Anda di halaman 1dari 119

ISSN: 1410-4369 EDISI JANUARI 2012

JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

Widya
Laksana
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
MENUJU PENINGKATAN KUALITAS
SUMBER DAYA MANUSIA

LEMBAGA PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT


UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2012

i
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
Majalah Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat
WIDYA LAKSANA

Pengarah : Rektor Universitas Pendidikan Ganesha


Prof. Dr. I Nyoman Sudiana, M.Pd
Penanggung Jawab : Dr. I Made Sutama, M.Pd
Prof. dr. Ketut Suma, M.S
Drs. Wayan Mudana, M.Si
Pelaksana
Ketua Pelaksana : Drs. I B Putu Mardana, M.Si
Sekretaris : Drs. I Nyoman Gita, M.Si
Bendahara : Ni Nyoman Budiartini
Redaksi Ahli : 1. Ir. Gatot Moedjito, M.P (UGM)
2. Prof. Dr. rer.nat. Suandi Nurono Suandi
(ITB)
3. Prof. Dr. Naswan Suharsono, M.Pd
Redaksi Bahasa Indonesia : Drs. Gede Gunatama, M.Hum
Redaksi Bahasa Inggris : Prof. Dr. A.A. Istri Marhaeni, M.A
Pembantu Penyunting : 1. Drs. I Putu Panca Adi, M.Pd
2. Drs. Gede Nurjaya, M.Pd
3. Nyoman Dini Andini, S.St.Par., M.Par
Design Cover : 1. Gede Juliantara
2. Drs. Made Sutama
3. Ketut Bratha Semadi
Admininistrasi : 1. Ari Prihatini Muladi
2. Putu Sica Agustin, A.Md

PENERBIT
Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat
Undiksha Singaraja
Jln. Udayana 14C Singaraja-Bali
Telepon (0362) 26327 Fax. (0362) 25735
Kode Pos 81116

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan
kemudahan yang diberikan-Nya, Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Widya
Laksana Edisi Januari 2012 dapat diterbitkan sebagaimana mestinya.
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Widya Laksana Menyajikan tulisan
tentang pelaksanaan dan hasil Pengabdian Kepada Masyarakat sivitas akademika
Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Tahun 2012 dalam memberdayakan
masyarakat menuju peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan karya tulis hasil
penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan oleh guru.
Kami berharap agar jurnal ini dapat digunakan sebagai sarana informasi bagi
para pembaca dan bermanfaat untuk meningkatkan kegiatan pengabdian kepada
masyarakat di lingkungan Undiksha pada umumnya. Selain itu, jurnal ini diharapkan
dapat memberi inspirasi kepada pelaksana kegiatan pengabdian kepada masyarakat
untuk melahirkan inovasi dan kreativitas baru.
Mengingat Widya Laksana masih mencari bentuk dan jati dirinya, maka baik
isi maupun kemasannya tidak luput dari kekurangan dan kesalahan. Karena itu, kami
mengharapkan sumbang saran dan kritik para pembaca untuk meningkatkan kualitas
Widya Laksana pada masa yang akan datang.

Redaksi

iii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ... ii

IPTEKS BAGI WILAYAH (IbW) DI KECAMATAN GEROKGAK


Oleh: Ida Bagus Putu Mardana, dkk . 1

IBM PENGERAJIN PANDAN BERDURI DI DESA TUMBU


KARANGASEM BALI
Oleh: Dewa Nyoman Sudana, dkk 12

IBM UNTUK PETANI ANGGUR DI DESA DENCARIK, KECAMATAN


BANJAR. BULELENG BALI
Oleh: I Nyoman Tika, dkk 23

IbM BIOGAS
Oleh: I Made Mariawan, dkk 37

SINERGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM


PENGEMBANGAN WISATA DESA, KERAJINAN DAN
PERTANIAN BERKELANJUTAN DI KECAMATAN
KUBUTAMBAHAN KABUPATEN BULELENG
Oleh: Ida Bagus Jelantik Swasta, dkk .. 46

IBM UNTUK GURU IPA SD DI KECAMATAN BANJAR,


KABUPATEN BULELENG-BALI
Oleh: I G.A. Tri Agustiana, dkk .. 57

PROFIL DESA PAKRAMAN BULIAN


Oleh: I Wayan Rai, dkk ... 72

IbM KELOMPOK USAHA TERNAK BABI DI DESA BANYUNING


Oleh: Anjuman Zukri, dkk .. 80

IBM KERAJINAN PENGERAJIN LOGAM DI DESA BERATAN


BULELENG BALI
Oleh: I Ketut Supir, dkk .. 92

LAYANAN TERHADAP GURU: PEMBELAJARAN SAINS


ASPEK KIMIA PADA GURU-GURU IPA SMP
Ida Bagus Nyoman Sudria, dkk . 100

=======================

iv
IPTEKS BAGI WILAYAH (IbW) DI KECAMATAN GEROKGAK

Oleh:
Ida Bagus Putu Mardana, dkk

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam


Universitas Pendidikan Ganesha

ABSTRAK
Kegiatan IbW yang dilakukan pada tahun II (Tahun 2011) adalah melakukan
pemetaan asset di wilayah garapan dan melaksanakan program ipteks peningkatan
pengetahuan dan keterampilan dalam pertanian-peternakan-perikanan, pendidikan life
skill dan kewirausahaan, dan pembinaan adat-istiadat, keagamaan, dan lembaga
sosial. Metode pelaksanaan IBW dalam pemberdayaan masyarakat miskin adalah
metode PALS (participatory action learning system) yang bersendikan pada 3(tiga)
tahapan kegiatan, yakni (1) tahap penyadaran (Awareness), (2) tahap
pengkapasitasan/pendampingan (participating /scaffolding), dan (3) tahapan
pelembagaan (institutionalization). Hasil kegiatan IbW pada tahun II (tahun 2011)
adalah terwujudnya deplot setra industri pengolahan kelapa, demplot pertanian
multikultur, demplot peternakan berbasis zero waste. Dampak yang ditimbulkan dari
pelaksanaan program IbW tahun II adalah adanya peningkatan kesadaran masyarakat
untuk meningkatkan kualitas hidup melalui pelipatgandaan aktivitas ekonomi
produktif masyarakat berpijak pada potensi dan kearifan lokal yang ada, dan
peningkatan penguasaan IPTEKS untuk meningkatkan kapasitas dan diversifikasi
produksi hasil tani-ternak-perikanan.

Kata-kata kunci: pemberdayaan, KK miskin, PALS, potensi wilayah, IbW

ABSTRACT
The main programme of IbW in the second year (the year of 2011) were asset
mapped of the area, and implemented an action IBW in handling problems in dry
land areas Gerokgak, namely the implemented of the science and technology program
in order to increased knowledge and skills in agriculture-livestock-fishery, education,
life skill and entrepreneurship, as well as quiding the socials customary, religious, and
social institutions. The method of IbW in the empowering of community was the
PALS method (participatory action learning system) that refer to 3 (three) stages,
namely stage of awareness, stage of participating / scaffolding, and stages of
institutionalization. The results of IbW in the first year was the installation of centre
coconut processing industry, the multiculturalism agriculture demonstration and plots,
the zero waste farm of demonstration and plots demonstration a. The installation of
demomstration and plot was a mean of altering the mind-set of community in
handling the live resources optimally. The impacts of IbW program were the existence
of increasing public awareness to improve the quality of life through the multiplied of
economic productive activities based on potential and existing local genuine, and the
improving of community capability in science and technology to increase production
capacity and diversification of the agricultural-livestock-fishery product process.

Key words: empowerment, poornes family, PALS, region potency, IbW

1
1. Pendahuluan
Secara umum, kondisi eksisting kawasan IBW yang meliputi desa Patas, desa
Gerokgak, desa Musi, dan desa Sangalangit merupakan kawasan yang diproyeksikan
menjadi kawasan industri perikanan, pertanian dan peternakan dalam arti luas untuk
menunjang eknomi masyarakat. Keempat desa ini merupakan wilayah pantai dan
perbukitan, yakni perpanduan antara laut dan pegunungan (nyegara-gunung) beriklim
tropis, dengan curah hujan yang relatif sangat rendah. Keadaan tanahnya sebagian
besar kering/tegalan yang hanya dapat ditanami tanaman hortikultura, palawija,
perkebunan, dan beberapa diantaranya persawahan. Lapisan top soil tanah relatif
sangat tipis dengan tingkat kesuburan yang terbatas, karena tanah bersifat poros,
sehingga sulit menyimpan air. Namun demikian, budidaya pertanian dan peternakan
masih bersifat tradisional, yang miskin dengan sentuhan ipteks. Pengembangan
peternakan tradisional yang tidak ramah lingkungan, sering menimbukan persoalan
sanitasi lingkungan dan sumber wabah penyakit. Padahal limbah pertanian dan
peternakan, melalui penerapan ipteks dapat dirubah menjadi sumber pakan ternak,
pupuk organik dan sumber energi bakar alternatif sehingga dapat meningkatkan
kualitas hidup dan kemandirian masyarakat.
Solusi yang ditawarkan untuk menangani permasalahan wilayah sasaran IBW
adalah melaksanakan program ipteks bagi wilayah, yakni: (1) melaksanakan program
aksi inisiasi IbW dalam penanganan masalah di wilayah IBW, yakni: (a) program
ipteks peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam dalam program pertanian-
peternakan-perikanan terpadu melalui (b) pembuatan demplot pertanian multikultur,
(c) demplot peternakan terpadu yang ramah lingkungan (zero waste), (c)
pengembangan demplot sentra industri kecil berbasis kelapa, dan (d) pembuatan
demplot budidaya tambak ikan bandeng, (e) Program ipteks peningkatan
pengetahuan dan keterampilan managemen wirausaha, perkoperasian dan
pemberdayaan ekonomi masyarakat dan revitalisasi UKM-UKM, pembinaan KK
miskin, dan pemberantasan buta aksara, dan (f) pengolahan aneka makanan
tradisional dan modern berbasis hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan, serta (g)
melakukan evaluasi dan refleksi komprehensif terhadap program aksi, sebagai dasar
pertimbangan dalam menjaga sustainabilitas program IBW di wilayah Gerokgak
secara mandiri.

2
2. Metode Pelaksanaan IbW
Metode pelaksanaan IBW adalah metode PALS (participatory action learning
system), yang dikembangkan oleh Linda Mayoux tahun 2000-1n ( Chambers, 2007).
Metode PALS merupakan salah satu metode pemberdayaan dalam lingkup PLA
(participatory learning and action). Metode pelaksanaan IbW dengan PALS
merupakan metode pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kewilayahan
dengan tahapan-tahapan kegiatan, yakni (1) tahap penyadaran (Awareness)
merupakan tahap inisiasi untuk menyadarkan masyarakat agar memahami kondisi
dan potensi wilayah, serta usaha produktif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan
taraf hidup, (2) tahap pengkapasitasan (participating/scaffolding) adalah tahap
pelibatan partisipasi aktif dan pendampingan pada masyarakat untuk membangun,
mengelola, dan membesarkan usaha produktifnya, salah satunya melalui pembanguan
demplot dan (3) tahapan pelembagaan (institutionalization) adalah mewadahi usaha
produktif masyarakat pada suatu kelompok institusi yang dapat memudahkan proses
belajar, transfer IPTEKS, pemasaran, dan jaminan legalitas formal.
3. Hasil dan Pembahasan

Kegiatan IbW di kawasan lahan kering Gerokgak tahun 2011, diawali dengan
sosialisasi secara vertikal dengan menghaturkan upacara permohonan
ijin/permakluman (piuning) kehadapan Tuhan Yang Maha Esa yang berstana di Pura
Desa masing-masing di desa Patas, Gerokgak, Sanggalangit dan Musi. Selanjutnya,
sosialisasi juga dilakukan secara horizontal dengan masyarajat dengan menghadirkan
aparat pemerintah di tingkat kecamatan, desa, adat, tokoh masyarakat dan ketua
kelompok produktif-ekonomis masyarakat di kawasan lahan kering Gerokgak, baik
melalui kegiatan tatap muka maupun dialog interaktif di RRI. Saat sosialisasi,
beberapa respon masyarakat dalam menyikapi kegiatan IbW Gerokgak terungkap
bahwa (1) IbW Gerokgak memberi manfaat yang baik dalam mendampingi
masyarakat program pembangunan, khususnya terkait dengan aktivitas tani-ternak, (2)
masyarakat terobsesi untuk mengembangkan kawasan mandiri energi yang berbasis
pada pengolaham limbah tani-ternak, dan (3) Program IbW hendaknya tersosialisasi
sampai ke lapisan masyarakat bawah.

Program ipteks peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam diversifikasi


produk pengolahan kelapa menjadi produk berorientasi pasar dilakukan dengan
3
pengembangan demplot sentra industri kecil berbasis kelapa di 4(empat) desa sasaran
IbW. Pada kegiatan IbW tahun pertama, pengelolaan demplot pengolahan kelapa ini
ditangani oleh Ibu-ibu rumah tangga yang terkabung dalam Kelompok Wanita Tani
(KWT), yang dinaungi oleh 4(empat) poktan yakni: poktan Patas, Poktan wanasari,
poktan harapan kita, dan poktan Musi. Pada tahun 2011 (tahun kedua IbW) ini,
penyadaran dan pengkapasitasan dilakukan pada semua anggota kelompok dalam
usaha produktif berbasis kelapa dilakukan dengan pengembangan demplot centra
pengolahan kelapa, yang diselenggarakan di empat desa, yakni desa Patas, Gerokgak,
Sanggalangit, dan desa Musi. Setiap demplot yang ada di masing-masing desa dibantu
hibah IbW berupa peralatan mesin pengolah daging kelapa three in one , yakni
parut, peras, dan saring, yang diproduksi oleh unit UJI Universitas Mahasaraswati
Denpasar.
Dengan bantuan IPTEKS, tanaman kelapa dapat ditingkatkan pemanfaatannya
baik dari segi pemanfaatan langsung, dikonsumsi atau diolah menjadi minyak goreng,
batangnya untuk bangunan rumah/mobiler, bahan bakar untuk industri kapur, genteng
serta gerabah, maupun dari segi pengolahan dengan sentuhan teknologi modern untuk
menghasilkan produk-produk berorientasi ekspor. Secara utuh buah kelapa terdiri dari
(1) bagian luar, adalah sabut kelapa dan tempurung kelapa, (2) daging kelapa, dan (3)
air kelapa. Sabut kelapa dapat dipilah menjadi dua komponen yaitu serabut dan
serbuk (cocodust). Serabut dapat digunakan untuk bahan jok mobil, tali, keset dan
kerajinan yang lainnya, sedangkan serbuknya dapat dipergunakan untuk media tanam
tanaman hias. Tempurung kelapa digunakan sebagai arang dan untuk bahan bakar
produksi tanah liat. Dengan cara yang lebih modern tempurung kelapa dapat diolah
menjadi briket sebagai bahan bakar untuk memaksa, menjadi karbon hita dan karbon
aktif, sedangkan asap pembakaran tempurung kelapa dapat diolah menjadi liquid
smoke sebagai bahan pengawet ikan. Secara keseluruhan, proses pengolahan kelapa
dan produk turunannya. Daging kelapa dapat digunakan dalam pembuatan minyak
dan VCO, santan, dan blondo. Sementara itu, air kelapa dapat diolah menjadi kecap
dan sirup sari kelapa.
Partisipasi anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) dan anggota poktan dalam
kegiatan usaha produktif pengolahan kelapa sangat tinggi, hal ini dapat dilihat dari
intensitas kehadiran, dan kuantitas dan kualitas persoalan/pertanyaan yang
disampaikan terkait dengan pembuatan minyak kelapa VCO dan minyak
lentik/minyak tradisional. Hasil pemberdayaan poktan dalam usaha produktif berbasis
4
kelapa adalah (1) adanya peningkatan kompetensi dalam pengolahan kelapa,
khususnya dari minyak tradisional menjadi VCO, (2) menghasilkan kualitas produk
minyak tradisional/VCO yang lebih baik, (3) meningkatkan kapasitas produksi
pengolahan kelapa menjadi minyak/VCO, (4) mendorong proses transformasi
IPTEKS dalam penggunaan peralatan mesin pengolahan kelapa three in onebantuan
IbW kepada kelompok poktak di masing-masing desa, dan (5) usaha produktif
berbasis kelapa ini akan mendorong kelompok untuk membentuk koperasi usaha
kelapa yang menjadi unggulan komoditas ekonomi desa di wialaya garapan IbK
Gerokgak.
Selain membina usaha produktif kelapa di setiap demplot yang ada di setiap desa
kawasan IbW Gerokgak, Kegiatan program IbW lahan kering di Kecamatan Gerokgak
pada tahun kedua (tahun 2011) juga membina usaha kecil dan menengah berbasis
kelapa yang ada di kawasan itu dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan managemen wirausaha, perkoperasian dan pemberdayaan ekonomi
masyarakat dan revitalisasi UKM difokuskan pada UKM pengolahan kelapa menjadi
minyak tradisional, managemen usaha, dan pemasaran yakni UKM Minyak kelapa
tradisional mangga dua, yang dikomandani oleh Pak Made Yuliartha. UKM kelapa
ini termasuk industri kecil skala rumah tangga. Pada tahun kegiatan 2011 ini, UKM
mangga dua dibina dalam aspek managemen pembukuan dan pemasaran, selain
program pendampingan dalam peningkatan kapasitas produksi dan diversifikasi
produk olahan kelapa.
Minyak lentik (tradisional) yang diproduksi UKM minyak mangga dua,
awalnya masih menggunakan teknologi tradisional, baik dalam cara pengolahan,
maupun peralatan produksi yang digunakan belum mampu mendatangkan keuntungan
yang maksimal. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan UKM dalam pengolahan
kelapa menjadi minyak lentik secara modern dengan memanfaat ektrak kimia dalam
mempercepat produksi dan penggunaan mesin parut three in one yang dihibahkan
IbW kepada UKM telah mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi
minyak lentik yang dihasilkan oleh UKM minyak mangga dua di desa Sanggalangit.
Usaha industri kecil minyak kelapa ini juga dieskalasi pemberdayaannya di setiap
demplot yang ada di wilayah IbW Gerokgak, yakni desa Patas, desa Gerokgak, desa
Sanggalangit, dan desa Musi. Masing-masing demplot pada pelaksanaan IbW
Gerokgak tahun kedua ini telah dihibahkan masing-masing mesin parut kelapa three
in one, dengan harapan ada kegiatan produksi minyak kelapa di setiap demplot.
5
Proses pemanasan produksi minyak lentik di demplot menggunakan kompor biogas
hasil pengolahan limbah ternak.
Wilayah sasaran IbW lahan kering Gerokgak menghasilkan produk pertanian,
perkebunan, dan perikanan yang berlimpah saat musim panen. Akibat rendahnya
penguasaan kompetensi dalam pengolahan hasil pertanian/perkebunan sering panen
yang berlimpah belum mampu memberi kontribusi ekonomis dalam mendongkrak
penghasilan keluarga. Pengolahan aneka makanan tradisional dan modern berbasis
hasil pertanian melalui pelatihan dan pendampingan produksi, managemen, dan
pemasaran merupakan upaya solutif yang dapat dikedepankan dalam membantu
masyarakat sasaran IbW untuk meningkatkan taraf hidupnya. Aktivitas IbW dalam
konteks ini pada tahun 2011 adalah pelatihan pengolahan pisang Gerokgak menjadi
produk (1) sele pisang, (2) sale pisang, (3) keripik pisang, (4) pisang goreng, (5)
sumping, (6) kolek pisang, dan (7) produksi jamu kunir. Masyarakat sasaran adalah
kelompok PKK di empat desa wilaya IbW di kecamatan gerokgak. Penyadaran dan
pengkapasitasan kelompok PKK dilakukan melalui pelatihan dan pendampingan
produksi, dan pemasaran.
Keterbatasan yang dimiliki lahan kering cenderung membuat kegiatan pola
usahatani bersifat subsistem (tradisional). Pola usahatani tanaman semusim yang
biasanya dilakukan di lahan kering adalah pola usahatani tanaman pangan seperti
jagung, kacang tanah dan jenis palawija lainnya. Pola usahatani tanaman pangan
dilakukan pada musim penghujan menggunakan teknologi sederhana dengan varietas
lokal sehingga hasilnya rendah. Selain itu pemeliharaan ternak (umumnya sapi)
masih tradisional dan monokultur sehingga produktivitasnya rendah. Pemberdayaan
masyarakat di kawasan lahan kering di kecamatan Gerokgak pada program IbW tahun
kedua ini dilakukan dengan pencanangan program aksi pertanian-peternakan
multikultur, sesuai dengan diskusi mendalam dengan masyarakat di 4(empat) desa
dengan merefleksi hasil kegiatan IbW tahun pertama (tahun 2010), yakni desa Patas,
Gerokgak, Sanggalangit dan desa Musi, melalui pembuatan demplot tani-ternak
multikultur .
Sampai tahun kedua (tahun 2011) pelaksanaan IbW Gerokgak, telah berhasil
menginstal 4(empat) unit demplot tani-ternak multikultur, yakni di desa Patas, desa
Gerokgak, desa Sanggalangit, dan desa Musi. Infrastruktur fisik yang dibangun IbW
Gerokgak pada setiap demplot adalah (1) unit kandang koloni sapi, kandang koloni
babi dan kandang koloni ayam, (2) unit pengolahan limbah biogas dan biourine, (3)
6
unit produksi pembuatan kompos dan minyak kelapa, (4) unit kolam ternak lele, dan
(5) tanaman multikultur, meliputi tanaman pakan ternak dan tanaman tumpang sari.
Ketahanan ekonomi masyarakat yang banyak bertumpu dari hasil ternak-tani disikapi
dengan mengembangkan ternak multikultur,yakni ternak sapi sebagai penghasil
income tahunan, ternak babi sebagai penghasil income enan bulan, dan ayam
merupakan sumber penghasilan masyarakat bulanan. Hal yang sama juga pada aspek
pertanian, dimana masyarakat di setiap demplot sebagai episentrum aktivitas
pemberdayaan, dikapasitaskan untuk menanam tananman yang dapat memenuhi
kebutuhan konsumtif jangka pendek sampai jangka panjang.
Model pertanian-peternakan terpadu merupakan aktivitas produktif pertanian-
peternakan dalam satu siklus berantai, yakni pemanfaatan limbah tanaman pada
budidaya tani untuk pakan ternak. Demikian juga sebaliknya budidaya ternak, limbah
ternak dapat dimanfaatkan untuk pertanian. Sebagai langkah awal diintroduksikan
penanaman rumput raja dan gamal di pematang petakan lahan petani untuk menambah
penyediaan hijauan pakan ternak selain itu juga diperkenalkan perkandangan
menetap, dan pengawetan pakan ternak. Selanjutnya juga diintroduksikan
pemanfaatan air embung untuk pertanaman sayuran (bawang merah, semangka,
kacang panjang dan bawang putih) yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Secara
diagramatik, program aksi usaha produktif peternakan-pertanian terpadu melalui
demplot pertanian multikultur dan peternakan, perikanan terpadu.
Program aksi usaha produktif pertanian-peternakan-perikanan terpadu diawali
introduksi teknologi pemanfaatan limbah tanaman untuk pakan ternak serta
pemakaian limbah ternak ke pertanaman, pemeliharaan ternak sapi/babi secara
intensif. (1) Langkah awal mengintroduksikan model perkandangan menetap dan
penanaman rumput raja dan gamal di pematang petakan lahan untuk penyediaan
hijauan pakan ternak, dimana demplot tani-ternak terpadu akan dibangun di masing-
masing desa. (2) mengintroduksikan diversifikasi penanaman sumber hayati baik di
pekarangan rumah, lahan tegalan kosong, dan sekitar demplot tani-ternak terpadu.
Setiap anggota kelompok tani (Poktan) diminta untuk menanam dan merawat satu
pohon pisang. (3) mengintroduksi pemanfaatan embung air dalam pemenuhan
kebutuhan air di musim kering.
Hasil pemberdayaan masyarakat yang terkabung kelompok tani (poktan) dalam
usaha produktif pertanian multikultur dan peternakan ternak sapi/babi terpadu adalah
(1) adanya peningkatan kompetensi bertani multikultur dalam intensifikasi budi daya
7
ternak sapi/babi/ayamayam terpadu, menuju usaha produktif yang zero waste, (2)
mendorong proses transformasi IPTEKS dalam pengolahan limbah ternak
sapi/babi/unggas menjadi pupuk dan bio-gas, (5) adanya peningkatan investasi
kekompok tani dalam bentuk jumlah bibit ternak sapi/babi/ayam modal yang
diberikan pada program IbW di masing-masing desa. Semua aktivitas produktif
ekonomi yang berlangsung di poktan berlangsung dengan baik karena IbW Gerokgak
telah memfasilitasi ketersediaan listrik PLN 1300 watt, 220 volt, sehinggan semua
peralatan produksi dapat bekerja dengan baik, biogas untuk bahan bakar alternatif dan
embung reservoar air untuk keperluan tani-ternak dan kebutuhan air sehari-hari.
Pola peternakan tradisional non-koloni yang berkembang di masyarakat wilayah
IbW, kurang memperhatikan sanitasi lingkungan. Peternakan non-koloni sering
menjadi sumber pencemaran lingkungan yang mengancam kesehatan masyarakat dan
keasrian lingkungan hidup di sekitarnya. Masyarakat secara berjenjang perlu
dibudayakan beternak terpadu yang ramah lingkungan (zero waste) melalui
pembuatan demplot peternakan terpadu yang dilengkapi dengan sistem pengolahan
limbah menjadi sumber energi alternatif biogas sebagai energi alternatif bahan bakar,
bio-urine dan pupuk organik (kompos) untuk bio-fertilizer pertanian.
Program inisiasi IbW pembudayaan masyarakat lahan kering gerokgak pada
tahun kedua 2011 dalam peternakan terpadu ramah lingkungan dilakukan dengan
pembuatan demplot peternakan terpadu zero waste pada kelompok tani-ternak Renon
Asri di desa Gerokgak, dan kelompok tani-ternak harapan kita di desa Sanggalangit
seperti ditunjukkan pada gambar 6. Selain membangun sistem pengolahan limbah,
poktan juga diberi bantuan sapi, babi dan ayam untuk meningkatan modal kerja
poktan. Pemanfaatan biogas di demplot lebih banyak digunakan untuk energi bahan
bakar alternatif untuk usaha produkti ekonomi minyak kelapa, sehingga dapat
menekan biaya produksi untuk membeli minyak tanah. Disamping itu, pemanfaatan
pengolahan limbah ternak dalam bentuk biogas ini juga disosialisasi di tingkat
keluarga. Setiap keluarga yang memiliki 2 ekor ternak sapi, juga diberdayakan untuk
membangun unit reaktor biogas untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar sehari-hari.
Pada tahun 2011 ini, IbW Gerokgak sudah berhasil menginstal 20 unit biogas di
tingkat keluarga tersebar di wilayah garapan IbW Gerokgak.
Mengingat kecamatan Gerokgak merupakan wilayah penyumbang tertinggi
angka buta aksara/putus sekolah, maka secara bertahap program IbW Gerokgak
mencanangkan pendidikan keaksaraan bagi masyarakat buta huruf/putus sekolah
8
melalui pendidikan life skill/keaksaraan dengan model pendidikan kelompok kelas
kecil di empat desa wilayah sasaran IbW, yakni desa Patas, desa Gerokgak, desa
Sanggalangit, dan desa Musi. Jumlah anggota kelompok masyarakat belajar di setiap
desa bervariasi 10-15 orang. Tutor kelompok belajar diambil dari mahasiswa KKN
dan anggota masyarakat setempat yang berkompeten diberdayakan untuk
mendampingi kegiatan belajar dan mengajar. Kegiatan belajar secara formal
dilakukan melalui tatap muka, tetapi juga disuplemen dengan aktivitas kontekstual
dalam proses pembelajaran melalui kegiatan-kegiatan produktif ekonomi dan
pendidikan life skill, seperti pembuatan makanan tradisional dan pengolahan ikan.
Terdapat 2302 KK miskin yang tersebar di kecamatan Gerokgak, termasuk di
empat desa wilayah sasaran IbW. Pola kemiskinan struktural yang terjadi di wilayah
ini, perlu penanganan yang terpadu sehingga KK miskin dapat meningkatkan kualitas
hidupnya. Program yang dicanangkan IbW dalam konteks penanganan KK miskin
adalah pemberdayaan KK miskin melalui program simantri ( sistem pertanian-
peternakan terintegrasi) dalam skala rumah tangga. Masing-masing desa di wilayah
IbW Gerokgak diambil 10 KK miskin sebagai keluarga binaan IbW. Aktivitas inisiasi
yang dilakukan di setiap keluarga miskin adalah (1) mengintroduksi perternakan
dengan sistem kandang, (2) pemberian bantuan bibit babi, (3) menginstall biogas
skala rumah tangga, dan (4) penanaman bibit pakan ternak dan pangan di halaman
rumah, (5) program tanam satu pohon pisang di halaman rumah, (6) pelayanan
kesehatan gratis.
Sesuai dengan permintaan masyarakat dan pemetaan analisis kebutuhan
terhadap aktivitas keagamaan dan sosial masyarakat wilayah sasaran IbW Gerokgak,
makan penghijauan dilakukan dengan (1) penanaman bibit pohon jati kamelina.
Pohon jati kamelina, di satu sisi dapat berfungsi sebagai tanaman
konservasi/penghijauan, namun juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak oleh
masyarakat, sehinggan dapat mengurangi beban hutan yang sering menjadi sasaran
pengrusakan masyarakat miskin dalam pemenuhan pakan ternak dan kayu bakar; dan
(2) penanaman bibit pohon kelapa varietas lokal Bali, untuk pemenuhan tingginya
tuntutan upacara keagamaan baik vertikal maupun horizontal akan kebutuhan kelapa
lokal Bali. Pengadaan bibit tanaman untuk penghijauan, pada tahun 2011 ini , IbW
Gerokgak telah mendorong poktan untuk membuat pembibitan tanaman lokal
tradisional Bali untuk item tanaman konservasi hutan di kawasan Gerokgak.

9
Selain program konservasi hutan untuk meningkatkan kemampuan hutan
untuk menampung air, sehingga menekan ancaman kekeringan di wilayah Gerokgak,
juga dilakukan perawatan dan penataan sumber-sumber air yang sudah ada, baik
pemanfaatnnya secara horizontal maupun vertikal. Keyakinan masyarakat akan
tersedia dan terjaganya sumber air di beberapa kawasan lahan kering di wilayah
Gerogak merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa yang perlu dijaga dan
disucikan, maka dari itu atas kesepakatan warga masyarakat, pemkab, dan tokoh
agama/adat dalam program IbW ini membangun tempat pura Beji, sebagai tempat
penginstanaan kesucian air/ dan pemujaan dewa air dalam menjaga/mencegah
kawasan gerokgak dari ancaman kekeringan seperti ditunjukkan pada gambar 9. Pura
Beji ini juga sekaligus difungsikan sebagai media perekat ikatan sosial masyarakat
dalam pemanfaat air baik bagi pertanian, peternakan, dan pemenuhan kebutuhan
hidup sehari-hari. Pada tahun 2011 ini IbW Gerokgak juga memfasilitasi masyarakat
Gerokgak untuk membangun pura Panca Tirta sebagai situs spiritual masyarakat
dalam pengelolaan sumber mata air yang ada di Pegunungan Gerokgak. Situs pura
Panca Tirta ini akan berfungsi sebagai media religius dan sosial dalam menjaga
keutuhan dan harmonisasi masyarakat sekitarnya.

4. Penutup
Dari paparan hasil dan pembahan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut. (1) profil potensi wilayah IbW di kecamatan Gerokgak, yakni desa Patas,
desa Gerokgak, desa Sanggalangit, dan desa Musi menunjukkan daya dukung lahan
yang cukup luas, dan potensi pertanian-peternakan-perikanan yang cukup tinggi.
Lahan yang digunakan untuk pengembangan usaha dalam bidang pertanian dalam arti
luas, sebagian besar adalah lahan kering. (2) Program inisiasi IbW pada tahun II
(Tahun 2011) telah berhasil membangun (1) demplot pengolahan kelapa, demplot
pertanian multikultur, (2) demplot peternakan berbasis zero waste, (3) demplot
budidaya tambak hatchery-nursery ikan bandeng. (3) Dampak yang ditimbulkan dari
pelaksanaan program inisisasi IbW, yakni (a) peningkatkan kesadaran masyarakat
untuk meningkatkan kualitas hidup melalui aktivitas ekonomi yang produktif berpijak
pada potensi dan kearifan lokal yang ada, (b) peningkatan penguasaan IPTEKS untuk
meningkatkan kapasitas dan diversifikasi produksi hasil tani-ternak, (c) peningkatan
investasi ekonomi KK miskin dalam bentuk mesin kelapa, bibit, modal, dan (d)
peningkatan pendapatan (income) KK miskin.
10
DAFTAR PUSTAKA

Beebe, James. Basic Concepts and Techniques of Rapid Appraisal. Human


Organization, vol. 54, No. 1, Spring 1995.

BPS, 1998. Crisis Poverty and Human Development in Indonesia. BPS. UNDP,
Jakarta

Emil Salim. 1980. Perencanaan Pembangunan dan Pemerataan


Pendapatan. Jakarta Yayasan Idayu.

Friedman, John, 1992, Empowerment : The Politics of Alternative Development.


Blackwell Publishers, Cambridge, USA

Irawan, P.B. dan Romdiati. H, 2000. The Impact of Economic Crisis on Povertyand its
Implication for Development Strategies, Paper Presented at National Workshop
on Food and Nutrition VII. LIPI, 29 Febuari 2 Maret 2000, Jakarta

Kartasasmita, Ginandjar. 1995. Pemberdayaan Masyarakat: Sebuah Tinjauan


Administrasi; Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Administrasi
pada Fakultas Ilmu Administrasi Pemangunan Universitas Brawijaya; Malang.
1995.

11
IbM Pengerajin Pandan Berduri Di Desa Tumbu Karangasem Bali

Oleh
Dewa Nyoman Sudana, dkk

ABSTRAK

Desa Tumbu kabupaten Karangasem, ada pengerajin padan berduri, pandan


berduri baru hanya digunakan sebagai tikar dan sebagian kecil untuk barang kerajinan
yang menunjang tradisi adat dan agama Hindu di Bali. Kondisi ini tidak akan
meningkatkan pendapat pengerajin padan berduri secara keseluruhan, karena demand
market kecil. Hal ini terlihat dari kondisi masyarakat Desa Tumbu yang masih banyak
di bawah garis kemiskinan. Dan masih sedikit yang mampu menyekolahkan anaknya
ke perguruan Tinggi. Padahal desa tumbu terletak dekat dengan obyek wisata taman
Soka Ujung Karangasem. Inspirasi dari kegiatan ini adalah potensi kerajinan dan
daya dukung desa Tumbu yang belum termanfaatkan dengan baik, hal ini terlihat dari
pengerajin, padan berduri kembang kempis dalam memasarkan produknya, karena
desainnya monoton, maka ekspansi dan perluasan pasar enggan dikembangkan,
sehingga penduduk Desa Tumbu tidak maksimal bergantung pada usaha kerajinan
pandan berduri tersebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan terobosan yang dapat
membantu yakni pengembangan desain produk dan juga bantuan dalam hal penyiapan
teknologi pengolahan.
Metode yang digunakan adalah pendampingan dengan membuat salah satu
anggota kelompok pengerajin pandan berduri, setelah pendampingan dilakukan
ekspose terhadap kelompok pengerajin lainnya. Karya utamanya adalah aneka desain,
seperti berbagai jenis tas dengan motif yang beraneka ragam, termasuk tas untuk
patung Ganesha. Hasilnya dipasarkan sebagai tempat patung Ganesha saat wisuda,
kemudian alat /tikar solat unik
Ulasan karya utama adalah, produks desain antara lain tikar solat yang banyak
diminati oleh para tamu domestik, kemudian tas untuk tempat cindera mata patung
ganesha saat wisuda, Tas untuk laptop dan map untuk wisuda dan seminar. Desain
produk ini sangat luas pemasarannya. Para pengerajin tampak antusias untuk
melakukan diversifikasi usaha ini.
Kegiatan ini berdampak pada kepedulian pengerajin untuk bekerja tambahan,
serta para kios-kios yang ada di dekat Taman Soka Ujung Karangasem telah mulai
memasarkan produk-produk hasil P2M ini. Dengan demikian berdampak pada akses
pasar dan pendapatan pengerajin pandan berduri di Desa Tumbu Karangasem.

Kata Kunci : Pandan berduri, Desa tumbu, Kerajinan

ABSTRACT

Tumbu village of Karangasem district, there are thorny frontier craftsmen, new barbed
pandanus mats and only used as a small part for goods that support the craft traditions
and Hinduism in Bali. This condition will not improve prickly frontier craftsmen
opinion as a whole, because the small market demand. This is evident from the
condition of society which is still widely Tumbu village below the poverty line. And
little is able to send their children to college Higher. Though Tumbu village situated
close to the park attractions Soka Edge Karangasem. The inspiration of this activity is

12
the potential carrying capacity of rural crafts and Tumbu untapped well, it is seen
from the craftsmen, frontier barbed flared flowers in marketing their products,
because its design is monotonous, then the expansion and market expansion are
reluctant to be developed, so that the villagers of Tumbu no maximum rely on such
thorny pandanus handicraft business. Therefore, there should be a breakthrough that
could help the development of product design and also help in the preparation of
processing technology. The method used is mentoring by making one of the group
members thorny pandanus craftsmen, having done an expose on the group mentoring
other craftsmen. Its primary is a variety of designs, such as various kinds of bags with
various motives, including bags for the statue of Ganesha. The result is marketed as a
statue of Ganesha at graduation, then tools / unique prayer mat. The main work is
reviewed, among other design produks prayer mats are much in demand by domestic
guests, then bag for extra souvenirs Ganesha statue at graduation, bags for laptops and
folders to graduation and seminars. The design is very broad product marketing. The
craftsmen seem keen to diversify this business. These activities have an impact on the
craftsmen to work an additional concern, as well as the stalls are near Taman Ujung
Soka Karangasem has begun to market the products of this P2M. Thus the impact on
market access and revenue thorny pandanus craftsmen in the village of Tumbu
Karangasem.

Keywords: barbed Pandanus, Tumbu Village, Crafts

A. PENDAHULUAN

Desa Tumbu Kabupaten Karangasem, pandan berduri baru hanya digunakan


sebagai tikar dan sebagian kecil untuk barang kerajinan yang menunjang tradisi adat
dan agama Hindu di Bali. Kondisi ini tidak akan meningkatkan pendapat pengerajin
padan berduri secara keseluruhan, karena demand marketnya kecil Hal ini terlihat
dari kondisi masyarakat Desa Tumbu yang masih banyak di bawah garis kemiskinan.
Dan masih sedikit yang mampu menyekolahkan anaknya ke perguruan Tinggi,
informasi ini di dapat saat tim penyusun proposal, ikut serta membimbing mahasiswa
ke Desa Tumbu.
Dari penuturan kepala Desa Tumbu, pengerajin, padan berduri kembang
kempis dalam memasarkan produknya, karena desainnya monoton, maka ekspansi
dan perluasan pasar enggan dikembangkan, sehingga penduduk Desa Tumbu tidak
maksimal tergantung pada usaha kerajinan pandan berduri tersebut. Sebenarnya, dari
kaca mata geografis, peluang pasar untuk aneka kerajinan berbahan dasar pandan
sangat besar di Bali dan khususnya di Kabupaten Karangasem, sebab kabupaten
Karangasem memiliki berbagai obyek wisata berkelas dunia, seperti Candidasa,
Tulamben, Tirta Gangga dan Ujung( Taman Ujung). Kunjungan wisata ketempat itu
luar biasa namun cindera mata yang dijajakan di obyek wisata tersebut, bukanlah hasil
karya penduduk setempat melainkan di datangkan dari tempat lain. Akibatnya imbas
13
pariwisata tidak terasa bagi mereka. Tentu, bila kondisi ini tidak tertangani dengan
bijak, maka dunia pariwisata akan menimbulkan kecemburuan, dan akan
menimbulkan dampak yang serius bila penduduk lokal, peran mereka termarginalkan.
Apa bila kondisi ini terus terjadi maka pariwisata Bali dan khusus Kabupaten
karangasem bisa terancam.
Sebenarnya, dari kaca mata geografis, peluang pasar untuk aneka kerajinan
berbahan dasar pandan sangat besar di Bali dan khususnya di Kabupaten Karangasem,
sebab kabupaten Karangasem memiliki berbagai obyek wisata berkelas dunia, seperti
Candidasa, Tulamben, Tirta Gangga dan Ujung( Taman Ujung). Kunjungan wisata
ketempat itu luar biasa namun cindera mata yang dijajakan di obyek wisata tersebut,
bukanlah hasil karya penduduk setempat melainkan di datangkan dari tempat lain.
Akibatnya imbas pariwisata tidak terasa bagi mereka. Tentu, bila kondisi ini tidak
tertangani dengan bijak, maka dunia pariwisata akan menimbulkan kecemburuan, dan
akan menimbulkan dampak yang serius bila penduduk lokal, peran mereka
termarginalkan. Apa bila kondisi ini terus terjadi maka pariwisata Bali dan khusus
Kabupaten karangasem bisa terancam.
Dalam dimensi bisnis global yang mendahulukan, clean industry, maka
industri berbahan baku pandan berduri akan selalu tetap eksis, karena industri tersebut
bertumpu pada industri yang ramah lingkungan Pandan berduri merupakan tanaman
pantai yang dahulu tindak banyak dimanfaatkan. Namun sekarang ini, banyak perajin
yang mulai memanfaatkan pandan untuk diolah menjadi berbagai aneka kerajinan.
Pandan termasuk serat alam yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam
kerajinan. Lebih-lebih di Bali, dan khususnya di Desa Tumbu kabupaten
Karangasem, pandan berduri baru hanya digunakan sebagai tikar dan sebagian kecil
untuk barang kerajinan yang menunjang tradisi adat dan agama Hindu di Bali.
Kondisi ini tidak akan meningkatkan pendapat pengerajin padan berduri secara
keseluruhan, karena demand market-nya kecil Hal ini terlihat dari kondisi masyarakat
Desa Tumbu yang masih banyak di bawah garis kemiskinan. Dan masih sedikit yang
mampu menyekolahkan anaknya ke perguruan Tinggi, informasi ini di dapat saat tim
penyusun proposal, ikut serta membimbing mahasiswa ke Desa Tumbu.
Dari penuturan kepala Desa Tumbu, pengerajin, padan berduri kembang
kempis dalam memasarkan produknya, karena desainnya monoton, maka ekspansi
dan perluasan pasar enggan dikembangkan, sehingga penduduk Desa Tumbu tidak
maksimal tergantung pada usaha kerajinan pandan berduri tersebut. Sebenarnya, dari
14
kaca mata geografis, peluang pasar untuk aneka kerajinan berbahan dasar pandan
sangat besar di Bali dan khususnya di Kabupaten Karangasem, sebab kabupaten
Karangasem memiliki berbagai obyek wisata berkelas dunia, seperti Candidasa,
Tulamben, Tirta Gangga dan Ujung( Taman Ujung). Kunjungan wisata ketempat itu
luar biasa namun cindera mata yang dijajakan di obyek wisata tersebut, bukanlah
hasil karya penduduk setempat melainkan di datangkan dari tempat lain. Akibatnya
imbas pariwisata tidak terasa bagi mereka. Tentu, bila kondisi ini tidak tertangani
dengan bijak, maka dunia pariwisata akan menimbulkan kecemburuan, dan akan
menimbulkan dampak yang serius bila penduduk lokal, peran mereka termarginalkan.
Apa bila kondisi ini terus terjadi maka pariwisata Bali dan khusus Kabupaten
karangasem bisa terancam.
Berangkat dari konsep pemikiran itu, salah satu solusi adalah mengadvokasi
dan membina para pengerajin dan pengusaha kerajinan dari pandan berduri di Desa
Tumbu Karangasem yang saat ini benar-benar lemah. Pasalnya produk-produk
mereka banyak diminati turis mancanegara, namun tidak mampu berproduksi banyak
dan beragam dalam desain, karena mereka adalah pekerja sambilan. Walaupun
pandan mudah didapat di desa Tumbu dan relatif bahan baku ini didapat tanpa
mengeluarkan ongkos untuk bahan baku, sehingga relatif murah, namun kendala yang
dihadapi adalah kreativitas dalam membuat kerajinan belum banyak berubah
mengikuti trend pasar dunia.Akibatnya, usaha kerajinan di Desa Tumbu belum
mampu menghidupi keluarga secara penuh. Kini, hanya 20 KK yang benar-benar
masih menjadi pengerajin di Desa Tumbu, dan yang terlibat hanya golongan manula,
sedangkan usaha produktif lain mengambil pekerjaan lain ke kota (baik ke Denpasar
maupun ke Amlapura, dan kabupaten lain di Bali). Padahal, luas areal yang ditumbuhi
pandan berduri relatif sangat luas sekitar 10 hektar lebih, sehingga pemasok bahan
baku masih mampu enyerap lebih luas lapangan pekerjaan.
Kebutuhan modal untuk membuka usaha kerajinan pandan tidak besar. Usaha
kerajinan pandan dapat dimulai dengan modal kecil. Oleh karena itu, ini merupakan
peluang bagi para calon usahawan untuk segera bergerak memulai usaha kerajinan
pandan
Desa Tumbu dengan pengerajin pandan berdurinya, merupakan desa yang
kaya akan pandan berduri, dan belum maksimal dimanfaatkan. Kondisi itu tersebut
akan mendorong pertumbuhan industri kerajinan berbahan bahan baku pandan
berduri. Bila mendapat sentuhan teknologi bahan, desain dan teknologi pemasran,
15
serta suntikan modal bagi pengerajin. Oleh karena itu, Ibm untuk pengerajin padan
berduri di desa Tumbu Karangasem penting untuk dilaksanakan. Harapannya adalah
perguruan tinggi sebagai cikal bakal untuk menumbuhkan suatu budaya baru bagi
pengerajin, yang pada akhirnya dapat meningkatkan status ekonomi pengerajin
tersebut.
Titik orientasi kegiatan pengabdian pada masyarakat (P2M) ini adalah
kelompok pengerajin Pandan berduri di Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem,
Kabupaten Karangasem Bali, yang masih menghadapi kendala utama berupa
kurangnya desain kerajinan pandan berduri yang sesuai dengan trend desain yang
dimintai pasar, khususnya pasar pariwisata dunia. Yang lain adalah laju produksi yang
lambat karena penguasaan teknologi pengolahan dan pemasaran. Berangkat dari
permasahalan tersebut maka sumber inspirasi dalam kegiatan P2M ini adalah:
1. Mengatasi keterbatasan desain dari pengerajin pandan berduri di Desa Tumbu
Karangasem, yang selama ini hanya bertumpu pada produk-produk tradisional,
artinya kebutuhan masyarakat tradisional yang baru bisa dipenuhi, seperti
tikar, upacara adat tradisional Bali. dan, masih sedikit untuk memproduksi
desain untuk kebutuhan pariwisata, sehingga diharapkan dengan aneka jenis
desain diberikan kepada para pengerajin pandan berduri maka hasil produksi
laku terjual, sehingga pengerajin akan mendapat nilai tambah.
2. Peningkatan laju produksi dengan managemen dan teknologi baru dalam hal
pengolahan, pemetikan, pemotongan serta desain dengan menggunakan
teknologi tepat guna untuk pengerajin pandan.
3. Peningkatan penerapan teknologi pelapisan agar bahan pandan berduri itu
menjadi tahan terhadap air.
4. Peningkatan kemampuan pemasaran. Produk-produk bahan baku pandan
berduri belum memiliki pasar yang luas. Artinya produk itu dipasarkan sebatas
di pasar tradisioal. Jaringan pasar belum terjalin dengan baik.
5. Kekurangan modal usaha.Untuk melanjutkan usaha ini perlu modal yang
banyak dan tenaga pengerajin yang lebih muda. Kekurangan modal ini
menyebabkan kurangnya inovasi produksi.

16
B. MATERI DAN METODE
Materi yang digunakan adalah pandan, mesin jahit, dan pisau , benang.
Metode penerapan IPTEKS dalam pengabdian ini adalah (1) Menerapkan pelatihan,
yakni memberikan pelatihan tentang Penelusuran desain sebagai berikut :
Dengan langkah-langkah sebagai berikut :
(2) metode yang dilakukan untuk memproduksi wine adalah dengan Pelatihan
membuat wine, yaitu dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
Metode yang digunakan untuk membuat pupuk dan biopestisida alami sebagai
berikut dan koperasi melalui pembuatan panitia kecil dan selesai dalam bentuk draf
usulan ke Dinas koperasi kabupaten Buleleng.
Untuk efektivitas kegiatan dilakukan dengan Metode observasi dan
wawancara Penulis mengadakan pengamatan di Desa Dencarik Kecamatan Banjar.
Observasi dilakukan setelah memperoleh izin dari pihak-pihak terkait. Selain
observasi penulis juga melakukan wawancara dengan pihak terkait guna menunjang
pengumpulan data awal sebelum membuat usulan kegiatan program dan pelaksanaan
program. Untuk kedepannya pun jika program telah terlaksana maka akan diadakan
observasi wawancara lanjutan terkait dalam memperoleh informasi tindak lanjut
kegiatan yang dilakukan masyarakat dari hasil penelitian. Observasi juga dilakukan
setelah pelatihan diadakan, untuk mengetahui manfaat hasil pelatihan. Pada observasi
ini dicari data mengenai tingkat keberhasilan pembuatan kerajinan tangan dengan
bahan dasar pandan berduri.
Untuk menjawab permasalahan di atas perlu dilakukan usaha-usaha yang
terpadu sebagai solusi untuk meningkatkan keterampilan pengerajin pandan berduri
melalui pengenalan desain, teknologi proses untuk tahan air, memberikan wawasan
pada generasi muda untuk mencintai kerajinan dari daun pandan berduri, pemasaran
dan penambahan modal. Masalah itu hendak diberikan solusi dalam Ibm yang
diusulkan ini. Adapun solusi yang dimaksud adalah sebagai berikut :
Tabel 1 Permasalahan Pengerajin Pandan berduri dan solusi yang
ditawarkan

Permasalahan Akar masalah Pendekatan


pemecahan masalah
(solusi)
Keterbatasan desain, 1. Pengerajin tidak Memberikan pelatihan
Pengerajin pandan berinovasi sesuai terstruktur tentang
berduri di Desa dengan trend berbagai desain yang

17
Tumbu Karangasem 2. Pengetahuan tentang trend
desain yang trend
belum dikathaui .
Kemampuan Penerajin tidak memiliki Pelatihan menggunakan
produksi rendah pengetahuan teknologi tepat guna.
memamfaatkan teknologi
tepat guna.
Sifat bahan yang Pengerajin tidak memiliki Pelatihan menggunakan
mudah rusak bila pengetahuan tentang sifat- berbagai pelapisan
kena air, sifat bahan yang dapat dengan menggunakan
mengatasi kerusakan bahan yang anti air.
karena air
Kekurang Pengerajin kurang Pelatihan teknik
pengetahuan menguasai cara-cara pemasaran kerajinan
pemasaran. pemasaran produk berbasiskan web
kerajinan
Kekurangan modal Pengerajin kurang Penyuluhan tentang
usaha. memanfaatkan koperasi petingnya koperasi
untuk mengembangkan
usaha
Menjadi pusat/sentra Pengerajin belum memiliki Pendampingan proposal
kerajinan pandan. pengetahuan tentang untuk dilanjutkan ke
yang sangat memikat. manfaat sentra kerajinan Pemkab Karangasem
daun padan berduri

1. Metode Observasi dan Wawancara


Penulis mengadakan pengamatan di Desa Tumbu. Observasi dilakukan
setelah memperoleh izin dari pihak-pihak terkait. Selain observasi penulis juga
melakukan wawancara dengan pihak terkait guna menunjang pengumpulan data
awal sebelum membuat usulan kegiatan program dan pelaksanaan program. Untuk
kedepannya pun jika program telah terlaksana maka akan diadakan observasi
wawancara lanjutan terkait dalam memperoleh informasi tindak lanjut kegiatan
yang dilakukan masyarakat dari hasil penelitian. Observasi juga dilakukan setelah
pelatihan diadakan, untuk mengetahui manfaat hasil pelatihan. Pada observasi ini
dicari data mengenai tingkat keberhasilan pembuatan kerajinan tangan dengan
bahan dasar pandan berduri.

2. Metode Penyuluhan dan Pelatihan

18
Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan di
depan adalah metode diskusi dan praktek (learning by doing). Gabungan kedua
metode tersebut diharapkan mampu meningkatkan pemahaman dan keterampilan
khalayak berkaitan dengan teknik pembuatan kerajinan tangan. Keterkaitan antara
tujuan dan metode yang dipakai untuk mencapai tujuan dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Keterkaitan Masalah dan Metode Kegiatan


No Tujuan Metode Bentuk Kegiatan
1 Mengenalkan dan Ceramah Ceramah tentang tanaman pandan
memberikan pelatihan tentang dan berduri, dan pemanfaatan pandan
teknik pemanfaatan pandan Praktek berduri sebagai kerajinan tangan.
berduri sebagai kerajinan
tangan
2 Untuk mengetahui Observasi Wawancara kepada para petani
tanggapan/respon ataupun yang mengikuti pelatihan
manfaat yang dirasakan pemanfaatan pandan berduri
Penger Desa Tumbu sebagai kerajinan tangan
Kecamatan
Karangasemterhadap
pengenalan dan pelatihan
teknik pemanfaatan pandan
berduri sebagai kerajinan
tangan.

Metode penyuluhan dan pelatihan


Dalam kegiatan P2M ini, metode yang digunakan untuk mencapai tujuan yang
telah dirumuskan di depan adalah metode diskusi dan praktek (learning by doing).
Gabungan kedua metode tersebut diharapkan mampu meningkatkan pemahaman dan
keterampilan khalayak berkaitan dengan teknik pembuatan beberapa desains baru,
yang memiliki nilai jual tinggi.

C. HASIL DAN PEMBAHASAN


Karya utama kegiatan ini adalah
1. Model desain kerajinan pandan berduri
2. Metode pemasaran kerajinan

19
C2. PEMBAHASAN

1. Disain. Bukan perkara susah cari pekerjaan lainnya, tapi karena faktor
peduli terhadap lingkungan akibat banyaknya tumbuh tanaman pandan
berduri di desa tersebut sehingga sebagian besar ibu rumah tangga yang
juga berprofesi sebagai petani memanfaatkan waktu luangnya untuk
membuat tikar pandan. Keahlian membuat tikar pandan ini telah ada sejak
puluhan tahun silam dan dimiliki secara turun-temurun oleh warga di sana.
Setidaknya, setiap hari para ibu rumah tangga melalui pekerjaan sambilan
ini dapat menambah pendapatan bagi keluarga mereka Rp 20.000,- sampai
dengan Rp 30.000,-.
2. Tikar untuk solat, proses produksinya cukup sederhana. Daun pandan
berduri yang cukup dewasa dengan lebar sekitar 5-7 cm di potong.
Kemudian dengan sisir khusus, duri-duri pada daun tersebut disisir
sehingga rontok. Daun yang bebas duri kemudian dijemur 3-5 hari sesuai
kondisi matahari hingga cukup mengering. Kemudian daun tersebut di
press agar menjadi tipis dan lemas dan dilanjutkan dengan dijemur
beberapa jam. Daun pun siap dianyam.
3. Untuk tempat patung. Proses penganyaman pada dasarnya masih cukup
sederhana, tapi untuk dapat menghasilkan 1 lembar tikar ukuran 120 x 200
cm dalam waktu sehari tentunya memerlukan kemampuan cekatan yang
tinggi. Setelah berhasil dianyam, lembaran-lembaran tersebut di tumpuk 2-
3 lapisan untuk kemudian dipotong sesuai bentuk ukuran tikar dan dijahit
pada sisi-sisinya. Rata-rata para ibu rumah tangga di sana dapat membuat
1-2 tikar dalam sehari tergantung pada ukuran tikar yang dibuat. Tikar
anyaman tersebut dijual kepada pengepul dengan harga Rp 20.000,-
sampai dengan Rp 60.000,- tergantung pada ukuran dan ketebalan/jumlah
lapisan tikar.

D. KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan IbM untuk
pengerajin pandan berduri di Desa Tumbu Karangasem telah dapat
berlangsung dengan baik. Hasil karya utamanya adalah adanya inovasi desain
dan jangkauan pasar yang lebih luas.

20
E. DAMPAK DAN MANFAAT KEGIATAN
Hasil kegiatan pengabdian ini mendapatkan apresiasi baik dari pemerintah
khususnya dinas perindustrian dan perdagangan. Untuk bisa bekerja sama
untuk membantu menyiapkan berbagai kegiatan untuk ikut menyelaraskan
dengan kegiatan P2M Undiksha ini. hal ini akan dikembangkan untuk
Kerajinan tikar pandan, demikian budaya terampil tersebut dikenal oleh
kalangan masyarakat di desa itu. Desa yang memiliki 7 dusun ini dengan
sekitar 2.400 jiwa penduduknya banyak yang berprofesi sebagai pembuat tikar
pandan, setidak nya terdapat sekitar 400 orang pengrajin yang mayoritas
mereka adalah ibu rumah tangga.

F. UCAPAN TERIMA KASIH


Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi diberikan kepada Camat
Karangasem, Perbekel Desa Tumbu. Kelompok pengerajin pandan berduri Desa
Tumbu Karangasem. Ucapan terima kasih yang setinggi-tinggi kami juga dihaturkan
kepada DP2M DIKTI atas dana Hibah Program Pengabdian IbM tahun 2011,
Rektor Undiksha atas izin dan dorongannya selama ini, Ketua LPM Undiksha,
rekan-rekan dosen jurusan pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP Undiksha yang
selalu mendorong penulis untuk melakukan kegiatan pengabdian ini.

G. DAFTAR PUSTAKA

1) Anonim. 1990. Undang-undang No. 9 Tahun 1999 Tentang Kepariwisataan.


Jakarta.
2) Anonim. 1995. Laporan Akhir Studi Pengembangan Wisata Minat Khusus
(Tak dipublikasikan) Yogyakarta: Dinas Pariwisata DI Yogyakarta dan Pusat
3) Penelitian dan Pengembangan Pariwisata (PUSPAR) UGM: Yogyakarta.
4) Fandeli. C. 1995. Dasar-dasar Kepariwisataan Alam. Yogyakarta: Liberty.
5) Fandeli, C. 1999. Ekowisata Dalam Paragdigma Baru Pariwisata (Tak
dipublikasikan). Makalah semiloka Sustainable Tourism Depelopmentdi
Universitas Jendral Sudirman. Purwokerto, tanggal 22-25 Februari
1999.Purwokerto.
6) Echols, J.M. 1992. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: PT Gramedia.
7) Hardjasoemantri, K. 1991. Hukum Perlindungan Lingkungan Konservasi
Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Yogyakarta: Gadjah Mada.
University Press.
8) Hasansulama, M.I. dkk. 1983. Sosiologi Pedesaan. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.

21
9) Kuncoro, E.H. 1995. Partisipasi Masyarakat Sekitar Hutan dalam
Pelaksanaan Management Regime. Tesis S-2 (Tak dipublikasikan). Program
Pasca Sarjana UGM. Yogyakarta.
10) Mac Kinnon dkk. 1986. Pengelolaan Kawasan yang Dilindungi di Daerah
Tropika. Terjemahan dari Managing Protected Areas in Tropica. Swiss:
IUCN, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
11) Nurtjahjo, Agus T.P. 1994. Partisipasi Masyarakat Sekitar Hutan Lindung
dalam Kegiatan Reboisasi. Tesis S-2 (tak dipublikasikan) Program Pasca
Sarjana UGM Yogyakarta.
12) Parikesit, D dan Muliawan, H. 1997. Prospek dan Strategi Pengembangan
Wisata Minat Khusus di Indonesia (Tak dipublikasikan). Makalah Seminar
Nasional Gegama. Fakultas Geografi UGM tanggal 8 September 1997 di
Yogyakarta.
13) Qomar, N. 1997. Studi Potensi Biogeofisik untuk Pengembangan Wisata Alam
di Kawasan HPH Dwima Group Kalimantan Tengah (Tak
dipublikasikan).Skripsi S-1 Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta.

22
IbM Untuk Petani Anggur di Desa Dencarik, Kecamatan Banjar. Buleleng Bali

Oleh:
I Nyoman Tika, dkk

ABSTRAK

Desa Dencarik merupakan sentra anggur di kabupaten Buleleng. Kondisi petani


anggur sering tidak menentu. Nasib petani anggur ditentukan oleh kondisi seperti
berikut : (1) musim, (2) keberadaan modal, (3) pemasaran. Perkara musim sulit
diprediksi, jika terjadi musim ekstrim maka kerap petani anggur gagal panen.
Akibatnya petani anggur sering kekurangan modal untuk memenuhi ongkos produksi
Dalam kondisi seperti ini petani pada umumnya meminjam ke para tengkulak,
sehingga terjalin hubungan yang melemahkan posisi tawar petani anggur. Para
tengkulak mempermainkan harga buah anggur. Oleh karena buah anggur adalah
komoditas yang cepat rusak maka, petani menjual buah anggurnya dengan harga yang
sangat murah bisa sampai Rp 300-700, per kg. Pemutusan ketergantungan petani
anggur terhadap para tengkulak, telah banyak dilakukan oleh pemerintah, lembaga
swadaya masyarakat, namun sampai saat ini belum berhasil, karena kepedulian petani
masih rendah, disamping program itu sifatnya temporal. Inspirasi dari kegiatan ini
adalah perlunya perubahan nasib petani anggur, dengan meningkatkan keterampilan
agar petani anggur tidak tergantung pada tengkulak, sehingga titik strategis
penanganan petani Anggur Desa Dencarik saat ini adalah dalam bentuk
pemberdayaan pengetahuan dan keterampilan dalam pengolahan buah anggur,
sehingga eningkatkan nilai tawar petani Salah satu terobosan yang dibutuhkan oleh
petani anggur desa Dencarik Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng ini untuk bisa
mengatasi ketergantungan ini adalah, (1) membuat diversifikasi usaha petani anggur,
membuat wine dari buah anggur dengan proses fermentasi; (2) memutuskan
ketergantungan ekonomi kepada para tengkulak, dengan sesedikit mungkin meminjam
sumber daya untuk ongkos produksi. Hal ini dilakukan dengan memproduksi pupuk
organik berbahan baku dan biopestisida alami. Selain itu menggagas terbentuknya
koperasi petani anggur Desa dencarik. Karya utama kegiatan ini adalah Wine, yang
diproduksi oleh petani anggur desa Dencarik. Wine yang diproduksi menggunakan
skala rumah tangga, dengan menggunakan Saccaromyces cereviceae yang isolasi dari
kota Singaraja (Isolat Lokal). Produk wine yang dihasilkan mengandung alkohol 12%,
dengan uji panelis menunjukkan 85% merasakan sangat enak, gurih dan harum.
Kekhasan yang dimunculkan dari wine yang diproduksi adalah berwarna merah (red
wine). (2) Pupuk organik dan biopestisida alami. Produk ini adalah produk yang
digunakan untuk proses meningkatkan produksi anggur sehingga bisa merinankan
beban petani. (3) Pembentukan koperasi untuk petani anggur di Desa Dencarik.
Simpulan yang diperoleh adalah (1) petani anggur di Desa Dencarik dapat
memproduksi wine (wine merah), (2) petani anggur dapat memproduksi pupuk
organik dan biopestisida alami, (3) petani anggur memiliki koperasi untuk
menampung kebutuhan akan pupuk organik, biopestisida dan wine. Kegiatan ini
berdampak pada kepedulian petani untuk menggunakan bahan-bahan organik
(sampah) dan kotoran untuk penggunaan pupuk, dan biopestisida. Serta merangsang
untuk memproduksi wine sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani anggur.
Dampak kegiatan ini adalah para petani telah mampu memproduksi pupuk organik

23
dan biopestisida alami, serta wine anggur yang menambah geliat pariwisata di dekat
Lovina.

Kata Kunci : Anggur, Petani, Wine, Dencarik, Buleleng, Bali.

Abstract

Dencarik village is a center of wine in Buleleng district. Conditions of wine growers


often uncertain. The fate of grape growers is determined by the following conditions:
(1) season, (2) the existence of capital, (3) marketing. Case of the season is difficult to
predict, in the event of extreme winter it is often the farmers failed to harvest grapes.
As a result, grape growers often lack the capital to meet the cost of production in such
conditions, farmers are generally borrow to the middlemen, so that the relationship
can weaken the bargaining position of farmers wine. The middlemen play with the
price of grapes. Because the grapes are then quickly broken commodities, farmers sell
fruit wine with a very low price can be up to Rp 300-700 / kg. Termination of grape
farmers' dependence on the middlemen, has been widely applied by governments,
nongovernmental organizations, but to date not been successful, because of concern
for farmers is still low, despite the program's temporal nature. The inspiration of this
activity is the need to change the fate of peasant wine, with grape growers improve
their skills so that does not depend on middlemen, so that strategic point Dencarik
Villages Wine growers handling today is in the form of empowerment of knowledge
and skills in the processing of grapes, thus increasing the value of fresh farmers' One a
breakthrough is needed by wine growers village of Banjar District Dencarik Buleleng
is to be able to overcome this dependence is, (1) diversification of farmers' efforts to
make wine, making wine from grapes to the fermentation process, (2) deciding the
economic dependence on the middlemen, with borrow as little as possible resources
for production costs. This is done by producing organic fertilizer made from raw and
natural biopesticides. Also initiated the formation of farmer cooperatives dencarik
Village wine. The main work of this activity is Wine, which is produced by wine
growers village Dencarik. Wine is produced using domestic scale, using
Saccaromyces cereviceae the isolation of the town of Singaraja (Local Isolates). The
resulting wine products containing alcohol 12%, with panelists test showed 85% feel
very good, tasty and fragrant. The specificity is raised from the wine produced is red
(red wine). (2) organic fertilizers and natural biopesticides. This product is a product
used to increase wine production process so that it can ease the burden on farmers. (3)
The establishment of cooperatives for farmers in the village of Dencarik wine.
Conclusions obtained are (1) grape farmers in the village can Dencarik emproduksi
wine (red wine), (2) grape growers can produce organic fertilizer and natural
biopesticides, (3) has a cooperative wine growers to accommodate the need for
organic fertilizers, biopesticides and wine . These activities have an impact on the
awareness of farmers to use organic materials (waste) and dung for fertilizer use, and
biopesticides. And stimulate to produce wines that wine can increase farmers' income.
The impact of this activity is that farmers have been able to produce natural organic
fertilizers and biopesticides, as well as wine grapes that add to the tourism stretching
near Lovina.

Keywords: Grafe, Farmer, Wine, Dencarik, Buleleng, Bali

24
A. PENDAHULUAN
Tantangan paling strategis tentang buah-buahan saat ini adalah, membuat buah-
buah produksi Indonesia menjadi raja di negeri sendiri, untuk mengatasi
membanjirnya buah-buahan impor yang sekarang semakin menguasai pasar
Indonesia. Pengembangan buah- buahan tersebut selain memperhatikan aspek
kuantitas, juga harus memperhatikan kualitas produksi buah sehingga dapat bersaing
dengan kualitas buah impor. Salah satu buah lokal yang prospektif adalah anggur
(Vitis vinifera) merupakan salah satu jenis tumbuhan yang dapat tumbuh dengan baik
di daerah dataran rendah terutama di daerah tepi pantai. Di Indonesia sentra anggur
terdapat di Jawa Timur, Kupang dan Bali.
Di Bali , sentra perkebunan anggur adalah Kabupaten Buleleng. Salah satu
kecamatan yang memiliki jumlah paling banyak tanaman anggurnya, adalah
Kecamatan Banjar. Kecamatan Banjar terdiri atas 17 Desa, namun yang memiliki
perkebunan anggur hanya di 5 Desa, yaitu Desa : Temuhun, Dencarik, Banjar,
Tampekan dan Tegehe. Luas areal perkebunan anggur Dari kelima desa itu adalah
sekitar 500,5 hektar. Dengan jumlah pohon sebanyak 210.619 pohon. Dari jumlah itu
ada sebanyak 64.400 pohon anggur di Desa Dencarik Kecamatan Banjar. Desa
Dencarik terletak sekitar 2 km dari kota Kecamatan Banjar dan 15 Km dari ibu kota
Kabupaten Buleleng (Singaraja). Dilihat dari keadaan geografisnya, Desa Dencarik
merupakan daerah yang subur dengan mayoritas mata pencaharian masyarakat
sebagai petani perkebunan, dengan anggur sebagai hasil perkebunan utama (Sensus
Penduduk dan monografi Desa Dencarik, 2010).
Di Desa Dencarik ada kelompok tani Anggur Harapan Hidup dan Mitra
Semaya. Pada prinsipnya kendala yang dihadapi oleh anggota petani anggur dari dua
kelompok tani itu secara garis besar sama, namun ketika ditelusuri lebih jauh,
ungkapan masing-masing anggota kelompok petani anggur di kelompok Petani
anggur Harapan Hidup, jauh berbeda, yaitu secara garis besar dapat diketahui yaitu
luas areal, sistem pemilihan bibit, pemupukan, penyediaan pestisida, dan pemasaran,
kekurangan modal usaha, dan pengolahan paska panen.
Penjualan masih menggunakan sistem hijon (sudah dijual di pohon),
penyediaan pupuk sering menjadi permainan para distributor pupuk. Pupuk langka
saat proses tumbuhnya bunga, padahal saat itu sangat dibutuhkan oleh petani anggur.
Selain pupuk, juga yang sulit adalah penggunaan pestisida, harga pestisida
relatif mahal sehingga petani kesulitan dalam hal pengadaannya. Kondisi ini sering
25
menjebak petani anggur untuk mengadaikan barang-barang miliknya agar
mendapatkan modal untuk proses itu. Kondisi ini jika panen gagal maka kerap para
petani anggur menangis saat panen anggur karena modal yang ditanamkan tidak
kembali seperti semula, artinya petani rugi dan tidak sedikit yang jatuh miskin.
Kerugian lain saat panen raya anggur. Karena petani anggur biasanya menjual
hasil anggur mereka kepada tengkulak, maka pada saat panen raya dengan anggur
yang melimpah, merupakan kesempatan bagi Tengkulak untuk mengendalikan harga
anggur. Petani yang seharusnya berbahagia menyambut panen, malah harus pusing
dengan ulah Tengkulak. Harga Anggur yang biasanya per 1 kg dibeli oleh tengkulak
dengan harga Rp 9.000,- pada panen raya hanya dibeli dengan harga Rp 700,- per 1
kg. Oleh Tengkulak, anggur tersebut di eksport ke luar daerah dengan harga Rp
10.000,- sampai Rp 15.000,- per 1 kg. Sangat tidak sebanding dengan pengeluaran,
kerja keras dan penghasilan petani selama merawat anggur tersebut. Petani yang
sudah terlanjur kecewa dengan kondisi seperti itu bahkan ada yang nekat membiarkan
anggurnya busuk sampai berton-ton. Ini dimaksudkan agar yang rugi tidak hanya
petani, tetapi juga tengkulak nakal yang sudah mempermainkan harga. Keadaan yang
dramatis seperti ini juga mengakibatkan beberapa petani membabat pohon anggur
mereka, walaupun pohon anggur tersebut masih tergolong dalam usia produktif, dan
mengganti tanaman anggur dengan tanaman lain, sehingga membutuhkan waktu lagi
untuk berproduksi
Di Desa Dencarik sebenarnya sudah ada tempat untuk mengolah buah anggur
menjadi minuman wine. Namun karena pengolahannya masih dikerjakan dengan cara
tradisional, maka tidak mungkin semua atau sebagian besar hasil buah anggur dari
petani yang jumlahnya berpuluh- puluh ton tersebut secara cepat dan secara
bersamaan dapat diolah.
Untuk itu, diperlukan adanya pengetahuan dan pelatihan bagi petani anggur
tentang bagaimana mengawetkan hasil panen mereka secara alami sambil menunggu
hasil anggur mereka untuk diolah menjadi olahan lain seperti wain, kismis, ataupun
olahan lainnya, karena buah anggur yang sudah dipetik paling lama hanya bisa
bertahan 4 hari agar tidak busuk. Pengetahuan petani untuk dapat mengawetkan buah
anggur secara alami dirasa sangat penting agar petani tidak menggunakan bahan-
bahan yang berbahaya untuk mengawetkan buah anggur.Pengawetan penyimpanan
buah anggur untuk dijual maupun untuk perisapan diolah menjadi sesuatu hal yang
sangat mendesak bagi petani anggur di Dencarik, sehingga perlu dicari solusi
26
pengawetan anggur dengan menggunakan bahan-bahan alami di sekitar perkebunan
anggur, hal yang paling memungkinkan adalah penggunaan jermai padi. Hal ini
didukung oleh hasil wawancara penulis dengan pejabat dan petani anggur di Desa
Dencarik, mereka sangat antusias dan mengharapkan adanya pelatihan dan pembinaan
cara mengawetkan buah anggur secara alami dengan menggunakan jerami sebagai
bahan pengawet alami tanpa menggunakan bahan kimia yang berbahaya. Apalagi
bahan utama untuk mengawetkan anggur tersebut yaitu jerami, sangat mudah untuk
mereka dapatkan di sekitar.
Adanya program ini akan menjadi prospek peningkatan penghasilan
masyarakat khususnya di Desa Dencarik dengan ciri khas buah anggurnya. Selain itu
lokasi Desa Dencarik yang dekat dengan kawasan Pariwisata Pantai Lovina, tentu
akan mempermudah pemasaran produk olahan buah anggur khususnya wine.
Berdasarkan uraian tersebut, maka sangat perlu pemberdayaan Petani anggur
untuk meningkatkan posisi tawar petani anggur di Desa Dencarik Kecamatan Banjar
sehingga dapat meningkatkan status ekonomi petani anggur. Dengan demikian
diharapkan petani dapat merasakan hasil panen dari kebun anggur mereka sesuai
harapan mereka serta mengatasi kemerosotan harga buah anggur pada saat panen
raya.
Tujuan umum kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
petani anggur sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani, hal ini akan
mengurangi ketergantungan pada tengkulak. Tujuan khusus adalah (1) meningkatkan
pemahaman dan keterampilan petani anggur tentang cara pengepakan dan tata kelola
paska panen buah anggur, (2) Untuk membuka wawasan petani anggur dalam wadah
koperasi untuk memudahkan pengadaan modal, (3) Melakukan pelatihan membuat
wine dan makanan dari buah anggur berbahan baku buah anggur, (4) meningkatkan
keterampilan tentang pembuatan pupuk organik dan pestisida alami dari bahan-
bahan yang banyak di sekitar ladang petani petani anggur.

SUMBER INSPIRASI

Hal-hal yang menjadi inspirasi dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat di


wilayah ini adalah pentingnya upaya-upaya untuk
1) meningkatnya penguasaan teknologi pada petani anggur pada pasca panen
anggur.Saat panen buah anggur langsung dijual, atau disimpan dan kaibatnya
banyak yang busuk. Oleh karena itu buah anggur dijual masih di pohon
27
(sistem hijon). Hal ini menyebabkan harga yang dinikmati petani sangat
rendah, seingga keuntungan petani menjadi berkurang. Walaupun ada
beberapa petani yang memanen buah anggur, namun pengolahan dan packing
buah anggur tidak dilakukan dengan baik, sehingga banyak buah anggur yang
rusak. Untuk kasus ini, maka perlu dilakukan sosialisasi teknologi pengepakan
anggur dengan teknik yang baru, suatu teknik yang membuat masa segar buah
anggur lebih baik dan panjang.
2) Meningkatnya kemampuan para petani anggur untuk melakukan pengolahan
buah anggur menjadi berbagai minuman dan makanan berkualitas berbahan
dasar buah anggur, seperti wine, atau belum tahu penggunaan buah anggur
untuk salad, bakso buah anggur.
3) Menumbuhkan kesadaran petani anggur untuk mencari terobosan dalam
pencucian residu pestisida dengan baik, karena pengetahuan mereka terbatas,
hanya menggunakan air untuk menghilangkan residu pestisida. Akibatanya,
selain penampilannya tampak tidak baik, juga buah anggur tidak hegenis,
sehingga berbahaya bagi kesehatan, akibatnya minat pembeli buah anggur
menjadi menurun. Oleh karena itu dibutuhkan teknologi baru sistem pelarut
yang tepat untuk menghilangkan residu pestisida pada buah anggur sehingga
penampilan dan hegeinitas buah anggur menjadi lebih terjaga.
4) Meningkatkan kemampuan para petani anggur dalam penyediaan dan
penanganan bibit pohon anggur. Hal ini berakibat pada kualitas anggur terus
menurun, buah anggur rasanya masam dan besarnya tidak merata. Oleh karena
itu, perlu dilakukan pemilihan dan penumbuhan bibit yang berkualitas unggul
untuk petani anggur, sehingga kualitas buah anggur yang dihasilkan tetap terus
terjaga.
5) Menghilangkan ketergantungan pada pupuk sintetis kimia. Para petani belum
memiliki keterampilan membuat pupuk organik, sehingga masih kurang yang
menggunakan pupuk organik atau pupuk kandang. Hal ini disebabkan para
petani anggur kurang menguasai teknik pembuatan pupuk biokompos, padahal
bahan pupuk biokompos tersedia melimpah di sekitar petani anggur, seperti :
banyak kotoran ayam/ sapi atau babi, banyak limbah pertanian, abu jerami,
bahan serbuk gergaji. Oleh karena itu dengan sentuhan penambahan
konsorsium mikroba yang ada di kampus diharapakan petani dapat membuat
pupuk biokompos.
28
6) Pemasaran buah anggur oleh petani hanya menjangkau pasar lokal dan masih
sedikit pemasaran antar pulau, karena menggunakan pemasaran tradisional,
para saudagar anggur datang ke petani, sehingga para tengkulak
mempermainkan harga. Petani masih belum banyak yang memasarkan anggur
dengan teknik modern internet.
7) Wawasan Petani juga kurang terhadap koperasi sehingga selalu menjadi
permainana para tengkulak dalam penyediaan modal produksi.

B. MATERI DAN METODE

Metode penerapan IPTEKS dalam pengabdian ini adalah (1) Menerapkan


pelatihan, yakni memberikan pelatihan tentang cara pengepakan dan tata kelola paska
panen buah anggur. Dengan langkah-langkah sebagai berikut : (1)Pilihlah dan
bersihkan buah anggur yang akan diproses menjadi wine (2) Blender lalu disaring,
filtrat yang diperoleh siap untuk difermentasi, (3) Tambahkan stater ragi
Saccaromyces cereviciae dengan 2,5 % v/v kedalam ekstak buah anggur.(Stater ini
dibuat sebelumnya 1 kali 24 jam dengan ekstrak anggur dan biakan Saccaromyces
cerevicie unggul) (4) Diaduk rata, dan difermenasi 14 sampai dengan 1 bulan
Metode yang digunakan untuk membuat pupuk organik adalah sebagai berikut
(1) Bahan baku pupuk organik, seperti limbah gergaji, jerami dan kotoran sapi atau
ayam (2) Dicampur merata, dan ditambahkan dengan mikroba isolat lokal yang telah
dikoleksi di Jurusan Kimia U ndiksha. (3) Setelah merata difermentasi selama 2
minggu.
Untuk efektivitas kegiatan dilakukan dengan Metode observasi dan
wawancara Penulis mengadakan pengamatan di Desa Dencarik Kecamatan Banjar.
Observasi dilakukan setelah memperoleh izin dari pihak-pihak terkait. Selain
observasi penulis juga melakukan wawancara dengan pihak terkait guna menunjang
pengumpulan data awal sebelum membuat usulan kegiatan program dan pelaksanaan
program. Untuk kedepannya pun jika program telah terlaksana maka akan diadakan
observasi wawancara lanjutan terkait dalam memperoleh informasi tindak lanjut
kegiatan yang dilakukan masyarakat dari hasil penelitian. Observasi juga dilakukan
setelah pelatihan diadakan, untuk mengetahui manfaat hasil pelatihan. Pada observasi
ini dicari data mengenai tingkat keberhasilan pembuatan kerajinan tangan dengan
bahan dasar pandan berduri.

29
Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan di
depan adalah metode diskusi dan praktek (learning by doing). Gabungan kedua
metode tersebut diharapkan mampu meningkatkan pemahaman dan keterampilan
khalayak berkaitan dengan teknik teknologi pengolahan pasca panen anggur.

C. HASIL DAN PEMBAHASAN


C1. HASIL
Karya utama dari Pelaksanaan P2M ini adalah (1) wine, petani mampu
memproduksi wine, yang diproduksi dengan sekala rumah tangga, (2) Pupuk organik
dan, (3) biopestisida alami. (4) Koperasi petani anggur Desa Dencarik.

C2. PEMBAHASAN
1. Wine
Wine yang diproduksi di desa dencarik adalah wine yang terbuat dari anggur
dengan kualitas buah yang manis dan unggul. Wine ini berwarna hitam kemerahan,
namun setelah mengalami penuaan (aging) terjadi pengendapan dan warnanya
menjadi merah (seperti wine merah). Rasa dan aroma yang dihasilkannya sangat
menyengat, dari analisis laboratorium diketahui bahwa kadar alkohol wine mera itu
sebesar 12 %. Banyak responden sangat menyenangi bau dan rasa anggur ini.
sebanyak 87% responen menyenangi rasa dan bahu wine yang dihasilkan dari
fermentasi saccharomeyces cereviciae ini.

2. Pupuk Organik
Saat ini petani m a s i h sangat tergantung p a d a pupuk s i n t e t i s ( kimia).
Ada dua masalah penting yang muncul dengan penggunaan pupuk kimia, pertama,
ketika kebutuhan pupuk tinggi oleh petani, tiba-tiba pupuk menghilang dari pasaran
dan harganya membumbung tinggi. Kedua, penggunaan pupuk sintetis teus menerus
dan berlebihan akan merusak struktur tanah, sehingga tanah menjadi tidak
subur.Kondisi ini membutuhkan usaha yang kreatif berupa penggunakan pupuk
organik. Satu aspek penting dalam proses pembuatan pupuk organik adalah pada
segmen penerapan teknologi fermentasi dengan menggunakan mikroba unggul.
Penggunaan isolat lokal memiliki dua alasan utama, pertama mikroba tersebut
merupakan bioderversity lokal, sehingga familiar dengan lingkungan dimana mikroba
tersebut berasal. Kadua, oleh karena mikroba berasal dari isolat lokal maka mikroba
30
tersebut bukan merupakan konsorium antagonis dan bukan merupakan mikroba
predator endemik yang parasit bagi lingkungan dimana mikroba itu digunakan, namun
sebaliknya bisa menimbulkan sinergisme sintropi untuk membangun kesuburan tanah,
sehingga penggunaan isolat lokal adalah salah satu pendekatan yang paling relevan
untuk pelestarian lingkunganSelain itu, program pengadaan pupuk organik sejalan
dengan program pemda provinsi Bali dalam bentuk program Bali green, dimana
sektor pertanian menjadi soko guru dalam menunjang pariwisata Bali yang asri dan
berwawasan Tri Hita Karana, yaitu menjaga keharmonisan anatara manusia dengan
Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungannya. Untuk menjaga
keharmonisandengan linggkungan ini, maka keberadaan industri pupuk organik
sangat penting, karena dapat meningkatkan pendapat petani, sehingga mengurangi
ketergantungan akan pupuk sintetis.

Biopestisida Alami
a. Pembuatan Biopestisida Alami
1. Preparation Step / Tahap Persiapan
Preparation step merupakan tahap persiapan dalam membuat biopestisida
alami dari urine sapi.
Urine sapi dikumpulkan pada ember.
Bahan-bahan campuran (jahe, kencur, brotowali, tamu ireng, daun
lamtoro, dan lengkuas) dihaluskan dengan jalan ditumbuk. Fungsi dari
pencampuran bahan-bahan campuran ini adalah untuk mengurangi bau
menyengat dari urine sapi.
Urine sapi dicampur dengan bahan-bahan pencampur yang sudah
ditumbuk kemudian diaduk. Campuran urine sapi dan bahan-bahan
pencampur kemudian disaring dan hasil saringan dimasukkan dalam
drum plastik.

2. Fermentative Step / Tahap Fermentasi


a. Penyiapan starter bakteri
Pada proses penyiapan starter bakteri, digunakan starter Effective
Microorganism Gen. 4. Adapun langkah preparasinya antara lain:
Air didihkan dengan menggunakan kompor.

31
Larutan gula disiapkan dengan mencampurkan 1 liter air yang
mendidih dengan 1 kg gula pasir, kemudian campuran ini
diaduk hingga semua gula pasir larut.
Sekitar 1 liter larutan gula dan 1 liter starter EM-4
dicampurkan.
Tambahkan air sebanyak 20 liter pada campuran di atas
Campuran tadi diaduk selama 2-3 jam untuk mengaktifkan EM,
selanjutnya disebut sebagai EM-aktif
b. Fermentasi
Sebagai data komparasi, satu liter EM-aktif diperuntukkan
untuk 1000 liter urine sapi.
EM-aktif dicampurkan ke dalam ekstrak urine sapi sesuai
perbandingan yang dibutuhkan
Campuran tadi dimasukkan ke dalam galon, kemudian
dikondisikan secara anaerob dengan menggunakan pompa
angin.
Sistem yang sudah dikerjakan tadi dibiarkan selama 2-3
minggu agar bisa digunakan.

3. Packing Step / Tahap


Setelah 2-3 minggu mengalami fermentasi, fermentor (galon) dibuka,
usahakan agar gas yang dihasilkan selama proses fermentasi keluar
perlahan.
Biopestisida alami yang sudah jadi kemudian di kemas menggunakan
botol plastik dan disimpan dalam ruangan teduh, tidak terkena sinar
matahari langsung.

b. Proses Penggunaan
Setelah 2-3 minggu mengalami fermentasi, biopestisida alami dari urine sapi siap
digunakan dengan perbandingan 1 liter biopestisida alami diencerkan dengan 10 liter
air.
Perbekel desa Dencarik memberkan sambutan bahwa kegiatan seperti ini,
yang melibatkan dosen mahasiswa terus dibutuhkan untuk membantu petani dengan

32
sinergisme antara departemen pertanian dengan Perguruan Tinggi. Tepat jam 9.30
acara di buka. Selanjutnya diawali dengan pemaparan dari nara sumber tentang
prospek buah anggur ke depan Oleh Dr. I Nyoman Tika, M.Si.

D. KESIMPULAN
1. Pedampingan dan pelatihan telah mampu meningkatkan keterampilan dan
pengetahuan petani terhadap pengolahan buah anggur menjadi wine dengan
kulaitas yang sangat baik.
2. Pedampingan dan pelatihan telah mampu meningkatkan keterampilan petani
anggur untuk memproduksi pupuk organik dan biopestisida alami dari
sampah pertanian di sekitarnya.
3. Pupuk organik yang dihsilkan berkualitas cukup baik dan dapat menekan
penggunaan pupuk sintesis kimia.
4. Biopestisida alami yang dibuat dari formulasi urine sapi dan rempah-rempah
yang dengan kualitas baik.
5. Hasil pengabdian dalam bentuk IBM ini menunjukkan bahwa setelah
pelatihan dilakukan diskusi memperhatikan untuk mengukur keberhasilan
kegiatan. Hasil responden menunjukkan bahwa kinerja sangat baik, nilainya
diatas 90%, dan produk yang dihasilkan untuk meningkatkan keterampilan
dihasilkan sangat baik, yakni diatas 85%.

E. DAMPAK DAN MANFAAT KEGIATAN


Kegiatan ini bermanfaat paling tidak terhadap beberapa hal yaitu, (1)
meningkatnya penguasaan teknologi pada petani anggur pada pasca panen
anggur.Saat panen buah anggur langsung dijual, atau disimpan dan kaibatnya
banyak yang busuk. Oleh karena itu buah anggur dijual masih di pohon
(sistem hijon). Hal ini menyebabkan harga yang dinikmati petani sangat
rendah, seingga keuntungan petani menjadi berkurang. Walaupun ada
beberapa petani yang memanen buah anggur, namun pengolahan dan packing
buah anggur tidak dilakukan dengan baik, sehingga banyak buah anggur yang
rusak. Untuk kasus ini, maka perlu dilakukan sosialisasi teknologi pengepakan
anggur dengan teknik yang baru, suatu teknik yang membuat masa segar buah
anggur lebih baik dan panjang.

33
Meningkatnya kemampuan para petani anggur untuk melakukan
pengolahan buah anggur menjadi berbagai minuman dan makanan berkualitas
berbahan dasar buah anggur, seperti wine, atau belum tahu penggunaan buah
anggur untuk salad, bakso buah anggur.
Menumbuhkan kesadaran petani anggur untuk mencari terobosan dalam
pencucian residu pestisida dengan baik, karena pengetahuan mereka terbatas,
hanya menggunakan air untuk menghilangkan residu pestisida. Akibatanya,
selain penampilannya tampak tidak baik, juga buah anggur tidak hegenis,
sehingga berbahaya bagi kesehatan, akibatnya minat pembeli buah anggur
menjadi menurun. Oleh karena itu dibutuhkan teknologi baru sistem pelarut
yang tepat untuk menghilangkan residu pestisida pada buah anggur sehingga
penampilan dan hegeinitas buah anggur menjadi lebih terjaga.
Meningkatkan kemampuan para petani anggur dalam penyediaan dan
penanganan bibit pohon anggur. Hal ini berakibat pada kualitas anggur terus
menurun, buah anggur rasanya masam dan besarnya tidak merata. Oleh karena
itu, perlu dilakukan pemilihan dan penumbuhan bibit yang berkualitas unggul
untuk petani anggur, sehingga kualitas buah anggur yang dihasilkan tetap terus
terjaga.
Menghilangkan ketergantungan pada pupuk sintetis kimia. Para petani
belum memiliki keterampilan membuat pupuk organik, sehingga masih
kurang yang menggunakan pupuk organik atau pupuk kandang. Hal ini
disebabkan para petani anggur kurang menguasai teknik pembuatan pupuk
biokompos, padahal bahan pupuk biokompos tersedia melimpah di sekitar
petani anggur, seperti : banyak kotoran ayam/ sapi atau babi, banyak limbah
pertanian, abu jerami, bahan serbuk gergaji. Oleh karena itu dengan sentuhan
penambahan konsorsium mikroba yang ada di kampus diharapakan petani
dapat membuat pupuk biokompos.
Pemasaran buah anggur oleh petani hanya menjangkau pasar lokal dan
masih sedikit pemasaran antar pulau, karena menggunakan pemasaran
tradisional, para saudagar anggur datang ke petani, sehingga para tengkulak
mempermainkan harga. Petani masih belum banyak yang memasarkan anggur
dengan teknik modern internet.
Wawasan Petani juga kurang terhadap koperasi sehingga selalu menjadi
permainana para tengkulak dalam penyediaan modal produksi.
34
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi diberikan kepada Camat
Banjar, Perbekel Desa Dencarik. Kelompok Petani Anggur Desa Dencarik.Ucapan
terima kasih yang setinggi-tinggi kami juga dihaturkan kepada DP2M DIKTI atas
dana Hibah Program Pengabdian IbM tahun 2011, Rektor Undiksha atas izin dan
dorongannya selama ini, Ketua LPM Undiksha, rekan-rekan dosen jurusan pendidikan
Kimia, yang selalu mendorong penulis untuk melakukan kegiatan pengabdian ini, dan
mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan pengabdian ini.

F. Daftar Pustaka
1) Agero AL, Verallo-Rowell VM, 2004. A randomized double-blind controlled
trial comparing extra virgin coconut oil with mineral oil as a moisturizer for
mild to moderate xerosis. Dermatitis. Sep;15(3):109-16.
2) Al-Edresi S, Baie S, 2009, Formulation and stability of whitening VCO-in-
water nano-cream. Int J Pharm. 2009 May 21;373(1-2):174-8. Epub 2009 Feb
24.
3) Birkeland S, Skra T, 2008, Cold smoking of Atlantic salmon (Salmo salar)
fillets with smoke condensate--an alternative processing technology for the
production of smoked salmon. J Food Sci. 2008 Aug;73(6):S326-32
4) Dayrit FM, Buenafe OE, Chainani ET, de Vera IM, 2008, Analysis of
monoglycerides, diglycerides, sterols, and free fatty acids in coconut (Cocos
nucifera L.) oil by 31P NMR spectroscopy.J Agric Food Chem. 2008 Jul
23;56(14):5765-9. Epub 2008 Jun 25.
5) Ogbolu DO, Oni AA, Daini OA, Oloko AP, 2007, In vitro antimicrobial
properties of coconut oil on Candida species in Ibadan, Nigeria. J Med Food.
Jun;10(2):384-7

6) Rose M, White S, Macarthur R, Petch RG, Holland J, Damant AP, 2007,


Single-laboratory validation of a GC/MS method for the determination of 27
polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs) in oils and fats. Food Addit
Contam. Jun;24(6):635-51
7) Sabularse VC, Montalbo MN, Hernandez HP, Serrano EP, 2009, Preparation
of nata de coco-based carboxymethylcellulose coating and its effect on the
post-harvest life of bell pepper (Capsicum annuum l.) fruits. Int J Food Sci
Nutr. 2009 Apr 23:1-13
8) Tokuyasu K, Tabuse M, Miyamoto M, Matsuki J, Yoza K, 2008, Pretreatment
of microcrystalline cellulose flakes with CaCl2 increases the surface area, and
thus improves enzymatic saccharification. Carbohydr Res. May
19;343(7):1232-6. Epub 2008 Mar 12
9) Wiseman SA, Mathot JN, de Fouw NJ, Tijburg LB, 1996, Dietary non-
tocopherol antioxidants present in extra virgin olive oil increase the resistance
of low density lipoproteins to oxidation in rabbits. Atherosclerosis. 1996
Feb;120(1-2):15-23.

35
IbM BIOGAS

Oleh :
I Made Mariawan, dkk

ABSTRAK

Krisis energi yang membuat harga minyak dunia melonjak semakin menghimpit
kehidupan masyarakat tani di pedesaan. Dalam situasi seperti ini, pencarian,
pengembangan, dan penyebaran teknologi energi yang ramah lingkungan menjadi hal
yang sangat penting, terutama keluarga miskin sebagai golongan yang banyak terkena
dampak kenaikan BBM. Salah satu teknologi energi yang sesuai dengan persyaratan
tersebut adalah teknologi biogas. Kegiatan ini, membangun satu unit teknologi biogas
yang dilakukan bersama masyarakat desa melalui kegiatan IbM. Kegiatan ini
dilakukan di desa Wongaya betan dengan melibatkan 4 kelompok tani ternak yang
masing-masing anggotanya terdiri dari 4 orang. Hasil yang diperoleh adalah
rancangan satu unit biogas sederhana dengan memanfaatkan limbah ternak. Kegiatan
ini diperkirakan bisa berkembang selanjutnya mengingat potensi desa yang cukup
potensial.

Kata-kata kunci: biogas, limbah ternak

ABSTRACT

Energy crisis that makes the soaring world oil prices increasingly squeeze the life of
farmers in rural communities. In situations like this, search, development, and
deployment of environmentally friendly energy technologies become very important,
especially poor families as a group are much affected by fuel price rises. One energy
technology in accordance with these requirements is the biogas technology. This
activity, build a biogas technology unit that performed with villagers through the
activities of IbM. These activities are conducted in the village Wongaya betan
involving 4 groups of livestock farmers who each member consists of 4 people. The
result is the design of a simple biogas unit utilizing livestock waste. This activity is
expected to grow further given the potential for considerable potential village.

Keywords: biogas, livestock waste

1. PENDAHULUAN
Krisis energi yang membuat harga minyak dunia melonjak semakin
menghimpit kehidupan masyarakat berbagai lapisan di Indonesia. Kenaikan harga
BBM yang dilakukan pemerintah membuat harga minyak tanah menyamai harga
premium sebelum dinaikkan (Subroto, Himawanto, dan Putro, S., 2006). Dalam
situasi seperti ini, pencarian, pengembangan, dan penyebaran teknologi energi non
BBM yang ramah lingkungan menjadi hal penting, terutama ditujukan pada keluarga

36
miskin sebagai golongan yang banyak terkena dampak kenaikan BBM. Salah satu
teknologi energi yang sesuai dengan persyaratan tersebut adalah teknologi biogas
(Darsin, 2006).
Pengolahan kotoran sapi menjadi energi alternative biogas yang ramah
lingkungan merupakan cara yang sangat menguntungkan, karena mampu
memanfaatkan alam tanpa merusaknya sihingga siklus ekologi tetap terjaga. Manfaat
lain mengolah kotoran sapi menjadi energi alternatif biogas adalah dihasilkannya
pupuk organik untuk tanaman. Dengan demikian, manfaat ganda tersebut dapat
menghemat energi, pengurangan biaya energi untuk memasak dan pengurangan
konsumsi energi tak terbarukan yaitu BBM.
Biogas diproduksi oleh bakteri dari bahan organik di dalam kondisi tanpa
oksigen (anaerobic process). Proses ini berlangsung selama pengolahan atau
fermentasi. Gas yang dihasilkan sebagian besar terdiri atas CH4 dan CO2. Jika
kandungan gas CH4 lebih dari 50%, maka campuran gas ini mudah terbakar,
kandungan gas CH dalam biogas yang berasal dari kotoran ternak sapi kurang lebih
60%. Temperatur ideal proses fermentasi untuk pembentukan biogas berkisar 30 oC
(Sasse, L., 1992, Junaedi, 2002).
Produksi biogas dari kotoran sapi berkisar 600 liter s.d. 1000 liter biogas per
hari, kebutuhan energi untuk memasak satu keluaraga rata-rata 2000 liter per hari.
Dengan demikian untuk memenuhi kebutuhan energi memasak rumah tangga dapat
dipenuhi dari kotoran 3 ekor sapi.
Jenis konstruksi unit pengolah (digester) biogas yang dapat dibangun di daerah
tropis dapat dibagi menjadi 3 model yaitu digester permanen (fixed dome digester),
digester dengan tampungan gas mengapung (floating dome digester), digester dengan
tutup plastic (Junaedi, 2002).
Desa wongaya Betan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, merupakan
salah satu desa yang berpotensi besar dalam pembuatan biogas, mengingat sebagian
besar penduduknya bermata pencaharian petani sekaligus peternak sapi. Pembuatan
satu unit biogas sederhana telah dilakukan di desa tersebut yang dikelola langsung
oleh Kelompok Tani. Satu unit teknologi biogas di Desa Wongaya Betan sangat
sederhana sekali karena dengan peralatan yang sangat sederhana, murah dan mudah
diperoleh masyarakat sekitar mampu menghasilkan biogas yang cukup memadai
untuk kebutuhan memasak satu keluarga. Teknologi pengolahan biogas dengan
digester yang terbuat dari bahan polyethylene cocok diterapkan untuk masyarakat
37
kecil mengingat murahnya biaya instalasi serta kemudahan dalam pengoperasian serta
perawatan. Banyaknya ternak di desaWongaya Betan ada peluang besar untuk
pembuatan unit biogas yang lebih banyak, sehingga dapat mengurangi konsumsi
bahan bakar di wilayah tersebut.
Bahan-Bahan yang Diperlukan untuk membangun satu unit biogas sederhana
sekurang-kurangnya dibutuhkan 3 buah cincin gorong-gorong septik tank untuk
tangki digester, sebuah drum oli yang besar, dapat membuat bahan kira-kira 200 liter
yang diperuntukkan sebagai gas methane (biogas). Selanjutnya, bahan-bahan
lainnya, berupa pipa logam dengan diameter 2 cm, untuk ujung pipa pengeluaran
gas dan satu kran pengeluaran biogas. Selain itu dibutuhkan pula pipa karet atau
paralon seperlunya yang berdiameter 2 cm, yang berguna sebagai pipa penyaluran
gas dari tangki pencerna ke kompor untuk memasak.
Bahan limbah yang diperlukan adalah kotoran ternak seperti sapi, babi, ayam
dan limbah organik sisa-sisa tanaman. Petani dapat menggunakan kotoran ternak
saja, atau limbah tanaman saja, ataukah campuran keduanya. Untuk limbah
organik, seperti jerami harus dipotong-potong lebih dulu dan selanjutnya dicampur
merata dengan kotoran ternak. Bagi seorang pemula, akan lebih baik hanya
menggunakan kotoran ternak, atau bahan limbah tanamannya lebih sedikit. Nanti
setelah mahir dan paham tentang proses terbentuknya biogas, barulah limbah
tanaman ditingkatkan. Perlu pula diingat, bahwa limbah tanaman yang digunakan,
sebelumnya harus dipotong-potong, sedangkan limbah tanaman segar harus
dikeringkan lebih dulu pada sinar matahari selama 10 hari atau lebih, untuk
selanjutnya dimasukkan ke dalam unit biogas.
Bahan-bahan organik berupa kotoran ternak dan limbah tanaman yang
tersedia, setelah dicampur merata, selanjutnya diberi air dengan komposisi 1 :
1, aduk sampai terbentuk seperti pasta (adonan). Lakukan dengan baik, karena kiat
ini akan mempercepat terbentuknya gas yang diinginkan. Kapur dapat ditambahkan
untuk menetralkan pH.
Membuat bidang pemicu pembentukan gas, sekitar dua bulan sebelum anda
membuat unit biogas untuk pertama kalinya, diperlukan membuat biang pemicu
pem-bentukan gas. Ambil 2 liter kotoran ternak (sapi, babi, atau ayam) dan 2 liter
air, campur dan aduk merata. Setelah tercampur baik seperti pasta, tuangkan
campuran tersebut pada wadah tertentu, seperti ember, jergen, botol, tanpa penutup

38
dan simpan ditempat terbuka. Usahakan biang pembentukan gas ini tetap hangat,
kocok tiap dua hari sekali selama dua bulan untuk wilayah berkelembaban rendah.
Biang pembentukan gas ini, digunakan sebagai pemicu (starter), untuk mempercepat
pembentukan gas pada unit biogas.
Dengan unit biogas yang telah siap, isi limbah (kotoran ternak dan limbah
tanaman), menggunakan gorong-gorong bersusun tiga. Ukur tinggi drum untuk
menentukan batas ketinggian pasta/campuran bahan organik dan air. Selanjutnya
masukkan campuran bahan organik dan air secara bertahap, aduk merata.
Lakukan berulang kali sampai pada ketinggian yang dikehendaki. Masukkan
biang pemicu pembentukan gas (starter) yang telah disiapkan sebelumnya.
Sekarang, buka kran pipa gas pada drum gas untuk melewatkan udara, tekan drum
kedalam campuran bahan organik tersebut, sehingga mencapai dasar tangki atau
gorong- gorong pencerna. Drum harus ditekan sedemikian rupa sehingga tidak ada
lagi ruang udara di dalamnya, dengan menekannya sampai ke dasar tangki
digester. Kalau sudah yakin bahwa campuran bahan organik telah memenuhi
seluruh ruang drum gas, maka kran pengeluaran gas ditutup rapat dan unit
biogas mulai bekerja mengumpulkan gas yang terbentuk. Sebagai indikasi telah
terbentuk gas dalam drum, apabila drum itu mulai terangkat ke atas melewati batas
permukaan campuran pasta bahan organik. Jika mendapati bocoran gas keluar dari
drum setelah unit biogas mulai bekerja membentuk gas, maka tutup bocoran dengan
ter atau cat, dan kuatkan kran. Cara mudah untuk mengetahui bocoran adalah
dengan menggunakan air sabun. Diperlukan waktu kira-kira 2 sampai 4 minggu
(tergantung bahan baku dan kondisi lingkungan), untuk memulai pembentukan
gas dari campuran bahan organik tersebut. Selama pembentukan gas yang
mengambil waktu kira-kira 8 minggu, separuh dari gas tersebut terbentuk pada 2
sampai 4 minggu pertama dan separuh berikutnya pada minggu ke-4 sampai ke-8,
serta berhenti sama sekali pada minggu ke-9. Setelah waktu itu, kosongkan unit
biogas dan mulai lagi mengulangi pengisiannya sebagaimana langkah kerja
sebelumnya.
Unit produksi biogas sangat penting diletakkan di tempat yang aman,
terpisah dari rumah, tempat memasak dan sumber air. Tempat terbaik sekurang-
kurangnya 10 meter dari rumah, sehingga ketika memasukkan kotoran ternak dan
limbah organik ke unit biogas, tidak sampai mencemari kehidupan keluarga dan
tempat pengolahan pangan. Namun demikian, juga tidak dianjurkan menempatkan
39
unit biogas terlalu jauh dari rumah, karena membutuhkan pipa gas yang lebih
panjang yang berarti lebih banyak biaya. Pipa gas harus dijaga jangan sampai bocor
dan jika dipasang menyeberang jalan, hendaknya dibenamkan kedalam tanah untuk
mencegah kebocoran. Suatu unit biogas paling dekat sumber air sekitar 10 meter,
sehingga limbah ikutannya tidak mencapai sumber air bersih.
Apabila perimbangan antara udara dan gas dalam jumlah yang tepat, maka
biogas akan terbakar dengan baik, ditandai dengan nyala yang berwarna biru.
Dengan mengatur perimbangan gas-udara, akan diperoleh nyala biru yang
diinginkan. Jika nyala yang semula biru dan terbakar dengan baik, berubah
menjadi kuning, ini berarti ruang pembakaran tersumbat dengan arang
pembakaran atau ada air dalam slang dan perlu pembersihan dengan dicuci
menggunakan air dan sabun.

2. MATERI DAN METODE


2.1 Khalayak Sasaran
Petani-peternak di desa Wongaya Betan belum bisa mengelola limbah/kotoran
ternak menjadi salah satu sumber energi terbarukan, sehingga petani-peternak sangat
tergantung pada bahan bakar minyak (minyak tanah) untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Persediaan bahan bakar minyak terutama bahan bakar minyak tanah
sangat terbatas, sehingga sering terjadi kelangkaan bahan bakar minyak. Dalam situasi
seperti ini, petani-peternak di daerah pedesaan berusaha mencari bahan bakar dari
kayu bakar baik dari ranting-ranting kering maupun menebangi pohon-pohon di hutan
yang terlarang. Hal ini lambat laun mengancam kelestarian alam di sekitar kawasan
hutan. Berdasarkan hal tersebut, sangat perlu dilakukan pemberdayaan masyarakat
tani melalui simulasi pembuatan unit biogas pedesaan memanfaatkan limbah/kotoran
ternak.
Khalayak sasaran yang dilibatkan sebagai mitra dalam kegiatan IbM ini adalah
kelompok tani di wilayah desa Wongaya Betan, Kecamapatn Penebel, Kabupaten
Tabanan yang jumlahnya 4 kelompok. Masing-masing kelompok anggotanya terdiri 4
orang.

2.2 Kerangka Pemecahan Masalah


Permasalahan utama yang terjadi pada mitra IbM ini adalah belum bisa
mengelola limbah/kotoran ternak menjadi salah satu sumber energy terbarukan,

40
sehingga petani-peternak sangat tergantung pada bahan bakar minyak (minyak tanah)
untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Persediaan bahan bakar minyak terutama
bahan bakar minyak tanah sangat terbatas, sehingga sering terjadi kelangkaan bahan
bakar minyak. Dalam situasi seperti ini, petani-peternak di daerah pedesaan berusaha
mencari bahan bakar dari kayu bakar baik dari ranting-ranting kering maupun
menebangi pohon-pohon di hutan yang terlarang. Hal ini lambat laun mengancam
kelestarian alam di sekitar kawasan hutan. Berdasarkan hal tersebut, sangat perlu
dilakukan simulasi pembuatan unit biogas memanfaatkan limbah/kotoran ternak. Di
samping itu, secara bersamaan perlu juga diberikan penyuluhan tentang pemanfaatan
limbah dari biogas sebagai pupuk organik.
Kegiatan yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah tersebut adalah
dengan memberikan pelatihan. Pelatihan yang dilakukan adalah pelatihan pembuatan
satu unit biogas, yang selanjutnya dikembangkan pada masing-masing kelompok.

a. Perencanaan
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan adalah:

Pembentukan dan pembekalan tim pelaksana, sebelum kegiatan dilaksanakan di


lapangan, tim pelaksana diundang untuk mengadakan pertemuan persiapan
pelaksanaan dengan melibatkan LPM Undiksha, Tim pelaksana kemudian diberikan
pembekalan mengenai maksud, tujuan, rancangan mekanisme program IbM, dan
beberapa hal teknis berkaitan dengan metode/teknik pelaksanaan.

Sosialisasi program IBM pada mitra, sosialisasi dilakukan dalam bentuk koordinasi
dengan dengan mitra berkenaan dengan program yang akan dilaksanakan. Kegiatan
sosialisasi dilakukan oleh Tim Pelaksana.
Mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan dan kebutuhan yang diperlukan,
mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan lingkungan yang ada, kebutuhan
yang diperlukan, potensi daerah (khalayak sasaran).
Penyusunan program pelatihan, berdasarkan hasil identifikasi, hasil analisis
permasalahan yang ada, hasil analisis kebutuhan, dan hasil analisis potensi daerah,
selanjutnya disusun program pelatihan.

b. Tindakan
Tindakan dalam kegiatan ini berupa implementasi Program. Kegiatan-kegiatan
yang dilakukan dalam implementasi program adalah (a) pembentukan kelompok-

41
kelompok, (b) meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan anggota kelompok tentang
pembuatan unit biogas, (c) Pembuatan satu unit biogas diawali dari pengumpulan
limbah ternak, pengumpulan alat dan bahan, rancangan dan instalasi teknologi biogas,
dan proses pembuatan biogas sampai terwujud hasil nyata yang diinginkan.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


Kegiatan IBM ini telah berlangsung dengan baik sesuai dengan rencana dan
tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini terlihat dari hasil kegiatan IbM berupa (a)
terbentuknya kelompok tani/ternak dalam pembuatan teknologi sederhana biogas
pedesaan dan biogas berbahan limbah peternakan, (b) terwujudnya teknologi
sederhana biogas pedesaan dan biogas berbahan limbah pertanian/peternakan, dan (c)
meningkatnya pemahaman peserta terhadap teknologi sederhana biogas. Di samping
itu, keberhasilan dari kegiatan ini terlihat dari faktor pendukung pelaksanaan yaitu
antusias para peserta untuk mengikuti kegiatan, mendapat respon positif dari
masyarakat desa dan dinas lingkungan hidup wilayah kecamatan dan kabupaten.
Teknologi sederhana biogas yang dihasilkan dapat digambarkan sebagai berikut.
Sekalipun pelaksanaan kegiatan IbM ini berjalan lancar, namun ada beberapa
kendala sebagai factor penghambat dari pelaksanaan yaitu (a) waktu yang tersedia
sangat terbatas, sehingga kualitas dan kuantitas hasil tidak sempurna, (b) aktivitas dari
anggota kelompok (mitra) sering diganggu oleh kegiatan-kegiatan social di desa, dan
(c) cuaca sering menjadi hambatan dalam pelaksanaan program. Kendala-kendala
tersebut, dapat dijadikan sebagai bahan refleksi, pertimbangan, dan saran untuk
kegiatan IbM selanjutnya.
Sekalipun pelaksanaan kegiatan ini berjalan lancar, namun ada beberapa
kendala sebagai faktor penghambat dari pelaksanaan kegiatan adalah (a) waktu yang
tersedia sangat terbatas, sehingga dihasilkan hanya satu unit teknologi sederhana
biogas dan kualitas hasil biogas belum maksimal, (b) para peserta sering terganggu
oleh kegiatan-kegiatan sosial di desa sehingga frekuensi mereka terlibat dalam
kegiatan ini sangat terbatas, dan (c) cuaca sering kurang mendukung pelaksanaan
kegiatan, sehingga hasil yang diharapkan kurang maksimal. Beberapa kendala
tersebut dapat dijadikan sebagai bahan refleksi, pertimbangan, dan saran untuk
kegiatan selanjutnya.

42
4. SIMPULAN DAN IMPLIKASI
4.1 Simpulan
Kegiatan IBM dapat terlaksana dengan baik. Kegiatan ini telah menghasilkan
satu unit biogas sederhana yang siap dikembangkan lebih lanjut. Kegiatan IBM ini
mendapat respon positif dari masyarakat tani desa wongaya betan.

4.2 Implikasi
Implikasi dari kegiatan ini adalah terbentuknya kelompok tani yang
diharapkan dapat mengadakan kegiatan lanjutan untuk mengembangkan hasil yang
telah dicapai. Kelompok tani hendaknya dapat menularkan pengalaman kepada petani
lain yang belum sempat mengikuti kegiatan IbM ini. Di samping itu, Kegiatan IBM
yang sejenis dapat dilaksanakan pada lokasi lain dengan mempertimbangkan situasi
dan kondisi wilayah setempat. Kegiatan IbM ini telah memberikan manfaat untuk
mengatasi permasalahan sumber bahan bakar untuk keperluan rumah tangga.

5. UCAPAN TERIMA KASIH


Pada kesempatan ini kami mengucapkan teriamakasih sebesar-besarnya
kepada: (1) Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Ditjen Dikti
yang telah memberikan dana untuk pelaksanaan kegiatan IbM ini. (2) Ketua LP2M
yang telah memberikan persetujuan untuk melaksanakan kegiatan IbM dalam bentuk
pelatihan. (3) Ketua Somya Pertiwi Desa Wongaya Betan sebagai mitra kerja yang
telah banyak membantu pelaksanaan kegiatan IbM ini. Dan (4) Semua pihak yang
telah membantu terlaksananya kegiatan IbM ini.

6. DAFTAR PUSTAKA

Darsin, M. 2006. Design of Biogas Circulator, Seminar Nasional Kreativitas Mesin


Brawijaya 2006, Universitas Barawijaya, Malang.
Himawanto, D.A., Subroto, dan Putro, S. 2006. Peningkatan Mutu Briket Kokas
Lokal Sebagai Upaya Penyelamatan Sentra Industri Cor Logam Di Ceper
Klaten, Laporan Program Hibah Bersaing 2006. Dikti-UMS, Surakarta.
Indraswati Serindit. 2005. Pembangkitan Biogas dari Kotoran Sapi: Hidrolisis
Termal Pada Tahap Pengolahan Pendahuluan, Jurnal Teknik Kimia, Institut
teknologi sepuluh Nopember, Surabaya.
Junaedi, M. 2002. Pemanfaatan Energi Biogas di Perusahaan Susu Umbul Katon
Surakarta, Laporan Program Vucer 2002, Dikti-UMS, Surakarta.

Sasse, L. 1992., Pengembangan Energi Alternatif Biogas dan Pertanian Terpadu di


Boyolali Jawa Tengah, Borda-LPTP, Surakarta.

43
Tim Inventarisai dan Seleksi KRENOVA BAPPEDA Sukoharjo. 2007. Laporan
Akhir Inventarisai dan Seleksi Kreativitas dan Inovasi Masyarakat
(KRENOVA) Kabupaten Sukoharjo Tahun 2007, BAPPEDA Sukoharjo,
Sukoharjo

44
SINERGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN
WISATA DESA, KERAJINAN DAN PERTANIAN BERKELANJUTAN
DI KECAMATAN KUBUTAMBAHAN KABUPATEN BULELENG

Oleh:

Ida Bagus Jelantik Swasta, dkk


Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha)

A. Abstrak dan Kata Kunci

Program Ipteks bagi Wilayah di Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten


Buleleng, Propinsi Bali adalah program yang bertujuan untuk memberdayakan potensi
masyarakat secara partisipatif melalui pemberian bantuan ilmu pengetahuan dan
teknologi dalam mengembangkan potensi-potensi unggul yang ada di Kecamatan
Kubutambahan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Bidang-bidang yang menjadi fokus perhatian dalam program ini adalah bidang
pertanian dan peternakan, kerajinan dan wirausaha, pariwisata, lingkungan hidup, dan
kesehatan. Sementara itu, beberapa desa yang menjadi sasaran dalam program ini
adalah Desa Bukti, Desa Bulian, Desa Depeha, dan Desa Tunjung. Program ini
dilaksanakan melalui metode PALS (Participatory Action and Learning System) yang
diterjemahkan menjadi berbagai bentuk kegiatan seperti pendidikan dan pelatihan
(diklat), penyuluhan, pembinaan dan pendampingan, pelayanan, pemberian bantuan
modal, dan bakti sosial. Adapun hasil dari kegiatan ini adalah ; 1) meningkatnya
pengetahuan dan keterampilan masyarakat petani dalam budidaya tanaman kelapa
unggul, tanaman obat, tanaman bumbu / rempah dapur ; 2) meningkatnya
pengetahuan dan keterampilan masyarakat peternak sapi dan babi dalam melakukan
pemeliharaan dan membiakkan ternak mereka ; 3) meningkatnya pengetahuan dan
keterampilan masyarakat pesisir di Desa Bukti dalam bidang budidaya perikanan
laut ; 4) meningkatnya pengetahuan dan keterampilan para pengrajin anyaman
bambu dan kerajinan kertas dalam membuat disain dari kerajinan mereka ; 5)
meningkatnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat wirausaha desa dalam
meningkatkan kualitas minyak VCO hasil produksi mereka ; 6) meningkatnya status
kesehatan masyarakat sebagai hasil kegiatan safari kesehatan dan penyuluhan di
bidang kesehatan ; 6) tertatanya dengan baik lingkungan dan hijaunya kembali
sejumlah lahan kritis yang ada di empat desa sasaran ; 7) tertatanya dengan baik
taman-taman sekolah khususnya di sekolah-sekolah dasar yang ada di empat desa
sasaran ; 8) terbentuknya kelompok pemandu wisata spiritual yang siap mendukung
berkembangnya wisata spiritual di Kecamatan Kubutambahan ; dan 9) adanya
pengetahuan dan keterampilan di bidang kepemanduan wisata spiritual pada
sejumlah pemuda desa sebagai hasil diklat dibidang kepemanduan wisata spiritual.

Kata-kata Kunci : Pemberdayaan, Masyarakat, Ilmu Pengetahuan, Teknologi

45
B. Pendahuluan
Sebagai salah satu kecamatan di Kabupaten Buleleng, maka kecamatan
Kubutambahan merupakan kecamatan yang memiliki sumbangan yang cukup besar
bagi pertumbuhan ekonomi Buleleng secara menyeluruh. Dikatakan demikian karena
disamping wilayahnya cukup luas, Kecamatan Kubutambahan tergolong sebagai
kecamatan yang memiliki potensi pertanian, peternakan, perikanan, kerajinan, industri
rumah tangga dan pariwisata yang cukup besar bilamana dikelola secara sungguh-
sungguh. Diantara desa-desa yang ada di kecamatan ini, maka empat desa yang
manjadi sasaran program Iptek bagi Wilayah (IbW) seperti desa Bukti, Bulian,
Depeha dan Tunjung merupakan desa-desa yang juga memiliki potensi-potensi itu.
Potensi pertanian yang cukup menonjol di desa-desa ini adalah pertanian lahan kering,
terutama perkebunan mangga dan rambutan (di Desa Depeha dan Bulian),
perkebunan kelapa (di Desa Bukti), perkebunan cengkeh, cokelat dan kopi (di Desa
Tunjung). Potensi peternakan yang cukup menonjol di desa-desa ini adalah
peternakan sapi, babi dan ayam. Terkait dengan potensi perikanan, maka dari empat
desa yang menjadi sasaran program IbW, hanya Desa Bukti yang memiliki potensi
perikanan, khususnya perikanan laut. Potensi kerajinan yang ada adalah kerajinan
anyaman bambu, ingka dan kerajinan cenderamata. Industri rumah tangga yang ada
adalah usaha kuliner (jajan, kerupuk, dodol, kacang), usaha pembuatan batako, usaha
pembuatan minyak VCO. Sementara itu, potensi pariwisata yang ada adalah wisata
pantai, wisata sepiritual dan wisata agro berbasis mangga. Wisata pantai yang cukup
potensial untuk dikembangkan lebih lanjut adalah obyek wisata Air Sanih. Sementara
itu obyek wisata spiritual yang cukup potensial untuk dikembangkan adalah sejumlah
pura yang ada di empat desa sasaran seperti Pura Pucak Bukit Dulang (Bukti), Pura
Majagana dan Pura Banua (Bulian), Pura Yeh Kedis (Depeha), dan Pura Yeh Tabah
(Tunjung).
Kendatipun ke empat desa (Bukti, Bulian, Depeha dan Tunjung) memiliki
potensi pertanian, peternakan, perikanan, kerajinan dan pariwisata yang cukup besar,
namun karena kurangnya kemampuan masyarakat di dalam mengelolanya, maka
sektor pertanian, peternakan, perikanan, kerajinan dan pariwisata itu belum mampu
meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara signifikan. Disamping karena
kurangnya kemampuan masyarakat dalam mengelola sumberdaya alam, maka masih
rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat juga disebabkan karena belum semua
potensi tenaga kerja yang ada bergerak melakukan proses produksi. Rendahnya
46
tingkat kesejahteraan masyarakat dapat dilihat dari masih tingginya tingkat
kemiskinan, rendahnya status gizi dan kesehatan, rendahnya tingkat pendidikan, dan
masih tingginya angka pengangguran di masyarakat. Terkait dengan kemiskinan,
data tentang jumlah KK miskin di keempat desa tersebut pada tahun 2009 secara
berturut-turut mencapai 589 KK (Bukti), 435 KK (Bulian), 352 KK (Depeha), dan
578 KK (Tunjung). Sementara itu, terkait dengan angka pengangguran, data tentang
jumlah pengangguran di keempat desa tersebut pada tahun 2009 secara berturut-turut
adalah 356 orang (Bukti), 320 orang (Bulian), 692 orang (Depeha), dan 458 orang
(Tunjung).
Terkait dengan kekurang mampuan masyarakat dalam mengelola sumberdaya
alam yang ada, maka hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan
keterampilan pada masyarakat dalam hal meningkatkan produksi dan memasarkan
hasil produksi dari usaha pertanian, peternakan, kerajinan dan industri yang ditekuni
oleh masyarakat. Disamping itu akses masyarakat pada permodalan dan teknologi
juga masih sangat kurang sehingga usaha-usaha yang ditekuni masih terkesan
tradisional, konvensional dan tidak berorientasi bisnis. Sementara itu, belum
maksimalnya jumlah tenaga kerja yang mengelola sumberdaya alam adalah juga
disebabkan oleh belum dimilikinya pengetahuan dan keterampilan oleh sebagian
masyarakat yang sesungguhnya sudah memasuki usia kerja.
Akhirnya, dengan masih rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat di empat
desa tersebut sebagai akibat belum maksimalnya pengelolaan sumberdaya alam yang
ada dan sebagai akibat belum maksimalnya penggerakan tenaga kerja yang ada, maka
munculah suatu gagasan untuk memberdayakan masyarakat melalui maksimalisasi
pemanfaatan sumberdaya alam dan potensi sumberdaya manusia yang ada di empat
desa tersebut. Pemberdayaan masyarakat melalui maksimalisasi pemanfaatan
sumberdaya alam dan potensi sumberdaya manusia ini diharapkan dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat di empat desa sasaran. Munculnya gagasan
ini adalah didasari oleh adanya kesadaran bahwa perguruan tinggi (Undiksha dan
Unipas) sudah sepantasnya ikut menyumbangkan karya nyata untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat di sekitar kampus termasuk masyarakat di empat desa
sasaran.
Terlaksananya program Ipteks bagi Wilayah (IbW) di Kecamatan
Kubutambahan tahun 2011 diinspirasi oleh beberapa kondisi dan kebutuhan riil yang
ada di empat desa yang menjadi sasaran program. Beberapa kondisi riil yang
47
dimaksud adalah ; 1) belum berdayanya masyarakat petani dan peternak di empat
desa sasaran walaupun potensi pertanian (khususnya pertanian lahan kering) dan
potensi peternakan di empat desa sasaran cukup tinggi ; 2) belum berdayanya
masyarakat nelayan yang ada di pesisir Desa Bukti walaupun potensi perikanan laut
yang ada di sepanjang pesisir Desa Bukti cukup tinggi ; 3) belum berkembangnya
berbagai kerajinan dan industri rumah tangga yang ada di empat desa sasaran
walaupun potensi kerajinan (khususnya kerajinan anyaman bambu, ingka,
cenderamata) dan industri rumah tangga (khususnya VCO, KCO, kuliner) di empat
desa sasaran cukup tinggi ; 4) belum berkembangnya wawasan kewirausahaan pada
masyarakat di empat desa sasaran walaupun potensi usaha dan tenaga kerja di desa
cukup tinggi ; 5) belum berkembangnya sektor pariwisata di empat desa sasaran
walaupun potensi wisatanya (khususnya wisata pantai, wisata agro dan wisata
spiritual) cukup baik ; 6) belum optimalnya status kesehatan masyarakat di empat
desa sasaran sebagai akibat dari sulitnya memperoleh air bersih, kemiskinan dan
kurangnya pengetahuan masyarakat dalam hal cara-cara memelihara kesehatan diri
dan keluarga ; dan 7) belum optimalnya kualitas lingkungan hidup sebagai akibat
tipikal iklim yang kering dan kurangnya kesadaran masyarakat dalam hal membina
dan memelihara lingkungan hidup yang sehat dan indah.
Terkait dengan beberapa kondisi riil di atas, maka beberapa hal yang
dibutuhkan oleh ke empat desa sasaran adalah ; 1) upaya pemberdayaan masyarakat
petani (khususnya petani mangga, kelapa, cengkeh, cokelat dan kopi) dan peternak
(khususnya peternak sapi, babi dan ayam) di empat sasaran melalui pemberian
pengetahuan, keterampilan , dan permodalan di bidang pertanian dan peternakan ; 2)
upaya pemberdayaan masyarakat nelayan di pesisir Desa Bukti melalui pemberian
keterampilan dibidang teknik budidaya perikanan laut ; 3) upaya pengembangan
kerajinan dan industri rumah tangga melalui pemberian pendidikan dan pelatihan di
bidang pengembangan jenis dan disain produk, manajemen usaha, serta melalui
pemberian bantuan modal kerja, pembentukan koperasi, dan jasa pendampingan ; 4)
upaya pengembangan sektor wisata spiritual melalui pembentukan kelompok
pemandu dan melalui penataan lingkungan sejumlah pura yang menjadi objek wisata
spiritual ; 5) upaya meningkatkan status kesehatan masyarakat melalui pemberian
penyuluhan kesehatan dan layanan pengobatan secara gratis ; dan 6) upaya
perbaikan lingkungan hidup melalui kegiatan reboisasi di sejumlah lahan kritis dan
penanaman tanaman hias di pinggir-pinggir jalan di seputar pusat desa, penataan
48
taman-taman sekolah, dan pengelolaan sampah organik melalui diklat pembuatan
pupuk kompos secara mekanik.

C. Materi dan Metode Pelaksanaan

Materi (bahan dan alat) yang digunakan dalam kegiatan ini sangat banyak,
terutama materi (bahan dan alat) yang disumbangkan kepada mayarakat sebagai
modal perangsang dan materi (bahandan alat) yang gunakan dalam kegiatan
pendidikan dan pelatihan. Bahan dan alat yang telah disumbangkan sebagai modal
perangsang meliputi; 1) sebuah mesin pemotong kertas untuk industri kerajinan
cenderamata di Desa Bulian; 2) lima ratus butir bibit kelapa unggul untuk masyarakat
petani kelapa di Desa Bukti; 3) sembilan ekor ternak sapi dan 10 ekor ternak babi
untuk kelompok peternak di empat desa sasaran; 4) beberapa perangkat alat berkebun
dan bahan kimia dan biologis untuk pembuatan kompos untuk petani cokelat, kopi
dan cengkeh di Desa Tunjung; 5) sebuah alat pembuat pupuk kompos untuk
kelompok tani di Desa Bulian; 6) ribuan bibit tanaman keras (tanaman hutan) untuk
masyarakat pemilik lahan kering di empat desa sasaran; 7) ribuan tanaman hias
untuk pengembangan taman sekolah di delapan sekolah dasar (SD) di empat desa
sasaran dan untuk perindangan jalan desa di Desa Bulian; 8) sejumlah obat-obatan
untuk peningkatan kesehatan masyarakat di empat desa sasaran; 9) sejumlah bahan-
bahan yang digunakan dalam diklat pembuatan dan pengembangan disain anyaman
bambu di Desa Depeha.
Metode pelaksanaan kegiatan yang diterapkan dalam upaya untuk mencapai
tujuan program adalah metode pemberdayaan masyarakat yang dikenal dengan nama
metode PALS (Participatory Action and Learning System) yang dikembangkan oleh
Linda Mayouk pada tahun 2000 (Chambers, 2007). Metode PALS ini merupakan
salah satu metode yang masuk dalam lingkup metode PLA (Participatory Learning
Action) yang merupakan hasil perubahan dari metode RRA (Rapid Rural Appraisal).
Beberapa prinsip dasar dari metode PALS ini adalah; 1) menempatkan masyarakat di
desa sasaran sebagai objek dan sekaligus sebagai subjek kegiatan; 2) pelaksanaan
program menggunakan berbagai pendekatan; 3) pelaksanaan program berfokus pada
kebutuhan atau kepentingan masyarakat; 4) program-program memiliki sifat
pemecahan masalah, pemberdayaan masyarakat dan pengembangan wilayah; 5)

49
pelaksanaan program bersifat sistemik; dan 6) pelaksanaan program bersifat
mencerdaskan dan meransang aktivitas masyarakat.
Dalam program sibermas ini, masyarakat dilibatkan mulai dari proses
perencanaan, proses pelaksanaan hingga proses monitoring dan evaluasi kegiatan.
Dalam tahap perencanaan, tim pelaksana program sibermas mengajak perwakilan
masyarakat di empat desa sasaran untuk ikut merencanakan kegiatan yang akan
dilaksanakan di masing-masing desa. Pada tahap ini tim pelaksana sibermas menggali
informasi dari masyarakat tentang hal-hal yang diperlukan dan diinginkan oleh
masyarakat dan tentang potensi-potensi yang ada di desa yang dapat dipakai sebagai
modal untuk memenuhi keperluan dan keinginan masyarakat. Informasi tentang hal-
hal yang diperlukan dan potensi-potensi yang dimiliki oleh masyarakat ini kemudian
dipakai dasar oleh tim pelaksana program sibermas untuk merencanakan bentuk-
bentuk kegiatan. Dalam tahap pelaksanaan, masyarakat di empat desa secara
bersama-sama diajak untuk melaksanakan kegiatan dengan difasilitasi oleh tim
pelasana program sibermas. Dalam kegiatan yang berbentuk pendidikan dan pelatihan
(diklat), masyarakat diposisikan sebagai peserta diklat, sedangkan tutor dan
narasumbernya diperankan oleh tim pelaksana sibermas dan sejumlah narasumber
dari luar tim pelaksana program. Dalam kegiatan yang berbentuk pembinaan dan
pendampingan terhadap usaha / industri, masyarakat pemilik dan pengelola usaha /
industri diposisikan sebagai pihak yang dibina dan didampingi. Sementara itu
pembina atau pendampingnya diperankan oleh tim pelkasana program sibermas dan
beberapa pakar wirausaha dan ekonomi. Dalam kegiatan yang berbentuk bhakti sosial
lingkungan hidup, masyarakat diposisikan sebagai partisipan kegiatan yang
diprakarsai oleh tim pelaksana program sibermas. Dalam kegiatan yang berbentuk
bhakti sosial (safari) kesehatan, masyarakat di posisikan sebagai sasaran kegiatan
yang dilayani oleh tim dokter yang sengaja di bawa ke desa oleh tim pelaksana
program sibermas. Dalam kegiatan yang berbentuk pembangunan sarana dan
prasarana fisik, masyarakat diposisikan sebagai pihak yang menjadi sasaran kegiatan
yang di sediakan sarana-prasarana fisik yang menjadi kebutuhannya. Dalam kegiatan
yang berbentuk penyuluhan, masyarakat di posisikan sebagai peserta (sasaran)
penyuluhan. Sementara penyuluhnya sendiri diperankan oleh sejumlah pakar yang
diambil dari Undiksha dan Unipas.

50
D Hasil dan Pembahasan

Hasil-hasil yang dicapai selama dan setelah selesainya kegiatan sibermas (IbW)
ini adalah; a) dibidang revitalisasi sektor pertanian telah terjadi perbaikan cara
berkebun cengkeh dan cokelat melalui teknik pemilihan dan penanaman bibit yang
benar, pemberian pupuk kompos, penerapan teknik pemberantasan yang ramah
lingkungan yang semuanya kelak diharapkan dapat meningkatkan produksi dan
kualitas biji cokelat dan cengkeh; b) dibidang revitalisasi peternakan telah terjadi
perbaikan dalam cara pemilihan bibit ternak, perbaikan cara pemeliharaan, dan
perbaikan teknis pengembangbiakan yang semuanya kelak diharapkan dapat
meningkatkan produksi dan kualitas ternak, khususnya ternak sapi dan babi; c)
dibidang penerapan Iptek, keterampilan hidup dan wirausaha telah terjadi peningkatan
kualitas dan kuantitas produksi cenderamata, peningkatan kualitas disain anyaman
bambu, peningkatan produksi ingka produksi VCO dari usaha-usaha rumah tangga
sebagai akibat pembinaan, pemberian bantuan Iptek dan pemberian bantuan modal
yang diberikan oleh tim pelaksana program sibermas (IbW); d) dibidang penerapan
Iptek juga telah dihasilkan mesin pembuat pupuk kompos (pencincang sampah
organik); e) dibidang pembinaan lingkungan hidup telah terbentuk lingkungan desa
yang bersih, sejuk dan indah, serta taman sekolah yang asri sebagai akibat dari
gerakan penghijauan dan penanaman tanaman hias yang dilakukan secara bersama-
sama oleh masyarakat desa dan sejumlah dosen Undiksha dan Unipas di bawah
koordinasi tim pelaksana program sibermas; f) pembinaan lingkungan hidup juga
telah membuat sejumlah lahan kritis di empat desa sasaran menjadi hijau kembali
sebagai akibat penanaman tanaman hutan yang dilakukan secara bersama-sama oleh
masyarakat dan sejumlah dosen Undiksha dan Unipas di bawah koordinasi tim
pelaksana program sibermas; g) pembinaan lingkungan hidup juga telah membuat
taman-taman sekolah di sejumlah sekolah dasar menjadi lebih asri sebagai hasil diklat
dibidang penataan taman sekolah yang diikuti oleh sejumlah guru dari sekolah-
sekolah yang menjadi sasaran; h) dibidang pembinaaan sektor pariwisata telah
berhasil dibentuk kelompok pemandu wisata spiritual dan telah berhasil pula
direalisasi warung stop over untuk promosi dan pemasaran produk-produk kerajinan
yang menopang kepariwisataan di Kecamatan Kubutambahan; i) dalam bidang
pembinaan keluarga harapan telah berhasil dilakukan pemeriksaan kesehatan dan
pengobatan gratis kepada sekitar 450 orang warga masyarakat di empat desa sasaran;

51
dan j) dibidang kewirausahaan telah berhasil dibentuk koperasi pengerajin yang siap
menopang jalannya usaha para pengerajin di empat desa sasaran.
Kalau dikaji secara lebih mendalam tentang keberhasilan program sibermas
(IbW) dalam perbaikan cara berkebun cengkeh dan cokelat di Desa Tunjung, serta
tanaman kelapa unggul di Desa Bukti maka hal ini tidak terlepas dari tepatnya
pendekatan yang ditempuh dalam memperkenalkan Iptek dibidang budidaya
tanaman kelapa, cengkeh dan cokelat kepada masyarakat petani Dalam hal ini,
pendekatan yang menjadi penyebab keberhasilan ini adalah pendekatan pendidikan
dan pelatihan. Melalui pendidikan, masyarakat petani diberikan pengetahuan teori
tentang budidaya tanaman kelapa, cengkeh dan cokelat, sedangkan melalui pelatihan
para petani dan peternak diberikan kesempatan untuk berlatih keterampilan di bidang
budidaya tanaman kelapa, cengkeh dan cokelat. Selain karena pendekatan yang tepat,
maka keberhasilan ini juga disebabkan karena tepatnya konten materi yang diberikan
dalam diklat. Dalam hal ini, konten tentang cara memilih dan menanam bibit yang
baik, cara membuat dan menggunakan pupuk kompos yang baik, cara membasmi
hama dan penyakit yang ramah lingkungan merupakan hal-hal yang sangat
diperlukan dalam budidaya pertanian yang ramah lingkungan yang sudah terbukti
memberikan keberhasilan dalam dunia pertanian.
Terkait dengan keberhasilan program sibermas (IbW) dalam meningkatkan
jumlah dan kualitas produk kerajian cenderamata, kerajinan anyaman bambu, ingka,
industri VCO, maka keberhasilan ini juga tidak terlepas dari ketepatan dalam memilih
pendekatan. Dalam hal ini, pendekatan yang dipandang tepat adalah pendekatan
diklat di tahapan awal dan pendekatan pembinaan dan pendampingan serta pemberian
bantuan modal di tahap berikutnya. Pendekatan diklat di tahap awal digunakan untuk
memberikan masukan pengetahuan dan keterampilan kepada para pengrajin dan
pekerja tentang bagaimana membuat disain, meningkatkan mutu, dan meningkatkan
kecepatan produksi dari usaha kerajinan dan usaha industri yang ditekuni. Sementara
itu, pendekatan pembinaan, pendampingan dan pemberian bantuan modal
dimaksudkan untuk menjamin keberlanjutan usaha dan menjaga keajegan mutu
produk.
Keberhasilan program sibermas (IbW) dalam memperbaiki kondisi lingkunngan
di empat desa sasaran adalah disebabkan oleh adanya gerakan penghijauan dan
gotong royong kebersihan yang dirancang berbasis masyarakat. Dalam hal ini tim
pelaksana program sibermas (IbW) meransang keterlibatan masyarakat secara
52
langsung dalam kegiatan bhakti sosial lingkungan. Dengan cara demikian, maka rasa
memiliki lingkungan di kalangan masyarakat menjadi tinggi, sehingga masyarakat
secara sadar ikut memelihara lingkungannya.
Terkait dengan keberhasilan program sibermas (IbW) dalam merintis wisata
sepiritual di empat desa sasaran adalah tidak terlepas dari pendekatan yang ditempuh.
Dalam hal ini, tim pelaksana sibermas (IbW) mengajak para pakar pariwisata, para
tokoh adat dan agama dan para praktisi wisata untuk ikut merumuskan konsep wisata
sepiritual dan penterapannya, yang kemudian dilanjutkan dengan upaya mengajak
para pemuda yang belum memiliki pekerjaan tetap untuk belajar menjadi pemandu
wisata spiritual dan membentuk kelompok pemandu wisata spiritual.
Keberhasilan program sibermas dalam meningkatkan status kesehatan
masyarakat di empat desa sasaran adalah disebabkan oleh pelayanan kesehatan yang
berkualitas yang diberikan oleh dokter-dokter yang berpengalaman yang sengaja
dibawa ke desa dalam kegiatan safari kesehatan gratis yang diprakarsai oleh tim
pelaksana program sibermas. Dalam hal ini masyarakat diberikan pelayanan berupa
pemeriksaan kesehatan dan pengobatan secara gratis yang bertempat di balai desa
masing-masing.

E. Kesimpulan dan Implikasi

Sebagai kesimpulan dapat disampaikan bahwa pelaksanaan program sibermas


di Kecamatan Kubutambahan pada tahun 2011 telah berhasil dalam hal; a)
membenahi teknik budidaya tanaman cengkeh dan cokelat di Desa Tunjung, dan
budidaya kelapa unggul di Desa Bukti yang kelak diharapkan dapat meningkatkan
jumlah produksi dan kualitas cengkeh, cokelat dan kelapa di desa itu ; b)
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat pesisir di Bukti dalam
bidang budidaya perikanan laut ; c) meningkatkan jumlah dan kualitas produk
kerajinan cenderamata, kerajinan anyaman bambu, anyaman ingka, industri
pembuatan VCO, khususnya di Desa Bulian, Desa Depeha dan Desa Tunjung ; d)
membuat prototipe mesin pembuat pupuk kompos ; e) meningkatkan pengetahuan
dan keterampilan para peternak dalam hal teknis beternak sapi dan babi serta
meningkatkan gairah usaha ternak mereka melalui pemberian bantuan bibit ternak
sapi dan babi ; f) menggerakkan sektor kepariwisataan sepiritual sebagai dampak dari
pembentukan kelompok pemandu wisata sepiritual ; g) membenahi kualitas
lingkungan hidup di empat desa sasaran melalui gerakan penghijauan, diklat penataan
53
taman sekolah, dan pemberian bantuan dana penataan taman sekolah ; dan h)
meningkatkan status kesehatan masyarakat di empat desa sasaran melalui pengobatan
gratis, penyuluhan kesehatan dan diklat pembuatan makanan sehat dan bergizi bagi
balita dan anak-anak ; i) terbentuknya koperasi pengerajin yang siap menopang
usaha kerajinan di empat desa sasaran
Beberapa dampak dan manfaat yang dihasilkan oleh pelaksanaan program
Ipteks bagi Wilayah (IbW) ini adalah ; 1) adanya perbaikan dalam teknik budidaya
tanaman cengkeh, cokelat di Desa Tunjung dan kelapa unggul di Desa Bukti ; 2)
adanya pembenahan dalam teknik beternak sapi dan babi ; 3) tumbuhnya peluang
usaha baru di bidang budidaya perikanan laut di Desa Bukti ; 4) meningkatnya
jumlah dan kualitas produk kerajinan cenderamata, kerajinan anyaman bambu,
kerajinan ingka, produk industri rumah tangga (VCO) ; 5) terciptanya prototipe
mesin pembuat pupuk kompos ; 6) terbentuknya kelompok pemandu wisata spiritual
; 7) terpromosikannnya produk-produk kerajinan masyarakat melalui peanfaatan
warung stop over yang ada di ODTW Air Sanih ; 8) meningkatnya kualitas
lingkungan yang ditunjukkan oleh tertanaminya sejumlah lahan kritis dengan tanaman
hutan dan tertanaminya pinggiran jalan diseputar desa dengan tanaman hias tanaman
bunga seperti tanaman kenanga, cempaka, palm, glodogan, dan bougenvile , serta
semakin asrinya taman-taman sekolah ; 9) meningkatnya status kesehatan
masyarakat, dan ; 10) terbentuknya koperasi pengerajin.

F. Ucapan Terima Kasih

Atas suksesnya pelaksanaan program IbW di Kecamatan Kubutambahan ini,


maka melalui tulisan ini saya sampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada ; 1) Pemerintah Daerah Kabupaten Buleleng atas dukungan dana dan
kepercayaannya sehingga program dapat berjalan dengan baik ; 2) para kepada desa
di empat desa sasaran yang telah mendukung pelaksanaan program ini ; 3) seluruh
lapisan masyarakat di empat desa sasaran yang dengan tulus telah berpartisipasi
dalam seluruh kegiatan ; 4) seluruh rekan-rekan Undiksha dan Unipas yang
tergabung dalam tim pelaksana program IbW yang dengan penuh tanggung jawab
dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan ; dan 5) LPM Undiksha dan LPM
Unipas yang telah mendukung terlaksananya kegiatan IbW ini.

54
G. Daftar Pustaka

Anonim, 2010, Buleleng dalam Angka, 2009, BPS Buleleng, Singaraja.


Anonim, 2010, Kubutambahan dalam Angka Tahun 2009, BPS Buleleng,
Singaraja.
Anonim, 2008, RPKAD Kabuoaten Buleleng, Pemda Buleleng, Singaraja.
Chambers, R., 2007, From PRA to PLA and Pluralism, Practice and Teory, IDS,
Working
Paper 286, Brigton : Institute of Development Studies.

55
IbM Untuk Guru IPA SD di Kecamatan Banjar,
Kabupaten Buleleng-Bali

I G.A. Tri Agustiana, dkk

ABSTRAK
Mata pelajaran IPA bertujuan membekali peserta didik memiliki kemampuan
mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat
dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mengembangkan rasa ingin tahu,
sikap positif, dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi
antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat, mengembangkan keterampilan
proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat putusan.
Oleh karena itu guru diharapkan mampu menggunakan media atau sumber belajar
yang sebaik mungkin untuk menanamkan konsep yang baik dan benar kepada siswa.
Namun selama ini guru IPA SD di Kecamatan Banjar, Buleleng Bali belum banyak
yang memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. Proses pembelajaran
menggunakan metode ceramah, sehingga prestasi belajar dan aktivitas siswa relatif
rendah. Inspirasi kegiatan ini adalah, (1) peningkatan keterampilan guru-guru IPA SD
di kecamatan Banjar untuk membuat dan menggunakan KIT IPA, (2) peningkatan
keterampilan guru IPA SD dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
sesuai dengan Permendiknas 41 Tahun 2007, (3) Peningkatan penggunaan assesmen
dan penelitian tindakan kelas (PTK) dalam mendiagnosa kesulitan belajar siswa.
Metode yang digunakan adalah aplikasi ipteks khusus teknologi pendidikan dan
pembelajaran, lewat workshop. Keberhasilan metode yang diterapkan diukur dengan
menggunakan pendekatan proses dan produk melalui metode observasi dan
wawancara setelah kegiatan berlangsung.
Karya utama kegiatan ini adalah (1) KIT IPA berbahan baku lingkungan, (2)
RPP pembelajaran inovatif, (3) assesment dan, (4) laporan penelitian tindakan kelas
(PTK) dan artikel ilmiah bagi guru IPA SD. Ulasan karya utama adalah KIT IPA
adalah media untuk belajar,yang dibuat untuk meningkatkan dan mempermudah
pemahaman konsep IPA, KIT IPA yang dibuat dari bahan-bahan yang mudah
didapatkan di sekitar Sekolah Dasar. RPP yang dibuat oleh para guru IPA SD se
kecamatan Banjar sesuai dengan Permendiknas No.41/2007. Penelitian tindakan kelas
dilakukan dengan menerapkan KIT IPA, yang didahului dengan penyusunan proposal
PTK. Hasil penelitian tindakan kelas dari mitra, yang berperan sebagai guru model
untuk kecamatan Banjar ternyata dapat meningkatkan prestasi belajar IPA siswa SD.
Dampak dari kegiatan ini adalah para guru IPA SD di Kecamatan Banjar mulai
kreatif membuat KIT IPA yang bersumber dari bahan-bahan yang ada di
lingkungannya dan antusias untuk melakukan penelitian tindakan kelas bagi guru-
guru IPA. Hasil penelitiannya, kemudian digunakan sebagai materi ajar, kemudian
untuk dijadikan buku ajar. Ada beberapa guru telah menerima pesanan KIT IPA agar
bisa diterapkan di sekolah yang berbeda. Kondisi kondusif ini harus tetap dipelihara
untuk meningkatkan nilai tambah keterampilan guru dan sisi ekonomi guru sebagai
sumber penghasilan baru.

Kata Kunci : KIT IPA, Guru IPA SD, Banjar Buleleng Bali.

56
Abstract

Science KIT aims to equip learners have the ability to develop knowledge and
understanding of science concepts that are useful and can be applied in everyday life,
developing curiosity, positive attitude, and awareness of the existence of a
relationship of mutual influence between science, environment, technology and
communities, develop skills to investigate the processes of nature around, solve
problems and make decisions. Therefore, teachers are expected to use the media or
learning resources as possible to instill the concept of good and true to the students.
However, during this primary school science teachers in the district of Banjar, Bali
Buleleng not many people use the environment as a learning resource. The process of
learning to use the lecture method, so the learning achievements of students and
relatively low activity. The inspiration of this activity is, (1) increase science skills of
elementary school teachers in the district of Banjar to make and use the Science KIT,
(2) increase skills in elementary school science teacher implementation of lesson
plans (RPP) in accordance with Permendiknas 41 of 2007, (3) Increased use of
assessment and classroom action research (PTK) in diagnosing student learning
difficulties.
The method used is the application of science and technology specifically for
educational technology and learning, through workshops. The success of the method
applied is measured by using a process approach and products through the method of
observation and interview after the activity takes place.
Main work of this activity are (1) made from raw science KIT environment, (2)
RPP innovative learning, (3) assessment and, (4) Report of classroom action research
(TOD) and scientific articles for elementary school science teacher. The main work is
reviewed Science KIT is a medium for learning, designed to enhance and facilitate the
understanding of science concepts, science KIT made from materials that are readily
available around the Primary School. RPP made by a district elementary school
science teacher in accordance with Permendiknas Bandar No.41/2007. Research
carried out by applying a class action Science KIT, which beating with TOD proposal.
The results of the class action miter, which serves as a model teacher for Banjar
district was found to increase elementary students' science learning achievement.
The impact of this activity is the elementary school science teacher in the
district of Bandar start creatively making Science KIT sourced from existing materials
in the environment and keen to do research class action for science teachers. Research
results, then used as teaching materials, then to be used as the textbook. There are
some teachers have received orders Science KIT to be applied in other schools.
Conducive conditions must be maintained to enhance the value-added skills of
teachers and the economic side of teachers as a source of new revenue.

Keywords : Science kit, science teacher elementery school, Banjar, Buleleng, Bali

A. PENDAHULUAN
Dalam menghadapi era globalisasi dirasakan adanya kebutuhan mendesak
mengenai perbaikan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan dan
akses yang lebih baik terhadap ilmu pengetahuan. Dalam proses pendidikan
khususnya mata pelajaran IPA, bertujuan membekali peserta didik memiliki

57
kemampuan mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang
bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mengembangkan rasa
ingin tahu, sikap positif, dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling
mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat, mengembangkan
keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan
membuat putusan (Khaerudin; 2007: 182). Oleh karena itu guru diharapkan
menggunakan media atau sumber yang sebaik mungkin untuk menanamkan konsep
yang baik dan benar kepada siswa. Dan penggunaan sumber pembelajaran khususnya
media animasi berbantuan komputer dalam pembelajaran IPA menjadi salah satu
media yang dapat digunakan dalam kegiatan pembelajara IPA di SD. Karena jika
pembelajaran yang diciptakan guru menyenangkan dan kreatif, pastilah siswa akan
senang belajar dan lebih memahami apa yang disampaikan oleh guru.
Guru-guru IPA di SD kecamatan Banjar berjumlah 75 guru IPA yang tersebar
di 26 sekolah dasar di Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng. Dari pemantauan dan
wawancara tim pengabdian dari Undiksha ditemukan bahwa ada beberapa hambatan
yang dialami guru IPA SD untuk memajukan pendidikan IPA di SD, antara lain:
masalah keterampilan guru, sarana dan prasarana dan masalah ekonomi.
Dalam penyediaan sarana dan prasarana dapat dikemukanan bahwa beberapa
sekolah SD di kecamatan Banjar telah memiliki KIT IPA, namun guru-guru IPA
belum banyak menggunakan KIT IPA untuk proses pembelajaran. Hal ini disebabkan
mereka belum bisa menggunakan media belajar dalam bentuk KIT IPA itu. Artinya,
para guru IPA masih dominan menggunakan proses pembelajaran dengan
menggunakan metode ceramah (ekspositori), sehingga anak-anak masih rendah dalam
melek sains dan hasil belajar IPA.
Rendahnya respon siswa yang tampak di sekolah Dasar di Kecamatan Banjar
disebabkan potensi daerah secara geografis dan para guru enggan berinovasi. Guru
jarang menulis dan buku kebanyakan di terbitkan dari bukan guru di kecamatan
Banjar. Rendahnya kreativitas ini disebabkan juga, kecamatan Banjar memang relatif
jauh dari kota Singaraja, wilayah ini memiliki Lands Scape yang unik ada dataran
tinggi (pegunungan) pantai dan wilayah perkebunan. Walaupun kecamatan Banjar
memiliki potensi lingkungan yang sangat beragam untuk media belajar namun guru-
guru SD belum berinovasi penerapan lingkungan sebagai media belajar, apa lagi
memanfaatkan lingkungan sebagai sumber pembuatan KIT IPA. Artinya, para guru
bidang studi IPA SD belum sepenuhnya berinovasi. Inovasi yang dimaksud adalah
58
pemanfaatan bahan-bahan lokal untuk pembuatan KIT. Padahal bahan-bahan lokal
dan unsur kearifan lokal sangat banyak untuk bisa dikembangkan untuk membuat KIT
IPA yang sederhana. Hal ini akan memungkinkan proses pembelajaran menjadi
kontekstual dan menyenangkan (joyfull). Guru tampak enggan berinovasi, karena
mereka belum mampu untuk melakukan itu.
Guru-guru IPA SD di kecamatan Banjar belum maksimal menerapkan model-
model pembelajaran inovatif. Guru masih dominan menggunakan pembelajaran
dengan model ceramah, padahal pembelajaran IPA adalah proses dan produk.
Penerapan model inovatif dalam pembelajaran sehingga respon dan aktivitas belajar
siswa relatif rendah dalam aspek motorik. Kurang menguasai penggunaan animasi
komputer dalam pembelajaran IPA, pembelajaran IPA SD di Kecamatan Banjar
Buleleng Bali, belum menggunakan penggunaan animasi komputer, walapun fasilitas
komputer relatif telah ada di masing-masing SD, dan sebagaian guru juga telah
memiliki laptop, namun pengajaran belum tersentuh dengan komputerisasi. Hal ini
disebabkan oleh kurangnya kemampuan guru untuk melakukan inovasi dalam
pengajaran berbasis komputer.
Guru-guru IPA SD di Kecamatan Banjar belum intensif melakukan penelitian
tindakan kelas (PTK) dalam pembelajaran, sehingga diagnosa dan refleksi
pembelajaran tidak pernah dilakukan. Kondisi ini menyebabkan aktivitas dan minat
siswa SD relatif rendah dalam pembelajaran IPA. Oleh karena itu PTK perlu
dilakukan dalam setiap pembelajaran karena dengan ber-PTK dapat dilakukan
perbaikan proses pembelajaran, sekaligus membuat guru kreatif untuk menulis ilmiah.
Oleh karena itu sudah saatnya para guru-guru IPA di SD se kecamatan Banjar
Kabupaten Buleleng perlu diberikan budaya baru dalam mengembangkan perangkat
pembelajaran, teknologi pembelajaran, assesmen dan media komputer, PTK agar
pengajaran IPA tidak lagi secara konvensional tetapi lebih modern atau
memanfaatkan teknologi yang lebih mumpuni. Hal ini dapat dilakukan melalui
kegiatan pengabdian pada masyarakat melalui program Ibm. (Iptek bagi masyarakat).

Tujuan Kegiatan
Yang menjadi mitra dalam kegiatan pengabdian pada masyarakat (P2M) ini
adalah Guru-Guru IPA SD yang mengajar di SD se Kecamatan Banjar, Buleleng Bali.
Masalah utama Guru-Guru IPA SD itu kurang menguasai berbagai teknologi
59
pembelajaran ke-IPA-an SD antara lain : kurang dapat berinovasi tentang penggunaan
KIT IPA, belum maksimal menerapkan model-model pembelajaran inovatif, kurang
menguasai penggunaan animasi komputer dalam pembelajaran IPA, belum intensif
melakukan PTK dalam pembelajaran. Adapun tujuan kegiatan sebagai berikut
1. Memberikan pelatihan tentang KIT IPA dan cara penggunaannya
2. Pelatihan membuat KIT IPA dan bahan baku yang ada di sekitar lingkungan
sekolah.
3. Workshop tentang pembelajaran inovatif untuk mata pelajaran IPA di SD.
4. Workshop tentang penyusunan dan pengenalan animasi komputer untuk mata
pelajaran IPA di SD.
5. Workshop tentang penyusunan dan pengenalan assesmen untuk mata pelajaran
IPA di SD.
6. Workshop tentang penyusunan PTK untuk mata pelajaran IPA di SD

B. MATERI DAN METODE


Pendekatan Pemecahan Masalah
Metode yang diterapkan dalam pengabdian ini adalah aplikasi teknologi
pembelajaran, dengan mengungkap permasalahan yang muncul dikalangan para guru,
kemudian dicari /ditentukan akar masalahnya, lalu ditentukan solusi yang tepat.
Secara garis besar langkah-langkah pelaksanaan seperti dicandrakan pada tabel 1.

Tabel 1 Keterkaitan antara Masalah Mitra dengan Solusi Pemecahan


Pendekatan
Permasalahan Akar masalah Pemecahan Masalah
(Solusi)
Guru-guru IPA belum banyak Guru-guru IPA belum memiliki Memberikan pelatihan
menggunakan KIT IPA untuk kemampuan yang memadai untuk tentang KIT IPA dan
proses pembelajaran menggunakan KIT IPA secara cara penggunaannya
maksimal.
Guru-guru IPA belum memiliki
kemampuan tentang manfaat KIT IPA
dalam pembelajaran.
Guru-guru SD masih kurang Guru-guru belum banyak memiliki Pelatihan Membuat KIT
berinovasi dalam pembuatan pengetahuan tentang jenis-jenis KIT IPA dan bahan baku
KIT IPA IPA yang dapat dibuat dengan yang ada disekitar
mengunakan bahan baku lokal yang lingkungan sekolah.
murah
Guru-guru IPA SD di Guru-guru IPA SD di kecamatan Workshop tentang
kecamatan Banjar belum Banjar belum maksimal menerapkan tentang pembelajaran
maksimal menerapkan model model pembelajaran inovatif karena inovatif untuk mata
pembelajaran inovatif pengetahuan mengenai model-model pelajaran IPA di SD.
pembelajaran inovatif belum banyak
diketahui

60
Kurang menguasai penggunaan Pengetahuan guru tentang animasi Workshop tentang
animasi komputer dalam komputer dan penyusunan animasi penyusunan dan
pembelajaran IPA. komputer belum ada. pengenalan animasi
komputer untuk mata
pelajaran IPA di SD.
Sebagaian besar guru-guru Guru-guru belaum mampu melakukan Workshop tentang
IPA SD di kecamatan menyusun assesmen untuk mengukur penyusunan dan
hasil belajar siswa pengenalan assesmen
Bandar belum sepenuhnya untuk mata pelajaran
menerapkan assemen IPA di SD.
dalam pembelajaran. Guru
hanya menggunakan alat
evaluasi tes obyektif .

Belum intensif melakukan Guru-guru belum menguasai Workshop tentang


PTK dalam pembelajaran. metodelogi kegiatan penelitian tentang penyusunan
tindakan kelas PTK untuk mata
pelajaran IPA di SD.

1) Metode Observasi dan Wawancara


Penulis mengadakan pengamatan terhadap guru-guru IPA SD se kecamatan
Banjar yang menjadi khalayak sasaran. Selain observasi penulis juga melakukan
wawancara dengan pihak terkait guna menunjang pengumpulan data awal sebelum
membuat usulan kegiatan program dan pelaksanaan program. Observasi wawancara
lanjutan terkait dalam memperoleh informasi tindak lanjut kegiatan yang dilakukan
masyarakat dari hasil kegiatan P2M ini. Observasi juga dilakukan setelah pelatihan
diadakan, untuk mengetahui manfaat hasil pelatihan. Pada observasi ini dicari data
mengenai tingkat keberhasilan pelaksanaan dan alih pengetahuan dalam penyusunan
KIT IPA, RPP, proposal PTK, assesment dan laporan PTK.

2) Metode penyuluhan dan pelatihan


Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan di depan
adalah metode diskusi dan praktek (learning by doing). Gabungan kedua metode
tersebut mampu meningkatkan pemahaman dan keterampilan khalayak berkaitan
dengan teknik pembuatan KIT IPA, RPP, proposal PTK, assesment dan laporan PTK.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
1) Hasil /Karya Utama
Karya utama kegiatan ini adalah, (1) KIT IPA berbahan baku lingkungan, (2)
RPP pembelajaran inovatif, (3) assesment dan, (4) laporan penelitian tindakan kelas
(PTK) dan artikel ilmiah bagi guru IPA SD.

61
PEMBAHASAN KARYA UTAMA
Alat peraga KIT Ilmu Pengetahuan Alam adalah peralatan IPA yang diproduksi
dan dikemas dalam kotak unit pengajaran, yang menyerupai rangkaian peralatan uji
coba keterampilan proses pada bidang studi IPA serta dilengkapi dengan buku
pedoman penggunaannya. Komponen Instrumen Terpadu (KIT) adalah alat-alat
pembelajaran IPA yang diberikan oleh Depdiknas yang dikemas dalam satu kotak.
Menurut Wibawa dan Mukti (dalam Suharningrum, 2010) Media/alat peraga
KIT Ilmu Pengetahuan Alam atau loan boxes merupakan salah satu dari media tiga
dimensi. Media tiga dimensi dapat memberi pengalaman yang mendalam dan
pemahaman yang lengkap akan benda-benda nyata. Loan boxes adalah kotak yang
mempunyai bentuk dan besarnya sesuai dengan keperluan. Kotak ini diisi dengan
item-item yang berhubungan dengan unit pelajaran (Admin, 2009).
Shadely berpendapat alat perga KIT Ilmu Pengetahuan Alam adalah kotak yang
berisi alat-alat Ilmu Pengetahuan Alam. seperangkat peralatan Ilmu Pengetahuan
Alam tersebut mengarah pada kegiatan yang berkesinambungan atau berkelanjutan.
Peralatan Ilmu Pengetahuan Alam yang dirancang dan dibuat ini menyerupai
rangkaian peralatan uji coba ketrampilan proses pada bidang studi Ilmu Pengetahuan
Alam. Sebagai alat yang dirancang dan dibuat secara khusus ini maka dapat diartikan
bahwa alat peraga Kit Ilmu Pengetahuan Alam merupakan suatu sistem yang
didesain atau dirancang secara khusus untuk suatu tujuan tertentu (Admin, 2009).
Menurut Nanik (dalam Suharningrum, 2010) Alat peraga KIT IPA dalam
pembelajaran adalah nama alat-alat IPA yang digunakan untuk percobaan dalam
pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. KIT IPA dibagi menjadi beberapa jenis antara
lain : (1). KIT IPA untuk siswa yang dibutuhkan oleh kelompok-kelompok siswa
untuk percobaan, (2). KIT IPA untuk guru yang dibutuhkan oleh guru untuk
percobaan, (3). KIT IPA daftar nama benda-benda dan bahan-bahan dari lingkungan
yang diperlukan untuk percobaan tertentu.
Alat peraga KIT IPA sangat diperlukan dalam pembelajaran IPA karena dengan
menggunakan alat peraga guru dapat terbantu dalam menjelaskan fenomena, fakta
mengenai alam. Menurut winata putra (dalam Suharningrum, 2010) Alat peraga
dapat membantu siswa untuk berpikir logis dan sistematis sehingga mereka pada
akhirnya mempunyai pola pikiran yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Alat
peraga berfungsi membantu guru dalam : (1) Memberikan penjelasan konsep, (2)
Merumuskan dan membentuk konsep, (3) Melatih siswa dalam keterampilan
62
memberi/percobaan, (4) Penguatan konsep pada siswa, (5) Melatih siswa dalam
pemecahan masalah, (5) Mendorong siswa berpikir kritis.
Sebagai langkah awal dalam menggunakan alat peraga KIT IPA, guru harus
meyakinkan diri bahwa siswa mengetahui nama yang benar dari bagian-bagian
peralatan yang berbeda. Siswa juga harus mengetahui cara merakit peralatan sesuai
dengan petunjuk dari guru serta memperagakan cara merakit peralatan. Selain itu,
siswa juga diminta untuk mengamati dengan teliti sehingga dapat menunjukkan
bagaimana teknik yang digunakan dalam mengamati hasil dari suatu percobaan serta
fokus perhatian. Dari hasil pengamatan tersebut, siswa menuliskan kedalam buku
catatan atau lembar pengamatan yang telah disediakan. Sehingga siswa termotivasi
dalam belajar menggunakan Kit IPA ini seoptimal mungkin. Menurut Mc.donald
(Suryabrata, 2001: 30) motivasi yang timbul dari dalam diri adalah perubahan energi
dari seseorang yang ditandai dengan muncul feeling dan didahului dengan tanggapan
terhadap adanya tujuan barulah pembelajaran dapat berlangsung dengan baik.
Dalam pengajaran IPA, Kit Ilmu Pengetahuan Alam mempunyai kedudukan
yang sangat penting, yaitu: (1) Membantu pengembangan konsep-konsep Ilmu
Pengetahuan Alam; (2) Media dapat memberi dasar yang konkrit untuk berpikir
sehingga dapat mengurangi terjadinya verbalisme; (3) Memberikan pengalaman yang
nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan sendiri; dan (4) Menimbulkan pemikiran
yang teratur dan berkesinambungan.
Menurut Suharningrum (2010) dalam Jurnal Teknologi Pendidikan
mengemukakan bahwa media yang diproduksi dan dikemas dalam bentuk kotak unit
pengajaran (Kit), yang dilengkapi dengan buku petunjuk penggunaannya adalah untuk
menanamkan konsep atau pemahaman siswa terhadap suatu objek atau peristiwa-
peristiwa pembelajaran secara utuh.
Media KIT yang berbentuk kotak merah, memuat 68 jenis peralatan yang terbagi
sesuai dengan pokok bahasan. Kotak tersebut diberi penyekat didalamnya sesuai
dengan bentuk alatnya, untuk menjaga jangan sampai terjadi benturan diantara media
tersebut. Tata letak peralatan diatur sedemikian rupa sehingga praktis dan bersifat
portable, agar mudah dibawa dan dipindah tempatkan. Begitu juga dengan Kit yang
berbentuk kotak kuning. Kotak tersebut terdiri atas dua tingkat sesuai dengan bentuk
alatnya. Dengan tersedianya peralatan Kit Ilmu Pengetahuan Alam untuk Sekolah
Dasar serta pedoman penggunaannya untuk guru dan siswa ini diharapkan dapat

63
memacu peningkatan proses dan hasil belajar siswa dengan kondisi yang dinamis,
kreatif dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Dua aspek penting dalam kegiatan P2M ini adalah minat dan hasil belajar
siswa dalam pembelajaran IPA. Dengan menggunakan KIT IPA, terekam melalui
kegiatan penelitian Tindakan kelas (PTK). Dalam dimensi pembelajaran IPA minat
dan hasil belajar pebelajar sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, sebab
pembelajaran IPA intinya adalah proses dan produk. Oleh karena itu, salah satu faktor
yang terpenting adalah pemilihan model pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Itu
sebabnya, guru harus memilih model pembelajaran secara selektif agar cocok dengan
karakteristik materi atau pokok bahasan yang diajarkan sehingga tujuan pembelajaran
yang ditetapkan dapat tercapai. Selain itu juga pemilihan model pembelajaran sangat
mempengaruhi kondisi latar belakang siswa. Siswa di lingkungan pertanian akan
berbeda model pembelajarannya dibandingkan dengan lingkungan anak di wilayah
industri (Cooper, 2003).
IPA sebagai rumpun ilmu yang mengenal pendekatan proses, maka para guru
tidak hanya diharapkan mengembangkan aspek kognitif, tetapi juga harus
mengembangkan aspek afektif khususnya pengembangan minat siswa terhadap
pelajaran IPA dan aspek psikomotor sesuai dengan hakikat IPA, yaitu IPA sebagai
produk dan IPA sebagai proses. Dominasi pengembangan salah satu aspek yang
digunakan akan membuat ketimpangan dalam pencapaian tujuan pembelajaran IPA.
Mengingat demikian beragamnya kemampuan siswa, serta sebaran materi IPA
demikian luas, maka dalam pemilihan model pembelajaran, perlu disadari bahwa
tidak semua pokok bahasan dalam pelajaran IPA dapat diajarkan dengan model
pembelajaran yang sama, terutama kaitannya dengan mengembangkan minat siswa
terhadap IPA dan dalam usaha meningkatkan hasil belajar siswa terhadap pelajaran
IPA (Sains). Pemilihan model pembelajaran yang tepat untuk suatu pokok bahasan
tertentu akan mampu mengembangkan minat siswa terhadap pelajaran IPA dan
mampu meningkatkan hasil belajar mengajar terhadap pembelajaran IPA. Model
pembelajaran GI dan model pembelajaran konvensional merupakan dua model
pembelajaran yang dapat diterapkan guru dalam proses pembelajaran IPA.
Secara empiris dalam kegiatan P2M ini telah terbukti bahwa. Pertama, minat
dan hasil belajar siswa terhadap pelajaran IPA diajar dengan model pembelajaran GI
(group Investigation) lebih tinggi dari terhadap diajar dengan model pembelajaran
konvensional. Hal ini disebabkan model pembelajaran GI dalam implementasinya di
64
kelas diawali dengan suatu pemberian tema percobaan yang akan dikerjakan secara
berkelompok. Siswa selanjutnya mengerjakan sesuatu dengan tahap-tahap sesuai
pembelajaran kooperatif GI, karena model ini adalah suatu model pembelajaran yang
berfokus terhadap konsep-konsep dan prinsip-prinsip utama (central) dari suatu
disiplin, melibatkan siswa dalam kegiatan pemecahan masalah dan tugas-tugas
bermakna lainnya, memberi peluang siswa bekerja secara otonom mengkonstruk
belajar mereka sendiri, dan puncaknya menghasilkan produk karya siswa bernilai, dan
realistik (Thomas, 2000). Hal ini sejalan dengan kegiatan P2M yang dilakukan untuk
anak siswa elementeri di Amerika, yaitu anak-anak termotivasi dan memiliki minat
yang tinggi dalam mengerjakan pelajaran IPA (Liegel 2004), sehingga para orang tua
diamerika mengendaki untuk dilakukan reformasi secara menyeluruh untuk proses
pembelajaran dengan menggunakan GI (Group Investigation) learning). Hal ini
disuarakan karena GI merupakan model yang berbeda dengan model-model
pembelajaran konvensional yang umumnya bercirikan praktik kelas yang berdurasi
pendek, terisolasi/lepas-lepas, dan aktivitas pembelajaran berpusat terhadap guru;
model konvensional (Cooper, 2003).
Kedua minat terhadap pelajaran IPA siswa yang diajar dengan model
pembelajaran GI lebih tinggi dari terhadap siswa yang diajar dengan model
pembelajaran konvensional. Hal ini disebabkan model pembelajaran GI mampu
meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. GI, menekankan kegiatan
belajar yang relatif berdurasi panjang, holistik-interdisipliner, perpusat terhadap
siswa, dan terintegrasi dengan praktik dan isu-isu dunia nyata. Oleh karena itu,
dengan mengikuti langkah-langkah pembelajaran yang temanya telah ditetapkan
dengan suatu projek tertentu, keterlibatan siswa dalam pembelajaran mendapat
proporsi yang jelas. Misalnya, setelah diberikan tema, siswa menyusun sendiri
langkah kerja dan bahan yang dibutuhkan sampai menghasilkan sebuah produk,
kemudian mempresentasikan. Dalam satu unit pembelajaran peran siswa sangat
dominan. Melalui keterlibatan siswa langsung dalam pembelajaran GI ini, siswa dapat
kesempatan untuk menggunakan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya dan
melatih keterampilan mereka bekerja secara ilmiah. Di samping keterlibatan langsung
sebagai pelaku, dengan model pembelajaran GI siswa juga difasilitasi belajar dan
merancang sebuah pemahaman secara individu. pembelajaran secara individu
difasilitasi melalui kegiatan-kegiatan seperti melakukan pengamatan, merumuskan
dugaan, melakukan penyelidikan, menyampaikan pendapat dan lain-lain. Hal ini dapat
65
dipandang sebagai media bagi siswa untuk menguatkan pengetahuan yang telah
dimiliki sebelumnya. Belajar secara berkelompok difasilitasi melalui kegiatan-
kegiatan bersama (kelompok) seperti diskusi kelompok, diskusi kelas, menyiapkan
dan melakukan percobaan secara berkelompok, dan lain-lain.
Kegiatan belajar secara berkelompok memberikan kesempatan keterhadap
siswa untuk mengembangkan kemampuan berkolaborasi yang meliputi mendengar
pendapat orang lain, menerima keputusan bersama, berperan sebagai bagian
kelompok, dan lain-lain. Melalui kegiatankegiatan belajar di atas, perkembangan
kecerdasan dan emosional siswa difasilitasi secara utuh baik secara individu maupun
secara kelompok. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian tentang motivasi intrinsik
meningkat dengan menggunakan pendekatan GI (Herron, et al., 2008) .
Semakin banyaknya keterlibatan siswa dalam pembelajaran IPA melalui
kegiatan pengamatan, merumuskan dugaan, melakukan percobaan, diskusi kelompok,
diskusi kelas, dan lain-lain dapat menumbuhkan dan mengembangkan sikap ilmiah
siswa. Dengan tumbuhnya sikap ilmiah yang baik terhadap diri siswa akan merupakan
modal utama dalam mengembangkan motivasi intrinsik siswa kearah tumbuh dan
berkembangnya minat siswa terhadap pembelajaran IPA. Dengan pengembangan
minat siswa terhadap pelajaran IPA maka hal-hal yang berkaitan dengan IPA akan
sangat menarik perhatian siswa, siswa mempunyai dorongan yang kuat untuk
mempelajari IPA dan ingin tahu lebih banyak tentang IPA karena merasakan IPA itu
sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Pengembangan minat siswa terhadap
pelajaran IPA dapat pula menumbuhkan adanya sikap ketekunan terhadap diri siswa
yang menyebabkan siswa itu selalu merasa tertantang untuk memecahkan masalah
yang dihadapi dan banyak berinovasi untuk menemukan hal-hal yang baru berkaitan
dengan fenomena yang mereka dapat pecahkan. berkembangnya minat siswa terhadap
pelajaran IPA menyebabkan siswa merasa bahwa pelajaran IPA sangat bermanfaat
dalam kehidupan, sehingga mereka akan menyediakan waktu, biaya dan tenaga untuk
mempelajari IPA.
Ketiga, hasil belajar terhadap pelajaran IPA, siswa yang diajar dengan model
pembelajaran GI lebih tinggi dari ada siswa yang diajarkan dengan model
pembelajaran Konvensional. Hal ini disebabkan keseluruhan rangkaian kegiatan
pembelajaran IPA dengan model Pembelajaran GI, sebagian besar, proses
pembelajaran dilaksanakan sendiri oleh siswa baik secara individual maupun
kelompok. Kondisi ini memberikan kesempatan yang seluas-luasnya keterhadap siswa
66
dalam mengembangkan kemampuan untuk berpikir dan berbuat. Pembelajaran IPA
akan lebih bermakna karena apa yang dipelajari dari awal sampai akhir proses
menyentuh bidang kehidupannya sehari-hari, karena pembelajaran IPA tidak semata-
mata berorientasi terhadap buku teks tetapi lebih menyentuh kebutuhan dan
pengalamannya sehari-hari selama berinteraksi dengan dunia sekitarnya.
Pembelajaran IPA dengan model pembelajaran GI mempertimbangkan pengetahuan
awal siswa, dan siswa melalui proses pembelajaran berdasarkan pengetahuan awal
yang telah dimilikinya. Melalui proses asimilasi dan akomudasi yang terjadi selama
siswa beriteraksi dengan lingkungan belajarnya siswa secara individual membangun
pengetahuannya berupa perumusan konsep-konsep IPA yang menjadi tujuan
pembelajaran untuk ditemukan. Pembelajaran IPA dengan GI tidak memandang siswa
yang belajar membawa kepala kosong dari rumah, melainkan lebih menekankan
bahwa siswa telah memiliki konsep alternatif terhadap kejadian-kejadian alam yang
berkaitan dengan konsep-konsep yang mereka pelajari. Konsep alternatif inilah yang
melalui proses asimilasi dan akomudasi diarahkan untuk diubah menjadi konsep
ilmiah. Akibatnya siswa akan memiliki pengalaman dan menguasi metode ilmiah,
yaitu prosedur-prosedur penemuan yang bermanfaat bagi dirinya dan berkemampuan
untuk menggeneralisasikannya ke dalam situasi baru. Oleh karena pengetahuan yang
diperoleh adalah berkat pengalaman dengan prosedur penemuan, maka hasil belajar
akan terpendam lama dalam ingatan siswa dan dapat meningkatkan hasil belajar
siswa. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran yang
diimplementasikan guru dalam pembelajaran IPA akan sangat mempengaruhi minat
dan hasil belajar siswa terhadap pelajaran IPA.

D. SIMPULAN
Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut
1) Karya utama kegiatan ini adalah (1) KIT IPA berbahan baku lingkungan, (2)
RPP pembelajaran inovatif, (3) assesment dan, (4) laporan penelitian tindakan
kelas (PTK) dan artikel ilmiah bagi guru IPA SD
2) Ulasan karya utama adalah KIT IPA adalah media untuk belajar, yang dibuat
untuk meningkatkan dan mempermudah pemahaman konsep IPA, KIT IPA
yang dibuat dari bahan-bahan yang mudah didapatkan di sekitar Sekolah
Dasar. RPP yang dibuat oleh para guru IPA SD se kecamatan Banjar sesuai
dengan Permendiknas No.41/2007. penelitian tindakan kelas dilakukan dengan
67
menerapkan model pembelajaran inovasi menggunakan KIT IPA, yang
didahului dengan penyusunan proposal PTK. Hasil penelitian tindakan kelas
dari mitra, yang berperan sebagai guru model untuk kecamatan Banjar ternyata
dapat meningkatkan prestasi belajar IPA siswa SD.

Saran-Saran
1. Disarankan kepada LPM Undiksha untuk bisa mendampingi kegiatan serupa
pada Guru IPA SD lebih intensif untuk meningkat profesional guru.
2. Pihak Pemda Bali dan Pemda Buleleng pada khususnya, diharapkan dapat
terlibat dalam penyediaan fasilitas dan dana untuk menunjang kemampuan
produksi alih teknologi pendidikan ini.

Dampak Kegiatan
1. Dampak dari kegiatan ini adalah para guru IPA SD di Kecamatan Banjar mulai
kreatif membuat KIT IPA yang bersumber dari bahan-bahan yang ada di
lingkungannya dan antusias untuk melakukan penelitian tindakan kelas bagi
guru-guru IPA.
2. Hasil penelitiannya, kemudian digunakan sebagai materi ajar, kemudian untuk
dijadikan buku ajar. Ada beberapa guru telah menerima pesanan KIT IPA agar
bisa diterapkan di sekolah lain.
3. Kondisi kondusif ini harus tetap dipelihara untuk meningkatkan nilai tambah
keterampilan guru dan sisi ekonomi guru sebagai sumber penghasilan baru.

E. UCAPAN TERIMA KASIH


Ucapan terima kasih disampaikan kepada (1) DP2M Dikti atas dana Hibah
IbM 2011, (2) Rektor Undiksha, (3) Kepala Sekolah dan Guru Mitra SD 1 Temukus
dan SD 3 Banjar Tegeha, teman dosen Jurusan Pendidikan Guru SD Undiksha dan
mahasiswa yang membantu kegiatan ini yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.

F. DAFTAR PUSTAKA
Admin. 2009. Alat Peraga IPA Sederhana Solusi Pembelajaran IPA di Sekolah.
http://ypwi.or.id/index.php?view=article&catid=25%3Apendidikan&id=98%
3Alat-peraga-ipa-sederhana-solusi-pembelajaran-ipa-di
sekolah&format=pdf&option=com_content. Diakses selasa tanggal 07 Juli
2009.

68
Ardhana, W., Purwanto, Kaluge, L., & Santyasa, I W. 2004. Implementasi
Pembelajaran Inovatif untuk Pemahaman dalam Belajar Fisika di SMU.
Jurnal Ilmu Pendidikan. Jilid 11 No 2 (152-168)
Arends, Richard I, 2004. Learning To Teach. Sixth Edition. New York: The McGraw-
Hill Companies.
Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: Bumi Angkasa.
Cooper, Matthew. 2003. Mom Pens How-to Whom It May Concern: Book for Kids,
Register Guard, pp. B1.
Dahar, R. W. 1989. Teori-Teori Belajar. Jakarta: Erlangga
Dantes, N. 2003. Paradigma dan Orientasi Pendidikan Nasional dalam Bingkai
Otonomi Pendidikan (dengan Implikasi pada Model Evaluasi Pembelajaran).
Jurnal IKA. Vol. 1 No. 2 (1-12)
-------. 2007. Tinjauan Teoretik dan Pengembangan Alat Penilaian Kemampuan
Calon Guru (APKCG) dalam Rangka Implementasi KTSP pada Pendidikan
Dasar dan Menengah (Disampaikan dalam Lokakarya Pengembangan
Keterampilan Mengajar). Makalah. Singaraja : Universitas Pendidikan
Ganesha.
Dep. Pendidikan dan Kebudayaan, 1995, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi 3,
Jakarta, Balai Pustaka
-------. 2002, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi 3, Jakarta, Balai Pustaka
-------.1994. Kurikulum Pendidikan Dasar (Kelas V SD). Jakarta: Depdikbud
-------., 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Penilaian Pendidikan Jakarta:
Depdikbud.
Dimyati dan Mudjiono. 2007. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Departemen Pe
dan Kebudayaan. Rineka Cipta
Djaali, H. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Djahiri, Kosasih. 2002. Dasar-dasar Metodologi Pengajaran. Bandung: Lab.
Pengajaran.
Herron, S.S., D. Magomo, and P. Gossard,2008. The Wheel Garden: Project Based
Learning for Cross Curriculum Education.International Journal Of Social
Cience. 3.1.w.w.w.waset.org. Winter
Liegel, K.M, 2004. Project-Based Learning and the Future of Project Management.
Originally published as a part of 2004 PMI Global Congress Proceedings
Anaheim, California
Suharningrum, Tatik. 2010. Meningkatkan Kualitas Proses Pembelajaran IPA Siswa
Kelas V SDN No.65/I Tiang Tunggang dengan Menggunakan Alat Peraga
Kit IPA. http://ebookbrowse.com/45-tatik-suharningrum-cover-proposal1-
doc-d243360024.
Suryabrata, Sumadi. 2001. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Thomas, J.W. 2000. A Review od Research on Project-Based Learning. California:
The Autodesk Foundation. Available on:
http://www.autodesk.com/foundation

69
70
PROFIL DESA PAKRAMAN BULIAN

Oleh:
I Wayan Rai, dkk
Fakultas Olahraga dan Kesehatan, Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja

Abstrak
Program IPTEKSS bagi Masyrakat (IbM) di Kecamatan Kubutambahan,
Kabupaten Buleleng tahun 2011 yang mengambil lokasi pelaksanaan kegiatan di Desa
Bulian bertujuan untuk membuat sebuah buku profil tentang Desa Pakraman Bulian.
Desa Pakraman Bulian merupakan wadah sosio-religius umat Hindu yang terangkum
dalam aktivitas tata palemahan, pawongan, dan parahyangan. Ketiga aktivitas ini
telah berlangsung dengan baik sehingga perlu dilestarikan keberadaannya. Dalam tata
palemahan misalnya, geliat pertumbuhan penduduk dapat memberikan ekses negatif
bagi terjadinya alih fungsi lahan pertanian menyebabkan hilangnya sekaa subak akan
berakibat pada hilangnya Dugul atau Pura Ulun Carik. Tata Pawongan di Desa
Pakraman Bulian menunjukkan bahwa Desa Pakraman Bulian hanya didukung oleh
lima banjar adat. Dengan jumlah krama yang relatif banyak, hal ini merupakan
tantangan sekaligus peluang bagi eksistensi desa pakraman. Sementara itu, tata
parahyangan di Desa Pakraman Bulian telah tertata dengan baik. Hal ini ditunjukkan
dengan adanya pemetaan yang jelas mengenai kahyangan yang diempon serta tata
cara upacara dan upakara yang mesti dilaksanakan.

Kata-kata kunci: desa pakraman, palemahan, pawongan, parahyangan

A. PENDAHULUAN
Desa pakraman pada hakikatnya dibentuk dan ditentukan dari tradisi-
tradisi yang hidup dan berkembang di masing-masing wilayah tertentu. Mengingat
sistem dan struktur masyarakat Hindu Bali terbentuk dan tersusun dalam desa
pakraman. Seperti dijelaskan dalam Perda Nomor 03 Tahun 2001 Propinsi Bali
bahwa Desa Pakraman adalah kesatuan masyarakat hukum adat di Propinsi Bali yang
mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat umat
Hindu secara turun-temurun dalam ikatan Kahyangan Tiga (Kahyangan Desa) yang
mempunyai wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri serta berhak mengurus rumah
tangga sendiri. Konsep senada juga tertuang dalam Perda Nomor 06 Tahun 1986
tentang konsepsi desa adat.
Dari kedua Perda ini, paling tidak dapat ditemukan enam unsur pokok yang
membentuk desa adat atau desa pakraman, yaitu (1) kesatuan masyarakat hukum adat

71
di Propinsi Bali, (2) mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup
masyarakat umat Hindu secara turun temurun, (3) dalam ikatan Kahyangan Tiga
(Kahyangan Desa), (4) mempunyai wilayah tertentu, (5) mempunyai harta kekayaan
sendiri, dan (6) berhak mengurus rumah tangganya sendiri.
Dari keenam unsur tersebut dapat dipahami bahwa sistem sosial masyarakat
Bali adalah bercorak Hinduistis. Hal ini, juga ditegaskan oleh Sirtha (dalam Astra,
2003: 71) bahwa agama Hindu yang dianut oleh masyarakat Bali memberikan corak
yang khas bagi desa pakraman. Kegiatan masyarakat adat dijiwai oleh agama Hindu
yang dimanifestasikan dalam pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kahyangan
Tiga atau Kahyangan Desa sebagai tempat pemujaan menjadi simbol pemersatu bagi
masyarakat adat dalam melaksanakan upacara pemujaan sebagai wujud bhakti kepada
Tuhan Yang Maha Esa. Di samping itu, Geriya (2000:63) juga menjelaskan bahwa
dasar-dasar pokok sistem sosial kemasyarakatan orang Bali bertumpu pada empat
landasan utama, yaitu kekerabatan, wilayah, agraris, dan kepentingan khusus. Ikatan
kekerabatan telah membentuk sistem kekerabatan dan kelompok-kelompok
kekerabatan. Sistem kekerabatan masyarakat Bali umumya berlandaskan prinsip
patrilineal. Kelompok-kelompok kekerabatan merentang dari unit terkecil, yaitu
keluarga inti, meluas ke unit menengah keluarga luas, sampai dengan klan patrilineal.
Ikatan kesatuan wilayah terwujud dalam bentuk komunitas desa adat atau pakraman
dengan subsistemnya, yakni banjar. Di bidang kehidupan agraris berkembang
organisasi subak, sedangkan ikatan kelompok-kelompok kepentingan khusus terwujud
menjadi organisasi sekaa.
Dalam pelaksanaannya, aktivitas di desa pakraman diatur berdasarkan
awig-awig desa pakraman. Menurut Sirtha (dalam Astra, 2003), substansi awig-awig
desa pakraman dijiwai oleh agama Hindu yang merupakan penjabaran dari falsafah
Tri Hita Karana, yaitu (1) parahyangan sebagai konkretisasi pemujaan kepada Ida
Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud upacara keagamaan, (2) pawongan sebagai
perwujudan hubungan manusia dengan sesamanya dalam melaksanakan berbagai
kegiatan sosial budaya, dan (3) palemahan atau wilayah berupa perwujudan hubungan
manusia dengan alam yang menjadi tempat pemukiman dan menjadi sumber
kehidupan masyarakat. Jadi, sistem sosial kemasyarakatan dalam masyarakat Hindu di
Bali dibangun di atas kerangka Tri Hita Karana yang terdiri atas tiga gatra, yaitu
parhyangan, pawongan, dan palemahan. Hal ini ditegaskan dalam patitis lan
pamikukuh awig-awig desa pakraman di Bali.
72
Ini menegaskan bahwa desa pakraman merupakan satu kesatuan yang
harmonis dari tiga gatra, yaitu krama desa sebagai gatra pawongan membutuhkan
ruang untuk melaksanakan aktivitasnya berupa kewajiban hidup (dharma) di wilayah
desa pakraman, yaitu gatra palemahan. Hal ini merupakan suatu kenyataan bahwa
manusia adalah bagian dari alam sehingga manusia mempengaruhi alam dan
sebaliknya alam mempengaruhi kehidupan manusia. Dikatakan pula bahwa manusia
dapat mempengaruhi, bahkan mengubah lingkungannya. Oleh karena itu antara
krama desa dengan alam lingkungan desanya terdapat satu jalinan yang satu sama
lain saling mempengaruhi. Sebaliknya, krama desa sebagai makhluk sosial
membutuhkan jalinan komunikasi yang harmonis untuk memenuhi kepentingan
bersama dalam suasana yang nyaman dan aman. Selain itu, dikatakan oleh Mircea
Eliade (1987) bahwa manusia juga merupakan makhluk religius sehingga
membutuhkan kebahagiaan batin (rohaniah). Untuk memperoleh dan memenuhi
kebutuhan akan kebahagiaan yang bersifat rohaniah ini manusia berpaling dan
berlindung serta bersujud ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu,
manusia (krama desa) mendirikan tempat-tempat suci (pura) untuk memuja Tuhan
(Sang Hyang Widhi Wasa), yaitu gatra parhyangan.
Agama Hindu dan sistem budaya atau adat istiadat telah menyatu dalam
kehidupan masyarakat Hindu di Bali yang digunakan sebagai pedoman berperilaku.
Keterpaduan antara agama Hindu dan kebudayaan Bali dapat pula diamati dari sistem
sosial kemasyarakatan orang Bali dan tujuan hidupnya. Dalam hal ini tampak dalam
jalinan antara Tri Hita Karana sebagai landasan sistem sosial kemasyarakatan dan
tujuan hidup yang berdasarkan pada Catur Purusa Artha. Pada kenyataannya dalam
kehidupan empiris sehari-hari telah pula terwujud keselarasan antara harmoni Tri Hita
Karana dengan realisasi Catur Purusa Artha, baik dalam pikiran, perkataan, maupun
tindakan yang pada akhirnya dipahami, dihayati, diamalkan, dan mengejawantah
dalam kehidupan sebagai yadnya.
Upacara keagamaan sebagai salah satu implementasi dari yadnya dalam
masyarakat Hindu di Bali senantiasa terikat dalam suatu sistem religi dan sistem
sosial yang sama walaupun secara garis besarnya terdapat lima jenis yadnya (Panca
Yadnya). Sistem religi yang dimaksud seperti dijelaskan oleh Koentjaraningrat (1987)
terdiri atas beberapa komponen, yaitu keyakinan, ritus dan upacara, peralatan ritus
dan upacara, dan umat agama yang berkaitan erat satu sama lain dan saling pengaruh
mempengaruhi dan baru mendapat sifat keramat yang mendalam apabila dihinggapi
73
oleh komponen utama, yaitu emosi keagamaan. Artinya, jenis upacara keagamaan
(yadnya) yang dilaksanakan oleh masyarakat (umat Hindu di Bali) dilandasi oleh
kayakinan keagamaan, dilaksanakan dalam bentuk kegiatan upacara, menggunakan
peralatan (upakara), dipimpin oleh seorang pemimpin upacara (sulinggih),
dilaksanakan di suatu tempat (tempat suci: pura, merajan, natah, bale, dll), dan
disertai dengan emosi keagamaan. Dalam prosesi upacara keagamaan selalu diiringi
dengan unsur kesenian, baik seni tabuh, seni tari maupun seni tembang sehingga
kegiatan upacara tersebut menjadi semakin kusuk.
Entitas budaya lokal selama ini memang menjadi kekuatan Bali untuk
menarik para wisatawan, domestik maupun mancanegara. Bali terkenal dengan
kebudayaannya yang unik dan khas karena tumbuh dari jiwa agama Hindu, yang tidak
dapat dipisahkan dari keseniannya, dalam masyarakat yang berciri sosial religius
(Mantra, 1996: 2). Ini menegaskan bahwa seni, budaya, dan agama Hindu adalah satu
kesatuan yang membangun kebudayaan Bali secara utuh dan menyeluruh. Berkaitan
dengan hal tersebut, Geriya (dalam Ashrama,ed., 2004: 42) menyatakan bahwa dalam
masyarakat Bali seni dimaknai sebagai simbol jati diri, media ekspresivitas, acuan
peradaban, kreasi persembahan, akumulasi nilai tambah secara sosial-ekonomis.
Selain itu, juga kesenian Bali mempunyai relasi dengan agama, lembaga sosial, sistem
ekonomi (agraris, pariwisata, kerajinan, dll), sistem ekologi, dan politik.

B. MATERI DAN METODE


Metode pelaksanaan kegiatan yang diterapkan dalam pembuatan buku profil
ini adalah dengan melakukan wawancara langsung kepada para tokoh prajuru Desa
Pakraman Bulian untuk menggali langsung informasi sebagai sumber data primer
yang akan digunakan sebagai materi dalam penyusunan buku ini. Selain melalui
wawancara langsung, pencarian data dilakukan dengan teknik kajian pustaka yaitu
dengan mencari data sekunder dari lontar-lontar yang terkait dengan keberadaan Desa
Pakraman Bulian. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam pelaksanaan
kegiatan ini adalah sebagai berikut.
1) Rapat persiapan dan orientasi yang melibatkan tim IbM, pakar dan partisipan
kolaboratif (Perbekel, Kelian Desa Pakraman, Kelian Banjar Adat, Prajuru Desa
Pakraman Kepala Dusun dan Tim penyusun dari Desa Bulian yang di SK-kan
oleh Perbekel Desa Bulian).
2) Penyusunan instrumen-instrumen penjaringan data secara partisipatif
74
3) Pendampingan pendataan partisifatif mengenai hal-hal yang berkaitan dengan
profil desa pakraman Bulian, seperti:
a) Sejarah Desa Bulian
b) Hukum adat/awig-awig dan kesepakatan/perarem baik tertulis maupun yang
tidak tertulis
c) Pranata dan penyelenggaraan prosesi keagamaan, kegiatan adat/sosial
d) Struktur dan komposisi masyarakat adat
e) Wilayah atau wewidangan desa pakraman
f) Harta kekayaan desa pakraman
4) Penyusunan Buku Profil Desa Pakraman Bulian dan Buku Profil Pura-Pura Tua
di Desa Bulian secara partisifatif kolaboratif
5) Editing buku-buku yang tersusun dan percetakan serta pengusulan ISBN
6) Pengenalan dan launcing buku Profil Desa Pakraman Bulian pada salah satu
event penting di Desa Bulian
7) Rapat Evaluasi dan refleksi pelaksanaan pembelajaran tindakan berbasis proyek
kolaboratif yang melibatkan semua komponen yaitu tim IbM, perbekel, Kelian
Desa Pakraman sehingga disepakati sebuah sistem penyelenggaraan dokumentasi
Desa Pakraman Bulian yang mendukung pelestarian tradisi, adat dan budaya Bali.

C. HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil-hasil yang dicapai selama dan setelah selesainya kegiatan IbM ini adalah
tersusunnya sebuah buku profil Desa Pakraman Bulian. Dalam buku ini secara
garis besar dapat dibagi menjadi enam bab, yaitu:
a. Bab 1, Pendahuluan
Pada bab 1 diuraikan secara ringkas tentang definisi serta peraturan
pemerintah terkait Desa Pakraman
b. Bab 2, Gambaran Umum Desa Pakraman Bulian
Pada bab 2 diuraikan secara ringkas terkait dengan sejarah Desa Pakraman
Bulian, lambang Desa Pakraman Bulian, awig-awig Desa Pakraman
Bulian, Visi Desa Pakraman Bulian, Struktur prajuru Desa Pakraman
Bulian.
c. Bab 3, Palemahan
Pada bab 3 diuraikan tentang wilayah desa Pakraman Bulian diantaranya
kondisi geografis Desa Pakraman Bulian, luas lahan dan penggunaannya,
75
kondisi lingkungan hidup, tata ruang Desa Pakraman, tanah druwen desa
dan legalitasnya.
d. Bab 4, Pawongan
Pada bab 4 diuraikan tentang kependudukan, lembaga adat dan sosial
lainnya serta aktivitas pasukadukaan.
e. Bab 5, Prahyangan
Pada bab 5 diuraikan tentang profil pura khayangan desa menyangkut
tentang tatanan pelaksanaan upacara yang berlangsung di pura setempat.
f. Bab 6, Penutup
Pada bab 6 diuraikan tentang kesimpulan dari pembahasan yang menjadi
fokus kegiatan yang dilakukan.
Kegiatan P2M ini telah berlangsung dengan baik sesuai dengan rencana dan tujuan
yang telah ditetapkan. Keberhasilan dari kegiatan ini terlihat dari faktor pendukung
pelaksanaan yaitu (a) antusias dari para prajuru desa yang terlibat dalam penyusunan
buku profil ini, (b) respon positif dari masyarakat Desa Pakraman Bulian yang dapat
menjadikan Buku profil ini sebagai pegangan ke depan dalam hidup bermasyarakat
khususnya dalam kehidupan beragama.

D. SIMPULAN
Sebagai simpulan dalam kegiatan ini dapat disampaikan bahwa pelaksanaan
program IbM di di Desa Bulian pada tahun 2011 telah berhasil dalam hal menyusun
sebuah buku profil Desa Pakraman Bulian yang nantinya diharapkan dapat dijadikan
sebuah pegangan oleh segenap warga Desa Pakraman Bulian dalam segala aktifitas
kehidupan yang berlangsung di desa setempat.
Beberapa dampak dan manfaat yang dihasilkan oleh pelaksanaan program
IPTEKS bagi masyarakat (IbM) ini tersusunnya sebuah buku profil Desa Pakraman
Bulian yang dapat dibaca dan dimiliki oleh setiap anggota masyarakat desa. Dengan
adanya buku ini segala informasi terkait dengan desa pakraman bisa diketahui dengan
mudah oleh segenap warga masyarakat. Dengan tahu tentang desa sendiri diharapkan
akan dapat menimbulkan kecintaan terhadap budaya serta keunikan tradisi agama
Hindu yang berkembang di desa setempat.

76
E. UCAPAN TERIMA KASIH
Atas suksesnya pelaksanaan program IbM Kecamatan Kubutambahan di Desa
Bulian, maka melalui tulisan ini saya sampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada: 1) DP2M DIKTI atas dukungan dana dan kepercayaannya
sehingga program dapat berjalan dengan baik ; 2) LPM Undiksha yang telah
mendukung kegiatan ini ; 3) Kelian Desa Pakraman Bulian ; 4) Perbekel Desa Bulian
; 4) para prajuru Desa Pakraman Bulian ; 5) seluruh lapisan masyarakat Desa Bulian.

F. DAFTAR PUSTAKA
(1). Ashrama,ed., Berata. 2004. Ajeg Bali Sebuah Cita-Cita. Denpasar: Pustaka
Bali Post
(2). Astra, I Gde Semadi, Aron Meko Mbete, Ida Bagus Puja Astawa, dan I
Nyoman Darma Putra, 2003, Guratan Budaya Dalam Perspekti
Multikultural: Katurang ri Kalaning Purnabakti Prof. Dr. I Gusti Ngurah
Bagus, Denpasar: Program Studi Magister dan Doktor Kajian Budaya,
Linguistik, dan Jurusan Antropologi, Fakultas Sastra dan Budaya Universitas
Udayana.
(3). Cendikiawan, I Nyoman. 2006. Eksistensi Lembaga Perkreditan Desa (LPD)
Desa Pakraman Mas Ubud Gianyar (Studi Potensi dan Kendala). Denpasar:
Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan, UNHI Denpasar.
(4). Couteau, Jean. 1999. Museum Puri Lukisan. Ubud: Yayasan Ratna Wartha.
(5). Geriya, I Wayan. 2000. Transformasi Kebudayaan Bali Memasuki Abad XXI.
Denpasar: Dinas Kebudayaan Bali.
(6). Bagus, Sugiasta I Gusti. 2002. Katuturan Jro Pasek Bulian. Singaraja:
Gedong Kirtya.
(7). Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropolgi I. Jakarta: Universitas
Indonesia Pers.
(8). Mantra, Ida Bagus. 1996. Landasan Kebudayaan Bali. Denpasar: Yayasan
Dharma Sastra.
(9). Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 03 Tahun 2001 Tentang Desa
Pakraman
(10). Pitana, I Gde. 1994. Dinamika Masyarakat Dan Kebudayaan Bali.
Denpasar: BP.
(11). Prasasti Bulian.

77
78
IbM KELOMPOK USAHA TERNAK BABI
DI DESA BANYUNING

oleh,
Anjuman Zukri, dkk

Fakultas Ilmu Sosial


Universitas Pendidikan Ganesha

ABSTRAK

Permasalahan yang dihadapi kelompok ternak babi di desa Banyuning adalah


rendahnya pengetahuan dan keterampilan peternak dalam pengolahan limbah babi
menjadi produk yang bernilai ekonomis. Upaya pemecahan masalah yang diprogram
dalam IbM (Ipteks bagi Masyarakat) adalah pemberdayaan kelompok ternak babi
dalam penerapan teknologi tepat guna pengolahan sampah menjadi energi alternatif
bio-gas, dan pupuk organik. Metode pelaksanaan IbM menggunakan metode PALS
(participatory action learning system). Hasil yang diperoleh dari program IbM adalah
(1) adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam pengolahan sampah
menjadi bio-gas dan pupuk kompos, (2) kualitas dan kuantitas pupuk kompos dan
biogas kelompok ternak babi di desa Banyuning relatif cukup baik.

Kata-kata kunci: IbM, PALS, kelompok ternak, biogas dan pupuk organik

ABSTRACT

The problem faced of the pig breeder group in the Banyuning village was the lack of
knowledge and skills of the group in waste processing into valuable products
economically. Solving efforts undertaken in the IbM program was empowerment of
pig breeder group in implementing of garbage processing technology to convert it to
be alternative energy of biogas and organic fertilizer. The method of IbM was
participatory action learning system (PALS). The result of the IbM program were (1)
an increase in knowledge and skills in processing waste into bio-gas and , compost,
and (2) the quality and quantity of manure compost and biogas produced from waste
were relatively good.

Key words: IbM, PALS, breeder group, biogas and organik fertilizer

1. Pendahuluan
Hampir sebagian masyarakat Bali yang tinggal di Pedesaan memiliki usaha
sampingan beternak Babi. Hewan babi merupakan hewan pokok yang paling banyak
dibutuhkan dalam kegiatan upacara dan kebutuhan sehari-hari masyarakat Bali,
sehingga segmen pasar untuk penjualan hasil ternak babi masih menjajikan
keuntungan yang potensial. Namun demikian, secara umum di Bali, khususnya

79
dipedesaan , usaha produktif ternak babi belum dikelola secara profesional, dimana
pendekatan tradisional masih mewarnai kegiatan usahan ini, yakni (1) belum
menerapkan sisten peternakan terintegrasi dengan pertanian, (2) ternak babi masih
dipandang sebagai usaha sampingan keluarga, (3) pengelolaan usaha ternak dan
limbahnya belum memperhatikan kebersihan sanitasi lingkungan dengan pembuangan
limbah sembarangan di pekarangan atau di sungai. Tentu penanganan usaha ternak
babi yang tidak profesional seperti ini, keuntungan yang diperoleh belum memberi
kontribusi pendapatan perkapita masyarakat secara signifikan. Maka dari itu, usaha
produktif ekonomi ternak babi di bali perlu direvitalisasi secara kontinu, karena
kebutuhan dan segmen pasar hewan babi masih memiliki peluang ekonomi yang
sangat tinggi.
Biasanya pengembangan usaha ternak babi skala besar dilakukan di tempat yang
jauh dari perkampungan di sawah ataupun di ladang, dengan pertimbangan (1)
menghindari protes masyarakat karena polusi kotoran tinja dan kecing dengan bau
yang sangat menyengat, (2) memudahkan mendapatkan pakan ternak dari hasil
pertanian, (3) memudahkan pembuangan limbah ke lingkungan sekitar, serta (4)
memudahkan mendapatkan bahan bakar, kayu kering untuk memasak pakan ternak
babi. Tetapi kalau usaha ternak babi dilakukan di tengah-tangah perkampungan
masyarakat/perkotaan, maka permasalahan produksi ternak babi akan memiliki
banyak kendala dan membutuhkan cost produksi yang relatif cukup tinggi, seperti
yang dialami oleh kelompot ternak babi Sphatika dan kelompok ternak babi
Pacek di desa Banyuning, yang hanyak berjarak 4 km dari pusat kota Singaraja,
berlokasi di tengah-tengah perkampungan penduduk.
Usaha produktif ternak babi dari kelompok ternak babi sphatika dan pacek
bergerak pada segmen usaha penggemukan babi saja. Kelompok ternak
babisphatika sudah menggunakan model koloni dalam beternak babi, tetapi
kelompok tanipacek masih menggunakan kandang tradisional. Kelompok ternak
babi Sphatika sekarang ini memiliki 80 ekor babi dalam proses penggemukan yang
dipelihara dalam satu sentra koloni, sedangkan kelompok ternak babi Pacek
memelihara 20 ekor babi, yang dipelihara secara tradisional. Pakan ternak babi berupa
(1) konsentrat, (2) dedak, (3) ampas tahu, (4) batang pisang /daun dag-dag dimasak
menggunakan Minyak tanah (BBM)/kayu bakar yang dibeli. Pembuangan limbah
ternak dilakukan di sungai dan di pekarangan, sehingga menimbulkan polusi yang
sering dikeluhkan warga sekitar. Pembuangan limbah ini sering menimbulkan protes
80
masyarakat yang harus dikompensasi dengan pembayaran sumbangan sebagai bentuk
social cost responsibility, yang akan meningkatkan ongkos produksi ternak babi.
Di satu sisi, usaha ternak babi sphatika dan pacek mampu menyediakan suply
babi untuk masyarakat kota dengan harga yang sama dengan suply babi di desa. Di
satu sisi secara ekonomis menguntungkan warga, karena (1) dapat menekan biaya
transportasi kalau membeli babi ke desa perkampungan yang jauh dari kota, dan (2)
dapat menyediakan peluang kerja bagi masyarakat sekitar sebagai tenaga buruh,
namun disisi yang lain, (1) usahan ternak babi sphatika dan pacek membuat
kenyamanan dan kesehatan masyarakat terganggu karena dampak polusi yang
ditimbulkannya, dan (2) belum mampu mendatangkan keuntungan perkapita yang
signifikan bagi anggota kelompok ternak.
Usaha ternak babi kelompok Spatika dan Pacek hanya fokus pada upaya
penggemukan. Bibit babi bali asli dibeli dari peternak di pedesaan, sedangkan bibit
babi Durhox, Lendris, dan generiknya dibeli dari peternak babi di kabupaten Tabanan,
dengan harga yang relatif tinggi, berkisar antara Rp 300-Rp 500 ribu per ekor. Belum
ada upaya kedua kelompok ternak untuk melakukan pembibitan babi/perkawinan
silang untuk mendapatkan bibit yang lebih murah dan unggul. Anggota kelompok
ternak babi di desa Banyuning mengeluhkan kendala kontinuitas suply bibit babi yang
harus didatangkan dari luar kota dengan harga mahal dan memerlukan biaya
transportasi. Dalam proses penggemukan, penyediaan pakan ternak instan, seperti
konsentrat, dedak, dan ampas tahu beserta pengolahannya (dimasak) menggunakan
bahan bakar minyak dan kayu bakar yang memerlukan biaya relatif mahal. Substansi
pakan ternak babi yang bersumber dari hasil tani belum diupayakan secara terpadu
dengan usaha ternak dengan mengadopsi sistem ternak-tani terpadu (integrated
farming). Belum ada upaya kelompok ternak babi memanfaatkan energi alternatif dari
limbah ternak babi, karena minimnya pengetahuan ipteks kelompok ternak dalam
pengembangan instalasi biogas dan biofertilize (pupuk organik).
Untuk menekan biaya produksi dan meminimalkan dampak limbah ternak babi,
maka penyelesaian solutif yang nampaknya visible dikedepankan adalah pembuatan
instalasi reaktor biogas dan biofetilizer untuk pengelolaan limbah produksi ternak
babi. Reaktor biogas merupakan salah satu solusi teknologi energi untuk mengatasi
kesulitan masyarakat akibat kenaikan harga BBM, teknologi ini bisa segera
diaplikasikan, terutama untuk kalangan masyarakat yang memelihara hewan ternak
babi, khususnya untuk menekan biaya produksi memasak pakan ternak babi. Usaha
81
peternakan babi di desa Banyuning cukup berkembang, tapi pemanfaatan kotoran
ternak babi selama ini belum optimal, bahkan kotoran tersebut hanya menimbulkan
masalah lingkungan. Padahal kotoran ternak dapat dijadikan sebagai bahan baku
untuk menghasilkan energi terbarukan (renewable) dalam bentuk biogas dan pupuk
organik. Permasalahan yang terjadi di kalangan masyarakat peternakan babi adalah
kekurangmampuan dalam memanfaatkan limbah kotoran ternak babi sebagai
penghasil energi alternatif (energi terbarukan) pengganti kayu dan BBM untuk
penyiapan pakan ternak babi, dimana kegiatan sehari-hari mereka sangat tergantung
pada BBM dan kayu baik untuk memasak maupun penerangan. Hal ini sangat
berdampak terhadap pendapatan dari masyarakat peternak itu sendiri.
Ada empat hal yang menyebabkan masyarakat kurang tertarik menggunakan
energi alternatif biogas dari kotoran ternak babi tersebut, antara lain: (1). masalah
kebiasaan, masyarakat yang sudah terbiasa menggunakan minyak tanah atau kayu
sebagai bahan bakar, sulit bagi mereka untuk mengubah kebiasaan ini secara drastis
dan butuh waktu yang lama; (2). masalah kepraktisan, menggunakan minyak
tanah/kayu bakar lebih praktis dibandingkan dengan menggunakan biogas, karena
mereka belum terbiasa; dan (3). ketersediaan energi alternatif (biogas dari kotoran
ternak) tidak terjamin secara berkesinambungan. Berdasarkan masalah di atas, untuk
membantu pemerintah dalam mendiversivikasi energi bahan bakar minyak tanah ke
energi biogas terutama untuk memasak pakan ternak babi, maka perlu dirancang alat
biogas skala kecil yang efisien, praktis , ramah lingkungan dan aman untuk
meningkatkan nilai tambah (Value Added) dari Limbah (kotoran) ternak tersebut.
Hasil ternak babi kelompok Sphatika dan Pacek biasanya dijual mentah
dengan harga perkilogram pada hari-hari biasa seharga Rp 18.000/kg, pada hari raya
Rp 25.000/kg. Belum ada diversifikasi olahan produk ternak babi kedua kelompok
ternak ini yang bida dijual secara matang, seperti pelayanan pemesanan babi guling,
pengolahan produk daging babi menjadi makanan awetan, seperti : abon, urutan,
dendeng, asinan, dan produk kuliner siap saji lainnya, sehingga mampu meningkatkan
nilai ekonomis dari usaha ternak babi anggota kelompok ternak.
Permasalahan yang dihadapi mitra kelompok ternak sapi dan babi yang ada di
desa Banyuning adalah (1) belum optimalnya kinerja kelompok ternak babi dalam
mengelola bisnis peternakan dari hulu sampai hilir, mulai dari pembibitan,
penggemukan dan pemasaran diversifikasi produk olahan daging babi, (2) pendapatan
(income) kelompok ternak babi secara ekonomis masih rendah, akibat tingginya
82
ongkos produksi penyediaan pakan dan pemeliharaan ternak, sebagai akibat
minimnya pengetahuan dan keterampilan dalam pengimplemetasian pola tani-ternak
secara terpadu dan usaha ternak yang berorientasi pada zero waste home industry, dan
(3) rendahnya penguasaan ipteks dalam pengolahan limbah ternak menjadi biogas dan
pupuk kompos untuk mengatasi kesulitan penanganan limbah ternak babi.
Pencemaran lingkungan akibat pembuangan limbah ternak sembarangan berdampak
pada kekurangan-nyamanan produksi dan tingginya social cost yang harus
dikeluarkan kelompok ternak babi.
Dalam upaya mengatasi kesulitan kelompok ternak babi yang ada di desa
Banyuning, maka solusi yang dapat ditawarkan adalah (1) penyuluhan dalam
mengembangkan pola ternak secara terpadu untuk mengoptimalkan aktivitas
produksi, (2) mendidik dan melatih kelompok ternak babi dalam pengelolaan bisnis
ternak babi, mulai dari pembibitan, penggemukan dan dipersifikasi produk olahan
daging babi beserta pemasarannya, dan (3) membantu kelompok ternak babi
membangun instalasi reaktor biogas limbah babi dan pengolahan pupuk.
Penyuluhan managemen produksi ternak babi, mulai dari pembibitan,
penggemukan, dan pemasaran diversifikasi produk ternak babi dilakukan untuk
meningkatkan pemahaman anggota kelompok ternak babi di desa Banyuning,
sekaligus sebagai upaya sosialisasi pengimplementasian sistem tani-ternak terpadu
(integrated farming) dalam usaha ternak babi, khususnya untuk mendorong anggota
kelompok ternak babi untuk menanam tanaman pakan ternak babi, seperti pisang,
dag-dag, dan pohon pakan babi lainnya di sekitar area ternak babi. Kemudian, solusi
penanganan limbah ternak babi dilakukan dengan pengembangan managemen
pengolahan kotoran ternak babi menjadi biogas dan pupuk organik (biofertilizer),
yang dapat mendukung integrated farming berbasis zero waste.

2. Metode Pelaksanaan
Metode yang digunakan dalam pelaksanaan Ipteks bagi Masyarakat (IbM) bagi
kelompok ternak babi di desa Banyuning adalah metode PALS (Participatory Action
Learning System). Prinsip dasar dari metode PALS adalah pelibatan anggota peternak
babi dalam proses pembelajaran aktif partisipan dalam program aksi pengolahan
limbah babi menjadi biogas, dan kompos organic secara alamiah dengan segala
pendekatan sehingga membentuk suatu sistem interaksi pembelajaran masyarakat
secara partisipatif, baik secara personal maupun komunal. Inti kegiatan IbM

83
kelompok ternak babi di desa Banyuning dengan metode PALS adalah (1)
pembangunan demplot rumah produksi dan reaktor biogas sebagai sarana edukasi
bagi masyarakat ternak babi dan sekitarnya tentang pemanfaatan limbah babi, (2)
penyuluhan dan penyadaran kelompok ternak babi akan pentingnya merubah mind-set
dalam mengelola pekerjaan ternak babi secara profisional untuk dapat meningkatkan
taraf hidup, (3) pelatihan/pengkapasitasan kelompk ternak dalam penguasaan
kompetensi pengolahan limbah babi menjadi produk yang lebih bernilai ekonomis
dalam bentuk biogas dan pupuk organik, (4) pendampingan (scaffolding) kelompok
ternak babi di desa Banyuning dalam produksi kreatif pengolahan hasil ternak babi.

3. Hasil dan Pembahasan


Pelaksanaan program IbM biogas babi bagi kelompok ternak babi di desa
Banyuning dilakukan secara sinergi antara tim pelaksana IbM, anggota kelompok
ternak dan mahasiswa Undiksha. Pada tahap awal dilakukan sosialisasi kegiatan IbM
beserta program kerja yang akan jadi priorias pengabdian, meliputi (1) memperbaiki
bangunan fisik kandang koloni babi, sehingga sirkulasi udara dan sistem pembuangan
limbah tidak mengganggu sanitasi, sirkulasi udara dan kesehatan ternak babi, (2)
melatih peternak babi untuk mengembangkan sistem ternak-tani terintegrasi, (3)
menginstall 2 (dua) unit biogas babi masing-masing pada kelompok ternak babi
Sphatika dan kelompok ternak Babi Pacek, (4) melakukan pelatihan produksi
pupuk organik berbasis kotoran limbah babi output fermentasi biodigester, (5)
program pendampingan (scaffolding) bagi anggota ternak dalam pengelolaan beternak
babi secara professional sehingga dapat mendatangkan keuntungan yang optimal.
Usaha ternak babiSphatika yang dipimpin oleh Pak Open, dan Pacek yang
dipimpin oleh Pak Made Pasek memiliki kapasitas total produksi ternak babi
pedaging sebanyak 60 ekor, dan bibit 40 ekor, yang didukung oleh 5 unit kandang
koloni. Usaha ternak babi Sphatika dan Pacek merupakan supplier kebutuhan
daging babi di kota Singaraja dan masyarakat sekitarnya. Keluhan masyarakat
terhadap kedua usaha ternak babi ini adalah sistem pembuangan limbah yang dibuang
begitu saja ke sungai yang mencemarkan lingkungan dan potensi polusi bau yang
menyengat sering menjadi kendala yang sangat merisaukan kelancaran produksi
ternak. Tahap awal dalam program IbM adalah melakukan penataan ulang sistem
pembuangan limbah dan struktur fisik kandang koloni, meliputi (1) penyekatan
saluran aliran kotoran babi (slury) dan saluran air pembersih kandang untuk mencegah

84
pembuangan limbah ternak berlebihan ke sungai, (2) memperbaiki ventilasi udara
pada setiap kandang koloni sehingga dapat menjaga sirkulasi udara segar di kandang
ternak babi, seperti ditunjukkan pada gambar 1, (3) menginstalasi reaktor biogas
untuk proses pengolahan fermentasi kotoran ternak menjadi biogas, dan (4) melatih
anggota ternak dalam proses produksi pupuk organik berbasis kotoran ternak babi.
Kotoran ternak babi yang semula menjadi ancaman dari usaha ternak babi
Sphatika dan Pacek karena tidak bernilai ekonomis dan mengganggu kesehatan
warga sekitar karena polusi yang ditimbulkannya, maka dengan sentuhan program
IbM kelompok ternak telah berhasil menginstal unit reaktor biogas yang dapat
menghasilkan sumber energi alternative kalor pengganti bahan bakar kayu untuk
memasak pakan ternak babi. Reaktor biogas dibuat dari plastik PPE dengan kapasitas
tampung 32 m3, dengan ukuran fisik 8x2x2 meter3, seperti ditunjukkan pada gambar
3.
Biogas adalah gas yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan organik oleh
bakteri-bakteri anaerob yaitu bakteri yang hidup dalam kondisi kedap udara. Bahan
organik tersebut dimasukkan ke dalam ruangan tertutup kedap udara yang disebut
digester sehingga bakteri anaerob akan membusukkan bahan organik tersebut yang
kemudian menghasilkan gas yang disebut Biogas. Biogas yang telah terkumpul di
dalam digester selanjutnya dialirkan melalui pipa PVC menuju ke lokasi
penggunaannya seperti kompor dan lampu. Komposisi gas yang terdapat di dalam
Biogas adalah: Methana (CH4) 40 70%, Karbondioksida (CO2) 30 60%, Hidrogen
(H2) 0 1%, dan Hidrogen Sulfida (H2S) 0 3%. Proses produksi biogas terbilang
sederhana. Bahan utamanya ialah campuran feses, urine (air kencing), dan sisa pakan
(bahan organik) dengan pengenceran air. Perbandingan air dan kotoran adalah 2 :1.
Nilai kalor biogas ditentukan oleh gas methan (CH4) dan karbon dikosida (CO2).
Bahan utama kemudian ditampung dalam digester (pencerna bahan organik)
disesuaikan dengan kapasitas dan jumlah ternak. Pengisian pertama harus sudah
tercipta kondisi anaerob.
Biogas merupakan campuran gas Metana (60-70%), CO2 dan gas lainnya yang
dihasilkan oleh bakteri metanogenesis yang terdapat pada rawa dan perut rumansia
seperti sapi, babi dan kerbau. Pembentukan biogas, seperti ditunjukkan pada gambar
4, meliputi tiga tahap proses yaitu: (a) Hidrolisis, pada tahap ini terjadi penguraian
bahan-bahan organik mudah larut dan pencernaan bahan organik yang komplek
menjadi sederhana, perubahan struktur bentuk polimer menjadi bentuk monomer; (b)
85
Pengasaman, pada tahap pengasaman komponen monomer (gula sederhana) yang
terbentuk pada tahap hidrolisis akan menjadi bahan makanan bagi bakteri pembentuk
asam. Produk akhir dari perombakan gula-gula sederhana ini yaitu asam asetat,
propionat, format, laktat, alkohol, dan sedikit butirat, gas karbondioksida, hidrogen
dan amonia; serta 60-70%. (c) Metanogenik, pada tahap metanogenik terjadi proses
pembentukan gas metan. Bakteri pereduksi sulfat juga terdapat dalam proses ini, yaitu
mereduksi sulfat dan komponen sulfur lainnya menjadi hidrogen sulfida.
Biogas adalah bahan bakar yang bersih yang tidak menghasilkan asap seperti
halnya kayu, arang, sehingga alat-alat dapur dapat digunakan dengan tetap bersih,
bahkan terdapat keuntungan besar dari proses pembuatan biogas, karena limbah
buangannya dapat digunakan sebagai pupuk untuk menyuburkan tanaman. Ketika
kotoran ternak mengalami pembusukan, akan mengeluarkan antara lain gas methane
(CH4) dan gas inilah yang dapat dikumpulkan dan dinamakan biogas. Pada prinsipnya
Unit Produksi Biogas terdiri dari (i) kontainer digester atau mencerna bahan organik,
yang kelak menghasilkan biogas, (ii) tangki atau ruang tertutup sebagai tempat atau
penangkap biogas yang dihasilkan, (iii) kelengkapan penghubung dan pengaman ke
kompor gas/dapur dan (iv) kompor biogas. Biogas yang dihasilkan dari reaktor
biodigester yang dibangun tim IbM dengan anggota ternak babi di desa Banyuning
selain menghasilkan bahan bakar alternative yang cukup untuk memasak pakan ternak
babi, tetapi secara tidak langung juga telah meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan peternak dalam mengolah limbah kotoran ternak babi menjadi biogas.
Di sisi yang lain, melalui program IbM ini juga, kelompok ternak babi
Sphatika dan Pacek dilatihkan pembuatan pupuk organik berbasis kotoran ternak
babi. Sisa hara keluaran dari reaktor anaerob biogas dapat digunakan sebagai bahan
dasar pembuatan pupuk organik. Pupuk organik merupakan hasil akhir dan atau hasil
antara dari perubahan atau peruraian bagian dan sisa-sisa tanaman dan hewan,
misalnya bungkil, guano, tepung tulang, limbah ternak dan lain sebagainya
(Murbandono, 2002). Pupuk organik merupakan pupuk yang terbuat dari bahan-bahan
organik yang didegradasikan secara organik. Sumber bahan baku organik ini dapat
diperoleh dari bermacam-macam sumber, seperti : kotoran ternak, sampah rumah
tangga non sintetis, limbah-limbah makanan/minuman, dan lain-lain. Biasanya untuk
membuat pupuk organik ini, ditambahkan larutan mikroorganisme yang membantu
mempercepat proses pendegradasian (Prihandarini, 2004).

86
Sebelum pelaksanaan pengabdian IbM, peternak babi di desa Banyuning
membuang kotoran babi ke sungai atau diangkut ke areal perkebunan (kebun) dan
sebagian lagi dibuang ketempat yang lebih rendah ( lembah dan sungai kecil). Hal ini
menimbulkan masalah bagi masyarakat di bagian yang lebih rendah lokasinya.
Masalah yang ditimbulkan berupa pencemaran lingkungan ( tanah, air dan udara).
Sementara itu pengetahuan peternak sangat kurang dalam mengolah limbah kotoran
ternak (babi), sehingga kotoran tersebut dibuang dan mencemari lingkungan
disekitarnya. Dalam upaya menanggulangi limbah di atas, melalui program IbM ini
dilakukan pelatihan untuk mengolah sisa kotoran babi menjadi pupuk organik
(kompos). Pengomposan adalah proses penguraian senyawa-senyawa yang
terkandung dalam sisa bahan organik (seperti jerami, daun-daun, dan lain-lain)
dengan suatu perlakukan khusus (Budi Santoso, 1998).
Pelatihan pembuatan pupuk organik berbasis kotoran ternak babi
menggunakan bahan baku utama adalah limbah ternak babi, berupa kotoran babi
bercampur dengan sisa makanannya dan bercampur dengan air kencingnya. Bahan
baku ini disediakan lebih kurang masing-masing 10 karung (beratnya 30 kg/karung).
Bahan tambahan (substituen) adalah urea, SP-36,abu, serbuk kayu, kalsit. Starter
digunakan EM4 (efective microorganism).Peralatan yang diperlukan antara lain : bak
(kotak kayu ukuran 1x1x1 m) 3 buah, sekop, ember, ayakan, termometer,
karung/kampil, timbangan, kantong plastik, dan lain-lain. Effective Microorganisms 4
(EM4) merupakan kultur campuran dalam medium cair berwarna coklat kekuningan,
berbau asam dan terdiri dari mikroorganisme yang men guntungkan bagi kesuburan
tanah. Adapun jenis mikroorganisme yang berada dalam EM 4 antara lain :
Lactobacillus sp., Khamir, Actinomycetes, Streptomyces. Selain memfermentasi
bahan organik dalam tanah atau sampah, EM 4 juga merangsang perkembangan
mikroorganisme lainnya yang menguntungkan bagi kesuburan tanah dan bermanfaat
bagi tanaman, misalnya bakteri pengikat nitrogen, pelarut fosfat dan mikro -
organisme yang bersifat antagonis terhadap penyakit tanaman. EM4 dapat digunakan
untuk pengomposan, karena mampu mempercepat proses dekomposisi limbah organik
(Sugihmoro,1994). Setiap bahan organik akan terfermentasi oleh EM 4 pada suhu 40
500 C. Pada proses fermentasi akan dilepaskan hasil berupa gula, alkohol, vitamin,
asam laktat, asam amino , dan senyawa organik lainnya serta melarutkan unsur hara
yang bersifat stabil dan tidak mudah bereaksi sehingga mudah diserap oleh tanaman.

87
Proses fermentasi limbah organik tidak melepaskan panas dan gas yang berbau busuk,
sehingga secara naluriah serangga dan hama tidak tertarik untuk berkembang biak.
Langkah-langkah pembuatan pupuk organik dilakukan dengan tiga tahap
sebagai berikut. (1) Bahan kotoran ternak disiapkan dengan kelembaban sekitar 60 %.
Bila bahan terlalu becek atau kelembaban lebih dari 60 % maka kotoran ternak
didiamkan beberapa waktu hingga mencapai kelembaban yang diinginkan. Bila
kotoran ternak terlalu kering, maka perlu disiram dengan air agar mencapai
kelembaban 60 %. Setelah kotoran ternak kelembaban mencapai 60 %, selanjutnya
ditambah dengan serbuk gergaji, starter, urea, dan SP-36, lalu dicampur hingga rata.
Diamkan bahan ini selama 1 minggu. (2) Bahan pada tahap I dibalik dengan cara
dipindahkan ke bak yang lain. Pada saat pembalikan ini, dilakukan penambahan abu
dan kalsit. Proses yang berlangsung sekitar 3 minggu ini perlu dijaga kelembabannya
dan suhunya dengan cara pembalikan. (3) Pada tahap yang terakhir ini, bahan kompos
akan mengalami penstabilan, yaitu suhu mulai turun ke suhu normal dan bahan sudah
berbentuk remah. Kondisi ini menandakan bahwa bahan kompos telah menjadi
kompos (pupuk organik), sehingga siap digunakan peternak babi untuk fertilizer
tanaman sumber pakan ternak babi yang ada di sekitar kandang koloni.
Meskipun dalam program IbM ini telah berhasil mengkapasitaskan anggota
peternak babi yang tergabung dalam kelompok ternak babi Sphatika dan Pacek
dalam pengelolaan limbah ternak babi menjadi biogas dan pupuk organik, namun
secara ekonomi (in cash) belum memberikan dampak langsung dalam usaha ternak
babi. Baik biogas maupun pupuk organik masih digunakan untuk keperluan sendiri
peternak untuk aktivitas produksi beternak. Untuk itu perlu program pendampingan
yang berkelanjutan untuk mengeskalasi sisi bisnis dari produk biogas dan pupuk
organik peternak, sehingga bisa menjadi komoditas yang dapat dijual ke pasar untuk
pendapatan penghasilan suplemen dari usaha penjualan biogas dan pupuk organik
limbah kotoran babi.

4. Penutup
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut.
(1) Adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam pengolahan limbah
babi menjadi bio-gas, dan pupuk kompos, (2) Kualitas dan kuantitas pupuk kompos,
dan biogas yang dihasilkan peternak babi relatif cukup baik. Keberlanjutan program
IBM bagi kelompok ternak babi di desa Banyuning dilakukan secara mandiri dibawah

88
bibingan LPM Undiksha. Untuk itu disarankan kepada LPM Undiksha dan lembaga
terkait untuk tetap berkomitmen menjadi Bapak asuh bagi kelompok ternak babi
melalui pemberian bantuan modal, pelatihan dan pendampingan teknologi, serta
pemasaran, sehingga dapat meningkatkan kenyamanan dan kualitas hidup peternak
babi dan masyarakat sekitarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Irawan, P.B. dan Romdiati. H, 2000. The Impact of Economic Crisis on Povertyand its
Implication for Development Strategies, Paper Presented at National Workshop
on Food and Nutrition VII. LIPI, 29 Febuari 2 Maret 2000, Jakarta

Dept. Pertanian. 2010. Pengembangan Usaha Pengolahan Limbah Berbasis Biogas .


Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian. Jakarta.

Nike Triwahyuningsih. 2009. Pemanfaatan Energi Biomassa sebagai Biofuel :


Konsep Sinergi dengan Ketahanan Pangan. UNY. Yogyakarta

Kartasasmita, Ginandjar. 1995. Pemberdayaan Masyarakat: Sebuah Tinjauan


Administrasi; Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Administrasi
pada Fakultas Ilmu Administrasi Pemangunan Universitas Brawijaya; Malang.
1995.

Sumodiningrat, Gunawan, 1999, Pemberdayaan Masyarakat dan Jaring Pengaman


Sosial, PT Gramedia, Jakarta

Teguh Wikan Widodo and Agung Hendriadi. 2005. Development of Biogas


Processing for Small Scale Cattle Farm in Indonesia. Conference Proceeding:
International Seminar on Biogas Technology for poverty Reduction and
Sustainable Development. Beijing, October 17-20,2005. pp. 255-261 [in
English].
United Nations. 1984. Updated Guidebook on Biogas Development - Energy
Resources Development Series 1984, No. 27, United Nations, New York,
USA.
Yadava, L.S. and P.R. Hesse .1981. The development and Use of Biogas Technology
in Rural Areas of Asia (A Status Report 1981). Improving Soil Fertility
through Organic Recycling, FAO/ UNDP Regional Project RAS/75/004,
Project Field Document No. 10.
Yapp, Jason and Rijk, Adrianus.2005. CDM Potential for the Commercialization of
the Integrated Biogas System. Conference Proceeding: International Seminar
on Biogas Technology for poverty Reduction and Sustainable Development.
Beijing, October 17-20,2005. pp. 88- 105.

89
90
IbM Kerajinan
Pengerajin Logam di Desa Beratan Buleleng Bali
Oleh:
I Ketut Supir, dkk

1. Abstrak
Desa Beratan salah satu desa di kabupaten Buleleng yang menjadi pusat
kerajinan logam (emas, perak, dan kuningan). Kerajinan logam desa Beratan pernah
mengalami masa keemasan dan sejak bom Bali I dan bom Bali II, meledak, kerajinan
ini mengalami kemerosotan seiring dengan lesunya industri pariwisata di Bali.
Sebagian besar pengerajin beralih ke pekerjaan lain, dan saat ini ada tiga orang
pengerajin yang masih setia menggeluti kerajinan. Ketiganya menghadapi masalah
yang sama, yaitu bidang produksi, manajemen, dan pemasaran. Peralatan yang
dimiliki pengerajin masih tradisional dan sudah tua. Pengerajin tidak memiliki
pembukuan dan dokumentasi produk yang telah dibuat. Pemasaran produk sangat
terbatas.
Solusi yang dapat dilakukan dalam menjawab permasalahan tersebut, yaitu:
(1) memodifikasi alat peleburan/pencairan emas dan perak yang digerakkan dengan
tenaga listrik; (2) pengadaan alat-alat pendukung proses produksi, antara lain: bor
listrik yang dapat membantu percepatan dalam proses produksi; (3) pelatihan
penganekaragaman desain produk kerajinan sesuai perkembangan pasar; (4) pelatihan
manajemen usaha berbasis komputer, dan perancangan dan pembuatan website atau
ecommerce.
Peralatan elektik sangat membantu pengerajin dalam menhemat tenaga, waktu,
dan dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi. Pelatihan desain menambah
wawasan pengerajin dalam menghadapi tren pasar.

Kata Kunci: Logam, Emas , Perak, Desa Beratan, Kerajinan.

Abstract
Beratan village one of the villages in the district at the center of craft Buleleng
metals (gold, silver, and brass). Beratan metal crafts village has experienced a golden
age, and since the Bali bombing I and the Bali bombing II, explode, the craft is in
decline due to sluggish tourist industry in Bali. Most of the craftsmen switched to
91
another job, and now there are three craftsmen who still cultivate the craft. All three
face the same problem, namely the production, management, and marketing.
Equipment owned by the craftsmen still traditional and old. Craftsmen did not have
the bookkeeping and documentation of products that have been made. Marketing of
products is very limited.
Solution that can be done in answer to these problems, namely: (1) modify the
fusion device / melting gold and silver which is driven by electric power, (2) the
procurement of tools supporting the process of production, among others: a power
drill that can help accelerate the process production, (3) training of appropriate
diversification of product design craft market development, (4) computer-based
training in business management, and design and manufacture or ecommerce website.
Eclectic equipment helps craftsmen in saving energy, time, and can increase
the quantity and quality of production. Broaden the training design craftsmen in the
face of market trends.

Keywords: Metals, Gold, Silver, Beratan village, Craft.

2. Pendahuluan
Desa Beratan salah satu desa sebagai pusat kerajinan logam (emas dan perak)
di kabupaten Buleleng. Kapan kerajinan logam desa Beratan dimulai, , belum
diketahui secara pasti. Namun, kerajinan ini sudah dikenal masyarakat sejak zaman
kerajaan Buleleng. Profesi sebagai pengerajin logam, dalam masyarakat Bali,
dilakukan oleh keturunan pande, nama dari salah satu klan (soroh). Masyarakat Bali
terdiri atas lapisan yang oleh Wiana (1993: 12) disebut dengan warna atau wangsa
(brahmana, ksatria, wesya, dan sudra), yang sebenarnya didasarkan atas pembagian
tugas yang diaplikasikan dalam (kewajiban (guna) dan perbuatan (karma). Tiga
lapisan pertama disebut triwangsa (Ida Bagus, Anak Agung, dan I Gusti), dan klan
pande ada di luar triwangsa itu. Klan pande bertugas menyediakan peralatan dan
perabotan yang terbuat dari logamkeris, alat pertanian, rumah tangga, sampai
asesoris. Di desa Beratan, sebagian besar masyarakatnya adalah keturunan klan
pandeyang diduga berasal dari daerah sekitar Danau Beratan, Bedugul, kabupaten
Tabanansecara khususnya membuat perlengkapan upacara agama Hindu, dan
perhiasan dari emas dan perak (cincin, kalung, subang, dan sebagainya) (Sugriwa,
1958:4).
92
Kerajinan logam Desa Beratan sempat menikmati masa jaya seiring dengan
perkembangan industri pariwisata di Bali. Pengerajin, ketika itu, banyak menerima
pesanan baik dari konsumen lokal maupun mancanegara. Produk kerajinan logam
lebih banyak diarahkan pada benda cenderamata untuk memenuhi kebutuhan
wisatawan. Setelah Bom Bali I meledak di Kuta, kemudian disusul oleh Bom Bali II,
industri pariwisata Bali mangalami lumpuh total. Kondisi ini berpengaruh pada
industri kecil yang bergantung pada pariwisata, termasuk kerajinan logam Desa
Beratan yang mati secara pelan-pelan.
Sejurus dengan kebutuhan hidup dalam keluarga terus meningkat, menjadi
penyebab hampir semua pengerajin yang dulu sukses, beralih kepada pekerjaan lain
yang lebih menjajikan. Para remaja laki-laki Desa Beratan banyak yang meninggalkan
desanya untuk bekerja di Kapal Pesiar, mereka tidak bangga lagi menjadi pengerajin
logam. Terkait dengan klan pande dalam masyarakat Bali yang bertugas membuat
benda-benda dari logamuntuk fungsi keagamaan dan fungsi sekuleryang telah
diwarisi secara turun-temurun ditinggalkan begitu saja.
Dalam kondisi yang sangat memprihatinkan ini, masih ada segelintir
pengerajin yang masih setia mempertahankan warisi nenek moyangnya. Mereka
adalah (1) I Ketut Dibya (75 tahun), (2) Ketut Widiana (48 tahun), dan (3) I Nyoman
Suweden (43 tahun). Ketiga penegrajin itu masih dalam satu keluargaseorang bapak
dan dua orang anaknyatetapi mereka mengelola usahanya sendiri-sendiri. Beberapa
alasan kenapa mereka masih menekuni kerajinan logam, pertama, karena faktor umur,
tidak mungkin mereka pergi ke luar desa mencari pekerjaan lain. Kedua, mereka
masih setia menjunjung bhisama (keputusan) leluhurnya untuk terus menekuni profesi
sebagai pande.
Pengerajin logam desa Beratan, dalam berproduksi, menghadapi berbagai
persoalan yang menyebabkan produksinya secara kuantitas maupun kualitas belum
mampu bersaing di pasaran. Persoalan-persoalan yang dihadapi, antara lain, dalam
bidang produksi, bidang manajemen, dan pemasaran. Permasalahan produksi yang
paling mendesak, antara lain: (a) alat peleburan/pencairan emas dan perak, yang
selama ini, pengoperasiannya dilakukan secara manual menyebabkan proses produksi
lambat dan cukup menguras tenaga; (b) alat penggiling manual yang kondisinya sudah
tua, beberapa komponennya sudah haus sehingga tidak bisa menghasilkan benang-
benang emas dan perak dengan baik; (c) bor dan alat kilap manual sangat
menghambat proses produksi.
93
Masalah desain merupakan persoalan yang sangat dirasakan pengerajin.
Pengetahuan dan kemampuan dalam desain yang dimiliki sangat terbatas pada desain
tradisional, sehingga produk yang dibuat monotun tidak mampu mengikuti selera
pasar. Sebenarnya, kemampuan teknis yang dimiliki pengerajin cukup baik dan
bebrapa motif ukiran kerajinan logam Desa Beratan memiliki gaya tersendiri, tetapi
itu tidak cukup untuk menghadapi selera pasar yang selalu berubah.
Pemisahan manajemen keuangan usaha dan rumah tangga tidak jelas, sehingga
mereka tidak mengetahui apakah usahanya dalam keadaan untung atau rugi. Demikian
pula, pengerajin tidak memiliki dokumentasi produk yang telah dihasilkan, ini juga
menjadi sebab rendahnya keyakinan pemesan terhadap kemampuan pengerajin.
Pengerajin tidak pernah melakukan promosi terhadap produk yang dihasilkan,
baik di media cetak maupun media elektronik. Mereka juga tidak pernah mengikuti
atau diikutsertakan dalam pameran baik di dalam maupun di luar negeri. Pemasaran
produknya terbatas dan mampu menerima pesanan dalam jumlah kecil. Mitra juga
belum memiliki website/ecommerce sebagai media promosi/took online.
Permasalahan yang dihadapi pengerajin merupakan penyebab laten terhadap
keberlangsungan hidup kerajinan logam Desa Beratan. Permasalah ini menjadi
inspirasi dalam melakukan kegiatan P2M ini, yang bertujuan:
1. Mengatasi masalah peralatan yang hampir semuanya masih bekerja secara
manual. Kondisi alat yang sebagian sudah tua dan haus, tidak mampu
menghasilkan produk yang maksimal dalam jumlah maupun kualitas.
2. Mengatasi keterbatasan desain kerajinan emas dan perak desa Beratan yang
cendrung monotun dari tahun ke tahun. Kondisi ini sangat berbanding terbalik
dengan kekuasaan pasar, sekarang ini, yang menghendaki desain-desain yang
inovatif dan menarik.
3. Perluasan sistem pemasaran, yang selama ini, hanya menunggu pembeli datang
ke rumah. Jaringan pasar masih terbatas dalam lingkup lokal.

2. Metode
Metode penerapan IPTEKS dalam pengabdian ini adalah (1) Metode observasi
dan Wawancara; (2) Metode Penyuluhan dan pelatihan. Penerapan metode ini
dilakukan secara terpisah dan secara bersama terkombinasi.

94
1. Metode Observasi dan Wawancara
Pembinaan terhadap pengerajin emas dan perak desa Beratan dilakukan secara
bertahap. Sebelum pelaksanaan program dilakukan observasi dan wawancara dengan
menerapakan model partisipatory rural apprasial. Model ini digunakan untuk
mengidentifikasi masalah yang dialami mitra atau kelompok masyarakat. Dalam
merumuskan masalah, mengatasi masalah, penentuan proses dan kriteria masalah
harus, mitra harus diikutsertakan. Penggunaan model pendekatan ini diharapkan akan:
(1) dikenalnya masalah secara tepat/efektif sesuai dengan persepsi, kehendak, dan
ukuran/kemampuan serta kebutuhan mereka, (2) tumbuhnya kekuatan (enpowering)
masyarakat atau kelompok sasaran dalam pengalaman merancang, melaksanakan,
mengelola dan mempertanggungjawabkan sebagai upaya peningkatan/pertumbuhan
diri dan ekonominya, dan (3) efektifitas dan efisiensi penggunaan sumber daya mitra
atau kelompok masyarakat. Observasi dilakukan terus menerus sejalan dengan setiap
langkah yang akan ditempuh.

2. Metode Penyuluhan dan Pelatihan


Penyuluhan dan pelatihan dilakukan dalam bidang manajemen dan bidang
desain. Penumbuhan kesadaran pengerajin tentang pentingnya pencatatan dan
pendokumentasian produk yang telah dibuat. Pendokumentasian produk adalah cara
efektif dalam meyakinkan calon konsumen, yakni dengan memperlihatkan gambar
produk yang telah dibuat dalam bentuk album atau barang aslinya. Dalam kegiatan ini
diterapkan model enthrepreneurship capasity building (ECB), model Teknologi Tepat
Guna (TTG), model Technology Transfer (TT), dan model Information Technology
(IT). Model ECB terkait erat dengan kemampuan berwirausaha dari mitra. Dengan
model ini diharapkan: (1) memberikan wawasan, sikap, dan keterampilan usaha, (2)
memberikan peluang, (3) memfasilitasi (modal pinjamaan dsb.), dan (4) memonitor
dan mengevaluasi bagaimana perkembangan usahanya. Model Technology Transfer
(TT). Model TT dilakukan agar mitra atau kelompok masyarakat menguasai prinsip-
prinsip penerapan teknologi terutama yang berkaitan dengan program yang
sedang/akan dilaksanakan. Model Teknologi Tepat Guna (TTG) digunakan jika
teknologi yang diterapkan dirasakan terlalu rumit untuk menyelesaikan
masalah/kebutuhan mereka. Model Information Technology (IT) digunakan untuk
menyebarluaskan informasi dan sosialisasi program dengan hasil penerapan TTG
yang cukup layak dikemas dalam bentuk kemasan informasi media cetak/elektronik.
95
Dengan demikian, model IT dalam program IbM ini digunakan untuk
menyebarluaskan hasil modifikasi TTG yang aplikasinya benar-benar telah teruji
secara layak.

4. Hasil Dan Pembahasan


Tiga persoalan pokok yang dihadapi pengerajin logam, yakni masalah
peralatan, manajemen, dan pemasaran. Masalah alat yang dibutuhkan oleh pengerajin
diatasi dengan cara membelikan alat baru dan memodifikasi alat manual menjadi alat
yang digerakkan dengan tenaga listrik. Alat yang dibeli baru, seperti bor listrik, alat
polis listrik, dan perangkat komputer, sedang alat yang dimodifikasi, seperti alat
pompa yang semula manual diubah menjadi alat yang digerakkan dengan tenaga
listrik. Kegiatan program P2M menerapkan model TTG dengan membuat alat
sederhana yang dapat menyelesaikan masalah atau kebutuhan pengerajin. Perangkat
komputer diberika kepada pengerajin, memang dalam jangka pendek pengerajin
belum bisa menggunakan secara maksimal, tetapi dalam jangka panjang, perangkat
komputer dapat digunakan oleh pengerajin bersama anaknya membuat mengaplud
barang produksinya melalui Website dan digunakan belajar membuat desain.
Penyuluhan dan pelatihan manajemen dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang
telah disepakati bersama dengan materi pembuatan pembukuan sederhana, yakni
mampu mencatat pengeluaran dan pendapatan. Pelatihan desain lebih ditekankan pada
pengembangan ide-ide dan penguasaan keterampilan (skill) dalam mendesain. Di sela-
sela praktik membuat desain disisipkan pula pengetahuan tentang desainpengertian,
fungsi, sejarah desain logam, dan makna desain. Desain yang telah dirancang, dipilih,
kemudian diwujudkan sesuai dengan kemampuan teknik yang dikuasai. Instruktur
bersama pengerajin mengevaluasi karya yang telah dihasilkan untuk melihat
kelemahan dan keunggulannya, tujuannya agar pengerajin mampu menilai karya
sendiri dengan objektif.
Pemasaran produk diterapkan dengan model Information Technology (IT)
untuk menyebarluaskan informasi dan sosialisasi tentang hasil produksi logam secara
luas. Namun demikian, pemasaran lokal dan pesanan masih tetap menjadi perhatian.
Beberapa produk yang dihasilkan selama program ini mendapatkan peminat meskipun
masih dalam wilayah terbatas.
Pelatihan ini mendapat apresiasi baik dari pengerajin. Mereka sangat antusias
mengikuti kegiatan ini. Tiga orang pengerajin ini yang akan menjadi pioner dalam
96
menggairahkan kembali kerajinan emas dan perak Desa beratan yang hampir punah
ini. Melalui mereka bertiga, diharapkan mantan pengerajin yang lain tertarik
menggeluti kembali kerajinan ini, sehingga ke depan keluarga Pande desa Beratan
bisa mengidupi dirinya dari profesi sebagai pengerajin, selain dalam usaha
melanjutkan bhisama leluhurnya.
Di bawah ini, ditampilkan beberapa gambar desain dan perwujudannya
selama pelaksanaan program IbM, sebagai berikut.
Desain dalam proses perwujudan karya. Mendesain adalah langkah pertama
yang harus dilakukan pengerajin. Rancangan desain terdapat dalam pikiran pengerajin
yang langsung diwujudkan dalam bentuk produk jadi. Ada rancangan desain dibuat di
atas kertas dengan teknik manual atau menggunakan bantuan komputer, tujuan agar
setiap saat dapat digunakan sebagai acuan ketika mewujudkannya.
Pin dan cincin Ganesha berbahan emas, perak, tembaga, dan kuningan. Pin
lambang Undiksha dirancang untuk dijual kepada mahasiswa Undiksha. Desain pin
ini juga dengan ukuran yang lebih besar berbahan kuningan atau tembaga yang
diberikan kepada setiap wisudawan Undiksha.Cincin ganesha dipasarkan kepada
masyarakat umum sebagai cenderamata.
Perhiasan bros, cincin, mainan kalung, subang dengan teknik trap-trapan
cukup di minati oleh konsumen lokal Bali maupun oleh touris manca negara. Gagang
keris diproduksi untuk memenuhi permintaan para pembuat keris yang belakang ini
banyak dipesan oleh konsumen mancanegara.

5. SIMPULAN
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan IbM kerajinan yang
dilaksanakan terhadap pengerajin logam di Desa Beratan, Kecamatan Buleleng,
Kabupaten Buleleng telah berlangsung dengan lancar. Dalam program ini diserahkan
kepada pengerajin peralatan dibutuhkan untuk mendukung proses produksi.
Berakhirnya program ini, pengerajin dapat membuat pembukuan sederhana dan
mampu merancang desain logam serta mewujudkannya. Pemasaran barang kerajinan
melalui Web telah mampu dilakukan oleh pengerajin.

6. Ucapan Terima Kasih

97
Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi disampaikan kepada
pengerajin emas dan perak Desa beratan Buleleng. Ucapan yterima kasih yang
setinggi-tinginya juga dihaturkan kepada DP2M DIKTI atas dana Hibah Program
Pengabdian IbM tahun 2011, Rektor Undiksha atas izin dan dorongannya selama ini,
Ketua LPM Undiksha, rekan-rekan dosen di Jurusan Pendidikan Seni Rupa, FBS yang
selalu memberikan semangat dan medorong penulis untuk melakukan kegiatan P2M
ini.

7. DAFTAR PUSTAKA

Sugriwa, I Gusti Bagus. 1958. Prasasti Pande. Denpasar: Pustaka Balimas

Wiana, Ketut. 1993. Kasta dalam Hindu: Keslahpahaman Berabad-abadDenpasar:


Yayasan Dharma Naradha

98
LAYANAN TERHADAP GURU: PEMBELAJARAN SAINS ASPEK KIMIA
PADA GURU-GURU IPA SMP
Ida Bagus Nyoman Sudria, dkk
1
FMIPA Universitas Pendidikan Ganesha

Abstrak
Hampir semua guru mengalami kesulitan dalam pembelajaran kimia untuk
siswa SMP yang mulai memberdayakan kajian mikroskopik untuk menjelaskan
fenomena kimia konkrit dan representasi simbol kimia (rumus kimia). Kegiatan
pelatihan pembelajaran sains aspek kimia SMP ini bertujuan 1) meningkatkan
penguasaan konsep-konsep dasar kimia, (2) meningkatkan kemampuan merancang,
mengimplementasikan, dan menyempurnakan sejumlah model-model pembelajaran
yang saling menguatkan dalam pembelajaran sains kimia, dan (3) meningkatkan
apresiasi guru-guru IPA SMP dalam pemeblajaran sains aspek kimia, serta
mengidentifikasi kendala-kendala dalam pelaksanaan program pelatihan. Strategi
pencapaian tujuan melibatkan sosialisasi dan pembuatan kesepakatan jadwal
pelaksanaan program, pembekalan materi aspek kimia SMP, pelatihan analisis
konsep, pelatihan/pendampingan pengembangan tiga jenis model pembelajaran (RPP
dan kelengkapannya) melalui workshop, pendampingan implementasi model
pembelajaran di kelas, dan melakukan refelksi dan penyempurnaan model
pembelajaran yang dihasilan berdasarkan data implemnetasi di kelas. Metode
pengumpulan data hasil kegiatan disesuaikan jenis data yang diperlukan pada setiap
tahapan kegiatan. Karya utama dari kegiatan ini berupa (1) program pelatihan, (2)
hasil identifikasin dan analisis konsep, dan (3) tiga jenis model pembelajaran sains
aspek kimia yang merepresentasikan variasi karakteristik konsep sains. Analisis
semua data dilakukan secara deskriptif. Kegiatan P2M ini secara keseluruhan cukup
berhasil dilihat dari antusiasme, tingkat partisifasi, peningkatan pengetahuan yang
secara tidak langsung dapat dilihat dari produk analisis konsep dan RPP dari hasil
kegiatan pelatihan, dan tanggapan positif dari guru peserta pelatihan dan siswa yang
mengikuti pembelajaran di kelas dengan model pembelajaran yang dihasil dalam
program pelatihan guru.
Kata-kata kunci: analisis konsep, model pembelajaran, aspek kimia, makroskopik,
mikroskopik, dan simbolik

PENDAHULUAN
Guru-guru IPA SMP di Kecamatan Tejakula yang tergabung dalam wadah
MGMP Kecamatan menyadari dan memerlukan bantuan untuk mengatasi kesulitan
mengajarkan sains aspek kimia sebagai bagian integral dari kompetensi-kompetensi
bahan kajian sains dalam KTSP 2006. Guru-guru IPA SMP menganggap kompetensi
kajian materi dan sifatnya (sains aspek Kimia) dengan alokasi waktu sekitar 1 SKS
sebagai bidang baru di SMP. Kebutuhan pelatihan pengembangan program
pembelajaran sains kimia SMP secara bermakna sesuai dengan perkembangan siswa

99
SMP diperkuat oleh pernyatan Ketua MGMP Kecamatan Tejakula yang diketahui
oleh Kepala Unit Pelaksana Pendidikan (UPP) Kecamatan Tejakula. Keluhan
kesulitan pemebelajaran kimia oleh guru-guru IPA SMP juga terungkap dalam forum-
forum ilmiah terkait dengan pembelajaran kimia dalam dekade terakhir. Keadaan
demikian sangat rasional. Guru-guru IPA SMP kurang memiliki latar belakang
pendidikan Kimia yang memadai. Sebelum pelaksanaan Kegiatan ini, belum pernah
secara berarti mendapatkan inservice pembelajaran kimia untuk siswa SMP.
Rendahnya kualitas pembelajar aspek kimia di SMP juga diungkap oleh guru-
guru Kimia jenjang SMA/SMK. Keluhan dari banyak guru-guru kimia SMA tersebut
disampaikan kepada pengusul ketika bertugas membimbing mahasiswa PPL di SMA.
Mereka mengeluhkan bahwa kebanyakan siswa kelas X SMA tidak memiliki secara
memadai pengetahuan kimia yang semestinya sudah diajarkan pada jenjang SMP dan
mempertanyakan efektifitas implementasi KBK 2004 dan KTSP 2006 untuk
pembelajaran bahan kajian materi dan sifatnya di SMP.
Tim pelaksana sangat menyadari hal ini, apalagi ketua tim sangat intensif
mengkaji kesulitan-kesulitan pembelajaran aspek kimia di SMP sejak tahun 2000
dalam rangka turut mewujudkan masyarakat melek sains (termasuk kimia) sebagai
sasran paradigma pendidikan Science for All untuk hidup dalam zaman sains dan
teknolgi yang terus berkembang dengan cepat. Sekarang sudah saatnya mengajarkan
kajian materi dan sifat (aspek kimia) kepada siswa SMP, bukan karena program
wajib belajar sembilan tahun semata. Materi dan sifatnya merupakan kebutuhan
dasar hidup dan bahkan reaksi kimia merupakan proses hidup itu sendiri. Kualitas
pemahaman materi dan sifatnya menentukan kualitas hidup baik perorangan maupun
masyarakat. Kasus penyalahgunaan dan kekurangtepatan penggunaan bahan makanan,
obat, dan pakaian marak terjadi terutama pada masyarakat yang tidak melek sains
aspek kimia. Sementara profesionalisme pembelajaran sains aspek kimia secara
bermakna yang melibatkan pengaitan kajian aspek makroskopik (sifat konkrit), aspek
mikroskopik (partikel penentu sifat materi), dan simbolik (terutama rumus kimia
sebagai identitas materi) pada siswa SMP (pemula dalam belajar kimia) menuntut
perhatian khusus terutama dalam penumbuhan minat belajar kimia dan penanaman
konsepsi awal secara benar tentang konsep-konsep dasar kimia untuk mencegah
terjadinya miskonsepsi yang resisiten tentang konsep-konsep yang sangat mendasar
seperti zat, unsur, senyawa, campuran, dan reaksi kimia.

100
Pembelajaran materi dan sifatnya hendaknya diajarkan dengan benar dan
bermakana pada siswa SMP. Jika masalah ini tidak diatasi akan berdampak pada
keterbelakangan yang menyebar secara estapet pada generasi muda mengikuti deret
ukur (eksponensial). Kualitas hidup masyarakat cendrung menurun, karena tidak bisa
mewaspadai dan tidak bisa menggunakan secara benar dan efektif terutama bahan
dan produk industri yang terus membanjiri pasar.
Dari tahun 2002-2006, ketua tim secara khusus mencari solusi terhadap
permasalahan di atas. Melalui karya disertasi yang berjudul Pengembangan Materi
Pemelajaran Kimia di SMP dalam Rangka Pendidikan Science for All (Sudria,
2006) berhasil diformulasikan materi-materi pembelajaran aspek kimia dengan
mempertimbangkan keterkaitan kajian tiga aspek penting (aspek makroskopik,
mikroskopik, dan simbolik) dalam belajar kimia secara bermakna sesuai dengan
jenjang siswa SMP (pebelajar kimia pemula). Pengusul berhasil pula mengembangkan
tiga model pembelajaran sains aspek kimia SMP. Secara keseluruhan, ketiga model
cukup merepresentasikan strategi pembelajaran sains secara efektif. Ketiga model
pembelajaran tersebut adalah (1) model pembelajaran zat dan campuran berbasis
kegiatan laboratorium pada siswa kelas VII yang menekankankan pada upaya
penumbuhan minat belajar kimia pada siswa SMP; (2) model pembelajaran unsur,
senyawa, dan campuran berbantuan interaktif komputer untuk siswa kelas VIII yang
menekankankan pada pembelajaran bentuk partikel materi sebagai dasar pemberian
rumus kimia suatu zat dengan memulai dari penggunaan contoh-contoh zat dengan
partikel (rumus kimia) sederhana dalam rangka belajar bermakna (mengurangi belajar
hafalan); dan (3) model pembelajaran kimia dalam kehidupan sehari-hari berbasis
proyek sains yang menekankan pendekatan sains-teknologi-masyarakat (STM).
P2M ini bertujuan untuk (1) meningkatkan penguasaan konsep-konsep dasar
kimia dari guru-guru IPA SMP, (2) meningkatkan kemampuan guru IPA SMP untuk
merancang/mengembangkan, mengimplementasikan, dan menyempurnakan sejumlah
model pembelajaran yang saling menguatkan dalam rangka pembelajaran sains kimia
yang komprehensip dan bermakna sesuai dengan perkembangan belajar siswa SMP,
(3) meningkatkan apresiasi guru-guru IPA dalam mengajar sains aspek kimia di
SMP, dan (4) mengidentifikasi kendala-kendala dalam pelaksanaan program.
Keberhasilan kegiatan P2M ini diharapkan dapat diketoktularkan melalui media
komunikasi ilmiah dan/atau perluasan pelatihan pada guru-guru IPA SMP lain.

101
MATERI DAN METODE

Materi pelatihan memfokuskan pada penguasaan konsep melalui pembekalan


materi dan analisis konsepsi, dan tiga jenis model pembelajaran konsep-konsep dasar
yang dibutuhkan untuk kimia secara bermakna bagi pemula (SMP). Kajian materi dan
sifatnya (aspek kimia) dalam buku-buku IPA SMP banyak yang membingungkan dan
cendrung akan membunuh minat belajar kimia pada siswa seperti tuntutan
penggambaran molekul-molekul glukosa dan sabun yang rumit dengan lambang
ikatan kovalennya (siswa belum mengenal atau diajarkan ikatan kovalen, apa lagi
lambang ikatan kovalen). Partikel-partikel materi atom, molekul, ion, dan rumus-
rumus kimia harus dihafal oleh siswa dan bahkan oleh gurunya.
Kesulitan mengajarkan kimia secara bermakana yang melibatkan keterkaitan
kajian aspek makroskopis, mikroskopis, dan simbolik pada pebelajar pemula terletak
pada pengenalan aspek mikroskopis (partikel materi) dan aspek simbolik (rumus
kimia) yang berkesan abstrak. Sesungguhnya pelajaran kimia mikroskopis (struktur
partikel materi) tidak abstrak dan rumus kimia pun terkait dengan objek nyata, tetapi
karena ukuran partikel materi yang sangat kecil (tidak kasat mata) membawa kesan
abstrak. Pengenalan aspek mikroskopis dan simbolik kimia pada siswa SMP harus
menggunakan model-model kimia yang sesuai dengan perkembangan kognitif dan
belajar siswa SMP. Sebagai contoh, bentuk molekul dengan model penggabungan
bola-bola kecil (bola sebagai model atom) untuk menyajiakn model molekul
cenderung lebih mudah dipahami dibanding dengan molel ball and stick yang
melibatkan lambang ikatan kovalen yang belum dikenal siswa SMP dan pembelajaran
lambang ikatan sendiri memerlukan alokasi maktu yang lama.
Contoh-contoh zat yang molekulnya akan disajikan hendaknya berupa zat yang
memiliki molekul sederhana, bukan molekul besar/kompleks seperti glukosa ataupaun
molekul sabun yang rumit. Jika zat-zat yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari
(sangat konteksual) harus diperkenalkan kepada siswa seperti glukosa (hasil
fotosintesis) dan sabun dengan bentuk molekul yang rumit hendaknya cukup
menggunakan gambar ilustrasi bentuk kasar/disederhanakan (tidak bentuk molekul
sebenarnya). Jika ingin mengenalkan partikel-partikel materi yang rumit sebaiknya
dikenalkan pada akhir kelas VIII atau pada kelas IX sebagai pengayaan.
Kesulitan-kesulitan yang dialami guru-guru IPA SMP di lapangan dalam
mengajarkan kimia sangat beralasan, karena hampir semua guru-guru IPA SMP

102
berlatar belakang Pendidkan Biologi atau Fisika dengan latar Pendidikan Kimia
kurang memadai. Bahkan guru-guru IPA SMP yang berlatarbelakang formal
Pendidikan Kimia dengan jumlah relatif sangat kecil juga mengalami masalah dalam
pembelajaran Kimia untuk siswa SMP, karena mereka dipersiapkan menjadi guru
Kimia SMA/SMK dan tidak dipersiapkan secara khusus untuk mengajar aspek kimia
kepada siswa SMP.
Identifikasi dan analisis konsep-konsep dasar sains aspek kimia SMP dengan
menggunakan format yang dikembngkan oleh Herron (1977) sangat bermanfaat bagi
guru-guru IPA dalam menguasai konsep dan mengembangkan strategi
pembelajarannya. Analisis konsep tersebut meliputi penentuan label konsep, definisi
konsep (konsepsi), jenis konsep, ciri-ciri (attributes) kritis dan variabel, posisi konsep
(supraordinate, ordinate, dan subordinate), contoh dan noncontoh. Tujuh jenis
konsep dapat dikenali dari ciri kritis dan contohnya yakni 1) konsep konkrit (K), 2)
konsep abstrak (Ab), 3) konsep dengan ciri kritis abstrak tetapi contohnya konkrit
(AbK), 4) konsep berdasarkan prinsip (BP), 5) konsep yang melibatkan simbol (S), 6)
konsep yang menyatakan proses (MP), dan 7) konsep yang menyatakan sifat (MS).
Setiap informasi kimia (pengetahuan maupun prosedural) dapat dikategorikan
menjadi salah satu dari ketujuh jenis konsep tersebut. Jenis konsep akan memberi
pertimbangan dalam memilih strategi pembelajaran konsep tersebut.
Aspek-aspek yang harus diungkap dalam analisis konsep dengan menggunakan
format Herron sangat berguna dalam perbaikan konsepsi pengembangan strategi
pembelajaran konsep yang teridentifikasi. Melakukan analisis konsep sekaligus
merupakan kegiatan refleksi bagi guru terhadap kualitas konsepsi ilmiah dari konsep-
konsep yang akan diajarkan kepada siswa. Kegiatan demikian akan berdampak pada
pembenaran suatu konsepsi terhadap miskonsepsi yang terjadi terhadap konsep
tersebut. Identifikasi semua konsep penting dan konsepsi ilmiah dari masing-masing
konsep tersebut sesuai dengan perkembangan siswa akan mengingatkan guru maupun
siswa tentang isi belajar (konsep-konsep aspek kimia) yang benar dan harus dikuasai.
Jenis konsep sesuai dengan ciri kritis konsep mengarahkan pendekatan dan metode
pembelajaran yang efektif untuk pembelajaran konsep tersebut dan akan mencegah
pembelokan fokus belajar. Ciri variabel dari konsep akan mengingatkan dan
mengarahkan keluasan pengembangan konteks pembeljaran konsep tersebut.
Sementara posisi konsep akan mengingatkan hubungan dengan konsep lain baik
secara vertikal maupun horizontal yang akan meningkatkan kebermaknaan konsep.
103
Ketepatan contoh dan noncontoh dari konsep mengontrol kebenaran dan ketepatan
konsepsi dari konsep tersebut.
Kegiatan P2M ini mengembangkan tiga jenis model pembelajaran inovatif sains
aspek kimia yang merepresentasikan variasi karakteristik konsep kimia. Ketiga model
tersebut adalah model pembelajaran berbasis kegiatan laboratorium, model
pembelajaran interaktif berbasis komputer, dan model pembelajaran berbais proyek
sains. Karateristik ketiga jenis model disajikan dalam Tabel 1.
Tabel 1 Rasional, Outcomes, Sintak, dan Lingkungan Sosial
dari Masing-Masing Model Pembelajaran.
Program Pembelajaran
Model Berbasis Kegiatan Model Berbasis Kegiatan Model Berbasis Kegiatan
Laboratorium (Aspek Interaktif Komputer (Unsur, Proyek Sains (Kimia dalam
Konkrit Zat dan Campuran Senyawa, & Campuran) Masyarakat)
Rasional Teoritik: Rasional Teoritik: Rasional Teoritik:
konstruktivis konstruktivis konstruktivis
isi pelajaran: proses teknologi komikasi & kognitif
prosedural konkrit dominan informasi (TIK/ICT) behavioral
(kemampuan dasar kimia) isi pelajaran: proses kognitif social
dengan obyek mikroskopik isi pelajaran: proses
dan simbol dominan (peng- penemuan sains atau
unaan model mikroskopik) pemecahan masalah
Outcomes pada siswa kelas Outcomes pada siswa kelas Outcomes pada siswa kelas
VII: VIII atau kelas VII: IX:
penguasaan konsep dan konsep dasar kimia penerapan konsep & prosedur
kemampuan kerja dasar kimia diskoveri dasar kimia
inkuiri inkuiri
pemecahan masalah
Sintak pembelajaran : Sintak pembelajaran: Sintak pembelajaran:
pendekatan inkuiri pendekatan diskoveri (inkuiri pendekatan STM - inkuiri
metode eksperimen/ terbimbing) metode proyek sains
percobaan metode interaktif komputer kerja kelompok
kerja kelompok: mencermati kerja kelompok mengenali, mengidentifikasi masalah di
masalah/tujuan eksperimen, menggolongkan, menyimpul- masyarakat, identifika si sains
melakukan eksperimen/ kan, & menjelaskan model- yang dapat diterapkan, dan
percobaan, pengamatan, model mikroskopik yang merancang solusi, melakukan
pelaporan hasil, diskusi, dan diberikan; tugas pengayaan; eksperimen, melaporkan hasil
mengerjakan tugas pengayaan eksperimen, dan diskusi kelas (foster dan presentasi)
Lingkungan sosial kelas: Lingkungan sosial kelas: Lingkungan sosial kelas:
kerja kelompok kecil siswa aktif Kerja kelompok kecil
siswa aktif (hand-on dan mind-on siswa aktif (mind-on & hand-
mind-on) Belajar melalui program on)
interaktif komputer masyarakat, laboratorium,
dan produk/teknologi kimia

Program pelatihan pembelajaran sains aspek kimia kepada siswa SMP


melibatkan beberapa tahapan dengan metode yang disesuaikan dengan jenis tahapan
kegiatan. Tahapan pelaksanaan kegiatan meliputi (1) sosialisasi dan pembuatan
104
kesepakatan jadwal pelaksanaan program dengan metode tatap muka negosiasi
(informasi, diskusi, dan akomodasi masukan), (2) pembekalan materi dengan metode
informasi, diskusi, dan penugasan analisis konsepsi, (3) pelatihan pengembangan tiga
jenis model pembelajaran (RPP dan kelengkapannya) dengan metode workshop yang
didahului dengan pembekalan, (4) implementasi model pembelajaran di kelas dengan
metode pendampingan penerapan program, dan (5) pendampingan terhadap guru
untuk melakukan refelksi dan penyempurnaan model pembelajaran dengan metode
presentasi dan diskusi hasil implementasi model pembelajaran di kelas.
Keberhasilan pelaksanaan kegiatan secara keseluruhan dapat dilihat dari
antusiasme dan tingkat partisifasi peserta pelatihan, peningkatan pengetahuan yang
secara tidak langsung dapat dilihat dari produk analisis konsep dan RPP dari hasil
kegiatan pelatihan, dan tanggapan guru peserta terhadap keseluruhan kegiatan yang
yang diikuti di kelas. Analisis semua data hasil kegiatan dilakukan secara deskriptif.

HASIL DAN PEMBEHASAN


Kegiatan P2M ini menghasilkan (1) program pelatihan, (2) hasil identifikasi dan
analisis konsep-konsep dasar aspek kimia SMP, (3) tiga jenis model pembelajaran
aspek kimia SMP, dan (4) tanggapan terhadap efektifitas model yang dikembangkan
dari guru-guru peserta pelatihan dan siswa yang mengikuti model pembelajaran
tersebut.
Program pelatihan secara keseluruhan memfasilitasi pencapaian tujuan
pelatihan. Kelengkapan atau perangkat pelatihan meliputi (1) lima unit teks materi
aspek kimia SMP yang disesuaikann dengan jenjang kelas (asam-basa kelas VII, zat
dan campuran kelas VII, unsur dan senyawa kelas VIII, kimia di sekitar kelas VIII/IX,
dan Kimia dalam Masyarakat untuk kela VIII/IX), (2) contoh analisis beberapa
konsep dengan format Heroon (1977), (3) tiga contoh jenis model pembelajaran
disertai lember kerja siswa (LKS) sesuai dengan model pembelajaran, dan contoh
instrumen asesmen (tes, rubrik, dan angket) yang disesuaikan dengan sasarannya.
Perangkat pelatihan tersebut telah memfasitasi kelancaran pelaksanaan tahapan-
tahapan kegiatan pelatihan.
Secara keseluruhan, kegiatan P2M berhasil dengan baik. Tahapan kegiatan dari
sosialisasi, pembekalan materi, analisis konsesp, pemebekalan tigan model
pembelajaran sains (model berbasis laboratorium, model interaktif berbasis komputer,
dan model brbasis proyek sains), workshop pengembangan ketiga model
105
pembelajaran, dan implementasi model pembelajaran di kelas berjalan dengan baik.
Peserta antusias mengikuti seluruh kegiatan. Kehadiran peserta (guru IPA) mengikuti
latihan setiap kegiatan cukup tinggi (>80%) dan inisiatif bertanya didominasi oleh
peserta pelatihan.
Sosialisasi program cukup menentukan kelancaran kegiatan. Jadwal semester
pembelajaran sains aspek kimia yang jatuh pada bulan Nopember sedikit menjadi
kendala di awal untuk mengimplementasikan program di kelas. Tim pelaksana
mengusulkan implementasi (di kelas) rancangan program pembelajaran (yang akan
dihasilkan dari kegiatan workshop pada bulan Juli-Agustus) dapat dilaksanakan pada
bulan September-Oktober, karena pelaporan keseluruhan kegiatan IbM ini dilakukan
pada bulan Nopember. Ketika pertemuan pertama dengan seluruh peserta dalam
kegiatan sosialisasi program, guru-guru belum berani mengubah jadwal urutan
pembelajaran kompetensi dasar sains, meskipun masih dalam satu semester. Mereka
masih membicarakannya dalam pertemuan MGMP Kecamatan yang biasanya
dilakukan setiap bulan.
Alasan yang diajukan oleh tim pelaksana dianggap cukup rasional. MGMP
kemudian menyetujui pertukaran jadwal yang diusulankan. Pemindahan urutan jadwal
pembelajaran kompetensi sains lain dalam satu semester dan bahkan antar semester
dalam sebuah jenjang pendidikan (seperti jenjang SMP) masih dimungkinkan dalam
KTSP jika diperlukan untuk mengoptimalkan hirarki pembelejaran konsep dalam
rangka meningkatkan kualitas pembelajaran. Pertukaran urutan jadwal pembelajaran
pemisahan campuran (aspek kimia) dan pembelajaran wujud zat dan perubahannya
(aspek fisika) pada semester kelas VII semester 1 tidak secara signifikan
menyulitkan penguasaan kompetensi secara keseluruhan pembelajaran sains di kelas
VII semester 1. Bahkan pembelajaran unsur dan senyawa di kelas VII perlu
disatukan dengan pembelajaran partikel materi dan reaksi kimia di kelas VIII, karena
definisi unsur dan senyawa tidak mungkin dipahami di kelas VII tanpa dukungan
pengetahuan partikel materi dan reaksi kimia yang diprogramkan di kelas VIII.
Kegiatan pembekalan materi pelajaran sains aspek kimia SMP berjalan dengan
baik, meskipun peserta agak lambat menguasai materi pembekalan dan menyelesaikan
tugas latihan. Selama kegiatan pembekalan materi bahan kajian sains aspek kimia
tersebut, guru menunjukkan apresiasi yang tinggi, meskipun banyak pertanyaan dari
para peserta yang mengindikasikan bahwa kebanyakan guru IPA SMP kurang
memahami konsep-konsep sains aspek kimia bagi siswa SMP seperti konsepsi asam-
106
basa kelas VII menuntut sampai adanya ion H+, rumus kimia, dan asam lemah/kuat
(terlalu tinggi mestinya hanya demonstarsi pengenalan asam/basa dengan kertas
lakmus atau pH meter, siswa belum diajar partikel materi dan rumus kimia); beda zat
(zat murni) dengan materi; beda atom dengan unsur; dan beda molekul dan senyawa.
Pertanyaan-pertanyaan mengenai konsespsi tentang konsep-konsep dasar sains dan
pernyataan konsepsi yang termasuk miskonsepsi masih banyak muncul ketika
kegiatan kedua (analisis konsep) sudah dimulai.
Sebelum kegiatan ini dilaksanakan guru-guru IPA SMP relatif sulit memehami
konsep-konsep dasar kimia bagi pebelajar pemula yang menuntut keterkaitan kajian
makroskopik, mikoskopis, dan simbolik mulai dari contoh-contoh konkrit dengan
partikel atau simbol (rumus kimia) yang sederhana untuk membangkitkan minat
belajar. Pemberian teks materi pembekalan dimaksudkan untuk menyamakan persepsi
atau konsepsi tentang konsep-konsep sains aspek kimia dan organisasi
pembelajarannya di SMP sesuai dengan tahapan perkembangan pebelajar kimia
pemula. Buku-buku sains yang beredar di pasar banyak menggunakan contoh-contoh
zat atau bahan kimia yang tidak sesuai dengan perkembangan belajar kimia siswa
SMP sebagai pebelajar kimia pemula dan juga banyak ditemukan miskonsepsi.
Peserta sangat menyambut kehadiran kelima unit teks bahan kajian sains aspek kimia
untuk siswa SMP tersebut. Penyedian bimbingan jika diperlukan terutama melalui
telpon/internet kapan saja maupun secara langsung di lapang. Setelah mengikuti
pembekalan materi dan analisis konsepsi pemahaman materi menjadi lebih baik yang
terindikasi dari rumusan aspek-aspek dalam analisis konsep yang membaik.
Kegiatan analisis konsepsi (kegiatan kedua dalam pelatihan) dengan
menggunakan format analisis konsepsi dari Herron (Tabel 2) cukup efektif untuk
melakukan perbaikan konsepsi tentang konsep-konsep dasar kimia untuk jenjang
SMP. Peserta sangat antusias mengikuti pembekalan analisis konsep dan sangat aktif
bertanya dan berpendapat. Bahkan ketika latihan analisis konsep sudah di mulai, guru-
guru cendrung masih kurang percaya diri untuk menentukan konsep dan merumuskan
konsepsinya. Sepanjang kegiatan anlisis konsep juga secara tidak langsung masih
diwarnai dengan pembekalan materi. Pada akhir hari pertama kegiatan pembekalan
dan latihan analisis konsep, guru disarankan untuk melanjutkan analisis konsep di
rumah dan di bahas pada pertemuan berikutnya. Pada pertemuan kedua analisis
konsep belum berhasil mengidentifikasi semua konsep dari bahan kajian materi dan
sifatnya untuk SMP. Oleh karena keterbatasan alokasi waktu pelaksanaan analisis
107
konsep, hasil identifikasi dan analisis terhadap konsep-konsep yang belum
teridentifikasi diberikan oleh tim pelaksana kegiatan pelatihan untuk
dipertimbangkan.
Hasil analisis konsep dari beberapa contoh konsep yang sudah berhasil
diidentifikasi disajikan dalam Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Analisis Kosepsi dari Beberapa Contoh Konsep Sains Aspek Kimia
SMP

Label Jenis Atribut Posisi Konsep


Kon- Definisi kon- Kritis Varia Supra- Koor- Subor- Contoh Non-
Konsep sep contoh
sep -bel ordinat dinat dinat
Kelas VII
Materi Materi K menempati besar alam  ener  zat batu
  panas
menempati ruang (mem- ruang gi  Cam-  air  listrik
ruang, dan punyai volum) besar puran  udara
mempunyai mempunyai massa
massa massa
Zat Zat berupa AbK  materi  wuju  materi  cam-  unsur  air  udara
materi tunggal tunggal/ d pura  senya  emas  air
murni  jenis n wa  Oksi- laut
(murni), gen
mempunyai  mempu-nyai parti  tanah
partikel-parti- parti-kel kel
kel yang sama, materi yang
dan tidak dapat sama
dipisah-kan  tidak dapat
secara fisika dipisahkan
mengha-silkan secara fisika
zat lain
Campu Campuran BP  terdiri dari dua  maca  materi  zat  larutan  tanah  air
ran terdiri dari dua zat atau lebih m zat  cam-  air  emas
zat atau lebih  zat-zat penyu puran yang 

yang dapat penyusun sun hete- berlu oksig


dipisahkan dapat  kadar rogen mpur en
dipisahkan /kom 
secara fisika
secara fisika posisi batuan
dan masih
mempunyai  masih
sifat zat-zat mempunyai
penyusun-nya sifat zat-zat
penyusun-nya

Pembekalan tiga jenis model pembelajaran inovatif sains aspek kimia (model
pembelajaran berbais kegiatan laboratorium, model pembelajaran interaktif berbasis
komputer, model pembelajaran berbais proyek sains) dilakukan sekali (satu hari) dan
dilanjutkan dengan workshop membuat prangkat pembelajaran ketiga model
pembelajaran sebanyak tiga kali (setiap sabtu selama tiga minggu). Rangkuman
komparasi karakteristik ketiga jenis model pembelajaran untuk topik tertentu telah

108
disajikan dalam Tabel 1 di atas. Ketiga jenis model pembelajaran tersebut dianggap
merepresentasikan penyesuaian model pembelajaran dengan karakteristik isi
kompetensi sains aspek kimia dan perkembangan belajar kimia bagi siswa SMP
(pemula membangun konsepsi kimia) yang melibatkan kajian aspek makroskopik,
mikroskopik, dan/atau simbolik.
Model pembelajaran zat dan campuran berbasis laboratorium dan model
pembelajaran interaktif berbasis komputer dapat diimplementasikan langsung di kelas.
Guru memilih untuk menerapkan model pembelajaran berbasis kegiatan proyek sains
pada kegiatan ekstrakurikuler karya ilmiah dan tidak melakukan pada kelas biasa
karena memerlukan waktu yang cukup lama. Kedua model (model pembelajaran
berbasis kegiatan laboratorium dan model pembelajaran interaktif berbasis komputer)
diimplementasikan di setiap sekolah oleh guru-guru IPA SMP di sekolah terebut
secara team teaching yang didampingi oleh tim dosen (pelatih). Efektifitas
pelaksanaan kegiatan terutama dilihat dari kecocokan tanggapan guru dan siswa
terhadap implementasi model pemebalajaran (hasil kegiatan latihan) di kelas.
Guru antusias menerapkan rancangan pembelajaran di kelas. Beberapa guru
bahkan datang ke SMP lain sebagai observer pada tampilan pembelajaran yang
dilakukan oleh peserta dari sekolah tersebut. Kegiatan implementasi program
pembelajaran di kelas hanya wajib dihadiri anggota tim mengajar di sekolah tersebut,
namun peserta dari sekolah lain boleh sebagai observer atau membantu tim mengajar
yang diobservasi, di samping tim pelatih (dosen) sebagai pendamping.
Hanya model pembelajaran zat dan campuran berbasis laboratorium dan model
pembelajaran interaktif berbasis komputer dapat diimplementasikan di kelas. Model
pembelajaran berbasis kegiatan proyek tidak dilakukan pada kelas biasa karena
memerlukan waktu yang cukup lama dan akan dilakukan pada siswa yang memilih
ekstrakurikuler karya ilmiah (belum dilaksanakan). Kedua model (model
pembelajaran berbasis kegiatan laboratorium dan model pembelajaran interaktif
berbasis komputer) diimplementasikan di setiap sekolah oleh guru-guru IPA SMP di
sekolah terebut secara team teaching yang didampingi oleh tim dosen (pelatih).
Pada awalnya guru merasa kurang nyaman didampingi oleh dosen pelatih.
Namun karena dosen menempatkan posisi sebagai observer dan sekaligus sebagai
kolega yang membantu mengefektifkan pelakanaan pembelajaran oleh guru, dosen
pada pertemuan berikutnya cukup diterima sebagai kolega. Refleksi pelaksanaan
implementasi model pembelajaran di sekolah setempat berdasarkan hasil observasi
109
dosen pendamping dan guru dalam team teaching. Tanggapan berupa STS (sangat
tidak setuju), TS (tidak setuju), BS (biasa saja), S (setuju), dan SS (sangat setuju) dari
sejulam sampel siswa SMP di Kecamatan Tejakula terhadap pembelajaran yang
mengikuti pembelajaran dengan model dan perangkat pembelajaran untuk model
pemebalajaran zat dan campuran berbasis kegiatan laboratorium disajikan pada Tabel
3 dan untuk model pembelajaran interaktif unsur, senyawa, dan campuran berbasis
komputer disajikan dalam Tabel 4. Sementara tanggapan yang berupa TS (tidak
setuju), BS (biasa saja), dan S (setuju) dari guru peserta pelatihan terhadap
pelaksanaan kegiatan pelatihan ini disajikan dalam Tabel 5

Tabel 3. Tanggapan Siswa SMP Kelas VII Kecamatan Tejakula yang Mengikuti
Pembelajaran Zat dan Campuran Berbasis Kegiatan Laboratorium
Tanggapan (% Siswa)
No Pernyataan
STS TS BS S SS
1 Pengetahuan zat dan campuran disajikan dengan jelas. 0 0 2 39 18
2 Pelatihan melakukan pengamatan dilakukan dengan baik. 0 0 1 21 37
3 Pelatihan kemampuan melakukan percobaan untuk membuat 0 0 2 43 14
kesimpulan dilakukan dengan baik.
4 Pelatihan kemampuan untuk melakukan perhitungan dasar 0 1 8 46 4
dilakukan dengan jelas seperti menghitung perbandingan massa zat
dalam campuran
5 Pengetahuan dan proses untuk menguatkan kemampuan kimia 0 0 6 41 12
seperti menggunakan mssa jenis zat dalam larutan diberikan
dengan baik.
6 Langkah-langkah belajar memeberi kesempatan kepada siswa 0 6 13 31 9
untuk menemukan sendiri pengetahuan yang dipelajari (tidak
dipaksa untuk menerima pengetahuan yang diceramahkan guru).
7 Langkah-langkah kerja praktikum atau diskusi dalam lembar 0 0 3 42 14
kegiatan siswa (LKS) disajikan dengan jelas.
8 Tugas-tugas dalam LKS adalah jelas. 0 0 12 40 8
9 Bahan pelajaran dituliskan dengan jelas. 0 0 1 26 7
10 Komentar atau masukan dari guru terhadap hasil kerja tugas-tugas 0 0 1 38 19
untuk perbaikan jawaban atau hasil dapat mengarahkan siswa
memperbaiki dan memahami jawaban yang benar.
11 Pelajaran kimia hendaknya terus diberikan 0 4 10 34 10
12 Pengetahuan kimia sangat berguna pada kehigupan sehari-hari 0 0 7 33 19
Keterangan: STS = sangat tidak setuju; TS = tidak setuju; BS = biasa-biasa saja;
S = setuju), dan SS = sangat setuju.

Tabel 4. Tanggapan Siswa SMP Kelas VIII Kecamatan Tejakula yang Mengikuti
Pembelajaran Unsur, Senya, dan Campuran Berbasis Kegiatan Interaktif
Berbantuan Komputer
Tanggapan (% Siswa)
No Pernyataan
STS TS BS S SS
1 Pengetahuan unsur, senyawa, dan campuran disajikan dengan jelas. 0 0 6 22 24

110
2 Siswa dilatih dengan baik menggunakan hasil pengamatan dari 0 4 4 28 16
pengalaman sendiri dan informasi dari sumber lain (tayangan
komputer) dalam belajar unsur, senyawa, dan campuran.
3 Siswa dilatih dengan baik menggunakan model partikel materi 0 0 5 22 25
melalui program interaktif komputer untuk memahami unsur,
senyawa, dan campuran.
4 Siswa tidak akan memahami unsur, senyawa, dan campuran 0 10 21 15 6
dengan baik tanpa penggunaan model partikel materi dari unsur,
senyawa, dan campuran.
5 Langkah-langkah kegiatan dalam LKS (termasuk program 2 10 10 23 7
interaktif komputer) dengan jelas mengarahkan siswa menemukan
sendiri pengertian unsur, senyawa, dan campuran (tidak dipaksa
menghafal pengetahuan yang diceramahkan guru).
6 Tugas-tugas dalam LKS adalah jelas. 1 6 21 17 7
7 Bahan pelajaran ditulis dengan jelas. 0 3 11 30 8
8 Komentar atau catatan koreksi dari guru terhadap jawaban atau 0 0 4 18 31
hasil kerja tugas-tugas mengarahkan siswa memperbaiki jawaban
yang salah dan memahami jawaban yang benar.

Tabel 5. Distribusi Tanggapan Guru-guru IPA SMP Kecamatan Tejakula


Sebelum dan Setelah Mengikuti Pelatihan terhadap Aspek-aspek
Pembelajaran Sains Aspek Kimia SMP
Sebelum SetelahPel
Pelatihan atihan
No Pernyataan T B S TS BS S
S S
1 Mampu mengindentifikasi konsep-konsep dasar aspek kimia 5 4 5 0 0 13
untuk siswa SMP
2. Mampu membuat konsepsi ilmiah sebagian besar konsep-konsep 7 5 2 0 0 13
dasar aspek kimia dengan menghu-bungkan sifat konkrit (aspek
makroskopik), partikel materi (aspek mikroskopik), dan rumus
kimia (aspek simbolik) dari materi untuk siswa SMP
3 Mampu menunjukkan sifat-sifat konkrit/makroskopik (sifat yang 7 4 3 0 0 13
dapat diamati) seperti sifat mudah terbakar, mengendap,
perubahan warna dari materi)
4 Mampu menjelaskan partikel materi atau aspek mikroskopik 5 5 4 0 0 13
(atom, molekul, atau ion) sebagai penentu sifat dan identitas
materi
5 Sulit menjelaskan rumus kimia atau simbol-simbol kimia dari 1 2 11 5 2 6
suatu zat (pernyataan negatif)
6 Sulit menjelaskan terjadinya zat baru dengan model partikel 0 1 12 6 0 7
materinya (pernyataan negatif)
7 Sulit mengorganisasikan isi/konsep-konsep dalam pembelajaran 1 1 12 6 1 6
aspek kimia
8 Cenderung hanya menggunakan pendekatan deduktif (memberi 4 1 9 7 3 3
konsepsi/definisi di awal kemudian dilanjutkan dengan memberi
contoh-contoh atau pembuktian tentang konsepsi tersebut
(pernyataan negatif)
9 Mampu menggunakan pendekatan induktif (berangkat dari 3 5 7 1 0 12
contoh-contoh menuju simpulan) secara konsisten
10 Mampu menggunakan pendekatan deduktif (berangkat dari 1 5 8 2 1 10
simpulan/definisi konsep diikuti contoh-contoh pembuktian)

111
11 Mampu menetukan/memilih dan menerapkan metode-metode 3 4 7 0 1 12
pembelajaran dengan efektif
12 Mampu menetukan/memilih dan menerapkan teknik-teknik 2 4 8 0 2 11
pembelajaran dengan efektif (seperti teknik diskusi kelompok
kecil/panel) dalam penggunaan metode diskusi
13 Mampu menetukan/memilih dan menerapkan model 5 4 5 0 1 12
pembelajaran yang berbasis kegiatan laboratorium
14 Mampu menetukan/memilih dan menerapkan model 5 3 6 0 0 13
pembelajaran kimia yang berbasis program interaktif computer
sesuai tingkat perkembangan siswa SMP
15 Mampu menetukan/memilih dan menerapkan model 6 2 6 1 1 11
pembelajaran kimia yang berbasis kegiatan projek sains sesuai
tingkat perkembangan siswa SMP
Keterangan: TS = tidak setuju; BS = biasa-biasa saja; S = setuju

Secara keseluruhan baik guru-guru maupun siswa memberi tanggapan postif


terhadap kegiatan pelatihan ini.
Kegiatan pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan
ketiga model pembelajaran yang dilatihkan cendrung dapat dilanjutkan sendiri oleh
guru-guru IPA. Model pembelajaran yang sama dapat digunakan untuk mengajarkan
materi sains aspek kimia lain dengan karakteristik yang sama. Beberapa guru IPA
telah menyampaikan niatnya untuk melakukan penelitian tindakan kelas (PTK)
dengan menggunakan model pembelajaran yang dihasilkan untuk meningkatkan hasil
belajar siswa.

SIMPULAN
Antusiasme dan tingkat partisifasi guru-guru IPA mengikuti kegiatan P2M ini
tinggi. Kegiatan P2M ini telah menghasilkan beberapa produk yang sangat bermanfaat
bagi pelaksanaan pembelajaran sains aspek kimia secara bermakna di SMP. Pertama,
program pelatihan yang melibatkan tahapan sosialisasi prigram, pembekalan materi,
pelatihan analisis konsepsi, workshop pengembangan model pembelajaran,
pendampingan latihan penerapan model di kelas, dan refleksi hasil implementasi
model pembe;lajaran dan penyempurnaannya. Kedua, hasil identifikasi dan analisis
konsep sains aspek kimia untuk siswa SMP dengan sejumlah aspek penting (konsepsi
atau definesi konsep, cirri-ciri konsep, jenis konsep, posisi konsep, contoh dan non-
contoh dari setiap konsep) akan memberi arahan pada pemilihan strategi pembelajaran
konsep tersebut secara efektif dan menghindari terjadinya miskonsepsi pada pebelajar
yang diajar dengan perangkat pembelajaran untuk model tersebut. Ketiga, tiga model
pembelajaran sains aspek kimia yakni model pembelajaran berbasi kegiatan
laboratorium, model pembelajaran berbasis interaktif computer, dan model

112
pembelajaran sains berbasis kegiatan proyek sains cukup merepresentasikan dan
mengakomodasi model-model pembelajaran sains secara bermakna. Kemampuan
mengembangkan ketiga model ini merupakan asset berharga dalam pembelajaran sains
secara efektif sesuai dengan karakteristik materi pelajaran. Baik guru maupan siswa
memberi tanggapan positif terhadap program pelatihan ini.
Rencana pelaksanaan pembelajatan (RPP) dan perangkat pembelajaran dari
model yang dikembangkan sangat penting untuk menjamin implementasi aspek-aspek
belajar dalam model pembelajaran yang dirancang. Kejelasan rancangan isi, kefektifan
organisasi, dan ketepatan asesmen pembelajaran dalam RPP akan menentukan
efektifitas pencapaian tujuan dan sasaran belajar. Dukumen RPP dan perangkat
pembelajarannya yang berkualitas dapat digunakan langsung oleh guru lain untuk
mengajarkan konsep-konsep tersebut atau dirujuk dalam pembuatan RPP untuk
konsep-konsep sejenis.
Beberapa kendala dialami oleh guru dan siswa SMP. Isi dan sajian isi sains
aspek kimia dalam buku-buku pelajaran sains untuk siswa SMP yang digunakan
disekolah dan tersedia dipasar masih banyak mengandung miskonsepsi, belum
menumbuhkan motivasi belajar aspek kimia, dan kurang cocok bagi siswa SMP. Guru-
guru IPA SMP belum terbiasa merumuskan sendiri unit-unit teks pelajaran sesuai
dengan kebutuhan sendiri. Guru cendrung menggunakan langsung buku-buku
pelajaran yang tersedia di pasar tanpa memperhatikan kualitas isinya. Di samping itu
ketersediaan guru-guru IPA SMP yang berlatar khusus pembelajaran sains di SMP
sangat tidak memadai. Jurusan khusus Pendidikan Sains/IPA dengan lulusan yang
sekaligus menguasai pembelajaran sains aspek Fisika, Biologi, Kimia, dan IPBA)
untuk SMP masih sangat jarang di Indonesia, sementara formasi guru-guru muda (guru
baru) IPA didominasi oleh lulusan Pendidikan Fisika dan Pendidikan Biologi.
Ucapan terima kasih
Penghargaan yang tinggi diberikan kepada peserta pelatihan yang telah
berkomitmen memperbaiki pembelajaran aspek kimia terutama bagi pebelajar kimia
pemula karena telah memberikan lampu penerang dalam kegelapan pengetahuan dasar
kehidupan kepada generasi ke depan. Ucapan terima kasih disampaikan kepada
Ditlitabmas Dikti atas dana program IbM tahun 2011, LPM Undiksha atas
pengkoordinasian dan pengadministrasian program, dan semua pihak yang telah
membantu realisasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini.

113
DAFTAR PUSTAKA

American Association for the Advancement of Scinece. (1993). Benchmarks for


Science Literacy: Project 2061. NewYork : Oxford University Press.
Arikunto, S. (1986). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT Bina Aksara
Costa, A.L.. (1985). (Ed.). Developing Minds A Resource Books for Teaching
Thinking. United Stated of America : Association for Supervision and
Curriculum Development.
Dahar, R.W. (1996). Teori-Teori Belajar. Cetakan Kedua. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Kurikulum 2004 Kerangka Dasar.
Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional
---------, (2006), Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan. Jakarta : Departemen
Pendidikan Nasional
Gabel, D. (1999). Improving Teaching and Learning through Chemistry Education
Research: A Look to the Feature. Journal of Chemical Education. 76, 548-
553.
McDuell, B. (1986). Chemistry 1 3 Foundation Skills for 11-14 Year olds (Study
Aids). London : Charles Letts & Co Ltd.
Nakhleh, M.B. (1992). Why Some Students Dont Learn Chemistry. Journal of
Chemical Education. 69, 3, 191-195.
Rutherford F. J. and Ahlgren A.. (1990). Science for All Americans. New York :

Oxford University Press.

Sidi, I. (2002). Konsep Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup melalui


Pendidikan Berbasis Luas (BBE), Jakarta : Direktur Jendral Pendidikan Dasar
dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.
Siskandar, H. (2003). Pelayanan Profesional Kurikulum 2004 - Penilaian Kelas.
Jakarta : Depdiknas.
Stiggins, R, J. (1994). Student-Centered Clasroom assessment. New York : Maxwell
Macmillan International.
Sudria, I.B.N. (2006). Peningkatan Kualitas Konsepsi Kimia Mahasiswa tentang
Konsep-Konsep Dasar Kimia Melalui Optimalisasi Pengaitan Kajian Aspek
Makroskopis, Mikroskopik, dan Simbolik pada Perkuliahan Kimia Dasar.
Laporan hasil Penelitian pada STKIP Singaraja.
Sudria, I.B.N. (2007). Pengembangan Materi Ajar Kimia dan Pemecahan Materi Sulit.
Makalah disajikan dalam workshop yang diselenggarakan oleh Keluarga Besar
MGMP Kimia SMA Kabupaten Buleleng pada Tanggal 5 Oktober 2007
Sudria, I.B.N. (2008). Pengembangan Rubrik Asesmen Performan Keterampilan
Dasar Kimia dalam Perkuliahan Kimia Dasar. Laporan Hasil Penelitia pada
Universitas Pendidikan Ganesha Ainagaraja: tidak diterbitkan
Sudria, I.B.N. et al. (2000). Analisis Pembelajaran Konsep-konsep Kimia SLTP di
Kota Singaraja. Laporan hasil Penelitian pada STKIP Singaraja : tidak
diterbitkan.
The Natonal Academy of Science. (1996). National Science Education Standars.
Washington DC.: Nationat Academy Press.
Tim BBE Depdiknas. (2001). Konsep Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill
Education) (Buku I). Depdiknas.

114
Zainul, A. (2001). Alternative Assessment Applied Approach Mengajar di Perguruan
Tinggi Buku 2.09. Jakarta : Pusat Antar Universitas untuk Peningkatan dan
Pengembangan Aktivitas InstruksionalDirjen Dikti Depdiknas.

115