Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

DENGUE HEMORAGIC FEVER


PADA ANAK DI RSUD KRMT WONGSONEGORO
SEMARANG

Di Susun Oleh
Nama : ENJELA POPY AGITA
NIM : P1337420916010

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


JURUSAN KEPERAWATAN POLTEKKES SEMARANG
TAHUN AJARAN 2017/2018

DHF (DENGUE HEMORAGIC FEVER)


DEMAM BERDARAH
A. Definisi
Dengue hemoragic fever ( DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh
virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam
tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypti (betina). DHF terutama
menyerang anak remaja dan sering kali menyebabkan kematian bagi
penderita. (Christantie, Effendy. 1995)
Suatu penyakit demam akut disebabkan oleh virus yang masuk kedalam
tubuh melalui gigitan nyamuk apecies Aides Aegypti yang menyerang pada
anak, remaja, dan dewasa yang ditandai dengan: demam, nyeri otot dan sendi,
manifestasi perdarahan dan cenderung menimbulkan syok yang dapat
menyebabkan kematian. (Hendaranto, Buku ajar IPD, FKUI, 1997, hal 417).
DHF adalah demam khusus yang dibawa oleh aedes aegepty dan beberapa
nyamuk lain yang menyebabkan terjadinnya demam. Biasannya dengan
cepat menyebar secara efidemik. (Sir, Patrick manson, 2001 )

B. Etiologi
DHF disebabkan oleh virus dengue yang termasuk dalam genus flavivirus,
keluarga flaviviridae. Flavivirus merupakan virus dengan diameter 30 mm
terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4x106.
Vektor utama : Aedes Aegepty, Aedes Albopictus. Adanya vektor tersebut
berhubungan dengan :
1. Sanitasi lingkungan yang kurang baik
2. Penyediaan air bersih yang langka
3. Daerah yang terjangkit DHF adalah wilayah padat penduduk karena antar
rumah jaraknya berdekatan yang memungkinkan penularan karena jarak
terbang aedes aegepty 40-100 mm.
C. Aedes Aegepty betina mempunyai kebiasaan menggigit berulang (multiple
biters) yaitu menggigit beberapa orang secara bergantian dalam wakti singkat.
(Noer, 1999)
D. Patofisiologi
Setelah virus dengue masuk kedalam tubuh, terjadi viremia yang ditandai
dengan demam, sakit kepala, muak nyeri otot, pegal disekitar tubuh,
hiperemia di tenggorokan, suam atau bintik-bintik merah pada kulit, selain itu
kelainan dapat terjadi pada sistem retikula endotetial, seperti pembatasan
kelenjar-kelenjar getah bening, hati dan limpa. Peningkatan permeabilitas
dinding kapiler ehingga cairan keluar dari intraseluler ke ekstraseluler.
Akibatnya terjadi pengurangan volume plasma, penurunan tekanan darah,
hemokosentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjatan. Plasma merembes sejak
permulaan demam dan mencapai puncaknya saat renjatan. Pada pasien
dengan renjatan berat, volume plasma dapat berkurang sampai 30% atau
kurang. Bila renjatan hipopolemik yang terjadi akibatkehilangan plasma tidak
segera diatasi, maka akan terjadi anorekbma jaringan, asidosis metabolik, dan
kematian. ( Pice, Sylvia A dan Lortainne M Wilson.1995 )

E. Klasifikasi
Klasifikasi DHF berdasarkan patokan dari WHO (1999) di bagi menjadi 4
derajat, yaitu :
1 Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanoa perdarahan spontan uji torniquet
(+) trombositopenia dan hemokonsetrasi.
2 Derajat II
Derajat I dan disertai perdarahan spontan pada kulit atau ditempat lain
3 Derajat III
Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan darah
rendah (hipotensi), gelisah, sianosis sekitar mulut, ujung dan ujung jari.
4 Derajat IV
Renjatan berat ( DDS/ Dengue Shock Syndrom) dengan nadi tak teraba
dan tekanan darah tidak dapat diukur.

F. Manifestasi Klinis
1 Masa Inkubasi
Sesudah nyamuk menggigit penderita dan memasukkan virus dengue ke
dalam kulit, terdapat masa laten yang berlangsung 4 5 hari diikuti oleh
demam, sakit kepala dan malaise.
2 Demam
Demam terjadi secara mendadak berlagsung selama 2 7 hari kemudian
turun menuju suhu normal atau lebih rendah. Bersamaan dengan
berlangsungnya demam, gejala-gejala klinik yang tidak spesifik misalnya,
anoreksia, nyeri punggung, nyeri tulang dan persendian, nyeri kepala dan
rasa lemah dapat menyertainya.
3 Perdarahan
Perdarahan biasanya terjadi pada hari kedua dari demam dan umumnya
terjadi pada kulit, dan dapat berupa uji turniket yang positif, mudah terjadi
perdarahan pada tempat fungsi vena, petekia dan purpura. Selain itu juga
dapat dijumpai epstaksis dan perdarahan gusi, hematomesis dan melena.
4 Hepatomegali
Pada permulaan dari demam biasanya hati sudah teraba, meskipun pada
anak yang kurang gizi hati juga sudah teraba. Bila terjadi peningkatan dari
hepatomegali dan hati teraba kenyal, harus diperhatikan kemungkinan
akan terjadinya renjatan pada penderita.
5 Renjatan (syok)
Permulaan syok biasanya terjadi pada hari ketiga sejak sakitnya
penderita ,dimulai dengan tanda tanda kegagalan sirkulasi yaitu kulit
lembab, dingin pada ujung hidung, jari tangan dan jari kaki serta cyanosis
di sekitar mulut. Bila syok terjadi pada masa demam maka biasanya
menunjukkan prognosis yang buruk. Nadi menjadi lembut dan cepat, kecil
bahkan sering tidak teraba. Tekanan darah sistolik akan menurun sampai di
bawah angka 80 mmHg.

6 Gejala klinik lain


Nyeri epigastrum, muntah muntah , diare maupun obstipasi dan kejang
kejang. Keluhan nyeri perut yang hebat seringkali menunjukkan akan
terjadinya perdarahan gastrointestinal dan syok. ( Smeltzer, Suzanne C
dan Brenda G Bare. 2002 )
G. Pemeriksaan Laboratorium
1 Darah
Pada DHF umumnya dijumpai trombositopenia dan hemokonsetrasi. Uji
torniquetnya yang positif merupakan pemeriksaan penting.
2 Air Seni
Mungkin ditemukan albuminuria ringan.
3 Sumsum Tulang
Pada awal sakit biasanya hiposeluler, kemudian menjadi hiposeluler pada
hari ke 5 dengan gangguan meturasi sedangkan pada hari ke 10 biasanya
sudah kembali normal untuk semua sistem.
4 Serologi
Uji serologi untuk infeksi dengue dapat dikategorikan atas dua kelompok
besar yaitu :
a. Uji serulogi memakai serum ganda, yaitu serum yang diambil pada
masa akut dan masa konvalesen. Pada uji ini yang dicari adalah
kenaikan antibodi antidengue sebanyak minimal empat kali. Termasuk
dalam uji ini pengikatan komplemen (PK), uji neutralisasi (NT) dan uji
dengan blot.
b. Uji serulogi memakai serum tunggal. Pada uji ini yang dicari ada
tidaknya atau titer tertentu antibodi antidengue. Termasuk dalam
golongan ini adalah uji dengue blot yang mengukur antibodi
antidengua tanpa memandang kelas antibodinya: uji IgM antidengue
yang mengukur hanya antibodi antidengue dari kelas IgM.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
a. Data Subjektif
1) Panas
2) Lemah
3) Nyeri ulu hati
4) Mual dan tidak nafsu makan
5) Sakit menelan
6) Pegal seluruh tubuh
7) Nyeri otot, persendian, punggung dan kepala
8) haus
b. Data Objektif
1) Suhu tinggi selama 2-7 hari
2) Kulit terasa panas
3) Wajah tampak merah
4) Dapat disertai tanda kesakitan
5) Nadi cepat
6) Selaput mukosa mulut kering
7) Ruam di kulit lengan dan kaki
8) Epitaksis
9) Nyeri tekan pada epigastrik
10) Hematomesisi
11) Melena
12) Gusi berdarah
13) Hipotensi
c. Data Penunjang
1) Hematokrit
2) Trombositopenia
3) Masa perdarahan memanjang

2. Diagnosa keperawatan
a. Peningkatan suhu tubuh b.d proses infeksi.
b. Resiko terjadinya syok hipovolemik b.d perdarahan yang berlebihan
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d intake makanan yang tidak
adekuat akibat mual , muntah , sakit menelan dan tidak nafsu makan.
d. Resiko kurang volume cairan vaskuler b.d pindahnya cairan dari intra
vaskuler ke ekstra vaskuler. (Carpenito, Lynda Juall. 2001 )

3. Intervensi
Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
Peningkatan Suhu tubuh pasien 1. Kaji suhu dan tanda- 1. Memantau
suhu tubuh akan kembali normal tanda vital setiap jam perubahan suhu tubuh
b.d proses setelah dilakukan 2. Berikan kompres 2. Menurunkan
infeksi tindakan keperawatan hangat suhu yang meningkat
selama 2 x 24 jam , 3. Anjurkan pasien 3. Meingkatkan
dengan kriteria hasil : untuk banyak minum hidrasi
- Suhu 4. Lakukan tirah baring 4. Menurunkan
pasien antara 36 5. Anjurkan pasien suhu tubuh
37 C memakai pakaian yang
- Pasien tipis dan menyerap
tidak gelisah keringat
6. Ganti pakaian dan
alat tenun jika basah.
Resiko terjadi Resiko terjadinya 1. Observasi 1. Memantau
syok syok hipovolemik keadaan umum dan tanda- kondisi pasien selama masa
hipofolemik berkurang setelah tnda vital perawatan terutama saat
b.d dilakukan tindakan 2. Puasa makan terjadi perdarahan untuk
perdarahan keperawatan selama 2 dan minum pada memastikan tidak terjadinya
yang x 24 jam , dengan perdarahan saluran cerna pre syok / syok pada pasien.
berlebihan kriteria hasil : 2. Puasa
- Tanda tanda vital membantu mengistirahatkan
stabil dalam batas saluran pencernaan untuk
normal sementara selama perdarahan
- Ht dalam batas berasal dari saluran cerna.
normal 37 43 %
- Pasien terlihat tidak
gelisah.
Perubahan Kebutuhan nutrisi 1. Anjurkan pasien 1. Asupa
nutrisi kurang pasien akan terpenuhi makan dengan porsi kecil n nutrisi pasien sedikit demi
dari setelah dilakukan tapi sering. sedikit terpenuhi
kebutuhan b.d tindakan keperawatan 2. Kolaborasi dengan 2. Mengu
intake selama 3 x 24 jam , dokter dalam rangi mual, sakit menelan
makanan dengan kriteria hasil : melaksanakan program dan tidak nafsu makan pasien
yang tidak - Pasien dapat medik tentang pemberian
adekuat , menghabiskan porsi infus makan , antisida dan
akibat mual , makanan yang antimedik
muntah , sakit dihidangkan
menelan dan - Berat badan pasien
tidak nafsu stabil
makan
Resiko Resiko kurangnya 1. Anjurkan 1. V
kurangnya volume cairan dalam pasien untuk banyak olume cairan dalam tubuh
volume tubuh pasien akan minum bertambah
cairan b.d berkurang setela 2. Pantau 2. M
pindahnya dilakukan tindakan masukan dan emberikan
cairan dari keperawatan selama 3 pengeluaran ; catat berat perkiraankebutuhan akan
intra vaskuler x 24 jam , dengan jenis urine. cairan pengganti , fungsi
ke ekstra kriteria hasil : 3. Kolaborasi ginjal dan keefektifan dari
vaskuler. - Pasien tidak dengan dokter dalam terapi yang diberikan.
mengalami pemberian infus. 3. M
kekurangan volume eningkatan intake cairan
cairan vaskuler yang tubuh.
ditandai dengan
tanda tanda vital
stabil dalam batas
normal produksi
urine > 30 cc / jam.
- Pasien tidak merasa
haus , mukosa mulut
tidak kering

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta:
Penerbit Buku K\efdokteran EGC.
Pice, Sylvia A dan Lortainne M Wilson.. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit Edisi Empat Buku Kedua. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Edisi 8 Volume 1. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Perry dan Potter.2005. Fundamental Keperawatan.Jakarta: EGC