Anda di halaman 1dari 15

Skizofrenia Paranoid September 15, 2015

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan referat ini guna memenuhi
persyaratan Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa RSUD
Embung Fatimah Kota Batam.

Pada kesempatan ini tidak lupa penulis mengucapkan banyak terima kasih
kepada dr. Laila Sylvia Sari, Sp.KJ, atas bimbingan dan arahannya selama mengikuti
Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa RSUD Embung Fatimah
kota Batam.

Penulis sadar dalam penulisan referat ini bahwasanya masih banyak kekurangan
dalam penulisannya karena keterbatasan pengetahuan yang ada opada penulis. Kritik
dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan guna memperbaiki
penyusunan referat di kesempatan berikutnya.

Harapan penulis semoga referat ini dapat bermanfaat dalam menambah


pengetahuan serta dapat menjadi arahan dalam mengimplentasikannya di masyarakat.

Batam, September 2015

Penulis

Referat Ilmu Kesehatan jiwa 1


Skizofrenia Paranoid September 15, 2015

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR . 1

DAFTAR ISI . 2

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Definisi ... 5


1.2 Pedoman Diagnostik .. 5
1.3 Gejala gejala ... 7
1.4 Penatalaksanaan Farmakologi 8
1.5 Prognosis ... 12

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ... 14

DAFTAR PUSTAKA

Referat Ilmu Kesehatan jiwa 2


Skizofrenia Paranoid September 15, 2015

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Kesehatan adalah suatu kondisi yang bukan hanya bebas dari penyakit,
cacat, kelemahan tapi benar-benar merupakan kondisi positif dan kesejahteraan
fisik, mental dan social yang memungkinkan untuk hidup produktif. Manusia
adalah makhluk social yang membutuhkan orang lain dalam memenuhi
kebutuhannya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, individu dituntut untuk
lebih meningkatkan kinerjanya agar segala kebutuhannya dapat terpenuhi tingkat
social di masyarakat lebih tinggi (Dep kes RI, 2000).
Ketidakmampuan individu untuk beradaptasi terhadap lingkungan dapat
mempengaruhi kesehatan jiwa. Supaya dapat mewujudkan jiwa yang sehat,maka
perlu adanya peningkatan jiwa melalui pendekatan secara promotif, preventif,
dan rehabilitative agar individu dapat senantiasa mempertahankan kelangsungan
hidup terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya maupun pada
lingkungannya termasuk beberapa masalah gangguan jiwa yang diantaranya
Skizofrenia.
Skizofrenia merupakan salah satu bentuk gangguan jiwa psikosa
fungsional yang terdapat diseluruh dunia. Menurut The American Psychiatric
association (APA) tahun 2007 dilaporkan angka penderita skizofrenia mencapai
1 : 100 penduduk dan dikemukakan tiap tahun terjadi 300.000 episode akut, 35%
mengalami kekambuhan dan 20% - 40% yang diobati di rumah sakit, 20% - 50%
melakukan percobaan bunuh diri, dan 10% diantanya mati disebabkan bunuh
diri (APA, 2007).
Penderita skizofrenia menunjukan peningkatan jumlah dari tahun ke
tahun. Pada tahun 2006 World Health Organization merilis data bahwa sekitar
1,1% atau sekitar 51 juta penduduk dunia mengalami skizofrenia. Sebesar 50%,
angka tersebut berasal dari penderita yang mengalami kekambuhan (Brown,
2011).
Prevalensi penderita skizofrenia dengan berbagai jenisnya pada tahun
2007 di Indonesia adalah sebesar 0,45% (Riskesda Jateng, 2007). Pada prevalensi
penderita skizofrenia di Indonesia sebesar 0,46% maka dengan penduduk 224
jiwa tahun 2008 diperkirakan angka penderita skizofrenia sebanyak 1.030.400

Referat Ilmu Kesehatan jiwa 3


Skizofrenia Paranoid September 15, 2015

jiwa. Data diatas menunjukan bahwa angka morbiditas gangguan jiwa


skizofrenia di Indonesia menunjukan penyebab yang sama dengan morbiditas
dunia dimana depresi menjadi salah satu penyebab yang harus diwaspadai
sebagai pemicu awal terjadinya skizofrenia.
Secara klasik skizofrenia tipe paranoid ditandai terutama oleh adanya
waham kebesaran atau waham kejar, jalannya penyakit agak konstan (Kaplan dan
Sadock, 1998). Pikiran melayang (flight of ideas) lebih sering terdapat pada
mania, pada skizofrenia lebih sering inkoherensi (Maramis, 2005). Kritera
waktunya berdasarkan pada teori Townsend (1998), yang mengatakan kondisi
klien jiwa sulit diramalkan, karena setiap saat dapat berubah. Skizofrenia
paranoid meruopakan salah satu bentuk gangguan jiwa psikofungsional yang
banyak terdapat diseluruh dunia. Prevalensi penyakit ini baik di dunia maupun di
Indonesia terus mengalami peningkatan. Berdasarkan latar belakang diatas
tingginya angka gangguan jiwa skizofrenia maka penulis akan menjelaskan
tentang skizofrenia paranoid lebih rinci pada bab selanjutnya.

Referat Ilmu Kesehatan jiwa 4


Skizofrenia Paranoid September 15, 2015

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Skizofrenia Paranoid

DSM-IV menyebutkan bahwa tipe paranoid ditandai oleh keasyikan


(preokupasi) pada satu atau lebih waham atau halusinasi dengar yang seing, dan
tidak ada perilaku spesifik lain yang mengarahkan pada tipe terdisorganisasi atau
katatonik, skizofrenia paranoid ditandai terutama oleh adanya waham
persekutorik (waham kejar) atau waham kebesaran. Pasien skizofrenik paranoid
biasanya berumur lebih tua dari pada pasien skizofrenik terdisorganisasi atau
katatonik jika mereka mengalami episode pertama penyakitnya.

Tipe ini paling stabil dan paling sering, awitan subtype ini biasanya
terjadi lebih belakangan bila dibandingkan dengan bentuk-bentuk skizofernia
lain. Gejala terlihat sangat konsisten, sering paranoid, pasien dapat atau tidak
bertindak sesuai dengan wahamnya. Pasien sering tak kooperatif dan sulit untuk
mengadakan kerjasama, dan mungkin agresif, marah atau ketakutan, tetapi pasien
jarang sekali memperlihatkan perilaku inkoheren atau disorganisasi. Waham dan
halusinasi menonjol sedangkan afek dan pembicaraan hampir tidak terpengaruh.
Beberapa contoh gejala paranoid yang sering ditemui:

a. Waham kejar, rujukan, kebesaran, waham dikendalikan, dipengaruhi,


dan cemburu
b. Halusinasi akustik berupa ancaman, perintah, atau menghina

2.2 Pedoman Diagnostik Skizofrenia

A. Gejala karakteristik : Dua (atau lebih) berikut, masing-masing ditemukan


untuk bagian waktu yang bermakna selama periode 1 bulan (atau kurang jika
diobati dengan berhasil):
1) Waham
2) Halusinasi
3) Bicara terdisorganisasi (misalnya, sering menyimpang atau
inkoheren)

Referat Ilmu Kesehatan jiwa 5


Skizofrenia Paranoid September 15, 2015

4) Perilaku terdisorganisasi atau katatonik yang jelas


5) Gejala negative, yaitu, pendataran afektif, alogla, atau tidak ada
kemauan (avolition)

Catatan: Hanya satu gejala kriteria A yang diperlukan jika waham


adalah kacau atau halusinasi terdiri dari suara yang terus menerus
mengkomentari perilaku atau pikiran pasien, atau dua atau lebih
suara yang paling bercakap satu sama lainnya.

B. Disfungsi social/pekerjaan : Untuk bagian waktu yang bermakna sejak onset


gangguan, satu atau lebih fungsi utama, seperti pekerjaan, hubungan
interpersonal, atau perawatan diri, adalah jelas dibawah tingkat yang dicapai
sebelum onset (atau jika onset pada masa anak-anak atau remaja, kegagalan
untuk mencapai tingkat pencapaian interpersonal, akademik atau pekerjaan
yang diharapkan).

C. Durasi: Tanda gangguan terus menerus menetap selama sekurangnya 6


bulan. Periode 6 bulan ini harus termasuk sekurangnya 1 bulan gejala (atau
kurang jika diobati dengan berhasil) yang memenuhi kriteria A (yaitu gejala
fase aktif) dan mungkin termasuk periode gejala prodromal atau residual,
tanda gangguan mungkin dimanifestasikan hanya oleh gejala negatif atau
dua atau lebih gejala yang dituliskan dalam kriteria A dalam bentuk yang
diperlemah (misalnya, keyakinan yang aneh, pengalaman persepsi yang
tidak lazim).

D. Penyingkiran gangguan skizoafektif dan gangguan mood: gangguan


Skizoafektif dan gangguan Mood dengan cirri Psikotik telah disingkirkan
karena : (1) tidak ada episode depresif berat, manik atau campuran yang
telah terjadi bersama-sama dengan gejala fase aktif; atau (2) jika episode
Mood telah terjadi selama gejala fase aktif, durasi totalnya adalah relative
singkat dibandingkan durasi periode aktif dan residual.

E. Penyingkiran zat/kondisi medis umum: Gangguan tidak disebabkan oleh


efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat yang disalahgunakan,
suatu medikasi) atau suatu kondisi medis umum.

F. Hubungan dengan perkembangan gangguan perkembangan pervasif: Jika


terdapat riwayat adanya gangguan perkembangan pervasive lainnya,
diagnosis tambahan skizofernia dibuat hanya jika waham atau halusinasi

Referat Ilmu Kesehatan jiwa 6


Skizofrenia Paranoid September 15, 2015

yang menonjol juga ditemukan untuk sekurangnya satu bulan (atau kurang
jika diobati secara berhasil),

Klasifikasi perjalanan penyakit longitudinal (dapat diterapkan hanya


setelah sekurangnya 1 tahun sejak awal onset awal fase aktif) :

Episodik dengan gejala residual interpisode

(Episode didefinisikan oleh timbulnya kembali gejala psikotik


yang menonjol); juga disebutkan jika: dengan gejala negatif yang
menonjol

Episodik tanpa gejala residual Interepisodik:

Kontinu (gejala psikotik yang menonjol ditemukan diseluruh periode


observasi); juga disebutkan jika: dengan gejala negatif yang
menonjol

Episode tunggal dalam remisi parsial; juga disebutkan jika:


dengan gejala negatif yang menonjol
Episode tunggal dalam remisi penuh
Pola lain atau tidak ditentukan

2.3 Gejala gejala Skizofrenia Paranoid

Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofernia


Sebagai tambahan :
o Halusinasi dan/atau waham harus menonjol;
a) Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau member
perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa
bunyi peluit (whistling), mendengung (humming), atau bunyi tawa
(laughing);
b) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual,
atau lain-lain perasaan tubuh; halusinasi visual mungkin ada tetapi
jarang menonjol;
c) Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham
dikendalikan (delusion of control), dipengaruhi (delusion of

Referat Ilmu Kesehatan jiwa 7


Skizofrenia Paranoid September 15, 2015

influence), atau passivity (delusion of passivity), dan keyakinan


dikejar-kejar yang beraneka ragam adalah yang paling khas;
o Gangguan efektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala
katatonik secara relatif tidak nyata/tidak menonjol.

2.4 Penatalaksanaan Farmakoterapi

a) Penggolongan

Obat Anti-Psikosis Tipikal (Typical Anti Psychotics) :

1. Phenothiazine :
Rantai Aliphatic : CHLORPROMAZINE (Largactil)
LEVOMEPROMAZINE (Nozinan)
Rantai Piperazine : PERPHENAZINE (Trilafon)
TRIFLUOPERAZINE (Stelazine)
FLUPHENAZINE (Anatensol)
Rantai Piperidine : THIORIDAZINE (Melleril)

2. Butyrophenone :
HALOPERIDOL (Haldol, serenace, dll)

3. Diphenyl-butyl piperidine :
PIMOZIDE (Orap)

b) Mekanisme Kerja

mekanisme kerja obat anti-psikosis tipikal adalah mem-blokade Dopamine


pada reseptor pasca-sinaptik neuron di otak, khususnya di system limbik dan
system ekstrapiramidal (dopamine D2 receptors antagonists).

c) Pengaturan Dosis

Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan :


Onset efek primer (efek klinis) : sekitar 2-4 minggu
Onset efek sekunder (efek samping) : sekitar 2-6 jam
Waktu paruh : 12 24 jam (pemberian obat 1 2 x perhari).

Referat Ilmu Kesehatan jiwa 8


Skizofrenia Paranoid September 15, 2015

Dosis pagi dan malam dapat berbeda untuk mengurangi dampak dari efek
samping (dosis pagi kecil, dosis malam lebih besar) sehingga tidak begitu
mengganggu kualitas hidup pasien.

Mulai dengan dosis awal sesuai dengan dosis anjuran dinaikan


setiap 2 3 hari sampai mencapai dosis elektif (mulai timbul peredaran
Sindrom Psikosis) dievaluasi setiap 2 minggu dan bila perlu dinaikan
dosis dosis optimal dipertahankan sekitar 8 12 minggu (stabilisasi)
diturunkan setiap 2 minggu dosis maintenance dipertahankan 6 bulan
sampai 2 tahun tapering off (dosis diturunkan tiap 2 4 minggu) Stop.

Nama Genetik Nama Dagang Sediaan Dosis Anjuran


LARGACTIL Tab 25 mg 150 200 mg/h
(Rh-Poulenc) 100 mg
PROMACTIL
(Combiphar)
Chlorpromazine
MEPROSETIL
(Meprofarm)
ETHIBERNAL Tab 25 mg
(Ethica)
SERENACE Tab 0,5 mg 5 15 mg/h
(Searle) 1,5 & 5 mg
Liq. 2 mg/ml
Amp. 5 mg/ml
HALDOL Tab 0,5 mg
(Janssen) 2 mg
Haloperidol GOVOTIL Tab 2 mg
(Guardian Pharmatama) 5 mg
LODOMER Tab 2 mg
(Mersifarma) 5 mg
HALDOL
DECANOAS Amp. 50 mg/ml 50 mg/2 4 minggu
(Janssen)
TRILAFON Tab 2 mg 12 24 mg/h
Perphenazine
(Schering) 4 & 8 mg
Fluphenazine ANATENSOL Tab 2,5 mg 10 15 mg/h
(B-M-Squibb) 5 mg
Fluphenazine - MODECATE Vial 25 mg/ml 25 mg/2 4 minggu
decanoate (B-M-Squibb)
NOZINAN Tab 25 mg 25 50 mg/h
Levomepromazine
(Rh-Poulenc) Amp. 25 mg/ml

Referat Ilmu Kesehatan jiwa 9


Skizofrenia Paranoid September 15, 2015

Trifluoperazine STELAZINE Tab 25 mg 10 15 mg/h


(Smith-Kline) Amp. 25 mg/ml
Thioridazine MELLERIL Tab 50 mg 150 600 mg/h
(Novartis) 100 mg
Pimozide ORAP FORTE Tab 4 mg 2 4 mg/h
(Janssen)

d) Lama Pemberian

Untuk pasien dengan serangan sindrom psikosis yang episode, terapi


pemeliharaan (maintenance) diberikam paling sedikit selama 5 tahun. Pemberian
yang cukup lama ini dapat menurunkan derajat kekambuhan 2,5 5 kali.

Efek obat anti-psikosis secara relative berlangsung lama, sampai beberapa


hari setelah dosis terakhir masih mempunyai efek klinis sehingga tidak langsung
menimbulkan kekambuhan setelah obat dihentikan, biasanya satu bulan kemudian
baru gejala sindrom psikosis kambuh kembali.

Hal tersebut disebabkan metabolism dan ekskresi obat sangat lambat,


metabolit-metabolit masih mempunyai keaktifan anti psikosis.

Pada umumnya pemberian obat anti-psikosis sebaiknya dipertahankan


selama 3 bula sampai 1 tahun setelah semua gejala psikosis meeda sama sekali.
Untuk Psikosis reaktif singkat penurunan obat secara bertahap setelah hilangnya
gejala dalam kurun waktu 2 minggu 2 bulan.

Obat anti-psikosis tidak menimbulkan gejala lepas obat yang hebat walaupun
diberikan dalam jangka waktu lama, sehingga potensi ketergantungan obat kecil
sama sekali.

Pada penghentian yang mendadak dapat timbul gejala Cholinergic


rebound : ganggua lambung, mual, muntah, diare, pusing, gemetar, dan lain lain.
Keadaan ini akan mereda dengan pemberian Anticholinergic agent (injeksi
Sulfas Atropin 0,25 mg (im), tablet Trihexyphenidyl 3 x 2 mg/h).

Oleh karena itu pada penggunaan bersama obat anti-psikosis anti-parkinson,


bila sudah tiba waktu penghentian obat, obat anti-psikosis dihentikan lebih dahulu,
kemudian baru menyusul obat antiparkinson.

Referat Ilmu Kesehatan jiwa 10


Skizofrenia Paranoid September 15, 2015

e) Profil Efek Samping

Efek samping obat anti-Psikosis dapat berupa :


Sedasi dan Inhibisi (rasa mengantuk, kewaspadaan berkurang, kinerja
psikomotor menurun, kemampuan kognitif menurun).
Gangguan otonomik (hipotensi, antikolinergik/parasimpatolitik : mulut
kering, kesulitan miksi & uefekasi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan
intraokuler meninggi, gangguan irama jantung).
Gangguan ekstrapiramidal (distonia akut, akathisia, sindrom Parkinson :
tremor, bradikinesia, rigiditas)
Gangguan endokrin (amenomhoe, gynaecomastia), metabolic (jaundice),
hematologic (agranulocytosis), biasanya untuk pemakaian jangka panjang.

Efek samping yang irreversible : tardive dyskinesia (gerakan berulang


involunter pada: lidah,wajah, mulut/rahang dan anggota gerak dimana pada
waktu tidur gejala tersebut menghilang). Biasanya terjadi pada pemakaian
jangka panjang (terapi pemeliharaan) dan pada pasien usia lanjut. Efek
samping ini tidak berkaitan dengan dosis obat anti-Psikosis (non-dose related).

Bila terjadi gejala tersebut : obat anti-psikosis perlahan-lahan


dihentikan, bisa dicoba pemberian obat reserpine 2,5 mg/hh (dopamine
depleting agent), obat antiparkinson atau I-dopa dapat memperburuk keadaan.
Obat pengganti anti-psikosis yang paling baik adalah Clozapine 50-100 mg/h.

Pada penggunaan obat anti-Psikosis jangka panjang secara periodik


harus dilakukan pemeriksaan laboratorium : darah rutin, urin lengkap, fungsi
hati, fungsi ginjal, untuk deteksi dini perubahan akibat efek samping obat.

Obat anti-Psikosis hampir tidak pernah menimbulkan kematian


sebagai akibat over dosis atau untuk bunuh diri namun demikian untuk
menghindari akibat yang kurang menguntungkan sebaiknya dilakukan lavage
lambung bila obat belum lama dimakan.

f) Perhatian Khusus

Efek samping yang sering timbul dan tindakan mengatasinya : penggunaan


Chlorpomazine injeksi (im) : sering menimbulkan Hipertensi Ortostatik pada

Referat Ilmu Kesehatan jiwa 11


Skizofrenia Paranoid September 15, 2015

waktu perubahan posisi tubuh (efek alfa adrenergic blockade). Tindakan


mengatasinya dengan injeksi Nor-adrenalin (effortil, im). Nor-adrenalin
adalah alfa adrenergic simulator. Dalam keadaan ini tidak diberikan
Adrenalin oleh karena bersifat alfa dan beta adrenergic stimulator
sehingga efek beta adrenergic tetap ada dan terjadi Shock.

Hipertensi ortostatik sering kali dapat dicegah dengan tidak langsung bangun
setelah mendapat suntikan dan dibiarkan selama sekitar 5-10 menit.

Obat anti-psikosis yang kuat (Haloperido) sering menimbulkan gejala


ekstrapiramida /sindrom Parkinson. Tindakan mengatasi tablet
Trihexyphenidyl (Artane) 3-4 x 2 mg/hari Sulfas Atropin 0,50-075 mg (im)

Apabila Sindrom Parkinson sudah terkendali diusahakan penurunan dosis


secara bertahap, untuk menentukan apakah masih dibutuhkan penggunaan
anti Parkinson

Secara umum dianjurkan penggunaan obat anti-Parkinson tidak lebih lama


dari 3 bulan (risiko timbul atropine toxic syndrome). Tidak dianjurkan
pemberian antiparkinson profilaksis, oleh karena dapat mempengaruhi
penyerapan/absorpsi obat anti psikologis sehingga kadarnya dalam plasma
rendah dan dapat mempengaruhi manifestasi gejala psikopatologis yang
dibutuhkan untuk penyesuaian dosis obat anti-psikosis agar tercapai dosis
efektif.

Rapid Neuroleptization : Haloperidol 5- 10 mg (im) dapat diulangi sekitar


30 menit, dosis maksimum adalah 100 mg dalam 24 jam. Biasanya dalam 6
jam sudah dapat mengatasi gejala-gejala akut dari Sindrom Psikosis (agitasi,
hiperaktivitas psikomotor, impulsive, menyerang, gaduh-gelisah, perilaku
destruktif, dll)

2.5 PROGNOSIS

Penegakan prognosis dapat menghasilkan dua kemungkinan, yaitu :

Referat Ilmu Kesehatan jiwa 12


Skizofrenia Paranoid September 15, 2015

1) Prognosis positif, apabila didukung oleh beberapa aspek berikut seperti :


onset terjadi pada usia yang lebih lanjut, factor pencetusnya jelas, adanya
kehidupan yang reltif baik, sebelum terjadinya gangguan dalam bidang
social, pekerjaan, dan seksual, fase prodromal terjadi secara singkat,
munculnya gejala gangguan mood, adanya gejala positif, sudah menikah, dan
adanya system pendukung yang baik.
2) Prognosis negative, dapat ditegakkan apbila muncul beberapa keadaan
seperti berikut : onset gangguan lebih awal, factor pencetus tidak jelas,
riwayat kehidupan sebelum terjadinya gangguan kurang baik, fase prodromal
terjadi cukup lama, adanya perilaku yang autistic, melakukan penarikan diri,
statusnya lajang, bercerai, atau pasangannya telah meninggal, adanya riwayat
keluarga yang mengidap skizofrenia, munculnya gejala negative, sering
kambuh secara berulang, dan tidak adanya system pendukung yang baik.

Referat Ilmu Kesehatan jiwa 13


Skizofrenia Paranoid September 15, 2015

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Skizofrenia paranoid adalah salah satu sub tipe skizofrenia, dimana dalam
DSM-IV disebutkan bahwa tipe ini ditandai oleh preokupasi (keasyikan) pada satu
atau lebih waham atau halusinasi dengar yang sering dan tidak ada prilaku lain yang
mengarahkan kepada terdisorganisasi ataupun katatonik. Symptom utama dari
skizofrenia paranoid adalah delusi persecusion dan grandeur, dimana individu
merasa dikejar-kejar. Skizofrenia merupakan gangguan yang bersifat kronis,
berangsur-angsur menjadi semakin menarik diri dan tidak berfungsi selama bertahun-
tahun.

Referat Ilmu Kesehatan jiwa 14


Skizofrenia Paranoid September 15, 2015

DAFTAR PUSTAKA

Kaplan HI, Saddock BC, Grebb JA. Sinopsis Psikiatri. Jilid I. Edisi VII.
Binarupa Aksara Jakarta. 1997.

Elvira SD, Hadisukanto G. Buku Ajar Psikiatri. Fakultas Kedokteran


Universitas Indonesia. Jakarta, 2001.

Maslim, Rusdi. 2003. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas
dari PPDGJ III. Jakarta: Nuh Jaya.

Maslim, Rusdi. 2001. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik.


Edisi Ketiga. Jakarta: Nuh Jaya.

Alan FS, Charles BN. Textbook of psychopharmacology. Third Edition.


American Psychiatric Publishing. 2009.

Referat Ilmu Kesehatan jiwa 15