan terjadi
14 April 2011 Kamila, Diancam di sebuah rumah
Luki, tiga Dibunuh dengan cara
pembantu menyekap pemilik
rumah.
264 Koran Tempo Penyerangan Dede Novi, L Tersangk Enam Perusak masjid
14 April 2011 dan Aldi a Bulan Ahmadiyah
Pengrusakan Alpriansyah Penjara dihukum
Ahmadiyah percobaan.
265 Warta Kota Terorisme Abu Bakar L Tersangk Menjalani Kasus Baasyir
14 April 2011 Baasyir a Persidanga positif teror

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 145


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
n
266 Warta Kota Pembunuhan Lo Tirta L P Korban Meninggal Pembunuh ortu
14 April 2011 Karya, Sho Dunia mengaku sakit hati
Indah Rani
267 Rakyat Penipuan Mantan L Korban Dirugikan Ada bekas pejabat
Merdeka Pejabat jadi korban
14 April 2011 Malinda
268 Warta Kota Kekerasan Arumi P Korban Mengalami Mengaku alami
15 April 2011 Anak Bachsin kekerasan kekerasan Arumi
psikis, tetap Misterius.
ekonomi
dan seksual
dalam
keluarga
269 Koran Tempo Terorisme AKBP L Korban Luka-Luka Bom dilingkarkan
16 April 2011 Herukoco di perut korban luka
dan 28 karena lontaran
orang paku
lainnya
270 Koran Tempo Terorisme Pelaku bom
17 April 2011 Cirebon diduga
jaringan local,tokoh
agama meminta
umat tenang.
271 IndoPos Terorisme Bomber Cirebon
17 April 2011 pembunuh TNI
272 Koran Tempo Penembakan Surip L Korban Luka Penembakan warga
18 April 2011 Supangat, Tembak,Lu kebumen dikecam.
Mustofa, ka Presiden didesak
Aris Panji, Pukul,Pata membentuk tim
Mulyanto, h Tulang independen.
Salwandi,
Samsudin,
Kusriyanto,
Kasantri,
Martijo,
Ilyas
273 Warta Kota Terorisme Kopral L Korban Dibunuh Pelaku bom
18 April 2011 Kepala Cirebon diburu
Sutedjo,Ang polisi sejak awal
gota april karena diduga
Koramil membunuh anggota
TNI setelah mereka

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 146


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
cekcok di sebuah
gubuk.
274 Warta Kota Narkoba Janda jadi pengedar
19 April sabu
2011
275 IndoPos Terorisme Densus buru guru
19 April 2011 bomber Cirebon
276 The Jakarta Pencucian Penandatangan
Post Uang MOU
19 April 2011 LPSK,PPATK dan
Kepolisian RI.
277 Koran Tempo Kekerasan Helmy L Korban Meninggal Kekerasan oleh
20 April 2011 Yohanes Dunia nasabah, penagih
Manuputy mengadu ke
komnas HAM.
278 Koran Tempo Penipuan 10 Korban Otaknya Mahasiswa korban
20 April 2011 Mahasiswa dicuci dan penipuan berkedok
Universitas hilang agama hilang.
Muhammad
iyah Malang
279 Koran Tempo Terorisme Pola teror bergeser
20 April 2011 ke kelompok kecil
280 Warta Kota Terorisme Lima pelaku bom
21 April 2011 buku diburu
281 IndoPos Kekerasan Kekerasan Tak semua
21 April 2011 Dalam Rumah terhadap perempuan
Tangga perempuan merdeka
meningkat
282 Warta Kota Pembunuhan David L Korban Dibunuh Tiga tersangka
21 April 2011 Riyadi membunuh siswa
SMP atas nama
David Riyadi
283 IndoPos Korban Baiat Mahasiswa Korban Diperas Para korban diajari
23 April 2011 NII Universitas menipu orang tua
Muhammad dengan alasan
iyah Malang untuk mendapatkan
uang sumbangan.
284 Warta Kota Korupsi Adhyaksa curigai
24 April 2011 ada rekayasa dalam
kasus korupsi
Kemenpora
285 Warta Kota Terorisme Pelaku bom
24 April 2011 Serpong berencana

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 147


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
akan menyiarkan
peledakan bom
melalui televisi.
286 Koran Tempo Kekerasan Warga Korban Tertembak Kasus Kebumen :
26 April 2011 TNI-Warga Setrojenar, dan Luka- enam warga masih
Kebumen Luka ditahan
Jawa
Tengah
287 Koran Tempo Terorisme Mahasiswa Korban Dicuci Pulau Jawa jadi
26 April 2011 Otak target perekrutan
NII
288 IndoPos Kekerasan Perempuan Korban Pemerkosa Kasus kekerasan
26 april 2011 Perempuan Dewasa,rem an,peleceha perempuan
aja dana n meningkat
anak-anak seksual,KD
RT
289 Koran Tempo Manipulasi Hidayat L Saksi Saksi ungkap kasus
27 April 2011 Pajak Asian Rahardjo,Su manipulasi
Agri kanto keuangan Asian
Tanoto, Agri
Vincentius
Amin
Sutanto
290 Pos Kota Organisasi Nurhidayah, L P Korban menghilang Sepuluh mahasiswa
28 April 2011 Negara Islam Dori hilang diduga ikut
Indonesia Israwani NII setelah
Siregar, mengikuti
Yulimayasa pengajian di
ri, Harni lingkungan
Purnama kampus.
Ningsih
291 IndoPos Penyuapan Rosalina L P Korban Mengalami Pengacara Rosalina
29 April 2011 (Korupsi) dan teror diteror
Komarudin
292 Koran Tempo Suap Mirdo P Saksi Terancam Tersangka suap di
29 April 2011 Kemenpora Rosalina kemenpora minta
Manulang perlindungan.
293 Koran Tempo Kasus Asian Vincentius L Saksi Satgas awasi sidang
29 April 2011 Agri Amin Asian Agri
Sutanto
294 Koran Tempo Kasus Asian Eddy Lukas L Saksi Kesulitan Jaksa kesulitan
6 Mei 2011 Agri Menghadir menghadirkan saksi
kan Saksi

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 148


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
295 Indopos Perampokan Yanti P Korban Terkena Kawanan
7 Mei 2011 tembakan perampokan
menembak
perempuan
pengemudi Jazz
dan mengambil tas
berisi uang senilai
Rp 200rb
296 Warta Kota Pembunuhan Wiwik P Korban Dibunuh Pedagang sembako
7 Mei 2011 a/n Wiwik tewas
dibunuh setelah
memergoki pencuri
yang masuk ke
kamarnya.
297 Warta Kota Pembunuhan Solahudin P Korban Dibacok Pelajar kelas I a/n
7 Mei 2011 Solahudin tewas
mengenaskan
dengan luka bacok
dip aha kiri dan
lengan kanan.
298 Koran Tempo Penganiayaan Dores L Korban Mengalami Dua anggota TNI
14 Mei 2011 Febriawan luka-luka ditahan akibat
menganiaya pelajar
SMA.
299 Indopos Trafficking Novita dan P Korban Diculik 2 gadis remaja
19 Mei 2011 Erna namun diculik oleh pria tak
berhasil dikenal diduga akan
lolos dijual ke luar
negeri.
300 Koran Tempo Penipuan Inggrid P Korban Rugi Harta Kepolisian Sektor
20 Mei 2011 Wongso benda Metro Gambir
Wong meringkus
komplotan penipu
dengan hipnotis.
301 Pos Kota Perlindungan Arumi P Korban Kembali Arumi Bachsin
21 Mei 2011 Anak Bachsin kepada kembali kepada
Orang Tua orang tua setelah 6
bulan kabur.
302 IndoPos Perlindungan Arumi P Korban Dibawa Setelah 7 bulan
21 Mei 2011 Anak Bachsin pulang berada dalam
keluarga perlindungan LPSK
Arumi Bachsin
kembali kepada

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 149


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
keluarganya.
303 Koran Tempo Pelecehan Li P Korban Mengalami Seorang perempuan
21 Mei 2011 seksual pelecehan mengaku
seksual mengalami
pelecehan seksual
oleh Bupati
Bengkulu Selatan.
304 Warta Kota Perlindungan Arumi P Korban Kembali Arumi Bachsin
21 Mei 2011 Anak Bachsin kepada akhirnya kembali
keluarga ke pelukan
keluarga.
305 Indopos Perlindungan Arumi P Korban Arumi Bachsin
23 Mei 2011 Anak Bachsin mendapat wejangan
dari Ibu Menteri
Negara
Pemberdayaan
Perempuan dan
Perlindungan Anak.
306 Koran Tempo Penganiayaan Marlena dan P Korban Luka Berat Kepolisian Resor
23 Mei 2011 Dwi Fitri Kota Besar
Surabaya empat
anggota keluarga
diduga menganiaya
tiga pembantunya.
307 Warta Kota Perlindungan Arumi P Korban Orang tua Arumi
24 Mei 2011 Anak Bachsin Bachsin berencana
untuk melaporkan
Seto Mulyadi,
Gufron dan Hadi
Supeno ke polisi
yang didasari
keluarnya SP3 dari
polda Metro Jaya
308 Warta Kota Pemerkosaan SJ dan SK P Korban Mengalami Dua siswi SMP
24 Mei 2011 pemerkosa diduga menjadi
an korban perkosaan
dua oknum guru di
sekolahnya.
309 Pos Kota Pembunuhan Nurfadilah P Korban Tewas Gadis cantik
25 Mei 2011 ditemukan tewas
dikamarnya.
310 Koran Tempo Penembakan Januar P Korban Tewas Tiga polisi diserang
26 Mei 2011 Yudhistira dan dua tewas

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 150


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
Pranata dan tertembak saat
Andi Irbar berjaga di kantor
Prawira bank.
311 Pos Kota Keterangan 130 Saksi Saksi Memberikan saksi
28 Mei 2011 Saksi pada persidangan
dugaan korupsi
Walikota non aktif
Bekasi.
312 Warta Kota Perampokan Wahyuni P Korban Terkena Tiga perampok
28 Mei 2011 luka bacok remaja mengenakan
dan memar seragam sekolah
di kepala melukai seorang
nenek.
313 Warta Kota Penganiayaan Paul L Korban Mengalami Turis asal Belanda
28 Mei 2011 Mommers Penganiaya dianiaya pencuri
an
314 IndoPos Penipuan Rahma P Saksi Saksi merasa tak
31 Mei 2011 Soraya dirugikan oelh
tersangka
315 Warta Kota Penganiayaan Tidak Korban Tewas Mayat tak dikenal
31 Mei 2011 diketahui dibungkus kantung
identitasnya plastic besar
ditemukan diduga
terkait
penganiayaan.
316 Pos Kota Pencurian Pensiunan L Korban Mengalami Lelaki S2 menguras
31 Mei 2011 Jenderal kerugian harta pensiunan
harta benda jenderal
317 Koran Tempo Penembakan Sholat L Korban Terkena Komnas HAM
1 Juni 2011 Batubara tembakan desak investigasi
penembakan warga
318 Pos Kota Pembunuhan Son Hadji L Korban Tewas Berutang uang
1 Juni 2011 200juta dirut bunuh
kommisaris utama
319 Warta Kota Narkoba WN Malaysia nekat
1 Juni 2011 menyelundupkan
heroin dan berhasil
ditangkap aparat
bea cukai
320 Rakyat Perlindungan Anak-Anak Korban KPAI menemukan
Merdeka Anak Anak-anak
3 Juni 2011 dijadikan informan
atau mata-mata di

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 151


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
daerah konflik
321 Rakyat Sengketa Saksi Saksi menjalani
Merdeka Pilkada pemeriksaan pada
3 Juni 2011 siding
sengketapilkada
kabupaten Morotai,
Maluku Utara
322 Rakyat Sidang Agus LPSK memberikan
Merdeka Condro perhhatian kepada
5 Juni 2011 Agus Condro,
terdakwa kasus
suap travel cek
323 Rakyat Penembakan M dan D L Korban Tewas Dua pembunuh
Merdeka polisi poso tewas
5 Juni 2011
324 Indopos Kasus Antasari L Korban Antasari dinilai
5 Juni 2011 Antasari korban peradilan
sesat
325 Warta Kota Pembunuhan Lukman L Korban Tewas Teman ditagih
6 Juni 2011 Hakim utang, paman
bunuh sepupu
326 Warta Kota Perampokan Endang P Korban Terluka Perampok
7 Juni 2011 Susilawati Parah bertopeng aniaya
pemilik toko
327 Warta Kota Kejahatan Kualitas kejahatan
8 Juni 2011 di ibukota
meningkat.
328 Warta Kota Penembakan Tarsudin L Korban Tewas Tabrak bus,pencuri
7 Juni 2011 dan Edi mobil tewas
ditembak polisi
329 Indopos Penembakan Edi Suhaedi L Korban Terkena PNS jadi korban
7 Juni 2011 Tembakan salah tembak polisi
330 Warta Kota Pembacokan Yaya L Korban Luka Parah Pengedara sepeda
8 Juni 2011 Suyana motor dihujani
bacokan
331 Warta Kota Penganiayaan Cahyo L Korban Tangan Kameramen MNC
8 Juni 2011 Wirawan Kiri Patah TV dianiaya
332 Pos Kota Pembunuhan Dulkarim L Korban Tewas Bapak dan anak
8 Juni 2011 membantai
tetangga, korban
dibunuh saat
hendak haji
333 Warta Kota Penipuan IR L Korban Rugi Harta Dokter Ditipu

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 152


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
9 Juni 2011 Benda Janda dengan
modus undian
berhadiah
334 Koran Tempo Kasus Agus Agus Condro
9 Juni 2011 Condro benarkan tuntutan
jaksa. Menghukum
whistle blower
berpotensi
membuat orang
takut melaporkan
kasus korupsi
335 Koran Tempo Bentrokan Nadin L Korban Warga dan anggota
13 Juni 2011 Warga TNI bentrok di
Cileungsi dipicu
oleh tembok hotel
yangmenutupi jalan
di tanah adat.
336 Warta Kota Pembunuhan Mathias L Korban Tewas Pembunuhan
14 Juni 2011 Mathias, enam
saksi diperiksa
337 Koran Tempo Korupsi Suharno L Korban Terluka Polisi selidiki
14 Juni 2011 Parah percobaan
pembunuhan
pelapor korupsi
338 Koran Tempo Penganiayaan Nadin L Korban Mengalami Lima anggota TNI
14 Juni 2011 Pemukulan masih diperiksa
akibat bentrokan
Cileungsi.
339 Koran tempo Korupsi Suharno L Pelapor Luka Berat Kepolisian Resor
15 Juni 2011 Madiun melindungi
pelapor kasus
korupsi
340 Koran tempo Whistleblowe Suharno L Pelapor Luka Berat Lembaga
16 Juni 2011 r Perlindungan Saksi
dan Korban
Lindungi pelapor
kasus korupsi.
341 Kompas Whistleblowe Agus L Pelapor Mendapat Vonis terhadap
17 Juni 2011 r Condro hukuman 1 Agus Condro
tahun 3 mencederai
bulan keadilan dan
membaut orang
enggan melaporkan

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 153


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
kasus korupsi
342 Koran Tempo Whistleblowe Agus L Pelapor Mendapat Hukuman untuk
17 Juni 2011 r Condro hukuman 1 Agus Condro
tahun 3 Disesalkan
bulan
343 Media Whistleblowe Agus L Pelapor Mendapat Hukum belum
Indonesia r Condro hukuman 1 lindungi
17 Juni 2011 tahun 3 pengungkap
bulan korupsi
344 Koran tempo Whistleblowe Agus L Pelapor Mendapat Agus Condro
18 Juni 2011 r Condro hukuman 1 menerima putusan
tahun 3 hakim
bulan
345 Kompas Whistleblowe Agus L Pelapor Mendapat Ketua LPSK AH
18 Juni 2011 r Condro hukuman 1 Semendawai
tahun 3 sayangkan vonis
bulan yang menimpa
Agus Condro
346 Sumatera Konsultasi Bisakah minta
Ekspres Hukum perlindungan
347 Koran Tempo Whistleblowe Wa Ode P Pelapor Mendapat Kalangan pegiat
20 Juni 2011 r sanksi anti korupsi
menentang rencana
Badan Anggaran
DPR menjatuhkan
sanksi kepada
anggota DPR,Wa
Ode Nurhayati.
348 Media Whistleblowe Wa Ode P Pelapor terintimida LPSK menilai
Indonesia r si Badan Kehormatan
21 Juni 2011 DPR intimidasi Wa
Ode
349 Kompas Perlindungan Ruyati P Korban Hukuman Pemerintah Akui
21 Juni 2011 TKI Gantung kecolongan
terhadap kasus
eksekusi Ruyati
350 Kompas Whistleblowe Agus L Pelapor Mendapat Peniup pluit belum
21 Juni 2011 r Condro hukuman 1 mendapat tempat
tahun 3
bulan
351 Kompas Korupsi Suharno L Pelapor Luka Berat Perjuangan
22 Juni 2011 antikorupsi tak
gentar meski

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 154


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
bersimbah darah
352 Kompas Korupsi Suharno L Pelapor Luka Berat LPSK mengabulkan
23 Juni 2011 permohonan
perlindungan untuk
Suharno
353 The Jakarta Whistleblowe Agus L Pelapor Mendapat Price too high for
Post r Condro hukuman 1 whistleblowers :
24 Juni 2011 tahun 3 agency
bulan
354 Koran Tempo Bentrok Dominggus L Korban Tewas Dua Kelompok
25 Juni 2011 Warga Laka, Yakob warga bentrok, lima
Komba tewas.
Manu,
Yakob Bili,
Simon Bulu,
Arnoldus
Pang

355 Warta Kota Penyerangan Mohamad L Korban Luka Parah Pria bercadar
27 Juni 2011 Mildan&Edi serang 2 remaja
356 Warta Kota Perlindungan Arumi P Korban Arumi Bachsin
28 Juni 2011 Anak Bachsin diperiksa polisi
sebagai saksi kunci
357 IndoPos Mafia Pemilu Marissa P Korban Gagal Marissa Haque
2 Juli 2011 Haque menjadi menajdi korban
caleg mafia pemilu
358 IndoPos Profil Abdul Ketua LPSK :
3 Juli 2011 Haris Mencegah Hak
Semendawai Rakyat yang
Dikebiri
359 Pos Kota Trafficking 4 Orang Korban 27 warga Sukabumi
4 Juli 2011 menjadi korban
perdagangan
manusia
360 Koran Tempo Trafficking 37 anak Korabn disekap PJTIKI diduga
5 juli 2011 menyekap 37 anak
dibawah umur yang
akan dikirimkan ke
Arab Saudi.
361 Koran Tempo Trafficking Perempuan P Korban Calo trafficking
5 Juli 2011 muda berkeliaran di
lulusan Majalengka
SMP/SMA

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 155


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
362 Koran Tempo Penyekapan 30 Anak P Korban Disekap Polisi periksa
6 Juli 2011 Anak-Anak direktur perusahaan
jasa tenaga kerja
indonesia terkait
dugaan penyekapan
anak-anak
363 Koran Tempo Pelanggaran Warga Korban terluka Kasus pelanggaran
7 Juli 2011 HAM Wotgalih HAM di Wotgalih
warga akan eminta
rekomendasi itu
secepatnya
364 Koran Tempo Penyekapan 30 Anak Korban Disekap Dugaan
7 Juli 2011 Anak penyekapan anak-
anak ditemukan
unsur pidana
365 Warta Kota Trafficking Perempuan P Korban Mengalami Kasus Trafficking
7 Juli 2011 dan Anak KDRT di Jabar Tinggi
366 Koran Tempo Konflik Ahmad L Korban Tewas Konflik lahan di
7 Juli 2011 Lahan Adam Jambi bagai api
dalam sekam
367 Koran Tempo Whistleblowe Agus L Pelapor Penjara Satgas bantu
8 Juli 2011 r Condro ringankan hukuman
Agus Condro
368 Kompas Korupsi Tayasmen L Korban Intimidasi LPSK siap lindungi
12 Juli 2011 Dunia Kaka pelapor korupsi
Pendidikan sekolah
369 Kompas Mafia Pemilu 4 Saksi Saksi diperiksa Empat saksi kasus
12 Juli 2011 surat palsu MK
akan dilindungi
LPSK
370 The Jakarta Korupsi Tayasmen L Korban Intimidasi Foto Ketua LPSK
Post Dunia Kaka dan Tayasmen
12 Juli 2011 pendidikan Kaka
371 Warta Kota Korupsi Tayasmen L Korban Intimidasi Laporkan Korupsi
12 Juli 2011 Dunia Kaka Sekolah kepada
Pendidikan LPSK
372 Kompas Whistleblowe Agus L Pelapor Penjara Pelapor pelaku
13 Juli 2011 r Condro mendapat
keringanan
hukuman
373 The Jakarta Whistleblowe LPSK to host talk
Post r Seminar on witness
16 Juli 2011 protection

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 156


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
374 Kompas Seminar LPSK adakan
18 Juli 2011 Whistleblowe seminar
r Whistleblower
375 Kompas Whistleblowe Agus L Pelapor Penjara Penegak hukum
19 Juli 2011 r Condro beri keringanan
bagi pelaku pelapor
376 Koran Tempo Whistleblowe Agus L Pelapor Penjara Agus Condro di Sel
19 Juli 2011 r Condro Khusus
377 The Jakarta Whistleblowe Whistleblower to
Post r get better protection
20 Juli 2011
378 Koran tempo Whistleblowe Penegak hukum
20 Juli 2011 r sepakat lindungi
pelapor kejahatan
379 Pos Kota Whistleblowe Mahkamah Agung
20 Juli 2011 r akan ringankan
hukuman bagi
whistleblower
380 Media Whistleblowe Whistleblower
Indonesia r dapat keringanan
20 Juli 2011 hukuman
381 Kompas Whistleblowe Disepakati,
20 Juli 2011 r penguatan
perlindungan
382 Koran tempo Whistleblowe (Foto) Melindungi
20 Juli 2011 r pelapor pertama
383 IndoPos Whistleblowe Sean HORE L Pelapor Tewas Sang
20 Juli 2011 r Whistleblower
tewas di kediaman
384 Koran Tempo Whistleblowe Vincentius L Pelapor Menerima Pelapor kasus
21 Juli 2011 r Amin hukuman Asian Agri ajukan
Sutanto penjara grasi
385 Trust Whistleblowe Susno Duaji L Pelapor Menerima Whistleblower
21 Juli 2011 r hukuman mendapat hukuman
penjara ringan
386 Koran Tempo Pelanggaran Yoga L Pelapor Dikeluarka Sekolah pemecat
21 Juli 2011 HAM Prakoso dan n dari bocah kembar
Yogi sekolah melanggar HAM
Prakoso
387 Koran Tempo Kekerasan Anak-Anak L Korban Mengalami Kekerasan seksual
25 Juli 2011 Anak kekerasan terhadap anak
seksual meningkat
388 Koran Tempo Penganiayaan Amri L Korban Luka berat Wartawan harian

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 157


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
25 Juli 2011 Amrullah republika dianiaya
389 Koran Tempo Penembakkan Saiful L Korban Tewas Polisi usut
25 Juli 2011 Husein penembakan
mantan panglima
GAM
390 Koran tempo Kekerasan Perempuan P Korban Mengalami Kasus kekerasan
26 Juli 2011 Seksual dan Anak kekerasan terhadap anak dan
seksual perempuan di kota
cirebon tercatat 219
kasus selama satu
tahun
391 Koran Tempo Penembakkan Warga L Korban Tewas dan Aksi penembakan
Selasa, 2 Papua dan Luka-luka terjadi di wilayah
Agustus 2011 TNI kampung nafri
jayapura papua
mengakibatkan
empat orang tewas
392 Warta Kota Bentrokan 19 orang Korban Tewas Bentrokan antar
Selasa, 2 Warga warga dipicu
Agustus 2011 masalah pilkada di
kampong kimak,
kabupaten puncak
papua menewaskan
19 orang
393 Koran Tempo Bentrokan Martin L Korban Tewas Bentrokan antar
Rabu, 3 Warga Dapatalu, warga di nusa
Agustus 2011 Lodowik tenggara timur
Dapatalu, menyebabkan tiga
Aprianus orang tewas
Wungalero
Koran Tempo Whistleblowe Agus L Saksi Mendapat Agus Condro
Rabu, 3 r Condro Pelapor hukuman Ditahan di Alas
Agustus 2011 Roban
394 Media Korupsi Bedah editorial
Indonesia Lindungi Aan
Sabtu, 6
Agustus 2011
Kaltim Post Perlindungan Minim laporan
Sabtu, 6 Saksi dan saksi-korban dari
Agustus 2011 Korban Kaltim
Media Korupsi Nazaruddin L SBY minta ungkap
Indonesia keterlibatan kader
Selasa, 9 demokrat

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 158


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
Agustus 2011
Koran Tempo Korupsi Nazaruddin L Tersangk LPSK jajaki Nazar
Rabu, 10 a jadi Whistleblower
Agustus 2011
Koran Tempo Korupsi Nazaruddin L Tersangk LPSK diminta
Rabu 10 a bergerak cepat
Agustus 2011 untuk lindungi
nazaruddin
The Jakarta Korupsi Nazaruddin L Tersangk Nazarudin
Post a menggunakan
Rabu, 10 paspor
Agustus 2011 keponakannya
untuk bepergian
selama dalam masa
pencariannya
395 Pos Kota Whistleblowe Bongkar mafia
Kamis, 11 r proyek pemerintah
Agustus 2011 bisa jadi whistle
blower
396 IndoPos Nazar mafia
Kamis, 11 Korupsi anggaran dimana-
Agustus 2011 mana
Indopos Nazaruddin L Tersangk Istana Negara tak
Minggu, 14 Korupsi a setuju Nazaruddin
Agustus 2011 dilindungi LPSK
karena tidak
menunjukkan itikad
baik untuk
bekerjasama
mengungkap kasus
Koran Tempo Nazaruddin L Tersangk LPSK siap lindungi
Senin, 15 Korupsi a Nazaruddin
Agustus 2011
397 Koran Tempo Penembakan Belum Tewas Kontak senjata
Kamis, 18 diketahui mengakibatkan satu
Agustus 2011 anggota separatis
terjadi di Dogiyai,
Papua
398 The Jakarta MOU LPSK-
Post OMBUDSMAN
Jumat, 19 melakukan
Agustus 2011 penandatanganan
MOU

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 159


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
399 Media Korupsi Anas desak KPK
Indonesia terbuka soal
Minggu, 21 intervensi DPR
Agustus 2011
400 Forum Wawancara LPSK sulit
Keadilan dengan Ketua berperan dalam
18/22 LPSK kasus nazaruddin
Agustus-4
september
2011
Koran Tempo Pembunuhan Anggota L Korban Tewas Seorang anggota
Rabu, 24 TNI TNI dibunuh di
Agustus 2011 Abepura
Koran Tempo Penembakan 2 warga L Korban Tewas Penembakan di
Jumat, 26 Tiaka, empat polisi
Agustus 2011 diperiksa
Warta Kota Pembunuhan Syafarudin L Korban Tewas Pemuda ditemukan
Sabtu, 27 tewas karena
Agustus 2011 menderita luka
bacok
Koran Tempo Pembunuhan Livia P Korban Tewas Kepolisian Resor
Sabtu,27 Jakarta Barat
Agustus 2011 menangkap pelaku
pembunuhan
seorang mahasiswi
Universitas Binus.
Indopos Pembunuhan M. Syahri L Korban Tewas Pembunuhan yang
Jumat, 2 dilakukan seorang
September anak terhadap
2011 ayahnya
Koran tempo Whistleblowe ICW usulkan
Jumat, 2 r pemberian remisi
September hanya bagi pelaku
2011 korupsi yang juga
menjadi
whistleblower
Koran Tempo Kerusuhan Suhairman P Tersangk Kapolres Morowali
Jumat, 2 a terancam diberi
September sanksi
2011
Koran Tempo Kerusahan 19 personel Terperiks 19 personel polisi
Sabtu, 3 polisi a terperiksa dalam
September kasus kerusuhan di

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 160


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
2011 anjungan minyak
milik konsorsium
badan operasi
bersama.
Warta Kota Penyiksaan Ane P Korban Mengalami Seorang istri
Rabu, 7 penyiksaan melapor ke polisi
September karena disiksa
2011 suami
Pos Kota Intimidasi Wiwik P Saksi Trauma Dibentak penyidik,
Sabtu, 10 saksi pemalsu tanda
September tangan trauma
2011
Warta Kota Penganiayaan 2 Wartawan Korban Dianiaya Liput Sidang, Dua
Sabtu, 10 wartawan dianiaya
September
2011
Indopos Calon Perpanjang
Selasa, 13 Anggota penerimaan calon
September LPSK anggota
2011
Pos Kota Pembunuhan Amin L Terdakw Pembunuh tentara
Rabu, 14 a diadili
september
2011
Pos Kota Penggelapan Willy L Saksi Dirugikan Saksi kasus
Rabu, 14 Dana Karamoy penggelapan dana
September mengalami
2011 kerugian harta
benda
Suara Persidangan Antasari L Terpidan Antasari ingin
Pembaruan Azhar a hadirkan lima saksi
Rabu, 14 baru
September
2011
Pos Kota Kerusuhan Jeffry L Korban Korban kerusuhan
Rabu, 14 ambon mengalami
September trauma
2011
Media Pemerkosaan P Korban Korban buru sendiri
Indonesia, pelaku
Kamis 15 pemerkosaan
September
2011

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 161


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
Pos Kota Pelecehan P Korban Terancam Korban pelecehan
Kamis, 15 seksual diancam
september dimutasi ke papua
2011
Media Korupsi Ruhut Sebut PKB
Indonesia, minta perlindungan
Kamis 15
September
2011
Warta Kota, Pelecehan Korban Korban pelecehan
Jumat, 16 Seksual seksual melpor ke
September komnas HAM
2011
Pos Kota, Penipuan Ngaku dosen tipu
Jumat, 16 calon mahasiswa
september
2011

Pos Kota, Pembunuhan korban Kakak menghabisi


Jumat 16 adik perempuan
September dengan Alu
2011
Kompas, Pelanggaran Keluarga korban
Jumat 16 HAM bahagia karena
september diperhatikan
2011
Media Pemerkosaan Korban Korban
Indonesia, Pemerkosaan
Sabtu 17 rencana akan
September membalas dendam
2011
Pos Kota Pembunuhan Korban Kakak bunuh adik
Senin 19 perempuan diduga
September psikopat
2011
Indopos Perkosaan Korban Perkosaan Marak,
Senin 19 Perempuan tolak
September salahkan rok mini
2011
Warta Kota Pemerkosaan korban Pakaian tertutup
Senin 19 cegah pemerkosaan
September
2011

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 162


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
Pos Kota Pembacokan korban Balita dibacok
Selasa 20 mantan TKW
september
2011
Pos Kota pengeroyokan Kakak Tewas
Selasa, 20 dikepruk 2 adik
September pakai gilingan
2011
Koran Tempo Korupsi KPK panggil semua
Selasa 20 pemimpin badan
september anggaran
2011
Koran Tempo Pelajar Terlibat
Selasa 20 tawuran dengan
September wartawan
2011
Warta Kota Penganiayaan ABK tewas
Selasa, 20 dikeroyok di darat
september
2011
Warta Kota Pemerkosaan Jangan tajut lapor
Selasa 20 ke unit PPA
september
2011
Pos kota Penggelapan Aclon ketua KNPI
Rabu, 21 dana jadi tersangka
september
2011
Indopos Korupsi Saksi tidak tahu ada
Rabu 21 dana ke Eddie
september
2011
Indopos Pemerkosaan Pemerkosaan
Kamis 22 diangkot marak
september
2011
Media Komplotan
Indonesia pemerkosa
Kamis 22 ditangkap di
September sumbar
2011
Pos Kota KDRT KDRT, ulama di
Jumat 23 periksa polisi

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 163


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
September
2011
Pos Kota Pelecehan Korban pelecehan
Jumat 23 seksual seksual oknum
september BPN diperiksa
2011 polisi
Koran Tempo Pelecehan Korban pelecehan
Jumat, 23 seksual pejabat BPN masih
September alami trauma
2011

Koran tempo pembunuhan Saksi ungkap


Jumat 23 kesalahan hasil
september otopsi nasrudin
2011
Pos Kota Perampokan Pedagang kopi
Minggu, 25 disergap rampok
September ambruk dibacok
2011
Pos Kota Pe;ecehan Keluarga korban
Minggu 25 Seksual pelecehan seksual
September minta
2011 oknumpejabat BPN
diperiksa
Koran Tempo Korupsi Kasus Korupsi
Senin 26 kementrian
September pendidikan
2011
Pos Kota Pemerkosaan Nonton film porno
Selasa, 27 remaja perkosa
September balita
2011
Pontianak Pencemaran Terancam sanksi
post Rabu nama baik dipecat43
28
september
2011
Pos Kota Pemukulan Pelajar korban
Jumat 30 pemukulan guru
September tidak boleh masuk
2011 sekolah
Pos Kota Trafficking Warga Asal P korban Mafia pemasok
Sabtu, 1 Sambas, cungkok belum

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 164


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
Oktober 2011 Kalimantan dicokok
Barat
Pos Kota Penembakan Korban Saksi Korban
Selasa 4 kerusuhan dibawa
Oktober 2011 ke RS jiwa
Koran tempo Penipuan Korban Tifatul ancaman
Rabu, 5 operator yang curi
Oktober 2011 pulsa
Harian Jogja Perlindungan Permohonan
Kamis 6 Saksi dan Lindung Saksi di
Oktober 2011 Korban DIY minim
Radar Jogja Perlindungan
Kamis 6 Saksi dan Wacanakan bentuk
Oktober 2011 Korban LPSK Daerah

Kedaulatan Perlindungan Peran pemda sangat


Rakyat Saksi dan dibutuhkan : saksi
Kamis, 6 Korban dan korban berhak
Oktober 2011 dapat identitas baru
Bernas Jogja Perlindungan LPSK perlu
Kamis, 6 Saksi dan dibentuk di daerah
Oktober 2011 Korban
Pos Kota Penembakan Warga L Korban Tewas dan Keduanya ditembak
Kamis, 6 MartubungP luka-luka dikawasan seisi
Oktober 2011 asar VI, rampah, kabupaten
medan Serdang Bedagai,
labuhan Sumatera utara
sekitar pukul 03.00
Koran Tempo Pemukulan Siswa L Korban Kondisi Kekerasan tersebut
Jumat, 7 sekolah anakanya dilakukan seorang
Oktober 2011 menengah saat ini guru sekolah smp
pertama sudah Almubarok, orang
Islam membaik , tua AS sudah
terpadau namun melaporkan Kholi
Insan Al- sang anak ke polisi dan saat
Muborak masih ini dia di tetapkan
menjalani sebagai tersangka.
konseling
untuk
mengatasi
trauma
Jawa pos Penipuan Warga L Korban Pulsanya Maraknya penipuan
Jumat, 7 kalianak selalu yang menyedot

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 165


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
oktober 2011 Surabaya, berkurang pulsa pelanggan
setiap telepon seluler.
dikirimi
sms
bernomor
empat digit
Pos Kota pembunuhan Warga L P korban Tewas Siadang kasus
Jumat, 7 Medan pembunuhan
oktober 2011 pasangan suami
istri Pengusaha
garam dan ikan di
pengadilan negeri
Medan
Pos Kota pembunuhan Warga L Korban Tewas Lelaki dibunuh di
Minggu, 9 Sukabumi, kebun kelapa sawit
oktober 2011 kampong
cikajang ,
desa
pangkalan
kecamatan
cikadang
Pos kota Trafficking Warga P korban Mafia Pemasok
Sabtu, 1 sambas Cungkok
Oktober 2011 Kalimantan
barat
Indopos, Penipuan Pengusaha L Korban Korban penipuan
Senin, 10 di Jakrata milyaran protes
oktober 2011 Barat jaksa
Jawa Pos, Penembakan Warga Palu, L korban Tewas dan Tembakan Polisi
Senin 10 Desa pakuli, luka -luka tewaskan Warga
Oktober 2011 kecamatan
Gumbasa
Koran Tempo Pencurian Mahasiswa L Korban Kasus Pencurian
Senin 10 Pulsa Pulsa dibawah ke
Oktober 2011 DPR
Pos Kota, Pemerasan Istri Bupati P Korban Foto istri
Senin 10 purwakarta direkayasa bugil
Oktober 2011 bupati di peras
Warta Kota Penipuan LPSK siap lindungi
Senin 10 pelapor sedot pulsa
Oktober 2011
Koran Jakarta Perlindungan LPSK Siap lindungi
Senin 10 Saksi dan Feri

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 166


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
Oktober 2011 Korban
Koran Tempo Penipuan Korban Korban Pencurian
Selasa 11 pulsa minta
Oktober 2011 perlindungan
Warta Kota Penipuan Korban Polisi Prioritaskan
Selasa 11 laporan sedot pulsa
Oktober 2011
Media Perlindungan LPSK Proses
Indonesia Saksi perlindungan saksi
Rabu 12 Antasari Azhar
Oktober 2011
Indopos Penipuan Korban Ramai-ramai lapor
Rabu 12 polisi
Oktober 2011
Pos kota Pengeroyokan Mahasiswa L Korban Luka-luka Tukang sate tusuk
Rabu,12 Unibi dua pemuda
Oktober 2011 bandung
Pos Kota Korupsi Agus sofyan L tersangka Kasus Korupsi
Rabu, 12 dikota bekasi naik 2
Oktober 2011 kali lipat
Warta Kota Penganiayaan Warga P korban Luka-luka Demi pria muda
Kamis 13 Sukamuluya rela menjanda,
Oktober 2011 , malah dianiaya
tasikmalaya
jawa barat
Pos kota, pemerkosaan Siswi SMP P korban trauma Siswi smp
kamis 13 kelas satu diperkosa pria
oktober 2011 kenalan
Pos kota Pemalsuan mahasiswa L saksi Polisi periksa saksi
Kamis, 13
Oktober 2011
Warta kota Pengeroyokka Juru parker L korban tewas Selesai nonton
Jumat 14 n dikawasan dangdut, zainal
Oktober 2011 Jakarta tewas dikeroyok
timur
Warta kota Kekerasan Warga P Korban Terungkap, 5 tahun
Jumat 14 seksual bekasi di nodai ayah tiri
Oktober 2011
Koran Tempo Penganiayaan Guru L terdakwa Saksi ahli jaksa
Jumat 14 sekolah salah terapkan pasal
Oktober 2011 dasar
Seputar Perlindungan LPSK akan buka
Indonesia Saksi dan perwakilan di

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 167


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
Sabtu 15 Korban Sulsel
Oktober 2011
Fajar Perlindungan Harus Ada LPSK di
Makassar Saksi dan daerah
Sabtu 15 Korban
Oktober 2011
Koran Tempo Pemerkosaan Pengasuh P korban Pengasuh bayi
Sabtu 15 bayi diduga diperkosa
Oktober 2011 supir angkot
Koran Tempo kerusuhan Seorang L Korban Tewas Korban tewas
Sabtu 15 pekerja PT. Freepot bertambah
Oktober 2011 Freepot
Warta Kota Penipuan Korban Korban sedot pulsa
Sabtu 15 Pulsa takut CDR
Oktober 2011 dihilangkan
Koran Tempo Kerusuhan Korban Korban tewas
Minggu 16 Freeport bertambah
Oktober 2011
Pos Kota pemerkosaan Siswi smp p Korban Trauma Mau nonton konser
Senin 17 Reggae siswi smp
Oktober 2011 DIgilir
Koran Tempo Korupsi Warga L terdakwa Hakim bebaskan
Selasa 18 Bandar terdakwa korupsi
Oktober 2011 lampung
Pos Kota traficking Warga jawa P korban 19 kasus
Rabu 19 barat penyelundupan
Oktober 2011 manusia diungkap
polisi
Indopos Polisi Aniaya
Kamis 20 fotografer Indopos
Oktober 2011
Suara Reshuffle Wakil menteri akui
pembaruan kabinet sudah dapat arahan
Kamis 20 tugas
Oktober 2011
Warta kota Perampokan Warga L P Korban Luka-luka Dua rampok lukai
Kamis 20 jakarta korban
Oktober 2011
Bali post pemerkosaan Siswi SD P Korban trauma Seorang siswi sd
Kamis 20 diduga di culik dan
Oktober 2011 di perkosa
Bali post Sosialisasi Pengurus LPSK
Kamis 20 wayang Audensi Ke wabup

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 168


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
Oktober 2011 buleleng
Suara Reshuffle Wakil menteri akui
pembaruan kabinet sudah dapat arahan
petugas
Indopos penembakan Warga L korban Tewas Freepot terus
Sabtu 22 papua diserang
Oktober 2011
Koran Tempo Korupsi Pegawai L P Tersangk Pegawai
Sabtu 22 kementrian a kementrian
Oktober 2011 lingkungan Lingkungan hidup
hidup jadi tersangka
Koran Tempo Narkoba Pegawai L tersangka Diduga Jual
Sabtu 22 badan narkoba, 3 pegawai
Oktober 2011 narkotika bnn di ringkus
nasional
Koran Tempo Pembunuhan Ibu dan P Korban tewas Polisi temukan
Minggu 23 anak bercak darah
Oktober 2011 korban
Pos kota Perampokan Warga P korban shock Majikan dan
23 oktober tanjung pembantu disekap
2011 duren
Koran Tempo Korupsi Agus condro bebas
26 Oktober bersyarat
2011
Warta kota penganiyaan Briptu Jup anaiaya
26 oktober rina disaksikan 3
2011 anak
Pos kota ancaman Panswaslu banten
27 oktober banyak terima
2011 ancaman
Warta kota kekerasan Ortu kritik
28 Oktober pergauklan bebas di
2011 sman 70
Koran tempo Persidangan Saksi sebut Peran
28 Oktober saksi amrun Daulay
2011
Koran tempo Kekerasan WAli Murid SMA
28 oktober 70 mengadu ke
2011 Komnas HAM
Media Pansel LPSK Lima calon anggota
Indonesia LPSK dianggap
31 Oktober bermasalah
2011

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 169


No Sumber Jenis Kasus Identitas Saksi / Status Kondisi Keterangan
Korban
Nama L P
Kompas Kejahatan Kejahatan
31 Oktober mengincar warga
2011 Jakarta
Kompas Kejahatan Jakrta Makin
31 Oktober menakutkan
2011
Kompas Kekerasan Ketika anak
31 Oktober memukul ibunya
2011
Kompas Pansel LPSK Jangan Paksakan
31 Oktober Pemilihan
2011
Kompas Moratorium Tepat, moratorium
Senin 31 remisi remisi bagi
Oktober 2011 koruptor koruptor
Koran tempo Pansel LPSK Panitia teliti rekam
31 Oktober jejak calon anggota
2011 LPSK
Koran Tempo Moratorium Pembebasan
31 Oktober remisi Koruptor
2011 koruptor dihentikan

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 170


Menunggu Gus Oblong di Pulau Kisar
Oleh L.R. Baskoro

ALFRETS MIRULEWAN tewas dibunuh diduga akibat berita-berita yang dibuatnya. Medio
Desember 2010, di ruang redaksi, kami segera membahas kabar tersebut. Belum jelas benar
informasi kematian jurnalis berusia 28 tahun itu: bagaimana persisnya ia meninggal dunia, berita
apa yang dibuatnya, siapa kira-kira pelakunya, serta, tak kalah pentingnya, siapa Alfrets dan
seperti apa medianya hingga ia mesti dilenyapkan.

Alfrets ada di Pulau Kisar, Kecamatan Pulau-Pulau Terselatan, Kabupaten Maluku Barat Daya,
wilayah yang baru dimekarkan. Sementara, kami di Jakarta. Tapi, sebuah peristiwa pembunuhan,
apalagi berkaitan dengan sebuah pemberitaan, tentu saja penting, juga menarik. Pasti ada hal
besar di balik itu semua, sehingga seorang wartawan perlu dibungkam dan dihabisi.

Saya memutuskan berita pembunuhan Alfrets ini harus ditulis selengkap mungkin. Mesti ada
wawancara terhadap semua pihak yang mengetahui bagaimana hari-hari akhir Alfrets. Dan tentu
saja wawancara dengan mereka yang diduga kuat terlibat pembunuhan terhadap--yang
kemudian kami tahu--Pemimpin Redaksi Mingguan Pelangi Ambon itu. Tabloid yang dicetak
terbatas dan diterbitkan dengan biaya bantuan keluarga Alfrets.

Ternyata bukan perkara gampang juga menuju Kisar. Pulau ini terletak di wilayah paling selatan
Maluku, berbatasan dengan negeri Timor Leste. Transportasi terbatas ke tempat ini. Kami
mafhum mengapa media Ibu Kota nyaris tak ada yang meliput ke lokasi pembunuhan ini. Jarak
dan lokasi menjadi kendala.

Akhirnya kami tahu Alfrets, wartawan yang selalu bersemangat mengejar warta itu, tewas
lantaran tengah menginvestigasi penimbunan BBM di pulau tersebut. Alfrets melakukan
investigasi setelah ia melihat kerapnya kelangkaan BBM di sana. Ia ditangkap, disiksa,
dibunuh, dan mayatnya dibuang ke laut karena tertangkap masuk areal Pelabuhan Pantai Nama,
Pulau Kisar, saat meliput operasi penimbunan itu.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 171


1711
Pada 14 Oktober 2011 pengadilan memvonis empat orang yang diduga terlibat pembantaian
Alfrets. Sebelumnya polisi memeriksa sekitar 30 orang yang diduga mengetahui atau terlibat
peristiwa tersebut. Semua yang dihukum itu, banyak yang yakin, hanya kaki tangan, pekerja, dari
perusahaan yang diduga melakukan penyelundupan BBM. Pelaku utama, otak pembunuhan,
yang diduga pemilik agen bahan bakar di Pulau itu, tak tersentuh.

***

Pada 16 Februari 2009 wartawan Bali geger dengan kematian Anak Agung Gede Bagus
Prabangsa. Jenazah wartawan Radar Bali yang bertanggung jawab atas berita-berita daerah itu
ditemukan mengapung di perairan Teluk Bangsir, Karangasem. Hasil pemeriksaan forensik
Kepolisian Daerah Bali menyimpulkan Prabangsa tewas akibat penganiayaan. Dokter
memperkirakan ia bahkan masih hidup saat dilemparkan ke laut.

Kematian Prabangsa mendapat perhatian luas media-media lokal di Bali. Para wartawan di Bali
membentuk semacam tim penyelidik yang berupaya mengungkap penyebab kematian
Prabangsa. Kematian yang sejak awal diduga kuat berkaitan dengan pemberitaan, profesi
jurnalistiknya--berbeda dengan polisi yang sempat menyatakan ada hubungannya dengan
masalah asmara. Media lokal dengan gencar menekan polisi untuk memeriksa sejumlah orang
yang dicurigai berada di balik kematian Prabangsa sekaligus mengingatkan polisi untuk tidak
takut kepada siapa pun dalam membongkar kasus ini.

Tewasnya Prabangsa terbukti memang berkaitan dengan berita korupsi pembangunan sekolah
yang ditulisnya, yang dilakukan tokoh partai politik setempat, I Nyoman Susrama, yang juga
adik seorang bupati. Pengadilan Denpasar pada 15 Februari 2010 memvonis Susrama, otak
pelaku pembunuhan ini, penjara seumur hidup, dari tuntutan jaksa hukuman mati. Adapun
delapan pelaku lainnya dihukum penjara 5-20 tahun. Yang tidak bisa dilupakan peranannya
yang sangat penting dalam membongkar kasus ini adalah Ida Bagus Made Adnyana Narbawa
alias Gus Oblong, karyawan Prabangsa. Oblong satu-satunya tersangka yang mengaku ada
penganiayaan dan peristiwa pembunuhan itu, sebuah kesaksian yang membuat Susrama tak
berkutik. Oblong sendiri yang dituntut 2 tahun 6 bulan dihukum lima tahun penjara.

***

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 172


1721
TIDAK semua orang memiliki keberanian seperti Gus Oblong dan tidak semua kasus kejahatan
terbongkar karena tertolong pemberitaan media. Peristiwa pembunuhan Prabangsa berada di
sebuah wilayah yang memiliki banyak media (di Bali ada sembilan harian lokal dan sejumlah
tabloid mingguan), komunikasi dan transportasi yang mudah, dan memungkinkan para wartawan
segera melakukan koordinasi jika terjadi tekanan atas pemberitaan mereka.

Dalam konteks itu pula jika terjadi apa-apa dengan Gus Oblong, misalnya, media akan dengan
cepat memberitakannya. Kendati Gus Oblong tidak mendapat perlindungan Lembaga
Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), ia relatif aman. Pasalnya ia berada dalam wilayah yang
jika terjadi sesuatu atas dirinya informasi itu akan diketahui banyak orang dan di luar sana media
akan membantunya.

Kondisi itulah yang tidak terdapat di Pulau Kisar. Tekanan media untuk mengusut kematian
Alfrets tidak sedahsyat kematian Prabangsa kendati dua-duanya mengalami pembunuhan yang
sama kejinya. Tidak pula muncul Gus Oblong di sana. Kita tahu tidak mudah menjadi Gus
Oblong di sebuah tempat yang bisa dikatakan terpencil, sementara tak ada jaminan apakah aparat
keamanan bisa diandalkan menjaga keselamatan jiwa dan keluarga seorang saksi akibat
keterangan dan pengakuannya. Demikianlah yang terjadi pada kasus Alfrets. Sejumlah
kejanggalan muncul. Seperti yang dilansir perwakilan Komnas HAM setempat, saksi kunci
pembantaian Alfets disimpan di sebuah rumah pejabat kepolisian. Saksi kunci ini sendiri
belakangan menarik semua pengakuannya dalam berita acara pemeriksaan.

Kasus pembunuhan serta proses peradilan Alfrets dan Prabangsa memberi pelajaran bagi kita.
Pertama, pentingnya posisi media dalam ikut menjaga proses pengusutan sebuah kasus. Kedua,
betapa terasa jauhnya (dan karena itu makin dibutuhkan kehadirannya) LPSK untuk peristiwa-
peristiwa tindak pidana seperti yang terjadi pada Alfrets. Tidak hanya dalam konteks kasusnya,
tapi juga wilayahnya.

Juga bukan semata untuk kasus tindak pidana pembunuhan, tapi juga kasus korupsi, kekerasan
terhadap pemeluk agama lain, kasus narkoba, kasus kejahatan dalam rumah tangga, dan
sebagainya. Kita bisa bayangkan, bisa jadi, akan lain hasil pengusutan dan proses peradilan

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 173


1731
kasus Alfrets jika para saksi kunci mendapat perlindungan dari LPSK dan media gencar
memberitakan serta menyoroti setiap perkembangan dan pengusutan kasus Alfrets.

Di sinilah kita melihat kehadiran LPSK memiliki perwakilan di daerah sungguh satu hal yang
mendesak. Sejauh ini, dari track record yang ada, kredibilitas LPSK, seperti juga Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK), tetap tinggi di mata publik. Masyarakat masih percaya dan
menaruh harapan kepada LPSK. Kehadiran LPSK di daerah akan membantu penegakan hukum
dan memberi optimisme pengungkapan kebenaran sebuah kasus. Ini tentu bukan sekadar
harapan karena Undang-Undang Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (UU No. 13 Tahun
2006), seperti dinyatakan dalam Pasal 11 ayat 3, memang membuka pintu seluas-luasnya
didirikannya LPSK di seluruh pelosok Indonesia.

Iklim kebebasan pers Indonesia sendiri kini jauh berbeda dengan masa sebelum reformasi.
Dilindungi Undang-Undang Pers (UU No. 40 Tahun 1999), Undang-Undang Keterbukaan
Informasi Publik (UU No. 14 Tahun 2008) hingga Undang-Undang HAM (UU No. 39 Tahun
1999), jurnalis Indonesia memiliki keleluasaan untuk bekerja, melakukan investigasi,
mengumpulkan informasi dari siapa pun, kemudian menyebarkannyatanpa khawatir disensor
atau mendapat tekanan dari pihak mana pun seperti pada masa rezim Orde Baru. Pers Indonesia
mendapat senjata luar biasa sebagai watchdog untuk menampilkan perannya mengawasi
penegakan hukum di negeri ini.

Dalam konteks inilah media memiliki peran besar untuk ikut memunculkan saksi-saksi penting
dalam suatu tindak pidana, menekan aparat hukum agar tidak mengabaikan saksi tersebut,
sekaligus mengawasi terus-menerus proses pengusutan kasus tersebut. Tidak hanya di
pengadilan tingkat pertama, tapi sampai Mahkamah Agung. Sementara itu LPSK juga bisa
menggunakan informasi dari media untuk memetakan siapa yang layak mendapat perlindungan
atau menggunakan media untuk memberi informasi ke publik, sejauh mana yang sudah
dilakukan lembaga itu atas suatu kasus. Sinergi yang pada ahirnya menghasilkan satu tujuan:
menegakkan hukum dan keadilan di negeri ini.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 174


1741
L.R Baskoro.

Redaktur Pelaksana Kompartemen Hukum dan Kriminal Majalah Tempo. Penulis


sejumlah buku jurnalistik, antara lain Jurnalisme Hukum, Jurnalisme Tanpa Menghakimi
(2012).

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 175


1751
Daftar Pustaka

Kasus Vincentius Amin. Sumber:

1. Koran Tempo, 10 Agustus 2007, Nanti Terkesan Hakimnya Bodoh Banget.

2. Majalah Tempo., 27 Agustus 2007, Vincentius Amin: Saya Bukan Residivis

3. Koran Tempo., 3 September 2009, Vincentius Ajukan PK.

4. Detik.Com., 17 Februari 2010, Diancam Dibunuh, Terpidana Asian Agri Minta

Perlindungan LPSK.

5. Koran Tempo, 12 Juni 2010, Penyidik Pajak Diberi Tenggat Sampai Akhir Bulan.

6. Tempointeraktif. Com., 13 Juni 2010, Vincentius Amin Sudah Dilindungi LPSK Sejak Awal

Mei.

7. Vivanews.Com., 2 September 2010, PK Ditolak, Vincentius Tetap Divonis 11 Tahun.

8. Teribunnews. Com., 28 April 2011, Denny Indrayana Pantau Persidangan Vincentius.

9. Tempo.Co., 7 Juli 2011, Vincentius Juga Dijanjikan Pengurangan Hukuman.

10. Koran Tempo, 26 November 2011, Vincentius Ajukan Permohonan Grasi.

Kasus Agus Condro. Sumber:

1. Suarapembaruan.com., 17 Juni 2011, Banyak Pihak Sesalkan Putusan Agus Condro.

2. Radarlampung.com., 6 Juli 2011, Hukuman Ringan bagi Whistle Blower.

3. Suarapembaruan.com., 7 Juli 2011, Agus Condro Minta Ditahan di Lapas di Kendal atau

Pekalongan.

4. Liputan6.com., 11 Juli 2011, LPSK Sudah Ajukan Hak Istimewa Agus Condro.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 176


1761
5. Antikorupsijateng.com., 3 Agustus 2011, Aktivis Anti Korupsi Batang Bakal Sambut

Agus Condro.

6. Kompas.com., 5 Agustus 2011, LPSK Ajukan Remisi bagi Agus Condro.

7. Okezone.com., 25 Oktober 2011, Akhirnya Agus Condro Bebas.

8. Jurnas.com., 25 Oktober 2011, Bebas, Agus Condro Terus Lawan Korupsi.

9. Tribunnews.com., 25 Oktober 2011, Bebas Bersyarat Agus Condro Jadi Pesan untuk Pelaku

Pelapor

10. Republika.co.id., 26 Oktober 2011, Denny Indrayana: Agus Condro Wistle Blower Ideal.

11. Suryaonline.com., 31 Oktober 2011, Agus Condro Tagih Janji KPK Soal Nunun.

12. Kompas.com., 31 Oktober 2011, Agus Condro Tagih Janji Kpk Tangkap Nunun.

13. Metrotvnews.com., 5 November 2011, Agus Condro Bebas Bersyarat karena Jadi Justice.

14. Mediaindonesia.com., 5 November 2011, Bebas Bersyarat Agus Condro Dipertanyakan.

Kasus Susno Duadji. Sumber:

1. Vivanews.com., Selasa, 26 Januari 2010. Intip Salinan Testimoni Susno.

2. Liputan6.com., Selasa, 11 Januari 2010. Susno Duadji Diancam Dibunuh.

3. Www.susnoduadji.com., Selasa, 4 Januari 2011. Pengacara Susno Minta Kepastian

Hadirnya Saksi Kunci.

4. Kompas.com., Selasa, 1 Februari 2011. Kasus Dugaan Suap; LPSK: Vonis Susno Bisa

Diringankan.

5. Okezone.com., Rabu, 2 Februari 2011. LPSK: Susno Harus Divonis Ringan.

6. Www.susnoduadji.com., Minggu, 10 Februari 2011. Susno Bantah Hampir Seluruh

Kesaksian Sjahril Djohan.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 177


1771
7. Kompas.com., Kamis, 10 Maret 2011. Sudah 2 Mantan Ajudan Susno Duadji Tewas.

8. Kompas.com., Minggu, 14 Maret 2010. Ungkap Makelar Kasus di Polri, Susno Tunjuk Tiga

Nama Jenderal.

9. Detiknews.com., Kamis, 24 Maret 2011. Susno Divonis 3,5 Tahun Penjara dan Denda Rp

200 Juta.

10. Okezone.com., Kamis, 24 Maret 2011. Kuasa Hukum Yakin Susno Duadji Bebas.

11. Detiknews.com., Jumat, 25 Maret 2011. Mengapa Hakim Lebih Percaya Sjahril Djohan.

12. Okezone.com., Sabtu, 26 Maret 2011. Vonis Susno Mentahkan Revisi UU Whistle Blower.

13. Kompas.com., Rabu, 21 April 2010. Susno Duadji Raih Whistle Blower 2010.

14. Majalah Tempo., 6 Juli 2001. Susno Duadji: Cicak Kok Mau Melawan Buaya.

15. Kompas.com., Senin, 27 September 2010. Sjahril Beberkan Kronologi Suap Susno.

16. Okezone.com., Selasa, 4 Oktober 2011. Susno Duadji Batal Silaturahmi ke LPSK Awaludin.

17. Kompas.com., Jumat, 28 Oktober 2010. Saksi Kunci Bersaksi dalam Kasus Susno.

18. Detiknews.com., Jumat, 11 November 2011. Susno Divonis PT DKI 3,5 Tahun, LPSK Tetap

Beri Perlindungan Anes Saputra.

Vonis Abu Bakar Baasyir. Sumber:

1. Vivanews.Com., 13 Juni 2011, Vonis Abu Bakar Baasyir Dikawal Para Sniper.

2. Republika.Co.id., 13 Juni 2011, Vonis Baasyir, Polisi Siapkan 1.600 Personel.

3. Suarapembaruan.Com., 24 Februari 2011, Ricuh Menjelang Sidang Abu Bakar Baasyir

4. Suarapembaruan, 14 Juni 2011, Ancaman Bom Saat Vonis Baasyir

5. Kompas.Com., 15 Juni 2011, Baasyir: Vonis Sudah Dibandrol.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 178


1781
6. Detik.Com., 15 Juni 2011, Jelang Vonis Abu Bakar Baasyir, Polisi se-Jakarta Razia

Senjata Tajam.

7. Suarapembaruan. Com, 16 Juni 2011, Abu Bakar Baasyir Divonis 15 Tahun Penjara.

8. BBC.Com., 16 Juni 2011, Baasyir Divonis 15 Tahun.

9. Vivanews.Com., 16 Juni 2011, Vonis 15 Tahun, Akhir Perjalanan Baasyir.

10. Poskota.Co.id., 16 Juni 2011, Abubakar Baasyir: Haram Hukumnya Terima Putusan Hakim.

Kasus Sedot Pulsa. Sumber:

1. Majalah Tempo, 2 Oktober 2011, Tuyul Pulsa di Telepon Kita.

2. Bisnis.com., 6 Oktober 2011, Telkomsel Antisipasi Penipuan Pulsa.

3. Tempo.co., 6 Oktober 2011, Mahasiswa Depok Buka Posko Pengaduan SMS Penyedot

Pulsa.

4. Okezone.com., 10 Oktober 2011, Kadin: Penipuan Pulsa Matikan Industri Konten Digital.

5. Lpsk.com., 11 Oktober 2011, LPSK Respon Cepat Perlindungan Korban Penipuan Pulsa.

6. Vivanews.com., 18 Oktober 2011, Tifatul: Musisi Salah Paham, RBT Tak Ditutup.

7. Kompas.com., 1 November 2011, Polri Gandeng TI Usut Penipuan Pulsa.

8. Metrotvnews.com., 4 November 2011, Pelapor Sedot Pulsa Dianiaya dan Diteror.

9. Republika.co.id., 8 Desember 2011, DPR Minta Penanganan Penipuan Pulsa Tidak 'Masuk

Angin'.

10. Metrotvnews.com., 9 November 2011, Pelapor Penipuan Pulsa Diperiksa Bareskrim Polri.

11. Mediaindonesia.com., 22 November 2011, Pelapor Penyedotan Pulsa Dapat Perlindungan

LPSK.

12. Beritahukum.com., 22 November 2011, LPSK Beri Perlindungan Pelapor Kasus Pencurian

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 179


1791
Pulsa.

13. Republika.co.id., 23 November 2011, Perlindungan Pelapor Pulsa Tak Maksimal.

14. Kontan.co.id., 7 Desember 2011, Kerugian Rp 1 Triliun, DPR Minta Polisi Tindak Pelaku

Pencuri Pulsa.

15. Tabloidpulsa.co.id., 21 Desember 2011, Inilah 10 Content Provider Nakal Penyedot Pulsa.

Dari Cicit Soeharto, Artis, hingga Anggota DPR. Sumber:

1. Detiknews.com., 21 Maret 2011, Keluarga Cendana Prihatin Putri Terjerat Narkoba.

2. Detiknews.com., 21 Maret 2011, Cicit Soeharto Pakai Narkoba Bareng Perwira Polri Agar

Aman.

3. Suarapembaruan.com., 24 Maret 2011, Polisi Segera Selesaikan Berkas Kasus Cicit

Soeharto.

4. Detiknews.com, 20 Juni 2011, Hadiri Sidang Anaknya, Ari Sigit Terpukul & Sedih.

5. Liputan6.com., 27 Juni 2011, Saat Diciduk Putri Ari Sigit Bermain iPad.

6. Detiknews.com., 4 Juli 2011, Permohonan Rehabilitasi Cicit Soeharto Tunggu Keterangan

Saksi Ahli BNN.

7. Detiknews.com., 18 Agustus 2011, Dituntut 1 Tahun Penjara, Cicit Soeharto Siap Bacakan

Pledoi.

8. Detiknews. Com., 29 Agustus, 2011,Cicit Soeharto Direhabilitasi di RSKO Cibubur.

9. Detiknews.com., 25 Agustus 2011, Cicit Soeharto Divonis Bebas.

10. Metrotvnews.com., 26 Oktober 2011, Pesta Sabu, Anggota DPRD dari Demokrat Dicokok

Polisi.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 180


1801
Terjerat Negara Islam Indonesia. Sumber:

1. Inilah.com., 4 Mei 2011, Pengakuan Bekas Menteri NII Perlu Ditindaklanjuti

2. Tribunnews.com., 19 April 2011, Mahasiswa Malang Dicuci Otak Kelompok Radikal.

3. VIVAnews.com., 20 April 2011, Polres Malang Usut NII Cuci Otak Mahasiswa.

4. Jpnn.com., 22 April 2011, Korban NII Terus Diteror.

5. Malangnews.com., 23 April 2011, Crisis Center : Bagaimana Lawan NII.

6. Kompas.com., 25 April 2011, Awas, NII "Cuci Otak" PNS di Malang!

7. Surya Online.com., 26 April 2011, Trauma Kembali ke Malang, Korban NII Ragu Kuliah.

8. Okezone.com., 27 April 2011, Kasus NII di Malang Ada Unsur Intelijen Bermain.

9. Antara News.com. 27 April 2011, Tidak Ada NII di Malang.

10. Malangnews.com., 28 April 2011, Polda Kejar Penculik Mahasiswa NII.

Kasus Penyerangan Jamaah Ahmadiyah di Cikeusik. Sumber:

1. Tribunnews.com., 7 Februari 2011. Kronologi Penyerangan di Cikeusik Versi Ahmadiyah

2. Voaislam.com., 7 Februari 2011, Bentrokan Cikeusik Terjadi Karena Jemaat Ahmadiyah

Menantang dan Bacok.

3. Hukumonline.com., 11 Februari, Saksi Penting Ahmadiyah Cikeusik Terancam.

4. Kompas.com., 11 Februari, Video Kekerasan di Cikeusik: Saksi A di Bawah Perlindungan

LPSK.

5. Detiknews.com., 11 Februari 2011, Kronologi Penyerangan Ahmadiyah Versi LBH Cs.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 181


1811
6. Republika.co.id., 11 Februari 2011, Kronologi Penyerangan Ahmadiyah Cikeusik.

7. KBRH68H.com., 11 Februari 2011, LPSK Belum Putuskan untuk Lindungi Saksi Kunci

Kasus Cikeusik.

8. Yustisi.com., 13 Februari 2011, Tiga Saksi Kunci Kasus Penyerangan di Cikeusik Mengadu

ke LPSK.

9. Vivanews.com., 16 Februari 2011, Ahmadiyah: Kekerasan MEningkat Sejak 2005.

10. Politikindonesia.com., 17 Februari 2011, Kasus Cikeusik, LPSK Lindungi Deden Sujana.

11. Okezone.com., 21 Februari 2011, Penyerangan Ahmadiyah Cikeusik: Inilah Kronologis

Insiden Cikeusik Versi MUI Banten.

12. Today.co.id., 7 Maret 2011, LPSK Resmi Beri Perlindungan kepada Perekam Video.

13. Tempointeraktif.com., 7 Maret 2011, Lembaga Perlindungan Saksi Lindungi Pembuat Video

Cikeusik.

14. Voanews.com., 8 Maret 2011, Panel AS Hendaki Pencabutan Larangan Ahmadiyah di

Indonesia.

15. Kompas.com., 15 Maret 2011,TNI Terlibat Operasi Ahmadiyah.

16. Okezone.com., 18 April 2011, Pergub Pelarangan Ahmadiyah Cacat Hukum.

17. Kompas.com., 26 April 2011, Inilah Kronologi Cikeusik Berdarah Itu.

18. Tribunnews.com., 9 Juni 2011, Polemik Ahmadiyah: Setara Institute Kecam Korban

Cikeusik Malah Diadili.

19. Vivanews,com., 28 Juli 2011, Para Tersangka Cikeusik Divonis 3 Bulan Penjara..

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 182


1821
20. Tangerangnews.com., 15 Agustus 2011, Kasus Cikeusik, Deden Sudjana Divonis Enam

Bulan Penjara.

21. Bantuanhukum.co.id., 16 Agustus 2011, Ketika Korban di Pidana Respon atas Vonis

Korban Penyerangan Massa di Cikeusik, Banten.

Kasus Human Trafficking. Sumber:

1. Liputan6.com., 23 Maret 2011, Wanita Sukabumi Diduga Jadi Korban Perdagangan Orang.

2. Republika.co.id., 30 Mei 2011, Duh, Perdagangan Manusia di Indonesia Kian

Memprihatinkan.

3. RMOL.com., 25 Juni 2011, Gawat, 70 Ribu Anak Bangsa Korban Perdagangan Manusia.

4. Vivanews., 27 Juni 2011, AS: Tahun ini 23 Negara Gagal Atasi Perbudakan.

5. jpnnnews.com., 3 November 2011, Indonesia Terbanyak Korban Perdagangan Manusia

.
Kasus Kekerasan di Papua. Sumber:

1. Human Right Watch News, 20 Oktober 2010, Phil Robertson, Indonesia: Investigative

Torture Video From Papua.

2. Vivanews.com., 20 Oktober 2010, Komnas HAM Terima Laporan Adanya Kekerasan di

Papua 3 Minggu Sebelum Video Beredar.

3. VIVAnews.com., 20 Oktober 2010, Komnas HAM Usut Kekerasan di Papua.

4. Vivanews.com., 21 Oktober 2010, Video Kekerasan Papua Ramai di Media Asing.

5. Human Right Watch News, 21 November 2010, Indonesia: Stop Stalling on Investigating.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 183


1831
6. Somerpost, 6 November 2010. Empat Anggota TNI Penyiksa Warga Sipil

Papua Disidang.

7. Kompascom., 24 Januari 2011, 3 Oknum TNI Papua Divonis 10 Bulan.

Kasus Pembunuhan Wartawan. Sumber:

1. Tempointeraktif.com, 16 Februari 2009, Wartawan Radar Bali Tewas di Pantai Karangasem

2. Majalah Tempo, 7 Juni 2009, Karena Berita Prabangsa Dibantai.

3. Tempointeraktif.com, 17 Desember 2010, Investigasi BBM Ilegal, Pemred Pelangi Tewas

Terapung

4. Tempointeraktif.com, 10 Januari 2011, Keluarga Mirulewan Beberkan Pelaku Pembunuhan

5. Okezone.com, 23 November 2011, AJI Segera Bawa Kasus Udin Bernas ke Kancah

Internasional

6. Aliansi Jurnalis Independen, Menjelang Sinyal Merah, Jakarta, Juli 2011.

Kasus Kekerasan di Mesuji. Sumber:

1. Vivanews.com, 14 Desember 2011, Puluhan Warga Mengadu ke DPR Terjadi Pembantaian

Keji di Mesuji, Lampung.

2. Bangkapos.com, 15 Desember 2011, Mesuji di Lampung dan Mesuji di Sumsel Berbatasan.

3. Jurnas.com, 17 Desember 2011, LPSK Siap Lindungi Saksi dan Korban Kasus Mesuji

4. Vivanews.com., 17 Desember 2011, Tahun 2006 Warga Mesuji Sudah Mengadu ke DPR

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 184


1841
5. KBR68H.com., 18 December 2011, LPSK Tunggu Rekomendasi Untuk Lindungi Saksi

Kasus Mesuji .

6. Kompas.com., 18 Desember 2011, Jamin Keselamatan Korban Mesuji, TGPF Gaet LPSK.

7. Kompas.com., 18 Desember, LPSK Akan Lindungi Korban Mesuji.

8. Tribunnews.com., 20 Desember 2011, Habib Rizieq Bantah Korban Mesuji Dikepung Polisi.

9. Tribun Pekanbaru, 20 Desember 2011, Gawat !! Saksi Korban Mesuji Diteror.

10. Kompas.com., 21 Desember 2011, Ini Kronologi Peristiwa Mesuji Versi Polri.

11. Republika.co.id., 21 Desember 2011, Ini Kronologis Kasus Mesuji Versi Komnas HAM.

12. Era Baru News., 22 Desember 2011, Korban Penggal Kepala di Mesuji adalah Satpam dan

Koki Perusahaan,

13. Jawa Pos/Radar Lampung, Kamis, 22 Desember 2011, Menyusuri Kampung Sodong,

Tempat Pembantaian di Video Mesuji.

14. Majalah Tempo edisi 26 Desember 2011-1 Januari 2012

15. Okezone.com., 2 Januari 2012, Hasil Investigasi TGPF Mesuji Masih Mengambang.

16. Majalah Tempo edisi 2-8 Januari 2012, Siapa Memainkan Mesuji.

17. Tempo.co., 4 Januari 2012, LPSK Akan Lindungi Saksi dan Korban Mesuji

Pembunuhan Raafi. Sumber:

1. Republika.Co.Id., 23 November 2011, Polisi Tetapkan Tiga Tersangka Pembunuh Raafi.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 185


1851
2. Suara Karya, 3 Desember 2011, Polisi Tetapkan 5 Tersangka

3. Tempo.Co., 4 Desember 2011, Tim Advokasi Menduga Pembunuhan Raafi Direncanakan.

4. Tribunnews. Com., 5 Desember 2011, LPSK Jemput Bola.

5. Okezone.Com., 6 Desember 2011, Pembunuhan Raafi Diduga Terencana.

6. Tempo.Co.Id., 6 Desember 2011, Pembunuhan Raafi Diduga Terencana.

7. Tempo.Co., 6 Desember 2011, Benarkah Pisau yang Dipakai Menusuk Raafi Dititipkan ke

Tentara.

8. Suara Karya, 6 Desember 2011, Tersangka Gunakan Mobil Dinas Lemhannas.

9. Kompas. Com., 11 November 2011, LPSK Akan Proaktif Lindungi Saksi Kasus

Pembunuhan Raafi.

10. Tempo.Co.Id., 16 November 2011, Polisi Diminta Segera Ungkap Pembunuh Raafi

11. Tempo.Co.Id., 21 November 2011, Tiga Vonis Pembunuh Raafi.

12. Majalah Tempo, 21 November 2011, Siapa Pembunuh Raafi.

Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 186


1861
Potret Saksi dan Korban Dalam 2011 Media Massa 187