Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH BIOFARMASI

PERKUTAN

Disusun oleh:

Nama : Anjar Nurhayani Sari NPM: A 163 003

Dewi Nur Luthfiana Sari NPM: A 163 008

Alfin Alfaisal NPM: A 163 014

Belly Sonia Marselani NPM: A 163 037

Kelas : Konversi 2016

Kelompok : 5

SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA

YAYASAN HAZANAH

BANDUNG

2017
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah Biofarmasetika tentang Perkutan.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi
dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat
memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah Biofarmasetika tentang
Perkutan ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

Bandung, 17 April 2017

Kelompok 5

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................ii


DAFTAR ISI ......................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................1
1.1. Latar Belakang.............................................................................1
1.2. Rumusan Masalah .......................................................................2
1.3. Tujuan ..........................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................3
2.1. Definisi Perkutan .........................................................................3
2.2. Anatomi Fisiologi Kulit ...............................................................3
2.3. Biofarmasetika Sediaan Perkutan ................................................4
2.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Biofarmasetika pada
Sediaan Perkutan .........................................................................6
2.5. Faktor fisiologik yang mempengaruhi Penyerapan Perkutan ......8
2.6. Optimasi Ketersediaanhayati dari sediaan perkutan Perkutan ....10
BAB III PENUTUP .........................................................................................12
3.1. Kesimpulan ..................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................13

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Konsep pemakaian sediaan obat pada kulit telah lama diyakini dapat
dilakukan. Hal ini terbukti dari peninggalan zaman mesir kuno, berupa catatan
pada papyrus yang telah mencantumkan berbagai sediaan obat yang digunakan
untuk pemakaian luar. Galen telah menjelaskan tentang pemakaian sediaan pada
zaman romawi, yang saat ini dikenal sebagai vanishing cream. Sediaan obat yang
digunakan pada kulit atau diselipkan ke dalam rongga tubuh umumnya berada
dalam bentuk cairan, semi padat atau padat.
Kulit merupakan bagian terbesar dari organ tubuh, rata-rata kulit manusia
dewasa mempunyai luas permukaan sebesar 2 m2 dan berperan sebagai lapisan
pelindung tubuh terhadap pengaruh dari luar, baik pengaruh fisik maupun
pengaruh kimia. Meskipun kulit relatif permeabel terhadap senyawa-senyawa
kimia, namun dalam keadaan tertentu kulit dapat ditembus oleh senyawa obat atau
bahan berbahaya, yang dapat menimbulkan efek terapeutik atau efek toksik yang
bersifat setempat atau sistemik. Kulit juga merupakan sawar (barrier) fisiologik
yang penting, karena mampu menahan penembusan bahan gas, cair maupun padat,
baik yang berasal dari lingkungan luar tubuh maupun dari komponen organisme.
Penilaian aktifitas farmakologik dari sediaan topikal menunjukkan bahwa,
peranan bahan pembawa sangat penting dalam proses pelepasan dan penyerapan
zat aktif dan pemilihan bahan pembawa yang tepat dapat meningkatkan kerja zat
aktif, baik lama kerja maupun intensitasnya. Penyerapan perkutan merupakan
gabungan fenomena penemubusan suatu senyawa dari lingkungan luar ke bagian
kulit sebelah dalam dan fenomena penyerapan dari struktur kulit ke dalam
peredaran darah atau getah bening. Istilah perkutan menunjukkan bahwa proses
penembusan terjadi pada lapisan epidermis dan penyerapan dapat terjadi pada
lapisan epidermis yang berbeda.
Saat ini telah diketahui bahwa, sediaan obat dapat menembus ke dalam atau
melalui kulit dengan berbagai jalan (cara) yaitu diantara sel-sel dari stratum
corneum, melalui saluran dari folikel rambut, melalui kelenjar keringat (sweat

1
2

glands), melalui kelenjar sebaseus (sebaceous glands) dan melalui sel-sel dari
stratum corneum. Untuk pengobatan setempat sering diperlukan penembusan zat
aktif ke dalam struktur kulit yang lebih dalam. Hal tersebut penting dilakukan bila
diperlukan konsentrasi dalam jaringan yang terletak di bawah daerah pemakaian
yang cukup tinggi agar diperoleh efek yang dikehendaki dan sebaliknya
penyerapan oleh pembuluh darah diusahakan agar seminimal mungkin sehingga
terjadinya efek sistemik dapat dihindari.
Pada penelitian efek sistemik, zat aktif harus masuk ke dalam peredaran
darah dan selanjutnya dibawa ke jaringan, yang kadang-kadang terletak jauh dari
tempat pemakaian dan pada konsentrasi tertentu dapat menimbulkan efek dari
farmakologik. Pemahaman tentang anatomi dan fisiologi kulit seperti faktor-faktor
fisikokimia dan pato-fisiologik yang mempengaruhi permeabilitas kulit, sangat
diperlukan untuk merancang formula dan bentuk sediaan yang sesuai dengan
tujuan pemakaian yang dikehendaki.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diambil beberapa rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan perkutan?
2. Bagaimana anatomi fisiologi untuk sediaan perkutan?
3. Bagaimana biofarmasetika untuk sediaan perkutan?
4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi proses biofarmasetika dari
sediaan perkutan?

1.3 Tujuan
Tujuan yang dapat diperoleh dari makalah ini sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui definisi dari sediaan perkutan
2. Untuk mengetahui anatomi fisiologi dari sediaan perkutan
3. Untuk mengetahui biofarmasetika dari sediaan perkutan
4. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi proses
biofarmasetika dari sediaan perkutan.
3

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Kulit merupakan jaringan pelindung yang lentur dan elastic, menutupi
seluruh permukaan tubuh dan terdiri dari 5% berat tubuh. Kulit juga
berperanan dalam pengaturan suhu tubuh, mendeteksi adanya rangsangan dari
luar serta untuk mengeluarkan (eskresi) kotoran atau sisa metabolisme.
2.2 Anatomi Fisiologi Kulit

Gambar 1. Stuktur Kulit

Susunan kulit manusia sangat komplek, dan untuk lebih mudah memahami
efek proses absorpsi pada maka, dibatasi hanya menguraikan bagian kulit yang
berperanaan dalam hal tersebut. Kulit secara umum tersusun atas tiga lapisan
yang berbeda dan secara berurutan dari luar kedalam adalah lapisan epidermis,
lapisan dermis yang tersusun atas pembuluh darah dan pembuluh getah bening,
ujung-ujung syaraf dan lapisan jaringan dibawah kulit yang berlemak atau yang
disebut hypodermis.
Kulit mempunyai bagian lain yaitu, kelenjar keringat dan kelenjar sebum
yang berasal dari lapisan hipodermis atau dermis dan bermuara pada
permukaan dan membentuk daerah yang tidak berkesinambungan pada
epidermis.
4

2.2.1 Epidermis
Epidermis adalah permukaan paling luar dari kulit, yang
merupakan tempat sediaan obat digunakan. Epidermis dibedakan
atas dua bagian yaitu lapisan malfigi berupa sel yang hidup,
menempel pada dermis dan lapisan tanduk yang tersususn atas
sekumuplan sel-sel mati yang mengalami keratinisasi.
Secara umum epidermis terdiri atas lima lapisan :
1. Stratum Korneum (Lapisan Tanduk)
2. Stratum Lucidum (Zone Barrier)
3. Stratum Granulosum ( Lapisan Granular)
4. Stratum Malpighii ( Lapisan Sel prickle)
5. Stratum Germinativum (Lapisan Sel Basal)
Seluruh lapisan ini dibentuk oleh sel yang tersusun dari lapisan
basal dan berkembang (proliferate) atau bergerak dari bawah
keatas. Pada bagian lebih bawah dari epidermis, sel lebih padat
tersusun dalam stratum korneum.
2.2.2 Dermis dan Hypodermis
Dermis merupakan jaringan penyangga berserat dengan
ketebalan rata-rata 3-5 mm, peranan utamanya adalah sebagai
pemberi nutrisi pada epidermis. Berdasarkan tinjauan kualitatif dan
susunan ruang serabut kolagen dan elastin, dermis terdiri atas dua
lapisan anatomik yaitu lapisan papiler jaringan kendor yang
terletak tepat dibawah epidermis, dan lapisan retikuler pada bagian
dalam yang merupakan jaringan penyangga yang padat.
Hypodermis dan jaringan penyangga kendor, mengandung
sejumlah kelenjar lemak dan juga menganduk glomerulus kelenjar
keringat.
2.3 Biofarmasetika Perkutan
Masuknya obat atau zat aktif dari luar kulit ke dalam jaringan kulit dengan
melewati membran sebagai pembatas. Membran pembatas ini adalah stratum
corneum yang bersifat tidak permeabel terutama terhadap zat larut air,
dibandingkan terhadap zat yang larut dalam lemak. Penetrasi melintasi stratum
5

corneum dapat terjadi karena adanya proses difusi melalui dua mekanisme
yaitu transepidermal dan transappendageal.
2.3.1 Mekanisme transepidermal
Mekanisme transepidermal merupakan penetrasi dengan
cara difusi pasif. Difusi pasif melalui mekanisme ini dapat terjadi
melalui dua jalur kemungkinan yaitu difusi intraseluler yang
melalui sel korneosit yang berisi keratin dan difusi interseluler
yang melalui ruang antar sel stratum corneum. Transepidermal
merupakan jalur yang utama pada absorpsi perkutan karena luas
permukaan kulit 100-1000 kali lebih luas daripada luas permukaan
kelenjar dalam kulit. Absorpsi melalui rute transepidermal sangat
ditentukan oleh keadaan stratum corneum yang berfungsi sebagai
membran semipermeabel. Jumlah zat aktif yang terpenetrasi
tergantung pada gradien konsentrasi dan koefisien partisi senyawa
aktif dalam minyak dan air.
2.3.2 Mekanisme Transappendageal
Mekanisme transappendageal adalah mekanisme penetrasi
molekul zat aktif melalui pori-pori yang ada pada kelenjar keringat
dan folikel rambut. Folikel rambut memiliki permeabilitas yang
lebih tinggi bila dibandingkan dengan stratum corneum sehingga
absorpsi lebih cepat terjadi melewati pori folikel daripada melewati
stratum corneum. Mekanisme ini adalah mekanisme satu-satunya
yang mungkin bagi senyawa-senyawa dengan molekul besar
dengan kecepatan difusi rendah atau kelarutan yang buruk yang
tidak dapat menembus stratum corneum.
Fenomena absorpsi perkutan terdiri dari dua tahap, yaitu pelepasan
zat aktif dari pembawa untuk diabsorpsi di atas permukaan stratum
corneum dan difusi molekul zat aktif ke dalam lapisan bawah kulit
(Troy, 2006).
6

2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi proses obat pada pemberian secara


perkutan
2.4.1 Penyerapan (Absorpsi)
Secara keseluruhan dari proses penyerapan secara perkutan
obat, belum diketahui. Kajian yang telah dilakukan hanya terbatas
pada faktor-faktor yang dapat mengubah ketersediaan hayati zat
aktif yang terdapat dalam sediaan yang dioleskan pada kulit,
seperti :
1. Lokalisasi sawar (Barrier)
Kulit mengandung sejumlah tumpukan spesifik yang dapat
mencegah masuknya bahan-bahan kimia dan hal ini terutama
disebabkan oleh adanya lapisan tipis lipida pada permukaan,
lapisan tanduk dan lapisan malfigi. Pada daerah ini,ditemukan
juga suatu celah yang berhubungan langsung dengan kulit
bagian dalam yang dibentuk oleh kelenjar sebasea yang
membatasi bagian luar dan ekstraseluler, yang juga merupakan
sawar tapi kurang efektif, yang terdiri dari sebum dan deretan
sel-sel germinatif.
Lapisan malfigi dapat menghalangi penembusan senyawa
tertentu, tetapi tidak spesifik. Lapisan ini menunjukkan
selektifitas tertentu terhadap senyawa yang lipovil, misalnya
perhidroskualen atau hidrofil: Natrium dodesil sulfat yang tidak
atau sangat sedikit diserap.
Sawar kulit terutama disusun oleh lapisan tanduk, namun
demikian pada cuplikan lapisan tanduk terpisah, juga
mempunyai permeabilitas yang sangat rendah dan kepakaan
yang sama seperti kulit utuh, lapisan tanduk berperan
melindungi kulit.
2. Jalur penembusan
Penembusan = penetrasi = absorbsi perkutan, terdiri dari
pemindahan obat dari permukaan kulit ke stratum korneum
dibawah pengaruh gradien konsentrasi, dan berikutnya difusi
7

obat melalui stratum korneum yang terletak dibawah epidermis


melewati dermis dan masuk kedalam mikrosirkulasi.
Kulit, karena sifat impermeabilitasnya maka hanya dapat
dilalui oleh sejumlah senyawa kimia dalam jumlah yang sedikit.
Penembusan molekul dari luar ke bagian dalam kulit secara
nyata dapat terjadi, baik secara difusi melalui lapisan tanduk
pilosebasea. Bagian lain yang terdapat pada kulit, sesungguhnya
mempunyai struktur yang kurang efektif bila dibandingkan
dengan lapisan tanduk (stratum korneum). Kelenjar sebasea
berisi sebum, mengandung banyak lipida yang teremulsi,
dihasilakn oleh sel-sel yang dibentuk oleh lapisan germinativ
kelenjar. Kelenjar sudoripori merupaakn suatu saluran
pengeluaran sederhana, yang dibentuk oleh sel hidup mulai dari
bagian dalam dermis sampai stratum korneum dan berakhir
sebagai suatu saluran (kanal) yang menyelinap diantara deretan
sel-sel tanduk.
Kelenjar sudoripori secara nyata tidak berperan dalam
proses penembusan. Kulit telapak tangan atau telapak kaki
mempunyai kelenjar sudoripori yang berkumpul dalam jumlah
yang sangat banyak. Penembusan senyawa kimia pilosebasea
leboh tergantung pada permukaannya dibandingkan dengan
penembusan melalui epidermis.
3. Penahanan dalam struktur permukaan kulit dan penyerapan
perkutan.
Penumpukan senyawa yang digunakan setempat pada
struktur kulit, terutama pada lapisan tanduk telah lama
diketahui. Malkinson dan Fergusson membuktikan bahwa
setelah pemakaian setempat hidrokortisol berlabel, pengeluaran
senyawa radioaktif tersebut diperpanjang beberapa hari.
Percobaan ini menyimpulkan bahwa dalam struktur kulit
terdapat suatu daerah depo dan dari tempat itulah zat aktif
dilepaskan perlahan. Akantetapi bila selama percobaan sediaan
8

dibiarkan ditempat pengolesan tanpa pembersihan sisa sediaan,


maka akan terjadi hambatan penyerapan, hal ini disebabkan oleh
penyerapan yang terjadi perlahan.
Penelitian pendahuluan tentang adanya penumpukan obat
didalam kulit sesudah pemakaian setempat telah disampaikan
oleh Vickers, 1963 yang melakukan penelitian terhadap
penembusan perkutan dari senyawa fluosinolon asetonida.
Penelitian ini telah membuktikan bahwa aksi penyempitan
pembuluh darah yang disebabkan oleh pembalut dapat diamati
selam tiga minggu pada kondisi tanpa pemolesan ulang obat
tersebut dan sesudah peniadaan kelebihan sediaan pada
permukaan kulit. Vickers, juga telah membuktikan adanya Efek
Depo pada bagian tertentu kulit dan pada penelitian lanjutan
menunjukkan bahwa penimbunan kortikosteroid akan terjadi
pada lapisan tanduk.

2.5 Faktor fisiologik yang mempengaruhi penyerapan perkutan :


1. Keadaan dan umur kulit
kulit utuh mrupakan suatu sawar (barrier) difusi yang efektf dan
efektivitasnya berkurang bila terjadi terjadi perubahan dan kerusakan
pada sel-sel lapisan tanduk. Pada keadaan patologis yang ditunjukan
oleh perubahan sifat lapisan tanduk; dermatosis dengan eksim,
psoriasis, dermatosis seborheik, maka permeabilitas kulit akan
meningkat. Scott, tahun 1959 telah membuktikan bahwa kadar
hidrokortison yang melintasi kulit akan berkurang bila lapisan tanduk
berjamur dan akan meningkat, pada kulit dengan eritematosis. Hal yang
sama juga telah dibuktikan bila kulit terbakar atau luka. Bila stratum
korneum rusak sebagai akibat pengikisan oleh plester, maka kecepatan
difusi air, hidrokortison, dan sejumlah senyawa lain akan meningkat
secara nyata.
9

2. Aliran darah
Perubahan debit darah kedalam kulit secara nyata akan
mengubah kecepatan penembusan molekul. Pada sebagian besar obat-
obatan, lapisan tanduk merupakan faktor penentu pada proses
penyerapan dan debit darah selalu cukup untuk menyebabkan senyawa
menyetaraka diri dalam perjalannya. Namun, bila kulit luka atau bila
dipakai cara iontoforesis untuk zat aktif, maka jumlah zat aktif yang
menembus akan lebih banyak dan peranan debit darah merupakan
faktor yang menentukan.
3. Tempat pengolesan
Jumlah yang diserap untuk suatu molekul yang sama, akan
berbeda akan tergantung pada susunan anatomi dari tempat pengolesan
: kulit dada, punggung, tangan atau lengan. Perbedaan ketebalan
terutama disebabkan oleh ketebalan lapisan tanduk yang berbeda pada
setiap bagian tubuh, tebalnya bervariasi.
4. Kelembaban dan temperature
Pada keadaan normal, kandungan air dalam lapisan tanduk
rendah, yaitu 5-15%, namun dapat ditingkatkan sampai 50% dengan
cara pengolesan pada permukaan kulit suatu bahan pembawa yang
dapat menyumbat: vaselin, minyak atau suatu pembalut impermeable.
Peranan kelembaban terhadap penyerapan perkutan telah dibuktikan
oleh scheulein, R,J, dkk, tahun 1971; stratum korneum yang lembab
mempunyai afinitas yang sama trehadap senyawa-senyawa yang larut
dalam air atau dalam lipida. Sifat ini disebabkan oleh struktur histology
sel tanduk dan benang-benang keratin yang dapat mengembang dalam
air dan pada media lipida amorf yang meresap di sekitarnya.
Kelembaban dapat mengembangkan lapisan tanduk dengan cara
pengurangan bobot jenisnya atau tahanan difusi. Air mula- mula
meresap diantara jaringan-jaringan, kemudian menenbus kedalan
benang keratin, membentuk suatu anyaman rangkap yang stabil pada
daerah polar yang kaya air dan daerah nonpolar yang kaya lipida.
10

Faktor-farktor tersebut dapat juga meingkatkan retensi kulit dan


penyerapan pekutann terhadap sejumlah obat. secara invivo, suhu kulit
yang diukur pada keadaan normal, relatif tetap dan tidak berpenaruh
pada peristiwa penyerapan. Sebaliknya in vitro, pengaruh suhu dengan
mudah dapat diatur.
2.6 Optimasi Ketersediaanhayati dari sediaan perkutan
Kemampuan penembusan dan penyerapan obat dengan pemberian secara
perkutan terutama tergantung pada sifat-sifat fisikokimianya. Peranan bahan
pembawa pada perisitiwa ini sangat kompleks; pada keadaan dimana senyawa
tidak mengganggu fungsi fisiologik kulit, maka dapat dipastikan kulit tidak
dapat melewatkan senyawa-senyawa yang tidak dapat diserap.
Faktor fisikokimia :
1. Tetapan difusi
Suatu membran erat hubungannya dengan tahanan yang
menunjukan keadaan perpindahan. Bila dihubungkan dengan gerakan
brown, maka tetapan difusi merupakan fungsi dari bobot molekul
senyawa dan interaksi kimia dan konstituen membran; selain itu juga
tergantung pada kekentalan media serta suhu. Bila molekul dari zat
akfif dianggap bulat dan molekul disektarnya berukuran yang sama,
maka dengan menggunakan hukum stoke-einstein dapat ditentukan nilai
tetapan difusi.
2. Konsentrasu zat aktif
Jumlah zat aktif yang diserap pada setiap satuan luas permukaan
san satuan waktu adalah sebanding dengan konssentrasi senyawa dalam
media pembawa. Hal ini telah dibuktikan pada larutan encer butanol
dalam air yang melintasi epidermis kulit manusia terpisah dan pada
sejumlah obat seperti, steroida: flukloronida, betametason, kortison,
hidrokortison dan androstenedion, asam salisilat dan asam benzoate
3. Koefesien partisi
Pengaruh koefisian partisi antara lapisan tanduk dan pembawa dari
suatu senyawa yang diserap, telah dibuktikan oleh treheme (treheme J,
E, thn 1953) dengan meneliti hubungan antara penyerapan perkutan
11

berbagai senyawa organik dalam larutan berair terhadap koefisien


partisi eter, air dan terbukti bahwa keterserapan bahan aktif yang lebih
tinggi lebih penting dibandingkan dengan koefisien partisi.
12

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa anatomi dan
fisiologi kulit adalah terdiri dari epidermis, dermis dan hipodermis. Penyerapan
perkutan merupakan gabungan fenomena penembusan suatu senyawa dari
lingkungan luar ke bagian kullit sebelah dalam dan fenomena penyerapan dari
struktur kulit ke dalam perredaran darah atau getah bening. Perkutan
menunjukkan penembusan terjadi pada lapisan epidermis dan penyerapan dapat
terjadi pada lapisan epidermis yang berbeda
Faktor yang mempengaruhi proses biofarmasetika oleh pemberian secara
perkutan:
1. Penyerapan
- Lokalisasi Sawar (Barrier)
- Jalur Penembusan (Absorbsi)
- Penahanan Dalam Struktur Permukaan Kulit dan Penyerapan Perkutan
2. Faktor fisiologik yang mempengaruhi penyerapan perkutan
- Keadaan dan Umur Kulit
- Aliran Darah
- Tempat pengolesan
- Kelembaban dan Temperatur
3. Mekanisme lintas membran, yang mana sebagian besar molekul kimia
diserap melalui kulit secara difusi pasif
13

DAFTAR PUSTAKA

M.T Simanjuntak : Biofarmasi Sediaan Yang Diberikan Melalui Kulit, 2005,


[USU Repository2006].
Soeratri,Widji. 1993. Farmasetika 2 Biofarmasi Edisi II . Surabaya: Airlangga
University Press.

Troy, D., dan Beringer P. 2006. Remington: The Science and Practice of
Pharmacy. Lippincot Williams and Wilkins, Baltimore.