Anda di halaman 1dari 79

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sejalan dengan usaha untuk mengembangkan sektor industri yang kokoh


maka perlu diciptakan suatu keseimbangan antara dunia pendidikan dan industri
untuk menghasilkan sarjana yang memiliki pemahaman dan keterampilan yang
berkaitan dengan pengembangan teknologi dan bidang-bidang penerapannya.
Dengan kemampuan akademis yang handal dan keterampilan di bidang industri
yang cukup, tenaga-tenaga kerja itu nantinya bisa mengembangkan kreativitas dan
penalaran untuk memberikan sumbangan pemikiran dalam pembangunan industri
Indonesia.

Untuk mencapai hasil yang optimal dalam pengembangan ilmu


pengetahuan dan teknologi dibutuhkan kerjasama dan jalur komunikasi yang baik
antara perguruan tinggi, industri, instansi pemerintah, dan swasta. Kerjasama ini
dapat dilaksanakan dengan penukaran informasi antara masing-masing pihak
tentang korelasi antara ilmu di perguruan tinggi dan penggunaan di dunia industri.

Pendidikan tinggi sebagai tujuan dari sistem pendidikan nasional dibina


dan dikembangkan untuk menyiapkan mahasiswa menjadi anggota masyarakat
yang mempunyai kemampuan akademik dan profesi yang tanggap terhadap
kebutuhan pembangunan dan pengembangan ilmu pengetahuan sebagai bekal
pengabdian kepada bangsa dan negara. Pengembangan sumber daya manusia di
perguruan tinggi dilaksanakan melalui kegiatan belajar mengajar, penelitian, dan
pengabdian masyarakat.

Untuk menunjang hal tersebut maka kampus kami mewajibkan


mahasiswanya untuk melaksanakan kerja praktek sebagai kelengkapan teori
(khususnya dalam bidang keahlian) yang dipelajari di bangku kuliah.

1
2

1.2. Tujuan Kerja Praktek

Tujuan dari pelaksanaan Kerja Praktek di PT PERTAMINA EP ASSET 3


ini adalah sebagai berikut :

1. Mendapatkan pengalaman dalam suatu lingkungan kerja dan mendapat


peluang untuk berlatih menangani permasalahan dalam lingkungan kerja
serta melaksanakan studi perbandingan antara teori yang didapat di kuliah
dengan penerapannya di lingkungan kerja.
2. Menambah wawasan aplikasi perminyakan dalam bidang industri.
3. Dunia usaha mampu mewujudkan kepedulian dan partisipasinya dalam ikut
memberikan kontribusi pada sistem pendidikan nasional.
4. Menumbuhkan dan menciptakan pola berpikir konstruktif yang
berwawasan bagi mahasiswa dan dunia kerja.
5. Mengetahui perkembangan teknologi modern di bidang industri, terutama
yang diterapkan di PT PERTAMINA EP ASSET 3.
6. Memperoleh pemahaman yang komprehensif dalam dunia kerja.
7. Untuk memenuhi beban satuan kredit semester (SKS) yang harus
ditempuh sebagai persyaratan akademis di kampus.

1.3. Manfaat Kerja Praktek

Adapun manfaat-manfaat yang diharapkan dari pelaksanaan kerja praktek


ini adalah:

Manfaat bagi mahasiswa:

1. Mendapatkan gambaran tentang kondisi real dunia industri dan memiliki


pengalaman terlibat langsung dalam aktivitas lapangan dan lingkungan
kerja, serta mendapatkan kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu-ilmu
yang diperoleh di bangku perkuliahan untuk mendapatkan pemahaman
yang lebih baik mengenai dunia perminyakan.
2. Kegiatan kerja praktek ini juga dapat mengembangkan wawasan berpikir,
menganalisa dan mengantisipasi suatu problem dengan mengacu pada
materi teoritis dari disiplin ilmu yang ditempuh dan mengaitkannya
3

dengan kondisi sesungguhnya, sehingga mahasiswa dapat lebih sigap dan


siap menghadapi berbagai problema di lapangan, serta mempunyai
kemampuan untuk mengembangkan ide-ide kreatif dan inovatif.

Manfaat bagi Perusahaan:

1. Dapat memperoleh masukan mengenai kondisi dan permasalahan yang


dihadapi perusahaan.
2. Mengetahui metode-metode baru yang diperoleh dari materi diperkuliahan
yang dapat diaplikasikan pada perusahaan tersebut berkaitan dengan
permasalahan yang dihadapi.

Manfaat bagi Perguruan Tinggi:

Sebagai tambahan referensi khususnya mengenai perkembangan industri


di Indonesia maupun proses dan teknologi yang mutakhirserta dapat digunakan
oleh pihak-pihak yang memerlukan.

1.4. Waktu Pelaksanaan Kerja Praktek

Waktu pelaksanaan Kerja Praktek selama dua minggu dimulai dari tanggal
2 Mei 13 Mei 2017.
4

1.5. Sistimatika Penulisan

Penulisan laporan Kerja Praktek ini berdasarkan urutan jadwal yang


mahasiswa lakukan di PERTAMINA EP ASSET 3 yaitu sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB III HSSE
BAB IV TEKNIK RESERVOIR
BAB V TEKNIK PRODUKSI
BAB VI GEOLOGY AND GEOPHYSIC
BAB VII FIELD VISIT
BAB VIII PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB II
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1. Profil PT Pertamina EP


PT Pertamina EP adalah perusahaan yang menyelenggarakan kegiatan
usaha di sektor hulu bidang minyak dan gas bumi, meliputi eksplorasi dan
eksploitasi. Di samping itu, Pertamina EP juga melaksanakan kegiatan usaha
penunjang lain yang secara langsung maupun tidak langsung mendukung bidang
kegiatan usaha utama.
Wilayah Kerja (WK) Pertamina EP seluas 113,613.90 kilometer persegi
merupakan limpahan dari sebagian besar Wilayah Kuasa Pertambangan Migas PT
PERTAMINA (PERSERO). WK Pertamina EP terbagi ke dalam lima asset.
Operasi kelima asset terbagi ke dalam 19 Field, yakni Rantau, Pangkalan Susu,
Lirik, Jambi, dan Ramba di Asset 1, Prabumulih, Pendopo, Limau dan Adera di
Asset2 , Subang, Jatibarang dan Tambun di Asset 3, Cepu di Asset 4 serta
Sangatta, Bunyu, Tanjung, Sangasanga, Tarakan dan Papua di Asset 5.
Di samping pengelolaan WK tersebut di atas, pola pengusahaan usaha
yang lain adalah dengan model pengelolaan melalui proyek-proyek, antara lain
Pondok Makmur Development Project di Jawa Barat, Paku Gajah Development
Project di Sumatera Selatan, Jawa Gas Development Project di Jawa Tengah, dan
Matindok Gas Development Project di Sulawesi Tengah.

2.2. Visi, Misi dan Tata Nilai Perusahaan


A. Visi
Menjadi Perusahaan E & P kelas dunia.
B. Misi
Mengelola kegiatan hulu migas dengan mengutamakan keunggulan
operasi, yang tumbuh dan berkembang bersama lingkungan.

5
6

C. Tata Nilai: 6C
1. CLEAN (BERSIH)
Dikelola secara profesional, menghindari benturan kepentingan, tidak
menoleransi suap, menjunjung tinggi kepercayaan dan integritas.
Berpedoman pada asas-asas tata kelola korporasi yang baik.
2. COMPETITIVE (KOMPETITIF)
Mampu berkompetisi dalam skala regional maupun internasional, mendorong
pertumbuhan melalui investasi, membangun budaya sadar biaya dan
menghargai kinerja.
3. CONFIDENT (PERCAYA DIRI)
Berperan dalam pembangunan ekonomi nasional, menjadi pelopor dalam
reformasi BUMN, dan membangun kebanggaan bangsa.
4. CUSTOMER FOCUSED (FOKUS PADA PELANGGAN)
Berorientasi pada kepentingan pelanggan dan berkomitmen untuk
memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan.
5. COMMERCIAL (KOMERSIAL)
Menciptakan nilai tambah dengan orientasi komersial, mengambil keputusan
berdasarkan prinsip-prinsip bisnis yang sehat.
6. CAPABLE (BERKEMAMPUAN)
Dikelola oleh pemimpin dan pekerja yang profesional dan memiliki talenta
dan penguasaan teknis tinggi, berkomitmen dalam membangun kemampuan
riset dan pengembangan.
7

2.4. Unit Kerja PT Pertamina EP Asset 3 Cirebon


2.4.1. Bagan Organisasi Pertamina EP Asset 3 Cirebon

STRUKTUR ORGANISASI PERTAMINA EP ASSET 3 CIREBON


GM Asset 3

Sekretaris

Legal
FM FM FM HR SCM Finance
Jatibarang Subang Tambun
MSEPT MSEPT
Relation
Manager
MSEPT
Manager
HSSE
Manager
Manager

Reservoir G&G Production


Manager Manager Manager

Gambar 2.1. Sruktur Organisasi Pertamina EP Asset 3 Cirebon

2.4.2. Field Pertamina EP Asset 3


Pertamina EP Asset 3 menangani 3 lapangan. Lapangan tersebut antara
lain field Jatibarang, field Tambun dan field Subang. Lapangan - lapangan
tersebut memproduksikan minyak dan gas. Metode produksi yang ada pada Field
Pertamina EP khususnya Asset 3 yaitu Natural Flow, Gas Lift dan ESP (Electrical
Submersible Pump).
BAB III

HEALTH SAFETY SECURITY ENVIRONMENT (HSSE)

PT PERTAMINA EP ASSET 3 sangat menekankan keselamatan kerja


bagi semua pekerja baik yang di lapangan maupun di kantor Pertamina EP
ASSET 3 serta semua fasilitas yang digunakan oleh para pekerja. Oleh karena itu
di bentuk suatu divisi yaitu HSSE untuk mengatasi semua masalah tersebut .
Health Menjaga kenyamanan pekerja dalam bekerja seperti pengaturan
udara dalam sirkulasi, penataan ruangan, dll.
Safety Menjaga keselamatan pekerja & visitor serta alat-alat yang digunakan
pada saat kegiatan operasi di lapangan.
Security Menjaga keamanan pekerja, visitor serta lingkungan kerja pada saat
kegiatan operasi di lingkungan kerja.
Environment Menjaga efek yang ditimbulkan dari kegiatan opersional yang
telah dilakukan sebelumnya.

Induction merupakan hal utama dan pertama yang harus dikenalkan dan
dipahami bagi siapapun yang akan melaksanakan studi, kunjungan maupun kerja
di Pertamina EP. Induksi atau Induction dikenalkan dan dijelaskan oleh Health
Safety & Security Environment (HSSE) dalam bentuk formulir yang mencakup
beberapa aspek yang harus dipahami sebelum melakukan kegiatan lebih lanjut di
Pertamina EP.
Fase HSSE
Menurut Shell Int. BV terdapat 4 fase dalam HSSE hingga saat ini
berdasarkan risiko kecelakaan terhadap waktu.

10
11

Fase HSSE menurut Shell Int. BV


100
1

75
Jumlah insiden

2
50

3
25
4
0
0 1 2 3 4 5
Time

Fase 1 Primitif
Hanya berdasarkan keputusan/undang-undang/titah dan juga pada
fase ini risiko kecelakaan atau jumlah insidennya sangat tinggi.
Fase 2 Engineering
Semakin berkembangnya zaman orang-orang berpikir untuk
mengurangi jumlah kecelakaan yaitu secara teknis seperti
penggunaan wearpack, safety shoes, safety helm, dll.
Fase 3 Management System
Fase ini masih ada celah akan tetapi sudah lebih berkurang jumlah
kecelakaannya. Contoh dari Fase Management System ini yaitu
API, ISO, ANSI, dll. Masih terjadinya kecelakaan pada fase ini
karena naluriah manusia yang memiliki keinginan untuk bebas.
Fase 4 Behaviour
Pada fase yang terakhir ini jumlah kecelakaan sudah sangat kecil
atau hamper tidak ada. Pada fase ini lebih menitikberatkan pada
kebiasaan, budaya, dan perilaku. Contoh seperti meeting dan jam
kerja on time apabila melanggar akan ada sanksi.
12

Golden Rule
Patuh
Patuh terhadap aturan yang ada. (ISO 9000 ; apa yang kita tulis
kita lakukan dan apa yang kita lakukan kita tulis.)
Intervensi
Bila melihat sesuatu kesalahan tidak membiarkan kesalahan
tersebut. Contoh apabila kita melihat kesalahan atau ada prosedur
yang terlewati jangan diam atau membiarkan hal itu terjadi akan
tetapi mengingatkan dan memastikan bahwa prosedur yang
dilakukan sudah sesuai.
Peduli
Lebih pada kemanusiaan.
Potensi Bahaya di SP/BS/SKG/PPP/Sumur/Rig
Saat berada di lapangan tidak malu bertanya tentang potensi bahaya yang
terjadi.
Pelaporan PEKA (Prosedur Keselamatan Kerja)
APD (Alat Pelindung Diri)
SIKA (Surat Ijin Kerja Aman)
MSDS (Material Safety Data Set)
House Keeping
Program HSE
Personal On Boards
Jumlah orang yang berada di lokasi saat masuk dan keluar sama.
Penentuan & Ketentuan Aspek HSE
BAB IV
TEKNIK RESERVOIR

Reservoir Engineering pada PT. Pertamina EP Asset 3 merupakan salah


satu bagian fungsi yang berdampingan bersama fungsi G&G (Geologi dan
Geofisika), Production Engineering, dan Petroleum Engineering.
Pada Pertamina Asset 3, Reservoir Engineering memiliki fungsi fungsi sebagai
berikut:
- Karakterisasi Reservoir.
- Evaluasi Reservoir.
- Perhitungan Cadangan (Volumetris, Material balance, Decline Curve).
- Analisa Uji Sumur (Well Testing).
- Analisa Inti Batuan dan Analisa Fluida Reservoir.
- Pengusulan sumur work over (kepada Production Engineering).
- Secondary Recovery Analysis.
- Menyusun Plan Of Development dan Business Plan.
Dalam penentuan tahapan pengambilan cadangan pada suatu sumur juga
diperlukan peran Reservoir Engineering dalam perencanaannya yang selanjutnya
akan dilakukan oleh pihak service company dan diusulkan kepada production
engineering. Tahapan recovery tersebut terbagi menjadi 3, yaitu:
a. Primary Recovery.
Tahapan pengambilan cadangan di reservoir yang dilakukan ketika
tekanan sumur masih mampu memproduksi fluida secara natural flow.
Tahap ini dapat dilakukan dengan alat pengangkat buatan (artificial
lift), meliputi:
1. Gas Lift.
2. ESP (Electrical Submergible Pump).
3. Sucker Rod Pump.

12
13

b. Secondary Recovery.
Tahapan ini dilakukan ketika teknik primary recovery sudah tidak
dapat digunakan lagi. Tahap ini dilakukan ketika Recovery Factor
suatu sumur yang biasanya mencapai 15%. Recovery factor adalah
bagian atau fraksi dari jumlah minyak mula mula yang ada di dalam
reservoir yang dapat dikeluarkan ke permukaan. Pada sumur sumur
existing yang terdapat di PT. Pertamina EP Asset 3 biasa dilakukan
secondary recovery berupa water & gas injection.
c. Tertiary Recovery
Tahapan tersier ini dilakukan karena teknik primary oil recovery dan
secondary oil recovery belum dapat memproduksi cadangan minyak
dari reservoir secara optimal (kurang dari 40%) dan masih banyak
minyak yang tertinggal direservoir. Teknik produksi reservoir atau
yang dikenal dengan istilah Enhanced Oil Recovery (EOR) dilakukan
dengan menginjeksikan fluida khusus, terdiri atas injeksi termal,
proses pelarutan gas dalam minyak, dan teknik kimiawi.

Dalam memudahkan untuk melakukan pekerjaan dalam pengolahan data


lapangan, digunakan software khusus meliputi:
a. OFM (Oil Field Management)

Gambar 4.1. Screenshot Software OFM


14

OFM digunakan untuk menganalisis peramalan reservoir dan


sumur. OFM didesain untuk bekerja sama dengan computer lain yang
terpasang OFM. Perhitungan OFM akan memplot control points
berdasarkan data historis atau data regresi, setelah itu dilakukan
perhitungan manual.
Konsep OFM :
Mengintegrasikan data produksi, data reservoir dari satu lapangan
menjadi satu kesatuan untuk monitoring.
Menganalisis dan membuat laporan mengenai data dari suatu
lapangan.
Menganalisis dan meramalkan laju produksi di masa yang akan datang
berdasarkan data produksi actual dari satu sumur atau reservoir.
Kegunaan OFM :
Persiapan data untuk pemodelan-simulasi (Petrel, Eclipse, Pipesim)
Reserve calculation : Forecast, MBAL, Bubble Map

Output OFM :
Base Map
Plot Analysis
Data yang terdapat di plot analysis adalah :
1. Liquid Rate (bbl/day)
2. GLR atau GOR
3. Bean (mm)
Wellbore Diagram
Wellbore diagram adalah bentukan lubang bor.
Well Performance Data Base dan Report
Contoh table well performance :
DATE PTUBING DAILY OIL DAILY GAS GOR
15

Decline Curve Analysis


Bubble Map
Fungsi bubble map adalah untuk mengetahui radius pengurasan suatu
sumur.
Grid Map
Base Map
Chan Plot
Analisa water control system untuk mengetahui apakah terjadi water
coning dan near wellbore breakthrough.
VRR Plot
VRR atau Voidage Replacement Ratio digunakan untuk analisa air
injeksi dimana dirumuskan dengan perbandingan antara air yang
diinjeksi dengan air yang diproduksi.
Hall Plot
Untuk menentukan kualitas hasil injeksi apakah injeksi bagus / skin
negative / water channeling / positive skin.
16

b. Petrell RE

Gambar 4.2. Screenshot Software Petrel


Merupakan software permodelan simulasi reservoir. Software ini
terintegrasi dengan data data yang didapat dari harga PVT, Rock Core
Analysis, SCAL (Special Core Analysis), well test, serta production
and pressure yang dihasilkan oleh static model dari Geologi.
17

c. Saphire KAPPA

Gambar 4.3. Screenshot Software Saphire Kappa


Perangkat lunak Saphire dikembangkan untuk menganalisa hasil
uji sumur dengan beberapa metode, diantaranya metode horner, metode
pressure derivative dan metode lainnya. Selain itu perangkat lunak
Saphire dipengaruhi oleh well derivative, model-modelnya meliputi:
Homogenous Reservoir
Partially Penetrating Well
Infinite Conductivity Vertical Fracture
Finite Conductivity Vertical Fracture
Sealing Fault
Constant Pressure Boundary
Linear Channel
Dual-Porosity

Dalam praktiknya, Terdapat beberapa jenis well testing meliputi:


1. Konventional Testing
Pressure Build Up Testing
Pressure Drawdown Testing
18

2. Multirate Testing
Two rate testing.
Four point testing
(Modified) Isochronal Test
3. Multiple Well Testing
Interference test
Pulse Test
4. DST (Drill Stem Test)
BAB V
TEKNIK PRODUKSI

Divisi Teknik Produksi adalah fungsi engineering di Klayan yang paling


dekat hubungannya dengan operasi di lapangan. Lapangan-lapangan di Asset 3 ini
umumnya adalah lapangan tua sehingga sudah menjadi tugas dari divisi teknik
produksi untuk mempertahankan produksi minyak pada setiap lapangan yang ada
di Asset 3. Mempertahankan produksi suatu sumur yang sudah pada tahap decline
dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti melakukan stimulasi, artificial lift
dan workover.
Sumur-sumur kandidat untuk dilakukan stimulasi dan sebagainya
ditentukan dari monitoring data produksi serta data penunjang yang didapat dari
divisi teknik reservoir, lalau dibuat proposal pengerjaan oleh perusahaan service
yang ditugasi operasi tersebut. Setelah itu teknik produksi akan membuat program
stimulasi. Dalam peningkatan produksi sumur juga dapat dilakukan dengan
memasang artificial lift. Metode yang paling umum digunakan di Asset 3 ini
adalah gas lift dan esp.

5.1 Well Stimulation


Stimulasi adalah merangsang sumur yang merupakan suatu proses
perbaikan terhadap sumur untuk meningkatkan harga permeabilitas formasi yang
mengalami kerusakan sehingga dapat memberikan laju produksi yang besar, yang
akhirnya produktifitas sumur akan menjadi lebih besar jika dibandingkan sebelum
diadakannya stimulasi sumur. Stimulasi dilakukan pada sumur-sumur produksi
yang mengalami penurunan produksi yang disebabkan oleh adanya kerusakan
formasi (formation damage) disekitar lubang sumur dengan cara memperbaiki
permeabilitas batuan reservoir. Metode stimulasi dapat dibedakan
menjadi Acidizing dan Hydraulic Fracturing.

16
17

Alasan dilakukanya stimulasi antara lain karena adanya hambatan alami


yaitu permeabilitas reservoir yang rendah sehingga menyebabkan fluida reservoir
tidak dapat bergerak secara cepat melewati reservoir dan hambatan akibat yaitu
yang sering disebut dengan kerusakan formasi (formation damage), kerusakan
fomasi ini kebanyakan disebabkan oleh operasi pemboran dan penyemenan yang
menyebabkan permeabilitas batuan menjadi kecil jika dibandingkan dengan
permeabilitas alaminya sebelum terjadi kerusakan formasi, pengecilan
permeabilitas batuan formasi ini akan mengakibatkan terhambatnya aliran fluida
dari formasi menuju ke lubang sumur sehingga pada akhirnya akan menyebabkan
turunnya produktivitas suatu sumur.
Sasaran dari stimulasi ini adalah formasi produktif, karena itu karakteristik
reservoir mempunyai pengaruh besar pada pemilihan stimulasi. Karakteristik
reservoir meliputi karakteristik batuan maupun karakteristik fluida reservoir
terutama berpengaruh pada pemilihan fluida treatment baik
pada acidizing maupun padahydraulic fracturing, faktor lain yang berpengaruh
dalam treatment ini adalah kondisi reservoir yaitu volume pori, tekanan dan
temperatur reservoir.

5.1.1 Hydraulic Fracturing


Hydraulic fracturing merupakan stimulasi menggunakan tekanan fluida
pada permukaan batuan agar terjadi rekahan, yang kemudian diteruskan hingga ke
dalam formasi. Fracturing berasal dari kata to fracture yang berarti
memecahkan. Hydraulic Fracturing adalah salah satu proses stimulasi
(stimulation) dimana formasi hidrokarbon kita pecahkan dengan cara memompa
fluida tertentu dalam rate & tekanan tertentu (di atas fracture pressure formasi
tsb). Proppant atau pasir dipompa bersama-sama dengan fluida yang bertujuan
untuk menahan agar rekahannya tetap terbuka, tidak tertutup, setelah
proses pemompaan berhenti. Rekahan (fractures) yang terisi proppant akan mem
- bypass damage di sekitar wellbore & akan menjadi celah yang berkonduktivitas
tinggi, sehingga hidrokarbon dapat mengalir lebih efisien dari formasi ke dalam
sumur. Pada akhirnya produksi akan naik. Hydraulic fracturing atau sering hanya
18

disebut fracturing termasuk proses stimulasi yang sangat populer umumnya untuk
reservoir berpermeabilitas rendah, baik oil maupun gas.

Hydraulic fracturing memiliki tujuan antara lain memaksimalkan contact


antara sumur dan reservoir, fracture memberikan celah untuk meningkatkan
konduktivitas, meningkatkan Ultimate Recovery, mengurangi kebutuhan sumur,
meningkatkan produktivitas (terutama pada formasi dengan permeabilitas kecil),
menghilangkan damage, sebagai fracpac (yaitu untuk menahan pasir supaya tidak
ikut terproduksi, lebih menguntungkan dari screen dan gravel pack karena tidak
akan menyebabkan skin).

Hydraulic fracturing bekerja dengan jalan menginjeksikan fluida reservoir


pada laju dan tekanan yang tinggi atau dibawah tekanan rekah formasi, setelah
formasi mengalami perekahan fluida terus diinjeksikan untuk memperlebar
rekahan yang terjadi. Untuk menjaga agar rekahan tidak menutup kembali maka
rekahan yang terjadi diberi pengganjal berupa proppant. Proppant yang
digunakan harus mampu mengalirkan fluida dan dapat menahan agar rekahan
tidak menutup kembali, oleh karena itu proppant tersebut harus memiliki
permeabilitas yang besar dan kekuatan yang cukup baik agar tidak mudah hancur
terkena tekanan dan temperatur tinggi.

Pola rekahan dari fracturing umumnya berarah horizontal atau dapat


dikatakan sesuai arah dengan beban horizontal maksimum atau tegak lurus dengan
beban horizontal minimum (pada percobaan pengujian compressive strength).

Gambar 5.1. Pola Rekahan Hydraulic Fracturing


19

Hydraulic fracturing dapat dilakukan pada permeabilitas yang kecil


maupun besar. Namun hasil dari perekahannya akan berbeda. Apabila hydraulic
fracturing digunakan pada permeabilitas yang kecil maka hasil perekahannya
akan cukup jauh. Sedangkan apabila dilakukan pada permeabilitas yang besar
dapat menghasilkan perekahan yang cukup pendek tetapi lebih besar.

Ketika suatu sumur dibor, maka tegangan yang bekerja pada batuan akan
mengalami perubahan. Suatu pendekatan perhitungan perubahan atau kelainan ini
dibuat dengan asumsi batuan elastis, lubang sumur lurus dan silindris serta sumbu
sumur vertical. Sedangkan gaya gaya tangensial yang bekerja pada sekitar
lubang sumur adalah dua kali tegangan horizontalnya, sehingga tekanan yang
diperlukan untuk merekahkan batuan secara vertical adalah jumlah dari tekanan
yang diperlukan untuk mengurangi compressive stress pada dinding lubang
sampai nol ditambah strength dari batuannya. Menurut Hubert dan Willis, tekanan
injeksi sumur minimum yang diperlukan untuk menjaga rekahan tetap terbuka
adalah sedikit lebih besar dari tegangan yang bekerja pada bidang rekahan
tersebut, dan masuknya fluida ke dalam formasi akan mengurangi besarnya
tekanan yang diperlukan untuk tekanan vertikal.

Beberapa jenis fluida pada proses perekahan hidrolik antara lain:

Prepad
Merupakan cairan seperti air, minyak atau foam, yang ditambahkan gel,
friction reducer, fluid loss, surfactant atau KCl untuk memperkecil
kemungkinan damage. Digunakan untuk mempermudah pembukaan
rekahan dan mendinginkan formasi. Tidak perlu dipakai pada temperatur
rendah dan gradient rekah biasa
Pad
Merupakan fluida kental tanpa proppant, digunakan untuk memperlebar
dan mempertinggi rekahan, pad akan membentuk filter cake, sehingga
mengurangi kebocoran pada slurry nantinya
20

Slurry
Merupakan fluida dengan proppant, digunakan untuk mengembangkan
panjang dan lebar rekahan.
Proppant ramp system proppant dimasukkan dengan kadar rendah,
naik bertahap hingga kadar maksimum, lalu konstan.
Flush
Merupakan cairan yang dipompakan di belakang slurry untuk mendorong
slurry agar masuk ke formasi, namun tidak boleh semuanya agar rekahan
dari sumur tidak tertutup.
Tip Screen Out (TSO)
Merupakan teknik perekahan pada permeabilitas besar agar proppant
mencapai ujung rekahan dan mengisi seluruh rekahan (lebih merata).
Rekahan yang terjadi biasanya pendek dan menggembung, dapat
menghilangkan damage dan meningkatkan konduktivitas.

Fracturing dapat dikatakan berhasil apabila harapan dan kejadian sama.


Terkadang fracturing dapat mengalami kegagalan seperti hilangnya fluida karena
fluida tersebut masuk meresap ke dalam formasi karena tingginya tekanan di
formasi atau yang biasa disebut dengan fluid loss. Hal tersebut dapat
menyebabkan volume rekahan yang terjadi akan berkurang serta proppant akan
bridging atau screen out (terhenti atau mengendap).

5.1.2 Acidizing

Prinsip dasar acidizing adalah melarutkan batuan dari material-material


yang menghambat aliran dalam reservoir dengan cara menginjeksikan sejumlah
asam ke dalam lubang sumur/ lapisan produktif, biasanya dilakukan untuk
menghilangkan pengaruh penurunan permeabilitas formasi di sekitar lubang
sumur (kerusakan formasi) dengan cara memperbesar pori-pori batuan dan
melarutkan partikel-partikel penyumbat pori-pori batuan .
21

Proses penginjeksian asam ke dalam formasi dilakukan dengan tahap-tahap


kegiatan seperti
a. Preflush
Dilakukan dengan memompakan asam yang konsentrasinya rendah dan
jumlahnya kira-kira setengah dari volume untuk acidizing sebenarnya, yang
tujuannya untuk menghilangkan material formasi yang dapat bereaksi dengan
HCl, memindahkan air formasi yang mengandung ion-ion (Na2+, Ca2+ dan lain-
lain) yang cenderung mengendap dengan HF, mendinginkan formasi sehingga
memperdalam penetrasi asam.
b. Spotting
Proses utama pemompaan asam untuk memperbaiki permeabilitas batuan.
Pemompaan dengan laju yang rendah dilakukan untuk memperbaiki kerusakan
disekitar lubang sumur, sedangkan laju yang tinggi dilakukan untuk jangkauan
yang lebih jauh ke dalam formasi.
c. After flush (postflush)
Proses pendorongan asam yang masih ada dalam tubing agar seluruh asam
masuk ke dalam formasi dan mengurangi waktu kontak asam dengan tubing,
disamping itu juga untuk memindahkan asam yang telah terpakai jauh dari lubang
sumur sehingga presipitasi yang dapat terbentuk tidak akan banyak merusak.
Cairan yang digunakan seperti minyak diesel, nitrogen, ammonium klorida
(NH4Cl), dan HCl.
Sebelum dilakukan stimulasi dengan pengasaman, terlebih dahulu harus
direncanakan dengan tepat data data laboratorium yang di peroleh dari sampel
formasi, fluida reservoir dan fluida stimulasi. Stimulasi merupakan suatu metoda
workover yang berhubungan dengan adanya perubahan sifat formasi, dengan cara
menambahkan unsur-unsur tertentu atau material lain ke dalam reservoir atau
formasi untuk memperbaikinya. Informasi yang diperoleh dari laboratorium, dapat
di gunakan engineer untuk merencanakan operasi stimulasi dengan tepat, dan pada
berikutnya dapat diperoleh penambahan produktivitas formasi sesuai dengan yang
di harapkan. Salah satu informasi yang di perlukan adalah daya larutan asam
terhadap sample batuan (acid solubility).
22

Metode ini menggunakan teknik gravimetric untuk menentukan reaktivitas


formasi dengan asam. Batuan karbonat (mineral limestone) biasanya larut dalam
HCl, sedangkan silikat (mineral clay) larut dalam mud acid. Salah satu cara untuk
meningkatkan produksi minyak pada batuan reservoir carbonat adalah dengan
cara pengasaman atau memompakan asam (HCl) kedalam reservoir. Batuan
reservoir yang bisa diasamkan dengan HCl adalah : Limestone, Dolomit dan
Dolomit Limestone.

Dalam pelaksanaannya, acidizing dilakukan dengan menginjeksikan pad


yang kental untuk membuat rekahan di zona produktif, kemudian baru
diinjeksikan asam yang akan memakan permukaan rekahan secara tidak merata
(karena sifat kekerasan batuan tidak merata). Efek ketidakmerataan ini diharapkan
akan menjadi semacam pengganjal (proppant) jika rekahan telah tertutup. Di
lapangan geothermal, acidizing biasa dilakukan setelah pemboran.

Karena pengasaman, maka batuan (zona produktif) yang harus diasam


biasanya memiliki kadar kapur yang cukup tinggi seperti limestone, atau batuan
karbonat. Efek pengasaman ini tidak signifikan terhadap formasi sandstone (batu
pasir) karena tidak terjadi reaksi antara sandstone dan asam.

Perlu diperhatikan juga bahwa kadar asam yang digunakan untuk acidizing
tidak boleh terlalu tinggi. Penggunaan kadar asam yang tinggi (meski lebih
efektif) akan merusak peralatan dalam sumur karena asam bersifat korosif.

Pengasaman biasanya dilakukan untuk formasi yang permeable. Untuk


formasi yang non permeable, biasanya dilakukan teknik yang disebut dengan
perekahan atau fracturing. Tujuan fracturing adalah membuat jalan baru untuk
tempat mengalir hidrokarbon.

Dewasa ini telah dikenal 3 jenis pengasaman, antara lain:

1. Matrix acidizing
Asam di injeksikan ke formasi pada tekanan di bawah tekanan rekah,
dengan tujuan agar reaksi asam menyebar ke formasi secara radial. Matrix
23

Acidizing digunakan baik untuk batuan Karbonat (limestone/dolomite) maupun


sand stone. Teknik ini akan berhasil untuk sumur dengan damage sedalam 1 2 ft.

Gambar 5.2 Pola rekahan matrix acidizing

2. Acid Fracturing
Digunakan hanya untuk karbonat, kenaikan produksi diakibatkan oleh
kenaikan permeabilitas sampai jauh melampaui zone damagenya.

Gambar 5.3 Pola rekahan acid fracturing

3. Acid Washing
Untuk melarutkan material atau scale sekitar sumur, meliputi pipa atau
juga perforasinya

Semua asam memiliki satu persamaan. Asam akan terpecah menjadi ion
positif dan anion hydrogen ketika acid larut dalam air. Ion hydrogen akan bereaksi
dengan batuan calcerous menjadi air dan CO2. Asam yang dipakai di industry
minyak dapat inorganic (mineral) yaitu chloride dan asam flourida, atau organic
asam acetic (asetat) dan asam formic (format). Pada abad yang lalu pernah
digunakan asam sulfat sesaat setelah orang sukses dengan injeksi asam chloride
pertama dan tentu saja mengalami kegagalan malah formasi jadi rusak.
24

Dalam industri mineral adalah yang paling banyak digunakan. Bermacam-


macama sampuder (sulfamicdanchloroacetic) atau hibrida (campuran) asam
acetic-HCL dan formie-HCL juga telah dipakai dalam industry terutama untuk
meredam keaktifan asam HCL. Semua asam diatas kecuali kombinasi HCL-HF
yang dipakai untuk batuan pasir (sandstone) hanya dipakai pada batuan karbonat
(limestone/dolomite). Jenis asam yang sering digunakan dalam acidizing antara
lain:

1. Organic acid, HCH3Cos dan HCO2H


2. Hydrochloric acid, HCL
3. Hydrofluoric acid, HF
Adapun syarat-syarat utama agar asam dapat digunakan dalam operasi
acidizing (pengasaman) ini adalah:

1. Tidak terlampau reaktif terhadap peralatan logam.


2. Segi keselamatan penanganannya harus dapat menunjukkan indikasi atau
jaminan keberhasilan proyek acidizing ini.
3. Harus dapat bereaksi/melarutkan karbonat atau mineral endapan lainnya
sehingga membentuk soluble product atau hasil-hasil yang dapat larut.

5.2 Cementing
Semen merupakan suatu bahan yang bersifat hidrolis, yaitu bahan yang
akan mengalami proses pengerasan pada percampurannya dengan air ataupun
larutan asam. Salah satu jenis semen yang khas dan biasa aplikasikan dalam
industri perminyakan adalah semen portland (mula-mula ditemukan di pulau
Portland, Inggris) .

Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas konstruksi sumur adalah


sejauh mana kualitas semen yang digunakan. Untuk itu perlu dilakukan studi
laboratorium sehingga kita akan mengetahui komposisi dan sifat fisik semen.
Diharapkan dengan kualitas semen yang baik, konstruksi sumur dapat bertahan
lebih dari 20 tahun.
25

Penyemenan lubang sumur perlu dilakukan terutama untuk menyekat


zona-zona pada sumur pemboran sehingga dapat mencegah masuk atau
merembesnya fluida formasi yang tidak diinginkan ke dalam lubang sumur
pemboran. Dengan penyekatan yang baik maka diharapkan dapat diperoleh
produksi yang optimal.

Pada umumnya operasi penyemenan bertujuan untuk:

Melekatkan casing pada dinding lubang sumur.


Melindungi casing dari masalah-masalah mekanis sewaktu operasi
pemboran seperti adanya getaran.
Melindungi casing dari fluida formasi yang bersifat korosif.
Memisahkan zona yang satu terhadap zona yang lain dibelakang casing.
Menurut alasan dan tujuannya, operasi penyemenan dapat dibagi dua yaitu
Primary Cementing dan Secondary-Remedial Cementing (penyemenan kedua-
penyemenan perbaikan).

5.2.1. Primary Cementing


Merupakan penyemenan pertama kali yang dilakukan setelah pipa
selubung diturunkan kedalam sumur.
Penyemenan antara formasi dengan pipa selubung bertujuan untuk :
1. Melindungi formasi yang akan dibor dari formasi sebelumnya dibelakang
pipa selubung yang mungkin bermasalah.
2. Mengisolasi formasi tekanan tinggi dari zona dangkal sebelumnya.
3. Melindungi daerah produksi dari water-bearing sands.
5.2.2. Secondary Cementing
Secondary cementing adalah proses penyemenan ulang yang dilakukan
karena hal-hal tertentu seperti :
1. Memperbaiki primary cementing
2. Menyumbat casing yang bocor
3. Menutup perforasi yang salah
4. Menutup formasi yang bermasalah
26

5. Sebagai landasan whipstock


Secondary cementing terdapat berbagai jenis diantaranya plug back
cementing, squeeze cementing.

A. Squeeze Cementing
Squeeze cementing digunakan pada keadaan untuk :
1. Menyumbat aliran air atau gas dari zona minyak
2. Menutup kembali zona tertentu untuk memproduksi zona produktif yang
lainnya
3. Memperbaiki casing yang rusak
4. Menghentikan lost circulation yang terjadi pada saat pemboran
berlangsung
Pertimbangan yang paling penting dalam operasi squeeze cementing
adalah teknik penempatan dan pembuatan suspensi semen yang akan digunakan.
Squeeze cementing juga dapat digunakan untuk menurunkan ratio fluida produksi.
Volume gas yang besar memungkinkan untuk terjadinya pengurangan tekanan
reservoir lebih cepat, bersamaan dengan pembentukan harga pemisah yang
berlebih pada fasilitas produksi permukaan oleh volume air yang besar. Bagian
perforasi tertentu mungkin harus ditutup dengan pemompaan suspensi.
semen, sehingga volume gas dan air dapat dikurangi dengan penyemenan dibagian
atas dan bawah perforasi secara berurutan
Lost circulation seringkali dapat diatasi dengan squeeze cementing, dengan
catatan proses penyemenan harus sesuai dengan jenis lost circulation yang terjadi.

B. Plug Back Cementing


Plug back cementing adalah salaah satu dari secondary cementing yang
digunakan untuk kepentingan tertentu seperti :
1. Meninggalkan suatu lapisan dalam rangka pindah ke lapisan lain
2. Mengisolasi lapisan air dan lapisan hidrokarbon.
3. Menyediakan suatu bantalan sumbat untuk tujuan sidetrack
4. Abandonment well
27

5.3. Nodal Analysis


Nodal analisis merupaka suatu sistem yang digunakan untuk
mengoptimalkan produksi dengan mencari titik pertemuan pada kondisi
tekananyang equilibrium. Sistem sumur produksi, yang menghubungkan antara
formasi produktif dengan separator, dapat dibagi menjadi enam komponen, seperti
ditunjukan di gambar yaitu :
1. Komponen formasi produktif/ reservoir
Dalam komponen ini fluida reservoir mengalir dari batas reservoir menuju ke
lubang sumur, melalui media berpori. Kelakuan aliran fluida dalam media berpori
ini telah dibahas di modul II, yang dinyatakan dalam bentuk hubungan antara
tekan a alir di dasar sumur dengan laju produksi.
2. Komponen komplesi
Adanya lubang perforasi ataupun gravel pack di dasar lubang sumur akan
mempengruhi aliran fluida dari formasi ke dasar lubang sumur. Berdasarkan
analisa di komponen ini, dapat diketahui pengaruh jumlah lubang perforasi
ataupun adanya gravel pack terhadap laju produksi sumur.
3. Komponen tubing
Fluida multifasa yang mengalir dalam pipa tegak maupun miring, akan mengalami
kehilangan tekanan yang besarnya antara lain tergantung dari ukuran tubing.
Dengan demikian analisa tentang pengaruh ukuran tubing terhadap laju produksi
dapat dilakukan dalam komponen ini.
4. Pengaruh ukuran pipa
Pengaruh ukuran pipa salur terhadap laju produksi yang dihasilkan suatu sumur,
Dapat dianalisa dalam komponen ini seperti halnya pengaruh ukuran tubing,
dalam komponen tubing.
5. Komponen restriksi/ jepitan
Jepitan yang dipasang di kepala sumur atau di dalam tubing sebagai safety valve,
akan mempengruhi besar laju produksi yang dihasilkan dari suatu sumur.
Pemilihan ataupun analisa tentang pengaruh ukuran jepitan terhadap laju produksi
dapat dianalisa di komponen ini.
28

6. Komponen separator
Laju produksi suatu sumur dapat berubah dengan berubahnya tekanan kerja
separator. Pengruh perubahan tekanan kerja separator terhadap laju produksi
untuk sistim sumur dapat dilakukan di komponen ini.

Gambar 5.4. Sistim Sumur Produksi


Keenam komponen tersebut berpengaruh terhadap laju produksi sumur
yang akan dihasilkan. Laju produksi yang optimum dapat diperoleh dengan cara
memvariasikan ukuran tubing, pipa salur, jepitan , dan tekanan kerja separator.
Pengaruh kelakuan aliran fluida di masing-masing komponen terhadap system
sumur secara keseluruhan akan dianalisa, dengan menggunakan analisa system
nodal.
Nodal merupakan titik pertemuan antara dua komponen, dimana di titik
pertemuan tersebut secara fisik akan terjadi keseimbangan masa ataupun
keseimbangan tekanan. Hal ini berarti bahwa masa fluida yang keluar dari suatu
komponen akan sama dengan masa fluida yang masukke dalam komponen
berikutnya yang saling berhubungan atau tekanan di ujung suatu komponen akan
29

sama dengan tekanan di ujung komponen yang lain yang berhubungan. Sesuai
dengan gambar 3-1, dalam system sumur produksi dapat ditemui 4 titik nodal,
yaitu:
1. Titik nodal di dasar sumur
Titik nodal ini merupakan pertemuan antara komponen formasi produktif/
reservoir dengan komponen tubing apabila komplesi sumur adalah open
hole atau pertemuan antara komponen tubing dengan komponen komplesi
yang diperforasi atau bergravel pack
2. Titik nodal di kepala sumur
Titik nodal ini merupakan titik pertemuan antara komponen tubing dan
pipa salur dalam hal sumur tidak dilengkapi dengan jepitan atau
merupakan pertemuan komponen tubing dengan komponen jepitan bila
sumur dilengkapi jepitan.
3. Titik nodal di separator
Pertemuan antara komponen pipa salur dengan komponen separator
merupakan suatu titik nodal.
4. Titik nodal di upstream/ downstream jepitan
Sesuai dengan letak jepitan, titik nodal ini dapat merupakan pertemuan
antara komponen jepitan dengan komponen tubing, apabila jepitan
dipasang di tubing sebagai safety valve atau merupakan pertemuan antara
komponen tubing di permukaan dengan komponen jepitan apabila jepitan
dipasang di kepala sumur.
Analisa sistim nodal dilakukan dengan membuat diagram tekanan-
laju produksi, yang merupakan grafik yang menghubungkan antara
perubahan tekanan dan laju produksi untuk setiap komponen.
Manfaat Sistem Nodal
1. Optimasi laju produksi
2. Menentukan laju produksi yang dapat diperoleh secara sembur alam
3. Meramalkan kapan sumur akan mati
4. Memeriksa setiap komponen dalam sistem produksi untuk menentukan
adanya hambatan aliran
30

5. Menentukan saat terbaik untuk mengubah sumur sembur alam menjadi


sumur sembur buatan atau metode produksi satu ke metode produksi
yang lain.
Dari software pipesim dengan menggunakan nodal analisis didapatkan
sensitivitas hasil laju aliran yang didapatkan dengan hubungannya dengan
parameter tertentu seperti berikut :
1. Analisa Sensitivitas Bean

Gambar 5.5. Analisa Sensitivitas Bean

Tabel 5.1. Analisa Sensitivitas Bean


31

Dari hasil yang didapatkan diketahui bahwa semakin besar ukuran bean maka laju
produksi akan semakin besar oleh karena itu biasanya bean yang paling besar
yang akan dipilih. Hal ini karena dengan semakin besarnya bean akan
memungkinkan fluida mengalir melalui media tersebut. Namun dalam beberapa
kondisi pemilihan bean juga harus memperhitungkan lama umur sumur dapat
berproduksi karena akan menyebabkan besarnya Pwf menurun dan dapat
menyebabkan fluida sulit untuk diangkat ke permukaan.
2. Analisa Sensitivitas Tubing

Gambar 5.6. Analisa Sensitivitas Tekanan Tubing

Tabel 5.2. Analisa Sensitivitas Tekanan Tubing


32

Gambar 5.7. Analisa Sensitivitas Ukuran Tubing

Tabel 5.3. Analisa Sensitivitas Ukuran Tubing

Dari hasil yang didapatkan diketahui bahwa semakin besar ukuran tubing dan
tekanan tubing akan menghasilkan laju alir produksi yang tinggi pula karena
dengan ukuran tubing yang semakin besar akan memungkinkan bagi aliran fluida
semakin banyak dan dengan tekanan yang besar akan mengakomdir kehilangan
tekanan yang terjadi di tubing sehingga fluida akan lebih mudah mengalir. Selain
itu semakin besar ukuran dan tekanan tubing akan menyebabkan Pwf menurun
dan akan menyebabkan semakin sulitnya aliran fluida produksi ke permukaan.
33

3. Analisa Sensitivitas Skin

Gambar 5.8. Analisa Sensitivitas Skin

Tabel 5.4. Analisa Sensitivitas Skin

Seperti yang diketahui bahwa skin positif menunjukan adanya kerusakan pada
formasi yang menyebabkan berkurangnya nilai-nilai seperti permeabilitas formasi.
Oleh karena itu, Dengan adanya skin positif maka akan semakin kecil laju
produksi. Sedangkan sebaliknya, semakin kecil nilaiskin atau bahkan negatif
menunjukan bahwa adanya perbaikan dari formasi. Biasanya ini terjadi saat telah
dilakukan stimulasi seperti fracturing dan acidizing. Akibatnya besarnya
permeabilias akan semakin baik dan akan meningkatkan laju produksi dari suatu
sumur.
34

5.4. Pipesim
Software Pipesim merupakan simulator produksi yang digunakan untuk
mempermudah dalam proses analisa pemipaan produksi dari dalam reservoir
sampai ke permukaan, baik dalam mendesain maupun optimasi dari sumur
Natural Flowing atau Artificial Lift (Gas Lift, ESP dan Rod Pump). Sumur-sumur
di PT Pertamina Asset 3 menggunakan metode Gas Lift, ESP dan rod pump.
Pipesim juga merupakan simulator aliran multifasa steady state yang terbagi
menjadi 2 jenis yaitu jenis black oil dan compositional. Dari software Pipesim ini
juga digunakan untuk menentukan optimasi produksi dengan cara mengetahui
besarnya kehilangan tekanan yang terjadi di permukaan dan di dasar permukaan.
Dalam menentukan IPR yang akan dibentuk pada model pipesim dapat dibagi
menjadi beberapa metode yaitu :
Oil Reservoirs:
Well Productivity Index
Vogel Equation
Fetkovich Equation
Jones Equation
Pseudo-Steady-State Equation
Gas and Gas Condensate Reservoirs:
Well Productivity Index
Back Pressure Equation
Jones Equation
Pseudo-Steady-State Equation
Perintah-perintah pada Pipesim terbagi menjadi beberapa macam tergantung
kegunaannya, berikut pembagian perintah-perintah pada Pipesim:
a) Well Performance
Tubing, digunakan untuk:
Konfigurasi tubing
Peralatan bawah permukaan
Pemasangan artificial lift (Gas Lift dan ESP)
Detail tubing, MD/TVD dari tubing
35

Vertical Completion, memodelkan aliran fluida dari reservoir ke dasar


sumur menggunakan IPR pada sumur vertikal.
Data yang dimasukkan:
Temperatur reservoir
Tekanan reservoir
IPR
Sifat-sifat fluida
Horizontal Completion, memodelkan aliran fluida dari reservoir ke dasar
sumur menggunakan IPR pada sumur horizontal.
Nodal Analysis Point, membagi sistem menjadi dua untuk dilakukan analisa
nodal. NA point diletakkan di antara dua obyek.
b) Pipeline dan Facilities
Select Arrow, untuk memilih dan meletakkan obyek pada area kerja.
Text, memberi keterangan pada model.
Junction, tempat dimana dua atau lebih cabang bertemu. Fluida yang
berasal dari cabang-cabang yang ada akan bercampur di junction. Di
junction tidak terjadi penurunan tekanan atau perubahan temperatur.
Branch, menghubungkan antara junction dengan junction atau
source/sink denga junction.
Source, titik dimana fluida mulai memasuki jaringan (network).
Stream re-injection, satu titik di dalam jaringan dimana aliran fluida
dialihkan dari separator dan dapat dinjeksikan ke cabang yang lain.
Sink, satu titik dimana fluida keluar dari sistem jaringan.
Production Well, titik dimana fluida mulai memasuki jaringan
(network). Hampir sama dengan Source.
Injection Well, sumur injeksi.
Fold, membagi jaringan menjadi sub-model jaringan dari model jaringan
utama. Digunakan untuk membagi model jaringan yang besar menjadi
sub-sub model.
36

c) Network Analysis
Connector, digunakan untuk menghubungkan dua objek dimana tidak
terjadi perubahan tekanan atau temperatur yang signifikan.
Node, digunakan untuk menghubungkan obyek dimana tidak ada
peralatan (equipment) diantara obyek tersebut.
Flowline, untuk memodelkan pipa yang akan digunakan.
Riser, digunakan untuk memodelkan Riser yang digunakan.
Boundary Node, hampir sama dengan Node tapi hanya satu obyek saja
yang bias dihubungkan.
Separator, memodelkan separator yang digunakan.
Compressor, memodelkan compressor yang digunakan.
Expander, memodelkan expander yang digunakan dalam model.
Heat Exchanger, memodelkan Heat Exchanger yang digunakan. Data
yang dimasukkan yaitu perubahan tekanan atau temperatur.
Choke, memodelkan choke yang digunakan. Data yang dimasukkan
diameter choke, critical pressure ratio, batas toleransi laju alir kritis
Multiplier/Adder, untuk memvariasikan laju alir fluida.
Report, untuk menampilkan hasil perhitungan di titik yang telah
ditentukan.
Engine keyword tool, digunakan untuk memasukkan dan menyimpan
dalam expert mode.
Injection point, digunakan untuk menambahkan komposisi pada sistem
utama.
Multiphase Booster, untuk memodelkan booster yang digunakan.
Pump, untuk memodelkan pipa yang digunakan. Data yang dimasukkan,
perbedaan tekanan, tenaga yang diperlukan, dll.
37

Gambar 5.9. Contoh Gambar Simulasi menggunakan Pipesim

5.5 Electric Submesrsible Pump


Electric submersible pump (ESP) adalah sejenis pompa sentrifugal yang
dimasukkan ke dalam lubang sumur yang digunakan untuk memproduksi minyak
secara artificial lift (pengangkatan buatan) dan berpenggerak motor listrik yang
didesain untuk mampu ditenggelamkan di dalam sumber fluida kerja. Tujuannya
adalah untuk dapat menghindari terjadinya kavitasi pada pompa. Peralatan pompa
listrik submersible ini terdiri dari pompa sentrifugal, protector dan motor listrik.
Unit ini ditenggelamkan di dalam fluida kerja, disambung dengan tubing dan
motornya dihubungkan dengan kabel ke permukaan yaitu switchboard dan
trasformator. Pompa dengan desain khusus ini digunakan pada kondisi-kondisi
yang khusus pula. Seperti untuk mengangkat air dari sumber / mata air yang
berada di dalam tanah, mengangkat fluida berwujud sludge (lumpur), dan juga
mengangkat minyak mentah pada proses pengeboran minyak bumi.
38

Gambar 5.9. Ilustrasi Electric submersible pump Pada


Proses Pengeboran Minyak Bumi
Prinsip kerja ESP adalah berdasarkan prinsip kerja pompa sentrifugal
dengan sumbu putarnya tegak lurus. Pompa sentrifugal dihubungkan langsung
dengan motor penggerak menggunakan tenaga listrik dari power plant, dimana
tenaga listrik untuk pompa disuplai dari switchboard dan transformator di
permukaan dengan perantara kabel listrik yang di-clamp pada tubing dengan jarak
15 ft hingga 20 ft. Setiap pompa mempunyai beberapa tingkat (stage) dimana
masing-masing stage ini terdiri dari impeller dan diffuser. Impeller ini merupakan
bagian yang berputar yang melekat pada pompa (dinamis), sedangkan difuser
merupakan bagian yang tidak bergerak (statis) pada pompa. Motor hidrolik
memutar cairan yang melalui impeller pompa, cairan masuk ke dalam impeller
pompa menuju poros pompa, dikumpulkan oleh diffuser kemudian akan dilempar
ke luar. Oleh impeller tenaga mekanis motor dirubah menjadi tenaga hidrolik.
Impeller terdiri dari dua piringan yang ada didalamnya terdapat sudu-sudu, pada
saat impeller diputar dengan kecepatan sudut , cairan dalam impeller
dilemperkan keluar dengan tenaga potensial dan kinetik tertentu. Cairan yang
ditampung dalam rumah pompa kemudian dievaluasikan melalui diffuser,
39

sebagain tenaga kinetik dirubah menjadi tenaga potensial berupa tekanan. Karena
cairan dilempar ke luar maka terjadi proses penghisapan.

Gambar 5.10. Skema Impeller dan Difusser

ESP yang digunakan pada proses pengangkatan minyak bumi dari perut
bumi termasuk teknologi yang paling canggih dan efisien hingga saat ini. Namun
disisi lain teknologi ini juga tidak murah. Karena selain desain konstruksi pompa
dan motor listrik yang khusus, diperlukan juga teknologi kabel listrik yang harus
tahan korosi, serta tahan terhadap tekanan dan temperatur tinggi.

Di dalam kontruksi ESP ini terdapat 2 tipe kontruksi yaitu :

1. Floater construction
Pada tipe konstruksi floater, impeller yang digunakan pada pompa
sentrifugalnya mengapung di shaft, sehingga dapat bergerak naik dan
turun menyesuaikan tergantung banyaknya fluida kerja yang di pompakan.
Pada jenis kontruksi ini, thrust washer atau beban (load) pengangkatan
fluidanya dapat di handle oleh masing-masing stage dan juga thrust washer
pada jenis ini mempunyai fungsi untuk menahan impeller yang
mengapung agar tidak bergerak bertumbukan dengan difuser. Keuntungan
menggunakan floater construction ini, adalah sebagai berikut :
Setiap stage di dalam pompa dapat menghandle thrustnya
masingmasing
40

Floater cocok digunakan pada zona formasi yang mild abrasives


(kepasiran)
Banyak toleranasi dan mudah di install
2. Compression construction.
Pada tipe kontruksi compression ini, impeller yang digunakan pada
pompa sentrifugalnya tetap (fixed), karena terdapat lock di setiap shaft.
Impeller pada jenis compression ini sifatnya rigid yaitu jika salah satu
impeller bergerak naik karena terdapat dorongan dari fluida kerja semua
impeller ikut naik, begitupun sebaliknya. Pada jenis ini, semua thrust yang
diterima hanya di handle pada protector shaft bearing. Keuntungan
menggunakan compression construction ini, adalah sebagai berikut :
Pada sumur yang memiliki kandungan gas tinggi banyak terjadi
pergerakan benturan dari impeller, karena semua thrustnya
diterima oleh protector jadi impellernya tidak cepat rusak
Thrust yang dapat dihandle oleh protector sudah diperhitungkan
kapasitasnya.

Pompa ini berjenis sentrifugal multistage dengan jumlah stage yang


disesuaikan dengan kondisi lapangan. Setiap stage terdiri atas impeller dan difuser
yang berfungsi untuk meningkatkan tekanan fluida serta mengalirkannya langsung
ke stage selanjutnya. Diameter pompa umumnya berukuran 90-254 mm, dengan
ukuran panjangnya yang bervariasi di 1 m hingga 8,7 m. Motor listrik yang
digunakan adalah berfasa tiga dengan kebutuhan daya antara 7,5 kW hingga 560
kW pada frekuensi 60 Hz.
41

Gambar 5.11. Bentuk Electric submersible pump

Electric submersible pump ini membutuhkan daya sebesar 3-5 kV dari


listrik AC untuk dapat mengoperasikan motor listrik yang khusus. Motor tersebut
harus bertahan pada tekanan lingkungan kerja 34 MPa serta suhu 149oC. Pompa
ini memompa minyak bumi dari kedalaman 3,7 km dengan kemampuan produksi
hingga 2500 m3 per hari. Energi yang dibutuhkan pompa ini adalah sebesar 1000
tenaga kuda atau sekitar 750 kW. Efisiensi pompa ini akan turun drastis apabila
fluida kerja yang dipompa (minyak bumi) bercampur dengan gas alam, karena
akan menimbulkan kavitasi. Untuk mengatasi hal ini diperlukan instalasi separator
gas pada sistem pompa.
42

Gambar 5.12. Skema Sistem Electric Submersible


Pump Pada Oil Well
Pompa-pompa submersible yang digunakan dalam instalasi Electric
submersible pump (ESP) adalah pompa sentrifugal multistage yang dioperasikan
dalam posisi vertical. Meskipun dari tahun ke tahun kontruksi pompa submersible
semakin berkembang dan memiliki banyak fitur, namun sebenarnya memiliki
prinsip kerja dasar yang sama. Cairan diputar oleh impeller dengan kecepatan
rotasi yang tinggi sehingga mengalami gaya sentrifugal, kemudian cairan tersebut
kehilangan energi kinetik di dalam diffuser di mana konversi energi kinetik
menjadi energi tekanan berlangsung.
43

Gambar 5.13. Screening Criteria Artificial Lift


BAB VI
GEOLOGI DAN GEOFISIKA

Eksplorasi disebut juga penjelajahan atau pencarian, merupakan tindakan


mencari atau melakukan perjalanan dengan tujuan menemukan sesuatu. Dalam
dunia migas, eksplorasi atau pencarian migas merupakan suatu kajian panjang
yang melibatkan beberapa bidang kajian kebumian dan ilmu eksak. Untuk kajian
dasar, riset dilakukan oleh para geologis dan geofis. Geologi dan geofisika
merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam pencarian wilayah
prospek untuk dilakukan pemboran selanjutnya.

6.1 Geologi

Secara ilmu geologi, untuk menentukan suatu daerah mempunyai potensi


akan minyak bumi, maka ada beberapa kondisi yang harus ada di daerah tersebut
dalam eksplorasi minyak bumi hal ini disebut kajian geologi. Kajian geologi ini
merupakan kegiatan eksplorasi yang dilakukan untuk menentukan 7 kriteria dari
Petroleum System. Jika salah satu saja tidak ada maka daerah tersebut tidak
potensial atau bahkan tidak mengandung hidrokarbon. Kondisi itu adalah:

1. Batuan Sumber (Source Rock), yaitu batuan yang menjadi bahan baku
pembentukan hidrokarbon. biasanya yang berperan sebagai batuan sumber
ini adalah serpih (Shale). batuan ini kaya akan kandungan unsur atom
karbon (C) yang didapat dari cangkang cangkang fosil yang terendapkan
di batuan itu. Karbon inilah yang akan menjadi unsur utama dalam rantai
penyusun ikatan kimia hidrokarbon
2. Tekanan dan Temperatur, untuk mengubah fosil tersebut menjadi
hidrokarbon, tekanan dan temperatur yang tinggi di perlukan. Tekanan dan
temperatur ini akan mengubah ikatan kimia karbon yang ada dibatuan
menjadi rantai hidrokarbon.

44
45

3. Maturasi, merupakan suatu proses pematangan suatu senyawa hidrokarbon


sampai menjadi fasa minyak atau gas.
4. Migrasi, Hirdokarbon yang telah terbentuk dari proses di atas harus dapat
berpindah ke tempat dimana hidrokarbon memiliki nilai ekonomis untuk
diproduksi. Di batuan sumbernya sendiri dapat dikatakan tidak
memungkinkan untuk di ekploitasi karena hidrokarbon di sana tidak
terakumulasi dan tidak dapat mengalir. Sehingga tahapan ini sangat
penting untuk menentukan kemungkinan eksploitasi hidrokarbon tersebut.
5. Reservoir, adalah batuan yang merupakan wadah bagi hidrokarbon untuk
berkumpul dari proses migrasinya. Reservoar ini biasanya adalah batupasir
dan batuan karbonat, karena kedua jenis batu ini memiliki pori yang cukup
besar untuk tersimpannya hidrokarbon. Reservoar sangat penting karena
pada batuan inilah minyak bumi di produksi.
6. Caps Rock, Minyak dan atau gas terdapat di dalam reservoir, untuk dapat
menahan dan melindungi fluida tersebut, maka lapisan reservoir ini harus
mempunyai penutup di bagian luar lapisannya. Sebagai penutup lapisan
reservoir biasanva merupakan lapisan batuan yang rnempunyai sifat
kekedapan (impermeabel), yaitu sifat yang tidak dapat meloloskan fluida
yarg dibatasinya. Jadi lapisan penutup didefinisikan sebagai lapisan yang
berada dibagian atas dan tepi reservoir yang dapat dan melindungi fluida
yang berada di dalam lapisan di bawahnya.
7. Perangkap Reservoir (Reservoir Trap), Merupakan unsur pembentuk
reservoir sedemikian rupa sehingga lapisan beserta penutupnya merupakan
bentuk yang konkap ke bawah, hal ini akan mengakumulasikan minyak
dalam reservoir. Jika perangkap ini tidak ada maka hidrokarbon dapat
mengalir ketempat lain yang berarti ke ekonomisannya akan berkurang
atau tidak ekonomis sama sekali.
6.2 Well Site Geology

Gambar 6.1. Exploration Workflow

Persiapan Wellsite Geologi

1. Personal equipment, PPE, Medicines.


2. Drilling Program, Geological Prognosis, Logging Program, Sample
Interval, Coring Program, Survey Program.
3. Well correlation, Offset Well Data, Spider Map, Montage
4. Report Template: Geological, Sample Description, Core Description. List
of
5. Contact Number.

112
113

Gambar 6.2 Mud Logging Sensor

Parameter Pemboran:

1. ROP: Rate of Penetration (min/m, ft/hrs)


2. RPM: Revolution Per Minute (/min)
3. WOB: Weight On Bit (Ton, Lbs)
4. Torque: (Psi, ft-lbs)
5. Flow In: (gpm)
6. Temperature: (C, F)
7. Mud Weight: (SG, PPG)
8. Gas: (Unit, %)

6.2.1 Cutting

Pekerjaan lain dari seorang mud logger adalah melakukan deskripsi


cutting. Cutting merupakan material hasil hancuran batuan oleh mata bor yang
dibawa oleh lumpur pemboran ke permukaan. Sebagian sampel dimasukkan ke
dalam plastik polyethene sebagai sampel basah sementara sebagian sampel lain
yang telah dicuci dan dikeringkan dikenal sebagai sampel kering. Sampel yang
telah dibersihkan kemudian diamati dan di analisa dengan berbagai cara yaitu
114

diamati di bawah mikroskop, di analisa dalam sinar UV box dan diberikan solvent
pada cutting tersebut. Hasil deskripsi kemudian diserahkan ke kantor pusat
pengolahan data.

Agar informasi tersebut berguna maka ada standar deskripsi baku yang
harus dilakukan, yaitu deskripsi tersebut harus meliputi :

1. Sifat butir
2. Tekstur
3. Tipe
4. Warna
5. Roundness dan sphericity
6. Sortasi
7. Kekerasan
8. Ukuran

Gambar 6.3 Cutting


115

6.2.2 Coring

Coring merupakan metode yang digunakan untuk mengambil batu inti


(core) dari dalam lubang bor. Coring penting untuk mengkalibrasi model
petrofisik dan mendapat informasi yang tidak diperoleh melalui log.

Setelah pengeboran, sample core di ambil dari suatu formasi dan di angkat
ke permukaan untuk di analisa, kemudian setelah sampai di permukaan core
tersebut dibungkus dan dijaga agar tetap awet. Core tersebut mewakili kondisi
batuan tempatnya semula berada dan relatif tidak mengalami gangguan sehingga
banyak informasi yang bisa didapat. Informasi penting yang bisa didapat oleh
seorang petrofisis dari data core tersebut menurut antara lain:

1. Homogenitas reservoir
2. Tipe sementasi dan distribusi dari porositas dan permeabilitas
3. Kehadiran hidrokarbon dari bau dan pengujian dengan sinar ultraviolet
4. Tipe mineral

Pada metode coring ini terdapat keterbatasan di dalam analisanya. Hal ini
disebabkan karena data core tidak selalu akurat, ada sejumlah alasan yang
menyebabkan hal tersebut terjadi, yaitu:

Coring dan proses pemulihannya menyebabkan tejadinya perubahan


tekanan dan suhu batuan sehingga bisa menyebabkan terjadinya perubahan
struktur pada batuan tersebut
Proses penyumbatan, pembersihan, dan pengeringan dapat mengubah
wettability dari sumbat sehingga membuatnya tidak bisa
merepresentasikan kondisi di bawah lubang bor.
Pengukuran resistivitas sumbat pada suhu lingkungan dengan
menggunakan udara sebagai fluida yang tidak basah (nonwetting fluid)
bisa tidak merepresentasikan kondisi reservoar.
116

6.3 Well Logging Operation

Well Logging, juga disebut juga dengan borehole logging adalah kegiatan
membuat catatan detail (well log) dari formasi geologi. Log mungkin didasarkan
dari inspeksi visual dari sampel ke permukaan (geological logs) atau dari
pengukuran fisik.

Tujuan Well Logging:

1. Shallow HC/gas
2. Mechanical Rock Properties
3. Bentuk dan arah lubang bor
4. Informasi lithologi dan stratigrafi
5. Interpretasi struktur geologi
6. Interpretasi lingkungan pengendapan
7. Asesmen potensi source rock
8. Kualitas reservoir
9. Tekanan formasi
10. Sample fluida dan batuan
11. HC Bearing Reservoirs

Operasi Well Logging:

Online to surface
Electric Wireline Logging (EWL)
Tough Logging Condition (TLC)
Logging While Drilling (LWD)
Offline to surface
Slickline Logging
Trough Tubbing/Coiled Tubing Logging
117

Gambar 6.4 Wireline Logging

Gambar 6.5 Logging While Drilling


118

Gambar 6.6 Coiled Tubing Logging

6.4 Geofisika
Metode seismik adalah suatu metode dalam geofisika yang digunakan
untuk mempelajari struktur dan strata bawah permukaan bumi. Metode ini
memanfaatkan perambatan, pembiasan, pemantulan gelombang gempa. Dengan
menggunakan metode ini akan memudahkan pekerjaan eksplorasi hidrokarbon
karena dengan metode seismik dapat diselidiki batuan yang diperkirakan
mengandung hidrokarbon atau tidak. Tentu saja metode ini pun harus didukung
oleh adanya data data geologi yang lengkap.
Secara umum dalam suatu langkah eksplorasi hidrokarbon, urutan
penggunaan metode seismik adalah sebagai berikut:

1. Pengambilan data seismik ( Seismic Data Acquisition )


2. Pengolahan data seismic ( Seismic Data Processing )
3. Interpretasi data Seismik ( Seismic Data Interpretation )
119

6.4.1 Akuisisi
Akuisisi data seismik adalah tahapan survey guna mendapatkan data
seismik berkualitas baik di lapangan. Sebagai tahap terdepan dari serangkaian
survey seismik, data seismik yang diperoleh dari tahapan ini akan menentukan
kualitas hasil tahapan berikutnya. Sehingga, dengan data yang baik akan
membawa hasil pengolahan yang baik pula, dan pada akhirnya, dapat dilakukan
interpretasi yang akurat, yang menggambarkan kondisi bawah permukaan
sebagaimana mestinya.

Untuk memperoleh data berkualitas baik perlu diperhatikan berbagai


macam persiapan, penentuan parameter-parameter lapangan yang sesuai.
Penentuan parameter lapangan tersebut umumnya tidak sama, sesuai karakteristik
dan kondisi daerah lokasi survey. Perlunya penentuan parameter ini dimaksudkan
untuk menetapkan parameter awal dalam suatu rancangan survey akuisisi data
seismik, yang dipilih sedemikian rupa, sehingga dalam pelaksanaannya akan
diperoleh informasi target bawah permukaan selengkap mungkin
dengan noise serendah mungkin.

6.4.2 Sistem Perekaman


Metode seismik memanfaatkan fenomena rambat gelombang seismik,
yang merupakan gelombang usikan mekanis yang menjalar dari suatu tempat ke
tempat yang lain melalui lapisan batuan bawah permukaan bumi. Gelombang ini
dapat mengalami pemantulan oleh perlapisan batuan yang memiliki perbedaan
densitas dan kecepatan dalam merambatkan gelombang, dan kemudian terekam
sebagai fungsi waktu. Sebagai unit perekam fenomena seismik tersebut, dalam
dunia seismik eksplorasi pada khususnya, digunakan suatu sensor
perekaman/receiver khusus, yang juga jenisnya berbeda sesuai dengan
daerah/lingkungan pengukuran. Untuk survey seismik darat, alat ini
berupa geophone, dan untuk survey seismik laut berupa hydrophone.
120

Gambar 6.7 Fenomena Pemantulan Gelombang Seismik

Sensor geophone umumnya berjenis moving coil, yang bekerja atas prinsip
fisika Hukum Lenz, yang berupa kumparan kawat yang bergerak di dalam medan
magnet). Sedangkan hydrophone, sensornya berupa kristal piezo elektrik yang
peka terhadap perubahan tekanan.

Gambar 6.8. Sensor Geophone.

6.4.3 Processing
Pengolahan data seismik, pada dasarnya dimaksudkan untuk mengubah
data seismik lapangan yang terekam menjadi suatu penampang seismik yang
kemudian dapat dilakukan interpretasi darinya. Sedangkan tujuan pengolahan data
seismik adalah untuk menghasilkan penampang seismik dengan kualitas signal to
121

noise ratio (S/N) yang baik tanpa mengubah bentuk kenampakan-kenampakan


refleksi/pelapisan batuan bawah permukaan, sehingga dapat dilakukan interpretasi
keadaan dan bentuk dari struktur pelapisan bawah permukaan bumi seperti
kenyataannya. Atau dapat dikatakan bahwa pengolahan data seismik didefinisikan
sebagai suatu tahapan untuk meredam noise dan memperkuat sinyal.

Pengolahan data seismik dilakukan melalui serangkaian tahapan-tahapan.


Oleh karena geologi setiap medan survey seismik berbeda-beda, yang secara
umum dapat dibedakan menjadi lingkungan laut (marine), lingkungan darat
(land), dan transisi (transition), perbedaan ini akan menghasilkan data dengan
karakteristik yang berbeda-beda dan akan menyebabkan tahapan-tahapan
pengolahan data seismik pun berbeda-beda. Selain itu, urutan/tahapan dalam
pengolahan data seismik juga dipertimbangkan atas dasar kualitas data lapangan
yang terekam, hingga kemampuan/pengalaman orang yang mengerjakan, dan
biaya.

6.4.4 Interpretasi
Setelah melakukan akuisi dan processing maka langkah selanjutnya adalah
melakukan interpretasi. Interpretasi bertujuan untuk menyebarkan suatu lapisan di
sepanjang seismik keseluruhan. Langkah untuk melakukan interpretasi ada 2
secara umum yang petama adalah picking fault dan yang selanjutnya adalah
picking horizon.
Pada picking fault tahapannya adalah sebagai berikut:

1. Menentukan fault tiap section


Tiap section akan memliki faultnya masing-masing. Jika dilihat dari atas 1
fault hanya terlihat sebagai satu titik saja.
2. Faut tiap section disatukan
Jika fault tiap section dilihat dari atas maka akan terlihat membentuk urutan
titik-titik yang seragam. Fault disatukan untuk membuat garis 2 dimensi yang
dinamakan stick fault.
3. T surface
122

Setelah fault disatukan (stick fault) maka akan terlihat seperti membentuk
cacing jika dilihat dari permukaan.
4. Fault Outline
Stick fault tadi akan terlihat 3 dimensi karena didalam fault tersebut terdapat
separasi yaitu ruang displacement fault tersebut.

Setelah melakukan picking fault selanjutnya adalah melakukan picking horizon.

Tahapan dalam melakukan picking horizon adalah sebagai berikut:

1. Korelasi antar sumur


Data yang dikorelasikan berupa data log seperti GR, b, dan sebagainya.
Setelah korelasi didapatkan maka marker tiap sumur dapat dibuat. Marker ini
berfungsi sebagai penanda posisi ddari suatu lapisan top dan bottomnya.
2. Well Tie
Well Tie bertujuan untuk membuat sintetik seismograf yang merupakan
perwakilan suatu sumur terhadap seismik keseluruhan. Pembuatan sintetik
seismograf ini melalui proses log dt, log density, checkshot dan weflat.
3. Picking
Picking dilakukan pada zona yang sudah terdapat depth dan timenya.

Setelah melakukan picking maka data tersebut dapat dibuat time structure
map. Pada time structure map ini berdimensi waktu sehingga yang terdapat di peta
tersebut adalah persebaran waktu tanpa diketahui kedalamannya. Fungsi dari time
structure map ini adalah untuk menyebarkan parameter(porosity) ke seluruh map.

Time structure map dapat dirubah menjadi depth structur map dengan
menggunakan variabel velocity. Pada depth structure map data yang ada berupa
kedalaman tiap lapisan. Peta ini bergungsi untuk menentukan titik kedalaman
pemboran. Depth structure map ini dapat dikembangkan menjadi isopach map.
123

BAB VII
FIELD VISITATION

Dalam melakukan kunjungan ke lapangan pada PT. PERTAMINA


ASSET 3 ini dilakukan di daerah Jatibarang. Dalam hal ini kami mengunjungi
beberapa divisi pada PT. PERTAMINA ASSET 3 ini antara lain yaitu
Laboratorium Mundu, Renlift, Sistem produksi lapangan (SPU B), dan yang
terakhir yaitu bagian Workover dan Wellservice dan juga Petroleum Engineering.

7.1. Lab Mundu


Lab mundu adalah salah satu divisi dibawa divisi engineer teknik
reservoir. Divisi ini memiliki tugas antara lain :
1. Menunjang tugas operasional pemboran dan produksi. Contoh :
pembuatan lumpur, menganalisa kandungan gas, minyak dan air ada fluida
produksi
2. Analisa limbah hasil produksi dari formasi
3. Analisa bahan kimia pemboran, seperti : demulsifier, skin inhibitor dll
4. Analisa data-data karakteristik fluida reservoir

Dalam melaksanakan tugasnya untuk menganalisa dan memodelkan


reservoir, reservoir engineer membutuhkan data-data fluida dan formasi.
Sebagaian dari data-data tersebut untuk memperolehnya tidak mampu didapatkan
secara langsung, harus melalui analisa laboratorium.
124

7.1.1. Analisa Gas


Pada laboratorium ini alat yg digunakan untuk menganalisis gas antara lain
adalah
Gas Chromatography
Digunakan untuk melihat kandungan GHV , kandungan 2 dan
komposisi 1 6 . Bila gas memiliki harga GHV lebih dari 1000
btu/ft2 maka gas tersebut memiliki harga yang tinggi.
Dragger
Digunakan untuk mengetahui kandungan 2 pada ada . tetapi
biasanya analisa ini dilakukan pada saat dilapangan karena gas
yang dibutuhkan pada jumlahnya banyak dan menerus.
Shaw dwepoint
Alat ini berfungsi untuk mengetahui kadar air yang terdapat dapat
gas itu sendiri. Alat ini juga biasa digunakan pada saat dilapangan
Sampel gas dari lapangan yang akan diuji di laboratorium dapat disimpan
dalam 2 wadah, apabila gas memiliki tekanan yang tinggi gas disimpan dalam gas
boom sedangkan gas yang memiliki tekanan yang lebih kecil akan disimpan ke
dalam kantung.

Gamabar 7.1 Gas Boom


Gambar 7.2
Gas Chromatography
125

i. Analisa Air
Pada laboratorium air ini yang dianalisa meliputi :
- Air formasi
- Air limbah
- Air injeksi
- Air minum
- Air baku

Dimana air-air yang telah dianalisis dapat diketahui kandungannya dan


bila tidak memunuhi standarat peraturan pemerintah yanga ada air tersebut
dapat tinjaklanjuti oleh PPLI.

Gamabar 7.3
Alat alat Titrasi

ii. Analisa Lumpur


- Densitas lumpur pemboran
- Viskositas relatif lumpur
- Apparent Viscosity
- Plastic Viscosiry
- Yield point
- Gel Strength
iii. Analisa Semen
- Densitas slurry
- Thickening Time
- Free Water
- Shear bond dan shear stress
126

iv. Analisa Minyak


1. Densitas
2. Viskositas
3. Titik tuang
4. Titik nyala
5. Kadar endapan dan air (BS & W)
6. Kadar belerang
7. Kadar garam
8. Kadar sulfur

7.2. RENLIFT (Rencana Lifting)


Renlift merupakan suatu divisi perencanaan lifting petroleum engineering
Jatibarang Field PT. PERTAMINA EP ASSET 3. Tugas utama dari renlift ini
yaitu Menyediakan peralatan dan melakukan pengambilan data untuk analisis
karakteristik reservoir, ulah produksi dan optimum produksi. Bagian Renlift yang
terletak di Mundu, Karangampel memiliki daerah operasi yang meliputi Field
Cepu, Field Jatibarang dan Field Subang. Salah satu unit kerja di dalam Renlift ini
yaitu unit kerja Gas Lift.
7.2.1. Gas Lift
Salah satu metode produksi pengangkatan buatan yang dipasang setelah
tekanan alam dari reservoir sudah tidak mampu lagi untuk mengangkat fluida ke
permukaan atau untuk meningkatkan laju produksi suatu sumur jika diperlukan
produksi dengan rate tertentu. Prinsipnya adalah menginjeksikan gas kedalam
tubing untuk menurunkan viskositas minyak. Gas di injeksikan melalui casing
menuju tubing dengan masuk melalui unloading valve, gas injeksi tercampur
dengan minyak yang kemudian menurunkan viskositas minyak dan memudahkan
minyak untuk mengalir ke permukaan. Banyaknya unloading valve tergantung
pada kedalaman dan desain gas lift.
127

Kelebihan gas lift :


a. Biaya awal peralatan bawah tanah rendah
b. Pasir yang ikut terproduksi tidak merusak kebanyakan peralatan gas
lift,
c. Flexibilitas tinggi
d. Gas lift tidak tergantung dari design sumur,
e. Umur peralatan relative lebih lama
f. Biaya operasi dan perawatan rendah
Kekurangan gas lift :
a. Harus tersedianya gas untuk injeksi
b. Instalasi compressor cukup rumit untuk sumur-sumur dengan jarak
terlalu jauh,
c. Pada well spacing yg luas
d. Pada dual completion dgn jarak zona yg jauh
e. Bila gas injeksi bersifat korosif
Jenis gaslift mandrel yang digunakan di lapangan Jatibarang menggunakan
tipe konvensional. Hal ini didasari karena pemilihan jenis ini lebih cocok terhadap
karakteristik fluida lapangan Jatibarang yang dominan minyak berat. Sedangkan
untuk jenis side pocket mandrel pernah dipasang di lapangan Jatibarang, namun
karena kondisinya tidak cocok dengan sifat fisik fluida yang diproduksi, justru
terjadi intermittent tinggi yang kemudian dapat merusak flowline karena memicu
getaran yang cukup besar. Jika dibandingkan dengan mandrel konvensional yang
diinjeksikan dengan pressure yang sama namun dapat memberikan hasil yang
lebih bagus dan intermittent relative kecil. Dari segi injeksi gas, side pocket
mandrel memang lebih optimal atau irit, pencabutannya pun lebih mudah yaitu
mampu dicabut dengan wireline, berbeda dengan mandrel konvensional yang
mengharuskan pencabutan dengan melakukan workover.
128

Komponen-komponen Gas Lift

Gambar 7.1. Gas Lift Valve Camco J-20 Gambar 7.2. Komponen Camco

Gambar 7.3. Dome Gambar 7.4. Check Valve


129

Gambar 7.5. Side Pocket Mandrel


7.2.1.1. Prosedur Perbaikan, Pengujian dan Pengaturan Gas Lift Valve
1. Prosedur Pembongkaran Untuk Perbaikan
Bongkar gas lift valve yang terpasang di mandrel
Bersihkan gas lift valve dan check valve dari kotoran yang
menempel.
Cek PTRO gas lift valve sebelum di bongkar guna untuk
mengetahui adanya kebocoran atau kerusakan pada komponen gas
lift valve.
Release tekanan yang ada di gas lift valve untuk dilakukan proses
pembongkaran.
Cuci semua komponen yang terpasang pada gas lift valve.
Periksa secara visual semua komponen gas lift valve untuk
mengidentifikasi adanya kerusakan pada part.
2. Proses Perakitan Gas Lift Valve
Bersihkan komponen dari kotoran yang menempel pada gas lift
valve.
130

Gunakan komponen yang baru seperti Cooper Gasket yang baru,


O-Ring 016, O-Ring 210, O-Ring 215, Tru Arc Ring.
Berikan lubricant Molycote pada setiap O-Ring.
Pasang Stem Tip pada Bellows Assy dan berikan Loctite 242.
Kencangkan dan jangan sampai Bellows terputar.
Pasang Floating Seat,O-Ring 210, Tru Arc Ring pada Seat
Housing.
Pasang Seat Housing dengan Bellows Housing.
Periksa silicone fluid yang terdapat pada dill valve core, apabila
habis isi 20 cc silicone pada dill valve core.
Pasang O-Ring 016, Cooper Gasket, Tail Plug dipasang jangan
terlalu kencang.

Gambar 7.6. Box Penyimpanan Gas Lift


131

Gambar 7.7. Pemasangan Gas Lift Pada Mandrell


3. Proses Uji Pengetesan Gas Lift Valve
Ambil program desain gas lift valve, cek PTRO yang diinginkan.
Letakkan pada test bench. Beri tekanan pada dome 50 Psi lebih
besar dari PTRO.
Berikan 2 tetes silicone pada dill valve core untuk mengetahui
adanya penurunan tekanan dengan timbul gelembung-gelembung
yang menandakan adanya kebocoran.
Letakkan gas lift valve pada Ager. Lakukan uji hidrotest. Beri
tekanan 5000 psi 100 psi. Catatan : Sesuaikan dengan tekanan
formasi sumur pada desain program (Pws), lakukan uji 1.5 2 x
Pws. Tahan minimum selama 15 menit.
Setelah uji hidrotest, letakkan gas lift valve pada Water Bath,
dinginkan sesuai temperatur setting 60 F. Tahan minimum selama
15 menit.
Ambil gas lift valve dari Water Bath, lakukan uji test tekanan buka
operasi (PTRO). Cek PTRO apakah sesuai dengan desain program.
Apabila terjadi penurunan tekanan sebesar 5 psi atau lebih hal ini
menandakan adanya kerusakan pada bellows, posisi stem tip tidak
benar duduk pada floating seat. Untuk mengetahuinya tutup bagian
bawah pada gas lift valve dengan jari tangan ( di tahan, maka
tekanan N2) akan terasa keluar melalui jari tangan tersebut atau
132

dilakukan uji gelembung ( bubble test ) dengan minimal 30


gelembung/menit. Ganti dengan spare part yang baru.
Apabila tekanan buka operasi lebih besar, hal ini menandakan
rusaknya cooper gasket dan O-Ring 016 sehingga air masuk ke
dalam bellows pada saat uji hidrotest.
Pasang De- Airing Tool, putar searah jarum jam, ablas secara
perlahan dan atur PTRO sesuai dengan desain program.
Setelah uji PTRO, letakkan kembali gas lift valve pada Water Bath,
lakukan cek ulang PTRO.
Letakkan kembali pada Ager untuk uji hidortest.
Setelah uji hidrotest, letakkan kembali pada water bath, lakukan
pengecekan ulang PTRO dan siap dikirim ke lokasi.
Siapkan mandrel konvensioanal tipe -C sesuai dengan kebutuhan
desain program.
Periksa kondisi mandrel,seperti draat pada mandrel baik drat pada
mandrel, drat pada port gas lift valve, drift test inside diameter,
clearance port gaslift
Tulis nomor kedalaman pada dinding mandrel dengan
urutan nomor 1 (satu) adalah nomor kedalaman sumur paling
dalam dan seterusnya.
Letakkan gas lift valve pada box secara hati-hati.
Bawa box dan mandrel ke dalam mobil, khusus double cabin.
Hindari goncangan pada saat pengiriman ke lokasi.
Setelah di lokasi, komunikasikan dengan com.man setempat untuk
meletakkan posisi mandrel.
Pasang gas lift valve ke mandrel, jangan terburu-buru. Letakkan
secara vertikal dan simpan diruangan ber-AC apabila posisi operasi
rig masih lama untuk dilakukan pemasangan mandrel ke rangkaian
tubing.
Pemasangan selesai, komunikasikan dengan com.man. Kembali ke
Workshop.
133

Gambar 7.8. Test Bench


7.3. Stasiun Pengumpul Utama B Jatibarang Field

Pada lapangan Jatibarang terdapat 4 struktur yaitu struktur Jatibarang,


struktur Cemara, struktur Randegan Bango 2 dan platform X Ray. Pada struktur
jatibarang terbagi menjadi 2 area yaitu area A (SPU A) dan area B (SPU B). Pada
SPU B ini terdapat 3 kegiatan utama yaitu:
1. Pemisahan
2. Pengukuran produksi dan Penimbunan
3. Pemompaan
Pada saat lapangan Jatibarang mulai berproduksi, metode produksinya
adalah sembur alam (natural flow). Tekanan reservoirnya mampu mengangkat
fluida produksi ke permukaan. Namun sejak tahun 1977 mulai dikembangkan
artificial lift, yaitu dengan dilakukan injeksi gas secara tetap (countinious gas lift)
dan ESP (electric submergible pump) kedalam sumur. Hal ini terjadi karena
adanya penurunan tekanan reservoir secara alamiah. Dewasa ini kurang lebih 95%
dari sumur-sumur produksi di lapangan karangampel dikembangkan dengan
metode gas lift. Adapun gas yang digunakan untuk menginjeksikan sumur berasal
dari sumur-sumur non asociated yang memproduksi gas cukup banyak.
134

7.3.1. Aliran Fluida Dari Sumur- Block Station


Fluida mengalir melalui flow line dari sumur menuju manifold. Manifold
merupakan pertemuan flow line yang berasal dari beberapa sumur yang terdiri
dari beberapa valve yang berfungsi mengatur arah aliran fluida yang menuju
header. Ketika melewati manifold maka tekanan dari berbagai sumur akan
seragam , apabila tekanan tidak seragam akan memungkinkan aliran dari sumur
yang memiliki tekanan lebih kecil akan tertahan. Header berfungsi untuk
menyatukan fluida produksi yang berasal dari manifold dan mengalirkannya ke
separator, pipa dari header ini memiliki diameter lebih besar untuk mengalirkan
fluida dari berbagai sumur yang masuk SPU-A dan SPU-B. Pada separator terjadi
pemisahan liquid dan gas. Fluida dari station pengumpul diarahkan menuju SPU
(Stasiun Pengumpul Utama).
Lapangan Jatibarang terdapat dua buah Stasiun Pengumpul Utama (SPU)
yaitu :
1. Stasiun Pengumpul Utama A (SPU-A)
Berfungsi untuk menampung dan memisahkan cairan produksi yang
berasal dari SPA-I, SPA-II, SPA-III dan SPA-IV.
2. Stasiun Pengumpul Utama B (SPU-B)
Berfungsi untuk menampung dan memisahkan cairan produksi yang
berasal dari SPB-I, SPB-II, SPB-III, dan SPB-IV.
Pada SPU-B, fluida produksi dialirkan melalui manifold untuk
mengarahkan ke separator. Separator yang terdapat di SPU B merupakan
separator 2 fasa berjenis horizontal dengan jumlah ada 4 yaitu separator untuk
minyak berat (HPPO), separator untuk minyak ringan (LPPO), separator test dan
separator gas. Di separator kemudian cairan dipisahkan menjadi liquid dan gas.
Gas HPPO dikirim ke LPG dan kompressor sedangkan gas LPPO dikirim ke LPG
dan dipakai kembali untuk gas lift. Sedangkan minyak dialirkan menuju tanki
penampungan kemudian dapat dilakukan pengukuran produksi dalam 24 jam
untuk diperhitungkan produksi perhari kemudian dengan prinsip gravity setling
minyak dan air akan terpisah kemudian minyak dan sebagian air dipompakan ke
terminal Balongan, sebagian air dipompakan karena sebagian besar minyak
135

bersifat HPPO maka membutuhkan pemanas melalui air agar dapat sampai ke
terminal Balongan. Sedangkan air dialirkan ke tanki produksi, lalu dimasukkan
kedalam oil catcher untuk memisahkan air dengan minyak, lalu air akan masuk
kedalam kolam penampung sebelum masuk kedalam WTIP untuk dibersihkan dari
sisa-sisa minyak sebelum akhirnya diinjeksikan. Minyak dalam tanki akan
dipompakan ke terminal balongan dengan proses pemompaannya yaitu minyak-
air. Air produksi dulunya dianggap sebagai limbah namun kini digunakan untuk
injeksi, sebelum diinjeksi dilakukan treatment karena apabila tidak dilakukan
treatment, air produksi memiliki tingkat kekeruhan, pH dan TSS yang tidak sesuai
untuk sumur injeksi dan apabila padatan terbawa dalam air akan menyumbat
formasi produktif.

Gambar 7.6. Diagram Alir Produksi Minyak dan Air SPU-B

7.3.2. Peralatan Pada Stasiun Pengumpul Utama


1) Manifold
Berfungsi untuk mengarahkan aliran cairan produksi dari sumur ke
separator dengan tekanan kerja tertentu.
136

2) Header
Header berfungsi untuk menyatukan fluida produksi yang berasal dari
manifold dan mengalirkannya ke separator yaitu separator test dan
separator produksi.
3) Separator
Berfungsi untuk memisahkan cairan produksi liquid dan gas. Di SPU-B
terdapat 4 jenis separator yaitu separator test yang dilengkapi alat flow
meter untuk menghitung tinggi laju aliran minyak dan alat flow recorder
untuk mengukur laju aliran gas. Liquid Level control untuk menghitung
cairan keluar dari separator. Sedangkan lainnya adalah separator untuk
minyak berat (HPPO), separator untuk minyak ringan (LPPO), dan
separator gas.
4) Tanki
Pada SPU-B terdapat 3 tanki yaitu B1, B2, B3. Ketiga tanki tersebut
memiliki fungsi masing-masing yang selang waktu tertentu fungsi tersebut
saling bergantian satu sama lain. Fungsi dari tanki tersebut adalah
Pemompaan, settling, dan produksi.
7.3.3. Water Treatment Injection Plant (WTIP)
Diagram Alir WTIP

Air terproduksi Bak air terproduksi


Balongan & SPU-A SPU-B Injeksi Chemical
Menggunakan
with Chemical
Pompa 06
Pump

Skim MF
T.06 Tank
DAF T.03
Menggunakan
Pompa 02

UF

Mudking
Pump
T.04

Sumur
Jtb-182
Injeksi T.16 Daerator
Menggunakan
Pompa 23
137

Water Treatment Injection Plant adalah sebuah sistem yang difungsikan


untuk mengolah air dari kualitas air baku yang kurang bagus agar mendapatkan
kualitas air pengolahan standar yang diinginkan.
PT Pertamina EP field jatibarang tidak membuang air hasil produksi yang
telah diolah di WTIP ke lingkungan, akan tetapi di injeksikan ke sumur - sumur
produksi untuk digunakan kembali.
Peralatan yang digunakan dalam WTIP yaitu:
1. Skim Tank : seperti kolam yang berfungsi untuk memisahkan solid dan oil
content dengan gaya gravitasi.
2. DAF : solid yang masih belum terpisahkan dicampur dengan zat kimia
yaitu coagulant dan flokulant, dimana coagulant mengikat antar partikel
solid agar membenruk gumpalan kemudian gaya bouyancy ditimbulkan
dari penambahan flokulant sehingga gumpalan solid dapat naik naik ke
permukaan air, sehingga memudahkan penyapuan solid oleh DAF.
3. MF (Multimedia Filter) : penyaringan yang mana water masuk dari atas
dan ditekan kebawah, lalu back wash. Disini air yang dihasilkan jadi lebih
bersih.
4. UF : alat ini untuk memisahkan partikel yang lebih kecil atau mikron.
Daerator : mengikat partikel udara dari dalam air lalu dibuang.

7.4. Workover dan Well Service (WO/WS)


Work Over dan Well Services (WO/WS) adalah salah satu fungsi
PT.Pertamina EP yang tugas utamanya menyediakan peralatan yang disebut
dengan Rig/Hoist untuk melakukan kegiatan KUPL (Kerja Ulang Pindah
Lapisan), Reparasi, PES (perawatan sumur), Stimulasi (Stimulasi Acidizing
dan Surfactant) pada daerah operasi PT Pertamina Asset 3 lapangan
Jatibarang.
Unit yang ada pada fungsi WO-WS Jatibarang:
Workshop
4 Buah rig sewa
2 Buah rig pertamina
138

5 dari 6 rig tersebut merupakan rig darat dan 1 merupakan rig laut
Unit Stimulasi (Acidizing dan Surfactant)
Komponen Rig
7.4.1. Derrick dan Substructure
Derrick terdiri dari 4 sisi yamg kuat dan tinggi digunakan untuk fungsi
pengangkatan (naik turun). Rig yang dimiliki PT. Pertamina fungsi
WO/WS sebagian besar merupakan rig darat bertipe portable rig/movable
rig.

7.4.2. Rig Engine atau Prime Mover


Work Over prime mover yang digunakan PT Pertamina Asset 3 fungsi
WO/WS menggunakan mesin dengan tenaga berkisar antara 300-500BHP.
Lebih kecil daripada prime mover pada rig drilling yang memiliki tenaga
lebih dari 500BHP.
7.4.3. Hoisting Equipment (Konvensional)
Drawwork : Sebagai transmisi penghubung prime mover dengan
rotary system atau drill string.
Overhead Tools : Crown Block, Travelling Block, Hook, Elevator.
Drilling Line : Tali-tali baja penahan rangkaian string dalam fungsi
pengangkatan.
7.4.4. Rotary System
Top Drive System : menggunakan top drive yang dihubungkan pada
rangkaian drill string tanpa menggunakan rotary table.
Rotary Table : menggunakan kelly bushing untuk meneruskan
putaran ke drill string. Pada rig work over PT Pertamina Asset 3,
tidak ada yang menggunakan sistem top drive karena selain
menghemat biaya, akan lebih efisien dengan hanya menggunakan
sistem rotary table karena kebutuhan tenaga juga tidak banyak.
7.4.5. BOP (Konvensional)
Annular preventer
Ram preventer
139

Accumulator
7.4.6. Circulation System (Konvensional)
Preparation Area
Circulating equipment
Conditioning Area
140

BAB VIII
KESIMPULAN

Setelah melakukan kerja praktek di Pertamina EP Asset 3 Cirebon Field


Jatibarang maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. PERTAMINA EP Asset 3 Cirebon merupakan perusahaan minyak hulu yang
melakukan kegiatan eksplorasi dan produksi sebagai kegiatan utamanya guna
memenuhi bahan baku minyak dan gas bumi.
2. PT PERTAMINA EP ASSET 3 sangat menekankan keselamatan kerja bagi
semua pekerja baik yang di lapangan maupun di kantor Pertamina EP ASSET
3 serta semua fasilitas yang digunakan oleh para pekerja. Oleh karena itu di
bentuk suatu divisi yaitu HSSE untuk mengatasi semua masalah tersebut .
Health Menjaga kenyamanan pekerja dalam bekerja seperti
pengaturan udara dalam sirkulasi, penataan ruangan, dll.
Safety Menjaga keselamatan pekerja & visitor serta alat-alat yang
digunakan pada saat kegiatan operasi di lapangan.
Security Menjaga keamanan pekerja, visitor serta lingkungan kerja
pada saat kegiatan operasi di lingkungan kerja.
Environment Menjaga efek yang ditimbulkan dari kegiatan
opersional yang telah dilakukan sebelumnya.
3. Reservoir Engineering pada PT. Pertamina EP Asset 3 merupakan salah satu
bagian fungsi yang berdampingan bersama fungsi G&G (Geologi dan
Geofisika), Production Engineering, dan Petroleum Engineering.
4. Untuk memudahkan dalam proses pengerjaan dalam bidang teknik reservoir
digunakan beberapa software seperti Petrel RE, Saphire, OFM, dan juga
Eclipse.
5. Mempertahankan produksi suatu sumur yang sudah pada tahap decline dapat
dilakukan dengan berbagai cara seperti melakukan stimulasi, artificial lift dan
workover.
141

6. Prinsip dasar acidizing adalah melarutkan batuan dari material-material yang


menghambat aliran dalam reservoir dengan cara menginjeksikan sejumlah
asam ke dalam lubang sumur/ lapisan produktif, biasanya dilakukan untuk
menghilangkan pengaruh penurunan permeabilitas formasi di sekitar lubang
sumur (kerusakan formasi) dengan cara memperbesar pori-pori batuan dan
melarutkan partikel-partikel penyumbat pori-pori batuan
7. Fracturing adalah salah satu proses stimulasi (stimulation) dimana
formasi hidrokarbon kita pecahkan dgn cara memompa fluida tertentu
dalam rate & tekanan tertentu (di atas fracture pressure formasi tersebut)
dengan tujuan untuk meningkatkan permeabilitas. Hydraulic fracturing
menggunakan tekanan fluida pada permukaan batuan agar terjadi rekahan.
Hydraulic fracturing menggunakan fluida fracture yang berguna untuk
mencegah rekahan tertutup kembali.
8. Secondary cementing adalah proses penyemenan ulang yang dilakukan karena
hal-hal tertentu seperti :
1. Memperbaiki primary cementing
2. Menyumbat casing yang bocor
3. Menutup perforasi yang salah
4. Menutup formasi yang bermasalah
5. Sebagai landasan whipstock
9. Nodal analisis merupaka suatu sistem yang digunakan untuk mengoptimalkan
produksi dengan mencari titik pertemuan pada kondisi tekananyang
equilibrium.
10. Electric Submersible Pump (ESP) adalah salah satu metode artificial lift yang
merupakan sejenis pompa sentrifugal yang digerakkan oleh motor listrik yang
didesain untuk mampu ditenggelamkan di dalam sumber fluida kerja.
11. Eksplorasi disebut juga penjelajahan atau pencarian, merupakan tindakan
mencari atau melakukan perjalanan dengan tujuan menemukan sesuatu. Dalam
dunia migas, eksplorasi atau pencarian migas merupakan suatu kajian panjang
yang melibatkan beberapa bidang kajian kebumian dan ilmu eksak. Untuk
kajian dasar, riset dilakukan oleh para geologis dan geofis.
142

12. Logging adalah kegiatan untuk merekam karakteristik batuan sebagai fungsi
kedalaman. Pencatatan ketika kegiatan pemboran masih berjalan, dengan
media lumpur, sering disebut sebagai Mud Logging dan Logging While
Drilling (LWD). Pencatatan setelah kegiatan pemboran selesai, media yang
digunakan adalah kabel, disebut Wireline Logging.
13. Metode seismik adalah suatu metode dalam geofisika yang digunakan untuk
mempelajari struktur dan strata bawah permukaan bumi. Metode ini
memanfaatkan perambatan, pembiasan, pemantulan gelombang gempa. Secara
umum dalam suatu langkah eksplorasi hidrokarbon, urutan penggunaan
metode seismik adalah sebagai berikut:
1. Pengambilan data seismik ( Seismic Data Acquisition )
2. Pengolahan data seismic ( Seismic Data Processing )
3. Interpretasi data Seismik ( Seismic Data Interpretation )
14. Dalam melakukan kunjungan ke lapangan pada PT. PERTAMINA ASSET 3
ini dilakukan di daerah Jatibarang. Dalam hal ini kami mengunjungi beberapa
divisi pada PT. PERTAMINA ASSET 3 ini antara lain yaitu Laboratorium
Mundu, Renlift, Sistem produksi lapangan (SPU B), dan yang terakhir yaitu
bagian Workover dan Wellservice dan juga Petroleum Engineering.
143

DAFTAR PUSTAKA

Kabul P, Avianto, Ir, MT, dkk, 2004, Pengantar Teknik Perminyakan,


Yogyakarta.

Dedi Kristanto, Teknik Reservoir Teori dan Aplikasi. Cetakan ke-4, Yogyakarta,
2012.

http://migas-indonesia.com/2012/08/hydraulic-fracturing-principles.html

http://petrowiki.org/Acid_fracturing

http://artikel-teknologi.com/electrical-submersible-pump-pompa-pada-
pengeboran-minyak-bumi/