Anda di halaman 1dari 38

BAB 1

PENDAHULUAN

Dalam kimia, alkohol (atau alkanol) adalah istilah yang umum untuk
senyawa organik apa pun yang memiliki gugus hidroksil (-OH) yang terikat pada
atom karbon, yang ia sendiri terikat pada atom hidrogen dan/atau atom karbon
lain. Rumus kimia umum alkohol adalah CnH2n+1OH. Alkohol murni tidaklah
dikonsumsi manusia. Alkohol sering dipakai untuk menyebut etanol, yaitu
minuman yang mengandung alkohol. Bahan ini dihasilkan dari proses fermentasi
gula yang dikandung dari malt dan beberapa buah-buahan seperti hop, anggur dan
sebagainya.1

Sejak tahun 1983, The American Association of Poison Central Centers
mengumpulkan data dari Toxic Exposure Surveillance System. Dari 2000 laporan
setiap tahunnya, 63 pusat keracunan melaporkan 2.168.248 kasus keracunan pada
manusia yang disebabkan pemaparan zat toksik. Kurang dari 5% dari kasus
tersebut merupakan efek samping dari makanan dan obat obatan (alkohol).1

Alkohol bersifat depresan terhadap sistem saraf pusat dengan menghambat
aktivitas neuronal. Ini berakibat hilangnya kendali diri dan mengarah kepada
keadaan membahayakan diri sendiri maupun orang disekitarnya. Diperkirakan
alkohol menjadi penyebab 25% kunjungan ke Unit Gawat Darurat rumah sakit.
Alkohol dapat menyebabkan komplikasi yang serius dalam menangani dan
mengobati pasien trauma. Interaksi antara alkohol dengan obat lainnya dapat
terjadi, sehingga harus diperhitungkan secara hati-hati penggunaannya dalam
obat, operasi, maupun obat anestesi. Akibat penggunaan alkohol dapat muncul
masalah kesehatan lainnya seperti gangguan hati, cardiomyopati, gangguan
pembekuan darah, gangguan keseimbangan cairan, hingga ketergantungan
terhadap alkohol. Ini akan menyebabkan perlunya pertimbangan yang lebih
matang dalam menangani pasien dengan alkohol.2, 3
1

Mengidentifikasi permasalahan yang dapat timbul akibat penggunaan
alkohol pada pasien yang memerlukan pembedahan pada saat perioperatif
merupakan suatu tantangan bagi dokter, terutama ahli bedah dan anestesi. Setelah
diiidentifikasi, masalah pada pasien dapat ditangani dengan lebih efektif untuk
menentukan tindakan pembedahan dan mengurangi efek samping anestesi yang
dapat terjadi.4

Sekitar 14 juta warga Amerika termasuk dalam kriteria alkoholism,
membuatnya sebagai peringkat ketiga penyakit yang memerlukan kunjungan ke
psikiater dan menghabiskan lebih dari 165 miliar dolar amerika setiap tahunnya
akibat penurunan produksi kerja, kematian, dan biaya pengobatan langsung.
Diantara mereka 10% wanita dan 20% pria termasuk dalam kriteria
penyalahgunaan alkohol, sedangkan 3-5% wanita dan 10% pria dimasukkan
dalam ketergantungan alkohol. Pria dilaporkan mengkonsumsi alkohol lebih
banyak dibandingkan wanita. Wanita mulai mengkonsumsi alkohol lebih lambat
dibandingkan pria. Namun wanita lebih cepat menjadi alkoholik karena rendahnya
kadar air dalam tubuh dan tingginya lemak pada wanita dibandingkan pria.
Karena tingginya kadar alkohol, wanita memiliki risiko yang lebih besar untuk
mengalami gangguan kesehatan yang berkaitan dengan alkohol seperti cirosis,
cardiomiopaty, dan atropi otak.3

Namum saat sejumlah besar alkohol di konsumsi, akan menimbulkan
gejala seperti sakit kepala, gastritis, mual, pusing, hingga perasaan nyeri saat
bangun tidur. Pada peminum alkohol kronis dapat terjadi penumpukan produksi
lemak (fatty acid). Fatty acid akan membentuk plug pada pembuluh darah kapiler
yang mengelilingi sel hati dan akhirnya sel hati mati yang akan berakhir dengan
sirosis hepatis.3

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
2

2.1 Definisi

Intoksikasi alkohol akut (DSM-IV) adalah apabila seseorang meminum
alkohol dalam waktu singkat, dan menimbulkan efek seperti perubahan tingkah
laku, perubahan tanda vital dan risiko untuk gangguan kesehatan dan kematian.2

Seseorang dikatakan menderita intoksikasi alkohol apabila jumlah dari
alkohol yang dikonsumsinya mengakibatkan abnormalitas fisik dan tingkah laku.
Dengan kata lain, terjadi gangguan pada kemampuan fisik dan mental seseorang.
Tanda lain dari gangguan fisik dan mental adalah kadar alkohol yang dapat diukur
dalam darah. 2

Ada dua bentuk berat dari penyalahgunaan alkohol, yaitu alcohol
dependence (alcoholism) dan alcohol abuse (harmful use). Alcohol dependence
ditandai dengan kecanduan alkohol, ketidakmampuan untuk memberhentikan
minum alkohol, terjadinya withdrawal symptom setelah memberhentikan minum
(ketergantungan secara fisik) dan toleransi. Alcohol abuse adalah apabila alkohol
dapat menyebabkan gangguan fisik dan psikologis yang khas dalam waktu 12
bulan. 2

2.2 Etiologi

Etanol atau lebih sering disebut alkohol sebagian besarnya diproduksi

melalui proses fermentasi dari beberapa bahan makanan seperti anggur,
barley,
dan hops. Ada beberapa jenis alkohol yang dapat menyebabkan terjadinya
intoksikasi seperti asidosis alkoholik, intoksikasi metanol, etilen glikol, dietilen
4, 5
glikol, propilen glikol dan ispropanol.

3

diagnosis and management. Tingkat absorpsi paling tinggi adalah pada saat lambung kosong.3 Fisiologi absorpsi akohol Setelah pemberian oral. Adanya lemak di 4 . etanol diabsorbsi dengan cepat dari lambung dan usus halus ke dalam aliran darah dan terdistribusi ke dalam cairan tubuh total.6 2.Tabel 1 : Intoksikasi alkohol tersering Dikutip dari Toxic alcohol ingestion: clinical features.

semakin cepat absorpsi terjadi. semakin cepat seseorang meminumnya. dengan kadar obatdalam jaringan mendekati kadar di dalam darah. Makanan tinggi lemak secara signifikan dapat memperlambat absorpsi alkohol. Distribusinya berjalan cepat.dalam lambung akan menurunkan tingkat absorpsi alkohol. Kecepatan absorpsi bervariasi. 5 . Efek utama makanan terhadap alkohol adalah perlambatan pengosongan lambung. dan konsentrasi alkohol yang dikonsumsi. dan jenis makanan sangat mempengaruhi. antara lain: a. d. alkohol kebanyakan diabsorpsi di duodenum melalui difusi. Setelah minum alkohol dalam keadaan puasa. Namun alkohol dengan konsentrasi tinggi akan menghambat proses pengosongan lambung.5 – 0. Makanan memegang peranan besar dalam absorpsi alkohol. Volume. Jumlah. Kecepatan minum. c. jenis. Metabolisme lambung. 5 Setelah diminum. Volume disribusi dari etanol mendekati volume cairan tubuh total (0. seperti juga metabolisme hati. dapat secara signifikan menurunkan bioavailabilitas alkohol sebelum memasuki sistem sirkulasi. waktu. b.71 L/Kg). tergantung beberapa faktor. kadar puncak alkohol di dalam darah dicapai dalam waktu 30 menit. Alkohol dengan konsentrasi rendah diabsorpsi lebih lambat.

wanita mempunyai konsentrasi puncak lebih tinggi dibandingkan lelaki. etilen glikol menjadi glikoaldehid.7 Oksidasi alkohol pertama kali dikatalisasi oleh enzim hati alkohol dehidrogenase (ADH). Metanol dimetabolisme menjadi formaldehid. isopropanol menjadi aseton dan etanol menjadi asetaldehid. Pada pasien yang telah biasa mengkonsumsi alkohol terjadi kerusakan pada hati. Oksidasi dari alkohol 90% terjadi di hati. Pada jumlah alkohol yang sama. Hal ini berkaitan dengan berat badan dan menjelaskan kenapa orang dengan berat badan berlebih atau obesitas memiliki kadar alkohol yang lebih rendah dibanding orang kurus dengan jumlah alkohol yang sama. Volume distribusi. hingga kematian. rute eliminasi dari alkohol Dikutip dari: Toxic alcohol ingestion: clinical features. 7 6 . Tabel 2. dan sebagian besar sisanya dikeluarkan lewat paru-paru dan urin. meningkatkan risiko pendarahan.5. dikarenakan wanita mempunyai kandungan cairan tubuh total lebih rendah. proses ini merupakan tahap kritis pada biotransformasi. propilen glikol menjadi laktaldehid. diagnosis and management6 Alkohol akan didistribusikan terutama dalam jaringan adiposa dan menyebabkan efek dilusi. Akibat dari hilangnya kapasitas hati ini akan menunjukkan respon yang tidak sesuai terhadap stress saat operasi.

Korelasi antara BAC dan gangguan motor/perilaku Dikutip dari: The Drugs8 2.5 Tindakan anestesi pada intoksikasi alkohol 7 .05 mengandung arti seseorang memiliki kadar 0.05 gram alkohol per 100 ml darah (atau BAC 0.4 Efek komsumsi alkohol Blood Alcohol Concentration (BAC) merupakan panduan untuk mengetahui kadar dari intkosikasi alkohol. Tabel 3.05% = 11 mmol/L. BAC 0. Blood Alcohol Concentration menunjukkan jumlah alkohol di peredaran darah dalam gram alkohol per 100 ml darah.2.

Karena kedua kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi dalam pembedahan. Faktor risiko dalam pembedahan bergantung pada derajat disfungsi hati. dan bilirubin. kreatinin.4 Sangatlah penting untuk mengidentifikasi pasien dengan gangguan penyalahgunaan alkohol sebelum operasi. Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan antara lain darah lengkap. jumlah platelet. SGOT. volume intravaskular. dan pemeriksaan laboratorium harus dinilai. Anestesi umum menurunkan aliran darah total hati.2 Hasil dari tes laboratorium dan pengakuan pasien sangat penting untuk mengidentifikasi penyakit yang berhubungan dengan penggunaan alkohol dan juga untuk menangani lukanya. Pasien dengan penyalahgunaan alkohol umumnya telah terjadi gangguan hati sehingga pemilihan obat sebisa mungkin menghindari semakin beratnya kerja hati. Tindakan anestesi pada orang dengan pengaruh alkohol perlu dipertimbangkan dengan matang.2 Pasien dengan penggunaan alkohol memerlukan perhatian serius selama operasi. akan menurunkan kematian dan komplikasi karena operasi. Permasalahan yang dapat terjadi pada pasien dengan penyalahgunaan alkohol antara lain trombositopenia. elektrolit. jenis operasi. fungsi ginjal. glukosa. blood urea nitrogen. Adanya peningkatan keperluan analgesia dan anesthesia serta adanya 8 . kondisi mental. maka sangatlah penting untuk memonitor secara ketat tanda vital. Faktor komorbid seperti koagulopati. dan keadaan pasien sebelum operasi. trombositosis akan terjadi setelah satu minggu. dan nutrisi harus diidentifikasi terlebih dahulu sebelum dilakukan operasi. elektrolit. Persiapan yang optimal. dan kadar elektrolit selama operasi dan dalam perawatan pasca operasi. Dengan menghentikan penggunaan alkohol. pemeriksaan fisik.SGPT albumin. dimana terjadi penurunan jumlah platelet dalam darah. keadaan kardiovaskular. Riwayat penggunaan alkohol sebelumnya. fungsi jantung.

Beberapa penelitian menunjukkan adanya peningkatan mortalitas dan morbiditas postoperasi pada pasien dengan penyalahgunaan alkohol.4 Pasien dengan penyalahgunaan alkohol memerlukan perhatian secara intensif untuk mendeteksi gejala putus alkohol dan meminimalkan komplikasi. Tingkat keparahan dari gejala withdrawal berkorelasi dengan kadar katekolamin plasma. Respon stress pembedahan merangsang perubahan fisiologis multiple yaitu: peningkatan denyut jantung. Peningkatan frekuensi perdarahan yang memerlukan transfusi didapati pada postoperatif pasien alkoholisme.stress pembedahan dapat terjadi selama operasi. dan gangguan kerja kardiopulmonal. Penghitungan dosis obat anestesi yang diberikan pada pasien alkoholik berbeda dengan pasien non-alkoholik karena perlu diperhatikan adanya perubahan kerja obat. respon stress pada pembedahan dan kondisi putus alkohol memiliki efek aditif.2 Komplikasi postoperasi yang paling sering ditemukan pada pasien ini adalah infeksi. peningkatan tekanan darah. pasien dengan penyalahgunaan alkohol memiliki waktu yang lebih lama untuk tinggal di ruang perawatan intensif dan rumah sakit.1 9 . Karena patofisiologi yang mirip. Bila dibandingkan dengan pasien tanpa penggunaan alkohol. dan peningkatan kadar katekolamin pada plasma. Penekanan fungsi jantung dapat memicu meningkatnya risiko terjadinya iskemik dan aritmia. seperti halnya propanolol dan Phenobarbital yang durasi kerjanya bertambah panjang dengan adanya alkohol. Penyalahgunaan alkohol kronis telah diketahui menyebabkan terjadinya kardiomiopati.2. Perioperative aritmia dapat terjadi tanpa adanya penyakit jantung sebelumnya. pendarahan. Pasien alkoholisme yang mengalami hipoksemia atau hipotensi intraoperatif lebih rentan mengalami delirium postoperatif. dan pasien dengan alkohol mengalami penurunan volume curah jantung.

15mg/kgBB) atau midazolam (0. Obat sedatif dan penghilang nyeri harus diberikan secara hati-hati untuk mencegah terjadinya encepalopati hepatic. dan barbiturate harus dipergunakan dengan hati-hati karena mereka di metabolism di hati. Isoflurane merupakan pilihan yang paling aman dibandingkan halotan pada pasien dengan penyakit hati karena dapat meningkatkan aliran darah hepatik.12mg/kgBB) atau promethazine. maksimal 0. Fentanyl merupakan narkotik yang lebih sering digunakan. Meningkatnya waktu dan episode pendarahan sehingga memerlukan transfusi telah sering terjadi pada pasien postoperasi dengan penyalahgunaan alkohol. dosis mereka hendaknya diturunkan 50%. meperidine. 2. Secara umum.1 Pada kondisi intoksikasi alkohol akut dengan kesadaran menurun dengan risiko aspirasi dan pneumonia. benzodiazepine. prosedur yang direkomendasikan : a. 4 2. kegagalan hati merupakan penyebab kematian postoperasi yang paling sering. Transquilizer : diazepam IV (10 – 15 mg. Atracurium direkomendasikan sebagai obat pilihan karena ia tidak diekskresikan melalui hati maupun ginjal.6 Interaksi Obat Dengan Alkohol Dari semua gas anestesi. halotan dan enflurane dapat menurunkan aliran darah arteri hepatic melalui vasodilasi pembuluh darah dan efek ringan inotropik negatif. Efek obat yang bekerja menghambat neuromuskular dapat memanjang pada pasien dengan penyakit hati. Pada pasien dengan sirosis. Obat-obatan seperti morfin. 10 . serta membutuhkan pembedahan emergensi. Fungsi ginjal harus selalu diawasi karena adanya risiko hepatorenal sindrom dan perpindahan cairan yang dapat terjadi setelah operasi. Pemberian makanan melalui enteral secepatnya diyakini akan meningkatkan keberhasilan pengobatan.

dan interaksi farmakodinamik. termasuk obat anestesi. Interaksi ini akan memperpanjang dan mengubah kemampuan obat. promethazine dan ranitidine IV. muscel relaxan. dimana alkohol mempengaruhi efek obat. pengosongan lambung : metoclopramide (5 mg IV). Pada alkohol dosis akut (sekali minum atau beberapa kali minum setelah beberapa jam) dapat menghambat metabolisme obat. Propofol 11 . obat penghilang nyeri golongan non narkotik. antidepresan. f. d. histamine H2 receptor antagonis. Maintenance dengan agen inhalasi : respirasi kendali. dimana alkohol dan banyak obat-obatan di metabolism. Sejumlah golongan obat dapat berinteraksi dengan alkohol. Isofluran kurang memuaskan karena fenomena alkoholic withdrawal. disarankan dengan enfluran.25/kgBB. dapat menurunkan dan mengurangi efek kerja obat.8. benzodiazepine. Obat anestesi yang dapat digunakan adalah : a. warfarin. c. alkohol mengubah efek obat. Intubasi endotrakea : bila memungkinkan dengan awake intubation. Terdapat dua tipe interaksi alkohol dan obat lain.1. Relaksasi : paralisis : dosis besar vecuronium0. Pada peminum alkohol kronis (dalam jangka waktu lama). Interaksi farmakokinetik umumnya terjadi di hati.6. antiinflamasi. e. Rapid sequence induction : thiopental 4 mg/kgBB atau midazolam 0. umumnya di sistem saraf pusat (contoh: sedasi). antibiotic. berpotensi meningkatkan risiko terjadinya efek samping obat. antihistamin. b. Kontrol isi lambung : H1 dan H2 bloker. barbiturate.15 mg/kgBB. yaitu interaksi farmakokinetik. opioid.

pada anak < 3 tahun dan pada wanita hamil tidak dianjurkan. Untuk anestesi. Propofol (diprivan. Obat- obatan anestesi diberikan mengawali pembedahan untuk membuat pasien tidak nyeri dan tenang. Suntikan intravena sering menyebabkan nyeri sehingga sebelumnya dapat diberikan lidokain 1-2 mg/kgBB. dikemas dalam bentuk cairan. Untuk analgesik. Isofluran Isofluran merupakan halogenasi eter. dosis rumatan untuk anastesia total 4-12 mg/kgBB/jam dan dosis sedasi untuk perawatan intensif 0. tidak eksplosif.2 mg/kgBB. dengan nilai MAC lebih dari 100. N2O Anestesi lemah. Paparan yang berulang akan menyebabkan depresi sumsum tulang iv. Pada manula dosis harus dikurangi.3 b.5 mg/kgBB. Propofol menyebabkan sedikit depresi pernafasan dan penurunan tekanan darah. dan relatif tidak ralut dalam darah tapi cukup iritatif terhadap jalan nafas sehingga pada saat induksi inhalasi sering menimbulkan batuk dan tahanan nafas. Induksi boleh dikatakan sangat baik. digunakan campuran 70% nitrous oxide dan 30% oksigen ii. Tipe ini kurang poten untuk induksi. sehingga dipakai untuk penjagaan anestesi i. digunakan campuran 50% nitrous oxide dan 50% oksigen iii. Dosis bolus untuk induksi 2-2. tidak berwarna. Konsumsi alkohol secara kronik meningkatkan dosis propofol yang diperlukan untuk menurunkan kesadaran pasien. . Tidak dimetabolisme tubuh6 c. recofol) dikemas dalam cairan emulsi lemak berwarna putih susu bersifat isotonik dengan kepekatan 1% (1 ml = 10 mg). tidak mengandung zat pengawet. Proses induksi dan pemulihannya relatif cepat dibandingkan dengan 12 .

dan tidak berbau. eosinofilia. Halotan adalah obat anestesi inhalasi berbentuk cairan bening tak berwarana yang mudah menguap dan berbau harum. Tanda-tanda halotan hepatitis berupa demam. depresi vasomotor. dan meperidine. d. terjadi hipotensi. Penggunaan untuk kedua kalinya dianjurkan setelah 3 bulan. tidak eksplosif. Kelebihan dosis menyebabkan depresi pernafasan. codein. menurunnya tonus simpatis. 5-1 vol % yang tentunya disesuaikan dengan respon klinis pasien. tidak berwarna. Halotan dicurigai dapat menimbulkan halotan hepatitis. Yang termasuk dalam golongan ini antara lain morfin. propoxyphene. Kombinasi 13 . Penghilang nyeri golongan narkotik. Konsumsi alkohol dalam jangka lama akan meningkatkan risiko kerusakan hati oleh pemakaian gas anestesi seperti halotan. Sevofluran Sevofluran dikemas dalam bentuk cairan. disfungsi hepar dengan atau tanpa ikterus. Volume yang dapat diberikan sekitar 1-2 vol% dan pada nafas kendali sekitar 0.3. vasodilatasi perifer sehingga tidak disukai untuk bedah otak. Obat golongan ini digunakan untuk nyeri sedang hingga berat. obat-obat anestesi inhalasi yang ada pada saat ini tapi masih lebih lambat dibandingkan dengan sevofluran. Isofluran memiliki efek terhadap jantung minimal dan tidak menyebabkab hepatotoksik. b. 6 Obat-obat yang tidak boleh diberikan adalah obat yang bersifat hepatotoksik seperti : a. depresi miokard dan inhibisi refleks baroreseptor. Metabolisme terutama terjadi di hepar secara oksidatif dan reduktif sehingga indikasi kontra pada penderita gangguan hepar. Sevofluran menurunkan aliran darah ke hepar paling kecil dibandingkan dengan enfluran dan halotan. bradikardia.

menyebabkan pasien berpeluang mengalami perdarahn yang mengancam jiwa. Aspirin paling sering dipergunakan oleh orang tua. Relaksasi otot seperti Atracurium dapat diberikan dengan dosis 0. Adanya komsumsi alkohol akut mengubah kemampuan warfarin. Antikoagulan seperti Warfarin berfungsi untuk memperlambat pembekuan darah. sehingga berpotensi untuk terjadinya regurgitasi maupun sumbatan jalan nafas. meskipun acetaminophen dipergunakan dalam kadar therapeutic. Opioid merupakan agen yang memiliki efek seperti opium (sedatif.5 mg. e. Obat ini aman dikonsumsi pada pasien yang memiliki gangguan hepar. Orang tua yang mencampurkan alkohol dengan aspirin dalam dosis besar tanpa resep dokter memiliki risiko lebih besar untuk mengalami pendarahan lambung. Konsumsi alkohol secara kronis mengaktifkan enzim yang mengubah acetaminophen menjadi substansi kimia yang dapat menyebabkan kerusakan hati. Komsumsi alkohol secara kronis 14 . dan euphoria) yang digunakan untuk pengobatan. meningkatkan risiko kematian akibat overdosis. Penghilang nyeri golongan non narkotik. Alkohol dapat memperparah efek ini. Satu dosis alkohol dapat meningkatkan kemampuan kerja propoxyphene. penghilang nyeri. dan meningkatkan efek samping sedasi. Aspirin juga meningkatkan kerja alkohol. alkohol dengan opioid meningkatkan efek sedasi kedua substansi tersebut. Atracurium dimetabolisme secara ekstensif sehingga faramkokinetiknya tidak bergantung pada fungsi ginjal dan hati. Beberapa obat jenis ini dapat menyebabkan pendarahan lambung dan menghambat pembekuan darah. c. d.3 – 0. Overdosis alkohol dan opioid sangat berbahaya karena mereka dapat menurunkan reflek batuk dan fungsi pernafasan.

Pemberian suplementasi dan antidotum. aritmia jantung. cairan dan elektrolit. Antihistamin seperti diphenhydramine dapat digunakan untuk menangani gejala alergi dan insomnia.9 15 . 2. hipoksia. menurunkan kerja warfarin dan menimbulkan gangguan pembekuan darah. Depresi pernafasan. Memerlukan tindakan intervensi terapeutik segera seperti pemasangan intubasi dan ventilator 3. Monitor ketat depresi pernafasan. Koreksi gangguan metabolik. seperti berubahnya derajat kesadaran. f. hipotensi. hipotensi dan depresi nafas. Alkohol bersifat meningkatkan efek sedasi pada antihistamin.7 Penatalaksanaan pada intoksikasi alkohol akut Penatalaksanaan umum pada pasien intokikasi alkohol akut 1. Dapat diberikan sedatif (misalnya Diazepam IV 10-20 mg atau Droperidol IV 5 mg) untuk melindungi pasien terhadap bahaya trauma. Obat ini menyebabkan kelebihan sedasi dan nyeri kepala pada orang tua. Tetapi pada pasien harus diberikan secara hati-hati dikarenakan dapat menyebabkan progresi dari intokikasi alkohol akut menjadi lebih berat. Koma alkoholik. Pasien agresif. Efek kombinasi dengan alkohol akan sangat signifikan berbahaya pada kelompok ini. 2. Pasien harus ditenangkan dan mengoreksi persepsinya terhadap realitas.

Penatalaksanaan intoksikasi alkohol di ICU Dikutip dari: Alcohol related emergency: A new look at an old problem 10 Penatalaksanaan asidosis metabolik dengan basa direkomendasikan oleh beberapa ahli.Gambar 4. Semuanya direkomendasikan untuk penatalaksanaan intoksikasi alkohol. Basa dapat diberikan secara intravena atau via dialisis. Pemberian basa untuk meningkatkan ekskresi format dan glikolat melalui ginjal. 5 Asam folat meningkatkan metabolisme formate. dan asam gliolik menjadi α- hidroxy-β-ketoadipate. 5 16 . Piridoksin dan tiamin meningkatkan konversi glioksilat menjadi glisin.

Gambar 5. lebih dari 400 pasien. ditandai dengan mortalitas yang tinggi apabila intoksikasi tidak diobati atau pengobatan dimulai setelah muncul semua gejala. Algoritme penatalaksanaan intoksikasi metanol dan etilen glikol di ICU Dikutip dari: Current recommendations for Treatment of Severe Toxic Alcohol Poisonings 7 2.1 saat terapi dimulai. Mortalitas tinggi dijumpai pada pasien dengan metabolik asidosis berat dan waktu 17 .5 Mortalitas dari intoksikasi etilen glikol bervariasi. Keseluruhan mortalitas pada 3 studi.8 Prognosis Prognosis dari intoksikasi metanol biasanya buruk. berkisar 1-22%. bervariasi antara 8 dan 36% tetapi meningkat menjadi 50-80% apabila konsentrasi serum bikarbonat < 10 meq/L dan/atau pH darah < 7.

Mortalitas pada intikosikasi isopropanol lebih rendah dibandingkan intoksikasi etilen glikol dan metanol. tetapi mortalitasnya rendah. hanya 1% yang meninggal. suatu prekusor dari badan keton. ketogenesis terutama diakibatkan stimulasi dari lipolisis dan pembetukan asam lemak bebas dari kadar insulin yang rendah dan meningkatnya kadar hormon kontraregulator seperti epinefrin. yang akhirnya dapat menjelaskan terjadinya alkalosis metabolik pada beberapa pasien. yang dikonversi m en j ad i asetat dan asetil CoA.5 ml/kgBB.yang lama antara pemaparan dengan penatalaksanaan awal.≤ 5 mEq/L. Bila pH darah < 7. Ketoasidosis alkoholik lebih sering dijumpai pada pasien yang meminum alkohol jangka panjang dan penyakit hati.1 atau terapi awal > 10 jam setelah pemaparan. Pasien dengan serum HCO3.hidroksibutirat mendasari 18 . Patofisiologi Walaupun oksidasi etanol pada hati menghasilkan aldehid.5 2. Produk yang berlebihan dari asam asetoasetat dan asam β. Walaupun AKA sering terjadi pada pasien dengan kondisi komorbid tertentu.1 atau kadar glikolat serum ≥ 8-10 mmol/L. kortisol dan glukagon. kematian pernah dilaporkan dengan jumlah yang lebih rendah dan pernah dilaporkan pasien dapat bertahan dengan jumlah yang lebih besar.9 Ketoasidosis alkoholik Sindroma ketoasidosis alkoholik (AKA) jarang ditemukan pada pasien dengan intoksikasi etanol akut. Walaupun dosis letal dari etilen glikol yang dilaporkan 1.4-1. ditemukan < 10% pasien. pH darah 7. Beratnya asidosis metabolik dan kadar glikolat dalam darah merupakan tanda prognostik penting. Pada suatu 5 studi dari 74 pasien dengan AKA. sindroma ini berkembang setelah meminum dalam jumlah sangat besar. berhubungan dengan menurunnya asupan makanan dan episode muntah. lebih mudah mendapatkan gagal ginjal akut atau kematian. a.

d. Serum osmolalitas dapat meningkat sebagai akibat meningkatnya konsentrasi etanol atau keton dalam darah. Nyeri perut. Keton dalam cairan tubuh dapat dideteksi dengan reaksi nitroprusside. dan hipofosfatemia. berubahnya status mental merupakan sering dijumpai. 19 . Kadar gula darah dapat rendah atau tinggi. Nyeri perut saat palpasi dan pembesaran dari liver dan terkadang limpa 5 menggambarkan adanya penyakit liver akut atau kronik. tes ini dapat mendeteksi asaetoasetat tetapi tidak β. Laboratorium Sering dijumpai asidosis metabolik.hidroksibutirat dibandingkan dengan asetoasetat.terjadinya asidosis metabolik dengan meningkatkan pembentukan NADH dari β. Manifestasi klinik Karena gangguan ini sering terjadi pada pasien akoholik kronik dengan gangguan pancreas dan liver akut dan kronik. mual dan muntah.hidroksibutirat. Hipoglikemia berhubungan dengan kosongnya cadangan glikogen dan 5 berkurangnya glukoneogenesis. Diagnosis Diagnosis AKA ditegakkan berdasarkan ditemukannya kadar etanol yang meningkat. Hiponatremia dan/atau hiperkalemia. sehingga susah membedakan manifestasi klinis antara AKA dengan penyakit hati atau pankreas. termasuk alkalosis respiratori dan alkalosis metabolik. b. tapi lebih sering dijumpai gangguan asam basa campuran. Adanya riwayat meminum alkohol dan tidak adanya stigmata dari diabetes dapat membuat diagnosis AKA. Serum osmolalitas biasanya normal. Peningkatan NADH juga 5 meningkatkan produksi asam laktat. c.

20 . e. Penatalaksanaan Perbaikan dari AKA tejadi setelah pemberian dari dekstrosa dan/atau saline. Direkomendasikan pemberian dekstrosa dan salinuntuk memperbaiki volume defisit dan menyediakan glukosa untuk mencegah hipoglikmia.

Usia : 36 tahun No RM : 00653215 Alamat : Jl. Sesak disertai nyeri dada. 24. sejak 2 hari lalu setelah o. mata kabur dan berkunang-kunang. Kel. Sari Jabi Kota Bandung Pekerjaan : Wiraswasta KU : Sesak napas Telaah : Hal ini dialami o. RPT : Tidak Jelas RPO : Tidak Jelas Kronologis Waktu Kejadian (Time Sequence) 21 . batuk tidak ditemukan. Sari Manah I No. minum alkohol. Volume alcohol yang dikonsumsi kira-kira 1500cc jenis tuak ditambah muniman vigor pada hari selasa. nyeri kepala tidak ditemukan. BAB 3 LAPORAN KASUS 1. BAK (+) normal.s. Mual ditemukan. demam tidak ditemukan. Riwayat hipertensi (-). riwayat DM (-). BAB(+) normal.s. muntah tidak ditemukan. Anamnesis Nama : Saudiman M.

2.5 Gargling (-) Crowing (-) SpO2 : 97% C-spine: normal B (breathing) Resiko tinggi Oksigen via ETT Pernafasan depresi 10L/i normal. Pemeriksaan Fisik dan Penanganan di IGD pukul 1930 WIB Gejala Kesimpulan Penanganan Hasil Tanda A (airway) Jalan napas Melakukan Jalan napas lancar lancar namun intubasi Airway clear kesadaran dengan ETT Snoring (-) menurun (DPO) 7. 22 . Napas spontan pernapasan (+) RR : 32 x/menit Jejas di thoraks (-) SP : Vesikuler ST : (-) C (circulation ) Resiko tinggi Pemasangan 1 Akral : Hangat.

terjadinya syok IV line 18 G Merah. kemudian tubuh lainnya menyelimuti pasien dengan kain untuk mencegah hipotermi. RC(+)/(+) menurun E (Exposure) Tidak ada Melepas seluruh Pasien tidak kelainan pakaian pasien hipotermi Tidak terdapat dan mencari jejas di bagian jejas.Akral : Dingin . Kering dengan cairan TD = 120/80 CRT < 2” kristaloid (ringer Perfusi Lactate) mmHg perifernormal sebanyak HR=100X/i t/v cukup 20ml/kg TD = 100/60 secepatnya mmHg HR = 132 X/i D (Disability) Penurunan Mempertahanka Pasien mengalami Sens : Sopor kesadaran n A-B-C clear penurunan kesadaran pupil isokor diameter ka: 4mm/ ki:4mm. 23 . Kering Merah.

volume : 300cc/6 jam.0°C B3 (Brain) :Sens : DPO. Edema (-) 4. Palpasi: dinding abdomen soepel. kejang (-). t/v cukup.0 mmHg pO2 : 205. HR : 132 x/mnt. pusing (-). kateter terpasang. batuk (-). Pupil: isokor Ø 4 mm / 4 mm.4 mmol/L Kelebihan Basa : -29.0 mmHg HCO3 : 3. reguler. TD : 100/60 mmHg. Laboratorium Darah Lengkap Hb : 19. mata kabur (-) B4(Bladder) :UOP : BAK (+).4 gr/dl Leukosit : 25.6 mmol/L 24 . Temp : 37. sesak (-). Auskultasi: normo peristaltik B6 (Bone) : Fraktur (-). RC +/+. warna : kuning jernih B5 (Bowel) : Abdomen: Inspeksi: simetris. Riwayat asma (-) alergi (-). Pemeriksaan penunjang 1. Secondary Survey B1 (Breath): Airway : clear. 3. B2 (Blood) : Akral : H/M/K.00 % Trombosit : 300/mm3 Analisa Gas Darah pH : 6.72 x 103 /mm3 Ht : 59. ST: -.7 mmol/L Total CO2 : 4. Perkusi: timpani.830 pCO2 : 22. RR: 32 x/mnt . gurgling/snoring/crowing: -/-/-. SP: vesikular. GL (+) .

Foto Toraks Tanggal 02 September 2015 25 .0 % Faal Hemostasis PT : 15.5) TT : 15.7 (31. Saturasi O2 : 99.0 (14.00) APTT : 37.30 mg/dL Kreatinin :1.07 Metabolisme Karbohidrat KGD (sewaktu): 173.28 mg/dL Fungsi Hati SGOT : 62 U/L SGPT : 84 U/L Elektrolit Natrium : 135 mEq/L Kalium : 7.80 mg/dL Fungsi Ginjal Ureum : 58.2 mEq/L Klorida : 95 mEq/L 5.5 (17. Radiologi a.8) INR : 1.

EKG 26 .Kesan: tidak ada kelainan dijumpai pada thoraks dan cor c.

27 .

T/V: .IVFD NS 20 gtt/i B2 Akral H/M/K.Kesan: Sinus Takikardi 3.Aminofusin fls 8gtt/i HR:100x/I. RC: +/+ B4 UOP (+) terpasang kateter B5 Abdomen soepel. Follow Up Pasien Tgl S O A P 03-9-15 Penurunan B1 Airway clear Dx: . pupil isokor ± 3mm/3mm.Diet SV 2100 kkal + 70 cukup/kuat. alkohol Sp02 99% . peristaltik (+) N B6 Oedem (-).5.Head up 30o mekanik SIMV .Bed Rest kesadaran (terintubasi) .ventilasi Intoksikasi . TD:90/60 gr protein mmHg B3 Sens Sopor. . fraktur servikal (-)  Rencana dilakukan HD 28 . VT 500.

Inj. Penurunan -IVFD NS 20gtt/I TV 500. Penurunan B1 Airway clear Dx: . kesadaran 29 . PEEP 5. Ranitidin 50mg/12j alkohol B2 Akral D/P/B. kesadaran gr protein RR : 14x/I . E1M1VT. mia peristaltic menurun B6 Oedem (+) daerah femoral kanan (hematom +) 05-09. -Inj Alinamin 250mg/12j HR:105x/i TD:90/50 Dx mmHg dengan support sekunder : levoso/ dan dobutamin (5 -Asidosis mcg) metabolic B3 Sens koma. kateter (+) mia Vol 20cc/jam. berat pupil isokor 3mm/3mm. PEEP 5. PEEP 5. kuning -stress pekat hiperglike B5 Abdomen soepel. FiO2 : 100%.04-09. ec SpO2 97% intoksikasi . Penurunan B1 Airway clear Dx : .Diet SV 2100 kkal + 70 CMV/TV 500ml. - RC +/+ hiperkale B4 UOP (+).Bed Rest 15 kesadaran terintubasi modus PCMV.Bed Rest 15 Kesadaran terintubasi modus Penurunan .

reflex kornea (-). Pasien dinyatakan meninggal dunia dihadapan dokter. pupil dilatasi maksimal. nadi tidak teraba. Tekanan darah tidak terukur. HR 38-40x/i 15 Saturasi O2.asidosis dobutamin (5 mcg) metabolik B3 Sens koma.2 mcg/kgBB/jam dan injeksi Dobutamin 10mcg. HR:72x/i 250mg/12j reg. perawat dan keluarga pada 1312 WIB. T/V: cukup/kuat. Ranitidin 50mg/12j SpO2 97% intoksikasi -Inj. refleks batuk (-). Kemudian dinilai respons didapatkan tiada respons. hiperglike UOP 15cc/3jam. SP/ST: vesikuler/tidak ada. RC +/+ -stess B4 UOP (+) kateter (+) . kuning mia pekat B5 Abdomen soepel B6 Oedem (+) 06 -09.5mg. 85%. akral D/B/Sianosis. Alinamin F alcohol B2 Akral D/P/B. Diberikan SA 0.. adrenalin 1mg dan SA 0.5mg. pupil berat isokor.30 jantung dilakukan resusitasi RJPO sebanyak 5 siklus dan injeksi adrenalin 1mg WIB dan SA 0. 30 menit kenudian pasien henti jantung. Dosis Noradrenaline dinaikkan menjadi 1. Didapatkan respons positif dengan HR 33x/I irregular. RJPO tetap dilanjutkan sebanyak 3 siklus. Setelah 30 menit terjadi bradikardi HR 38x/i diberikan Pukul SA 0. Dx TD:90/50 mmHg dengan sekunder: support levosol dan .5mg IV diberikan 2 kali dengan selang waktu 5 menit kemudian terjadi henti 12. ec Inj. Pasien mengalami penurunan status hemodinamik TD 50/30 mmHg.5mg dan pasien dalam kondisi ROSC. 30 .

seperti nafas head tilt dan chin lift serta lidah. mata kabur dan berkunang- tidak sadar adalah adanya kunang. makanan ataupun benda pemasangan intubasi setelah 2 jam asing lainnya. jalan napas pada pasien tidak sadar karena pada kondisi ini lidah akan terjatuh ke belakang rongga mulut. Sebelum diberikan bantuan pernapasan.5. Dilakukan pengamanan jalan sumbatan di jalan napas. Hal ini akan mengakibatkan tertutupnya trakea sebagai jalan napas. Sesak nafas disertai nyeri Faktor utama yang membuat dada. jalan napas harus terbuka. Bila terdapat depresi pernafasan.Lidah merupakan pasien mengalami sulit bernafas dengan penyebab utama tertutupnya ETT 7.6 .Pembahasan Masalah Teori Pasien Airway: manajemen jalan nafas Pasien datang ke IGD dengan keluhan dengan Head tilt dan chin lift.3. diperlukan tindakan intervensi terapeutik segera seperti pemasangan intubasi dan ventilator 31 . sesak nafas.

pasien di anjurkan paru. mengalami penurunan kesadaran pada 3 Teknik yg digunakan adalah LOOK. Breathing juga perawatan intensive di ruang ICU pada merupakan penilaian status pernapasan tanggal 2 september 2015. sampai 5 september 2015 dan pasien LISTEN and FEEL (LLF). berikan 2 x bantuan pernapasan dgn volume yg cukup. untuk memperbaiki jalan nafas . Auskultasi dapat ancaman gagal nafas akibat keracunan dilakukan untuk memastikan udara alkohol sehingga membutuhkan masuk ke dalam paru. Komponen pasien sulit bernafas. temp 37. bantu nafas. Circulation: Menilai volume darah. Tekanan Darah: diperlukan penilaian yang cepat untuk 120/80 mmHg.5 harus dievaluasi dengan cepat.Jika pasien tidak bernapas. HR: 100x/i reg T/V: status hemodinamik pasien. Pasien datang ke IGD dengan Akral cardiac output dan perdarahan. LLF menggunakan ventilator sebagai alat dilakukan tidak lebih dari 10 menit. Maka Hangat/Merah/Kering. diberikan Oksigen 2- Oksigen dan Karbon dioksida 4L/i via nasal canule dan setelah 2 jam. Inspeksi dan palpasi dapat Pasien di pindahkan ke ICU dengan memperlihatkan kelainan dinding dada terintubasi dengan Oksigen via ETT yang mungkin mengganggu 10L/i karena pasien beresiko tinggi pernapasan. dilakukan 32 . Pasien apakah masih bernapas atau tidak. dan diafragma oleh dokter untuk pemasangan ETT 7. ada tiga cukup. berlangsung dengan baik. dinding dada. tindakan yang dilakukan adalah pertahankan jalan napas agar tetap terbuka.Breathing: menjaga pernafasan Pasien datang ke IGD mengeluhkan berjalan baik sehingga pertukaran susah bernafas. Jika pasien masih bernapas.0°C.

Di ICU pasien diberikan IVFD NS 20 gtt/i. pasien. GCS merupakan sistem Di ICU pasien dari tanggal 2-4 skoring sederhana yang dapat menilai September 2015. ukuran dan dengan Refleks cahaya +/+. pupil isokor 4mm/4mm adalah tingkat kesadaran. pasien telah tingkat kesadaran pasien. Akral: Hangat/Merah/Kering. mencegah komplikasi hipotensi pada pasien sehingga diperlukan pemantauan berkala status hemodinamik pasien. Pemberian cairan mengenai keadaan hemodinamik dimaksudkan untuk mempertahan pasien yaitu tingkat kesadaran.penilaian klinis yang dalam hitungan pemasangan iv line ukuran 18 G dengan detik yang memberikan informasi cairan RL 20 ml/kg. Untuk mencegah hipotermi pasien diselimuti. 33 . mengevaluasi keadaan pasien dan membuka seluruh pakaian pasien dan menjaga suhu tubuh pasien agar tidak tidak didapati jejas di bagian tubuh hipotermi. reaksi pupil. warna kestabilan hemodinamik pasien untuk kulit dan nadi.5 Exposure: Membuka seluruh pakaian Pasien dikonsulkan ke bagian Anestesi pasien untuk memeriksa dan dengan diagnosa intoksikasi alkohol. pada tanggal 4 September 2015 diberikan inj ranitidine 50 mg/12jam dan inj Alinamin 250mg/12 jam Dissability: Mengevaluasi keadaan Pasien datang ke IGD dengan dalam neurologis secara cepat yang dinilai pengaruh obat. mengalami penurunan kesadaran sehingga dilakukan pemasangan intubasi menggunakan ETT no 7. TD: 90/60 mmHg dan diberikan aminofusin fls8gtt/i.

BAB 4 KESIMPULAN Alkohol merupakan minuman keras yang dapat menimbulkan ketergantungan. riwayat alergi dan operasi 34 . Pemeriksan lainnya yang diperlukan antara lain anamnesa lengkap tentang penyakit lain yang sedang atau pernah di derita. Alkohol bersifat depresan terhadap sistem saraf pusat yang berakibat pada hilangnya kendali diri dan mengarah kepada keadaan membahayakan diri sendiri maupun orang disekitarnya Terapi harus segera dimulai setelah menurunnya konsumsi alkohol.

HandbookFor Stoelting's Anesthesia and Co – Existing Disease. Penghitungan dosis obat anestesi yang diberikan pada pasien alkoholik berbeda dengan pasien non alkoholik karena perlu memperhatikan adanya perubahan kerja obat. dan elektrokardiogram. blood urea nitrogen.Pengawasan postopertif yang bersifat intensif untuk mencegah munculnya komplikasi seperti infeksi. Muhardi Muhiban. creatinine. SGOT/SGPT. seperti halnya propanolol dan Phenobarbital yang durasi kerjanya bertambah panjang dengan adanya alkohol. platelet count. Anestesiologi. dapat dipergunakan vecuronium dalam dosis besar. Adanya peningkatan keperluan terhadap obat anestesi dan analgesia serta adanya stress pembedahan perlu mendapat perhatian serius selama operasi. 3rd Edition United state of America 35 . DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta 2. E Katherin M and Hines L Roberta. phosphorus. Pasien dengan penggunaan alkohol memerlukan perhatian serius selama operasi. bilirubin. Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan antara lain complete blood count. tes pembekuan. pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Untuk relaksasi otot. pendarahan. staf pengajar bagian anestesiologi dan terapi intensif FKUI. editor : Arschall.sebelumnya. albumin. Jenis anestesi yang dipilih hendaknya dengan anastesi umum dengan respirasi kendali. elektrolit. dan pemeriksaan laboratorium. dan gangguan kerja kardiopulmonal yang umum terjadi pada pasien alkoholik. Dr.

S. Dahlan R 1989. Gasbarrrini. Intensive Care Med.A. P 752-787. 2002. Anestesiologi. 6: 89-97. Armuzzi A. Muhiman M. Kurtz I.R. 3 (9): 1-20. Megarbane B. 7. Diakses tanggal 6 September 2015 5. Borron S. 10. Sunatrio S. Alcohol Intoxication. Available from: www. 2011. In: Bongard F.A. Poisonings and Ingestions. 2005. Thaib MR. Birnbaumer D. 6. Emergency Medicine Practice: An Evidence-Based Approach to Emergency Medicine. Crit Care Med.medscape. McGraw-Hill. Alcohol-Related Emergencies: A New Look At An Old Problem. Balentine J. 2008. Clark B. 2001. 4. Baud F. Third Edition. 2008. Europan Review for Medical and Pharmacological Sciences. 9. Current Recommendations for Treatment of Severe Toxic Alcohol Poisonings. Bagian Anestesiologi dan terapi intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 3: 208-225. Addolorato G. Toxic Alcohol Ingestions: Clinical Features. Pharmacological Approaches to the Management of Alcohol Addiction.3. Diagnosis and Management. 36 . 8. United States of America.J. Clin J Am Soc Nephrol.com. Current Diagnosis and Treatment Critical Care. 31: 189-195. 39(6):1500-1506. Kraut J.R. Moss M.Y.J. Secondary Prevention in the Intensive Care Unit: Does ICU Admission Represent a “Teachable Moment?” .W. Colucciello S. Vintch J. Jakarta. Sue D.

37 .

38 .