Anda di halaman 1dari 14

METODE-METODE PENAFSIRAN AL-QUR'AN

BAB I

PENDAHULUAN

Metode adalah satu sarana untuk mecapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam konteks
pemahaman al-Quran, metode bermakna: “prosedur yang harus dilalui untuk mencapai pemahaman
yang tepat tentang makna ayat-ayat al-Quran.” Dengan kata lain, metode penafsiran al-Quran
merupakan: seperangkat kaidah yang seharusnya dipakai oleh mufassir (penafsir) ketika menafsirkan
ayat-ayat al-Quran.

Lahirnya metode-metode tafsir disebabkan oleh tuntutan perubahan sosial yang selalu dinamik.
Dinamika perubahan sosial mengisyaratkan kebutuhan pemahaman yang lebih kompleks.
Kompleksitas kebutuhan pemahaman atas al-Quran itulah yang mengakibatkan, tidak boleh tidak,
para mufassir harus menjelaskan pengertian ayat-ayat al-Quran yang berbeda-beda.

Apabila diamati, akan terlihat bahwa metode penafsiran al-Quran akan menentukan hasil
penafsiran. Ketepatan pemilihan metode, akan menghasilkan pemahaman yang tepat, begitu juga
sebaliknya.

Dengan demikian, metodologi tafsir menduduki posisi yang teramat penting di dalam tatanan ilmu
tafsir, karena tidak mungkin sampai kepada tujuan tanpa menempuh jalan yang menuju ke sana.

Al-Quran secara tekstual memang tidak berubah, tetapi penafsiran atas teksnya selalu berubah,
sesuai dengan konteks ruang dan waktu manusia. Karenanya, al-Quran selalu membuka diri untuk
dianalisis, dipersepsi, dan diinterpretasikan (ditafsirkan) dengan berbagai alat, metode, dan
pendekatan untuk menguak isi sejatinya. Aneka metode dan tafsir diajukan sebagai jalan untuk
membedah makna terdalam dari al-Quran itu. Sehingga al-Quran seolah menantang dirinya untuk
dibedah.[1]

Saat ini, banyak terjemah, tafsir, dan buku yang mengupas al-Quran. Setiap kali kita mendengar
khutbah dan ceramah, kita juga acap kali telah hafal ayat-ayat yang disampaikan. Kita pun
melaksanakan nilai dan ajaran al-Quran dalam ibadah ritual maupun muamalah. Berbagai istilah,
seperti: sabar, tawakkal, amal, ilmu, salam, bismillâhirrahmânirrahîm, juga diucapkan sebagai bahasa
nasional dan bahasa sehari-hari. Tal pelak, kini situasinya sudah sangat jauh berbeda dari masa lalu.
Yang mana, sekarang, juga banyak orang sangat akrab dengan bahasa al-Quran, dan mengerti intisari
ajarannya walaupun tak menguasai bahasa Arab.[2]

Selama empat belas abad ini, khazanah intelektual Islam telah diperkaya dengan berbagai macam
perspektif dan pendekatan dalam menafsirkan al-Quran. Walaupun demikian terdapat
kecenderungan yang umum untuk memahami al-Quran secara ayat per-ayat bahkan kata perkata.
Selain itu, pemahaman akan al-Quran terutama didasarkan pada pendekatan filologis gramatikal.
Pendekatan ayat per-ayat atau kata per-kata tentunya menghasilkan pemahaman yang parsial

(sepotong) tentang pesan al-Quran. filosofis. penulis sangat tertarik untuk membahas tentang metode tafsir al-Quran dengan berbagai pembahasan antara lain pengertian. al-Tafsir al-Wasith terbitan Majma’ al-Buhuts al-Islamiyyat. seperti dalam penafsiran teologis. Perangkat kerja ini. serta macam-macam metode tafsir yang insya Allah akan dibahas lebih luas dalam makalah ini. Apalagi mengenai ayat-ayat al-Quran yang berkategori mutasyâbih. Kedua. Kitab tafsir yang tergolong dalam metode ijmali (global) antara lain : Kitab Tafsir Al-Qur’an al- Karimkarangan Muhammad Farid Wajdi. . Dengan demikian. gagasan-gagasan asing sering dipaksakan ke dalam al-Quran tanpa memerhatikan konteks kesejarahan dan kesusasteraan kitab suci itu. Metode Ijmali (Global) a.[4] Jika ditelusuri perkembangan tafsir Al-Qur’an sejak dulu sampai sekarang. Sistematika penulisannya menurut susunan ayat-ayat di dalam mushhaf. yaitu : ijmaliy (global). Macam-Macam Metode Tafsir 1. Dengan ilmu alat. Pengertian tersebut menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an secara ringkas tapi mencakup dengan bahasa yang populer. Di samping itu penyajiannya tidak terlalu jauh dari gaya bahasa AL-Qur’an sehingga pendengar dan pembacanya seakan-akan masih tetap mendengar Al-Qur’an padahal yang didengarnya itu tafsirnya. tentu kian rumit dan pelik. tahliliy (analistis). Bahkan. dan mawdhu’iy (tematik):[5] B. Pengertian Yang dimaksud dengan metode al-Tafsir al-Ijmali (global) ialah suatu metoda tafsir yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan cara mengemukakan makna global. dan Tafsir al-Jalalain. sejarah dan perkembangan metode tafsir. maka akan ditemukan bahwa dalam garis besarnya penafsiran Al-Qur’an ini dilakukan dalam empat cara (metode). sebagaimana pandangan Al-Farmawi. Metode tafsir yang dimaksud di sini adalah suatu perangkat dan tata kerja yang digunakan dalam proses penafsiran Al-Qur’an. dan sufistis. aspek konteks di dalam teks yang mempresentasikan ruang-ruang sosial dan budaya yang beragam di mana teks itu muncul. Pengertian Metode Tafsir Yang dimaksud dengan metodologi penafsiran ialah ilmu yang membahas tentang cara yang teratur dan terpikir baik untuk mendapatkan pemahaman yang benar dari ayat-ayat A. serta Taj al-Tafasir karangan Muhammad ‘Utsman al-Mirghani. Dalam kasus-kasus tertentu. sering terjadi penafsiran semacam ini secara tidak semena-mena menggagalkan ayat dari konteks dan dari aspek kesejarahannya untuk membela sudut pandang tertentu.-Qur’an sesuai kemampuan manusia. bisa lebih mudah mengaplikasikan makna-makna al-Quran dalam kehidupan sosial. aspek teks dengan problem semiotik dan semantiknya. mudah dimengerti dan enak dibaca. secara teoritik menyangkut dua aspek penting yaitu : pertama.[3] Itulah sebabnya upaya meraih kebenaran teks dan konteks sebuah ayat. muqaran (perbandingan). BAB II PEMBAHASAN A. membutuhkan ilmu alat.

Diantara kitab tahlili yang mengambil bentuk ma’tsur (riwayat) adalah : · Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil al-Qur’an al-Karim. Ciri-ciri Metode Ijmali Dalam metode ijmali seorang mufasir langsung menafsirkan Al-Qur’an dari awal sampai akhir tanpa perbandingan dan penetapan judul. dan mereka orang-orang yang beruntung. . At-Tafsir al-Ilmi. Al-Qur’an ditafsirkan ayat demi ayat dan surat demi surat secara berurutan. Al-Tafsir al-Fiqhi. Dalam penafsiran tersebut.” b. Sebagai contoh penafsiran metode tahliliy yang menggunakan bentuk Al-Tafsir bi al-Ma’tsur (Penafsiran ayat dengan ayat lain). misalnya : kata-kata al-muttaqin (orang-orang bertakwa) dalam ayat 1 surat al-Baqarah dijabarkan ayat-ayat sesudahnya (ayat-ayat 3-5) yang menyatakan : َٰ َٰۡ َ‫عل‬ َ ‫ُه ُۡم َوأ ُ ْو َٰلَئِكَۡ َّر ِب ِه ۡۡم مِن هُدٗ ى‬ ۡ‫ يُن ِفقُونَۡ َرزَ ۡق َٰنَ ُه ۡم‬٣ َۡ‫ل ِب َماۡ ي ُۡؤمِ نُونَۡ َوٱلَّذِين‬ ِ ُ ‫ل َو َماۡ ِإلَ ۡيكَۡ أ‬ َۡ ‫نز‬ ِ ُ ‫ يُو ِقنُونَۡ ه ُۡۡم َو ِب ۡٱۡلخِ َرِۡة قَ ۡبلِكَۡ مِ ن أ‬٤ َۡ‫ى أ ُ ْولَئِك‬ َۡ ‫نز‬ َۡ‫ ۡٱل ُم ۡف ِل ُحون‬٥ “Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang ghaib. tidak ada ruang bagi mufasir untuk mengemukakan pendapat serupa itu. Penafsiran yang mengikuti metode ini dapat mengambil bentuk ma’tsur (riwayat) atau ra’y (pemikiran). dapat dikemukakan bahwa paling tidak ada tujuh bentuk tafsir. dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka. Al-Tafsir al-Shufi. baik yang berbentuk al-ma’tsur. tapi ringkas dan umum sehingga seakan-akan kita masih membaca Al-Qur’an padahal yang dibaca tersebut adalah tafsirnya. sebagaimana. mendirikan salat.b. Pola serupa ini tak jauh berbeda dengan metode alalitis. Kalau kita lihat dari bentuk tinjauan dan kandungan informasi yang terdapat dalam tafsir tahliliy yang jumlah sangat banyak. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya. tapi tidak sampai pada wilayah tafsir analitis. Sebaliknya di dalam metode global. Ciri-ciri Metode Tahlili Pola penafsiran yang diterapkan para penafsir yang menggunakan metode tahlili terlihat jelas bahwa mereka berusaha menjelaskan makna yang terkandung di dalam ayat-ayat Al-Qur’an secara komprehenshif dan menyeluruh. yaitu : Al-Tafsir bi al-Ma’tsur. Metode Tahliliy (Analisis) a. Itulah sebabnya kitab-kitab Tafsir Ijmali seperti disebutkan di atas tidak memberikan penafsiran secara rinci. namun uraian di dalam Metode Analitis lebih rinci daripada di dalam metode global sehingga mufasir lebih banyak dapat mengemukakan pendapat dan ide-idenya. 2. serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akherat. serta tak ketinggalan menerangkan asbab al-nuzuldari ayat-ayat yang ditafsirkan. maupun al-ra’y. 310 H) dan terkenal dengan Tafsir al-Thabari. Pengertian Yang dimaksud dengan Metode Tahliliy (Analisis) ialah menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan memaparkan segala aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat yang ditafsirkan itu serta menerangkan makna-makna yang tercakup di dalamnya. dan Al- Tafsir al-Adabi al-Ijtima’i. dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu. karangan Ibn Jarir al-Thabari (w. namun pada ayat-ayat tertentu diberikan juga penafsiran yang agak luas. sesuai dengan keahlian dan kecenderungan mufasir yang menafsirkan ayat-ayat tersebut. Al-Tafsir bi al-Ra’yi.

. Ciri-ciri Metode Mawdhu’iy Yang menjadi ciri utama metode ini ialah menonjolkan tema. karangan Ibn Katsir. 606 H) · Al-Tafsir al-Kabir wa Mafatih al-Ghaib. Langkah-langkah tersebut adalah : 1) Menetapkan masalah yang akan dibahas (topik). dan · Al. dalam bukunya Al-Bidayah fi Al-Tafsir Al-Mawdhu’i mengemukakan secara rinci langkah- langkah yang hendak ditempuh untuk menerapkan metode mawdhu’i. baik argumen itu berasal dari Al-Qur’an dan Hadits. 741 H) · Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil. Dr. sehingga tidak salah bila di katakan bahwa metode ini juga disebut metode “topikal”. 911 H) Adapun tafsir tahlili yang mengambil bentuk ra’y banyak sekali. antara lain : · Tafsir al-Khazin. 516 H) · Tafsir al-Qur’an al-Azhim. karangan al-Zamakhsyari (w. dihimpun. Artinya penafsiran yang diberikan tak boleh jauh dari pemahaman ayat-ayat Al-Qur’an. 691 H) · Al-Kasysyaf. Kemudian tema-tema yang sudah dipilih itu dikaji secara tuntas dan menyeluruh dari berbagai aspek. Metode Mawdhu’iy (Tematik) a. karangan al-Baghawi (w. b. agar tidak terkesan penafsiran tersebut berangkat dari pemikiran atau terkaan belaka (al-Ra’y al-Mahdh). 606 H) · Al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an. karangan Muhammad Rasyid Ridha (w. Abdul Hay Al-Farmawy seorang guru besar pada Fakultas Ushuluddin Al- Azhar. Semuanya dijelaskan secara rinci dan tuntas. karangan Thanthawi Jauhari. Pengertian Yang dimaksud dengan metode mawdhu’iy ialah membahas ayat-ayat Al-Quran sesuai dengan tema atau judul yang telah ditetapkan. serta didukung oleh dalil-dalil atau fakta yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. 538 H) · Arais al-Bayan fi Haqaiq al-Qur’an. sesuai dengan kapasitas atau petunjuk yang termuat di dalam ayat- ayat yang ditafsirkan tersebut.· Ma’alim al-Tanzil. maupun pemikiran rasional. Kemudian dikahi secara mendalam dan tuntas dari berbagai aspek yang terkait dengannya seperti asbab al-nuzul. dan lain-lain 3. judul atau topik pembahasan. 1935 M). karangan al-Syirazi (w. Sementara itu Prof. kosa kata dan sebagainya. Semua ayat yang berkaitan. karangan al-Baydhawi (w. karangan al-Suyuthi (w. · Tafsir al-Manar. karangan al-Khazin (w. ataupun dari yang lain. Jadi mufasir mencari tema-tema atau topik-topik yang ada si tengah masyarakat atau berasal dari Al-Qur’an itu sendiri.Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur. karangan al-Fakhr al-Razi (w.

7) Mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan jalan menghimpun ayat-ayatnya yang mempunyai pengertian yang sama. tanpa perdebatan atau pemaksaan. 4. 3) Menyusun runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya. Mufasir membandingkan ayat Al-Qur’an dengan ayat lain. Membandingkan ayat Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an yang lain.2) Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut. Metode Muqarin (Komparatif) a. sehingga kesemuanya bertemu dalam satu muara. dan atau memiliki redaksi yang berbeda bagi satu kasus yang sama. yaitu ayat-ayat yang memiliki persamaan redaksi dalam dua atau lebih masalah atau kasus yang berbeda. seperti : . 3) Membandingkan berbagai pendapat ulama’ tafsir dalam menafsirkan Al-Qur’an. yaitu[6]: b. atau yang pada lahirnya bertentangan. 4) Memahami korelasi ayat-ayat tersebut dalam surahnya masing-masing. seperti : ‫ى َو َلن‬ َ ‫ل ۡٱليَ ُهو ُۡد‬ َ ‫عنكَۡ ت َۡر‬ َٰۡ ‫ض‬ َۡ ‫ى َو‬ َٰۡ َّ ‫ل مِ لَّت َ ُه ۡۡم تَتَّبِ َۡع َحت‬ َ َٰ َّ‫ى ٱلن‬ َٰۡ ‫ص َر‬ ۡۡ ُ‫ن ق‬ َّۡ ِ‫ٱّلل ُه َدى إ‬ َٰۡ ‫ِن ۡٱل ُه َد‬ َِّۡ ‫ى ه َُۡو‬ ِۡ ‫َما ۡٱلع ِۡل ِۡم مِ نَۡ َجا َءكَۡ ٱلَّذِي بَعۡ َۡد أ َ ۡه َوا َءهُم ٱتَّبَعۡ تَۡ َولَئ‬ َۡ‫ٱّلل مِ نَۡ لَك‬ َۡ ‫َصيرۡ َو‬ َِّۡ ‫ل َولِيۡ مِ ن‬ ِ ‫ ن‬١٢٠ “Katakanlah : Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk” (QS : al-Baqarah : 120) ۡ‫ُون مِ ن أَن َۡدعُوۡاْ قُ ۡل‬ ِۡ ‫ٱّللِ د‬ َّۡ ‫ل َما‬ َۡ ‫ل يَنفَعُنَا‬َۡ ‫ى َونُ َر ُّۡد يَض ُُّرنَا َو‬ َ ‫ٱّللُ َه َدىَٰ نَا إِ ۡۡذ بَعۡ َۡد أ َ ۡعقَابِنَا‬ َٰۡ َ‫عل‬ َّۡ ‫ش َٰيَطِ ينُۡ ٱسۡ ت َهۡ َو ۡت ۡهُ كَٱلَّذِي‬ ۡ ِ ‫أَصۡ َٰ َحبۡ لَهُۥ َح ۡي َرانَۡ ۡٱۡل َ ۡر‬ َّ ‫ض فِي ٱل‬ ‫ل ٱ ۡئتِنَاۡ ۡٱل ُه َدى ِإلَى َي ۡدعُونَهُۥ‬ ۡۡ ُ‫ن ق‬ َّۡ ‫ٱّلل ُه َدى ِإ‬ َٰۡ ‫ۡٱل ُه َد‬ َِّۡ ‫ى ه َُۡو‬ “Katakanlah : Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah” (QS : al-An’am : 71) 2) Perbedaan dan penambahan huruf. mutlak danmuqayyad (terikat). yang pada lahirnya terlihat bertentangan. 2) Membandingkan ayat Al-Qur’an dengan Hadits Nabi SAW. Al-Zarkasyi mengemukakan delapan macam variasi redaksi ayat-ayat Al-Qur’an. sebagai berikut : 1) Perbedaan tata letak kata dalam kalimat. 6) Melengkapi pembahasan dengan hadits-hadits yang relevan dengan pokok bahasan. disertai pengetahuan tentang asbab al- nuzulnya. atau mengkompromikan antara yang ‘am (umum) dan yang khas (khusus). Jadi dilihat dari pengertian tersebut dapat dikelompokkan 3 objek kajian tafsir. Pengertian Pengertian metode muqarin (komparatif) dapat dirangkum sebagai berikut : 1) Membandingkan teks (nash) ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki persamaan atau kemiripan redaksi dalam dua kasus atau lebih. atau ayat-ayat yang memiliki redaksi berbeda dalam masalah atau kasus yang (diduga) sama. 5) Menyusun pembahasan dalam kerangka yang sempurna (out-line).

Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui... Al-Jumu’ah : 2) 4) Perbedaan nakirah (indefinite noun) dan ma’rifah (definte noun)... mereka tidak akan beriman” (QS : Yasin: 10) 3) Pengawalan dan pengakhiran. Al-A’raf : 200) 5) Perbedaan bentuk jamak dan tunggal.. dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al- Qur’an) dan al-Hikmah serta mensucikan mereka” (QS.” (QS. kecuali selama beberapa hari saja.yang membaca ayat-ayatNya kepada mereka..” (QS. seperti : ِۡ َّ ِ‫ ۡٱلعَلِي ُۡم ٱلسَّمِ ي ُۡع ه َُۡو إِنَّهُۥ ب‬٣٦ ۡ‫ٱّلل فَٱسۡ تَع ِۡذ‬ “. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.yang membaca kepada mereka ayat-ayat Engkau..mohonkanlah perlindungan kepada Allah.. Fushshilat : 36) ‫غنَّكَۡ َو ِإ َّما‬ َ َ‫ن مِ نَۡ َينز‬ َ َٰ ‫ش ۡي‬ ِۡ ‫ط‬ َّ ‫ٱّلل فَٱسۡ تَع ِۡۡذ ن َۡزغۡ ٱل‬ ِۡ‫سمِ يعۡ ِإنَّهُۥ ِب َّه‬ َ ۡ‫علِيم‬ َ ٢٠٠ “. Ali-Imran : 24) 6) Perbedaan penggunaan huruf kata depan. Al- Baqarah : 80) َۡ‫سنَا لَن قَالُوۡاْ بِأَنَّ ُه ۡۡم َٰذَلِك‬ َّۡ ِ‫َّمعۡ دُو َٰ َدتۡ أَي َّٗاما إ‬ ُۡ َّ‫ل ٱلن‬ َّ ‫ار ت َ َم‬ “.. kecuali selama beberapa hari yang dapat dihitung.” (QS.. seperti : ۡ‫ث مِ ۡن َها فَ ُكلُوۡاْ ۡٱلقَ ۡر َي ۡةَ َٰ َه ِذِۡه ۡٱد ُخلُوۡاْ قُ ۡلنَا َو ِإ ۡذ‬ َۡ ‫س َّجدٗ ا ۡٱل َب‬ ُۡ ‫اب َو ۡٱد ُخلُوۡاْ َرغَدٗ ا ِش ۡئت ُۡۡم َح ۡي‬ َ َٰ ‫سن َِزي ُۡد َخ‬ َّ ِ‫ط َٰ َي ُك ۡهۡم لَ ُك ۡۡم نَّ ۡغفِرۡۡ ح‬ ُ ْ‫طةۡ َوقُولُوۡا‬ َ ‫ ۡٱل ُم ۡح ِسنِينَۡ َو‬٥٨ . Al-Baqarah :129) ۡ‫ث ٱلَّذِي ه َُو‬ ۡ ‫ۧٱۡل ُ ِم‬ َۡ َ‫ي ِ فِي بَع‬ ۡ َۡ‫ول ن‬ ُ ‫علَ ۡي ِه ۡۡم يَ ۡتلُوۡاْ م ِۡن ُه ۡۡم َر‬ ۡٗ ‫س‬ َ ‫ب َويُعَ ِل ُم ُه ُۡم َۡويُزَ كِي ِه ۡۡم َءا َٰيَتِهِۦ‬ ُۡ ‫ض َٰلَلۡ لَفِي قَ ۡب‬ َۡ َ ‫ل مِ ن كَانُوۡاْ َوإِن َو ۡٱلحِ ۡك َم ۡةَ ۡٱل ِك َٰت‬ َ ۡ‫ ُّمبِين‬٢ “.. mensucikan mereka. seperti : ْ‫سنَا لَن َوقَالُوۡا‬ َّۡ ‫ل َّمعۡ دُو َدٗهۡة أَي َّٗاما ِإ‬ ُۡ َّ‫ل ٱلن‬ َّ ‫ار ت َ َم‬ ۡۡ ُ‫ٱّلل عِن َۡد أَتَّخ َۡذت ُۡۡم ق‬ َِّۡ ‫عهۡ دٗ ا‬ َۡ ‫ٱّللُ ي ُۡخل‬ َ ‫ِف فَلَن‬ َ ‫علَى تَقُولُونَۡ أ َۡۡم‬ َّۡ ۡ‫عهۡ َدهُۥ‬ َۡ َۡ‫ ت َعۡ لَ ُمون‬٨٠ َِّۡ ‫ل َما‬ َ ‫ٱّلل‬ “. dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah” (QS.” (QS..mohonkanlah perlindungan kepada Allah. mereka tidak akan beriman” (QS : al-Baqarah : 6) ۡ‫س َواء‬ َ ‫ل تُنذ ِۡره ُۡۡم لَ ۡۡم أ َۡۡم َءأَنذَ ۡرت َ ُه ۡۡم‬ َ ‫علَ ۡي ِه ۡۡم َو‬ َۡ َۡ‫ ي ُۡؤمِ نُون‬١٠ “Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah tidak memberi peringatan kepada mereka. seperti : ۡۡ ‫ول فِي ِه ۡۡم َو ۡٱب َع‬ ‫ث َربَّنَا‬ ۡ ٗ ُ‫علَ ۡي ِه ۡۡم َي ۡتلُوۡاْ ِم ۡن ُه ۡۡم َرس‬ َۡ َ ‫يز أَنتَۡ ِإنَّكَۡ َويُزَ كِي ِه ۡۡم َو ۡٱلحِ ۡك َم ۡةَ ۡٱل ِك َٰت‬ َ َۡ‫ب َويُ َع ِل ُم ُه ُۡم َءا َٰ َيتِك‬ ُۡ ‫ ۡٱل َحكِي ُۡم ۡٱل َع ِز‬١٢٩ “.ۡ‫س َواءۡ َكف َُروۡاْ ٱلَّذِينَۡ ِإ َّن‬ َ ‫ل تُنذ ِۡره ُۡۡم لَ ۡۡم أ َۡۡم َءأَنذَ ۡرت َ ُه ۡۡم‬ َ ‫علَ ۡي ِه ۡۡم‬ َۡ َۡ‫ ي ُۡؤمِ نُون‬٦ “Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka.Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka.

seperti : َۡ‫ٱّلل شَاقُّوۡاْ بِأَنَّ ُه ۡۡم َٰذَلِك‬ ََّۡ ‫سولَهُۥ‬ ُ ‫ق َو َمن َو َر‬ ِۡ ‫ٱّلل يُشَا‬ َّۡ ِ ‫ٱّلل فَإ‬ ََّۡ ‫ن‬ ََّۡ ‫شدِي ُۡد‬ ِۡ ‫ ۡٱل ِعقَا‬٤ َ ‫ب‬ Yang demikian ini adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasulnya.” (QS. Contoh perbedaan antara ayat al-Qur’an surat al-Nahl/16 : 32 dengan hadits riwayat Tirmidzi dibawah ini : ْ‫ ت َعۡ َملُونَۡ ُكنت ُۡۡم بِ َما ۡٱل َجنَّ ۡةَ ۡٱد ُخلُوۡا‬٣٢ “Masuklah kamu ke dalam surga disebabkan apa yang telah kamu kerjakan” (QS.” (QS. dan (4) Melakukan perbandingan. dan makanlah . Dan mufasir berusaha untuk menemukan kompromi antara keduanya. tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati (wajadna) dari (perbuatan) nenek moyang kami. Luqman : 21) 8) Perbedaan penggunaan idgham (memasukkan satu huruf ke huruf lain). Al-Nahl : 32) “Tidak akan masuk seorang pun diantara kamu ke dalam surga disebabkan perbuatannya” (HR. (3) Meneliti setiap kelompok ayat tersebut dan menghubungkannya dengan kasus-kasus yang dibicarakan ayat bersangkutan. Al-Hasyr : 4) Dalam mengadakan perbandingan antara ayat-ayat yang berbeda redaksi ditempuh beberapa langkah : (1) menginventa-risasi ayat-ayat al-Qur’an yang memiliki redaksi yang berbeda dalam kasus yang sama atau yang sama dalam kasus berbeda.” (QS. (2) Mengelompokkan ayat-ayat itu berdasarkan persamaan dan perbedaan redaksinya. c. Mufasir membandingkan ayat-ayat al-Qur’an dengan hadits Nabi saw yang terkesan bertentangan. al-Zarkasyi mengajukan dua cara : ... tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati (alfayna) dari (perbuatan) nenek moyang kami.“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman : Masuklah kamu ke negeri ini. Untuk menghilangkan pertentangan itu. seperti : َۡ َ‫ٱّللُ أَنز‬ َۡ ‫ل َماۡ ٱت َّ ِبعُوۡاْ لَ ُه ُۡم قِي‬ ‫ل َو ِإذَا‬ َّۡ ْ‫ل قَالُوۡا‬ َ ‫ل َءابَا ُؤه ُۡۡم كَانَۡ أ َ َولَوۡۡ َءابَا َءنهَۡا‬ ۡۡ َ‫علَ ۡي ِۡه أ َ ۡلف َۡينَا َماۡ نَت َّ ِب ُۡع ب‬ َۡ َۡ‫َي يَعۡ ِقلُون‬ ۡۡ ‫ َو َليَهۡ تَدُونَۡ اٗۧۧش‬١٧٠ “Mereka berkata : Tidak. Al-Baqarah : 170) ‫ل َوإِذَا‬ َۡ َ‫ٱّللُ أَنز‬ َۡ ‫ل َماۡ ٱتَّبِعُوۡاْ لَ ُه ُۡم قِي‬ َّۡ ْ‫ل قَالُوۡا‬ ۡۡ َ‫علَ ۡي ِۡه َو َج ۡدنَا َما نَتَّبِ ُۡع ب‬ َ َٰ ‫ش ۡي‬ َ ‫طنُۡ كَانَۡ أ َ َولَوۡۡ َءابَۡا َءنهَۡا‬ َٰۡ َ‫ب إِل‬ َّ ‫ى يَ ۡدعُوه ُۡۡم ٱل‬ ِۡ ‫عذَا‬ َ ‫ِير‬ ِۡ ‫سع‬ َّ ‫ ٱل‬٢١ “Mereka berkata : Tidak... (QS. Tirmidzi) Antara ayat al-Qur’an dan hadits tersebut di atas terkesan ada pertentangan. dan makanlah . Al- Baqarah : 58) َۡ ‫ث مِ ۡن َها َو ُكلُوۡاْ ۡٱلقَ ۡر َي ۡةَ َٰ َه ِذِۡه ٱسۡ ُكنُوۡاْ لَ ُه ُۡم قِي‬ ۡ‫ل َو ِإ ۡذ‬ ُۡ ‫ش ۡئت ُۡۡم َح ۡي‬ َۡ ‫سن َِزي ُۡد خَطِ ي َٰـتِ ُك ۡهۡم لَ ُك ۡۡم نَّ ۡغفِرۡۡ سُ َّجدٗ ا ۡٱل َب‬ َّ ِ‫اب َو ۡٱد ُخلُوۡاْ ح‬ ِۡ ْ‫طةۡ َوقُولُوۡا‬ َ َۡ‫ ۡٱل ُم ۡح ِسنِين‬١٦١ “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman : Masuklah kamu ke negeri ini. Al-A’raf : 161) 7) Perbedaan penggunaan kosa kata.” (QS. Membandingkan ayat dengan Hadits. Barang siapa menentang (yusyaqiq) Allah dan Rasul-Nya. maka sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.

(HR. dan mentarjih salah satu pendapat setelah membahas kualitas argumentasi masing- masing. dengan menganut pengertian harfiah hadits. Mufasir membandingkan penafsiran ulama tafsir. dan 4) tidak menggugurkan suatu hadits yang berkualitas sahih. apabila memasukinya. tetapi karena ampunan dan rahmat Tuhan. Disini letak salah satu perbedaan yang prinsipil antara metode ini dengan metode-metode lain. Dengan kata lain. Pengertian ini sejalan dengan hadits lain. Ciri-ciri Metode Muqarin Perbandingan adalah ciri utama bagi Metode Komparatif. menemukan. mereka mendapat posisi di dalamnya berdasarkan keutamaan perbuatannya”. ayat di atas tidak disalahkan. amal perbuatan manusia menentukan peringkat surga yang akan dimasukinya. baik ulama salaf maupun ulama khalaf. Tirmidzi) Kedua. d.Pertama. mufasir berusaha mencari. dan mencari titik temu di antara perbedaan-perbedaan itu apabila mungkin. yaitu : “Sesungguhnya ahli surga itu. 2) membuktikan bahwa tidak ada ayat-ayat al-Qur’an yang kontradiktif. yaitu bahwa orang-orang tidak masuk surga karena amal perbuatannya. Pada ayat berarti imbalan. Oleh sebab itu jika suatu penafsiran dilakukan tanpa membandingkan berbagai pendapat yang dikemukakan oleh para ahli tafsir. Sedang dalam hal perbedaan penafsiran mufasir yang satu dengan yang yang lain. e. . dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Hal ini disebabkan karena yang dijadikan bahan dalam memperbandingkan ayat dengan ayat atau ayat dengan hadits. posisi seseorang di dalam surga ditentukan amal perbuatannya. karena menurutnya. Membandingkan pendapat para mufasir. Manfaat yang dapat diambil dari metode tafsir ini adalah : 1) membuktikan ketelitian al-Qur’an. maka pola semacam itu tidak dapat disebut “metode muqarrin”. adalah pendapat para ulama tersebut dan bahkan dalam aspek yang ketiga. dengan menyatakan bahwa huruf ba’ pada ayat di atas berbeda konotasinya dengan yang ada pada hadits tersebut. menggali. sedangkan pada hadits berarti sebab. Akan tetapi. 3) memperjelas makna ayat. baik yang bersifat manqul (al-tafsir al-ma’tsur) maupun yang bersifat ra’yu(al-tafsir bi al-ra’yi).

Klasifikasi Tafsir a. Ø Tafsir-tafsir bil ma’tsur yang terkenal antara lain: Tafsir Ibnu Jarir. . dari para sahabat berdasarkan ijtihadnya. Tafsir bi Al-Ma’tsur Tasir bil Al-Ma’tsur disebut juga tafsir riwayah atau tafsir manqul. · Masuknya unsur israiliyyat yang di definisikan sebagai unsur Yahudi dan Nasrani ke dalam penafsiran al-Quran. yang disampaikan kepada para sahabat. Tafsir Abu Laits As Samarkandy. Ø Keistimewaan tafsir bi al-ma’tsur sebagai berikut: · Menekankan pentingnya bahasa dalam memahami al-Quran · Memaparkan ketelitian redaksi ayat ketika menyampaikan pesan-pesannya · Mengikat mufassir dalam bingkai ayat-ayat sehingga membatasinya agar tidak terjerumus dalam subjektivitas yang berlebihan. Tafsir Ibnu Katsir. Tafsir Al Baghawy dan Tafsir Baqy ibn Makhlad. Tasir bil Al-Ma’tsur adalah penjelasan Al-Qur’an sendiri dari Rasulullah Saw. dan dari para tabi’in juga berdasarkan ijtihadnya. Ø Kelemahan Tafsir bi al-Ma’tsur antara lain sebagai berikut: · Terjadi pemalsuan (wadh) dalam tafsir.KLASIFIKASI TAFSIR DAN CORAK TAFSIR 1. · Penghilangan sanad · Mufassir terjerumus ke dalam uraian kebahasaan dan kesusasteraan yang bertele-tele sehingga pokok al-Quran menjadi kabur. yaitu tafsir al-Quran yang dalam penafsiran ayat-ayat al-Quran berdasarkan atas sumber panafsiran dalam Al-Quran dari riwayat para sahabat dan dari riwayat para tabi’in. Tafsir Ad Dararul Ma’tsur fit Tafsiri bil Ma’tsur (karya Jalaluddin As Sayuthi). Asbabun Nuzul (karya Al Wahidy) dan An Nasikh wal Mansukh (karya Abu Ja’far An Nahhas. · Kronologis asbab an-Nuzul hukum yang di pahami dari uraian (naskh-mansukh) hampir di katakan terabaikan sehingga ayat-ayat tersebut bagaikan turun di tengah-tengah masyarakat yang hampa budaya.

Tafsir ini banyak dilakukan oleh ahli bid'ah yang meyakini pemikiran tertentu kemudian membawa lafadz-lafadz Al-Qur'an kepada pemikiran mereka tanpa ada pendahulu dari kalangan sahabat maupun tabi'in. Tidak dinukil dari para imam ataupun pendapat mereka dan tidak pula dari tafsir mereka.[18] Tafsir bir Ro’yi adalah tafsir yang berlandaskan pemahaman pribadi penafsir. qiyas dan Ijtihad. Jadi. Sebagaimana hal itu termaktub dalam firman-Nya: َ َ‫بْۧ أُولُوا َو ِليَتَذَ َّك َۡر اَيَاتِ ِهۡ ِليَ َّدب َُّر ْوا ُمب‬ ۡ‫اركۡ إِلَيْكَۡ أ َ ْنزَ ْلنَاۡهُ ِكت َاب‬ ِۡ ‫الَ ْلبَا‬ Artinya: (inilah) kitab yang kami turunkan kepada engkau lagi diberkati.Ø Hukum Tafsir bil Ma’tsur. Tafsir Al-Kabir oleh Abdul Sabban dan Al-Kasysyaf yang ditulis oleh Zamakhsari. tabi'in dan orang-rang yang mengikuti mereka. Tafsir Abu 'Ali Al- Juba'i. seperti Tafsir Abdurrohman bin Kaisar. (Majmu' Fatawa: 13/362.) b. di samping memperhatikan asbab al-nuzul. (Tafsir Thobari: 1/66 dengan beberapa ringkasan. Dan bahwa mereka paling tahu tentang kebenaran yang dibebankan Allah kepada Rasulullah untuk menyampaikannya.An-Nisa:83) . sebagaimana telah dijelaskan dalam firman-Nya: ۡ‫ل َرد ُّْو ُهإَلَى َولَ ْو‬ ِۡ ‫س ْو‬ َّ ‫ظ ْونَ ۡهُ الَّ ِذيْنَۡ لَعَ ِل َم ۡهُ مِ ْن ُه ْۡم اْلَ ْم ِۡر أُولِى َوإِلَى‬ ُ ‫الر‬ ُ ِ‫مِ ْن ُه ْۡم يَ ْست َ ْنب‬ Artinya: kalau mereka serahkan hal itu kepada rasul atau pada orang yang mempunyai urusan di anatara mereka. Ibnu Jarir berkata : "Ahli tafsir yang paling tepat mencapai kebenaran adalah yang paling jelas hujjahnya terhadap sesuatu yang dia tafsirkan dengan dikembalikan tafsirnya kepada Rasulullah dengan khabar-khabar yang tsabit dari beliau dan tidak keluar dari perkataan salaf.Shad:29) "merenung dan berpikir " tidaklah akan terwujud melainkan dengan menyelami rahasia-rahasia al- Qur'an dan berijtihad untuk memahami makna-maknanya. dan istimbatnya dengan akal semata.. niscaya orang-orang yang meneliti di antara mereka mengetahui akan hal ini (QS. Tafsir bil ma'tsur adalah yang wajib diikuti dan diambil. · Allah memerintahkan kepada orang-orang yang hendak menggali hukum agar kembali kepada ulama'. Seperti kelompok Mu'tazilah yang banyak menulis tafsir berlandaskan pokok-pokok pemikiran mereka yang sesat. nasikh dan mansukh. tafsir bi al ra’yi adalah penafsiran yang dilakukan dengan cara Ijtihad. Karena terjaga dari penyelewengan makna kitabullah. Yakni rasio yang dijadikan titik tolak penafsiran setelah mufasir terlebih dahulu memahami bahasa Arab dan aspek-aspek dilalah (pembuktian) nya dan mufasari juga menggunakan syair-syair arab jahili sebagai pendukung. qira’at dan lain-lain. supaya mereka memperhatikan ayat-ayat dan supaya mendapat peringatan orang-orang yang berakal" (QS. Tafsir bi al Ra’yi Kata al ra’yi secara etimologis berarti keyakinan.) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Berkata : "Dan kita mengetahui bahwa Al-Qur'an telah dibaca oleh para sahabat. Ø Kelebihan Tafsir bi al Ra’yi · Sesungguhnnya Allah SWT telah memerintahkan kepada kita agar hendaknya suka merenungkan Al-Qur'an.

akal.44) · Para sahabat dan tabi'in tidak mau berkata sesuatu tentang al-Qur'an dengan pendapat mereka. kecualai apa yang engkau tahu. Dan barangsiapa berkata tentang al-Qur'an dengan pendapatnya.an-Nahl. supaya engkau terangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka. Sebagaimna yang disinggung dalam firman Allah SWT: ۡ‫علَى تَقَولُوا َوا َ ْن‬ َ ِۡ‫َمالَت َ ْعلَ ُم ْونَۡ للا‬ Artinya: …. atau berkata tentang al-Qur'an dengan sesuatu yang tidak kuketahu. melainkan beliau terangkan kepada mereka hanyalah bersifat dharuri (pokok). dan tentu saja banyak hukum yang tidak tergali. Beliau menginggalkan yang sebagain.. mudah-mudahan mereka memikirkannya (QS. sesunggunya dia berkata: ُّ َ ‫س َماءۡ أ‬ ۡ‫ي‬ ْۡ ِ‫ تُظِ لُّن‬: ‫ي‬ َ ‫ي‬ ْۡ ِ‫ ت ُ ِقلُّن‬: ‫ان فِي قُ ْلتُۡ ِإذَا‬ ُّۡ َ ‫ي ا َ ْرضۡ َوأ‬ ِۡ ‫ِب َرأء ِيي ْالقُ ْر‬ ۡ‫لَ بِ َما فِ ْي ِۡه قُ ْلتُۡ أ َ ْو‬ ۡ ‫ا َ ْعلَ ُۡم‬ Artinya: di langit mana aku bernaung dan di bumi mana aku berpijak? bila aku berkata sesuatu tentang al-Qur'an dengan pendapatku.· Kalau tafsir dengan ijtihad tidak diperbolehkan. yang sekira dapat dicapai oleh pengetahuan. maka ambil saja tempat duduknya di neraka. maka ambillah saja tempat duduknya di neraka (HR at-Turmudzi) Firman Allah SWT ‫الذ ْك َۡر ِإلَيْكَۡ َوأ َ ْنزَ ْلنَا‬ ِ َۡ‫اس ِلت ُ َب ِين‬ َۡ ‫َيتَفَ َّك ُر ْونَۡ َولَ َعلَّ ُه ْۡو ِإلَ ْي ِه ْۡم نُ ِز‬ ۡ ِ َّ‫ل َما للن‬ Artinya : Dan Kami turunkan kepada engkau peringatan (al-Qur'an). Ø Tafsir-tafsir bi ar-ra’yi yang terkenal antara lain: . dan (supaya kamu) mengadakan perkataan Allah tentang sesuatu yang tidak kamu ketahui · Adanya ancaman sebagaimana tersebut dalam hadis bagi orang yang menafsirkan Al-Qur'an dengan pendapatnya. Telah diriwayatkan dari Ash-Shidiq. ini jelas dilarang. tentunya ijtihad pun tidak diperbolehkan. yaitu sabda nabi SAW. Juga telah maklum bahwa tidak semua yang mereka katakan tentang al-Qur'an itu mereka dengar dari nabi SAW. Ø Kelemahan Tafsir bi al Ra’yi · Sesungguhnya tafsir bir-ra'yi adalah mengatakan sesuatu tentang kalamullah tanpa berdasarkan suatu ilmu. dan ijtihad. yang berbunyi: ‫ْث اِتَّقُوا‬ َۡ ‫ي ال َح ِدي‬ َ َّ‫ل‬ َّۡ َ‫عل‬ ۡ ِ‫علِمت ُْۡم َما إ‬ َۡ َّ‫ي َكذ‬ ْۡ ‫ب فَ َم‬ َ ‫ن‬ َ ‫َم ْق َع َدۡهُ فَ ْل َيت َ َب َّوۡأْ ُمت َ َع ِمدًا‬ َّۡ َ‫عل‬ ِۡ َّ‫ن الن‬ َۡ‫ار مِ ن‬ ْۡ ‫ل َو َم‬ ِۡ َ ‫ار مِ نَۡ َم ْقعَ َدۡهُ فَ ْليَتَبَ َّوۡأْ بِ َرأْيِ ِۡه ْالقُ ْرا‬ َۡ ‫ن فِي قَا‬ ِۡ َّ‫الن‬ Artinya : takutlah engkau mengadakan perkataan terhadapku. karena Nabi SAW tidak menerangkan segala sesuatu kepada mereka. barangsiapa berdusta atas aku dengan sengaja. sungguh ini tidak benar · Sesungguhnya para sahabat telah membaca al-Qur'an dan berbeda beda dalam menafsirkannya.

Tafsir Ash-Shufi Tafsir sufi adalah penafsiran al Qur’an yang berlainan dengan zahirnya ayat karena adanya petunjuk- petunjuk yang tersirat. Tafsir Al-Khatib. karya Sahl al-Tustarī. Tafsir falsafi Adalah upaya penafsiran al-Qur’an dikaitkan dengan persoalan-persoalan filsafat. Tafsir An-Nasafy. dan Al-Jāmi‘ li ahkām al-Quran karya al-Qurtubī . Ada juga yang mendefisnisikan tafsir falsafi sebagai penafsiran ayat-ayat al-Qur’an dengan menggunakan teori-teori filsafat. Tafsir Al-Baidhawi. Sebagaimana Firman Allah: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya” (QS. 2.[27] Ada beberapa kitab tafsir falsafi seperti. maka hukumnya adalah harom.Karena ayat al- Qur’an bisa berkaitan dengan persoalan-persoalan filsafat atau ditafsirkan dengan menggunakan teori-teori filsafat. Corak Tafsir a. maka hendaknya mengambil tempat duduknya di neraka. Tafsir Abu Suud. Ahkām al-Quran karya Ibn al-‘Arabi. dan ‘Arā’is al-Bayān fī Haqā’iq al-Qur’ān karya al-Syirazī. Tafsir Al-Khazi. b. c. diberi sinar oleh Allah SWT sehingga dapat menjangkau rahasia- rahasia al.Hikam karya Al Farabi. Lata’if al-Isyarat karya al- Qusyairi. Hal ini berarti bahwa ayat-ayat al-Qur’an dapat ditafsirkan dengan menggunakan filsafat.[23] Contoh karya yang menampilkan corak tafsir sufi adalah Tafsir al-Qur’ān al-Karim. Tafsir falsafi yaitu tafsir yang didominasi oleh teori-teori filsafat sebagai paradigmanya.Qur’an. Mafatih Al-Ghaib. Tafsir Fiqhī Tafsir fiqhi. Fushush al. Dan hal itu dilakukan oleh orang-orang Sufi. Haqā’iq al-Tafsīr karya Abu Abd al-Rahman al-Sulamī.[25] Di antara kitab-kitab yang tergolong tafsir fiqhī adalah Ahkām al-Quran karya al-Jassās. Tafsir Al-Fakhrur Razy.Tafsir al-Jalalain (karya Jalaluddin Muhammad Al-Mahally dan disempurnakan oleh Jalaluddin Abdur Rahman As Sayuthi). Al-Isro': 36) Rasulullah bersabda : "Barangsiapa yang berkata tentang Al-Qur'an dengan akalnya semata. orang yang berbudi luhur dan terlatih jiwanya (Mujahadah). Tafsir ini sering disebut tafsir ayat al-ahkam atau tafsir ahkam karena tafsir ini lebih berorientasi pada ayat-ayat hukum dalam al-Qur`an (ayat al-ahkam). Tafsir ilmi Tafsir ilmi adalah suatu metode tafsir yang berusaha menjalaskan istilah-istilah yang ilmiyah dalam al-Qur’an dan menghasilkan berbagai macam teori ilmiyah dan filsafat. karya Fakhr al-Razi. Dapat kita pahami bahwa . adalah corak tafsir yang lebih menitikberatkan kepada pembahasan masalah-masalah fiqhiyyah dan cabang-cabangnya serta membahas perdebatan/perbedaan pendapat di antara imam madzhab. d. Mereka menafsirkan ayat-ayat al Qur’an sesuai dengan pembahasan dan pemikiran mereka yang berhubungan dengan kesufian yang justru kadang-kadang berlawanan dengan “Syari’at Islam” dan kadang-kadang pemikiran mereka tertuju pada hal yang bukan-bukan tentang Islam. Ø Hukum Tafsir Bir Ro’yi Adapun menafsirkan Al-Qur'an dengan akal semata.

Tafsir Al-Manar. yang mampu bertahan sepanjang perkembangan zaman dan kebudayaan manusia sampai akhir masa yang nantinya dapat mengugah hati untuk memperhatikan Kitabullah dan timbul minat serta gairah untuk mengetahui segala makna dan rahasia Al-Quran al-Karim tersebut.[30] e. Tafsir Al-Maraghi. karya Al-Maraghi c. karya Rasyidh Ridha b. Metode Tahlil (analisis) adalah menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan memaparkan segala aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat yang ditafsirkan itu serta menerangkan makna-makna . Sebagian ulama ada juga yang memasukkan beberapa karya seperti Ihyā’ ‘ulūm al-dīn. istilah corak Al-adabi wa al-ijtima’i itu tersusun dari dua kata. dan Jawāhir al-Quran karya Imam al-Ghazāli. Karya Syaikh Mahmud Syaltut KESIMPULAN 1. Metode Ijmali (Global) adalah suatu metoda tafsir yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan cara mengemukakan makna global. Juga berusaha menjelaskan kepada umat bahwa Al-Quran itu adalah Kitab Suci yang kekal. sebagaimana corak ini tergolong kepada metode tafsir tahlili. akan tetapi bila tafsir dipahami sebagai genre untuk karya yang menampilkan penafsiran al-Qur’an berdasarkan tata urutan ayatnya sesuai dengan mushaf. yaitu al-adabi dan al-ijtima’i. namun secara etimologisnya tafsir al-adaby al-Ijtima’i adalah tafsir yang berorientasi pada sastra budaya dan kemasyarakatan. Metode tafsir al-Quran adalah suatu cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai pemahaman yang benar tentang apa yang dimaksudkan Allah di dalam ayat-ayat al-Quran. sedangkan kata al-ijtima’iy yaitu mempunyai makna banyak berinteraksi dengan masyarakat atau bisa diterjemahkan hubungan kesosialan. Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim. kata al-adaby merupakan bentuk kata yang diambil dari fi’il madhi aduba.yang dimaksud dengan tafsir ilmi adalah seorang mufassir yang berusaha menjelaskan makna yang terkandung dalam al-Qur’an dengan metode atau pendekatan ilmiyah atau ilmu mengetahuan. Diantara kitab tafsir al-adaby al-Ijtima’i adalah : a. tata krama dan sastra. Tafsir Adabi wa Ijtima’i Pengertian secara makna kebahasaan. Metode-metode penafsiran dibagi dalam empat cara (metode). serta al-Itqan karya al-Suyūtī sebagai karya yang mencerminkan corak tafsir ilmi ini. Tafsir ini berusaha menjelaskan makna atau maksud yang dituju oleh Al-Quran dari segi balaghah dan kesastraannya serta berupaya mengungkapkan betapa keagungan Al-Quran itu sebagai sebuah mu’jizat mengandung hukum-hukum alam raya dan aturan-aturan kemasyarakatan.[29] Karya yang bisa digolongkan dalam kelompok tafsir ilmi adalah Tafsir al-Kabīr karya Imam Fakh al- Razî dan Tafsir al-Jawahir karya Tantawi Jauhari. suatu petunjuk yang berorientasi kepada kebaikan dunia dan akhirat. serta berupaya mempertemukan antara ajaran Al-Quran dan teori-teori ilmiah yang benar. 2. melalui petunjuk dan ajaran Al-Quran. yang mempunyai arti sopan santun. b. maka ketiga karya yang disebut terakhir tidak bisa di masukkan ke dalamnya. yaitu : a.

Tafsir Ash-Shufi d. Tafsir Al-Adabi Al-Ijtima . Tafsir Al-Falsafi f. c. 3. Klasifikasi dan corak tafsir antara lain: a. Metode Muqaran (Komparatif/Perbandingan) adalah menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an dengan merujuk pada penjelasan-penjelasan para mufassir. Tafsir Al-Ilimi g.yang tercakup di dalamnya. Tafsir bi Al-Ra’yi c. Tafsir bi Al-Ma’tsur b. sesuai dengan keahlian dan kecenderungan mufasir yang menafsirkan ayat-ayat tersebut. d. Tafsir Al-Fiqhi e. Metode Maudhu’iy (Tematik) adalah membahas ayat-ayat Al-Quran sesuai dengan tema atau judul yang telah ditetapkan.