Anda di halaman 1dari 16

Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol. 15, No. 1, Mei 2013, 27-42 DOI: 10.9744/jak.15.1.

27-42
ISSN 1411-0288 print / ISSN 2338-8137 online

Pengaruh Faktor Good Corporate Governance, Free Cash Flow,


dan Leverage Terhadap Manajemen Laba

Dian Agustia
Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Airlangga Surabaya

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris pengaruh good corporate
governance, free cash flow, dan rasio leverage terhadap manajemen laba. Good corporate
governance diukur dengan ukuran komite audit, proporsi komite audit independen,
kepemilikan institusional dan kepemilikan manajerial. Discretionary accrual digunakan
sebagai proksi manajemen laba. Sampel penelitian adalah 14 perusahaan tekstil yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia, yang dipilih menggunakan purposive sampling selama
periode penelitian, tahun 2007-2011. Data dianalisis menggunakan regresi berganda.
Berdasarkan hasil pengujian disimpulkan bahwa semua komponen good corporate
governance (ukuran komite audit, proporsi komite audit independen, kepemilikan
institusional dan kepemilikan manajerial) tidak berpengaruh signifikan terhadap
manajemen laba, sedangkan leverage berpengaruh, free cash flow berpengaruh negative dan
signifikan terhadap manajemen laba. Hal ini berarti perusahaan dengan free cash flow yang
tinggi akan membatasi praktek manajemen laba.

Kata kunci: manajemn laba, good corporate governance, free cash flow, rasio leverage

ABSTRACT

The aim of this research is to provide empirical evidence on the impact of good corporate
governance, free cash flow, and leverage ratio on earnings management. Good corporate
governance is measured by audit committees size, the proportion of independent
commissioners, institutional ownership, and managerial ownership. Discretionary accrual is
the proxy of earning management. This research used 14 textile companies listed in Indonesia
Stock Exchange, selected using purposive sampling method, during the research period 2007-
2011. Data were analyzed using multiple regression method. Based on the result of analysis
concluded that all components of good corporate governance (audit committees size, the
proportion of independent commissioners, institutional ownership, and managerial
ownership), have no significant effect on earnings management, while leverage ratio has a
significant effect on earnings management, and free cash flow has a negative and significant
effect on earnings management. It means that companies with high free cash flow will restrict
the practice of earnings management.

Keywords: Earnings management, good corporate governance, free cash flow, leverage ratio.

PENDAHULUAN keuangan yang digunakan untuk mengukur


kinerja manajemen adalah laba. Informasi laba
Laporan keuangan merupakan salah satu merupakan perhatian utama untuk menaksir
sumber informasi mengenai kondisi dan kinerja kinerja atau prestasi manajemen. Selain itu
suatu perusahaan bagi pihak eksternal. Informasi informasi laba juga digunakan oleh investor atau
tersebut menyangkut posisi keuangan, kinerja pihak lain yang berkepentingan sebagai indikator
serta perubahan posisi keuangan suatu efisiensi penggunaan dana yg tertanam dalam
perusahaan, dan bermanfaat bagi sejumlah besar perusahaan yang diwujudkan dalam tingkat
pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. pengembalian dan indikator untuk kenaikan
Salah satu elemen penting dalam laporan kemakmuran (Ghozali dan Chariri, 2007:350).

27
28 JURNAL AKUNTANSI DAN KEUANGAN, VOL. 15, NO. 1, MEI 2013: 27-42

Adanya asimetri informasi dan kecenderungan and Maintain Reputation, perusahaan yang me-
dari pihak eksternal (investor) untuk lebih laporkan laba lebih besar daripada ekspektasi
memperhatikan informasi laba sebagai parameter investor harga sahamnya akan mengalami pening-
kinerja perusahaan, akan mendorong manajemen katan yang signifikan karena investor mempre-
untuk melakukan manipulasi dalam menunjuk- diksi perusahaan akan mempunyai masa depan
kan informasi laba, yang disebut sebagai mana- yang lebih baik; (4) IPO (Initial Public Offering),
jemen laba (earnings management). Beberapa manajer perusahaan yang akan go public ter-
faktor yang dapat mempengaruhi praktek mana- motivasi untuk melakukan manajemen laba
jemen laba dalam perusahaan adalah praktek sehingga laba yang dilaporkan menjadi tinggi
good corporate governance, kebijakan free cash flow dengan harapan dapat menaikkan harga saham
dan leverage ratio. Ada ketidak konsistenan hasil perusahaan.
penelitian faktor-faktor tersebut dalam mempe- Perusahaan dengan arus kas bebas (free cash
ngaruhi praktek manajemen laba perusahaan. flow) yang tinggi akan memiliki kesempatan yang
Berdasarkan beberapa teori yang meng- lebih besar untuk melakukan manajemen laba,
indikasikan free cash flow sebagai salah satu karena perusahaan tersebut terindikasi meng-
faktor yang dapat mempengaruhi adanya praktik hadapi masalah keagenan yang lebih besar
manajemen laba serta pentingnya penerapan good (Chung et al., 2005). Penelitian sebelumnya me-
corporate governance dan peranan auditor dalam nunjukkan bahwa perusahaan dengan surplus
meminimalisasi dan mendeteksi manajemen laba. arus kas bebas yang tinggi juga cenderung me-
Manajemen laba bisa menjadi salah satu faktor lakukan praktik manajemen laba dengan me-
yang dapat mengurangi kredibilitas laporan ke- ningkatkan laba yang dilaporkan untuk menutupi
uangan karena angka yang dilaporkan tersebut tindakan pihak manajer yang tidak optimal dalam
tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Perilaku memanfaatkan kekayaan perusahaan. White et al.
manajer yang melakukan manajemen laba dapat (2003:68) mengungkapkan bahwa semakin besar
diminimalisir dengan menerapkan good corporate free cash flow yang tersedia dalam suatu per-
governance. Dalam studi Kouki et al. (2011), usahaan, maka semakin sehat perusahaan ter-
Pradipta (2011), Oktovianti dan Agustia (2012), sebut karena memiliki kas yang tersedia untuk
dan Dewanto (2012) menggunakan empat kom- pertumbuhan, pembayaran hutang, dan deviden.
ponen dalam mengidentifikasi good corporate Free cash flow merupakan determinan penting
governance yaitu komite audit, dewan komisaris dalam penentuan nilai perusahaan, sehingga
independen, kepemilikan institusional, dan kepe- manajer perusahaan lebih terfokus pada usaha
milikan manajerial. Pradipta (2011) yang me- untuk meningkatkan free cash flow (Sawir, 2004:
nyatakan bahwa komite audit, kepemilikan insti- 94).
tusional dan manjerial tidak memiliki pengaruh Investor untuk melihat kemampuan dan
terhadap praktik manajemen laba. GCG dapat resiko perusahaan, salah satunya dengan leverage
mengurangi konflik keagenan dan meningkatkan rasio. Penggunaan debt to asset ratio sebagai
pengungkapan yang dapat membatasi asimetri proksi variabel leverage ratio. Perusahaan yang
informasi. memiliki rasio hutang relatif tinggi akan memiliki
Manajemen laba menurut Scott (2011:423) ekspektasi pengembalian yang juga lebih tinggi
adalah the choice by a manager of accounting ketika perekonomian berada pada kondisi yang
policies so as to achieve some specific objective. Hal normal, namun memiliki resiko kerugian ketika
ini berarti manajemen laba merupakan keputusan ekonomi mengalami resesi (Brigham dan Houston,
dari manajer untuk memilih kebijakan akuntansi 2010:143). Dengan memperoleh dana melalui
tertentu yang dianggap bisa mencapai tujuan yang hutang, para pemegang saham dapat memper-
diinginkan, baik itu untuk meningkatkan laba tahankan kendali mereka atas perusahaan ter-
atau mengurangi tingkat kerugian yang dilapor- sebut dengan sekaligus membatasi investasi yang
kan. Menurut Scott (2011:426) beberapa motivasi mereka tanamkan.
yang mendorong manajemen melakukan earning Berdasarkan latar belakang di atas maka
management, antara lain adalah (1) Motivasi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
bonus, yaitu manajer akan berusaha mengatur Apakah ukuran komite, audit proporsi dewan
laba bersih agar dapat memaksimalkan bonusnya; komisaris, independen kepemilikan institusional,
(2) Hipotesis perjanjian hutang (Debt Covenant kepemilikan manajerial, free cash flow dan
Hypothesis), berkaitan dengan persyaratan per- leverage ratio berpengaruh terhadap manajemen
janjian hutang yang harus dipenuhi, laba yang laba ?
tinggi diharapkan dapat mengurangi kemungkin- Tujuan penelitian ini adalah untuk memper-
an terjadinya pelanggaran syarat perjanjian oleh bukti empiris pengaruh ukuran komite, audit
hutang; (3) Meet Investors Earnings Expectations proporsi dewan komisaris, independen kepemilik-
Agustia: Pengaruh Faktor Good Corporate Governance, Free Cash Flow 29

an institusional, kepemilikan manajerial, free cash jawaban kepada stakeholder (Surya dan Yusti-
flow dan leverage ratio terhadap manajemen laba. vandana, 2008 : 24).
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mem- Kepemilikan managerial adalah kepemilikan
berikan informasi yang bermanfaat untuk me- saham perusahaan oleh managerial. Kepemilikan
ningkatkan penerapan good corporate governance managerial merupakan alat monitoring internal
free cash flow, dan leverage dalam rangka yang penting untuk memecahkan konflik agensi
pengelolaan perusahaan, terutama yang terkait antara external stockholders dan manajemen
dengan usaha meminimalkan praktik manajemen (Chen dan Steiner, 1999). Fungsi dewan komisaris
laba. sesuai dengan yang dinyatakan dalam National
Code for Good Corporate governance (2001) adalah
Teori Keagenan memastikan bahwa perusahaan telah melakukan
tanggung jawab sosial dan mempertimbangkan
Dalam rangka memahami corporate gover- kepentingan berbagai stakeholder perusahaan
nance maka digunakanlah dasar perspektif sebaik memonitor efektifitas pelaksanaan good
hubungan keagenan. Jensen dan Meckling (1976) corporate governance. Pengaruh ukuran dewan
menyatakan bahwa hubungan keagenan adalah komisaris terhadap kinerja perusahaan memiliki
sebuah kontrak antara manajer (agent) dengan hasil yang beragam. Salah satu argumen menyata-
investor (principal). Terjadinya konflik kepenting- kan bahwa makin banyaknya personel yang
an antara pemilik dan agen karena kemungkinan menjadi dewan komisaris dapat berakibat pada
agen bertindak tidak sesuai dengan kepentingan makin buruknya kinerja yang dimiliki perusahaan
principal, sehingga memicu biaya keagenan (Yermack 1996, Eisenberg et al. 1998). Sesuai
(agency cost). Eisenhardt (1989) menggunakan tiga dengan Kep. 29/PM/2004, komite audit adalah
asumsi sifat dasar manusia guna menjelaskan komite yang dibentuk oleh dewan komisaris
tentang teori agensi yaitu (1) manusia pada untuk melakukan tugas pengawasan pengelolaan
umumnya mementingkan diri sendiri (self perusahaan. Keberadaan komite audit sangat
interest), (2) manusia memiliki daya pikir terbatas penting bagi pengelolaan perusahaan. Weston dan
mengenai persepsi masa mendatang (bounded Brigham (1994:17-23) menyatakan bahwa potensi
rationality), dan (3) manusia selalu meng-hindari munculnya konflik dalam hubungan agensi sangat
resiko (risk averse). Berdasarkan asumsi sifat besar, yaitu ketika manajemen perusahaan
dasar manusia tersebut manajer sebagai manusia memiliki kurang dari 100% saham biasa milik
kemungkinan besar akan bertindak berdasarkan perusahaan maka potensi konflik itupun muncul.
sifat opportunistic, yaitu mengutamakan kepen- Konflik terjadi karena adanya keinginan agen
tingan pribadinya. Selain itu corporate governance untuk mendapatkan gaji yang tinggi atau men-
juga berkaitan dengan bagaimana para investor dapatkan fasilitas tertentu yang sama dengan
mengontrol para manajer (Shleifer dan Vishny , milik principal demi kenyamanan pribadinya.
1997). Dengan kata lain yakni corporate gover- Jensen dan Meckling (1976) menemukan bahwa
nance diharapkan akan dapat berfungsi untuk kepemilikan manajerial berhasil menjadi salah
menekan atau menurunkan biaya keagenan satu faktor penentu untuk mengurangi masalah
(agency cost). keagenan dari manajer dengan menyelaraskan
kepentingan-kepentingan manajer dengan peme-
GoodCorporate governance gang saham.
Secara umum dewan komisaris ditugaskan
Tata kelola perusahaan mencakup hubungan dan diberi tanggung jawab atas pengawasan
antara para pemangku kepentingan (stakeholder) kualitas informasi yang terkandung dalam laporan
yang terlibat serta tujuan pengelolaan perusaha- keuangan. Hal ini penting mengingat adanya
an. Pihak-pihak utama dalam tata kelola per- kepentingan dari manajemen untuk melakukan
usahaan adalah pemegang saham, manajemen, earnings management yang berdampak pada ber-
dan dewan direksi. Pemangku kepentingan lain- kurangnya kepercayaan investor. Untuk meng-
nya termasuk karyawan, pemasok, pelanggan, atasinya dewan komisaris diperbolehkan untuk
bank dan kreditor lain, regulator, lingkungan, memiliki akses pada informasi perusahaan.
serta masyarakat. Menurut Komite Cadbury Dewan komisaris tidak memiliki otoritas dalam
(1992), corporate governance merupakan suatu perusahaan, maka dewan direksi bertanggung
sistem yang mengarahkan dan mengendalikan jawab untuk menyampaikan informasi terkait
perusahaan dengan tujuan agar mencapai ke- dengan perusahaan kepada dewan komisaris
sinambungan antara kekuatan kewenangan yang (NCCG, 2001). Selain mensupervisi dan memberi
diperlukan oleh perusahaan untuk menjamin nasihat pada dewan direksi sesuai dengan UU No.
kelangsungan eksistensinya dan pertanggung- 1 tahun 1995, fungsi dewan komisaris yang lain
30 JURNAL AKUNTANSI DAN KEUANGAN, VOL. 15, NO. 1, MEI 2013: 27-42

sesuai dengan yang dinyatakan dalam National dan Ormiston (2004 : 185) mengukur leverage ratio
Code for Good Corporate governance (2001) adalah dengan persamaan berikut:
memastikan bahwa perusahaan telah melakukan Net Liabilitie s
Leverage ratio =
tanggung jawab sosial dan mempertimbangkan Total Assets
kepentingan berbagai stakeholder perusahaan se-
baik memonitor efektifitas pelaksanaan good
Ukuran Perusahaan
corporate governance.
Pengaruh ukuran dewan komisaris terhadap
Ukuran perusahaan akan mempengaruhi
kinerja perusahaan memiliki hasil yang beragam.
struktur pendanaan perusahaan. Perusahaan
Salah satu argumen menyatakan bahwa makin
cenderung akan memerlukan dana yang lebih
banyaknya personel yang menjadi dewan komi- besar dibandingkan perusahaan yang lebih kecil.
saris dapat berakibat pada makin buruknya Tambahan dana tersebut bisa diperoleh dari
kinerja yang dimiliki perusahaan (Yermack 1996, penerbitan saham baru atau penambahan hutang.
Eisenberg et al. 1998, dan Jensen 1993). UU Motivasi untuk mendapatkan dana tersebut akan
Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Ter- mendorong pihak manajemen untuk melakukan
batas, mengatakan bahwa jumlah anggota dewan praktik manajemen laba, sehingga dengan
komisaris terdiri dari lebih satu orang anggota pelaporan laba yang tinggi maka calon investor
merupakan majelis dan setiap anggota Dewan maupun kreditur akan tertarik untuk menanam-
Komisaris tidak dapat bertindak sendiri-sendiri, kan dananya.
melainkan berdasarkan keputusan Dewan Komi- Berdasarkan size hypothesis yang dipaparkan
saris. Yu (2006) dan Cornett et al. (2009) menemu- oleh Watt dan Zimmerman (1986) berasumsi
kan bahwa ukuran dewan komisaris berpengaruh bahwa perusahaan besar secara politis, lebih besar
negatif secara signifikan terhadap earnings melakukan transfer political cost dalam kerangka
management yang diukur dengan menggunakan politic process, dibandingkan dengan perusahaan
Modified Jones Model untuk memperoleh nilai kecil. Lebih lanjut beberapa peneliti berhasil
akrual kelolaannya. membuktikan bahwa political process memiliki
dampak pada pemilihan prosedur akuntansi oleh
Leverage Ratio perusahaan yang berukuran besar (Naz et al.,
2011). Ukuran perusahaan dalam penelitian ini
Rasio leverage menggambarkan sumber dana
menggunakan proksi log natural dari total asset.
operasi yang digunakan oleh perusahaan. Rasio Total aset digunakan sebagai proksi ukuran
leverage juga menunjukkan risiko yang dihadapi perusahaan dengan pertimbangan total aset
perusahaan. Semakin besar risiko yang dihadapi perusahaan relatif lebih stabil dibandingkan
oleh perusahaan maka ketidakpastian untuk dengan jumlah penjualan dan nilai kapitalisasi
menghasilkan laba di masa depan juga akan pasar (Guna dan Herawaty, 2010).
makin meningkat. Foster (1986:65) mengungkap-
kan bahwa terdapat hubungan antara rasio Manajemen Laba
leverage dengan return perusahaan. Artinya
hutang dapat digunakan untuk memprediksi Menejemen Laba merupakan suatu tindakan
keuntungan yang kemungkinan bisa diperoleh manajer yang memilih kebijakan akuntansi untuk
bagi investor jika berinvestasi pada suatu per- mencapai beberapa tujuan yang spesifik dan
usahaan. kebijakan akuntansi yang dimaksud adalah peng-
Jensen and Meckling (1976) berargumen gunaan accrual dalam menyusun laporan keuang-
tentang moral hazard untuk menjelaskan agency an (Scott, 2006:344).
cost of debt, bahwa level hutang tinggi akan Dalam berbagai penelitian pengukuran dis-
menyebabkan perusahaan untuk memilih pada cretionary accrual/abnormal accrual diukur untuk
proyek-proyek investasi berisiko secara berlebihan. mendeteksi pola perilaku earnings management.
Masalah kerugian juga dapat memberikan kontri- Penelitian Jones (1991) yang meneliti praktik
busi atas kebijakan pendanaan melalui hutang. earnings management selama import investiga-
Myers and Majluf (1984) menyatakan bahwa jika tions. Jones mengidentifikasikan earnings mana-
manajer-manajer mempunyai informasi privat gement dengan mengukur discretionary accrual
mengenai proyek-proyek investasinya, mereka dan dinyatakan bila emiten melakukan earnings
berharap memperoleh pendanaan dari pihak luar management dengan pola income increasing akan
untuk mengganti investor atas kemungkinan memiliki nilai discretionary accrual yang positif
menemukan perusahaan yang kinerjanya buruk dan jika melakukan income decreasing (discretion-
pada proyek-proyek yang mempunyai net present nary accrual negatif) untuk mendapatkan proteksi
value negatif. DeAngelo et al. (1994) dan Fraser import dari pemerintah.
Agustia: Pengaruh Faktor Good Corporate Governance, Free Cash Flow 31

Pengembangan Hipotesis H1b: Proporsi dewan komisaris independen ber-


pengaruh terhadap manajemen laba.
Pengaruh Ukuran Komite Audit Terhadap Mana-
jemen Laba Pengaruh Kepemilikan Institusional Terhadap
Manajemen Laba
Komite audit adalah pihak yang bertanggung
jawab melakukan pengawasan dan pengendalian Kepemilikan institusional adalah bagian dari
untuk menciptakan keadilan, transparansi, akun- saham perusahaaan yang dimiliki oleh investor
tabilitas, dan responsibilitas. Keempat faktor institusi, seperti perusahaan asuransi, institusi
inilah yang membuat laporan keuangan menjadi keuangan (bank, perusahaan keuangan, kredit),
lebih berkualitas (Sulistyanto, 2008:156). dana pensiun, investment banking, dan perusaha-
Hasil penelitian oleh Lin et al. (2006) dan an lainnya yang terkait dengan kategori tersebut
Alves (2011) juga mengungkapkan kesimpulan (Yang et al., 2009). Chew dan Gillan (2009:176)
yang sama, yaitu keberadaan komite audit di menjelaskan bahwa terdapat dua jenis investor
perusahaan terbukti berpengaruh negatif ter- institusional, yaitu investor institusional sebagai
hadap praktik manajemen laba. Namun hasil transient investors (pemilik sementara perusaha-
penelitian itu berbeda dengan Alkdaei dan an) dan investor institusional sebagai sophisticated
Hanefah (2012) yaitu bahwa besar kecilnya investors. Kepemilikan institusional mempunyai
ukuran komite audit terbukti tidak berpengaruh pengaruh yang negatif terhadap praktik mana-
terhadap manajemen laba. Hal ini terjadi karena jemen laba, semakin kecil persentase kepemilikan
tujuan perusahaan membentuk komite audit institusional maka semakin besar pula kecen-
hanya sekedar untuk memenuhi peraturan derungan pihak manajer dalam mengambil
Bapepam yang bersifat mandatory. Berdasarkan kebijakan akuntansi tertentu untuk memanipulasi
uraian tersebut, dalam penelitian ini diajukan pelaporan laba (Widyastuti, 2009). Hasil tersebut
hipotesis sebagai berikut: berbeda dengan hasil penelitian oleh Guna dan
H1a: Ukuran komite audit berpengaruh terhadap Herawaty (2010) dan Yang et al. (2009), Oktovianti
manajemen laba. dan Agustia (2012), yang menghasilkan kesimpul-
an bahwa variabel kepemilikan institusional tidak
Pengaruh Proporsi Dewan Komisaris Independen berpengaruh terhadap manajemen laba karena
Terhadap Manajemen Laba investor institusional sebagai pemilik sementara
perusahaan lebih terfokus pada current earnings.
Dewan komisaris independen antara lain Berdasarkan uraian tersebut, dalam penelitian ini
bertugas dan bertanggung jawab untuk memasti- diajukan hipotesis sebagai berikut:
kan bahwa perusahaan memiliki strategi bisnis H1c: Kepemilikan institusional berpengaruh ter-
yang efektif (memantau jadwal, anggaran, dan hadap manajemen laba.
efektivitas strategi), mematuhi hukum dan per-
undangan yang berlaku, serta menjamin bahwa Pengaruh Kepemilikan Manajerial Terhadap
prinsip-prinsip dan praktik good corporate gover- Manajemen Laba
nance telah dipatuhi dan diterapkan dengan baik
(Sulistyanto, 2008:144). Penelitian sebelumya mengungkapkan bahwa
Hasil penelitian Yu (2006), Murhadi (2009), kepemilikan manajerial berpengaruh negatif ter-
Oktovianti dan Agustia (2012). yang menunjukkan hadap manajemen laba dan bisa meningkatkan
bahwa proporsi atau ukuran dewan komisaris kualitas dari proses pelaporan keuangan, hal ini
independen tidak berpengaruh terhadap mana- dikarenakan ketika manajer juga memiliki porsi
jemen laba. Tetapi, menurut Kouki et al. (2011) kepemilikan, maka mereka akan bertindak sama
yang melakukan penelitian dengan mengambil seperti pemegang saham umumnya dan memasti-
sampel dari setiap sektor industri menghasilkan kan bahwa laporan keuangan telah disajikan
kesimpulan bahwa komisaris independen ber- dengan wajar dan mengungkapkan kondisi riil
pengaruh negatif terhadap praktik manajemen perusahaan (Kouki et al., 2011). Yang et al. (2008)
laba, kesimpulan ini diperkuat dengan penelitian yang menyebutkan praktik manajemen laba di
oleh Dewanto (2012:75) yang juga memperoleh perusahaan cenderung akan mengalami penurun-
hasil bahwa proporsi dewan komisaris independen an seiring dengan peningkatan jumlah saham
terbukti berpengaruh negatif terhadap praktik yang dimiliki oleh pihak manajemen perusahaan.
manajemen laba. Berdasarkan uraian tersebut, Hasil penelitian Guna dan Herawaty (2010)
dalam penelitian ini diajukan hipotesis sebagai dan Pradipta (2011) adalah kepemilikan mana-
berikut: jerial tidak mempunyai pengaruh terhadap mana-
32 JURNAL AKUNTANSI DAN KEUANGAN, VOL. 15, NO. 1, MEI 2013: 27-42

jemen laba. Hasil penelitian Oktovianti dan Kerangka Berfikir


Agustia (2012), yang menyatakan bahwa kepe-
milikan manajerial ini berpengaruh negatif signifi- Good Corporate Governance
kan terhadap earnings management.
Berdasarkan uraian tersebut, dalam peneliti-
Ukuran Komite Audit

an ini diajukan hipotesis sebagai berikut: Proporsi Dewan H1.1


H1d: Kepemilikan manajerial berpengaruh ter- Komisaris Independen
H.1.
hadap manajemen laba. Kepemilikan
2.2
H1.3
Institusional
Manajemen Laba
Pengaruh Free Cash Flow Terhadap Mana- Kepemilikan Manajerial
H1.4

jemen Laba H2

White et al. (2003:68) mengungkapkan bahwa Free Cash Flow


H3

semakin besar free cash flow yang tersedia dalam Variabel kontrol :
suatu perusahaan, maka semakin sehat perusaha- Ukuran Perusahaan

an tersebut karena memiliki kas yang tersedia


Leverage Ratio

untuk pertumbuhan, pembayaran hutang, dan


deviden. Hal ini juga dapat diartikan bahwa
METODE PENELITIAN
semakin kecil nilai FCF yang dimiliki perusahaan,
maka perusahaan tersebut bisa dikategorikan
Rancangan Penelitian
semakin tidak sehat.
Hasil penelitian oleh Isnawati (2011) yang Jenis penelitian ini merupakan basic research
menyatakan bahwa FCF berpengaruh negatif (penelitian dasar) dengan pendekatan kuantitatif
signifikan terhadap manajemen laba, sedangkan yaitu penelitian dengan menggunakan hipotesis
Kangarluei et al. (2011) memberikan bukti lain dengan menggunakan alat uji statistik untuk
bahwa besar kecilnya nilai FCF suatu perusahaan menyimpulkan hipotesis yang menggunakan
tidak mempunyai pengaruh secara signifikan ter- pengujian kausal (causal hypothesis). Hipotesis
hadap kemungkinan terjadinya manajemen laba. penjelas (explanatory hypothesis) atau hipotesis
Berdasarkan uraian tersebut, dalam penelitian ini kausal (causal hypothesis) adalah hipotesis yang
diajukan hipotesis sebagai berikut: menyatakan hubungan satu variabel yang me-
H2: Free cash flow berpengaruh terhadap mana- nyebabkan perubahan variabel lain (Sekaran,
jemen laba. 2007).

Pengaruh Leverage Ratio Terhadap Mana- Identifikasi Variabel dan Definisi Operasio-
jemen Laba nal

Leverage adalah perbandingan antara total Pada penelitian ini terdapat variabel bebas,
kewajiban dengan total aset perusahaan. Rasio ini variabel kontrol dan variabel terikat. Variabel
menunjukkan besarnya besar aset yang dimiliki bebas pada penelitian ini adalah Ukuran Komite
perusahaan yang dibiayai dengan hutang. Audit, Proporsi Dewan Komisaris Independen,
Hasil penelitian Mamedova (2008) dan Oktovianti Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Mana-
dan Agustia (2012) yang menyatakan bahwa jerial, Free Cash Flow dan Leverage Ratio. Variabel
leverage perusahaan berpengaruh terhadap prak- kontrol dalam penelitian ini adalah ukuran per-
tek manajemen melakukan earnings management. usahaan. Variabel terikat dalam penelitian ini
Dalam teori keagenan, semakin dekat perusahaan adalah manajemen laba.
dengan pelanggaran perjanjian utang yang ber- Definisi operasional diperlukan agar konsep
basis akuntansi, lebih memungkinkan manajer yang digunakan dapat diukur secara empiris serta
perusahaan untuk memilih prosedur akuntansi menghindari terjadinya kesalahpahaman dalam
yang memindahkan laba yang dilaporkan dari penafsiran yang berbeda. Defini operasional dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
periode masa datang ke periode saat ini (Watts
and Zimmerman, 1986). Berdasarkan uraian ter- Ukuran Komite Audit
sebut, maka hipotesis yang diajukan sebagai
berikut: Ukuran komite audit didefinisikan sebagai
H3: Leverage ratio berpengaruh terhadap mana- keberadaan komite audit yang dimiliki oleh suatu
jemen laba. perusahaan. Variabel komite audit dalam peneliti-
Agustia: Pengaruh Faktor Good Corporate Governance, Free Cash Flow 33

an ini diukur dengan menggunakan jumlah ang- Free Cash Flow = NOPAT investasi bersih pada
gota komite audit yang ada di perusahaan. Ber- modal operasi
dasarkan peraturan Bapepam No IX.I.5 dijelaskan Keterangan:
bahwa keberadaan komite audit sekurang-kurang- NOPAT (net operating profit after tax) = EBIT (1
nya terdiri dari 3 orang dimana komisaris inde- tarif pajak)
penden perusahaan menjadi ketua komite, Investasi bersih modal operasi = Total modal
sedangkan yang lain adalah pihak ekstern yang operasit total modal operasit-1
independen dan minimal salah seorang diantara- Total modal operasi = Modal kerja operasi bersih +
nya memiliki kemampuan di bidang akuntansi aset tetap bersih
dan keuangan. Modal kerja operasi bersih = Aset lancar kewa-
jiban lancar tanpa bunga
Proporsi Dewan Komisaris Independen
Free cash flow dalam penelitian ini diukur
Peran dewan komisaris adalah memonitor dengan menggunakan skala rasio, dimana nilai
kebijakan direksi yang diharapkan dapat memini- free cash flow dibagi dengan total asset pada
malisir permasalahan agensi yang muncul antara periode yang sama dengan tujuan agar lebih
dewan direksi dan pemengang saham. Jumlah comparable bagi perusahaan-perusahaan yang
komisaris independen wajib mewakili sedikitnya dijadikan sampel (Kangarluei et al., 2011).
30% dari jumlah Komisaris dalam Dewan Komi-
saris (Peraturan BAPEPAM-LK No. IX.I.5). Pro- Leverage Ratio
porsi dewan komisaris independen dihitung
dengan menggunakan persentase dari komisaris Variabel leverage menggunakan rasio Debt to
independen dibandingkan dengan total jumlah Asset, yaitu perbandingan total kewajiban (hutang
komisaris. jangka pendek dan hutang jangka panjang)
dengan total aset yang dimiliki perusahaan pada
Kepemilikan Institusional akhir tahun (Gibson, 2001:241). Rumus leverage
ratio adalah:
Kepemilikan institusional merupakan kepe- Total Hutang
Leverage ratio =
milikan saham perusahaan oleh investor besar Total Aset
seperti perusahaan asuransi, bank, dana pensiun,
dan investment banking yang membeli saham Manajemen Laba
perusahaan dalam jumlah besar (Griffin dan
Ebert, 2007:115). Kepemilikan institusional diukur Manajemen Laba merupakan suatu tindakan
dengan jumlah saham yang dimiliki oleh investor manajer yang memilih kebijakan akuntansi untuk
institusional dibandingkan dengan total saham mencapai beberapa tujuan yang spesifik dan
perusahaan. kebijakan akuntansi yang dimaksud adalah
penggunaan accrual dalam menyusun laporan
Kepemilikan Manajerial keuangan . Earning Management dalam penelitian
ini diukur dengan meng-identifikasi/mengukur
Kepemilikan manajemen adalah saham yang discretionary accrual dengan menggunakan Modi-
dimiliki oleh manajemen secara pribadi maupun fied Jones Model (Dechow et al., 1996). Discre-
saham yang dimiliki oleh anak cabang perusahaan tionary accruals dihitung dengan menggunakan
bersangkutan beserta afiliasinya. Indikator untuk rumus sebagai berikut:
mengukur kepemilikan manajerial adalah presen-
tase perbandingan jumlah saham yang dimiliki TACit = Nit CFOit
pihak manajemen dengan seluruh modal saham
Nilai total accrual (TA) diestimasi dengan
perusahaan yang beredar.
persamaan regresi linear berganda yang berbasis
ordinary least square (OLS) sebagai berikut:
Free Cash Flow
TACit/Ait-1 = 1 (1 / Ait-1) + 2 (REVt / Ait-1) + 3 (PPEt
/ Ait-1) + e
Free Cash Flow merupakan arus kas aktual
yang didistribusikan kepada investor sesudah Dengan menggunakan koefisien regresi di
perusahaan melakukan semua investasi dan
atas nilai non discretionary accruals (NDA) dapat
modal kerja yang diperlukan untuk menjaga
dihitung dengan rumus:
kelangsungan operasionalnya. Variabel ini di-
hitung dengan menggunakan rumus Brigham dan NDAit = 1 (1 / Ait-1) + 2 (REVt / Ait-1 RECt/ Ait-1)
Houston (2010:67), yaitu: + 3 (PPEt / Ait-1)
34 JURNAL AKUNTANSI DAN KEUANGAN, VOL. 15, NO. 1, MEI 2013: 27-42

Selanjutnya discretionary accrual (DA) dapat 2. Data laporan keuangan perusahaan dan data
dihitung sebagai berikut: untuk perhitungan variabel tersedia secara
DAit = TAit / Ait-1 NDAit lengkap untuk tahun pelaporan dari 2006
Keterangan: sampai 2011.
TACit = Total accruals perusahaan i pada periode 3. Perusahaan menerbitkan laporan keuangan
t dengan tahun buku yang berakhir tanggal 31
Nit = Laba bersih perusahaan i pada periode Desember
t 4. Perusahaan menerbitkan laporan keuangan
CFOit = Aliran kas dari aktivitas operasi per- dalam satuan mata uang rupiah.
usahaan i pada periode t
Ait-1 = Total aset perusahaan i pada tahun t-1 Sesuai dengan kriteria sampel yang telah
REVt = Perubahan pendapatan perusahaan i ditetapkan, maka jumlah sampel dalam penelitian
dari tahun t-1 ke tahun t ini adalah sebanyak 14 perusahaan, dengan
RECt = Perubahan piutang perusahaan i dari periode pengamatan 5 (lima) tahun berturut-turut
tahun t-1 ke tahun t dari tahun 2007-2011.
PPEt = Aset tetap (property, plant and equip-
ment) perusahaan tahun t Tabel 1. Pemilihan Sampel Subjek Penelitian
DAit = Discretionary Accruals perusahaan i
pada periode ke t Keterangan Jumlah
NDAit = Non Discretionary Accruals perusahaan Perusahaan Textil yang terdaftar di BEI dan
i pada periode ke t masih tercatat sebagai emiten sampai 31
Desember 2011 18
1, 2, 3 = Koefisien regresi
e = error Perusahaan Textil yang tidak
mempublikasikan laporan keuangan secara
Jenis dan Sumber Data lengkap pada periode 2007-2011 dan tidak
mempunyai data yang lengkap untuk
perhitungan variabel penelitian (1)
Jenis data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah data sekunder berupa laporan ke- Perusahaan yang tidak menerbitkan laporan
uangan 2007-2011. Data-data tersebut diperoleh keuangan dalam satuan mata uang rupiah (3)
dari situs BEI yaitu www.idx.co.id, dan ICMD Jumlah perusahaan yang dijadikan sampel 14
2006-2011.
Sumber: data dari www.idx.co.id yang telah diolah
Populasi dan Sampel
Tehnik Analisis
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini
adalah semua perusahaan Textil yang terdaftar di Penelitian ini menguji pengaruh beberapa
Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berjumlah 18 variabel yaitu ukuran komite audit (UKA), pro-
perusahaan. Berdasarkan indeks produksi industri porsi dewan komisaris independen (DK), kepe-
Besar dan sedang menurut Dua Digit Kode ISIC, milikan institusional (KI), kepemilikan manajerial
perusahaan-perusahaan Tekstil mengalami naik (KM), free cash flow (FCF), dan leverage rasio,
turun pertumbuhan yang signifikan pada tahun terhadap praktik manajemen laba (DA). Variabel
2007-2011. Dari tahun 2007 sampai 2009 meng- kontrol adalah ukuran perusahaan. Pengujian
alami penurunan signifikan, yaitu pada tahun terhadap rumusan menggunakan metode
2007 sebesar 11,17, tahun 2008 sebesar 3,38, dan analisis regresi berganda (multiple regression
tahun 2009 menurun menjadi -5,41. Namun pada analysis) yang terdapat dalam program SPSS
tahun 2010-2011, perusahaan-perusahaan tekstil (Statistical Program for Social Science) versi 18.0.
mampu tumbuh kembali secara signifikan, yaitu Tahap pertama adalah uji asumsi klasik untuk
pada tahun 2010 pertumbuhan meningkat membuktikan bahwa model yang digunakan
menjadi 0.07 dan pada tahun 2011 menjadi 8,12. adalah normal dan tidak mengandung gejala
(Badan Pusat Statistik, 2011) Perusahaan yang multikolinearitas, autokorelasi, dan heteroskedas-
menjadi sampel dalam penelitian ini dipilih tisitas. Kemudian, dilakukan uji untuk melihat
dengan teknik purposive sampling. Kriteria- pengaruh variabel independen terhadap variabel
kriteria dalam menentukan sampel yaitu sebagai dependen.
berikut:
1. Perusahaan Textil yang menjadi sampel adalah Model Analisis
perusahaan yang go publik dan masih terdaftar
sebagai emiten pada BEI sampai tanggal 31 Model yang digunakan dalam penelitian ini
Desember 2011. adalah analisis regresi berganda (multiple regres-
Agustia: Pengaruh Faktor Good Corporate Governance, Free Cash Flow 35

sion analysis). Model regresi yang dikembangkan Tabel 2. Analisis Deskriptif Variabel Penelitian
untuk menguji hipotesis-hipotesis dirumuskan N Mini- Maksi- Mean Std.
adalah: mum mum Deviation
DA = 0 + 1UKA + 2DKI +3KI+ 4KM + 5FCF + DA 70 -1.0899 1.0750 -.011597 0.243031
6LEV + 7SIZE+e UKA 70 2 4 2.97 0.339
Keterangan: DKI 70 0.0000 0.7500 0.385326 0.1199625
DA = discretionary accruals (proksi dari KI 70 0.0000 0.0000 0.672600 0.2014097
manajemen laba) KM 70 0.0000 0.0829 0.009082 0.0213682
FCF 70 -1.6956 3.6077 0.048118 0.5431761
0 = konstanta
LEV 70 0.1859 5.0252 1.133452 0.8885456
1..8 = koefisien regresi ZISE 70 23.3015 29.3263 27.255299 1.2079490
UKA = ukuran komite audit Sumber: hasil pengolahan statistik
DKI = proporsi dewan komisaris independen
KI = kepemilikan institusional Variabel kontrol adalah ukuran perusahaan
KM = kepemilikan manajerial (SIZE), memiliki nilai minimum 23.3015 dan nilai
FCF = free cash flow maksimum 29.3263, serta rata-rata sebesar
LEV = leverage ratio 27.255299 dengan standar deviasi 1.2079490 yang
SIZE = ukuran perusahaan lebih kecil dari mean, hal ini berarti bahwa data
e = koefisien error ukuran perusahaan berada di sekitar nilai rata-
rata.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Uji Asumsi Klasik
Deskripsi Hasil Penelitian
Uji normalitas dilakukan dengan analisis
Perusahaan yang menjadi subjek dalam pene- penyebaran data pada grafik histogram dan
litian ini adalah perusahaan dari sektor industri normal probability plot. Pengujian normalitas juga
Tektil yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada dilakukan secara statistik untuk mendapatkan
periode 2007-2011yaitu sebanyak 18 perusahaan. hasil yang lebih valid, yaitu dengan uji statistik
Berdasarkan kriteria sampel, maka terdapat 14 non-parametrik Kolmogorov-Smirnov. Data dikata-
perusahaan tektil yang go public dan tercatat kan normal jika nilai signifikan lebih besar dari
sampai 31 Desember 2011. 0,05. Hasil pengujian statistik Kolmogorov Smir-
Dalam penelitian ini variabel yang digunakan nov, bahwa data telah terdistribusi secara normal.
adalah manajemen laba (DA) sebagai variabel Hal ini ditunjukkan oleh nilai signifikansi
dependen, dan variabel independen yang meliputi Kolmogorov-Smirnov yang berada di atas 0.05
ukuran komite audit (UKA), proporsi dewan yaitu sebesar 0.205. Selanjutnya, untuk men-
dukung hasil uji statistik tersebut, dilakukan pula
komisaris independen (DKI), kepemilikan insti-
uji normalitas melalui analisis grafik histogram
tusional (KI), kepemilikan manajerial (KM), dan
dan normal probability plot. Setelah dilakukannya
free cash flow (FCF), serta leverage ratio (LEV).
casewise diagnostics, model regresi telah ter-
Variabel kontrol yakni ukuran perusahaan (SIZE).
distribusi secara normal. Hal ini ditunjukkan dari
Variabel praktik manajemen laba (DA) me-
distribusi data yang membentuk seperti lonceng.
miliki nilai minimum -1.0899 dan nilai maksimum
Pengujian terhadap adanya mulkolinieritas
1.0750 serta rata-rata sebesar -0.011597. Standar dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan
deviasi 0.2431031 yang melebihi nilai rata-rata nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF)
discretionary accruals menunjukkan tingginya pada model regresi. Jika tolerance value lebih dari
fluktuasi data variabel DA selama periode 0,10 dan VIF kurang dari 10, hal ini menunjukkan
pengamatan. bahwa tidak terjadi multikolienaritas. Nilai
Variabel ukuran komite audit (UKA) me- Durbin-Watson adalah sebesar 1.877. Hal ini
miliki nilai minimum 2.0 dan maksimum 4.0, yang berarti bahwa model regresi tidak mengindikasi-
berarti bahwa selama tahun 2007-2011 perusaha- kan adanya autokorelasi karena nilai Durbin
an tektil yang terdaftar di BEI memiliki jumlah Watson (r) terletak pada batas antara du dan 4-du.
anggota komite audit paling sedikit 2orang dan Model regresi dalam penelitian ini bebas dari
paling banyak 4 orang. Nilai rata-rata sebesar 2.97 gejala heteroskedastisitas karena tidak ada pola
dengan standar deviasi 0.339. Hal ini menunjuk- tertentu pada grafik scatterplot tersebut. Titik-titik
kan bahwa data pada variabel ukuran komite pada grafik relatif menyebar baik di atas sumbu Y
audit memiliki sebaran yang kecil/berada di maupun di bawah sumbu Y (tidak terdapat pola
sekitar nilai rata-rata. tertentu).
36 JURNAL AKUNTANSI DAN KEUANGAN, VOL. 15, NO. 1, MEI 2013: 27-42

Pembuktian Hipotesis variabel kontrol ukuran perusahaan secara ber-


sama-sama berpengaruh secara signifikan ter-
Analisis regresi linear berganda digunakan hadap variabel dependen yakni praktik mana-
untuk mengukur pengaruh antara lebih dari satu jemen laba. Hal ini menunjukkan bahwa model
variabel prediktor (variabel bebas) terhadap varia- regresi dalam penelitian ini benar-benar dapat
bel terikat diperlihatkan seperti pada Tabel 3. diterima dan digunakan untuk memprediksi.
Hasil analisis regresi linear berganda dengan
Tabel 3. Hasil Uji Statistik t uji statistik t tersebut menunjukkan pengaruh dari
Model Koefisien T Sig. masing-masing variabel independen terhadap
(Constant) 2.711 3.977 .000 variabel dependen. Variabel ukuran komite audit
UKA .040 .448 .656 mempunyai nilai t sebesar 0.448 dengan tingkat
DK -.204 -.803 .425 signifikansi 0.656. Hal ini berarti bahwa tidak ada
KI .085 .553 .582 pengaruh signifikan ukuran komite audit terhadap
KM -.124 -.090 .929 manajemen laba, sehingga H1 ditolak.
FCF -.477 -2.724 .009
Variabel proporsi dewan komisaris indepen-
LEV -.100 -2.554 .013
SIZE -.100 -3.911 .000
den mempunyai nilai t sebesar -0.803 dengan
Sumber: Hasil Pengolahan Dara tingkat signifikansi 0.425. Hal ini berarti bahwa
tidak ada pengaruh signifikan proporsi dewan
Berdasarkan hasil regresi linear berganda di komisaris independen terhadap manajemen laba,
atas, model persamaan regresi yang dihasilkan sehingga H2 ditolak.Variabel kepemilikan insti-
adalah: tusional mempunyai nilai t sebesar 0.553 dengan
DA = 2.711 - 0.040 UKA - 0.204 DKI + 0.085 KI - tingkat signifikansi 0.582. Hal ini berarti bahwa
0.124 KM - 0.477 FCF 0.100LEV + 0.100 tingkat signifikansinya lebih besar daripada 0.05,
SIZE + e maka secara statistik pengaruhnya sangat kecil
atau dikatakan bahwa tidak ada pengaruh signi-
Pada koefisien determinasi model regresi fikan kepemilikan institusional terhadap mana-
diperoleh nilai adjusted R square sebesar 0.259. jemen laba, sehingga H3 ditolak. Variabel kepe-
Hal ini berarti bahwa variabel independen ukuran milikan manajerial mempunyai nilai t sebesar -
komite audit, proporsi dewan komisaris inde- 0.090 dengan tingkat signifikansi 0.929. Hal ini
penden, kepemilikan institusional, kepemilikan berarti bahwa kepemilikan manajerial berpe-
manajerial, free cash flow, dan leverage ratio, serta ngaruh negatif terhadap manajemen laba, tetapi
variabel kontrol ukuran perusahaan mampu karena tingkat signifikansinya lebih besar dari-
menjelaskan perubahan variabel manajemen laba pada 0.05, maka secara statistik pengaruhnya
sebesar 25.9% sedangkan sisanya dipengaruhi oleh sangat kecil atau bisa dikatakan bahwa tidak ada
faktor lain yang tidak diteliti. Hasil uji statistik F pengaruh kepemilikan manajerial terhadap mana-
ditunjukkan pada Tabel 4. jemen laba, sehingga H4 ditolak.
Variabel free cash flow mempunyai nilai t
Tabel 4. Hasil Uji Statistik F sebesar -2.724 dengan tingkat signifikansi 0.009.
ANOVAb Karena signifikansinya berada di bawah 0.05 hal
ini berarti bahwa variabel free cash flow
Sum of Mean
Model Df F Sig. berpengaruh secara negatif signifikan terhadap
Squares Square
manajemen laba sehingga H5 diterima. Variabel
1 Regression 1.047 8 .131 2.636 .015a
leverage ratio mempunyai nilai t sebesar -2.554
Residual 3.030 61 .050
dengan tingkat signifikansi 0.013. Karena
Total 4.078 69 signifikansinya berada di bawah 0.05 hal ini
a. Predictors: (Constant), LEV, FCF, DKI, UKA, KI, berarti bahwa variabel free cash flow berpengaruh
SIZE, KM secara negatif signifikan terhadap manajemen
b. Dependent Variable: DA laba sehingga H5 diterima.
Sumber : Hasil pengolahan data
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil uji statistik tersebut,
diketahui nilai F sebesar 2.636 dengan tingkat Pengaruh Ukuran Komite Audit terhadap
signifikansi 0.015 (< 0.05) Hal ini berarti bahwa Manajemen Laba
variabel independen yang terdiri dari ukuran
komite audit, proporsi dewan komisaris inde- Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan
penden, kepemilikan institusional, kepemilikan bahwa ukuran komite audit tidak berpengaruh
manajerial, free cash flow, dan leverage ratio, serta terhadap manajemen laba. Hasil penelitian ini
Agustia: Pengaruh Faktor Good Corporate Governance, Free Cash Flow 37

juga konsisten dengan penelitian Alkdaei dan Menurut Effendi (2009:20), dalam kaitannya
Hanefah (2012) yang menyimpulkan bahwa ukur- dengan implementasi GCG di perusahaan, di-
an komite audit terbukti tidak berpengaruh harapkan bahwa keberadaan komisaris termasuk
terhadap manajemen laba. komisaris independen tidak hanya sebagai pe-
Di Indonesia, terdapat peraturan Bapepam lengkap, karena dalam diri komisaris melekat
yang bersifat mandatory, sehingga tujuan per- tanggung jawab secara hukum. Namun dalam
usahaan membentuk komite audit utamanya praktik yang selama ini terjadi di Indonesia,
hanya untuk memenuhi sehingga terhindar dari terdapat kecenderungan bahwa kedudukan direk-
sanksi hukuman. Oleh karena itu, kinerja dari si biasanya sangat kuat, bahkan ada direksi yang
komite audit kurang efektif dan optimal dalam enggan membagi wewenang serta tidak mem-
mengembangkan dan menerapkan proses peng- berikan informasi yang memadai kepada komi-
awasan untuk meminimalisir praktik manajemen saris independen. Selain itu, terdapat kendala
laba. Menurut Effendi (2009:34), keberadaan yang cukup menghambat kinerja komisaris inde-
komite audit di perusahaan publik sampai saat ini penden yaitu masih lemahnya kompetensi dan
masih sekedar untuk memenuhi ketentuan pihak integritas mereka. Hal ini terjadi karena peng-
regulator (pemerintah) saja. Hal ini ditunjukkan angkatan komisaris biasanya harus didasarkan
dengan penunjukan anggota komite audit di pada penghargaan, hubungan keluarga, atau
perusahaan publik yang sebagian besar bukan hubungan dekat lainnya, padahal integritas dan
didasarkan atas kompetensi dan kapabilitas yang independensi merupakan hal yang fundamental
memadai, namun lebih didasarkan pada kedekat- agar GCG dalam perusahaan dapat terwujud
an dengan dewan komisaris perusahaan. Anggota secara efektif. Oleh karena itulah dewan komisaris
komite audit semacam ini sulit diharapkan untuk independen di perusahaan masih belum bisa
dapat bekerja secara profesional, sehingga besar bekerja secara efektif dalam meningkatkan peng-
kecilnya jumlah komite audit di perusahaan tidak awasan terhadap operasional perusahaan dan
terbukti tidak berpengaruh serta tidak bisa
akan bisa membatasi terjadinya praktik mana-
meminimalisir praktik manajemen laba.
jemen laba.
Dewan komisaris independen tidak berpe-
Hasil penelitian ini tidak mendukung pene-
ngaruh signifikan terhadap praktik manajemen
litian Saleh et al. (2007) yang menjelaskan bahwa
laba, hal ini dikarenakan komisaris independen
ukuran komite audit di sebuah perusahaan
ditunjuk oleh pemegang saham mayoritas dalam
berpengaruh positif terhadap fungsi pengawasan
RUPS sehingga apabila tidak sejalan dengan
dan kinerja komite, hal ini dikarenakan semakin
keputusan pemilik maka perusahaan dapat me-
banyak anggota komite audit maka semakin bera-
lakukan penggantian. Jadi, pada praktiknya
gam pula keahlian dan pengetahuan dari masing-
meskipun komposisi dewan komisaris independen
masing anggota yang bisa dimanfaatkan untuk pada perusahaan relatif besar, tetapi mereka tidak
mengembangkan dan menerapkan proses peng- bisa benar-benar independen dalam melaksana-
awasan dengan lebih efektif. kan tugas dan pengawasannya karena terbatas
oleh peraturan/kebijakan dari pemegang saham
Pengaruh Proporsi Dewan Komisaris Inde-
mayoritas, sehingga tidak bisa mendorong pelak-
penden terhadap Manajemen Laba sanaan good corporate governance secara optimal
untuk membatasi praktik manajemen laba.
Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan
Semakin tinggi proporsi dewan komisaris,
bahwa proporsi dewan komisaris independen tidak dapat menimbulkan agency problems (masalah
berpengaruh terhadap manajemen laba. Hasil keagenan), yaitu dengan makin banyaknya ang-
penelitian menunjukkan bahwa ukuran dewan gota dewan komisaris maka badan ini akan
komsiaris tidak memiliki kemampuan untuk mengalami kesulitan dalam menjalankan peran-
mengendalikan pihak manajemen sehingga tidak nya, diantaranya kesulitan dalam berkomunikasi
dapat mengurangi earnings management. Hal ini dan mengkoordinir kerja dari masing-masing
dapat dijelaskan bahwa besar kecilnya dewan anggota dewan itu sendiri, kesulitan dalam meng-
komisaris bukanlah menjadi faktor penentu utama awasi dan mengendalikan tindakan dari mana-
dari efektivitas pengawasan terhadap manajemen jemen, serta kesulitan dalam mengambil keputus-
perusahaan. Akan tetapi efektivitas mekanisme an yang berguna bagi perusahaan (Yermack, 1996)
pengendalian tergantung pada nilai, norma dan dan (Jensen, 1993). Adanya kesulitan dalam
kepercayaan yang diterima dalam suatu organi- perusahaan dengan anggota dewan komisaris
sasi serta peran dewan komisaris dalam aktivitas yang banyak ini membuat sulitnya menjalankan
pengendalian (monitoring) terhadap manajemen tugas pengawasan terhadap manajemen per-
(Jennings, 2005). usahaan yang nantinya berdampak pula pada
38 JURNAL AKUNTANSI DAN KEUANGAN, VOL. 15, NO. 1, MEI 2013: 27-42

kinerja perusahaan yang semakin menurun mempunyai pengaruh terhadap manajemen laba.
(Yermack 1996, Eisenberg et al. 1998). Zhou dan Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian
Chen (2004) menunjukkan bahwa ukuran dewan dari Guna dan Herawaty (2010) dan Pradipta
komisaris di bank komersial tidak berpengaruh (2011) yang juga menyimpulkan bahwa kepemilik-
terhadap earnings management yang diukur an manajerial tidak bisa membatasi terjadinya
dengan menggunakan loan loss provisions. Hasil manajemen laba.
penelitian ini juga mendukung penelitian Yu Dari statistik deskriptif terlihat bahwa ke-
(2006), Murhadi (2009); Oktovianti dan Agustia pemilikan manajerial perusahaan di Indonesia
(2012). Hasil penelitian ini tidak mendukung sangat kecil dengan rata-rata di bawah 5%.
penelitian dari Cornett et al. (2009) menemukan Sehingga para manajer yang juga memiliki saham
bahwa ukuran dewan komisaris berpengaruh perusahaan tersebut cenderung mengambil
negatif terhadap eranings management. kebijakan untuk mengelola laba dengan sudut
pandang keinginan investor, misalnya dengan
Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap meningkatkan laba yang dilaporkan sehingga
Manajemen Laba banyak investor yang tertarik untuk menanamkan
modal dan bisa menaikkan harga saham per-
Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui usahaan. Kegagalan pihak manajemen yang juga
bahwa kepemilikan institusional tidak berpeng- merupakan pemilik modal perusahaan dalam
aruh terhadap manajemen laba. Hasil penelitian meningkatkan kualitas dan proses pelaporan
ini mendukung penelitian Guna dan Herawaty keuangan disebabkan karena presentase manajer
(2010) dan Yang et al. (2009), Oktovianti dan yang memiliki saham relatif sangat kecil jika
Agustia (2012). Hasil penelitian ini menunjukkan dibandingkan dengan keseluruhan modal yang
bahwa kepemilikan institusional tidak memiliki dimiliki investor umum.
kemampuan untuk mengendalikan pihak mana- Hasil penelitian ini tidak mendukung pene-
jemen sehingga tidak dapat mengurangi earnings litian Oktovianti dan Agustia (2012), yang me-
management. Kepemilikan saham yang besar
nyatakan bahwa kepemilikan manajerial ini
tersebut seharusnya membuat investor institusio-
berpengaruh negatif signifikan terhadap earnings
nal mempunyai kekuatan yang lebih dalam
management. Weston dan Brigham (1994:17-23)
mengontrol kegiatan operasional perusahaan.
menyatakan bahwa potensi munculnya konflik
Tetapi pada kenyataannya, kepemilikan institusio-
dalam hubungan agensi sangat besar, yaitu ketika
nal tidak bisa membatasi terjadinya manajemen
manajemen perusahaan memiliki kurang dari
laba. Hal ini dikarenakan investor institusional
100% saham biasa milik perusahaan maka potensi
tidak berperan sebagai sophisticated investors yang
konflik itupun muncul. Konflik terjadi karena
memiliki lebih banyak kemampuan dan kesem-
patan untuk memonitor dan mendisiplinkan adanya keinginan agen untuk mendapatkan gaji
manajer agar lebih terfokus pada nilai perusaha- yang tinggi atau mendapatkan fasilitas tertentu
an, serta membatasi kebijakan manajemen dalam yang sama dengan milik principal demi ke-
melakukan manipulasi laba, melainkan berperan nyamanan pribadinya.
sebagai pemilik sementara yang lebih terfokus
pada current earnings (Yang et al., 2009). Transient Pengaruh Free Cash Flow terhadap Mana-
investors justru akan membuat pihak manajer jemen Laba
mengambil kebijakan agar bisa mencapai target
laba yang diinginkan para investor. Oleh karena Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan
itu, adanya kepemilikan institusional belum tentu bahwa free cash flow berpengaruh negatif signifi-
akan berdampak pada peningkatan proses peng- kan terhadap manajemen laba. White et al.
awasan yang berpengaruh terhadap berkurangnya (2003:68) mengungkapkan bahwa semakin besar
tindakan manajemen dalam melakukan mana- free cash flow yang tersedia dalam suatu perusaha-
jemen laba (Chew & Gillan,2009:176). Hasil pene- an, maka semakin sehat perusahaan tersebut
litian ini tidak konsisten dengan penelitian karena memiliki kas yang tersedia untuk per-
Cornett et al. (2006), yang hasilnya menunjukkan tumbuhan, pembayaran hutang, dan deviden. Hal
bahwa kepemilikan institusional dapat mengu- ini juga dapat diartikan bahwa semakin kecil nilai
rangi tindakan earnings management. FCF yang dimiliki perusahaan, maka perusahaan
tersebut bisa dikategorikan semakin tidak sehat.
Pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap Arus kas bebas (free cash flow) merupakan
Manajemen Laba arus kas aktual yang bisa didistribusikan kepada
investor sesudah perusahaan melakukan semua
Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui investasi dan modal kerja yang diperlukan untuk
bahwa variabel kepemilikan manajerial tidak menjaga kelangsungan operasionalnya (Sawir,
Agustia: Pengaruh Faktor Good Corporate Governance, Free Cash Flow 39

2004:93). Hasil penelitian ini konsisten dengan yang berbasis akuntansi, lebih mungkin manajer
penelitian oleh Isnawati (2011) yang menyatakan perusahaan untuk memilih prosedur akuntansi
bahwa FCF berpengaruh negatif signifikan ter- yang memindahkan laba yang dilaporkan dari
hadap manajemen laba. Pengaruh negatif tersebut periode masa datang ke periode saat ini (Watts
dikarenakan free cash flow merupakan determinan and Zimmerman, 1986). Hal tersebut dilakukan
penting dalam penentuan nilai perusahaan, karena laba bersih yang dilaporkan naik akan
sehingga manajer perusahaan lebih terfokus pada mengurangi kemungkinan kegagalan membayar
usaha untuk meningkatkan free cash flow. hutang-hutangnya pada masa mendatang (Scott,
Perusahaan dengan nilai free cash flow yang 2006:353). Jadi sangat dimungkinkan manajer
tinggi cenderung tidak akan melakukan manipu- perusahaan mempengaruhi angka-angka akun-
lasi laba, karena dalam hal ini sebagian besar tansi pada laporan keuangan, khususnya angka
investor merupakan transient investors (pemilik laba bottom line.
sementara perusahaan) yang lebih terfokus pada
informasi arus kas bebas perusahaan yang KESIMPULAN DAN SARAN
menunjukkan bagaimana kemampuan perusaha-
Kesimpulan
an dalam membagikan deviden, sehingga dengan
arus kas bebas yang tinggi, tanpa adanya mana- Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan
jemen laba, perusahaan sudah bisa meningkatkan pada bab sebelumnya, simpulan yang dapat
harga sahamnya karena investor melihat bahwa diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
perusahaan tersebut mempunyai kelebihan kas 1. Variabel-variabel Good Corporate Governance
untuk pembagian deviden (Mardiyanto, 2008:281). (GCG) tidak berpengaruh terhadap praktek
manajemen laba. Keberadaan komite audit dan
Leverage Ratio Berpengaruh terhadap Earn- proporsi dewan komisaris di perusahaan publik
ings Management (H2) sampai saat ini masih sekedar untuk me-
menuhi ketentuan pihak regulator (pemerin-
Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan tah) saja, sehingga besar kecilnya jumlah
bahwa leverage ratio berpengaruh signifikan ter- komite audit dan proporsi dewan komisaris di
hadap manajemen laba. Hal ini mendukung hasil perusahaan tidak bisa membatasi terjadinya
penelitian Mamedova (2008), Oktovianti dan praktik manajemen laba. Kepemilikan insti-
Agustia (2012) yang menyatakan bahwa leverage tusional tidak berpengaruh terhadap mana-
perusahaan berpengaruh terhadap praktek mana- jemen laba. Hal ini dikarenakan investor
jemen melakukan earnings management. Per- institusional tidak berperan sebagai sophis-
usahaan yang mempunyai rasio leverage yang ticated investors. Kepemilikan manajerial juga
tinggi, berarti proporsi hutangnya lebih tinggi tidak berpengaruh terhadap manajemen laba
dibandingkan dengan proporsi aktivanya akan karena presentase manajer yang memiliki
cenderung melakukan manipulasi dalam bentuk saham relatif sangat kecil jika dibandingkan
earnings management sehingga perusahaan yang dengan keseluruhan modal yang dimiliki inves-
leveragenya tinggi cenderung mengatur laba yang tor umum.
dilaporkan dengan menaikkan atau menurunkan 2. Variabel free cash flow berpengaruh negatif
laba periode masa datang ke perioda saat ini. signifikan terhadap manajemen laba. Hal ini
Dalam teori keagenan, agen biasanya di- dikarenakan perusahaan dengan arus kas
bebas yang tinggi cenderung tidak akan
anggap sebagai pihak yang ingin memaksimum-
melakukan manajemen laba, karena meskipun
kan dirinya tetapi ia tetap selalu berusaha
tanpa adanya manajemen laba, perusahaan
memenuhi kontrak. Dalam hal kontrak utang,
sudah bisa meningkatkan harga sahamnya.
perusahaan merupakan agen dan kreditur sebagai
3. Leverage ratio berpengaruh terhadap earnings
prinsipal. Dengan begitu, perusahaan sebagai agen
management. Hasil ini menunjukkan bahwa
berkeinginan memaksimumkan dirinya tetapi ia perusahaan yang mempunyai rasio leverage
tetap selalu berusaha memenuhi kontrak. Sema- yang tinggi, berarti proporsi hutangnya lebih
kin dekat perusahaan dengan pelanggaran per- tinggi dibandingkan dengan proporsi aktivanya
janjian utang yang berbasis akuntansi, lebih akan cenderung melakukan manipulasi dalam
memungkinkan manajer perusahaan untuk me- bentuk manajemen laba.
milih prosedur akuntansi yang memindahkan laba
yang dilaporkan dari periode masa datang ke Keterbatasan Penelitian
periode saat ini (Watts and Zimmerman, 1986).
Debt-covenant hypothesis menyatakan bahwa Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan,
jika semua hal lain tetap sama, semakin dekat ada beberapa keterbatasan dalam penelitian ini,
perusahaan dengan pelanggaran perjanjian utang sebagai berikut:
40 JURNAL AKUNTANSI DAN KEUANGAN, VOL. 15, NO. 1, MEI 2013: 27-42

1. Perusahaan yang dipilih menjadi populasi dan Bapepam. (2004). Peraturan IX.I.5. Pembentukan
sampel hanya dari perusahaan Textil yang dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite
ditentukan oleh peneliti dan tidak dapat dijadi- Audit. Jakarta: Badan Pengawas Pasar
kan acuan untuk melakukan generalisasi pada Modal.
seluruh perusahaan publik yang terdaftar di Brigham, Eugene, F., and Houston, J. F. (2010).
BEI. Dasar-dasar Manajemen Keuangan (Essential
2. Pengukuran variabel komite audit dan dewan of Financial Management). Edisi ke sebelas,
komisaris dalam penelitian ini hanya meng- buku 1. Terjemahan oleh Ali Akbar Yulianto.
gunakan kuantitas keanggotaan (dilihat dari Jakarta: Salemba Empat.
jumlah dan proporsi). Besaran jumlah tersebut
Bukit, R. B. and Iskandar, T. M. (2009). Surplus
mungkin belum cukup dalam merepresentasi- Free Cash Flow, Earnings Management and
kan secara riil kinerja komite audit dan dewan Audit Committee. Int. Journal of Economics
komisaris di perusahaan. Selain itu, variabel and Management, 3(1), 204223.
independen hanya mampu menjelaskan 16.1%
dari variabel dependen, sedangkan sisanya Chen, C. R. dan Steiner, T. L. (1999). Managerial
dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang Ownership and Agency Conflicts: A Nonliear
belum diteliti. Simultaneous Equation Analysis of Mana-
gerial Ownership, Risk Taking. Debt Policy,
and Dividend Policy. The Financial Review.
Saran
Tallahassee, 34(1), 119.
1. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan Chew, Donald, H., and Gillan, S. L. (2009). US
mengambil sampel yang lebih luas misalnya Corporate Governance. Columbia: Columbia
dari semua sektor perusahaan yang terdaftar University Press.
di BEI bukan hanya dari sektor perusahaan Chung, R., Firth, M., and Kim, J. B. (2005). Earnings
Tektil. Management, Surplus Free Cash Flow, and
2. Prespektif earnings management yang diguna- External Monitoring. Journal of Business
kan dalam penelitian ini adalah prespektif Research,58(6), 766-776.
oportunistis. Untuk penelitian selanjutnya
Cornett, M. M., Marcus, A. J., and Tehranian, H.
earnings management perlu ditinjau dari
(2009). Corporate Governance And Earnings
prespektif yang lain, misalnya prespektif
Management At Large U.S. Bank Holding
efisiensi yang menyatakan bahwa manajer
Companies. Journal of Corporate Finance, 15,
melakukan pilihan atas kebijakan akuntansi
412430.
untuk memberikan informasi yang lebih baik
tentang cash flow yang akan datang. DeAngelo, H., DeAngelo, L., and Skinner. D. (1994).
3. Dalam penelitian selanjutnya, untuk variabel Accounting choice in troubled companies.
komite audit dan proporsi dewan komisaris Journal of Accounting and Economics, 17,
independen dapat digunakan proksi lain yang 113-143.
lebih spesifik misalnya transparansi komite Dechow, Patricia, M., Sloan, R.G., and Sweeney,
audit, jumlah pertemuan karakteristik dan A.P. (1996). Causes and Consequences of
kompetensi dewan komisaris independen. Earnings Manipulaton: An Analysis of Firms
Subject to Enforcement Actions by the SEC.
DAFTAR PUSTAKA Contemporary Accounting Research, 13, 1-36.
Dewanto. (2012). Pengaruh Struktur Corporate
Alkdai, H. and Hanefah, M. (2012). Audit committee
Governance terhadap Manajemen Laba dan
characteristics and earnings management in
Nilai Perusahaan. Tesis tidak diterbitkan.
Malaysian Shariah-compliant companies.
Surabaya Universitas Airlangga.
Business and Management Review, 2(2), 52-
61. Effendi, Arief. (2009). The Power of Good Corporate
Governance Teori dan Implementasi. Jakarta:
Alves, Sandra Maria G. (2011). The Effect of the
Salemba Empat.
Board Structure on Earnings Management
Evidence From Portugal. Journal of Financial Eisenberg, T., Sundgren, S., and Wells, M.T. (1998).
Reporting and Accounting, 9(2), 141-160. Larger Board Size and Decreasing Firm
Value in Small Firms. Journal of Financial
Badan Pusat Statistik. (2012). Indeks Produksi
Economics, 48, 35-54.
Industri Besar dan Sedang Menurut Dua
Digit Kode ISIC, 2007-2011, Jakarta: Badan Eisenhardt, Kathleem, M. (1989). Agency Theory:
Pusat Statistik, http://www.bps.go.id/tab_sub/ An Assesment and Review. Academy of
view.php. Management Review, 14, 57-74.
Agustia: Pengaruh Faktor Good Corporate Governance, Free Cash Flow 41

Foster, George. (1986). Financial Statement Ana- Lin, J. W., Li, J. F., and Yang, J. S. (2006). The
lysis, Second Edition, Englewood Cliffs, New Effect Of Audit Committee Performance On
Jersey: Prentice-Hall, A Division of Simon & Earnings Quality. Managerial Auditing
Schuster, Inc. Journal, 21(9), 921-933.
Fraser, Lyn, M., and Ormiston, A. (2004). Mamedova, Irina Zagers. (2008). The Effect of
Understanding Financial Statements. 7th Leverage Increases On Real Earnings Mana-
edition. New Jersey: Preason edycation gement. Thesis of Erasmus University in
International, Inc., Upper Saddle River. September 2008. http://publishing.eur.nl/ir/
repub/asset/15572/Accountability_zager.pdf
Ghozali, I. dan Chariri, A. (2007). Teori Akuntansi.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Mardiyanto, Handono. (2008). Inti Sari Mana-
Diponegoro. jemen Keuangan. Jakarta: Grasindo.
Gibson, Charles H. (2001). Financial Reporting Murhadi, Werner R. (2009). Studi Pengaruh Good
and Analysis: Using Financial Accounting Corporate Governance Terhadap Praktik Ear-
Information. United States of America: South- nings Management pada Perusahaan Ter-
western college publishing. daftar di PT Bursa Efek Indonesia. Jurnal
Manajemen Dan Kewirausahaan, 11(1), 1-10.
Griffin, R. W. and Ebert, R. J. (2007). Business,
Pearson International Edition. New Jersey: Myers, S. C. and Nicholas, S. M. (1984). Corporate
Prentice Hall. financing decisions when firms have invest-
ment information that investors do not.
Guna, W. I. and Herawaty, A. (2010). Pengaruh Journal of Financial Economics, 13(2), 187-
Mekanisme Good Corporate Governance, 220.
Independensi Auditor, Kualitas Audit dan
Faktor Lainnya Terhadap Manajemen Laba. Naz, I., Bhatti, K., Ghafoor, A., and Husein, H.,
Jurnal Bisnis Dan Akuntansi. 12(1): 53-68. (2011). Impact of Firm Size and Capital Struc-
ture on Earnings Management: Evidence
Isnawati. (2011). Pengaruh Free Cash Flow Dan from Pakistan. International Journal of
Growth Terhadap Manajemen Laba dengan Contemporary Business Studies, 2(12), 22-31.
Moderasi Komisaris Independen. Tesis tidak
diterbitkan. Surabaya Universitas Airlangga. National Committee on Corporate Governance
(NCCG). (2001). Indonesian Code for Good
Jennings, M. M. (Maret/April 2005). Conspicuous Corporate Governance
Governance Failures: Why Sarbanes-Oxley Is
not an Ethics Warranty. Corporate Finance Oktovianti, T. and Agustia, D. (2012). Influence of
Review, 9(5), 41-47. the Internal Corporate Governance and
Leverage Ratio to the Earnings Mana-
Jensen, M. C. (1993). The Modern Industrial Revo- gement, Journal of Basic and Applied, 2(7),
lution, Exit, and The Failure of Internal 7192-7199
Control Systems. The Journal of Finance,
48(3), 831-880. Pradipta, Arya. (2011). Analisis Pengaruh dari
Mekanisme Corporate Governance Terhadap
Jensen, M. C. and Meckling, W.H. (1976). Theory Manajemen Laba. Jurnal Bisnis dan Akun-
of The Firm: Managerial Behavior, Agency tansi, 13(2), 93-106.
Cost and Ownership Structure. Journal of
Financial Economics, 3, 305-360. Saleh, N.M., Takiah, M.I., and Rahmat, M. (2007).
Audit Committee Characteristics and Ear-
Jones, Jenifer. (1991). Earning Management during nings Management: Evidence From Malay-
Import Relief Investigation. Journal of sia. Asian Review of Accounting, 15(2), 147163.
Accounting Research Autumn, 193-228.
Sawir, Agnes. (2004). Kebijakan Pendanaan dan
Kangarluei, S.J., Morteza, M., and Taher, A. (2011). Restrukturisasi Perusahaan. Jakarta: PT.
The Investigation And Comparison Of Free Gramedia Pustaka Utama.
Cash Flows In The Firms Listed In Tehran
Stock Exchange (Tse) With An Emphasis On Scott, William R. (2011). Financial Accounting
Earnings Management. Int. Journal of Eco- Theory. Sixth Edition. Canada: Person
nomics and Business Modeling, 2(2), 118-1123. Prentice Hall

Kouki, M., Abderrazek, E., Hanen, A., and Slim, S. Sekaran, Uma. (2007). Research Methods for
Business. Jakarta: Penerbit Salemba Empat
(2011). Does Corporate Governance Constrain
Earnings Management? Evidence from U.S. Shleifer, A. and Vishny, R.W. (1997). A Survey of
Firms. European Journal of Economics, Fi- Corporate Governance. Journal of Finance,
nance and Administrative Sciences, 35, 58-71. 52, 737-783.
42 JURNAL AKUNTANSI DAN KEUANGAN, VOL. 15, NO. 1, MEI 2013: 27-42

Sulistyanto, Sri H. (2008). Manajemen Laba: Teori White, G. I., Sondhi, A. C., and Dov, F. (2003). The
dan Model Empiris. Jakarta: Grasindo. Analysis and Use Of Financial Statements.
New York: John Wiley and Sons, Inc.
Surya, I. dan Yustivandana, I. (2008). Penerapan
Yang, W. S., Loo, S. C., and Shamser. (2009). The
Good Corporate Governance, Mengesam-
Effect of Board Structure and Institutional
pingkan Hak-Hak istimewa Demi Kelang-
Ownership Structure on Earnings Manage-
sungan Usaha. Jakarta: Kencana Prenada ment. International Journal of Economics and
Media Grup Management, 3(2), 332353.
Watts, R. L. and Zimmerman, J. L. (1986). Positive Yermack, D. (1996). Higher Market Valuation of
Accounting Theory, Engelwood Cliffs, NJ. Companies with Small Board of Directors.
Journal of Financial Economics. 40, 185-211.
Weston, J. F. and Brigham, E. F. (1994). Essential
of Managerial Finance. The Dryde Press-Har- Yu Frank. (2006). Corporate Governance and
court Brace College Publishers. Earnings Management. Working Paper.
Zhou Jian and Chen Ken Y. (2004). Audit Com-
Widyastuti, Tri. (2009). Pengaruh Struktur Kepe- mittee, Board Characteristics and Earnings
milikan dan Kinerja Keuangan Terhadap Management by Commercial Banks. Working
Manajemen Laba: Studi pada Perusahaan Paper. http://aaahq.org/audit/midyear/05mid-
Manufaktur di BEI. Jurnal Maksi, 9(1), 30-41. year/papers/ZHO_CG_EM_DEC16A.