Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

ilmu genetika, temuan dibidang genetika,

Hukum pemisahan Mendel dikenal sebagai Hukum Mendel I dan hukum pilihan bebas
Mendel dikenal sebagai Hukum Mendel II. Salah satu konsepsi J. G. Mendel yang banyak
mendapat perhatian dari para peneliti adalah Hukum Mendel II yaitu tentang hukum pilihan
bebas Mendel. Hukum pilihan bebas Mendel merupakan hukum yang menyatakan faktor-
faktor yang menentukan karakter-karakter berbeda diwariskan secara bebas satu sama lain. J.
G. Mendel melakukan percobaan persilangan yang dewasa ini dikenal sebagai persilangan
dihibrida pada tanaman ercis. Hasil dari percobaan ini adalah kejadian pilihan bebas Mendel
yang menyatakan bahwa faktor-faktor yang menentukan karakter-karakter berbeda
diwariskan secara bebas satu sama lain yang memperlihatkan rasio fenotip 9:3:3:1.

Alasan Penggunaan drosopliha, perlunya penelitian ,

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana fenotip F1 pada pesilangan D.melanogaster strain N♂ x ecl♀beserta
resiproknya dan persilangan e♂ x vg♀ beserta resiproknya?
2. Bagaimana fenotip F2 pada pesilangan D.melanogaster strain N♂ x ecl♀beserta
resiproknya dan persilangan e♂ x vg♀ beserta resiproknya?
3. Bagaimana rasio F1 dan F2 pesilangan D.melanogaster strain N♂ x ecl♀beserta
resiproknya dan persilangan e♂ x vg♀ beserta resiproknya?

C. Kegunaan penelitian

1. Untuk Peneliti/praktikkan

kecakapan dan pengalaman dalam melakukan penelitian. Memberikan informasi mengenai keturunan F1 dan F2 pada persilangan Drosophila melanogaster strain strain ♂N >< ♀bcl. dan ♀N ><♂evg b. dan kelembaban tempat biakan selama penelitian adalah sama. Kondisi medium yang digunakan selama penelitian adalah sama. Menambah keterampilan. dan ♀N ><♂evg 2. Faktor atau kondisi lingkungan eksternal.a. ♂N >< ♀ evg. Memperluas wawasan mengenai fenomena hukum Mendel II yang terjadi pada persilangan Drosophila melanogaster strain strain ♂N >< ♀bcl. ♂N >< ♀ evg. b. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Masalah 1. D. E. Umur Drosophila melanogaster pada setiap strain yang digunakan adalah sama. seperti suhu. ♀N >< ♂bcl. c. Asumsi Penelitian Dalam penelitian ini peneliti berasumsi bahwa: a. ♀N >< ♂bcl. Ruang lingkup dalam praktikkum ini adalah di dalam Laboratorium Genetika gedung O5 FMIPA Universitas Negeri Malang . Untuk Mahasiswa a.

4. dan ♀N ><♂evg 5. 6. 4. warna tubuh dan bentuk sayap. Hukum Mendel II yaitu perkawinan dihibrid. ♀N >< ♂bcl. Strain merupakan suatu kelompok intra spesifik yang memiliki hanya satu atau jumlah kecil ciri berbeda. Heterozigot adalah karakter yang dikontrol oleh dua gen (sepasang) tidak identik (berlainan) (Corebima. bcl. ♂N >< ♀ evg. merupakan perkawinan antar galur murni dengan dua sifat beda. F. 2003). 2. 8. Genotip menurut Ayala dalam Corebima (2003)nmerupakan keseluruhan jumlah informasi genetik yangt terkandung pada suatu makhluk dalam hubungannya dengan satu atau berbeda lokus gen yang sedang menjadi perhatian. warna tubuh dan sayap Drosophila melanogaster. ♂N >< ♀ evg. 3.2. 2003). . Fenotip menurut Ayala dalam Corebima (2003) merupakan karakter-karakter yang dapat diamati pada suatu individu (yang merupakan interaksi antara genotip dan lingkungan tempat hidup dan berkembang). Penelitian hanya mengamati fenotip F1 dan F2 pada persilangan strain strain ♂N >< ♀bcl. Homozigot adalah karakter yang dikontrol oleh dua gen (sepasang) identik (berlainan) (Corebima. Penelitian ini hanya membahas tentang persilangan dihibrid (Hukum Mendel II) antara mata. dan evg dari persilangan strain ♂N >< ♀bcl. ♀N >< ♂bcl. Dominan adalah suatu sifat yang dapat mengalahkan sifat yang lain (Corebima. Definis operasional 1. Strain Drosophila melanogaster yang digunakan dalam penelitian ini adalah strain N. dan ♀N ><♂evg yang diperoleh dari laboratorium Genetika jurusan Biologi FMIPA UM. Resesif adalah suatu sifat yang dikalahkan oleh sifat yang lain (Corebima. 3. Pengamatan fenotip hanya terbatas pada warna mata. biasanya secara genetik dalam keadaan homozigot untuk ciri-ciri tersebut atau gamet murni. 7. 2003). 5. 2003).

melanogaster strain e♂ x vg♀ beserta resiproknya BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. dimana kedua induk berperan sebagai pejantan dalam satu persilangan.melanogaster 1. Persilangan resiprok adalah persilangan antara dua induk. Hukum Mendel II D. tujuan penggunaan statistika deskriptif adalah untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya.9. Hukum Mendel I C. Biologi D. Disertai dengan grafik analisis sederhana. Hipotesis penelitian H1 : Tidak ada perbedaan rasio F2 9:3:3:1 antara frekuensi harapan dengan Hukum Mendel II pada persilangan D. Dan menurut Widi (2010) statistika deskriptif digunakan untuk menggambarkan ciri-ciri dasar dari data hasil penelitian. Sistematika B. statistik deskriptif secara sederhana menggambarkan apa yang ditunjukkan oleh data. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. . dengan memberikan rangkuman sederhana tentang sampel dan ukuran. Kerangka konseptual E.melanogaster strain N♂ x ecl♀ beserta resiproknya H2 : Tidak ada perbedaan rasio F2 9:3:3:1 antara frekuensi harapan dengan Hukum Mendel II pada persilangan D. Berdasarkan Sugiyono (2010). Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Penulisan sifat dominan digunakan simbol (+) sedangkan penulis sifat resesif yaitu tanpa symbol/symbol minus 10. karena data yang didapat merupakan jumlah fenotip yang muncul pada keturunan F2. Data yang diperoleh dianalisis dengan rekonstruksi kromosom kelamin dan diuji dengan Statistika Deskriptif. dan sebagai betina dalam persilangan yang lain.

Pengaduk f. dan vg Variabel terikat : Fenomena yang terjadi pada persilangan Drosophila melanogaster ♂N >< ♀ecl dan ♂e >< ♀vg beserta resiproknya E. dan vg f.B. Variabel Penelitian Variabel bebas : Strain N. yang dibiakkan di laboratorium Genetika gedung Biologi FMIPA. Timbangan n. Drosophilla melanogaster d. Botol selai p. Pisang rajamala g. Kain kasa c. ecl. c. Sedangkan sampelnya diambil secukupnya dari masing-masing stok strain N. Cutter t. Panci e. ecl. Yeast strain N. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Waktu : Tempat : Laboratorium Genetika (ruang Bio 310) jurusan Biologi FMIPA. Spidol j. e. Gunting. ecl dan vg. Selang ampul s. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini yaitu Drosophilla melanogaster strain N. Mikroskop stereo k. Karet 2. Gula merah e. Plastik transparan h. Kardus r. Universitas Negeri Malang C. Tape singkong . Kompor gas o. Kertas pupasi l. e. Instrumen Penelitian 1. Alat a. Blender b. Cotton bud d. Pisau q. dan vg. Lap i. ecl. Alcohol 70%. Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : a. e. Air b. kuas m. e. D. Spons/busa g.

Melakukan pengamatan fenotip pada strain N. Memanaskan gula merah hingga leleh seluruhnya 5. e. Memeberi label sesuai jenis persilangan. kemudian dipanaskan selama 45 menit sambil diaduk 6. dan vg. 200 gram tape singkong dan 100 gram gula merah (perbandingan 7:2:1) 3. Pembuatan Medium 1. Memberi label sesuai strain dan tanggal pemasukan 3. 2. Memasukkan beberapa pasang Drosophilla melanogaster strain N. Setelah ketiga bahan halus. tape singkong dan gula merah 2. Prosedur Kerja A. Memasukkan medium dalam botol selai (masih dalam keadaaan panas) dan menutupnya dengan spons 7.3. Menghaluskan bahan-bahan di atas dengan menggunakan blender kecuali gula merah 4. Menambahkan 3-5 butir yeast ke dalam botol setelah medium dingin 9. Bila telah terdapat pupa berwarna hitam. Persiapan Stok 1. Memasukkan kertas pupasi B. Melepas lalat jantan setelah 2 hari . Menimbang 700 gram pisang raja mala. Menyiapakan botol yang telah berisi medium sesuai dengan jumlah persilangan dan ulangannya 3. Menyiapkan pisang rajamala. Setiap jenis persilangan dilakukan dalam 6 kali ulangan 6. ecl. e. ulangan dan tanggal pelaksanaan 5. dan vg dalam botol-botol berisi mediumyang telah disediakan 2. masukkan pupa tersebut dalam selang ampul dan menunggunya hingga menetas C. Memasukkan sepasang lalat strain yang akan disilangkan dari selang ampul ke dalam botol yang berisi medium (usia lalat yang digunakan untuk persilangan lalat maksimal 3 hari) 4. Mendinginkan medium 8. ecl. Persiapan Persilangan ♂N >< ♀ecl dan ♂e >< ♀vg beserta resiproknya 1.

Memberi label dan tanggal pada masing-masing botol persilangan 4. Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan menghitung keturunan jantan dan betina hasil persilangan ♂N >< ♀ecl dan ♂e >< ♀ vg beserta resiproknya. Mengamati fenotip F2 yang muncul dan menghitung selama 7 hari 7. Jumlah F1 pada persilangan P1 Ulangan Botol Persilangan ♀N >< ♂ecl ♂N >< ♀e ><♂vg ♂e >< ♀ ♀ecl vg U1 A B C . Persilangan F2 1. pengumpulan data juga dilakukan dengan cara melihat fenotip yang muncul pada keturunan F1 dan F2 masing-masing persilangan. Mencatat hasil pengamatan dan memasukkan ke dalam tabel 4. Menyilangkan strain N yang muncul dari persilangan F1 ♂N >< ♀ecl beserta resiproknya dan ♂e >< ♀vg beserta resiproknya di dalam botol persilangan 3. Menunggu hingga muncul pupa. setelah muncul pupa berwarna hitam. Menyiapkan botol selai yang telah diisi medium (lengkap dengan yeast dan kertas pupasi) 2. Memindahkan individu ♀ ke medium baru setelah muncul larva pada botol persilangan (pemindahan dilakukan setiap muncul larva pada medium lama dan sampai individu ♀ mati) 6. 7. Melepas individu ♂ pada masing-masing persilangan setelah persilangan berumur 2 hari 5. Tabel. Beberapa pupa dimasukkan ke dalam selang ampul untuk persilangan generasi berikutnya 9. Penghitungan ini dilakukan selama 7 hari D. induk betina dipindahkan ke medium yang baru minimal sampai botol D 8. Penghitungan jumlah keturunan jantan dan betina ini dilakukan selama 7 hari. Mengamati fenotip yang muncul dan menghitung jumlah jantan dan betina yang menetas. Selain itu.

Jumlah F2: ♀N >< ♂ecl dan resiproknya Strain Sex Ulangan Jumla Total Rata- h rata 1 2 3 4 5 6 7 N ♂ ♀ B ♂ ♀ Cl ♂ ♀ Bcl ♂ ♀ Total Tabel. D A B U2 C D A U3 B C A U4 B C A U5 B C A U6 B C Tabel. Jumlah F2: ♀e >< ♂vg dan resiproknya Strain Sex Ulangan Jumla Total Rata- h rata 1 2 3 4 5 6 7 N ♂ ♀ E ♂ ♀ Vg ♂ .

Vg . N Tika diisi ciri ciri fenotip 2. ♀ Evg ♂ ♀ Total 5. Data 1. Fenotip obyek penelitian No Strain Gambar Keterangan 1. E 3. Teknik Analisis Data BAB IV DATA DAN ANALISIS DATA A.

♀ 0 ♂ 0. N Tika diisi ciri ciri fenotip 2. ♀ 16 B ♂ 7. ♀ 38 ♂ 12. ♀ 106 ♂ 10. ♀ 45 ♂ 10. ♀ 23 ♂ 17. ♀ 23 ♂ 17. ♀ 0 ♂ 0. ♀ 10 ♂ 0. ♀ 0 Total ♂40. ♀ 14 ♂ 16. ♀ 37 ♂ 39. Hasil Persilangan F2 a. ♀ 40 ♂ 34. cl 4. ♀ 45 ♂ 0. ♀ 0 ♂ 0. ♀ 71 ♂ 12. ♀ 0 Total ♂63. ♀ 0 ♂16. ♀ 16 ♂ 0. ♀ 23 ♂ 0. ♀9 A ♂ 56. ♀ 50 ♂88. Ecl 2. ♀ 14 ♂16. ♀ 9 B ♂ 17. Fenotip F2 persilangan D. ♀ 0 U2 C ♂ 0. E 3. Ecl 3. ♀ 29 ♂ 19. ♀ 13 ♂ 33. Hasil persilangan ♀N >< ♂ecl Strai Ulangan Jumlah Total Sex Jumlah n 1 2 strain ♂ 8 3 11 N 53 ♀ 35 7 42 ♂ 2 1 3 E 16 ♀ 10 3 13 ♂ 0 0 0 Cl 1 ♀ 0 1 1 Ecl ♂ 0 0 0 1 . ♀ 16 4. ♀ 0 U1 C ♂ 0. ♀ 0 ♂15. ♀ 0 ♂ 0. 4.melanogaster strain N♂ x ecl♀ beserta resiproknya No Strain Gambar Keterangan 1. ♀ 69 ♂68. Hasil persilangan F1 Ulangan Botol Persilangan ♀N >< ♂ecl ♂N >< ♀e ><♂vg ♂e >< ♀ vg ♀ecl A ♂ 23.

44 % c.4 % b.55 % E : 24/135 x 100 % = 17.64 % E : 16/71 x 100 % =22.4 % Ecl : 1/71 x 100 % = 1.22 % Ecl : 6/135 x 100% = 4. ♀ 1 0 1 Total 71 N : 53/71 x 100 % = 74.77 % Cl : 3/135 x 100% = 2. Tabel persilangan ♂N >< ♀ecl Strai Ulangan Jumlah Total Sex Jumlah n 1 2 strain ♂ 20 19 39 N 102 ♀ 32 31 63 ♂ 6 2 8 E 24 ♀ 11 5 16 ♂ 1 1 2 Cl 3 ♀ 0 1 1 ♂ 2 0 2 Ecl 6 ♀ 1 3 4 Total 135 N : 102/135 x 100% = 75.53 % Cl : 1/71 x 100 % = 1. Tabel persilangan ♂e >< ♀vg Strai Ulangan Jumlah Total Sex Jumlah n 1 2 strain ♂ 0 0 0 N 0 ♀ 0 0 0 ♂ 0 0 0 E 0 ♀ 0 0 0 . Tabel persilangan ♀e >< ♂vg Strai Ulangan Jumlah Total Sex Jumlah n 1 2 strain ♂ 0 0 0 N 0 ♀ 0 0 0 ♂ 0 0 0 B 0 ♀ 0 0 0 ♂ 0 0 0 Cl 0 ♀ 0 0 0 ♂ 0 0 0 Bcl 0 ♀ 0 0 0 d.

Rekontruksi kromosom pada persilangan ♂ N >< ♀ ecl dan resiproknya P1 : ♂N >< ♀ ecl Genotip1 : e+ cl+ >< e.cl- .cl. e+ cl + e.cl - Gamet : e+ cl+ .cl- F1 : ♂ e+ cl+ ♀ e. e. ♂ 0 0 0 vg 0 ♀ 0 0 0 Evg ♂ 0 0 0 0 ♀ 0 0 0 e.cl. Rekontrusi Kromosom a.cl- P2 : F1 >< F1 genotype : e+ cl + >< e+ cl + e.cl - e+ cl+ >< e . e. Analisis Data 1.cl- Rasio F1 : e+ cl + (100% Normal Heterozigot) e.

e+ e.cl + cl .cl.cl + cl - e.cl- e+ cl- e.cl .cl.cl .cl + cl .cl+ e+ e. e+ e.cl + cl + e.cl + cl . e+ e. e+ e.cl .cl + cl - e+ cl. e. e+ e.cl.cl + cl .e. e+ e+ cl + cl .gamet : e+ cl + e.cl . e+ e+ cl . e+ cl. e+ e.e. Rekontruksi kromosom pada persilangan ♂ e >< ♀ vg dan resiproknya P1 : ♂e >< ♀ vg Genotip1 : e vg+ >< e+ vg e vg+ >< e + vg Gamet : e+ vg .cl + cl + Rasio F2 : N : e : cl : ecl = 9: 3: 3:1 b.cl .cl . e+ e+ cl + cl .e. e.cl+ e+ cl + e+ e+ cl + cl + e+ e. e vg+ F1 : ♂ e+ vg ♀ e vg+ e+ vg + e vg Rasio F1 : e+ vg + (100% Normal Heterozigot) e vg .cl + cl + e. e+ e. e.cl+ F2 : e+ cl + e.

P2 : F1 >< F1 genotype : e+ vg + >< e+ vg + e vg e vg gamet : e+ vg + e vg e+ vg e vg+ F2 : e+ vg + e vg e+ vg e vg+ e+ vg + e+ e+ vg + vg + e+ e vg + vg e+ e+ vg + vg e+ e vg + vg + e vg e+ e vg + vg e e vg vg e+ e vg vg e+ e vg + vg e+ vg e+ e+ vg + vg e+ e vg vg e+ e+ vg vg e+ e vg + vg e vg+ e+ e vg + vg + e e vg + vg e+ e vg + vg e e vg + vg + Rasio F2 : N (Normal): e : vg : evg = 9: 3: 3:1 .

rasio gimana. fenomenanya apa. e. mata merah. Sehingga sifat yang sebelumnya tidak muncul pada hasil persilangan parental F1 muncul pada persilangan parental F2. BAB V PEMBAHASAN A. C. Menurut Corebima (2003) hasil penelitian J. 2003: 49). padahal mendel fenotip anakan benar.melanogaster strain N♂ x ecl♀ beserta resiproknya dan e♂ x vg♀ beserta resiproknya Kenapa kok rasio nya beda. alasan kenapa. faset mata halus. bahwa strain N heterozigot hasil dari F1 yang disilangkan kembali dengan sesamanya (dari hasil persilangan F1 yang sama) akan memunculkan sifat dari masing-masing alel-alel resesif yang sebelumnya tertutupi oleh alel dominan .melanogaster strain N♂ x ecl♀ beserta resiproknya dan e♂ x vg♀ beserta resiproknya Berdasarkan analisis data menunjukan hasil fenotip F2 pada persilangan D. Fenotip F1 persilangan D. Begitu pula dengan persilangan strain e♂ x vg♀ beserta resiproknya didapatkan fenotip F1 N heterozigot. Fenomena tersebut sesuai . dan sayap menutupi keseluruhan tubuh. B.G. Sesuai pendapat Campbell (2008) yang menyatakan bahwa jika kedua alel berbeda maka salah satu alel adalah alel dominan diekspresikan sepenuhnya. dan ecl. Ciri Fenotip anakan 4 tipe . evg kok gadapet data .melanogaster strain N♂ x ecl♀ beserta resiproknya dan e♂ x vg♀ beserta resiproknya Berdasarkan analisis data di didapatkan hasil Fenotip F1 pada persilangan D. Fenotip F2 persilangan D. Hal ini dikarenakan mutan pada kromosom yang sama dapat terjadi pemutusan dan penyambungan kromatid (Corebima.melanogaster strain N♂ x ecl♀ beserta resiproknya memiliki 4 tipe fenotip antara lain N. cl. sedangkan yang tidak tampak adalah ciri resesif. sementara alel satunya merupakan alel resesif yang tidak mempunyai efek jelas pada penampakan organisme. 2003).Mendel menunjukan karakter heterozigot merupakan karakter yang dikontrol oleh dua gen sepasang yang berlainan menghasilkan ciri yang tampak pada F1 adalah ciri dominan. Rasio F2 persilangan D. hal tersebut dikenal dengan hukum pemilihan bebas (Henuhili. Hal ini disebabkan sifat dominan yang dimiliki suatu faktor menutupi sifat resesif. Data fenotip F1 dari kedua jenis persilangan beserta resiproknya memiliki ciri dominan N antara lain memiliki tubuh kuning kecoklatan.melanogaster strain N♂ x ecl♀ beserta resiproknya adalan Normal heterozigot 100%.

Restu Kartiko. Bandung: PT.L.Genetics 2/ed scaum’s outline series. 2013. “faktor-faktor yang menentukan karakter- karakter berbeda diwariskan secara bebas satu sama lain” dengan hasil perbandingan persilangan F2 9: 3: 3: 1. Widi. 2010.G. Genetika. Biologi Edisi Kelima Jilid 1. Victoria dan Surasih. diakses tanggal 13 April 2016.lipi. Surabaya: Airlangga University Press. R. T. Storer. Henuhili. New Delhi: Mc. 1992. Graw-Hall Publishing Compang LTD Suryo. 1983.1. 2005. (online). 1991. Jurnal Sosio Ekonomika. (Corebima. Genetika (Common Textbook). 3. Bandung: Alfabeta.Cet.INC. Asas Metodologi Penelitian. tiap faktor berdiri sendiri. 2008. . 2010. Biology Fith Edition. California: McGRAW- HILL. 2003.L dan Usinger. Stansfield. Respon Petani terhadap Pemanfaatan Lahan Pertanian Pasca Tsunami di Kabupaten Aceh Besar. (http://jurnal. 2003). Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Tenaga Guru. William D. Diterjemahkan oleh Rahayu Lestari.dengan teori Mendel II yang berbunyi.D. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Diterjemahkan oleh siti Sutarmi. Jakarta: Dekdikbud.go. 14(2): 193-206. Biologi (Edisi Kelima Jilid 1). 2008. Yogyakarta: Graha Ilmu. 2003).pdii. Hal ini menunjukkan bahwa adanya peristiwa faktor-faktor yang memisah dan melakukan pilihan bebas selama meiosis tepatnya pada tahap metaphase (Corebima.pdf).1975. Azhar. Campbell & Reece. Jakarta: Erlangga Corebima. Seperti yang dikemukakan oleh J. Mendel. A. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Gelora Aksara Pratama Muslim. General Zoologi.id/admin/jurnal/14208193206_0853-1293. Genetika Mendel cet. Daftar Rujukan Sugiyono. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta Kimball.