Anda di halaman 1dari 17

DISHARMONI PRODUK HUKUM

Slamet Haryadi
Dosen STIH Muhammadiyah Kotabumi

ABSTRAK

Reformasi yang diharapkan membawa perubahan pada kehidupan
bangsa, telah luput membingkai pancasila sebagai kepribadian sekaligus ideologi
kehidupan bangsa yang harus dijelmakan ke dalam batang tubuh konstitusi.
Tatanan sistem demokrasi yang dimunculkan dalam “reformasi total” telah
kebablasan ke dalam demokrasi barat yang individual dan kapitalistik. Kerancuan
konstitusi mengakibatkan lemahnya penegakan hokum, dikarenakan tidak
adanya konsistensi dalam penyusunan UU baik dalam teks maupun isinya.
Hukum dalam konsep Pembangunan dan perubahan masyarakat adalah
mengatur dan memelihara agar terjadi keselarasan,sehingga kedupan masyarakat
seimbang, teratur dan bahagia, tata tentrem karta raharja (harmonis).
Disharmoni hukum terjadi jika terdapat ketidakselarasan antara satu norma
hukum dengan norma hukum yang lain. Disharmoni peraturan perundang-
undangan tersebut tidak dapat dipisahkan dari problematika dasar konstitusi
Indonesia. Artinya, pemahaman terhadap persoalan dasar itu harus terlebih dulu
diletakkan pada landasannya.

Kata Kunci: Disharmoni, Produk Hukum

PENDAHULUAN

a. Latar Belakang Masalah

“Konsolidasi demokrasi” seperti dikemukakan Arief Hidayat, 1 merupakan
istilah yang tepat untuk keluar dari gambaran situasi transisi reformasi saat ini
yang mengalami anomali-anomali kearah yang tidak diinginkan dari harapan awal

1 Baca Kompas, Elit Kita Yang Bersalah, 14 juli 2012.

1

Reformasi yang diagungkan telah luput membingkai pancasila sebagai kepribadian sekaligus ideologi kehidupan bangsa yang harus dijelmakan dalam batang tubuh konstitusi.hal. Ilmu Perundang-Undangan (Yogyakarta:Kanisius. 3 NU Online. 2 .31 Januaari 2004. dan mengesampingkan aspek-aspek keadilan.reformasi. Undang-Undang yang dibuat hanya untuk kepentingan politik sesaat saja.1998). Kerancuan Konstitusi karena Inkonsistensi. Amandemen konstitusi sebagai produk reformasi tidak mencerminkan politik hukum nasional.41. Lebih dari itu "Kerancuan konstitusi diakibatkan karena 2 Lihat Maria Farida Indrati Suprapto. maka amandemen demi amandemen konstitusi dilakukan untuk yang penting perubahan dan pembaharuan.2 Kerancuan konstitusi ini oleh Marsilam Simanjuntak 3 mengakibatkan lemahnya penegakan hukum di Indonesia dikarenakan tidak adanya konsistensi dalam penyusunan UU baik dalam teks maupun isinya. Konstitusi sebagai tatanan baku kehidupan berbangsa dan bernegara tampaknya tidak mampu merajut keadaan yang harus ditinggalkan dari warisan tatanan orde baru ke tatanan sistem politik demokratis yang sedang dituju. diakses tanggal 16 Juli 2012. Pancasila sebagai cita hukum rakyat Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat. Tatanan sistem demokrasi yang dimunculkan dalam “reformasi total” telah kebablasan ke dalam demokrasi barat yang individual dan kapitalistik. alih-alih kebencian terhadap rezim orde baru yang meninggalkan kemerosotan bangsa. berbangsa dan bernegara secara positif merupakan bintang pemandu yang memberikan pedoman dan bimbingan dalam semua kegiatan memberi isi kepapda tiap-tiap peraturan perundang-undangan dan secara negative merupakan kerangka yang membatasi ruang gerak isi peraturan perundang-undangan tersebut.

21. Keadaan ini dapat dilihat dari produk hukum (peraturan perundang- undangan) yang dihasilkan dari beberapa pasal yang telah diamandemen. undang-undang yang diuji oleh Mahkamah Konstitusi ini adalah Undang-undang No. Artinya. dalam Undang-Undang Komisi Yudisial (KY). Pasal 24B ayat (1) dan Pasal 25 UUD 1945 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. 23 ayat (2). komprehensif dalam menafsirkan Undang-Undang.amandemen yang dilakukan berulang kali. 22 ayat (5). 4 Undang-undang tersebut berbunyi. dan tidak adanya pemahaman yang utuh.Cit. 3 .14 tahun 1985. Padahal.5 Dengan kata lain terjadi disharmoni produk hukum. yang bisa diuji adalah undang- undang yang diundangkan setelah 19 Oktober 1999 (penjelasan Pasal 50). Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial terhadap lima pasal yang mengatur fungsi kewenangan berkaitan dengan pengawasan hakim.". 5 Op. "Undang-undang yang dapat dimohonkan untuk diuji adalah undang-undang yang diundangkan setelah perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945". Pasal-pasal yang dimaksud adalah Pasal 20. Disharmoni produk hukum (peraturan perundang-undangan) dapat terjadi antara peraturan perundang-undangan yang satu dengan lainnya. (3) dan (5) Undang-Undang Komisi Yudisial berkaitan dengan pengawasan 4 Sekarang UU nomor 24 tahun 2003 telah mengalami perubahan dengan berlakunya UU Nomor 8 tahun 2011 tentang Perubahan atas UU Nomor 24 tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. baik secara vertikal maupun horizontal. seperti pasal 50 UU no 24/2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Bertentangan dengan Pasal 24 ayat (1). Contoh kasus disharmonisasi peraturan perundang-undangan secara vertikal misalnya. 22 ayat (1) huruf e.

3-5 November 2010”. dan Undang-Undang Badan Pemeriksa Keuangan). Sebagaimana dikemukakan Mualimin Abdi. sebab tidak secara rinci mengatur tentang prosedur pengawasan serta tidak jelas dan tidak tegas menentukan siapa subyek yang mengawasi. Undang-Undang Komisi Yudisial dan Undang-Undang Mahkamah Konstitusi guna mengisi kekosongan hukum akibat dihilangkannya fungsi pengawasan KY. Direktur Litigasi Peraturan Perundang-undangan Dirjen Perundang-undangan. Mahkamah Konstitusi Juga merekomendasikan agar DPR dan Pemerintah untuk melakukan perbaikan yang bersifat integral dengan mengadakan harmonisasi atas Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman. 6 Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa Undang-Undang KY yang mengatur fungsi pengawasan terbukti menimbulkan ketidakpastian hukum. Pemantapan Peraturan Perundang-undangan dalam perspeketif judicial review. apa obyek yang diawasi. Oleh karena itu tulisan ini akan mengkaji problema disharmoni tersebut 6 Mualimin Abdi.hakim. Undang- Undang Pemeriksaan Keuangan Negara. Adapun contoh kasus disharmonisasi peraturan perundang-undangan secara horizontal. Makalah disampaikan dalam acara ” Forum Koordinasi Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan” Hotel Mirah Bogor . instrumen apa yang digunakan serta bagaimana proses pengawasan itu dilaksanakan. yaitu antara Undang-Undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan dengan undang-undang yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan negara (Undang-Undang Keuangan Negara. Sesungguhnya masih banyak peraturan perundang-undangan kita yang mengalami disharmoni dan inkonsistensi baik secara vertical maupun horizontal. Undang-Undang Mahkamah Agung. 4 .

seperti orchestra yang memainkan instrumen nada.7 Pembangunan dan perubahan masyarakat adalah sesuatu yang harus diatur dipelihara dan dilindungi/diamankan. Permasalahan Disharmonisasi terjadi pada banyak peraturan perundang-undangan di Indonesia oleh karena itu patut dipertanyakan. maka hukum merupakan alat untuk memelihara ketertiban dalam masyarakat. 7 Muchtar Kusumaatmadja.13.hal14. disharmonisasi dan problema disharmonisasi. Konsep Hukum Dalam Pembangunan (Bandung:PPSWN- Alumni. harmonisasi sebagai proses penyelarasan tidak lagi menjadi otoritas seni music. 5 . a. tata tentrem karta raharja (harmonis).b. tetapi merambah ke dalam bidang hukum. Hukum dalam konsep pembaharuan masyarakat. 8 Ibid. PEMBAHASAN Untuk menjawab permasalahan mengapa terjadi disharmonisasi dan atau inkonsistensi peraturan perundang-undangan. teratur dan bahagia. perpaduan. Penulis mengkajinya dengan terlebih dahulu menguraikan mengenai konsepsi harmonisasi.2002).8 agar terjadi keselarasan dalam masyarakat sehingga kedupan masyarakat seimbang. kerjasama yang selaras menghasilkan nada indah dan harmoni.hal. mengapa terjadi disharmonisasi dan inkonsistensi dalam peraturan perundang-undangan. Konsepsi Harmonisasi Konsep “harmonisasi” lazim dipakai dalam bidang seni musik.

menegaskan pula pentingnya harmonisasi hukum ini. Ketua Baleg DPR RI. b) Peraturan perundang-undangan dapat diuji. baik secara materiil maupun formil.10 Secara garis besar pembentukan peraturan perundang-undangan mencakup aktivitas proses dan aktivitas procedural yang saling berhubungan dan merupakan suatu kesatuan rangkaian proses yang berkesinambungan. dengan menyatakan bahwa suatu sistem hukum terus mengalami perubahan (in the making). dan c) Pembentukan peraturan perundang-undangan harus dilakukan secara taat asas demi kepastian hukum. Menuju harmonisasi system hokum sebagai Pilar Pengelolaan Wilayah Pesisir Indonesia. pada tanggal 04 Nopember 2011. “Peningkatan Sinergitas Pengharmonisasian. khususnya suatu Rancangan Undang- Undang dilakukan sebagai upaya untuk menyelaraskan.(KAw2005 10 Ignatius Mulyono. dan Pemantapan Konsepsi Dalam Rangka Mewujudkan Proses Pembentukan peraturan Perundang-undangan Yang Cepar dan Berkualitas” Makalah disampaikan dalam acara Forum Koordinasi Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan di Hotel Mirah Jakarta. menyesuaikan.”9 Pengharmonisasian dalam hukum. 6 . Butir keempat kesimpulan dari pertemuan BPHN tersebut selanjutnya berbunyi. memantapkan. Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Januari 1995. asas-asas. sebagaimana disepakati sebelumnya. Pembulatan. dan metode hukum yang pasti. dan membulatkan konsepsi suatu RUU yang secara prinsipil didasarkan pada pertimbangan bahwa: a) Peraturan perundang-undangan adalah bagian integral dari sistem hukum. norma. “Sistem hukum nasional Indonesia juga merupakan hasil proses harmonisasi antara sejumlah unsur dan faktor yang diolah berdasarkan dan memegang teguh paradigma. Kegiatan pertama meliputi tahapan perencanaan dan persiapan pelaksanaan yang 9 Bapenas.

Kegiatan kedua meliputi tahapan prosedur meliputi penyusunan prolegnas. Pembentukan Peraturan Daerah. bahkan dengan peraturan yang lebih rendah dan hal-hal lain selain peraturan perundang-undangan (misalnya dengan asas-asas.2011). dan membulatkan konsepsi suatu rancangan peraturan perundang-undangan dengan peraturan perundang-undangan lain. Metode Perancangan dan Teknik Penyususnan (Yogyakarta:Pruden Media-UPPM STIHM. menyesuaikan. sejak dari penyusunan RUU sampai dengan pembahasan RUU dilakukan sebagai upaya untuk menyelaraskan.10. sebenarnya bukanlah merupakan suatu konsep baru.hal. namun 11 Slamet Haryadi. nilai-nilai dan hukum bagi terciptanya kehidupan masyarakat yang teratur dan sejahtera Pengharmonisasian. Kebijakan mengenai harmonisasi peraturan perundang-undangan sebenarnya telah diatur sejak dikeluarkannya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 15 Tahun 1970 tentang Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang dan Rancangan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia.11 Dengan kata lain pembentukan undang-undang yang demokratis dan berkualitas. 7 . dan Pemantapan Konsepsi Peraturan Perundang.undangan di Indonesia. yaitu telah ada sebelum dilakukannya perubahan/amandemen terhadap Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. memantapkan. baik yang lebih yang lebih tinggi (secara vertikal) maupun sederajat (secara horizontal). melainkan sudah berjalan atau dilaksanakan cukup lama oleh pembuat kebijakan (penyusun peraturan perundang-undangan).berkaitan dengan penyiapan dan perumusan materi. dan pemantapan konsepsi. Pembulatan. pembulatan. membutuhkan pengharmonisasian. pembahasan dan harmonisasi rancangan perundang-undangan dan pembahasan rancangan undang-undang.

Pengaturan terkait pengharmonisasian. pembulatan dan pemantapan konsepsi semua rancangan peraturan perundang-undangan. baik Raperda Provinsi maupun Kabupaten/Kota. Perpres. sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004. Dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 mengatur pengharmonisasian. baik yang berasal dari Pemerintah maupun yang berasal dari DPR. Selain itu diatur pula pengharmonisasian. pembulatan dan pemantapan konsepsi RUU. pembulatan dan pemantaplan konsepsi peraturan perundang-undangan. pembulatan dan pemantapan konsepsi peraturan perundang-undangan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan lebih lengkap pengaturannya dibandingkan kebijakan-kebijakan sebelumnya. sampai dengan Raperda. yang merupan pengganti Inpres Nomor 15/1970 tersebut. dari RUU. Pengaturan lebih tegas terkait harmonisasi kemudian diatur berdasarkan Kepres Nomor 188 Tahun 1998 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang. Oleh karena Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 dalam tataran praktik empririkal masih banyak mengandung kelemahan. Adapun pengaturan secara terperinci pengharmonisasian. khususnya Rancangan Undang-Undang 8 .pengaturannya tidak secara tegas dan rinci. RPP. maka DPR bersama Pemerintah melakukan penyempurnaan melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Kebijakan pengharmonisasian berdasarkan Kepres Nomor 188 Tahun 1998 kemudian diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Hal ini sejalan dengan amanat dari Pasal 22A UUD 19453.

Pasal 60 menegaskan bahwa salah satu tugas Badan Legislasi DPR RI adalah melakukan pengharmonisasian. Tap MPR yang mendelegasikan atau berkaitan langsung dengan RUU dimaksud (apabila ada). pembulatan. pembulatan. pembulatan dan pemantapan konsepsi RUU (RUU yang berasal dari DPR) Sebagaimana diatur dalam Pasal 46 ayat (2) UU Nomor 12 Tahun 2011 bahwa pengharmonisasian. dan pemantapan konsepsi aspek yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut: a) Aspek Dasar Hukum (Yuridis-Konstitusional dan Yuridis-Normatif). b) Aspek Yuridis-Formil Secara formil RUU yang diharmonisasi harus sesuai dengan ketentuan Pasal 20 UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan telah memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam Pasal 99 ayat (2) dan 9 . yaitu: Dasar konstitusionalitas pembentukan RUU yang akan diharmonisasi. Dalam melakukan kajian pengharmonisasian. komisi. pembulatan. Dalam Peraturan DPR Nomor 1 Tahun 2009 tentang Tata Tertib DPR RI (TATIB DPR). dan pemantapan konsepsi Rancangan Undang-Undang yang berasal dari DPR dikoordinasikan oleh alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi. dan pematapan konsepsi rancangan undang-undang yang diajukan anggota. atau DPD sebelum rancangan undang-undang tersebut disampaikan DPR.berdasarkan UU No. Undang-Undang yang berlaku yang mengatribusikan/memerintahkan atau yang memiliki korelasi positif dengan RUU yang diharmonisasi. dalam pembahasan ini pengharmonisasian. gabungan komisi. 12 Tahun 2001.

Peraturan Perundang- Undangan yang terkait. kajian pengharmonisasian. pembulatan dan pemantapan konsepsi RUU secara garis besar dibagi ke dalam 2 (dua) bagian. dan ii. 27 Tahun 2009 dan Pasal 99 ayat (6) TATIB DPR. Aspek Yuridis-Materiil Secara materil. redaksional dan sistematika/struktur). b. namun pada kenyataannya 10 . dan Tata Tertib DPR RI. serta untuk dilakukan pembulatan dan pemantapan konsepsi). hal-hal yang bersifat teknis (aspek teknis legal drafting berdasarkan Undang-Undang No.Disharmonisasi Meskipun secara yuridis. pengharmonisasian. dan ketika diajukan untuk diharmonisasi sudah dilengkapi dengan draft RUU dan Naskah Akademik. hal ini sesuai dengan UU No. hal-hal yang bersifat substantif (hal ini berkaitan dengan harmonisasi substansi RUU dengan UUD 1945. yaitu dari Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011. Pasal 109 ayat (1) Tata Tertib DPR RI terkait dengan hak inisiatif Dewan dalam pengajuan suatu RUU. pembulatan dan pemantapan konsepsi RUU telah diatur dalam berbagai peraturan perundang- undangan. c). 12 Tahun 2011 dan asas-asas teknik pembentukan peraturan perundang-undangan. dan harmoinisasi antar pasal atau bagian atau materi muatan dalam RUU. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009. Selain itu. yaitu: i. RUU yang akan diharmomisasi sudah masuk dalam list atau daftar Prolegnas Prioritas Tahun berjalan. 12 Tahun 2011 Jo UU No.

Terjadi inkonsistensi secara vertikal dari segi format peraturan yakni peraturan yang hierarkinya lebih rendah bertentangan dengan hierarki peraturan yang lebih tinggi. Menurut Sidharta pada saat melakukan harmonisasi. b. misalnya antara peraturan pemerintah dengan undang-undang. Terjadi inkonsistensi secara horisontal dari segi substansi dalam satu peraturan yang sama. ibid hal 14 11 . e. dan diatas 12 Sidharta. Terjadi inkonsistensi secara vertikal dari segi waktu.12 Disharmoni biasanya terjadi dalam tataran normatif. dapat terjadi beberapa kemungkinan yang menyebabkan terjadinya disharmonisasi dalam sistem hukum yaitu: a.dalam pelaksanaan pengharmonisasian masih sering ditemukan berbagai permasalahan. d. c. Terjadi inkonsistensi secara horisontal dari segi substansi peraturan. yakni beberapa peraturan yang secara hierarkis sejajar tetapi substansi peraturan yang satu lebih umum dibandingkan substansi peraturan lainnya. misalnya ketentuan pasal 1 bertentangan dengan ketentuan pasal 15 dari satu undang-undang yang sama. norma atau kaidah adalah peraturan yang memiliki rumusan yang jelas untuk dijadikan pedoman perilaku. Terdapat peraturan yang lebih abstrak dari norma yaitu asas. yakni beberapa peraturan yang secara hierarkis sejajar tetapi yang satu lebih dulu berlaku daripada yang lain. Terjadi inkonsistensi antara sumber formal hukum yang berbeda. misalnya antara undang-undang dan putusan hakim atau antara undang-undang dan kebiasaan.

Selain itu jumlah peraturan yang makin besar menyebabkan kesulitan untuk mengetahui atau mengenal semua peraturan tersebut. Menurut pengamatan L. ibid. Jika disusun hierarkis . Dengan demikian pula ketentuan yang mengatakan bahwa semuaorang dianggap mengetahui semua undang-undang yang berlaku niscaya tidak efektif. Kita kenal dengan juklak yang malahan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang akan dilaksanakan. akan muncul beberapa asas sebagai instrumen penyelesaiannya yaitu14: Disharmoni hukum terjadi jika terdapat ketidakselarasan antara satu norma hukum dengan norma hukum yang lain. Atas dasar hal itu maka jika terjadi disharmoni antara norma-norma hukum.13 Apabila kelima inkonsistensi diatas susun secara tabel. Pertentangan antara undang-undang dengan peraturan pelaksanaan 3. Perbedaan antara peraturan perundang-undangan dengan yuriprudensi dan surat edaran mahkamah agung. Ia menyinggung 8 (delapan) faktor. 13 Sidharta. 12 . ada sejumlah penyebab timbulnya disharmoni itu. solusi penyelesaiannya adalah dengan menerapkan asas-asas hukum. 2. 14 Sidharta. maka asas sebenarnya lebih tinggi kedudukannya dari norma.M. Lapian Gandhi terhadap praktik hukum di Indonesia. 4. Perbedaan antara berbagai undang-undang atau peraturan perundangundangan.asas terdapat aturan yang paling abstrak yaitu nilai. Perbedaan antara peraturan perundang-undangan dengan kebijkan instansi pemerintah. ibid. yakni: 1.

sebelum analisis ke arah harmonisasi peraturan perundang-undangan itu sendiri. c. ketika pembahasan dalam rapat panja menyentuh 13 . pemahaman terhadap persoalan dasar itu harus terlebih dulu diletakkan pada landasannya. dimana anggota Panja maupun tim pendukung (tim ahli dan sekretariat) kurang mendalami materi secara komprehensif. 5. Disharmoni peraturan perundang-undangan tersebut tidak dapat dipisahkan dari problematika dasar konstitusi Indonesia. Hal ini tentunya sangat berimplikasi terhadap pendapat atau opini yang diberikan dalam pelaksanaan Panja. Kebijakan-kebijakan instansi pemerintah pusat yang saling bertentangan. bagian maupun materi muatan yang dilakukan oleh Pengusul dan baru diajukan oleh pengusul ke Badan Legislasi pada saat Rapat Panja dilaksanakan. Benturan antara wewenang instansi-instansi pemerintah karena pembagian wewenang yang tidak sistematis dan jelas. Adanya disparitas atau diferensiasi pemahaman antara Pengusul dengan Badan Legislasi. dimana seringkali pengusul baru mengajukan RUU yang akan diharmonisasi pada saat-saat terakhir sebelum Rapat Panja dilaksanakan. Perbedaan antara kebijakan pemerintah pusat dan daerah. atau draft RUU yang telah diajukan ke Badan Legislasi mengalami perubahan pasal-pasal. Perbedaan antara ketentuan hukum dengan rumusan pengertian tertentu. 7. Problema Disharmonisasi Dari aspek structural problema disharmoni dalam praktek Baleg. 8. Artinya. dapat disebabkan oleh kurangnya koordinasi antara Badan Legislasi dengan pengusul yang mengajukan RUU. 6.

ternyata dalam berbagai undang-undang yang ada pun berbeda- berbeda. pembulatan dan pemantapan konsepsi dari aspek substansi sepanjang RUU yang diharmonisasi dipandang/dianggap Baleg belum harmonis atau terdapat ketidaksinkronan dengan substansi yang ada dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ini sebagai salah satu contoh bahwa pengharmonisasian. Badan Legislasi melakukan harmonisasi suatu RUU dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Seringkali pengusul RUU berpendapat bahwa tugas Badan Legsilasi dalam pengharmonisasian RUU hanyalah yang berkaitan dengan aspek teknis legal drafting (pembentukan peraturan perundang- undangan). susbtansi terkait pengaturan usia dewasa.pada aspek substansi. juga melakukan harmonisasi. 14 . sering ditemukan masalah berupa adanya pertentangan/disharmonisasi antara suatu Undang-Undang dengan Undang-Undang lainnya. Contohnya saja. yaitu usia dewasa menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata berbeda dengan usia dewasa berdasarkan KUHP maupun dengan Undang- Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974. pembulatan dan pemantapan konsepsi merupakan suatu pekerjaan yang cukup kompleks dan memerlukan pemahaman dan referensi yang cukup komprehensif. sedangkan Badan Legislasi sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku mempunyai tugas selain untuk mengharmomisasi secara teknis legal drafting berdasarkan UU Nomor 12 Tahun 2011. baik secara yuridis konstitusional maupun yuridis formal dan yuridis materiil. dan berbeda pula dengan usia dewasa yang diterapkan dalam Undang-Undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.

dan pemantapan konsepsi yang ada di DPR saat ini memang sudah lebih baik. pembulatan dan pemantapan konsepsi. secara yuridis-normatif. menyesuaikan. pembulatan. supporting system dalam melakukan pengharmonisasian. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011. DPR RI (Badan Legislasi). memantapkan dan membulatkan konsepsi rancangan peraturan perundang-undangan dengan peraturan perundang-undangan lain yang berlaku. telah memberi penegasan dibandingkan undang-undang sebelumnya mengenai pengharmonisasian. Rancangan Peraturan Presiden. baik secara vertikal maupun horizontal. namun masih jauh memadai apabila dibandingkan dengan beban dan tugas Badan Legislasi DPR RI. pembulatan dan pemantapan konsepsi menjadi lebih tegas dan terperinci. Untuk itu. karena mengatur pengharmonisasian. dan Raperda). sistem dukungan/supporting system juga perlu ditingkatkan. PENUTUP Pengharmonisasian. memiliki tugas penting mencegah inkonsistensi dan disharmonisasi dengan melakukan 15 . tidak bertentangan atau overlapping. UU Nomor 12 Tahun 2011 juga mengatur pengharmonisasian rancangan peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang (RPP. pembulatan dan pemantapan konsepsi sangat penting untuk dilakukan terhadap peraturan perundang-undangan. Selain itu. sehingga tersusun secara sistematis. dengan tujuan untuk mnghilangkan inkonsistensi dan disharmonisasi produk hokum melalui penyelarasan. baik yang berasal dari Pemerintah maupun DPR.

Jakarta:Bapenas. 3-5 November 2010”. Pembulatan. UU Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang- Undangan 16 .1998. Maria Farida Indrati Suprapto. baik dari segi mekanisme maupun peningkatan kapasitas/kompetensi. UU Nomor 8 tahun 2011 tentang Perubahan atas UU Nomor 24 tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Muchtar Kusumaatmadja. Mualimin Abdi. Makalah.Yogyakarta:Kanisius. Bandung:PPSWN-Alumni. Menuju harmonisasi system hukum sebagai Pilar Pengelolaan Wilayah Pesi sir Indonesia. dan Pemantapan Konsepsi Dalam Rangka Mewujudkan Proses Pembentukan peraturan Perundang-undangan Yang Cepar dan Berkualitas” tanggal 04 Nopember 2011.2011. DAFTAR PUSTAKA Ignatius Mulyono. pembulatan dan pemantapan konsepsi RUU.pengharmonisasian. Konsep Hukum Dalam Pembangunan. Peningkatan dan perbaikan secara terus-menerus dalam melakukan pengharmonsasian.2005. Metode Perancangan dan Teknik Penyusunan Yogyakarta:Pruden Media-UPPM STIHM. Sidharta Dkk. Peningkatan Sinergitas Pengharmonisasian. Pemantapan Peraturan Perundang-undangan dalam perspeketif judicial review. agar RUU yang diharmonisasi benar-benar efektif. baik yang berasal dari DPR maupun yang berasal dari DPD.2002. berkualitas dan bermanfaat bagi kepentingan publik. Ilmu Perundang- Undangan. Makalah. Slamet Haryadi. Pembentukan Peraturan Daerah.

27 Tahun 2009 Tentang Majelsi Permusyawaratan Rakyat. Peraturan DPR Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Tata Tertib DPR RI 17 . Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwalilan Rakyat Daerah. Dewan Perwakilan Rakyat.