Anda di halaman 1dari 9

Definisi Bid'ah

1. Bid‘ah Secara Etimologi (Bahasa)

Ibnu Manzhur berkata: “Bada‘asy syai-a, yabda‘uhu bad‘an wabtada‘ahu; artinya
menciptakan sesuatu atau mengawali penciptaan sesuatu. Badda‘ar rakiyyah, artinya
menggali sumur dan membuatnya. Al-Badii‘u dan al-bid‘u, artinya sesuatu yang menjadi
awal permulaan.

Dalam al-Qur-an disebutkan:

‫س ِل‬ ُّ َ‫قُ ْل َما ُكنتُ ِب ْدعا ً ِ ِّمن‬
ُ ‫الر‬
“Katakanlah: ‘Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara Rasul-Rasul.’” (QS. Al-Ahqaaf: 9)

Maksudnya, aku (Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam) bukanlah Rasul pertama yang
diutus; melainkan banyak Rasul-Rasul sebelumku yang telah diutus pula.

Terdapat ungkapan: ‘Fulaanun bid‘in fii hadzal ‘amri,’ yang artinya Fulan yang pertama kali
melakukan perkara ini, tidak ada seorang pun yang mendahuluinya. Maka dari itu, kata
abda‘a, ibtada‘a, maupun tabadda‘a bermakna melakukan perbuatan bid‘ah.

Pernyataan ini sesuai dengan firman Allah Ta'ala :

ُ َ‫َو َر ْهبَانِيَّةً ا ْبتَد‬
‫عوهَا‬
‘Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah.’ (QS. Al-Hadiid: 27)

Ru’bah berkata dalam sya‘irnya:

andaikata engkau benar bertakwa dan taat kepada Allah

maka tidaklah benar engkau ada-adakan perbuatan bid‘ah

’ [HR. Al-Baqarah: 117) Yakni. Lafazh badda‘ahu berarti menjatuhkan vonis bid‘ah atas seseorang. Kata siqaa‘u badii‘un. Kalimat Abda‘atil ibilu berarti unta itu berlutut di tengah jalan karena lemah. sakit. sebagaimana disebutkan dalam firman- Nya: ِ ‫ت َواأل َ ْر‬ ‫ض‬ ِ ‫س َم َاوا‬ َّ ‫بَدِي ُع ال‬ ‘Allah pencipta langit dan bumi. atau letih. maka tolong angkut aku. arti lafazh al-ibdaa’ adalah kelemahan yang disebabkan oleh kepincangan atau cacat. Boleh juga dimaknai dengan mubdi’ (yang mengadakan).’ yang artinya hewan tunggangan seseorang keletihan atau mogok (tidak dapat berjalan lagi). 1893)] . Adapun Abda’ta syai-a. sesungguhnya hewan tungganganku mogok. Dalam sebuah hadits disebutkan: ‫اح ِم ْلنِي‬ َ ‫ ِإنِِّي أ ُ ْب ِد‬،ِ‫س ْو َل هللا‬ ْ َ‫ع ِب ْي ف‬ َّ ‫أَ َّن َر ُجالً أَتَى النَّ ِب‬ ُ ‫ يَا َر‬:‫ي فَقَا َل‬ “Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam dan berkata: ‘Wahai Rasulullah. artinya tempat air yang baru. Menurut satu pendapat. yakni berhenti. sehingga menyebabkan orang itu tidak bisa melanjutkan perjalanan karena punggung tunggangannya lelah atau tiba-tiba mendekam. Kitab “al-Imaarah”. artinya dia (perempuan) letih dan lemah. Allah adalah Yang Maha Mencipta lagi Maha Mengadakan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Dengan demikian. yang menciptakan dan yang mengadakan keduanya dari ketiadaan. atau. yang bermakna Yang menciptakan dan mengadakan sesuatu dari ketiadaannya. Allah Ta'ala adalah Al-Badii’ (Yang Maha Mencipta).’ (QS. Dialah pencipta pertama sebelum segala sesuatu ada. Al-Badii’ adalah salah satu asma (nama) Allah. no. Abda‘at hiya. Terdapat pernyataan: ‘Ubdi‘a ubdi‘a bihi wa abda‘a. makna asal dari kata bad‘al khalqa artinya yang memulai penciptaan makhluk. Muslim dalam Shahiih-nya (III/1506. kalimat ini berarti kamu membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya.

Ibnul Atsir dalam kitab an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits wal Aatsar.” [Lihat Lisaanul ‘Arab karya Ibnul Manzhur (VIII/6-8)]. an-Nawawi dalam Syarh Shahiih Muslim. baik yang terpuji maupun yang tercela. yaitu segala sesuatu yang diciptakan tanpa ada contoh sebelumnya. perjalanan orang itu terputus karena hewan tunggangannya keletihan. terjadinya sesuatu di luar dugaan atau ia mengalami sesuatu di luar kebiasaan. juga merupakan sesuatu yang baru mengingat kebiasaan unta adalah terus-menerus berjalan. baik yang terpuji maupun yang tercela. bid‘ah yang terpuji dan bid‘ah yang tercela. [Lihat Syarh Shahiih Muslim karya an- Nawawi (VI/154-155) Harmalah bin Yahya meriwayatkan bahwa ia mendengar Imam asy-Syafi‘i berkata: “Bid‘ah itu ada dua. Dengan demikian. yang berarti keletihan dan kelesuan unta. al-Qarafi. [Lihat al-Bid‘ah karya Dr. 2. dan ada pula yang menjadikannya sebagai perkara umum. ia menganggap mogoknya hewan tunggangan yang seharusnya terus berjalan itu sebagai sesuatu yang baru. . Dengan kata lain. al-‘Izz bin ‘Abdis Salam. Ibdaa‘ul ibil. sedangkan yang bertentangan dengan sunnah Nabi itulah yang tercela. jelaslah bahwa yang dimaksud dengan kata bada‘a adalah mengadakan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Ada yang menjadikannya sebagai lawan dari sunnah. Seolah-olah. Izzat Athiyyah (hlm. yang mencakup semua perkara yang diada- adakan setelah zaman Rasul. 157)].” [Lihat Qawaa-idul Ahkaam (II/172)]. Berdasarkan uraian di atas. Pendapat pertama: Segala sesuatu yang diada-adakan setelah zaman Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam adalah bid‘ah. Ini merupakan pendapat Imam asy-Syafi‘i. Yang sesuai dengan sunnah Nabi itulah yang terpuji. Hal itu akan kami terangkan pada uraian berikut ini. kata bid‘ah adalah kata benda turunan dari kata al-ibtida’.” [Lihat Hilyatul Auliyaa’ karya Abu Nu‘aim (IX/113). secara umum. Maksudnya. seperti halnya kata rif‘ah yang merupakan kata benda turunan dari kata al-irtifa’. al- Ghazzali dalam kitab al-Ihyaa’. Bid‘ah Secara Terminologi (Syar'i) Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan bid‘ah menurut terminologi syar‘i (istilah syari‘at). Lihat juga Fat-hul Baari (XIII/253)] Al-‘Izz bin ‘Abdis Salam berkata tentang definisi bid‘ah: “Bid‘ah adalah amalan yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah.

Kitab “ash-Shalaatut Taraawiih”. mengeluarkan bangsa Yahudi dari Jazirah Arab. 233-235)]. Ibnu Rajab al-Hanbali [Lihat Jaami‘ul Uluum wal Hikam (hlm. shalat Tarawih berjamaah). misalnya memerangi kaum yang murtad dan kaum Khawarij. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah [Lihat catatan biografinya dalam kitab ad-Durarul Kaaminah (I/144- 160). Fawaatul Wafayaat (I/74-80). Ibnu Hajar al-Haitami [Lihat al-Fataawa al-Haditsiyyah (hlm. menyerang bangsa Persia. baik amal ibadah itu pernah dilaksanakan pada zaman Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam maupun belum. ataupun perbuatan lain yang semisalnya. Bid‘ah adalah amal ibadah yang tidak diwajibkan dan tidak pula dianjurkan. Adapun amal ibadah yang diwajibkan atau dianjurkan. Inilah pendapat asy-Syathibi [Lihat al-I’tisham (I/37)]. yakni yang berdasarkan dalil syar‘i. maka amal tersebut termasuk ajaran agama yang disyari‘atkan Allah. no. 2010) dan Imam Malik dalam al- Muwaththa’ (I/114).” . Sama saja halnya. dan al- Bidaayah wan Nihaayah (XIV/117-121)}. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Dalam kaidah sunnah dan bid‘ah telah kami tegaskan. bahwa ia pernah berkomentar tentang shalat Tarawih: “Sebaik-baik bid‘ah adalah ini (maksudnya. maka semua itu termasuk sunnah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam. Ibnu Hajar al-Asqalani [Lihat Fat-hul Baari (XIII/253)]. Al-Bukhari dalam Shahiih-nya (Fat- hul Baari [IV/250]. Turki. dan Romawi. dengan redaksi: “Inilah bid‘ah yang terbaik!”] Pendapat kedua: Kata bid‘ah hanya digunakan untuk menyebut amalan-amalan yang bertentangan dengan sunnah Nabi. Dalam hal ini mereka berpatokan pada perkataan yang diriwayatkan dari ‘Umar bin al-Khaththab . yang bentuknya menyerupai syari‘at. dan az-Zarkasyi [Lihat al-Mantsur fiil Qawaa‘id (I/217)]. Amal apa pun yang dilaksanakan sepeninggal Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam atas dasar perintah beliau. dan yang dimaksud dari penerapannya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta'ala. Al-Imam asy-Syathibi mendefinisikan bid‘ah sebagai berikut: “Bid‘ah adalah suatu cara yang diada-adakan dalam agama. Dzail Thabaqaatul Hanabilah (II/378-408).” [HR. 150- 151)]. bahwasanya bid‘ah dalam agama adalah amal ibadah yang tidak disyari‘atkan Allah dan Rasul-Nya. meskipun para ulama berbeda pendapat tentang sebagian hukumnya.” [Lihat Majmuu’ Fataawa (IV/107-108)].

Jika demikian. Demikianlah menurut pendapat ulama yang tidak menggolongkan perkara adat (kebiasaan) ke dalam bid‘ah. dan yang dimaksud dari penerapannya adalah sama dengan yang dimaksud dari penerapan syari‘at.” seraya memberi isyarat dengan kedua jarinya. Kitab “ash-Shalaatul ‘Iedain”) dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (I/17. Setelah selesai. apa yang akan engkau wasiatkan kepada kami?’ Beliau menjawab: . Dalil dari as-Sunnah 1. beliau menghadap ke arah kami dan menasihati kami dengan nasihat yang mendalam.” [Lihat al-I’tishaam (I/37)] 3.’ [HR. 2. dan kemarahannya memuncak. muqaddimah)]. Hadits riwayat Jabir bin ‘Abdillah ia berkata: “Apabila Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam berkhutbah. ia berkata: “Pada suatu hari. dan perkara yang terburuk adalah perkara baru (bid‘ah). Adapun menurut ulama yang menggolongkan perkara adat ke dalam bid‘ah. suaranya meninggi. hingga membuat air mata kami berlinang dan hati tergetar. mereka berkata: “Bid‘ah adalah suatu cara yang diada-adakan dalam agama. yaitu mereka yang mengkhususkan bid‘ah hanya pada perkara- perkara ibadah. Kitab “al- Jumu‘ah”).’ Beliau meneruskan: ‫ فَإِ َّن َخي َْر‬:ُ‫أَ َّما بَ ْعد‬ ‫اب هللاِ َو َخي َْر ْال ُهدَى ُهدَى ُم َح َّم ٍد َوش ََّر ْاأل ُ ُم ْو ِر ُم ْحدَثَات ُ َها‬ ُ َ‫ث ِكت‬ ِ ‫ْال َح ِد ْي‬ ‫ض َاللَة‬ َ ‫ع ٍة‬ َ ‫‘و ُك َّل بِ ْد‬ َ Amma ba’du. Beliau bersabda: ‘Siap siagalah kalian setiap saat!’ Setelah itu. kedua matanya memerah. yaitu jari telunjuk dan jari tengah. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam shalat mengimami kami. yang bentuknya menyerupai syari‘at. an-Nasa-i dalam Sunan-nya (III/189. Beberapa Dalil Pendapat Kedua a. Seorang hadirin berkata: ‘Wahai Rasulullah. petunjuk yang terbaik adalah petunjuk Muhammad. beliau bersabda: ‘(Antara) aku diutus dan (terjadinya) Kiamat adalah seperti kedua (tangan) ini. hingga seolah-olah beliau sedang memberikan peringatan kepada pasukan perang. dan setiap bid‘ah adalah sesat. sepertinya ini adalah nasihat perpisahan. Muslim dalam Shahiih-nya (Syarh Shahiih Muslim karya an-Nawawi VI/153-154. sesungguhnya perkataan yang terbaik adalah Kitabullah. Hadits riwayat al-Irbadh bin Sariyah.

siapa saja dari kalian yang masih hidup sepeninggalku pasti akan melihat perselisihan yang begitu banyak. tidak ada bid‘ah yang terpuji atau baik.” Lihat Majmaa’uz Zawaa-id (I/188). Majmaa’uz Zawaa-id: “Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al- Kabiir. meskipun ia seorang budak dari habasyah (berkulit hitam). Wallaahu a’lam. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian (maksudnya.’”[ HR. Perkataan ‘Abdullah bin ‘Abbas: “Tidaklah datang satu masa kepada umat manusia. dan Tirmidzi berkata: “Derajat hadits ini hasan shahih. Hadits ini juga diriwayatkan juga oleh Ibnu Wadhah dalam al-Bida’ (hlm. 39)]. . dan setiap bid‘ah adalah sesat. kecuali di dalamnya mereka berbuat bid‘ah dan mematikan sunnah Nabi. Karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid‘ah. Bab “al-Iqtidaa’ bis Salaf”]. Maka dari itu. selalu patuh dan taat (kepada yang memimpin kalian). Dalil dari atsar 1. Pendapat yang kuat: Kata bid‘ah itu hanya digunakan untuk menyebut perkara yang menyalahi sunnah Nabi. dan para perawinya adalah para perawi kitab ash-Shahiih. [Al-Haitsami berkata dalam kitab Majmaa’uz Zawaa-id: “Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam al-Kabiir. ‫ش‬ْ ‫ع ْبدًا َح َب ِشيًّا فَإِنَّهُ َم ْن َي ِع‬ َ َ‫ع ِة َو ِإ ْن َكان‬ َّ ‫س ْمع َو‬ َ ‫الطا‬ ِ َّ ‫ص ْي ُك ْم ِبتَ ْق َوى هللاِ َوال‬ ِ ‫أ ُ ْو‬ َ‫الرا ِش ِديْن‬ ِ َ‫سنَّ ِة ْال ُخلَف‬ َّ ‫اء‬ ُ ‫سنَّتِ ْي َو‬ ُ ِ‫اختِ َالفًا َكثِي ًْرا فَعَلَ ْي ُك ْم ب‬ ْ ‫سيَ َرى‬ َ َ‫ِي ف‬ ْ ‫ِم ْن ُك ْم بَ ْعد‬ ‫ت ْاأل ُ ُم ْو ِر فَإِ َّن‬ ِ ‫علَ ْي َها ِبالنَّ َو‬ ِ ‫اج ِذ َو ِإيَّا ُك ْم َو ُم ْحدَثَا‬ َ ‫عض ُّْوا‬ َ ‫س ُك ْوا بِ َها َو‬ َّ ‫ْال َم ْه ِد ِيِّيْنَ فَت َ َم‬ ‫ض َاللَة‬ َ ‫ع ٍة‬ َ ‫عة َو ُك َّل ِب ْد‬َ ‫ُك َّل ُم ْحدَثَ ٍة ِب ْد‬ Artinya: ‘Aku berwasiat kepada kalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah. peganglah sunnah itu erat-erat). muqaddimah)]. 2. Dengan demikian. karena sesungguhnya sunnah Nabi itu telah cukup bagi kalian. Redaksi hadits tersebut adalah milik Abu Dawud. dan para perawinya adalah orang-orang yang dianggap tsiqah (tepercaya). Kitab “al-Fitan”). Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam Sunan-nya (Tuhfatul Ahwadzi [VII/438-442]). Sebab.” [Al-Haitsami berkata dalam kitabnya. Bab “al-Bida’ wal Ahwaa’”.” Lihat Majmaa’uz Zawaa-id (I/181). berpegang teguhlah kalian kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. b. dan berhati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara yang diada-adakan. Perkataan ‘Abdullah bin Mas’ud: “Ikutilah sunnah Nabi dan janganlah kalian berbuat bid‘ah.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya (I/15-16. sehingga maraklah perbuatan bid‘ah dan matilah sunnah. Ahmad dalam Musnad-nya (IV/126-127) dan Abu Dawud dalam Sunan-nya (‘Aunul Ma’buud XII/358-360.” Hadits dan atsar di atas menunjukkan bahwa setiap bid‘ah yang muncul di dalam syara’ (syari‘at Islam) itu tercela.

no.” [HR. beliau bersabda: َ ‫علَ ْي ُك ْم فَت َ ْع ِج ُز ْوا‬ ‫ع ْن َها‬ َ ‫ي َم َكانُ ُك ْم َولَ ِك ِنِّ ْي َخ ِشيْتُ أَ ْن ت ُ ْف َر‬ َ ‫ض‬ َّ َ‫عل‬ َ ‫فَإِنَّهُ لَ ْم يَ ْخ‬ َ ‫ف‬ “Sesungguhnya keadaan kalian (yang melaksanakan shalat Tarawih secara berjamaah) tidaklah samar bagiku. Mereka beralasan dengan ucapan ‘Umar: ‘Bid‘ah yang terbaik adalah ini (maksudnya. semua seruan itu merupakan penegasan Rasulullah. yaitu dengan mengatakan bahwa tidak setiap bid‘ah itu sesat. yaitu kaidah menetapkan hukum bid‘ah atas sesuatu yang makruh. Hanya saja.’ juga peringatan beliau terhadap perkara yang diada-adakan.’ dengan mementahkan pengertian umum nash tersebut. Al-Bukhari dalam Shahiih-nya (Fat-hul Baari [IV/251].” Bantahan atas sanggahan tersebut adalah: “Sabda Rasulullah: ‘Sesungguhnya perkara yang paling buruk adalah perkara yang diada-adakan. aku khawatir shalat ini akan diwajibkan kepada kalian. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Ketahuilah bahwa kaidah ini. Siapa saja yang membantahnya berarti ia termasuk salah seorang penentang as-Sunnah. Adapun shalat Tarawih. Kaidah ini merupakan jawaban sempurna atas pendapat yang bertentangan dengannya. Namun pada malam keempat. dan setiap kesesatan itu akan menjerumuskan ke Neraka. . no. yaitu celaan terhadap bid‘ah. Hal itu disebabkan ada sebagian orang yang berpendapat bahwa bid‘ah itu terbagi dua: bid‘ah hasanah (baik) dan bid‘ah qabiihah (buruk). yaitu sabdanya: ‘Setiap bid‘ah itu sesat. tetapi termasuk sunnah Nabi. perbuatan ini lebih tepat disebut penentangan terhadap Rasul daripada disebut takwil. kemudian kalian tidak mampu mengerjakannya. merupakan kaidah umum yang sangat agung. shalat Tarawih berjamaah). melainkan sunnah. orang-orang yang tidak sependapat dengan pendapat ini (yakni bahwasanya semua bid‘ah adalah buruk) mengemukakan sanggahan: “Tidak semua bid‘ah itu sesat.’” Namun. tidak seorang pun boleh menolak apa yang ditunjukkan nash ini. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat ini secara berjamaah pada tiga malam awal bulan Ramadhan. Kitab “ash-Shalaatut Taraawih”. shalat ini bukanlah bid‘ah dalam syari’at (Islam). Sebab. Jika demikian. Mengerjakan shalat Tarawih secara berjamaah bukanlah bid‘ah. [Lihat Iqtidhaa-ush Shiraath al-Mustaqiim karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (II/582-588)]. Kitab “ash-Shalaatul Musaafiriin”. 761 dan 178)]. 2012) dan Muslim dalam Shahiih-nya (Syarh Shahiih Muslim [I/524].” Tidak seorang pun boleh menentang nash yang umum dari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam itu. Ketentuan ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam dan pelaksanaan beliau atas shalat ini secara berjamaah. dan seluruh bid‘ah (perkara yang diada- adakan) adalah sesat.

perbuatan itu (yakni amalan yang belum pernah dilakukan sebelumnya) memang dinamai demikian (bid‘ah). Jika kita akan menetapkan suatu hukum syari‘at dengan perkataan ‘Umar —yang notabene merupakan perkataan Sahabat—yang tidak dipertentangkan. Karena kekhawatiran akan kewajiban amal tersebut sudah hilang. orang-orang yang meyakini bahwa perkataan Sahabat merupakan hujjah tidak meyakininya sebagai hujjah apabila bertentangan dengan hadits Nabi! Dengan kata lain. Dengan demikian. penggunaan istilah bid‘ah untuk shalat Tarawih yang diucapkan oleh ‘Umar adalah dalam lingkup pengertiannya secara bahasa (etimologi). Seandainya tidak ada kekhawatiran tersebut. Mengenai perkataan ‘Umar: “Sebaik-baik bid‘ah adalah ini (maksudnya. menurut pengertian bahasa. Sebab dalam bahasa Arab. maka hilang pula hambatan untuk melaksanakan shalat Tarawih secara berjamaah. shalat Tarawih berjamaah). yang menjadi imam adalah Sahabat yang mulia Ubayy bin Ka’ab. kekhawatiran itu telah hilang karena Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam telah wafat.” maka perlu diketahui sikap mayoritas orang yang berargumentasi dengan ucapan Sahabat seperti ini. Sekarang. Pada masa kekhalifahan ‘Umar bin al-Khaththab. diketahuilah alasan di balik tindakan beliau yang tidak keluar rumah untuk menunaikan shalat Tarawih berjamaah. sunnah Nabi menghendaki perbuatan itu termasuk bagian amal shalih. Apabila Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam telah menyatakan bahwa sebuah amal itu mustahab (dianjurkan/disunnahkan) atau wajib dilakukan setelah beliau wafat. lalu amal . perbuatan tersebut dinamakan bid‘ah. sehingga tidak akan ada wahyu yang turun untuk mewajibkannya. bagaimana mungkin mereka menjadikan ucapan Sahabat yang bertentangan dengan sabda Rasul di atas sebagai hujjah? Padahal. Sebab. Pasalnya. Ia pun menerangi masjid untuk mereka. seandainya tidak ada kekhawatiran akan diwajibkannya shalat Tarawih kepada umat Islam. yang dimaksud darinya bukanlah bid‘ah dalam syari‘at. Sehingga. ia mengumpulkan kaum Muslimin (di masjid untuk menunaikan shalat Tarawih berjamaah) dengan diimami seorang imam. niscaya orang-orang itu akan berkata: “Perkataan Sahabat bukanlah hujjah (nash yang dapat dijadikan dalil)!” Jika demikian adanya. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam menjelaskan alasan mengapa beliau tidak keluar (pada malam keempat itu). Karena itulah. keadaan ini—yakni berkumpulnya mereka di masjid dengan dipimpin seorang imam dan dengan menerangi masjid—merupakan perbuatan yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Namun. Lihat al-Muwaththa’ (I/114)]. [Ketika itu. Adapun bid‘ah menurut pengertian syar‘i adalah segala perbuatan yang tidak didukung oleh dalil syari‘at. bukan dalam bingkai pengertian syar‘i (terminologi). yaitu karena khawatir shalat Tarawih akan diwajibkan kepada umat Islam. bid‘ah itu mencakup seluruh perbuatan yang dibuat pertama kali tanpa ada contoh sebelumnya. niscaya beliau akan keluar untuk menunaikannya bersama mereka. atau menyatakan hukum tersebut secara mutlak.

Diringkas dari buku MENYOAL RUTINITAS PERAYAAN BID'AH SEPANJANG TAHUN Karya 'Abdullah bin 'Abdul 'Aziz at-Tuwaijiri. I/2010 Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafii Jakarta http://pustakaimamsyafii.itu baru dilakukan setelah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam wafat. Sebab. seperti pengamalan terhadap ketentuan nishab zakat dari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam yang dikeluarkan oleh Abu Bakar. perbuatan itu merupakan perbuatan yang baru pertama kali dilakukan. Demikian pula halnya shalat Tarawih. jika perbuatan itu dilakukan setelah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam wafat.html . mengumpulkan al-Qur-an dalam satu mushaf. maka perbuatan ini dapat disebut bid‘ah menurut pengertian bahasa. [Lihat Iqtidhaa-ush Shiraath al-Mustaqiim karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (II/589-592)]. dan pengusiran yang ‘Umar lakukan terhadap kaum Yahudi Khaibar dan Nashrani ke Najran serta penduduk kafir di berbagai tempat lainnya di jazirah Arab. Hlm. 19-34 cet.com/menyoal-rutinitas-perayaan-bidah-sepanjang-tahun.