Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Lansia

1. Definisi Lansia
Berdasarkan Undang-Undang No 4 Tahun 1965 Pasal 1 menyatakan

bahwa seseorang yang dinyatakan sebagai orang jompo atau lanjut usia

setelah yang bersangkutan mencapai usia 55 tahun, tidak mempunyai atau

tidak berdaya mencari nafkah sendiri untukn keperluan hidupnya sehari-

hari, dan menerima nafkah dari orang lain (Mubarak dkk,2012).

2. Klasifikasi Lansia
Menurut Maryam (2008) lansia dibagi menjadi lima klasifikasi:

a. Pralansia (prasenilis)

Yaitu seseorang yang telah berusia antara 45-59 tahun.

b. Lansia

Yaitu seseorang yang telah berusia 60 tahun atau lebih

c. Lansia Resiko Tinggi

Yaitu seseorang yang telah berusia diatas 70 tahun atau lebih dengan

masalah kesehatan

d. Lansia Potensial

Lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan atau kegiatan yang

dapat menghasilkan barang maupun jasa

11
12

e. Lansia Tidak Potensial

Lansia yang tidak berdaya dalam mencari nafkah, sehingga

kehidupannya selalu bergantung kepada orang lain.

3. Batasan Umur Lansia

Batasan umur lansia menurut Departemen Kesehatan RI digolongkan

menjadi 3 yaitu:

a. Kelompok lansia dini (55-64 tahun)

b. Kelompok lansia pertengahan (65 tahun keatas)

c. Kelompok lansia dengan resiko tinggi (70 tahun keatas)

Sedangakn WHO (World Health Organitation), batasan umur lansia

dibagi menjadi 4 yaitu:

a. Usia pertengahan (middle age) kelompok usia 45-59 tahun

b. Usia lanjut (elderly) antara 60-70 tahun

c. Usia lanjut tua (old) antara 75-90 tahun

d. Usia sangat tua (very old) di atas usia 90 tahun.( Mujahidullah, 2012)

4. Tipe Lansia

Menurut Darmojo (2009), tipe lansia adalah sebagai berikut:

a. Tipe Konstruktif

Lansia dengan tipe ini mempunyai integritas baik, dapat menikmati

hidupnya, mempunyai toleransi tinggi, humoristic, fleksibel (luwes)

dan tahu diri


13

b. Tipe Ketergantungan (dependent)

Lansia dengan tipe ini masih bisa diterima ditengah masyarakat, tetapi

selalu pasif, tidak berambisi, masih tahu diri, tidak mempunyai inisiatif

c. Tipe Defensif

Lansia ini dulunya mempunyai pekerjaan / jabatan tidak stabil, bersifat

selalu menolak bantuan, sering kali emosinya tidak dapat dikontrol,

memegang teguh pada kebiasaanya

d. Tipe Bermusuhan (hostility)

Lansia ini menganggap bahwa orang lain yang menyebabkan

kegagalannya, selalu mengeluh, bersifat agresif, dan curiga.

e. Tipe Membenci Menyalahkan Diri Sendiri (Selfhaters)

Lansia ini bersifat kritis terhadap dirinya sendiri dan menyalahkan

dirinya sendiri, tidak mempunyai ambisi, dan mengalami penurunan

sosio-ekonomi.

5. Definisi Proses Menua

Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi didalam

kehidupan manusia dan proses menua merupakan proses sepanjang hidup,

tidak hanya dapat dimulai dari awal waktu tertentu, tetapi dapat dimulai

sejak awal kehidupan individu tersebut (Nugroho, 2008)

Proses menua adalah proses yang alamiah dan normal. Apakah proses

penuaan tersebut akan menjadi penuaan sehat atau penuaan sakit

dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu: keturunan, gaya hidup, makanan,


14

penyakit, lingkungan hidup, dukungan sosial, dan kemampuan mengatasi

emosi (Abikusno, 2010). Menurut Mubarak dkk (2012), ada dua proses

penuaan yaitu penuaan primer dan penuaan sekunder. Penuaan primer

akan terjadi bila terdapat perubahan pada tingkat sel, sedangkan penuaan

sekunder merupakan proses penuaan akibat faktor lingkungan fisik dan

sosial, stress fisik/psikis, serta gaya hidup dan diet dapat mempercepat

proses menjadi tua atau akibat dari faktor eksternal.

6. Teori Penuaan

Menurut Mubarak dkk (2012) banyak teori-teori penuaan, antara lain

yaitu:

a. Teori Biologis

1) Teori Genetik Clock

Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk

spesies-spesies tertentu. Inti sel dari tiap spesies mempunyai suatu

perputaran menurut suatu replika dan perputaran seperti jam

tersebut akan menghitung mitosis dan menghentikan replikasi

tersebut.

b. Teori Mutasi Somatik (error catastrop theory)

Menurut teori ini penuaan disebabkan oleh kesalahan melalui

transkripsi dan translasi. Kesalahan tersebut menyebabkan

terbentuknya enzim yang salah dan berakibat pada metabolisme yang

salah, dan dapat mengurangi fungsi sel. Hal tersebut dapat diperbaiki
15

namun hanya dalam transkripsi saja sehingga akan dapat menimbulkan

metabolisme berbahaya dan sintesis yang salah.

c. Teori Autoimun (auto imun theory)

Menurut teori ini proses metabolisme tubuh suatu saat akan

memproduksi zat khusus. Namun, ada jaringan tubuh tertentu yang tidak

tahan terhadap suatu zat khusus tersebut, sehingga jaringan tubuh

menjadi lemah dan sakit.

1) Teori Radikal Bebas

Menurut teori ini penuaan disebabkan adanya radikal bebas di

dalam tubuh.Radikal bebas dapat terbentuk dialam bebas.Radikal

bebas yang tidak stabil mengakibatkan oksidasi bahan organik dan

sel-sel pun tidak bisa beregenerasi.Ada juga radikal bebas yang dapat

merusak tubuh, namun ada juga yang dapat dinetralkan olegh tubuh

oleh enzim ataupun non enzim.

2) Teori stress

Menurut teori ini penuaan terjadi akibat hilangnya sel-sel yang

digunakan tubuh.Regenerasi jaringan didalam tubuh tidak bisa

mempertahanakn keadaan lingkungan didalam tubuh termasuk

keadaan stress.
16

d. Teori Kejiwaan Sosial

1) Teori Kepribadian Berlanjut

Menurut teori ini perubahan yang terjadi pada seseorang yang

berusia lanjut sangat dipengaruhi oleh tipe kepribadian yang

dimiliki.

2) Teori Pembebasan

Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia,

seseorang berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan

sosialnya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial lansia

menurun, baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga sering

terjadi kehilangan ganda (triple loss).

3) Teori Penuaan akibat Metabolisme

Teori penuaan akibat metabolism menjelaskan tentang

bagaimana proses menua terjadi.

7. Perubahan yang terjadi pada Lansia

Seseorang yang telah lanjut usia akan mengalami beberapa perubahan

pada tubuh/fisik, psikis, intelektual, sosial kemasyarakatan maupun

spiritual/keyakinan/agama.

a. Perubahan fisik

Perubahan kondisi fisik pada lansia meliputi perubahan dari tingkat

sel sampai ke semua sistem organ , diantaranya sistem pernafasan, sistem

pendengaran, sistem persyarafan, sistem penglihatan, sistem


17

pengaturan suhu tubuh, sistem gastrointestinal, sistem genitourinaria,

sistem endokrin,sistem integument dan sistem muskuloskeletal. Masalah

fisik yang biasanya ditemukan pada kehidupan sehari-hari lansia

adalah: mudah jatuh, mudah lelah, nyeri dada, sesak napas saat

melakukan aktivitas, bengkak pada kaki, sulit tidur, sering pusing,

berat badan menurun dan sulit menahan kencing.

b. Perubahan Intelektual dan Kondisi Mental

Umumnya lansia mengalami penurunan fungsi kognitif dan

psikomotor.Intelegensi pada lansia diduga secara umum makin mundur

terutama faktor penolakan, mulai lupa terhadap kejadian baru, masih

terekam baik kejadian masa lalu.Dari segi mental dan emosional sering

muncul perasaan pesimis, timbulnya perasaan tidak aman dan cemas.

Faktor yang mempengaruhi perubahan mental antara lain: kesehatan

umum, keturunan, tingkat pendidikan dan lingkungan.

c. Perubahan Psikososial

Masalah kepribadian psikososial serta reaksi individu terhadap

perubahan ini sangat beragam, bergantung pada kepribadian individu

yang bersangkutan.Orang yang telah menjalani kehidupannya dengan

bekerja mendadak dihadapkan untuk menyesuaikan dirinya dengan masa

pensiun.Pensiun adalah nilai seseorang sering diukur oleh

produktivitasnya dan identitas dikaitkan dengan peranan dalam

pekerjaan. Bagi ia yang cukup beruntung, ia akan menyiapkan dirinya

dengan menciptakan bidang minat untuk memanfaatkan waktu luang


18

di masa sisa hidupnya. Sedangkan bagi ia yang tidak beruntung hanya

duduk-duduk dirumah atau bermain diklub pria lanjut usia (Mubarak,

2012; Mujahidullah, 2012). Perubahan psikososial pada lansia selain

lansia yang sudah mengalami pensiun, juga karena gangguan proses

pikir (demensia), depresi dan harga diri rendah.

B. Demensia

1. Definisi Demensia

Demensia adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan

kerusakan fungsi kognitif global yang biasanya bersifat progresif dan

mempengaruhi aktivitas sosial dan okupasi yang normal juga aktivitas

kehidupan sehari-hari (Stanley and Beare, 2007). Menurut Nugroho (2008)

demensia merupakan keadaan ketika seseorang mengalami penurunan

daya ingat dan daya pikir lain yang secara nyata mengganggu aktivitas

sehari-hari.

2. Macam-macam Demensia

Secara garis besar demensia pada usia lanjut dapat dikategorikan

dalam 4 golongan yaitu:

a. Demensia Degeneratif

Dikenal juga dengan demensia Alzheimer.Demensia Alzheimer ini

terjadi akibat penyakit kortikal, demensia ini ditandai dengan

hilangnya fungsi kognitif seperti bahasa, persepsi dan kalkulasi.Durasi

rata-rata dari awita timbulnya gejala sampai kematian adalah 8 tahun


19

dengan kisaran 2-15 tahun. Perjalanan penyakit mungkin lebih cepat

pada pasien yang lebih muda. Alzheimer merupakan penyebab

demensia paling sering dan terjadi sebagai akibat hilangnya jaringan

kortikal terutama pada lobus temporalis, parietalis dan frontalis.

b. Demensia Vaskular

Demensia ini merupakan jenis kedua terbanyak setelah penyakit

Alzheimer.Demensia ini didapatkan sebagai akibat dari stroke kortikal

atau subkortikal yang berulang. Diagnose demensia ini terjadi secara

tiba-tiba, terutama jika terdapat anamnesis stroke sebelumnya.

Perjalanannya khas berfluktuasi dengan periode perbaikan dan

memburuk seperti tangga, berlawanan dengan berkembangnya

penyakit Alzheimer yang tetap.Kebingungan, pemeliharaan

kepribadian yang relative labilitas emosional, keluhan-keluhan somatik

dan depresi sering terjadi pada demensia vaskular.

c. Gangguan Toksik

Intoksifikasi biasanya terjadi dengan keadaan bingung akut,

seringkali berfluktuasi sesuai dengan pajanan.Akan tetapi, intoksifikasi

kronik dapat mengakibatkan demensia reversible.Obat adalah

penyebab paling penting terutama pada orangtua dan riwayat

pengobatan. Daftar obat yang potensial banyak dan meliputi

penyalahgunaan obat yaitu obat psikoterapeutik ( obat antidepresan, obat

tidur dan barbiturate). Alcohol adalah bahan intoksikasi yang paling

sering berakibat demensia.Keadaan mabuk kronik


20

mengakibatkan gangguan intelektual reversible tetapi juga dapat

mengakibatkan defisit persisten. Faktor-faktor yang bertanggung

jawab untuk demensia pada alkoholik termasuk defisiensi vitamin,

cidera kepala berulang, dan gagal hati kronik

d. Gangguan Gerakan

Berbagai penyakit neurologik sering disertai dengan gejala

demensia.Diantaranya yang tersering adalah penyakit Parkinson,

Huntington dan Hidrosefalus bertekanan normal. Pada penyakit

Parkonson, demensia akan timbul pada stadium lanjut pada 15-30%.

Pada penyakit Huntington sebagian karena mempunyai pengaruh

genetik.

3. Tahapan Demensia

Menurut Stanley (2007), tahapan yang dialami oleh penderita

demensia adalah sebagai berikut:

a. Stadium 1/awal

Berlangsung 2-4 tahun dan di sebut stadium amnestik dengan

gejala gangguan memori,berhitung dan aktifitas spontan menurun.

Fungsi memori yang terganggu adalah memori baru atau lupa hal baru

yang di alami dan tidak menggangu aktivitas rutin dalam keluarga.

b. Stadium II/pertengahan

Berlangsung 2-10 tahun dan disebut fase demensia. Gejalanya

antara lain, disorientasi, gangguan bahasa (afasia).Penderita

mudah bingung, penurunan fungsi memori lebih berat sehingga


21

penderita tak dapat melakukan kegiatan sampai selesai, kesulitan

dalam merawat diri yang sangat besar, siklus tidur terganggu,mulai

terjadi inkontensia, tidak mengenal anggota keluarganya, tidak ingat

sudah melakukan suatu tindakan sehingga mengulanginya lagi dan ada

gangguan visuo spasial, menyebabkan penderita mudah tersesat

dilingkungan.

c. Stadium III/akhir

Berlangsung 6-12 tahun,yaitu penderita menjadi vegetatif, tidak

bergerak dan gangguan komunikasi yang parah (membisu),

ketidakmampuan untuk mengenali keluarga dan teman-teman, gangguan

mobilisasi dengan hilangnya kemampuan untuk berjalan, kaku otot,

gangguan siklus tidur-bangun, dengan peningkatan waktu tidur, tidak

bisa mengendalikan buang air besar/kecil. Kegiatan sehari-hari

membutuhkan bantuan orang lain dan kematian terjadi akibat infeksi

atau trauma.

4. Faktor yang Mempengaruhi Demensia

Beberapa faktor dapat mempengaruhi demensia (penurunan daya

ingat) pada lansia. Faktor tersebut antara lain:

a. Aktivitas Fisik

Peneliti mengatakan dalam penelitian yang melibatkan Archives of

Medical Research, aktivitas fisik teratur telah terbukti dapat

mengurangi resiko demensia, termasuk penyakit Alzheimer sebanyak

50%. Seseorang yang banyak beraktivitas fisik termasuk berolahraga


22

cenderung memiliki memori yang lebih tinggi daripada yang jarang

beraktivitas (Carvalheiro dan Rodrigues, 2009).Misalnya kegiatan

yang harus melibatkan fungsi kognitif seperti bermain tenis, bersepeda,

berjalan kaki atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

b. Usia

Banyak yang menyebutkan usia sangat berpengaruh terhadap

kemampuan seseorang untuk mengingat. Seseorang yang lebih tua

cenderung memiliki kemampuan mengingat yang kurang dibandingkan

orang yang lebih muda. Semakin bertambahnya usia maka sel-sel otak

akan semakin kelelahan dalam menjalankan fungsinya yang

menyebabkan tidak bisa bekerja secara optimal seperti saat masih

muda (Suprenant et al., 2006 dalam Ikhsan, 2012). Semakin

bertambahnya umur maka semakin tinggi pula resiko kejadian demensia.

c. Jenis Kelamin

Jenis kelamin dianggap mempengaruhi memori seseorang meskipun

belum ada kepastian antara laki-laki dan perempuan.(Bridge et al.,

2006 dalam Ikhsan, 2012) dalam penelitiannya bahwa perempuan

memiliki kemampuan mengkorelasikan suatu informasi lebih baik dari

pada laki-laki, namun ketepatan dalam memanggil kembali jawaban

itu masih kurang baik dibandingkan laki-laki.


23

d. Faktor Sosial dan Ekonomi

Tingkat ekonomi dapat dilihat dari pendapatan orang tua, pekerjaan ayah

dan kondisi sekolah.Hal itu dikaitkan dengan kemampuan sebuah

keluarga dalam memenuhi gizi maupun pendidikan yang dianggap

lebih baik pada orang berstatus sosial dan ekonomi tinggi (Mandakini

et al., 2009).Kemudian orang yang lebih banyak bersosialisasi dengan

orang-orang disekitarnya cenderung memiliki memori yang lebih

tinggi dibandingkan yang jarang bersosialisasi.

5. Penatalaksanaan Demensia

a. Penatalaksanaan Farmakologi

Menurut Roan (2007), terapi farmakologi pada pasien demensia

adalah sebagai berikut:

1) Antipsikotika tipik

2) Antipsikotika atipik

3) Anxiolitika

4) Antidepresiva

Obat anti-demensia pada kasus demensia stadium lanjut sebenrnya

sudah tak berguna lagi, namun apabila diberikan dapat mengefektifkan

obat terhadap BPSD ( Behavioural and Psycological Symptoms of

Dementia):

1) Nootropika

2) Ca- antagonis

3) Acetylcholinesterase inhibitors
24

b. Penatalaksanaan Non Farmakologi

Menurut Mujahidullah (2012), ada beberapa penatalaksanaan non

farmakologi untuk lansia dengan demensia yaitu:

1) Terapi Kenangan

Terapi kenangan ini berguna untuk menstimulasi individu supaya

memikirkan tentang masa lalu sehingga mereka dapat menanyakan

lebih banyak tentang kehidupan mereka kepada terapis.Selain itu

terapi ini sering banyak berbentuk obrolan mengenai bagaimana

kehidupannya dimasa lalu. Terapi ini tampak sederhana dari terapi

lain karena tidak menghabiskan waktu yang lama, tidak

membutuhkkan peralatan yang mahal, atau tingkat pelatihan yang

tinggi

2) Terapi Aktivitas Kelompok

Menurut Stuart dan Laira (2001 dalam Mujahidullah, 2012)

terapi aktivitas kelompok adalah suatu upaya untuk memfasilitasi

psikoterapi untuk emantau dan meningkatkan hubungan

interpersonal antar anggota dengan memberi kesempatan untuk

berkomunikasi, saling memperhatikan, memberi umpan tanggapan

kepada oranglain, mengekspresikan ide dan tukar persepsi serta

memberi stimulasi eksternal.Terdapat berbagai jenis terapi

aktivitas kelompok yang ada namun untuk lansia dengan demensia

dianjurka diberikan terapi aktivitas kelompok orientasi realita.


25

Terapi ini diberikan untuk pencapaian tingkat orientasi dan

kesadaran terhadap realita yang lebih baik. Tujuan terapi ini adalah

untuk mengenal orang-orang disekitar, mengenal tempat dan waktu

dimana ia berada.

3) Terapi Modalitas

Terapi modalitas merupakan terapi dalam keperawatan jiwa,

dimana perawat mendasarkan potensi yang dimiliki pasien sebagai

titik tolak terapi atau penyembuhannya Banyak jenis terapi modalitas

untuk lansia diantaranya: terapi individu, terapi lingkungan, terapi

kognitif, dan terapi bermain (Susana, 2011).

C. Terapi Puzzle

1. Definisi Puzzle

Menurut Patmonodewo (Misbach, Muzamil, 2010) kata puzzle berasal

dari bahasa Inggris yang berarti teka-teki atau bongkar pasang, media

puzzle merupakan media sederhana yang dimainkan dengan bongkar pasang.

Menurut Yudha (2007) puzzleadalah suatu gambar yang dibagi

menjadi potongan-potongan gambar yang bertujuan untuk mengasah daya

piker, melatih kesabaran dan membiasakan kemampuan berbagi. Selain itu

puzzle juga dapat digunakan untuk permainan edukasi karena dapat

mengasah otak dan melatih kecepatan pikiran dan tangan.

2. Manfaat Puzzle

Menurut Suciaty (2010) puzzle mempunyai beberapa manfaat yaitu:


26

a. Mengasah otak

b. Melatih koordinasi mata dan tangan

c. Melatih nalar

d. Melatih kesabaran

Sedangkan menurut Melly (2010), manfaat bermain puzzle adalah

sebagai berikut:

a. Meningkatkan ketrampilan kognitif berkaitan dengan kemampuan

untuk belajar dan memecahkan masalah.

b. Meningkatkan ketrampilan social berkaitan dengan kemampuan

berinteraksi dengan orang lain

3. Macam-macam Puzzle

Muzamil, Misbach (2010) menyatakan beberapa bentuk puzzle, yaitu:

a. Puzzle konstruksi

Puzzle rakitan (construction puzzle) merupakan kumpulan potongan-

potongan yang terpisah, yang dapat digabungkan kembali

menjadi beberapa model. Mainan rakitan yang paling umum adalah

blok-blok kayu sederhana berwarna-warni.

b. Puzzle batang (stick)

Puzzle batang merupakan permainan teka-teki matematika sederhana

namun memerlukan pemikiran kritis dan penalaran yang baik untuk

menyelesaikannya. Puzzle batang ada yang dimainkan dengan cara

membuat bentuk sesuai yang kita inginkan ataupun menyusun gambar

yang terdapat pada batang puzzle


27

c. Puzzle angka

Mainan ini bermanfaat untuk mengenalkan angka.Selain itu dapat

melatih kemampuan berpikir logisnya dengan menyusun angka sesuai

urutannya. Selain itu, puzzle angka bermanfaat untuk melatih

koordinasi mata dengan tangan, melatih motorik halus serta

menstimulasi kerja otak

d. Puzzle logika

Puzzle logika merupakan puzzle gambar yang dapat

mengemmbangkan keterampilan serta akan berlatih untuk

memecahkan masalah. Puzzle ini dimainkan dengan cara menyusun

kepingan puzzle hingga membentuk suatu gambar yang utuh.

4. Kelebihan dan kekurangan Puzzle

a. Kelebihan Puzzle

1) Gambar bersifat konkret

2) Gambar dapat menarik minat dan perhatian

b. Kekurangan Puzzle

1) Lebih menekankan pada indera penglihatan

2) Gambar kurang maksimal bila diterapkan dalam kelompok besar

(Chumala, 2012)

5. Mekanisme Otak dengan Puzzle

Pada lansia dengan demensia ditemukan adanya kerusakan pada

bagian otak yaitu terdapat kematian sel-sel di dalam otak dan kekurangan

suplai darah di otak.Pada pemeriksaan neuropatologi dan biokimiawi


28

ditemukan pula kerusakan neuron yang mengakibatkan berkurangnya

jumlah neurotransmitter.Padahal otak tengah merupakan salah satu pabrik

dopamine di dalam otak.Kekurangan dopamine (neurotransmitter)

tersebut dapat menyebabkan berkurangnya daya ingat, kosentrasi dan daya

tangkap.

Otak bagian kiri yang mengatur tentang memori seseorang pada

penderita demensia tersebut juga mengalami gangguan.Menurut beberapa

ahli, otak kiri merupakan pusat intelegensi seseorang.Salah satu terapi

yang bisa dilakukan untuk merangsang kinerja otak agar suplai darah di otak

kembali lancar sehingga daya ingat lansia tersebut tidak terus memburuk

adalah dengan puzzle. Seperti salah satu manfaat puzzle yaitu memperkuat

daya ingat agar tidak memperburuk fungsi otak. Latihan kognitif tersebut

akan merangsang otak dengan cara menyediakan stimulasi yang

memadai untuk mempertahankan dan meningkatkan fungsi kognitif otak

yang tersisa. Otak akan bekerja saat mengambil, mengolah, dan

menginterpretasikan gambar atau informasi yang telah diserap, serta otak

bekerja dalam mempertahankan pesan atau informasi yang

didapat.(Sangkanparan, 2010; Nadesul, 2011; Nani, 2008; Tuppen, 2012)

6. Alat Ukur

Alat ukur yang dipakai pada penelitian ini adalah mini mental state

examination (MMSE).
29

D. Kerangka Konsep

Faktor yang
mempengaruhi
demensia:

- Usia
- Jenis kelamin
- Aktiitas Fisik
- Faktor sosial dan
ekonomi

Terapi Brain
Gym

Terapi Musik Tingkat Demensia


Lansia

Terapi Puzzle

Ringan Sedang Berat

Gambar 2.1. Kerangka Konsep Penelitian

Keterangan :

= variable yang diteliti

= variable yang tidak diteliti

= arah penelitian
30

E. Hipotesa

Ho: terapi puzzle tidak ada pengaruh terhadap tingkat demensia lansia.

H1: terapi puzzle berpengaruh terhadap tingkat demensia lansia