Anda di halaman 1dari 15

8

HUKUMAN DAN KEDISIPLINAN DI PESANTREN TGK. CHIEK

OEMAR DIYAN

A. Tinjauan Tentang Hukuman

1. Pengertian Hukuman

Pendidikan memberikan arah kepada peserta didik dalam mengarungi

kehidupan yang lebih baik. Pendidikan tentu mempunyai metode-metode

tersendiri dalam menegakkan disiplin siswa dalam proses belajar mengajar.

Antaranya ada metode hikmah, mauidhah hasanah, dan berdialog dengan cara

yang baik, sebagaimana firman Allah SWT. Dalam Al-Quran:



Artinya:Serulah (manusia) ke jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran
yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhan-mu, Dialah Yang Maha Tahu tentang siapa yang
tersesat dari jalan-Nya dan Dialah Yang lebih mengetahui orang-orang
yang mendapat petunjuk. QS. An-Nahl (16): 125.

Pendidikan Islam bertujuan mengarahkan manusia ke jalan Allah sebagai

tujuan hidup semata-mata. Di samping metode-metode yang disebutkan di atas

terdapat juga metode keteladanan, nasehat, hukuman dan sebagainya. Hukuman

sebagai salah satu metode terakhir yang digunakan dalam proses pendidikan

apabila metode lain sudah diterapkan dan tidak mampu memberikan pengaruh

yang signifikan. Hukuman merupakan tindakan yang tidak menyenangkan untuk

mengubah perilaku anak yang tidak diharapkan.

Menurut Kartini Kartono, hukuman adalah perbuatan yang secara

intensional diberikan, sehingga menyebabkan penderitaan lahir batin, diarahkan


9

untuk menggugah hati nurani dan penyadaran si penderita akan kesalahannya.1

Berarti pandangan Kartini Kartono hukuman bertujuan untuk memberikan nilai

pendidikan kesadaran bagi siapa saja yang melanggar suatu peraturan yang telah

ditetapkan. Beliau juga menjelaskan bahwa hukuman suatu bentuk sanksi yang

diberikan pada anak baik sanksi fisik maupun psikis untuk menasehati dan

menggugah hati nurani.

Hukuman juga berarti peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan

mengenai susunan tugas sebagaimana dikemukakan oleh WJS Poewadarmito. 2

Artinya dalam suatu lembaga pendidikan telah merumuskan berbagai macam

hukuman yang harus ditegakkan apabila terdapat siswa yang melanggar peraturan

sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Misalnya pelanggaran berat tentu

hukuman yang diberikan juga berat, sebaliknya pelanggaran yang ringan maka

hukuman yang diberikan juga dalam bentuk yang ringan.

Selain beberapa pendapat di atas hukuman juga berarti sebagai salah satu

alat pendidikan yang diperlukan dalam proses pendidikan. Hukuman diberikan

sebagai akibat dari pelanggaran kejahatan, atau kesalahan yang dilakukan untuk

anak didik. Tidak seperti akibat yang ditimbulkan oleh ganjaran, hukuman

mengakibatkan penderitaan atau kedukaan bagi anak didik yang menerimanya. 3

Jadi hukuman mempunyai akibat yang diterima oleh anak sebagai konsekuensi

dari pelanggaran yang dilakukannya.

1
Kartini Kartono, Pengantar Ilmu Pendidikan Teoretis (Bandung: Mandar Maju, 1992),
hal. 261.
2
WJS Poewadarmito, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1984),
hal. 364.
3
Syaiful Bahri Djamarah, Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif: Suatu
Pendekatan Teoritis Psikologis (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hal. 196.
10

Berbagai pendapat tentang hukuman, maka dapat disimpulkan bahwa

hukuman sebagai salah satu alat untuk mendidik anak kearah yang lebih baik.

Hukuman bukan semata-mata mengedepankan bentuk fisik dalam prakteknya,

tetapi hukuman harus bersifat mendidik agar anak tidak mempunyai sifat dendam

setelah menerima hukuman akibat perbuatannya yang salah.

2. Bentuk-bentuk Hukuman Dalam Pendidikan

Dalam memberikan hukuman tidak boleh semena-mena tetapi harus ada

cara-cara yang baik dan bersifat mendidik sebagaimana sabda Nabi Muhammad

SAW :

Artinya:Perintahkanlah anak anakmu untuk menunaikan shalat, apabila ia


sudah berumur tujuh tahun dan apabila ia berumur sepuluh tahun
hendaklah dipukul kalau tidak shalat. (HR. Abu Daud).4

Hadist tersebut secara jelas memerintahkan kepada pendidik untuk melatih anak

disiplin sejak kecil bila anak melakukan pelanggaran maka diberikan hukuman

yang mendidik, dan bentuk hukumannya adalah pukulan.

Ada banyak pendapat yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan tentang

bentuk-bentuk hukuman. Menurut Ngalim Purwanto yang membedakan hukuman

itu menjadi dua bentuk, yaitu :

a. Hukuman Preventif, yaitu hukuman yang dilakukan dengan maksud


agar tidak atau jangan sampai terjadi pelanggaran sehingga hal itu
dilakukan sebelum terjadi pelanggaran.

4
Muhammad Muhyidin Abdul Hamid, Sunan Abu Daud, (Indonesia, Maktabah Dahlan,
t.t.), juz 1. hal. 133.
11

b. Hukuman Repretif, yaitu hukuman yang dilakukan karena adanya


pelanggaran atau kesalahan yang telah diperbuat oleh seseorang. Jadi
hukuman ini dilakukan setelah terjadi pelanggaran atau kesalahan.5

Dua bentuk hukuman di atas sebagai pencegahan dan pengobatan supaya

anak terdidik untuk tidak melakukan kesalahan yang berulang-ulang. Selain itu

juga, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu membagi pemberian hukuman menjadi

dua, yaitu:

1. Pemberian hukuman yang dilarang, seperti: memukul wajah,


kekerasan yang berlebihan, perkataan buruk, memukul ketika marah,
menendang dengan kaki dan sangat marah.
2. Pemberian hukuman yang mendidik dan bermanfaat, seperti:
memberikan nasehat dan pengarahan, mengerutkan muka, membentak,
menghentikan kenakalannya, menyindir, mendiamkan, teguran, duduk
dengan menempelkan lutut ke perut, hukuman dari ayah,
menggantungkan tongkat, dan pukulan ringan.6

Kesimpulannya bahwa bentuk-bentuk hukuman yang dilakukan pendidik

dalam memberikan hukuman kepada peserta didik harus mengacu kepada usaha

untuk memperbaiki sikap atau tingkah laku. Sebab masalah hukuman merupakan

masalah etis yang menyangkut perkara baik dan buruk serta norma-norma yang

berlaku dalam masyarakat yang sifatnya berbeda-beda dan berubah-ubah.

B. Pengertian Disiplin

Persoalan yang berhubungan dengan disiplin sering kali menjadi

perbincangan yang beragam dikalangan pendidik. Adakalanya mereka menilai

perilaku anak didik yang tidak taat terhadap disiplin dan begitu sebaliknya. Oleh

karena itu, disiplin dalam pengertiannya sering dikaitkan dengan tata tertib,

5
M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis (Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya, 2007), hal. 189.
6
Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Seruan Kepada Pendidik dan Orang tua, terj. Abu
Hanan dan Ummu Dzakiyya (Solom 2005), hal. 167-183.
12

norma, kaidah-kaidah atau aturan-aturan yang harus ditaati dan dipatuhi. Orang

yang selalu berdisiplin akan menerima dengan ikhlas dan tidak dengan terpaksa

terhadap semua aturan dan tata tertib yang ada meskipun dia merasa berat. Dalam

al-Quran dijelaskan mengenai prinsip disiplin dalam surat An-Nisa ayat 59.



Artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya,
dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat
tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan
Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari
kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya." QS. An-Nisa (4): 59.

Sikap orang-orang yang selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta taat

kepada pemimpin dalam hal kebajikan menunjukkan bahwa ia seseorang yang

berjiwa disiplin dan patuh pada aturan yang berlaku. Segala perbuatan yang

dilakukan atas dasar niat semata-mata karena Allah dan Rasul-Nya bukan ingin

mendapatkan pujian dari manusia. Ketaatan yang diwujudkan dalam bentuk

kewajiban, tanggung jawab, dan disiplin.

Tulus Tuu mengutip pendapat Maman Rakhman menyatakan bahwa

disiplin sebagai upaya mengendalikan diri dan sikap mental individu atau

masyarakat dalam mengembangkan kepatuhan dan ketaatan terhadap peraturan

dan tata tertib berdasarkan dorongan dan yang muncul dari dalam hatinya.7

Individu yang tergerak hatinya untuk menjalankan suatu peraturan berarti

ia sudah mampu mengendalikan sikap dan mempunyai mental yang benar.

7
Tulus Tuu, Peran Disiplin pada Perilaku dan Profesi Siswa,(Jakarta: Gramedia, 2004),
hal.32.
13

Sehingga dimanapun ia berada dan kapan saja waktunya sikap itu akan terus

terpatri dalam dirinya.

C. Hubungan Hukuman dan Disiplin

Mengutip teori Operan Conditioning yang dikemukakan oleh Skinner.

Dalam teori tersebut ada dua prinsip umum, yaitu:

a. Setiap respon yang diikuti stimulus yang memperkuat atau ganjaran


(reward), akan cenderung diulangi.
b. Reinforcing Stimulus atau stimulus yang bekerja memperkuat reward,
akan menigkatkan kecepatan (rate) terjadinya respon operan. Dengan
kata lain reward akan meningkatkan diulanginya suatu respon.8

Dalam kesimpulannya Skinner mengungkapkan bahwa hukuman tidak

efektif dalam waktu yang panjang. Karena itu Skinner tidak setuju dengan

hukuman. Dari pernyataan Skinner diatas, diketahui bahwa ganjaran dan hukuman

merupakan salah satu faktor yang mendorong aktivitas, dalam hal ini adalah

aktifitas kedisiplinan siswa. Meskipun dalam jangka waktu yang pendek baik itu

hukuman maupun hadiah mempunyai pengaruh untuk mengubah dan

meningkatkan tingkah laku yang dikehendaki. Tetapi dalam jangka waktu yang

panjang, hadiah tetap berpengaruh untuk peningkatan tingkah laku, sedangkan

hukuman justru tidak berfungsi lagi.

Lebih lanjut Skinner mengungkapkan bahwa hukuman justru

menimbulkan efek yang tidak baik, yaitu:

a) Berefek negatif pada emosi


b) Kadang-kadang menimbulkan sakit jasmani
c) Menimbulkan agresifitas yang memungkinkan berbuat yang lebih
buruknya.

8
Sri Rumini, dkk. Psikologi pendidikan, (Yogyakarta: UPP IKIP Yogyakarta, 1995),
hal.75.
14

d) Bila sesuatu aktivitas diberikan hukuman, maka tingkah laku tersebut


selalu diberi hukuman, agar tetap konsekuen.9

Pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa disiplin dan pemberian

hukuman sangat berhubungan dan saling terkait satu dengan lainnya. Tetapi

disiplin juga bisa dijalankan dengan membangkitkan nilai-nilai kesadaran dalam

diri peserta didik tanpa harus cepat-cepat memberikan hukuman apabila tidak

diperlukan. Sebaliknya hukuman diberlakukan apabila cara kesadaran tidak

mampu menegakkan disiplin dengan baik, maka boleh diberikan hukuman sesuai

dengan tingkat kesalahan yang dilakukan.

Untuk itu, dalam menjalankan disiplin baik itu dengan memberikan

hukuman atau tidak maka perlu metode-metode yang sejalur dengan pendidikan

khususnya pendidikan Islam di lembaga pendidikan pesantren. Karena pada

dasarnya metode-metode tersebut diterapkan sesuai dengan tingkatan masalah

yang terjadi dalam mendidik. Oleh sebab itu, agar lebih mengetahui tentang

metode-metode pendidikan dalam Islam, penulis menghuraikan beberapa metode

yang layak dan sesuai dijalankan dalam membentuk kedisiplinan siswa.

D. Metode Pendidikan Dalam Islam

Anak adalah generasi penerus masa depan. Peran serta sebuah lembaga

pendidikan saat ini dalam pembinaan anak, maksimal secara tidak langsung telah

berperan pada masa depan mereka. Untuk menuju masa depan yang lebih baik,

maka tugas orang dewasa saat ini adalah membina anak-anak agar menjadi

generasi yang berakhlak mulia. Dalam pendidikan tentunya ada metode-metode

9
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2006), hal. 62.
15

yang diterapkan agar memperoleh hasil yang lebih baik. Berikut beberapa metode

pendidikan dalam Islam untuk mendidik dan mengajarkan peserta didik ke arah

yang lebih baik.

1. Metode Keteladanan (Uswah Hasanah)

Murid-murid cenderung meneladani pendidiknya, ini diakui oleh semua

ahli pendidikan, baik dari barat maupun dari timur. Dasarnya ialah karena secara

psikologis anak memang senang meniru, tidak saja yang baik, yang jelek pun

ditirunya. Ada beberapa konsep yang dapat dipetik dari metode ini, antara lain :

Pertama, metode pendidikan Islam berpusat pada keteladanan, yang


memberikan teladan adalah guru, kepala sekolah dan semua aparat
sekolah. Dalam pendidikan masyarakat, teladan itu adalah para pemimpin
masyarakat, para dai. Kedua, teladan untuk guru-guru (dan lain-lainnya)
ialah Rasulullah. Guru tidak boleh mengambil tokoh yang diteladani selain
Rasulullah SAW. Sebab, Rasulullah itulah teladan yang terbaik. Rasulullah
meneladankan bagaimana kehidupan yang dikehendaki Sang Pencipta.10

Metode ini merupakan metode yang paling unggul, paling jitu, dan paling

sering dilakukan dibandingkan dengan metode-metode lainnya. Melalui metode

ini para orang tua, pendidik atau siapa saja memberi contoh teladan terhadap

peserta didiknya bagaimana cara berbicara, berbuat, bersikap, mengerjakan

sesuatu atau cara beribadah dan sebagainya.11

Melalui metode ini para peserta didik dapat meniru dan meyakini cara

yang sebenarnya sehingga mereka mampu melaksanakan yang terbaik. Metode

keteladanan ini sangat baik dalam menjalankan kedisiplinan.

2. Metode pembiasaan

10
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2004), hal. 143.
11
Heri Jauhari Mukhtar, Fikih Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005), hal.
19.
16

Pembiasaan sebenarnya berintikan pengalaman. Apa yang dibiasakan? Ya,

yang dibiasakan itu ialah sesuatu yang diamalkan. Oleh karena itu, uraian tentang

pembiasaan selalu menjadi satu dengan uraian tentang perlunya mengamalkan

kebaikan yang telah diketahui.

Inti pembiasaan ialah pengulangan. Jika guru setiap masuk kelas

mengucapkan salam, itu dapat diartikan sebagai usaha membiasakan. Bila murid

masuk kelas tidak mengucapkan salam, maka guru mengingatkan agar bila masuk

ruangan hendaklah mengucapkan salam, ini juga satu cara membiasakan.12

Suatu hal yang sangat penting dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya

dalam rangka pembentukan akhlak anak adalah pembiasaan, hal ini sesuai dengan

pendapat Zakiah Daradjat:

Baik buruknya keadaan anak ketika dewasa tergantung pada pendidikan


yang diterimanya waktu kecil. Kalau orang tua membiasakan ia hormat,
sopan santun, pengasih, penyayang dan selalu bertaqwa kepada Allah,
kelak ia dewasa akan mempunyai sifat-sifat yang baik. Sebaliknya kalau
waktu kecil tidak membiasakan berkelakuan baik, sukar diharapkan anak-
anak akan besar menjadi baik sendirinya.13

Untuk melaksakan tugas atau kewajiban secara benar dan rutin terhadap

anak didik diperlukan pembiasaan. Misalnya agar anak didik dapat melaksanakan

shalat secara benar dan rutin maka mereka perlu dibiasakan shalat sejak masih

kecil, dari waktu ke waktu. Itulah sebabnya kita perlu mendidik mereka sejak dini

agar mereka terbiasa dan tidak merasa berat untuk melaksanakannya ketika

beranjak dewasa. Metode ini pula dapat dimanifestasikan dalam berdisiplin karena

12
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan ...,hal. 144.
13
Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama Dalam Pembentukan Mental, (Jakarta: Bula
Bintang, 1973), hal. 71.
17

pembiasaan dalam menjalankan aktifitas tepat waktu maka akan terbiasa dan terus

menerus pasti berlanjut sehingga membentuk kebiasaan berdisiplin.

3. Metode Nasehat

Metode ini yang sering digunakan orang tua, pendidik terhadap anak didik

dalam proses pendidikannya. Metode ini penting dalam pendidikan, pembentukan

keimanan, mempersiapkan moral dan sosial anak, sebab nasehat ini dapat

membukakan mata anak-anak pada hakikat sesuatu dan mendorongnya menuju

situasi luhur, dan menghiasinya dengan akhlak yang mulia serta membekalinya

dengan prinsip Islam.14

Metode ini paling sering digunakan orang tua terhadap pendidikan anak

terutama dalam proses pembinaan akhlak. Memberi nasehat sebenarnya

merupakan kewajiban setiap muslim seperti tertera dalam QS. Al-Ashr ayat 3 :


Artinya: Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan
nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati
supaya menetapi kesabaran. QS. Al-Ashr (103): 3.

Rasulullah saw. bersabda :

:
( )

Artinya: Rasulullah SAW. Bersabda : Agama itu adalah nasehat. (HR.

Bukhari)15

Maksudnya adalah agama itu berupa nasehat dari Allah bagi umat manusia

melalui para Nabi dan Rasulnya agar manusia hidup bahagia, selamat dan

sejahtera di dunia serta akhirat.


14
Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam, (Bandung:
Diponegoro, 1992), hal. 64.
15
Ibnu Hajar Al-Atsqalani, Fathul Baari, Syarah Shahih Bukhari, (Beirut, Libanon: Darul
Fikri, 1993), Juz Muqaddimah, hal. 22.
18

Anak yang berbuat salah harus dinasehati terlebih dahulu agar ia teringat

bahwa perbuatannya itu salah. Begitu halnya menegakkan disiplin terhadap anak

didik apabila melanggar suatu peraturan maka hendaklah diberikan nasehat agar

mereka memahami dan mematuhi peraturan yang berlaku.

4. Metode Memberi Perhatian

Metode ini dilakukan dengan memberi pujian dan penghargaan. Betapa

jarang orang tua, pendidik memuji dan menghargai anak didiknya. Sebenarnya

tidaklah sukar memuji atau menghargai anak didik maupun orang lain.

Pembinaan perilaku dengan memberikan perhatian merupakan salah satu

metode pendidikan yang dapat diterapkan orang tua dalam mendidik anak di

lingkungan keluarga, dalam hal ini orang tua apabila melihat anaknya melakukan

perbuatan-perbuatan yang tidak baik maka harus menegurnya. Dengan demikian

orang tua dalam mendidik anak bisa dengan cara memberikan perhatian agar anak

dapat dibimbing ke jalan yang benar.

Dewa Ketut Sukardi mengatakan: Pujian ibarat obat, tidak diberikan

sembarangan, memberikan pujian ada aturannya, kapan, bagaimana, dan berapa,

supaya tidak menimbulkan efek samping merugikan.16

Penjelasan di atas memberikan arahan kepada setiap orang tua agar apa

yang diberikan kepada anak tidak secara berlebih-lebihan, supaya apa yang

diberikan orang tua kepada anak tidak jadi bumerang bagi anak maupun bagi

orang tuanya.

16

Dewa Ketut Sukardi, Psikologi Populer Bimbingan Perkembangan Jiwa Anak, (Jakarta:
Ghalia Indonesia, 1987), hal.20.
19

Dalam sebuah lembaga pendidikan terdapat berbagai tingkah dan perilaku

anak didik dalam berdisiplin. Adakalanya selalu taat menjalankan disiplin tetapi

tidak sedikit pula yang melanggar. Metode memberi perhatian sangatlah tepat

dalam mendidik kedisiplinan anak didik. Apabila ada anak didik yang sering

melanggar maka harus diberikan perhatian yang lebih khusus agar ia merasa

diperhatikan dan lebih semangat menjalankan disiplin. Sedangkan anak didik

yang berdisiplin juga diberikan perhatian dan dijadikan sebagai contoh bagi anak-

anak yang kurang berdisiplin. Metode memberi perhatian sangat efektif untuk

membangkitkan semangat anak didik untuk memupuk kesadaran berdisiplin.

5. Metode Diskusi

Dalam dunia pendidikan metode diskusi ini mendapat perhatian karena

dengan diskusi akan merangsang anak didik berfikir atau mengeluarkan pendapat

sendiri.17 Metode diskusi bukan hanya percakapan atau debat biasa saja, tapi

diskusi timbul karena ada masalah yang memerlukan jawaban atau pendapat yang

bermacam-macam.

Dalam diskusi menemukan kesimpulan yang baik untuk memutuskan

suatu perkara yang sulit. Dalam Al-Quran Allah SWT. menggambarkan peristiwa

dialog atau diskusi Nabi Ibrahim as. dengan anaknya Ismail as. Sebagaimana

tersebut dalam surat as-Shaffat ayat 102:




Artinya: Maka tatkala Ismail sampai pada umur sanggup berusaha bersama-
sama, Ibrahim berkata: wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam

17
Zakiah Daradjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara,
2004), hal. 292.
20

mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu.


Wahai ayahku, lakukan apa yang diperintahkan kepadamu, Insyaallah
engkau akan menemuiku termasuk orang-orang yang sabar QS. As-
Shaffat (37):102.

Percakapan Nabi Ibrahim as. dengan Ismail as. menggambarkan satu

permasalahan yang diselesaikan melalui diskusi sehingga mendapatkan

kesimpulan atau bulat tekad untuk memutuskan suatu perkara.

Sama halnya dalam menegakan kedisiplinan, pemberian hukuman

terhadap anak didik yang melanggar disiplin tentunya perlu didiskusikan, baik itu

sesama guru ataupun dengan anak yang melanggar. Berdiskusi dengan anak didik

bukan untuk meringankan hukuman dari kesalahannya tetapi bertujuan untuk

mendidik anak supaya tidak mengulangi kesalahannya itu. Disamping itu juga si

anak merasa dihargai ketika diajak berdiskusi tentang permasalahan yang

dihadapinya sehingga memberikan pelajaran baginya untuk berpikir yang lebih

matang lagi.

6. Metode Hukuman

Metode ini berhubungan dengan pujian dan penghargaan juga. Imbalan

terhadap orang lain itu terdiri dari dua yaitu penghargaan (reward/targhib) dan

hukuman (punishment/tarhib).

Targhib ialah janji terhadap kesenangan, kenikmatan akhirat yang disertai


bujukan. Tarhib ialah ancaman karena dosa yang dilakukan. Targhib
bertujuan agar orang mematuhi aturan Allah. Tarhib demikian juga. Akan
tetapi, tekanannya ialah targhib agar melakukan kebaikan, sedangkan
tarhib agar menjauhi kejahatan.18

Metode ini berdasarkan sifat kejiwaan manusia yaitu sifat kesenangan,

keselamatan dan tidak menginginkan kesengsaraan. Targhib dan tarhib dalam

18
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan..., hal. 146.
21

pendidikan Islam berbeda dari metode ganjaran dan hukuman dalam pendidikan

barat. Perbedaan utamanya ialah targhib dan tarhib bersandarkan ajaran Allah

SWT. sedangkan ganjaran dan hukuman bersandarkan hukuman dan ganjaran

duniawi.19

Islam sangat menganjurkan kepada orang tua atau pendidik agar mendidik

anak-anak mereka secara bertahap sehingga bisa mendatangkan manfaat. Metode

ini adalah cara terakhir yang dilakukan saat sarana lain tidak bisa mencapai

tujuan, saat itu boleh melakukan metode penjatuhan sanksi. Dalam hal ini bukan

berarti orang tua atau pendidik selalu berfikir bagaimana memberikan sanksi

kepada anaknya, tetapi ia harus berfikir bagaimana pertama kali untuk

mengarahkan anak-anak mereka dengan metode yang lebih baik serta mengajak

mereka kepada nilai-nilai mulia yang penuh kesabaran.

Oleh karena itu, dalam memberikan hukuman, yang patut dibenci adalah

perilaku yang salah, bukan orangnya. Apabila anak yang dihukum sudah

memperbaiki perilakunya, maka tidak ada alasan untuk tetap membencinya.

Semoga siapa saja yang mendidik dan membina akhlak anak terutama dalam

berdisiplin bisa memilih metode pendidikan yang tepat untuk digunakan dan

sesuai pada situasi dan kondisinya.

Oleh itu, setiap pendidik dalam melihat anak didik harus objektif. Apabila

anak didik berbuat kebaikan maka harus diberi penghargaan dan sebaliknya yang

bersalah harus diberi hukuman sebagai pelajaran agar berpikir lebih matang.

Hukuman dapat diambil sebagai metode dalam mendidik apabila terpaksa atau

tidak ada alternatif lain yang bisa dilakukan.


19
Ibid..., hal. 147.
22