Anda di halaman 1dari 10

BAB I LAPORAN KASUS MASTEKTOMI RADIKAL MODIFIKASI MAMAE DEXTRA

DENGAN GENERAL ANESTESI Disusun untuk memenuhi sebagian tugas kepaniteraan
klinik bagian Anastesi di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang Disusun oleh : 1.
ISTIGFARANI 01.211.6421 2. KARINA MEGA 01.211.6428 3. MARLINCA AGUNG R.P.
01.211.6445 Pembimbing : dr. Said Shofwan, Sp.An FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG 2015 HALAMAN
PENGESAHAN Nama : Istigfarani (01.211.6421) Karina Mega (01.211.6428) Marlinca
Agung R. P. (01.211.6445) Fakultas : Kedokteran Umum Universitas : Universitas Islam
Sultan Agung ( UNISSULA ) Tingkat : Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian : Ilmu
Anastesi Judul : Mastektomi Radikal Modifikasi (MRM) mamae dextra dengan anestesi
umum Semarang, Agustus 2015 Mengetahui dan Menyetujui Pembimbing Kepaniteraan
Klinik Bagian Ilmu Anastesi Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang Pembimbing dr.
Said Shofwan, Sp. An BAB I PENDAHULUAN Anestesiologi adalah cabang ilmu
kedokteran yang mendasari berbagai tindakan meliputi pemberian anestesi, penjagaan
keselamatan penderita yang mengalami pembedahan, pemberian bantuan hidup dasar,
pengobatan intensif pasien gawat, terapi inhalasi dan penanggulangan nyeri menahun. Pada
prinsipnya dalam penatalaksanaan anestesi pada suatu operasi terdapat beberapa tahap yang
harus dilaksanakan yaitu pra anestesi yang terdiri dari persiapan mental dan fisik pasien,
perencanaan anestesi, menentukan prognosis dan persiapan pada pada hari operasi.
Sedangkan tahap penatalaksanaan anestesi terdiri dari premedikasi, masa anestesi dan
pemeliharaan, tahap pemulihan serta perawatan pasca anestesi. Ca mamae merupakan
penyakit neoplasma ganas yang berasal dari parenkima dimana sel-sel telah kehilangan
pengendalian dan mekanisme normalnya, sehingga mengalami pertumbuhan yang tidak
normal, cepat, dan tidak terkendali. Salah satu terapi bedah yang dapat dilakukan pada pasien
ca mamae adalah mastektomi radikal modifikasi (MRM). MRM merupakan teknik bedah
dengan mereseksi seluruh kelenjar mamae dan tetap mempertahankan m.pectoralis mayor
dan minor. Pemilihan jenis anestesi untuk MRM ditentukan berdasarkan usia pasien, kondisi
kesehatan dan keadaan umum, sarana prasarana serta keterampilan dokter bedah, dokter
anestesi dan perawat anestesi. . BAB II DASAR TEORI 2.1. Anatomi Dan Fisiologi Mamae
Payudara wanita dewasa terletak di antara kosta kedua dan keenam dan di antara tepi sternum
dan garis midaxilla. Payudara terdiri dari kulit, jaringan subkutan, dan jaringan payudara.
Jaringan payudara termasuk elemen kedua epitel dan stroma. Setiap payudara memiliki
jaringan kelenjar yang terdiri dari 15 hingga 20 lobus yang disokong jaringan ikat fibrosa.
Ruang antara lobus diisi dengan jaringan adiposa, dan perbedaan jumlah jaringan adiposa ini
yan gmenyebabkan perbedaan ukuran payudara. Pasokan darah payudara berasal dari
a.mamae interna dan a.torakal lateral. Drainase limfatik payudara melalui pleksus limfatik
superficial dan pleksus limfatik profunda. Lebih dari 90% drainase limfatik payudara melalui
kelenjar getah bening aksila dengan sisanya melalui kelenjar mamae interna. 2.2. Ca Mamae
Ca mamae merupakan penyakit neoplasma ganas yang berasal dari parenkima dimana sel-sel
telah kehilangan pengendalian dan mekanisme normalnya, sehingga mengalami pertumbuhan
yang tidak normal, cepat, dan tidak terkendali. 2.2.1. Faktor resiko Beberapa faktor resiko
yang memegang peranan penting dalam proses kejadian ca mamae, yaitu : · Orang tua (ibu)
yang pernah menderita ca mamae terutama pada usia relatif muda · Anggota keluarga
sedarah menderita ca mamae · Menderita tumor jinak payudara 2.2.2. Patofisiologi Sel-sel
kanker dibentuk dari sel-sel normal dalam suatu proses rumit yang disebut transformasi, yang
terdiri dari tahap inisiasi dan promosi : a. Fase inisiasi Pada tahap inisiasi terjadi suatu
perubahan dalam bahan genetik sel yang memancing sel menjadi ganas. Perubahan dalam
bahan genetik sel ini disebabkan oleh suatu agen yang disebut karsinogen yang dapat berupa
bahan kimia, virus, radiasi, atau sinar matahari. Kelainan genetik dalam sel atau bahan
lainnya yang disebut promotor menyebabkan sel lebih rentan terhadap suatu karsinogen. b.

2.3. mulai kerja obat yang cepat dan tidak mempunyai efek samping yang merugikan. Selain itu obat tersebut harus tidak toksik. Karbondioksida yang dikeluarkan sering terhisap kembali sehingga dapat terjadi hipoksia. Persiapan Pra Anestesi Pasien yang akan menjalani anestesi dan pembedahan (elektif/darurat) harus dipersiapkan dengan baik. d. 7) retraksi puting sus. 2. Agar anestesi umum dapat berjalan dengan sebaik mungkin. mudah dinetralkan. b. tidak menimbulkan efek samping terhadap organ vital seperti saluran pernapasan atau jantung. sifat anestetika. c. sehingga kesadaran menurun atau hilang. Obat anestesi umum yang ideal mempunyai sifat-sifat antara lain pada dosis yang aman mempunyai daya analgesik relaksasi otot yang cukup. hilangnya rasa sakit. mempunyai batas keamanan yang luas. 8) pembesaran kelenjar getah bening ketiak. Obat anestesi yang masuk ke pembuluh darah atau sirkulasi kemudian menyebar ke jaringan. Komponen trias anestesi yang ideal terdiri dari analgesia. Semi open drop method: Hampir sama dengan open drop. pertimbangan utamanya adalah memilih anestetika ideal. Terapi hormonal 2. cara pemberian mudah. dan sebagainya. dan pada bedah darurat sesingkat mungkin. dan pemakaiannya boros karena zat anestetik menguap ke udara terbuka. Sel yang belum melewati tahap inisiasi tidak akan terpengaruh oleh promosi. b. Sifat anestetika yang ideal antara lain mudah didapat. 3) ulserasi.Fase promosi Pada tahap ini suatu sel yang telah mengalami inisiasi akan berubah menjadi ganas. Kunjungan pra anestesi pada pasien yang akan menjalani operasi dan pembedahan baik elektif dan darurat mutlak harus dilakukan untuk keberhasilan tindakan tersebut. 9) tumor satelit di kulit. Macam-macam Teknik Anestesi a. 2. Terapi A. tidak mudah terbakar. 4) peau d’orange. Pemilihan ini didasarkan pada beberapa pertimbangan yaitu keadaan penderita.2.2. Manifestasi klinis Ca mamae mempunyai gambaran klinis sebagai berikut : 1) terdapat benjolan keras yang lebih terfiksir. hanya untuk mengurangi terbuangnya zat anestetik digunakan masker. dan lain-lain. Open drop method: Cara ini dapat digunakan untuk anestesik yang menguap. jenis operasi yang dilakukan. sehingga udara yang mengandung anestetik dapat digunakan lagi. Adapun tujuan kunjungan pra anestesi adalah: a. maintenance. peralatan sangat sederhana dan tidak mahal. kesadaran cepat kembali. Keuntungannya dalamnya anestesi dapat diatur dengan memberikan kadar tertentu dari zat anestetik. Yang pertama terpengaruh oleh obat anestesi ialah jaringan kaya akan pembuluh darah seperti otak. Operasi ca mamae yang sering dipakai adalah · Mastektomi radikal · Mastektomi radikal modifikasi · Mastektomi total · Mastektomi segmental plus diseksi kelenjar limfe aksila B.3. Udara napas yang dikeluarkan akan dibuang ke udara luar. induksi. 5) discharge dari puting susu. Semi closed method: Udara yang dihisap diberikan bersama oksigen murni yang dapat ditentukan kadarnya kemudian dilewatkan pada vaporizer sehingga kadar zat anestetik dapat ditentukan. hipnotik. Closed method: Cara ini hampir sama seperti semi closed hanya udara ekspirasi dialirkan melalui soda lime yang dapat mengikat CO2.3. stabil.1.3.2. cepat dieliminasi. Dalam memberikan obat-obatan pada penderita yang akan menjalani operasi maka perlu diperhatikan tujuannya yaitu sebagai premedikasi. dan relaksasi otot . Oleh karena itu siperkukan beberapa faktor untuk terjadinya keganasan. Kemoterapi D. Mempersiapkan mental dan fisik secara optimal. 2) tarikan pada kulit di atas tumor. Radiasi C. Kunjungan pra anestesi pada bedah elektif dilakukan 1-2 hari sebelumnya. Seseorang yang memberikan anestesi perlu mengetahui stadium anestesi untuk menentukan stadium terbaik pembedahan itu dan mencegah terjadinya kelebihan dosis. menghasilkan relaksasi otot yang cukup baik. 10) edema. . tanpa efek yang tidak diinginkan. 2. 6) payudara asimetris. Anestesi Umum Anestesi umum adalah tindakan menghilangkan rasa nyeri/sakit secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan dapat pulih kembali (reversibel). Zat anestetik diteteskan pada kapas yang diletakkan di depan hidung penderita sehingga kadar yang dihisap tidak diketahui. dan hipoksia dapat dihindari dengan memberikan volume fresh gas flow kurang dari 100% kebutuhan. murah. dan peralatan serta obat yang tersedia. Untuk menghindarinya dialirkan volume fresh gas flow yang tinggi minimal 3x dari minimal volume udara semenit.4.

Tes fungsi hati pada ikterus 4. uvula. Identifikasi pasien yang terdiri dari nama. Angka mortalitas 68%. menghilangkan rasa khawatir. dilakukan bila ada indikasi : 1. alamat. misal : diazepam. Mallampati II : palatum molle. pethidin e. golongan aminoglikosid. Riwayat penyakit yang sedang/pernah diderita yang dapat menjadi penyulit anestesi seperti alergi. Mallampati IV : palatum durum saja 6. Jantung. tonsilla palatina dan tonsilla pharingeal ii. komplikasi dan perawatan intensif pasca bedah. jantung. untuk melihat di tempat-tempat pungsi vena atau daerah blok saraf regional III. psikiatrik. Tinggi dan berat badan. mencegah muntah. untuk melihat adanya dispneu. Angka mortalitas 2%. Menentukan status fisik dengan klasifikasi ASA (American Society Anesthesiology): ASA I : Pasien normal sehat.3. Premedikasi Anestesi Premedikasi anestesi adalah pemberian obat sebelum anestesi. dan penyakit ginjal. paru. atau tanda regurgitasi. hernia. hipertensi. Untuk memperkirakan dosis obat. ASA VI : Pasien mati otak yang organ tubuhnya akan diambil (didonorkan) Untuk operasi cito. gastrointestinal. memberikan rasa nyaman bagi pasien. penyakit paru kronis (asma bronkhial. Jalan nafas diperiksa untuk mengetahui adanya trismus. ASA IV : Pasien dengan gangguan sistemik berat yang mengancam jiwa. ibu dan anak. obat antihipertensi. adanya jari tabuh. asites. endokrin. dan lain lain.3. Urine : protein. pernafasan. sebagian uvula. Lab rutin : 1. dinding posterior oropharynk.3. diabetes melitus. ASA V : Pasien dengan kemungkinan hidup kecil. Pemeriksaan khusus. Ada pula pemeriksaan mallampati. ronki dan mengi 8. terapi cairan yang diperlukan. Jalan nafas (airway). Pemeriksaan Fisik 1. membuat amnesia. 5. EKG B. misal : diazepam c. biokimiawi. Adapun tujuan dari premedikasi antara lain : a. Angka mortalitas 16%. elektrolit.4. yang dinilai dari visualisasi pembukaan mulut maksimal dan posisi protusi lidah. antidiabetik. deviasi ortopedi dan dermatologi. 4. kesakitan 2. umur. Riwayat kebiasaan sehari-hari yang dapat mempengaruhi tindakan anestesi seperti merokok. EKG pada anak 2. 8. adanya gigi palsu. Pemeriksaan praoperasi anestesi I. gangguan fleksi ekstensi leher. serta suhu tubuh. II. Spirometri pada tumor paru 3. Tindakan operasi hampir tak ada harapan. tidak selalu sembuh dengan operasi. terutama untuk melihat adanya perfusi distal. 9. dinding posterior uvula iii. Misal : insufisiensi fungsi organ. misal : fentanyl. untuk mengevaluasi kondisi jantung 7. Pemeriksaan lab. Riwayat anestesi dan operasi sebelumnya yang terdiri dari tanggal. 3. narkotik 7. Ekstremitas. obat penenang. Mallampati I : palatum molle. Anamnesis 1. Pemeriksaan laboratorium dan penunjang lain A. angina menetap. tekanan darah. 4. Paru-paru. serta jumlah urin selama dan sesudah pembedahan.takut. midazolam d. intoleransi obat. Penilaiannya yaitu: i. minum alkohol. neurologi. pola dan frekuensi pernafasan. pneumonia. massa. hematologi. ginjal. Riwayat obat-obatan yang meliputi alergi obat. Angka mortalitas 98%. antibiotik. dasar uvula iv. Fungsi ginjalpada hipertensi 5. ortopedi dan dermatologi. Abdomen. dll. Tidak diharapkan hidup dalam 24 jam tanpa operasi / dengan operasi. c. misal : . sedimen. Keluhan saat ini dan tindakan operasi yang akan dihadapi. Riwayat keluarga yang menderita kelainan seperti hipertensi maligna. Frekuensi nadi. 2. Mallampati III : palatum molle. Darah 2. Angka mortalitas 38%. ASA III : Pasien dengan gangguan sistemik berat sehingga aktivitas harian terbatas. 5.Merencanakan dan memilih teknik serta obat-obat anestesi yang sesuai dengan fisik dan kehendak pasien. reduksi 3. untuk melihat adanya distensi. misal : diazepam. 2. Keadaan gizi : malnutrisi atau obesitas 3. 6. b. kelainan bedah terlokalisir. tanpa kelainan faali. kardiovaskular. jenis pembedahan dan anestesi. penyakit jantung. memberikan analgesia. Keadaan psikis : gelisah. sianosis. dan psikiatris. keadaan gigi geligi. Foto rongten ( thoraks ) 4. Pemeriksaan mallampati sangat penting untuk menentukan kesulitan atau tidaknya dalam melakukan intubasi. ASA ditambah huruf E (Emergency) terdiri dari kegawatan otak. ASA II : Pasien dengan gangguan sistemik ringan sampai dengan sedang sebagai akibat kelainan bedah atau proses patofisiologis. 2. AGD. infeksi kulit. bronkhitis). dan obat yang sedang digunakan dan dapat menimbulkan interaksi dengan obat anestetik seperti kortikosteroid. Riwayat berdasarkan sistem organ yang meliputi keadaan umum.

ondansetron f. namun . Sebagai analgesik. Lamanya efek depresi nafas fentanil lebih pendek dibanding meperidin. suatu opioid yang poten dan sangat cepat onsetnya. dan sesak nafas. atau intravena.5 mcg/kgBB). menekan reflek-reflek yang tidak diinginkan. Sulfas atropin Atropin dapat mengurangi sekresi dan merupakan obat pilihan utama untuk mengurangi efek bronkial dan kardial yang berasal dari perangsangan parasimpatis. misal : sulfas atropin dan hiosin. b. Obat-obatan Premedikasi Pada kasus ini digunakan obat premedikasi : a. Pada kasus ini digunakan obat induksi : a. efek lainnya adalah melemaskan tonus otot polos organ-organ dan menurunkan spasme gastrointestinal. Propofol memiliki kecepatan onset yang sama dengan barbiturat intravena lainnya. riwayat penggunaan obat tertentu yang berpengaruh terhadap jalannya anestesi. konstipasi. Dosis yang dianjurkan 2. 2. riwayat hospitalisasi sebelumnya. baik akibat obat atau anestesikum maupun tindakan lain dalam operasi. Disamping itu. berat badan. memperlancar induksi. Dengan demikian maka pemilihan obat premedikasi yang akan digunakan harus selalu dengan mempertimbangkan umur pasien. misal pethidin h. intramuskular. derajat kecemasan. Bahkan sekarang ini telah ditemukan remifentanil. Karena itu sebaiknya obat ini tidak digunakan untuk anestesi regional. Opioid dosis tinggi yang deberikan selama operasi dapat menyebabkan kekakuan dinding dada dan larynx. yaitu suatu neuroleptik yang biasanya digunakan bersama sebagai anestesi IV. dengan demikian dapat mengganggu ventilasi secara akut. misal : tracurium. Efek samping obat ini berupa hipotensi. dosis fentanyl dan sufentanil yang lebih rendah telah digunakan sebagai premedikasi dan sebagai suatu tambahan baik dalam anestesi inhalasi maupun intravena untuk memberikan efek analgesi perioperatif.2% phosphatide telur dan 2. Maka dari itu. Efek ini di antagonis oleh nalokson. Efek euphoria dan analgetik fentanil diantagonis oleh antagonis opioid. Pemberiannya harus hati-hati pada penderita dengan suhu diatas normal dan pada penderita penyakit jantung.droperidol. Dosis tinggi fentanil menimbulkan kekakuan yang jelas pada otot lurik.25-0.3. potensinya diperkirakan 80 kali morfin. Induksi Induksi merupakan saat dimasukkannya zat anestesi sampai tercapainya stadium pembedahan yang selanjutnya diteruskan dengan tahap pemeliharaan anestesi untuk mempertahankan atau memperdalam stadium anestesi setelah induksi. bronkospasme. macam operasi. 1. Premedikasi diberikan berdasar atas keadaan psikis dan fisiologis pasien yang ditetapkan setelah dilakukan kunjungan prabedah.6-diisoprophylphenol) adalah campuran 1% obat dalam air dan emulsi yang berisi 10% soya bean oil. meski juga dapat digunakan sebagai anelgesi pasca operasi.5. Fentanyl dan droperidol (suatu butypherone yang berkaitan dengan haloperidol) diberikan bersama-sama untuk menimbulkan analgesia dan amnesia dan dikombinasikan dengan nitrogen oksida memberikan suatu efek yang disedut sebagai neurolepanestesia. yang mungkin disebabkan oleh efek opioid pada tranmisi dopaminergik di striatum. termasuk sufentanil (0. Digunakan untuk mencegah dan mengobati mual dan muntah pasca bedah. Ondensetron Merupakan antagonis reseptor serotonin 5-HT 3 selektif. c.5 mg. Setelah penggunaan obat ini dalam dosis terapetik teradapat perasaan kering di rongga mulut dan penglihatan kabur. misal : pethidin g. Fentanyl biasanya digunakan hanya untuk anestesi. perkiraan lamanya operasi. mengurangi jumlah obat-obat anesthesia.25 mg dan 0. status fisik. sebagaimana meningkatnya kebutuhan opioid potoperasi berhubungan dengan perkembangan toleransi akut. i. tetapi secara tidak bermakna diperpanjang masanya atau diperkuat oleh droperidol. telah digunakan untuk meminimalkan depresi pernapasan residual. Fentanyl Fentanil merupakan salah satu preparat golongan analgesik opioid dan termasuk dalam opioid potensi tinggi dengan dosis 100-150 mcg/kgBB. sulfas atropin. 1.25% glyserol. dan rencana anestesi yang akan digunakan2. Atropin tersedia dalm bentuk atropin sulfat dalam ampul 0.5 mg/kgBB untuk induksi tanpa premedikasi3. Diberikan secara suntikan subkutis. Propofol Propofol (2. riwayat pemakaian obat anestesi sebelumnya. mengurangi sekresi kelenjar saluran nafas. Obat ini tersedia dalam bentuk larutan untuk suntik dan tersedia pula dalam bentuk kombinasi tetap dengan droperidol1.

N2O dan/atau anestetik inhalasi lain. Propofol digunakan baik sebagai induksi maupun mempertahankan anestesi dan merupakan agen pilihan untuk operasi bagi pasien rawat jalan. tetapi tidak menyebabkan depolarisasi. Propofol menurunkan tekanan arteri sistemik kira-kira 80% tetapi efek ini disebabkan karena vasodilatasi perifer daripada penurunan curah jantung. oleh karena itu pada operasi abdomen dan ortopedi perlu tambahan dengan zat relaksasi otot. Propofol cepat dimetabolisme di hati 10 kali lebih cepat daripada thiopenthal pada tikus. Atrakurium Basylate Merupakan obat pelumpuh otot nondepolarisasi berikatan dengan reseptor nikotinik-kolinergik. tidak mudah terbakar/meledak. sehingga asetilkolin tidak dapat bekerja. Propofol dapat bermanfaat bagi pasien dengan gangguan kemampuan dalam memetabolisme obat-obat anestesi sedati yang lainnya. dll. berbau manis dan tidak iritatif. Atrakurium memiliki struktur benzilisoquinolin yang memiliki beberapa keuntungan antara lain metabolisme di dalam darah melalui suatu reaksi yang disebut eliminasi hoffman yang tidak tergantung fungsi hati dan gfungsi ginjal. Gas ini tidak mempunyai sifat merelaksasi otot. Hipotensi terjadi sebagai akibat depresi langsung pada otot jantung dan menurunnya tahanan vaskuler sistemik. aritmia. Terhadap SSP menimbulkan analgesi yang berarti. Propofol merupakan obat induksi anestesi cepat. Pada susunan syaraf pusat adanya sakit kepala. karena gas ini tidak larut dalam darah. tidak mempunyai efek akumulasi pada pemberian berulang. Hipoksia difusi dapat dicegah dengan pemberian oksigen konsentrasi tinggi beberapa menit sebelum anestesi . kebingungan. lebih berat dari udara. pusing. Aliran darah ke otak. Depresi nafas terjadi pada masa pemulihan. tidak berasa. Klirens tubuh total anestesinya lebih besar daripada aliran darah hepatik. tetapi jarang disertai plebitis atau trombosis. dan tidak bereaksi dengan soda lime absorber (pengikat CO2). dan waktu paruh redistribusinya kira-kira 30-60 menit. Pada sistem kardiovaskuler berupa hipotensi. Obat ini didistribusikan cepat dan dieliminasi secara cepat. Pada dosis yang rendah propofol memiliki efek antiemetik. Tekanan sistemik kembali normal dengan intubasi trakea. bronkospasme. Propofol tidak mempunyai efek analgesik. Pemeliharaan a. Efek samping propofol pada sistem pernafasan adanya depresi pernafasan. apnea. tidak menyebabkan perubahan fungsi kardiovaskuler yang bermakna.pemulihannya lebih cepat dan pasien dapat diambulasi lebih cepat setelah anestesi umum. Pemberian propofol (2mg/kg) intravena menginduksi anestesi secara cepat. Dibandingkan dengan tiopental waktu pulih sadar lebih cepat dan jarang terdapat mual dan muntah. euforia. Penggunaan propofol sebagai sedasi pada anak kecil yang sakit berat (kritis) dapat memicu timbulnya asidosis berat dalam keadaan terdapat infeksi pernapasan dan kemungkinan adanya skuele neurologik. Rasa nyeri kadang-kadang terjadi di tempat suntikan. Propofol tidak merusak fungsi hati dan ginjal. takikardi. Keuntungan propofol karena bekerja lebih cepat dari tiopental dan konvulsi pasca operasi yang minimal. Selain itu.3. Mempunyai sifat anestesi yang kurang kuat. bradikardi. hipertensi. waktu paruh distribusinya adalah 2-8 menit. Propofol dapat menyebabkan turunnya tekanan darah yang cukup berarti selama induksi anestesi karena menurunnya resitensi arteri perifer dan venodilatasi. 2. metabolisme otak dan tekanan intrakranial akan menurun. hal ini terjadi karena Nitrous Oksida mendesak oksigen dalam ruangan-ruangan tubuh.6. sehingga eliminasinya melibatkan mekanisme ekstrahepatik selain metabolismenya oleh enzim-enzim hati. tetapi dapat melalui stadium induksi dengan cepat. Anestesi dapat dipertahankan dengan infus propofol yang berkesinambungan dengan opiat. b. hanya menghalangi asetilkolin menempatinya. dengan kurang dari 1% diekskresi dalam bentuk aslinya. Propofol diekskresikan ke dalam urin sebagai glukoronid dan sulfat konjugat. Setelah pemberian propofol secara intravena. dan laringospasme. Nitrous Oksida (N2O) Merupakan gas yang tidak berwarna. Pada daerah penyuntikan dapat terjadi nyeri sehingga saat pemberian dapat dicampurkan lidokain (20-50 mg). pasien merasa lebih baik setelah postoperasi karena propofol mengurangi mual dan muntah postoperasi. secara subjektif. Obat ini juga efektif dalam menghasilkan sedasi berkepanjangan pada pasien dalam keadaan kritis.

Daerah otak yang spesifik dipengaruhi oleh obat anestesi inhalasi termasuk reticulat activating system. Obat anestesi inhalasi juga mendepresi transmisi rangsang di spinal cord. Tidak iritasi. Tabel 1. cerebral cortex. Sedang = 6 ml/kgBB/jam Berat = 8 ml/kgBB/jam. c. penghisapan isi lambung. batuk. SS Jenis Kelamin : Perempuan Usia : 38 th 5 bl 8 hr Berat Badan : 43 kg Agama : Islam Alamat : Mangunrejo. Mempertahankan jalan nafas agar tetap bebas. Mencegah kemungkinan aspirasi lambung. stabil disimpan di tempat biasa. Setelah operasi Pemberian cairan pasca operasi ditentukan berdasarkan defisit cairan selama operasi ditambah kebutuhan sehari-hari pasien. perdarahan. elektrolit dan darah yang hilang selama operasi.3. tetapi sekarang sangat luas pemakaiannya. Selama operasi Dapat terjadi kehilangan cairan karena proses operasi. Pemulihan Pasca anestesi dilakukan pemulihan dan perawatan pasca operasi dan anestesi yang biasanya dilakukan di ruang pulih sadar atau recovery room yaitu ruangan untuk observasi pasien pasca atau anestesi. dimana cara Steward mula- mula diterapkan untuk pasien anak-anak. Pemakaian ventilasi yang lama. Tidak terlihat adanya degradasi sevoflurane dengan asam kuat maupun panas. Pemberian cairan operasi dibagi : a. muntah. c. di mana perdarahan kurang dari 10 % EBV maka cukup digantikan dengan cairan kristaloid. IDENTITAS PASIEN Nama : Ny. b. cuneate nucleus. Mengatasi obstruksi laring akut. olfacatory cortex. Setiap kenaikan suhu 10 Celcius kebutuhan cairan bertambah 10-15 %. 2. Beberapa cara skoring yang biasa dipakai untuk anestesi umum yaitu cara Aldrete dan Steward. tidak iritasi. Mengatasi syok dan kelainan yang ditimbulkan karena terapi yang diberikan. Intubasi Endotrakeal Suatu tindakan memasukkan pipa khusus ke dalam trakea.3. b. Kebutuhan cairan pada dewasa untuk operasi : Ringan = 4 ml/kgBB/jam. 2. Ruang pulih sadar merupakan batu loncatan sebelum pasien dipindahkan ke bangsal atau masih memerlukan perawatan intensif di ICU. Pra operasi Dapat terjadi defisit cairan karena kurang makan. Kebutuhan cairan untuk dewasa dalam 24 jam adalah 2 ml / kg BB / jam. e. Apabila perdarahan lebih dari 10 % maka dapat dipertimbangkan pemberian plasma / koloid / dekstran. penumpukan cairan pada ruang ketiga seperti pada ileus obstruktif. induksi lancar dan cepat serta pemulihan yang cepat setelah obat dihentikan. Intubasi trakea bertujuan untuk :1 a.7. b. dan tangis · Sesak atau pernapasan terbatas · Henti napas 2 1 0 3 Tekanan Darah · Berubah sampai 20 % dari prabedah · Berubah sampai 20-50 % dari prabedah · Berubah sampai > 50 % dari prabedah 2 1 0 4 Kesadaran · Sadar baik dan orientasi baik · Sadar setelah dipanggil · Tak ada tanggapan terhadap rangsangan 2 1 0 5 Warna Kulit · Kemerahan · Pucat agak suram · Sianosis 2 1 0 BAB III LAPORAN KASUS A. puasa. Penggunaan biasanya dipakai perbandingan atau kombinasi dengan oksigen. 70% : 30% atau 50% : 50%3. Terapi cairan perioperatif bertujuan untuk1. Bila terjadi perdarahan selama operasi. Memenuhi kebutuhan cairan. a. b. luka bakar dan lain-lain. termasuk untuk orang dewasa.8. Mempermudah pemberian anestesi.9. Terapi Cairan Prinsip dasar terapi cairan adalah cairan yang diberikan harus mendekati jumlah dan komposisi cairan yang hilang. Untuk memindahkan pasien dari ruang pulih sadar ke ruang perawatan perlu dilakukan skoring tentang kondisi pasien setelah anestesi dan pembedahan. Penawangan Grobogan No. RM : 01244557 Diagnosis : Ca mamae . Sevoflurane Seoflurane merupakan suatu cairan yang jernih. terutama pada level dorsal horn interneuron yang bertanggung jawab terhadap transmissi rasa sakit. dan hippocampus. f. Kriteria Skor 1 Aktivitas Motorik · Mampu menggerakan empat ekstremitas · Mampu menggerakan dua ekstremitas · Tidak mampu menggerakan ekstremitas 2 1 0 2 Respirasi · Mampu napas dalam. Sedangkan untuk regional anestesi digunakan skor Bromage.selesai. Aldrete Scoring System No. Sevoflurane bekerja cepat. Mempermudah penghisapan sekret trakheobronkial. d.3. sehingga jalan nafas bebas hambatan dan nafas mudah dikendalikan. tidak berwarna tanpa stabiliser kimia. Penggunaan dalam anestesi umumnya dipakai dalam kombinasi N2O : O2 adalah sebagai berikut 60% : 40% . Dengan demikian pasien pasca operasi atau anestesi dapat terhindar dari komplikasi yang disebabkan karena operasi atau pengaruh anestesinya. 2.

LAPORAN ANESTESI 1. respirasi 20x/menit.60-0.k. Riwayat penyakit dahulu : 1) Riwayat hipertensi disangkal 2) Riwayat asma disangkal 3) Riwayat penyakit jantung disangkal 4) Riwayat penyakit paru disangkal 5) Riwayat DM disangkal 6) Riwayat stroke disangkal 7) Riwayat kejang disangkal 8) Riwayat penyakit maag disangkal 9) Riwayat penyakit ginjal disangkal 10) Riwayat alergi makanan dan obat disangkal d. b) Palpasi : Pada payudara kanan terdapat masa padat. Respirasi : Spontan l. Dari hasil anamnesis.0 135-147 mmol/L Kalium 4.9-11. SS. terfiksir.2 ribu/uL. keras. Penatalaksanaan Anestesi a. Tujuan puasa untuk mencegah terjadinya aspirasi isi lambung karena regurgitasi atau muntah pada saat dilakukannya tindakan anestesi akibat efek samping dari obat.dextra B. Pemberian maintenance cairan sesuai dengan berat badan pasien yaitu 2cc/kgBB/jam. pukul 12. Sehingga kebutuhan cairan yang harus dipenuhi selama 6 jam ini adalah 516 cc/6jam. Pasien dikirim dari bangsal ke ruang IBS. Induksi : Fentanyl 0. Jenis Pembedahan : Mastektomi Radikal Modifikasi (MRM) b. Mulai Operasi : pukul 23.07 3.5-5 mmol/L Chloride 110.5 9. Diagnosis Pra Bedah Ca mamae dextra 2. Informed Conset Pembiusan Dilakukan operasi dengan general anestesi dengan status ASA I F.sevoflurane j. Riwayat penyakit sekarang : Pasien datang ke poli bedah RSISA dengan keluhan nyeri di payudara kanan. Intravena fluid drip (IVFD) RL 20 tpm b. Cairan Durante Operasi : RL n .(C Pernafasan : 20 x/menit Status Lokalis Pemeriksaan payudara a) Inspeksi : Pada payudara kanan terdapat benjolan tidak tegas. Informed Consent Operasi d. Dari pemeriksaan laboratorium hematologi yang dilakukan tanggal 14 Agustus 2015 dengan hasil: Hb 12. Selesai operasi : Pasien. leukosit 4.10 f.25 mg Ondancetron 4 mg g.00 e. Maintanance : O2. PEMERIKSAAN PENUNJANG · Laboratorium Pemeriksaan 14- 08-2015 Nilai normal Hematologi Hemoglobin 12. Penatalaksanaan Preoperasi a Infus RL 500 cc 4. Pro MRM c. D. Tampak ulserasi pada daerah benjolan.2 3.1 95-105 mmol/L Ureum 16. suhu 36OC.50 WIB dilakukan pemasangan NIBP dan O2 dengan hasil TD 120/78 mmHg. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang disimpulkan bahwa pasien masuk dalam ASA I. C.35. N2O.7 25-35 detik Trombosit 245 150-440 ribu/L Waktu protombin 9. Dilakukan injeksi sulfas atropin 0.1 g/dl.25 mg dan ondancentron 4 mg.1 11. Medikasi tambahan : Ketorolac 30 mg . sehingga kebutuhan per jam dari penderita adalah 86 cc/jam.i.63 0. Nadi 80x/menit. alergi dan riwayat penyakit yang sama dengan pasien disangkal. 38 tahun datang ke ruang operasi untuk menjalani operasi MRM pada tanggal 15 Agustus 2015 dengan diagnosis pre operatif ca mamae dextra. dan SpO2 99%. Posisi : Supine m. Riwayat penyekit keluarga: Riwayat asma. Tampak retraksi puting susu.05 mg Propofol 100 mg Farelac 50 mg h.0 33-45 % APTT 25. berada di 4 kuadran kanan bawah dan kuadran kiri atas melewati puting susu. Ny.6 detik Kimia Klinik Natrium 138.90 mg/dL GDS 98 75-110 mg/dL Seroimmunologi HbsAg Negatif Negatif Gol. Pasien masuk keruang OK 1 pada pukul 21.9 10-50 mg/dL Creatinin 0. Informasi pasien. Relaksasi : . Pemeriksaan fisik dari tanda vital didapatkan tekanan darah 120/80 mmHg. Jenis Anestesi : General Anestesi c. Darah AB E. nadi 100x/menit. trombosit 245 ribu/uL dan HBsAg (-). ANAMNESIS Anamnesis dilakukan tanggal 12 Agustus 2015. Sebelum dilakukan operasi pasien dipuasakan selama 6-8 jam.7-15.6-11. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan yaitu : a. Premedikasi : Sulfas Atropin 0. . Konsul ke Bagian Anestesi e. a. Mulai Anestesi : pukul 22. Operasi MRM dilakukan pada tanggal 15 Juli 2015. Hematoktit 35% . Diagnosis Pasca Bedah Ca mamae dextra 3. Teknik Anestesi : General Anestesi dengan intubasi Endotraceal Tube d.5 g/dL Leukosit 4.0 ribu/uL Hematokrit 35. Persiapan operasi dilakukan pada tanggal 14 Agustus 2015. Penggantian puasa juga harus dihitung dalam terapi cairan ini yaitu 6 x maintenance. Keluhan utama : Nyeri di mamae kanan b.obat anastesi yang diberikan sehingga refleks laring mengalami penurunan selama anestesia. PEMERIKSAAN FISIK Dilakukan pada 14 Agustus 2015 GCS : E4V5M6 = 15 Vital Sign : Tekanan darah : 120/80 mmHg Nadi : 100 x/menit Suhu : 36. Dari anamnesis terdapat keluhan nyeri di payudara kanan. KESIMPULAN ACC ASA I G. terdapat benjolan ± 3 tahun pada payudara kanan c. golongan darah AB.

jalan nafas dalam keadaan baik. Pemeriksaan laboratorium darah Permasalahan yang ada adalah : · Bagaimana memperbaiki keadaan umum penderita sebelum dilakukan anestesi dan operasi. Penggunaan premedikasi pada pasien ini betujuan untuk menimbulkan rasa nyaman pada pasien dengan pemberian analgesia dan mempermudah induksi dengan menghilangkan rasa khawatir. C.00 WIB. pernafasan spontan dan adekuat serta kesadaran compos mentis. Efek terhadap kardiovaskular pun relatif stabil dan jarang menyebabkan aritmia. BAB IV PEMBAHASAN Dari hasil kunjungan pra anestesi baik dari anamnesis.10 WIB. Lalu mesin anestesi diubah ke manual supaya pasien dapat melakukan nafas spontan. Selama di ruang pemulihan. dengan pemantauan akhir TD 117/75mmHg. Selanjutnya pasien ini diberikan fentanyl 0. Pada pasien ini teknik mastektomi yang digunakan adalah mastektomi radikal modifikasi menggunakan electocauter dimana perdahan durante operasi dan post operasi lebih sedikit karena pemotongan jaringan maupun hemostasis dilakukan dalam satu prosedur. Dalam mempersiapkan operasi pada penderita perlu dilakukan : · Pemasangan infus untuk terapi cairan sejak pasien masuk RS. pemeriksaan fisik akan dibahas masalah yang timbul. PERMASALAHAN DARI SEGI BEDAH 1. Pada pasien ini diberikan cairan Ringer Laktat 20 tetes per menit. Tekanan darah selama 15 menit pertama pasca operasi stabil yaitu 118/70 mmHg. maka perlu dipersiapkan jenis dan teknik anestesi yang aman untuk operasi yang lama. antara lain : a. Gas sevo dihentikan karena pasien sudah nafas spontan dan adekuat. Pemeriksaan pra anestesi Pada penderita ini telah dilakukan persiapan yang cukup. maka dokter anestesi memilih untuk dilakukan intubasi endotrakeal agar tidak mengganggu operator sepanjang operasi dilakukan dan supaya pasien tetap dianestesi dan dapat bernafas dengan adekuat. oksigen sekitar 3 L/menit. · Macam dan dosis obat anestesi yang bagaimana yang sesuai dengan keadaan umum penderita. Total cairan yang diberikan pada pasien ini sejumlah 750 cc Ringer Laktat. Iatrogenik (resiko kerusakan organ akibat pembedahan) Dalam mengantisipasi hal tersebut. maka dialirkan sevofluran 2 vol%. pembedahan selesai dilakukan. 2. dan N2O 1 L/menit sebagai anestesi rumatan. Kemungkinan perdarahan durante dan post operasi. Pasien kemudian dibawa ke ruang pemulihan (Recovery Room). Setelah pasien di intubasi dengan mengunakan endotrakheal tube (ET). dan baunya pun lebih harum dan tidak merangsang jalan napas sehingga digemari untuk induksi anestesi dibanding gas lain (halotan). injeksi ketorolac 30 mg diindikasikan untuk penatalaksanaan jangka pendek terhadap nyeri akut sedang sampai berat setelah prosedur pembedahan. dan farelac 50 mg untuk merelaksasikan otot- otot pernapasan. dan SpO2 99%. Pasien disungkupkan dengan sungkup muka yang telah terpasang pada mesin anestesi yang menghantarkan gas (sevoflurane) dengan ukuran 2vol% dengan oksigen dari mesin ke jalan napas pasien sambil melakukan bagging selama kurang lebih 2 menit untuk menekan pengembangan paru dan juga menunggu kerja dari pelemas otot sehingga mempermudah dilakukannya pemasangan endotrakheal tube. Kemudian dilakukan ekstubasi endotracheal secara cepat untuk menghindari penurunan saturasi lebih lanjut. Pada pukul 23. Puasa lebih dari 6 jam (pasien sudah puasa selama 6 jam) b. Operasi selesai tepat jam. PERMASALAHAN DARI SEGI ANESTESI 1.05 mcg. baik dari segi bedah maupun anestesi. Perdarahan pada operasi ini kurang lebih 300 cc. Sesaat setelah operasi selesai gas anestesi diturunkan untuk menghilangkan efek anestesi perlahan-lahan dan untuk membangunkan pasien. juga perlu dipersiapkan darah untuk mengatasi perdarahan. terhitung sejak pasien mulai puasa hingga masuk ke ruang operasi. propofol 80 mg. Puasa paling tidak . Juga diharapkan agar pasien dapat melakukan nafas spontan saat operasi selesai. Penggunaan sevofluran disini dipilih karena sevofluran mempunyai efek induksi dan pulih dari anestesi lebih cepat dibanding dengan gas lain. sebelum selesai pembedahan dilakukan pemberian analgetik. Pembedahan dilakukan selama 55 menit dengan perdarahan ± 300 cc. Pada pukul 23.Pemberian sulfas atropin bertujuan untuk mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus sementara ondancentron bertujuan untuk anti emetik. Karena dilakukan operasi MRM. A. Nadi 85x/menit.

4. Jakarta: CV Infomedia. BAB VI DAFTAR PUSTAKA 1. Anestetik Umum. 6. NY : Elsevier 4. menyebabkan air keluar dari sel. Saat operasi = 350 cc Total cairan yang masuk = 850 cc BAB V KESIMPULAN Pemeriksaan pra anestesi memegang peranan penting pada setiap operasi yang melibatkan anestesi. American Cancer Society. Pada makalah ini disajikan kasus penatalaksanaan anestesi umum pada operasi mastektomi radikal modifikais pada penderita perempuan.5. Defisit cairan karena puasa 6 jam (2 cc/jam x 43 kg x 6 jam) = 516 cc Cairan ini sudah terpenuhi karena walaupun pasien puasa tapi tetap mendapat infus. 2008. Pemberian Farelax 50 mg bolus sebagai pelemas otot untuk mempermudah pemasangan Endotracheal Tube. Obat anestesi ini mempunyai efek kerjanya yang cepat dan dapat dicapai dalam waktu 30 detik. Teknik anestesinya semi closed inhalasi dengan pemasangan endotrakheal tube. Cullen. Bagian Anastesiologi dan Terapi Intensif. dkk. 5. Handbook of Clinical Anesthesia. Untuk mencapai hasil maksimal dari anestesi seharusnya permasalahan yang ada diantisipasi terlebih dahulu sehingga kemungkinan timbulnya komplikasi anestesi dapat ditekan seminimal mungkin. M. Breast cancer facts and figures.. Digunakan Propofol 80 mg bolus karena memiliki efek induksi yang cepat. Cahalan. Natrium laktat hipertonik Berdasarkan kepustakaan disebutkan bahwa dehidrasi isotonik merupakan jenis dehidrasi yang paling sering terjadi (80%). 5. 5th edition. USA. Dalam kasus ini selama operasi berlangsung tidak ada hambatan yang berarti baik dari segi anestesi maupun dari tindakan operasinya. Hines. 2006. Brash. 2. Wirdjoatmodjo. Handoko.2006. P. Jakarta: Gaya baru. Jakarta : Balai Penerbit FKUI 7. Connoly.. b.. B. Selain itu juga propofol dapat menghambat transmisi neuron yang hancur oleh GABA. · Jenis anestesi yang dipilih adalah anestesi umum karena pada kasus ini diperlukan hilangnya kesadaran. serta Sevofluran 2 vol %. 20 . Terdapat tiga jenis cairan berdasarkan tujuan terapi. sehingga bahaya muntah dan aspirasi dapat dihindarkan. World Wide Web. USA : Lippincott Williams & Wilkins 2. Breast Cancer Staging. Tonisitas CIS. FKUI. dkk.0.E. K. R.L. rasa sakit. · Selama operasi dipasang ET teknik cepat. Premedikasi a. usia tahun. 2009. yaitu: 1. dan fentanyl.F.bikarbonat. menyebabkan air berdifusi ke dalam sel. M. M. (1989).K. Pada pasien ini diberikan resusitasi cairan berupa Ringer Laktat dengan tujuan untuk memperbaiki volume sirkulasi dan pemilihan cairan ini berdasarkan pertimbangan kompartemen yang mengalami defisit. dengan diagnosis ca mamae dextra yang dilakukan teknik anestesi umum dengan ET no. Misal: NaCl 3 %. Pemberian fentanyl 0. Anestesiologi dan Reanimasi Modul Dasar untuk Pendidikan S1 Kedokteran. S. Muhardi. Dalam :Farmakologi dan Terapi FKUI. CA Cancer Journal. Perdarahan yang terjadi ( 300 cc EBV = 70 cc x 43 kg = 3010 cc.25 mg bolus. 2002. 6th edition. Maintenance Dipakai N2O dan O2 dengan perbandingan 2L/2L. R. Pra anestesi = 500 cc 2). 8.05 mcg b. edisi kedua. amnesia dan mencegah resiko aspirasi dengan menggunakan premedikasi sulfas atropin . Selama di ruang pemulihan juga tidak terjadi hal yang memerlukan penanganan serius. Cairan rumatan (maintenance) Bersifat hipotonis: konsentrasi partikel terlarut < konsentrasi cairan intraseluler (CIS). Sodium. Jadi perkiraan kehilangan darah = /3010 x 100 % = Cairan yang sudah diberikan : 1). Stoelting’s Anesthesia and Co-existing Disease. dengan distribusi dan eliminasi yang cepat. Anestesiologi.K. James. ondensetron. c.. Stock. 3. b. Pemeriksaan yang teliti memungkinkan kita mengetahui kondisi pasien dan memperkirakan masalah yang mungkin timbul sehingga dapat mengantisipasinya. Untuk mempertahankan kestabilan hemodinamik pada pasien diberikan sulfas atropin 0.C. 1995. status fisik ASA I. menuju daerah dengan konsentrasi lebih tinggi Tonisitas > 295 mOsm/kg.. Terapi Cairan Perhitungan kebutuhan cairan pada kasus ini adalah ( Berat Badan 43 kg ) a.G. 3. Marschall. 2000. Singletary. Tony. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.. 56:37-47. Untuk mengurangi rasa mual dan muntah pasca bedah maka diberikan ondensetron 4 mg bolus. edisi ke. Petunjuk Praktis Anestesiologi.4. Latief. Induksi a. Mannitol..6 jam untuk mengosongkan lambung. Stoelting. K. Secara umum pelaksanaan operasi dan penanganan anestesi berlangsung dengan baik. SE.