Anda di halaman 1dari 10

Tugas Ilmu Lingkungan

PEMANASAN GLOBAL (GLOBAL WARMING), PENYEBAB


DAN
DAMPAKNYA TERHADAP LINGKUNGAN

Oleh :
Mirza Firdyah Astari
NIM. 20012681519024

Pengelolaan Sumber Daya Alam


Program Studi Pengelolaan Lingkungan
Pasca Sarjana Universitas Sriwijaya
Palembang
2015
Pendahuluan

Banyak orang beranggapan bahwa merokok, membakar sampah, membakar batubara, minyak
bumi, kebakaran hutan dan lainnya, prosesnya telah selesai begitu saja karena asap telah
hilang berbaur dengan udara. Namun, sebenarnya tidaklah demikian, dampak dari
pembakaran tersebut sangat luar biasa dalam jangka panjang, yaitu mengakibatkan
pemanasan global (global warming). Pemanasan global tidak saja berdampak pada perubahan
iklim dan cuaca di negara di seluruh dunia, namun juga bisa secara khusus berdampak
terhadap kesehatan masyarakat, termasuk di dalamnya kesehatan reproduksi manusia.
Dampak terhadap kesehatan reproduksi berarti ancaman terhadap eksistensi manusia di muka
bumi. Banyak pihak bisa melakukan berbagai upaya dan tindakan pencegahan pemanasan
global mulai dari sekarang dan mulai dari hal-hal yang kecil. Upaya ini tentu tak bisa
dilakukan secara sendiri-sendiri atau orang per orang, namun harus merupakan suatu gerakan
kolektif dan massif yang melibatkan banyak orang sebagai tindakan penyelamatan generasi
yang akan datang.
Pemanasan Global dan Permasalahannya. Jika dilihat dari aspek kejadiannya, pemanasan
global merupakan kejadian yang diakibatkan oleh meningkatnya suhu rata-rata pada lapisan
atmosfer, air laut, dan juga pada daratan.
Gejala terjadinya pemanasan global dapat diamati dan dirasakan dengan adanya berbagai
kejadian seperti pergantian musim yang tidak tentu (unpredictable), terjadinya hujan badai
dimana-mana, terjadinya angin puting beliung, terjadinya banjir dan kekeringan pada waktu
bersamaan, terumbu karang memutih, serta mewabahnya berbagai penyakit yang diakibatkan
karena faktor buruknya kesehatan lingkungan. Banyak ahli berpendapat bahwa kausa utama
pemanasan global adalah karena ulah manusia, walaupun ada penyebab lain yang bersifat
alami. Kontribusi ulah manusia terhadap kejadian pemanasan bumi antara lain
direpresentasikan oleh kejadian pembakaran batubara sebagai pembangkit tenaga listrik,
pembakaran minyak bumi untuk kendaraan bermotor, dan pembakaran gas alam untuk
keperluan memasak.
Akibat pembakaran tersebut, seluruh gas karbondioksida dan gas sisa pembakaran lainnya
dilepaskan ke atmosfer, dan keberadaan gas-gas tersebut yang semakin banyak bisa menjadi
insulator yang menyekat panas dari sinar matahari yang dipancarkan ke permukaan bumi.
Diperkirakan proses menghangat dan mendinginnya bumi ini telah saling berganti dan sudah
terjadi sekitar 4 milyar tahun. Peristiwa inilah yang kemudian lebih populer disebut efek
rumah kaca. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemanasan global terjadi akibat
adanya peningkatan gas rumah kaca, yaitu gas yang memiliki sifat penyerap panas seperti
karbondioksida (CO2), metana (CH4), nitroksida (N2O), uap air, chloro-fluoro-carbon (CFC),
hidro-fluoro-carbon (HFCs), dan sulfur heksafluorida (SF6). Pengaruh gas ini mempunyai
dampak dan pengaruh terhadap banyak hal yang berkait dengan kehidupan manusia.
Suhu bumi dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang rata-rata eningkatannya
sekitar 0,6oC bahkan bisa lebih tinggi 1,4 5,8oC. Peningkatan suhu bumi ini sudah tentu bisa
mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di kutub utara sehingga meningkatkan
permukaan air laut dan pada akhirnya menimbulkan banjir di daerah pantai, menenggelamkan
pulau-pulau dan kota-kota besar di tepi laut, peningkatan curah hujan di daerah beriklim
tropis, kondisi tanah yang lebih cepat mengering sehingga bisa mengakibatkan krisis
penyediaan sumber makanan (pangan), migrasinya hewan dantanaman ke daerah yang lebih
dingin dan musnahnya hewan dan tumbuhan yang tidak bisa berpindah atau beradaptasi.
Secara khusus akibat pembakaran batubara dan minyak bumi yang berlebihan, maka akan
keluar gas emisi SO2, partikel dan nitrogen oksida (NO). Jika gas-gas tersebut bereaksi di
udara, akan membentuk polutan sekunder seperti NO2, asam nitrat (HNO3), butiran asam
sulfat, garam sulfat, dan garam nitrat. Polutan yang jatuh ke bumi dapat menjadi hujan asam,
embun asam, dan partikel asam. Derajat keasaman (pH) air hujan bisa mencapai 5,1 dan
kondisi ini sangat membahayakan kesehatan manusia dan dapat menyebabkan berbagai
kerusakan.
Berbagai asap seperti asap rokok, asap kendaraan bermotor, asap industri, asap pembangkit
listrik, dan asap kebakaran hutan merupakan kontributor terbesar untuk terjadinya
pencemaran udara atmosfer (polusi). Banyak faktor yang dapat menyebabkan polusi udara, di
antaranya polusi yang ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia atau
kombinasi keduanya. Polusi udara dapat mengakibatkan dampak pencemaran udara baik
yang bersifat langsung dan lokal, regional, maupun global atau tidak langsung dalam kurun
waktu kemudian.

Dampak Pemanasan Global Terhadap Lingkungan.

Komposisi kimiawi dari atmosfer sedang mengalami perubahan sejalan dengan penambahan
gas rumah kaca terutama karbon dioksida, metan dan asam nitrat. Kasiat menyaring panas
dari gas tersebut tidak berfungsi.
Energi dari matahari memacu cuaca dan iklim bumi serta memanasi permukaan bumi;
sebaliknya bumi mengembalikan energi tersebut ke angkasa.
Gas rumah kaca pada atomsfer (uap air, karbondioksida dan gas lainnya) menyaring
sejumlah energi yang dipancarkan, menahan panas seperti rumah kaca. Tanpa efek rumah
kaca natural ini maka suhu akan lebih rendah dari yang ada sekarang dan kehidupan seperti
yang ada sekarang tidak mungkin ada. Jadi gas rumah kaca menyebabkan suhu udara di
permukaan bumi menjadi lebih nyaman sekitar 60F/15C.
Tetapi permasalahan akan muncul ketika terjadi konsentrasi gas rumah kaca pada atmosfer
bertambah. Sejak awal revolusi industri, konsentrasi karbon dioksida pada atmosfer
bertambah mendekati 30%, konsetrasi metan lebih dari dua kali, konsentrasi asam nitrat
bertambah 15%.
Penambahan tersebut telah meningkatkan kemampuan menjaring panas pada atmosfer bumi.
Mengapa konsentrasi gas rumah kaca bertambah?
Para ilmuwan umumnya percaya bahwa pembakaran bahan bakar fosil dan kegiatan manusia
lainnya merupakan penyebab utama dari bertambahnya konsentrasi karbon dioksida dan gas
rumah kaca.
Perubahan Iklim merupakan tantangan yang paling serius yang dihadapi dunia di abad 21.
Sejumlah bukti baru dan kuat yang muncul dalam studi mutakhir memperlihatkan bahwa
masalah pemanasan yang terjadi 50 tahun terakhir disebabkan oleh tindakan manusia.
Pemasan global di masa depan lebih besar dari yang diduga sebelumnya.
Sebagian besar studi tentang perubahan iklim sepakat bahwa sekarang kita menghadapi
bertambahanya suhu global yang tidak dapat dicegah lagi dan bahwa perubahan iklim
mungkin sudah terjadi sekarang.

Mengenai Perubahan Iklim, badan yang terdiri dari 2000 ilmuwan, mengajukan sejumlah
pandangan mengenai realitas sekarang ini:
Bencana-bencana alam yang lebih sering dan dahsyat seperti gempa bumi, banjir,
Angin topan, siklon dan kekeringan akan terus terjadi. Bencana badai besar terjadi
empat kali lebih besar sejak tahun 1960.
Suhu global meningkat sekitar 5o C (10o F) sampai abad berikut, tetapi di sejumlah
tempat dapat lebih tinggi dari itu. Permukaan es di kutub utara makin tipis.
Penggundulan hutan, yang melepaskan karbon dari pohon-pohon, juga
menghilangkan kemampuan untuk menyerap karbon. 20% emisi karbon disebabkan
oleh tindakan manusia dan memacu perubahan iklim.
Sejak Perang Dunia II jumlah kendaraan motor di dunia bertambah dari 40 juta
menjadi 680 juta; kendaraan motor termasuk merupakan produk manusia yang
menyebabkan adanya emisi carbon dioksida pada atmosfer.
Selama 50 tahun kita telah menggunakan sekurang-kurangnya setengah dari sumber
energi yang tidak dapat dipulihkan dan telah merusak 50% dari hutan dunia.
Apa yang menyebabkan pemanasan global?
Pemanasan global terjadi ketika ada konsentrasi gas-gas tertentu yang dikenal dengan
gas rumah kaca, yg terus bertambah di udara, Hal tersebut disebabkan oleh tindakan
manusia, kegiatan industri, khususnya CO2 dan chlorofluorocarbon. Yang terutama
adalah karbon dioksida, yang umumnya dihasilkan oleh penggunaan batubara, minyak
bumi, gas dan penggundulan hutan serta pembakaran hutan. Asam nitrat dihasilkan
oleh kendaraan dan emisi industri, sedangkan emisi metan disebabkan oleh aktivitas
industri dan pertanian. Chlorofluorocarbon CFCs merusak lapisan ozon seperti juga
gas rumah kaca menyebabkan pemanasan global, tetapi sekarang dihapus dalam
Protokol Montreal. Karbon dioksida, chlorofluorocarbon, metan, asam nitrat adalah
gas-gas polutif yang terakumulasi di udara dan menyaring banyak panas dari
matahari. Sementara lautan dan
vegetasi menangkap banyak CO2, kemampuannya untuk menjadi atap sekarang
berlebihan akibat emisi. Ini berarti bahwa setiap tahun, jumlah akumulatif dari gas
rumah kaca yang berada di udara bertambah dan itu berarti mempercepat pemanasan
global.
Sepanjang seratus tahun ini konsumsi energi dunia bertambah secara spektakuler.
Sekitar 70% energi dipakai oleh negara-negara maju; dan 78% dari energi tersebut
berasal dari bahan bakar fosil. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan yang
mengakibatkan sejumlah wilayah terkuras habis dan yang lainnya mereguk
keuntungan. Sementara itu, jumlah dana untuk pemanfaatan energi yang tak dapat
habis (matahari, angin, biogas, air, khususnya hidro mini dan makro), yang dapat
mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, baik di negara maju maupun miskin
tetaplah rendah, dalam perbandingan dengan bantuan keuangan dan investasi yang
dialokasikan untuk bahan bakar fosil dan energi nuklir.
Penggundulan hutan yang mengurangi penyerapan karbon oleh pohon, menyebabkan
misi karbon bertambah sebesar 20%, dan mengubah iklim mikro lokal dan siklus
hidrologis, sehingga mempengaruhi kesuburan tanah.
Pencegahan perubahan iklim yang merusak membutuhkan tindakan nyata untuk
menstabilkan tingkat gas rumah kaca sekarang di udara sesegera mungkin; dengan
mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 50%, demikian Panel Inter Pemerintah.
Jika tidak melakukan apa-apa maka hal-hal berikut akan membawa dampak yang
merusak yang memberikan sejumlah konsekuensi:
1. Kenaikan permukaan laut yang membawa dampak luas bagi manusia; terutama bagi
penduduk yang tinggal di dataran rendah, di daerah pantai yang padat penduduk di
banyak
negara dan di delta-delta sungai. Negara-negara miskin akan dilanda kekeringan dan
banjir. Salah satu perkiraan adalah bahwa sekitar tahun 2020 sekitar _ penduduk dunia
terancam bahaya kekeringan dan banjir. Negara-negara miskin akan menderita luar
biasa akibat perubahan iklim sebagian karena letak geografisnya dan juga karena
kekurangan sumber alam untuk penyesuaian dengan perubahan dan melawan
dampaknya.
1. Manusia dan spesies lainnya di planet sudah menderita akibat perubahan iklim.
Proyeksi ilmiah menunjukkan adanya peluasan dan peningkatan penderitaan,
misalnya, tekanan panas, bertambahnya dan berkembangnya serangga yang
menyebabkan penyakit tropis baik di utara maupun selatan katulistiwa. Juga adanya
rawan pangan yang makin menignkat.
2. Biaya tahunan untuk menangkal pemanasan global dapat mencapai 300 miliar dollar,
50 tahun ke depan jika tidak diambil tidakan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.
Jika pemimpin politik kita dan pembuat kebijaksanaan politik tidak bertindak cepat,
dunia ekonomi akan menderita kemunduran serius. Selama dekade lalu bencana alam
telah mengeruk dana sebesar 608 milliar dollar.
3. Wakil PBB untuk Program Lingkungan Hidup mengemukakan pada Konvensi
Kerangka Kerja PBB pada Konferensi Perubahan Iklim ke-7 di Maroko November
2001 bahwa panen makanan pokok seperti gandum, beras dan jagung dapat merosot
sampai 30% seratus tahun mendatang akibat pemanasan global. Mereka cemas bahwa
para petani akan beralih tempat olahan ke pegunungan yang lebih sejuk,
menyebabkan terdesaknya hutan dan terancamnya kehidupan di hutan dan
terancamnya mutu serta jumlah suplai air. Penemuan baru ini menunjukkan bahwa
sebagian besar dari rakyat pedesaan di negara berkembang sudah mengalami dan
menderita kelaparan dan gizi buruk tersebut.
Pengungsi akibat lingkungan hidup sudah berjumlah 25 juta di seluruh dunia
Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:
Apakah ada sesuatu yang baru dari semua ini bagi anda?
Apa dampak dari fakta-fakta di atas untuk anda?
Keadaan genting dari planet kita sekarang ini disebabkan oleh konsumsi berlebihan,
bukan oleh 80% penduduk miskin di 2/3 belahan bumi, tetapi oleh 20% penduduk
kaya yang mengkonsumsi 86% dari seluruh sumber alam dunia.
Kita menyadari bahwa ada kesejahteraan umum internasional yang melampaui batas-
batas lokal dan nasional perhatian terhadap laut, hutan, udara, binatang, ikan dan
spesies tumbuhan sekarang ini tidak Cuma menjadi keprihatinan suat negara dan
pemerintahannya. Masalah lingkungan mewajibkan kita untuk merumuskan kembali
kesejahteraan umum dalam lingkup global.
Bila kita mengkonsumsi sumber alam kita lebih cepat dari proses penggantiannya atau
menghaburkan sumber-sumber alam yang tidak ada gantinya tanpa mempedulikan
kebutuhan generasi mendatang maka kita merampok modal mereka. Leonardo Boff
berbicara tentang kemanusiaan sebagai kesadaran akan bumi. Model refleksi seperti
ini membantu kita untuk mengevaluasi kembali keterkaitan seluruh ciptaan.
Sementara manusia mempunyai tempat khas dan peranan dalam keseluruhan rencana
Tuhan bagi alam semesta, maka manusia tidak dapat bertahan hidup tanpa relasi yang
sehat dengan lingkungan sekitarnya. Manusia butuh ciptaan lainnya agar hidup
sementara ciptaan lainnya sebenarnya tidak membutuhkan manusia.
Sekarang ini perlu mengembangkan struktur yang dapat melindungi lingkungan
global. Maksudnya mengembangkan dan mendukung lembaga-lembaga internasional
seperti PBB dan persetujuan internasional seperti Protokol Kyoto.
Masalah Lingkungan melampuai kompetensi negara masing-masing bangsa
Apa yang dapat kita kerjakan SEKARANG?
Keutuhan lingkungan yang nyata hanya akan dicapai dengan upaya terpadu dari
semua pihak . Krisis lingkungan pada dasarnya adalah krisis nilai. Kita membutuhkan
suatu model sikap untuk melihat dunia secara berbeda. Lepas dari perubahan-
perubahan yang ada kita dapat mulai dari gaya hidup kita sebagai landasan, hal ini
penting karena kita bekerja demi mengubah kebijaksanaan pada level internasional
dan nasional.
Pendidikan diperlukan agar masyarakat waspada tidak saja
terhadap lingkungan yang mengancam planet tetapi juga waspada terhadap mysteri
yang mendasari eksistensi planet.
Apakah anda tahu bahwa untuk pertama kali dalam sejarah kita memiliki persetujuan
yang mengikat secara hukum (Protokol Kyoto) berkaitan dengan perlindungan
lingkungan hidup, untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Tetapi agar menjadi
operasional, hal tersebut mesti diratifikasi oleh 55 negara (sampai saat ini ada 46
negara). Juga, ratifikasi itu mesti mencakup negara penghasil 55% emisi gas rumah
kaca dunia, yang berarti bahwa negara-negara inustri besar harus meratifikasinya.
Saat ini hanya sedikit negara industri besar yang meratifikasinya.
Secara pribadi dan komunitas kita dapat mempraktekkan tiga hal berikut:
A. Daur Ulang/menggunakan kembali
1. Memperhatikan kebiasaan konsumen, dan membeli atau menggunakan barang-
barang yang tidak dipaket. Mencari merk yang memperhatikan lingkungan dan
sabun-sabun dan agenagen pembersih.
2. Mendaur ulang segala yang dapat didaur ulang: plastik, kupasan buah segar dan
Sayur mayur, kertas dan kardus, gelas dan kaleng.
3. Mulailah dengan membuat kompos. Tambahkan cacing dan juga daun-daun,
ranting-ranting dan kotoran dari kebun dan kompos itu akan menjadi pupuk alam
untuk tanah.
4. Mendorong industri kerajinan untuk menjalankan tanggungjawab bagi daur ulang
bahan-bahan sisa dan alat-alat elektro seperti tv dan komputer.
B. Mengurangi
1. Hemat dalam menggunakan air
2. Mengurangi pembakaran barang-barang yang tidak dapat didaur ulang
3. Mengurangi emisi CFC dan emisi pengganti CFC dengan tidak menggunakan
aerosol dan menggunakan energi efisien.
4. Mengurangi penggunakan listrik dengan menggunakan lampu hemat energi.
C. Mengingatkan
1. Pemerintah setempat akan komitmen mereka untuk mendaur ulang dan
mengurangi pemborosan serta mempertahankan hukum daur ulang dan
pemborosan agar tetap relevan.
2. Mendorong pengusaha setempat agar mengurangi produk-produk paket.
3. Mengingatkan otoritas setempat untuk memelihara listrik dan menggunakannya
dalam system yang efisien.

Dampak Pemanasan Global Terhadap Kesehatan Manusia.

Saat pemanasan global terjadi dan iklim di bumi menjadi lebih panas, para ilmuwan
memprediksi akan banyak orang meninggal karena gelombang panas seperti yang terjadi
pada musim panas Eropa pada tahun 2003 yang lalu, dimana tercatat sekitar 35.000 orang
meninggal dunia. Selain itu, iklim yang panas ini membuat wabah penyakit yang biasa
ditemukan di daerah tropis semakin meluas dan kemungkinan dapat berpindah tempat ke
daerah yang dulunya dingin dan subtropis seperti Eropa dan Amerika. Pemanasan global
dengan segala kompleksitas permasalahannya telah diuraikan dengan jelas. Namun secara
spesifik akibat pemanasan global tersebut dapat diidentifikasi dampak langsung terhadap
kesehatan manusia secara umum yaitu:
1. Sesuai teori Blum (1974), bahwa di antara keempat faktor yang mempengaruhi
derajat/status kesehatan individu maupun masyarakat, maka faktor lingkungan
memberikan kontribusi terbesar terhadap terjadinya penyakit pada manusia.
Perubahan cuaca dan iklim dunia akibat pemanasan global secara langsung dapat
mempengaruhi kondisi lingkungan tempat manusia tinggal. Curah hujan yang tinggi
bisa menstimulasi pertumbuhan vektor yang tak terkendali beberapa penyakit infeksi
menular seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) dan malaria. Saat ini, 45%
penduduk dunia tinggal di daerah yang rawan terhadap nyamuk pembawa penyakit
malaria dan persentase ini akan semakin meningkat menjadi 60% jika suhu
meningkat. Berdasarkan data epidemiologis Depkes RI Tahun 2005, semua daerah di
wilayah Indonesia saat ini sudah termasuk daerah endemis DBD dan Incidence Rate
paling tinggi berada di daerah perkotaan seperti Jakarta, Medan, Bandung, Surabaya,
dan kota besar lainnya di Indonesia.
Malaria ini menjadi endemik di 106 negara dan mengancam sebagian besar populasi
penduduk dunia, terutama di negara berkembang seperti Asia dan Afrika. Hal yang
paling mengkhawatirkan dari malaria ini karena parasit ini sudah resisten (tidak
mempan lagi) disembuhkan dengan berbagai macam obat dan sangat sulit
dikendalikan penyebarannya. Di Indonesia, penyakit malaria ini sering mewabah di
Sumatera dan Papua yang menjadi sangat rawan terhadap endemic malaria. Saat suhu
rata-rata di Sumatera dan Papua naik di antara 25 27oC, suhu tersebut merupakan
suhu ideal bagi perkembangan vektor malaria, dalam hal ini nyamuk Anopheles
betina.
Wabah demam berdarah juga akan melanda di seluruh dunia saat iklim menjadi lebih
hangat, terutama di Amerika dan di wilayah subtropis lainnya. Saat curah hujan mulai
meningkat dan semua daerah di seluruh belahan bumi ini menjadi lebih hangat,
penyebaran penyakit demam berdarah akan semakin meluas. Menurut
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) PBB, 3.5 milyar orang pada
tahun
2085 berisiko terkena demam berdarah yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes
aegepty. Di Indonesia penyakit ini terbukti telah memakan korban yang tidak kenal
usia,
mulai dari bayi sampai usia lanjut yang kerap terjadi setiap tahun saat musim hujan
tiba1.
2. Meningkatnya suhu bumi akan semakin meningkatnya risiko terjadinya kematian
akibat
stress panas (heatstroke) pada manusia, seperti yang dapat kita saksikan saat musim
haji di Saudi Arabia yang kebetulan bersamaan dengan terjadinya musim panas dan
wilayah benua Afrika.
3. Meningkatnya suhu bumi akan semakin meningkatkan insidensi penyakit-penyakit
alergi
(hipersensitivitas) karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora
mold, dan serbuk sari tanaman. Padahal penyakit alergi merupakan penyakit yang
sangat sulit untuk disembuhkan sehingga dapat meningkatkan biaya kesehatan dan
perawatan kesehatan masyarakat akibat penyakit tersebut.
4. Meningkatnya insidensi penyakit-penyakit tropikal khas lainnya seperti demam
kuning
(yellow fever), encephalitis, dan meningitis. Penyakit-penyakit tersebut sangat rawan
terjadi pada usia anak-anak sehingga secara langsung pemanasan global merupakan
ancaman nyata bagi kesehatan anak-anak usia balita.
5. Selain penyakit-penyakit yang telah disebutkan di atas, banyak ilmuwan
memprediksikan akan muncul berbagai penyakit baru yang tidak diketahui
sebelumnya dan belum ada obatnya seperti SARS, aviant influenza (flu burung),
aviant malaria, berbagai macam flu yang mematikan, atau bahkan Ebola. Jika
berbagai wabah penyakit ini muncul secara mendadak seperti yang terjadi pada tahun
1918 saat pandemi influenza muncul di dunia, sekitar 40 juta orang meninggal.
Dengan demikian sebagian populasi penduduk dunia terancam punah, apalagi di era
globalisasi ini dimana orang bisa berpindah/migrasi dari satu negara ke negara lainnya
tanpa mengenal ruang dan waktu, maka penyebaran berbagai wabah penyakit akan
semakin sulit untuk dikendalikan.
Kesehatan Reproduksi Manusia

Berdasarkan ICPD 1994, kesehatan reproduksi didefinisikan sebagai suatu keadaan


sejahtera fisik, mental, dan sosial yang utuh yang tidak semata-mata terbebas dari
penyakit atau kecacatan lainnya yang terkait dengan sistem reproduksi, fungsi, serta
prosesnya.
Terdapat 10 elemen kesehatan reproduksi yaitu:
1. pelayanan dan konseling, informasi, edukasi, dan komunikasi KB,
2. pelayanan prenatal, persalinan, dan postpartum yang aman,termasuk menyusui,
3. pencegahan dan pengobatan kemandulan,
4. pencegahan dan penanganan aborsi tidak aman,
5. pelayanan aborsi aman, bila tidak melanggar hukum,
6. pengobatan Infeksi Saluran Reproduksi, Infeksi Menular Seksual dan kondisi lain
dalam sistem reproduksi,
7. informasi dan konseling mengenai seksualitas,
8. pencegahan secara aktif praktek-praktek berbahaya seperti sunat
perempuan/mutilasi kelamin,
9. pelayanan rujukan untuk komplikasi KB, kehamilan, persalinan dan aborsi,
kemandulan, ISR, IMS, dan HIV/AIDS, serta kanker kandungan, serta
10. fasilitas diagnosis dan pengobatan IMS seiring dengan meningkatnya penularan
HIV.
Berdasarkan defisini dan elemen kesehatan reproduksi yang telah dijelaskan di atas
jelas bahwa kesehatan reproduksi merupakan bagian penting dari sistem pewarisan
generasi.