Anda di halaman 1dari 49

KEPUTUSAN DIREKTUR PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR

PENGENDALIAN PENYAKIT DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN
NOMOR : HK. 02.03/D3/V.6/109 /2016
TENTANG

RENCANA AKSI KEGIATAN
PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR
TAHUN 2015-2019 REVISI I
DIREKTORAT PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR

DIREKTUR PENCEGAHAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR,

Menimbang : bahwa sebagai penjabaran dari Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun
2015-2019, perlu disusun Rencana Aksi Kegiatan Pengendalian Penyakit Tidak
Menular (PPTM) tahun 2015-2019 yang ditetapkan dengan Keputusan Direktur
Pengendalian Penyakit Tidak Menular;
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Mengingat : 1. Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2003. Nomor 47, Tambahan Berita Negara Republik Indonesia
Nomor. 4287);
2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587
pengganti Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437);

3 Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438)
4. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan(Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5063);
5. Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2015 tentang Kementerian Kesehatan
(Lembaran-Negara Nomor 59 Tahun 2015);

6. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-2019;
7. Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2015 tentang Rencana Kerja Pemerintah
Tahun 2016;

RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR
TAHUN 2015-2019 REVISI I i

8. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 374/Menkes/SK/V/2009 tentang
Sistem Kesehatan Nasional;
9. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 375/Menkes/SK/V/2009 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Tahun 2005-2025;

10. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/MENKES/52/2015 tentang
Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019;

11. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 64 Tahun 2015 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kementerian Kesehatan;
12. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 2348 / Menkes / Per / XI/ 2011 tentang
Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 356/Menkes/Per/IV/2008
tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan;

13. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 2349/Menkes/Per/XI/2011 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Bidang Teknik Kesehatan
Lingkungan dan Pengendalian Penyakit;
14 Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 71 tahun 2015 tentang
Penanggulangan Penyakit Tidak Menular
15. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 90 Tahun 2010
Tentang Penyusunan Rencana Kerjadan Anggaran Kementerian
Negara/Lembaga

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKTUR PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK
MENULAR TENTANG RENCANA AKSI KEGIATAN PENCEGAHAN DAN
PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR (P2PTM) TAHUN 2015-2019
DIREKTORAT PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR
REVISI I

KESATU : Rencana Aksi Kegiatan P2PTM tahun 2015-2019 merupakan Dokumen
perencanaan Kegiatan PPTM selama lima tahun yang berisikan upaya yang
akan dilakukan Dit.P2PTM untuk mencapai indikator kegiatan dan kegiatan
yang telah ditetapkan dalam kurun waktu 5 tahun (2015-2019).
KEDUA : Rencana Aksi Kegiatan P2PTM tahun 2015-2019 digunakan sebagai salah satu
pedoman bagi seluruh satuan kerja pelaksana Kegiatan P2PTM dalam menyusun
Kegiatan

KETIGA : Rencana Aksi Kegiatan P2PTM tahun 2015-2019 digunakan sebagai salah satu
pedoman bagi seluruh satuan kerja pelaksana kegiatan PPTM dalam penyusunan
perencanaan tahunan (RKAKL).

RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR
TAHUN 2015-2019 REVISI I ii

KEEMPAT : Rencana Aksi Kegiatan P2PTM Tahun 2015-2019 digunakan sebagai salah satu
pedoman penilaian laporan Kinerja Satuan Kerja Dit.P2PTM.
KELIMA: Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila di kemudian
hari terdapat kekeliruan akan dilakukan perbaikan seperlunya

J
Ditetapkan di : Jakarta
Pada Tanggal : Februari 2016
Direktur Pencegahan dan Pengendalian PTM,

dr. Lily S. Sulistyowati, MM
NIP 195801131988032001

Tembusan Yth.
1. Direktur Jenderal P2P
2. Sesditjen P2P

RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR
TAHUN 2015-2019 REVISI I iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT – Tuhan yang Maha Esa – atas berkat dan karunia
Nya penyusunan buku Rencana Aksi Kegiatan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (RAK
P2PTM) 2015-2019 Revisi I telah dapat diselesaikan.
RAK-P2PTM 2015-2019 Revisi I ini merupakan penjabaran dari RPJMN 2015-2019 Bidang
Kesehatan dan Renstra Kementerian Kesehatan 2015-2019 dengan mengacu pada Global NCD Action Plan
dan South East Asia Regional Action Plan on NCDs. Dengan demikian, RAKP2PTM 2015-2019 Revisi I ini
diharapkan dapat menjadi acuan bagi Kementerian Kesehatan dan Kementerian/Lembaga lain juga bagi
pemerintah daerah dalam menyusun kegiatan pencegahan dan pengendalian PTM, khususnya PTM
utama.
Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada semua pihak yang telah
memberikan kontribusi dalam penyusunan buku ini. Diharapkan RAK P2PTM dapat dijadikan acuan dalam
menurunkan beban penyakit tidak menular, khususnya terkait dengan faktor risiko utama, yaitu konsumsi
produk tembakau, diet tidak sehat, kurang aktifitas fisik dan konsumsi alkohol berbahaya.
Semoga dokumen ini dapat mendorong perencanaan, pelaksanaan dan penilaian program
pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular yang lebih berkualitas di tingkat nasional dan
daerah dalam upaya mewujudkan penurunan angka kesakitan dan kematian serta beban ekonomi akibat
penyakit tidak menular di Indonesia.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian PTM

dr. Lily S. Sulistyowati, MM
NIP 195801131988032001

RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR
TAHUN 2015-2019 REVISI I iv

... LINGKUNGAN STRATEGIS..................................................................................................... PENUTUP .......................................................................................................................................... Lingkungan Strategis Global............................................................v BAB I.....................................................................................1 I.....................................................24 I....................29 IV...... Lingkungan Strategis Nasional...................35 LAMPIRAN1...............................................................................................................26 III.... TUJUAN DAN SASARAN STATEGIS DIREKTORAT PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR...............................................................................................................................................................................................................20 A..............................................1 II......37 RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I v ................................................ ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL..................................... KERANGKA REGULASI DAN KERANGKA KELEMBAGAAN.............................24 II...........22 BAB II......................20 B..........34 BAB VI...........................................................................................................ii-iii KATA PENGANTAR............................................................... LATAR BELAKANG... KONDISI UMUM......................................... PELAPORAN................................................................................................ KERANGKA KELEMBAGAAN......31 II..........................................................................i MEMUTUSKAN :..................................................................................................................................... KERANGKA REGULASI................................3 III................................................................................................................................................................... KERANGKA PENDANAAN........................... ARAH KEBIJAKAN........................................................................................................ PENDAHULUAN...........................................................................................................iv DAFTAR ISI............31 I........................................... PENILAIAN....................................................................................................................................................................................22 C................ Lingkungan Strategis Regional................................... STRATEGI............... TUJUAN................... TARGET KINERJA.... DAFTAR ISI KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL................................................................................................................... SASARAN STRATEGIS.......29 BAB IV TARGET KINERJA DAN KERANGKA PENDANAAN........................................................ Komponen Rencana Kerja...36 LAMPIRAN2..............................................................26 I................................................. PEMANTAUAN.................... POTENSI DAN PERMASALAHAN......................25 BAB III..................32 BAB V..................................................................... Matrik Rencana Kinerja dan Pendanaan...................................

WHA meresmikan 2008–2013 Action Plan for the Global Strategy for the Prevention and Control of Noncommunicable Diseases.World Health Assembly (WHA). Karakteristik penyakit PTM yang kronis membuat mereka lebih sering sakit sehingga mengurangi kesempatan untuk mendapat penghasilan yang layak dan memberikan risiko finansial yang besar bila jatuh sakit.1). Keprihatinan terhadap peningkatan prevalensi PTM telah mendorong lahirnya berbagai inisiatif di tingkat global dan regional. Kemiskinan juga berpengaruh terhadap akses terhadap layanan baik deteksi dini maupun pengobatan dan upaya promosi kesehatan.2020 Dari beberapa studi dibuktikan terdapat hubungan yang erat antara PTM dengan kemiskinan. (2) pencegahan primer. Berbagai resolusi telah dihasilkan seperti WHO Framework Convention on Tobacco Control (WHO FCTC) pada tahun 2003 (WHA56.13). umur harapan hidup penduduk Indonesia telah meningkat dari 54.4 pada tahun 1980 (SP 1980) menjadi 69. BAB I. Strategi ini bersandar pada 3 pilar utama yaitu (1) surveilans. berbagai jenis kanker yang menjadi penyebab terbesar kematian (WHO. dengan perhatian utama pada negara sedang berkembang.8 pada tahun 2012 (BPS 2013). the Global Strategy on Diet. Pengaruh industrialisasi mengakibatkan makin derasnya arus urbanisasi penduduk ke kota besar. Kelompok miskin mengalami exposure (pajanan) yang lebih besar terhadap pollutant termasuk asap rokok dan lingkungan yang tidak higienis. Untuk menarik perhatian dari para pemimpin dunia terhadap hal ini. glukosa darah tinggi. PENDAHULUAN I. dan (3) penguatan sistem layanan kesehatan. Pertemuan tahunan World Health Organization (WHO) . lemak darah tinggi. LATAR BELAKANG Sebagai hasil dari pembangunan kesehatan di Indonesia dalam 3 dekade terakhir ini. Physical Activity and Health pada tahun 2004 (WHA57. penyakit paru obstruktif kronik. kurangnya aktifitas fisik. Pada saat ini pola kesakitan menunjukkan bahwa Indonesia mengalami double burden of disease dimana penyakit menular masih merupakan tantangan (walaupun telah menurun) tetapi penyakit tidak menular (PTM) meningkat dengan tajam.pada tahun 2000 telah melahirkan kesepakatan tentang Strategi Global dalam pencegahan dan pengendalian PTM. Hal ini berakibat pada meningkatnya prevalensi tekanan darah tinggi. Kondisi ini ditambah dengan keberhasilan dalam menurunkan angka kesakitan atau morbiditas berbagai penyakit menular membuat Indonesia mengalami transisi demografi dan transisi epidemiologi. khususnya di negara berkembang.17). Penyakit tidak menular adalah penyakit kronis dengan durasi yang panjang dengan proses penyembuhan atau pengendalian kondisi klinisnya yang umumnya lambat. Sejak itu telah diadopsi berbagai pendekatan untuk mencegah dan mengurangi faktor risiko bersama (common risk factors) dari PTM utama penyebab kematian terbesar. yang berdampak pada tumbuhnya gaya hidup yang tidak sehat seperti diet yang tidak sehat. Di tingkat global. dan merokok. 63 persen penyebab kematian di dunia adalah penyakit tidak menular (PTM) yang membunuh 36 juta jiwa per tahun. dan the Global Strategy to Reduce the Harmful Use of Alcohol pada tahun 2010 (WHA63. kelebihan berat badan dan obesitas yang pada gilirannya meningkatkan prevalensi penyakit jantung dan pembuluh darah. 80 persen kematian ini terjadi di negara berpenghasilan menengah dan rendah. pada bulan September 2011 PBB telah menyelenggarakan High-level Meeting on the Prevention and Control of Non-communicable Diseases yang dihadiri oleh kepala RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 1 . 2013). Pada tahun 2008. Dokumen serupa telah dikembangkan untuk tahun 2013 .

kanker. yang pertama mengenai HIV-AIDS.1 per mil pada 2013. Untuk itu perhatian difokuskan kepada PTM yang mempunyai dampak besar baik dari segi morbiditas mapun mortalitasnya sehingga menjadi isu kesehatan masyarakat (public health issue) . Bila prevalensi faktor risiko menurun. sehingga jenis penyakitnya juga banyak sekali. Di tingkat komunitas telah diinisiasi pembentukan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) PTM dimana dilakukan deteksi dini faktor risiko. pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kesehatan masyarakat (public health). diabetes dan PPOK. Publikasi World Economic Forum April 2015 menunjukkan bahwa potensi kerugian akibat penyakit tidak menular di Indonesia pada periode 2012-2030 diprediksi mencapai US$ 4. penyuluhan dan kegiatan bersama komunitas untuk menuju Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 2 . kanker. dengan demikian PTM memerlukan biaya yang tinggi dalam pencegahan dan penanggulangannya. PTM merupakan sekelompok penyakit yang bersifat kronis. Untuk kondisi ini diperlukan intervensi spesifik. sejalan dengan pendekatan WHO terhadap penyakit PTM Utama yang terkait dengan faktor risiko bersama (Common Risk Factors). dan melakukan tindakan nyata yang komprehensif untuk mengatasinya baik pada tingkat negara masing-masing maupun internasional. Namun demikian. tidak semua PTM dengan prevalensi tinggi memunyai faktor risiko yang sama misalnya kanker hati dan kanker serviks dimana peran infeksi virus sangat besar. diantaranya prevalensi penyakit stroke meningkat dari 8. PTM secara global telah mendapat perhatian serius dengan masuknya PTM sebagai salah satu target dalam Sustainable Development Goals (SDGs)2030 khususnya pada Goal 3: Ensure healthy lives and well-being. Pertemuan untuk membahas isu kesehatan di PBB baru terjadi dua kali. atau 5.1 kali GDP 2012. kurang berolah raga. Penanganan PTM memerlukan waktu yang lama dan teknologi yang mahal. Namun demikian hal diatas belum cukup karena keterlibatan multi-sektor masih terbatas. SDGs 2030 telah disepakati secara formal oleh 193 pemimpin negara pada UN Summit yang diselenggarakan di New York pada 25-27 September 2015. Sebagaimana dikemukakan diatas. Berbagai upaya telah dilakukan untuk pencegahan dan penanggulangan PTM. Di tingkat pelayanan kesehatan juga telah dilakukan penguatan dari puskesmas selaku kontak pertama masyarakat ke sistem kesehatan. Dikenali bahwa PTM tersebut yang kemudian dinamakan PTM Utama. diet tidak sehat dan mengkonsumsi alkohol. Sedangkan dalam pendekatan klinis. PTM sendiri dapat terkena pada semua organ. maka diharapkan prevalensi PTM utama juga akan menurun. mempunyai faktor risiko perilaku yang sama yaitu merokok. penyakit jantung. Lebih lanjut diketahui bahwa 61 persen dari total kematian disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler. Disadari bahwa pada saat ini sistem rujukan belum tertata dengan baik dan akan terus disempurnakan sejalan dengan penyempurnaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang merupakan bentuk implementasi dari Universal Health Coverage (UHC) dan diterapkan sejak 1 Januari 2014.3 per mil pada 2007 menjadi 12. khususnya dalam faktor risiko terkait perilaku dan lingkungan. tidak menular. diabetes dan penyakit kronis lainnya. Dikenali bahwa PTM amat terkait kepada Social Determinants for Health. Berkaitan dengan itu. dimana diagnosis dan terapinya pada umumnya lama dan mahal.47 triliun. setiap penyakit ini akan mempunyai pendekatan yang berbeda-beda. Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 dan 2013 menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan secara bermakna. Indonesia juga mengalami ekskalasi PTM yang dramatis. Hal ini menunjukkan pentingnya negara untuk memahami masalah PTM: dampak negatif PTM terhadap kesehatan dan status sosio-ekonomi masyarakat. Masuknya PTM ke dalam SDGs 2030 mengisyaratkan PTM harus menjadi prioritas nasional yang memerlukan penanganan secara lintas sektor. Hal ini didasari pada fakta yang terjadi di banyak negara bahwa meningkatnya usia harapan hidup dan perubahan gaya hidup juga diiringi dengan meningkatnya prevalensi obesitas.pemerintahan.

Lebih dari 80 persen kematian disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler dan diabetes serta 90 persen dari kematian akibat penyakit paru obstruktif kronik terjadi di 1 World Health Organization. Dengan demikian. termasuk di 1 Indonesia yaitu sebesar 37 persen (Tabel 2. WHO: Geneva. Kewajiban tersebut antara lain dilakukan dengan cara menyediakan pelayanan kesehatan berkualitas yang aksesibel bagi seluruh rakyat (inklusif). GAMBARAN MORBIDITAS DAN MORTALITAS PENYAKIT TIDAK MENULAR Kecenderungan peningkatan penyakit tidak menular yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir ini di tingkat global juga terjadi di Indonesia baik angka kesakitan (morbiditas) maupun angka kematiannya (mortalitas). melindungi. RAK P2PTM dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada sektor kesehatan maupun sektor lain mengenai: (i) besaran (magnitude) permasalahan PTM. (ii) dampak terhadap kesehatan penduduk maupun beban sosio-ekonomi bagi pemerintah dan masyarakat. sebagaimana disebutkan dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 1948 yang menyatakan bahwa setiap orang berhak atas taraf kehidupan yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya sendiri dan keluarganya. kecelakaan. Kesehatan merupakan aspek penting dari hak asasi manusia (HAM). II. RAK PPTM akan berfungsi sebagai alat advokasi untuk mencapai kesepakatan tentang peran dan keterlibatan serta aksi yang bisa dikontribusikan oleh sektor kesehatan dan non kesehatan serta masyarakat dalam upaya pencegahan dan pengendalian masalah PTM di Indonesia. Hak atas kesehatan juga dapat ditemukan di instrumen nasional yang diatur dalam UU no 36 tahun 2009 tentang kesehatan. serta (iii) strategi pencegahan dan pengendalian PTM yang perlu diimplementasikan. Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular melakukan penyesuaian Rencana Aksi Kegiatan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Tahun 2015 – 2019 yang merupakan jabaran kebijakan dan pelaksanaan kegiatan Direktorat P2PTM dalam Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Direktorat P2PTM. Noncommunicable diseases country profiles. dan mengembangkan kebijakan kesehatan. 2014. disabilitas dan PTM lainnya. Dipahami bahwa sebenarnya PTM juga mencakup banyak sekali kondisi/penyakit termasuk gangguan jiwa. dan memenuhi hak-hak asasi kesehatan tersebut. Rencana Aksi Kegiatan (RAK) Pengendalian Penyakit Tidak Menular Tahun 2015-2019 ini merupakan upaya untuk mengidentifikasi aksi strategis yang akan diimplementasikan dalam mencapai tujuan yang tercantum dan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2015-2019 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019 serta mendukung tercapainya sasaran-sasaran dalam Action Plan for Prevention and Control of NCDs in South East Asia 2013-2020 dan Global Action Plan for the Prevention and Control of NCDs 2013-2020. KONDISI UMUM.1. Sesuai dengan norma HAM.1). melakukan langkah-langkah legislasi yang dapat menjamin perlindungan kesehatan masyarakat. Estimasi penyebab kematian terkait PTM yang dikembangkan oleh WHO menunjukkan bahwa penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian tertinggi di negara-negara Asia Tenggara. upaya pencegahan menurunnya status kesehatan masyarakat. Persepsi bahwa PTM merupakan masalah di negara maju ternyata tidak benar. gangguan indera. POTENSI DAN PERMASALAHAN 2. maka negara berkewajiban untuk menghormati. Dengan adanya perubahan organisasi dan tatalaksana Kementerian Kesehatan melalui Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 64 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan. RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 3 . serta menyediakan anggaran memadai.

7%). penyakit hati (2. Penyebab kematian ini merupakan penyakit/kondisi yang disebabkan oleh faktor risiko bersama (common risk factors). penyakit paru kronik. Secara nasional sepuluh penyebab kematian yang tertinggi adalah: penyakit pembuluh darah otak (21%).9%).1. Dengan demikian.9%) (Litbangkes. diabetes mellitus (6.7%). Analisis awal Sample Registration Survey (SRS) 2014 yang diselenggarakan oleh Badan Litbangkes menunjukkan pola yang serupa. hipertensi. Global status report on noncommunicable diseases 2010. Dua kondisi penyebab kematian lain adalah cedera dan kelainan perinatal. WHO: Geneva.negara-negara berpendapatan menengah ke bawah. 2011.1%) dan diare (1. 2014) Pernafasan PTM Kardiovaskuler Diabetes Kanker Cedera Kronik lainnya Indonesia 37 % 6% 13% 7% 5% 10% India 26% 2% 7% 12% 13% 12% Thailand 29% 4% 17% 11% 9% 12% Myanmar 25% 3% 11% 11% 9% 11% Nepal 22% 3% 8% 10% 13% 14% Sri Lanka 40% 7% 10% 14% 8% 10% Bangladesh 17% 3% 10% 9% 11% 18% Sumber : WHO. hipertensi. penyebab kematian tertinggi didominasi oleh stroke. Tabel 2.3%). 2015). penyakit hati penyakit jantung iskemik) yang menyebabkan 44 persen kematian sedangkan hanya terdapat 2 penyakit menular (tuberkulosis dan penyakit sakuran nafas bawah) yang menjadi penyebab kematian. pneumonia (2. hipertensi dengan komplikasinya (5.9%). Dari penyakit menular hanya tbc dan pneumonia masih menonjol sebagai penyebab kematian. tumor ganas. penyakit jantung iskemik (12.TBC (5. diabetes. penyakit jantung iskemik. Gambaran ini jelas menunjukkan bahwa penyakit tidak menular telah menjadi penyebab kematian utama di Indonesia. diabetes. diabetes mellitus dan hipertensi dengan komplikasinya. penyakit jantung dan pembuluh darah. Hasil Riskesdas 2007 juga menunjukkan bahwa dalam kelompok penyakit tidak menular. 6 diantaranya disebabkan oleh penyakit tidak menular (stroke. 78 persen kematian akibat PTM disebabkan oleh stroke. RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 4 .7%). kecelakaan transportasi (2. Disamping itu dua per tiga dari kematian karena 2 penyakit kanker terjadi di negara-negara berpendapatan menengah ke bawah. penyakit saluran napas bawah kronik (4. tumor ganas. 2014 Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan bahwa dari 10 penyebab kematian tertinggi. 2 World Health Organization. Estimasi Proporsi PTM sebagai penyebab kematian di beberapa Negara SEARO (WHO.6%).

2 Hipertensi 6. sedangkan penyakit tidak menular meningkat. Data penyebab kematian dari 1995 sampai dengan 2007 menunjukkan terjadinya perubahan pola penyebab kematian.7 Peny. PTM (%) pada populasi semua umur *) Penyakit saluran nafas bawah 5. Gambar 2.3 Cedera 6.8 Diabetes mellitus 10. Saluarn nafas kronik 9.5 Tumor ganas 10.4 Strok 26. RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 5 .9 0 10 20 30 40 50 0 10 20 30 40 50 Proporsi (%) Pe nye bab Ke matian Penyakit Tidak Me nular Proporsi penyebab kematian(%) *) total kematian: 2285 orang Sumber: RISKESDAS 2007.1 Proporsi penyebab kematian (%) pada Gambar 2.3 Strok 15.1 Ulkus lambung 3.5 Diabetes mellitus 5.2.2 Tuberkulosis 7. Proporsi penyebab kematian akibat populasi semua umur (total kematian: 4552 orang).1 Malnutrisi 0.1 Malformasi kongenital 1 Penyakit hati 5.4 Penyakit jantung iskemik 5.5 Hipertensi 12.4 Tumor ganas 5. Jantung lain 7. Proporsi penyakit infeksi atau penyakit menular serta kematian maternal dan neonatal sebagai penyebab kematian cenderung menurun.2 Perinatal 6 Penyakit jantung iskemik 9.7 Peny.

hal ini mungkin terkait dengan tingkat merokok dan lingkungan udara yang tercemar.3. Perubahan Pola Penyakit Penyebab Kematian pada 1995 s. mungkin disebabkan oleh akses layanan kesehatan yang lebih baik pada kelompok kaya sehingga penyakit ini lebih banyak terdeteksi sebelum terjadi kematian. (Gambar 2. Tidak ada perbedaaan bermakna dari prevalensi stroke dan hipertensi antar 25 persen penduduk termiskin dan terkaya. penyakit kanker dan diabetes mellitus lebih banyak terjadi pada kelompok ekonomi yang lebih tinggi.d.4 dan 2. Sebaliknya. Data berikut menunjukkan bahwa pandangan tersebut tidak benar. 2007 Seringkali terdapat persepsi bahwa penyakit tidak menular adalah penyakit orang kaya. *Catatan: Diabetes di tetapkan berdasarkan hasil wawancara (riwayat diagnosis dan gejala) RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 6 .5). Gambar 2. perumahan yang tidak sehat di kelompok miskin. Sementara itu penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dan asma cenderung terjadi pada kelompok dengan status ekonomi yang lebih rendah.

Prevalensi PTM utama bervariasi secara bermakna antar provinsi. Ketiga kondisi ini akan sangat berpengaruh terhadap ledakan penyakit-penyakit kardiovaskuler seperti stroke dan penyakit jantung koroner bila tidak diupayakan pencegahan dan pengendaliannya.90% PPOK ≥ 30 3.4% 6.70% 1. Jantung ≥ 15 1.361.30% Riau 4.3 Disparitas Beban Penyakit PTM Utama antar Provinsi di Indonesia Kelompok Kondisi Estimasi Jumlah Penderita 2013 Umur Paling Total Provinsi Paling tinggi Provinsi rendah Papua Hipertensi ≥ 18 39. Tabel 2.834 82.0% Sulut Dari penduduk usia 18 tahun ke atas satu dari empat mengalami hipertensi dan satu dari lima orang menderita obesitas.9 persen diabetes juga tidak terdiagnosis.714.4 persen hipertensi tidak terdiagnosis dan 72.2 ‰ Riau 17.244.50% 0.508 4.856 umur Tengah RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 7 .50% 1. Tabel 2.130 Jawa Barat Barat Diabetes Papua ≥ 15 2.139.2 0‰ Gorontalo 4.1‰ DI Yogyakarta umur Stroke ≥ 15 12.2% Kalbar 24.707 220 Gorontalo 69.90% Belitung Diabetes Mellitus* ≥ 15 6.60% Lampung 7.322.497 Jawa Barat umur Barat Semua Jawa Kanker 348.918 Jawa Barat Barat Semua Papua Asma 11.80% 16.299 597.40% NTT Koroner Obesitas ≥ 18 15.065 Jawa Timur Mellitus* Barat Papua PPOK ≥ 30 4.064 8.9‰ Sulsel Peny.1‰ 5.071 26.2. Berdasarkan Riskesdas 2013.80% Papua 30.40% Lampung 10% NTT Semua Sulawesi Asma 4.185 835.586 7.4 ‰ 0.80% umur Tengah Semua Kanker 1.756 2.269.2 Disparitas Prevalensi PTM Utama antar Provinsi di Indonesia Sumber: Riskesdas 2013 Kelompok PTM Prevalensi Nilai Kisaran Umur Paling Paling rendah Provinsi Provinsi tinggi Bangka Hipertensi ≥ 18 25. sementara itu satu dari lima belas penduduk usia 15 tahun ke atas menderita kenaikan gula darah (DM). diketahui bahwa 73. sebagaimana tampak dalam Tabel 2.

penyembuhan maupun rehabilitasi. jika mengacu pada kriteria yang ditetapkan oleh WHO. Dengan demikian.471.947 Jawa Barat Barat Koroner Obesitas ≥ 18 23. sangat mungkin terjadi ‘under-reporting’ penyakit ini sekaligus menggambarkan variasi akses layanan dan pola demografi penduduk antar provinsi di Indonesia. maka jumlah penderita katarak akan meningkat seiring dengan meningkatnya usia harapan hidup masyarakat Indonesia. yang banyak di derita oleh kelompok usia diatas 50 tahun. RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 8 .717 Jawa Timur Barat Peny Papua Jantung ≥ 15 2.640 2. Penyakit yang menjadi perhatian dikarenakan prevalensi mulai meningkat adalah penyakit katarak. Tantangan ke depan adalah membawa masyarakat inklusi untuk penyandang disabilitas sehingga para penyandang disabilitas dalam hal ini dapat menerima manfaat dari berbagai program kesehatan.592.924 516.116 5.863 463.2 per mil di Gorontalo dibandingkan 4.148. prevalensi katarak pada semua kelompok umur sebesar 1. Kanker merupakan penyakit dengan variasi yang paling lebar yaitu 0. Hal ini untuk mewujudkan kualitas hidup masyarakat Indonesia yang berdaya saing. Jika tidak dilakukan upaya pencegahan. sampel representatif pada tingkat nasional Sumber: Riskesdas 2013 Angka prevalensi tidak secara langsung menggambarkan beban PTM di tingkat provinsi karena jumlah penduduk yang sangat bervariasi. Tabel di atas menunjukkan bahwa beban PTM utama terdapat di pulau Jawa karena kepadatan penduduknya. Katarak adalah kekeruhan pada lensa yang menyebabkan penurunan tajam penglihatan (visus).044 PapuaBarat 4.279 Jawa Timur *) berdasarkan pemeriksaan gula darah. Ini berarti bahwa dalam pengembangan program pengendalian dan pencegahan PTM harus memperhitungkan angka prevalensi dan beban PTM.8%. Papua Stroke ≥ 15 2. Sebagaimana dikemukakan diatas. Prevalensi disabilitas pada penduduk > 15 tahun sebesar 11%. sehingga perlu diperhatikan kesehatan indera maupun fungsi tubuh dalam melakukan aktivitas keseharian suatu individu pada kelompok masyarakat Berdasarkan data Riskesdas Tahun 2013. sebesar 80% katarak dapat dihindari.769 56.553.1 per mil di Yogyakarta. baik dengan cara pencegahan. deteksi kanker merupakan hal yang sulit dan memerlukan biaya yang besar. hal tersebut menjadi masalah kesehatan masyarakat dan juga masalah sosial.

8%) dan yang terendah di Papua Barat RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 9 .9%)diikuti Sulawesi Barat (1.8%) dan Bali (2.7%) diikuti olehJambi (2. Prevalensi katarak terendah ditemukan di DKI Jakarta (0.Sebagian besar penduduk dengan katarak di Indonesiabelum menjalani operasi katarak karenafaktor ketidaktahuan penderita mengenai penyakit katarak yang dideritanya dan mereka tidaktahu bahwa buta katarak bisa dioperasi/ direhabilitasi. Gambar 1. Alasan kedua terbanyak penderita katarakbelum dioperasi adalah karena tidak dapat membiayai operasinya.7%). 2013) Prevalensi penduduk Indonesiadengan disabilitas sedang sampai sangat berat sebesar 11 persen. Prevalensi Disabilitas penduduk ≥ 15 Tahun menurut Provinsi (Riskesdas. Gambar 2.1%). Prevalensi Katarak Penduduk Semua Umur Menurut Provinsi (Riskesdas. 2013) Pada Grafik diatas terlihat bahwa prevalensi katarak tertinggi di Sulawesi Utara (3. bervariasi dari yang tertinggidi Sulawesi Selatan (23.

2. Hal ini sangat tinggi dibandingkan dengan yang di alami India (US$ 4.1 kali GDP 2012.4 triliun. dapat diperkirakan dampaknya dari perspektif ekonomi.(4.4%).6%). penyakit saluran nafas (18. Publikasi World Economic Forum April 2015 menunjukkan bahwa potensi kerugian akibat penyakit tidak menular di Indonesia pada periode 2012-2030 diprediksi mencapai US$ 4.6%) diikuti oleh penyakit terkait gangguan jiwa (21. 3.7%) dan diabetes mellitus (4. Berdasarkan gambaran masalah morbiditas maupun mortalitas terkait PTM secara nasional di Indonesia. Grafik 2 Kerugian ekonomi akibat PTM dibandingkan dengan GDP 2012: Perbandingan Indonesia dengan China dan India RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 10 .32 triliun.Kelompok umur >75 tahun merupakan kelompok dengan indikator disabilitas tertinggi.3 kali GDP India 2012) dan China (US$ 29.47 triliun.5%). Lebihtingginya hari produktif hilang kelompok umur 65–74 tahun dapat disebabkan tingginya populasikelompok ini dibanding kelompok umur 75 tahun atau lebih. Perempuan cenderung lebih rentanmengalami disabilitas daripada laki-laki pada semua indikator disabilitas. Di Indonesia kerugian tersebut adalah akibat dari penyakit kardiovaskuler (39. atau 5.9%).57 kali GDP China 2012). kanker (15.

4 triliun untuk kasus rawat jalan dan sekitar Rp. 2014 2. 3. Indonesia 2012-2030 Sumber : WEF.7 persen (2007) menjadi 36. lima penyakit PTM utama yaitu penyakit kardiovaskular.2%) dan anak usia 0-4 tahun yang terpajan adalah 56 persen.863 per kapita. RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 11 . kurang aktifitas fisik serta kurang konsumsi sayur dan buah menggunakan definisi operasional sebagaimana ditampilkan dalam Box 1. 40. Meskipun penyakit Katastropik hanya 8% thd total kasus rawat jalan dan 28% kasus rawat inap. kanker. Sementara tahun 2010 prevalensi perokok pasif dialami oleh dua dari lima penduduk dengan jumlah berkisar 92 juta penduduk. atau setara dengan 12 juta anak terpajan asap rokok.4 triliun untuk kasus rawat jalan dan sekitar Rp. Beban ekonomi penyakit tidak menular juga dapat dilihat dari data BPJS yang menunjukkan klaim INA-CBGs periode Jan-Juli 2014 mencapai sekitar Rp. 12. 12. namun beban biayanya mencapai 30% rawat jalan dan 33% rawat inap.6 triliun untuk kasus rawat inap. Dari para perokok ini diketahui juga adanya penduduk yang terpajan asap rokok di dalam rumah. namun beban biayanya mencapai 30% rawat jalan dan 33% rawat inap Grafik 3 Kontribusi penyakit PTM terhadap kerugian GDP. dan kejiwaan diprediksi menyebabkan kerugian sebesar US$4. 3. Tahun 2013.2. Meskipun penyakit Katastropik hanya 8% thd total kasus rawat jalan dan 28% kasus rawat inap. jumlah ini meningkat menjadi sekitar 96 juta jiwa. Selain itu beban ekonomi di Indonesia pada tahun 2012-2030 berdasarkan studi yang dilakukan World Economic Forum (WEF) tahun 2014. PPOK.5 persen penduduk semua umur (91 juta) terpajan asap rokok di dalam rumah.6 triliun untuk kasus rawat inap. diabetes. Beban ekonomi penyakit tidak menular juga dapat dilihat dari data BPJS yang menunjukkan klaim INA-CBGs periode Jan-Juli 2014 mencapai sekitar Rp. Tahun 2007.47 triliun $17.3 persen (2013). Gambaran Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular RISKESDAS 2013 mengumpulkan informasi tentang beberapa faktor risiko perilaku yang terkait penyakit tidak menular utama di Indonesia seperti merokok. Perempuan lebih tinggi (54%) dari pada laki-laki (24. Ditemukan bahwa prevalensi merokok di antara penduduk di atas 15 tahun meningkat dari 34.

mengepel. Satu standard adalah setara dengan 1 gelas bir (285 ml) Tabel 2. 10 buah duku. seperti profil lemak yang terganggu. dua sendok sayur labu siam rebus. Prevalensi aktifitas fisik kurang di antara Box 1. 77.a. Faktor Risiko PTM 2007 2013 1 Prevalensi Konsumsi tembakau (usia ≥ 15 th) 34. jalan kaki. (2013) dari 48. obesitas menunjukkan angka yang meningkat dari mendaki gunung.2 persen di mencangkul.d 1.1 5 Prevalensi Kurang konsumsi sayur & buah (usia ≥ 10 th) 93.d.6 t. Sementara itu. membersihkan perabot.4 persen mengonsumsi sayur dan buah hanya satu sampai dua Aktifitas fisik kurang: Melakukan aktifitas fisik porsi sehari.a. dll. 13.a.a.6 t.d.1 persen.4 persen di tahun 2007 menjadi 26.2 persen pada tahun 2007. nasional konsumsi alkohol adalah 4. satu buah jeruk terhadap prevalensi cedera dan kematian.2 3 Prevalensi Merokok (usia ≥10 tahun) t.5%).5 6 Prevalensi konsumsi minuman beralkohol 4.6 persen.3 . dll) Konsumsi minuman beralkohol diketahui berkaitan erat dengan terjadinya risiko abnormalitas fisiologis Kurang konsumsi sayur dan buah: komsumsi sayur atau buah kurang dari 5 porsi dalam sehari. dll.6 93. 7 standard per hari) RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 12 . menebang pohon. Merokok: termasuk konsumsi rokok yang dihisap Prevalensi perilaku kurang konsumsi sayur dan buah dan atau konsumsi tembakau kunyah dalam satu bulan terakhir untuk perokok setiap hari dan masih sangat tinggi pada penduduk di atas 10 tahun di kadang-kadang tahun 2007 dan 2013 (93.9 .a. Obesitas: Indeks Massa Tubuh/IMT >25 Dari populasi tersebut.6 persen dengan angka tertinggi di Provinsi Sulawesi Utara (28. Konsumsi alkohol berbahaya : >=5 standard per hari. Hasil manis.4 persen mengonsumsi Obesitas sentral: Lingkar perut > 90 cm (laki-laki) alkohol dalam jumlah yang tinggi atau berbahaya (≥ 5 dan >80 cm (perempuan) standard per hari). lari cepat.7 36. Ini berarti prevalensi nasional konsumsi alkohol tinggi adalah sebesar 0. dll.4.7 4 Prevalensi Aktifitas fisik kurang (usia ≥ 10 th) 48.d 29.6% dan 93. 14. Prevalensi konsumsi minuman beralkohol yang berbahaya (≥ 5 0. Laki-laki t. tahun 2013 (Tabel 2.3 2 Prevalensi Merokok (usia 10-18 tahun) t. Satu porsi sayuran RISKESDAS 2007 menunjukkan angka prevalensi misalnya: lima sendok makan daun bayam rebus.4).3%). Aktivitas fisik sedang misalnya menyapu.d 56. Prevalensi (%) Faktor Risiko PTM tahun 2007 dan 2013 No.2 26. satu buah belimbing.d 7.a. terkait faktor risiko biologis seperti Aktivitas fisik berat misalnya menimba air. atau tidak melalukan akfititas sedang atau berat. selama kurang dari 150 menit dalam seminggu. obesitas dan Satu porsi buah misalnya alpukat setengan buah peningkatan tekanan darah serta berpengaruh besar. Perempuan t. Definisi Operasional Faktor Risiko PTM penduduk di atas 10 tahun membaik menjadi 26.

Konsumsi lemak berlebih ditemukan lebih banyak pada kelompok status ekonomi tinggi. Konsumsi natrium dan lemak juga lebih banyak ditemukan pada laki-laki. Usia ≥ 18 th) 14.3 13-18 thn 2. dan serangan jantung. Indonesia 2014 Gula Natrium Lemak Karakteristik >50 gram >2000 mg >67 gram Kelompok Umur 0 .5).3 Menengah atas 5.0 20. Hal ini menjadi penting untuk segera diatasi/dicegah karena terkait dengan meningkatnya risiko terjadinya PTM.59 bln 1.7 22. melalui Permenkes Nomor 30 Tahun 2013 pemerintah mewajibkan pencantuman informasi kandungan gula.1 Teratas 4. stroke. Laki-laki 13.3 Perdesaan 3.4 17.3 10.6 20.8 18.7 9 Obesitas sentral (Laki2 & Perempuan usia ≥ 18 th) 18.6 Tingkat Ekonomi Terbawah 3.7 Tempat Tinggal Perkotaan 4.2 .5 Proporsi (%) penduduk mengonsumsi gula. atau lemak total lebih dari 67 gram per orang per hari meningkatkan risiko terjadinya hipertensi.6 30.8 32. Studi Diet Total (2014) yang mengambil sampel yang sama dengan Riskesdas 2013 menunjukkan besaran masalah konsumsi gula.4 19. di samping itu ditemukan bahwa laki-laki mengkonsumsi gula berlebih sebesar 2 kali lebih banyak dari pada perempuan. Pesan kesehatan yang dimaksud adalah konsumsi gula lebih dari 50 gram.1 16.4 Menengah 5.6 26. Perempuan 14. natrium dan lemak yang sudah lebih dari batas yang dianjurkan (tabel 2. Tabel 2.0 25.6 33.3 35.0 28.8 RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 13 .2 Perempuan 3. natrium dan lemak per hari yang melebihi batas yang dianjurkan.7 Menengah bawah 4.2 20.7 18.9 30.6 Sumber: Riskesdas 2007 dan 2013 Dalam upaya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dan dunia usaha tentang gizi seimbang.9 30.4 26.0 11.9 19.7 persen penduduk mengonsumsi garam di atas batas yang dianjurkan yaitu 5 gram per orang per hari.7 5 .3 19-55 thn 5.6 18. 8 Obesitas (IMT>25.7 16.12 thn 1.9 .0 19. Konsumsi gula berlebih cenderung meningkat bersamaan dengan meningkatnya usia. Analisis lanjut menunjukkan 53.1 >55 thn 6.6 24. diabetes. garam. natrium/garam lebih dari 2000 miligram (mg). Konsumsi natrium dan lemak berlebih banyak ditemukan pada usia sekolah dan usia produktif.1 Jenis Kelamin Laki-laki 6.5 12.8 10.8 26.2 18.6 32.7 14. dan lemak untuk pangan olahan dan pangan siap saji serta pesan kesehatan.

RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 14 . yang akan mengganggu produktivitas kerja. morbiditas dan faktor risiko terjadinya PTM. sehingga berdampak terhadap ekonomi keluarga serta perkembangan dan pembangunan ekonomi nasional. PTM di Indonesia sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius karena memberikan kontribusi terbesar dalam kematian penduduk. PTM juga terlihat sudah mulai terjadi pada usia muda. Sumber: Studi Diet Total 2014 Dari gambaran mortalitas. cukup jelas bahwa pencegahan dan penanggulangan PTM harus segera dilakukan. serta dampaknya terhadap kerugian ekonomi.

menular 2010-2014 pada Kementerian Kesehatan. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 tahun 28 tahun 2013 tentang 2013 pencantuman tentang peringatan pencantuman kesehatan peringatan kesehatan dan informasi kesehatan pada kemasan produk tembakau.000 68.810.036.917.805. 2) Peran masyarakat 2) Peran masyarakat melalui melalui pengembangandan pengembangan dan penguatan penguatan jejaring jejaringkerja kerjapencegahan pencegahan dan dan penanggulangan penanggulanganpenyakit tidak menular.berbasis masyarakat.4 2014 2014 63. dan 3) Peran masyarakat melalui pengembangan dan penguatan kegiatan dan 3) Peran masyarakat melalui pengembangan dan penguatan kegiatan berbasis masyarakat.5 92.370. RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 15 .945 98.917.6.8 2013 2013 69.784 72. meliputi: 2010-2014. Permenkes dan informasi kesehatan pada kemasan produk tembakau.772. yaitu: yaitu:1)1)Peran PeranPemerintah Pemerintah melalui pengembangan melalui pengembangan dan penguatan kegiatankegiatan dan penguatan pokok pencegahan dan penanggulangan penyakit tidak menular.040 97.438. 3) epidemiologi PTM.971. PP-PTM.000 69.566 50.6 2011 2011 80. A. dan 7) meningkatkan dan 7) meningkatkan replikasiprogram replikasi programPP-PTM.6. PTM. meliputi: 1) 1)memperkuat memperkuat aspekaspek legal legal PP-PTM.000*) 131.670. Perkembangan Perkembangan Anggaran Kegiatan Anggaran PP-PTM Kegiatan PP-PTM pada Direktorat PPTM Kementerian Kesehatan pada Direktorat PPTM Kementerian Kesehatan 2010-2015 2010-2015 Sumber:Dit Sumber: DitPPTM.805.670.105.810.065.meningkatkan 3) meningkatkan deteksi dini faktor risiko PTM. 2. POTENSIKEGIATAN POTENSI KEGIATAN PENCEGAHAN PENCEGAHANDAN DAN PENGENDALIAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAKTIDAK PENYAKIT MENULAR MENULAR Penetapan strategi pencegahan dan pengendalian penyakit Penetapan strategi pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular tidak menular sebagaimana tercantum sebagaimana tercantum pada buku Rencana Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Tidak Menular tahun pada buku Rencana Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Tidak Menular tahun 2010-2014.000*) 72. Tahun Tahun Alokasi Alokasi(Rp) (Rp) Realisasi (Rp) (Rp) Realisasi CapaianCapaian (%) (%) 2010 2010 57.083.6 2015 2015 131.5 2012 2012 52.6.089 92.065.8 94.707.400.000 57.2)2)meningkatkan meningkatkan surveilans epidemiologi surveilans PTM.393 57.370.861.190.000 50.606 89.048. program.971. Perkembangan anggaran kegiatan anggaran kegiatan pengendalian pengendalian dan pencegahan PTM pada Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan pencegahan PTM pada Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Kementerian Kesehatan tercantumpada tercantum padatabel tabel 2.4 98. pokok pencegahan dan penanggulangan penyakit tidak menular.6 89. 2. 2.370.000 52. 4) meningkatkan KIE PP-PTM.000 74.300.956.040 55.956.606 57. ditjen ditjen P2PL P2PLKemkes KemkesRIRI Beberapahasil Beberapa hasil yang yang telah telah dicapai dicapaioleh olehprogram program pencegahan pencegahandan penanggulangan penyakitpenyakit dan penanggulangan tidak tidak menular 2010-2014 pada Kementerian Kesehatan. adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan.000 80.788. PP-PTM.048.000.861.788. Tabel 2.6.400. PPTM.635.300.438. PTM.566 94.370.6 97.707.036.784 55 55 Tabel 2. 6) meningkatkan kemitraan dan peran serta aktif masyarakat dalam PP-PTM. Strategi tersebut diimplementasikan melalui Strategi tersebut diimplementasikan melalui berbagai kegiatan berbagai yang yang kegiatan dikelompokkan ke dalam dikelompokkan ke3dalam pilar 3 pilar peranstakeholder peran stakeholder program. 5) meningkatkan kualitas penanganankualitas penanganan kasus kasus PTM.089 74.393 63. 6) meningkatkan kemitraan dan peran serta aktif masyarakat dalam PP-PTM. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1.Pengembangan Pengembangan regulasi. 5) meningkatkan deteksi dini faktor risiko PTM.635.000 55.3.105. antara antaralain: lain: 1. Permenkes ini terkait dengan ini terkait dengan PeraturanPemerintah Peraturan Pemerintah NomorNomor109 109tahun tahun2012 tentang 2012 Pengamanan tentang bahanbahan Pengamanan yang mengandung zat yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan.083.351.190. regulasi. penyakit tidak menular.772. Beberapa regulasi Beberapa regulasi yang yang telah telahdikeluarkan dikeluarkan Kementerian Kementerian Kesehatan dalamdalam Kesehatan periode 2010-2014 periode dalam dalam 2010-2014 upayapengendalian upaya pengendalian faktor faktorrisiko risikoPTM. Komitmenpemerintah Komitmen pemerintah terhadap terhadappengendalian pengendalian dandan pencegahan pencegahan PTM PTM meningkat yang diindikasikan meningkat yang diindikasikan dengan meningkatnya alokasi anggaran secara bertahap.3. antara lain: antara lain: A. Perkembangan dengan meningkatnya alokasi anggaran secara bertahap. 4) meningkatkan KIE PP-PTM.351.000.945 68.

Pengembangan Modul Pelatihan 1. Petunjuk Teknis Penegakan Hukum Penerapan KTR 18. Petunjuk Teknis Kaki DM Berbasis Masyarakat 20. Pedoman Pengendalian PPOK 11. Petunjuk Teknis Upaya Berhenti Merokok (UBM) di Fasyankes Primer. Pedoman Deteksi Dini Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim 5. 2. dan lemak serta pesan kesehatan untuk pangan olahan dan pangan siap saji. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 40 tahun 2013 tentang Peta Jalan Pengendalian Dampak Konsumi Rokok Bagi Kesehatan 6. Petunjuk Teknis DM gestasional 21. Pedoman Pengendalian Oesteophorosis C. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 796 tahun 2010 tentang Pedoman Teknis Pengendalian Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim. Pengembangan Pedoman Untuk menjamin kegiatan pencegahan dan pengendalian PTM yang terstandar di semua fasilitas kesehatan. Pedoman Pengendalian Kanker 4. Pedoman Posbindu PTM/deteksi dini Faktor Risiko PTM pada calon jemaah haji 16. Modul pelatihan PPOK-Asma 3. Pedoman Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM) 2. 5. B. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 tahun 2013 tentang pencantuman informasi kandungan gula. Modul pelatihan Posbindu PTM dan modul e-learning Posbindu PTM 4. telah diterbitkan sejumlah pedoman. Modul pelatihan Upaya Berhenti Merokok RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 16 . sebagai berikut: 1./Lembaga dan Tempat Kerja 17. Pedoman Teknis Penyelenggaraan Pengendalian Penyakit Tidak Menular di Puskesmas 14. Pedoman Deteksi Dini Faktor Risiko PTM di Kementerian. Pedoman Pengendalian Diabetes Mellitus 7. di Sekolah dan Madrasah 19. Pedoman Pengendalin Hipertensi 10. Pedoman Teknis Deteksi Dini Kanker Pada Anak 15. Pedoman Kawasan Tanpa Rokok 13. Pedoman Surveilans Penyakit Tidak Menular 3. Pedoman Pengendalian Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah 9. Instruksi Presiden Nomor 4 tahun 2013 tentang Program Dekade Aksi Keselamatan Jalan. Pedoman Pengendalian Obesitas 8. Pedoman Pengendalian Thalasemia 22. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 43 tahun 2007 tentang Pedoman Pengendalian Kanker Nasional. Pedoman Pengendalian Asma 12. 3. garam. Pedoman Pengendalian Cedera 6. Modul pelatihan Kanker 2. 4.

Secara umum. c. a.445 dokter dan 2.93%). KTR telah dikembangkan di 34 provinsi. telah terdeteksi secara dini sebanyak 904.487 perempuan (2. Berdasarkan data Riskesdas Tahun 2013.225 posbindu telah dikembangkan oleh masyarakat dan telah mendapatkan dukungan Posbindu Kit.512 desa/kelurahan yang dibina oleh 1. meliputi 160 kabupaten/kota antara lain: (i) 2 Peraturan Daerah Provinsi. 22 dokter bedah. Pencegahan dan Pengendalian Gangguan Indera Dengan adanya perubahan organisasi dan tatalaksana Kementerian Kesehatan melalui Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 64 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan.338 puskesmas di 1. baik dengan cara pencegahan. Upaya ini diperkuat dengan pelatihan tenaga kesehatan.D. Sementara itu. struktur organisasi dan finansial masih relatif terbatas RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 17 .675 bidan. Peningkatan upaya deteksi dini PTM Penguatan upaya deteksi dini kanker leher rahim dan payudara dengan metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) dan pemeriksaan payudara klinis (Sadanis) telah dilaksanakan di 2. Sementara itu. d. sumber daya manusia. Penguatan Pelayanan Kesehatan PTM pada Puskesmas Penguatan fasilitas pelayanan kesehatan melalui penerapan PANDU PTM telah dilaksanan pada 2. 67 obsgin. maka jumlah penderita katarak akan meningkat seiring dengan meningkatnya usia harapan hidup masyarakat Indonesia. 2.057 Puskesmas di 298 kabupaten/kota di 34 provinsi. 226 dokter umum. dan 102 bidan. Pengembangan Posbindu PTM Saat ini tercatat sebanyak 7. kebijakan daerah dan peran masyarakat. penyembuhan maupun rehabilitasi. Sebesar 80% katarak dapat dihindari. IVA positif pada 45. Pencegahan dan pengendalian gangguan indera merupakan salah satu program dalam pencegahan dan pengendalian PTM. kampanye berhenti merokok telah diselenggarakan oleh 36 Puskesmas pada 36 kabupaten/kota di 18 provinsi.098 perempuan (1.723 Posbindu PTM pada 2. infrastruktur.058 kecamatan pada 272 kabupaten/kota di 29 provinsi.092 perempuan (4. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh petugas pelaksana deteksi dini (provider) sebanyak 4. tumor payudara pada 2. Indikator dalam mengukur keberhasilan kinerja ini adalah Puskesmas yang melakukan deteksi dini katarak dengan pemeriksaan klinis dan merujuk kasus katarak. suspek kanker leher rahim pada 1. b. (iii) 53 Peraturan Daerah Kabupaten/kota . Kegiatan ini telah diperkuat dengan tersedianya krioterapi sebanyak 428 buah.4. Posbindu PTM yang telah aktif melakukan input data secara elektronik menggunakan sistem informasi surveilans PTM sebanyak 3.2 per 1000). PERMASALAHAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR Beberapa provinsi dan kabupaten masih belum sepenuhnya dapat menerapkan kebijakan dan strategi nasional karena keterbatasan dalam aspek sumber daya. Pelatih (trainer) yang tersedia hingga saat ini sebanyak 430 orang tenaga kesehatan yang terdiri dari 13 onkolog obgsin.130 orang terdiri dari 1.7 per 1000). dalam bidang Manajemen dan bidang teknis. prevalensi katarak pada semua kelompok umur sebesar 1. Pengembangan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) Sampai dengan akhir 2014. jika tidak dilakukan upaya pencegahan.057 puskesmas pada 298 kabupaten/kota di 34 provinsi. Sampai dengan akhir 2014.8%. (ii) 12 Peraturan Gubernur.099 perempuan. dan (iv) 92 Peraturan Bupati/ Walikota.

Disamping itu. Hal ini merupakan salah satu kendala dalam pengembangan dan penerapan kebijakan terkait PP-PTM • Kemitraan/kerjasama lintas program dan lintas sektor belum optimal. masih ada beberapa kebijakan yang masih terkendala dalam proses pembuatan peraturan perundang- undangannya terkait peran dan kontribusi lintas sektor. lingkungan hidup dan sektor terkait lainnya.04/2014 tentang Perdagangan Barang RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 18 . HiAP merupakan pendekatan yang memperhitungkan aspek kesehatan masyarakat di setiap pengembangan kebijakan oleh sektor terkait tersebut. Sementara itu. Kebijakan yang masih merupakan tantangan diantaranya kebijakan terkait pengaturan pemberian informasi kesehatan serta kandungan untuk gula. Salah satu contoh kebijakan yang mendukung peningkatan kesehatan masyarakat antara lain: Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62/PMK. Kurangnya dukungan lintas sektor di tingkat pusat merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kerjasama lintas sektor yang kurang efektif di daerah. kebijakan dan strategi nasional masih belum dapat diterapkan secara optimal di semua provinsi dan kabupaten di Indonesia. Belum optimalnya dukungan terhadap program P2PTM • Komitmen pemerintah baik di tingkat pusat dan daerah masih belum optimal. ekonomi. Strategi nasional pencegahan dan pengendalian PTM pada dasarnya telah sejalan dengan strategi global. promosi kesehatan. Strategi nasional pencegahan dan pengendalian PTM mencakup tiga dimensi. seperti pertanian. dinas kesehatan kabupaten mempunyai struktur organisasi yang berbeda antara kabupaten. Puskesmas dan kantor kepala desa atau kelurahan setempat masih ada yang belum mempunyai pemahaman. finansial maupun kualitas di beberapa kabupaten. dan penerapannya juga belum optimal di kabupaten/kota yang sudah memiliki Perda KTR. beberapa permasalahan yang muncul dalam upaya pengendalian penyakit tidak menular mencakup aspek-aspek berikut ini: A. Seperti pendekatan berbasis masyarakat. surveilen atau tidak ada di seksi manapun.di daerah. Kepentingan dan intervensi politik berpengaruh terhadap pola kepemimpinan yang selanjutnya mengarah pada kurang optimalnya program PPTM di daerah yang sangat memerlukan komitmen dan kontribusi nyata lintas sektor. garam dan lemak pada produk makanan dalam kemasan dan siap saji. Sebagai dampak dari penerapan sistem pemerintahan desentralisasi. di semua tingatan administrasi. untuk pelayanan kesehatan di rumah sakit ataupun di puskesmas masih terkendala aspek aksesibilitas baik secara geografis. Meskipun program pengendalian dan pencegahan di tingkat pusat telah melakukan berbagai upaya advokasi dan sosialisasi ke daerah secara intensif. Secara umum. Kebijakan terkait PTM yang sudah diterapkan secara nasional adalah kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). HiAP juga harus dipandang sebagai bentuk perlindungan pemerintah kepada masyarakat. termasuk dengan pemerintah daerah setempat. Secara umum. Dukungan kebijakan di tingkat provinsi dan kabupaten kurang optimal karena masih lemahnya advokasi dan koordinasi antara sektor kesehatan dan sektor non kesehatan. kapasitas dan sumber daya yang memadai untuk penecegahan dan pengendalian PTM khususnya dalam menjalankan intervensi berbasis masyarakat yang lebih efektif dan berkelanjutan. • Health in all Policies (HiAP) belum terimplementasi dengan baik. Meskipun demikian. Konsekuensinya. sistem surveilen dan penanganan kasus. pemerintah daerah mempunyai kewenangan untuk dapat menetapkan prioritas pembangunan daerahnya. sehingga program PPTM bisa berada dibawah seksi PTM. masih ditemukan beberapa daerah yang belum mempunyai komitment nyata untuk menjadikan program PP-PTM sebagai salah satu program prioritas. Meskipun demikian belum semua kabupaten/kota mempunyai peraturan daerah KTR. pengendalian penyakit. termasuk pembangunan kesehatan. HiAP sesungguhnya diperlukan oleh karena adanya kenyataan bahwa kesehatan masyarakat banyak ditentukan oleh kebijakan di luar sektor kesehatan. pendidikan.

Hal ini menjadikan masyarakat mempunyai pilihan antara rumah sakit. tetapi belum didukung oleh sistem rujukan balik dari Rumah Sakit ke Puskesmas. Perilaku masyarakat berisiko PTM • Keterbatasan media dan metode edukasi. Disamping itu. metode edukasi kesehatan juga terbatas pada ceramah dan penyuluhan. klinik swasta ataupun tidak berobat. Tantangan ini diperberat dengan masih terbatasnya jumlah dan kualitas kader serta kesinambungan peran serta masyarakat dalam pelaksanaan intervensi berbasis masyarakat. Media edukasi yang tersedia untuk mendukung pembudayaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) masih terbatas pada media cetak. Kapasitas pelayanan untuk PTM belum optimal • Masih terbatasnya sumber daya pendukung program PP-PTM. Kena Cukai Yang Pelunasan Cukainya dengan Cara Pelekatan Pita Cukai atau Pembubuhan Tanda Pelunasan Cukai Lainnya. C. Prioritas program masih didominasi oleh program pencegahan penyakit menular dan kesehatan ibu dan anak. Pada saat ini kebijakan tersebut masih belum memadai dan belum seluruhnya mendukung pelaksanaan program PP-PTM. • Banyak faktor risiko PTM dipengaruhi oleh hal-hal diluar bidang kesehatan antara lain. Metode yang lebih bervariasi sesuai dengan populasi sasaran dapat lebih meningkatkan keberhasilan edukasi kesehatan. • Sistem rujukan dan peran Puskesmas dan RS. Sampai saat ini belum semua desa mempunyai Posbindu. sehingga mempengaruhi kesiapan fasilitas kesehatan dalam upaya pelayanan pasien PTM. Disamping itu. budaya hidup modern. material) untuk pelayanan PTM khususnya di fasilitas pelayanan primer. Masih perlu upaya dan pendekatan yang lebih efektif untuk dapat meningkatkan partisipasi penduduk laki-laki serta kelompok umur lebih muda dalam mengikuti kegiatan Posbindu PTM. termasuk akses terhadap rokok dan minuman beralkohol serta tingginya polusi udara. money. peserta Posbindu di lingkungan perumahan masih terbatas pada kelompok perempuan usia 50 tahun ke atas. Semua hal ini memerlukan pengembangan kebijakan yang mendukung iklim yang lebih kondusif bagi program PP-PTM. B. Sistem rujukan dari Puskesmas ke Rumah Sakit sudah berjalan dengan baik. • Akses masyarakat terhadap yankes yang mempunyai pelayanan PTM. kurangnya ketersediaan sarana olahraga. ketersediaan makanan yang tidak sehat. Hal ini menunjukkan pentingnya untuk investasi yang lebih signifikan untuk peningkatan kapasitas sumber daya (man. sehingga masih banyak masyarakat yang tidak mempunyai akses untuk mendapatkan pelayanan PTM di pelayanan kesehatan primer. Belum semua fasilitas kesehatan primer sudah mampu melayani PTM dengan optimal. D. Masih lemahnya ketersediaan data untuk manajemen program (perencanaan dan evaluasi) RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 19 . Sementara. • Cakupan Posbindu PTM yang masih belum optimal. di fasilitas kesehatan maupun di sarana publik dan sekolah membutuhkan media edukasi kesehatan terkait pengendalian dan pencegahan PTM yang lebih banyak melalui media elektronik yang dapat lebih mencapai populasi sasaran sesuai dengan kemajuan teknologi.

Penduduk berusia di atas 60 tahun meningkat.75% menjadi 1. Pertumbuhan penduduk Indonesia ditandai dengan adanya window opportunity di mana rasio ketergantungannya positif. Masalah penduduk miskin yang sulit berkurang akan masih menjadi masalah penting. Di samping kesehatan. Pencatatan masih dilakukan secara manual tanpa menggunakan sarana komputer dan pelaporan yang masih belum secara rutin dilaporkan tepat waktu.48%. walaupun rata-rata lama sekolah dari tahun ke tahun semakin meningkat. rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas di Indonesia adalah 8. Keadaan tersebut erat kaitannya dengan Angka RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 20 . Puskesmas dan Dinas Kesehatan.19% pertahun.074.6 juta naik menjadi 25. • Keterbatasan data dan manajemen pelaporan. dan ketimpangan pengeluaran penduduk antara yang miskin dan yang tidak miskin pun semakin melebar. Menurut perhitungan Susenas Triwulan I tahun 2013.9 juta pada tahun 2019. yang pada tahun 2015 sebesar 21.43% menjadi 0.89% dan indeks keparahan kemiskinan dari 0.14 tahun. Tahun 2014 pemerintah harus memberikan uang premium jaminan kesehatan sebanyak 86. sehingga menyebabkan pencatatan dan pelaporan kasus PTM yang belum optimal. Program PPTM di tingkat pusat baru-baru ini telah mengembangkan sistem surveilans terkait penyakit tidak menular dan faktor risikonya secara online. Data BPS menunjukkan bahwa ternyata selama tahun 2013 telah terjadi kenaikan indeks kedalaman kemiskinan dari 1. Lingkungan Strategis Nasional Perkembangan Penduduk. sebab semakin menjauhi garis kemiskinan. Jumlah lansia di Indonesia saat ini lebih besar dibanding penduduk benua Australia yakni sekitar 19 juta. Penduduk usia kerja yang meningkat dari 120.2 juta pada tahun 2019.600 orang. Namun demikian. tetapi angka ini belum memenuhi tujuan program wajib belajar 9 tahun.461. Sistem surveilans ini belum dapat berjalan dengan efektif apabila masih banyak daerah- daerah yang mempunyai keterbatasan akses internet dan listrik. Pencatatan dan pelaporan masih mempunyai banyak keterbatasan di setiap tingkatan program pengendalian penyakit tidak menular. Hal ini berarti tingkat kemiskinan penduduk Indonesia semakin parah.3 juta pada tahun 2015 menjadi 127. III. Secara kuantitas jumlah penduduk miskin bertambah. LINGKUNGAN STRATEGIS 1.3 juta pada tahun 2019. Hal ini berkaitan erat dengan kapasitas tenaga pendukungnya terutama di tingkat Posbindu. Dengan laju pertumbuhan sebesar 1.700 orang. Implikasi kenaikan penduduk lansia ini terhadap sistem kesehatan adalah (1) meningkatnya kebutuhan pelayanan sekunder dan tersier. yang puncaknya terjadi sekitar tahun 2030. Tingkat pendidikan penduduk merupakan salah satu indikator yang menentukan Indeks Pembangunan Manusia. pendidikan memegang porsi yang besar bagi terwujudnya kualitas SDM Indonesia. termasuk dari tingkat Posbindu. Jumlah wanita usia subur akan meningkat dari tahun 2015 yang diperkirakan sebanyak 68. Sementara sumber daya manusia yang menangani data di fasilitas pelayanan primer masih belum tersedia secara khusus. Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2015 adalah 256.4 juta orang miskin dan mendekati miskin. yaitu jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dari pada yang usia non-produktif. dan ini menyebabkan permasalahan biaya yang harus ditanggung pemerintah bagi mereka. dimana sebagain besar tenaga kader yang belum memahami pentingnya data yang akurat dari pencatatan di Posbindu. maka jumlah penduduk pada tahun 2019 naik menjadi 268. • Sistem surveilans masih lemah. (2) meningkatnya kebutuhan pelayanan home care dan (3) meningkatnya biaya kesehatan.1 juta menjadi 71.

94 pada tahun 2004 menjadi 68. di kawasan timur Indonesia. baik pada fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun fasilitas kesehatan tingkat lanjutan. dan kelayakan hidup. dan (2) perempuan turut mempengaruhi kualitas generasi penerus karena fungsi reproduksi perempuan berperan dalam mengembangkan SDM di masa mendatang. jumlah peserta telah mencapai 127. dan politik. ke desa akan mengalir rata-rata Rp 1 Miliar. Dengan diberlakukannya UU Nomor 23 tahun 2014 sebagai pengganti UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang Kesehatan yang telah diatur oleh Menteri Kesehatan. RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 21 . Persentase anak balita yang berstatus gizi kurang dan buruk di daerah pedesaan lebih tinggi dibandingkan daerah perkotaan.Partisipasi Sekolah (APS). serta perbaikan sistem rujukan pelayanan kesehatan. Sampai awal September 2014. Peningkatan IPG tersebut pada hakikatnya disebabkan oleh peningkatan dari beberapa indikator komponen IPG.1% dari target). Penambahan peserta yang cepat ini tidak diimbangi dengan peningkatan jumlah fasilitas kesehatan. Sejak itu.851 orang (105. akan tetapi disparitas status kesehatan antar tingkat sosial ekonomi. Selain itu. ekonomi. Kualitas SDM perempuan harus tetap perlu ditingkatkan.UHC). Menguatnya Peran Provinsi. Dengan simulasi APBN 2015 misalnya. Menurut peta jalan menuju Jaminan Kesehatan Nasional ditargetkan pada tahun 2019 semua penduduk Indonesia telah tercakup dalam JKN (Universal Health Coverage . yakni persentase jumlah murid sekolah di berbagai jenjang pendidikan terhadap penduduk kelompok usia sekolah yang sesuai. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan pengembangan Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) akan lebih mungkin diupayakan di tingkat rumah tangga di desa. terutama dalam hal: (1) perempuan akan menjadi mitra kerja aktif bagi laki-laki dalam mengatasi masalah-masalah sosial. Disparitas Status Kesehatan. maka setiap desa dari 77.548 desa yang ada. maka UU Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang baru ini telah memberikan peran yang cukup kuat bagi provinsi untuk mengendalikan daerah-daerah kabupaten dan kota di wilayahnya. Perkembangan kepesertaan JKN ternyata cukup baik. karena cukup tersedianya sarana¬sarana yang menjadi faktor pemungkinnya (enabling factors). Diberlakukannya JKN ini jelas menuntut dilakukannya peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan. Kucuran dana sebesar ini akan sangat besar artinya bagi pemberdayaan masyarakat desa. Untuk mengendalikan beban anggaran negara yang diperlukan dalam JKN memerlukan dukungan dari upaya kesehatan masyarakat yang bersifat promotif dan preventif agar masyarakat tetap sehat dan tidak mudah jatuh sakit. Angka kematian bayi dan angka kematian balita pada golongan termiskin hampir empat kali lebih tinggi dari golongan terkaya. dan antar perkotaan-pedesaan masih cukup tinggi.52 pada tahun 2012. yaitu kesehatan. angka kematian bayi dan angka kematian ibu melahirkan lebih tinggi di daerah pedesaan. Provinsi selain berstatus sebagai daerah juga merupakan wilayah administratif yang menjadi wilayah kerja bagi gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. Berlakunya Undang-Undang Tentang Desa. kualitas pelayanan bisa turun. Indeks Pemberdayaan Gender (IPG) Indonesia telah meningkat dari 63. akan mendapat dana alokasi yang cukup besar setiap tahun. Diberlakukannya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Pengawasan pelaksanaan SPM bidang Kesehatan dapat diserahkan sepenuhnya kepada provinsi oleh Kementerian Kesehatan. Kesetaraan Gender. antar kawasan. pendidikan. serta pada penduduk dengan tingkat pendidikan rendah. Pada bulan Januari 2014 telah disahkan UU Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa. Meskipun secara nasional kualitas kesehatan masyarakat telah meningkat.763. sehingga terjadi antrian panjang yang bila tidak segera diatasi. karena provinsi telah diberi kewenangan untuk memberikan sanksi bagi Kabupaten/Kota berkaitan dengan pelaksanaan SPM.

dan lain-lain) harus dilakukan secara serius. peralatan. sehingga dapat berkontribusi secara produktif dalam pembangunan masyarakatnya. Selain alasan manfaatnya bagi kesehatan masyarakat. maupun dari segi manajemennya perlu digalakkan. Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) merupakan respon global yang paling kuat terhadap tembakau dan produk tembakau (rokok). Indonesia merupakan salah satu negara penggagas dan bahkan turut merumuskan FCTC. Berlakunya Peraturan Tentang Sistem Informasi Kesehatan. Liberalisasi perdagangan barang dan jasa dalam konteks WTO . yang merupakan penyebab berbagai penyakit fatal. dokter gigi. Khususnya dalam bentuk dukungan politik. Trade Related Aspects on Intelectual Property Rights serta Genetic Resources. Sampai saat ini telah ada sebanyak 179 negara di dunia yang meratifikasi FCTC tersebut. Akan tetapi sampai kini justru Indonesia belum mengaksesinya. juga demi menjaga nama baik Indonesia di mata dunia. baik dari segi sumber daya manusia. yang mencakup liberalisasi perdagangan barang dan jasa serta investasi sektor kesehatan. dan dalam tempo yang tidak terlalu lama. sarana dan prasarananya. Puskesmas. akuntan.Khususnya General Agreement on Trade in Service. Traditional Knowledge and Folklores (GRTKF) merupakan bentuk-bentuk komitmen global yang juga perlu disikapi dengan penuh kehati-hatian. Betapa pun. banyak negara mengakui keberhasilan dari MDGs sebagai pendorong tindakan-tindakan untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan pembangunan masyarakat. daya saing tenaga kesehatan dalam negeri juga harus ditingkatkan. Hal ini berkaitan dengan perjanjian pengakuan bersama (Mutual Recognition Agreement - MRA) tentang jenis-jenis profesi yang menjadi cakupan dari mobilitas. Kelanjutan program ini disebut Sustainable Development Goals (SDGs). PP ini mensyaratkan agar data kesehatan terbuka untuk diakses oleh unit kerja instansi Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang mengelola SIK sesuai dengan kewenangan masing-masing. Lingkungan Strategis Global Dengan akan berakhirnya agenda Millennium Development Goals (MDGs) pada tahun 2015. selain insinyur. 2. Pembenahan fasilitas- fasilitas pelayanan kesehatan yang ada. Tidak tertutup kemungkinan di masa mendatang. juga tercakup tenaga medis/dokter. Perlu dilakukan upaya meningkatkan daya saing (competitiveness) dari fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan dalam negeri. Lingkungan Strategis Regional Saat mulai berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) secara efektif pada tanggal 1 Januari 2016. Pemberlakukan ASEAN Community yang mencakup total populasi lebih dari 560 juta jiwa. Implementasi ASEAN Economic Community. Sudah banyak desakan dari berbagai pihak kepada Pemerintah untuk segera mengaksesi FCTC. Akreditasi fasilitas pelayanan kesehatan (Rumah Sakit. Prioritas yang dilakukan adalah mempercepat RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 22 . akan memberikan peluang (akses pasar) sekaligus tantangan tersendiri bagi Indonesia. Dalam MRA tersebut. Institusi-institusi pendidikan tenaga kesehatan harus ditingkatkan kualitasnya melalui pembenahan dan akreditasi. Aksesi Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau. Pada tahun 2014 juga diberlakukan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 46 tentang Sistem Informasi Kesehatan (SIK). dan lain-lain. dan perawat. akan dicakupi pula jenis-jenis tenaga kesehatan lain. 3. terencana. yang meliputi 17 goals. Dalam bidang kesehatan fakta menunjukkan bahwa individu yang sehat memiliki kemampuan fisik dan daya pikir yang lebih kuat.

Agenda Ketahanan Kesehatan Global (Global Health Securty Agenda/GHSA) dicanangkan di Washington DC dan Gedung PBB Genewa secara bersamaan pada tanggal 13 Februari 2014. namun juga mengancam kesehatan masyarakat negara lainnya termasuk dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkannya. yang dalam hal ini diwakili oleh Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. GHSA membahas rancangan GHSA Action Packagesand Commitments yang diharapkan dapat dijadikan rujukan bersama di tingkat global dalam mengatasi ancaman penyebaran penyakit infeksi. Komitmen ini antara lain juga dimaksudkan untuk memperkuat implementasi International Health Regulation-IHR yang telah dicanangkan WHO sebelumnya Agenda Ketahanan Kesehatan Global (Global Health Securty Agenda/GHSA) juga sebagai bentuk komitmen dunia yang telah mengalami dan belajar banyak dalam menghadapi musibah wabah penyakit menular berbahaya seperti wabah Ebola yang telah melanda beberapa negara Afrika. inisiatif GHSA digagas oleh Amerika Serikat dan negara-negara maju dengan melibatkan multi-stakeholders dan multi-sektoral. Termasuk elemen penting dari GHSA adalah zoonosis. flu babi di Meksiko. Food and Agriculture Organisation (FAO). Selain itu juga dukung badan-badan dunia dibawah PBB diantaranya World Health Organisation (WHO). Finlandia. flu H7N9 khsusunya di Tiongkok. Rangkaian kejadian tersebut seakan menegaskan bahwa wabah penyakit menular berbahaya tidak hanya mengancam negara yang bersangkutan.penyelesaian MoU ke arah perjanjian yang operasional sifatnya. Middle East Respiratory Syndrome (MERS-Cov) di beberapa negara Timur Tengah. dan World Organisation for Animal Health(OIE). sehingga hasil kerjasama antar negara tersebut bisa dirasakan segera. Pemerintah Indonesia. pendeteksian lebih dini. dan wabah flu Spanyol tahun 1918. Kementerian Kesehatan. RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 23 . Di Helsinki. Pada awalnya. dan upaya merespon atas munculnya ancaman dari penyakit tersebut. Sebagai bentuk dari perwujudan atas elemen penting (komitmen) tersebut. dan Kementerian Pertanian membahas lebih jauh berbagai aspek dari penyakit zoonosis dalam kaitan pencegahan. flu burung yang melanda di berbagai negara. PertemuanGHSA pertama dilaksanakan pada tanggal 5-6 Mei 2014 diHelsinki.

4. Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong-royong”. Meningkatkan produktifitas rakyat dan daya saing di pasar Internasional. 4. TUJUAN Dukungan Direktorat PPTM terhadap Kementerian Kesehatan dalam meningkatkan upaya promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan Pengendalian PTM mempunyai peran dan berkonstribusi dalam tercapainya seluruh Nawa Cita terutama terutama dalam meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui upaya preventif dan promotif. kuat dan berbasiskan kepentingan nasional. 5. 2. 3. BAB II TUJUAN DAN SASARAN STATEGIS DIREKTORAT PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR Visi dan misi Direktorat Pengendalian PTM mendukung pelaksanaan Renstra Kemenkes yang melaksanakan visi dan misi Presiden Republik Indonesia yaitu “Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat. demokratis dan terpercaya. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Melakukan revolusi karakter bangsa. Memperteguh ke-Bhineka-an dan memperkuat restorasi sosial Indonesia. 8. Mewujudkan bangsa yang berdaya saing. Mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam kebudayaan. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga Negara. 7. efektif. yakni: 1. bermartabat dan terpercaya. Mewujudkan kualitas hidup manusia lndonesia yang tinggi. Mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri. Mewujudkan masyarakat maju. 2. I. menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan sumber daya maritim dan mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan. 3. 9. 6. Mewujudkan politik luar negeri bebas dan aktif serta memperkuat jati diri sebagai negara maritim. berkesinambungan dan demokratis berlandaskan negara hukum. serta pembiayaan kegiatan promotif dan preventif diwujudkan dalam bentuk pelaksanaan pencapaian tujuan PPTM yaitu terselenggaranya pengendalian penyakit tidak RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 24 . serta 7. maju. Upaya untuk mewujudkan visi ini adalah melalui 7 misi pembangunan yaitu: 1. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi. 5. Selanjutnya terdapat 9 agenda prioritas yang dikenal dengan NAWA CITA yang ingin diwujudkan pada Kabinet Kerja. Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih. Terwujudnya keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan wilayah. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. maju dan sejahtera. 6.

Persentase Puskesmas yang melaksanakan pengendalian PTM terpadu sebesar 50%. 2. SASARAN STRATEGIS Sasaran Strategis Direktorat PPTM dalam Rencana Aksi Kegiatan PPTM merupakan sasaran strategis dalam Renstra Kemenkes yang disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi Dit. Persentase perempuan usia 30-50 tahun yang dideteksi dini kanker serviks dan payudara sebesar 50%.PPTM.4% sebagai indikator kinerja utama. Persentase kabupaten/kota yang melaksanakan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) minimal 50% sekolah sebesar 50%. Sasaran tersebut adalah meningkatnya pengendalian penyakit pada akhir tahun 2019 yang ditandai dengan Menurunnya prevalensi merokok pada pada usia ≤ 18 tahun sebesar 5. 5. 3. meningkatnya pencegahan dan penanggulangan penyakit tidak menular. 4. Sasaran kegiatan ini adalah menurunnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit tidak menular. Persentase Puskesmas yang melaksanakan deteksi dini dan rujukan kasus katarak sebesar 30% RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 25 .menular secara berhasil-guna dan berdaya-guna dalam mendukung pencapaian derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya II. Indikator pencapaian sasaran tersebut pada tahun 2019 adalah: 1. Persentase desa/kelurahan yang melaksanakan kegiatan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) PTM sebesar 50%.

4. serta 6) lingkungan strategis global. 4) kerangka kelembagaan. Monev dan Riset. Mengacu pada strategi yang dianjurkan oleh WHO. maka strategi nasional PP-PTM terdiri dari 4 pilar. regional dan nasional. Implementasi Strategi Nasional Pencegahan dan Pengendalian PTM akan dipengaruhi oleh: 1) arah kebijakan dan strategi pembangunan nasional. ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL Untuk menjamin tercapainya target yang telah ditetapkan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 dan Rencana Strategis (RENSTRA) Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019.1. Kerangka Pikir Strategi Pencegahan dan Pengendalian PTM di Indonesia RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 26 . 3) Penguatan Sistem Pelayanan Kesehatan. KERANGKA REGULASI DAN KERANGKA KELEMBAGAAN I. Gambar 3. yang telah disesuaikan dengan tantangan dan permasalahan serta kapasitas yang dimiliki bangsa Indonesia. BAB III ARAH KEBIJAKAN. dan 4) Penguatan Surveilans. 2) Promosi Kesehatan dan Penurunan Faktor Risiko. Strategi tersebut perlu mengacu pada strategi global dan strategi regional Asia Tenggara. yaitu: 1) Advokasi dan Kemitraan. STRATEGI. diperlukan strategi nasional pencegahan dan pengendalian PTM di Indonesia. 3) kerangka regulasi. 2) arah kebijakan pembangunan nasional. Kerangka pikir Strategi Nasional Pencegahan dan Pengendalian PTM (SN-PP-PTM) di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 4. dan 5) kerangka pendanaan.

Masyarakat mempunyai peran penting dalam pencegahan PTM. makanan tinggi lemak. (ii) penguatan kemitraan dengan masyarakat dan lintas sektor serta kementerian/lembaga. Di samping itu. Dengan kata lain implementasi “health in all policies” dan kesamaan pemahaman atas pentingnya PP-PTM secara lintas sektor menjadi kunci keberhasilan program ini. Advokasi diperlukan untuk menjamin adanya pemahaman peran masing-masing sektor dan lembaga terkait dalam mendukung terwujudnya masyarakat sehat. Diet sehat dengan kalori seimbang. Oleh karena itu. 2. antara lain dalam menumbuhkan budaya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada komunitas. kemitraan antara pemerintah dan LSM/CSO dapat memberikan kontribusi besar dalam peningkatan kesehatan masyarakat. PHBS pada pencegahan PTM dilakukan melalui penerapan perilaku “CERDIK” yang merupakan akronim dari “Cek kesehatan secara berkala. Lingkungan seharusnya dibangun untuk memberikan ruang bagi publik untuk membuat pilihan yang sehat dan menghindari faktor-faktor penyebab timbulnya masalah kesehatan. Di samping itu. Promosi Kesehatan dan Penurunan Faktor Risiko Situasi saat ini memberikan tantangan yang lebih berat dalam menciptakan kehidupan yang sehat. pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular seharusnya diterapkan berbasis siklus tahapan kehidupan (life-course approach). Upaya-upaya kesehatan berbasis masyarakat seperti Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) PTM sangat penting untuk mengendalikan faktor-faktor risiko PTM. diperlukan revitalisasi terhadap Tim Jejaring Kerja Nasional Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Tim JKN PPTM) yang telah dibentuk melalui Kepmenkes Nomor 853 tahun 2009. dan (iii) upaya peningkatan kapasitas kepemimpinan di semua tingkatan administrasi. Kampanye dalam bidang kesehatan dapat dilakukan bersama antara pemerintah dan LSM/CSO. upaya tersebut RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 27 . Hasil yang diharapkan pada area strategis ini adalah meningkatnya komitmen politik dan berfungsinya mekanisme koordinasi lintas kementerian yang secara efektif dapat menjamin tersedianya sumber daya yang cukup bagi pelaksanaan program secara berkesinambungan. Kemitraan dengan lintas sektor perlu diawali dengan penyusunan dokumen perencanaan terintegrasi lintas sektor yang akan menjadi peta jalan dan acuan penetapan kegiatan atau aksi nyata dari setiap sektor/lembaga terkait dalam periode tertentu. Enyahkan asap rokok. yang berakibat meningkatnya keterpaparan masyarakat pada faktor-faktor risiko penyakit tidak menular. gula dan garam. lingkungan dan ekonomi yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat menuntut adanya kesadaran dari seluruh lembaga pemerintah untuk mempertimbangkan kesehatan dalam setiap pengembangan kebijakannya. Interaksi yang kompleks antara faktor sosial budaya. Untuk memfasilitasi upaya ini. minuman beralkohol serta makanan tidak sehat lainnya. Advokasi dan Kemitraan Kegiatan dalam area strategis ini meliputi advokasi dan kemitraan lintas sektor untuk peningkatan dan percepatan penanggulangan penyakit tidak menular. Masyarakat harus didorong untuk bertanggung jawab atas perilakunya. CSO dapat mengorganisir dan memberdayakan masyarakat dengan edukasi sehingga masyarakat dapat membuat pilihan yang tepat. Rajin aktifitas fisik. Beberapa sektor industri menjadikan masyarakat rentan terhadap pembentukan perilaku tidak sehat. seperti rokok. Istirahat yang cukup dan Kelola stres”.1. Fokus kegiatan pada area ini adalah: (i) peningkatan intensitas advokasi. termasuk penyakit tidak menular. termasuk penerapan perilaku CERDIK.

seluruh fasilitas pelayanan kesehatan tingkat primer secara bertahap harus diupayakan mampu melakukan pelayanan kesehatan bagi kasus-kasus PTM secara terintegrasi. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) yang antara lain menumbuhkan budaya PHBS atau penerapan perilaku CERDIK pada komunitas sekolah termasuk guru. Mengacu kepada pedoman ini. pencegahan dan pengendalian PTM dapat dilakukan melalui program “Posbindu PTM” di tempat kerja dan di kelompok-kelompok masyarakat. dan (v) pemanfaatan teknologi informasi. Surveilans. usia remaja. Kekurangan gizi pada saat hamil akan berpengaruh pada pertumbuhan janin dan melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) yang berpotensi menjadi balita yang stunting dan selanjutnya menjadi dewasa yang berisiko mengalami obesitas. (ii) peningkatan efisiensi dan efektifitas operasional fasilitas yankes primer. termasuk penguatan tata-laksana faktor risiko. Monitoring dan Evaluasi serta Riset bidang PTM RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 28 . sistem rujukan juga perlu diperkuat untuk menjamin penanganan kegawat-daruratan dan kasus-kasus yang perlu dirujuk. Penguatan Sistem Pelayanan Kesehatan Pencegahan dan pengendalian PTM yang efektif membutuhkan interaksi efektif antar fasilitas pelayanan kesehatan dari tingkat primer hingga tingkat rujukan. Panduan ini mengidentifikasi jenis layanan yang diharapkan dapat dilayani di FKTP secara cost effective dan standar sarana prasarana yang dibutuhkan. Dengan demikian. Agar upaya penguatan menjadi lebih optimal. 4. preventif. usia kerja hingga usia lanjut. termasuk menjadi role model. Secara keseluruhan diperlukan reorientasi sistem pelayanan kesehatan untuk meningkatkan outcome pelayanan kesehatan bagi kasus-kasus kronis. diperlukan sinkronisasi dengan pola pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). khususnya ketersediaaan obat dan peralatan minimal agar layanan tersebut dapat dilaksanakan. yang dapat dilakukan antara lain melalui: (i) peningkatan kompetensi tenaga kesehatan. Pelayanan kesehatan primer yang efektif merupakan kunci keberhasilan pengendalian penyakit kronik. (iii) penguatan sistem rujukan. Puskesmas dan pemerintah daerah setempat mempunyai peran besar terhadap kegiatan ini. serta integrasi kegiatan Posbindu PTM dan Posyandu Lansia. diabetes dan penyakit kardivaskuler 3. administrator dan peserta didik. (iv) mendorong masyarakat. Sementara untuk target sasaran usia produktif dan usia lanjut. Diusulkan agar komponen upaya pencegahan dan pengendalian PTM pada program UKS menjadi program wajib Puskesmas agar pengendalian faktor risiko dan deteksi dini dapat dilakukan sejak usia dini. Tenaga-tenaga Pembina UKS di sekolah. keluarga dan pasien untuk upaya pencegahan dan perawatan mandiri. Kementerian Kesehatan telah mengembangkan Pelayanan Terpadu PTM untuk fasilitas kesehatan tingkat primer. Dengan demikian. kuratif dan paliatif terhadap kasus-kasus PTM. Penguatan layanan kesehatan primer akan menjamin dilakukannya deteksi dini. yang meliputi pelayanan promotif. khususnya di Puskesmas. Mengingat beragamnya penyakit tidak menular dan prioritas yang harus dikerjakan. Pada area strategis ini. sekolah merupakan lembaga yang penting dalam pencegahan PTM pada usia anak dan remaja.dianjurkan untuk dilakukan sejak usia dini. WHO telah mengembangkan panduan untuk penguatan layanan di FKTP yang dikenal sebagai Package Essential for Non-communicable Disease Interventions (PEN) for Primary Health Care in low resource setting (2010). diagnosa dini serta pengobatan dini.

mulai dari advokasi. alkohol. Sistem Kesehatan Nasional. Surveilans. (iii) penguatan sistem rujukan. angka morbiditas dan mortalitas. 3) pengendalian penyakit dan kesehatan lingkungan. Mengingat pencegahan dan pengendalian PTM membutuhkan dukungan lintas sektor yang sangat kuat. Riset kebijakan dan kesehatan masyarakat dalam bidang PTM amat dibutuhkan untuk menilai bagaimana dampak dari berbagai kegiatan yang dirancang. Data terkumpul meliputi gender. KERANGKA REGULASI Agar pelaksanaan program dan kegiatan dapat berjalan dengan baik maka perlu didukung dengan regulasi yang memadai. gula darah. serta penguatan sistem monitoring untuk mengevaulasi kemajuan program dan kegiatan PPTM Penguatan melalui upaya integrasi surveilans PTM ke dalam Sistem Informasi Kesehatan dan melakukan pengumpulan secara periodik data mencakup faktor risiko perilaku maupun faktor risiko metabolis seperti konsumsi alkohol. strategis ini. menghilangkan tumpang tindih tugas dan fungsi dengan adanya kejelasan peran. termasuk dalam rangka menciptakan sinkronisasi. monev dan riset PTM yang dapat memberi masukan bagi kebijakan pencegahan dan pengendalian PTM. keluarga dan pasien untuk upaya pencegahan dan perawatan mandiri. Perubahan dan penyusunan regulasi disesuaikan dengan tantangan global. Kerangka regulasi diarahkan untuk: 1) penyediaan regulasi dari turunan Undang- Undang yang terkait dengan kesehatan. dan (v) pemanfaatan teknologi informasi. dan prinsip reformasi birokrasi (penataan kelembagaan yang efektif dan efisien). promosi kesehatan dan penguatan sistem layanan kesehatan primer terhadap berbagai indikator antara sebelum mengukur outcome seperti penurunan prevalensi merokok di kalangan penduduk usia 15-18 tahun. hasil yang diharapkan pada pilar ini adalah untuk meningkatkan ketersediaan dan pemanfaatan data untuk pengembangan kebijakan dan program serta pemilihan kegiatan pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular di tingkat nasional dan daerah. III. sistem rujukan juga perlu diperkuat untuk menjamin penanganan kegawat-daruratan dan kasus-kasus yang perlu dirujuk. (iv) mendorong masyarakat. pengunaan tembakau. Secara keseluruhan diperlukan reorientasi sistem pelayanan kesehatan untuk meningkatkan outcome pelayanan kesehatan bagi kasus-kasus kronis. maka dibutuhkan jejaring surveilans. umur. 4. 2) meningkatkan pemerataan sumber daya manusia kesehatan. dan 8) peningkatan pembiayaan kesehatan. obesitas. regional dan nasional. Data meliputi pula determinan kesehatan seperti pemasaran rokok. Monitoring dan Evaluasi serta Riset bidang PTM Pada prinsipnya. 7) penguatan peran pemerintah di era desentralisasi. (ii) peningkatan efisiensi dan efektifitas operasional fasilitas yankes primer. tanggung jawab dan mekanisme koordinasi (secara horisontal dan vertikal) dalam menjalankan program-program Renstra 2015-2019. 5) penguatan kemandirian obat dan alkes. Penguatan surveilans untuk peningkatan ketersediaan data faktor risiko dan determinan lain PTM. Kerangka regulasi yang akan disusun antara lain adalah perumusan peraturan pemerintah. 4) peningkatan pemberdayaan masyarakat dan pembangunan berwawasasn kesehatan. kemitraaan. perkembangan dan tantangan lingkungan strategis di bidang pembangunan kesehatan. pemerintahan yang paling mendasar adalah melayani kepentingan rakyat. integrasi penyelenggaraan pembangunan kesehatan antara pusat dan daerah. 6) penyelenggaraan jaminan kesehatan nasional yang lebih bermutu. yang dapat dilakukan antara lain melalui: (i) peningkatan kompetensi tenaga kesehatan. status ekonomi untuk memonitor kecenderungan penyakit dan kemajuan program. II. Agar upaya penguatan menjadi lebih optimal. peraturan presiden. dan peraturan menteri yang terkait. tekanan darah tinggi. kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah. diperlukan sinkronisasi dengan pola pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 29 . KERANGKA KELEMBAGAAN Desain organisasi yang dibentuk memperhatikan mandat konstitusi dan berbagai peraturan perundang-undangan. diet tidak sehat. pergeseran dalam wacana pengelolaan kepemerintahan (governance issues). Kementerian Kesehatan akan membentuk pemerintahan yang efektif melalui desain organisasi yang tepat fungsi dan tepat ukuran (right sizing). olah raga.

dimana Ditjen PPTM akan berperan aktif terhadap upaya upaya perbaikan yang akan dilakukan untuk memastikan kerangka kelembagaan sesuai dengan tantangan dan kebutuhan Pengendalian PTM. dan 8) penapisan teknologi kesehatan. 5) penguatan peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan. 2) penguatan kebijakan kesehatan untuk mendukung NSPK dan pengarusutamaan pembangunan berwawasan kesehatan. RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 30 . 3) penguatan pemantauan. regulasi dan informasi kesehatan. 6) penguatan sinergitas pembangunan kesehatan. pengendalian. pengawasan dan evaluasi pembangunan kesehatan. Kerangka kelembagaan untuk mendukung Penngendalian Penyakit Tidak Menular disusun sesuai dengan Kebijakan Pemerintah dan Kementerian Kesehatan. Kerangka kelembagaan terdiri dari: 1) sinkronisasi nomenklatur kelembagaan dengan program Kementerian Kesehatan. 7) penguatan program prioritas pembangunan kesehatan . pembenahan manajemen. 4) penguatan bisnis internal Kementerian Kesehatan yang meliputi pembenahan SDM Kesehatan.

3. Indikator pencapaian sasaran tersebut pada tahun 2019 adalah: 1.4 penduduk usia < 18 tahun Sasaran kegiatan ini adalah menurunnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit tidak menular.2 (2013) 5. RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 31 . Sasaran yang yang ditetapkan tersebut adalah : Indikator pembagunan kesehatan dalam RPJMN 2010-2019 Indikator Status Awal Target 2019 a.P2PTM sebagaimana didistribusikan pada Sub Direktorat.4% 2. TARGET KINERJA Target kinerja merupakan penilaian dari pencapaian program yang diukur secara berkala dan dievaluasi pada akhir tahun 2019.4 (2013) 15. Persentase desa/kelurahan yang melaksanakan kegiatan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) PTM sebesar 50%. Persentase Puskesmas yang melaksanakan deteksi dini dan rujukan kasus katarak sebesar 30%. 6. Persentase Puskesmas yang melaksanakan pengendalian PTM terpadu sebesar 50%. Persentase kabupaten/kota yang melaksanakan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) minimal 50% sekolah sebesar 50%. Persentase perempuan usia 30-50 tahun yang dideteksi dini kanker serviks dan payudara sebesar 50%. Persentase penurunan prevalensi merokok pada usia ≤ 18 tahun sebesar 5. Sasaran Kegiatan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dalam Rencana Aksi Kegiatan ditetapkan dengan merujuk pada sasaran yang ditetapkan dalam RPJMN dan Renstra serta memperhatikan tugas pokok dan fungsi Dit. Sasaran kinerja dihitung secara kumulatif selama lima tahun dan berakhir pada tahun 2019.8 (2013) 23.PPTM sebagaimana diuraikan dalam bab-bab sebelumnya. arah kebijakan dan strategi Dit.4 penduduk usia 18+ tahun (persen) c. serta meningkatnya pencegahan dan penanggulangan penyakit tidak menular. tujuan. dan UPT. 4. Prevalensi obesitas pada 15.4 tinggi (persen) b. I. Prevalensi tekanan darah 25. 5. maka disusunlah target kinerja dan kerangka pendanaan Kegiatan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular 2015.2019. BAB IV TARGET KINERJA DAN KERANGKA PENDANAAN Memperhatikan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan. Prevalensi merokok 7.

swasta dan masyarakat serta sumber dari tarif/pajak maupun cukai. RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 32 . Pendanaan Kegiatan Pengendalian PTM diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan (anggaran) untuk mencapai target indikator kegiatan Pengendalian PTM yang ditetapkan.9 6.4 usia ≤ 18 tahun Indikator Kinerja Kegiatan pada tahun 2015-2019 Direktorat Pengendalian PTM sbb: TARGET INDIKATOR KINERJA 2015 2016 2017 2018 2019 (%) (%) (%) (%) (%) Persentase Puskesmas yang melaksanakan 10 20 30 40 50 pengendalian PTM terpadu Persentase Kabupaten/Kota yang melaksanakan 10 20 30 40 50 kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) minimal 50% sekolah Persentase Desa/Kelurahan yang melaksanakan 10 20 30 40 50 kegiatan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) PTM Persentase perempuan usia 30 sampai 50 tahun yang 10 20 30 40 50 dideteksi dini kanker serviks dan payudara Persentase Puskesmas yang melaksanakan deteksi dini .Indikator Kinerja Utama 2015-2019 dalam Renstra Kementerian Kesehatan adalah sbb: TARGET INDIKATOR KINERJA 2015 2016 2017 2018 2019 (%) (%) (%) (%) (%) Persentase penurunan prevalensi merokok pada 6. 5 10 20 30 dan rujukan kasus katarak sebesar 30% II.9 5. daerah dan UPT dengan memperhatikan kewajiban dan kewenangan masing masing serta memperhatikan asas efektifitas dan efisiensi penganggaran. Bansos dan kegiatan lain yang diperuntukkan bagi daerah.6 5. Peningkatan pendanaan kesehatan juga melalui dukungan dana dari Pemerintah Daerah. Guna meningkatkan efektifitas pendanaan pembangunan kesehatan maka perlu mengefektifkan peran dan kewenangan Pusat-Daerah. Untuk mendukung upaya kesehatan di daerah. Peningkatan pendanaan kesehatan dilakukan melalui peningkatan proporsi anggaran kesehatan secara signifikan sehingga mencapai 5% dari APBN pada tahun 2019. Pengalokasian anggaran program dilakukan pada tingkat pusat. Dekonsentrasi. KERANGKA PENDANAAN Kerangka pendanaan Kementerian Kesehatan meliputi peningkatan pendanaan dan efektifitas pendanaan. sinergitas pelaksanaan pembangunan kesehatan Pusat-Daerah dan pengelolaan DAK yang lebih tepat sasaran.4 5. Kementerian Kesehatan memberikan porsi anggaran lebih besar bagi daerah melalui DAK. TP.

Sumber pendanaan kegiatan pengendalian PTM dalam kurun waktu 5 tahun mendatang masih tertumpu pada APBN (rupiah murni). Sesuai dengan kebijakan pemerintah. dan Pendanaan bersumber PHLN akan dilakukan secara selektif dan dilakukan hanya untuk mencapai target indikator kinerja kegiatan yang telah ditetapkan. alokasi anggaran untuk dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota yang dilakukan melalui mekanisme Dekon TP secara bertahap akan dilakukan melalui mekanisme DAK dan dilakukan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku dengan tetap memperhatikan target prioritas nasional pengendalian PTM. RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 33 .

PELAPORAN dimaksudkan untuk mensinkronkan kembali keseluruhan proses kegiatan agar sesuai dengan rencana yang ditetapkan dengan perbaikan segera agar dapat dicegah kemungkinan adanya penyimpangan ataupun ketidaksesuaian yang berpotensi mengurangi bahkan menimbulkan kegagalan pencapaian tujuan dan sasaran. untuk proses pengambilan keputusan apakah suatu program atau kegiatan diteruskan. RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 34 . Penilaian dimaksudkan untuk memberikan bobot atau nilai terhadap hasil yang dicapai dalam keseluruhan pentahapan kegiatan. permasalahan yang terjadi serta dampak yang ditimbulkannya. kualitas pengelolaan. dikurangi. Untuk itu. PENILAIAN. Penilaian kinerja kegiatan pengendalian penyakit tidak menular dilaksanakan berdasarkan indikator kinerja yang telah ditetapkan. Untuk itu penilaian diarahkan guna mengkaji efektifiktas dan efisensi pengelolaan program. dikembangkan atau diperkuat. pemantauan diarahkan guna mengidentifikasi jangkauan pelayanan. BAB V PEMANTAUAN. Penilaian rencana aksi kegiatan pengendalian penyakit tidak menular bertujuan untuk menilai keberhasilan penyelenggaraan pengendalian penyakit tidak menular di Indonesia.

maka akan dilakukan penyempurnaan sebagaimana mestinya RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 35 . PENUTUP Rencana Aksi Kegiatan Pengendalian PTM ini disusun untuk dijadikan acuan dalam perencanaan. dan penilaian upaya Dit.PPTM mempunyai target kinerja yang telah ditetapkan dan akan dievaluasi pada pertengahan (2017) dan akhir periode 5 tahun (2019) sesuai ketentuan yang berlaku. pelaksanaan. Dit. Jika di kemudian hari diperlukan adanya perubahan pada Rencana Aksi Kegiatan Pengendalian PTM 2015-2019. Dengan demikian. BAB VI.PPTM dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

prevalensi merokok pada usia ≤ 9 .34 71.1 113.9 melaksanakan deteksi dini dan 7 rujukan kasus katarak sebesar 30% TAHUN 2015-2019 REVISI I RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR 36 .3 81. 544. dan 18 tahun kecacatan akibat Persentase Puskesmas yang 10 20 30 40 50 192.2 444.3 yang melaksanakan kebijakan 6 Kawasan Tanpa Rokok (KTR) minimal 50% sekolah Persentase Desa/Kelurahan yang 10 20 30 40 50 208 138 148 158 572 melaksanakan kegiatan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) PTM Persentase perempuan usia 30 10 20 30 40 50 120.74 60.8 sampai 50 tahun yang dideteksi 5 5 1 dini kanker serviks dan payudara Persentase Puskesmas yang 10 20 30 40 50 75.74 50.6 kematian.879 PTM angka kesakitan.34 265.34 61.95 90.74 222. LAMPIRAN 1.9 100.9 343.4 penyakit tidak melaksanakan pengendalian 6 6 9 6 5 menular PTM terpadu Persentase Kabupaten/Kota 10 20 30 40 50 91.9 1.7 70.9 80.8 475. 133.8 123.9 494. Matrik Rencana Kinerja dan Pendanaan No Kegiatan Prioritas Sasaran Indikator Target Alokasi (miliyar rupiah) Total 201 2016 201 201 201 201 2016 2017 2018 2019 aloka 5 7 8 9 5 si 2016- 2019 1 Pengendalian Menurunnya Persentase penurunan 10 20 30 40 50 600 688.

Asma. SLE. kanker. kanker Thalasmia kesakitan dan melaksanakan PPOK.) anak) kematian pengendalian PTM TOT/ Pelatihan TOT/ Pelatihan TOT/ Pelatihan Pelatihan Pandu Pelatihan Pandu akibat terpadu Pandu PTM Pandu PTM Pandu PTM PTM PTM penyakit Sosialiasi dan Sosialiasi dan Sosialiasi dan Sosialiasi dan Sosialiasi dan tidak Advokasi Advokasi Program Advokasi Program Advokasi Program Advokasi Program menular. angka Puskesmas yang DM. Komponen Rencana Kerja No Kegiatan Sasaran Indikator Komponen Prioritas 2015 2016 2017 2018 2019 1 P2PTM menurunnya Persentase NSPK (PANDU. LAMPIRAN 2. PJPD. NSPK (paliatif NSPK (kolorektal. Program PTM PTM PTM PTM PTM serta Validasi data Validasi data PTM Validasi data PTM Validasi data PTM Validasi data PTM meningkatny PTM a Konsultasi Konsultasi Konsultasi program Konsultasi program Konsultasi program pencegahan program P2PTM program P2PTM P2PTM ke Pusat P2PTM ke Pusat P2PTM ke Pusat dan ke Pusat ke Pusat penanggulan Bintek P2PTM Bintek P2PTM Bintek P2PTM Bintek P2PTM Bintek P2PTM gan penyakit tidak menular Pertemuan Pertemuan Monev Pertemuan Monev Pertemuan Monev Pertemuan Monev Monev P2PTM P2PTM P2PTM P2PTM P2PTM Media KIE Media KIE Media KIE Media KIE Media KIE Alkes PANDU Alkes PANDU Alkes PANDU Alkes PANDU Alkes PANDU TOT Pengendalian TOT/ Pelatihan TOT/ Pelatihan TOT/ Pelatihan Penyakit Paru Pengendalian Pengendalian Pengendalian Obstruksi Kronis Penyakit Paru Penyakit Paru Penyakit Paru (PPOK) Asma Obstruksi Kronis Obstruksi Kronis Obstruksi Kronis (PPOK) Asma (PPOK) Asma (PPOK) Asma TOT/ Pelatihan TOT/ Pelatihan TOT/ Pelatihan pengendalian kanker pengendalian pengendalian kanker pada anak kanker pada anak pada anak TOT Paliatif TOT / pelatihan TOT / pelatihan Paliatif Paliatif TAHUN 2015-2019 REVISI I RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR 37 .

(tempat kerja. kesehatan serta meningkatny Pelatihan Pelatihan Pelatihan Surveilans Pelatihan Surveilans Pelatihan Surveilans a pencegahan Surveilans Faktor Surveilans Faktor Faktor Risiko PTM Faktor Risiko PTM Faktor Risiko PTM dan Risiko PTM Risiko PTM penanggulan Deteksi dini Deteksi dini Faktor Deteksi dini Faktor Deteksi dini Faktor Deteksi dini Faktor gan penyakit Faktor Risiko Risiko PTM Risiko PTM Risiko PTM Risiko PTM tidak menular PTM Pelatihan Kader Pelatihan Kader Pelatihan Kader Pelatihan Kader Pelatihan Kader Posbindu PTM Posbindu PTM Posbindu PTM Posbindu PTM Posbindu PTM Bahan Habis Bahan Habis Pakai Bahan Habis Pakai Bahan Habis Pakai Bahan Habis Pakai Pakai Kampanye CERDIK Kampanye CERDIK Kampanye CERDIK Kampanye CERDIK dalam mewujudkan dalam mewujudkan dalam mewujudkan keluarga SEHAT keluarga SEHAT keluarga SEHAT Posbindu KIT Posbindu KIT Posbindu KIT Posbindu KIT Posbindu KIT TAHUN 2015-2019 REVISI I RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR 38 . kesakitan dan Melaksanakan Pos CERDIK CERDIK Sekolah) kematian Pembinaan akibat Terpadu Pelatihan Pelatihan Posbindu Pelatihan Posbindu Pelatihan Posbindu Pelatihan Posbindu penyakit (Posbindu) PTM Posbindu PTM PTM bagi petugas PTM bagi petugas PTM bagi petugas PTM bagi petugas tidak bagi petugas kesehatan kesehatan kesehatan kesehatan menular. No Kegiatan Sasaran Indikator Komponen Prioritas 2015 2016 2017 2018 2019 2 P2PTM menurunnya Desa dan NSPK NSPK (POSBINDU. Posbindu Khusus angka Kelurahan yang (POSBINDU. POSBINDU khusus.

Kanker Payudara Payudara dan dan Cerviks bagi dokter Payudara dan Cerviks Kanker Payudara serta 50 tahun dan Cerviks bagi Cerviks bagi dokter atau bidan Puskesmas bagi dokter atau dan Cerviks bagi meningkatnya dokter atau bidan atau bidan bidan Puskesmas dokter atau bidan pencegahan Puskesmas Puskesmas Puskesmas dan penanggulang Aksi deteksi dini Aksi deteksi dini Aksi deteksi dini kanker Aksi deteksi dini Aksi deteksi dini an penyakit kanker leher kanker leher rahim leher rahim dan kanker kanker leher rahim kanker leher tidak menular rahim dan kanker dan kanker payudara dalam rangka dan kanker payudara rahim dan kanker payudara dalam payudara dalam memperingati hari dalam rangka payudara dalam rangka rangka Kanker Sedunia memperingati hari rangka memperingati memperingati hari Kanker Sedunia memperingati hari Kanker Kanker Sedunia hari Kanker Sedunia Sedunia Evaluasi kegiatan Evaluasi kegiatan Evaluasi kegiatan Evaluasi kegiatan Evaluasi kegiatan deteksi dini deteksi dini kanker deteksi dini kanker deteksi dini kanker deteksi dini kanker payudara payudara dan payudara dan kanker payudara dan kanker kanker payudara dan kanker leher kanker leher rahim leher rahim leher rahim dan kanker leher rahim kabupaten/kota kabupaten/kota kabupaten/kota rahim kabupaten/kota kabupaten/kota Uji kompetensi Uji kompetensi Uji kompetensi Uji kompetensi Uji kompetensi Pokja Kanker Pokja Kanker Pokja Kanker Pokja Kanker Pokja Kanker Alkes deteksi dini Alkes deteksi dini Alkes deteksi dini dan Alkes deteksi dini dan Alkes deteksi dini dan tindak lanjut dan tindak lanjut tindak lanjut kanker tindak lanjut kanker dan tindak lanjut kanker leher kanker leher rahim leher rahim leher rahim kanker leher TAHUN 2015-2019 REVISI I RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR 39 . perempuan usia 30. No Kegiatan Sasaran Indikator Komponen Prioritas 2015 2016 2017 2018 2019 3 Pengend menurunnya Puskesmas yang NSPK (kanker NSPK (kanker leher NSPK Registri kanker alian angka melakukan Deteksi leher rahim dan rahim dan PTM kesakitan dan Dini Kanker payudara payudara kematian Payudara dan akibat Kanker Leher TOT/ Pelatihan TOT/ Pelatihan TOT/ Pelatihan deteksi TOT/ Pelatihan TOT/ Pelatihan penyakit tidak Rahim pada deteksi dini deteksi dini Kanker dini Kanker Payudara deteksi dini Kanker deteksi dini menular.

UBM) NSPK (KTR. Pelatihan Pelatihan Pelatihan Pelatihan serta pengendalian pengendalian dampak pengendalian pengendalian meningkatny dampak rokok rokok terhadap dampak rokok dampak rokok a terhadap kesehatan kesehatan terhadap kesehatan terhadap pencegahan kesehatan dan penanggulan Pelatihan Pelatihan Konseling Pelatihan Konseling Pelatihan gan penyakit Konseling UBM di UBM di sekolah bagi UBM di sekolah bagi Konseling UBM di tidak sekolah bagi tenaga tenaga kesehatan dan tenaga kesehatan sekolah bagi menular kesehatan dan guru guru dan guru tenaga kesehatan dan guru Pelatihan Pelatihan Konseling Pelatihan Konseling Pelatihan Konseling UBM di UBM di sekolah bagi UBM di sekolah bagi Konseling UBM di sekolah bagi tenaga tenaga kesehatan dan tenaga kesehatan sekolah bagi kesehatan dan guru guru dan guru tenaga kesehatan dan guru Pelatihan Pelatihan Pelatihan Pelatihan implementasi KTR implementasi KTR bagi implementasi KTR implementasi KTR TAHUN 2015-2019 REVISI I RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR 40 . kabupaten/kota provinsi. jejaring KTR di jejaring KTR di akibat minimal 50% provinsi. penyakit sekolah kabupaten/kota kabupaten/kota kabupaten/kota kabupaten/kota tidak menular. UBM) NSPK (KTR. provinsi. rahim rahim Registri kanker Registri kanker No Kegiatan Sasaran Indikator Komponen Prioritas 2015 2016 2017 2018 2019 4 Pengendali menurunnya Persentase NSPK (KTR. UBM) an PTM angka Kabupaten/Kota kesakitan yang melaksanakan Penguatan dan Penguatan dan Penguatan dan Penguatan dan Penguatan dan dan kebijakan Kawasan pembentukan pembentukan pembentukan jejaring pembentukan pembentukan kematian Tanpa Rokok (KTR) jejaring KTR di jejaring KTR di KTR di provinsi. provinsi.

Evaluasi implementasi 100% implementasi 100% implementasi 100% implementasi KTR di sekolah KTR di sekolah KTR di sekolah 100% KTR di kab/kota kab/kota kab/kota sekolah kab/kota g. Screening faktor g. Evaluasi f. Screening risiko PTM dalam risiko PTM dalam UBM risiko PTM dalam faktor risiko PTM UBM di sekolah di sekolah dalam UBM di sekolah dalam UBM di dalam mendukung mendukung Keluarga dalam mendukung sekolah dalam Keluarga Sehat Sehat Keluarga Sehat mendukung Keluarga Sehat Alkes UBM Alkes UBM Alkes UBM Alkes UBM Alkes UBM TAHUN 2015-2019 REVISI I RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR 41 . Evaluasi f. Screening faktor g. Evaluasi f. Screening faktor g. bagi petugas petugas kesehatan dan bagi petugas bagi petugas kesehatan dan guru guru kesehatan dan guru kesehatan dan guru f.

Gangguan Gangguan Gangguan Gangguan serta Penglihatan dan Penglihatan dan Penglihatan dan Penglihatan dan meningkatn Kebutaan Kebutaan Kebutaan Kebutaan ya Melaksanakan Melaksanakan Melaksanakan Melaksanakan pencegahan Pertemuan Pertemuan Pertemuan Pertemuan dan Kelompok Kerja Kelompok Kerja Kelompok Kerja Kelompok Kerja penanggula Aksesibilitas Aksesibilitas Aksesibilitas Aksesibilitas ngan Penyandang Penyandang Penyandang Penyandang penyakit Disabilitas Disabilitas Disabilitas Disabilitas tidak Penanggulangan Penanggulangan Penanggulangan Penanggulangan menular Gangguan Gangguan Gangguan Gangguan Fungsional dengan Fungsional dengan Fungsional dengan Fungsional dengan Pendekatan ICF Pendekatan ICF Pendekatan ICF Pendekatan ICF Program Program Program Program Rehabilitasi Rehabilitasi Rehabilitasi Rehabilitasi Berbasis Masyarakat Berbasis Berbasis Berbasis (RBM) Masyarakat (RBM) Masyarakat (RBM) Masyarakat (RBM) KIE tentang KIE tentang KIE tentang KIE tentang pencegahan dan pencegahan dan pencegahan dan pencegahan dan pengendalian pengendalian pengendalian pengendalian Gangguan Gangguan Gangguan Gangguan Fungsional Fungsional Fungsional Fungsional Sarana dan Sarana dan Sarana dan Sarana dan TAHUN 2015-2019 REVISI I RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR 42 . No Kegiatan Sasaran Indikator Komponen Prioritas 2015 2016 2017 2018 2019 1 Pengendal menurunny Persentase Penyusunan NSPK Penyusunan NSPK ian PTM a angka Puskesmas yang kesakitan melaksanakan TOT/ Pelatihan TOT/ Pelatihan TOT/ Pelatihan TOT/ Pelatihan dan deteksi dini dan pencegahan dan pencegahan dan pencegahan dan pencegahan dan kematian rujukan kasus pengendalian pengendalian pengendalian pengendalian akibat katarak sebesar gangguan indera gangguan indera gangguan indera gangguan indera penyakit 30% dan fungsional dan fungsional dan fungsional dan fungsional tidak Deteksi Dini Deteksi Dini Deteksi Dini Deteksi Dini menular.

prasarana prasarana prasarana prasarana pencegahan dan pencegahan dan pencegahan dan pencegahan dan pengendalian pengendalian pengendalian pengendalian gangguan indera gangguan indera gangguan indera gangguan indera dan fungsional dan fungsional dan fungsional dan fungsional TAHUN 2015-2019 REVISI I RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR 43 .

Kes. H Zamhir Setiawan. SKM. dr. MKM. Tim Penyusun KONTRIBUTOR: dr. MM.Kes. dr. M. M. S. MScPH. LAMPIRAN 2. dr. Sylviana Andinisari. SKM. Saragih. Esti Widiastuti.Epid.Kp. dr. MA. Dr. MScPH. Setyadi.Kes. dr. Mira Meilani. Sedya Dwisangka. M. SKM. S. Lili Lusiana. M.Epid. dr. Ekowati Rahajeng. MKM. Dwi Priyadi. Dyah Erti Mustikawati. Aries Hamzah. Tiffany Tiara Pakasi. MPPM. Tommy Ramadhana. dr. Sri Lestari. SKM.Epid. M. Desak Made Wismarini. MKM. Farina Andayani. Lily S. Sorta Rosniuli. Niken Wastu Palupi. drg. M. MPH. Sugeng Hidayat. Amelia Vanda Siagian SEKRETARIAT: Mulyadi. M. ST. dr. MSc. dr. dr. Lily Banonah Rivai. dr. AMd RENCANA AKSI KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TAHUN 2015-2019 REVISI I 44 . MHP. Amd. dr. Theresia Sandra Diah Ratih.Sc. Titi Sari Renowati. M. Siti Aisyah. dr.Epid. dr.Si. MSc.Epid. dr. Wiwi Triani. M. M. SKM. Chita Septiawati. dr. SE. Sri Purwati. M. Juzi Delianna. Robert M. Sulistyowati. Prima Yosephine. MHA.Kes EDITOR: Edi Kusnadi. Mohamad Subuh.Epid. M. SKM. SKM. MKM. dr. SKM.