Anda di halaman 1dari 21

I.

IDENTITAS
Nama : An. V
Umur : 5 th
Agama : Islam
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Banyu Malang. RT 3 RW 8, Glagah, Jatinom, Klaten
Tanggal Pemeriksaan : 24/12/2014
Tanggal masuk RS : 20/12/2014

II. ANAMNESIS
Autoanamnesa dan alloanamnesa dilakukan pada tanggal 24 Desember 2014

Keluhan utama :
Mata kanan sakit dan buram.
Riwayat Penyakit Sekarang :
OS datang ke RS Mata dr. Yap membawa surat rujukan dari RS Islam Klaten
karena mata kanannya sakit dan buram. Dua hari sebelumnya, sepulang sekolah OS
mengucak matanya dan mengeluh gatal. Ketika dilihat matanya menjadi merah.
Ketika ditanya, OS tidak mengatakan apa-apa. OS mengeluh nyeri, tidak bisa
melihat jelas, dan silau. Orang tua OS mengatakan saat itu matanya mengeluarkan
banyak cairan dan putih-putih. Tanggal 20 Desember 2014, OS dibawa ke RS Islam
Klaten, dan dari sana dirujuk ke RS Mata Yap. OS diberikan obat Erlamycetin, C.
Floxa ED tiap 2 jam, dan Injeksi Viccilin 3x200mg intravena.
Tanggal 24 Desember 2014, saat diperiksa di poli, OS mengeluh matanya kabur,
silau, keluar banyak cairan, matanya nyeri dan tidak nyaman. BAB dan BAK tidak
ada keluhan, pusing dan mual juga tidak dirasakan OS. Demam disangkal.
OS tidak memiliki riwayat alergi dan tidak memakai kacamata sebelumnya.

Riwayat Penyakit Terdahulu :


1) Umum
Hipertensi : Tidak ada
DM : Tidak ada
Asma : Tidak ada
Gastritis : Tidak ada
Alergi : Tidak ada
Rematik : Tidak ada
2) Mata
Riwayat pemakaian kacamata : Tidak ada
Riwayat operasi mata : Tidak ada
Riwayat miopia tinggi : Tidak ada
Riwayat katarak : Tidak ada
Riwayat glaukoma : Tidak ada
Riwayat keluarga keluihan sama : Tidak ada
Riwayat Penyakit Keluarga :
3) Umum
Hipertensi : Tidak ada
DM : Tidak ada
Asma : Tidak ada
Lain lain : Tidak Ada
4) Mata
Riwayat pemakaian kacamata : Tidak ada
Riwayat operasi mata : Tidak ada
Riwayat miopia tinggi : Tidak ada
Riwayat katarak : Tidak ada
Riwayat glaukoma : Tidak ada
Riwayat keluarga keluhan sama : Tidak ada

III. PEMERIKSAAN FISIK


STATUS GENERALIS
Keadaan Umum : Pasien tampak sakit ringan,
Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital : N 89x/mnt, RR 20x/mnt, S 360 C
Kepala : Normochepali, rambut hitam, distribusi merata
Telinga : Normotia, serumen (-), sekret (-)
Hidung : Deviasi septum (-), sekret (-)
Tenggorokkan : Tonsil T1/T1, faring hiperemis (-)
Jantung : BJ I-II reguler, murmur(-), gallop (-)
Paru : suara nafas vesikuler, ronki (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen : Supel, datar, bising usus (+) normal
Ekstremitas : Akral hangat, tidak ada sianosis atau edema
KGB : Tidak teraba pembesaran.

STATUS OFTALMOLOGIKUS
KETERANGAN OKULO DEXTRA (OD) OKULO SINISTRA (OS)
1. VISUS
Tajam Penglihatan Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Axis Visus Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Koreksi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Addisi Tidak ada Tidak ada
Kacamata Lama Tidak ada Tidak ada

2. KEDUDUKAN BOLA MATA


Eksoftalmus Tidak ada Tidak ada
Enoftalmus Tidak ada Tidak ada
Deviasi Bola mata tepat ditengah Bola mata tepat ditengah
Gerakan bola mata Baik kesemua arah Baik kesemua arah

3. SUPERSILIA
Warna Abu-abu,distribusi Abu-abu,distribusi normal,
normal, sikatrik (-) sikatrik (-)
Simetris Simetris Simetris
4. PALPEBRA SUPERIOR DAN INFERIOR
Edema Tidak ada Tidak ada
Nyeri tekan Tidak ada Tidak ada
Ektropion Tidak ada Tidak ada
Entropion Tidak ada Tidak ada
Blefarospasm Tidak ada Tidak ada
Trikiasis Tidak ada Tidak ada
Sikatriks Tidak ada Tidak ada
Fissura palpebra Tidak ada Tidak ada
Ptosis Tidak ada Tidak ada
Hordeolum Tidak ada Tidak ada
Kalazion Tidak ada Tidak ada

5. KONJUNGTIVA BULBI
Sekret Tidak ada Tidak ada
Injeksi Konjungtiva Ada Tidak ada
Injeksi Silier Ada Tidak ada
Injeksi Ada Tidak ada
Subkonjungtiva
Pterigium Tidak ada Tidak ada
Pinguekulum Tidak ada Tidak ada
Nevus pigmentosa Tidak ada Tidak ada
Kista Dermoid Tidak ada Tidak ada

6. SISTEM LAKRIMALIS
Punctum Lakrimalis Normal Normal
Tes Anel Tidak dilakukan Tidak dilakukan

7. SKLERA
Warna Putih Putih
Ikterik Tidak ada Tidak ada
Nyeri tekan Tidak ada Tidak ada

8. KORNEA
Kejernihan Keruh Jernih
Permukaaan Licin Licin
Ukuran 12 mm 12 mm
Sensibilitas Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Infiltrat Tidak ada Tidak ada
Keratik presipitat Tidak ada Tidak ada
Sikatrik Tidak ada Tidak ada
Ulkus Ada Tidak ada
Perforasi Tidak ada Tidak ada
Arkus Senilis Tidak ada Tidak ada
Edema Tidak ada Tidak ada
Tes Placido Positif (bergerigi) Negatif

9. COA
Kedalaman Sulit dinilai Dalam
Kejernihan Keruh Jernih
Hifema Tidak ada Tidak ada
Hipopion Ada Tidak ada
Efek tyndall Tidak ada Tidak ada

10. IRIS
Warna Coklat Coklat
Kripte Dalam batas normal Dalam batas normal
Sinekia Tidak ada Tidak ada

11. PUPIL
Letak Ditengah Ditengah
Bentuk Bulat, regular Bulat, reguler
Ukuran 3 mm 3 mm
Refleks cahaya Positif Positif
langsung
Refleks cahaya tidak Positif Positif
langsung

12. LENSA
Kejernihan Jernih Jernh
Letak Sentral Sentral
Tes shadow Negatif Negatif

13. BADAN KACA


Kejernihan Tidak dilakukan Tidak dilakukan

14. FUNDUS OKULI


Batas Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Warna Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Ekstravasio Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Rasio Arteri: Vena Tidak dilakukan Tidak dilakukan
C/D Ratio Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Makula Lutea Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Retina Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Eksudat Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Perdarahan Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Sikatrik Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Ablasio Tidak dilakukan Tidak dilakukan

15. PALPASI
Nyeri tekan Tidak ada Tidak ada
Massa tumor Tidak ada Tidak ada
Tensi okuli Tidak dilakukan Tidak dilakuakan
Tonometri Schiotz Tidak dilakukan Tidak dilakukan

16. KAMPUS VISI


Tes konfrontasi Normal Normal

IV. RESUME
An. V berusia 5 tahun datang ke RS. MATA dr. Yap membawa surat rujukan dari
RS Islam Klaten dengan keluhan mata kanannya kabur, silau, keluar banyak cairan,
matanya nyeri dan tidak nyaman. OS diberikan obat Erlamycetin, C. Floxa ED tiap
2 jam, dan Injeksi Viccilin 3x200mg intravena.
Hasil pemeriksaan fisik ditemukan, OS tampak sakit sedang, N 89x/mnt, RR
20x/mnt, S 360 C.
Pada pemeriksaan khusus mata ditemukan, injeksi konjungtiva dan injeksi siliar
pada konjungtiva bulbi OD, pada kornea OD didapatkan kornea keruh dan ulkus,
serta Placido test (+), Pada COA kedalaman sulit dinilai, keruh, da nada hipopion.

V. DIAGNOSIS KERJA
OD : Ulkus Kornea ec Bakteri

VI. DIAGNOSIS BANDING


OD : Ulkus Kornea ec Viral
Ulkus Kornea ec Fungal
Endoftalmitis

VII. PEMERIKSAAN ANJURAN


1) Pemeriksaan Visus
2) Pemeriksaan Slitlamp dengan fluoresensi
3) USG Biometri
4) Uji Kultur dan Sensitivitas Bakteri
5) Pewarnaan Gram & KOH

VIII. PENATALAKSANAAN
Medikamentosa
1) Giflox (Gatifloxacin) 6 dd gtt I OD
2) Ceftazidime F 6 dd gtt I OD
3) Sulfas Atropine 1% 2dd gtt 1 OD
4) Artificial tears ED 6 dd gtt I OD

Non medikamentosa
1) Tirah baring dan istirahatkan mata
Edukasi
1) Rujuk ke dokter spesialis mata untuk dilakukan tindakan selanjutnya

IX. PROGNOSIS
OKULO DEXTRA (OD) OKULO SINISTRA (OS)
Ad Vitam : dubia ad bonam ad bonam
Ad Fungsionam : dubia ad bonam ad bonam
Ad Sanationam : dubia ad bonam ad bonam
TINJAUAN PUSTAKA
ULKUS KORNEA

Anatomi Kornea
Kornea merupakan jaringan yang transparan, yang bentuknya hampir sebagai
lingkaran dan sedikit lebih lebar pada arah transversal (12 mm) daripada arah vertikal dan
mengisi bola mata di bagian depan. Kornea memiliki kemampuan refraksi yang sangat
kuat, yang menyuplai 2/3 atau sekitar 70% pembiasan sinar dilakukan oleh kornea.

Gambar 1. Struktur anatomi


kornea
Karena kornea tidak memiliki pembuluh darah, maka kornea akan berwarna
jernih dan memiliki permukaan yang licin dan mengkilat. Bila terjadi perubahan,
walaupun kecil pada permukaan kornea, akan mengakibatkan gangguan pembiasan sinar
dan menyebabkan turunnya tajam penglihatan secara nyata. Kornea sangat sensitif karena
terdapat banyak serabut sensorik. Saraf sensorik ini berasal dari nervus siliaris longus
yang berasal dari nervus nasosiliaris yang merupakan cabang saraf ofthalmikus dari
nervus trigeminus. Ketebalan kornea di bagian sentral hanya 0,5 milimeter, yang terdiri
dari lima lapisan, yaitu lapisan epitel, membran bowman, stroma, membran descement,
dan lapisan endotel.

Gambar 2. Struktur histologis kornea


a. Lapisan Epitel, merupakan lapisan sel yang menutupi permukaan kornea. Lapisan
ini terdiri dari sekitar 5-6 lapisan sel tipis yang akan cepat berdegenerasi bila
kornea mengalami trauma. Bila penetrasi trauma lebih dalam maka akan
meninggalkan parut (scar). Parut yang timbul akan meninggalkan area opak yang
menyebabkan kornea kehilangan kejernihannya. Lapisan epitel ini tersusun dari
sel epitel gepeng, sel sayap, dan sel basal.
b. Membran Bowman, tepat terletak di bawah lapisan epitel. Karena lapisan ini
sangat kuat dan sulit untuk dipenetrasi, maka lapisan ini melindungi kornea dari
trauma yang lebih dalam, namun lapisan ini tidak memiliki daya regenerasi.
c. Stroma, merupakan lapisan kornea yang paling tebal yang tersusun dari fibril-
fibril kolagen yang tersusun sangat teratur. Susunan inilah yang membuat kornea
menjadi lapisan yang jernih dan dapat dilalui cahaya.
d. Membran Descement, merupakan lapisan elastik kornea yang transparan.
e. Endothel, terdiri dari selapis sel heksagonal yang memompakan cairan dari
kornea dan menjaganya agar tetap bersih. Bila lapisan ini mengalami kerusakan
atau terkena penyakit, maka lapisan ini tidak akan mengalami regenerasi.
Penyakit kornea adalah penyakit mata yang serius, karena dapat menimbulkan
gangguan tajam penglihatan, bahkan dapat menyebabkan kebutaan. Penyakit pada kornea
salah satunya adalah peradangan pada kornea.
Fungsi Kornea
Kornea mempunyai kemempuan membiaskan cahaya yang paling kuat dibanding
dengan sistem optik retraktif lainnya.
Kubah kornea akan membiaskan sinar kelubang pupil didepan lensa. Kubah
kornea yang semakin cembung akan memiliki daya bias yang kuat.
Peran kornea sangat penting dalam menghantarkan cahaya masuk kedalam mata
untuk menghasilkan penglihatan yang tajam, maka kornea memerlukan
kejernihan, kehalusan dan kelengkungan yang tertentu

ULKUS KORNEA
Ulkus kornea merupakan defek epitelial kornea dengan peradangan yang
mendasarinya (yang akan segera berakibat pada nekrosis jaringan kornea) akibat invasi
oleh bakteri, jamur, virus, atau Acanthamoeba. Ulkus ini dapat diawali oleh trauma
mekanis atau defisiensi nutrisi. Gejalanya antara lain kemerahan progresif, sensasi benda
asing, nyeri, fotofobia, dan lakrimasi. Diagnosis dibuat melalui pemeriksaan slit-lamp,
pewarnaan fluorescein, dan pemeriksaan mikrobial. Terapi dengan antimikroba topikal
dan tetesan midriatik yang sering dibutuhkan segera dan membutuhkan pengawasan
seorang ahli penyakit mata (oftalmologis).1
Etiologi
Ulkus kornea memiliki banyak penyebab. Ulkus bakterialis (kebanyakan
disebabkan oleh penggunaan lensa kontak) kadang-kadang dapat menjadi penyulit pada
keratitis herpes simpleks dan, bergantung pada bakteri penyebab, dapat menjadi refrakter
terhadap pengobatan. Lama perjalanan penyakit untuk kejadian ulkus ini bervariasi.
Ulkus yang disebabkan Acanthamoeba (juga paling sering diakibatkan oleh pajanan
terhadap air yang terkontaminasi ketika mengenakan lensa kontak) dan jamur (paling
sering akibat trauma oleh material tumbuhan) biasanya tidak nyeri tetapi progresif,
sementara yang disebabkan oleh Pseudomonas aeruginosa (terlihat hampir selalu pada
pengguna lensa kontak) berkembang dengan cepat, menimbulkan nekrosis korneal yang
dalam dan luas. Menggunakan lensa kontak selama tidur atau penggunaan lensa kontak
yang kurang dibersihkan dapat menyebabkan ulkus kornea.1
Patofisiologi
Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui cahaya, dalam
perjalanan pembentukan bayangan di retina, karena jernih, sebab susunan sel dan
seratnya tertentu dan tidak ada pembuluh darah. Biasan cahaya terutama terjadi di
permukaan anterior dari kornea. Perubahan dalam bentuk dan kejernihan kornea segera
mengganggu pembentukan bayangan yang baik di retina. Oleh karenanya kelainan
sekecil apapun di kornea, dapat menimbulkan gangguan penglihatan yang hebat terutama
bila letaknya di daerah pupil.
Kornea merupakan bagian mata yang avaskuler, sehingga apabila terjadi infeksi
maka proses infiltrasi dan vaskularisasi dari limbus baru akan terjadi 48 jam kemudian.
Maka badan kornea, wandering cell dan sel-sel lain yang terdapat dalam stroma kornea,
segera bekerja sebagai makrofag, baru kemudian disusul dengan dilatasi pembuluh darah
yang terdapat di limbus dan tampak sebagai injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi
infiltrasi dari sel-sel mononuclear, sel plasma, leukosit polimorfonuklear (PMN), yang
mengakibatkan timbulnya infiltrat, yang tampak sebagai bercak berwarna kelabu, keruh
dengan batas-batas tak jelas dan permukaan tidak licin, kemudian dapat terjadi kerusakan
epitel dan timbullah ulkus kornea.5
Ulkus dicirikan oleh defek epitel kornea dengan inflamasi yang mendasarinya,
dan segera diikuti oleh nekrosis stroma kornea. Ulkus kornea cenderung sembuh dengan
pembentukan jaringan parut, yang berakibat pada opasifikasi kornea dan penurunan
ketajaman visual. Uveitis, perforasi kornea dengan prolaps iris, pus di bilik mata depan
(hipopion), panoftalmitis, dan kerusakan mata dapat terjadi jika tidak diberi penanganan
dan, kadang-kadang, bahkan dengan terapi terbaik yang tersedia, khususnya jika
pemberiannya terlambat. Lebih banyak gejala dan komplikasi yang berat cenderung
terjadi pada ulkus yang lebih dalam.1
Penyebab Ulkus Kornea1
Kategori Contoh
- Keratopati bullosa (yaitu bulla yang
Abnormalitas kornea non-traumatik pecah)
- Cicatricial pemphigoid
- Keratitis herpes simpleks dengan
superinfeksi bakterial sekunder
- Dry eyes primer
- Dry eyes sekunder (mis, keratitis
neutrofik)
- Trakhoma
- Abrasi kornea
- Trauma tembus kornea
- Benda asing di kornea (jarang)
Kerusakan korneal
- Lensa kontak (paling sering ketika
digunakan sepanjang tidur dan/atau
disinfeksi yang inadekuat)
- Blefaritis kronis
- Entropion
- Penutupan mata yang tidak sempurna
Abnormalitas kelopak mata (mis, lagoftalmos, kelumpuhan saraf
fasial perifer, defek palpebra setelah
trauma, atau eksoftalmos)
- Trichiasis
- Kekurangan nutrisi protein
Defisiensi nutrisi
- Defisiensi vitamin A

Tanda dan Gejala


Kemerahan pada konjungtiva, nyeri di sekitar mata, sensasi benda asing,
fotofobia, dan lakrimasi bisa jadi minimal pada awalnya. Ulkus kornea dimulai dengan
defek epitelial kornea yang dapat diwarnai dengan fluorescein dan memiliki dasar keabu-
abuan tumpul yang dibatasi kekeruhan superfisial. Setelah itu, ulkus mengalami supurasi
dan nekrosis yang membentuk ulkus dalam.1

ETIOLOGI2,4,5
a. Infeksi
Infeksi Bakteri : P. aeraginosa, Streptococcus pneumonia dan spesies Moraxella
merupakan penyebab paling sering
Infeksi Jamur : disebabkan oleh Candida, Fusarium, Aspergilus, Cephalosporium
dan spesies mikosis fungoides.
Infeksi virus
Ulkus kornea oleh virus herpes simplex cukup sering dijumpai. Bentuk khas
dendrit dapat diikuti oleh vesikel-vesikel kecil dilapisan epitel yang bila pecah
akan menimbulkan ulkus.
Acanthamoeba
Infeksi kornea oleh acanthamoeba sering terjadi pada pengguna lensa kontak
lunak, khususnya bila memakai larutan garam buatan sendiri. Infeksi juga
biasanya ditemukan pada bukan pemakai lensakontak yang terpapar air atau tanah
yang tercemar.
b. Noninfeksi
Bahan kimia, bersifat asam atau basa tergantung PH.
Radiasi atau suhu
Sindrom Sjorgen
Defisiensi vitamin A
Obat-obatan (kortikosteroid, idoxiuridine, anestesi topical, immunosupresif)
Kelainan dari membran basal, misalnya karena trauma.
Pajanan (exposure)
Neurotropik
c. Sistem Imun (Reaksi Hipersensitivitas)
Terjadinya ulkus kornea biasanya didahului oleh faktor pencetus yaitu rusaknya
sistem barier epitel kornea oleh penyebab-penyebab seperti:5
a. Kelainan pada bulu mata (trikiasis) dan sistem air mata (insufisiensi air mata,
sumbatan saluran lakrimal)
b. Oleh faktor-faktor eksternal yaitu : luka pada kornea (erosi kornea) karena trauma,
penggunaan lensa kontak, luka bakar pada muka
c. Kelainan lokal pada kornea, meliputi edema kornea kronik, keratitis exposure (pada
lagoftalmos, anestesi umum, koma), keratitis karena defisiensi vitamin A, keratitis
neuroparalitik, keratitis superficialis virus
d. Kelainan sistemik, meliputi malnutrisi, alkoholisme, sindrom Steven-Johnson,
sindrom defisiensi imun (AIDS, SLE)
e. Obat-obatan penurun sistem imun, seperti kortikosteroid, obat anestesi lokal

KLASIFIKASI
Berdasarkan lokasi , dikenal ada 2 bentuk ulkus kornea , yaitu:2
1. Ulkus kornea sentral.
a. Ulkus kornea bakterialis
Ulkus Streptokokus
Khas sebagai ulkus yang menjalar dari tepi ke arah tengah kornea
(serpinginous). Ulkus bewarna kuning keabu-abuan berbentuk cakram dengan
tepi ulkus yang menggaung. Ulkus cepat menjalar ke dalam dan menyebabkan
perforasi kornea, karena eksotoksin yang dihasilkan oleh streptokokus
pneumonia.
Ulkus Stafilokokus
Pada awalnya berupa ulkus yang bewarna putik kekuningan disertai infiltrat
berbatas tegas tepat dibawah defek epitel. Apabila tidak diobati secara
adekuat, akan terjadi abses kornea yang disertai edema stroma dan infiltrasi
sel leukosit. Walaupun terdapat hipopion ulkus sering kali indolen yaitu reaksi
radangnya minimal.
Ulkus Pseudomonas
Lesi pada ulkus ini dimulai dari daerah sentral kornea.ulkus sentral ini dapat
menyebar ke samping dan ke dalam kornea. Penyerbukan ke dalam dapat
mengakibatkan perforasi kornea dalam waktu 48 jam. Gambaran berupa ulkus
yang berwarna abu-abu dengan kotoran yang dikeluarkan berwarna kehijauan.
Kadang-kadang bentuk ulkus ini seperti cincin. Dalam bilik mata depan dapat
terlihat hipopion yang banyak.
Ulkus Pneumokokus
Terlihat sebagai bentuk ulkus kornea sentral yang dalam.Tepi ulkus akan
terlihat menyebar ke arah satu jurusan sehingga memberikan gambaran
karakteristik yang disebut ulkus serpen. Ulkus terlihat dengan infiltrasi sel
yang penuhdan berwarna kekuning-kuningan. Penyebaran ulkus sangat cepat
dan sering terlihat ulkus yang menggaung dan di daerah ini terdapat banyak
kuman. Ulkus ini selalu ditemukan hipopion yang tidak selamanya sebanding
dengan beratnya ulkus yangterlihat.diagnosa lebih pasti bila ditemukan
dakriosistitis.
b. Ulkus kornea fungi
Mata dapat tidak memberikan gejala selama beberapa hari sampai beberapa
minggu sesudah trauma yang dapat menimbulkan infeksi jamur ini. Pada
permukaan lesi terlihat bercak putih dengan warna keabu-abuan yang agak kering.
Tepi lesi berbatas tegas irregular dan terlihat penyebaran seperti bulu pada bagian
epitel yang baik. Terlihat suatu daerah tempat asal penyebaran di bagian sentral
sehingga terdapat satelit-satelit disekitarnya. Tukak kadang-kadang dalam, seperti
tukak yang disebabkan bakteri. Pada infeksi kandida bentuk tukak lonjong dengan
permukaan naik.Dapat terjadi neovaskularisasi akibat rangsangan radang.
Terdapat injeksi siliar disertai hipopion.
c. Ulkus kornea virus
Ulkus kornea Herpes Zoster
Biasanya diawali rasa sakit pada kulit dengan perasaan lesu. Gejala ini timbul
satu 1-3 hari sebelum timbulnya gejala kulit. Pada mata ditemukan vesikel
kulit dan edem palpebra, konjungtiva hiperemis, kornea keruh akibat
terdapatnya infiltrat subepitel dan stroma. Infiltrat dapat berbentuk dendrit
yang bentuknya berbeda dengan dendrit herpes simplex. Dendrit herpes zoster
berwarna abu-abu kotor. Kornea hipestesi tetapi dengan rasa sakit. Keadaan
yang berat pada kornea biasanya disertai dengan infeksi sekunder.
Ulkus kornea Herpes Simplex
Infeksi primer yang diberikan oleh virus herpes simplex dapat terjadi tanpa
gejala klinik. Biasanya gejala dini dimulai dengan tanda injeksi siliar yang
kuat disertai terdapatnya suatu dataran sel di permukaan epitel kornea disusul
dengan bentuk dendrit atau bintang infiltrasi. terdapat hipertesi pada
korneasecara lokal kemudian menyeluruh. Terdapat pembesaran kelenjar
preaurikuler. Bentuk dendrit herpes simplex kecil, ulseratif, jelas diwarnai
dengan fluoresin dengan benjolan diujungnya
d. Ulkus kornea acanthamoeba
Awal dirasakan sakit yang tidak sebanding dengan temuan kliniknya, kemerahan
dan fotofobia. Tanda klinik khas adalah ulkus kornea indolen, cincin stroma, dan
infiltrat perineural.

2. Ulkus kornea perifer


a. Ulkus marginal
b. Ulkus mooren (ulkus serpinginosa kronik/ulkus roden)
c. Ulkus cincin (ring ulcer)

.
MANIFESTASI KLINIS
Gejala klinis pada ulkus kornea secara umum dapat berupa:4
1. Gejala subjektif
Eritema pada kelopak mata dan konjungtiva
Sekret mukopurulen
Merasa ada benda asing di mata
Pandangan kabur
Mata berair
Bintik putih pada kornea, sesuai lokasi ulkus
Silau
Nyeri
Infiltat yang steril dapat menimbulkan sedikit nyeri, jika ulkus terdapat pada
perifer kornea dan tidak disertai dengan robekan lapisan epitel kornea.
2. Gejala objektif
Injeksi silier
Hilangnya sebagian kornea dan adanya infiltrate
Hipopion

DIAGNOSIS
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan oftalmologis dengan menggunakan slit lamp dan pemeriksaan laboratorium.
Anamnesis pasien penting pada penyakit kornea, sering dapat diungkapkan adanya
riwayat trauma, benda asing, abrasi, adanya riwayat penyakit kornea yang bermanfaat,
misalnya keratitis akibat infeksi virus herpes simplek yang sering kambuh. Hendaknya
pula ditanyakan riwayat pemakaian obat topikal oleh pasien seperti kortikosteroid yang
merupakan predisposisi bagi penyakit bakteri, fungi, virus terutama keratitis herpes
simplek. Juga mungkin terjadi imunosupresi akibat penyakit sistemik seperti diabetes,
AIDS, keganasan, selain oleh terapi imunosupresi khusus.
Pada pemeriksaan oftakmologis didapatkan gejala obyektif berupa adanya injeksi
siliar,kornea edema, terdapat infiltrat, hilangnya jaringan kornea disertai adanya jaringan
nekrotik. Pada kasus berat dapat terjadi iritis yang disertai dengan hipopion.
Disamping itu perlu juga dilakukan pemeriksaan diagnostik seperti ketajaman
penglihatan, pemeriksaan slit-lamp, respon reflek pupil, pewarnaan kornea dengan zat
fluoresensi, dan scrapping untuk analisa atau kultur (pulasan gram, giemsa atau KOH).
Karena gambaran klinis tidak dapat digunakan untuk membuat diagnosis etiologik
secara spesifik, diperlukan pemeriksaan mikrobiologik, sebelum diberikan pengobatan
empirik dengan antibiotika.
Pengambilan specimen harus dari tempat ulkusnya, dengan membersihkan
jaringan nekrotik terlebih dahulu; dilakukan secara aseptic menggunakan spatula Kimura,
lidi kapas steril, kertas saring atau calcium alginate swab. Pemakaian media penyubur
BHI (Brain Heart Infusion Broth) akan memberikan hasil positif yang lebih baik daripada
penanaman langsung pada medium isolasi. Medium yang digunakan adalah medium pelat
agar darah, media coklat, medium Sabarauds untuk jamur dan thioglycolat. Selain itu
dibuat preparat untuk pengecatan gram. Hasil pewarnaan gram dapat memberikan
informasi morfologik tentang kuman penyebab yaitu termasuk kuman gram (+) atau
Gram (-) dan dapat digunakan sebagai dasar pemilihan antibiotika awal sebagai
pengobatan empirik.
Di laboratorium, kuman akan diisolasi dan diidentifikasi lebih lanjut serta
dilakukan pemeriksaan tes kepekaan terhadap antibiotika.2,5

KOMPLIKASI
Komplikasi yang paling sering timbul berupa:
Scarring/perforasi kornea yang dapat menyebabkan kebutaan parsial atau komplit
Prolaps iris
Katarak
Glaukoma sekunder

PENATALAKSANAAN
Ulkus kornea adalah keadan darurat yang harus segera ditangani oleh spesialis
mata agar tidak terjadi cedera yang lebih parah pada kornea. Pengobatan pada ulkus
kornea tergantung penyebabnya, diberikan obat tetes mata yang mengandung antibiotik,
anti virus, anti jamur, sikloplegik dan mengurangi reaksi peradangan dengann steroid.
Pasien dirawat bila mengancam perforasi, pasien tidak dapat memberi obat sendiri, tidak
terdapat reaksi obat dan perlunya obat sistemik.
Tujuan pengobatan ulkus kornea secara umum adalah untuk mencegah
berkembangnya bakteri dan mengurangi reaksi radang, dengan cara:
1. Benda asing dan bahan yang merangsang harus segera dihilangkan. Erosi kornea
yang sekecil apapun harus diperhatikan dan diobati sebaik-baiknya.
2. Antibiotik
Antibiotik yang sesuai dengan kuman penyebabnya atau yang berspektrum luas
dapat diberikan sebagai salep, tetes, atau suntikan subkonjungtiva.
3. Pemberian sikloplegika
Sikloplegika yang sering digunakan adalah sulfas atropin karena masa kerjanya lama,
hingga 1-2 minggu. Efek kerja atropin adalah sebagai berikut :
Sedatif, menghilangkan rasa sakit
Dekongestif, menurunkan tanda radang
Menyebabkan paralise m.siliaris dan m.konstriktor pupil. Dengan lumpuhnya
m.siliaris mata tidak mempunyai daya akomodasi sehingga mata dalam keadaan
istirahat. Dengan lumpuhnya m.konstriktor pupil, terjadi midriasis, sehingga
sinekia posterior yang telah terjadi dapat dilepaskan dan dicegah pembentukan
sinekia posterior yang baru.
4. Bedah
Tindakan bedah meliputi
Keratektomi superficial tanpa membuat perlukaan pada membran Bowman
Tissue adhesive atau graft amnion multilayer
Flap konjungtiva
Patch graft dengan flap konjungtiva
Keratoplasti tembus (penetrating keratoplasty)
Fascia lata graft3
DAFTAR PUSTAKA
1. Roat M I. Corneal Ulcer. November 2012. Diunduh dari:
http://www.merckmanuals.com/professional/eye_disorders/corneal_disorders/cor
neal_ulcer.html?qt=corneal%20ulcer&alt=sh.
2. Vaughan D G, Asbury T, Riordan P. Oftalmologi umum. 14th Ed. Alih bahasa:
Tambajong J, Pendit BU. Jakarta: Widya Medika. 2000: 220
3. Winarto, Sutedja SS, Suhardjo, Gondowiardjo TD. Penanganan Ulkus Kornea
Secara Optimal. Semarang: PERDAMI Jawa Tengah, 2001.
4. Ilyas S. Glaukoma (Tekanan Bola Mata Tinggi). Jakarta: Balai penerbit FK UI.
1997
5. Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia.2002. Ulkus Kornea dalam : Ilmu
Penyakit Mata Untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran, edisi ke2.
Penerbit Sagung Seto Jakarta.
6. PERDAMI, Panduan Menejemen Klinis PERDAMI, Jakarta : PP PERDAMI.
2006