Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS BESAR

SEORANG LAKI-LAKI 39 TAHUN DENGAN MATA KANAN KIRI KERATITIS
SUPERFICIALIS ET CAUSA SUSPEK BAKTERI

Diajukan Guna Melengkapi Tugas Kepaniteraan Senior
Bagian Ilmu Kesehatan Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

Disusun oleh:
FARIZ RIFQI
22010116220258

Penguji kasus : Dr. dr. Trilaksana Nugroho, M.Kes, FISCM, Sp.M

Pembimbing : dr. Kasihana

Dibacakan tanggal : Jumat, 7 Juli 2017

BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2017

HALAMAN PENGESAHAN

Melaporkan kasus Mata Kanan Keratitis et causa Bakteri
Penguji kasus : Dr. dr. Trilaksana Nugroho, M.Kes, FISCM, Sp.M

Pembimbing : dr. Kasihana

Dibacakan oleh : Fariz Rifqi

Dibacakan tanggal : Jumat, 7 Juli 2017

Diajukan guna memenuhi tugas Kepaniteraan Senior di Bagian Ilmu Kesehatan Mata Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro.

Semarang, 6 Juli 2017
Mengetahui,

Penguji Kasus Pembimbing

Dr.dr. Fifin Luthfia Rahmi, MS, Sp.M (K) dr. Yetrina

2 II. media refrakta. Apabila terdapat kelainan pada salah satu dari ketiga hal tersebut dapat mengakibatkan penurunan ketajaman penglihatan.1 Media refrakta terdiri dari kornea. dan corpus vitreum. Keratitis dapat berlanjut menjadi ulkus kornea. sehingga terjadi diskontinuitas jaringan. yaitu. rasa silau/fotofobi dan lakrimasi. Kornea berfungsi untuk melindungi mata dari benda-benda asing. pemakaian lensa kontak. IDENTITAS PENDERITA Nama : Tn. Ketajaman penglihatan dipengaruhi oleh tiga hal. dan saraf mata. humor aquosus. Keratitis akan memberikan gejala visus menurun. Salah satu media refrakta yang memiliki peranan penting dalam proses penglihatan adalah kornea. reaksi alergi terhadap obat topikal. lensa kristalina. jika terjadi trauma yang menyebabkan epitel rusak maka infeksi akan mudah terjadi1 Salah satu kelainan pada kornea adalah keratitis. keracunan obat. yang kemudian lepas. Epitel kornea merupakan pelindung yang baik. Keratitis dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti kurangnya air mata.I. trauma. refraksi. Keratitis adalah peradangan yang terjadi pada kornea. reaksi terhadap konjungtivitis menahun. yaitu bila terbentuk jaringan nekrosis. PENDAHULUAN Mata merupakan salah satu panca indra yang dapat menentukan kualitas hidup seseorang. B Umur : 39 tahun Jenis Kelamin : Laki-Laki Agama : Katolik Alamat : Blancir RT1 RW6 Kopeg Getasah Pekerjaan : Satpam No CM : 77-30-00 .

Riwayat penyakit jantung disangkal Riwayat Penyakit Keluarga : . Keluhan ini dirasakan pasien semakin memberat. Pasien selama ini telah menggunakan soft lens (minus 5) selama 6 tahun namun tidak rutin mencuci softlensnya. ANAMNESIS Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada 3 Juli 2017 di Poli Mata Rumah Sakit Umum William Booth Keluhan Utama : Kedua mata terasa pedih Riwayat Penyakit Sekarang : Kurang lebih 1 minggu yang lalu pasien mengatakan mata sebelah kanan dan kiri pedih. Riwayat penggunaan obat positif (Cendoxitrol) . Riwayat hipertensi disangkal . pasien kemudian membeli obat cendo xitrol di apotek namun tidak membaik. Riwayat trauma disangkal . Pasien mengeluh adanya mata buram dalam melihat jauh. Riwayat Penyakit Dahulu : . pasien juga mengeluh silau saat adanya cahaya. kemudian pasien memeriksakan diri ke poli mata RSU William Booth. Pedih dirasakan terus menerus dan tampak merah serta bengkak pada kedua kelopak mata atas. Riwayat sakit seperti ini sebelumnya disangkal . Tidak ada keluarga pasien yang mengalami penyakit seperti ini. . Riwayat penggunaan softlens (minus 5) . Riwayat operasi pada mata disangkal . Riwayat DM disangkal . Riwayat menggunakan kacamata minus disangkal . Riwayat Alergi obat (Sulfa Tetra) .III. kotoran mata (-).

Penderita seorang satpam . Biaya pengobatan BPJS .80C nadi : 80x/menit RR : 24x/menit Pemeriksaan fisik : Kepala : mesosefal Thoraks : Cor : tidak ada kelainan Paru : tidak ada kelainan Abdomen : tidak ada kelainan Ekstremitas: tidak ada kelainan . Riwayat Sosial Ekonomi : . PEMERIKSAAN PEMERIKSAAN FISIK Status Praesen (Tanggal 3 Juli 2017) Keadaan umum : baik Kesadaran : komposmentis Tanda vital : TD : 120/80 suhu : 36. Kesan : sosial ekonomi cukup IV.

sekret (-). KONJUNGTIVA Injeksi siliar (+). spasme (-) INFERIOR Hiperemis (-). sekret (-). paracentral. dan perifer) . sekret (-).Status Oftalmologi (Tanggal 3 Juli 2017) Injeksi silier Injeksi silier OD OS Infiltrat pungtata superficial di Infiltrat pungtata superficial di daerah central. sekret (-). spasme (-) Edema (+). spasme (-) SUPERIOR PALPEBRA Edema (-). kemosis (-) BULBI kemosis (-) Tidak ada kelainan SCLERA Tidak ada kelainan . paracentral. Jaringan nekrotik (-). infiltrat (+) bentuk pungtata superficial di daerah central. dan daerah central. KONJUNGTIVA Hiperemis (-). paracentral. dan perifer perifer defek (+) di central. sekret (-). edema (-) FORNICES edema (-) Injeksi siliar (+). edema (-) PALPEBRALIS edema (-) Hiperemis (-). spasme (-) Edema (-). sekret (-). KONJUNGTIVA Hiperemis (-). fluorescein test (+) Oculi Dextra Oculi Sinistra 3/60 VISUS 3/60 Tidak dilakukan KOREKSI Tidak dilakukan Tidak dilakukan SENSUS COLORIS Tidak dilakukan Gerak bola mata bebas ke Gerak bola mata bebas ke PARASE/PARALYSE segala arah segala arah Tidak ada kelainan SUPERCILIA Tidak ada kelainan PALPEBRA Edema (+).

KONJUNGTIVA Injeksi siliar (+). lakrimasi (-). penurunan visus (+) fotofobia (+). kemosis (-) BULBI kemosis (-) . TyndallEffect (-) ANTERIOR TyndallEffect (-) Kripte (+). Defek epitel (+) di central. RESUME Seorang laki-laki berusia 39 tahun datang ke poliklinik mata RSU William Booth dengan keluhan pedih pada kedua mata. regular. paracentral. Pasien sudah membeli obat xendo citrol namun keluhan dirasakan pasien semakin memberat. regular. diameter 3 mm. paracentral. Status praesens : Dalam batas normal Pemeriksaan fisik : Dalam batas normal Status Oftalmologi : Oculi Dextra Oculi Sinistra 6/30 VISUS 6/30 Injeksi siliar (+). sekret (-). fluorescein dan perifer). sekret (-). sinekia (-) IRIS Kripte (+). CAMERA OCULI Kedalaman cukup. infiltrat (+) bentuk infiltrat (+) bentuk pungtata superficial di pungtata superficial di daerah central. Bulat. central. fluorescein test (+) test (+) Kedalaman cukup. sekret (-). RP (+) N PUPIL diameter 3 mm. 1 minggu yang lalu yang lalu pasien mengeluh mata kanan dan kiri nya pedih dan diikuti kelopak mata kanan dan kiri edema. hiperemis (+). dan perifer). Terasa mengganjal (+). RP (+) N Jernih LENSA Jernih (+) kurang cemerlang FUNDUS REFLEKS (+) kurang cemerlang Tidak dilakukan TENSIO OCULI Tidak dilakukan SISTEM CANALIS Tidak dilakukan Tidak dilakukan LACRIMALIS V. Defek epitel (+) di central. sinekia (-) Bulat. central. KORNEA daerah central. gatal (+).

fluorescein test (+). Edema (+). Keratitis superficialis et causa virus VII. infiltrat (+) superficial bentuk KORNEA infiltrat (+) superficial bentuk pungtata pungtata VI. Edema (+). defek epitel (+). Keratitis superficialis et causa jamur 2. defek epitel (+). TATALAKSANA Levofloxacin ED 1 tts / 4 jam mata kanan dan kiri Na Diclofenac 2x50mg Vitamin C 50mg 1 kali / hari peroral Kontrol ulang 3 hari kemudian VIII. PROGNOSIS OD OS Quo ad visam Ad Bonam Ad Bonam Quo ad sanam Ad Bonam Ad Bonam Quo ad vitam Ad Bonam Quo ad cosmeticam Ad Bonam . DIAGNOSIS Keratitis superficialis oculi dextra sinistra et causa suspek bakteri DD : 1. fluorescein test (+).

XI.  Menjelaskan kepada pasien agar pasien dapat mengikuti dan mematuhi terapi yang diberikan sesuai anjuran dokter. X.  Pemantauan dan evaluasi perkembangan penyakit serta kemungkinan komplikasi. EDUKASI  Menjelaskan pada pasien bahwa pasien menderita infeksi kornea pada mata kanan yang menyebabkan timbulnya gejala gejala seperti yang dikeluhkan pasien.  Menjelaskan kepada pasien agar pasien dapat menjaga kebersihan dengan baik terutama kebersihan tangan.IX.  Menjelaskan kepada pasien mengenai risiko penggunaan softlens yang berhubungan dengan pekerjaan pasien yang lebih sering terpapar dengan debu. SARAN  Usulan untuk dilakukan scrapping untuk pengecatan gram dan kultur.  Menjelaskan kepada pasien agar pasien tidak mengusap mata karena dapat menghambat penyembuhan. DOKUMENTASI OD OS .

Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi yang baik. . Tebalnya 50 µm. . Terletak dibawah membrana basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. dan sel muda ini terdorong kedepan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju kedepan menjadi sel gepeng. Jaringan Stroma .Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblast terletak diantara serat kolagen stroma. Terdiri atas lamel yang merupakan sususnan kolagen yang sejajar satu dengan yang lainnya. ikatan ini menghambat pengaliran air. elektrolit dan glukosa yang merupakan barrier. lengkung melingkar pada persambungan ini disebut sulkus sklearis. Kornea ini disisipkan ke sklera di limbus. dan diameternya sekitar 11. Bila terjadi gangguan akan menghasilkan erosi rekuren. . 2. terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih. Lapisan epitel . . sel polygonal dan sel gepeng. Sel basal menghasilkan membrane basal yang melekat erat kepadanya.1ari luar ke dalam. Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 0. kornea mempunyai lima lapisan yang berbeda-beda:1 1. Anatomi dan Fisiologi Kornea Kornea adalah selaput bening mata. 3. DISKUSI A.5 mm. sel basal berikatan erat dengan sel basal disampingnya dan sel polygonal didepannya melalui desmosom dan macula okluden. Pada sel basal sering terlihat mitosis sel. Membran Bowman . Pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang dibagian perifer serat kolagen ini bercabang.65 di tepi. . terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan. sekitar 0.54 mm di tengah. bagian selaput mata yang tembus cahaya. satu lapis sel basal.XII. Epitel berasal dari ectoderm permukaan.

Sumber nutrisi kornea adalah pembuluh-pembuluh darah limbus. Endotel . Endotel melekat pada membran descement melalui hemidosom dan zonula okluden. 5. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan. saraf siliar longus berjalan supra koroid. Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensorik terutama berasal dari saraf siliar longus. menembus membran Bowman melepaskan selubung Schwannya. keracunan obat. seperti keratitis superfisial dan interstisial atau profunda. humour aquous. . Sebaliknya cedera pada epitel menyebabkan edema local sesaat stroma kornea yang akan menghilang bila sel-sel epitel itu telah beregenerasi. dan reaksi terhadap konjungtivitis .3 Kerusakan pada sel-sel endotel menyebabkan edema kornea dan hilangnya sifat transparan. dan air mata. saraf ke V. bentuk heksagonal. proses itu dan penguapan langsung adalah factor-faktor yang menarik air dari stroma kornea superficial untuk mempertahankan keadaan dehidrasi. Keratitis Radang kornea biasanya diklasifikasikan dalam lapisan kornea yang terkena. berlapis satu. Membran Descement . Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan diantara. saraf nasosiliar. Penguapan air dari film air mata parakornea berakibat film air mata menjadi hipertonik. Keratitis dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti kurangnya air mata. besar 20-40µm. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma. reaksi alergi terhadap pemberian obat tipikal. 4. Berasal dari mesotelium. Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup.Kornea superfisial juga mendapat oksigen sebagian besar dari atmosfir. avaskularitasnya dan deturgensinya. masuk ke dalam stroma kornea. Transparansi kornea dipertahankan oleh strukturnya yang seragam. Merupakan membrana aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membrane basalnya.3 B. mempunyai tebal 40 µm.

terutama bila bila letaknya di pusat. kebanyakan lesi kornea. hanya minimal pada keratitis herpes karena terjadi hipestesia pada penyakit ini. debu. Pengobatan yang dapat diberikan antibiotika. Fotofobia. menimbulkan rasa nyeri dan fotofobia. Penyebab paling sering adalah virus herpes simplex tipe 1. Fotofobia pada penyakit kornea merupakan akibat kontraksi iris meradang yang nyeri. pajanan terhadap cahaya yang sangat terang. kekurangan vitamin A dan penggunaan lensa kontak yang kurang baik. yang berat pada kebanyakan penyakit kornea. keratitis interstisial). Karena kornea berfungsi sebagai jendela bagi mata dan membiaskan cahaya. reaksi alergi atau mata yang terlalu sensitif terhadap kosmetik mata. Rasa nyeri ini diperberat oleh gerak palpebra (terutama palpebra superior) di atas kornea dan biasanya menetap sampai sembuh. polusi atau bahan iritatif lain. abrasi kornea. Keratitis akan memberikan gejala mata merah. lesi kornea umumnya mengaburkan penglihatan. dan merasa kelilipan. Bakteri. air mata buatan. Dilatasi pembuluh iris adalah fenomena refleks yang timbul akibat iritasi pada ujung saraf kornea.5 Gejala Umum  Keluar air mata yang berlebihan  Nyeri  Penurunan tajam penglihatan  Radang pada kelopak mata (bengkak. baik superfisial mauun dalam (benda asing kornea. virus dan jamur dapat menyebabkan keratitis.menahun. benda asing yang masuk ke mata. merah)  Mata merah  Sensitif terhadap cahaya Patofisiologi Gejala Karena kornea memiliki banyak serat nyeri. dan siklopegik. . yang juga merupakan suatu diagnostik penting. rasas silau.1 Etiologi dan faktor pencetus Penyebab keratitis bermacam-macam. Selain itu penyebab lain adalah kekeringan pada mata.

Pemeriksaan sering lebih mudah dengan meneteskan anestesi lokal.Hapusan dan kultur sering membantu dalam kasus dengan riwayat penyakit yang tidak jelas. organisme harus diketahui sesegara mungkin.2 . Harus diperhatikan perjalanan pantulan cahaya saat menggerakkan cahaya di atas kornea. yang dapat merupakan predisposisi bagi penyakit bakteri. Hendaknya pula ditanyakan pemakaian obat lokal oleh pasien. namun karena erosi kambuh sangat sakit dan keratitis herpetik tidak. Karena penundaan dalam mengidentifikasi organisme penyebab dapat sangat mempengaruhi hasil akhir pada penglihatan.2 Pemilihan terapi yang tepat untuk penyakit kornea. Meskipun mata berair dan fotofobia lazim menyertai penyakit kornea. Pemulusan fluorescein dapat memperjelas lesi epitel superfisialis yang tidak mungkin tidak telihat bila tidak dipulas. dan pungsi akuos atau vitreous tidak perlu dilakukan kecuali ada kecurigaan yang tinggi oleh mikroba endophthalmitis. selain oleh terapi imunosupresi khusus. seperti diabetes. AIDS. sekret biasanya tidak ada. dan penyakit ganas. fungi. Hipopion yang terjadi di mata dengan keratitis bakteri biasanya steril. atau oleh virus. Mayoritas kasus keratitis bakteri pada komunitas diselesaikan dengan terapi empiris dan dikelola tanpa hapusan atau kultur. Juga mungkin terjadi imunosupresi akibat penyakit-penyakit sistemik. Daerah kasar yang menandakan defek pada epitel terlihat dengan cara ini. kecuali pada ulkus bakteri purulen. dapat dipakai kaca pembesar dan pencahayaan terang. jika tidak tersedia. karena mungkin telah memakai kortikosteroid. benda asing dan abrasi merupakan dua lesi yang umum pada kornea. terutama keratitis herpes simpleks. Sering dapat diungkapkan adanya riwayat trauma. penyakit-penyakit ini dapat dibedakan dari gejalanya. sangat memerlukan pemeriksaan laboratorium. Keratitis akibat infeksi herpes simpleks sering kambuh. ulkus bakteri dan ulkus fungi memerlukan obat yang sama sekali berbeda. teruta ulkus supuratif. Pemakaian biomikroskop (slitlamp) penting untuk pemeriksaan kornea dengan benar.2 Diagnosa Anamnesis pasien penting pada penyakit kornea. Adanya riwayat penyakit kornea juga bermanfaat. Sebagai contoh.2 Dokter memeriksa di bawah cahaya yang memadai.

b. yang cukup besar untuk memungkinkan pembelahan sehingga satu porsi dapat dikirim untuk kultur dan yang lainnya untuk histopatologi. Dalam perawatan mata secara empiris tanpa kultur dimana respon klinisnya tidak bagus. Keratitis epithelial Epitel kornea terlibat pada sebagian besar jenis konjungtivitis. Semua variasi ini mempunyai makna diagnostik yang penting. Keratitis subepitelial Lesi-lesi ini sering terjadi karena keratitis epithelial (misal infiltrat subepitelial pada keratokonjungtivitis epidemika. kultur dapat membantu meskipun keterlambatan dalam pemulihan patogen dapat terjadi. Kapas steril juga dapat digunakan untuk mendapatkan sampel.2 Biopsi kornea dapat diindikasikan jika terjadi respon yang minimal terhadap pengobatan atau jika kultur telah negatif lebih dari satu kali dengan gambaran klinis yang sangat mendukung suatu proses infeksi. Setelah anestesi topikal. Hal ini juga dapat diindikasikan jika infiltrat terletak di pertengahan atau dalam stroma dengan jaringan atasnya tidak terlibat. dari edema biasa dan vakuolasi sampai erosi kecil-kecil. Perubahan pada epitel sangat bervariasi. dan pemeriksaan slitlamp dengan dan tanpa pulasan fluoresscein hendaknya merupakan bagian dari setiap pemeriksaan luar mata. Spesimen biopsi harus disampaikanke laboratorium secara tepat waktu. keratinisasi partial dan lain-lain. gunakan sebuah pisau untuk mengambil sepotong kecil jaringan stroma. yang disebabkan adenovirus 8 dan 19). Umunya lesi .2 Pada pasien kooperatif.2 a. pembentukan filament. Lesi-lesi ini juga bervariasi kornea.2 Sampel kornea diperoleh dengan memakai agen anestesi topikal dan menggunakan instrumen steril untuk mendapatkan atau mengorek sampel dari daerah yang terinfeksi pada kornea. keratitis dan pada kasus-kasus tertentu merupakan satu-satunya jaringan yang terlibat (misalnya: pada keratitis punctata superficialis).2 Klasifikasi Keratitis : Menurut lokasinya keratitis diklasifikasikan menjadi:1. Kultur sangat membantu sebagai panduan modifikasi terapi pada pasien dengan respon klinis yang tidak bagus dan untuk mengurangi toksisitas dengan mengelakkan obat-obatan yang tidak perlu. biopsi kornea dapat dilakukan dengan bantuan Slit Lamp atau mikroskop operasi. Kultur adalah cara untuk mengidentifikasi organisme kausatif dan satu-satunya cara untuk menentukan kepekaan terhadap antibiotik. Ini paling mudah dilakukan dengan perbesaran Slit Lamp.

yang mula-mula mengenai stroma dan kemudian epitel. gatifloxacin. cefazolin.2. c. yang mulai pada epitel kemudian pada stroma.4 Keratitis Bakterialis Pneumokokus (Streptokokus Pneumonie)  Inkubasi 24 – 48 Jam. pilihan kedua : levofloxacin. Keratitis endothelial Disfungsi endothelium kornea akan berakibat edema kornea. Sel-sel radang pada endotel (endapan keratik atau KPs) tidak selalu menandakan adanya penyakit endotel karena sel radang juga merupakan manifestasi dari uveitis anterior. edema muncul sebagai penebalan kornea. penipisan dan perlunakan yang dapat berakibat perforasi. dan vaskularisasi. ini dapat diamati dengan mata telanjang namun dapat juga dikenali pada pemeriksaan biomikroskopik terhadap keratitis epitelial. Ini berbeda dari edema kornea yang disebabkan oleh peningkatan TIO. atau parut. Keratitis stroma Respons stroma kornea terhadap penyakit antara lain infiltrasi. penicilin G. Selama kornea tidak terlalu sembab. vancomicin Pseudomonas Aeruginosa  Inkubasi < 24 jam (+ 6 – 8 jam ) Infiltrat warna kehijauan  Nyeri Hebat  Cepat meluas kesegala arah (o/k enzim proteolitik)  Dapat mengakibatkan perforasi kornea & infeksi intraokuler yg berat  Kornea tampak “ luluh “ & menonjol Hipopion ( + + ) . Menurut penyebabnya keratitis diklasifikasikan menjadi:1. kelainan endoter kornea sering masih dapat terlihat kelainan endotel kornea melalui slit-lamp. yang menunjukkan akumulasi sel-sel radang. pengkeruhan. d.  Infiltrat warna abu-abu  Batas tegas cenderung meluas kesentral dengan cepat (Ulkus Serpigiinosa akut)  Mudah terbentuk hipopion (pus dlm COA)  Laboratorium : kuman diplokokus gram (+)  Terapi : moxifloxacin.

Banyak di daerah pertanian . gatifloxacin . (5hari) Keratitis oleh karena jamur .  Lab : Kuman diplokokus gram ( . Pada penderita pengguna steroid topikal jangka panjang .v. tobramisin . ciprofloxacin . gentamisin Gonokokus  Kelanjutan dari konjungtivitis Gonorrhoeae  Gambaran khas : ulkus daerah jam 12 cepat perforasi meskipun kecil.Inj Ceftriaxone 1 – 2 gram /hari i. >> o/k pemakaian soft contact lens (tu extended wear)  Lab : kuman bentuk batang gram negatif  Terapi : . Klinis .) intraseluler  Terapi : .Tetes mata gentamicin / quinolone / jam . Dapat terjadi oleh karena pemakaian soft contact lens . moxifloxacin .

self limiting.15 % / vorikonazole  Oral : Flukonazole 200–400 mg/hari  Fusarium / aspergillus :  Natamicin 5 % /vorikonazole  oral : ketokonazole 200–600 mg/hari. Laboratorium : dari scraping ditemukan :  Candida ( bentuk pseudohyphae / yeast ) seperti untaian manik-manik. Terapi :  Candida (yeast) :  Ampotericin B 0.  Fusarium / aspergilus : bentuk hyphae seperti benang . disertai uveitis anterior yang berat dan abses kornea. dgn tepi ireguler  Sering disertai hipopion ( inflamasi pd bola mata yang berat )  Lesi satelit  Khas : bercak di endotel (“endothelilal plaque”) pada dasar ulkus. Keratitis herpes simplek Dua bentuk gambaran klinis  Primer Vesikel pada palpebra dan konjungtiva kadang kadang kornea ikut terlibat Umumnya terjadi pada anak-anak. . broad spectrum (oral) : itrakonazole 200mg/hari Keratitis oleh karena virus a. Terapi anti viral topikal untuk profilaksis keterlibatan kornea  Rekuren .  “ indolent”  Warna infiltrat abu-abu.

Dipacu : .Lab : scraping dari sel epitel kornea atau cairan dari lesi kulit multinucleated giant cells .Paparan sinar ultra violet . Geografika.Klinis : Gambaran khas Dendrit / Geografik Sensibilitas kornea menurun.Trauma Umumnya unilateral ( + 4 – 6% bilateral ) Bersifat kronis – residif Gambaran Infiltrat :  Superfisial : Pungtata. Filamentosa. Dendritika.Steroid opikal / sistemik . .PCR Terapi : .Demam .  Profunda : Disciformis ( diskus = cakram )  Infeksi yang berat : Meta Herpetika Keratitis filamentosa HSV Keratitis dendritik HSV Keratitis geografika HSV Keratitis disciformis HSV Diagnosis : .Onset menstruasi .

Debridement . trifluridine (toxic) . Pada kasus ini pasien mendapatkan terapi berupa levofloxacin eye drops 1 tetes/4jam dan Na Diclofenac serta vitamin C. ANALISA KASUS Pasien didiagnosis dengan oculi destra keratitis superfisialis et causa suspek bakteri dengan dasar anamnesis dan pemeriksaan fisik sebagai berikut : Pada anamnesis penderita mengeluh pedih dan merah sejak 1 minggu yang lalu diikuti oleh pembesaran kelopak mata atas kanan dan kiri. Trigeminus )  Gambaran klinis : vesikel daerah palpebra sampai dahi & hidung disertai rasa nyeri hebat . Pasien mempunyai riwayat pemakaian lensa kontak . Pasien juga mengeluh bila melihat cahaya akan terasa silau serta penurunan visus.vidarabine. Topikal : acyclovir. Oral : acyclovir 5 x 400 mg . valacyclovir b. Pada konjungtiva didapatkan injeksi silier (+).  Waspada bila lesi sampai ujung hidung karena terdapat N. Herpes Zoster Oftalmikus  Infeksi virus Herpes Zoster pada daerah dermatom Nervus Oftalmikus ( cabang pertama N. Lalu seminggu kemudian pasien membeli obat cendo xitrol di apotek tetapi tidak ada perbaikan. defek epitel (+). Pada kornea didapatkan edema (+). . Tujuan pemberian antibiotik ini . fluorescein test (+). infiltrat (+) superfisial bentuk pungtata di pemeriksaan slit lamp. XIII. Pada status oftamologik mata kanan didapatkan visus 6/30 kanan dan kiri. . Nasosiliaris yang dapat menyebabkan komplikasi uveitis anterior. idoxuridine (toxic). famcyclovir.

2. Vaughan D. 2015. Ed 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal: 373 5. 2009. Oftalmologi Umum. Paul R. Olver & cassidy. At a Glance Anatomi. Ilyas S.At Glance Oftalmologi. Jakarta : Erlangga . Arif M. DAFTAR PUSTAKA 1. Taylor A. Moffat David. Faiz Omar. 2011. Ilmu Penyakit Mata. 2015. 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Jakarta: Media Aesculapius FKUI. adalah diberikannya antibiotik empiris baik kepada gram (+) maupun gram (-) dan untuk mengurangi pedih pada mata pasien serta meningkatkan imunitas dan reepitelisasi kornea. Mansjoer. 2014. Kapita Selekta edisi-4 jilid-1. Jakarta : Erlangga 4. Ed17 ed.