Anda di halaman 1dari 18

PENDAHULUAN

Masalah gizi di Indonesia saat ini memasuki masalah gizi ganda.

Artinya, masalah gizi kurang masih belum teratasi sepenuhnya, sementara

sudah muncul masalah gizi lebih. Kelebihan gizi yang menimbulkan obesitas

dapat terjadi baik pada anak-anak hingga usia dewasa. Obesitas disebabkan

oleh ketidakseimbangan antara jumlah energi yang masuk dengan yang

dibutuhkan oleh tubuh untuk berbagai fungsi biologis seperti pertumbuhan

fisik, perkembangan, aktivitas, pemeliharaan kesehatan.1,2

Jika keadaan ini berlangsung terus menerus (positive energy balance)

dalam jangka waktu cukup lama, maka dampaknya adalah terjadinya

obesitas. Obesitas pada masa anak dapat meningkatkan kejadian diabetes

mellitus (DM) tipe 2. Selain itu, juga berisiko untuk menjadi obesitas pada saat

dewasa dan berpotensi mengakibatkan gangguan metabolisme glukosa dan

penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, penyumbatan pembuluh darah

dan lain-lain. Selain itu, obesitas pada anak usia 6-7 tahun juga dapat

menurunkan tingkat kecerdasan karena aktivitas dan kreativitas anak menjadi

menurun dan cenderung malas akibat kelebihan berat badan.2

Diagnosis obesitas pada anak ditegakkan berdasarkan anamnesis, dan

pemeriksaan fisik. Pengukuran antropometri dilakukan dengan menimbang berat

badan dan mngukur tinggi badan. Penentuan status gizi memakai Indeks Massa

Tubuh (IMT) dan chart CDC, melebihi persentil 95%.2,3

Pada kasus ini, akan dibahas anak dengan obesitas.

1

konsistensi cair berwarna coklat bercampur sedikit warna hijau. Pasien mengalami panas secara terus-menerus. Volume kotoran yang keluar sedikit-sedikit. Buang air kecil kesan normal dan lancar. Pasien juga sempat mengalami muntah sebanyak tiga kali. 2 . muntah tampak cair bercampur sedikit makanan. Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien pernah mengalami panas sekitar dua minggu yang lalu.35 WITA Keluhan Utama : buang air besar encer Riwayat penyakit sekarang: Pasien baru masuk rumah sakit dengan keluhan buang air besar encer dengan frekuensi buang air sebanyak 6 kali sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. KASUS IDENTITAS PASIEN Nama : An. Pasien mengeluhkan nyeri pada bagian perut. tidak ada darah. tidak ada darah dan agak berlendir. tetapi nafsu makan baik. bau seperti telur busuk. tetapi setelah dibawah ke puskesmas dan diberi pengobatan tiga hari kemudian pasien langsung membaik Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang mempunyai keluhan yang sama. G Umur : 7 tahun 4 bulan Jenis Kelamin : Laki-laki Tanggal masuk / waktu : 26 Juli 2014 / 21.

800 gr Tempat : Puskesmas Riwayat Neonatal : Tidak ada kelainan Riwayat Imunisasi : Imunisasi dasar lengkap Riwayat Alergi : Tidak ada PEMERIKSAAN FISIK 1. Riwayat kebiasaan dan lingkungan: Pasien tampak sudah dapat bermain diluar dengan anak-anak seusianya Riwayat kehamilan dan persalinan : Riwayat Antenatal : Kunjungan ANC rutin setiap bulan.Anamnesis Makanan: Pasien minum ASI sejak lahir sampai umur 7 bulan. Dari umur 1 tahun hingga sekarang diberikan susu formula ditambahkan dengan makanan tambahan. cukup bulan Riwayat Natal : Spontan/langsung menangis Berat badan lahir : 2. Keadaan umum : Baik Kesadaran : Kompos mentis 2. Riwayat sosial ekonomi: Keluarga pasien memiliki status sosial ekonomi menengah keatas. Pengukuran Tanda vital : Tekanan Darah : 90/70 mmHg Nadi :82 kali/menit 3 . Dari umur 7 bulan hingga umur 1 tahun diberikan ASI ditambahkan makanan tambahan. Pasien sering makan snack-snack dan minuman sembarangan disekolah.

kesan membulat Rambut : Warna hitam. Suhu :37.9°C Respirasi :30 kali/menit Berat badan : 39 kg Tinggi badan : 133 cm Status gizi : Obesitas (Berat Badan/Tinggi Badan 134%) 3. isokor Telinga : Sekret : tidak ada Serumen : minimal Nyeri : tidak ada 4 . tebal. tidak mudah dicabut. alopesia (-) Mata : Palpebra : edema (-/-) Konjungtiva : pucat (-/-) Sklera : ikterik (-/-) Reflek cahaya : (+/+) kesan normal Pupil : Bulat. Kulit : Warna : Sawo matang Efloresensi : tidak ada Pigmentasi : tidak ada Sianosis : tidak ada Turgor : cepat kembali (<2 detik) Kelembaban : cukup Tampak jaringan lemak menebal Kepala: Bentuk : Normocephal.

Toraks : a. Dinding dada/paru : Inspeksi : Bentuk : simetris bilateral Retraksi : tidak ada Palpasi : Vokal fremitus kiri=kanan Perkusi : Sonor kiri : kanan Auskultasi : Suara Napas Dasar : Bronchovesikuler (+/+) Suara Napas Tambahan : Rhonchi (-/-) Wheezing (-/-) b.4. Jantung : Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat Palpasi : Ictus cordis teraba pada Spatium Inter Costa(SIC) V linea midclavicula sinistra Perkusi : Batas jantung kanan : SIC IV linea parasternal dextra Batas jantung atas : SIC II linea parasternal sinistra Batas jantung kiri : SIC V linea midclavicula sinistra Auskultasi : Suara dasar : S1 dan S2 murni. regular Bising : tidak ada 6. Mulut-Leher :  Pembesaran kelenjar leher : tidak ada  Tonsil : T1-T1  Faring : normal 5. Abdomen : Inspeksi : Bentuk : cembung 5 .

Keadaan Umum baik 1 . Otot-otot : tonus baik Pemeriksaan laboratorium Hasil Rujukan Satuan HEMATOLOGI Hemoglobin 12 11.5 Juta/ul Hematokrit 40. Auskultasi : bising usus (+) kesan meningkat Perkusi : Bunyi : timpani Asites : (-) Palpasi : Nyeri tekan : (-) Hati : tidak teraba Lien : tidak teraba Ginjal : tidak teraba 7.8-8. Bibir biasa 1 . Nadi 82 x/menit 1 6 .5 /ul Eritrosit 7.5 g/dl Leukosit 19. Ekstremitas : akral hangat.3 3. edema tidak ada 8. Mata biasa 1 .6 3. Genitalia : tidak ada kelainan 9.5-16.5-10.2 35-52 % Trombosit 411 150-450 Ribu/ul Skor dehidrasi .

BAK lancar. Ceftriaxone 2 x 250 mg/iv tiap 12 jam  Zink 1 x 20 mg (selama 10 hari) 7 . tenesmus (+). darah (-). menggunakan chart CDC dengan Berat Badan/Tinggi Badan 134%. Dari pemeriksaan fisik didapatkan status gizi anak obesitas. DIAGNOSIS : Diare akut (tanpa dehidrasi) + Obesitas pada anak ANJURAN PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan Feses rutin TERAPI  IVFD RL 28 tpm  Paracetamol syrup 3 x 120 mg ( 1 Cth)  Inj. Turgor baik 1 Total Score 6 (tanpa dehidrasi) RESUME : Pasien laki-laki datang keluhan buang air besar encer. konsistensi cair berwarna coklat bercampur sedikit warna hijau. tetapi nafsu makan baik. . frekuensi 6 kali. volume sedikit. muntah tampak cair bercampur sedikit makanan. Pasien juga suka mengkonsumsi makanan ringan dan jajan sembarangan disekolahnya. darah tidak ada. bau seperti telur busuk. agak berlendir. Pernapasan 30 x/menit 1 . Keluhan disertai demam. vomitus tiga kali. Riwayat demam 2 minggu tetapi sudah sembuh dengan pengobatan dari puskesmas.

frekuensi 3x/hari. berbau telur busuk Object DJ: 134 x/menit T: 36. warna kotoran coklat. berbau biasa Object TD: 100/60 mmHg DJ: 130 x/menit T: 36. ampas (+). frekuensi 4x/hari. ampas (+). peristaltik usus (+) meningkat Assesment Diare akut tanpe dehidrasi + obesitas Plan IVFD RL 28 tpm Inj. warna kotoran coklat.  Oralit 100-200 ml setiap kali BAB FOLLOW UP Tanggal 27-7-2014 Subject Buang air besar encer (+).8 °C R: 42 x/m Status gastrointestinal: permukaan sedikit cembung (+).5 °C R: 40 x/m Status gastrointestinal: permukaan sedikit cembung (+). Ceftriaxone 2 x 250 mg/iv tiap 12 jam Zink 1 x 20 mg (selama 10 hari) Oralit 100-200 ml setiap kali BAB 8 . peristaltik usus (+) meningkat Assesment Diare akut tanpe dehidrasi + obesitas Plan IVFD RL 28 tpm Inj. Ceftriaxone 2 x 250 mg/iv tiap 12 jam Zink 1 x 20 mg (selama 10 hari) Oralit 100-200 ml setiap kali BAB Tanggal 28-7-2014 Subject Buang air besar encer (+).

peristaltik usus (+) normal Assesment Diare akut tanpe dehidrasi + obesitas Plan IVFD RL 28 tpm Inj.6 °C R: 40 x/m Status gastrointestinal: permukaan sedikit cembung (+).Tanggal 29-7-2014 Subject Buang air besar berampas. frekuensi 2x/hari. warna kotoran coklat. berbau biasa Object TD: 100/70 mmHg DJ: 126 x/menit T: 36. Ceftriaxone 2 x 250 mg/iv tiap 12 jam Zink 1 x 20 mg (selama 10 hari) Oralit 100-200 ml setiap kali BAB Tanggal 30-7-2014 Pasien pulang dan melakukan rawat jalan 9 .

osteoartritis. teori point set bahwa individu yang mempunyai tingkat predetermine untuk berat badan relatif stabil selama usia 10 . dan merupakan faktor risiko terjadinya berbagai penyakit metabolik dan degeneratif seperti penyakit kardiovaskuler. selama kelebihan kalori disimpan sebagai lemak dan kekurangan glukosa akan terjadi pelepasan lemak sebagai sumber energi. sleep apnea (henti napas sesaat) dan gangguan pernafasan lain. Individu yang obesitas mampu menyimpan lemaknya dengan mudah. kanker. Pada anak. namun tidak mampu melepas lemak ini atau membakarnya untuk energi. sebagai penyekat panas.2. teori sel adipose menjelaskan jumlah sel di jaringan adipose meningkat maka ukuran sel lemak juga meningkat.3.4 Metabolisme glukosa berperan penting dalam mengatur penumpukan lemak. Ada teori yang menjelaskan mengenai perkembangan obesitas yaitu pertama. Setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi. gangguan tidur. kegemukan dan obesitas juga dapat mengakibatkan berbagai masalah kesehatan yang sangat merugikan kualitas hidup anak seperti gangguan pertumbuhan tungkai kaki. dll. diabetes mellitus.3 Kegemukan dan obesitas pada anak berisiko berlanjut ke masa dewasa. Kedua. DISKUSI Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. penyerap guncangan dan fungsi lainnya.4 Faktor herediter juga berperan penting dalam perkembangan obesitas.

dewasa. maka dengan meningkatnya intake kalori maka metabolic rate meningkat untuk membakar kelebihannya.5 Untuk mendiagnosis obesitas. setelah dimasukkan ke dalam chart didapatkan Obesitas (Berat Badan/Tinggi Badan 134%). dapat digunakan chart CDC Pada kasus ini. 11 . bila intake dikurangi maka metabolisme menurun untuk menyimpan energi.

terdapat empat tahap tata laksana dengan intensitas yang meningkat. Setiap keluarga dapat meningkatkan jumlah porsi menjadi 9 porsi per hari . Kurangi meminum minuman manis. . sedangkan pada anak yang lebih besar dapat melakukan kegiatan yang mereka sukai seperti olahraga atau menari. naik sepeda dan berjalan kaki. bela diri. 12 . seperti soda.2 Tahap I: Pencegahan Plus Pada tahap ini. . punch. Jika anak berusia < 2 tahun maka sebaiknya tidak menonton sama sekali. Prinsip tata laksana obesitas adalah mengurangi asupan energi serta meningkatkan keluaran energi. Kurangi kebiasaan menonton televisi (ataupun bentuk lain menonton) hingga 2 jam perhari. pasien overweight dan obesitas serta keluarga memfokuskan diri pada kebiasaan makan yang sehat dan aktivitas fisik sebagai strategi pencegahan obesitas. Tujuan utama tata laksana obesitas adalah perbaikan kesehatan jangka panjang melalui kebiasaan hidup yang sehat secara permanen. Mengonsumsi 5 porsi buah-buahan dan sayur-sayuran setiap hari. ≥ 1 jam per hari. maka televisi sebaiknya dipindahkan dari kamar tidur anak. Kebiasaan makan dan beraktivitas yang sehat adalah sebagai berikut:2 . Tingkatkan aktivitas fisik. Bermain adalah aktivitas fisik yang tepat untuk anak-anak yang masih kecil. Untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk membantu anak beradaptasi.

Jadwal makan terencana beserta snack (3 kali makan disertai 2 kali snack. Libatkan seluruh anggota keluarga dalam perubahan gaya hidup . Bantu keluarga mengatur perilaku sesuai kultur masing-masing Tahap II: Manajemen Berat Badan Terstruktur Tahap ini berbeda dari tahap I dalam hal lebih sedikitnya target perilaku dan lebih banyak dukungan kepada anak dalam mencapai perubahan perilaku. . 13 . Diet terencana atau rencana makan harian dengan – makro nutrient seimbang sebanding dengan rekomendasi pada Dietary Reference Intake. . Pengurangan waktu menonton televisi dan kegiatan menonton lainnya hingga 1 jam per hari. Beberapa tujuan yang hendak dicapai. Persiapkan makanan rumah lebih banyak ketimbang membeli makanan dari restoran. Biasakan makan di meja makan bersama keluarga minimal 5 atau 6 kali per minggu. diutamakan pada makanan berdensitas energi rendah. . terutama pada anak< 12 tahun. . . Biarkan anak untuk mengatur sendiri makanannya dan hindari terlalu mengekang perilaku makanan anak. Mengonsumsi sarapan bergizi setiap hari . tanpa makanan ataupun minuman mengandung kalori lainnya di luar jadwal) . di samping tujuan-tujuan pada tahap I adalah sebagai berikut:2 .

meliputi pengukuran tubuh. Evaluasi sistemik. perawat terlatih. Aktivitas fisik atau bermain aktif yang terencana dan terpantau selama 60 menit perhari. Tim multi disipliner yang berpengalaman dalam hal obesitas anak saling bekerjasama. Untuk implementasi tahap ini. dokter spesialis anak dengan berbagai subspesialisasi seperti nutrisi. Partisipasi orang tua dalam teknik modiikasi perilaku dibutuhkan oleh anak < 12tahun . pulmonologi. diet jangka pendek. aktivitas fisik harus dilakukan pada awal program dan di pantau pada interval tertentu . psikologi.dan dokter spesialis yang terlibat untuk meningkatkan dukungan terhadap perubahan perilaku. hasil dari perubahan diet dan aktivitas fisik . hal-hal berikut harus diperhatikan:2 . physicial therapist. Pemantauan perilaku ini sebaiknyatercatat . dan penetapan target aktivitas fisik . hepatologi. Pengaturan keseimbangan energy negatif. meliputi pemantauan makanan. frekuensi kunjungan dokter. Reinforcement terencana untuk mencapai target perilaku Tahap III: Intervensi multidisipliner menyeluruh Pendekatan ini meningkatkan intensitas perubahan perilaku. . . dan tumbuh 14 . kardiologi. meliputi pekerja sosial. endokrin. Program modiikasi perilaku di laksanakan terstruktur. diet. Orang tua harus dilatih untuk memperbaiki lingkungan rumah .

. Manfaat obat-obatan ini cukupbaik. dan Orlistat yang menyebabkan malabsorpsi lemak melalui inhibisi lipase usus. ahli gizi. Food and Drug Administration (FDA) telah menyetujui penggunaan orlistat pada pasien >12 tahun. Intervensi ini adalahtahap lanjutan dari tahap III. Obat-obatan: yang telah dipakai pada remaja adalah Sibutramine yaitu suatu inhibitor re-uptake serotonin yang meningkatkan penurunan berat badan pada remaja yang sedang menjalani program diet dan pengaturan aktivitas fisik. dokter spesialis bedah ortopedi. yaitu pada tahap awal dilakukan pembatasan kalori secara ekstrim lalu dilanjutkan dengan pembatasan kalori secara moderat. psikolog. Anak-anak yang mengikuti tahap ini harus sudah mencoba tahap III dan memiliki pemahaman tentang risiko yang muncul akibat obesitas dan mau melakukan aktivitas fisik berkesinambungan serta diet bergizi dengan pemantauan.2 . Tahap IV: Intervensi pelayanan tersier Intervensi tahap IV ditujukan untuk anak remaja yang obesitas berat. kembang. Kunjungan kedokter yang regular harus dijadwalkan. . tiap minggu selama minimum 8-12 minggu paling efektif . 15 . dan ahli kesehatan masyarakat. guru. Diet sangat rendah kalori . Kunjungan secara berkelompok lebih efektif dalam hal biaya dan bermanfaat terapeutik. dokterspesialis olahraga.

Diabetes. Kriteria seleksi meliputi BMI ≥40 kg/m2 dengan masalah medis atau ≥ 50 kg/ m2. 16 . 2. baik gastric bypass atau gastric banding.5 Dampak Obesitas pada anak:5. . dan hiperglikemia berpengaruh negatif terhadap kesehatan. Lemak berlebih menyebabkan resistensi insulin. maturitas emosional dan kognitif. Penyakit jantung Penyakit-penyakit ini merupakan penyakit kardiovaskular akibat aterosklerosis.2 Meningkatnya prevalensi obesitas pada anak diseluruh dunia menyebabkan terjadinya berbagai kondisi yang memperberat hidup dari penderita obesitas. Obesitas merupakan penyebab utama DM t2. maturitas fisik (remaja perempuan berusia 13 tahun dan anak remaja laki-laki berusia ≥15 tahun. Komplikasi ini berupa komplikasi jangka pendek dan jangka panjang. Hingga kini belum ada bukti ilmiah yang menyatakan keamanan terapi intensif ini jika diterapkan pada anak. dan sudah berusaha menurunkan beratbadan selama ≥ 6 bulan melalui program modiikasi perilaku). Bedah: mengingat semakin meningkatnya jumlah remaja dengan obesitas berat yang tidak berespons terhadap intervensi perilaku. dan perlunya komitmen pasien seumur hidup.6 1. pascaprosedur. Tata laksana ini hanya dilakukan dengan indikasi yang ketat karena terdapat risiko perioperatif. terdapat beberapa pilihan terapi bedah.

5. Morbid obesity memperberat beban pada sendi-sendi. 6. metabolik. 3. kanker serviks. pulmoner. komplikasi dapat dicegah. Untuk prognosis obesitas pada kasus ini.Osteoartritis. Apnea tidur Obesitas menyebabkan saluran napas yang menyempit yang selanjutnya menyebabkan henti napas sesaat sewaktu tidur dan mendengkur berat. Harus dilakukan perubahan dalam pola aktivitas fisik dan mulai menjalani kebiasaan makan yang sehat. pada lelaki kanker kolon. Pembatasan asupan kalori dan peningkatan aktivitas fisik merupakan komponen yang paling penting dalam pengaturan berat badan. Kedua komponen ini juga penting dalam mempertahankan berat badan setelah terjadi penurunan berat badan. dan kandung empedu. dan lain-lainnya. Penyakit perlemakan hati Baik peminum alkohol maupun bukan dapat mengidap penyakit perlemakan hati (non alcoholic fatty liver disease = NAFLD) atau non alcoholic steatohepatitis (NASH) yang dapat berkembang menjadi sirosis. skeletal. baik kardiovaskuler. rektum. prognosisnya baik. 4. Kanker Banyak jenis kanker yang berkaitan dengan BBL misalnya pada perempuan kanker payudara. karena tidak ditemukan adanya komplikasi. Dengan memberikan edukasi kepada orangtua agar memperhatikan asupan nutrisi anaknya. 17 . serta pengawasan kegiatan anak yang ketat.

Jilid 1... Overweight and Obesity. Hidayat. Bagian Ilmu Kesehatan Anak. Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik. Joseph A. Jenderal bina gizi dan kesehatan Ibu dan Anak. Fakultas Kedokteran Airlangga. 2012 18 . Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Kegemukan dan Obesitas pada Anak Sekolah. Nelson Textbook of Pediatric 18th Edition. No. Kemenkes RI. International Journal of Obesity.. Faktor risiko obesitas pada anak 5-15 tahun di Indonesia. Colin D. PedomanPelayananMedis. B. 3. Dalam:Makara. Obesitas Pada Anak. Vol.. IkatanDokterAnak Indonesia. 4. 2. Kesehatan. S. Ratu AD. Irawan. Skelton. Dalam: Kliegman et al.R. Complications of Obesity in Children and Adolescence. SN. Elsevier. R. 2005. 1 Juni 2011: 37-43 5. 15. 2010. Philadelphia: 2007: Chapter 44. Hidayati. Rudolph. Daniels. 2009 6. PengurusPusatIkatanDokterAnakIndonesia . DAFTAR PUSTAKA 1. Sartika.