Anda di halaman 1dari 13

PANCASILA

MENGUSIK DRAMATIKA KEHIDUPAN


Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pancasila yang di ampu
oleh Ki Heri Pramono,S.IP.,S.H.,MM

Disusun oleh:
Kelompok 5

1. Novia Dewi Lestari (33)


2. Nur Maya Safitri (34)
3. Nursyifa Kusuma Rahayu (35)
4. Puput Irma Setiyani (36)
5. Rachmani Ridhawati (37)
6. Risky Martha Kusuma (38)
7. Rukmana Yoga Persada (39)
8. Selya Annisa Zahrawani (40)

AKADEMI KEPERAWATAN NOTOKUSUMO


YOGYAKARTA
2014/2015
Kata Pengantar

Puji dan syukur kami haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah
ini kami buat sesuai dengan apa yang telah kami dapatkan ketika kami
melaksanakan wawancara kepada salah satu keluarga yang kurang mampu
didusun Sungapan RT 76, Argodadi, Sedayu, Bantul.

Dalam penyelesaian makalah ini tidak lepas dari berbagai pihak yang
membantu dalam penyelesaian makalh ini. Oleh sebab itu kami mengucapkan
terima kasih kepada:

1. Ki Heri Pramono,S.IP.,S.H.,MM selaku dosen Pendidikan Pancasila


2. Bapak Sukijo selaku Kepala Desa Sungapan
3. Bapak Ngaliman selaku Ketua RT 76 Desa Sungapan
4. Teman-teman yang telah berpartisipasi dalam membuat makalah ini

Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat kekurangan.
Sehingga krtik dan saran sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Yogyakarta, 10 November 2014

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masyarkat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang hidup tersebar di


seluruh tanah air yang memiliki berbagai macam tingkat ekonomi. Kehidupan
dimasyarakat merupakan sesuatu yang erat hubungannya dengan nilai-nilai
pancasila.

Keterbatasan fisik dan kurangnya kemampuan menjadi salah satu


permasalahan yang menyebabkan maraknya tingkat ekonomi rendah di
kalangan masyarakat Indonesia. Tingkat ekonomi rendah adalah situasi serba
kekurangan yang terjadi bukan karena dikehendaki oleh setiap masyarakat
melainkan tidak dapat dihindari karena keterbatasan kemampuan dalam diri
masyarakat tersebut.

Oleh sebab itu peningkatan kemampuan dari setiap individu akan


mempengaruhi pada tingkat perekonomian masyarakat dan negara.

B. Tujuan
1. Mengetahui bahwa tingkat perekonomian rendah dikalangan
masyarakat masih mudah untuk ditemukan
2. Menumbuhkan rasa kepedulian terhadap sesama masyarakat.
BAB II

PEMBAHASAN

Hari : Rabu

Tanggal pelaksanaan : 03 Desember 2014

Waktu pelaksanaan : 14.00 WIB

Tempat pelaksanaan : rumah Bapak Ponijan desa Sungapan RT 76 Triwidadi


Pajangan Bantul

Narasumber : Keluarga Bapak Ponijan

Bapak Sukijo selaku Kepala Dukuh Desa Sungapan

Bapak Ngaliman selaku Kepala Dusun desa Sungapan

Pewewancara : Mahasiswa Akper Notokusumo Yogyakarta, Kelompok 5


Pancasila

Hasil Wewancara :

Salah satu keluarga yang kurang beruntung dalam segi ekonomi adalah
keluarga Bapak Ponijan. Beliau tinggal di lingkungan RT 76 desa Sungapan
Triwidadi Pajangan Bantul. Selain sebagai warga yang tergolong kurang mampu
dalam segi ekonomi Bapak Ponijan dan istri beliau yaitu Ibu Slamet Riadi adalah
penyandang Tunanetra sejak lahir.

Bapak Ponijan dan Ibu Slamet menikah kurang lebih sudah 20 tahun dan
dikaruniahi seorang putra yang diberinama Agus Suganda. Kini putra beliau
duduk di bangku kelas 3 SMA.
Menurut tetangga, Agus Suganda adalah anak yang pintar. Sejak duduk di
bangku SMP hingga kini biaya sekolah Agus Suganda dibiyayai oleh salah satu
guru SMPnya yang bernama ibu Heri. Keterbatasan kedua orangtunya dan kerana
Agus Suganda memang anak yang cerdas itulah yang menyentuh hati ibu Heri
untuk membiyayai sekolah Agus Suganda.

Agus Suganda adalah anak satu satunya bapak Ponijan dan ibu Slamet dan
menjadi harapan satu satunya mereka. Sapu ijuk dan keset adalah sumber
penghasilan utama bapak Ponijan.

Tentu saja, penghasilan sapu ijuk dan keset tersebut belum cukup untuk
memenuhi kebutuhan hidup bapak Ponijan dan keluarga. Selain berpenghasilan
dari sapu ijuk dan keset, bapak Ponijan dan ibu Slamet terkadang menjadi tukang
pijit panggilan. Kekurangan fisik tidak menjadika bapak Ponijan dan ibu Slamet
menjadi tak semangat untuk bekerja dan mencukupi kebutuhan keluarga mereka.

Sebagai ibu rumah tangga, ibu Slamet juga dapat mengerjakan rumah
seperti layaknya ibu rumah tangga lainnya. Rumah mereka yang berukuran kecil
adalah bantuan dari warga desa, dengan telaten dibersihka. Memasak dan kegiatan
rumah tangga lainnya dikerjakan oleh ibu Slamet tanpa mengeluh.

Meskipun hidup dengan keadaan ekonomi yang kurang, kuluarga bapak


Ponijan merupakan keluarga yang harmonis dan rukun. Berikut adallah
wawancara kami kepada keluarga bapak ponijan setelah kami perkenalan dan
menyampaikan maksud kedatangan kami.

Kami : kita mulai wewancaranya ya pak?

Pak Ponijan : nggih silakan mbak

Kami : maaf pak, pekerjaan bapak selama ini apa pak ?

Bp. Ponijan : pekerjaan saya ya itu tadi mbak hanya dari sapu ijuk dan keset
Kami : apakah pekerjaan lain selain membuat sapu ijuk dan keset
tersebut pak

Bp. Ponijan : nggih kadang mijit mbak,tapi kekarang sudah jarang sudah lupa
jalan mbak kalau mau muter muter ke rumah tetangga.

Kami : maaf pak dari mana bapak mempunyai keterampilan memijat


dan membuat sapu ijuk serta keset terseut?

Bp. Ponijan : dulu saya dan istri pernah kursus di daerah sewon mbak selama
beberapa bulan, saya lupa.

Kami :sudah beberapa lama bapak bekerja sebagai penghasil sapu ijuk
dan keset

Pak Ponijan : sudah lama mbak kurang lebih sudah 15 tahun

Kami : berapa harga jual sapu dan keset bapak tersebut?

Bp. Ponijan : satu harga sapu Rp 8000,00 Mbak kalau harga keset ada 2
macam mbak. Yang jembul harganya Rp 15.000,00, sedangkan
yang biasa Rp 10.000,00

Kami : Berapa lama bapak membuat sapu ijuk dan satu keset?

Bp. Ponijan : kalau sapu ijuk sehari bisa 2 mbak, kalau keset yang biasa bisa 2
hari bisa satu hari sedangkan yang jambul bisa 3 hari satu keset.

Kami : dimana bapak menjual keset dan sapu ijuk tersebut?

Bp. Ponijan : ya di warung warung dekat rumah mbak, terkadang juga ada
tetangga yang memesanya.

Kami : maaf pak kalau boleh kami tau berapa penghasilan bapak sehari
hari?

Bp. Ponijan : tidak tentu mbak, kadang Rp 15.000,00 kadang Rp 10.000,00


mbak. Kadang juga tidak laku mbak jadi tidak ada penghasilan.
Kami : kesulitan apa saja yang bapak alami ketika membuat sapu ijuk
dan keset tersebut?

Bp. Ponijan : ya dari modalnya mbak kesulitannya itu, sekarang Rp 15.000,00


bisaa cuman untuk uang saku dan keperluan agus suganda saja,
belum kebutuhan sehari hari di rumah.

Kami :Kesulitan apa saja yang bapk alami selama ini pak?

Bp.Ponijan :kadang tidak ada bahan mbak, uangnya untuk kebutuhan sehari-
hari jadi modalnya tidak ada lagi

Setelah kami melakukan wawancara kepada bapak ponijan, kami


melanjutkan wawancara kepada Agus Suganda, anak dari bapak Ponijan.

Kami :kelas berapa dek?

Agus :kelas 3 SMK mbak

Kami :wah sudah mau lulus dek?, rencana mau lanjut kuliah apa bekerja dek?

Agustus:mau bekerja saja mbak, buat bantu-bantu bapak

Kami :apa Agus tidak ingin melanjutkan usahanya bapak?

Agus :iya mbak, rencananya saya ingin melanjutkan dan mengembangkan


usahanya bapak, tapi karena tidak ada modal, saya ingin bekerja dulu dan
setelah uangnya terkumpul, akan saya pakai untuk melanjutkan usahanya
bapak.

Kami :rencana yang hebat dek, kalau kami boleh tau, apa harapan Agus untuk
kedua orang tua?

Agus : yang jelas sebagai anak satu-satunya saya ingin menyenangkan mereka
mbak, menjadi kebanggaan untuk mereka, membawa mereka ke
kehidupan yang lebih layak.
Kami :bagaimana perasaan Agus dengan keadaan oang tua yang seperti ini?

Agus :karena sejak kecil sudah terbiasa seperti ini, jadi saya sudah biasa. Ya
mau gimana lagi mbak, bagaimanapun keadaan mereka, mereka orang tua
saya dan sudah jadi kewajiban saya untuk mensyukuri itu.

Kami :iya dek, memang sudah menjadi kewajiban kita untuk bersyukur, apapun
keadaan orang tua kita, dan membanggakan serta membahagiakan mereka.
Tetap semangat ya dek Agus!!

Agus :iya mbak terimakasih

Demikianlah wawancara kami dengan Agus Suganda putra satu-satunya


bapak Ponijan dan ibu Slamet. Setelah itu kami melanjutkan wawancara kepada
bapak dukuh Desa Sungapan tentang kehidupan bapak Ponijan.

Kami : Selamat siang pak?

Bp.Dukuh : Iya ,Selamat siang mbak

Kami : Sebelumnya ,melanjutkan kedatangan kami tempo hari ya pak


,kami juga bermaksud ingin wawancara kepada bapak tentang
kehidupan warga bapak yang bernama Bp.Ponijan.

Kami : Trimakasih pak ,kita mulai ya pak ?Apakah benar keluarga


bapak Ponijan adalah warga asli desa Sungapan ini?

Bp.Dukuh : Iya mbak Bp Ponijan sekeluarga benar warga asli desa Sungapan
ini.

Kami : Apakah benar bapak Ponijan dan Ibu Slamet adalah penyandang
tunanetra sejak lahir .

Bp.Dukuh : Iya mbak, Bp Ponijan dan Ibu Slamet adl penyandan tunanetra
sejak lahir .Rumah mereka juga dibantu dari PNPM dan warga
setempat mbak ,kamar mandi juga dibantu dari pertamina .Listrik
pun belum punya mbak ,kadang nyalur tetangga namun jarang
diugunakan ,katanya sudah terbiasa dengan kegelapan. Kalau
diukur dari segi ekonomi memang tergolong warga yang kurang
mampu sekali mbak. Namun ,hebatnya mereka benar- benar
tabah.

Kami : Baik pak ,trimakasih untuk waktu dan informasinya.

Bp Dukuh : Sama-sama mbak.

Demikianlah wawancara kami kepada Bp Dukuh desa Sungapan Argodadi


Sedayu Bantul.Setelah melakukann wawancara, kami melanjutkan berbincang-
bincang dan bercanda bersama keluarga Bp Ponijan .Keramahan dan keceriaan
mereka sangat jelas terlihat diwajah mereka . Dan tidak lama setelah itu , kami
pamit kepada Bp.Ponijan sekeluarga beserta Bp.Dukuh dan kami juga membereri
sedikit bantuan kepada Bp.Ponijan berupa bahan pokok dan bahan untuk
membuat sapu ijuk dan keset . Kepada Bp. Ponijan dan keluarga terimakasih
untuk waktunya .
BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian cerita dalam makalah ini ,dapat disimpulkan bahwa
ketidakmampuan ekonomi mereka adalah karena faktor keterbatasan fisik .
Dan kita sebagai makhluk sosial berkewajiban untuk bertoleransi kepada
sesama. Kita juga wajib untuk mensyukuri keadaan serta tetap
berkeyakinan bahwa Tuhan memberikan kelebihan dibalik kekurangan.
.

B. Saran
Setelah membaca makalah ini pembaca diharapkan lebih
memperhatikan lingkungan sekitar bahwa di dunia ini masih banyak orang
orang yang membutuhkan uluran tangan kita, dan agar tiap warga lebih di
sadarkan untuk saling tolong menolong sesama umat manusia. Seperti
pada pancasila sila ke 2 yang berbunyi kemanusiaan yang adil dan
beradab yang dapat diartikan kalau kita sebagai umat manusia harus bisa
sling bersosialisasi dan saling membantu sesame umat manusia yang
mebutuhkan pertolongan.
LAMPIRAN